TUGAS 8
SA-6021 ANALISIS SISTEM DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
DECISION SUPPORT SYSTEM
Dosen Pengampu:
Dr. Dhemi Harlan, S.T., M.T., [Link].
Dr. Ir. M. Cahyono.
Faizal I. W. Rohmat, S.T., M.T., Ph.D.
Oleh:
Adhitya Gilang Irawanto
25820013
PROGRAM STUDI MAGISTER PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
NOVEMBER 2020
Judul Paper : Aplikasi “SSOP BANTAL” Berbasis DAS untuk Penanggulangan Banjir dan
Tanah Longsor
Penulis : Harry Santoso
Tanggal Publikasi : Juni 2012
Indonesia merupakan negara dengan jumlah dan variasi bencana terbanyak di dunia. Dari mulai
gempa bumi, tsunami, gunung berapi, puting beliung, banjir, tanah longsor dan banjir bandang.
Menurut BNPB, kejadian letusan gunung berapi adalah kejadian bencana yang paling banyak
menimbulkan korban dan kerugian material, tetapi bencana banjir dan tanah longsor juga
menyebabkan kerugian baik jiwa maupun harta benda yang tidak sedikit. Hal ini salah satunya
disebabkan karena ketidaksiapan pemerintah daerah dalam mengantisipasi kejadian bencana banjir
dan tanah longsor. Ketidaksiapan tersebut terjadi karena kurang atau tidak adanya informasi
mengenai lokasi yang rawan dan waktu perkiraan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor
tersebut. Untuk mempercepat kemampuan BPDAS menganalisa lokasi rawan bencana banjir dan
tanah longsor, maka Ditjen BPDASPS mengembangkan suatu aplikasi yang disebut Sistem
Standar Operasi Prosedur Banjir dan Tanah Longsor (SSOP Bantal). Adanya aplikasi ini
diharapkan akan menjadi alat bantu dalam pengambilan keputusan (DSS) terkait penentuan lokasi
rawan bencana banjir dan tanah longsor.
1. Manajemen Data
Data-data yang diperlukan adalah data-data karakteristik DAS yang dapat diperoleh dari data-
data statistik yang sudah ada ataupun dengan pengukuran-pengukuran terhadap parameter
DAS secara sederhana.
Tabel 1. Data-data yang diperlukan
No Data Analisis
1 Bentuk DAS Analisis
2 Luas DAS Tipologi
3 Kemiringan Lereng DAS DAS
4 Endapan sedimen di sungai
5 Baseflow di musim
kemarau
6 Luapan air di hilir pada
musim penghujan
7 Longsor di hulu
8 Alur erosi/root exposure
9 Persentase lahan terbuka
non budidaya
10 Pertanian tanaman
semusim di hulu
11 Torehan limpasan Analisis
permukaan Kekritisan
12 Warna air sungai saat DAS
banjir
13 Nilai indeks koefisien
limpasan sesaat
14 Nilai indeks debit
maksimum dibagi debit
minimum
15 Nilai indeks debit
minimum dibagi debit rata-
rata
16 Nilai indeks debit
maksimum dibagi luas
DAS
Data-data di atas selanjutnya akan dibandingkan dengan parameter-parameter yang mengacu
kepada semua pedoman dan petunjuk teknis yang dihasilkan oleh Direktorat Jenderal Bina
Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial dan juga Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan Kementerian Kehutanan.
Tabel 2. Penentuan lahan kritis dalam Kawasan lindung
Tabel 3. Penentuan arahan fungsi
Tabel 4. Karakteristik DAS penentuan wilayah rawan banjir
Tabel 5. Karakteristik DAS penentuan wilayah rawan longsor
2. Display/GUI
Gambar 1. Tampilan jendela awal aplikasi
Pada aplikasi SSOP BANTAL ini terdapat beberapa menu diantaranya Tipologi, Kekritisan,
SIMDAS, Manajemen, dan EWS-Banjir. Menu-menu pada aplikasi ini memiliki user interface
yang mudah dipahami dan dioperasikan oleh pengguna. BPDAS sebagai pengguna tidak akan
kesulitan dalam mengoperasikan aplikasi ini. Contoh tampilan dari beberapa menu dalam
aplikasi ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 2. Form menu tipologi DAS
Gambar 3. Form menu kekritisan DAS
3. Analisis Permasalahan dan Pemodelan
Pemodelan menggunakan metode Analisis Pohon Keputusan (decision tree), yaitu metode
yang menggambarkan pemodelan dari suatu persoalan yang terdiri dari serangkaian keputusan
yang mengarah pada solusi. Salah satu cara melakukan analisis dalam pengambilan keputusan
melalui pendekatan statistik dalam kondisi uncertainly.
Metoda ini pada dasarnya merupakan:
a. Skema atau rangkaian keadaan dan kemungkinan hasilnya (probability outcomes)
b. Cara untuk menyederhanakan dan memecahkan pengambilan keputusan yang rumit
dan kompleks.
c. Analisis dari serangkaian pengambilan keputusan yang saling berkaitan antara satu
dengan yang lainnya.
d. Menggambarkan opsi keputusan yang harus diambil berikut kemungkinan-
kemungkinan terjadi.
e. Cabang-cabang yang mengarah ke kanan dan ke kiri dari sebuah cabang keputusan
merepresentasikan kumpulan dari alternatif keputusan yang bisa diambil.
3.1. Menu Tipologi DAS
Menu ini digunakan untuk mengetahui jenis tipologi DAS dan deskripsi tipologi DAS
tersebut. Deskripsi tipologi DAS disini menunjukkan prediksi waktu datangnya banjir dari
puncak hujan, dan tingkat kewaspadaan terhadap longsor. Pengguna hanya cukup
melakukan input data bentuk DAS, luas DAS, dan kemiringan lereng DAS.
Gambar 4. Form menu tipologi DAS
[Link] Kekritisan DAS
Pada menu ini pengguna dapat melakukan input data nama DAS, serta parameter-
parameter kekritisan DAS seperti jarak ditemukannya endapan sedimen di lembah sungai,
baseflow di musim kemarau, luapan air di daerah hilir pada musim hujan, dan lain-lain
seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Setelah melakukan input data, maka aplikasi akan
otomatis mengkalkulasi data yang diinput dan dibandingkan dengan parameter-parameter
kekritisan DAS. Output dari menu ini adalah Tingkat Kekritisan DAS yang dapat dilihat
pada Gambar 6.
Gambar 5. Form isian kekritisan DAS
Gambar 5. Form kesimpulan kekritisan DAS
[Link] SIMDAS
Identifikasi kerusakan DAS secara lebih detil dalam bentuk analisis spasial dilakukan
melalui menu SIMDAS. Untuk menjalankan program SIMDAS diperlukan perangkat
lunak ArcView. Hal ini disebabkan karena perangkat lunak SIMDAS dibuat dalam
lingkungan ArcView dan menggunakan Bahasa pemrograman avenue.
Tampilan jendela utama SIMDAS dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Jendela utama SIMDAS
Fungsi-fungsi pada SIMDAS adalah:
a. Data Grafis, berguna untuk menampilkan tema peta tertentu.
b. Data Atribut, berguna untuk menampilkan data atribut dari masing-masing data
grafis dalam bentuk tabel.
c. Editing Data, terbatas pada editing data atribut. Ada dua fasilitas editing yang
disediakan, yaitu editing data atribut pada peta yang muncul di jendela view dan
memasukkan data titik dari tabel format *.dbf menjadi sebuah peta titik.
d. Pemodelan, fasilitas yang disediakan antara lain: pemodelan monitoring
penggunaan lahan, pemodelan erosi, longsor, koefisien aliran, arahan fungsi
penggunaan lahan, dan lahan kritis, seperti terlihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Jendela pemodelan, monitoring, penggunaan lahan, dll
e. Penelusuran data, merupakan fasilitas tambahan pada SIMDAS untuk mengetahui
morfometri DAS, mengetahui lokasi lahan pada DAS yang kritis, dan untuk
mengetahui lokasi pada DAS yang tererosi, seperti terlihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Contoh penelusuran data yang dilakukan pada SIMDAS
[Link] Manajemen
Manajemen DAS ini pada dasarnya memanfaatkan input dari hasil identifikasi kekritisan
DAS. Manajemen diterapkan pada tingkat satuan lahan, yaitu dengan menerapkan Teknik-
teknik konservasi yang dipandang sesuai. Pada Langkah pertama, menu manajemen
menerima masukan berupa informasi tentang satuan lahan dalam DAS yang dipandang
bermasalah.
Selanjutnya pada Langkah kedua, system memperoleh masukan untuk dapat menentukan
apakah masalah yang muncul pada satuan lahan tersebut berupa bencana erosi dan longsor,
atau berupa banjir. Berdasarkan Langkah kedua ini, maka sistem menawarkan Langkah
ketiga berupa alternatif manajemen berbasis satuan lahan dalam bentuk opsi-opsi
konservasi, baik mekanik maupun vegetatif.
Gambar 9. Jendela form Manajemen DAS
[Link] EWS-Banjir
Data yang digunakan untuk EWS-Banjir adalah database telemetri yang diambil dengan
menggunakan program TableGrabber. Kemudian database disusun dalam format data mdb
menggunakan program Projex Measurement Information System. EWS-Banjir akan
mengambil data Curah Hujan dan TMA yang digunakan untuk menentukan status banjir.
Gambar 10. Tampilan setting EWS-Banjir
SSOP BANTAL merupakan aplikasi yang sangat berguna dalam dan membantu dalam
pengambilan keputusan secara cepat dan tepat lokasi rawan banjir dan tanah longsor.
Aplikasi ini juga dapat memberikan solusi arahan manajemen pengelolaan wilayah rawan
bencana tersebut, sehingga pemerintah daerah setempat dapat melakukan pengambilan
keputusan yang tepat terkait penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor.