Evaluasi SOP dan Pengendalian Internal
Evaluasi SOP dan Pengendalian Internal
Dhiyas Satyatama
Chaerul D. Djakman
E-mail: [Link]@[Link]
Abstrak
Sistem prosedur operasional dan pengendalian internal dalam meminimalisasi risiko entitas
merupakan fokus utama penelitian ini. Mengevaluasi penerapan pengendalian internal dan SOP
entitas dalam mengelola risiko merupakan tujuan utama dari penelitian. Penelitian ini
menggunakan pendekatan studi kasus pada perusahaan beton pracetak, yaitu PT. Wijaya Karya
Beton. Penulis menemukan bahwa perusahaan memiliki sistem pengendalian internal yang
terintegrasi pada seluruh unit kerja dan SOP yang secara khusus bertujuan untuk mengelola risiko
proses bisnis serta fungsi biro SPI yang tertuang dalam piagam internal audit perusahaan sebagai
pengawas penerapan pengendalian internal.
Kata kunci: Beton Pracetak, Prosedur, Risiko, Pengendalian Internal, Proses Bisnis
Abstract
Operating procedures and systems of internal control in minimizing the risk of an entity is the
primary focus of this research. Evaluating internal controls and standard operating procedures
that applied by the entities in managing risk is the main aim of this research. This research
utilizes the case study approach on precast concrete company, namely PT. Wijaya Karya Beton.
The company has an integrated internal control system in all units and SOP’s that specifically
aims to manage the risks of business processes as well as the function of internal audit bureau as
contained in the company internal audit charter to supervise the implementation of internal
controls.
Key Word: Precast Concrete, Procedures, Risk, Internal Control, Business Process
Tinjauan Teoritis
Pengendalian Internal
Moeller (2009) mendefinisikan pengendalian internal sebagai proses, yang dilakukan oleh
pihak manajemen, dirancang agar dapat menyediakan reasonable assurance untuk; Informasi
keuangan dan operasional yang handal, Kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur rencana,
hukum, aturan, dan peraturan, Pengamanan aset, Efisiensi operasional, Pencapaian misi, tujuan
dan sasaran untuk operasi dan program perusahaan, dan Integritas dan nilai etika. Definisi ini
menjelaskan bahwa pengendalian internal lebih dari sekedar permasalahan akuntansi dan
keuangan, namun juga meliputi seluruh kegiatan perusahaan.
Menurut Weber (1999) pengendalian internal melaksanakan tiga fungsi penting yang
tertuang dalam tiga bentuk pengendalian, yaitu:
• Preventive Control à Mencegah suatu masalah sebelum masalah tersebut muncul
ataupun mencegah terjadinya penyalahgunaan suatu hal
• Detective Control à Mengungkap permasalahan / risiko yang terjadi ketika masalah
tersebut muncul.
Manajemen Risiko
Ketika perusahaan telah menyadari dan mengukur risiko usahanya melalui pendekatan
ERM, maka sudah saatnya perusahaan untuk melakukan manajemen pengelolaan risiko. Teknik
pengelolaan risiko berdasarkan kerangka ERM COSO (2004) yang dapat dilakukan perusahaan
adalah:
• Reduction
Tindakan diambil untuk mengurangi peluang terjadi atau dampak risiko, atau bahkan
keduanya.
• Acceptance
Tidak ada tindakan yang diambil untuk mempengaruhi peluang terjadinya atau dampak
risiko. Menerima risiko dengan memperbolehkan risiko, namun dengan kehati-hatian
• Avoidance
Profil Perusahaan
Terlihat disini direktur keuangan menjadi inti dari proses manajemen risiko PT. WIKA
Beton, walaupun sebenarnya jajaran direksi turut berperan dalam manajemen risiko. Hal ini
dikarenakan risiko telah dapat diukur secara finansial yang memungkinkan direktur keuangan
dapat lebih baik merencanakan langkah stratejik perusahaan terkait dengan keuangan.
Pembahasan
1. Evaluasi Pengendalian Internal PT. WIKA Beton Melalui Kerangka Pengendalian
Internal COSO 2013
Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Pengawasan (Monitoring)
Lingkungan operasi PT. WIKA Beton yang terbagi atas manajemen pusat, manajemen
wilayah penjualan, dan manajemen pabrik produk beton, meningkatkan intensitas dari kegiatan
biro SPI. Berdasarkan internal audit charter PT. WIKA Beton, biro SPI akan melakukan audit
yang ditetapkan pada kebijakan tahun berjalan terhadap wilayah penjualan dan pabrik, dan akan
melaporkan hasil temuan audit kepada manajemen puncak, dan sesuai struktur organisasi kepada
direktur utama.
Dalam setiap struktur organisasi terdapat tugas mengawasi dari atasan kepada subordinat,
misalnya manajer mensupervisi kepala bagian atas pengisian formulir SOP pengelolaan risiko.
Secara keseluruhan terdapat komite audit dan komite risiko dibawah naungan dewan komisaris
PT. WIKA Beton. Komite audit bertugas untuk mengawasi proses audit perusahaan dan komite
risiko bertugas untuk mengawasi penerapan manajemen risiko. Dapat dipastikan fungsi
pengawasan berjalan pada tingkatan struktur organisasi.
Formulir Pelaksanaan
Pekerjaan
Tidak
Informasi
Mencukupi?
Ya
Melakukan
Koreksi/
Penyesuaian
Pengisian Formulir WB-DAL-PS-23-F01
Formulir Pelaksanaan
Pekerjaan yang telah
diulas/koreksi
Terdapat beberapa hal yang dapat dievaluasi atas pengisian formulir ini. Pertama, formulir
ini masih mengintegrasikan data pekerjaan dan proyek, padahal sudah jelas bahwa nature kedua
Mengisi
Mengulas
Formulir Daftar
Pengisian
Risiko yang
Formulir
Umum Terjadi
Formulir Daftar
Risiko yang Umum
terjadi
Melakukan
Informasi
Pengisian Formulir WB-DAL-PS-23-F02
Koreksi/
Mencukupi? Tidak Penyesuaian
Ya
Menentukan
Dampak dan
menghitung
nilai risiko
Kriteria Rating
Menentukan Matriks Tingkat
Probabilitas dan
Tingkat Risiko
Akibat
Risiko
Menghitung
Membuat Mengulas
Biaya
Keputusan Pengisian
Pengendalian
Tindak Lanjut Formulir
Risiko
Formulir Analisa
Risiko dan Tindakan
Pencegahan
Pengisian Formulir WB-DAL-PS-23-F03
Tidak Melakukan
Informasi
Koreksi/
Mencukupi?
Penyesuaian
Ya
Melakukan
Rapat
Manajer Biro / PPU
Analisis
Risiko
Update
Ya
Formulir Mengevaluasi
Analisa Timbul Risiko Pelaksanaan
Risiko dan Baru? Manajemen
Tindakan Risiko
Pencegahan
Tidak
Pengisian Formulir WB-DAL-PS-23-F04 dan Penyusunan Laporan Manajemen Risiko
Menyusun
Perkembanga
n Pengelolaan Menyusun Laporan
Risiko Keseluruhan
Pelaksanaan
Manajemen Risiko
Formulir Perkembangan
Pengelolaan Risiko 2
Laporan Pelaksanaan
Keseluruhan Manajemen
Mengulas
Risiko
Pengisian
Formulir
Melakukan Tidak
Informasi
Koreksi /
Mencukupi? Direktur keuangan Komite Risiko
Penyesuaian
Ya
Formulir Perkembangan
Pengelolaan Risiko Menyusun Laporan
(Telah Dikoreksi) Pelaksanaan
Manajemen Risiko
Laporan Pelaksanaan
Manajemen Risiko
Tujuan dari penyusunan SOP telah sesuai dengan pedoman SOP yang dikeluarkan (EPA,
2007) yaitu ditujukan untuk aktivitas organisasi yang dijelaskan secara spesifik (pekerjaan dan
proyek) dan membantu organisasi untuk menjaga kualitas pengendalian (efisiensi pengendalian
dapat diukur) dan memastikan kepatuhan dengan regulasi (seluruh unit kerja mematuhi SOP
tanpa terkecuali)
Dari segi manfaat, SOP ini membuat proses manajemen risiko menjadi sistematis,
sehingga masing-masing unit kerja tidak lagi perlu bingung dalam menghadapi risiko. Kemudian,
3. Kegiatan Pengendalian Dalam Rangka Minimalisasi Risiko Pada Proses Bisnis Inti PT.
WIKA Beton
Proses bisnis inti digambarkan secara umum oleh perusahaan untuk menunjukan proses
pelaksanaan usaha yang dilakukan perusahaan. Terdapat SOP teknis secara detail hampir di
setiap tahapan sebagai standar yang harus diterapkan unit kerja yang terkait. Pada gambar 8
terlihat bagian pertama dari proses bisnis inti perusahaan. Terdapat beberapa risiko yang dapat
diidentifikasi bila didasarkan pada gambar berikut ini.
Risiko R1
Kesalahan dalam menindaklanjuti kontrak merupakan risiko legal yang sangat besar dampaknya
bagi PT. WIKA Beton. Kelemahan kontrak dan pembinaan pelanggan dapat berakibat pada
keterlambatan dalam penyelesaian persyaratan tagihan.
• Menyiapkan SDM yang handal untuk menjabat sebagai manajer dan kepala bagian
wilayah penjualan untuk melihat seberapa besar probabilitas dan dampak yang akan
dihadapi jika risiko legal terjadi.
• Memastikan adanya klausul yang memuat perlindungan kepada perusahaan.
• Memperketat pengisian peninjauan kontrak, manajer wilayah harus terus berkoordinasi
dengan kantor pusat sebelum melanjutkan proses selanjutnya.
PNJ 01
DAL 23
Risiko Risiko
Peninjauan Kontrak
R2 R1
ENJ 04, 11
PNJ 01
PRD 02
Ya, Produk non-standar
Tidak
Kajian Teknis Produk Aspek Peninjauan Kontrak Terpenuhi? Ditolak
Ya,
Produk Standar
PNJ 01
DAL 23
Penawaran
PNJ 02
DAL 23
Risiko
Negoisasi, Perolehan dan Kontrak
R3
PNJ 02
Tidak
Proyek Diperoleh? Evaluasi Proyek Gagal
Ya
Risiko R2
Risiko ini berhubungan dengan teknis enjinering yang diinginkan oleh pelanggan. Risiko yang
dihadapi PT. WIKA Beton adalah kompleksitas teknis produk yang diinginkan oleh klien. Bentuk
pengendalian yang dapat diterpakan adalah sebagai berikut:
• Meningkatkan human capital avaibility
• Melakukan kerjasama operasi dengan mitra kerja yang memiliki keahlian khusus.
• Peningkatan kompetensi pegawai melalui pengembangan teknologi.
• Terus meng-update SOP-SOP teknis yang dimiliki oleh masing-masing unit kerja.
Risiko R4
Risiko yang dihadapi disini adalah lemahnya perencanaan dan persiapan yang dilakukan oleh
seksi PEP yang menyebabkan banyaknya permasalahan yang terjadi ketika pelaksanaan produksi
dimulai. Pengendalian yang dapat dilakukan, antara lain:
• Meramalkan permintaan produk, mengawasi permintaaan aktual, dan membandingkannya
dengan ramalan permintaan sebelumnya.
• Menetapkan ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku yang akan dibeli.
• Menetapkan kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentu.
• Mengawasi tingkat persediaan, membandingkannya dengan rencana persediaan, dan
melakukan revisi rencana produksi pada saat yang ditentukan.
• Melaksanakan rapat evaluasi perencanaan produksi minimal satu kali dalam seminggu.
• Terus berkoordinasi dengan seksi produksi dan peralatan terkait dengan proses
pelaksanaan produksi.
Risiko R5
• Praktik Suap dan Uang Terima Kasih (kickbacks) kepada/dari Pemasok & konflik
Kepentingan.
Kegiatan pengendalian preventif yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan
menerapkan job rotation bagi pihak yang berhubungan dengan menyeleksi pemasok. PT.
WIKA Beton juga telah mengimplementasikan sistem ini sebagai bentuk cross-training antar
unit kerja.
Risiko R6
Terdapat risiko bahwa rencana pengadaan material tidak disusun secara baik dan tepat waktu,
rencana pengadaan material tidak dapat direalisasikan, rencana pengadaan material tidak
memperhitungkan kenaikan harga yang signifikan, dan lain sebagainya. Pengendalian yang dapat
dilakukan adalah:
• Penyusunan rencana pengadaan material yang didasarkan pada kebutuhan dan menghindari
over budget.
• Penyusunan rencana pengadaan material harus mempertimbangkan waktu proses pengadaan
dan pemenuhan atas proyek terkait.
• Penyusunan rencana pengadaan material harus memperhitungkan fluktuasi kenaikan harga
dan ketersediaan material yang dibutuhkan.
PNJ 03
Risiko
R5
PRD 01, 16
ENJ 06, 08
Risiko Risiko
R6 Perencanaan Produksi
R4
PRD 28
PRD 12, 10 ENJ 05
PRD 12
DAL 10
PRD 12 DAL 10, 11 PRD 16, 05, 06, 07, 08, 22,
DAL 10 ENJ 04, 06, 09 23, 24, 25, 26, 27,28, 31
PRD 12
DAL 10
Risiko R7
Salah satu risiko yang dihadapi perusahaan adalah risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Sebagai bentuk pengendalian terhadap risiko ini, PT. WIKA Beton telah memiliki sistem
manajemen K3 sejak tahun 1999. Perusahaan memiliki pedoman mutu K3 bagi pihak terkait
tentang K3 yang diterapkan oleh perusahaan bernomor dokumen WB-PER-PO-01 dengan judul
“Pedoman K3 Industri Beton Pracetak”. Pedoman ini digunakan dalam rangka memastikan agar
komitmen terhadap penerapan K3 bisa terlaksana secara konsisten dan berkelanjutan.
Risiko R8
Risiko yang berhubungan dengan tenaga kerja juga menjadi aspek yang harus
diperhatikan oleh perusahaan. Agar proyek tetap dapat berjalan dengan lanca dicapai sesuai target
maka dibutuhkan pengendalian terhadap pembagian tugas, pengendalian jadwal waktu,
pengendalian terhadap kinerja dan hubungan karyawan, dan lain sebagainya.
Risiko R9
Keterbatasan informasi mengenai prasarana transportasi dan kondisi lapangan berakibat
pada keterlambatan distribusi dan pemasangan. Keterlambatan ini dapat berdampak pada citra
buruk perusahaan atau dikenakan denda oleh pelanggan karena pada dasarnya perusahaan telah
berkomitmen di awal sesuai dengan kontrak.
Terkait dengan fasilitas dan sarana, truk merupakan sarana utama dalam proses
pengangkutan, truk harus pada kondisi yang sehat dan aman ketika proses pengiriman
berlangsung. Pengendalian preventif yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan reparasi
rutin, dan mengganti truk dengan yang baru ketika truk yang lama sudah tidak memungkinkan
untuk dioperasikan kembali karena telah rusak atau bobrok.
Risiko R10
Kelemahan kontrak dan pembinaan pelanggan dapat berdampak pada keterlambatan dalam
penyelesaian persyaratan tagihan. Dalam penanganan tugas ini harus dilakukan pemisahan:
PRD 17
DAL 10, 11
Kualifikasi Produk Jadi
PRD 17
DAL 10, 11 DAL 10
Cacat
Gagal
Perbaikan Produk Cacat
Lolos Kualifikasi
?
Penanganan Produk Gagal
Ya
PRD 16
Penanganan Produk Jadi
Risiko
Risiko
R11
R10
PNJ 04, 05 PRD 16
Risiko
R9
Pengiriman
, Penyerahan dan
Pelayanan Purna Jual
Penanganan Tagihan
PMS 06
Evaluasi Kepuasan Pelanggan
PMS 06
Pembinaan Pelanggan
Data Base
Pemasaran
Risiko R11
Pada proses penagihan ada potensi terjadinya piutang bermasalah atau macet akibat dari
kesalahan penanganan. Pengendalian preventif yang diterapkan PT. WIKA Beton adalah
Saran
• Perusahaan sedang merencanakan dan mempersiapkan Initial Public Offering (IPO). Apabila
memungkinkan, penelitian selanjutnya dapat membandingkan sistem pengendalian internal
sebelum dan sesudah IPO.