100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
255 tayangan133 halaman

Konflik Pertanahan di Wilayah Perkebunan

Dokumen ini membahas latar belakang dan penyebab terjadinya konflik pertanahan di wilayah perkebunan. Konflik ini umumnya disebabkan oleh perbedaan pandangan mengenai riwayat tanah antara hukum dan sejarah serta klaim masyarakat atas tanah leluhur mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola-pola konflik pertanahan di perkebunan milik negara dan swasta serta memberikan rekomendasi untuk penyelesaiannya.

Diunggah oleh

Endang Syuhada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
255 tayangan133 halaman

Konflik Pertanahan di Wilayah Perkebunan

Dokumen ini membahas latar belakang dan penyebab terjadinya konflik pertanahan di wilayah perkebunan. Konflik ini umumnya disebabkan oleh perbedaan pandangan mengenai riwayat tanah antara hukum dan sejarah serta klaim masyarakat atas tanah leluhur mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola-pola konflik pertanahan di perkebunan milik negara dan swasta serta memberikan rekomendasi untuk penyelesaiannya.

Diunggah oleh

Endang Syuhada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penelitian Pola-Pola

Konflik Pertanahan Di
Wilayah Perkebunan

DITERBITKAN OLEH:
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL
2015
LAPORAN AKHIR
Penelitian Pola-Pola Konflik Pertanahan
Di Wilayah Perkebunan

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang /
Badan Pertanahan Nasional
2015

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Kata Pengantar

Perlu diterbitkan peraturan bersama tentang tata


cara penyelesaian konflik di wilayah perkebunan
milik negara (sebagai aset negara) dan perkebunan
milik swasta.

P enyusunan laporan akhir ini dibuat dalam rangka pertanggung jawaban terhadap Penelitian
Swakelola tahun 2015 tentang Penelitian Pola-Pola Konflik Pertanahan Di Wilayah Perkebunan.

Laporan ini secara garis besar membahas persoalan konflik pertanahan di wilayah perkebunan
yang berkaitan dengan: (1). riwayat perolehan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan yang badan
hukum perusahaan milik negara dan milik swasta, yang sudah tentu harus mengikuti prosedur
yang sudah diatur oleh negara, sehingga dalam proses pengusahaan tanah terdapat jaminan
dari negara serta perlindungan hukum. Perolehan tanah dapat dilakukan antara lain karena:
(a). Nasionalisasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi
perusahaan milik Belanda yang berada di dalam wilayah Republik Indonesia Jo Peraturan
Pemerintah Nomor 9 tahun 1959 tentang Tugas Kewajiban Panitia Penetapan Ganti Rugi
Perusahaan Milik Belanda yang dikenakan Nasionalisasi dan Cara Mengajukan Permintaan
Ganti Rugi, (b). Hak-hak Barat seperti Hak Erpacht yang di konversi menjadi Hak Guna Usaha,
dan (c). Pembebasan dari dengan status tanah negara bebas dengan pola ganti rugi. (2). Akar
masalah sebagai akar penyebab terjadinya konflik. (3). Solusi mengatasi konflik.

Penelitian ini merupakan penelitian deskrifptif kualitatif dengan metode pendekatan Yuridis
Empiris. Jenis data primer diperoleh melalui wawancara dengan para pejabat di tingkat
Kanwil BPN Provinsi, Pejabat Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota, Pejabat Pemerintah Daerah,
Pejabat Dinas Perkebunan Kabupaten, para pakar pertanahan dan data sekunder diperoleh
melalui studi literatur, ataupun dokumen yang terkait dengan konflik pertanahan di wilayah
perkebunan skala besar, baik perkebunan negara maupun perkebunan swasta. Adapun
6 (enam) provinsi, sebagai lokasi penelitian yakni: (1). Sumatera Utara, (2). Lampung, (3).
ii Sumatera Selatan, (4). Kalimantan Timur, (5). Jawa Barat, (6). Jawa Timur.

Penelitian ini menghasilkan: 1). Pola Konflik Perkebunan Milik Negara terkait: (i). Riwayat
perolehan tanah, berasal dari: Tanah perkebunan bekas Hak Erpacht dan Konsensi khususnya
ada di daerah Swapraja seperti di wilayah Kesultanan Deli, yang dimiliki pemerintahan Belanda
yang di Nasionalisasi menjadi perkebunan pemerintah Republik Indonesia/perkebunan Milik
Negara/PTPN kemudian tanah-tanah perkebunan tersebut merupakan Asset Negara. (ii).
Akar masalah penyebab konflik pertanahan: (a). Perbedaan pandangan mengenai Riwayat
Tanah Perkebunan Milik Negara (PTPN) antara pandangan Yuridis dengan Sejarah masa lalu

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
masyarakat adat dan tanah garapan leluhur, sehingga terjadi klaim dan okupasi. (b). Tuntutan
masyarakat terhadap tanah garapan leluhur, kemudian di klaim dan belum menerima ganti
rugi. (iii). Penanganan/Penyelesaian konflik pertanahan: (a). Non Litigasi: Mediasi. (b) Litigasi:
melalui Pengadilan. 2) Pola Konflik Perkebunan Milik Swasta terkait: (i). Riwayat perolehan
tanah, yang berasal dari: perkebunan bekas Hak Erpacht yang dikonversi menjadi HGU. (ii).
Akar masalah konflik pertanahan: Klaim tanah bekas garapan leluhur, oleh Klaim masyarakat
adat, Okupasi terhadap tanah terlantar, Tumpang tindih SHGU dengan SHM dan sebaliknya,
Pemanfataan tanah Perkebunan merambah pada desa yang belum dibebaskan. (iii).
Penanganan/Penyelesaian konflik pertanahan Non Litigasi : Mediasi dan Litigasi.

Rekomendasi yang diajukan dari penelitian adalah: (1). Perlu diterbitkan peraturan bersama
tentang Tata Cara Penyelesaian Konflik di Wilayah Perkebunan Milik Negara (sebagai Aset
Negara) dan Perkebunan Milik Swasta; (2). Perlu diterbitkan peraturan tentang kewenangan
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dalam menangani konflik
dan penyelesaian pertanahan di wilayah perkebunan milik negara dan swasta.

Penelitian ini belumlah sempurna, oleh sebab itu kepada para pembaca kami mohon tanggapan
dan masukan agar hasil penelitian ini dapat diperbaiki dan disempurnakan dalam rangka revisi
dimasa yang akan datang. Atas perhatiannya di ucapkan terima kasih.

Penyusun,

Tim Peneliti

iii

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Daftar Isi
KATA PENGANTAR ii 4.3 S ebaran Konflik Pertanahan di
DAFTAR ISI iv Wilayah Perkebunan Provinsi
Sumatera Selatan 31
BAB I PENDAHULUAN 1 4.4 Sebaran Konflik Pertanahan di
1.1 Latar Belakang 2 Wilayah Perkebunan Provinsi
1.2 Permasalahan Penelitian 7 Kalimantan Timur 32
1.3 Tujuan Penelitian 7 4.5 Sebaran Konflik Pertanahan di
1.4 Ruang Lingkup Penelitian 8 Wilayah Perkebunan Provinsi
1.5 Manfaat Penelitian 8 Lampung 32
1.6 Kerangka Pikir Penelitian 9 4.6 Sebaran Konflik Pertanahan di
Wilayah Perkebunan Provinsi
BAB II TINJAUAN LITERATUR 11 Jawa Timur 32
2.1 Pengertian Tanah Negara 12
2.2 Status Tanah Negara dan Berakhirnya BAB V HASIL LAPANGAN DAN
Hak Atas Tanah 13 PEMBAHASAN 39
2.3 Pengaturan Pemberian Hak Atas 5.1 Hasil Lapangan 40
Tanah Negara Di Wilayah 5.2 Pembahasan Pola Konflik Pertanahan
Perkebunan 15 antara Perkebunan Milik Negara dan
2.4 Pengertian Istilah Sengketa atau Milik Swasta dengan Masyarakat 97
Konflik 15
2.5 Definisi Tanah Terlantar 16 BAB VI KESIMPULAN DAN
2.6 Pengaturan Perkebunan 17 REKOMENDASI 111
2.7 Pengertian Hak Guna Usaha (HGU) 20 6.3 Kesimpulan 112
2.8 Pengertian Okupasi Tanah 20 6.4 Rekomendasi 113
2.9 Pengertian Reclaiming Tanah 21
2.10 Penyelesaian Konflik Pertanahan 21 DAFTAR PUSTAKA 116
2.11 Izin Lokasi dan Pertimbangan Teknis 22
2.12 Peraturan Pemerintah Nomor 38 LAMPIRAN 119
Tahun 2007 22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 23


3.1 Metode Penelitian 24
3.2 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data 24
3.3 Populasi, Sampel dan Lokasi
Penelitian 24
3.4 Metode Pengolahan dan Analisa Data 25
iv
BAB IV SEBARAN KONFLIK PERTANAHAN
DI WILAYAH PERKEBUNAN DI LOKASI
SAMPEL PENELITIAN 27
4.1 Sebaran Konflik Pertanahan di
Wilayah Perkebunan Provinsi
Jawa Barat 28
4.2 Konflik Pertanahan di Wilayah
Perkebunan Provinsi Sumatera Utara 30

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
1
Bab I
Pendahuluan

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


BAB I
PENDAHULUAN

Negara Indonesia disebut sebagai negara kepulauan,


karena berdasarkan data yang ada, terdapat 17.508
buah pulau besar dan kecil.

1.1. LATAR BELAKANG

Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 mengandung konsep dalam pengelolaan sumber daya alam di
Indonesia, yakni bahwa: 1) bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya dikuasai negara, 2) bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan alam tersebut
dipergunakan untuk sebesar-besar kemamuran rakyat. Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)
merupakan pengatur pelaksanaan pengelolaan agraria tersebut yang sangat memperhatikan
tanah untuk keadilan dan kesejahteraan sosial dengan berusaha menata ulang struktur
penguasaan, pemilikan tanah, penggunaan dan pemanfaatan tanah dan sumber daya alam
lain yang menyertainya agar terwujud masyarakat yang sejahtera yang dimaknai dengan
pembaruan agraria atau reforma agraria.

Undang Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), pasal
2 ayat (1) mengatakan: Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat 3 UUD dan hal-hal sebagai
yang dimaksud dalam pasal 1, bumi, di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh
Negara. Dalam ayat (2) Hak menguasai Negara termaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi
wewenang untuk:
1. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan
bumi tersebut;
2. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan
bumi;
3. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan
perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi.

Kemudian pasal 4 UUPA ayat (1) antara lain dikatakan atas dasar Hak Menguasai dari Negara
sebagai yang dimaksud dalam pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan
bumi yang disebut TANAH, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik
2 sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang dengan orang lain serta badan-badan
hukum. Sedangkan dalam ayat (2) Hak-hak atas tanah yang dimaksud memberi wewenang
untuk mempergunakan tanah sekedar diperlukan untuk kepentingan langsung yang
berhubungan dengan penggunaan tanah itu.

Di dalam Bab II UUPA tentang Hak-Hak Atas Tanah, Air dan Ruang Angkasa Serta Pendaftaran
Tanah, khususnya pasal 16 ayat 1 poin b disebutkan bahwa salah satu hak-hak atas tanah
adalah Hak Guna Usaha (HGU).Berdasarkan Pasal 28 dan Pasal 29 Peraturan Dasar Pokok-
Pokok Agraria (UUPA) juncto Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996, pengertian

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh
Negara, dalam jangka waktu paling lama 25 atau 35 tahun, yang bila diperlukan masih dapat
diperpanjang lagi 25 tahun, guna usaha pertanian, perikanan atau peternakan.

Selanjutnya dalam pasal 34 diatur mengenai hapusnya HGU yang disebabkan oleh, anatara
lain jangka waktunya berakhir, dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir karena sesuatu
syarat tidak dipenuhi, dilepaskan oleh pemegang haknya sebelum jangka waktunya berakhir,
dicabut untuk kepentingan umum, diterlantarkan, tanahnya musnah dan hal yang disebutkan
pada pasal 30 (harus warga negara Indonesia dan badan hukum yang didirikan menurut
hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia)

Perolehan Hak Guna Usaha bagi badan hukum perusahaan maupun perorangan sudah tentu
harus mengikuti prosedur yang sudah diatur oleh negara, sehingga dalam proses pengusahaan
tanah terdapat jaminan dari negara serta perlindungan hukum. Berdasarkan Peraturan
Pemerintah (PP) 40 Tahun 1996 Pasal 6 ayat 2 menyebutkan bahwa ketentuan mengenai tata
cara dan syarat permohonan pemberian HGU diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden
(Keppres). Namun demikian hingga saat ini belum ada Keppres yang diterbitkan untuk
mengatur hal tersebut.

Untuk memperoleh HGU badan hukum perusahaan atau perorangan wajib memiliki izin lokasi
dalam rangka penanaman modal yang diterbitkan oleh kepala daerah, yang mana untuk
mendapatkannya harus memenuhi kriteria persyaratan. Sesuai dengan Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999 (Pasal 6) yang
kemudian diperbaharui dengan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan
Nasional Nomor 5 Tahun 2015 tentang Izin Lokasi disebutkan dalam Bab IV tentang Tata Cara
Pemberian Izin Lokasi khususnya Pasal 9 bahwa Izin Lokasi diberikan berdasarkan pertimbangan
teknis pertanahan yang memuat aspek penguasaan tanah dan teknis penatagunaan tanah
yang meliputi keadaan hak serta penguasaan tanah yang bersangkutan, penilaian fisik wilayah,
penggunaan tanah, serta kemampuan tanah. Disamping itu dalam Surat Edaran Kepala BPN RI
No. 5/SE/VI/2014 juga menyebutkan setiap permohonan Hak Atas Tanah yang mensyaratkan
Izin Lokasi, dapat diproses apabila Izin Lokasi telah mendapat pertimbangan teknis pertanahan.
Dalam Surat Edaran tersebut mencantumkan bagi permohonan HGU pertama kali dengan
luasan lebih dari 250 Ha, wajib melaksanakan kemitraan dan memfasilitasi pembangunan
kebun masyarakat sekitar (plasma) paling rendah seluas 20% (dua puluh persen) dari luas areal
Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B) atau Izin Usaha Perkebunan untuk Pengelolaan
(IUP).

Adapun kewajiban-kewajiban pemegang Hak Guna Usaha ditentukan berdasarkan UU No.5 3


Tahun 1960 jig PMPA No.11 Tahun 1962, PMPA No.2 Tahun 1964, Peraturan Bersama Menteri
Dalam Negeri dan Menteri Pertanian Nomor 2/Pert/OP/8/1969 Tahun 1969, Peraturan
Pemerintah No. 40 Tahun 1996, secara singkat kewajiban ini dapat dirinci antara lain sebagai
berikut:
1. Tanah yang diberikan dengan hak guna usaha harus diusahakan secara layak menurut
norma-norma yang berlaku bagi penilaian perusahaan perkebunan;

*1). [Link] Lubis dan Abd Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, Mandar Maju, Bandung, 2008, hlm.234

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


2. P emegang hak guna usaha tunduk pada peraturan mengenai syarat-syarat perburuhan;
3. Apabila di dalam areal hak guna usaha ternyata masih terdapat penggarapan/pendudukan
rakyat secara menetap dan dilindungi Undang-Undang serta belum memperoleh
penyelesaian, maka pemegang hak guna usaha harus menyelesaikan masalah tersebut
menurut ketentuan perundang undangan yang berlaku;
4. Menyerahkan kembali tanah yang diberikan dengan hak guna usaha tersebut kepada
Negara sesudah jangka waktunya berakhir atau haknya hapus atau dibatalkan;
5. Menyerahkan Sertipikat hak atas tanahnya apabila jangka waktu haknya berakhir atau
hapus.

Apabila kita melihat lebih kedalam, terhadap penguasaan tanah pada HGU perkebunan
tersebut diindikasikan terjadi berbagai permasalahan,antara lain pada: perbedaan
pandangantentangriwayat tanah, batas bidang tanahdan pemanfaatan tanahnya yang menjadi
polemik antara pemegang HGU dengan masyarakat sekitar sehingga pada akhir berujung pada
KONFLIK.

Seperti yang kita jelaskan di muka, bahwa penyebab terjadinya konflik di wilayah perkebunan
antara perusahaan perkebunan Negara dan Swasta dengan masyarakat diindikasikan
adalah adanya antara lain ketimpangan struktur penguasaan dan pemilikan tanah sehingga
masyarakat mengokupasi dan mengklaim tanah milik perusahaan perkebunan. Okupasi dan
klaim yang dimaksud adalah:
1. Okupasi terhadap tanah yang sudah berakhirnya hak atas tanah (HGU).
Menurut UUPA dengan berakhirnya hak atas tanah (HGU) maka status tanah tersebut
dinyatakan menjadi tanah negara. Persoalannya adalah, apakah bekas pemegang hak
masih mempunyai hak atas tanah bekas HGU tersebut? Dari beberapa kasus yang ada,
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara berbagai otoritas dalam
memahami TANAH NEGARA BEKAS HAK tersebut. Disatu sisi terdapat pandangan, bahwa
bekas pemegang hak tidak mempunyai hak atas bekas HGU tersebut, sebagaimana dianut
oleh otoritas Kejaksaan dengan merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun
1996, tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai. Disisi lain terdapat
pandangan, bahwa bekas pemegang hak masih mempunyai hak atas bekas HGU tersebut,
sebagai mana selama ini menjadi pegangan bagi otoritas pertanahan. Otoritas pertanahan
berpendapat, bahwa meskipun hak atas tanah berakhir, namun masih terdapat hubungan
hukum antara pemegang hak atas tanah dengan tanahnya, karena hubungan subyek
hukum dengan tanah pada hakikatnya berdemensi 2 (dua), yaitu: (1) hak atas tanah, dan
(2) pemilikan/penguasaan tanah. Dalam pemikiran ini, walaupun sesuatu hak atas tanah
berakhir, namun kewenangan bekas pemegang hak atas tanah masih [Link] dalam
4 praktek hal tersebut dapat dilihat adanya pemberian ganti kerugian atas tanah-tanah yang
terkena ketentuan Landreform (tanah bekas nasionalisasi, tanah absentee, tanah yang
terkena batas maksimum), dan tanah-tanah terlantar1.

2. O
kupasi terhadap tanah diindikasikan terlantar (HGU)
Menurut Peraturan Kepala BPN Nomor 4 Tahun 2010 Pasal 1 Angka 5 menyebutkan
bahwasaannya tanah yang diindikasi terlantar adalah tanah yang diduga tidak diusahakan,

1 Sustiyadi dalam Oloan Sitorus dkk., 2008, “Aspek Hukum Tanah Negara Bekas Hak Guna Usaha Perkebunan di Provinsi Sumatera Utara:
dalam Bhumi, Jurnal Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, Nomor 24 Tahun 8, Desember 2008, hlm.4.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan
tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya yang belum dilakukan identifikasi dan
penelitian. Dari definisi tersebut menjelaskan bagaimana tanah terlantar bisa terjadi
dan lebih jauh menjadi penyebab timbulnya okupasi oleh masyarakat yang berinisiatif
mengelola serta memanfaatkan tanah terindikasi terlantar. Perusahaan swasta maupun
negara yang diberikan kewenangan (HGU) belum tentu dan serta merta akan mengelola
tanah secara keseluruhan sesuai pemberian hak, sehingga dalam jangka waktu yang
lama apabila tidak dikelola bisa jadi akan “membangun” persepsi bahwa tanah tersebut
terindikasi terlantar. Kondisi demikian jika tidak disikapi dengan arif, maka dapat menjadi
gejala munculnya konflik antara masyarakat dengan pemegang HGU.

3. C
ounter-Claim (Reclaim) penguasaan atas tanah
Pengambil-alihan tanah oleh masyarakat petani ataupun masyarakat lokal terhadap Tanah
Perkebunan Negara dan Perkebunan Swasta disebabkan adanya perbedaan pandangan
terhadap penguasaan pemilikan tanah antara masyarakat petani/lokal dengan argumen
berbasis sejarah dan pemegang HGU dengan argumen berbasis hukum.
Penjarahan atau pendudukan tanah perkebunan selain untuk pemenuhan kebutuhan
hidup, juga yang terjadi dalam bentuk reclaiming action yaitu tuntutan pengembalian
hak atas tanah leluhur atau tanah ulayat yang dianggap telah diambil untuk perkebunan
dengan cara paksa, tanpa izin atau tanpa ganti rugi yang layak pada puluhan tahun yang lalu
atau ada dugaan bahwa luas hasil ukur yang diterbitkan HGU berbeda dengan kenyataan
di lapangan, sehingga tanah-tanah masyarakat masuk pada areal perkebunan. Pada
umumnya tanah-tanah perkebunan di Sumatera berasal dari tanah-tanah bekas Erpacht,
atau dari tanah ulayat yang telah diberikan recognisi dan merupakan tanah perkebunan
baru.

Berdasarkan data BPN-RI (Deputi Sengketa Konflik Perkara- BPN RI s/d September 2013), maka
jumlah kasus sengketa konflik perkara pertanahan secara nasional adalah:
1. Kasus : 4.223
2. Selesai : 2.014
3. Sisa : 2.209

Konflik pertanahan pada wilayah perkebunan perlu penanganan lebih lanjut sehingga mampu
terselesaikan tanpa adanya kekerasan dan korban jiwa. Berbagai konflik pertanahan di wilayah
perkebunan swasta seringkali dapat diselesaikan, walaupun tidak mudah dan membutuhkan
waktu lama dan penanganan serius, sebagai contoh seperti konflik pertanahan:
PT. Sumbersari Petung di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri yang meliputi beberapa
desa, antara lain Desa Sempu, Desa Babadan dan Desa Suguhwaras. Konflik tersebut dapat 5
diselesaikan dengan diredistribusinya 250 ha tanah HGU PT. Sumbersari Petung kepada
1.760 KK pada tahun 2011. Pola penyelesaian konflik dengan kesediaan perkebunan swasta
tersebut untuk melepaskan bagian dari HGU-nya yang telah dikuasai masyarakat. Konflik
pertanahan di wilayah perkebunan swasta PT. Sumbersari Petung dapat diselesaikan,
walaupun tidak mudah dan membutuhkan waktu lama dan penanganan yang serius.

Namun ada juga konflik pertanahan di kawasan perkebunan swasta yang belum terselesaikan,
antara lain:

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


1. Wilayah Perkebunan PT. Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI), Desa Sri Tanjung,
Kabupaten Mesuji – Lampung.
Permasalahan pada areal Perkebunan PT. BSMI terjadi pada tahun 1997 akibat munculnya
protes dari masyarakat atas penerbitan SK HGU oleh Kepala BPN bagi PT. BSMI seluas
9.513 Ha yang juga diperluas 2500 Ha. Pada awalnya PT BSMI menerima ijin lokasi untuk
perkebunan sawit seluas 17.000 Ha, dengan rincian peruntukan 10.000 Ha untuk kebun
dan 7000 Ha sebagai kebun plasma yang dikerjakan oleh masyarakat tiga desa, yaitu (i)
Desa Kagungan Dalam; (ii) Desa Sri Tanjung; dan (iii) Desa Nipah Kuning. Namun hingga
tahun 1997 belum dilakukan penyerahan lahan seluas 7000 kepada masyakarat untuk
digarap sesuai dengan kesepakatan. Selain itu [Link] juga belum membayarkan ganti
rugi seluas 5000 Ha pada masyarakat penggarap yang telah ada sebelumnya.

2. Wilayah Perkebunan Kelapa Sawit HGU PT. Sumber Wangi Abadi (SWA) di Desa Sungai
Sodong, Kabupaten Ogan Komering Ilir – Sumatera Selatan.
Permasalahan pertanahan di Desa Sodong diawali dengan pemberian Hak Guna Usaha
(HGU) seluas 3.193,90 untuk perkebunan kelapa sawit di Desa Sungai Sodong kepada PT.
Sumber Wangi Abadi (SWA) pada tahun 2001. HGU tersebut diberikan dengan syarat PT.
SWA mendirikan perkebunan plasma seluas 1.068 dari total luas yang diberikan HGU.
Namun hingga tahun 2002 PT. SWA tidak mampu melaksanakan kewajibannya sehingga
pada tahun 2010 masayarakat menduduki lahan PT. SWA. Pendudukan lahan tersebut
kemudian mengakibatkan terjadinya bentrokan antara pihak pengamanan swakarsa
perusahaan dengan masyarakat dan mengakibatkan 7 orang tewas.

Selain itu, apabila menyangkut perkebunan negara yang dikelola PTPN maka penyelesaian
konflik menjadi tidak sesederhana penyelesaian pada kasus perkebunan swasta. Konflik di
wilayah perkebunan Milik Negara lebih sulit dalam penyelesaiannya dibutuhkan waktu yang
tidak sebentar, karena terkait dengan birokrasi dimana tanah perkebunan merupakan aset
negara yang merupakan kewenangan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk
pelepasan tanahnya.
Contoh konflik pertanahan di wilayah Perkebunan Negara antara lain adalah :
PT Perkebunan Nusantara VIII di lahan Kebun Talun Santosa, Kecamatan Kertasari,
Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Kompas, Kamis, 2 Januari 2014)
Konflik pertanahan di Bandung Selatan dimana ribuan petani memprotes penanaman kopi
oleh PT Perkebunan Nusantara VIII di lahan Kebun Talun Santosa, Kecamatan Kertasari,
Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Para petani beralasan, status lahan yang ditanami kopi
oleh PTPN VIII itu belum jelas. “Selama 13 tahun, lahan itu ditelantarkan oleh PTPN
VIII, sehingga petani menanam sayuran di sana, namun sekarang/saat ini perusahaan
6 menanam kopi di lahan itu tanpa sosialisasi,”menurut Ketua Forum Masyarakat Peduli
Desa (FMPD/ merupakan forum yang menghimpun petani dari sejumlah desa di Bandung
Selatan ). Petani menuntut penanaman kopi oleh PTPN VIII dihentikan, jika tuntutan tidak
dipenuhi, petani akan mencabut paksa tanaman tersebut. Kepala Urusan Humas PTPN VIII
Lilik A Arifin mengatakan, protes petani tidak memiliki alasan kuat, sebab, PTPN VIII telah
memperpanjang sertifikat hak guna usaha (HGU) atas Afdeling Cikembang. Perpanjangan
HGU keluar pada 2010 dan sejak awal 2012 PTPN VIII mulai menanam kopi, hingga saat ini,
211,17 hektar lahan Afdeling Cikembang telah ditanami kopi dan penanaman kopi telah
diberitahukan kepada Pemerintah Kabupaten Bandung dan petani di sekitar lahan. Lahan

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
yang menjadi sengketa merupakan bagian dari Afdeling Cikembang, Kebun Talun Santosa,
yang meliputi empat desa di Kertasari, total luas afdeling alias unit perkebunan itu adalah
913,66 hektar.

Konflik pertanahan di wilayah perkebunan cenderung memiliki karakteristik antara lain: i).
melibatkan banyak pihak yang berkonflik, ii). waktu penyelesaian yang lama, iii). sengketa dan
konflik agraria seringkali berulang, iv). disertai dengan kekerasan yang intensitasnya meningkat.
Mengingat konflik pertanahan di wilayah perkebunan ini mengemuka ke tingkat nasional
sehingga menjadi kasus nasional yang perlu mendapatkan penanganan serius dari berbagai
pihak, seperti Kasus Mesuji di Lampung dan Cinta Manis di Sumatera Selatan. Penanganan
konflik perkebunan dapat dilaksanakan dengan menggunakan cara-cara yang sifatnya lebih
memberikan keadilan bersama, baik melalui litigasi maupun non litigasi. Lembaga peradilan
sebagai lembaga penyelesaian sengketa yang kemudian dalam prosesnya dikatakan sebagai
proses litigasi, sedangkan penyelesaian melalui kegiatan non litigasi antara lain dapat melalui
negoisasi, mediasi, dan konsoliasi2.

Munculnya berbagai konflik pertanahan yang diliput oleh berbagai media massa pada awal
tahun 2012 merupakan akumulasi dari kasus pertanahan yang telah berlangsung lama dan
tidak terselesaikan yang mendapat perhatian publik. Kasus pertanahan ini terjadi dibeberapa
lokus yang berbeda dengan keterlibatan berbagi pihak yang bersengketa dengan akar masalah
yang berbeda pula serta belum menemukan metode penyelesaian, sehingga menimbulkan
kerugian bagi pihak yang berkonflik. Meningkatnya konflik pertanahan yang terjadi
mengindikasikan pelaksanaan sistem pengelolaan pertanahan yang belum optimal, sehingga
menghambat program-program pembangunan yang sedang berjalan. Mengingat sistem
pengelolaan pertanahan sebagai salah satu kunci dalam penyelesain konflik pertanahan, maka
untuk itu perlu dilakukan identifikasi terhadap kasus-kasus konflik pertanahan yang terjadi
sehingga dapat ditarik pembelajaran dan akar permasalahannya dapat diselesaikan.

Berdasarkan problematika tersebut di atas, maka pada tahun 2015, Puslitbang, Kementerian
Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, melakukan penelitian tentang “Pola-Pola
Konflik Pertanahan Di Wilayah Perkebunan”.

1.2. PERMASALAHAN PENELITIAN

Berdasarkan permasalahan konflik di wilayah perkebunan di atas, maka pertanyaan


penelitiannya adalah:
1. Bagaimana deskripsi pola-pola konflik pertanahan dan penyebabnya yang terjadi di
wilayah perkebunan? 7
2. Bagaimana penaganan dan penyelesaian mengatasi pola-pola konflik pertanahan di
wilayah perkebunan?

1.3. TUJUAN PENELITIAN

1. M engdiskripsikan dan menganalisa penyebab pola pola konflik di wilayah perkebunan;


2. Menganalisa solusi untuk mengatasi pola-pola konflik pertanahan di wilayah perkebunan.

2 Mu’adi, Sholih. [Link] Sengketa Hak Atas Tanah Perkebunan dengan cara Litigasi dan Non Litigasi. Prestasi Pustakaraya.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


1.4. RUANG LINGKUP PENELITIAN

1. A rti dari Pola dalam penelitian ini adalah bentuk, corak atau model ([Link]
pola);
2. Maksud dari pola konflik pertanahan wilayah perkebunan dalam penelitian ini adalah
dilihat dari Subyek pemilikan perusahaan perkebunan yang dibedakan menjadi bentuk/
corak/model konflik di wilayah perkebunan milik negara dan perkebunan milik swasta;
3. Materi penelitian:
a. Riwayat perolehan tanah;
b. Penyebab sebagai akar permasalahan: 1) Okupasi, 2) Reclaiming;
c. Pihak yang berkonflik;
d. Solusi konflik.
4. Lokasi penelitian
a. Provinsi yang terdapat beberapa konflik pertanahan antara masyarakat dengan
pemegang HGU perkebunan;
b. Perusahaan perkebunan milik negara dan swasta yang sudah selesai ataupun masih
dalam tahap penanganan dan penyelesaian konflik pertanahan dengan masyarakat.

1.5. MANFAAT PENELITIAN

Penerima manfaat dari penelitian ini antara lain:


1. BPN RI sebagai lembaga yang diamanatkan untuk mengelola bidang pertanahan sehingga
diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai:
a. Riwayat perolehan tanah di lokasi konflik;
b. Akar masalah pencetus konflik pertanahan di wilayah perkebunan;
c. Pihak yang terlibat dalam konflik pertanahan di wilayah perkebunan;
d. Pola penanganan dan penyelesaian konflik pertanahan di wilayah perkebunan;
e. Solusi penanganan konflik pertanahan di wilayah perkebunan.
Diharapkan dari gambaran-gambaran tersebut dapat berkontribusi dalam memberikan
bahan informasi dalam rangka meminimalisir, menangani dan menyelesaikan sengketa
konflik pertanahan di wiayah perkebunan.
2. Perusahaan perkebunan Negara dan Swasta dalam rangka menangani dan menyelesaikan
konflik pertanahan;
3. Kementerian Negara BUMN dalam menangani dan menyelesaikan konflik pertanahan;
4. Masyarakat dan pihak yang bersengketa agar memperoleh penyelesaian konflik pertanahan
yang berkeadilan.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
1.6. KERANGKA PIKIR PENELITIAN

Riwayat Tanah

Perkebunan Milik Masyarakat Perkebunan Milik


Negara Swasta

Konflik

Pola Konflik • Okupasi • Okupasi Pola Konflik


Perkebunan Milik • Reclaiming • Reclaiming Perkebunan Milik
Negara • Tumpang Tindih Swasta

Pola Penanganan
Konflik

SOLUSI

Perkebunan Negara Perkebunan Swasta

Gambar 1. Keranga Pikir Penelitian

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


10

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
11
Bab II
Tinjauan Literatur

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


BAB II
TINJAUAN LITERATUR

Di dalam UUPA sendiri sebutan yang digunakan bagi


tanah Negara adalah “tanah yang dikuasai langsung
oleh Negara.”

2.1 PENGERTIAN TANAH NEGARA

1. Terjadinya Hak Guna Usaha


a. Tanah bekas hak-hak Barat antara lain:
1) Hak Guna Usaha (HGU) dari segi sejarahnya berasal dari konsep Hak Barat yaitu
Hak Erpacht yang diatur dalam Buku II KUHPerdata (BW), yang kemudian di adopsi
dalam UUPA dengan nama HGU;
2) Hak Konsensi yang khususnya ada di daerah Swapraja seperti di wilayah Kesultanan
Deli sejak berlakunya UUPA di konversi menjadi HGU.
b. Penetapan Pemerintah sesuai pasal 31 dan 37 UUPA
Berasal dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara yang diberikan Pemerintah
sebagai HGU kepada yang memerlukannya atas permohonan yang telah diproses
sesuai peraturan yang berlaku.

2. Pengertian tanah Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku


adalah sebagai berikut:
a. UUPA dan Undang-Undang yang terkait dengan tanah beserta peraturan pelaksananya
tidak menyebut dan mengatur tanah Negara secara tegas. Di dalam UUPA sendiri
sebutan yang digunakan bagi tanah Negara adalah “tanah yang dikuasai langsung oleh
Negara”. Istilah tanah negara itu sendiri muncul dalam praktek administrasi pertanahan,
dimana penguasaannya dilakukan oleh otoritas pertanahan3.
Pengaturan tanah Negara pasca kemerdekaan melanjutkan konsepsi dan ketentuan-
ketentuan yang diatur oleh Pemerintah Hindia Belanda, yaitu Peraturan Pemerintah
Nomor 8 Tahun 1953, tentang Penguasaan tanah-tanah Negara. PP tersebut
menyatakan, bahwa tanah Negara adalah tanah yang dikuasai penuh oleh Negara.
Penjelasan PP tersebut menyatakan, bahwa tanah yang dikuasai penuh, jika tanah-
tanah tersebut memang bebas sama sekali dari hak- hak yang melekat atas tanah (hak-
12 hak Barat, seperti Eigendom, Erpacht dan Opstal, maupun Hak Adat seperti Ulayat dan
Hak Pribadi)4.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1953, tentang Penguasaan tanah-tanah Negara:
tanah Negara ialah tanah yang dikuasai penuh oleh Negara (Pasal 1a).
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 tahun 1972, tentang Pelimpahan Wewenang
Pemberian Hak Atas Tanah: tanah Negara adalah tanah yang langsung dikuasai oleh

3 Maria [Link], 2010, Tanah Untuk Kesejahteraan Rakyat, Penerbit Bagian Hukun Agraria Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta, hlm. 23-27.
4 Julius Sembiring, Tanah Negara: Dikotomi Persepsi, Sektoralisasi Regulasi Dan Potensi Konflik, Makalah, 2000, Sekolah Tinggi Pertanahan
Nasional (STPN), hlm.3.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Negara sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Nomor 5 Tahun 1960 (Pasal 1
ayat 3).
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1973, tentang Ketentuan-ketentuan
Mengenai Tata Cara Pemberian Hak Atas Tanah: tanah Negara adalah tanah yang
langsung dikuasai oleh Negara seperti dimaksud dalam Undang Undang Nomor 5
Tahun 1960 (Pasal 1 butir 2).
e. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, tentang Pendaftaran Tanah: tanah Negara
atau tanah yang dikuasai langsung oleh Negara adalah tanah yang tidak dipunyai
dengan sesuatu hak atas tanah (Pasal 1 angka 3).
f. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010, tentang Penertiban dan Pendayagunaan
Tanah Terlantar: dalam pasal 9 ayat (2) dan (3) dinyatakan, bahwa penetapan tanah
terlantar meliputi penetapan hapusnya hak (dalam hal “tanah hak”) dan sekaligus
memutuskan hubungan hukum serta ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai
langsung oleh Negara (dalam hal tanah hak dan juga tanah yang telah diberikan dasar
penguasaan).
g. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1999, tentang
Pelimpahan Kewenangan Pemberian dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas
Tanah Negara: tanah Negara adalah tanah yang langsung dikuasai Negara sebagaimana
dimaksud dalam UUPA (Pasal 1 butir 2).
h. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999, tentang Tata Cara
Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan: tanh Negara
adalah tanah yang langsung dikuasai Negara sebagaimana dalam UUPA (Pasal 1 butir
2).

3. Pengertian tanah Negara yang berasal dari para Pakar, Praktisi Hukum Agraria dan juga
sebagaimana terdapat dalam peraturan perundang-undangan, adalah sebagai berikut:
a. Maria SW Sumardjono: tanah Negara adalah tanah yang tidak diberikan dengan sesuatu
hak kepada pihak lain, atau tidak dilekati dengan suatu hak, yakni hak milik, hak guna
usaha, hak guna bangunan, hak pakai, tanah hak pengelolaan, tanah ulayat dan tanah
wakaf5.
b. Boedi Harsono: tanah negara adalah bidang-bidang tanah yang dikuasai langsung oleh
Negara6.
c. Arie Sukanti Hutagalung: tanah negara yaitu tanah-tanah yang belum ada hak-hak
perorangan di atasnya7.
d. [Link]: tanah Negara ialah tanah-tanah yang belum dilekati sesuatu hak atas
tanah8.
e. Ali Achmad Chomzah: tanah Negara adalah tanah yang tidak dipunyai oleh perseorangan
atau badan hukum dengan sesuatu hak atas tanah sesuai ketentuan yang berlaku9. 13
2.2 STATUS TANAH NEGARA DAN BERAKHIRNYA HAK ATAS TANAH

Menurut UUPA, dengan berakhirnya Hak Atas Tanah (HGU, HGB dan HP), maka status tanah

5 Maria [Link], 2010, [Link].,hlm.25


6 Boedi harsono, 2007, Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional, Perkembangan Pemikiran & Hasilnya sampai menjelang Kelahiran
UUPA tanggal 24 September 2007, Penerbit Universitas Trisakti, Jakarta, hlm.53
7 Arie Sukanti Hutagalung, Pengaturan Pengelolaan ..., hlm.5
8 I,Soegiarto dalam Bhumi Bhakti, Majalah terbitan Badan Pertanahan Nasional, No.7 Tahun 1994, hlm. 25.
9 Ali Achmad Chomzah, Hukum Pertanahan, Prestasi ustaka, 2002, Jakarta, hlm.1

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


tersebut dinyatakan menjadi tanah Negara. Pertanyaannya apakah bekas pemegang hak masih
mempunyai hak atas tanah bekas HGU tersebut? Dari beberapa kasus yang ada diindikasikan
bahwa terdapat perbedaan persepsi antara berbagai otoritas dalam memahami tanah Negara
bekas hak tersebut.

Disatu sisi terdapat pandangan, bahwa bekas pemegang hak tidak mempunyai hak atas bekas
HGU tersebut sebagaimana dianut oleh otoritas kejaksaan dengan merujuk pada Peraturan
Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996, tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak
Pakai. Semetara itu disisi lain terdapat pandangan, bahwa bekas pemegang hak masih
mempunyai hak atas bekas HGU tersebut, sebagaimana selama ini menjadi pegangan bagi
otoritas pertanahan10.

Otoritas pertanahan berpendapat, bahwa meskipun hak atas tanah berakhir, namun masih
terdapat hubungan hukum antara bekas pemegang hak atas tanah dengan tanahnya, yaitu:
Hubungan subyek hukum dengan tanah tersebut pada hakikatnya berdimensi 2 (dua),
yaitu berwujud: (a) hak atas tanah, dan (b) pemilikan/penguasaan tanah. Dalam
pemikiran ini, meski sesuatu hak atas tanah berakhir dan/atau diakhiri, namun
kewenangan bekas pemegang hak atas tanah masih diakui. Dalam praktek, hal
tersebut dapat dilihat dalam hal adanya pemberian ganti kerugian atas tanah-tanah
yang terkena ketentuan landreform (tanah bekas Nasionalisasi, tanah Absentei, tanah
kelebihan Maksimum, dan tanah-tanah terlantar11.

Sedangkan otoritas Kejaksaan berpendapat, bahwa:


Dengan berakhirnya hak atas tanah maka berakhirlah hubungan hukum antara bekas
pemegang hak atas tanah dengan tanah tersebut, sehingga segala bentuk ganti rugi
yang diberikan kepada bekas pemegang hak, dikategorikan sebagai tindak pidana
korupsi12.

Khusus untuk tanah-tanah bekas HGU yang tidak dilakukan perpanjangan haknya, maka untuk
menyelesaikan status tanah-tanah bekas HGU tersebut, otoritas pertanahan mengeluarkan
kebijakan tentang pemutusan hubungan hukum bekas pemegang hak dengan hak atas tanahnya
tersebut. Kebijakan tersebut dapat dilihat antara lain pada dokumen-dokumen sebagai berikut:
1. Surat Kepala Badan Pertanahan Nasional yang ditanda tangani Deputi Hak Tanah dan
Pendaftaran Tanah tanggal 20 Maret 2007, Nomor [Link], perihal Permohonan/
Usul Penegasan Status Tanah dalam rangka Program Pembaharuan Agraria Nasional (PPAN)
di Kabupaten Bogor, yang ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional Provinsi Jawa Barat, dinyatakan bahwa tanah bekas HGU atas nama PT. Jasinga
14 telah dibuatkan Surat Pernyataan Pelepasan Hak Atas Tanah seluas 1.044,4962 Ha.
2. Surat Direktur Landreform, Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan, Nomor 43/
S-LR/VI/2010 tanggal 14 Januari 2010, menyatakan bahwa sesuai dengan Surat Keputusan
Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 25 Tahun 2002, tentang Pedoman Pelaksanaan
Permohonan Penegasan Tanah Negara menjadi Objek Pengaturan Penguasaan Tanah/
Landreform, atas tanah-tanah Negara bekas Hak Guna Usaha tetap harus melampirkan
10 Julius Sembiring, Tanah Negara: Dikotomi Persepsi, Sektoralisasi Regulasi Dan Potensi Konflik, Makalah, 2000, Sekolah Tinggi Pertanahan
Nasional (STPN), hlm.16-17.
11 Sustiyadi dalam Oloan Sitorus dkk, Aspek Hukum Tanah Negara Bekas Hak Guna Usaha Perkebunan di Provinsi Sumatera Utara, dalam
Bhumi, Jurnal Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, Nomor 24 Tahun 8, Desember 2008,.hl. 4
12 Ibid., hlm. 4.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Surat Pelepasan dari bekas pemegang hak.

2.3 PENGATURAN PEMBERIAN HAK ATAS TANAH NEGARA DI WILAYAH PERKEBUNAN

Penguasaan tanah oleh Negara menurut Pasal 33 ayat (3) UUD diadopsi oleh UUPA, maka
ketentuan yang mengatur Tata Cara Pemberian Tanah Negara diatur dalam:
1. Keputusan Menteri Agraria [Link].112/Ka/61 tanggal 1 April 1961, tentang Pembagian
Tugas Wewenang Agraria, berlaku surut sejak 1 Mei 1960;
2. Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria [Link] XIII/17/Ka/1962 tanggal 12
September 1962 tentang Penunjukan Pejabat yang dimaksud dalam Pasal 14 PP No.221
Tahun 1952, Ketentuan ini mengatur tentang wewenag pemberiak Hak Milik atas tanah
yang dibagikan dalam rangka Landreform.
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 1972, tentang Pelimpahan Wewenang
Pemberian Hak Atas Tanah;
4. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1999, tentang Pelimpahan
Wewenang Pemberian Hak Atas Tanah Negara;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996, tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan
Dan Hak Pakai Atas Tanah.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, tentang Pendaftaran Tanah
7. PMNA/KBPN Nomor 3 Tahun 1997, tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No.24 Tahun 1997.
8. PMNA/KBPN Nomor 9 Tahun 1999, tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas
Tanah Negara dan Hak Pengelolaan
9. Peraturan KBPN RI Nomor 1 Tahun 2011, tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Hak
Atas Tanah dan Kegiatan Pendaftaran Tanah Tertentu jo. Peraturan KBPN RI Nomor 3 Tahun
2012, tentang Perubahan atas Peraturan KBPN RI No.1 Tahun 2011 tentang Pelimpahan
Kewenangan Pemberian Hak Atas Tanah dan Kegiatan Pendaftaran Tanah Tertentu.
10. PP No. 11 tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar.
11. Undang Undang No.18 Tahun 2004, tentang Perkebunan.
Selain peraturan di atas yang bersumber dari UUPA, juga terdapat peraturan lain yang
mengatur terkait dengan pemberian Hak Atas Tanah Perkebunan yaitu Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan. Pemberian Hak Atas Tanah wilayah perkebunan
menjadi kewenangan lembaga pertanahan, dalam hal ini adalah Kementerian Agraria dan
Tata Ruang/BPN. Penegasan yang tertuang pada UU No.18 Tahun 2004 tersebut dapat
dilihat pada Bab III Penggunaan Tanah Untuk Usaha Perkebunan, dari Pasal 9 sampai
dengan Pasal 12.
12. Undang Undang Nomor 39 Tahun 2014, tentang Perkebunan
Pasal 11 (1) Pelaku Usaha Perkebunan dapat diberi hak atas tanah untuk Usaha Perkebunan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 15
2.4 PENGERTIAN ISTILAH SENGKETA ATAU KONFLIK

Kedua istilah sengketa dan konflik seringkali sipakai sebagai suatu padanan kata dan dianggap
mempunyai makna yang sama, akan tetapi kedua istilah itu memiliki karakteristik berbeda,
karena tidak semua konflik menimbulkan sengketa, sebaliknya setiap sengketa adalah konflik13.
1. Kovach mengatakan, Conflict berasal dari bahasa Latin, yakni con (together) dan fligere

13 Rohmad, Abu, 2008, Paradigma Resolusi Konflik Agraria, Walisongo Press, hlm.9

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


(to strike)14. Jadi conflict adalah as an encounter with arms, a fight, a battle, a prolonged
struggle. Secara singkat definisi ini menjelaskan, bahwa konflik adalah suatu perjuangan
manusia menyangkut perbedaan berbagai prinsip, pernyataan dan argumentasi yang
berlawanan.
2. Black menyatakan, bahwa sengketa adalah konflik atau kontoversi, konflik mengenai klaim/
hak pernyataan tentang suatu hak, klaim atau tuntutan di satu pihak berhadapan dengan
pihak lain, hal yang berkaitan dengan hukum.
3. Vilhelm Aubert mengatakan, bahwa sengketa atau konflik sebagai suatu keadaan dimana
dua orang atau lebih terlibat pertentangan secara terang-terangan15.
4. Wiradi Gunawan mengatakan, sengketa atau konflik agraria adalah suatu proses interaksi
antara dua (atau lebih) orang atau kelompok yang masing-masing memperjuangkan
kepentingan atas obyek yang sama, yaitu tanah dan benda-benda lain yang berkaitan
dengan tanah16.
5. Berdasarkan Peraturan Kepala BPN RI Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan
Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan, Badan Pertanahan Nasional RI memberi
batasan mengenai sengketa, konflik maupun perkara pertanahan. Pasal 1 Peraturan Kepala
BPN tersebut menyatakan bahwa kasus pertanahan adalah sengketa, konflik dan perkara
pertanahan yang disampaikan kepada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia untuk
mendapatkan penanganan, penyelesaian sesuai peraturan perundang-undangan dan/
atau kebijakan pertanahan [Link] pertanahan sendiri merupakan perselisihan
pertanahan antara orang perseorangan, kelompok, golongan, organisasi, badan hukum
atau lembaga yang mempunyai kecenderungan atau sudah berdampak luas secara sosio
politis.

2.5 DEFINISI TANAH TERLANTAR

Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2010, tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah
Terlantar:
1. Penjelasan Pasal 4 menyebutkan bahwa tanah yang terindikasi terlantar yaitu tanah
hak atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak sesuai dengan keadaan atau sifat dan
tujuan pemberian hak ataudasar penguasaannya yang belum dilakukan identifikasi dan
penelitian. Selanjutnya, tanah hak atau dasar penguasaan apa saja yang dapat menjadi
objek penertiban tanah terlantar.
2. Pasal 2 mengatur bahwa yang menjadi objek penertiban tanah terlantar,meliputi tanah yang
sudah diberikan hak oleh negara berupa hak milik, hak gunausaha, hak guna bangunan,
hak pakai, dan hak pengelolaan, atau dasar penguasaanatas tanah yang tidak diusahakan,
tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuaidengan keadaan atau sifat dan tujuan
16 pemberian hak atau dasar penguasaannya.

Pasal 2 ini bila dibaca secara independen, maka menimbulkan tafsir hukum yang argument
acontrario dengan keberadaan tanah sebagai fungsi sosial karena eksistensi tanah hak milik
perorangan dan tanah yang dikuasai pemerintah pun merupakan objek tanah yang dapat
diindikasikan sebagai tanah terlantar apabila tidak sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan

14 ibid, hlm.10
15 ibid, hlm.11
16 Wiradi, Gunawan, 1999, Kebijakan Agraria/Pertanahan Yang Berorientasi Kerakyatan dan Berkeadilan, Makalah disampaikan dalam Seminar
Nasional Pertanahan diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) di Yogyakarta, Tanggal 25-26 Pebruari 1999, hlm.35.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
pemberian hak atau dasar [Link] ini tentunya akan menimbulkan resistensi
secara faktual, karena tanah-tanah yangdimiliki perorangan belum tentu dimanfaatkan sesuai
keadaan atau sifat atau tujuanpemberian dikarenakan persoalan ketidakmampuan secara
ekonomi untuk mengusahakan, mempergunakan, atau [Link] itu, tanah
yang dikuasai pemerintah tersebut tidak dipergunakan karena keterbatasan anggarannegara/
daerah sehingga penggusaannya, penggunaannya, atau peruntukannya tidak sesuai dengan
keadaan atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya.

Sebagai wujud resolusi permasalahan dimaksud, dalam PP ini diatur mengenai pengecualian
objek tanah terlantar yakni tanah hak milik atau tanah hak guna bangunan atas nama
perorangan yang secara tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan
tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya dan tanah yang dikuasai pemerintah baik
secara langsung ataupun tidak langsung dansudah berstatus maupun belum berstatus barang
milik negara/daerah yang tidak sengaja tidak dipergunakan.

2.6 PENGATURAN PERKEBUNAN

1. Undang Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan:


a. Pasal 1, mengatakan antara lain:
1) Perkebunan adalah segala kegiatan pengelolaan sumber daya alam, sumber daya
manusia, sarana produksi, alat dan mesin, budi daya, panen, pengolahan, dan
pemasaran terkait Tanaman Perkebunan.
2) Tanah adalah permukaan bumi, baik yang berupa daratan maupun yang tertutup air
dalam batas tertentu sepanjang penggunaan dan pemanfaatannya terkait langsung
dengan permukaan bumi, termasuk ruang di atas dan di dalam tubuh bumi.
3) Hak Ulayat adalah kewenangan masyarakat hukum adat untuk mengatur secara
bersama-sama pemanfaatan Tanah, wilayah, dan sumber daya alam yang ada
di wilayah masyarakat hukum adat yang bersangkutan yang menjadi sumber
kehidupan dan mata pencahariannya.
4) Masyarakat Hukum Adat adalah sekelompok orang yang secara turun-temurun
bermukim di wilayah geografis tertentu di Negara Kesatuan Republik Indonesia
karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan Tanah,
wilayah, sumber daya alam yang memiliki pranata pemerintahan adat dan tatanan
hukum adat di wilayah adatnya.
5) Lahan Perkebunan adalah bidang Tanah yang digunakan untuk Usaha Perkebunan.
6) Perusahaan Perkebunan adalah badan usaha yang berbadan hukum, didirikan
menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di wilayah Indonesia, yang mengelola
Usaha Perkebunan dengan skala tertentu. 17
7) Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan
pemerintahan Negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan
menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
8) Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan daerah otonom.
9) Setiap Orang adalah orang perseorangan atau korporasi, baik yang berbadan
hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN
10) Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
Perkebunan.
b. Pasal 16 (1) Perusahaan Perkebunan wajib mengusahakan Lahan Perkebunan: a. paling
lambat 3 (tiga) tahun setelah pemberian status hak atas tanah, Perusahaan Perkebunan
wajib mengusahakan Lahan Perkebunan paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) dari
luas hak atas tanah; dan b. paling lambat 6 (enam) tahun setelah pemberian status hak
atas tanah, Perusahaan Perkebunan wajib mengusahakan seluruh luas hak atas tanah
yang secara teknis dapat ditanami Tanaman Perkebunan. (2) Jika Lahan Perkebunan
tidak diusahakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
bidang Tanah Perkebunan yang belum diusahakan diambil alih oleh negara sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. Pasal 57 (1) Untuk pemberdayaan Usaha Perkebunan, Perusahaan Perkebunan
melakukan kemitraan Usaha Perkebunan yang saling menguntungkan, saling
menghargai, saling bertanggung jawab, serta saling memperkuat dan saling
ketergantungan dengan Pekebun, karyawan, dan masyarakat sekitar Perkebunan.
d. Pasal 58 (1) Perusahaan Perkebunan yang memiliki izin Usaha Perkebunan atau
izin Usaha Perkebunan untuk budi daya wajib memfasilitasi pembangunan kebun
masyarakat sekitar paling rendah seluas 20% (dua puluh perseratus) dari total luas
areal kebun yang diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan. (2) Fasilitasi pembangunan
kebun masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui pola
kredit, bagi hasil, atau bentuk pendanaan lain yang disepakati sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. (3) Kewajiban memfasilitasi pembangunan kebun
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaksanakan dalam jangka waktu paling
lambat 3 (tiga) tahun sejak hak guna usaha diberikan. (4) Fasilitasi pembangunan kebun
masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaporkan kepada Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Pasal 59 Ketentuan lebih
lanjut mengenai fasilitasi pembangunan kebun masyarakat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 58 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
e. Pasal 55 menyatakan, bahwa setiap orang dilarang:
1) Mengerjakan menggunakan, menduduki, dan/atau menguasai lahan perkebunan;
2) Mengerjakan menggunakan, menduduki, dan/atau menguasai tanah masyarakat
atau tanah hak ulayat;
3) Melakukan penebangan tanaman dalam kawasan perkebunan; atau
4) Memanen dan/atau memungut hasil perkebunan.

2. Peraturan Perundang-undangan tentang Kekayaan Negara

18 Aset Negara yang dimiliki Pemerintah adalah Aset yang dipisahkan atau yang disebut Barang
Milik Negara/Daerah adalah barang yang diperoleh/dibeli atas beban APBN/APBD dan barang
yang berasal dari perolehan lain yang sah meliputi barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan
atau sejenis, diperoleh sebagai pelaksanaan perjanjian/kontrak, diperoleh berdasarkan
ketentuan undang-undang dan diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap. Aset negara yang dipisahkan disebut investasi pemerintah,
yang terdiri penyertaan modal pemerintah pada Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/
BUMD), Perseroan Terbatas lainnya, dan Badan Hukum milik pemerintah lainnya.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Landasan hukum pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan adalah:
1. Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003, tentang Keuangan Negara
a. Pasal 9 Menteri/pimpinan lembaga sebagai Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang
kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya mempunyai tugas sebagai berikut :
[Link] barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab kementerian
negara /lembaga yang dipimpinnya;
b. Pasal 24 (1) Pemerintah dapat memberikan pinjaman/hibah/ penyertaan modal
kepada dan menerima pinjaman/hibah dari perusahaan negara/daerah. (2) Pemberian
pinjaman/hibah/penyertaan modal dan penerimaan pinjaman/hibah sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) terlebih dahulu ditetapkan dalam APBN/APBD. (3) Menteri
Keuangan melakukan pembinaan dan pengawasan kepada perusahaan negara. (4)
Gubernur/bupati/walikota melakukan pembinaan dan pengawasan kepada perusahaan
daerah. (5) Pemerintah Pusat dapat melakukan penjualan dan/atau privatisasi
perusahaan negara setelah mendapat persetujuan DPR. (6) Pemerintah Daerah dapat
melakukan penjualan dan/atau privatisasi perusahaan daerah setelah mendapat
persetujuan DPRD. (7) Dalam keadaan tertentu, untuk penyelamatan perekonomian
nasional, Pemerintah Pusat dapat memberikan pinjaman dan/atau melakukan
penyertaan modal kepada perusahaan swasta setelah mendapat persetujuan DPR.

2. U
ndang Undang Nomor 19 Tahun 2003, tentang Badan Usaha Milik Negara
a. Pasal 1, dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan (pada angka-angka):
1. Badan Usaha Milik Negara, yang selanjutnya disebut BUMN, adalah badan usaha
yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan
secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.
5. Menteri adalah menteri yang ditunjuk dan/atau diberi kuasa untuk mewakili
pemerintah selaku pemegang saham negara pada Persero dan memiliki modal
pada Perum dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan.
6. Menteri Teknis adalah menteri yang mempunyai kewenangan mengatur kebijakan
sektor tempat BUMN melakukan kegiatan usaha.
10. Kekayaan Negara yang dipisahkan adalah kekayaan negara yang besaral dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dijadikan penyertaan
modal negara pada Persero dan/atau Perum serta perseroan terbatas lainnya.
b. Pasal 2 Ayat (1) Maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah antara lain dalam point: e.
turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi
lemah, koperasi dan masyarakat. Ayat(2) Kegiatan BUMN harus sesuai dengan maksud
dan tujuannya serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,
ketertiban umum dan/atau kesusilaan.
c. Pasal 4 (1) Modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. 19
(2) Penyertaan modal negara dalam rangka pendirian atau penyertaan pada BUMN
bersumber dari: a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; b. Kapitalisasi cadangan;
c. Sumber lainnya. (3) Setiap penyertaan modal negara dalam rangka pendirian BUMN
atau perseroan terbatas yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (4) Setiap perubahan penyertaan
modal negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), baik berupa penambahan
maupun pengurangan, termasuk perubahan struktur kepemilikan negara atau saham
Persero atau perseroan terbatas, ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


d. Pasal 88 (1) BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan
pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah.
Pelaksanaan ketentuan pasal 41 ayat (3) UU Nomor 1 Tahun 2004 pelaksanaannya di atur
dalam PP Nomor 1 Tahun 2004 tentang investasi pemerintah.
Pasal 2 (1) investasi Pemerintah dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomi,
sosial, dan/atau manfaat lainnya. (2) Investasi Pemerintah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam rangka memajukan
kesejahteraan umum.

2.7 PENGERTIAN HAK GUNA USAHA (HGU)

1. H GU adalah hak untuk mengusakan tanah yang dikuasai oleh Negara, meliputi bidang
pertanian, perkebunan, perikanan dan perternakan yang lasnya minimum 5 hektar untuk
perorangan dan luas maksimum 25 hektar untuk badan usaha. Luas maksimum ditetapkan
oleh Menteri Negara Agraria/KBPN.
2. Objek tanahnya adalah Tanah Negara.
3. Subyek Hak adalah Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum yang berkedudukan
di Indonesia.
4. Jangka waktu HGU diberikan untuk jangka maksimum 35 tahun dan dapat diperpanjang
maksimum 25 tahun. Permohonan perpanjangan tersebut diajukan selambat-lambatnya 2
tahun sebelum berakhirnya HGU tersebut.
5. HGU terjadi karena penetapan Pemerintah, dengan cara melalui permohonan pemberian
HGU oleh pemohon kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN). Apabila persyaratan sudah
dipenuhi, maka BPN menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKPH). SKPH tersebut
wajib didaftarkan ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat untuk di catat dalam
Buku Tanah dan di terbitkan Sertipikat HGU sebagai tanda bukti haknya. Pendaftaran
SKPH tersebut menandai lahirnya HGU. Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi berwenang
menerbitkan atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 200 hektar, apabila luasannya lebih
dari 200 hektar, maka yang berwenang menerbitkan SKPH-nya adalah Kepala BPN.
6. Hapusnya HGU, karena antara lain:
a. Jangka waktunya berakhir;
b. Dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir, karena suatu syarat tidak dipenuhi;
c. Diterlantarkan.

2.8 PENGERTIAN OKUPASI TANAH

20 Definisi okupasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pendudukan,
penggunaan, atau penempatan tanah kosong. Pendudukan yang dimaksud dilakukan tanpa
izin pemegang hak atau kuasanya sehingga dapat dikatakan illegal. Kegiatan okupasi ditujukan
untuk menggunakan (memakai) dan memanfaatkan obyek okupasi meskipun tidak ada dasar
atau bukti yang melegalkan melakukan kegiatan tersebut.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 51/Prp/1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa


Izin Yang Berhak atau Kuasanya, memakai tanah ialah menduduki, mengerjakan dan/atau
menguasai sebidang tanah atau mempunyai tanaman atau bangunan di atasnya, dengan tidak

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
dipersoalkan apakah bangunan itu dipergunakan sendiri atau tidak. Dalam konteks okupasi,
memakai tanah tidak didasarkan atas cara-cara perolehan yang dilegalkan namun terjadi lebih
karena obyek tanah yang tidak dikelola atau ditelantarkan sehingga memunculkan inisiatif
pengelolaan.

2.9 PENGERTIAN RECLAIMING TANAH

Berbeda dengan okupasi, reclaiming tanah dilakukan karena melihat sejarah tanah tersebut.
Reclaiming memiliki dasar moral dan berbeda terhadap penjarahan yang mana pelaku
reclaiming merasa memiliki obyek tanah tersebut, meskipun telah diduduki oleh pihak lain
dengan cara perampasan17. Reclaiming diawali dari adanya pengakuan oleh pihak yang merasa
dirugikan sebelumnya karena haknya telah diambil tanpa melalui proses yang dibenarkan
menurut peraturan. Reclaiming bukan penjarahan, reclaiming mempunyai dasar-dasar yang
dapat dipertanggungjawabkan, baik dimensi moral, ketidakadilan, normatif yuridis, historis
dan nilai-nilai lokal, struktur yang menindas, kebutuhan dasar manusia dan kewajiban
negara. Sedangkan penjarahan adalah merupakan tindakan kriminal, pencurian yang tidak
mendasarkan pada hak yang sesungguhnya dia miliki18.

2.10 PENYELESAIAN KONFLIK PERTANAHAN19

Berbagai penyelesaian konflik pertanahan cukup banyak ditawarkan baik yang bersifat
litigasi maupun non litigasi, namun hasilnya terasa kurang memuaskan. Penyelesaian melalui
pengadilanpun terkadang dirasakan oleh masyarakat tidak memuaskan, dan tidak sedikit
mereka yang telah menduduki tanah selama bertahun-tahun ditolak gugatannya untuk
mempertahankan hak atau mendapatkan hak karena adanya pihak lain yang menguasai tanah
yang bersangkutan. Atau sebaliknya gugatan seseorang terhadap penguasaan tanah tertentu
dikabulkan pengadilan walaupun bagi pihak yang menguasai tanah tidak cukup kuat atau
gugatan kurang beralasan.

Di Indonesia, konflik pertanahan dapat diselesaikan melalui Pengadilan Umum dan Pengadilan
Tata Usaha Negara, namun ada juga penyelesaian konflik pertanahan di luar pengadilan yang
dilakukan adalah: negosiasi, musyawarah mufakat dan mediasi.
Negosiasi dilakukan dengan jalan dimana para pihak yang berkonflik duduk bersama untuk
mencari jalan terbaik dalam penyelesaian konflik dengan prinsip bahwa penyelesaian itu tidak
ada pihak yang dirugikan (win-win solution), kedua pihak tidak ada yang merasa dirugikan.
Musyawarah mufakat adalah lengkah lebih lanjut dari negosiasi. Jika dalam negosiasi tidak
terdapat kesepakatan yang saling menguntungkan, maka langkah lebih lanjut adalah melakukan
musyawarah mufakat dengan melibatkan pihak lain selaku penengah. Hasil musyawarah 21
tersebut selanjutnya dibuatkan surat kesepakatan bersama yang ditanda tangani oleh para
pihak dan para saksi.

Mediasi merupakan pengendalian konflik pertanahan yang dilakukan dengan cara membuat
konsensus diantara dua pihak yang berkonflik untuk mencari pihak ketiga yang berkedudukan

17 Andik Hardiyanto. Penuntasan Masalah Lahan Perkebunan Untuk Keadilan Agraria dan Kemakmuran Petani. Surabaya, 2000, hal. 6.
18 Mary Herawati. Siti. Rahma.,et al. Atas Nama Pendidikan Hak-Hak Pagilaran Atas Tanah, Serial Kasus Pertanahan Di Jawa Tengah, Cetakan
Pertama, LBH Semarang dan PMGK Batang Diskusi Bedah Kasus Di UGM Yogyakarta, 19 Februari 2003, hal. 16
19 Sunarto, SH, M,Eng, Penanganan dan Penyelesaian Konflik Pertanahan dengan Prinsip Win-Win Solutions oleh BPN RI.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


netral sebagai mediator dalam penyelesaian konflik. Penyelesaian secara mediasi baik yang
bersifat tradisional ataupun melalui berbagai Lembaga Alternative Dispute Resolution (ADR).
Mediasi memberikan kepada para pihak perasaan kesamaan kedudukan dan upaya penentuan
hasil akhir perundingan yang dicapai menurut kesepakatan bersama tanpa tekanan atau
paksaan. Dengan demikian solusi yang dihasilkan mengarah kepada win-win solution.

Win-win Solution adalah situasi di mana kedua belah pihak yang berselisih (berkonflik) sama-
sama merasa diuntungkan dalam suatu transaksi atau kesepakatan dan tidak ada pihak yang
merasa dikalahkan. Dalam semangat win-win solution, penyelesaian sengketa tidak semata-
mata didasarkan pada siapa yang memiliki sertifikat.

2.11 IZIN LOKASI DAN PERTIMBANGAN TEKNIS

Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 5 Tahun 2015 tentang Pasal 1 (1) Izin Lokasi adalah
izin yang diberikan kepada perusahaan untuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka
penanaman modal yang berlaku pula sebagai izin pemindahan hak, dan untuk menggunakan
tanah tersebut guna keperluan usaha penanaman modalnya. Penerbitan Izin Lokasi dapat
dilakukan setelah adanya Pertimbangan Teknis Pertanahan. Berdasarkan Peraturan Kepala
Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 2011 Pasal 1 (1), Pertimbangan Teknis Pertanahan
dalam Penerbitan Izin Lokasi adalahpertimbangan yang memuat ketentuan dan syarat
penggunaan dan pemanfaatantanah, sebagai dasar penerbitan Izin Lokasi yang diberikan
kepada perusahaanuntuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal
yangberlaku pula sebagai izin pemindahan hak dan untuk menggunakan tanah tersebutguna
keperluan usaha penanaman modalnya. Didalam Pasal 5 disebutkan bahwa Pertimbangan
Teknis meliputi:
1. Risalah Pertimbangan Teknis Pertanahan; dan
2. Peta-peta Pertimbangan Teknis Pertanahan

2.12 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 38 TAHUN 2007

Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi,


dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Lampiran I menjelaskan bahwa kewenangan
Pemerintah Daerah Provinsi memiliki kewenangan dalam hal Izin Lokasi adalah sebagai berikut:
1. Penerimaan permohonan dan pemeriksaan kelengkapan persyaratan.
2. Kompilasi bahan koordinasi.
3. Pelaksanaan rapat koordinasi.
4. Pelaksanaan peninjauan lokasi.
22 5. Penyiapan berita acara koordinasi berdasarkan pertimbangan teknis pertanahan dari
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) provinsi dan pertimbangan teknis lainnya
dari instansi terkait.
6. Pembuatan peta lokasi sebagai lampiran surat keputusan izin lokasi yang diterbitkan.
7. Penerbitan surat keputusan izin lokasi.
8. Pertimbangan dan usulan pencabutan izin dan pembatalan surat keputusan izin lokasi atas
usulan kabupaten/kota dengan pertimbangan Kepala Kantor Wilayah BPN provinsi;.
9. Monitoring dan pembinaan perolehan tanah.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
23
Bab III
Metodologi
Penelitian
PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan sebagai penelitian
deskrifptif kualitatif.

3.1 METODE PENELITIAN


Penelitian ini dilaksanakan sebagai penelitian deskrifptif kualitatif. Bersifat desktiptif adalah
penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan obyek atau peristiwanya,
sedangkan kualitatif diartikan sebagai kegiatan menganalisa data secara komprehensif,
yaitu data sekunder dari berbagai kepustakaan dan literatur baik berupa buku, peraturan
perundangan, hasil penelitian lainnya maupun informasi yang terkait dengan penelitian.
Pendekatan Penelitian ini menggunakan metode penelitian Yuridis Empiris, pendekatan yuridis
digunakan sebagai acuan dasar berupa peraturan-peraturan yang berhubungan dengan Hak
Menguasai Negara atas tanah, Hak Guna Usaha (HGU) Perkebunan, sedangkan pendekatan
empiris digunakan untuk menganalisa bagaimana proses konflik yang dikemukakan sebagai
kenyataan data di lapangan.

3.2 JENIS DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA

3.2.1. Jenis Data


1. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan para pejabat di tingkat Kanwil BPN
Provinsi, Pejabat Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota, Pejabat Pemerintah Daerah, Pejabat
Dinas Perkebunan Kabupaten, para pakar pertanahan, serta para stakeholder terkait
lainnya;
2. Data sekunder diperoleh melalui studi literatur, hasil-hasil penelitian ataupun dokumen
yang terkait dengan konflik pertanahan di wilayah perkebunan skala besar, baik perkebunan
negara maupun perkebunan swasta.
3.2.2. Teknik Pengumpulan Data
Observasi melalui wawancara dengan nara sumber.

3.3 POPULASI, SAMPEL DAN LOKASI PENELITIAN

3.3.1. Populasi
Populasipenelitian adalah badan hukum perkebunan berskala besar yang berkonflik dengan
24 masyarakat.
3.3.2. Lokasi Penelitian
Penelitian akan mengambil 6 provinsi sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan, provinsi-
provinsi tersebut terdapat beberapa badan hukum perkebunan (HGU) yang berkonflik dengan
masyarakat.
3.3.3. Sampel Penelitian
Dari populasi tersebut akan ditetapkan sampel penelitian melalui purposive sampling, dengan
pendekatan Non Probibilitas, kemudian ditetapkan sampel sebanyak 2 (dua) atau 3 (tiga)

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
badan hukum perkebunan di wiliyah Provinsi dengan pertimbangan minimnya ketersediaan
data di Kantor Wilayah Provinsi.

Adapun 6 (enam) provinsi, sebagai lokasi penelitian yakni:


1. Sumatera Utara,
2. Lampung,
3. Sumatera Selatan,
4. Kalimantan Timur,
5. Jawa Barat,
6. Jawa Timur.

Responden penelitian yang akan dijadikan sebagai sumber data adalah:


1. Kepala Kantor Wilayah Provinsi BPN
2. Kabid SKP
3. Kabid HTPT
4. Kepala Kantor Pertanahan
5. Kasi SKP
6. Kasi HTPT
7. Pemerintah Daerah

3.4 METODE PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

3.4.1. Pengolahan Data


Sesuai dengan sifat penelitian deskriptif kualitatif, maka pengolahan data adalah setelah
diperoleh data sekunder kemudian dilakukan pengelompokan data sesuai dengan tujuan
penelitian. Data sekundernya adalah sebagai berikut :
1. Riwayat perolehan tanah;
2. Akar masalah/penyebab konflik pertanahan;
3. Penanganan dan solusi konflik pertanahan.
3.4.2. Analisa Data
Analisa data dimulai dari penelusuran data berupa kenyataan di lapangan yang dihubungkan
dengan teori, konsep dan peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai riwayat
perolehan tanah, akar masalah/penyebab permasalahan konflik dan solusi penyelesaian
konflik.

25

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


26

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Bab IV 27
Sebaran Konflik
Pertanahan di Wilayah
Perkebunan di Lokasi
Sampel Penelitian
PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN
BAB IV
SEBARAN KONFLIK PERTANAHAN DI
WILAYAH PERKEBUNAN
DI LOKASI SAMPEL PENELITIAN

4.1. SEBARAN KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN PROVINSI JAWA


BARAT

Tabel 1 Sebaran KonfliK Pertanahan HGU Perkebunan Provinsi Jawa Barat

Subyek Yang Tipologi


No Lokasi Status Luas (Ha)
Ber Konflik Konflik
1 Kab. Sumedang
a. Kec. Jatinangor Ex HGU No. 1,2,3 907.37 Pemda Jawa Barat vs Reclaiming
  Ahli Waris (klaim)
Desa Sayang      
Desa Cikeruh      
Desa Hegarmanah      
Desa Cilayung      
Desa Cileles      
Desa Sindangsari      
b. Kec. Buah Dua Ex HGU No. 2/ 1,260.30 PT. Bukit Jonggol vs Okupasi
Gendereh petani penggarap
Desa Gendereh        
Desa Ciawitali        
2 KAB. Indramayu
Desa Sukamulya HGU No. 2 6,248.52 PT. PG Rajawali Okupasi
II vs Masyarakat
(KOMNASPAN)
Desa Mulyasari        
Desa Jatisura        
3 KAB. Ciamis
a. Sukajaya Tanah Perkebunan 368.70 PTP N VIII vs Masyarakat  
Ex PT Cikencreng
Cimerak
b. Kec. Cipaku HGU No 1/Muktisari 63.73 PT. Maloya vs Okupasi
  Masyarakat
  Desa Muktisari HGU No 2/Muktisari 39.79    
Desa Cipaku HGU No 3/Cipaku 10.40    

28 c. Kec. Ciamis
 
HGU No 1/Desa
Sukamulya
111.86 PT. Raya Sugar
Industries vs Masyarakat
Okupasi

Desa Jelat HGU No 1/Desa 200.71    


Cintanegara
Desa Sukamulya        
Kec. Jatinegara        
Desa Cintanegara      

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Subyek Yang Tipologi
No Lokasi Status Luas (Ha)
Ber Konflik Konflik
d. Kec. Padaherang Tanah Perkebunan 574.98 PT. Cipicung vs Okupasi
  PT. Pesawahan Masyarakat
Cipicung
Desa Bojongsari        
Desa Karangsari        
e. Kec. Tambaksari Tanah Ex HGU PT. 437.11 PT. BJA vs Masyarakat Okupasi
  Latek
Desa Kaso        
Desa Kadupandak        
f. Kec. Banjasari Tanah Perkebunan 348 [Link] Asli vs Okupasi
  HGU PT. Mulya Asli Masyarakat
Desa Cigayam        
g. Kec. Langkaplancar Tanah Perkebunan - PTPN VIII vs Masyarakat Okupasi
  PTPN VIII Cikupa
Desa Cikupa Karang        
Kamiri
h. Kec. Banjarsari Tanah Ex PT. Bukit 708.04 Perum Perhutani, Okupasi
Jonggol Asri Pengusaha vs Petani
penggarap
Desa Cikaso        
Desa Cigayam        
Desa Banjaranyar        
Desa Pasawahan        
4 KAB. GARUT
a. Desa Mekarmukti PTPN VIII 402.66 PTPN VIII Okupasi:
  Dayeuhmanggung Dayeuhmanggung vs 102 Ha
(SK HGU No 59/ Masyarakat
HGU/DA/85)
Desa Sukamukti        (tidak ada
tanda batas/
patok)
Desa Dangiang        
b. Kec. Cibalong HGU No 57/ 115.35 PTPN VIII Miramare vs Okupasi
  Karyamukti (Eks Masyarakat penggarap
HGU No 10/Maroko)
Desa Karyamukti        
c. Kec. Cibalong HGU No 41/ 253.20 PTPN VIII Bunisarilendra Okupasi
  Mekarsari (Eks HGU vs Masyarakat penggarap
No 11/Cibalong)
Desa Mekarsari        
d. Kec. Cikajang Eks HGU 1/Jayabakti 422 PT. Surya Andaka Okupasi
  Mustika vs Masyarakat
Desa Cipangramatan        
Kec. Banjarwangi        
Desa Bojong         29
e. Kec. Pakenjeng HGU No 2/Tegalgede 111 PT. Condong Garut vs Reclaiming
  Masyarakat penggarap
Desa Tegalgede        
f. Kec. Cikajang Eks HGU 1,900 PDAP Prov. Jabar vs Okupasi
  Masyarakat
Desa Banjarwangi        
Desa Bayongbong        

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Subyek Yang Tipologi
No Lokasi Status Luas (Ha)
Ber Konflik Konflik
g. Kec. Cisurupan Eks HGU No 1, 2, 3/ 107 PT. Hardjasari vs Okupasi
  Sukawargi Masyarakat
Desa Sukawargi        
h. Kec. Cikajang HGU 2,215.81 PTPN VIII Papandayan Okupasi
  vs Masyarakat
Kec. Cilawu        
Desa Sukamaju        
Desa Cibalong        
Desa Cikandang        
5 KAB. SUKABUMI
a. Kec. Sukaraja HGU No 1/Selaawi 41.37 PTPN VIII (Perkebunan Okupasi
  Goal Para) vs
Masyarakat
Desa Margaluyu        
b. Kec. Jampang HGU No 8, 9, 10, 10, 1,621.86 PT. Tutu Kekal vs Okupasi
  Tengah 10, 11, 11, 9, 8, 6, 5 Masyarakat
Desa Cijulang        
Kec. Purabaya        
Desa Pagelaran        
Desa Purabaya        
Desa Neglasari        
Kec. Sagaranten        
Desa Puncakmanggis        
Desa Cibaregbeg        
Desa Hegarmanah        
Desa Datarnangka        
Sumber: Kanwil BPN Provinsi Jawa Barat, 2015.

4.2. KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN PROVINSI SUMATERA UTARA


Tabel Sebaran Konflik Pertanahan di Wilayah Perkebunan di Provinsi Sumatera Utara (tidak
tersedia data).

Konflik Pertanahan di Wilayah Perkebunan Kabupaten Sampel Penelitian adalah:


4.2.1. PT Bridgestone (Kabupaten Serdang Bedagai)
Lokasi perkebunan PT. Bridgestone yang menjadi obyek sengketa berada di Desa Tinokah,
Kecamatan Sipispis dan masuk bagian dari areal HGU No. 1/Nagarai Pane dengan luas total
kebun 2.846,73 Ha yang akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2022. Adapun pihak yang
30 bersengketa adalah masyarakat Desa Tinokah yang diwakili oleh Panitia Pengembalian Tanah
Sorba Jahe, Naga Tongah, Sihora-hora, Desa Tinokah dengan PT. Bridgestone (dahulu PT.
Goodyear).
4.2.2. PT Perkebunan Nusantara III/Kebun Rambutan (Kabupaten Serdang Bedagai)
Lokasi perkebunan PTPN III/Kebun Rambutan (Paya Bagas) yang menjadi obyek sengketa
adalah tanah seluas ± 82 Ha dan bagian dari areal HGU No.1/Paya Bagas tanggal 14 Mei 1996.
Adapun HGU tersebut akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2025. Pihak yang bersengketa
adalah masyarakat yang menggarap sebagian lahan tersebut dengan PTPN III/Kebun Rambutan
(Paya Bagas).

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
4.2.3. PT Perkebunan Nusantara II (Kabupaten Langkat)
Sebaran lokasi yang menjadi obyek sengketa dan kemudian dikeluarkan dari perpanjangan
HGU atas nama PTPN II khususnya di Kabupaten Langkat (Keputusan Kepala BPN No. 43/HGU/
BPN/2002) meliputi 12 kebun. Luas total tanah yang dikeluarkan tersebut mencapai 1210,868
Ha dengan rincian sesuai tabel berikut:

Tabel 2 Luas Tanah yang dikeluarkan dari perpanjangan HGU PTPN II di Kabupaten Langkat

Luasan Obyek Permasalahan (Ha)


No. Kebun Perumahan Masuk Masyarakat
Tuntutan Garapan
Karyawan RUTRWK Adat
1. Kwala Begumit 221,02 11,62 23,00 35,00 -
2. Kwala Bingei I 190,06 - 54,00 200,00 -
3. Kwala Bingei II - - 25,70 73,47 200,00
4. Tanjung Jati - 16,41 11,34 - -
5. Tanjung Keliling - 6,64 - - -
6. Maryke - 43,93 - - -
7. Glugur Langkat - 5,92 - - -
8. Gohor Lama I 16,52 - - - -
9. Gohor Lama II - - - - -
10. Besilam 14,00 - - - -
11. Timbang Langkat/ - 33,74 - - -
Purwobinangun
12. Timbang Langkat/ Binjai 25,80 2,70 - - -
Estate
Jumlah 467,40 120,96 114,04 308,47 200,00
Sumber: Keputusan Kepala BPN No. 43/HGU/BPN/2002.

4.3. SEBARAN KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN PROVINSI SUMATERA


SELATAN
Tabel 3 Sebaran KonfliK Pertanahan HGU Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan

Luas Subyek Yang Tipologi


No Lokasi Status
(Ha) Berkonflik Konflik
1. Kab. Ogan Komering Ilir  
Desa Nusantara HGU PT. SAML 1.100,2 PT. SAML vs Okupasi
di Kec. Air Nomor 07/OKI Ha  dan Masyarakat
Sugihan OKI dan HGU Nomor 972 Ha
08/OKI
2. Kab. Ogan Ilir 
Kab. Ogan Ilir Tumpang Tindih
Bidang Tanah
- PT. Gembala
Sriwijaya dengan
Tumpang Tindih Bidang
Tanah dengan GS. 05 An.
31
HM. Romli/Lisa PT. Gembala Sriwijaya
3. Kab. Musi Banyuasin
Desa Tanjung HGU PTPN 1.693 Ha PTPN VII Unit Tuntutan warga Dusun IV
Agung Selatan, VII Unit Usaha Usaha Betung vs Talang Ucin untuk tidak
[Link], Betung No. 46/ Masyarakat memproses HGU PTPN
[Link] Muba dan No. 47/
Banyuasin Muba

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Luas Subyek Yang Tipologi
No Lokasi Status
(Ha) Berkonflik Konflik
4. Kab. Banyuasin
a. Desa Siju, Kec. Proses - PT. Patri Agung Tuntutan
Rambutan,Kab. Permohonan Perdana vs Masy.
Banyuasin HGU Desa Siju
b. Desa Sungai Tanah HGU 65 Ha PT. Swadaya Indo Penyerobotan tanah
Rengit, Kab. Palma (SIP) masyarakat yang sudah
Banyuasin digarap sejak 1980 oleh PT.
SIP sejak 2006
5. Kab. Lahat
a. Desa Pagardin Tanah ­± 303 Ha PT. Adi Tarwan vs Tuntutan
dan Desa perkebunan Masyarakat
Karang Cahaya, belum berstatus
Kec. Kikim HGU milik PT. Adi
Tarwan dikuasai
oleh masyarakat.
b. Desa Cecar, - PT. Pan London Recaliming
Kec. Kikim Timur, Sumatera Plantation
[Link] dengan Koperasi
Tani Makmur
6. Kab. Ogan Komering Ulu Timur
Desa Peracak, Tidak ada data 1.800 Ha PT. Mincar Jaya Reclaiming
[Link] Timur Martapura vs
Masyarakat
7. Kab. Muara Enim
a. Desa Toman, Proses - PT. Bumi Sriwjaya Tuntutan Pencabutan Izin
Jerambah, permohonan Sentosa vs Lokasi dan terbitnya HGU
Rengas, Cambai, HGU Masyarakat
Sungutan Air
Besar, Pulauan,
Penanggoan
Duren dan desa
sekitarnya
[Link] Enim
b. Desa Sumber Tidak ada data 1.414 Ha PTPN VII vs Warga Tuntutan masyarakat atas
Mulya Kec. Desa Sumber Mulya lahan yang telah dirampas
Rambang Lubai [Link] VII sejak tahun 2000
Kab. Muara untuk dikembalikan kepada
Enim masyarakat.
Sumber: Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan, Kanwil BPN Prov. Sumatera Selatan 2015

4.4. SEBARAN KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN PROVINSI


KALIMANTAN TIMUR
Tidak tersedia data sebaran.

32 4.5. SEBARAN KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN PROVINSI LAMPUNG


Tidak tersedia data sebaran

4.6. SEBARAN KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN PROVINSI JAWA


TIMUR

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Tabel 4 Sebaran KonfliK Pertanahan HGU Perkebunan Provinsi Jawa Timur

Tipologi
Pihak Yang Upaya
No. Sengketa/ Pokok Masalah
Bersengketa Penyelesaian
Konflik
1. Kabupaten Jember
a. Warga Desa Pakis Sengketa Warga Desa Pakis dan Suci mengklaim Bupati Jember
dan Suci dengan Penguasaan tanah Perusahaan Daerah Perkebunan melakukan
Perusahaan Daerah dan Pemilikan (PDP) Kabupaten Jember seluas 477,8 audiensi dengan
Perkebunan (PDP) Ha yang terletak di Desa Pakis dan Suci, paguyuban
Kabupaten Jember. Kecamatan Paniti (Perkebunan Ketadjek). masyarakat
pemilik tanah
Ketadjek.
b. Warga Desa Curah Sengketa Luas kebun 2500 Ha diklaim Warga Desa Mediasi
Nongko, Kecamatan Penguasaan Curah Nongko, Kecamatan Tempurejo
Tempurejo dan Pemilikan seluas 332 Ha, sedangkan yang sudah
dengan PTPN dikuasai oleh masyarakat seluas 125 Ha
XII Perkebunan terletak di Desa Curah Nongko, Kecamatan
Kalisanen). Tempurejo (Perkebunan Kalisanen).
c. Ahli waris P. Nira Sengketa Sengketa penguasaan tanah HGU oleh Melakukan
(69 orang) dengan Penguasaan rakyat. penelitian
PTPN XII. dan Pemilikan Ahli waris P. Nira (69 orang) menuntut lapangan dan
sebagian tanah HGU, seluas 120,7 administrasi
Ha yang terletak di Desa Wirowongso, (tahun 2001)
Kecamatan Ajung dikembalikan, dengan oleh BPN
alasan merupakan tanah Hak Adat (Yasan) bersama Kantor
milik P. Nira dengan bukti berupa Petok PBB.
C dan surat perjanjian sewa menyewa
dengan mandor besar Belanda.
d. Sekelompok Sengketa Sekelompok orang yang mengatasnamakan Telah
orang yang Penguasaan warga Desa Nogosari mengklaim tanah disarankan
mengatasnamakan dan Pemilikan milik PTPN XI, seluas 135 Ha kepada
warga Desa Terletak di Desa Nogosari, Kecamatan warga Desa
Nogosari dengan Rambipuji Nogosari untuk
PTPN XI. menyelesaikan
masalah
dimaksud
melalui
Lembaga
Peradilan.
e. Warga masyarakat Sengketa Penguasaan perkebunan rakyat seluas Disepakati
Dusun Kebonpring Penguasaan 47,3 Ha yang terletak di Desa Mangaran agar PTPN
Desa Mangaran dan Pemilikan Kecamatan Anjung (Perkebunan Renteng) XII segera
Kecamatan Anjung oleh Perkebunan HGU (sebagian dari tanah melepaskan
dengan PTPN XII. obyek sengketa sudah diduduki warga). tanah seluas
43,4 Ha
dimaksud.

2. Kabupaten Kediri
Warga masyarakat Sengketa Sebagian tanah Perkebunan Ngrangkah Sebagian
dengan PTPN XII Penguasaan Pawon seluas 2.521,76 Ha yang terletak perkebunan
(Persero). dan Pemilikan di Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten telah digarap
dituntut oleh Sdr Nyono, dkk seluas ±124
Ha.
warga
masyarakat
33
sekitar dengan
pola kemitraan
dengan pihak
PTPN XII
(Persero).

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Tipologi
Pihak Yang Upaya
No. Sengketa/ Pokok Masalah
Bersengketa Penyelesaian
Konflik
3. Kota Kediri
PT. Perkebunan Sengketa Usaha Tim 15 untuk membebaskan tanah Hingga saat
Nusantara X Penguasaan HGU/Persil seluas ±57 Ha yang terletak ini, Tim Peneliti
dhl. Perusahaan dan Pemilikan di Dusun Kemiri, Kelurahan Manisrenggo, Kasus Tanah
Perkebu-nan Kecamatan Kota yang dikelola oleh yang dibentuk
Gula Negara Pabrik Gula Pesantren atas kuasa dari oleh Walikota
PESANTREN ahli waris yang selanjutnya tanah akan Kediri belum
dengan warga dipergunakan untuk tempat tinggal, tempat mampu
Kelurahan ibadah, fasilitas umum guna kesejahteraan menyelesaikaan
Manisrenggo, Kec. masyarakat, dengan alasan bahwa tanah perma-salahan
Kota Kediri yang tersebut adalah tanah yang berasal dari dimaksud.
mengatasnamakan warga dan harus dikembalian kepada ahli
“Tim 15” warisnya.
4. Kabupaten Malang
a. Kelompok Tani Sengketa Tanah Negara bekas Hak Erfacht Nomor Proses mediasi
Rukun Makmur Penguasaan 1294, 1234, 2135, 1565, (±57,6 Ha) terletak
(Sadelan dkk) dan Pemilikan di Desa Wonorejo dan tanah Hak Milik
dengan TNI-AD Adat/Yasan (±179,5 Ha), dikuasai oleh
Kodam V Brawijaya PUSKOPAD dan diklaim masyarakat.
Lawang.
b. Masyarakat Desa Sengketa Permohonan tambahan tanah garapan Mediasi belum
Ringin Kembar Penguasaan warga Dukuh Sumbermas/Sumberejo dan berhasil
dengan TNI-AD dan Pemilikan Dukuh Pancurjo/Talangsari (544 KK) seluas
Kodam V Brawijaya 355 Ha terletak di Desa Ringin Kembar,
(PUSKOPAD). Kecamatan Sumbermanjing Wetan, yang
mana masyarakat membabat tanaman
perkebunan dan menguasai tanahnya.

c. Masyarakat Desa Sengketa Masyarakat membabat Perkebunan Mediasi


dengan PTPN Penguasaan Kalibakar PTPN XII dan menguasai
XII (Perkebunan dan Pemilikan sebagian besar tanah perkebunan
Kalibakar). seluas 1.936,7 Ha terletak di Desa
Simojayan, Desa Tirtoyudo, Desa Bumiaji,
DesaTlogosari, Desa Kepatihan, Desa
Ampelgading, Desa Dampit, Desa Tirtoyudo
(Perkebunan Kalibakar).
d. Masyarakat Sengketa Tanah Perkebunan Pancursari yang terletak Proses Mediasi
Desa Tegalsari Penguasaan di Desa Tegalrejo dan Sekarbanyu seluas
dan Sekarbanyu dan Pemilikan ± 912 Ha dimohon masyarakat dengan
dengan PTPN alasan ditelantarkan PTPN XII.
XII (Perkebunan
Pancursari).
5. Kabupayen Blitar
a. PT. Kemakmuran Sengketa Bekas HGU seluas 600 Ha, masyarakat 412 Ha
dengan Masyarakat Penguasaan Desa Karangrejo, Kecamatan Garum diberikan HGU
Desa Karangrejo dan Pemilikan menuntut sebagian tanah kebun seluas 412 kepada PT.
Kec. Garum. Ha, yang dikuasai 108 Ha. Kemakmuran,
sedangkan

34 sisanya 108
Ha diberikan
kepada masya-
rakat.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Tipologi
Pihak Yang Upaya
No. Sengketa/ Pokok Masalah
Bersengketa Penyelesaian
Konflik
b. PT. Perkebunan Sengketa HGU No. 1/Sumberagung dituntut Secara lisan
Rotorejo Kruwuk Penguasaan masyarakat Desa Sumberagung seluas pihak perke-
dengan Masyarakat dan Pemilikan 15 Ha. bunan bersedia
Desa Gadungan dan melepas seluas
masyarakat Desa HGU No. 4/Gadungan dituntut masyarakat 15 Ha di Desa
Sumberagung Desa Gadungan seluas 38 Ha sebagai sisa Sumberagung,
tanah yang belum diredistribusikan atas dan belum mau
dasar SK 49/Ka/1964. melepaskan
seluas 38
Ha di Desa
Gadungan.

Dalam proses
Mediasi.
c. PT. Dewi Sri dengan Sengketa Masyarakat Desa Ngadirenggo menuntut Pihak
Masyarakat Desa Penguasaan tanah seluas 180 Ha atas dasar pengakuan perkebunan
Ngadirenggo dan Pemilikan warga pernah menduduki/ menggarap belum bersedia
Kecamatan Wlingi. sebagian tanah kebun. melepaskan hak
atas tanahnya.
Dalam proses
mediasi
d. PT. Tri Windu, luas Sengketa Masyarakat Desa Ngadirenggo menuntut Pihak kebun
dengan Masyarakat Penguasaan tanah seluas 50 Ha atas dasar pengakuan mohon penyele-
Desa Ngadirenggo dan Pemilikan warga pernah menduduki/ menggarap saian kepada
Kecamatan Wlingi. sebagian tanah kebun. Pemkab
Blitar. Pemkab
Blitar sendiri
mene-kankan
penyelesaian
melalui jalur
hukum.
Dalam proses
mediasi
e. PT. Gappri dengan Sengketa Masyarakat Desa Sidorejo menuntut Ada
Masyarakat Desa Penguasaan sebagaian tanah perkebunan seluas 135 kesepakatan
Sidorejo Kecamatan dan Pemilikan Ha atas dasar pengakuan warga pernah dalam bentuk
Doko. menggarap/ menduduki sebagian tanah kompensasi
kebun. kepada
masya-rakat
sebagian hasil
panen cengkeh
sebesar 2,5
% (min 2-5
ton) diberikan
kepada
masyarakat.
Memberikan
bantuan berupa
100 ton jagung
selama 2 tahun
(1999 s/d 2001).
35

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Tipologi
Pihak Yang Upaya
No. Sengketa/ Pokok Masalah
Bersengketa Penyelesaian
Konflik
f. PTPN XII dengan Sengketa HGU Nomor 8/Penataran seluas 399 Ha Pihak
Warga Desa Penguasaan dituntut warga Desa Penataran seluas 182 perkebunan
Penataran (800 KK). dan Pemilikan Ha atas dasar pengakuan warga penah bersedia
menduduki/ menggarap sebagian tanah melepaskan
perkebunan. seluas 70 ha.

Belum ada
rekomendasi
Menteri
BUMN dan
Menteri
Keuangan.

Belum ada
pelepasan dari
PTPN XII.
g. PT. Veteran Sri Dewi Sengketa Dua kelompok masyarakat Desa Proses Mediasi
dengan masyarakat Penguasaan Mondangan, yang pertama kelompok
Desa Modangan. dan Pemilikan A beberapa orang melalui jalur hukum
menang di MA, sedangkan kelompok
B yang merupakan sebagian besar
masyarakat menuntut melalui mediasi
Pemkab, karena tanah dikuasai oleh
kelompok B, maka kelompok A keberatan
sebelum biaya yang mereka keluarkan
diganti rugi.
h. PT. Kismo Sengketa Masyarakat menuntut kepada pihak PT. Mediasi
Handayani dengan Pemilikan dan Kismo Handayani tanah perkebunan seluas
masyarakat Desa Penguasaan 100 Ha dan 74 Ha, sisa 26 Ha di lokasi lain,
Soso, Kecamatan atas dasar SK 49/Ka/1964.
Gandusari.
6. Kabupaten Jombang
Warga masyarakat Sengketa Tanah Perkebunan Gunung Matabeyan Pernah
dengan PT. Gunung Penguasaan seluas 490,26 Ha yang terletak di Desa dilakukan
Matabeyan dan Pemilikan Sambiroto, Kecamatan Wonosalam, musyawarah/
Kab Jombang sebagian dikuasai oleh mediasi,
masyarakat, tahun 1998/1999. belum ada
kesepakatan.
Sumber: Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan, Kanwil BPN Prov. Jawa Timur

Konflik Pertanahan di Wilayah Perkebunan Kabupaten Sampel Penelitian adalah:


4.6.1. PTPN XII/Kalisanen (Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember)
Lokasi PT Perkebunan Nusantara XII yang menjadi obyek sengketa dikenal dengan nama
Kebun Kalisanen yang masuk wilayah Kabupaten Jember. Luas tanah yang dituntut atas nama
masyarakat adalah seluas ±332 Ha dari luas keseluruhan areal PT Perkebunan Nusantara XII
Kebun Kalisanen 2.709,49 Ha, tetapi jika melihat kondisi faktual dilapangan hanya ±125,05 Ha
36 yang dikuasai masyarakat sedangkan sisanya (±207 Ha) masih dikuasai pihak PTPN XII. Pada
tahun 1986 melalui Menteri Dalam Negeri cq. Direktur Jenderal Agraria tepatnya tanggal
29 November 1986 telah diterbitkan SK.64/HGU/DA/1986 yang memberikan Hak Guna
Usaha kepada PTP XXVI (Sekarang dilebur menjadi PTPN XII). Namun hingga beberapa tahun
kemudian Hak Guna Usaha tersebut belum didaftarkan di Kantor Pertanahan Kabupaten
Jember sehingga SK menjadi batal demi hukum (melewati masa pendaftaran).

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
4.6.2. PT. Kemakmuran Swaru Buluroto (Kabupaten Blitar)
Lokasi yang menjadi obyek sengketa antara PT. Kemakmuran Swaru Buluroto dengan
masyarakat dan PT. Satya Mukti Raya terletak Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten
Blitar dengan inti pokok permasalahan adalah masyarakat menuntut sebagian tanah kebun
seluas 412 Ha, yang dikuasai 108 Ha sedangkan sengketa terhadap PT. Satya Mukti Raya terkait
dengan perolehan tanah yang mana pada tahun 1973 pernah diterbitkan Surat Keputusan
Menteri Dalam Negeri Nomor SK.70/HGU/DA/73 (Sertipikat Hak Guna Usaha Nomor 1/
Karangrejo) atas nama PT. Satya Mukti Raya. Adapun untuk saat ini pada tanah sebagian
bekas Hak Erpacht No. 85, 88, 93, 96, 324, 325 dan 326 tertulis atas nama A Van Hoobogen
& Co tersebut telah diterbitkan HGU melalui Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional
RI Nomor: 44/HGU/BPN RI/2010 yang diberikan kepada PT. Kemakmuran Swaru Buluroto
(Sertipikat HGU No. 2/Karangrejo).

37

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


38

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
BAB V 39
Hasil Lapangan
dan Pembahasan

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


BAB V
HASIL LAPANGAN DAN PEMBAHASAN

5.1. HASIL LAPANGAN

5.1.1. DeskripsiKonflik Pertanahan Antara HGU Perkebunan Milik Negara dan Swastadengan
Masyarakat di Lokasi Sampel Penelitian

[Link]. Provinsi Jawa Barat

[Link].1. PT. Tutu Kekal (Kabupaten Sukabumi)


1. Riwayat Penguasaan Tanah
a. Pada Mulanya Perkebunan Miramontana seluas ±1.621,8636 Ha berasal dari tanah
bekas Hak Erpacht dan Hak Opstal kemudian dikuasai/ diusahakan oleh PT Ciputat
yang berkedudukan di Sukabumi. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri
Cq. Dirjen Agraria tanggal 1-05-968 Nomor SK. 13/HGU/1968 dibatalkan haknya dan
kembali menjadi tanah yang dikuasai Negara;
b. Tanah eks PT Ciputat yang statusnya telah menjadi tanah yang dikuasai Negara
dimohonkan Hak Guna Usaha oleh PT TUTU KEKAL berkedudukan di Bogor,
berdasarkan Surat Keputusan Dalam Negeri tanggal 13-05-1968 No. SK 14/HGU/
DA/1968, diterbitkan Sertipikat HGU sebagai berikut:

Tabel 5 Sertipikat HGU PT Tutu Kekal

No. HGU No. Eks Verponding No. Surat Ukur/Tahun Luas (Ha)
1. 5 176 343/1919 0,4880
2. 6 175 295/1919 0,3697
3. 7 194 472/1922 1,1740
4. 8 235 28/1989 173,8697
5. 8 679 190/1930 140,7946
6. 9 574 490/1991 183,9413
7. 9 602 451/1924 126,9704
8. 10 173 10/1895 69,6900
9. 10 211 76/1896 333,5355
10. 10 165 sisa 34/1894 169,3400
11. 11 50 24/1881 331,1294
40 12. 11 166 sisa 35/1894 7,6600
13. 12 180 492/1919 0,9550
14. 12 187 264/1922 0,1655
15. 13 303 591/1937 1,0230
16. 14 177 694/1919 0,7575
Sumber: Kanwil BPN Provinsi Jawa Barat, 2015

c. M
asing-masing Hak Guna Usaha yang telah berakhir Haknya pada tanggal 31-12-1998
dimohonkan pembaharuan Haknya oleh PT Tutu Kekal tanggal 28-05-2009 Nomor 17/
TK/G/5/2009 yang disampaikan melalui Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Nasional Provinsi Jawa Barat pada tanggal 22-03-2011 Nomor 5/P-32/III/2011;
d. A
tas permohonan pembaharuan HGU oleh PT Tutu Kekal, Bupati Sukabumi melalui
Suratnya tanggal 23-04-2009, No. 593.4/941-Tapem memberikan rekomendasi
perpanjangan Hak Guna Usaha atas tanah perkebunan Miramontana An. PT Tutu Kekal
dengan catatan:
1) Menyelesaikan garapan masyarakat yang berada di lahan HGU dengan cara
musyawarah dalam kondisi yang kondusif dan tidak merugikan kedua belah pihak;
2) Dari seluruh areal ±1.617,6249 Ha yang dimohon peruntukannya ditentukan
sebagai berikut:
a) Seluas 1521 Ha termasuk 65 Ha dalam bentuk sawah tadah hujan yang
pengelolaannya dimitrakan dengan karyawan sekitar dan seluas 21 Ha dalam
bentuk Situ/cekdam yang dalam pengelolaannya dikerjasamakan dengan
Pemerintah Desa;
b) Agar dilakukan penyisihan sebagian lahan dari permohonan pembaharuan
HGU seluas 100 Ha selanjutnya diperuntukan untuk pemukiman, fasilitas
sosial, fasilitas umum, sarana pengembangan pemerintah serta lahan untuk
relokasi penggarap tanaman tumpang sari tahunan.
3) Tanah yang dimohonkan pembaharuan Hak Guna Usaha oleh PT Tutu Kekal telah
mendapat rekomendasi dari:
a) Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat dengan Surat tanggal 11-05-
2009, No. 593/1059/PPUP/2009 dan Dinas Kehutanan dan perkebunan Kab.
Sukabumi tanggal 19-02-2009 No. 525/208/[Link]
b) Kepala Dinas Kehutanan danPerkebunan Kabupaten Sukabumi tanggal 19-02-
2009 No. 525/208/P-Bun dan Tanggal 26-01-2011 No. 525/[Link].
4) Letak tanah yang dimohon pembaharuan HGU oleh PT Tutu Kekal semula sesuai
Sertipikat HGU No 10/Jampang Tengah, HGU No. 5 sampai dengan 12/Purabaya,
HGU No. 8 sampai dengan 14 /Cibaregbeg, Berdasarkan Peraturan Daerah
Kabupaten Sukabumi tanggal 21-01-2001 No. 01/2001 menjadi terletak di Desa
Cijulang kecamatan Jampang Tengah, Desa Hegarmanah, Desa Cibaregbeg, Desa
Datarnangka, Desa Puncak Manggis Kecamatan Sagaranten, desa Pagelaran, Desa
Purabaya, Desa Neglasari kecamatan Purabaya.

2. Lokasi HGU Perusahaan Perkebunan


Meliputi beberapa kecamatan yang seluruhnya masuk kedalam Kabupaten Sukabumi.
Adapun lokasi kebun tersebut berada di:
a. Desa Cijulang Kebun Jampang Tengah
b. Desa Pagelaran, Purbaya dan Neglasari Kecamatan Purabaya
c. Desa Puncak Manggis, Cibaregbeg, Hegarmanah dan Datar Nangka Kecamatan 41
Sagaranten.
Sedangkan apabila ditinjau dari segi batas-batas lokasi maka lokasi perkebunan memiliki
batas sebagai berikut:
a. Utara:
1) Tanah milik masyarakat Desa Purbaya
2) Tanah HGU PTPN VIII Afdeling Artana
b. Selatan: Tanah HPH Perum Perhutani
c. Timur: Tanah milik masyarakat Desa Pagelaran, Desa Cijulang

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


d. Barat: Tanah milik masyarakat Desa Puncak Manggis, Desa Sagaranten

Lokasi kegiatan penggarapan tanah oleh masyarakat untuk dimanfaatkan, dimana


penggarapan tersebut ada yang seizin pemegang hak dan sebagian besar tanpa seizin
pemegang hak terdapat di beberapa desa dan kecamatan, antara lain:

Tabel 6 Lokasi Penggarapan Oleh Masyarakat di Tanah HGU

No. Desa Kecamatan


1. Neglasari Purabaya
2. Pagelaran Purabaya
3. Purabaya Purabaya
4. Datar Nangka Sagaranten
5. Hegarmanah Sagaranten
6. Cibaregbeg Sagaranten
7. Puncak Manggis Sagaranten
8. Cijulang Jampang Tengah
Sumber: Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Barat, 2015

3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PT Tutu Kekal dengan Masyarakat


a. Klaim/okupasi kepemilikan atas tanah yang tidak dikelola PT Tutu Kekal dan digarap
oleh masyarakat untuk dimanfaatkan. Penggarapan tersebut ada yang seijin Pemegang
Hak dan sebagian besar penggarapan tanpa seijin Pemegang Haknya;
b. Terdapat perbedaan luas tanah yang terdapat di dalam Sertipikat dengan hasil
pengukuran oleh Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Jawa Barat;
c. Permohonan pembaharuan HGUPT. TUTU KEKAL terhambat karena terdapat
Terhambatnya pengajuan pembaharuan HGU An. PT TUTU KEKAL akibat adanya
gugatan di pengadilan Tata Usaha Negara Bandung dengan Perkara tanggal 29-09-
201 No. 08/G/2011 Jo. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta dengan Perkara
tanggal 11-04-2012 No. 256/B/2011/[Link]-Jkt terhadap Surat Ijin Usaha Perkebunan
(SIUP) An. PT TUTU KEKAL yang dikeluarkan oleh Bupati Sukabumi (SK Bupati Sukabumi
tanggal 02-07-2009 No. 525/Kep.368-Dishutbun/2009);
d. Sejak tahun 1986 sampai dengan 1999, pihak perkebunan tidak membayar pajak PBB
yang tercatat sebesar Rp. 102.376.343, (Seratus Dua Juta Tiga Ratus Tujuh Puluh Enam
Ribu Tiga Ratus Empat Puluh Tiga Rupiah).

4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan


a. Pada tanggal 24-02-2010 terhadap tanah yang dimohon telah diadakan pengukuran
42 secara Kadastral oleh Tim Pengukuran Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional
Provinsi.
Tabel 7 Luasan Hasil Pengukuran Kadastral

No. No Peta Nomor Identifikasi Bidang Luas (M2)

1. 01/2010 [Link].00015 s/d [Link].00025 5.365.773


2. 02/2010 [Link].00026 3.132.648
3. 03/2010 [Link].00027 s/d [Link].00034 6.516.991
Jumlah 15.015.412
Sumber: Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Barat 2015

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
b. D ari hasil pengukuran terdapat perbedaan luas antara luas dalam Sertipikat (16.176.249
M2) dengan hasil pengukuran oleh Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Propinsi
Jawa Barat (15.015.412 M2), Hal ini disebabkan adanya pergeseran letak batas bidang
tanah maupun dipergunakan untuk fasilitas jalan umum dan dipergunakan oleh pihak
lain;
c. Pada Tahun 2012 telah diadakan Sertipikasi tanah di lokasi Perkebunan Miramontana
(PT TUTU KEKAL) melalui Program PRONA dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 8 Sertipikat Prona di Lokasi Perkebunan PT Tutu Kekal

No. Desa Kecamatan Jumlah Bidang Luas (M2)


1. NeglaSari Purabaya 359 101.601
2. Pagelaran Purabaya 110 87.301
3. Purabaya Purabaya 131 43.677
4. Datar Nangka Sagaranten 70 11.065
5. Hegarmanah Sagaranten 582 146.277
6. Cibaregbeg Sagaranten - -
7. Puncak Manggis Sagaranten 95 14.074
8. Cijulang Jampang Tengah 226 237.792
Jumlah 1573 641.787
Sumber: Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Barat 2015

Terhadap Sertipikasi tanah Melalui program Prona ini yang menjadi dasar penerbitan
Sertipikat adalah adanya Rekomendasi Bupati Sukabumi tanggal 23-04-2009 No.
593.4/941-Tapem posita 7.b yakni ”Seluas kurang lebih 100 Ha agar disisihkan/
dikeluarkan dari permohonan HGU, selanjutnya diperuntukan bagi pemukiman, Fasos,
Fasum sarana pengembangan pemerintahan serta lahan untuk relokasi penggarap
tanaman tumpang sari tahunan yang pengaturannya akan ditentukan kemudian”
d. Selanjutnya, untuk fasilitas umum dan fasilitas sosial telah dialokasikan sesuai dengan
pengaturan penyisihan Lahan yang keluarkan oleh Bupati Kabupaten Sukabumi melalui
Surat Keterangan tanggal 15-01-2010 No. 590/57.A-Tapem/2010 dengan hasil sebagai
berikut:

Tabel 9 Alokasi Luas Penyisihan Lahan

No. Desa Kecamatan Peruntukan Luas (M2)

1. Neglasari Purabaya Tempat Pemakaman Umum 10.000


Lapangan Sepak Bola 10.000
Sarana Pendidikan 10.000
Sarana Pengembangan 40.000 43
Perekonomian Desa
2. Pagelaran Purabaya Sarana Pendidikan 30.000
Tempat Pemakaman Umum 3.400
Lapangan Sepak Bola 10.000
Sarana Pengembangan 9.580
Perekonomian Desa
Masjid/musollah 960
Sarana Peternakan 5.000

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


No. Desa Kecamatan Peruntukan Luas (M2)

3. Purabaya Purabaya Rumah Dinas Polsek 1.440


Kantor Camat dan Rumah Dinas 3.240
Kompleks M.A.N 6.000
Kompleks SMPN 6.000
Masjid Agung 5.000
Kantor Koramil 3.000
Kantor Dinas Pendidikan 2.500
Kantor Dinas Keluarga Berencana 2.500
Kantor Urusan Agama 2.500
UPTD Puskesmas 2.500
Kantor Bersama Keagamaan 2.500
K.N.P.I 800
K.O.N.I 800
P.W.R.I 800
L.V.R.I 800
Terminal 5.000
Pasar 5.000
Polsek 2.000
Gedung Olah Raga 10.000
UPTD Pertanian 6.000
Perumahan Karyawan 19.620
Lapangan Sepak Bola 12.000
4. Puncak Manggis Sagaranten Tempat Pemakaman Umum 5.000
Sarana Pertanian 5.000
5. Cibaregbeg Sagaranten Tempat Pemakaman Umum 2.600
Sarana Pertanian 5.000
Lapangan Sepak Bola 10.000
6. Hegarmanah Sagaranten Sarana Pendidikan 1860
Tempat Pemakaman Umum 5.000
Sarana Pertanian 7.500
Lapangan Sepak Bola 15.000
Masjid/Musholla 1.981
7. Datarnangka Sagaranten Sarana Pendidikan 10.000
Sarana Perkemahan Pramuka 50.000
Sarana Pertanian 45.350
Lapangan Sepakbola 10.000
8. Cijulang Jampang Tengah Sarana Pendidikan 40.000
Sarana Perkemahan Pramuka 20.000
Tempat Pemakaman Umum 10.000
44 Sarana Pertanian 20.000
Sumber: Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Barat, 2015 dan pengolahan data Puslitbang Kementerian ATR,
September, 2015

Terhadap Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial yang terdapat di Kecamatan Purabaya
Pihak Pemerintahan Kecamatan Purabaya melalui Surat tanggal 20-02-2013 No
600/084-PMD/II/2013 telah megusulkan Revisi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR)
Kecamatan Purabaya Kepada Kepala Dinas Tata Ruang Pemukman dan Kebersihan
Kabupaten Sukabumi.
Untuk penyisihan lahan untuk fasilitas Umum (Fasum) dan Fasilitas Sosial (Fasos) yang

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
telah dialokasikan oleh Bupati melalui Surat Keterangan tanggal tanggal 15-01-2010
No. 590/57.A-Tapem/2010 secara fisik sebagian Fasum dan Fasos telah dikuasai dan
dipergunakan sesuai dengan peruntukannya, tetapi Pihak Perkebunan Miramontana
belum memberikan pelepasan Haknya terhadap Fasum dan Fasos tersebut.
e. Terhadap tanah yang dimohon baik melalui program Prona, Fasilitas Umum dan
Fasilitas Sosial telah dilakukan Deliniasi oleh Tim Pengukuran Kantor Wilayah Badan
Pertanahan Nasional Jawa Barat dengan Luas 1.304.912 m2 dengan Nomor Peta
Sebagai berikut:

Tabel 10 Luas Tanah Enclave

No. Nomor Peta Luas (M2)


1. 13 484.760
2. 14 307.519
3. 15 512.633
Jumlah 1.304.912
Sumber: Kanwil BPN Provinsi Jawa Barat

5. Solusi Penyelesaian Konflik Pertanahan


Saat ini telah dilakukan kegiatan mediasi yang mana saat pengajuan pembaharuan
HGU, PT Tutu Kekal bersedia meng-enclave tanahnya seluas 1.304.912 m2 untuk dapat
digunakan pada kegiatan kemasayarakatan (fasilitas umum dan fasilitas sosial) dan sumber
penghidupan masyarakat sekitar.
[Link].2. PT. Perkebunan Nusantara VIII/Dayeuhmanggung (Desa: Mekarmukti,
Sukamukti, Dangiang, Dayeuhmanggung dan Mekarsari, Kecamatan Cilawu,
Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat)
1. Riwayat Penguasaan Tanah
a. PTP VIII/Dayeuhmanggung (dahulu PTP XIII) memiliki luas 402, 6575 Ha yang terletak
di Desa Dayeuhmanggung Kecamatan Cilawu semula merupakan tanah negara bekas
kawasan hutan RPH Cilawu milik kehutanan hasil tukar menukar dengan HGU 22,25,
27,29 dan sebagian HGU 7 dan HGU 8 atas nama PTP XIII (sekarang PTP VIII) seluas
596,25 Ha yang terletak di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut. Didalam tukar
menukar areal tanah tersebut telah dibuatkan Berita Acara dengan Peta Situasi Tanda
Batas oleh Kepala Brigade Planologi Kehutanan Jawa Barat tanggal 23 Juni 1976;
b. Pada tahun 1978 PT. Perkebunan XIII mengajukan permohonan Hak Guna Usaha atas
tanah seluas 402,6575 Ha tersebut kepada Menteri Dalam Negeri cq. Direktur Jenderal
Agraria melalui Direktorat Agraria Propinsi Jawa Barat sesuai surat tanggal, 20-03-1978
No. [Link]/148/1978;
c. Pada tahun 1985 terbit Surat Keputusan Pemberian HGU dari Menteri Dalam Negeri 45
No. SK.59/HGU/DA/85 tanggal, 13 Desember 1985;
d. PT. Perkebunan XIII hingga saat ini tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang
tercantum dalam Diktum Ketiga, Keempat dan Kelima Surat Keputusan Pemberian
HGU dari Menteri Dalam NegeriNo. SK.59/HGU/DA/85 tanggal, 13 Desember 1985
salah satunya adalah mendaftarkan HGU ke Kantor Agraria Kabupaten Garut;
e. Pada tahun 2008 PTPN VIII (Persero) mengajukan permohonan Perpanjangan SK.
HGU atas tanah tersebut diatas kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional RI. melalui
Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Barat sesuai surat tanggal, 6 Pebruari 2008 No.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


SB/[Link]/415/II/2008, akan tetapi secara fisik dilapangan telah terjadi penggarapan dan
penguasaan oleh petani sekitar kurang lebih 100 Ha (± 700 Kepala Keluarga)
f. Berdasarkan Surat Kepala Kantor Wilayah BPN Propinsi Jawa Barat tanggal, 28-12-
2012 No. 2096/10-32.300/XII/2012 yang ditujukan kepada Direksi PTPN VIII (Persero)
permohonan perpanjangan HGU PTPN VIII (Persero) tersebut belum bisa diproses
lebih lanjut karena berkas permohonannya belum lengkap.

2. Lokasi HGU Perusahaan Perkebunan

Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Garut, 2015


Gambar 2. Lokasi Perkebunan PT. Perkebunan Nusantara VIII/ Dayeuhmanggung

46

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Garut, 2015
Gambar 3. Lokasi Permasalahan Tanah dengan Masyarakat

3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PTPN VIII/Dayeuhmanggung Dengan Masyarakat


a. Batas-batas penguasaan tanah PTP VIII/Dayeuhmanggung yang tidak ada satu kejelasan
karena tidak ada patok-patok batas tanah yang terpasang sehingga masyarakat sekitar
merasa kalau luas tanah perkebunan melampaui luasperkebunan yang sebenarnya.
Kondisi seperti ini membuat masyarakat menuntut dilakukan pengukuran oleh BPN;
b. Terjadi pembakaran dan pembabatan tanaman teh seluas ±3 Ha yang dilakukan
oleh masyarakat sekitar di Perkebunan PTP VIII/Dayeuhmanggung pada tanggal 24
September 2012. Indikasi terjadinya konflik sebenarnya sudah cukup lama, akan tetapi
puncaknya terjadi pada tanggal, 24 September 2012;
c. Sebagai akibat pembakaran dan pembabatan tanaman teh tersebut kondisi keamanan
dilokasi konflik menjadi tidak kondusif dan akhirnya pihak PTPN VIII meminta bantuan
keamanan ke POLDA Jawa Barat dan dikirim Pasukan BRIMOB POLDA JABAR ke lokasi
konflik dengan harapan agar situasimenjadi kondusif;
d. Pada akhirnya masyarakat mengadu kepada LSM Serikat Petani Pasundan (SPP) dan
sejak saat itu maka kepentingan masyarakat dalam kaitannya dengan konklik tersebut
diadvokasi oleh LSM SPP sampai saat ini. Situasi yang tidak kondusif ini membuat 47
LSM Serikat Petani Pasundan (SPP) tampil yang mengatasnamakan masyarakat sekitar
yaitu petani penggarap untuk membela masyarakat sekitar yang merasa tertindas hak-
haknya sebagai warga negara yang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan
hakatas tanah karena negara menjamin hak tersebut untuk kesejahteraan rakyat;
e. Batas-batas penguasaan tanah PTP VIII/Dayeuhmanggung yang tidak ada satu kejelasan
karena tidak ada patok-patok batas tanah yang terpasang sehingga masyarakat sekitar
merasa kalau luas tanah perkebunan melampaui luas perkebunan yang sebenarnya.
Kondisi seperti ini membuat masyarakat menuntut dilakukan pengukuran oleh BPN;

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan
a. Pada tanggal, 10 Oktober 2012 diadakan Rapat Koordinasi di Pemda Kab. Garut yang
dihadiri oleh Pihak Pemda, Muspida, Komisi A DPRD Kab. Garut, Dinas Perkebunan,
Kantor Pertanahan Kab. Garut, Camat Cilawu dan SPP. Hasilnya adalah sebagaiberikut:
1) Perlu mengaktifkan dan mengoptimalkan kinerja Tim Penyelesaian Masalah
Pertanahan Kab. Garut.
2) Dalam pengajuan permohonan perpanjangan HGU, Rekomendasi Pemda Garut
untuk lebih teliti dan berhati-hati.
3) Musyawarah merupakan hukum yang tertinggi.
4) Keberadaan BRIMOB di PTPN VIII Kebun Dayeuhmanggung untuk ditinjau kembali.
b. Diadakan mediasi yang dipimpin oleh Sekda Kab. Garut selaku Ketua Tim Koordinasi
Penyelesaian Masalah Pertanahan Kab. Garut yang hasilnya dituangkan dalam Berita
Acara kesepakatan yang isinya sebagai berikut :
1) Para Penggarap tidak akan memperluas lahan garapannya dan tidak akan merusak
asset PTPN VIII/ Dayeuhmanggung.
2) Pihak PTPN VIII/Dayeuhmanggung tidak akan menanam tanaman baru diluar
tanah yang bukan haknya.
5. Solusi Penyelesaian Konflik Pertanahan
a. PTPN VIII/Dayeuhmanggung segera menarik Pasukan BRIMOB dari lahan garapan
paling lambat 4 (empat) hari setelah kesepakatan ini;
b. Pemerintah Daerah/ Tim Koordinasi Penyelesaian Masalah Pertanahan Kab. Garut
akan segera bekerja dimulai 7 (tujuh) hari setelah penandatanganan kesepakatan ini;
c. Seluruh fihak terkait berkewajiban melakukan sosialisasi dan pengawasan dalam
pelaksanaan kesepakatan ini;
d. Semua fihak selalu menjalin komunikasi dan koordinasi yang intensif dalam rangka
pelaksanaan kesepakatan ini;
e. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai kondisi fisik di lapangan pada
tanggal 23 Oktober 2012 telah dilakukan peninjauan lapangan oleh Tim Koordinasi
Penyelesaian Masalah Pertanahan Kab. Garut;
f. Dilakukan audiensi di DPRD Kab. Garut pada tanggal, 21 November 2012 yang hasilnya
dituangkan dalam Berita Acara yang isinya sebagai berikut :
1) Pihak Serikat Petani Pasundan (SPP) meminta kepada DPRD Kab. Garut dan
Muspida dalam hal ini pihak Kepolisian untuk mengevaluasi kembali keberadaan
BRIMOB yang ada di lapangan/lokasikonflik.
2) Proses hukum berjalan terus dan mohon kepada Kepolisian agar warga yang
ditahan untuk diberikan penangguhanpenahanan untuk menjaga ketenangan
masyarakat.
48 3) Meminta agar Pemda dan BPN untuk membantu proses penyelesaian konflik
tanah secara administrasi.
4) Meminta penyelesaian konflik ini melalui jalur mediasi.
g. Pada tanggal, 21 Desember 2012 ada Rapat Kerja dengan KOMNAS HAM kesimpulan
Rapat Kerja dalah sebagai berkut:
1) KOMNAS HAM akan melaksanakan mediasi kedua dengan menghadapkan para
pihak (penggarap diwakili oleh LSM SPP) dengan Administratur Perkebunan
Dayeuhmanggung dengan fasilitas oleh Tim Koordinasi Penyelesaian Masalah
Pertanahan Kabupaten Garut.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
2) BPN Kanwil Jawa Barat melalui Kantor Pertanahan Kabupaten Garut akan meminta
pihak Direksi PTPN VIII untuk segera melengkapi persyaratan administrasi dalam
permohonan perpanjangan HGU PTPN VIII Dayeuhmanggung.
h. Diadakan Mediasi di Kantor Pertanahan Kab. Garut tanggal, 4 Januari 2013 yang
hasilnyadituangkan dalam Berita Acara sebagai berikut :
1) Untuk melakukan cek lokasi guna menentukan batas antara lahan garapan
masyarakat dengan tanah PTPN VIII/Dayeuhmanggung yang dijadwalkan pada hari
Kamis, tanggal 10 Januari 2013.
2) Hasil mediasi ini agar dilaporkan ke Tim Koordinasi Penyelesaian Masalah
Pertanahan Kabupaten Garut untuk ditindaklanjuti.
3) Dilaporkan ke Kanwil BPN Prop. Jabar sebagai bahan masukan dalam proses
pengajuan Perpanjangan HGU.
4) Pihak Perkebunan tidak melakukan pelarangan penggarapan kepada masyarakat
melalui BRIMOB di Wilayah garapanmasyarakat terhitung tanggal 5 Januari 2013.
5) Dengan kesadaran, masyarakat akan mengganti pola tanam di bawah binaan Dinas
Perkebunan.
Dilakukan mediasi oleh KOMNAS HAM bersama Tim Penanganan Permasalah
Pertanahan Kab. Garut tanggal27-02-2013 dengan salah satu Direksi PTPN VIII
Dayeuhmanggung, Instansi Terkait, Kapolres, Dandim, masyarakat penggarap dan
LSM [Link] mediasi ini KOMNAS HAM merekomendasikan agar dari luas tanah
402 Ha. tersebut untuk diberikan hak garap kepada masyarakat seluas 202 Ha
pemanfaatannya berdasarkan pola kerjasama yang saling menguntungkan antara
pihak masyarakat penggarap dengan pihak perkebunan Dayeuhmanggung dan
sisanya tetap dalam penguasaan PTPN VIII dan hal ini akan dijadikan bahan dalam
rapat dengan Direksi PTPN VIIIdi Bandung.
6) Tanggal, 28 Juni 2013 diadakan mediasi di Tingkat Propinsi Jawa Barat bertempat di
Hotel Guci Bandung dengan mediator KOMNAS HAM kesepakatan yang dihasilkan
antara masyarakat melalui SPP dengan PTPN VIII adalah sebagai berikut:
a) Para pihak sepakat penyelesaian konflik ditempat dengan mekanisme
pemanfaatan dan pengelolaan lahan seluas 202 Ha. selama jangka waktu 25
tahun (sesuai jangka waktu HGU).
b) Selama kesepakatan belum mendapat persetujuan pihak berwenang para
pihak saling berkomunikasi, menjaga kebersamaan dan saling menjaga
keamanan dan Kondusifitas.
c) Pola pemanfaatan dan pengelolaan, jaminan keberlangsungan serta hal-hal
lain yang dipandang perlu akan diatur kemudian oleh para pihak sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan akan dibahas
pada mediasi selanjutnya. 49
d) Berdasarkan poin 1, 2 dan 3, maka masyarakat melalui SPP dan Pemerintah
Kab. Garut mendukung kelancaran proses penerbitan HGU atas nama PTPN
VIII (Persero) yang sudah diajukan kepada BPN.
e) Dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak ditanda-tangani kesepakatan
sementara ini penyelesaian teknis lapangan terkait subyek dan obyek tanah
dikoordinasikan dengan Tim Koordinasi Penanganan Masalah Pertanahan
Kabupaten Garut dan Kanwil BPN Provinsi Jawa Barat.
f) Untuk mempermudah koordinasi penyelesaian di lapangan perlu di tunjuk PIC

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


yang terdiri dari Nurkholis (Koordinator Sub Komisi mediasi KOMNAS HAM,
Sekda Garut, Sekjen SPP dan Agus Iskandar Kabag Hukum dan Umum PTPN
VIII/Dayeuhmanggung.
g) Masing-masing pihak menyiapkan konsep secara rinci terkait penyelesaian
untuk dijadikan bahan pembahasan draft akhir kesepakatan.
7) Tanggal 27 Agustus 2013 diadakan pertemuan kaukus antara para pihak denganTim
Koordinasi Penanganan Masalah Pertanahan Kab. Garut, Dinas Instansi terkait,
aparat Keamanan dengan fasilitator KOMNAS [Link] pertemuan tersebut
antara lain:
a) Mengadakan pembahasan kesepakatan final melalui konsultasi dan
menampung saran dari audien.
b) Melakukan validasi para calon petani penggarap yang dilakukan oleh Tim
Koordinasi Penanganan Masalah Pertanahan Kab. Garut beserta SPP dengan
melibatkan Camat dan Kepala Desa setempat.
c) Sosialisasi hasil kesepakatan kepada msyarakat penggarap oleh SPP dan
hasilnya masyarakat menerima hasil kesepakatan tersebut.
d) Para Penggarap siap menjaga kondusifitas dan tidak memperluas garapan.
e) Tim Penanganan Masalah Pertanahan Kab. Garut setelah menerima masukan
dari berbagai fihak termasuk KOMNAS HAM akan segera membuat draft nota
perjanjian antara PTPN VIII Dayeuhmanggung dengan masyarakat Penggarap.
8) Tanggal 13-03-2014 bertempat di BTC Hotel Bandung telah diadakan pertemuan
kaukus antara para pihak dengan Tim Koordinasi Penanganan Masalah Pertanahan
Kabupaten Garut, Dinas Instansi terkait, aparat keamanan dan KOMNAS HAM dalam
rangka pembahasan materi Kesepakatan final Perjanjian Kerjasama Pemanfaatan
Lahan, di mana pembahasan tersebut akan ditindaklanjuti pertemuan selanjutnnya
yang bertempat di Jakarta dengan mengundang Deputi BPN RI dan Kanwil BPN
Provinsi Jawa Barat yang pelaksanaannya akan dijadwalkan setelah Pemilu;
9) Penyelesaian konflik pertanahan PTPN VIII Dayeuhmanggung oleh Komnas HAM
akan dijadikan contoh secara nasional di dalam penyelesaian konflik Pertanahan
antara PTPN dengan masyarakat;
10) Tanggal 18 Agustus 2014, bertempat di Ruang Rapat Paripurna Kantor Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia RI di Jakarta telah diadakan pertemuan tindak lanjut
upaya mediasi yang dihadiri oleh Sekda Kabupaten Garut, Perwakilan Kementrian
BUMN, Kasubdit Deputi Bidang V BPN RI dan jajarannya, Direksi PTPN VIII beserta
Jajarannya, Kabid PPSKP Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Barat dan jajarannya,
Perwakilan Serikat Petani Pasundan/SPP, Kepala Seksi SKP Kantor Pertanahan
Kabupaten Garut beserta jajarannya dan Tim Koordinasi Penyelesaian Masalah
50 Pertanahan Kabupaten Garut, dengan kesimpulan sebagai berikut :
a) Terhadap tanah seluas 30 Ha. yang terletak di Blok Legok Haji perlu dilakukan
pengecekan ke lapangan melalui pengukuran, di mana pelaksanaan
pengukurannya dimulai minggu depan;
b) Mengenai masalah pengajuan jangka waktu 5 (lima) tahun dalam kerjasama
akan menunggu persetujuan dari Serikat Petani Pasundan/SPP sebagai
pendamping petani penggarap dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama;
c) Masih diperlukan pertemuan teknis di Kabupaten Garut antara Pemerintah
Daerah Kabupaten Garut dengan BPN, PTPN VIII/Kebun Dayeuhmanggung

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
dan SPP untuk membahas pengukuran, jangka waktu, dan tindak lanjut hasil
pengukuran khususnya terhadap tanah seluas 30 Ha. Yang terletak di Blok
Legok Haji, apakah masuk di dalam HGU atau di luar HGU;
d) Perlu pembahasan lebih lanjut tentang Pola Kerjasama dan Peran Pemerintah
Daerah dalam hal:
−− Pengelolaan lahan dan komoditas tanaman.
−− Pengawasan agar Hak Garap tidak lepas kepada Pengusaha Besar.
[Link].3. PT. Surya Andaka Mustika (SAM)/Badega, [Link], Kecamatan
Cikajang; [Link], [Link] & [Link], Kecamatan
Banjarwangi,Kabupaten Garut
1. Riwayat Penguasaan Tanah
a. Status Tanah semula adalah Tanah Negara bekas Hak Erpacht Verponding No.177
dan 224 seluas ±498,6143 Ha tercatat atas nama [Link] Mastchappij Tjikanere
berkedudukan di Jakarta, yang berakhir haknya tanggal 02 Januari 1989;
b. Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Cianjur tanggal 15 April 1965 No.1/PN/1965
Amar Putusannya menyatakan bahwa Tanah Perkebunan (Erpacht) tersebut dirampas
untuk Negara;
c. Atas dasar Putusan PN tersebut Tanah Perkebunan Badega oleh Negara di lelang,
yang dimenangkan oleh HASANUDIN SAMHUDI sebagaimana Kutipan Risalah Lelang
tanggal 14-02-1972 No.42, kemudian dibalik nama kepada pemenang lelang sekaligus
dikonversi menjadi HGU selama 20 tahun, berakhir 24-09-1980. HGU yang tercatat
atas nama HASANUDIN SAMHUDI:
1) No. 6 / [Link] seluas : 361,9215 Ha.
2) No. 7 / [Link] seluas : 59,1848 Ha;
3) No. 8 / [Link] seluas : 38,2777 Ha;
4) No. 9 / [Link] seluas : 41,2307 Ha
d. Setelah HGU berakhir, HASANUDIN SAMHUDI tidak bisa memperpanjang lagi karena
terbentur persyaratan, kemudian haknya dilepaskan kepada PT. Surya Andaka Mustika
(PT. SAM) berdasarkan Surat Pelepasan Hak pada tanggal 19-10-1984 No.30076 yang
dibuat oleh Notaris Masri Husein, SH;
e. PT. SAM kemudian mengajukan permohonan HGU, pada tgl.22-10-1984, Panitia B
telah mengeluarkan Risalah Pemeriksaan Tanah tgl.30-03-1985 No. 05/DA –PHT/HGU/
PAN.B/1985;
f. Hasil Pemeriksaan Panitia B pada pokoknya:
1) Permohonan dapat dikabulkan seluas ±450 Ha;
2) Dikecualikan ±48,6143 Ha yang telah digarap oleh rakyat untuk dimiliki sesuatu
hak kepada para penggarap, sesuai dengan Surat Pernyataan dari para penggarap 51
tgl.08-08-1984 yang diketahui oleh Kades dan Camat setempat;
g. Atas dasar Risalah Panitia B tersebut, Menteri Dalam Negeri Cq. Ditjen Agraria
mengabulkan permohonan [Link] berdasarkan SK No. SK.33/HGU/DA/1986 tgl. 03-
07-1986 tentang Pemberian HGU kepada [Link], berkedudukan di Bandung seluas
±450 Ha selama 25 tahun dan akan berakhir tgl.31-12-2011;
h. Menindaklanjuti SK No. SK.33/HGU/DA/1986 tgl. 03-07-1986, untuk penerbitan
Sertipikat HGU maka diadakan pengukuran dan penataan batas secara global;
i. Berdasarkan hasil pengukuran itu, diterbitkan sertipikat HGU atas nama [Link]

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


berkedudukan di Bandung seluas 422,3065 Ha, meliputi 2 (dua) kecamatan dan empat
desa, karena ada pemekaran kecamatan dan desa, yaitu:
1) Kecamatan Cikajang, seluas 249,7905 Ha, terdiri dari:
a) HGU No. 6/[Link] seluas 41,5420 Ha;
b) HGU No. 7/[Link] seluas 34,2000 Ha;
c) HGU No. 8/[Link] seluas 174,0485 Ha.
2) Kecamatan Banjarwangi, seluas 172,5160 Ha, terdiri:
a) HGU No.1/[Link] seluas 34,1120 Ha
b) HGU No.2/[Link] seluas 36,2770 Ha
c) HGU No.1/[Link] seluas 23,5790 Ha
d) HGU No.1/[Link] seluas 78,5480 Ha
j. Semula luasnya : 498,6143, berdasarkan HGU PT SAM diberikan seluas: 422,3065 Hadan
sisanya seluas ±76,3078 Ha, direncanakan (pada waktu itu) untuk diredistribusikan
kepada para petani penggarap murni sejumlah 317 KK (dari dua kecamatan Cikajang
dan Banjarwangi).

2. Lokasi HGU Perusahaan Perkebunan

52 Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Garut, 2015


Gambar 4. Perkebunan PT. Surya Andaka Mustika (SAM)/Badega

3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara [Link]/Badega Dengan Masyarakat


a. Pernyataan dari Sdr. Radi tanggal 03-01-1985 yang bertindak atas nama para penggarap
menyatakan bahwa penggarapan tanah perkebunan Badega oleh masyarakat sejak
tahun 1975 atas dasar Sewa Menyewa dengan pemegang HGU pada waktu itu
Hasanudin Samhudi;
b. Sebelum terbitnya SK No. SK.33/HGU/DA/1986 tgl. 03-07-1986, rakyat penggarap

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
telah mengajukan permohonan Hak Milik kepada Bupati Garut, namun dengan surat
tg.14-01-1985 No.593/61/Pem permohonan tersebut tidak dikabulkan, dg alasan akan
dikembalikan sebagai fungsi kebun dan sedang dalam proses untuk diberikan HGU
kepada [Link], hal itu didukung oleh Gubernur Jabar dg suratnya tg. 02 -09-1985
No.593.41/16176/[Link].;
c. Tuntutan rakyat kembali muncul setelah terbitnya SK No. SK.33/HGU/DA/1986 tgl.
03-07-1986 yang dipelopori oleh Sdr. SUHDIN Dkk, yang tetap menuntut agar tanah
perkebunan diberikan kepada mereka seluruhnya, ditandai dg gerakan pencabutan
patok-patok batas tanah hasil pengukuran, pengrusakan tanaman Teh milik perkebunan
serta memancangkan plakat yang bernadakan menantang kebijakan Pemerintah ;
d. Berdasarkan pengaduan dari [Link] kepada Kepolisian, maka dilakukan penangkapan
ke-13 org penggarap yang dipandang sebagai penggerak utamanya, dan diajukan ke
Pengadilan Negeri Garut;

4. Permasalahan
a. Dalam SK No. SK.33/HGU/DA/1986 tgl. 03-07-1986, berakhirnya hak tanggal 31-12-
2011, akan tetapi dalam sertipikat HGU berakhir tgl. 01-09-2011, dengan demikian
berkaitan dg kepastian hukum, akan mengacu kepada masa berakhir yang mana ?
b. Tanah yang digarap oleh para petani penggarap dengan tanah yang masih dikuasai
oleh [Link] dengan tanaman Teh secara sporadik luasnya belum jelas, untuk itu
harus dilakukan pengukuran terlebih dahulu, namun siapa yang harus membiayai
pengukuran tersebut ?
c. Kaitan dengan Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana diatur dalam UU No.12 Tahun
1985 jo. UU No. 12 Tahun 1994, pajak dikenakan terhadap orang atau badan yang
memperoleh manfaat atas tanah dan/atau bangunan, akan tetapi belum diadakan
penataan terhadap subyek PBB;
d. Dari total luasan 422,3065 Ha di atas, maka yang dimanfaatkan/dikelola Perusahaan
hanya seluas: 38,36 Ha, yang terpecah dalam 2 (dua) lokasi:
1) Gunung Badega : 26,98 Ha
2) Potongan : 11,4 Ha
Artinya sisanya termasuk dalam indikasi tanah terlantar seluas: 383,9465 Ha, pertanyaannya
apakah sudah ada pengendalian dari BPN?

5. U
paya Penanganan Konflik Pertanahan
a. Bupati Garut membentuk Tim Peneliti batas HGU Perkebunan Badega melalui SK
tanggal 11-11-1987 No.593.4/SK.263/Huk/1987, dan Tim tersebut telah melaksanakan
tugasnya antara lain:
1) Memberikan penyuluhan kepada masyarakat petani penggarap tentang status 53
tanah tersebut;
2) Mengadakan pengecekan batas tanah HGU sekaligus menetapkan dan mengadakan
pengukuran tanah yang diperuntukkan rakyat;
3) Mengadakan koordinasi, Integrasi dan Sinkronisasi dg pihak-pihak terkait.
b. Diterbitkan Sertipikat HGU an. PT. Surya Andaka Mustika berkedudukan di Bandung
sebanyak tujuh buah sertipikat seluas 422,3065 Ha jangka waktu 25 th yang berakhir
haknya tanggal 01-09-2011;
c. Pemerintah Daerah telah mengambil kebijakan untuk mengusulkan kepada

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Pemerintah Pusat, agar tanah yang akan diberikan sesuatu hak kepada para penggarap
seluas ±76,3078 Ha, dan untuk pelaksanaan pemberian haknya akan ditentukan
sesuai dengan hasil penelitian baik subyek maupun obyeknya serta ditinjau dari segi
kemampuan dan tofografinya ;
d. Bila ditinjau dari segi Penatagunaan Tanah, keadaan fisik mempunyai ketinggian 1000
– 1200 dpl, secara tofografis berbukit dan bergelombang, kemiringan lereng rata-rata
diatas 40%, serta berfungsi sebagai areal peresapan air yang harus dipertahankan
keberadaannya sebagai fungsi kebun dan tanaman keras sesuai dg Risalah Fatwa TGT
tanggal.13-02-1986 No.009/ FTGT/1986 dan Surat Bupati Garut tanggal 19-12-1988
No. 525.02/10/Pem yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat ;
e. Tim Koordinasi Penanganan Masalah Pertanahan Tingkat Kabupaten Garut, pada
tanggal 04-05-1999 telah mengadakan penelitian lapangan yang hasilnya kondisi
kenyataan di lapangan atas areal HGU tersebut sebagian besar telah menjadi
pemukiman dan garapan masyarakat, sedangkan yang masih ada tanaman teh
diperkirakan seluas ±60 Ha yang lokasinya sporadis;
f. Untuk melaksanakan penertiban/pemberian hak garapan seluas ±76 Ha kepada
masyarakat juga belum bisa dilaksanakan sehubungan dengan:
1) Pada pertemuan tanggal 04-05-1999 antara Tim dengan masyarakat petani
Badega, ternyata mereka menolak dan menginginkan seluruh areal perkebunan
seluas ±498 Ha untuk dibagikan kepada masyarakat;
2) Kondisi Fisik areal perkebunan tersebut secara tofografis bergelombang dan
berbukit dg kemiringan tanah rata-rata diatas 40 % ;
g. Pada tanggal08-07-2010 dengan surat No. 217/500-32.05/ VII/2010 telah dilaporkan
ke Kanwil BPN Prov. Jawa Barat mengenai Validasi Data Tekstual dan Spasial atas nama
PT. SAM yang dilaporkan ± 70 % terindikasi Terlantar;
h. Kemudian ditetapkanlah lokasi Penertiban Tanah Terindikasi Terlantar di Jawa Barat
dg SK Kakanwil BPN Prov. Jabar No.48/KEP-32.16/II/2011 tanggal 22-02 -2011 tentang
Penetapan Lokasi Penertiban Tanah Terlantar Provinsi Jawa Barat Tahun 2011,
diantaranya Tanah Badega atas nama PT. SAM yang telah berakhir haknya tgl. 01-09-
2011;
i. Pada hari Kamis tanggal 6 Oktober 2011, telah dilaksanakan Sidang Panitia C di Kantor
Pertanahan Kabupaten Garut dalam Rangka Penertiban dan Pendayagunaan Tanah
Terindikasi Terlantar. Pada kesempatan itu telah dipaparkan hasil identifikasi dan
penelitian terhadap obyek tanah yang diduga terindikasikan terlantar sebagai berikut :
PT. Surya Andaka Mustika seluas 422,3100 Ha yang terletak di : Desa Cipangramatan,
Kecamatan Cikajang, Desa Jayabakti, Desa Bojong dan Desa Tanjungjaya Kecamatan
Banjarwangi, Kabupaten Garut, yang berakhir haknya tanggal 01-09-2011. Berdasarkan
54 hasil identifikasi lapangan bahwa tanah tersebut seluas ±385,5600 Ha dikuasai oleh
masyarakat yang dipergunakan untuk menanam sayuran, sedangkan seluas ±38,7500
Ha masih dikuasai oleh pemegang hak yang ditanami Teh.

Pada hari Kamis tanggal 20-10-2011 diadakan dialog terbuka yang bertempat di
Lapangan Sepak Bola Kampung Negla, Ds. Cipangramatan, [Link], dalam rangka
memperingati 25 tahun perjuangan rakyat Petani Badega yang tergabung dalam
Serikat Petani Badega (SPB). Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh para Pegiat

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Agraria yang terdiri dariKonsorsium Pembaruan Agraria (KPA), PELIHARA dan SPP serta
sebagai pendamping adalah LBH Bandung;

Dari jajaran BPN RI diwakili oleh Staf Khusus Bidang Hukum Bpk. Usep Setiawan,
yang mengemukakan Tanah Badega akan masuk dalam target prioritas penertiban
tanah terlantar dari BPN RI, kepada masyarakat agar bersabar karena ada tahapan-
tahapan dalam penertiban tanah-tanah terlantar, kemudian mayarakat Badega agar
menyiapkan konsep pengembangan usaha ekonomi yang lebih maju lagi agar keadilan
dan kesejahteraan rakyat Badega bisa tercapai.

6. Solusi Penyelesaian Konflik Pertanahan


a. Kepada para petani penggarap diberikan pengertian dan penyuluhan agar perjuangan
yang bertahun-tahun itu tidak sia-sia, maka terhadap kepemilikan tanah agar tidak
dialihkan kepada pihak lain di luar petani Badega;
b. Disarankan bagi para petani penggarap Badega agar segera membentuk Koperasi dan/
atau Badan Hukum yang dapat menjadi subyek hak atas tanah, terutama kepemilikan
bersama seperti HGU, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah No.40
Tahun 1996 tentang HGU, HGB dan Hak Pakai Atas Tanah.
[Link]. Provinsi Sumatera Utara

[Link].1. PT Bridgestone (Kabupaten Serdang Bedagai)


1. Riwayat Tanah
a. Areal perkebunan merupakan bagian tanah Perkebunan Naga Raja yang semula bekas
konsesi dengan luas 3.120,64 Ha, terletak di Kecamatan Sipispis, Kabupaten Deli
Serdang, diberikan berdasarkan surat perjanjian antara ZELFBESTUUR Deli dengan NV.
Tabak My Areanburg tanggal 12 Desember 1899 No. 208 untuk jangka waktu 75 tahun;
b. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 1965, tanah Perkebunan Naga Raja
tersebut berada dalam pengawasan dan penguasaan pemerintah dan kemudian
berdasarkan Agreement antara Pemerintah Indonesia dengan The Goddyear Tire &
Rubber Coy Akron Ohio, USA tanggal 10 Oktober 1967 pemilikan dan pengusahaan
dengan kesanggupan pemerintah memberikan Hak Guna Usaha selama 30 tahun
terhitung sejak tanggal 1 Oktober 1967 sebagaimana tercantum dalam artikel 4 huruf
a dalam Agreement dimaksud;
c. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 2/HGU/DA/80 tanggal 2
Januari 1980 diberikan Hak Guna Usaha kepada NV. Goodyear Sumatera Plantations
Company LTD berkedudukan di Medan untuk tanah seluas 3.120,64 Ha yang berakhir
haknya pada tanggal 31 Desember 1997 sebagaimana yang tertuang dalam Sertipikat
HGU No. 1/Nagur Pane tanggal 15 Oktober 1982;
55
d. HGU No.1/Nagur Pane tanggal 15 Oktober 1982 tersebut kemudian telah diperpanjang
haknya sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional No. 114/HGU/BPN/1997 tanggal 16 September 1997 selama
jangka waktu 25 tahun untuk tanah seluas 2.846,73 m2 sebagaimana Sertipikat HGU
No. 1/Nagarai Pane.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


2. Lokasi HGU Perkebunan
Lokasi HGU PT. Bridgestone yang dahulu merupakan PT. Goodyear terdapat di Kecamatan
Sipispis. Adapun gambar lokasi perkebunan tersebut adalah sebagai berikut.

Sumber: Kanwil Provinsi Sumatera Utara, Gambar. Peta Kebun PT. Bridgestone
Gambar 5. Peta Situasi Khusus HGU PT. Bridgestone

3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PT Bridgestone dengan Masyarakat


a. Terdapat selisih luas antara HGU Nomor 1/Nagur Pane dengan luas HGU
perpanjangannya yaitu HGU Nomor 1/Nagarai Pane yaitu 3.119,38 Ha - 2.846,37 Ha =
273,01 Ha dimana areal tersebut telah dikeluarkan untuk perkampungan, sempadan
sungai dan sekolah dasar;
b. Masyarakat menuntut kembali areal seluas 273,01 Ha dengan alasan bahwa masyarakat
hingga saat ini belum pernah menerima pembebasan tanah dari Perkebunan Naga
Raja hingga saat ini;
c. Semula masyarakat Desa Tinokah menuntut pengembalian lahan milik mereka seluas
±400 Ha yang merupakan bekas perkampungan dan perladangan yang terletak di
Kampung Sorba Jahe/Naga Tongah, Sihora-hora, Kecamatan Sipispis dimana menurut
56 mereka pada tahun 1920 telah diambil paksa oleh penjajah Belanda sehingga mereka
terusir ke Kampung Tinokkah dan Kampung lainnya dan sejak tahun 1967 areal
tersebut kemudian dikuasai oleh PT Good Year (Sekarang PT Bridgestone);
d. Areal perkampungan dan perladangan yang terletak di Kampung Sorba Jahe/Naga
Tongah, Sihora-hora, Kecamatan Sipispis tersebut pernah ditanami masyarakat berupa
tanaman rambung, nibung, enau, dan lain-lain, dan juga terdapat kuburan sebanyak
28 buah, termasuk kuburan dari keturunan raja (Pertuanan) yakni bermarga Damanik;
e. Areal seluas 273,01 Ha yang telah dikeluarkan dari HGU Nomor 1/Nagarai Pane
merupakan bagian dari lahan seluas ±400 Ha yang dituntut oleh masyarakat tersebut;

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan
Upaya penanganan penyelesaian telah dilakukan oleh tim internal Badan Pertanahan
Nasional (Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan)
pada tanggal 19 April 2012 dengan beberapa rekomendasi sebagai berikut:
a. Untuk antisipasi mengurangi konflik ditanah seluas 226,85 Ha disarankan agar
masyarakat ke 5 Desa (Desa Nagori, Banjarawan, Simorang, Selapuh, SD dan DAS)
dilakukan pengukuran dan selanjutnya dilakukan legalisasi aset kepada pemerintah
daerah dengan biaya swadaya masyarakat sesuai dengan PP 13 Tahun 2010;
b. Terhadap tanah yang dituntut masyarakat Sorba Jahe seluas 273 Ha mengingat
statusnya adalah HGU No. 1/Nagur Pane dan managemen PT. Bridgestone Sumatra
Rubber Estate tidak bersedia melepaskan, maka perlu diajukan gugatan melalui Badan
Peradilan;
c. Apabila dikemudian hari ditemukan bukti yang menguatkan secara otentik bahwa
tanah seluas 273 Ha benar-benar merupakan bekas perkampungan dan tidak
dipertimbangkan dalam pemberian HGU pada pendaftaran pertama kali, maka dapat
dijadikan alasan pembatalan dengan cacat administrasi;
d. Untuk mengetahui luas pembanding terhadap luas yang tercantum dalam sertipikat,
maka BPN RI cq. Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai melakukan penelitian
kembali terhadap peta dengan bantuan foto citra (google map) selambat-lambatnya
2 minggu setelah gelar ini yaitu tanggal 19 April 2012 dan hasilnya dilaporkan kepada
Kepala BPN RI, Kamwil BPN Provinsi Sumatera Utara, Bupati Serdang Bedagai dengan
tembusan kepada Gubernur Sumatera Utara, DPRD Sumatera Utara, DPRD Serdang
Bedagai, Masyarakat Desa Tinokah serta PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate.

Kelanjutan dari penanganan tersebut, Plt. Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan
Sengketa dan Konflik Pertanahan sebagaimana suratnya No. 148/25.3-500/IV/2012 tanggal
30 April 2012 yang ditujukan kepada Bupati Serdang Bedagai dan Batara Muliaa Hasibuan,
SH selaku Kuasa Hukum PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate, perihal tuntutan atas
areal HGU PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate menjelaskan:
a. Penerbitan SK Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 114/
HGU/BPN/1997 tanggal 16 September 1997 tentang pemberian perpanjangan HGU
(Sertipikat No .1/Nagur Pane) seluas 2.846,73 Ha An. PT. Bridgestone Sumatra Rubber
Estate yang terletak di Kabupaten Serdang Bedagai (Dahulu Kabupaten Deli Serdang)
Sumatera Utara telah diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
b. Terdapat perbedaan luas antara SK No. 2/HGU/DA/80 tanggal 12 Januari 1980 seluas
3.119,38 Ha dengan SK No. 114/HGU/BPN/97 tanggal 16 September 1997 menjadi
2.846,73 Ha adanya selisih ±273 Ha adalah untuk DAS, Perkampungan dan Bangunan
Sekolah Dasar; 57
c. Berdasarkan Peta Khusus No. 45/04/10/96 setelah diukur dan dihitung kembali
ternyata luas tanah sebelumnya adalah 3.073, 58 Ha kemudian dikeluarkan untuk DAS,
Perkampungan dan Bangunan Sekolah Dasar seluas 226,85 Ha sehingga luas tanah
perpanjangan HGU menjadi 2.846,73 Ha.

Selanjutnya ketua DPRD Kabupaten Serdang Bedagai melalui suratnya No.


170/598.7/162/2012 tanggal 15 Mei 2012 yang ditujukan kepada Kepala BPN RI dan
tembusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai pada intinya meminta

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


agar segera ditindaklanjuti pengukuran lapangan untuk menentukan luas HGU yang
sebenarnya untuk penyelesaian sengketa tanah atas tuntutan masyarakat Desa Tinokah
terhadap PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate.

BPN RI melalui Plt. Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik
Pertanahan melalui suratnya No: 1505/25.3-500/VII/2012 tanggal 12 Juli 2012 telah
membalas surat Ketua DPRD Kabupaten Serdang Bedagai tersebut diatas yang pada
intinya:
a. Proses penerbitan Sertipikat HGU No. 1/Nagarai Pane an. PT. Bridgestone Sumatra
Rubber Estate telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagaimana dalam
PP. 24 Tahun 1997, luas dan letaknya, sebagaimana dimaksud dalam Peta GS No.
45/04/IV/1996 seluas 2.846,73 Ha merupakan hasil pengukuran kadasteral melalui
pengukuran lapang (Terestis);
b. Pengukuran dapat dilakukan apabila ada persetujuan dari subyek hak (PT. Bridgestone
Sumatra Rubber Estate) atau adanya putusan pengadilan;
c. Sehubungan dengan hal tersebut maka permohonan untuk melakukan pengukuran
ulang atas lokasi HGU PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate tidak dapat
dipertimbangkan kecuali memenuhi syarat sebagaimana huruf b tersebut diatas dan
apabila masyarakat tetap merasa keberatan dipersilahkan menempuh upaya hukum
ke pengadilan.

[Link].2. PT. Perkebunan Nusantara III/Kebun Rambutan (Kabupaten Serdang Bedagai)


1. Riwayat Tanah
a. Tanah PTPN III/Kebun Rambutan dahulunya merupakan bekas Hak Konsesi NV.
RUBBER CULTUR MAATSCHAPIJ ASMTERDAM yang diuraikan dalam Peta Gambar
Situasi Khusus No. 18/1998 yang luas seluruhnya 4.442,20 Ha terletak di Kecamatan
Tebing Tinggi, Kabupaten Deli Serdang (sebelum pemekeran);
b. Tanah tersebut semula dikuasai oleh Negara berdasarkan Undang-Undang No. 86
Tahun 1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda juncto
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1959 dan pengelolaannya diserahkan kepada PPN
Karet V, selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah No.14 Tahun 1968 diserahkan
kepada PN. Perkebunan V;
c. Berdasarkan Konstatering Rapport Perkebunan Rambutan tanggal 12 dan 13 Januari
1994 No. 17/PPT/B/1994 tanah tersebut telah dikuasai/dipergunakan oleh pemohon
untuk perkebunan kelapa sawit dan karet serta sebagian areal tersebut seluas
68,42 Ha dipergunakan untuk kepentingan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat
58 II Tebing Tinggi, Koperasi PT. Perkebunan V, jalan umum dan lintasan rel kereta api
yang dikeluarkan dari areal perkebunan tersebut sehingga luas tanah yang dapat
dikabulkan untuk diberikan Hak Guna Usaha seluas 4.373,78 Hadengan Surat Ukur
No. 1459/1996 tanggal 2 April 1996, merupakan kutipan dari Peta Situasi Khusus
No. 46/04/IV/1994 tanggal 25 November 1994 dan berakhir haknya pada tanggal 31
Desember 2025, diterbitkan berdasarkan SK Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional No. 51/HGU/BPN/1995 tanggal 4 agustus 1995 (Sertipikat HGU
No. 1/Desa Paya Bagas, luas 4.373,78Ha);

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
2. Lokasi HGU Perkebunan
Tanah yang menjadi obyek permasalahan seluas ±82 Ha terletak di Desa Paya Bagas,
Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai. Adapun lokasi HGU PTPN III/Kebun
Rambutan dan obyek sengketa tersaji pada gambar berikut.

Sumber: Kanwil BPN Provinsi Sumatera Utara, Gambar. Peta HGU PTPN III/Kebun Rambutan dan Obyek Sengketa
Gambar 6. Lokasi Permasalahn PT. Perkebunan Nusantara III/Kebun Rambutan dengan
masyarakat

3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PTPN III/Kebun Rambutan dengan masyarakat.


a. Obyek yang diklaim oleh masyarakat seluas lebih kurang 82 Ha, merupakan bagian
dari tanah PTPN III/Kebun Rambutan (Sertipikat HGU No. 1/Desa Paya Bagas tahun
1996 dengan luas 4.373,78 Ha);
b. Adanya pengakuan dari masyarakat, dengan dasar:
1) Tanah seluas ± 82 Ha merupakan tanah warisan yang dikuasai sejak tahun 1936
dan sejak tahun 1954 telah mendapat kartu Register Pendaftaran Tanah (KRPT)
dari Dinas Agraria yang dilindungi Undang-Undang Darurat No. 8/1954;
2) Pada tahun 1966 tanah tersebut diambil paksa oleh PTPN III (dahulu PTPN V);
3) Sejak tahun 1999 masyarakat kembali mengambil/menguasai tanah;
4) Masyarakat mengakui tidak pernah menerima ganti rugi atas tanah tersebut dari
PTPN III sejak tahun 1966.
59
4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan
Pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai maupun Pemerintah Provinsi Sumatera
Utara telah beberapa kali mengupayakan penyelesaian agar tanah seluas ± 82 Ha segera
dikeluarkan dari areal HGU No. 1/Paya Bagas, jika PTPN III tidak dapat membuktikan bahwa
tanah tersebut telah diganti rugi kepada masyarakat.

Pada tahun 2001 PTPN III menggugat Bupati Deli Serdang dengan amar putusan
membatalkan Surat Bupati Deli Serdang yang isinya bahwa ganti rugi kepada masyarakat

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


seluas 82 Ha tidak benar semata-mata berpedoman data [Link] tahun 2007
PTPN III mengajukan gugatan perdata terhadap penggarapan masyarakat dan dimenangkan
PTPN III dimana tergugat harus mengosongkan areal perkebunan yang [Link]
2009 tergugat (masyarakat) mengajukan banding, dimenangkan PTPN III dengan amar
putusan gugatan Suwarno dkk ditolak seluruhnya. Adapun pada tahun 2010 PTPN III akan
mengeksekusi tanah yang disengketakan sebagai pelaksanaan putusan Peradilan yang
sudah inkracht, namun pada pertemuan forum pelaksanaan eksekusi tersebut pihak PTPN
III meninggalkan forum dan oleh hal itu masalah eksekusi ditunda.

Selanjutnya, upaya untuk menyelesaikan permasalahan antara PTP III dengan masyarakat
yang diwakili oleh Sdr. Suwarno dkk telah dilaksaknakan oleh Badan Pertanahan Nasional
melalui Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan
dengan gelar kasus pada tahun 2012 (Berita Acara Pelaksanaan Gelar Kasus No. 8/BAHGP/
DV/2012). Adapun kesimpulan hasil gelar kasus tersebut adalah:
a. Bahwa gelar tanggal 28 Oktober 2012 dengan hasil pengukuran Super Impose
berdasarkan Peta Foto Citra Udara (Google), lokasi yang dimohonkan untuk dikeluarkan
seluas ± 82 Ha berada di dalam Sertipikat HGU No. 1/Paya Bagas an. PTPN III Kebun
Rambutan;
b. Hasil gelar tersebut telah diberikan tanggapan oleh pemohon yang intinya areal seluas
± 82 Ha tetap harus dikeluarkan dari HGU;
c. Badan Pertanahan Nasional setelah mendengar, memperhatikan dokumen HGU No.
1/Paya Bagas, untuk mempertimbangkan permohonan Sdr. Suwarno dkk, juga untuk
mempertimbangkan putusan Badan Peradilan yang sudah inkracht.

Disamping itu terdapat rekomendasi yang disarankan untuk ditindaklanjuti. Adapun


rekomendasi tersebut berupa pembentukan tim oleh Bupati Serdang Bedagai dengan
melibatkan unsur BPN untuk memproses permohonan masyarakat tersebut serta perlu
permohonan tertulis yang diajukan kepada Kementerian BUMN oleh Pemerintah Serdang
Bedagai. Dalam perkembangan berikutnya berdasarkan SE Ka. BPN RI No. 2 Tahun 2012
tanggal 27 Desember 2012, Kanwil BPN Sumatera Utara menyarankan agar masyarakat
penggarap dijadikan anggota plasma dalam areal HGU.
[Link].3. PT Perkebunan Nusantara II (Kabupaten Langkat)
1. Riwayat Tanah
a. Riwayat areal PTPN II (Persero) dahulu PTP IX semula berada dibawah NV. Van Deli
Maatschappij (Deli Planters Vereniging) membentang antara Sei Wampu di Kabupaten
Langkat sampai Sei Ular di Kabupaten Deli Serdang, seluas ± 250.000 Ha sebagaimana
60 yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Agr. 12/5/14 tanggal 28
Juni 1951;
b. Kemudian atas sebagian tanah seluas ± 250.000 Ha tersebut diduduki atau digarap
oleh masyarakat. Atas penggarapan tersebut berdasarkan SK. Menteri Dalam Negeri
No. Agr. 12/5/14 tanggal 28 Juni 1951 menetapkan antara lain penyerahan kembali
kepada Negara (Pemerintah) seluas ± 125.000 Ha yang kemudian ditindaklanjuti
dengan SK. Gubernur Sumatera Utara No. 36/K/Agr tanggal 28 September 1951 yang
isinya antara lain menunjuk penggunaan tanah untuk keperluan perusahaan dan yang
dikembalikan kepada pemerintah (dikeluarkan). Tanah yang dikeluarkan ini (± 125.000

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Ha) kemudian disebut tanah suguhan;
c. Areal kebun PTPN II yang berada di Kabupaten Langkat terdiri atas beberapa kebun,
seperti yang tertuang dalam SK. Badan Pertanahan Nasional No. 43/HGU/BPN/2002
tanggal 29 November 2002 tentang Pemberian Perpanjangan Jangka Waktu HGU,
antara lain:
1) Kebun Kwala Begumit
2) Kwala Bingei I
3) Kwala Bingei II
4) Tanjung Jati
5) Tanjung Keliling
6) Marike
7) Glugur Langkat
8) Gohor Lama I
9) Gohor Lama II
10) Basilam
11) Timbang Langkat/Purwobinangun
12) Timbang Langkat/Binjai Estate

2. Lokasi HGU Perkebunan


Tidak tersedia Data Peta

3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PTPN III/Kebun Rambutan Dengan Masyarakat


a. Tahun 1997, PTPN II mengajukan perpanjangan HGU yang berada di wilayah Kabupaten
Deli Serdang, Kabupaten Langkat dan Kota Binjai sebanyak 66 kebun seluas 62.214,79
(Kabupaten Deli Serdang: 40.754,87 Ha, Kabupaten Langkat: 21.221,40 Ha dan Kota
Binjai: 238,52 Ha). Pada masa itu juga bergulir reformasi yang salah satunya berupa
adanya kelompok masyarakat mengajukan tuntutan/garapan di areal PTPN II. Alasan
yang mendasari tuntutan tersebut adalah pengembalian tanah bekas garapan, hak
ulayat maupun permohonan pensiunan karyawan;
b. Mengingat banyaknya tuntutan dan garapan masyarakat atas areal PTPN II terutama
yang diajukan ke Pemerintah, Pemerintah Daerah Sumatera Utara mengambil
kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (perpanjangan HGU PTPN II
dan penyelesaian tuntutan/garapan masyarakat) dengan menerbitkan Keputusan
Gubernur Sumatera Utara No. 593.4/065/K/2000 tanggal 11 Februari 2000 jo.
593.4/2060/K Tahun 2000 tanggal 17 Mei 2000 tentang Panitia Penyelesaian
Perpanjangan HGU PTPN II dan Penyelesaian Masalah Tuntutan/Garapan Rakyat atas
areal PTPN II yang juga disebut dengan Panitia B Plus;
c. Hasil identifikasi Panitia B Plus terhadap permasalahan yang ada di areal perkebunan 61
PTPN II dapat diklasifikasikan kedalam 5 kategori, yaitu:
1) Adanya tuntutan rakyat;
2) Adanya garapan rakyat;
3) Adanya permohonan pensiun untuk pertapakan perumahan karyawan;
4) Adanya tuntutan hak ulayat masyarakat adat melayu;
5) Adanya permohonan berbagai instansi pemerintah untuk pengadaan fasilitas
umum termasuk Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RUTRWK);
d. Tuntutan yang didasarkan atas alas hak khsusus di Kabupaten Langkat seluas 467,40

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Ha. Adapun bukti alas hak tersebut berupa KTPPT/KRPT, SK Gubernur Sumatera Utara
Tahun 1980, Inventarisasi, SK Redistribusi, SIM, SKT Bupati dan bukti lainnya (Putusan
Pengadilan, Putusan Kerapatan Adat, Peta Kalk dan BPPST). Lokasi yang dituntut masih
dikuasai oleh PTPN II;
e. Areal kebun yang digarap/dikuasai masyarakat di Kabupaten Langkat seluas 120,96
Ha. Adapun yang menjadi dasar terjadinya situasi tersebut adalah PTPN II tidak
menggunakanya lagi sehingga tanahnya diusahakan/digarap masyarakat;
f. Areal masuk Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota di Kabupaten
Langkat seluas 308,47 Ha. Dasar pertimbangan untuk dapat dikeluarkan tanah
tersebut adalah Peraturan Menteri Negeara Agraria/Kepala BPN No. 9 Tahun 1999
Pasal 28 menyatakan bahwa permohonan perpanjangan HGU harus sesuai RTRW.
RTRW sendiri telah dituangkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten/Kota dan lokasi
yang masuk PTPN II tersebut sebagian diarahkan untuk non pertanian;
g. Areal pertapakan perumahan pensiunan karyawan PTPN II di wilayah Kabupaten
Langkat seluas 114,04 Ha. Dasar pertimbangannya adalah kebijakan Pemerintah
Provinsi Sumatera Utara untuk menyikapi tuntutan pensiunan karyawan PTPN II.
Disamping itu rumah tersebut benar-benar ditinggali pensiunan karyawan atau
keluarganya serta telah terjadi perubahan fisik/penamabahan bangunan;
h. Areal untuk kompensasi/penghargaan kepada Masyarakat Adat Melayu di Kabupaten
Langkat seluas 200 Ha. Dasar pertimbangannya adalah kebijakan Pemerintah Provinsi
Sumatera Utara untuk menyikapi tuntutan Masyarakat Adat Melayu (Langkat) sebagai
anak negeri yang berdomisili di sekitar areal PTPN II. Selain itu semata-mata sebagai
penghargaan terhadap Masyarakat Adat Melayu dan tidak boleh diperjualbelikan
serta diarahkan untuk perkampungan adat dalam rangka pengembangan budaya etnis
Melayu;
i. Panitia B Plus mengeluarkan rekomendasi perpanjangan HGU terhadap tanah yang
bersih dari tuntutan/garapan rakyat dan juga melakukan seleksi, pembahasan serta
penelitian atas semua berkas tuntutan rakyat yang hasilnya areal seluas 5.873,06
Ha (meliputi Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat dan Kota Binjai) untuk
dikecualikan dari perpanjangan HGU PTPN II. Dari usulan Panitia B Plus ditegaskan
dengan Keputusan Kepala BPN No. 42, 43 dan 44/HGU/BPN/2002 Tanggal 29 November
2002 dan No. 10/HGU/BPN/2004 Tanggal 6 Februari 2004. Khusus Kabupaten Langkat
yang dikecualikan seluas 1.210,868 Ha;
j. Hasil kerja Panitia B Plus masih menyisakan sejumlah masalah baik secara yuridis,
administratif dan faktual di lapangan. Secara yuridis hingga saat ini belum dapat
diselesaikan karena terkendala ijin pelepasan aset dan pengaturan penguasaan,
pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah oleh Gubernur Sumatera Utara
62 sebagaimana dipersyaratkan dalam Keputusan Kepala BPN No. 42, 43 dan 44/HGU/
BPN/2002 dan No. 10/HGU/BPN/2004. Perdebatan juga muncul mengenai dasar
hukum ketentuan ijin pelepasan aset dan pelimpahan kewenangan pengaturan
kepada Gubernur Sumatera Utara. Secara administratif belum dapat di identifikasi
secara jelas mengenai data yang terdapat dalam berkas-berkas tuntutan rakyat yang
dikerjakan Panitia B Plus, mengingat belum adanya dasar hukum penyelesainnya
sehingga penelitian belum dapat dilaksanakan. Secara faktual di lapangan belum dapat
dipisahkan areal yang telah diberikan perpanjangan HGU dengan areal yang telah
dikeluarkan dari HGU mengingat permasalahan hukum ijin pelepasan aset dan ujicoba

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
yang dilakukan untuk pengukuran pengembalian batas HGU pada dua kebun terdapat
ketidaksinkronan antara data dalam matrik dan peta Panitia B Plus dengan data fisik
di lapangan;

4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan


Upaya penangan penyelesaian konflik yang telah diusahakan baik oleh Pemerintah Daerah
maupun Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN Provinsi Sumatera Utara), yaitu:
a. Mengusulkan peninjauan ulang serta revisi atas masalah ijin pelepasan aset dan
pemberian kewenangan pengaturan atas tanah yang tidak diperpanjang HGU PTPN
II kepada Gubernur Sumatera Utara sebagaimana dicantumkan dalam Keputusan
Kepala BPN No. 42, 43 dan 44/HGU/BPN/2002 dan No. 10/HGU/BPN/2004 yang
ternyata tidak memiliki dasar hukum dalam UUPA dan Peraturan Pemerintah No. 40
Tahun 1996 sehingga Kanwil BPN Sumatera Utara (Panitia B Plus) dapat melaksanakan
pengaturan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku guna
mencari penyelesaian secara komprehensif terhadap masalah yang ada pada bekas
areal PTPN II;
b. Secara faktual agar dapat memperoleh ijin pelepasan aset sesuai dengan Keputusan
Kepala BPN, Gubernur Sumatera utara telah mengirimkan 4 (empat) surat permohonan
kepada Menteri Negara BUMN, akan tetapi hingga saat ini belum ada penerbitan ijin
pelepasan aset dari lembaga tersebut.
[Link]. Provinsi Sumatera Selatan

[Link].1. PTPN VII/Unit Usaha Beringin (Kabupaten Muara Enim)


1. Riwayat Tanah
a. Pembangunan perkebunan Unit Usaha Beringin adalah berdasarkan program
pemerintah dalam membangun perkebunan besar PIR/Perkebunan Inti Rakyat (Proyek
PIRSUS) yang perolehan lahan berasal dari tanah negara bebas pencadangan lahan
disediakan melalui SK Gubernur Kepala Daerah Tk I Sumatera Selatan tanggal 25 Juni
1983 No 321/KPTS.I/1983 tentang pencadangan tanah seluas ±10.000 Ha terletak di
Kecamatan Prabumulih Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim untuk keperluan
Proyek Perkebunan Inti Rakyat PT. Perkebunan Nusantara X (Persero). Program
pengembangan kebun inti PTPN VII dengan pola ganti rugi berdasarkan SK Bupati
Muara Enim No. 022/SK-IL/MAE/1997 seluas ±2.800 Ha;
b. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional No. 21/HGU/KEM-ATR/BPN/2015 tanggal 14 April 2015 tentang
pemberian HGU atas nama Perusahaan Perseroan PT. Perkebunan Nusantara VII atas
tanah yang terletak di Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan, bahwa tanah
yang dimohon oleh PTPN VII Unit Usaha Beringin seluas 3.662,14 Ha berstatus tanah
63
negara, yang berasal dari eks proyek PIRSUS atas nama M. Hasbi bin Seri, dkk (534
orang) seluas 2.401,07 Ha sebagaimana dimaksud dalam Surat Bupati Kepala Daerah
Tingkat II Muara Enim tanggal 4 Maret 1989 Nomor 525/1159/V/1989 dan Surat
Sekretaris PIR, Dirjen Perkebunan, Departemen Kehutanan dan Perkebunan tanggal
6 Oktober 1998 Nomor 231/IX/PIR.2/1998 dan dari pelepasan hak bekas penguasaan
masyarakat atas nama Yanpol, dkk (171 orang) seluas 1.261,35 Ha, yang masing-
masing nama bekas pihak yang menguasai tanah, letak tanah, luas tanah dan bukti
perolehan tanah pemohon.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


2. Lokasi HGU Perkebunan
Lokasi kebun PTPN VII/Unit Usaha Beringin dan obyek yang disengketakan masyarakat
berada di Kecamatan Lubai yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Muara
Enim. Adapun peta HGU PTPN VII/Unit Usaha Beringin adalah sebagai berikut:

Sumber: Kantah Kabupaten Muara Enim


Gambar 7. Peta Bidang Tanah HGU PTPN VII/Unit Usaha Beringin

3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PTPN VII/Unit Usaha Beringin dengan Masyarakat
a. Tanah areal PTPN VII Unit Usaha Beringinseluas ±1.414 Ha, diklaim sebagai tanah
Desa Sumber Mulya seluas 964 Ha, dan Desa Pagar Dewa seluas 450 Ha, sehingga
Masyarakat menuntut pengembalian tanah atau ganti rugi atas tanah seluas tersebut;
b. Pada Tahun 2000, terdapat 249 orang mengatasnamakan warga desa Pagar Dewa
dan Sumber Mulia (ex. Pagar dewa) mengajukan tuntutan ganti rugi lahan dengan isi
tuntutan yakniganti rugi atas hilangnya kesempatan berusaha sebesar Rp. 10.000.000/
ha dan melarang adanya aktivitas/sadap karet;
c. Pada tahun 2012, tanah seluas yang disengketakan tersebut kembali diklaim oleh
masyarakat, permasalahannya adalah tuntutan dari masyarakat yang berulang, dari
permasalahan sebelumnya yang telah selesai dan telah tercapai kesepakatan antara
pihak penuntut dan pihak PTPN VII Unit Usaha Beringin, kemudian dituntut lagi oleh
64 pihak masyarakat.
4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan
a. Dari riwayat permasalahan yang terjadi antara PTPN VII Unit Usaha Beringin dengan
masyarakat, dapat dilihat bahwa pola penyelesaian yang dilakukan adalah selalu
melalui cara mediasi dengan jalan memberikan pola kemitraan kepada para penuntut
dimana peserta kemitraan tersebut telah melalui hasil seleksi oleh tim yang dibentuk
oleh Pemkab Muara Enimdengan menawarkan solusi pola kemitraan dalam berbagai
macam bentuk;
b. Telah terjadi kesepakatan yang tertuang dalam Berita Acara Kesepakatan pada tanggal

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
14 Maret 2002, yang berisi:
5 Desa (Pagar Dewa, Sumber Mulia, Karang Mulia, Karang Agung dan Air Sugihan):
1) Setelah mengikuti pelaksanaan seleksi oleh Tim pada tanggal 23 April s/d 19
September 2001 dan hasil kesimpulan Tim Seleksi yang disampaikan kepada
Pemkab Muara Enim 5/11/2001 menyatakan menyepakati menerima hasil seleksi;
2) Untuk tidak lagi menimbulkan permasalahan baru dan guna penegakkan hukum
serta keadilan, menyepakati bahwa tuntutan lahan selesai (ditutup);
3) Bagi yang tumpang tindih dan tidak jelas akan dilakukan penelitian ulang paling
lambat 10 hari sejak BA ditanda tangani.
c. 3. Pada tanggal 21 Maret 2002, dilakukan penelitian ulang hasil seleksi peserta
kemitraan, yang menghasilkan:5 Desa (Pagar Dewa, Sumber Mulia, Karang Mulia,
Karang Agung dan Air Sugihan), isinya:
1) Setelah melakukan penelitian ulang bersama Tim seleksi tingkat kecamatan
terhadap warga penuntut yang tumpang tindih dan tidak jelas disaksikan Pemkab
Muara Enim, DPRD Muara Enim serta Prov Sumsel menyatakan menyepakati
menerima hasil seleksi;
2) Untuk tidak lagi menimbulkan permasalahan dan guna penegakkan hukum serta
keadilan, menyepakati bahwa tuntutan lahan yang tumpang tindih dan tidak jelas
dinyatakan gugur/ selesai (ditutup).
d. Pada tanggal 22 Maret 2002 dilakukan pertemuan di di Ruang Kerja Asisten
Pemerintahan Kab. Muara enim, menghasilkan :
1) 17 orang warga penuntut yang lahannya tumpang tindih dan tidak jelas sudah
diselesaikan sehingga tidak perlu lagi pemeriksaan di lapangan;
2) Dengan selesainya seluruh permasalahan untuk 242 KK diminta agar PTPN VII
Beringin memberikan kepedulian kepada seluruh warga penuntut sesuai dengan
kemampuan PTPN VII itu sendiri;
3) Bagi warga penuntut yang sudah mendapatkan kepedulian dari Pihak PTPN VII
Beringin diwajibkan membuat pernyataan tertulis bahwa tidak akan menuntut
dalam bentuk apapun kepada PTPN VII maupun Pemerintah secara kelompok yang
dilegalisasi oleh Kepala Desa dan BPRD masing-masing Desa.
e. Pada tahun 2012, tanah seluas yang disengketakan tersebut kembali diklaim oleh
masyarakat;
f. Dalam rangka penyelesaian terhadap tuntutan tersebut, diadakan pertemuan yang
difasilitasi oleh Pemkab Muara Enim pada tanggal 7 Agustus 2012, yang menghasilkan:
1) Masyarakat menuntut kemitraan perkebunan, dengan lahan seluas 638 Ha untuk
masyarakat Desa Sumber Mulya dan Pagar Dewa;
2) Masyarakat desa Sumber Mulya dan Desa Pagar Dewa menuntut dana kompensasi
produksi dari tahun 2007 sd 2012 senilai Rp. [Link],- (sepuluh milyar 65
rupiah);
3) PTPN VII belum bisa menerima tuntutan tersebut dan menawarkan program
kemitraan (tanpa pengadaan lahan) dengan formulasi usulan dari warga dan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta membuka diri untuk berdialog mencari
solusi yang terbaik;
4) Pemkab Muara Enim siap memfasilitasi pertemuan antara masyarakat penuntut
dengan PTPN VII Unit Usaha Beringin.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


g. Sejumlah warga dari Desa Pagar Dewa, Karang Mulya, dan Desa Sumber Mulya sepakat
menerima pola kemitraan dalam bentuk ternak ayam, modal kerja usaha kecil, serta
kerjasama perawatan kebun, namun sebagian pihak masih ada yang tidak setuju
dengan penyelesaian melalui pola kemitraan yang ditawarkan tersebut;
h. Sampai saat ini dari pihak Kantor Wilayah BPN Provinsi Sumatera Selatan dan Kantor
Pertanahan Kabupaten Muara Enim masih sebatas melakukan upaya penyelesaiannya
dengan cara peninjauan lapangan terhadap lokasi yang dipermasalahkan seluas
±1.414 Ha tersebut;
i. Hasil dari peninjauan lapangan dengan meneliti data fisik, lahan yang diklaim oleh
masyarakat terletak di dalam lokasi PTPN VII Unit Usaha Beringin yang telah diterbitkan
Surat Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
No. 21/HGU/KEM-ATR/BPN/2015 tanggal 14 April 2015 tentang pemberian HGU atas
nama Perusahaan Perseroan PT. Perkebunan Nusantara VII atas tanah yang terletak di
Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan;
j. Hasil dari peninjauan dengan meneliti data yuridis yang dimiliki oleh PTPN VII Unit
Usaha Beringin, lahan yang diklaim adalah sesuai dalam SK HGU tersebut diatas.
[Link].2. PT. Arta Prigel (Kabupaten Lahat)
1. Riwayat Tanah
a. Riwayat awal perolehan tanah berdasarkan Surat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lahat
Nomor: 593/969/I/1993 tanggal 4 Juni 1993 tentang Izin Prinsip Pencadangan Tanah
untuk perkebunan kelapa sawit seluas ± 5.000 Ha An. PT. Arta Prigel di Kabupaten
Daerah Tingkat II Lahat;
b. Berdasarkan Surat Menteri Pertanian Nomor: HK.350/E-4.425/06.93 tanggal 15 Juni
1993 tentang Persetujuan Perubahan Lokasi dan Jenis Tanaman menjadi kelapa sawit
seluas 3.000 Ha;
c. Berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor:
487/SK/I/1993 tanggal 24 Juni 1993 tentang Pemberian Izin Lokasi untuk keperluan
perkebunan kelapa sawit seluas ± 5.000 Ha An. PT. Arta Prigel;
d. Berdasarkan Surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor
593/05239/I/1993 tanggal 20 September 1993 tentang Izin Pembukaan Lahan untuk
perkebunan kelapa sawit seluas ± 5.000 Ha An. PT. Arta Prigel;
e. Berdasarkan Surat Dinas Perkebunan Tingkat I Sumatera Selatan Nomor: 593.4/345/
Perke tanggal 26 Februari 1994 tentang dukungan Hak Guna Usaha atas nama PT. Arta
Prigel seluas ± 5.000 Ha;
f. Berdasarkan Surat Departemen Kehutanan Kantor Wilayah Provinsi Sumatera Selatan
Nomor: 476/Kwl-6.3/3/94 tanggal 11 Maret 1994 tentang Rekomendasi Lahan
66 Perkebunan Kelapa Sawit seluas ± 5.350,5 Ha di Kabupaten Dati II Lahat atas nama PT.
Arta Prigel menyatakan lahan yang dimohon diluar Kawasan Hatan (APL);
g. Berdasarkan Keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lahat Nomor: 04/SK/
K{K/1995 tanggal 4 Januari 1995 tentang Perubahan dan Penggunaan Izin Lokasi untuk
keperluan perkebunan kelapa sawit An. PT. Arta Prigel seluas ± 3.500 Ha;
h. Berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Perkebunan Nomor: H.350/E.5.1200/II/1997
tanggal 27 November 1997 tentang Pembaharuan Persetujuan Prinsip Usaha Budidaya
Perkebunan Kelapa Sawit seluas 3.000 Ha kepada PT. Arta Prigel;
i. Berdasarkan Surat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lahat Nomor: 593/231/I/1998

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
tanggal 7 Maret 1998 tentang Pembaharuan Izin Prinsip atas nama [Link] Prigel
seluas ± 2.075 Ha untuk lahan inti dan seluas ± 1.800 Ha untuk lahan plasma;
j. Berdasarkan Surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor:
593/2656/I tanggal 5 Juli 1998 tentang Persetujuan PrinsipIzin Lokasi seluas ± 2.075
Ha untuk lahan inti dan seluas ± 1.800 Ha untuk lahan plasma;
k. Berdasarkan proyek proposal yang dibuat oleh PT. Arta Prigel tanggal 21 Juli 1998 yang
merupakan kerangka acuan dalam pelaksanaan pembangunan proyek perkebunan
kelapa sawit seluas ±2.075 Ha yang terletak di Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten
Lahat yang diketahui Kepala Dinas Perkebunan KDH. Tk. I Provinsi Sumatera Selatan;
l. Berdasarkan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lahat Nomor: 191/SK/
BPN/1999 tanggal 4 Juni 1999 tentang Pemberian Izin Lokasi untuk keperluan
perkebunan kelapa sawit An. PT. Arta Prigel seluas ±2.075 Ha;
m. Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: 20/HGU/BPN/2006 tentang
Pemberian Hak Guna Usaha Atas Tanah Terletak di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera
Selatan seluas 2.075 Ha kepada PT. Arta Prigel selama 35 tahun.

2. Lokasi HGU Perkebunan


Lokasi perkebunan kelapa sawit PT. Arta Prigel berdasarkan Keputusan Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor: 20/HGU/BPN/2006 terletak di Kecamatan Lahat, Kecamatan
Merapi dan Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan.
Sedangkan yang menjadi obyek lokasi sengketa berada di Desa Padang Lengkuas. Adapun
Peta HGU dan obyek sengketa tersebut tersaji pada gambar berikut:

67

Sumber: Kantah Kabupaten Lahat, 2015


Gambar 8. Peta HGU PT. Arta Prigel dan Obyek Sengketa

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PT. Arta Prigel dengan Masyarakat
a. Obyek yang menjadi tuntutan agar dikembalikan kepada masyarakat diwakili oleh Ny.
Nurdiana, SH (selaku Kuasa Hukum Masyarakat Desa Padang Lengkuas) adalah seluas
±900 Ha. Tuntutan tersebut menurut mereka didasarkan atas pengakuan adanya tanah
adat Desa Padang Lengkuas dan telah diusahakan terus menerus serta turun temurun;
b. Alas hak yang menjadi dasar tuntutan tersebut berdasarkan Surat Keterangan Hak No.
147/MGL/1965 tanggal 11 Desember 1965 yang dikeluarkan oleh Krio/Kepala Desa
Padang Lengkuas;
c. Dilakukan penelitian untuk membuktikan kebenaran tersebut, melalui Bupati Lahat
dengan menurunkan Tim sesuai Surat Tugas Nomor: 730/ST/I/1998 tanggal 14
September 1998
1) Tanah yang dituntut sebagian sudah dibuka/ditanami kelapa sawit oleh perusahaan
dan sebagian lagi masih berupa kebun rakyat yang menyebar secara sporadik serta
sebagian lagi untuk rencana kebun plasma;
2) Untuk mendapatkan data yang akurat mengenai letak dan luas lahan perlu
dilaksanakan pengukuran keliling dan rincikan oleh Kantor Wilayah Badan
Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Selatan bersama-sama dengan Kantor
Pertanahan Kabupaten Lahat.
d. Pada saat penelitian dilapangan Tim diberitahukan oleh Kuasa Hukum dari PT. Arta
Prigel yaitu Saudara Amin Kias, SH bahwa permasalahan tanah yang dituntut oleh
saudara Ny. Nurdiana, SH masih dalam proses Pengadilan Negeri Lahat yang telah
terdaftar sebagai perkara perdata tanggal 18 Juni 1998 Nomor: 06/PDT.6/1998 PNLT;
e. Berdasarkan Keputusan Pengadilan Negeri Lahat tanggal 20 Oktober 1998 Nomor:
06/Pdt.G/1998 PNLT, tuntutan Saudara Ny. Nurdiana, SH selaku kuasa hukum
warga masyarakat Desa Padang Lengkuas digugurkan karena pihak penggugat tidak
memenuhi biaya perkara;
f. Dalam perkembangannya, lahan yang dituntut Ny. Nurdiana, SH terjadi tumpang
tindih tuntutan yaitu:
1) Warga masyarakat Desa Padang Lengkuas An. Sansah dan Kobri dengan luas 533
Ha nilai ganti ruginya sebesar Rp. 40.000.000,- (empat Puluh Juta Rupiah) oleh
pihak PT. Artha Prigel (kelompok warga masyarakat Desa Padang Lengkuas diluar
kelompok Ny. Nurdiana, SH);
2) Warga masyarakat Desa Karang Endah Kecamatan Merapi mengklaim bahwa tanah
yang dituntut oleh Ny. Nurdinana, SH tersebut bukan milik warga masyarakat Desa
Padang Lengkuas dan warga masyarakat Desa Karang Endah menuntut ganti rugi
kepada PT. Arta Prigel dan sampai sekarang belum ada penyelesainnya;
3) Ny. Nurdiana, SH yang mendapat kuasa dari dari sebagian warga masyarakat Desa
68 Padang Lengkuas diluar kelompok Sansah dan Sobri, menuntut dikembalikan
tanah terhadap lahan yang telah digarap oleh PT. Arta Prigel.
4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan
a. Pada tanggal 21 Maret 2001 diruang Bina Praja Setda Provinsi Sumatera Selatan
mengadakan rapat untuk membahas tuntutan Ny. Nurdiana, SH selaku Kuasa Hukum
warga masyarakat Desa Padang Lengkuas, dengan kesimpulan rapat:
1) Dalam waktu 2 minggu terhitung sejak tanggal 21 Maret 2001 Tim dari Daerah
Provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Daerah Lahat akan turun ke lapangan
guna melakukan inventarisasi permasalahan yang ada serta untuk melihat sejauh

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
mana lahan yang diberikan kepada perusaan telah terealisasi pembukaannya;
2) Kepada pihak perusahaan agar segera mengajukan Hak Guna Usahanya kepada
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Selatan khususnya
terhadap lahan-lahan yang sudah dibebaskan/diganti rugi/tidak bermasalah;
3) Terhadap lahan plasma yang diberikan seluas ± 103 Ha agar peserta pemilik tanah
yang berhak diikutsertakan sebagai peserta plasma;
4) Setiap investor yang akan menanamkan investasinya di Sumatera Selatan akan
diberikan HGU sepanjang perusahaan telah menyediakn lahan untuk plasma
kepada masyarakat.
b. Sesuai dengan surat tanggal 8 November 2001 Nomor: 005/2023/I/2001 Sekretariat
Daerah Kabupaten Lahat mengundang:
1) Saudara Tim TP3D Kabupaten Lahat
2) Saudara Camat Lahat
3) Ny. Nurdiana, SH
Untuk hadir pada hari Jum’at tanggal 9 November 2001 di Kantor PT. Arta Prigel dalam
rangka membahas penyelesaian kasus antara Ny. Nurdiana, SH dengan PT. Arta Prigel.
Pembahasan dimaksud tidak dapat dilaksanakan karena Sudara Ny. Nurdiana, SH tidak
hadir.
c. Rapat dengar pendapat Kepala Badan Pertanahan Nasional dengan Komisi II DPR RI
pada tanggal 17 Juli 2002 diruang rapat Komisi II Gedung Nusantara DPR RI tentang
kasus PT. Arta Prigel di Kabupaten Lahat dengan kesimpulan sebagai berikut:
1) Terhadap permasalahan tanah ulayat Desa Padang Lengkuas seluas 900 Ha Badan
Pertanahan Nasional Pusat telah memberi petunjuk kepada Bupati Lahat dengan
Surat No. 570.26-2471 tanggal 30 Agustus 2001 yang intinya meminta Bupati
mengadakan penelitian administrasi dan lapangan untuk penyelesaian masalah
dimaksud dengan mengacu pada Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional No. 5 Tahun 1999 tentang oedoman penyelesaian masalah
Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat;
2) Menurut laporan dari Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Selatan
melalui surat tanggal 18 Februari 2002 No. 500/276/26 disebutkan belum ada
penyelesaian lebih lanjut karena dalam rapat untuk mencari penyelesaian masalah
tersebut pada tanggal 9 November 2001 atas undangan Bupati Lahat kepada Tim
TP3D Kabupaten Lahat, Camat Lahat, PT. Arta Prigel dan Ny. Nurdiana, SH tidak
terlaksana karena pihak Ny. Nurdiana, SH tidak hadir dengan alasan undangan
terlambat diterima.
d. Pihak Kantor Pertanahan Kabupaten Lahat melalui surat tanggal 11 Oktober 2006
Nomor: 500/295/KPK/2006 menyarankan kepada Ny. Nurdiana, SH mengajukan
keberatannya ke pengandilan setempat mengingat sebelumnya sudah sering dilakukan 69
musyawarah berkali-kali baik ditingkat Kabupaten Lahat maupun Tk. Provinsi namun
tidak memperoleh penyelesaian;
e. Berdasarkan surat Bupati Lahat tanggal 27 September 2007 No. 591/288/Tanah/X/2007
kepada camat disarankan agar masyarakat desa Padang Lengkuas menyelesaiakan
permasalahan dengan PT. Arta Prigel melalui jalur hukum.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


[Link]. Provinsi Kalimantan Timur
[Link].1. PTPN XIII (Dahulu PTPN VI)(Kabupaten Paser)
1. Riwayat Tanah
a. Tanah yang dimohon oleh PTPN XIII merupakan tanah negara yang dikuasai oleh
pemohon;
b. Berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Timur Nomor:
065/590-XII/UM-38/1988 memberikan Ijin Lokasi dan Pembebasan/Pembelian Tanah
seluas ±11.500 Ha di daerah Kecamatan Pasir Belengkong dan Kecamatan Tanjung Aru,
Kabupaten Pasir untuk proyek NES VII Pasir kepada PT. Perkebunan VI (PERSERO).

2. Lokasi HGU Perkebunan


Lokasi kebun PTPN XIII dan obyek yang disengketakan masyarakat (Aji Ayub) berada di
Desa Lempesu, Kecamatan Pasir Belengkong yang masuk dalam wilayah administrasi
Kabupaten Pasir. Adapun peta HGU PTPN XIII adalah sebagai berikut:

Sumber: Kanwil BPN Provinsi Kalimantan Timur


Gambar 9. Peta Bidang Tanah HGU PTPN XIII

70 3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PTPN XIII dengan Masyarakat


a. Sebelum diterbitkannya ijin lokasi dan diberikannya HGU kepada PTPN XIII, terdapat
Surat Pernyataan Penguasaan/Pemilikan An. Aji Masberawan tanggal 1 Maret 1973
dengan ukuran luas 1.500 m x 2.000 m;
b. SPPPT tanggal 1 Maret 1975 dengan ukuran 1.200 m x 1.400 m;
c. SPPT tanggal 1 Mei 1982 dengan ukuran 100 m x 200 m;
d. Terdapat tindakan pemortalan jalan masuk PTPN XIII dan menghalangi kegiatan,
sehingga pihak PTPN XIII memhon kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Paser untuk
media atas masalah tersebut.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan
a. Dari permasalahan tersebut, pihak PTPN menyampaikan Surat Nomor: Tajat/X/10/
II/2014 kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Paser perihal Permohonan
Bantuan Mediasi dengan Bapak Aji Ayub;
b. Pada tanggal 6 Maret 2014 dilaksanakan mediasi, dengan hasil poin kesepakatan
berupa:
1) Permasalahan portal menjadi pihak tanggung jawab pihak keamanan dan pihak Aji
Ayub siap membuka portal;
2) Segera dilakukan pengukuran/pengecakan;
3) Pembiayaan ditanggung pihak PTPN XIII;
4) Hasil pengukuran selambat-lambatnya Juni 2014
Sebelum petugas Kantor Pertanahan Kabupaten Pasir melakukan pengecekan lapangan
terlebih dahulu diadakan ploting lokasi yang mana menurut data pertanahan (peta dan
tekstual) bahwa lokasi yang disengketakan masuk wilayah HGU No. 3 milik PTPN XIII.
c. Pada tanggal 16 Juli 2014, Aji Ayub menyampaikan surat kepada Kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten Pasir yang isinya adalah bahwasannya Aji Ayub menganggap
tuntutan sudah selesai dikarenakan areal yang dituntut masih dalam wilayah HGU
PTPN XIII (Pesero) dan mediasi yang kedua sudah tidak perlu diadakan lagi.
[Link].2. PT Malaya Sawit Khatulistiwa (Kabupaten Kutai Kartanegara)
1. Riwayat Tanah
a. Tanah yang dimohon oleh PT. Malaya Sawit Khatulistiwa adalah berasal dari Tanah
Negara yang dikuasai pemohon;
b. PT. Malaya Sawit Khatulistiwa memperoleh perpanjangnan Ijin Lokasi Bupati
Kutai Kartanegara Nomor: 89/DPN.K/IL-89/XII-2007 tanggal 17 Desember tentang
Perpanjangnan Ijin Lokasi untuk Keperluan Inti dan Plasma Kelapa Sawit seluas
19.000 Ha jo Keputusan Bupati Kutai Kartanegara Nomor: 503/32/SK-DISBUN KUKAR/
VIII/2006 tanggal 1 Agustus 2006 tentang Pemberian Ijin Usaha Budidaya Perkebunan
Komoditi Kelapa Sawit yang terletak di Kecamatan Sebulu dan Kecamatan Tenggarong;
c. Bidang tanah yang dimohon telah mendapat persetujuan/dukungan dari masing-
masing wilayah Kecamatan dan Desa/Keluarahan yang tertulis dalam bentuk Surat
Dukungan;
d. Tahun 2009 diterbitkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: 99/
HGU/BPN RI/2009 (pemberian HGU) terletak di Desa Beloro, Sebulu Ulu, Sebulu
Modern, Kecamatan Sebulu dan Desa Rapak Lambur, Loa Tebu, Mangkurawang,
Maluhu, Loa Ipuh Darat, Jahab, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara,
Provinsi Kalimantan Timur.
2. Lokasi HGU Perkebunan 71
Lokasi perkebunan kelapa sawit PT. Malaya Sawit Khatulistiwa berdasarkan Keputusan
Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: 99/HGU/BPN RI/2009 terletak di Desa Beloro,
Sebulu Ulu, Sebulu Modern, Kecamatan Sebulu dan Desa Rapak Lambur, Loa Tebu,
Mangkurawang, Maluhu, Loa Ipuh Darat, Jahab, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Provinsi Kalimantan [Link] yang menjadi obyek lokasi sengketa
berada di wilayah perkebunan beberapa desa di Kecamatan Tenggarong. Adapun Peta
HGU dan obyek sengketa tersebut tersaji pada gambar berikut:

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Sumber: Kantah [Link] Kertanegara, 2015
Gambar 10. Peta HGU PT. Malaya Sawit Khatulistiwa dan ObyekSengketa

3. Penyebab Sengketa Pertanahan Antara PT. Malaya Sawit Khatulistiwadengan Masyarakat


a. Akar permasalahan adalah di areal HGU ada Hak Milik atas tanah masyarakat dan
tanah garapan;
b. Tumpang tindih HGU atas nama PT. Malaya Sawit Khatulistiwa dengan Hak Milik atas
tanah masyarakat dan tanah garapan yang belum dilepaskan dan ganti rugi terhadap
tanah sertipikat HM dan tanah garapan masyarakat oleh pemegang HGU;
c. Obyek yang menjadi tuntutan masyarkat adalah agar tanah yang sudah bersertipikat
Hak Milik dan sudah digarap oleh masyarakat untukdikeluarkan dari areal HGU PT.
Malaya Sawit Khatulistiwa;
d. Adanya tuntutan dari fenomena tumpang tindih tersebut sangat realisitis mengingat
antara terbitnya SK dan Sertpikat HGU tahun 2009 dengan terbitnya SHM tahun 2006
(program sertipikasi tanah Transmigrasi), dan pada saat proses permohonan HGU juga
tidak terjadi ganti rugi/pembebasan tanah terhadap tanah-tanah yang digarap dan
bersertipikat Hak Milik tersebut;
72 e. Tuntutan tersebut disampaikan oleh Bapak Asmuni, Cs (Perwakilan Masyarakat
Kelurahan Mangkurawang).
4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan
a. Pada tanggal 22 September 2014 bertempat di Kantor Camat Tenggarong dilakukan
mediasi dengan musyawarah antara perwakilan warga masyarakat Keluarahan
Mangkurawang dengan pihak Manager PT. Malaya Sawit Khatulistiwa yang ikut dihadiri
juga oleh Lurah dan dari pihak Kecamatandengan hasil musyawarah adalah akan
diadakan pengecekan/peninjauan lokasi PT. Malaya Sawit Khatulistiwa di Kelurahan
Mangkurawang pada tanggal 25 September 2014;

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
b. Pada tanggal 29 September 2014 telah dilakukan pengecekan batas-batas HGU
PT. Malaya Sawit Khatulistiwa oleh petugas dari Kantor Camat Tenggarong, Lurah
Mangkurawang dan staf, Babinkamtibmas dan Babinsa Kelurahan Mangkurawang,
Managemen PT. Malaya Sawit Khatulistiwa, Ketua RT. 18 dan Ketua RT. 19 serta warga
masyarakat Kelurahan Mangkurawang, yang salah satu kesimpulannya adalah warga
yang tanahnya berada didalam areal HGU PT. Malaya Sawit Khatulistiwa meminta
pihak pemerintah daerah membantu dalam upaya menyelesaiakan masalah tersebut
dengan menghadirkan instansi teknis seperti Kantor Pertanahan Kabupaten Kutai
Kartanegara;
c. Pada tanggal 4 November 2014 Kantor Pertanahan Kabupaten Kutai Kartanegara dan
beberapa instansi teknis Kabupaten Kutai Kartanegara melaksanakan pengecekan
lapangan batas HGU PT. Malaya Sawit Khatulistiwa. Dari hasil pengecekan tersebut
disimpulkan bahwa:
1) Tidak ditemukan dilapangan tanda batas (patok batas) areal HGU PT. Malaya Sawit
Khatulistiwa;
2) Tanah masyarakat yang sudah bersertipikat diperkirakan masuk kedalam areal HGU
PT. Malaya Sawit Khatulistiwa dan kebun-kebun lainnya yang berada di Kelurahan
Mangkurawang, Keluarahan Rapak Lambur, Kelurahan Maluhu, Kelurahan Loa
Ipuh Darat dan kelurahan-keluarahan lain di Kecamatan Tenggarong.
3) Perlu dilakukan pengukuran pengembalian batas dan pemasangan patok batas
terhadapa areal HGU PT. Malaya Sawit Khatulistiwa agar warga masyarakat yang
berada disekitar areal HGU PT. Malaya Sawit Khatulistiwa mengetahui keberadaan
batas-batas posisinya, dalam hal ini untuk menghindari terjadinya tumpang tindih
(overlaping);
4) Perlu dilakukan inclave terhadap tanah-tanah masyarakat warga transmigrasi Desa
Rapak Lambur dan warga lain khususnya yang sudah bersertipikat.
[Link].3. PT. Mahakam Sawit Plantation ([Link], Kabupaten Kutai Kartanegara)
1. R
iwayat Tanah
a. Bidang tanah yang dimohon PT. MSP adalah berasal dari Tanah Negara yang dikuasai
oleh pemohon;
b. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 81/HGU/BPN
RI/2009 tanggal 17 Juni 2009 tentang pemberian HGU atas nama PT. Mahakam Sawit
Plantation atas tanah di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur,
bahwa PT. MSP telah memperoleh ijin lokasi dan perpanjangannya untuk keperluan
perkebunan kelapa sawit atas tanah seluas ±19.500 Ha, salah satunya terletak di Desa
Selerong, Kec. Sebulu, Kab. Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan
SK Bupati Kutai Kartanegara tanggal 29 Desember 2005 Nomor 51/DPtn/UM-49/ 73
XII-2005 jis. Tanggal 28 Desember 2006 No. 79/DPN.K/IL-75/XII-2006, tanggal 19
Desember 2007 No. 90/DPN.K/IL-90/XII-2007, surat Bupati Kutai Kartanegara tanggal
11 September 2008 No. 590.1-266.1/DPN.K/IX/2008;
c. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 81/HGU/BPN
RI/2009 tanggal 17 Juni 2009 tentang pemberian HGU atas nama PT. Mahakam Sawit
Plantation atas tanah di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur,
bahwa terhadap tanah yang telah diberikan ijin lokasi dan perpanjangannya tersebut
telah dilakukan pengukuran kadastral, diperoleh hasil ukur keliling seluas 7.356,54 Ha

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


yang didalamnya terdapat jalan, sempadan jalan, sungai dan pemukiman seluas 374,42
Ha dikeluarkan dari areal yang dimohon, sehingga diberikan HGU seluas 6.972,12 Ha;
d. PT. MSP menduga telah terjadi penyerobotan oleh masyarakat di dalam areal HGU,
sehingga PT. MSP melaporkan dugaannya tersebu tkepada Polres Kutai Kartanegara
melalui surat pengaduan saudara Eko Puji Nugroho (PT. MSP) Nomor 01/MSP/I/2014
tanggal 10 Januari 2014 tentang dugaan tindak pidana Penggelapan Hak Atas Tanah/
Penyerobotan Tanah yang dilakukan oleh Saudara H. Sumarli alias H. Mandeng
beralamatkan di Desa Selerong, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.

2. Lokasi HGU Perkebunan

Keterangan: posisi tanah sengketa


Sumber: Kantor Pertanahan [Link] Kertanegara
Gambar 11. Peta HGU PT. Mahakam Sawit Plantation

3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PT. Mahakam Sawit PlantationDengan Masyarakat


a. Tanah yang menjadi obyek sengketa terletak di pinggiran HGU atau berbatasan
langsung dengan tanah masyarakat;
74 b. Pihak masyarakat (H. Mandeng) merasa bahwa tanah yang digarapnya belum pernah
dibebaskan oleh pihak PT. MSP;
c. Hasil cek lapangan oleh pihak Kantor Pertanahan Kabupaten Kutai Kartanegara, bahwa
di atas tanah yang menjadi obyek sengketa, belum ada aktifitas dari PT. MSP.
4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan
Upaya penangan penyelesaian konflik yang telah diusahakan baik oleh Pemerintah Daerah
maupun Badan Pertanahan Nasional (Kantor Pertanahan Kabupaten Kutai Kartanegara/
Kanwil BPN Provinsi Kalimantan Timur), yaitu:
a. Penyelesaian atas pengaduan dari pihak PT. MSP atas dugaan penyerobotan tanah

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
oleh masyarakat dilakukan melalui Polres Kutai Kartanegara, kemudian pihak Polres
meminta klarifikasi dari pihak Kantor Pertanahan Kabupaten Kutai Kartanegara;
b. Pada tanggal 1 April 2014 pihak Polres mengeluarkan undangan pengecekan lokasi
atas tanah yang menjadi obyek permasalahan;
c. Pada tanggal 4 April 2014 dilakukan pengecekan atas tanah tersebut dan berdasarkan
laporan hasil pengecekan lokasi yang dibuat oleh pihak Kantor Pertanahan Kab Kutai
Kartanegara adalah sebagai berikut :
1) Bahwa pada lokasi yang menjadi sengketa benar sebagian masuk di dalam areal
HGU PT. MSP;
2) Bahwa yang menjadi sengketa belum ada aktifitas dari PT. MSP;
3) Bahwa yang menjadi sengketa sudah digarap oleh H. Sumarli alias H. Mandeng
dengan ditanami komoditas sengon;
4) Bahwa lokasi yang digarap oleh H. Sumarli alias H. Mandeng tersebut belum
pernah dibebaskan oleh pihak PT. MSP;
5) Peta lokasi obyek sengketa terlampir.
d. Berdasarkan hasil pengecekan lokasi, dari pihak Kantor Pertanahan Kab. Kutai
Kartanegara menyarankan agar :
1) PT. MSP segera mengambil langkah-langkah dalam rangka penyelesaian masalah
tersebut;
2) Mencermati kondisi lapangan dengan mempertimbangkan dari kepentingan
semua pihak agar melakukan koordinasi atau penyelesaian secara kekeluargaan.
[Link]. Provinsi Lampung

[Link].1. PTPN VII/Unit Usaha Way Lima, Tangkit Serdang (Kabupaten Tanggamus)
1. Riwayat Tanah
a. Tanah perkebunan yang dimohonkan Hak Guna Usaha oleh PT. Perkebunan X (Saat
ini PTPN VII) di Tanjung Karang, Provinsi Lampung dengan prosedur SK. 32/DDA/1970
jo SK.45/DJA/1973 terkenal dengan perkebunan Way Lima adalah bekas Hak Erpacht
Verp. No. 64, 132, 3, 2, 1 (sisa) dan 145 luas seluruhnya ±2.986,31 Ha terletak didaerah
Kabupaten Lampung Selatan menurut Surat Keterangan Pendaftaran Tanah setempat
tanggal 16 Januari 1980 No. 72 s/d 77/KV-1980 tertulis atas nama NV. Lampong
Sumatera Rubber Maatschappy Gevestigde te Amsterdam yang terkena nasionalisasi
berdasarkan Undang-Undang No. 86 Tahun 1958 jo Peraturan Pemerintah No. 19
Tahun 1959. Berhubung telah habis tenggang waktu pendaftarannya pada akhir tahun
1973 sebagai ditentukan oleh Surat Keputusan No. SK. 45/DJA/1973 maka terhadap
permohonan tersebut ditempuh prosedur biasa dalam menyelesaikan pemberian Hak
Guna Usahanya;
b. Panitia B dalam risalah pemeriksaan tanahanya tanggal 10 Desember 1975 No. 04/
75
PPT/DA/1975 berkesimpulana meluluskan permohonan PT. Perkebunan X atas areal
tanah perkebunan Way Lima seluas ±2.986,31 Ha, sedangkan areal tanah garapan/
pendudukan rakyat seluas ±2.701,31 Ha dikecualikan dari permohonan Hak Guna
Usahanya;
c. Gubernur KDH Tk. I Lampung cq. Kepala Direktorat Agraria Provinsi Lampung dalam
suratnya tanggal 17 Februari 1980 [Link]. 120/DA.352/Ph. XI/1980 menyatakan
tidak menaruh keberataan atas dikabulkannya permohonan Hak Guna Usaha dari PT.
Perkebunan X atas tanah perkebunan Way Lima;

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


d. Pada tanggal 6 januari 1981 diterbitkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No.
SK. 10/HGU/DA/1981 tentang pemberian Hak Guna Usaha atas tanah perkebunan
Way Lima seluas ±2.986,31 Ha mulai berlaku sejak tanggal didaftarkannya pada Kantor
Agraria Kabupaten yang bersangkutan dan akan berakhir pada tanggal 31 Desember
2005;
e. Berdasarkan Risalah Pemeriksaan Tanah (Konstatering Rapport) Nomor: 06/Konst./
KW/2004 pada tanggal 10 Februari 2004 menerangkan bahwa dari hasil pemeriksaan
dilapangan permohonan perpanjangan Hak Guna Usaha Sertipikat No. 2 tanggal 9
Mei 1997 (An. PTPN VII) dapat dipertimbangkan untuk dikabulkan seluas ±2.986,31
Ha (sesuai gambar situasi No.7/1974 tanggal 20 Maret 1974) dengan alasan telah
memenuhi syarat serta tidak ada keberatan yang diterima dam kecuali pemohon tidak
ada yang berhak atas tanah.

2. Lokasi HGU Perkebunan


Lokasi kebun PTPN VII/Unit Way Lima dan obyek yang disengketakan masyarakat berada di
Kecamatan Lubai (Tidak tersedia peta)

3. Penyebab Sengketa Pertanahan Antara PTPN VII/Unit Usaha Way Limadengan Masyarakat
Berdasarkan Surat No. 001-T/IWAPTA/III/2015 yang disampaikan oleh Tim Kerja Ikatan
Warga Adat Pepadun Tanggamus (IWAPTA) Marga Pugung kepada Asisten Kepala Unit
Wilayah PTPN VII Tangkit Serdang, Manager Unit Wilayah PTPN VII Way Lima dan Direktur
Utama PTPN VII menyampaikan tuntutan Hak Warga Masyarakat Adat Pepadun Marga
Pugung mengingat menurut data-data yang ada pada warga tersebut lahan perkebunan
karet PTPN VII Unit IV Tangkit Serdang adalah kepemilikan Hak Adat Warga Masyarakat
Adat Pepadun Lampung Pubian Marga Pugung;

[Link].2. PT. Daya Kalianda Raya (Kabupaten Lampung Selatan)


1. Riwayat Tanah
a. Adanya UU. No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri, CV. Daya Karya
(Sekarang PT Daya Kalianda Raya) yang bergerak dibidang pertanian/perkebunan, pada
tahun 1970 mengajukan permohonan perolehan tanah untuk keperluan perkebunan
kelapa hybrida kepada Kepala Negeri Kalianda Kabupaten Lampung Selatan;
b. Melalui terbitnya Ketetapan Kepala Negeri Kalianda No. 01/9/TNK/1970 tanggal 20
Maret 1970 dan Sk. Bupati/KDH Tk. II Lampung Selatan No. KEP-01/1.U.S/LS/1970
tanggal 4 April 1970 tentang Pemberian izin usaha sementara untuk membuka tanah
pertanian seluas 3.147 Ha serta Sk. Gubernur KDH. Tk.I Lampung No. Des.087/B.I/
76 HK/70 tanggal 23 April 1970 tentang Persetujuan penyerahan tanah kepada CV. Daya
karya (Sekarang PT Daya Kalianda Raya) seluas 3.147 Ha yang selanjutnya dilakukan
pengukuran dan hasilnya tertuang didalam Peta Situasi No. 1/1972 tanggal 8 Januari
1972 seluas 382 ,66 Ha;
c. Bahwa tanah yang telah diukur tersebut kemudian dibayar gantirugioleh PT. Daya
Kalianda Raya pada tahun 1975 s/d 1977 seluas 379,46Ha, terletak di Desa Tanjungan,
Bandar dalam dan Desa Campang Tiga;
d. Areal yang telah menjadi pencadangan CV. Daya Karya (sekarang PT. Daya Kalianda
Raya) dan telah dibayar Ganti Ruginya dan kemudian dimohon Hak Guna Usaha

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
(sertipikat HGU No. U.1/KT tanggal 4 April 1983 yang berakhir haknya pada 31
Desember 2007 seluas 255,11 Ha);
e. Perpanjangan SHGU yang dimohon seluas 190,76 Ha (255,11 Ha – 64,35 Ha untuk Hak
Pakai) dan kemudian diterbitkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional Provinsi Lampung Nomor: 540-03-08-2006 (sertipikat HGU No. U.1/KT 8
Desember 2006).

2. Lokasi HGU Perkebunan


Lokasi perkebunan kelapa sawit PT. Daya Kalianda Raya Keputusan Kepala Kantor Wilayah
Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung Nomor: 540-03-08-2006 terletak di Desa
Tanjungan dan Desa Bandar Dalam Kecamatan Ketibung, Kabupaten Lampung Selatan,
Provinsi Lampung.

Sumber: Kantor WilayahBPN Provinsi Lampung 2015


Gambar 12. Peta HGU PT. Daya Kalianda Raya dan Obyek Sengketa

3. Penyebab Sengketa Pertanahan Antara PT. Daya Kalianda Raya dengan Masyarakat 77
a. Didalam areal yang telah menjadi pencadangan CV. Daya Karya (sekarang PT. Daya
Kalianda Raya) dan telah dibayar Ganti Ruginya dan kemudian dimohon Hak Guna
Usaha tersebut, ternyata terjadi penjualan tanah milik PT. Daya Kalianda raya tersebut
seluas 10 Ha dengan harga Rp.1.000.000,- (Satu juta rupiah) oleh Sdr. Usman Bin Naad
kepada Sdr. Muksin Tatang yang beralamat di Jl. Irian No. 14 Telukbetung Kota Bandar
Lampung;
b. Terhadap tanah yang dijual belikan tersebut selanjutnya dibuatkan Surat Keterangan
Tanah Nomor : 37/BD/20/1979 tanggal 29 April 1979 An. Muksin Tatang oleh Kepala

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Desa Bandar Dalam yang bernama Djuperi dan diketahui oleh Camat Ketibung Syaiful
Rohman dan untuk selanjutnya diterbitkan Akta Jual Beli (AJB) Nomor : 118/PAT/
II/1979 tanggal 12 Mei 1979 oleh Camat Ketibung Syaiful Anwar, BA selaku Pejabat
Pembuat Akta Tanah Sementara Kecamatan Ketibung;
c. Bahwa kasus penjualan tanah CV. Daya Karya (Sekarang PT Daya Kalianda Raya) oleh
Sdr. Usman Bin Naad telah mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Daerah Tk.
I Lampung sesuai Suratnya tertanggal 23 Juli 1979 Nomor: TB.000/1042/WAS/1979
Perihal Pembatalan Akta Jual Beli Tanah di Kampung Bandar Dalam yang disampaikan
kepada Bupati Kdh. Tk. II Lampung Selatan, kemudian ditindak lanjuti dengan Surat
tanggal 29 Oktober 1979 Nomor : TB.000/1391/WAS/1979, Perihal Kasus Penjualan
areal CV. Daya Karya (Sekarang PT. Daya Kalianda Raya) oleh Sdr Juperi (Kepala
Kampung Bandar Dalam) yang juga disampaikan kepada Bupati Kdh. II Lampung
Selatan, dan Surat Bupati KDh. [Link] Lampung Selatan tanggal 27 Desember 1980
Nomor : AG.000/874/WAS/LS/80 Perihal Kasus penjualan areal CV. Daya Karya oleh
Sdr Juperi Kepala Kampung Bandar Dalam Kecamatan Ketibungyang disampaikan
kepada Gubernur Kdh Tk.I Provinsi Lampung;
d. Berdasarkan surat-surat sebagaimana tersebut diatas, Camat Ketibung menerbitkan
Surat Keputusan Nomor : 012/IX/81 tanggal 7 September 1981 Tentang Penarikan Akta
Jual Beli Atas Tanah pada Areal Pencadangan untuk PT Daya Kalianda Raya (Dahulu CV.
Daya Karya) yang telah disampaikan untuk didaftarkan pada Pengadilan Negeri Tanjung
Karang yang dalam Diktum Keenam Menyatakan menarik kembali Akta Jual Beli atas
Tanah sebagaimana yang tercantum pada Lampiran I (satu) dan Lampiran II (dua)
Keputusan ini dan Diktum Kedelapan Memerintahkan kepada CV. Tri Makmur untuk
menghentikan segala kegiatannya (Penggarapannya, Penguasaan, Pengusahaannya)
atas tanah tersengketa sampai ada ketentuan dari penetapan Pengadian Negeri yang
berwenang;
e. Dalam Surat Keterangan Tanah maupun Akta Jual Beli sebagaimana disebutkan diatas
menjelaskan bahwa lokasi tanah yang dijual belikan terletak di Desa Bandar Dalam,
sedangkan secara fisik tanah tersebut terletak di Desa Tanjungan bukan di Desa Bandar
Dalam sebagaimana disebutkan dalam Surat Pernyataan Kepala Desa Bandar Dalam
(Husein) No. 83/ BD/IV/82 tanggal 10 Mei 1982;
f. Dalam kasus penjualan tanah milik PT Daya Kalianda Raya Sdr. Usman Bin Mahad
telah dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Tinggi Tanjungkarang sesuai Keputusan
No. 21/1982/Pid/PT-TK tanggal 18 Maret 1982 dan divonis dengan hukuman selama
5 Bulan masa percobaan satu tahun karena melakukan tindak pidana penipuan hak
milik orang lain;
g. Tanah seluas 48,6035 Ha yang Akta Jual Belinya telah ditarik kembali oleh Camat
78 yang bersangkutan, ternyata pada tahun 2007 melalui program ajudikasi tanah
tersebut terbit Sertipikatnya dengan No. Hak Milik: 826 s/d 833/Bandar Dalam an.
Muksin Tatang Cs yang berdasarkan lampiran ke I Keputusan Camat/Kepala Wilayah
Kecamatan Ketibung No. 012/IV/81 tanggal 7 September 1981 beralamat di Jl. Irian
No.14 Teluk Betung Bandar Lampung.
h. Sertipikat Hak Milik No. 826s/d 833/Bandar Dalam tersebut terbit diatas Hak Guna
Usaha No. U.1/KT Peta Situasi No. 28/1980 an. PT Daya Kalianda Raya yang diduga alas
haknya menggunakan Akta Jual Beli No. 118/PAT/II/1979 tanggal 12 Mei 1979 yang
sudah dicabut/ditarik kembali oleh Camat yang bersangkutan berdasarkan Keputusan

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
camat/Kepala Wilayah Kecamatan Ketibung Kabupaten [Link] Lampung Selatan
Nomor: 012/IV/81 tanggal 7 September 1981;
i. Berdasarkan Akta Jual Beli Nomor 02/AJB/V.09/XII/2007 tanggal 26 Desember 2007
melalui PPAT Kec. Sidomulyo Kab. Lampung Selatan Zubaidi Karim, BA, tanah tersebut
beralih kepada Agus Sutanto,ST Cs, dan didaftarakan pada Kantor Pertanahan Kab.
Lampung Selatan tanggal 12 Maret 2008.

4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan


a. Telah dilakukan Penelitian Lapang oleh petugas Kantor Wilayah BPN Provinsi Lampung
dan petugas Kantor Pertanahan Kabupaten Lampung Selatan, untuk meneliti data fisik
dan data yuridis atas permasalahan Sengketa tanah seluas 81.186 M2 terletak di Desa
Tanjungan Kecamatan Ketibung Kabupaten Lampung Selatan, berdasarkan Surat Tugas
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung No. 493/ST.600/
IV/2015 tanggal 02 April 2015;
b. Dilaksanakan gelar kasus pada tanggal 4 Agustus 2015 dengan hasil sebagai berikut:
1) Bahwa Sertipikat Hak Milik No. 826 s/d 833/Bandar Dalam seluas 48,6035Ha an.
Muksin Tatang Cs yang pada saat ini telah beralih kepada Agus Susanto, ST Cs terbit
diatas Sertipikat Hak Guna Usaha No. U.1/KT an. PT. Daya Kalianda Raya;
2) Bahwa alas hak berupa Akta Jual Beli yang diterbitkan oleh Camat Ketibung
selaku PPAT Sementara wilayah Kecamatan Ketibung yang digunakan sebagai
dasar penerbitan Sertipikat Hak Milik No. 826 s/d 833/Bandar dalam sudah tidak
berlaku lagi, karena telah dicabut/ditarik kembali oleh Camat yang bersangkutan
berdasarkan Keputusan Camat/Kepala Wilayah Kecamatan Ketibung Kabupaten
Dati. II Lampung Selatan Nomor : 012/IV/81 tanggal 7 September 1981;
3) Selain terjadi tumpang tindih dengan Hak Guna Usaaha No. U.1/KT, Sertipikat Hak
Milik No. 826 s/d 833/Bandar Dalam tersebut terjadi cacat hukum administrasi,
karena secara fisik lokasi tanahnya berada di Desa Tanjungan bukan di Desa Bandar
Dalam sebagaimana pernyataan Kepala Desa Bandar Dalam (Husein) Nomor : 83/
Bd/20/V/82 tanggal 10 Mei 1982;
4) Berkaitan dengan kasus penjualan tanah milik PT Daya Kalianda Raya (Usman
Bin Naad) karena perbuatannya telah dinyatakan bersalah melakukan tindak
pidana penipuan hak milik orang lain, oleh karena itu oleh Pengadilan Tinggi
Tanjungkarang telah divonis hukuman selama 5 Bulan dengan masa percobaan
satu tahun tanpa masuk penjara.
c. Selain hasil kesimpulan dari gelar kasus pada tanggal 4 Agustus 2015 tersebut, juga
terdapat rekomendasi berupa:
1) Sertipikat Hak Milik No. 826 s/d 833/Bandar Dalam an. Agus Susanto, ST Cs
dibatalkan, karena disamping terjadi tumpang tindih dengan Sertipikat Hak Guna 79
Usaha No. U.1/KT an. PT Daya Kalianda Raya, proses penerbitannya cacat hukum
administrasi sesuai Pasal 71 ayat 1 (satu) dan ayat 2 (dua) serta Pasal 74 huruf
a Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik indonesia No. 3 Tahun
2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan;
2) Akan dilakukan pemanggilan kepada para pihak untuk dilakukan mediasi guna
mencari win-win solution terhadap kasus tersebut dan apabila tidak dicapai
kesepakatan disarankan untuk melakukan upaya hukum dengan melaksanakan
gugatan ke pengadilan.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


[Link].3. PT. Pemuka Sakti Manis Indah
1. Riwayat Tanah
a. Pada tanggal 29 Juni 2001 PT. Pemuka Sakti Manis Indah (PSMI) mengajukan
permohonan Hak Guna Usaha kepada Kepala badan Pertanahan Nasional yang
ditandatangani oleh HM. Jimmy Mahshum atas tanah seluas 428,05 ha terletak di Desa
Tiuh baru Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Way Kanan Provinsi lampung;
b. Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor : 34/HGU/
BPN/2001 tanggal 28 Desember 2001 tentang Pemberian Hak Guna Usaha Kepada
PT. Pemuka Sakti Manis Indah (PSMI) obyeknya tidak menunjuk nama Desa Tiuh Baru,
akantetapi hanya mencantumkan nama Kecamatan Pakuan Ratu kabupaten Way
Kanan sebagaimana yang diuraikan dalam Peta Bidang Tanah tanggal 11 Desember
2000 nomor 18/2000 (seluas 428,05 ha);
c. Berdasarkan Risalah Panitia Pemeriksaan Tanah B Nomor : 01/PPT/KW/2001 tanggal
25 September 2001, dalam Daftar pemilik tanah yang dibebaskan oleh PT. Tehnik
Umum yang kemudian diserahkan kepada PT. Pemuka Sakti Manis Indah (Lampiran
Risalah Panitia B) bahwa tanah yang diganti rugi oleh PT Tehnik Umum hanyalah tanah
di Wilayah Desa Tiuh Baru tidak termasuk tanah wilayah Desa Negeri Besar;
d. Berdasarkan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lampung Utara Nomor:
146/B.721/BG.I/HK/1989 tanggal 13 November 1989, Tentang Penetapan tata batas
Wilayah Desa Negeri Besar, Desa Kaliawi, Desa Kiling Kiling dan Desa Tiuh Baru
Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Daerah Tingkat II Lampung Utara, bahwa areal
perkebunan tebu PT. Pemuka Sakti Manis Indah seluas 428,05 ha fakta dilapangan
baik secara fisik dan Yuridis bukan merupakan Wilayah Desa Tiuh Baru saja akan tetapi
termasuk juga meliputi Wilayah Desa Negeri Besar.

2. Lokasi HGU Perkebunan

80

Sumber: Kantor Wilayah BPN Provinsi Lampung 2015


Gambar 13. HGU PT. PSMI dan Obyek Sengketa

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
3. Penyebab Konflik Pertanahan Antara PT. Pemuka Sakti Manis Indah dengan Masyarakat
a. Areal perkebunan tebu PT. PSMI masuk kedalam Desa Negeri Besar adalah tanah milik
keluarga Jumadil secara turun temurun seluas lebih kurang 139 ha dan dibuktikan
dengan Surat Keterangan Hak Milik dari Kepala Kampung Negeri Besar tanggal 4
Agustus 1983 dan dikuatkan dengan Berita Acara Hasil Sidang Desa tanggal 10 Oktober
1988 yang dihadiri oleh Unsur Pemerintahan Desa dan tokoh tokoh Masyarakat Desa
Negeri Besar;
b. Pihak Jumadil CS pernah menduduki lahan tersebut dikarenakan merasa belum
pernah mendapatkan ganti rugi atau mendapatkan kemitraan perkebunan tebu dari
pihak perusahaan atau pembagian hasil panen tebu, maka turunlah TIM 13 Provinsi
Lampung, terjadi kesepakatan antara kelompok masyarakat Jumadil CS dengan Pihak
[Link] yang dituangkan dalam Surat Perjanjian Kesepakatan tanggal 30 Agustus
2001, dimana disebutkan bahwa PT. PSMI akan memberikan uang perdamaian panen
tebu setiap tahun sebesar Rp. 70 juta sampai menunggu penyelesaian lebih lanjut;
c. Berdasarkan Surat Sekretaris Daerah Propinsi Lampung nomor : 900/1114/01/2002
tanggal 12 Juni 2002 menyebutkan bahwa pembayaran uang kompromi seperti yang
tersebut dalam surat kesepakatan tidak dipenuhi oleh pihak perusahaan PT. PSMI baik
pada tahun 2001 maupun pada tiap tahunnya;
d. Pada saat proses Permohonan penerbitan Hak Guna Usaha oleh [Link] tanah yang
dimohon masih dalam keadaan sengketa dengan Saudara Jumadil Cs sebagaimana
Surat Perjanjian Kesepakatan antara PT. PSMI dengan Sdr. Jumadil Cs tanggal 30 Agustus
2001 serta Risalah Panitia Pemeriksaan Tanah B. No. 01/tanggal 25 September 2001;
e. Bahwa permasalahan Sengketa Tanah antara Jumadil Cs dengan PT. Pemuka Sakti
Manis Indah telah ditangani oleh Pengadilan Negeri Kotabumi dan berdasarkan
Putusan Nomor : 08/PDT.G/2004/[Link] tanggal 09 Nopember 2004 dimenangkan
oleh Sdr. Jumadil Cs.
4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan
a. Telah dilakukan Penelitian data fisik dan data yuridis oleh petugas Kantor Wilayah BPN
Provinsi Lampung, disaksikan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Way Kanan
dan petugas/pegawai PT. PSMI atas permasalahan Sengketa tanah seluas kurang lebih
139 Ha antara PT. PSMI dengan Sdr. Jumadil Cs terletak di Desa Negeri Besar Kecamatan
Negeri Besar Kabupaten Way Kanan, berdasarkan Surat Tugas Kepala Kantor Wilayah
Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung No. 36/ST.600/VIII/2015 tanggal 29
Agustus 2015 dan No. 254/ST.600/II/2015 tanggal 25 Februari 2015;
b. Telah dilakukan Gelar Kasus Internal permasalahan sengketa tanah antara PT. PSMI
dengan Sdr. Jumadil Cs di Kantor Pertanahan Kabupaten Way Kanan tanggal 12
Agustus 2015 sesuai berita Acara No. 17/BAP.600/VIII/2015;
c. Sebelum adanya pengaduan ke Kanwil BPN Provinsi Lampung kasus Sengketa tanah 81
seluas 139 ha antara PT. Pemuka Sakti Manis Indah (PSMI) dengan Sdr. Jumadil Cs telah
ditangani oleh Tim 13 Provinsi Lampung dan hasil kesepakatannya tertuang dalam
Perjanjian Kesepakatan Pemanenan tebu [Link] dengan Kelompok Masyarakat
Kiling-Kiling (Sdr. Jumadil Cs) tanggal 30 Agustus 2001 bertempat di Graha Gading
Karang Bandar Lampung yang antara lain menyebutkan bahwa Pihak Perusahaan akan
memberikan uang kompromi perpanen sebesar Rp. 70.000.000,- (Tujuh puluh juta
rupiah) dengan ketentuan uang tersebut diberikan langsung kepada masyarakat yang
memiliki bukti-bukti kepemilikan tanah sementara dan pembayarannya disaksikan dan

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


diawasi Tim 13 Provinsi Lampung serta disaksikan/diketahui Kepala Desa Kiling-Kiling
akan tetapi realisasinya hanya dibayar 1 (satu) kali saja;
d. Disebabkan tidak ada tindak lanjut dari perjanjian tersebut diatas, maka pihak Jumadil
melalui keasa hukunya menyampikan gugatan terhadap PT. Pemuka Sakti Manis Indah
(PSMI) ke Pengadilan Negeri Kotabumi dan berdasarkan Putusan No. 08/PDT.G/2004/
[Link] tanggal 09 Nopember 2004 dimenangkan oleh pihak penggugat Sdr. Jumadil Cs;
e. Telah dilakukan Eksekusi pengosongan terhadap tanah pihak penggugat berdasarkan
Berita Acara Pelaksanaan Eksekusi Pengosongan tanah Nomor: 01/[Link]/2007/
[Link] jo. Nomor: 08/Pdt.G/2004/[Link] tanggal 14 Juni 2007 dengan cara
mengosongkan tanah dengan secara simbolis guna diberikan kesempatan kepada PT.
PSMI untuk memanen terlebih dahulu pohon tebu dari areal tanah yang dikosongkan
tersebut kemudian tanah tersebut diserahkan kepada para pemohon Eksekusi, akan
tetapi kasus tersebut hingga saat ini belum selesai;
f. Pada tanggal 16 September 2015 bertempat di Kantor Pertanahan Kabupaten Way
Kanandilaksanakan gelar mediasi antara PT. PSMI dengan Sdr. Jumadil Cs menghasilkan
kesimpulan bahwa:
1) Dari hasil penelitian data fisik dan data yuridis dilapangan dapat disimpulkan
bahwa dengan mengacu kepada SK. Bupati Lampung Utara Nomor: 146/B.721/
BG.I/HK/1989 tentang penetapan tata batas wilayah Desa Negeri Besar Desa
Kaliawi, Desa Kiling kiling dan Desa Tiuh Baru Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten
Daerah Tingkat II Lampung Utara, lokasi tanah Sdr. Jumadil Cs seluas 139 ha
adalah benar masuk didalam HGU No. 01/Tiuh Baru (tahun 2002) an. PT Pemuka
Sakti Manis Indah sesuai Peta Bidang Tanah Nomor Lembar 1 dari 1 tanggal 11
Desember 2000;
2) Berdasarkan Risalah Panitian Pemeriksaan Tanah B Nomor : 01/PPT/KW/2001
tanggal 25 September 2001, bahwa tanah Sdr. Jumadil Cs seluas 139 ha tersebut
tidak pernah dibayar ganti ruginya oleh PT. Tehnik Umum (sekarang PT. Pemuka
Sakti Manis Indah);
3) Pada saat diajukan proses penerbitan Hak Guna Usaha oleh PT. Pemuka Sakti
Manis Indah status tanah yang dimohon masih dalam keadaan sengketa dengan
Sdr. Jumadil Cs;
4) Didalam Putusan Pengadilan Negeri Kota Bumi Nomor : 08/PDT.G/2004/[Link]
tanggal 09 Nopember 2004, Sdr. Jumadi Cs sebagai penggugat telah dinyatakan
menang sehingga perlu untuk ditindak lanjuti sesuai ketentuan hukum yang
berlaku.
g. Gelar mediasi pada 16 September 2015 di Kantor Pertanahan Way Kanan tersebut juga
menghasilkan rekomendasi berupa:
82 1) Kepada pihak PT. Pemuka Sakti Manis Indah disarankan untuk membayar uang
ganti rugi tanah Sdr Jumadil Cs selluas 137,5 ha (luas hasil penelitian lapang) atau
menerimanya sebagai peserta kemitran pihak perusahaan;
2) Tanah seluas 137,5 ha yang diklaim milik Sdr Jumadil Cs dikeluarkan dari Hak Guna
Usaha nomor: 01 Tiuh Baru an. PT. Pemuka Sakti Manis Indah.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
[Link]. Provinsi Jawa Timur

[Link].1. PTPN XII/Kalisanen (Kabupaten Jember)


1. Riwayat Tanah
a. Lokasi Kebun Kalisanen merupakan Tanah ex. Erpacht Verp.1161, 1162, 1163, 1164,
1165, 1385, 4155, 4267, 4268, 4269, 4363, dan 4626, Luas seluruhnya 3.105. 4664 Ha;
b. Terhadap tanah tersebut telah tindak lanjuti dengan pemberian Hak Milik kepada
masyarakat dalam rangka redistribusi tanah dengan rincian:
1) SK. Gubernur KDH TK. I Jatim No. DA/[Link]/SK/06/PR/1981 tanggal 07-12-1981,
kepada 2.097 KK/ Luas seluruhnya ± 400,5306 Ha.
2) SK. Gubernur KDH TK. I Jatim No. DA/[Link]/SK/01/PR/1983 tanggal05-03-1983,
kepada 116 KK/Luas seluruhnya ± 25,4418 Ha.
c. Pemberian HGU berdasarkan SK Mendagri Cq. Dirjen Agraria No. Sk.64/HGU/DA/1986
tanggal 29-11-1986 kepada PTPN XII / Seluas ± 2.709,49 Ha, namun tidak didaftarkan
haknya, sehingga SK HGU batal demi hukum;
d. Warga Desa Curahnongko menuntut tanah seluas ± 332 Ha dengan dalil bahwa tanah
tersebut merupakan tanah garapan rakyat sejak tahun 1942 yang diambil alih untuk
dijadikan tanah perkebunan dengan proses ganti rugi yang belum tuntas disertai
intimidasi. Jika melihat kondisi dilapangan bahwa tanah seluas ± 125,05 Ha telah
dikuasai warga sedangkan ± 207 Ha masih dikuasai PTPN XII.

2. Lokasi HGU Perkebunan


Lokasi kebun PTPN XII/Kalisanen dan obyek yang disengketakan masyarakat berada di Desa
Curahnongko, Kecamatan Tempurejo yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten
Jember. Adapun peta HGU PTPN XII/Kalisanen adalah sebagai berikut:

83

Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Jember


Gambar 14. Peta Bidang Tanah HGU PTPN XII/Kalisanen dan Obyek yang di
Permasalahkan

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


3. Penyebab Sengketa Pertanahan Antara PTPN XII/Kalisanendengan Masyarakat
a. Pada pertengahan tahun 1998, PTPN XII mengadakan peremajaan terhadap kebun
karet yang telah berusia lebih dari 30 tahun dengan melaksanakan penebangan dan
pendongkelan terhadap tunggul-tunggul pohon karet pada areal afdeling Worowiri;
b. Pada saat penebangan dan pendongkelan selesai dilaksankan dan lahan tersebut
siap untuk ditanami pohon karet, tanpa seijin PTPN XII warga Desa Curahnongko (±
80 KK) menduduki dan menggarap tanah tersebut dengan tanaman padi, jagung dan
tanaman polowijo seluas ±125,05 Ha;
c. Pendudukan/penggarapan oleh warga Desa Curahnongko telah diketahui dan tidak
dapat dicegah oleh pihak PTPN XII dengan pertimbangan untuk menghindari terjadinya
benturan fisik dilapangan dengan warga Desa Curahnongko.

4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan


a. Kanwil Provinsi Jawa Timur memfasilitasi pertemuan tanggal 11-02-1999 yang dihadiri
oleh pihak Pemkab. Jember, Kankantah Kab. Jember, Wakil warga Desa Curahnongko
dan PTPN XII dengan kesimpulan Direksi PTPN XII tidak berwenang membuat
pelepasan hak atas tanah yang dituntut warga;
b. Pemerintah Kabupaten Jember memfasilitasi musyawarah tanggal 19-10-2005
yang dihadiri Adm. Kebun Kalisanen, Kakantah Kab. Jember, Ketua SIPER dan
Wakil warga Desa Curahnongko dengan menghasilkan Surat Bupati Jember No.
590/693/436.010/2005 tanggal 01-12-2005, berisi permintaan agar tanah obyek
sengketa dikeluarkan dari permohonan HGU PTPN XII dan diserahkan kepada warga
Desa Curahnongko;
c. Kantor Pertanahan Kabupaten Jember memfasilitasi pertemuan tanggal 12-04-2006
yang dihadiri Kasi PMP Kanwil BPN Provinsi Jawa Timur, Pemkab. Jember, Camat
Tempurejo, Kepala Desa Curahnongko, Direksi PTPN XII, Adm. Kebun Kalisanen,
Ketua SIPER dan Wakil warga Desa Curahnongko dengan kesimpulan bahwa PTPN
XII akan melakukan pemasangan tugu batas tanah seluruhnya serta bersama warga
Desa Curahnongko melakukan identifikasi tanah obyek sengketa dan tanah yang tidak
bermasalah akan diajukan permohonan ukur dan HGUnya, sedangkan tanah obyek
sengketa (bermasalah) tetap diagendakan penyelesaiannya;
d. Dalam penanganan tanah obyek sengketa, PTPN XII melakukan :
1) Kerjasama dengan pihak Kejaksaan Negeri Jember di bidang Perdata dan TUN,
meliputi bantuan hukum, pelaya hukum dan tindakan hukum (vide Surat Perjanjian
Kerja Sama Bidang Perdata Dan Tata Usaha Negara Antara PT. Perkebunan
Nusantara XII (Persero) Unit Usaha Strategik Kalisanen-Jember Dengan Kejaksaan
Negeri Jember No. B.001 /KLN / V /2006 dan No. B. 07105.12 / GS.1 / 5 / 06 tanggal
84 19-05- 2006 dan Surat Kuasa Khusus No. 001 /O.5.12 /Gs.1 / 05 /2006 tanggal
22-05-2006);
2) Pengaduan kepada Polres. Jember, perkara tindak pidana penggunaan tanah
perkebunan tanpa ijin milik PTPN XII yang dilakukan oleh K. Musri dkk.;
3) Penahanan terhadap K. Musri dkk. oleh Polres. Jember dalam rangka penyidikan;
4) Dalam proses peradilan K. Musri dkk. divonis tidak bersalah dan dibebaskan dari
penahanan.
e. Dalam perkembangannya warga Desa Curahnongko melaporkan tindakan PTPN XII dan
Kejaksaan Negeri Jember tersebut kepada Komisi Ombudsman Nasional, atas dugaan

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Mal administrasi oleh Kepala Kejaksaan Negeri Jember dan jajarannya (vide Surat
Komisi Ombudsman Nasional No. 182/REK/0303.2006/TM.05/X/2006);
f. PTPN XII mengajukan permohonan pengukuran terhadap sebagian tanah perkebunan
Kalisanen yang dianggap sudah tidak bermasalah seluas 2.584,49 Ha (2.709,49 Ha –
125 Ha), dalam pelaksanaan pengukuran terkendala, karena warga desa Curahnongko
menganggap yang bermasalah adalah seluas 332 Ha;
g. Dalam pertemuan tgl. 13 Oktober 2010, dihasilkan kesepakatan yang ditandatangani
oleh Siswo Prajitno,SH (Kepala Kantor Pertanahan Kab. Jember), Moh. Jumain (SIPER),
Ir. Endang Sulaiman (Menejer Wilayah II PTPN XII), Ir. Irsan Rambe (Menejer Kebun
Kalisanen) dan Salam (Perwira keamanan PTPN XII), intinya berisi:
1) SIPER akan mengajukan permohonan pengukuran dan pembayaran pengukuran
seluas 125 Ha kepada BPN RI melalui Kantor Pertanahan Jember;
2) Para pihak tidak akan saling mengganggu dan tidak berkeberatan thp pelaksanaan
pengukuran seluas 2.584,49 Ha yang diajukan PTPN XII dan seluas 125 Ha yang
akan diajukan SIPER.
h. Pada tanggal 13 Desember 2012 tim dari BPN RI dan Kanwil BPN Provinsi Jawa Timur
melakukan penelitian lapangan ke Kantor Pertanahan Kabupaten Jember dan
dilanjutkan ke Lokasi Sengketa;
i. Pada tanggal 7 – 2 - 2013 bertempat di Kanwil BPN Prop. Jatim diadakan ekspose
permohonan perpanjangan HGU , tercatat atas nama PTPN XII (persero) berkedudukan
di Surabaya, terletak di Jember, Banyuwangi, Malang, Ngawi, Bondowoso, Situbondo
dan Lumajang. Salah satu obyek yang dimohon oleh PTPN XII adalah Perkebunan
Kalisanen, dalam arahannya Bapak Kakanwil menyampaikan :
1) Sebelum mengajukan permohonan hak, pemohon dalam hal ini PTPN XII
wajib menggunakan tanahnya seluas 20 % untuk masyarakat baik dengan Pola
Kemitraan atau dilepaskan;
2) Permohonan hak oleh PTPN XII harus dilaksanakan secara clear dan clean dalam
artian tanah sengketa seluas 125 Ha harus dikeluarkan dulu dari permohonan HGU
nya;
3) Dalam perkembangannya perwakilan warga Desa Curahnongko terbagi menjadi
4 kelompok, disarankan agar keempat kelompok tersebut dilebur menjadi satu
kesatuan perwakilan warga Desa Curahnongko.
j. Sampai pada tahapan ini konflik tanah tidak kunjung selesai, aktifitas terhadap tanah
pada lokasi konflik terhenti sehingga fungsi tanah untuk sebesar besar kemakmuran
rakyat tidak dapat dilaksanakan. Disisi lain perpanjangan/Pembaharuan HGU tidak
dapat dilaksanakan dan rentan muncul konflik horizontal;
k. Untuk mengatasi permasalahan tersebut kemudian dibentuk Tim Penanganan Masalah
Curahnongko yang diketuai oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Jember. Tim 85
terdiri dari unsur Pemerintah Kabupaten Jember, Forum Komunikasi Daerah Plus,
PTPN XII, Kanwil BPN Provinsi Jawa Timur, Kantor Pertanahan Kabupaten Jember,
Piahk Kecamatan, Pihak Desa dan Perwakilan Masyarakat. Adapun tugas tim tersebut
adalah:
1) Sosialisasi/penyuluhan;
2) Menyepakati batas obyek yang bermasalah dan yang tidak bermasalah yang
kemudian dilanjutkan dengan pemasangan tanda batas;
3) Mengupayakan selama belum ada penyelesaian, masing-masing pihak dapat

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


menjalankan aktifitas dan mendapat manfaat atas tanah yang dikerjakan tanpa
ada gangguan dari pihak manapun;
4) Melakukan identifikasi data-data obyek dan subyek atas tanah yang bermasalah
dan melarang pengalihan penggarapan selama proses penanganan masalah masih
berlanggsung
l. Tim Penanganan Masalah Curahnongko melaporkan hasil penelitian kepada Tim Task
Force melalui Kakanwil dengan tembusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala
BPN dan Dirjen Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah, guna
penyelesaian lebih lanjut;
m. Tim Task Force meminta kepada DPD RI untuk memfasilitasi bersama-sama
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ BPN, PTPN XII, Kementerian BUMN yang intinya
PTPN XII mengajukan pelepasan aset kepada Menteri BUMN;
n. Atas Obyek yang tidak bermasalah disepakati, permohonan perpanjangan HGU/
pembaharuan HGU atas nama PTPN XII dapat diproses lebih lanjut sesuai dengan
ketentuan peraturan yang berlaku.
[Link].2. PT. Kemakmuran Swaru Buluroto (Kabupaten Blitar)
1. Riwayat Tanah
a. Firma Kemakmuran mengklaim memiliki tanah Perkebunan Swarubluroto seluas ± 609
Ha (Tanah Obyek Sengketa), terletak di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten
Blitar berdasarkan Akte Penjualan dan Pembelian tanggal 7 September 1960 Nomor
24, antara Indra Djelata Pontoan bertindak untuk dan atas nama Firma Kemakmuran
dengan Andi Hamid;
b. Status tanah obyek Sengketa dimaksud semula merupakan tanah bekas hak erpacht
yaitu:
1) Persil Swaru Verponding Nomor 326 seluas 2,8173 Ha.
2) Persil Swaru I Verponding Nomor 85 seluas 117,8637 Ha.
3) Persil Swaru II Verponding Nomor 93 seluas 27,1294 Ha.
4) Persil Buluroto I Verponding Nomor 32 seluas 43,5902 Ha.
5) Persil Buluroto II Verponding Nomor 88 seluas 237,5902 Ha.
6) Persil Buluroto I Verponding Nomor 96 seluas 173,5902 Ha.
7) Persil Buluroto II Verponding Nomor 324 seluas 6,5902 Ha.
Luas seluruhnya 609,3239 Ha, terletak di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum,
Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur, terakhir tercatat atas nama Andi Hamid yang
masing-masing telah berakhir pada tanggal 17 Januari 1959, 8 Maret 1959 dan 30
September 1960, telah beralih kepada Firma Kemakmuran berdasarkan Akta Penjualan
dan Pembelian Nomor 24 tanggal 7 September 1960;
86 c. Tanah tersebut belum sempat dibalik nama oleh Firma Kemakmuran kemudian disita
oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk dijadikan barang bukti dalam perkara
Pidana dengan tuduhan perbuatan subversi, atas nama tertuduh PT. Bank Benteng,
R.1; Indra Djelata Pontoan dan Tan Tek Hoat, berdasarkan Surat Perintah Penyitaan
Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor 5/80/SPT/DRPDK/1964 tanggal 29 Pebruari
1964 dan Berita Acara Penyitaan Setempat tanggal 3 Maret 1964;
d. Firma Kemakmuran pernah mengajukan Hak Guna Usaha dengan surat Nomor
674/C.I/68 tanggal 10 Desember 1968, namun berdasarkan pemeriksaan Panitia B
setempat tanggal 20 Agustus 1970 menyatakan keberatan untuk diberikan Hak Guna

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Usaha karena pengusahaannya tidak sebagaimana mestinya;
e. Berdasarkan Surat Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Nomor 3084/1.5.2/9/1970
tanggal 23 September 1970 yang menyebutkan bahwa sejak Maret 1969 Perkebunan
Swarubuluroto tidak berada di bawah pengawasan Kejaksaan Negeri Blitar, Inspeksi
Agraria Provinsi Jawa Timur melalui Surat Keputusan Nomor 1/Agr/l/HGU/P3/1971
tanggal 26 Januari 1971 telah menempatkan Perkebunan Swarubuluroto yang
dikelola oleh Firma Kemakmuran dalam Pengawasan/Bimbingan/Pembinaan Panitia
Pertimbangan Perkebunan Propinsi (P3) Jawa Timur yang pelaksanaannya diserahkan
kepada Tim Pelaksana Pengawasan dan Bimbingan Daerah yang diketuai oleh Sdr.
Sanoesi Prawirodihardjo, Bupati Blitar pada saat itu;
f. Pengelolaan atas tanah Perkebunan Swarubuluroto selanjutnya diserahkan kepada PT.
Satya Mukti Raya oleh Sdr. Sanoesi Prawirodihardjo dan selanjutnya terbit Sertipikat
Hak Guna Usaha Nomor 1/Karangrejo atas nama PT. Satya Mukti Raya tanggal 9 Mei
1975 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor SK.70/HGU/DA/73
tanggal 5 Oktober 1973, luas 6.235.000m2, sesuai Surat Ukur Nomor 20/1978 tanggal
12 Maret 1975 yang berakhir haknya pada tanggal 12 Desember 1997;
g. Hak Guna Usaha No. 1/Karangrejo dibebani Hipotik Pertama sebesar Rp. 75.000.000,-
(tujuh puluh lima juta rupiah) oleh kreditur Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur
di Surabaya berdasarkan Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah SOERACHMAD tanggal 23
Juni 1993, Nomor: 28/Garum/1993, Sertipikat Hipotik nomor: 507/1993, tanggal 09
Desember 1993;
h. Sesuai surat dari Kejaksaan Agung Nomor B.1025/F/Fpk/11/1995 tanggal 14 Nopember
1995 yang ditujukan kepada Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional, isinya antara lain menyebutkan bahwa Surat Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa
Timur Nomor 3084/1.5.2/9/1970 tanggal 23 September 1970 sebagaimana tersebut
pada butir 5 yang menyebutkan bahwa sejak Maret 1969 Perkebunan Swarubuluroto
tidak berada di bawah pengawasan Kejaksaan Negeri Blitar, telah dicabut dengan
surat Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Nomor B¬261/K.5/Fpy.2/10/1986 tanggal
30 Oktober 1986 karena penerbitan surat tersebut tidak mempunyai dasar hukum;
i. Perkara Pidana sebagaimana tersebut pada butir 3 tersebut di atas telah diputus oleh
Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta Nomor 3546/1965/[Link] tanggal 16 Agustus
1966 jo. Putusan pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 1/1967/[Link] tanggal 6 Juni
1967 yang amarnya antara lain menyatakan Sdr. Indra Djelata Pontoan selaku Direktur
Firma Kemakmuran dibebaskan dari segala tuntutan hukum dan/atau tidak terbukti
melakukan tindak pidana. (Putusan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap
sesuai Surat Keterangan Panitera/Sekretaris Jenderal Mahkamah Agung Republik
Indonesia Nomor MA/PAN/ 43/11/1983 tanggal 16 Pebruari 1983);
j. Berdasarkan. Surat Ketetapan Pengembalian Benda Sitaan/Barang Bukti Yang Tidak 87
Diperlukan Lagi Bagi Kepentingan Penyitaan/Penuntutan Nomor SKET-01/0.522/
Fuh.1/08/2007 tanggal 21 September 2007 dari Kepala Kejaksaan Negeri Blitar, tanah
tersebut tidak diperlukan lagi bagi kepentingan penyidikan/penuntutan perkara
atas nama tertuduh PT. Bank Benteng, R.1; Indra Djelata Pontoan dan Tan Tek Hoat,
dan telah dikembalikan kepada Drs. J. A. Paat, Direktur Utama Finna Kemakmuran
berdasarkan Berita Acara Pengembalian Benda Sitaan/Barang Bukti tanggal 21 Agustus
2007 dari Kejaksaan Negeri Blitar.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


k. Sesuai surat Ketua Pengadilan Negeri Blitar Nomor W 14.0 l l /706/KPN/ IX/2007
tanggal 28 September 2007 diterangkan bahwa tidak terdapat adanya permohonan
Konsinyasi (penitipan uang) yang diajukan oleh PT. Satya Mukti Raya terhadap Firma
Kemakmuran;
l. Terhadap permasalahan tanah Perkebunan Swarubuluroto telah dilakukan gelar
perkara dan penelitian lapangan oleh Tim dari Badan Pertanahan Nasional Republik
Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik
Indonesia Nomor 276-XXVI-2007 tanggal 24 September 2007 jo. Surat Perintah Tugas
Nomor Sprin/22/IX/2007/DV tanggal 24 September 2007, dengan hasil antara lain:
1) Secara, fisik tanah perkebunan Swarubuluroto, ditanami tebu yang dikelola oleh
Bupati Blitar/Pemerintah Daerah dan masyarakat berdasarkan Surat Keputusan
Bupati Blitar Nomor 173 Tahun 2005 tanggal 4 Juli 2005 tentang Pengelolaan Tanah
Eks Perkebunan Swarubuluroto, jo. Surat Pedanjian Kerjasama Bagi Hasil Amara
Pemerintah Kabupaten Blitar dengan CV. Barokah Nomor 188/269/409.011/2005
tanggal 11 Agustus 2005;
2) Sebagian tanah perkebunan telah menjadi pemukiman penduduk, yang selanjutnya
berdasarkan Berita Acara Serah Terima tanggal 25 Mei 2007 tanah seluas ± 162
Ha telah dilepas oleh Drs. J.A. Paat selaku Direktur Utama Firma Kemakmuran
kepada masyarakat yang diwakili oleh Sdr. Suryanto Satram selaku Ketua Panitia
Redistribusi Tanah Bekas Perkebunan Swarubuluroto.
m. Selanjutnya terhadap permasalahan tanah bekas Perkebunan Swarubuluroto
tersebut telah ditindaklanjuti dengan diterbitkan surat Deputi Bidang Pengkajian
dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan dengan surat Nomor 3263-620.1-
DV tanggal 8 Oktober 2007 yang ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan
Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur, yang pada intinya menyatakan Firma
Kemakmuran dapat mengajukan permohonan hak kepada Kepala Kantor Wilayah
Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk diproses sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan apabila di dalam proses penerbitan
Hak Guna Usaha masih ditemukan masalah yang antara, lain adanya indikasi Pidana,
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur selaku Ketua
Tim AdHoc dapat menggunakan mekanisme yang diatur dalam Keputusan Kepala
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2007 khususnya
Petunjuk Teknis Nomor 10/JUKNIS D.V/2007;
n. Berdasarkan Surat Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik
Pertanahan dengan surat Nomor 3263-620.1-DV tanggal 8 Oktober 2007 tersebut di
atas ditanggapi oleh pihak PT. Setya Mukti Raya dengan surat Nomor 25/PT. SMR/
IV/2009 tangggal 29 April 2009 yang pada intinya antara lain :
88 1) Bahwa Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia tidak obyektif dan
memihak, seakan-akan Hak Guna Usaha yang diberikan kepada PT. Satya Mukti
Raya dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tersebut, menyimpang dari
ketentuan yang berlaku;
2) Demi nama baik PT. Satya Mukti Raya dan instansi yang menerbitkan Surat
KeputusanMenteri Dalam Negeri Nomor SK.70/HGU/DA/73 tanggal 5 Oktober
1973 tentang pemberian Hak Guna Usaha kepada PT. Satya Mukti Raya, maka PT.
Satya Mukti Raya akan melaporkan hal tersebut kepada Menteri Dalam Negeri dan
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK);

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
3) Agar proses penerbitan Surat Keputusan Pemberian Hak Guna Usaha yang
dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa
Timur untuk sementara dihentikan, sebelum PT. Satya Mukti Raya mendapat
penyelesaian yang diharapkan.
o. Disisi lain terhadap tanah Perkebunan Swarubuluroto, Forum Warga Swarubuluroto
(FORWASWA) telah mengirim surat yang ditujukann kepada Kepala Badan Pertanahan
Nasional Republik Indonesia Nomor 01/FSW/K.S/Eks.03/XII/2008 tanggal 15 Desember
2008 perihal permohonan dukungan, yang pada intinya berupaya mengajukan
permohonan hak kepemilikan atas tanah bekas perkebunan Swarubuluroto untuk
masyarakat Swarubuluroto dan surat tanggal 1 Juni 2009 yang intinya mohon kejelasan
tentang rencana peruntukkan tanah Swarubuluroto;
p. Menanggapi surat dari PT. Setya Mukti Raya dan Forum Warga Swarubuluroto
(FORWASWA), Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik
Pertanahan dengan surat Nomor 2342/26.1-600/VI/2009 tanggal 25 Juni 2009 yang
ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Jawa Timur meminta agar
melaporkan perkembangan terakhir permasalahan tanah Perkebunan Swarubuluroto
kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia;
q. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Jawa Timur telah menanggapi Surat Deputi
Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan dengan Surat
Nomor 2342/26.1-600NI/2009 tanggal 25 Juni 2009 tersebut di atas dengan mengirim.
surat Nomor 10603/18.35.600/XI/2009 tanggal 17 November 2009 yang isinya
melaporkan antara lain:
1) PT. Kemakmuran Swarubuluroto berkedudukan di Jakarta yang merupakan
peningkatan/perubahan status dari Firma Kemakmuran berkedudukan di Ujung
Pandang, telah mengajukan permohonan Hak Guna Usaha atas tanah negara bekas
Hak Erpacht Verponding Nomor 85, 88, 93, 96, 324, 325 dan 326 selaus 5.043.645
(504.3645 Ha) terletak di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar,
yang telah diteruskan kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik
Indonesia dengan surat Nomor 8608/9.35.300/IX/2009 tanggal 14 September
2009;
2) Berkaitan dengan pengaduan/keberatan masing-masing dari:
a) Drs. H. Junaid Kede, MM qq. PT Satya Mukti Raya yang disampaikan melalui
surat Nomor 05/[Link]/IV/2009, pemohon telah membuat Surat Pernyataan
yang menyatakan bahwa PT. Kemakmuran Swarubuluroto tidak memiliki
hubungan/sangkut pant dengan PT. Satya Mukti Raya dan tidak pernah
menerima uang ganti rugi yang dikonsinyasikan di Pengadilan Negeri Blitar,
sebagaimana surat Ketua Pengadilan Negeri Blitar No. W. LU 11/706/KPN/IX/
2007 tanggal 28 September 2007; 89
b) Jusuf Sudardi dan Achmad Juni Sunarijadi, SH selaku. Ketua dan Sekretaris
Forum Warga Swarubuluroto (Forwaswa) qq. ±500 KK warga masyarakat yang
disampaikan melalui surat No. 04/FWS/A.1/06/2009 tanggal 1 Juni 2009,
pemohon dengan surat masing-masing No. 10/VI/09 tanggal 10 Juni 2009 dan
No. 05/VII/PT/2009 tanggal 3 Juli 2009, telah menyatakan bahwa tanah yang
dikuasai/dihuni warga masyarakat seluas 108,6499 Ha oleh pemohon akan
diserahkan/dilepaskan melalui Pemerintah Kabupaten Blitar untuk selanjutnya
diredistribusikan kepada warga masyarakat/penduduk setempat.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


3) Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia telah menerbitkan keputusan
tanggal 09 Agustus 2010, nomor: 44/HGU/BPNRI/2010 tentang Pemberian Hak
Guna Usaha atas nama PT. KEMAKMURAN SWARUBULUROTO, atas tanah di
Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan keputusan tersebut di atas,
terbit sertipikat Hak Guna Usaha Nomor 02/Desa karangrejo, Surat Ukur tanggal
03 November 2010, Nomor: 009/karangrejo/2010, NIB. [Link].00001, luas:
5.043.645 m2, atas nama PT. KEMAKMURAN SWARUBULUROTO berkedudukan di
Jakarta dalam jangka waktu selama 30 (tiga puluh) tahun, akan berakhir haknya
pada tanggal 03 November 2040;
4) Selanjutnya ada perkembangan terbaru tentang Perkebunan Swarubuluroto, yakni
adanya pihak yang mengaku berhak atas Perkebunan Swarubuluroto tersebut.
SUWARDI dari Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya kantor Blitar yang
beralamat di Jl. Sulaiman No. 17 Nglegok, Kabupaten Blitar selaku kuasa dari ahli
waris R. SOENGKONO dengan suratnya tanggal 30 Oktober 2010, Nomor: 018/
LPKSM/[Link]/IX/2010 menyatakan bahwa CV. SRI WIDODO berkedudukan di
Malang, di mana salah satu anggota direksinya bernama R. SOENGKONO telah
membeli Perkebunan Swarubuluroto dari ANDI HAMID dengan melampirkan
bukti-bukti anatara lain berupa foto copy:
a) Kontra djual Beli Perkebunan Kopi & The Co Swarubuluroto tanggal 16
Desember 1955;
b) Surat Persetujuan Bersama tanggal 3 Djuni 1956;
c) Surat tanggal 15 Desember 1955 perihal hak dan pertanggungdjawaban
Swarubuluroto;
d) Proses Verbal Timbang Terima tanggal 28 desember 1955;
e) Surat Keterangan tanggal 9 Djuli 1956.

5) PT. Kemakmuran Swarubuluroto dengan suratnya tanggal 21-09-2012 No. 023/


KS-SR/XI/2012 yang ditujukan kepada Kepala kantor Pertanahan Kabupaten Blitar,
pada intinya menyerahkan tanah seluas ±108,6499 Ha untuk diusulkan menjadi
tanah obyek landreform karena tanah dimaksud sudah telah dikeluarkan dari HGU
No. 2/Karangrejo an. PT. Kemakmuran Swarubuluroto berkedudukan di Jakarta;
6) Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar dengan suratnya tanggal 02-10-
2012 No. 463/13.35.05/X/2012, menanggapi usulan dari PT. Kemakmuran
Swarubuluroto menyampaikan agar segera membuat surat pernyataan pelepasan
dihadapan notaris atas tanah seluas ±108,6499 Ha.

2. Lokasi HGU Perkebunan


90 Lokasi perkebunan kelapa sawit PT. Kemakmuran Swarubuluroto berdasarkan Keputusan
Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia telah menerbitkan keputusan
tanggal 09 Agustus 2010, nomor: 44/HGU/BPNRI/2010 terletak di Desa Karangrejo,
Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Adapun peta HGU tersebut adalah sebagai berikut:

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar
Gambar 15. Peta HGU PT. Kemakmuran Swarubuluroto

3. Penyebab Sengketa Pertanahan Antara PT. Kemakmuran Swarubuluroto dengan


Masyarakat
a. Sampai saat ini tanah seluas ±108,6499 Ha yang diusulkan menjadi tanah obyek
landreform dan akan didistribusikan kepada masyarakat belum terealisasi;
b. Dalam perjalanannya Sertipikat HGU No.2/Karangrejo (Asli) tidak dipegang oleh
subyek hak tetapi telah dipegang oleh Haji Maskur;
c. Tanah areal HGU No.2/Karangrejo telah digarap oleh masyarakat secara keseluruhan;
d. Pada tanggal 27 Februari 2015 Kajati Jawa Timur menerbitkan Surat No. R-702/0.5.5/
Fd.1/02/2015 yang berisi untuk memblokir dan tidak diperkenankan segala perbuatan
hukum peralihan terhadap HGU tersebut.

4. Upaya Penanganan Konflik Pertanahan


a. Dari pihak BPN baik dari Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar maupun Kanwil BPN
Provinsi Jawa Timur belum melakukan penanganan lebih lanjut mengingat posisi
permasalahan administrasi/hukum berada di Kejaksaan Tinggi Provinsi Jawa Timur;
b. Terkait distribusi tanah obyek landreform belum dapat dilaksanakan karena status
permasalahan antara [Link] Swarubuluroto dengan Haji Maskur belum
selesai.

Berdasarkan deskripsi/gambaran konflik pertanahan di wilayah perkebunan di lokasi sampel 91


penelitian di atas, dapat kami uraikan garis besar riwayat tanah dan konflik pertanahan di
wilayah perkebunan milik Negara/PTPN dan milik Swasta dengan masyarakat, sebagai berikut:
1. Kronologis konflik dengan masyarakat di perkebunan milik Negara/PTPN
a. PTPN II, Kabupaten Langkat
1) Tanah Bekas Konsensi;
2) Tahun 1951 di Nasionalisasi (SK Mendagri) kemudian di kelola PTPN II (Dulu PTPN
IX);
3) Tahun 1977 perpanjangan HGU;

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


4) Tahun 1977 tuntutan masyarakat atas tanah garapan leluhur masa lalu (Lanjuran);
5) Tahun 1999 Tuntutan pengembalian: Tanah Ulayat Masyarakat Melayu, tanah
garapan leluhur dan tanah pensiunan karyawan;
6) Tahun 2000, Tim Penyelesaian Masalah Tuntutan/garapan diatas PTPN II oleh
Panitia B Plus, dgn hasil :
a) Tututan tanah garapan
b) Pengembalian hak ulayat masyarakat adat Melayu
c) Pengembalian tanah perumahan pensiunan karyawan
d) Permohonan Instansi Pemerintah untuk Fasum dan Fasus dan RUTRWK
7) Tahun 2002:
a) SK Kab BPN EKS HGU tidak diperpanjang
b) Penyelesaian diserahkan kepada Gubernur Sumut untuk mengatur P4T,
setelah mendapat ijin pelepasan Aset dari Kemnterian BUMN.
b. PTPN VII/Unit Usaha Way Lima, Tangkit Serdang, Kabupaten Tanggamus
1) Bekas Hak Erpacht;
2) Tahun 1975 di Nasionalisasi;
3) Tahun 1985 terbit SHGU dan berakhir thn 2005;
4) Tahun 2004 Perpanjangan HGU;
5) Tahun 2015 Kalim Masyarakat Adat atas tanah PTPN VII Way Lima dengan berkirim
surat kepada PTPN VII memberitahukan bahwa wilyah tersebut adalah milik adat;
6) Tahun 2015 Pihak PTPN VII berkirim surat Ke Kanwil BPN [Link] untuk
menanyakan Riwayat tanah PTPN VII;
7) Potensi Konflik
c. PTPN III (Dulu PTPN V Deli Serdang), Kabupaten Serdang Bedagai
1) Di Nasionalisasi;
2) Tahun 1968 Dikelola PN Perkebunan;
3) Tahun 1995 Terbit SK HGU;
4) Tahun 1996 Terbit SHGU;
5) Tahun 1999: Klaim Masyarakat terhadap tanah seluas 82 Ha didalam PTPN III,
sebagai warisan tanah leluhur (Register tahun 1954 dari Dinas Agraria dilindungi
UU Darurat No.8/1954, Deli Serdang);
6) Masuk ke Pengadilan dan sudah inkracht yang dimenangkan Masyarakat dimana
PTPN harus melepaskan 82 Ha;
7) Belum terlaksana terkait Asset BUMN.
d. PTPN VII/Beringin, Kabupaten Muara Enim
1) Tanah Negara bebas untuk Proyek PIRSUS tahun 1983;
2) Tahun 1997 Program Pengembangan Kebun PTP dengan Pola Ganti Rugi di Wilayah
92 Beringin, Kab. Muara enim;
3) Tahun 2000 Kalim Masyarakat atas tanah dan menuntut Ganti Rugi;
4) Tahun 2001 Mediasi : kesepakatan dengan Masyarakat untuk Pola Kemitraan;
5) Tahun 2002 Mediasi: Kesepakatan ganti rugi;
6) Tahun 2012 Kalim Kembali masyarakat yang belum menerima dengan menuntut
ganti rugi;
7) Tahun 2012 Mediasi: Kesepakatan (Sejumlah masyarakat menerima Pola Kemitraan
dan sebagian lainnya tidak sepakat).

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
e. PTPN VIII/Dayeuhmanggung, Kabupaten Garut
1) Tahun 1976, Tukar menukar tanah Negara bebas Kawasan Hutan;
2) Tahun 1985 Terbit [Link], tidak di proses dan tidak ada patok batas;
3) Di Okupasi dan Reklaming masyarakat Petani seluas: 100 Ha;
4) Tahun 2008 PTPN VIII mengajukan perpenjangan [Link]
5) 24 Sep. 2012 :Pembakaran dan pembabatan tanah PTPN seluas 3 Ha;
6) PTPN melapor ke Polda dan diturunkan pasukan Brimob Polda;
7) Bulan Oktober 2012 Rapat Koordinasi di Pemda [Link]: Pemda/Muspida,
Komisi A DPRD, Dinas Perkebunan, Kantah [Link], Camat, Petani beserta
Serikat Petani Pasundan, PTPN VIII: Hasil penarikan pasukan Brimob;
8) Bulan Januari 2013 PTPN tidak melarang masyarakat menggarap tanah;
9) Bulan Juni 2013: Rekomendasi Komnas HAM : Agar diberikan Hak garap seluas :
202 Ha dengan Pola Kerjasama selama 25 tahun;
10) Bulan Agustus 2013: Validasi calon penggarap;
11) Belum teralisasi.
f. PTPN XII, Kalisanen, Jember
1) Tanah bekas Hak Erpacht: 3.105 Ha
2) Tahun 1986 Terbit [Link] HGU dari Mendagri Cq. Dirjen Agraria, tapi SK
tidak didaftarkan;
3) Masyarakat Desa Curahnongko menuntut tanah garapan leluhur sejak tahun
1942 seluas: 332 Ha (karena proses ganti rugi belum selesai).Dari Luas yg dituntut
masyarakat: 332 Ha yang dikuasai masyrakat seluas 125 Ha, yang dikelola/
dimanfaatkan PTPN seluas: 207 Ha;
4) Masyarakat tetap menuntut seluas : 332 Ha;
5) Tahun 2005 [Link] Jember agar dalam permohonan HGU PTPN, tanah seluas
332 Ha di enclave utk diserahkan kpd Masyarakat desa curahnongko;
6) Tahun 2006 : 1) Pemasangan tugu batas, 2) identifikasi tanah sengketa yg akan
diselsaikan;
7) Tahun 2006: Warga desa Curahnongko melaporkan PTPN ke Komisi Ombusman
Nasional dgn dugaan Mal Administrasi;
8) Tahun 2010-2013: Masy. menolak pelepasan hanya : 125 Ha;
9) Tahun 2015: Asset kewenangan Kemnterian BUMN utk pelepasannya, belum
terlaksana.

2. Kronologis konflik dengan masyarakat di perkebunan milik Swasta


a. [Link] (Dahulu Goodyear) Kabupaten Serdang Bedagai
1) Tahun 1899 sebagai Hak Konsesi;
2) Tahun 1965 Penguasaan oleh Pemerintah Republik Idonesia; 93
3) Tahun 1967 Sertipikat HGU [Link] selama: 30 tahun;
4) Tahun 1997 Sertipikat HGU Berakhir;
5) 1997 Perpanjangan SHGU: seluas 2.846 Ha selama: 25 tahun;
6) Masyarakat 5 Desa menuntut tanah garapan leluhur seluas: 273 Ha.
7) 15 Maret 2012, Ketua DPRD [Link] Bedagai melalui suratnya kepada [Link],
agar dilakukan Pengukuran Ulang untuk mengetahui luas HGU yang sebenarnya;
8) Tanggal 12 Juli 2012, [Link] Bidang Pengkajian dan penanganan Sengketa
dan Konflik Pertanahan membalas surat tersebut yang pada intinya:Penerbitan

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Sertipikat HGU sudah sesuai dengan Ketentuan perundangan yang berlaku;
9) Tahun 2014, [Link] bersedia melakukan pengukuran ulang tapi belum
terlaksana karena ada perbedaan pandangan dengan masyarakat terkait dengan
Obyek dan luasnya.
b. PT. Arta Prigel, Desa pandang Lengkuas, Kabupaten Lahat
1) Tahun 1993 ijin Prinsip Pencadangan untuk Kebun Kelapa sawit;
2) Tahun 1998 Tuntutan ke Pengadilan olehMasyarakat Adat Desa Padang Lengkuas
seluas 900 Ha yang berada di Area [Link] Prigel (Alas Hak: [Link] 1965 dikeluarkan
Krio/Kades Padang Lengkuas) tidak dilanjutkan karena tidak memenuhi biaya
perkara;
3) Tahun 2001 Masyarakat menuntut : 900 Ha ke Kantah Lahat dan [Link] Prigel;
4) Tahun 2006 terbit Sertipikat HGU [Link] Prigel:831 Ha;
5) Tahun 2006 Masyarakat menuntut kembali : 900 Ha ke Kantah Lahat dan [Link]
Prigel;
6) Tahun 2006 Kakantah [Link] menyarankan untuk ke Pengadilan;
7) Tahun 2007 Bupati menyarankan untuk ditempuh dengan jalur hukum.
c. PT. Tutu Kekal, Sukabumi
1) Bekas Hak Erpacht;
2) Tahun 1968 Terbit Sertipikat HGU atas nama [Link] Kekal;
3) Tahun 2009 Pembaharuan Sertipikat HGU seluas: 1.621,8636 Ha;
4) Pemanfaatan Tanah:
a) Tanah tidak pernah dikelola oleh perusahaan,
b) Masyarakat mengokupasi dan menggarap tanah perusahaan tersebut;
5) Tahun 2012:
a) Dikeluarkan untuk Prona: 64,1787 Ha
b) Dikeluarkan untuk Prona, Fasum dan Fasus: 130,4912 Ha
6) Tahun 2015 Dalam rangka pembaruan kembali Sertipikat HGU PT. Tutu Kekal mau
meng-enclave seluas : 130,4912 H (Utk Masyarakat, fasum dan fasus).
d. PT. Surya Andhika Mustika (SAM), Garut
1) Bekas Hak Erpacht: 498 Ha tahun 1965;
2) Tahun 1972 Dirampas Negara, di lelang dan di Konversi HGU Perorangan;
3) Tahun 1980 HGU Perorangan tidak diperpanjang;
4) Tahun 1984 Pelepasan hak;
5) Tahun 1986 SHGU PT SAM seluas: 422,360 Ha berakhir tahun 2011, yang digarap
[Link]: 38,75 Ha sedangkan seluas: 385,56 Ha dikuasai masyarakat untuk
permukiman dan tanaman sayur;
6) Tahun 2011, 1) Sidang panitia C di kantah [Link] Penertiban Pendayagunaan
94 Tanah Terlantar; 2) Petani penggarap disuruh menunggu proses penertiban tanah
terlantar dan para petani dianjurkan untuk mempersiapkan Konsep pengembangan
usaha ekonomi yang berbadan hukum.
e. PT. Malaya Sawit Khatulistiwa, Kutai Kertanegara
1) Tanah Negara;
2) Tahun 2007 Perpanjangan Ijin Lokasi;
3) Tahun 2009 Terbit SHGU PT. Malaya Sawit Khatulistiwa;
4) Sebelumnnya sdh terbit thn 2006 SHM ([Link] transmigrasi);
5) Pengukuran dan Pemetaan serta Panitia B tidak Clear dan clean;

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
6) Mediasi: Perusahaan mau menginclave SHM dan tanah garapan masyarakat.
f. PT. Daya Kalianda Raya (DKR),
1) Tahun 1970 Permohonan perolehan tanah;
2) Tahun 1975 s/d 1977: proses ganti rugi;
3) Tahun 1979 terbit AJB, terjadi jual beli di dalam wilayah perkebunan;
4) Tahun 1981 AJB dibatalkan Camat;
5) Tahun 1983 terbit SHGU berakhir: 2007;
6) Tahun 2006 Perpanjangan SHGU;
7) Tahun 2007 Masyarakat ke Pengadilan dan AJB dimenangkan dan dijadikan alas
hak untuk pembuatan SHM;
8) Tahun 2007 terbit SHM (program Ajudikasi);
9) Tahun 2015 Konflik;
10) Tahun 2015 Mediasi.
g. PT. Pemuka Sakti Manis
1) Tahun 2001 Terbit SHGU seluas: 428,05 Ha;
Didalam SHGU hanya mencantumkan nama Kecamatan, sedangkan nama-nama
Desa tdk di cantumkan. Terhadap Desa Negeri Besar seluas 139 Ha tidak ada ganti
rugi, sedangkan alas hak masyarakat desa adalah SK,hak milik dari Kepala kampung
Negeri Besar tahun 1983 dan dikuatkan oleh pemuka pemerintahan desa tahun
1988;
2) Penerbitan SHGU, tanah masih dalam sengketa;
3) Tahun 2002 Kesepakatan ganti rugi tapi tidak dipenuhi oleh perusahaan;
4) Tahun 2004 Masyarakat mengajukan ke Pengadilan dan dimenangkan masyarakat
negeri besar, dalam keputusan pengadilan yng sdh inkracht bahwa perusahaan
harus meng-enklave (139 Ha) tanah masyarakat desa negeri besar;
5) Belum diekseskusi hanya bersifat simbolis;
6) Tahun 2015 Mediasi: Pola kemitraan atau enclave 139 ha.

Garis besar/time line riwayat tanah dan konflik di wilayah perkebunan milik negara/
PTPN dan swasta dengan masyarakat dapat dilihat dalam lampiran 1 dan 2.
5.1.2. Identifikasi Pola Konflik Pertanahan di Wilayah Perkebunan Milik Negara dan Swasta
dengan Masyarakat Di Lokasi Sampel
Sesuai dengan sifat penelitian deskriptif kualitatif, maka pengelompokan diindentifikasi ke
dalam pola konflik wilayah perkebunan milik negara dan milik swasta dengan masyarakat
kedalam: (1) riwayat perolehan tanah, (2) akar masalah/penyebab konflik pertanahan, dan (3)
penanganan dan solusi konflik pertanahan, seperti di uraikan di bawah ini:
1. Pola Konflik Perkebunan Milik Negara 95
a. Riwayat perolehan tanah, berasal dari:
1) Tanah perkebunan bekas Hak Erpacht dan Konsensi khususnya ada di daerah
Swapraja seperti di wilayah Kesultanan Deli, yang dimiliki pemerintahan Belanda
yang di Nasionalisasi kemudian dilakukan ganti rugi antara pemerintah Belanda
dengan pemerintah Republik Indonesia yang kemudian tanah-tanah perkebunan
tersebut menjadi Perkebunan Milik Negara dan merupakan Asset Negara.
2) Tanah Negara Bebas dengan Pola Ganti Rugi;
3) Tukar menukar tanah negara bebas kawasan hutan.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


b. Akar masalah penyebab konflik pertanahan
1) Perbedaan pandangan mengenai Riwayat Tanah Perkebunan Milik Negara (PTPN)
antara pandangan Yuridis dengan Sejarah masa lalu masyarakat adat, sehingga
terjadi klaim dari masyarakat yang menamakan dirinya masyarakat adat;
2) Tuntutan masyarakat terhadap tanah garapan leluhur, kemudian di okupasi sebagai
tempat permukiman/perumahan dan tanah garapan;
3) Tuntutan masyarakat terhadap tanah garapan leluhur, kemudian di klaim karena
belum menerima ganti rugi;
4) Konflik dimulai ketika HGU:
a) Akan berakhir/akan di perpanjang;
b) pada era Reformasi tahun 1999;
c) sejak adanya ganti rugi sebelum dan setelah SHGU terbit;
d) ketika SK HGU tidak di proses sehingga tidak ada patok tanah.
5) Penanganan/Penyelesaiankonflik pertanahan
a) Non Litigasi : Mediasi
−− HGU tidak diperpanjang, seperti di PTPN II Langkat, dan berdasarkan Tim
Penyelesaian Masalah tuntutan/garapan diatas PTPN II oleh panitia B plus
dengan Hasil: (i) pengembalian tuntutan tanah garapan, (ii) pengembalian
hak ulayat masyarakat adat Melayu, (iii) pengembalian tanah perumahan
pensiunan karyawan, (iV) permohonan Instansi Pemerintah untuk Fasum
dan Fasus dan perubahan RUTRWK;
−− Kesepakatan ganti rugi dan pola kemitraan untuk tanah negara bebas pola
ganti rugi;
−− Tidak melarang hak menggarap kepada masyarakat di wilayah perkebunan;
−− Memberikan hak garapan dan pola kejasama kepada masyarakat di wilayah
perkebunan;
−− PTPN memperhatikan dan bersedia pelepasan atas tanah yang sudah di
okupasi dan digarap, pemukiman, fasum dan fasus;
b) Litigasi: Pengadilan, dianjurkan penyelesaian tanah adat melalui pengadilan.

2. Pola Konflik Perkebunan Milik Swasta


a. Riwayat perolehan tanah, yang berasal dari:
1) Perusahaan perkebunan milik swasta berasal dari status tanah perkebunan bekas
Hak Erpacht dan Konsensi khususnya ada di daerah Swapraja seperti di wilayah
Kesultanan Deliyang di konversi menjadi hak guna usaha (HGU);
2) Tanah Negara Bebas dengan Pola Ganti Rugi.
b. Akar masalah konflik pertanahan
96 1) Klaim tanah bekas garapan leluhur oleh masyarakat 5 desa terhadap wilayah
perkebunan [Link],Serdang Bedagai seluas 273 Ha;
2) Klaim masyarakat adat desa Padang lengkuas, Lahat seluas 900 Ha, dengan alas
hak masyarakat adat: SK Hak tahun 1965 yang dikeluarkan Krio/Kades Padang
Lengkuas, sedangkan SHGU [Link] Prigel terbit tahun 2006 seluas 831 Ha;
3) Okupasi terhadap tanah terlantar di wilayah perkebunan [Link] Kekal, Kab.
Sukabumidan [Link] Andhika Mustika, Kab. Garut;
4) Tumpang tindih SHGU tahun 2009 PT. Malaya Sawit Khatulistiwa, Kutai Kertanegara
dengan SHM tahun 2006 ([Link] Transmigrasi);

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
5) Tumpang tindih SHGU tahun 1983 [Link] Kalianda Raya dengan SHM tahun 2008
(Program Ajudikasi);
6) Pemanfataan tanah Perkebunan [Link] Sakti Manis merambah pada desa
Negeri Besar seluas 139 Ha (dengan alas hak: [Link] Milik tahun 1983 dari Kepala
Kampung Negeri Besar dan dikuatkan oleh pemerintahan desa tahun 1988), dan
tidak pernah ada ganti rugi dari pihak perusahaan perkebunan. Hal ini disebabkan
dalam SHGU hanya mencantumkan nama Kecamatan, tidak nama-nama desa yang
sudah mendapatkan ganti rugi.
c. Penanganan/Penyelesaian konflik pertanahan
1) Non Litigasi: Mediasi
a) [Link] bersedia melakukan pengukuran ulang, tapi belum terlaksana
karena ada perbedaan pandangan dengan masyarakat 5 Desa terkait dengan
Objek dan luasnya;
b) Kakantah [Link] dan Bupati menyarankan kepada masyarakat adat desa
Padang lengkuas untuk ditempuh dengan jalur hukum, karena Mediasi yang
dilaksanakan tidak pernah berhasil;
c) Dalam rangka pembaharuan SHGU [Link] Kekal bersedia meng-enklave
tanah seluas 130,4912 Ha;
d) Perusahaan [Link] Sawit Khatulistiwa bersedia meng-enclave tanah SHM
dan tanah garapan masyarakat;
e) SHM (program Ajudikasi) diatas SHGU dinyatakan batal;
f) Dianjurkan untuk pola kemitraan atau [Link] Sakti Manis meng-enclave
tanah desa Negeri Besar seluas 139 Ha;
g) Untuk [Link] Andhika Mustika, pada tahun 2011, di Kantah Kabupaten
Garut dilakukan Sidang Panitia C tentang Penertiban Pendayagunaan Tanah
Terlantar, dan bagi petani penggarap dianjurkan untuk mempersiapkan Konsep
pengembangan usaha ekonomi yang berbadan hukum.
2) Litigasi: PengadilanNegeri memenagkan masyarakat desa Negeri Besar dengan
amar putusan yang sudah inkracht, bahwa PT Pemuka Sakti Manis harus meng-
enclave tanah desa Negeri Besar seluas 139 Ha. Eksekusi belum dilaksanakan,
hanya bersifat simbolis.

Rekapitulasi Pola Konflik di Perkebunan Milik Negara dan Swasta dengan Masyarakat dapat
dilihat pada lampiran 3.

5.2. PEMBAHASAN POLA KONFLIK PERTANAHAN ANTARA PERKEBUNAN MILIK


NEGARA DAN MILIK SWASTA DENGAN MASYARAKAT
Analisa dimulai dari penelusuran pola konflik wilayah perkebunan milik negara dan milik
97
swasta dengan masyarakat kedalam: (1) riwayat perolehan tanah, (2) akar masalah/penyebab
konflik pertanahan, dan (3) solusi konflik pertanahanyang dihubungkan dengan teori, konsep
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti di uraikan di bawah ini:
5.2.1. Pembahasan Pola Konflik Perkebunan Milik Negara Dengan Masyarakat
Konflik di wilayah perkebunan milik negara dengan masyarakat dimulai dengan sejarah
perolehan tanah milik negara tersebut sejak nasionalisasi perusahaan milik Belanda yang
kemudian dilakukan ganti rugi yang pada akhirnya tanah perkebunan milik negara tersebut

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


dinyatakan sebagai asset negara. Selain itu perolehan tanah milik perkebunan Negara juga
berasal dari status tanah negara bebas yang dibebaskan dengan pola ganti rugi. Kemudian
perolehan tanah perkebunan milik negara tersebut di hadapkan pada sejarah tanah
masyarakat adat, seperti di uraikan dibawah ini:

1. Riwayat Perolehan Tanah Perkebunan Milik Negara


a. Perolehan Tanah Karena Nasionalisasi
Riwayat perolehan tanah perkebunan milik PTPN cenderung bersumber dari status
tanah hak-hak barat seperti Hak Erpacht, ataupun dari Konsensi antara raja dengan
pemerintah Hindia Belanda yang kemudian di Nasionalisasi. Berdasarkan UUPA Pasal
19, maka salah satu hak atas tanah yang dapat diberikan kepada antara lain adalah
badan hukum menurut UUPA adalah Hak Guna Usaha (HGU). HGU tersebut dari segi
sejarahnya berasal dari konsep Hak Barat yaitu Hak Erpacht yang diatur dalam Buku
II KUHPerdata (BW), yang kemudian di adopsi dalam UUPA dengan nama Hak Guna
Usaha. Selain itu dikenal pula adanya Hak Konsensi yang khususnya ada di daerah
Swapraja seperti di wilayah Kesultanan Deli. Hak Erpacht dan Hak Konsensi tersebut
sejak berlakunya UUPA di konversi menjadi HGU. Untuk itu mari kita lihat bagaimana
perjalanan perusahaan perkebunan milik Belanda di Nasionalisasi sebagai perkebunan
milik Negara Republik Indonesia dan kemudian terjadi ganti rugi antara pemerintah
Republik Indonesia dengan pemerintah Belanda dalam peralihan tersebut, seperti di
jelaskan dalam peraturan-peraturan sebagai berikut:
1) Pada permulaan kemerdekaan, hampir seluruh perkebunan Milik Asing dikuasai
oleh Negara, dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1946 didirikan Pusat
Perkebunan Negara. Pusat Perkebunan Negara ini menguasai kebun-kebun milik
asing dan perkebunan milik negara (ex G.L.B);
2) Berdasarkan persetujuan Konferensi Meja Bundar, maka semua perkebunan
milik asing pada umumnya dan Belanda pada khususnya dikembalikan kepada
pemiliknya;
3) Dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda maka
dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1956 telah dibatalkan persetujuan
Konferensi Meja Bundar;
4) Sebagai follow up pembatalan Persetujuan Konferensi Meja Bundar itu maka
dengan Surat Keputusan Penguasa Militer/Menteri Pertahanan Nomor 1063/
PMT/1957 ditetapkan bahwa : Semua Perusahaan Milik Belanda baik yang
perorangan maupun yang berbentuk Badan hukum diambil alih penguasaannya
oleh Pemerintah. Surat Keputusan Penguasa Militer/Menteri Pertahanan tersebut
yang mengatur khusus Bidang Perkebunan dan Pertanian Nomor 229/UM/57
98 Tahun 1957;
5) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1958, tentang Penempatan Perusahaan-
Perusahaan Perkebunan/Pertanian Milik Belanda Di Bawah Penguasaan
Pemerintah Republik Indonesia, di dalam pasal 1 dikatakan:
“Perusahaan-perusahaan perkebunan/pertanian milik Belanda termasuk
yang dimiliki Belanda , bersama-sama denga Pemerintah Republik
Indonesia atau Warga Negara Indonesia beserta pabrik-pabriknya,
lembaga-lembaga penyelidikan ilmiah di lapangan pertanian, bangunan-
bangunannya dan benda-benda tidak bergerak lainnya, benda-benda

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
bergerak dari perusahaan termasuk keuangannya dan surat-surat
berharga, serta perkumpulan dan organisasi-organisasi perusahaan
perkebunan, dan organisasi-organisasi lainnya yang mempunyai tugas
antara lain mengurus kepentingan bersama daripada anggotanya
perusahaan perkebunan/pertanian milik Belanda dimaksud di atas,
dikuasai seluruhnya oleh Pemerintah Republik Indonesia”.
6) Undang Undang No. 86/1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik
Belanda, di dalam Menimbang point c dikatakan:
“bahwa dengan Nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda
tersebut dimaksudkan untuk memberi kemanfaatan sebesar-besarnya
pada masyarakat Indonesia dan pula untuk memperkokoh keamanan
dan pertahanan Negara. Kemudian di dalam pasal 1 undang undang ini
dikatakan:”Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang berada di wilayah
Republik Indonesia yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah
dikenakan Nasionalisasi dan dinyatakan menjadi milik penuh dan bebas
Negara Republik Indonesia”. Pasal 2 ayat 1 dikatakan: “Kepada pemilik-
pemilik perusahaan-perusahaan tersebut dalam pasal 1 di atas diberi
ganti kerugian yang besarnya ditetapkan oleh sebuah Panitia yang angota-
anggotanya ditunjuk oleh Pemerintah”.
Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1959, tentang Pokok-Pokok Pelaksanaan
Undang Undang Nasionalisasi Perusahaan Belanda, di dalam pasal 1 ayat 1
dinyatakan:
“Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang dapat dikenakan nasionalisasi
menurut pasal 1 undang undang Nasionalisasi Perusahaan Belanda (Undang
Undang Nomor 86 Tahun 1958) adalah:
a) Perusahaan yang untuk seluruhnya atau sebagian merupakan milik
perseorangan warganegara Belanda dan bertempat-kedudukan dalam wilayah
Republik Indonesia;
b) Perusahaan milik sesuatu badan hukum yang seluruhnya atau sebagian modal
perseroannya atau modal pendiriannya berasal dari perseorangan warganegara
Belanda dan Badan Hukum itu bertempat-kedudukan dalam wilayah Republik
Indonesia;
c) Perusahaan yang ltaknya dalam wilayah Republik Indonesia dan untuk
seluruhnya atau sebagian merupakan milik perseorangan warganegara
Belanda yang bertempat kediaman di luar wilayah Republik Indonesia;
d) Perusahaan yang letaknya dalam wilayah Republik Indonesia dan merupakan
milik sesuatu Badan Hukum yang bertempat-kedudukan dalam wilayah Negara
Kerajaan Belanda. 99
7) Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 1959, tentang Pembentukan Badan
Nasionalisasi Perusahaan Belanda, di dalam pasal 1 dikatakan:
“Dengan tempat kedudukan di jakarta di bentuk “Badan Nasionalisasi Perusahaan
Belanda” dan dalam singkatnya “Banas”, kemudian di dalam pasal 3 ayat c di
katakan: ”menampung dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul akibat
Undang Undang Nasionalisasi Perusahaan Belanda yang berhubungan dengan
soal-soal pemindahan/pembebanan hak milik serta yang mengenai peraturan-
peraturan, keputusan-keputusan dan ketentuan-ketentuan lain dari Penguasa

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Perang”. Di dalam pasal 5 dikatakan bahwa Banas bertanggung-jawab kepada
Dewan Menteri.
8) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1959 , tentang Tugas Kewajiban Panitia
Penetapan Ganti Kerugian Perusahaan-perusahaan Milik Belanda Yang Dikenakan
Nasionalisasi dan Cara Mengajukan Permintaan Ganti Kerugian, di dalam pasal 1
dikatakan:
a) Panitia Penetapan Ganti Kerugian bertugas mengadakan pemeriksaan
seperlunya tentang keadaan perusahaan Belanda yang dikenakan Nasionalisasi
dan menetapkan besarnya ganti kerugian yang dapat diberikan;
b) Panitia Penetapan Ganti Kerugian memberitahukan hasil pekerjaannya kepada
Badan Nasionalisasi Perusahaan Belanda;
c) Besarnya ganti kerugian yang ditetapkan oleh Panitia Penetapan Ganti
Kerugian atau oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia diumumkan dalam
Berita Negara.

Perkebunan milik Belanda yang sudah di Nasionalisasi milik Pemerintah Republik


Indonesia melalui ganti rugi tersebut, dinanyatakan secara hukum sebagai Asset
Negara, seperti di jelaskan dalam peraturan-peraturan di bawah ini:
1) Undang-Undang 17 tahun 2003, tentang Keuangan Negara, pasal 1 angka 3
dikatakan antara lain kekayaan negara ada yang langsung di kelola negara dan ada
yang dipisahkan. Untuk kekayaan negara yang dipisahkan dibentuk Badan Usaha
Milik Negara dan dikatakan sebagai ASSET berdasarkan Surat Edaran Kepala BPN
No.500-1255 tanggal 4 Mei 1992 antara lain menyatakan Tanah yang menjadi aset
instansi pemerintah termasuk BUMN dapat berasal dari:
a) tanah Negara;
b) tanah milik Belanda yang di Nasionalisasi berdasarkan UU Nomor 86 Tahun
1958.
Aset Negara yang dimiliki Pemerintah adalah Aset yang dipisahkan atau yang
disebut Barang Milik Negara/Daerah adalah barang yang diperoleh/dibeli atas
beban APBN/APBD dan barang yang berasal dari perolehan lain yang syah meliputi
barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau sejenis, diperoleh sebagai
pelaksanaan perjanjian/kontrak, diperoleh berdasarkan ketentuan undang-
undang dan diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap.
Aset negara yang dipisahkan disebut investasi pemerintah, yang terdiri penyertaan
modal pemerintah pada Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD),
Perseroan Terbatas lainnya, dan Badan Hukum milik pemerintah lainnya.
100 2) Undang Undang Nomor 49/Prp/1960 tentang Panitia urusan Piutang Negara,
maka “Kekayaan BUMN bagian dari kekayaan Negara.
3) Undang Undang Nomor 19 Tahun 2003, tentang Badan Usaha Milik Negara, di
dalam Pasal 1, dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan (pada angka-
angka):
1. Badan Usaha Milik Negara, yang selanjutnya disebut BUMN, adalah badan
usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara
melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang
dipisahkan.
5. Menteri adalah menteri yang ditunjuk dan/atau diberi kuasa untuk mewakili
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
pemerintah selaku pemegang saham negara pada Persero dan memiliki modal
pada Perum dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan.
6. Menteri Teknis adalah menteri yang mempunyai kewenangan mengatur
kebijakan sektor tempat BUMN melakukan kegiatan usaha.
10. Kekayaan Negara yang dipisahkan adalah kekayaan negara yang berasal dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dijadikan penyertaan
modal negara pada Persero dan/atau Perum serta perseroan terbatas lainnya.
4) Undang Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dalam
pasal 1 pada angka-angka:
1. Perbendaharaan Negara adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban
keuangan negara, termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan, yang
ditetapkan dalam APBN dan APBD,
10. Barang Milik Negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas
beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.

b. Perolehan Tanah Negara Bebas dengan Pola Ganti Rugi


Secara hukum perusahaan milik negara yang perolehannya dari status tanah negara
dengan pola ganti rugi di dalam SK pemberian HGU menyebutkan:”apabila di dalam
areal tanah yang akan diberikan dengan hak guna usaha ini ternyata terdapat
pendudukan/penggarapan rakyat yang sudah ada sebelum pemberian hak ini,
dan belum mendapatkan penyelesaian, maka menjadi kewajiban/tanggung jawab
sepenuhnya dari penerima hak untuk menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya,
menurut ketentuan putusan yang berlaku.

c. Riwayat Tanah Masyarakat Adat di Indonesia


Secara historis, warga masyarakat hukum adat di Indonesia secara kultural mereka
termasuk dalam kawasan budaya Austronesia, yaitu budaya petani sawah, dengan
tatanan masyarakat serta hak kepemilikan yang di tata secara kolektif, khususnya hak
kepemilikan atas tanah ulayat.

Seperti kita ketahui, bahwa hak atas tanah masyarakat adat di Indonesia hampir tidak
ada surat sama sekali, ataupun walaupun ada suratnya hanya berupa surat-surat
bermeterai yang ditanda tangani oleh pihak-pihak kepala desa/kepala kampung/
krio atau kepala Marga dan sebagainya. Disamping itu sifat Hukum Adat adalah
pada umumnya tidak tertulis, demikian juga dalam hukum adat tanah, dimana pada
umumnya pemilikan atas tanah adat oleh seseorang/masyarakat hukum adat tidak
ada bukti tertulis. Dalam hal ini pemilik hak atas tanah oleh masyarakat adat cukup
di buktikan dengan penguasaan fisik oleh yang bersangkutan dengan adanya 101
pengakuan dari ketua adat dan masyarakat adat. Artinya dengan adanya penguasaan
dan pengakuan tersebut dapat menimbulkan hak atas tanah.

Masyarakat Hukum Adat dan Hak-Haknya, menurut Soekanto (1983 : 3), masyarakat
hukum adat merupakan subjek hukum, oleh karena bersifat otonom, yang kemudian
disebut otonomi desa; artinya masyarakat hukum tersebut menyelenggarakan
perbuatan hukum, misalnya mengambil keputusan yang mengikat warga masyarakat,
menyelenggarakan peradilan, mengatur penggunaan tanah, mewarisi dan sebagainya.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Menurut Ter Haar (Riyanto , 2004 : 7), masyarakat hukum adat adalah kesatuan
manusia yang teratur, menetap di suatu daerah tertentu, mempunyai penguasa-
penguasa dan mempunyai kekayaan yang berwujud dan tidak berwujud, dimana para
anggota kesatuan itu masing-masing mengalami kehidupan dalam masyarakat sebagai
hal yang wajar menurut kodrat alam, dan tidak seorangpun diantara para anggota
itu mempunyai pikiran atau kecenderungan untuk membukakan ikatan yang telah
tumbuh itu, atau meninggalkannya, dalam arti melepaskan diri dari ikatan itu untuk
selama-lamanya.

Soepomo (Riyanto, 2004 : 7-8) dalam mendiskripsikan masyarakat hukum adat/


persekutuan hukum adat menyatakan bahwa persekutuan-persekutuan hukum di
Indonesia dapat dibagi menjadi dua golongan, menurut dasar susunannya, yaitu (a)
yang berdasarkan pertalian suatu keturunan (genealogis); dan (b) yang mendasarkan
lingkungan daerah (territorial).

Masyarakat adat merupakan salah satu segmen riil dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara dan memiliki berbagai kepentingan yakni kepentingan politik, ekonomi,
budaya, hukum, politik, perekonomian, sejarah dan hak atas kehidupan otonom.
Masyarakat adat juga memiliki lingkungan alam dan kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya serta kebebasan untuk mengelola serta memanfaatkan sumberdaya alam
secara arif (Titahelu : 1998).

Salah satu antropolog Indonesia yaitu Koentjaraningrat (1993) menggunakan istilah


masyarakat terasing yaitu masyarakat yang terisolasi dan memiliki kemampuan terbatas
untuk berkomunikasi dengan masyarakat lain yang lebih maju. Kelompok masyarakat
tersebut bersifat terbelakang serta tertinggal dalam prsoses mengembangkan
kehidupan ekonomi, politik, sosial budaya dan ideologi. Soebroto (1999) menggunakan
istilah masyarakat adat untuk menunjukkan kelompok masyarakat itu dengan
karakteristik bersifat otonom yaitu kuasa untuk mengatur sistem kehidupannya sendiri
(hukum, politik, ekonomi) dan bersifat otonom yaitu suatu kesatuan yang lahir atau
dibentuk oleh masyarakat itu sendiri.

Hasil dari kegiatan Kongres Masyarakat Adat Nusantara merumuskan bahwa masyarakat
adat adalah komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal usul leluhur secara
turun temurun di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan
alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh hukum adat dan lembaga adat yang
mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakatnya (Rudito, 1999).
102
Hubungan-hubungan sosial antar anggota persekutuan masyarakat adat diatur oleh
hukum adat yang mengatur hubungan-hubungan hukum (hak dan kewajiban) antara
orang atau organisasi dalam suatu persekutuan adat dengan sumber-sumber alam
diwilayah mereka.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka dari hukum adat akan muncul konsepsi
tentang hak adat. Pada dasarnya hak adat dapat dikatakan sebagai hak masyarakat
adat untuk menguasai, memiliki, memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
dalam wilayahnya. Dalam konsep hak tenurial adat, subyek hukum yang berhak
mengelola dan memanfaatkan sumber-sumber alam hanyalah anggota masyarakat
adat setempat, yang bukan anggota masyarakat adat setempat tidak memiliki hak
apapun, kecuali atas izin masyarakat adat yang bersangkutan, sebab inti dari hak adat
adalah kedaulatan masyarakat adat setempat atas wilayah mereka.

Identifikasi tentang masyarakat adat bukan saja berkaitan pada konsep-konsep yuridis
tentang apa yang disebut sebagai masyarakat adat dan dimanakah kedudukannya,
tetapi pada dasarnya juga mengarah pada suatu tuntutan pengakuan dari masyarakat
adat atas hak-hak mereka yang berhubungan dengan kedudukannya sebagai
masyarakat adat. Tuntutan pengakuan dari masyarakat adat atas hak-hak mereka
berpegang pada dua hal yaitu:
1) Kedudukannya sebagai komunitas masyarakat adat;
2) Berakar pada susunan asli dan pertumbuhan masyarakat itu sendiri.

Pengakuan atas eksistensi atau keberadaan masyarakat adat sangat beragam


satu dengan lainnya, demikian pula bentuk pengakuan terhadap eksistensi atau
keberadaan masyarakat adat oleh pemerintah daerah yang berbeda. Selain kebijakan
yang mengatur keberadaan masyarakat hukum adat, terdapat pula kesepakatan-
kesepakatan internasional yang sebagian telah diratifikasi ke dalam kebijakan-kebijakan
perundang-undangan Republik Indonesia dan juga wacana-wacana masyarakat di
tingkat nasional misalnya antara lain tentang sistem penguasaan tanah.

Hukum adat sebenarnya mengakui bahwa penguasaan suatu wilayah petuanan


negeri ditandai dengan aktivitas atau kegiatan-kegiatan dari warga atau anak negeri
tersebut, misalnya dengan kegiatan berkebun, berburu untuk mencari hasil hutan
dan sebagainya (Ter Haar) Semua ini merupakan bukti bahwa warga atau anak negeri
dari negeri tersebut telah berulang kali mengusahakan tempat atau wilayah tersebut,
sehingga secara nyata (de facto) mereka menguasai wilayah tersebut. Selanjutnya
yang menjadi permasalahan adalah apakah secara hukum (de yure) hal itu dapat
diterima. Berkaitan dengan masalah hukum ini sebenarnya harus dibarengi atau diikuti
dengan pengakuan baik lisan maupun tertulis bahwa wilayah tersebut memang milik
warga atau milik negeri tersebut. Hal itu dapat kita lihat dari kesepakatan-kesepakatan
antar warga atau negeri-negeri tertentu, yang ditaati oleh mereka baik secara individu
(pribadi) maupun warga masyarakat negeri secara keseluruhan.

Patut diakui bahwa penguasaan baik de facto maupun de yure seperti disebutkan
di atas kadang-kadang tidak di akui juga oleh penguasa negara, sehingga melahirkan 103
konflik atau pertentangan. Negara hadir dengan berbagai bentuk peraturan perundang-
undangan yang cenderung merugikan warganya sendiri. Padahal negara seharusnya
mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat atas tanah dan sumber-sumber
(Sumber-sumber Agraria meliputi tanah atau bumi dan barang-barang atau benda-
benda yang terkandung didalamnya termasuk dalam wilayah perairan maupun udara)
agraria yang mereka miliki.

Selama ini ada kelemahan yang dimiliki oleh masyarakat adat ialah batas-batas wilayah

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


yang kurang jelas, siapa pemegang hak atas wilayah tersebut, objek apa saja yang ada
di atas tanah tersebut dan jenis hak apa saja yang melekat pada bidang tanah itu dan
sebagainya. Kondisi inilah yang membuat masyarakat adat mempunyai kemampuan
tawar-menawar (bargaining power) yang agak lemah, menghadapi pihak-pihak
tertentu, katakanlah pemerintah dan pengusaha yang mendapat izin dari pemerintah
karena mempunyai kekuasaan dan uang.

Masyarakat yang mengakui keberadaannya sebagai masyarakat adat, tidak dapat


diterima begitu saja, tetapi harus memperlihatkan identitas, kriteria dan aktivitas
tertentu yang mencerminkan nilai-nilai dan norma sebagai suatu masyarakat adat.
Pengelolaan atas sumberdaya laut pada hakikatnya berjalan beriringan dengan
pengelolaan atas sumberdaya yang ada di darat. Jadi, sumber daya di darat maupun
sumberdaya di laut adalah merupakan milik masyarakat adat. Dikatakan sebagai suatu
milik dari masyarakat berarti adanya hak dari masyarakat itu diatas suatu wilayah
tertentu yang cukup luas. Hak tersebut bukan merupakan hak yang disebut bersifat
hukum privat ataupun bersifat hukum publik, tetapi merupakan sekumpulan hak dan
kewajiban dari (a) masyarakat atau keluarga anggota masyarakat adat; (b) masyarakat
adat secara bersama-sama, dan (c) orang lain bukan anggota masyarakat adat tetapi
memperoleh ijin memakai atau menggunakan tanah dengan memenuhi syaratr-syarat
tertentu sebelumnya, yakni membayar sesuatu (recognitie). Apa yang dikemukakan
terakhir ini menunjukkan bahwa masyarakat adat yang menempati dan memiliki
wilayah petuanan atau wilayah ulayat yang dapat berada di darat maupun di pesisir
laut.20

2. Akar Masalah Penyebab Konflik


Penyebab konflik pertanahan di wilayah perkebunan milik negara dalam penelitian ini,
adalah:
Riwayat perolehan dari tanah perkebunan milik Belanda yang di Nasionalisasi menjadi
perkebunan Milik Negara Republik Indonesia, yang menyebabkan tanah masyarakat
adat dan garapan tanah lelhuhur dinyatakan tidak berlaku lagi secara hukum. Akibatnya
terjadilah klaim dan okupasi dari masyarakat adat dan bagi tanah bekas garapan tanah
leluhur di masa lalu di wilayah perkebunan milik negara.

3. Solusi
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka tuntutan atau klaim dan okupasi oleh
masyarakat adat dan tanah leluhur atas tanah perkebunan yang dikuasai dan dimiliki oleh
negara/PTPN tersebut sangatlah mendasar, karena:
104 a. Adanya pengakuan secara yuridis keberadaan/eksistensikeberadaan masyarakat
hukum adat atas tanah, yakni:
1) Undang Undang Dasar 1945 hasil amandemen di dalam pasal 18 B ayat (2) yang
berbunyi: ”Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat
hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik
Indonesia yang diatur dengan undang-undang”. Dari pasal tersebut ada isyarat

20 Tjiptabudy, Jantje. 2013. Aspek Hukum Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Terhadap Eksistensi Masyarakat Adat. Kompilasi
Pemikiran Tentang Dinamika Hukum Dalam Masyarakat (Memperingati Dies Natalis ke -50 Universitas Pattimura Tahun 2013).

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
bahwa pemerintah harus memperhatikan hak masyarakat hukum adatnya, dan
apabila terdapat suatu komunitas masyarakat hukum adat masih ada dan masih
hidup, negara harus melindungi hak-hak adat mereka atas tanah;
2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor IX/MPR/2001, tentang
Pembaharuan Agraria Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Ketetapan ini
merumuskan bberapa prinsip dalam pengelolaan sumber daya alam antara lain
dalam pasal 4 J mengatakan:”Menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, menghormati supremasi hukum dengan mengakomodasi keaneka
ragaman dalam unifikasi hukum, mengakui, menghormati dan melindungi hak
masyarakat hukum adat dan keragaman budaya bangsa atas sumber daya agraria/
sumber daya alam”;
3) Undang Undang Nomor 5 tahun 1960, tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok
Agraria (UUPA). Secara normatif telah mengakui bahwa Hukum Agraria Nasional
didasarkan pada hukum adat atas tanah. Antara hak ulayat sebagai atribut
masyarakat hukum adat dengan Hak Menguasai Negara (HMN) sebagai atribut
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, terdapat hubungan kefilsafatan. Artinya
asas-asas dan cita-cita hukum adat tentang TANAH dijadikan sumber menyusun
hukum agraria nasional, antara lain:
a) Pasal 3 mengatakan:”Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 1
dan pasal 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa dengan itu dari
masyarakat-masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih
ada, harus sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan kepentingan nasional
dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh
bertentangan dengan undang undang dan peraturan-peraturan yang lebih
tinggi”;
b) Pasal 5 “Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah
hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan
negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa dengan sosialisme Indonesia
dengan peraturan lainnya”;
c) Penjelasan Umum bagian II UUPA, menyatakan:”Hubungan bangsa Indonesia
dengan bumi, air, dan ruang angkasa Indonesia merupakan hubungan hak
ulayat yang diangkat pada tingkatan yang paling atas, yaitu pada tingkatan
yang mengenai seluruh wilayah Negara”;
d) Penjelasan III angka 1 alinea 2 menyatakan bahwa “... oleh karena rakyat
Indonesia sebagian terbesar tunduk pada hukum adat, maka hukum agraria
yang baru tersebut akan didasarkan pula pada ketentuan-ketentuan hukum
adat itu, sebagai hukum asli yang disempurnakan dan disesuaikan dengan
kepentingan masyarakat dalam negara modern dan dalam hubungannya 105
dengan dunia internasional disesuaikan dengan sosialisme Indonesia”.
4) Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), pada level internasional
perjuangan pengakuan atas tanah ulayat masyarakat hukum adat telah sampai
pada Deklarasi Hak Hak Masyarakat Adat (United Nation Declaration on The Rights
of Indegeneous People) yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 13
September 2007. Salah satu isinya adalah penegasan hubungan antara masyarakat
adat dengan hak-hak tradisionalnya termasuk tanah ulayat sebagai hak-hak dasar
yang harus diakui, dihormati,dilindungi dan dipenuhi secara universal.

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


b. Keberadaan Masyarakat Adat dihapuskan dan apabila masih ada, maka harus
memenuhi kriteria-kriteria seperti dimaksud dalam peraturan-peraturan, antara lain:
1) Undang Undang Nomor 5 Tahun 1979, tentang Pemerintahan Desa yang
menghapuskan masyarakat adat di luar Jawa, karena undang undang ini menyama
ratakan pemerintahan Desa menurut model pemerintahan desa di pulau Jawa,
sehingga gugurlah pemerintahan Marga yang mempunyai konsep pemerintahan
adat dan yang serupa dengan itu, diluar pulau Jawa;
2) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 tahun
1999, tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum
Adat, kemudian ditindak lanjuti dengan Surat Menteri Negara Agraria/Kepala
BPN No.400/2626/1999 yang ditujukan kepada Gubernur, Bupati/Walikota serta
badan Pertanahan Nasional di seluruh Indonesia, namun tidak dapat dilaksanakan
dengan efektif;
3) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.
9 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetepan Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat
Hukum Adat dan Masyarakat yang Berada Dalam Kawasan Tertentu, sebagai
pengganti Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional
No. 5 tahun 1999, tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat
Hukum Adat. Di dalam Pasal 3 ayat (1) dan (2). Pada ayat (1) disebutkan bahwa
persyaratan masyarakat hukum adat dapat dikukuhkan hak atas tanahnya
meliputi: masyarakat masih dalam bentuk paguyuban; ada kelembagaan dalam
perangkat penguasa adatnya; ada wilayah hukum adat yang jelas; dan ada pranata
dan perangkat hukum yang masih ditaati. Pada ayat (2) persyaratan kelompok
masyarakat yang berada dalam kawasan tertentu dapat diberikan hak atas
tanahnya meliputi: menguasai secara fisik paling kurang 10 (sepuluh) tahun atau
lebih secara berturut-turut; masih mengadakan pemungutan hasil bumi di wilayah
tertentu dan sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari; menjadi
sumber utama kehidupan dan mata pencaharian masyarakat; dan terdapat
kegiatan sosial dan ekonomi yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakat;
4) Sebelum terbitnya hak Erpacht, diindikasikan sudah terjadi pelepasan tanah
hak adat kepemegang hak Erpacht. Artinya dengan terjadinya nasionalisasi, dan
akhirnya tanah perkebunan milik negara/PTPN merupakan aset negara, maka
putuslah hubungan tanah perkebunan sebagai tanah milik masyarakat adat/
leluhur.

Mengingat konflik pertanahan terjadi di wilayah perkebunan milik negara/PTPN, harus melalui
106 pelepasan Asset dari Kementerian BUMN, maka solusi yang ditawarkan dalam penelitian
ini adalah Kementerian ATR/BPN agar mendorong, agar tanah-tanah yang sudah dikuasai
dan digarap/dimanfaatkan oleh masyarakat di atas 20 tahun dan tanah PTPN tersebut di
terlantarkan, dapat dilepaskan dengan merujuk pada:

1. Undang Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dalam pasal 45 (1)
(2) Barang milik negara/daerah yang diperlukan bagi penyelenggaraan tugas pemerintahan
negara/daerah tidak dapat dipindahtangankan. Pemindahtanganan barang milik negara/
daerah dilakukan dengan cara dijual, dipertukarkan, dihibahkan, atau disertakan sebagai

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
modal Pemerintah setelah mendapat persetujuan DPR/DPRD.

Pasal 46 (1) Persetujuan DPR dilakukan untuk: a. pemindahtanganan tanah dan/atau


bangunan. b. tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada huruf a ayat ini tidak
termasuk tanah dan/atau bangunan yang: sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah
atau penataan kota; harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti
sudah disediakan dalam dokumen pelaksanaan anggaran; diperuntukkan bagi pegawai
negeri; diperuntukkan bagi kepentingan umum; dikuasai negara berdasarkan keputusan
pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan
perundangundangan, yang jika status kepemilikannya dipertahankan tidak layak secara
ekonomis.

Pasal 47 (1) Persetujuan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2)
dilakukan untuk: a. pemindahtanganan tanah dan/atau bangunan. b. tanah dan/atau
bangunan sebagaimana dimaksud pada huruf a ayat ini tidak termasuk tanah dan/atau
bangunan yang: sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota;
harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah disediakan dalam
dokumen pelaksanaan anggaran; diperuntukkan bagi pegawai negeri; diperuntukkan
bagi kepentingan umum; dikuasai daerah berdasarkan keputusan pengadilan yang telah
memiliki kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan perundangundangan,
yang jika status kepemilikannya dipertahankan tidak layak secara ekonomis.

2. Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor 02/MBU/2010 tentang Tata Cara


Penghapusbukuan dan Pemidahtanganan Aktiva Tetap BUMN, di dalam “Pasal 2 ayat 1
menyatakan bahwa RUPS/Menteri dan atau Dewan Komisaris/Dewan Pengawas sesuai
dengan kewenangannya berdasarkan anggaran dasar, memberikan pertimbangan dan
atau persetujuan atau penolakan hanya terhadap usul pengahapusbukuan dan atau
pemindahtanganan aktiva tetap yang disampaikan oleh direksi (Apabila ada pelepasan
Hak Atas Tanah)”.Pasal 5 ayat 1 poin C yang intinya menyatakan “penghapusbukuan
yang dikarenakan pemindahtanganan dengan cara penjualan dapat dilakukan apabila
memenuhi salah satu persyaratan antara lain peruntukan bagi kepentingan umum
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan RUTR/RUTRWK yang telah
disahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Selain itu bagi tanah negara bebas (bukan tanah adat) adalah dengan pola ganti rugi yang
belum diselesaikan oleh perkebunan milik negara/PTPN, maka merupakan kewajiban
PTPN untuk menyelesaikannya dengan masyarakat dengan persetujuan para petani/
masyarakat yang tergusur dari tanah leluhurnya. Berdasarkan Undang Undang nomor 107
18 tahun 2004, tentang Perkebunan, di dalam pasal 9 ayat (1) dikatakan dalam rangka
penyelenggaraan usaha perkebunan, kepada pelaku usaha sesuai dengan kepentingannya
dapat diberikan hak atas tanah yang diperlukan untuk usaha perkebunan berupa ... Hak
Guna Usaha ... sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ayat 2 dikatakan:”Dalam
hal tanah yang diperlukan merupakan tanah hak ulayat masyarakat hukum adat yang
menurut kenyataannnya masih ada, mendahului pemberian hak sebagaimana pada ayat
(1), pemohon wajib melakukan musyawarah dengan masyarakat hukum adat pemegang
hak ulayat dan warga pemegang hak atas tanah yang bersangkutan, untuk memperoleh

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


kesepakatan mengenai penyerahan tanah dan imbalannya”.
5.2.2. Pembahasan Pola Konflik Pertanahan antara Perkebunan Milik Swasta Dengan
Masyarakat
1. Riwayat perolehan tanah
Perolehan tanahperkebunan milik swasta adalah: (1) bekas hak Erpacht yang di konversi
menjadi HGU, dan (2) tanah negara dengan pola ganti rugi;

2. Akar masalah konflik pertanahan


a. Klaim masyarakat 5 desa (Desa Nagori, Banjarawan, Simorang, Selapuh, SD dan DAS)
atas tanah bekas perkampungan leluhur mereka yang pada masa itu diambil paksa
oleh Belanda; Klaim bagi masyarakat Desa Tinokah menuntut pengembalian lahan
milik mereka seluas ± 400 Ha yang merupakan bekas perkampungan dan perladangan
yang terletak di Kampung Sorba Jahe/Naga Tongah, Sihora-hora, Kecamatan Sipispis
dimana menurut mereka pada tahun 1920 telah diambil paksa oleh penjajah Belanda
sehingga mereka terusir ke Kampung Tinokkah dan Kampung lainnya dan sejak tahun
1967 areal tersebut kemudian dikuasai oleh PT Good Year (Sekarang PT Bridgestone);
b. Okupasi terhadap tanah HGU PT. Tutu Kekal seluas 130,4912 Ha yang digunakan
sebagai fasilitas umum dan fasilitas sosial serta digarap masyarakat;
c. Adanya tumpang tindih SHGU dengan Hak Milik atas tanah masyarakat dan sebaliknya:
1) Tahun 2009 diterbitkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: 99/
HGU/BPN RI/2009 (pemberian HGU) terletak di Desa Beloro, Sebulu Ulu, Sebulu
Modern, Kecamatan Sebulu dan Desa Rapak Lambur, Loa Tebu, Mangkurawang,
Maluhu, Loa Ipuh Darat, Jahab, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur namun pada tahun 2006 sudah terbit SHM
masyarakat transmigran;
2) Perpanjangan SHGU PT. Daya Kalianda Raya HGU No. U.1/KT 8 Desember 2006
seluas 190,76 Ha (255,11 Ha – 64,35 Ha untuk Hak Pakai) namun pada tahun 2007
terbit SHM (program Ajudikasi) atas nama masyarakat.
d. Pemanfaatan tanah perkebunan di atas tanah masyarakat Desa Negeri Besar adalah
tanah milik masyarakat secara turun temurun seluas lebih kurang 139 ha yang
dibuktikan dengan Surat Keterangan Hak Milik dari Kepala Kampung Negeri Besar
tanggal 4 Agustus 1983 dan dikuatkan dengan Berita Acara Hasil Sidang Desa tanggal
10 Oktober 1988 oleh Unsur Pemerintahan Desa dan tokoh tokoh Masyarakat Desa
Negeri Besar namun tanah di Desa Negeri Besar (139 ha) dimanfaatkan oleh PT.
Pemuka Sakti Manis Indah untuk perkebunan tebu.

108 3. Solusi konflik pertanahan


a. Mengingat didalam mediasi PT. Bridgestone telah menyarakan untuk melakukan
pengukuran ulang dengan biaya swadaya masyarakat berdasarkan PP No. 13 Tahun 2010
maka untuk mengurangi konflik kepada masyarakat 5 Desa (Desa Nagori, Banjarawan,
Simorang, Selapuh, SD dan DAS) disarankan untuk segera menindaklanjuti manajemen
PT. Bridgestone; Tuntutan masyarakat Desa Tinokah yang menuntut pengembalian
lahan seluas± 400 Ha disarankan agar menyelesaikan melalui pengadilan;
b. Hasil mediasi PT. Tutu Kekal bersedia meng-enclave tanah seluas 130,4912 Ha oleh
karenanya berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2010

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
oleh sebab itu Panitia C harus sesegera mungkin menetapkan tanah terlantar dan
kepada masyarakat yang sudah menguasai dengan kenyataan telah berdiri hunian
dan garapan masyarakat untuk dijadikan skala prioritas sebagai subyek redistribusi
tanah terlantar atau pola kemitraan sesuai dengan kesepakatan hal ini mengacu pada
Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998, tentang Penertiban dan Pendayagunaan
Tanah Terlantar di dalam pasal 2 dikatakan:”Obyek penertiban tanah terlantar meliputi
tanah yang sudah diberikan hak oleh Negara berupa ..., Hak Guna Usaha ...,atau
dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan, tidak dipergunakan, atau tidak
dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau
dan penguasaannya”.
c. Terjadinya tumpang tindih antara:
1) Sertipikat Hak Milik dengan Sertipikat HGU disebabkan Panitia B kurang
memperhatikan makna PerkaBPN No. 7 Tahun 2007 tentang Panitia Pemeriksaan
Tanah pasal 14 angka 1 poin c yang mempunyai tugas: ”mengadakan penelitian dan
peninjauan fisik atas tanah yang dimohon mengenai penguasaan, penggunaan/
keadaan tanah serta batas-batas tanah yang dimohon”. Selain itu berdasarkan
hasil wawancara Tim Peneliti Puslitbang turun ke Kantor Pertanahan Kabupaten
Kutai Kartanegara yang dijelaskan oleh staff Pengukuran bahwa pada saat Tim
Pengukuran dari BPN Pusat datang ke lapangan tidak berkoordinasi dengan Seksi
Pengukuran dan Pemetaan Kantor Pertanahan. Oleh sebab itu di waktu yang akan
datang Panitia B wajib melakukan tugasnya dan melaksanakan koordinasi yang
intensif dengan Kantor Pertanahan. Walapun pada akhirnya dalam mediasi atas
permasalahan tumpang tindih tersebut sudah disepakati bahwa pemegang HGU
bersedia meng-enclave dan melepaskan obyek tanah yang tumpang tindih antara
Hak Milik dengan HGU;
2) Kantor Pertanahan Kabupaten wajib mempunyai database HGU perkebunan baik
Badan Hukum maupun perorangan sehingga tidak terjadi pemberian sertipikat
Hak Milik diatas hak yang sudah terbit.
d. Perlu ditindaklanjuti hasil Putusan Pengadilan Negeri Kota Bumi Nomor : 08/
PDT.G/2004/[Link] tanggal 09 Nopember 2004, Sdr. Jumadi Cs (wakil masyarakat Desa
Negeri Besar) penggugat telah dinyatakan menang. Putusan pengadilan yang sudah
inkracht seharusnya segera dilaksanakan eksekusi agar tidak menimbulkan keresahan
masyarakat yang dimenangkan dalam pengadilan.

109

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


110

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
BAB VI 111
Kesimpulan dan
Rekomendasi

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1. KESIMPULAN

6.1.1. Pola Konflik Perkebunan Milik Negara


1. Riwayat perolehan tanah
Riwayat perolehan tanah perkebunan milik PTPN cenderung bersumber dari status tanah
hak-hak barat seperti Hak Erpacht, ataupun dari Konsensi antara raja dengan pemerintah
Hindia Belanda yang kemudian di nasionalisasi menjadi perkebunan milik Negara/PTPN
dan secara hukum dinyatakan sebagai Aset Negara.

2. Akar masalah konflik pertanahan


Adanya perbedaan pandangan Yuridis tanah milik perkebunan Belanda yang di nasionalisasi
dengan pandangan masyarakat adat terhadap tanah adat dan tanah warisan leluhur,
sehingga memicu masyarakat untuk mengklaim dan mengokupasi tanah milik perkebunan
Negara yang berakhir dengan terjadinya konflik.

3. Solusi konflik pertanahan


Mengingat tanah perkebunan milik Negara merupakan Aset Negara, maka pelepasannya
harus melalui Kementerian BUMN, oleh sebab itu Kementerian Agraria dan Tata Ruang/
BPN hendaknya mendorong Kementerian BUMN agar melepaskan tanah-tanah yang sudah
dikuasai dan digarap oleh masyarakat (20 tahun keatas) yang sudah terbentuk RT/RW/
Pemerintahan Desa dan perubahan tata ruang atau dengan pola kemitraan sesuai dengan
peraturan yang berlaku guna mewujudkan tanah bagi sebesar-besar bagi kemakmuran
rakyat.

6.1.2. Pola Konflik Perkebunan Milik Swasta


1. Riwayat perolehan tanah
Perolehan tanahperkebunan milik swasta adalah: (1) bekas Hak Erpacht yang di konversi
menjadi HGU, dan (2) tanah negara dengan pola ganti rugi.

2. Akar masalah konflik pertanahan


a. Klaim masyarakat 5 desa atastanah bekas perkampungan leluhur mereka yang pada
masa itu diambil paksa;
112 b. Okupasi dan digarap oleh masyarakat atas tanah yang tidak dimanfaatkan oleh pihak
perusahaan perkebunan (tapi belum ditetapkan indikasi tanah terlantar) dan digarap
oleh masyarakat;
c. Adanya tumpang tindih SHGU dengan Hak Milik atas tanah masyarakat dan sebaliknya;
d. Pemanfaatan tanah perkebunan di atas tanah masyarakat.

3. Solusi konflik pertanahan


a. Apabila sudah diterbitkan Hak Erpacht diindikasikan pada saat pemberian Hak
tersebut sudah ada kewajiban yang dibebankan kepada subyek Hak Erpacht, kemudian

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
dikonversi menjadi HGU. Terhadap klaim mayarakat terhadap tanah leluhur ditempuh
melalui pengadilan;
b. Apabila sudah sesuai dengan PP 11 tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan
Tanah Terlantar, HGU tersebut dapat dijadikan sebagai obyek penetapan tanah
terlantar;
c. Berdasarkan Pasal 12 Undang-Undang nomor 39 Tahun 2014, tentang Perkebunan
dinyatakan bahwa “dalam hal tanah yang diperlukan untuk Usaha Perkebunan
merupakan Tanah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, Pelaku Usaha Perkebunan
harus melakukan musyawarah dengan Masyarakat Hukum Adat pemegang Hak Ulayat
untuk memperoleh persetujuan mengenai penyerahan Tanah dan imbalannya.”

6.2. REKOMENDASI
1. Perlu diterbitkan peraturan bersama tentang Tata Cara Penyelesaian Konflik di Wilayah
Perkebunan Milik Negara (sebagai Aset Negara) dan Perkebunan Milik Swasta;
2. Perlu diterbitkan peraturan tentang kewenangan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/
Badan Pertanahan Nasional dalam menangani konflik dan penyelesaian pertanahan di
wilayah perkebunan milik negara dan swasta.

113

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


114

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Daftar Pustaka 115

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


DAFTAR PUSTAKA

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Undang Undang Dasar Tahun 1945.

Undang Undang Nomor 5 Tahun 1960, tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria.

Undang Undang No. 86/1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda.

Undang Undang Nomor 49/Prp/1960 tentang Panitia urusan Piutang Negara.

Undang-Undang 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Undang Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.

Undang Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1953, tentang Penguasaan tanah-tanah Negara.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1958, tentang Penempatan Perusahaan-Perusahaan


Perkebunan/Pertanian Milik Belanda Di Bawah Penguasaan Pemerintah Republik
Indonesia.

Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1959, tentang Pokok-Pokok Pelaksanaan Undang


Undang Nasionalisasi Perusahaan Belanda.

Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 1959, tentang Pembentukan Badan Nasionalisasi


Perusahaan Belanda.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1959, tentang Tugas Kewajiban Panitia Penetapan Ganti
Kerugian Perusahaan-perusahaan Milik Belanda Yang Dikenakan Nasionalisasi dan
Cara Mengajukan Permintaan Ganti Kerugian.

Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010, tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah
Terlantar.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 tahun 1972, tentang Pelimpahan Wewenang
Pemberian Hak Atas Tanah.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1973, tentang Ketentuan-ketentuan


Mengenai Tata Cara Pemberian Hak Atas Tanah.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, tentang Pendaftaran Tanah.

Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1999, tentang Pelimpahan
116 Kewenangan Pemberian dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah
Negara.

Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 9 Tahun1999, tentang Tata Cara
Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan.

Surat Edaran Kepala BPN No.500-1255 tanggal 4 Mei 1992 tentang Tata Cara Pengurusan Hak
dan Penyelesaian Sertifikat Tanah yang Dikuasai oleh Instansi Pemerintah.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
BUKU
B. Riyanto. 2004. Pengaturan Hutan Adat di Indonesia – Sebuah Tinjauan Hukum Terhadap
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Bogor: Lembaga
Pengkajian Hukum Kehutanan dan Lingkungan.

Chrysantini, Pinky. 2007. Berawal dari tanah: melihat ke dalam aksi pendudukan tanah.
Bandung: Yayasan Aka Tiga.

Harsono, Boedi. 2007. Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional, Perkembangan


Pemikiran & Hasilnya sampai menjelang Kelahiran UUPA tanggal 24 September
2007. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, halaman 53.

Koentjaraningrat. (1993). Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional. Jakarta: Penerbit


Universitas Indonesia (UI- Press).

Mary Herawati. Siti. Rahma.,et al. 2003. Atas Nama Pendidikan Hak-Hak Pagilaran Atas Tanah,
Serial Kasus Pertanahan di Jawa Tengah, Cetakan Pertama, LBH Semarang dan
PMGK Batang Diskusi Bedah Kasus di UGM Yogyakarta, 19 Februari 2003, hal. 16.

Mewujudkan Hak Konstitusional Masyarakt Hukum Adat. Himpunan Dokumen Peringatan Hari
Internasional Masyarakat Hukum Adat Sedunia, 9 Agustus 2006. Jakarta: Komnas
HAM Press September 2006.

Mu’adi, Sholih. 2010. Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Perkebunan dengan cara Litigasi
dan Non Litigasi. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.

Pelzer, Karl Josef. 1991. Sengketa agraria: pengusaha perkebunan melawan petani. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.

S. Soekanto. 1983. Beberapa Permaslahan Hukum dalam Kerangka Pembangunan di Indonesia.


Jakarta: UI-Press.

Sumardjono, Maria S. 2008. Tanah dalam Perspektif Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas.

Sumardjono, Maria S. 2010. Tanah Untuk Kesejahteraan Rakyat. Yogyakarta: Penerbit Bagian
Hukun Agraria Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, halaman 23-27.

JURNAL
Bahari, Syaiful. Konflik Agraria di Wilayah Perkebunan: Rantai Sejarah Yang Tak Berujung.
Jurnal Analisis Sosial Vol. 9 No. 1 April 2004.

Sembiring, J. 2009. Konflik Tanah Perkebunan di Indonesia. Jurnal Hukum No. 3 Vol. 16 Juli
117
2009: 337 – 353.

Sumardjo, dkk. 2014. Tipologi Konflik Berbasis Sumber Daya Pangan di Wilayah Perkebunan
Sawit. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 19 (3) Desember 2014: 189-196.

Sustiyadi dalam Oloan Sitorus dkk., 2008. “Aspek Hukum Tanah Negara Bekas Hak Guna
Usaha Perkebunan di Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Bhumi Nomor 24 Tahun 8,
Desember 2008, hlm.4

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Wahyono, Teguh. 2003. Konflik Penguasaan Lahan Pada Perkebunan Kelapa Sawit Di Sumatera.
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit, 2003, 11 (1): 47-59.

MAKALAH
Gunawan, Wiradi. 1999. Kebijakan Agraria/Pertanahan Yang Berorientasi Kerakyatan
dan Berkeadilan, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Pertanahan
diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) di Yogyakarta,
Tanggal 25-26 Pebruari 1999, hlm.35.

Sembiring, Julius. 2000. Tanah Negara: Dikotomi Persepsi, Sektoralisasi Regulasi dan Potensi
Konflik, Makalah, 2000, Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), hlm.3.

Titahelu, R.Z. 1998. Makalah Tentang Hak-Hak Adat. Ambon.

Tjiptabudy, Jantje. 2013. Aspek Hukum Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Terhadap Eksistensi Masyarakat Adat. Kompilasi Pemikiran Tentang Dinamika
Hukum Dalam Masyarakat (Memperingati Dies Natalis ke -50 Universitas Pattimura
Tahun 2013).

118

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Lampiran 119

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


LAMPIRAN 1.
TIMELINE GARIS BESAR RIWAYAT TANAH DAN
KONFLIK DI PT PERKEBUNAN NEGARA

PTPN VIII/DAYEUHMANGGUNG (KAB. GARUT)

Tukar menukar dengan


tanah negara bekas Terbit SK HGU Perpanjangan HGU Puncak Konflik
kawasan hutan

1976 1985 2008 2012

PTPN III/PAYABAGAS/KEBUN RAMBUTAN (KAB. SERDANG BEDAGAI)

Nasionalisasi, dikelola Terbit SK HGU Terbit Sertipikat HGU Konflik (Reclaiming)


PN Perkebunan

1968 1995 1996 1999

PTPN II (KAB. LANGKAT)

Nasionalisasi Dikelola PTPN II Konflik (Tuntutan


berdasarkan SK (dahulu PTPN IX) Perpanjangan HGU garapan dari
Mendagri masyarakat)

1951 1951 1997 1997 s.d era reformasi

PTPN VII/BERINGIN (KAB. MUARA ENIM)

Program Penyelesaian melalui


Tanah negara bebas, pengembangan kebun Konflik (masyarakat non litigasi (Mediasi
proyek PIRSUS PTP dengan pola ganti menuntut ganti rugi) menghasilkan
rugi kesepakatan)

1983 1997 2000 2002

PTPN VII/TANGKIT SERDANG (KAB. TANGGAMUS)

Erpacht, habis masa Nasionalisasi Terbit HGU (berakhir Perpanjangan HGU


pendaftarannya 2005)

120
1973 1975 1981 2004

PTPN XII/KALISANEN (KAB. JEMBER)

Tanah bekas erpacht Sebagian di redis Sebagian di redis terbit SK HGU

- 1981 1982 1986

Sumber: Pengolahan Data Puslitbang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN 2015

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Mediasi melibatkan Kesepakatan
KOMNASHAM

2013 s.d 2014 2014

Penyelesaian melalui Penyelesaian melalui


litigasi Non litigasi

2001 s.d 2010 2012

Penyelesaian melalui
non litigasi
(Panitia B plus)

2000 s.d sekarang

Penyelesaian melalui
Konflik lagi (klaim dari non litigasi (Mediasi Terbit SK HGU dan Sebagian masyarakat
masyarakat) menghasilkan Sertipikat HGU ada yang tidak sepakat
kesepakatan)

2012 2012 2015 2015

Potensi Konflik,
klaim dari pihak yang
mengatasnamakan
masyarakat adat

2015
121

Konflik, sebagian lahan Penyelesaian melalui


SK HGU batal karena PTP melakukan diduduki dan digarap jalur non litigasi
tidak di daftar replanting masyarakat menghasilkan
kesepakatan

- 1998 1998 1999 s.d 2010

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


LAMPIRAN 2.
TIMELINE GARIS BESAR RIWAYAT TANAH DAN
KONFLIK DI PT PERKEBUNAN MILIK SWASTA

PT. SAM (KAB. GARUT)

Dirampas negara, HGU perorangan Masyarakat Terbit sertipikat


dilelang, konversi berakhir, penggarap HGU (berakhir
Erpacht berakhir jadi HGU tidak dapat Pelepasan hak mengajukan hak nya tahun
perorangan memperpanjang permohonan HM 2011)
diatas tanah tsb

1965 1972 1980 1984 1985 1986

PT. TUTU KEKAL (KAB. SUKABUMI)


Konflik,
pembaruan
bekas Erpacht HGU tidak
kembali menjadi Permohonan Terbit HGU HGU berakhir Pembaruan HGU dapat diproses
HGU karena sebagian
tanah negara tanah diduduki
dan digarap
masyarakat
1968 1968 1968 1998 2009 2009

PT. BRIDGESTONE (KAB. SERDANG BEDAGAI)

Terbit HGU Terbit sertipikat


Consessie Penguasaan (berlaku 30 terbit SK HGU HGU (berakhir Perpanjangan
Pemerintah tahun) hak nya tahun HGU
1997)

1899 1965 1967 1980 1982 1997

PT. ARTA PRIGEL (KAB. LAHAT)

Penyelesaian Penyelesaian
Izin prinsip Pembaruan izin Konflik, klaim melalui non melalui
pencadangan prinsip dari masyarakat litigasi, dilakukan Terbit izin lokasi non litigasi
tanah dari Bupati penelitian (melibatkan
lapangan Komisi II DPR)

1993 1998 1998 1998 1999 2001

PT. MSK (KAB. KUTAI KARTANEGARA)

Konflik, sebagian Penyelesaian


Perpanjangan Terbit sertipikat HGU terbit diatas melalui jalur non
Tanah negara izin lokasi HGU HM dan garapan litigasi (mediasi
masyarakat dan pengecekan
lapangan)

122 - 2007 2009 (2009 - 2014) 2014

PT. DKR (KAB. LAMPUNG SELATAN)

Proses Terbit AJB diatas Terbit Sertipikat


Permohonan Diberikan ijin pembayaran sebagian tanah Penarikan AJB HGU (berakhir
Perolehan Tanah usaha sementara ganti rugi yang telah tsb oleh camat hak nya tahun
diganti rugi 2007)

1970 1970 1975 s.d 1977 1979 1981 1983

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Penyelesaian
melalui jalur non Tanah terindikasi Ditetapkan
Konflik litigasi (Tim yang terlantar menjadi tanah
dibentuk oleh terlantar
Bupati Garut)

- 1987 2010 2011

Terbit SHM
Penyelesaian diatas sebagian Penyelesaian
melalui jalur non tanah tsb melalui melalui jalur
litigasi, dilakukan PRONA, atas non litigasi,
pengukuran dasar surat menghasilkan
kadastral rekomendasi kesepakatan
Bupati
2010 2012 -

Penyelesaian
Konflik, klaim melalui jalur non
dari masyarakat litigasi, mediasi,
atas sebagian pengukuran
tanah ulang (belum
menghasilkan
kesepakatan
- 2012 s.d sekarang

Disarankan
penyelesaian
Terbit SK HGU untuk
menempuh jalur
litigasi

2006 2007

123

Terbit lagi AJB Terbit SHM


Perpanjangan atas tanah yang (melalui Konflik, tumpang Penyelesaian
HGU AJB nya pernah Ajudikasi) atas tindih SHM melalui jalur non
ditarik kembali AJB tsb diatas HGU litigasi (mediasi)
tsb

2006 2007 2008 2015 2015

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


PT. PSMI (KAB. WAY KANAN)
Konflik, sebagian
areal HGU Terjadi Poin-poin
dimiliki oleh kesepakatan
Permohonan masyarakat antara Terbit sertipikat kesepakatan
HGU Terbit SK HGU secara turun perusahaan HGU tidak
temurun dilaksanakan
(dibuktikan dengan oleh perusahaan
dengan surat2 masyarakat
tahun 1983)
2001 2001 2001 2001 2002 2002

PT. KEMAKMURAN SWARUBULUROTO (KAB. BLITAR)

Terbit surat dari Dikuasai


Bekas Erpacht Terbit AJB atas Kejaksaan intinya Pemda dan Terbit HGU
habis hak nya tanah tersebut Disitia kejaksaan lepas sita tanah pengelolaanya (berakhir hak nya
tersebut diserahkan tahun 1997)
kepada swasta

1959, 1960 1960 1964 1969 1971 1975

Sumber: Pengolahan Data Puslitbang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN 2015

124

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Penyelesaian Konflik, karena
melalui litigasi eksekusi Penyelesaian
menghasilkan pengosongan melalui jalur
ketetapan yang lahan hanya non litigasi,
sudah inkraht dilakukan secara menghasilkan
dimenangkan oleh simbolis rekomendasi
pihak masyarakat
2004 2007 2015

Terbit surat dari Konflik, Untuk tanah


kejaksaan intinya Terbit Sertipikat masyarakat yang telah
mencabut surat Hak Tanggungan HGU berakhir Lepas dari sita mengajukan dikuasai
kejaksaan tahun atas sertipikat oleh kejaksaan permohonan masyarakat akan
1969 HGU tsb HM atas tanah diredistribusi
tersebut
1986 1996 1997 2007 2008 2009

Redistribusi Terbit sertipikat


belum HGU, diluar
terlaksana, tanah yang
sertipikat asli dikuasai
tidak dipegang masyarakat
oleh subyek hak
2015 2010

125

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


LAMPIRAN 3.
REKAPITULASI POLA KONFLIK DI PERKEBUNAN
MILIK NEGARA DAN SWASTA DENGAN MASYARAKAT

Lokasi

Perusahaan

No.
Provinsi Kabupaten
PTPN Swasta

1 Jawa Barat Garut PTPN VIII/Dayeuhmanggung PT. SAM

Sukabumi PT. Tutu Kekal

2 Sumatera Utara Serdang PTPN III/Payabagas PT. Bridgestone


Bedagai
Langkat PTPN II

3 Sumatera Selatan Muara Enim PTPN VII/Beringin

Lahat PT. Arta Prigel

4 Kalimantan Timur Kutai PT. Malaya Sawit


Kartanegara Khatulistiwa
Paser PTPN XIII/Pasir Blengkong

5 Lampung Lampung PT. DKR


Selatan
Way Kanan PT. PSMI

Tanggamus PTPN VII/Tangkit Serdang

6 Jawa Timur Jember PTPN XII/Kalisanen

Blitar PT. Kemakmuran


Swarubuluroto

Sumber: Pengolahan Data Puslitbang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN 2015

126

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
Riwayat Tanah Permasalahan Pemecahan Masalah

PTPN Swasta PTPN Swasta PTPN Swasta

Keterangan
Tanah Bekas

Tanah Bekas

Non Litigasi

Non Litigasi
Reclaming

Reclaming
Hak Barat

Hak Barat

Tumpang

Tumpang
Okupasi

Okupasi

Litigasi

Litigasi
Negara

Negara
Tanah

Tanah

tindih

tindih

-
█ █ █ █ █ █

-
█ █ █ █

-
█ █ █ █ █ █ █ █

-
█ █ █ █

-
█ █ █

-
█ █ █ █

-
█ █ █

sengketa dengan -
█ -
satu orang
-
█ █ █

-
█ █ █ █

Potensi
█ █ Konflik
-
█ █ █ █

-
█ █ █

127

PENELITIAN POLA-POLA KONFLIK PERTANAHAN DI WILAYAH PERKEBUNAN


Peneliti Madya/Koordinator
Muda/Koordinator
Dra.
INDRIAYATI
RATNA DJUITA
Penulis buku
Indriayati merupakan
ini [Link]
penelitiDjuita,
muda didilahirkan
Puslitbang-BPN
di Lahat
RI.
tanggal 5 April 1952 dan sejak tahun 1955 pindah
Pendidikan S1 diselesaikan dari Sekolah Tinggi Pertanahan lagi
ke Palembang
Nasional (STPN)ibu kota Provinsi
Yogyakarta Sumatera
pada tahun 2001Selatan dan
dan meraih
berturut-turut bersekolah dari Taman kanak kanak
master dalam bidang Administrasi Publik dari STIA-LAN
sampai dengan menamatkan SMA di SMA Negeri II Kota
Palembang. Kemudian melanjutkan Jakarta
kuliahtahun 2011. di
ke Surabaya Beberapa
Akademipenelitian
Ajun AkuntanyangSurabaya
pernah
(A3S), kemudian ditindak lanjuti dilaksanakan diantaranya,
kuliah di Sekolah pengembangan
Tinggi Administrasi NegaraSDM dalam
Lembaga
Administrasi Negara (STIA LAN-RI) mendukung
di Jakarta jurusan
pelayanan
Administrasi
pertanahan
Negara.(2009), penataan
kebijakan pertanahan di kawasan bekas pertambangan
Sejak tahun 1978 sampai dengan 1980 bekerja
(2010), di Klinik
model Hukumreform
access Persatuan Advokad
dan Indonesia
pemberdayaan
(PERADIN) (Persatuan Advokat, dan pada tahun 1981 sampai dengan 1985 bergabung di
masyarakat di wilayah perkebunan (2011), pelimpahan
Perusahaan Swasta yang bergerak dibidang Perumahan dan Jasa. Pada tahun 1986 masuk
Pegawai Negeri Sipil dan bekerja dikewenangan di BPN
Pusat Penelitian (2012) dan peluang
dan Pengembangan Badanpeningkatan
Pembinaan
Pendidikan Pelaksanaan Pedoman optimalisasi
Penghayatan Dan penggunaan
Pengamalan CORS dalam
Pancasila mendukung
(Puslitbang BP-7
Pusat) dan juga lulus sebagai Penatar
pelayanan
Tingkat pertanahan
Nasional. (2013).

Sejak peristiwa politik tahun 1998 BP-7 dibubarkan, kemudian bergabung pada Badan
Pertanahan Nasional (BPN) sejak Juli 1999 yang kemudian berubah dengan nama
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional di Unit Pusat Penelitian
dan Pengembangan sebagai Peneliti Madya bidang pertanahan.

Penulis sudah memimpin dan melaksanakan penelitian baik di BP-7 Pusat dan di Kementerian
Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.

Pembantu Peneliti

ROMI
ASEP DINDIN
NUGROHO,
HAERUDIN,
[Link] ST YUDHA PURBAWA,
ROMI NUGROHO,
SP [Link] SURYALITA, [Link]

Common questions

Didukung oleh AI

Adat laws play a crucial role in contemporary land tenure conflicts in Indonesia by providing a cultural and historical basis for land claims outside the formal legal system. Even though adat rights are not always formally recognized, they influence negotiations and the legitimacy of claims in disputes involving plantations. For instance, customary (ulayat) land rights are often cited by communities in claims against lands allocated under HGU titles, resulting in the need for these rights to be acknowledged during conflict resolutions . Recognizing adat laws requires balancing local cultural rights with national legal frameworks, a challenge that is yet to be systematically addressed .

The Indonesian legal framework addresses conflicts concerning plantation land disputes through both non-litigation and litigation methods. Non-litigation methods, such as mediation, are encouraged to reconcile differences between communities and estate holders, often involving local governments and stakeholders like PT Bridgestone which agreed to a reevaluation of land boundaries . Litigation is pursued when mediation fails, as in the case of village lands being contested by PT Pemuka Sakti Manis, which ended with a court victory for the community and an order for the company to adjust its holdings . Despite these legal measures, enforcement and implementation challenges remain significant due to overlapping jurisdictions and incomplete adherence to legal procedures .

Mediation in resolving plantation-related land disputes in Indonesia is moderately effective. It allows for the involvement of local stakeholders and the government, providing a less adversarial space for negotiation and settlement. Cases like the mediation between PT Kismo Handayani and local villagers show some success in agreement terms . However, mediation often falters due to entrenched positions and the lack of legal enforcement following settlements, leading to unresolved tensions or necessitating further legal action . Thus, while it is a valuable conflict-resolution tool, especially in initial dispute stages, its effectiveness is limited without strong legal and institutional backing to enforce outcomes .

Unresolved land disputes in plantation areas have significant negative implications on both social and economic stability. Socially, they often lead to heightened tensions and conflicts among community members and between communities and plantation companies, leading to social unrest or displacement . Economically, when disputes remain unresolved, there is a decrease in agricultural productivity and investment in these areas due to uncertainty and risk, which can lead to reduced local income, heightened poverty, and lack of access to essential resources . Ongoing disputes also deter potential investors from engaging in these sectors, impacting economic growth both locally and nationally .

To improve the resolution of land conflicts in Indonesian plantation areas, policies should focus on strengthening the recognition and integration of adat (traditional) land rights into the formal legal system. This could involve enhancing the land registration process to include traditionally held lands with verifiable use histories . Increasing transparency and public involvement in land use planning and decision-making processes can also help ensure diverse stakeholder interests are considered. Further, improvements in the institutional capacity of land management authorities and mediators, alongside rigorous enforcement of legal decisions, are critical to effectively resolving and preventing conflicts proactively .

Legal reforms in land tenure and management in Indonesia have made strides in addressing the rights of indigenous communities, but often fall short in practical implementation. Reforms acknowledge the significance of traditional lands and the necessity to protect these rights, as seen in legal frameworks such as the Basic Agrarian Law and specific ministerial regulations for laying out provisions for communal land rights . However, the application of these laws is inconsistent, with many indigenous lands still inadequately mapped and recognized. Bureaucratic challenges and the enforcement gap further limit the protection of indigenous rights as reforms often fail to displace existing HGU claims that conflict with traditional lands .

Indonesian authorities face several legal and administrative challenges in managing plantation land conflicts. Challenges include overlapping land titling and jurisdictional ambiguities between national and local governments, which complicate clear land ownership identification . Enforcement of legal resolutions is another hurdle, as court decisions or mediation outcomes often lack practical implementation due to local resistance or insufficient government intervention. Administrative inefficiencies and corruption also impede timely and fair resolution processes, affecting transparency and accountability in land conflict management . These ongoing issues necessitate comprehensive legal reform and improved coordination between governmental bodies .

The primary historical reasons for conflicts related to land ownership and use in plantation areas in Indonesia include the nationalization of land previously owned by Dutch enterprises under the Agrarian Reform Postal Law of 1958 and Government Regulation No. 9 of 1959, which led to disputes over compensation and recognition of traditional and legal land rights. Further exacerbating these conflicts are the conversions of Western land rights, such as Hak Erpacht, into Indonesian land use permits (HGU), and issues related to lands previously under customary (ulayat) law, which were often not legally documented but culturally recognized by local communities .

The conversion of Western land rights, such as Hak Erpacht, into Indonesian rights, primarily Hak Guna Usaha (HGU), has significantly contributed to conflicts over plantation lands. This process often disregarded existing local claims and customary rights that were not formalized under colonial administration. As these Western rights transformed into legal frameworks that prioritized state and commercial land use under the HGU system, it frequently led to disputes with communities who had traditional use or occupancy rights. These unresolved conversions are at the core of many land conflicts, necessitating legal interventions to reconcile statutory rights with historical claims .

Historical land agreements made during Dutch rule continue to impact land disputes due to their foundational role in establishing initial property rights and the complicated transition to Indonesian land governance frameworks. These agreements, often converted into Hak Erpacht and later into HGU after nationalization, set a precedent for ownership claims that overlap with traditional and local uses of the land. The lack of reconciliation between the legality of these agreements and local customary rights frequently leads to conflicts, requiring mediation or legal intervention to address overlapping claims .

Anda mungkin juga menyukai