0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan90 halaman

Merokok dan Hipertensi pada Lansia Laki-Laki

Skripsi ini membahas hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di Desa Adow, Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi. Metode penelitian menggunakan pengambilan sampel total sebanyak 37 responden. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipert

Diunggah oleh

HartoUmbas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan90 halaman

Merokok dan Hipertensi pada Lansia Laki-Laki

Skripsi ini membahas hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di Desa Adow, Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi. Metode penelitian menggunakan pengambilan sampel total sebanyak 37 responden. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipert

Diunggah oleh

HartoUmbas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN

HIPERTENSI PADA LANSIA LAKI-LAKI DI DESA

ADOW KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

OLEH :

ROSMINA MAMONTO
NIM. 01707010026

INSTITUT KESEHATAN DAN TEKNOLOGI GRAHA MEDIKA

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

KOTA KOTAMOBAGU

2021
PERNYATAAN KEASLIAN

Saya,yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Rosmina Mamonto

NIM : 01707010026

Program studi : Ilmu Keperawatan

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah benar merupakan hasil karya sendiri

dan sepanjang pengetahuan dan keyakinan saya tidak mencantumkan tanpa

pengakuan bahan-bahan yang telah dipublikasikan sebelumnya atau ditulis oleh

orang lain, atau sebagian bahan yang pernah diajukan untuk gelar atau ijasah pada

IKT Graha Medika atau perguruan tinggi lainnya.

Apabila pada masa yang akan dating diketahui bahwa pernyataan ini tidak

benar adanya, saya bersedia menerima sanksi yang diberikan dengan segala

konsekuensinya. Demikian pemyataan ini saya buat dengan sebenar benarnya.

Kotamobagu, Juni 2021

Rosmina Mamonto

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

SKRIPSI

HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN

HIPERTENSI PADA LANSIA LAKI-LAKI DI DESA

ADOW KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

Oleh:

ROSMINA MAMONTO
NIM. 01707010026

SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI


TANGGAL, Februari 2021

Oleh:

Pembimbing Ketua

DR. Henny Kaseger.,[Link].,Ns.,[Link]


NIDK. 8894280018

Pembimbing II

Ns. Widya Astuti.,[Link]


NIK. 093180.01.2017.069

Menyetujui,
Ketua Program Studi S1 Keperawatan

Ns. Widya Astuti.,[Link]


NIK. 093180.01.2017.069
HALAMAN PENGGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh :


Nama : Rosmina Mamonto
NIM : 01707010026
Program Studi : S1 Keperawatan
Judul Skripsi : Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian Hipertensi
Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang
Mongondow
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Tim Penguji dan diterima sebagai bagian
persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan pada
Program Studi S1 Keperawatan Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika

TIM PENGUJI

1. Heriyana Amir., [Link].., [Link] (….………………………)


(Penguji 1)
2. Ns. Suci Rahayu Ningsih, [Link]., [Link] (…………………………..)
(Penguji II)
3. Dr. Henny Kaseger., [Link]., Ns., [Link] (……………………...…...)
(Penguji III)

Ditetapkan di : Kotamobagu
Tanggal : Juli 2021

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena

atas segala limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan Skripsi ini tepat pada waktunya, yang berjudul

“Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Laki-laki

Di Desa Adow Kabupaten Bolaang Mongondow”.

Dalam penyusunan Skripsi ini penulis menemui beberapa kesulitan dan

hambatan, namun berkat bimbingan, dukungan, arahan, serta bantuan dan doa dari

berbagai pihak sehingga Skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu pada

kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada :

1. Ibu Dr. Henny Kasenger, [Link]., Ns., [Link]., Selaku Ketua Yayasan

Pendidikan Bogani Bolaang Mongondow dan juga Dosen Pembimbing I yang

selama ini telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan

arahan, motivasi dan saran kepada penulis hingga dapat menyelesaikan

penyusunan Skripsi ini.

2. Ibu Ns. Heryana Amir, [Link]., [Link]., Selaku Rektor Institut Kesehatan dan

Teknologi Graha Medika Kotamobagu.

3. Ibu Ns. Siti Soleman, [Link]., [Link]., Selaku Wakil Rektor I. Bidang

Akademik Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu.

4. Bapak Marten Kaseger, SE.,MM., Selaku Wakil Rektor II. Bidang Keuangan

Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu.

i
5. Bapak Ns. Echa Effendy S. Amir, [Link]., Selaku Wakil Ketua III. Bidang

Kemahasiswaan Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika

Kotamobagu.

6. Bapak Ns. Fernando M. Mongkau, [Link].,[Link]. Selaku Wakil Rektor IV

Bidang Kerjasama Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika

Kotamobagu

7. Bapak Hairil Akbar, [Link].,M.;Epid Selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan

Institut Kesehatan Dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu.

8. Ibu Ns. Widya Astuti, [Link]., Selaku Ketua Program Studi S1-Ilmu

Keperawatan Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu

dan juga sebagai Dosen Pembimbing II yang selama ini telah meluangkan

waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan arahan, motivasi dan saran

kepada penulis hingga dapat menyelesaikan penyusunan Skripsi ini.

9. Seluruh Dosen dan staf pengawai Institut Kesehatan dan Teknologi Graha

Medika Kotamobagu, khususnya Program Studi S1-Ilmu Keperawatan, yang

telah banyak membantu selama proses perkuliahan hingga penyusunan Skripsi

ini.

10. Sangadi desa adow kabupaten bolaang mongondow serta segenap staf yang

telah memberikan izin dalam melakukan pengambilan data awal yang penulis

butuhkan dalam peyusunan Skripsi ini.

11. Terima kasih kepada Mama dan Papa, serta semua keluarga besar tercinta

yang selama ini telah memberikan doa, semangat dan dukungan baik moril

ii
maupun materi, nasehat serta motivasi kepada penulis dari awal proses

perkuliahan sampai pada tahap penyusunan Skripsi ini terselesaikan.

12. Terima kasih kepada teman-teman mahasiswa/mahasiswi Institut Kesehatan

dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu angkatan 2018 khususnya program

studi S1 Keperawatan yang telah sama-sama berjuang dan saling membantu

selama menempuh pendidikan sampai dalam penyusunan tugas akhir ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berkenan

membalas segala kebaikan dari semua pihak yang telah membantu yang tidak

dapat penulis sebut satu persatu. Namun penulis juga menyadari bahwa dalam

penyusunan Skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu kritik dan

saran yang konstruktif masih sangat diharapkan demi perbaikan penyusunan

Skripsi ini selanjutnya. Semoga Skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi

semua pihak dalam pengembangan ilmu khususnya profesi keperawatan.

Kotamobagu, Juni 2021

Rosmina Mamonto

iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Identitas Pribadi

Nama : Rosmina Mamonto

Nim : 01707010026

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat/Tanggal Lahir : Torosik, 10 September 1997

Suku/Bangsa : Mongondow/Indonesia

Agama : Islam

Alamat : Torosik

II. Riwayat Pendidikan

1. Tahun 2005 – 2010 : SDN 1 Torosik

2. Tahun 2011 – 2013 : SMP Negeri 2 Pinolosian

3. Tahun 2014 – 2016 : SMK Lpmd Adow

4. Tahun 2017 – Sekarang : Institut Kesehatan dan Teknologi Graha

Medika Kotamobagu.

iv
MOTTO

Jawaban dari Sebuah Keberhasilan Adalah antara Cita-Cita dan Pencaoaiannya.

Jhon Ron.

v
ABSTRAK

Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu


Program Studi S1 Keperawatan
Skripsi, Juli 2021
Rosmina Mamonto,
HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN
HIPERTENSI PADA LANSIA LAKI-LAKI DI DESA ADOW
KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW
Pembimbing I : Dr. Henny Kaseger, [Link].,Ns.,[Link]
Pembimbing II : Ns. Widya Astuti, [Link]
Latar Belakang : Data World Health Organization (WHO) tahun 2015
menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi, artinya 1
dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penderita hipertensi di dunia
terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5
miliar orang yang mengalami hipertensi dan diperkirakan setiap tahunnya 10,44
juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya (Kemenkes RI, 2019).
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku
merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten
bolaang mongondow.
Jenis penelitian : Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik yaitu
menggambarkan hubungan variabel independen dan variabel dependen dan
menganalisa hubungan variabel-variabel yang diteliti. Waktu penelitian
dilaksanakan pada bulan mei - juni tahun 2021. Metode pengambilan sampel yang
digunakan pada penelitian adalah total sampling dengan 37 sampel.
Hasil Penelitian : Hubungan perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada
laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow hasil uji statistik chi-
square p < 0,05 di dapat p value = 0,00.
Kesimpulan dan Saran : Ada Hubungan perilaku merokok dengan kejadian
hipertensi pada laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi lansia khususnya
lansia laki-laki dan desa adow untuk meningkatkan derajat kesehatan khususnya
bagi lansia yang menderita hipertensi.

Kata Kunci : Perilaku Merokok dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia


Laki-laki

vi
ABSTRACT

Graha Medika Kotamobagu Institute Of Health and Technology


Nursing S1 Study Program
Study, July 2021
Rosmina Mamonto,
THE RELATIONSHIP OF SMOKING BEHAVIOR WITH THE EVENT
OF HYPERTENSION IN ELDERLY MEN IN ADOW VILLAGE,
BOLAANG MONGONDOW REGENCY.
Advisor I : Dr. Henny Kaseger, [Link].,Ns.,[Link]
Advisor II : Ns. Widya Astuti, [Link]
Background : Data from the World Health Organization (WHO) in 2015 showed
that around 1.13 billion people in the world suffer from hypertension, meaning
that 1 in 3 people in the world is diagnosed with hypertension. The number of
people with hypertension in the world continues to increase every year, it is
estimated that in 2025 there will be 1.5 billion people with hypertension and it is
estimated that every year 10.44 million people die from hypertension and its
complications (Kemenkes RI, 2019).
Objective : This study aims to determine the relationship between smoking
behavior and the incidence of hypertension in elderly men in Adow Village,
Bolaang Mongondow Regency.
Type of research : This type of research is descriptive analytic which describes
the relationship between the independent variable and the dependent variable and
analyzes the relationship between the variables studied. The time of the study was
carried out in May - June 2021. The sampling method used in the study was total
sampling with 37 samples.
Research Results : The relationship between smoking behavior and the incidence
of hypertension in men in Adow Village, Bolaang Mongondow Regency, the
results of the chi-square statistical test p < 0.05, p value = 0.00.
Conclusions and Suggestions : There is a relationship between smoking behavior
and the incidence of hypertension in men in Adow Village, Bolaang Mongondow
Regency. It is hoped that this research can be used as input for the elderly,
especially elderly men and adow villages to improve health status, especially for
the elderly who suffer from hypertension.

Keywords : Smoking Behavior with Hypertension Incidence in Male Elderly

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN

HALAMAN SAMPUL

HALAMAN PERSETUJUAN

KATA PENGANTAR.......................................................................................i

MOTTO.............................................................................................................v

ABSTRAK.........................................................................................................vi

DAFTAR ISI......................................................................................................viii

DAFTAR TABEL..............................................................................................xi

DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................xii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang....................................................................................1
1.2. Rumusan masalah...............................................................................6
1.3. Tujuan penelitian................................................................................6
1.4. Manfaat Penelitian..............................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Perilaku Merokok...............................................................8
2.1.1. Definisi Perilaku Merokok..................................................8
2.1.2. Jenis-jenis Rokok.................................................................10
2.1.3. Tipe Perilaku Merokok........................................................11

viii
2.2. Konsep Hipertensi...........................................................................15
2.2.1. Definisi Hipertensi...............................................................15
2.2.2. Klasifikasi Hipertensi..........................................................15
2.2.3. Etiologi................................................................................16
2.2.4. Tanda da Gejala...................................................................17
2.2.5. Komplikasi...........................................................................17
2.2.6. Faktor Resiko.......................................................................19
2.2.7. Penatalaksanaan...................................................................22
2.3. Konsep Lansia.................................................................................23
2.3.1. Definsi Lansia......................................................................23
2.3.2. Batasan lansia......................................................................23
2.3.3. Karakteristik Lansia.............................................................24
2.3.4. Tipe Lansia..........................................................................25
2.4. Kerangka Teori...............................................................................26
BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS PENELITIAN, DAN
DEFINISI OPERASIONAL
3.1. Kerangka Konsep...............................................................................27
3.2. Hipotesis Penelitian............................................................................28
3.3. Definisi Operasional...........................................................................29
BAB IV METODE PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian................................................................................30


4.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian.............................................................30
4.3. Populasi Dan Sampel..........................................................................30
4.4. Instrumen Penelitian...........................................................................31
4.5. Pengelolaan Data................................................................................31
4.6. Analisa Data.......................................................................................32
4.7. Prosedur Pengumpulan Data..............................................................33
4.8. Etika Penelitian...................................................................................33
4.9. Alur Penelitian....................................................................................35
BAB V HASIL

ix
5.1 Gambaran Lokasi Penelitian................................................................36
5.2 Hasil Penelitian....................................................................................37
BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Perilaku Merokok..................................................................................42
6.3 Kejadian Hipertensi...............................................................................43
6.3 Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian Hipertensi..................45
BAB VII PENUTUP
7.1 Kesimpulan............................................................................................47
7.2 Saran .....................................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kerangka Teori Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian

Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang

Mongondow...........................................................................................26

Tabel 3.1 Kerangka Konsep Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian

Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang

Mongondow...........................................................................................27

Tabel 3.2 Definisi Operasional : Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian

Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang

Mongondow...........................................................................................29

Tabel 4.1 Alur Penelitian Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian

Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang

Mongondow...........................................................................................36

xi
DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Lampiran Halaman

1. Surat permohonan izin studi pendahuluan di 40


puskesmas adow
2. Surat balasan pengambilan data awal Skripsi di 41
puskesmas adow
3. Surat permohonan izin studi pendahuluan di 42
balai desa adow
4. Surat balasan pengambilan data awal Skripsi di 42
balai desa adow
5. Surat permohonan menjadi responden 43
6. Surat persetujuan menjadi responden 44
7. Lembar observasi penelitian 45
8. Lembar bimbingan akademik 47

xii
xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

World Health Organization ( WHO) pada tahun 2014 terdapat 600

juta penderita hipertensi diseluruh dunia. Prevalensi tertinggi terjadi di

wilayah afrika yaitu sebesar 30%. Prevalensi terendah trdapat wilayah

amerika sebesar 18%. Secara umum, laki-laki memiliki prevalensi

hipertensi lebih tinggi dibanding wanita.

Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian dini pada

masyarakat di dunia dan semakin lama, permasalahan tersebut semakin

meningkat. WHO telah memperkirakan pada tahun 2025 nanti, 1,5 milyar

orang di dunia akan menderita hipertensi tiap tahunnya. Merokok

merupakan masalah yang terus berkembang dan belum dapat ditemukan

solusinya di Indonesia sampai saat ini. Menurut data WHO tahun 2011,

pada tahun 2007 Indonesia menempati posisi ke-5 dengan jumlah perokok

terbanyak di dunia. Merokok dapat menyebabkan hipertensi akibat zat-zat

kimia yang terkandung di dalam tembakau yang dapat merusak lapisan

dalam dinding arteri, sehingga arteri lebih rentan terjadi penumpukan plak

(arterosklerosis). Hal ini terutama disebabkan oleh nikotin yang dapat

merangsang saraf simpati ssehingga memacu kerja jantung lebih keras dan

menyebabkan penyempitan pembuluh darah, serta peran karbon

monoksida

1
2

yang dapat menggantikan oksigen dalam darah dan memaksa jantung

memenuhi kebutuhan oksigen tubuh (WHO, 2011).

Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan

sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi, artinya 1 dari 3

orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penderita hipertensi di

dunia terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan

ada 1,5 miliar orang yang mengalami hipertensi dan diperkirakan setiap

tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya

(Kemenkes RI, 2019).

Data Riskesdas (2018), prevalensi kejadian hipertensi di Indonesia

sebesar 34.1%. Angka ini meningkat cukup tinggi dibandingkan hasil

Riskesdas (2013), yang prevalensi kejadian hipertensi sebesar 25.8%.

Prevalensi hipertensi mengalami peningkatan yang signifikan pada pasien

berusia 60 tahun ke atas. Hal ini dapat dilihat dari prevalensi hipertensi di

Indonesia pada tahun 2013 pada kelompok usia tua, yaitu kelompok usia

45-54 tahun sebesar 35,6%, kelompok usia 55-64 tahun sebesar 45,9% dan

pada kelompok usia 65-74 tahun sebesar 57,6%. Dan dari hasil riset yang

terbaru pada tahun 2018 angka ini mengalami peningkatan yang cukup

signifikan menjadi 45,3% pada usia 45-54 tahun, 56,2% di usia 55-64

tahun dan 63,2% pada kelompok usia 65-74 tahun (Riskesdas, 2018).

Tingginya angka kejadian hipertensi di dunia, dipengaruhi oleh dua

jenis faktor, yaitu yang tidak bisa diubah seperti umur, jenis kelamin, dan

ras. Faktor yang bisa diubah diantaranya obesitas, konsumsi alkohol,


3

kurang olahraga, konsumsi garam yang berlebihan, dan kebiasaan

merokok (Setyanda, 2015). Salah satu faktor risiko hipertensi adalah

kebiasaan merokok. Faktor risiko hipertensi lainnya antara lain umur, jenis

kelamin, riwayat keluarga, dan genetic (faktor resiko yang tidak dapat

diubah/dikontrol), serta kebiasaan mengonsumsi garam, konsumsi lemak

jenuh, penggunaan jelantah, kebiasaan konsumsi minuman beralkohol,

obesitas, kurang estrogen/kontrasepsi pil KB (Kemenkes RI, 2014).

Hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2011

menunjukkan, Indonesia menduduki posisi pertama dengan prevalensi

perokok aktif bila dibandingkan dengan negara-negara lain yang

melaksanakan GATS, yaitu 67,4% pada laki-laki dan 2,7% pada wanita.

Menurut laporan Riskesdas tahun 2010, persentase perokok di pedesaan

lebih tinggi dibandingkan persentase perokok di perkotaan. Dari 86.869

responden di pedesaan, sebanyak 37,4% merupakan perokok aktif,

sedangkan di perkotaan sebanyak 32,4% responden merupakan perokok

aktif dari 91.057 responden (Depkes, 2012).

Perilaku merokok adalah menghisap asap tembakau yang telah

menjadi cerutu kemudian disulut api. Menurutnya ada dua tipe merokok.

Pertama adalah menghisap rokok secara langsung yang disebut perokok

aktif, dan yang kedua mereka yag secara tidak langsung menghisap rokok.

Namun turut menghisap asap rokok disebut perokok pasif. Bermacam-

macam perilaku yang dilakukan manusia dalam menanggapi stimulus yang


4

diterimanya, salah satu bentuk perilaku manusia yang dapat diamati adalah

perilaku merokok (Sukmana, 2011).

Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, secara umum jumlah

penduduk lansia di Provinsi Sulawesi Utara sebanyak 191.853 jiwa atau

8,45 % dari keseluruhan penduduk. Jumlah penduduk lansia perempuan

(103.673 jiwa) lebih banyak dari jumlah penduduk lansia laki – laki (88.180

jiwa) penyebarannya jauh lebih banyak di daerah pedesaan (114.836 jiwa)

dibandingkan di daerah perkotaan (77.017 jiwa). Jika dilihat menurut

kelompok umur, jumlah penduduk lansia terbagi menjadi lansia muda (60-

69 tahun) sebanyak 110.791 jiwa, lansia menengah (70-79 tahun) sebanyak

60.969 jiwa, dan lansia tua ( 80 tahun ke atas) sebanyak 20.093 jiwa.

Sementara itu, penduduk pra lansia yaitu penduduk kelompok umur 45-54

tahun dan 55-59 tahun masing–masing sebanyak 268.022 jiwa dan 98.179

jiwa. (BPS Sulawesi Utara, 2010). Pada tahun 2016, hipertensi merupakan

Penyakit Tidak Menular tertinggi di Sulawesi Utara dengan prevalensi yang

mencapai 32.742 kasus dan meningkat pada tahun 2017 prevalensi di

Sulawesi Utara menjadi 103.376 kasus (Depkes Provinsi Sulawesi Utara,

2017).

Menurut data Dinas Kesehatan Sulut (2016), hipertensi merupakan

penyakit dengan nomor urut kedua setelah influenza dari sepuluh besar

penyakit di Sulawesi Utara berdasarkan Surveilans Terpadu Penyakit

(STP), yaitu sebesar 32,742 kasus. Menurut Kepala Bidang Pengendalian

dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Daerah Sulut Steven


5

Dandel mengakui Sulut sangat rentan akan penyakit tidak menular. Dandel

mengatakan, penyakit tidak menular yang mendominasi hipertensi dan

obesitas. Penyebab kematian akan penyakit tidak menular, tinggi di Sulut.

Kebanyakan masyarakat Sulut, tidak mengerti bahayanya penyakit tidak

menular. Dirinya menilai, penyakit tidak menular disebabkan oleh gaya

hidup tidak sehat (Profil Kesehatan Sulut, 2016).

Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan januari 2021

kepada 9 orang lansia laki-laki yang menderita hipertensi di Desa Adow

Kabupaten Bolaang Mongondow, dari 9 orang tersebut 6 diantaranya

mengatakan sebagai perokok berat dan 3 diantaranya pernah merokok

kemudian berhenti. Data yang diperoleh dari posyandu lansia yang berada

di desa Adow tercatat pada akhir tahun 2020 sebanyak 154 lansia yang

terdiri dari 79 orang lansia perempuan dan 58 orang lansia laki-laki. Dari

jumlah tersebut sebanyak 59 orang lansia laki-laki yang menderita

hipertensi dan 37 orang diantaranya menderita hipertensi juga sebagai

perokok aktif. Faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi adalah

kebiasaan merokok yang pada umumnya terdapat pada laki-laki perokok

aktif.

Berdasarkan uraian permasalahan diatas, penulis tertarik untuk

meneliti secara jelas dan nyata tentang “Hubungan Perilaku Merokok

Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Laki-laki Di Desa Adow

Kabupaten Bolaang Mongondow”.


6

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka

dirumuskan masalah sebagai berikut : Apakah ada hubungan antara

perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa

adow kabupaten bolaang mongondow?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok

dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow

kabupaten bolaang mongondow.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Diketahui hubungan perilaku perilaku merokok dengan kejadian

hipertensi pada lansia laki-laki di puskesmas adow kabupaten

bolaang mongondow

b. Diketahui perilaku merokok pada lansia laki-laki di desa adow

kabupaten bolaang mongondow.

c. Diketahui kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow

kabupaten bolaang mongondow

d. Teranalisis hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian

hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang

mongondow.
7

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.4.1 Bagi Tempat Penelitian

Diharapkan dapat dijadikan masukan dalam mensukseskan

program penanggulangan hipertensi pada masyarakat terkhususnya

lansia di puskesmas adow. Untuk lansia agar mereka tahu

pentingnya upaya mengontrol hipertensi.

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan dapat menambah sumber informasi

kepustakaan bagi kampus sehingga dapat digunakan mahasiswa

lain sebagai bahan referensi pembelajaran dan penelitian.

1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan sumber

informasi bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian selanjutnya

terkait dengan upaya mengontrol hipertensi.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Perilaku Merokok

2.1.1 Pengertian

Perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang

dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak

luar (Marimbi, 2009). Menurut Skiner (1938 dalam Notoadmodjo,

2010), perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap

stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian perilaku manusia

terjadi melalui proses Stimulus Organisme Respons, sehingga teori ini

disebut teori SOR (stimulus-organisme-respons).

Rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan

untuk dibakar dan dihisap dan/atau dihirup asapnya, termasuk

rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan

dari tanaman nicotiana tabacum, nicotiana rustica, dan spesies lainnya

atau sintetisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar dengan atau

tanpa bahan tambahan (PP No. 109 tahun 2012).

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang sekitar

70-120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10

mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar

pada salah satu ujungnya dandibiarkan membara agar asapnya dapat

dihirup melalui mulut pada ujung lainnya (Aula, 2010).

8
9

Sepertihalnya perilaku lain, perilaku merokokpun muncul karena

adanya faktor internal (faktor biologis dan faktor psikologis, seperti

perilaku merokok dilakukan untuk mengurangi stres) dan factor

eksternal (factor lingkungan sosial, seperti terpengaruh oleh temans

ebaya). Sari dkk (2003) menyebutkan bahwa perilaku merokok adalah

aktivitas menghisap atau menghirup asap rokok dengan menggunakan

pipa atau rokok. Menurut Ogawa (dalam Triyanti, 2006) dahulu

perilaku merokok disebut sebagai suatu kebiasaan atau ketagihan, tetapi

dewasa ini merokok disebut sebagai tobacco dependency atau

ketergantungan tembakau. Tobacco dependency sendiri dapat di

definisikan sebagai perlaku penggunaan tembakau yang menetap,

biasanya lebih dari setengah bungkus rokok per hari, dengan adanya

tambahan distres yang disebabkan oleh kebutuhan akan tembakau

secara berulang-ulang. Perilaku merokok dapat juga didefinisikan

sebagai aktivitas subjek yang berhubungan dengan perilaku

merokoknya, yang diukur melalui intensitas merokok, waktu merokok,

dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari (Komalasari & Helmi,

2000). Sementara Leventhal & Cleary (1980) menyatakan bahwa

perilaku merokok terbentuk melalui empat tahap, yaitu: tahap

preparation, initiation, becoming a smoker, dan maintenance of

smoking. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku

merokok adalah aktivitas menghisap atau menghirup asap rokok dengan

menggunakan pipa atau rokok yang dilakukan secara menetap dan


10

terbentuk melalui empat tahap, yaitu: tahap preparation, initiation,

becoming a smoker, dan maintenance of smoking (Maman, 2009).

2.1.2 Jenis-jenis rokok

Menurut Jaya (2009), di Indonesia pada umumnya, rokok dibedakan

menjadi beberapa jenis. Perbedaan ini didasarkan atas bahan pembungkus

rokok, bahan baku atau isi rokok, proses pembuatan rokok dan

penggunaan filter pada rokok.

1) Rokok berdasarkan bahan pembungkus

a) Klobot : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung.

b) Kawung: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.

c) Sigaret: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.

d) Cerutu: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau.

2) Rokok berdasarkan bahan baku

a) Rokok putih, yaitu rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun

tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma

tertentu.

b) Rokok kretek, yaitu rokok yang bahan bahan baku atau isinya

berupa daun tembakau dan cengkeh dan diberi saus untuk

mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

c) Rokok klembak, yaitu rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun

tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk

mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.


11

3) Rokok berdasarkan proses pembuatannya

a) Sigaret Kretek Tangan (SKT), yaitu rokok yang proses pembuatannya

dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan atau

alat bantu sederhana.

b) Sigaret Kretek Mesin (SKM), yaitu rokok yang proses pembuatannya

menggunakan mesin. sederhananya, mater rokok dimasukan ke

dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin

pembuatan rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat

rokoktelah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu sampai

delapan ribu batang rokok per menit.

4) Rokok berdasarkan penggunaan filter

a) Rokok Filter (RF): rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.

b) Rokok Non Filter (RNF): rokok yang pada bagian pangkalnya tidak

terdapat gabus.

2.1.3 Tipe perilaku merokok

Silvan Tomkins (dalam Aula, 2010), membagi perilaku merokok

menjadi empat tipe perilaku merokok yaitu sebagai berikut:

1) Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Dengan

merokok seorang mengalami peningkatan rasa yang positif. Green

(dalam Psychologycal Factorin Smoking, 1978), menambahkan tiga

sub tipe ini yaitu:


12

a) Pleasure relaxation, yaitu perilaku merokok hanya untuk

menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah diperoleh,

misalnya merokok sambil minum kopi atau setelah makan.

b) Stimulation to pick them up, yaitu perilaku merokok hanya

dilakukan sekadarnya untuk menyenangkan perasaan.

c) Pleasure of handling the cigarette, yakni kenikmatan yang diperoleh

dengan memegang rokok, terutama yang dialami oleh perokok

pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa

dengan tembakau padahal untuk menghisapnya hanya

membutuhkan waktu beberapa menit. Perokokpun lebih senang

berlama-lama memainkan rokoknya dengan jari-jarinya sebelum

menyalakannya menggunakan api.

2) Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif. Banyak

orang yang merokok demi mengurangi perasaan negatif, misalnya

saat mereka marah, cemas dan gelisah rokok dianggap sebagai

penyelamat. Mereka merokok bila perasaan tidak enak sedang

dialami, sehingga mereka terhindar dari perasaan yang lebih tidak

mengenakan.

3) Perilaku merokok yang adiktif. Orang-orang yang menunjukan

perilaku seperti itu akan menambah dosis rokok yang digunakan

setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Pada

umumnya mereka akan pergi keluar rumah membeli rokok walaupun


13

tengah malam. Sebab, mereka khawatir bila rokok tidak tersedia

padahal mereka sangat menginginkannya.

4) Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Seseorang merokok

bukan demi mengendalikan perasaannya, tetapi karena bebar-benar

sudah menjadi kebiasaan rutin.

Menurut Aula (2010), tipe perokok dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Perokok aktif (Active smoker) Perokok aktif adalah seseorang yang

benar-benar memilik kebiasaan merokok. Merokok sudah menjadi

bagian hidupnya, sehingga rasanya tidak enak bila sehari saja

tidak merokok. Oleh karena itu, ia akan melakukan apapun demi

mendapatkan rokok, kemudian merokok.

2) Perokok pasif (passive smoker) Perokok pasif adalah seseorang yang

tidak memiliki kebiasan merokok, namun terpaksa harus

mengisap asap rokok yang dihembuskan oleh orang lain yang

kebetilan ada di dekatnya. Dalam keseharian, ia tidak berniat dan

tidak memiliki kebiasaan merokok. Jika tidak merokok ia tidak

merasakan apa-apa dan tidak terganggu aktivitasnya. Meskipun

perokok pasif tidak merokok, tetapi perokok pasif memiliki resiko

yang sama dengan perokok aktif dalam hal terkena penyakit yang

disebabkan oleh rokok. Perokok pasif mempunyai resiko yang

sama dengan perokokaktif karena perokok pasif juga menghirup

kandungn karsinogen (zat yang memudahkan timbulnya kanker


14

yang ada dalam asap rokok) dan 4.000 partikel lain yang ada di asap

rokok

Selain perokok aktif dan perokok pasif, masih ada tipe-tipe

perokok yang lain. Menurut Sitepoe tipe perokok ada lima:

a) Tidak merokok, yaitu tidak pernah merokok selama hidup.

b) Perokok ringan, yaitu merokok berselang-seling.

c) Perokok sedang, yaitu merokok setiap hari dalam kuantum kecil.

d) Perokok berat, yaitu merokok lebih dari satu bungkus setiap

hari.

e) Berhenti merokok, yaitu semula merokok, kemudian berhenti

dan tidak pernah merokok lagi. Menurut Mutadin (2002 dalam

Aula 2010), jika ditinjau dari banyaknya jumlah rokok yang

diisap setiap hari, tipe perokok dibedakan menjadi tiga.

1) Perokok sangat berat, yakni perokok yang menghabiskan

lebih dari 31 batang rokok setiap hari dengan selang

merokok lima menit setelah bangun tidur pada pagi hari.

2) Perokok berat, yakni prokok yang menghabiskan 21-30

batang rokok setiap hari dengan selanngg waktu merokok

berkisar 6-30 menit setelah bangun tidur pada pagi hari.

3) Perokok sedang, yakni perokok yang menghabiskan sekitar

10 batang rokok setiap hari dengan selang waktu merokok 60

menit setelah bangn tidur pada pagi hari.


15

2.2 Konsep Hipertensi

2.2.1 Pengertian

Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan

tekanan darah diatas normal yang dapat meningkatkan angka morbiditas

dan mortalitas. Tekanan darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase

dalam setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukkan fase

darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90

menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung (Triyanto, 2014).

Menurut World Health Organization (WHO) adalah 120-140

mmHg tekanan sistolik dan 80-90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang

dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg

(Yanti & Muliati, 2019).

2.2.2 Klasifikasi

Klasifikasi Hipertensi Menurut Kemenkes

Kategori TDS (mmHg) TDD (mmHg)

Normal < 120 dan < 80

Pra-hipertensi 120 - 139 atau 80 – 89

Hipertensi tingkat 1 140 - 159 atau 90 – 99


16

Hipertensi tingkat 2 > 160 atau > 100

2.2.3 Etiologi

a. Usia

Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia.

Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun dengan jelas

menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian premature.

b. Jenis Kelamin

Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi dari pada wanita,

namun pada usia pertengahan dan lebih tua, insiden pada wanita

mulai meningkat, sehingga pada usia di atas 65 tahun, insiden pada

wanita lebih tinggi.

c. Ras

Orang yang berkulit hitam umumnya rentan terkena hipertensi paling

sedikit dua kali pada orang berkulit putih. Contohnya mortalitas

pasien pria hitam dengan diastole 115 atau lebih, 3,3 kali lebih tinggi

daripada pria berkulit putih, dan 5,6 kali bagi wanita putih.

d. Pola Hidup

Penghasilan rendah, tingkat pendidikan rendah, dan kehidupan

pekerjaan yang penuh stress agaknya berhubungan dengan insiden


17

hipertensi yang lebih tinggi. Akan tetapi obesitas di pandang sebagai

faktor resiko utama. Bila berat badannya turun, tekanan darahnya

turun menjadi normal. Merokok di pandang sebagai faktor resiko

tinggi bagi hipertensi dan penyakit arteri koroner.

2.2.4 Tanda dan Gejala

Kejadian hipertensi biasanya tidak memiliki tanda dan gejala.

Gejala yang sering muncul adalah sakit kepala, rasa panas di tengkuk,

atau kepala berat. Namun, gejala tersebut tersebut tidak bisa dijadikan

patokan ada tidaknya hipertensi pada seseorang. Satu-satunya cara

untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan pengecekan tekanan

darah.

Seseorang biasanya tidak menyadari bahwa dirinya mengalami

hipertensi hingga ditemukan kerusakan dalam organ, seperti terjadinya

penyakit jantung koroner, stroke, atau gagal ginjal. Karena itu,

mengontrol tekanan darah sangatlah penting (Prasetyaningrum, 2014).

2.2.5 Komplikasi

Komplikasi hipertensi yang sering terjadi yaitu stroke, infark

miokard, gagal ginjal, ensefalopati (kerusakan otak) dan pregnancy-

included hypertension (PIH). Adapun komplikasi yang mungkin timbul

tergantung pada berapa tinggi tekanan darah, berapa lama telah dialami,

adakah faktor-faktor resiko lain dan bagaimana penyakit tersebut

ditangani.
18

a. Stroke

Akibat tekanan darah yang tinggi terjadi pendarahan di otak

sehingga menyebabkan stroke. Stroke dapat terjadi pada hipertensi

kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami

hipertrofi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah

yang diperdarahi berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami

arterosklerosis dapat melemah sehingga dapat meningkatkan

kemungkinan terbentuknya anurisma.

b. Infark Miokardium

Infark miokard dapat terjadi apabila tersumbatnya aliran darah

sehingga tidak dapat mensuplai cukup oksigen ke miokardium.

Akibat hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka kebutuhan

oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi

iskemia jantung yang menyebabkan infark.

c. Gagal Ginjal

Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang

progresif dan irreversible dari berbagai penyebab, salah satunya

pada bagian yang menuju ke kardiovaskular. Mekanisme terjadinya

hipertensi pada gagal ginjal kronik karena penimbunan garam dan

air atau sistem renin angiotensin aldosteron (RAA).

d. Ensefalopati (Kerusakan otak)

Ensefalopati dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna

(hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi pada


19

kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan

mendorong kedalam ruang intersitium diseluruh susunan saraf

pusat. Neuron-neuron disekitarnya kolaps yang dapat menyebabkan

ketulian, kebutaan dan tak jarang juga koma serta kematian

mendadak (Daeli, 2017).

2.2.6 Faktor Resiko

Menurut Suiraoka (2012), faktor resiko penyakit hipertensi sebagai

berikut :

1. Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol

a. Keturunan (Genetika)

Keturunan salah satu penyebab utama munculnya penyakit

hipertensi. Hal ini terbukti dengan ditemukannya kejadian

bahwa hipertensi lebih banyak terjadi pada kembar monozigot

(berasal dari satu sel telur) dibanding heterozigot (berasal dari

sel telur yang berbeda). Jika seseorang termasuk orang yang

mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) dan tidak

melakukan penanganan atau pengobatan maka ada

kemungkinan lingkungannya akan menyebabkan hipertensi

berkembang dalam waktu sekitar tiga puluhan tahun akan

mulai muncul tanda-tanda dan gejala hipertensi dengan

berbagai komplikasinya.

b. Jenis Kelamin
20

Pada umumnya pria lebih terserang hipertensi dibandingkan

dengan wanita. Hal ini disebabkan pria banyak mempunyai

faktor yang mendorong terjadinya hipertensi seperti kelelahan,

perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan, pengangguran dan

makan tidak terkontrol. Biasanya wanita akan mengalami

peningkatan resiko hipertensi setelah masa menopause.

c. Umur

Semakin bertambahnya usia, kemungkinan seseorang

menderita hipertensi juga semakin besar. Hilangnya elastisitas

jaringan arterosklerosis serta pelebaran pembuluh darah adalah

faktor penyebab hipertensi pada usia tua.

2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol

a. Konsumsi garam berlebihan

Konsumsi natrium yang berlebihan dapat menyebabkan

tingginya konsentrasi natrium didalam cairan ekstraseluler.

Meningkatnya volume cairan ektraseluler tersebut dapat

menyebabkan meningkatnya volume darah dalam tubuh,

sehingga berdampak pada timbulnya hipertensi.

b. Konsumsi lemak jenuh

Resiko terjadinya hipertensi disebabkan karena kebiasaan

mengkonsumsi lemak jenuh yang kaitannya sangat erat dengan

peningkatan berat badan, selain itu juga dapat meningkatkan

resiko arterosklerosis.
21

c. Alkohol

Mengkonsumsi alkohol juga membahayakan kesehatan karena

dapat meningkatkan sintesis katekholamin, karena adanya

katekholamin memicu kenaikan tekanan darah.

d. Obesitas

Pada penderita hipertensi yang mengalami obesitas curah

jantung dan sirkulasi volume darahnya lebih tinggi jika

dibandingkan dengan yang tidak obesitas. Dari hasil penelitian,

diungkapkan bahwa orang yang kegemukan mudah terkena

hipertensi. Wanita yang sangat gemuk pada usia 30 tahun

mempunyai resiko terserang hipertensi 7 kali lipat

dibandingkan dengan wanita langsing pada usia yang sama.

e. Kurang Olahraga

Orang yang kurang aktif melakukan olahraga pada umumnya

cenderung mengalami kegemukan dan akan menaikan tekanan

darah. Dengan olahraga kita dapat meningkatkan kerja jantung.

Sehingga darah bisa dipompa dengan baik ke seluruh tubuh.

f. Stres

Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui

aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja ketika beraktivitas),

yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap.


22

Apabila stres menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan

darah menjadi meningkat.

g. Merokok

Nikotin yang terdapat dalam rokok sangat membahayakan

kesehatan selain dapat meningkatkan penggumpalan darah

dalam pembuluh darah, nikotin juga dapat menyebabkan

pengapuran pada dinding pembuluh darah.

2.2.7 Penatalaksanaan

Tatalaksana hipertensi meliputi non farmakologis dan

farmakologis. Tatalaksana non farmakologis meliputi modifikasi gaya

hidup, upaya ini dapat menurunkan tekanan darah atau menurunkan

ketergantungan penderita hipertensi terhadap pengunaan obat-obatan.

Sedangkan tatalaksana farmakologis umumnya dilakukan dengan

memberikan obat-obatan antihipertensi di Puskesmas. Apabila upaya

non farmakologis belum mampu mencapai hasil yang diharapkan,

Puskesmas bisa merujuk pasien ke pelayanan kesehatan sekunder yaitu

rumah sakit (Daeli, 2017).

2.3 Konsep Lansia

2.3.1 Pengertian Lansia

Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun

keatas (Dahlan, dkk 2018).

Lansia adalah kelompok manusia yang berusia 60 tahun

keatas. Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya


23

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan

mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga

tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan

yang terjadi. Oleh karena itu, dalam tubuh akan menumpuk makin

banyak distorsi metabolic dan struktural yang disebut penyakit

degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup

dengan episode terminal (Nastiti, 2018).

2.3.2 Batasan Lansia

Menurut WHO dalam Ratnawati (2017), menggolongkan lanjut

usia berdasarkan usia kronologis atau biologis menjadi 4 kelompok

a. Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun

b. Lanjut usia (elderly) berusia antara 60 dan 74 tahun

c. Lanjut usia tua (old) berusia 75 sampai 90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun

2.3.3 Karakteristik Lansia

Beberapa karakteristik lansia yaitu :

a. Jenis Kelamin

Dari data Kemenkes RI (2015), lansia lebih didominasi oleh

jenis kelamin perempuan. Artinya, ini menunjukkan bahwa

harapan hidup yang paling tinggi adalah perempuan.

b. Status Perkawinan

Usia harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan


24

dengan usia harapan hidup laki-laki, sehingga presentase lansia

perempuan yang berstatus cerai mati lebih banyak

dibandingkan dengan lansia laki-laki. Sebaliknya, lansia laki-

laki yang bercerai umumnya segera kawin lagi.

[Link] Arrangement

Angka Beban Tanggungan adalah angka yang menunjukkan

perbandingan banyaknya orang yang tidak produktif (umur <15

tahun dan 65 tahun) dengan orang berusia produktif (umur 15-64

tahun). Angka tersebut menjadi cermin besarnya beban ekonomi

yang harus ditanggung penduduk usia produktif untuk

membiayai penduduk usia nonproduktif.

d. Kondisi Kesehatan

Menurut Kemenkes RI (2016), angka kesehatan penduduk

lansia tahun 2014 sebesar 25,05 persen, artinya bahwa dari

setiap 100 orang lansia terdapat 25 orang diantaranya

mengalami sakit. Penyakit terbanyak pada lansia adalah

penyakit tidak menular (PTM) antara lain hipertensi, stroke,

penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan diabetes mellitus

(DM).

e. Keadaan Ekonomi
25

Mengacu pada konsep active ageing WHO, lanjut usia sehat

berkualitas adalah proses penuaan yang tetap sehat secara fisik,

sosial, dan mental sehingga dapat tetap sejahtera sepanjang

hidup dan tetap berpartisipasi dalam rangka meningkatkan

kualitas hidup sebagai anggota masyarakat. Menurut Kemenkes

RI (2016), sumber dana untuk lansia sebagian besar

pekerjaan/usaha (46,7 persen), anak/menantu (32,1 persen),

suami/istri (8,9 persen) dan pensiun (8,5 persen), selebihnya

3,8 persen adalah tabungan, saudara/family lain, orang lain dan

jaminan sosial (Ratnawati, 2017).

2.3.4 Tipe Lansia

Menurut Widyanto (2014) tipe tipe lansia yaitu :

a. Tipe arif bijaksana, ditandai dengan lansia yang kaya dengan

hikmah, pengalaman, mampu menyesuaikan diri dengan

perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah,

rendah hati, sederhana, dermawan, serta mampu menjadi

panutan.

b. Tipe mandiri, ditandai dengan lansia yang mampu mengganti

kegiatan yang hilang dengan kegiatan baru, selektif dalam

mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, serta memenuhi

undangan.

c. Tipe tidak puas, ditandai dengan lansia yang memiliki konflik

lahir batin dengan menentang proses penuaan sehingga


26

menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit

dilayani, pengkritik, dan banyak menuntut.

d. Tipe pasrah, ditandai dengan lansia yang mau menerima dan

menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan

melakukan pekerjaan apa saja.

e. Tipe bingung, ditandai dengan lansia yang kaget, kehilangan

kepribadiaan, mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif,

dan acuh tak acuh.

2.4 Kerangka Teori

Konsep Perilaku Merokok

1. Deafinisi Perilaku
Merokok Konsep Teori Lansia
2. Jenis-jenis Rokok
3. Tipe Perilaku Merokok 1. Proses Menua (Aging
Proses)
2. Tipe Lansia
3. Batasan – Batasasn
Lanjut Usia
4. Peran Anggota
Konsep Teori Hipertensi Keluarga Terhadap

1. Definisi Hipertensi Lansia

2. Penyebab Hipertensi Peran Keluarga Dalam

3. Klasifikasi Hipertensi Perawatan Lansia

4. Gejala– Gejala
Hipertensi
5. Komplikasi Hipertensi
6. Faktor – Faktor Resiko
Hipertensi
27

2.2 Kerangka Teori Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian

Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow

Kabupaten Bolaang Mongondow Tahun 2021


BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Menurut (Sugiono, 2014), Kerangka konsep akan menghubungan secara

teoritis antara variabel-variabel penelitian yaitu antara variabel independen

dengan variabel dependen. Secara ringkas kerangka konseptual yang

menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja auditor dengan

motivasi auditor sebagai variabel moderating.

Kejadian Hipertensi Pada


Perilaku Merokok Lansia

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Garis penghubung antara variabel

Tabel 3.1. Kerangka Konsep Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian

Hipertansi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang

Mongondow.

27
28

3.2 Hipotesis

Menurt (Hartono, 2019), Hipotesis adalah suatu pernyataan yang pada

waktu di ungkapkan belum diketahui kebenarannya. Hipotesis merupakan

jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.

Berdasarkan teori kerangka konsep, maka peneliti mengangkat hipotesis :

(H0) : Tidak ada hubungan perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada

lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.

(Ha) : Ada hubungan perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada

lansia

laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.

3.3 Definisi Operasional

Definisi Operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan

bagaimana caranya mengukur suatu variabel. Dengan kata lain definisi

operasional adalah semacam petunjuk pelaksanaan bagaimana mengukur

suatu variabel (Suyanto, 2014).


29

Tabel 3.2. Definisi Operasional : Hubungan Perilaku Merokok Dengan

Kejadian Hipertansi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten

Bolaang Mongondow.

No
Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Tindakan atau 1 = Perokok Nominal


1 (Variabel respon Kuesioner Rendah
independen) seseorang
Perilaku dalam 1 = Perokok
merokok mengkonsumsi Sedang
rokok Setiap
2 = Perkok
hari
Tinggi

(Variabel Adalah lansia Kueisoner 1 = Pra Ordinal


2 dependen) laki-laki yang Hipertensi
Kejadian sudah
hipertensi terdiagnosa 2 = Hipertensi
pada lansia hipertensi Derajat 1
laki-laki
3 = Hipertensi
Derajat 2
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik yaitu menggambarkan

hubungan variabel independen dan variabel dependen dan menganalisa

hubungan variabel-variabel yang diteliti. Desain atau rancangan penelitian

yang digunakan adalah cross sectional, artinya data diambil hanya satu kali,

dan pengukuran variabel independen dan variabel dependen dilakukan dalam

kurun waktu yang sama (Suyanto, 2011).

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di Desa Adow Kabupaten Bolaang

Mongondow

4.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan mei - juni 2021.

4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah 37 orang lansia sebagai

perokok dan menderita hipertensi.

30
31

4.3.2 Sampel dan Teknik Pengambilan sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah karakterististik yang dimiliki oleh

populasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Non-

probability sampling yaitu dengan metode total sampling yaitu teknik

penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, penelitian dengan

jumlah populasi yaitu 37 sampel yang digunakan harus memenuhi

Kriteria penelitian dengan menggunakan rumus slovin untuk

menentukan besar sampel (Nursalam, 2014).

4.4 Instrumen Penelitian

Instrumen pengukuran perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada

lansia menggunakan alat ukur kuesioner dengan 5 pertanyaan dengan jumlah

skor tertinggi adalah 2 jika menjawab Ya dan terendah diberi skor 1 jika

menjawab Tidak. Sedangkan untuk kejadian hipertensi menggunakan skala

pengukuran menurut Kemenkes RI.

4.5 Pengolahan Data

1. Editing

Editing adalah mengkaji dan meneliti data yang telah terkumpul lewat

lembar kueisoner. Dalam kegiatan ini langkah-langkah yang dilakukan

adalah :

a. Mengecek kembali nomor kode responden

b. Mengecek kelengkapan data maksudnya memeriksa instrumen

pengumpulan data

c. Mengecek macam isian data


32

d. Tahapan ini dimaksudkan untuk merapikan data agar bersih, rapi dan

teratur untuk mempermudah langkah berikutnya.

3. Coding

Mengklasifikasikan jawaban yang ada pada lembar kueisoner dengan

memberikan tanda-tanda pada masing-masing jawaban berupa angka dan

selanjutnya dimasukan dalam lembar tabel agar mempermudah pembaca.

4. Entry

Data yang telah didapat dari peneliti kemudian dimasukkan dan diolah

dengan menggunakan aplikasi computer menggunakan progam SPSS 24.

5. Scoring

Penentuan jumlah score, dalam penelitian ini menggunakan skala nominal

oleh karena itu hasil kuesioner yang telah diisi diberi score.

6. Tabulating

Setelah dilakukan entry data kemuadian dilakukan pengolahan data,

sehingga dapat diperoleh frekuensi dari kedua variabel-variabel tersebut.

4.6 Analisa Data

1. Analisis Univariat

Analisa univariat merupakan analisa data yang menganalisis satu

variabel, disebut analisa univariat karena proses penggumpulan data awal

masih acak dan abstrak, kemudian data diolah menjadi informasi yang

informatif. Analisa ini seringkali digunakan untuk statistik deskriptif, yang

dilaporkan dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase (Donsu,

2016).
33

2. Analisis Bivariat

Analisis Bivariat adalah analisis data yang mengenai dua variable.

Analisis Bivariat dilakukan untuk menganalisa hubungan yang signifikan

antara dua variable dan mengetahui perbedaan yang signifikan atara dua

fariabel atau lebih untuk membuktikan hipotesis penelitian (Donsu, 2016).

Untuk menganalisis bivariat hubungan pengetahuan dengan variabel

penggunaan alat kontrasepsi menggunakan uji chi-square (X2), pada

tingkat kemaknaan 95% (α 0,05). Jika p value< nilai α maka Ho yang

ditolak H1 diterima atau artinya ada hubungan perilaku merokok dengan

kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang

mongondow.

4.7 Prosedur Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data dimulai dengan langkah sebagai berikut:

a. Mendapat surat izin penelitian dari institusi

b. Memasukkan surat izin penelitian ke puskesmas adow

c. Mendapat izin dari kepala puskesmas adow untuk melakukan penelitian

d. Turun ke lokasi penelitian

e. Kontrak waktu dan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada

responden

f. Melakukan penelitian.

4.8 Etika Penelitian


34

Etika penelitian berguna sebagai pelindung terhadap responden dan peneliti

akan kemungkinan terjadinya ancaman (Fatmawati, 2019).

1. Informed Consent (lembar persetujuan), merupakan bentuk persetujuan

antara peneliti dengan responden. Lembar persetujuan ini diberikan kepada

responden lansia sebelum penelitian dimulai, tujuannya agar subjek

mengerti maksud dan tujuan penelitian. Jika subjek bersedia, responden

menandatangani lembar persetujuan dan jika subjek menolak, peneliti

tidak akan memaksa dan akan menghormati hak-hak mereka.

2. Anonymity (tanpa nama), yaitu memberikan jaminan untuk menjaga

kerahasiaan informasi dari responden dengan cara tidak mencantumkan

nama responden pada lembar pengumpulan data, tetapi menggantinya

dengan kode atau inisial sehingga hasil penelitian hanya diketahui peneliti

saja.

3. Confidentiality (kerahasiaan), merupakan masalah etika dengan menjaga

kerahasiaan responden baik hasil penelitian, informasi maupun masalah-

masalah lainnya yang diperoleh dari responden.


35

4.9 ALUR PENELITIAN


Pengumpulan Data Awal : Di Balai Desa Adow dan Puskesmas Adow

Populasi : Lansia yang merokok 37 orang di Desa Adow


Kabupaten Bolaang Mongondow.

Sampel : Teknik Total Sampling


ALAKL

Pengumpulan Data : Kueisoner

Variabel Independen : Variabel Dependen :

Perilaku Merokok Kejadian Hipertensi Pada


Lansia Laki-laki

Analisa Data Dengan Uji

Chi Square

Penyajian Hasil Penelitian

Laporan Hasil Penelitian


36

Tabel 4.1 : Alur Penelitian Hubungan Perilaku Merokok Dengan


Kejadian Hipertensi Pada Lansia Laki-laki Di Desa Adow Kabupaten
Bolaang Mongondow.
BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Lokasi Penelitian

1. Data Umum

Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan sesuai dengan

Visi Departemen Kesehatan “Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup

Sehat” dengan Misinya “Membuat Rakyat Sehat” diperlukan indikator.

Indikator yang tercantum dalam pedoman ini merupakan penggabungan

indikator Indonesia Sehat 2010 dan indikator kinerja Standar Pelayanan

Minimal yang meliputi : (1) Indikator Derajat Kesehatan yang terdiri atas

indikator-indikator untuk Mortalitas, Morbiditas, dan Status Gizi; (2)

Indikator -indikator untuk Keadaan Lingkungan, Perilaku Hidup, Akses

dan Mutu Pelayanan Kesehatan; serta (3) Indikator-indikator untuk

Pelayanan Kesehatan, Sumber Daya Kesehatan, Manajemen Kesehatan,

dan Kontribusi Sektor Terkait.

Pedoman Penyusunan Profil Kesehatan ini membahas tentang cara

pengumpulan, pengolahan dan analisis serta penyajian, mekanisme,

penjadwalan, format data serta cara pengisiannya selain memuat

keterkaitan indikator antar file juga, sehingga mudah dikompilasi dan

dikomparasikan

Pedoman Penyusunan Profil ini, selain dalam bentuk hard copy (buku)

juga dilengkapi dengan soft copy/CD sehingga memudahkan pengelola

data dalam penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota.


37

2. Letak Geografis

Letak : Pusat Kota Kab. BOLSEL

Luas Wilayah: 32.477 Km2 Meliputi 8 Desa Se- Kecamatan Pinolosian

Tengah

Batas Wilayah :

– Batas Utara : Lolayan

– Batas Selatan : Laut Maluku

– Batas Timur : Wilayah Kerja Puskesmas Pinolosian Timur

– Batas Barat : Wilayah Kerja Puskesmas Pinolosian

Demografi dan Sosial Ekonomi

• Jumlah Penduduk : 6.349 Jiwa

• Jumlah KK : 1.658 KK

• Jumlah penduduk miskin : jiwa, 28.4 % dr Jmlh Penduduk.

• BPJS : 2000 Kartu

5.2 Hasil Penelitian

1. Karakteristik Responden

a. Umur

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur pada lansia


di desa adow kabupaten bolaang mongondow
No Umur Frekuens %
i
1 Lansia Usia Pertengahan 12 32.4 %
45-55 Tahun
2 Lansia 55-65 Tahun 21 56.8 %
3 Lansia Muda 66-74 Tahun 4 10.8 %
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021
38

Berdasarkan tabel 5.1 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden

dalam penelitian ini, sebagian besart responden yang berumur 55 sampai

65 Tahun yaitu sebanyak 21 responden (56,8 %), dan paling sedikit yaitu

responden dengan usia 66 sampai 74 Tahun sebanyak 4 responden

(10.8 %).

b. Pendidikan

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan pada

lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow

No Pendidikan Frekuensi %
1 SD 21 56.8 %
2 SMP 13 35.1 %
3 SMA 3 8.1%
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021

Berdasarkan tabel 5.2 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden

dalam penelitian ini, sebagian besar responden yang berpendidikan SD

yaitu sebanyak 21 responden (56,8 %), dan paling sedikit yaitu responden

dengan pendidikan SMA sebanyak 3 responden (8.1 %).

c. Pekerjaan

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan pada

lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow

No Pekerjaan Frekuensi %
1 Tani 16 43.2 %
2 Wiraswasta 19 51.4 %
3 PNS 2 5.4 %
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021
39

Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden

dalam penelitian ini, sebagian besar responden yang pekerjaan wiraswasta

yaitu sebanyak 19 responden (51.4 %), dan paling sedikit yaitu responden

dengan pekerjaan PNS sebanyak 2 responden (5.4 %).

d. Perilaku Merokok Pada Lansia

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku

Merokok Pada Lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow

No Perilaku Merokok Frekuensi %


1 Rendah 7 18.9 %
2 Sedang 16 43.2 %
3 Tinggi 14 37.8 %
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021

Berdasarkan tabel 5.4 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden

dalam penelitian ini, sebagian besar responden dengan perilaku merokok

sedang yaitu sebanyak 16 responden (43.2 %), dan paling sedikit yaitu

responden dengan perilaku merokok rendah sebanyak 7 responden

(18.9%)

e. Kejadian Hipertensi Pada Lansia

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian

Hipertensi Pada Lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow

No Kejadian Hipertensi Frekuensi %


1 Pra Hipertensi 7 18.9 %
2 Hipertensi Tingkat 1 16 43.2 %
3 Hipertensi Tingkat 2 14 37.8 %
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021
40

Berdasarkan tabel 5.5 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden

dalam penelitian ini, sebagian besar responden dengan kejadian hipertensi

tahap hipertensi tingkat 1 yaitu sebanyak 16 responden (43.2 %), dan

paling sedikit yaitu responden dengan kejadian hipertensi tahap pra

hipertensi sebanyak 7 responden (18.9%).

2. Analisa Bivariat

Tabel 5.6 Frekuensi Responden Berdasarkan hubungan perilaku merokok


dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten
bolaang mongondow

Kejadian Hipertensi
Nila
Perilaku Pra HPT HPT n %
Hipertensi Tingkat 1 Tingkat 2 ip
Merokok
n % n % n %
18.9 % 1.0. % 0 0.0
Rendah
7 0 % 7 18.9 %
1.0 % 43.2 % 0 0.0
Sedang 0 16 % 16 43.2 % 0.00
0.0 % 0.0 % 14 37.8
Tinggi 0 0 % 14 37.8 %
14 37.8 %
Total 7 18.9 % 16 43.2 % 37 100 %
Sumber data primer 2021

Berdasarkan data pada tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 37

responden, jumlah responden yang memiliki perilaku merokok rendah

berjumlah 7 responden dimana perilaku merokok rendah dengan kejadian

hipertensi pra hipertensi berjumlah 7 responden (18.9 %), jumlah

responden dengan perilaku merokok sedang 16 responden, dimana

perilaku merokok sedang dengan kejadian hipertensi tingkat 1 berjumlah

16 responden 43.2%. sedangkan jumlah perilaku merokok tinggi sebanyak


41

14 responden dimana perilaku merokok tinggi dengan kejadian hipertensi

tingkat 2 berjumlah 16 responden 43.2 %. Hasil uji Chi-Square dari

variabel hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi

pada lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow. Hasil uji

statistika didapat p value = 0,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa

terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi

pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.


42

BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Perilaku Merokok

Berdasarkan tabel 5.4 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden

dalam penelitian ini, sebagian besar responden dengan perilaku merokok

sedang yaitu sebanyak 16 responden (43.2 %), dan paling sedikit yaitu

responden dengan perilaku merokok rendah sebanyak 7 responden (18.9%)

Perilaku merokok adalah menghisap asap tembakau yang telah menjadi

cerutu kemudian disulut api. Menurutnya ada dua tipe merokok. Pertama

adalah menghisap rokok secara langsung yang disebut perokok aktif, dan

yang keduamereka yag secara tidak langsung menghisap rokok. Namun turut

menghisap asap rokok disebut perokok pasif. Bermacam-macam perilaku

yang dilakukan manusia dalam menanggapi stimulus yang diterimanya, salah

satu bentuk perilaku manusia yangdapat diamati adalah perilaku merokok

(Sukmana, 2008). Menurut Candra Dewi (2012), perilaku merokok

merupakan suatu perilaku mengkonsumsi rokok berupa membakar dan

menghisap rokok yang dinilai dari frekuensi merokok perhari, jumlahHasil

penelitian ini sejalan dengan penelitian Indar Kurniawan, dkk (2017), rokok

yang dihisap perhari, dan ada tidaknya ketergantungan terhadap tembakau.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian indar kurniawan (2017),

diketahui bahwa karakteristik responden berdasarkan perilaku merokok pada

pasien hipertensi di Puskesmas Pajangan Bantul, sebagian besar adalah

termasuk kategori tinggi yaitu sebanyak 18 responden (46,2%).

42
43

Hasil penelitian ini juga sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan

oleh Jatmika (2015), hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar

(66,67%) perilaku merokok responden adalah kurang baik dan sebagian kecil

(33,33% ) perilaku responden adalah cukup baik. Pengetahuan responden

tentang perilaku merokok sebagian besar (46,67%) adalah cukup baik dan

sebagian kecil (10%) adalah kurang baik. Sedangkan sikap responden

terhadap perilaku merokok sebagian besar (63, 33%) adalah negatif.

6.2 Kejadian Hipertensi

Berdasarkan tabel 5.5 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden

dalam penelitian ini, sebagian besar responden dengan kejadian hipertensi

tahap hipertensi tingkat 1 yaitu sebanyak 16 responden (43.2 %), dan paling

sedikit yaitu responden dengan kejadian hipertensi tahap pra hipertensi

sebanyak 7 responden (18.9%).

Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan

darah diatas normal yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan

mortalitas. Tekanan darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase dalam

setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukkan fase darah yang

sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukkan fase darah

yang kembali ke jantung (Triyanto, 2014).

Menurut World Health Organization (WHO) adalah 120-140 mmHg

tekanan sistolik dan 80-90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang dinyatakan

mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg (Yanti &

Muliati, 2019).
44

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hasil ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan Yashinta (2015) menyatakan bahwa kebiasaan

merokok akan meningkatkan hipertensi kepada penderita hipertensi, yang

dulunya tidak pernah mengalami hipertensi maka akan terjadi hipertensi

grade I. Penyakit darah tinggi atau hipertensi (hypertension) adalah suatu

keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas 140

mmHg yang di tunjukan oleh angka sistolik(bagian atas) dan angka bawah

(diastolik) di atas 90 mmHg pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat

pengukur tekanan darah baik berupa cuff air raksa (sphygomomanometer)

ataupun alat digital lainnya (Pudiastuti, 2013). Faktor risiko yang memicu

terjadinya hipertensi dibagi menjadi dua yaitu faktor yang tidak dapat

dikontrol dan faktor yang dapat dikontrol. Faktor yang tidak dapat dikontrol

meliputi usia, jenis kelamin, dan keturunan (genetik). Faktor yang dapat

dikontrol meliputi kegemukan (obesitas), dislipidemia, stress, konsumsi

alkohol berlebihan konsumsi garam berlebihan, aktivitas fisik, diet yang tidak

seimbang dan merokok (Sudarmoko, 2015).

Hasil penelitian ini sejalan juga dengan penelitian indar kurniawan (2017),

dapat diketahui bahwa karakteristik responden berdasarkan kejadian

hipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Pajangan Bantul, sebagian

besar adalah responden termasuk kategori Hipertensi Grade I yaitu sebanyak

33 responden (84,6%).
45

6.3 Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian Hipertensi Pada

Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang Mongondow

Berdasarkan data pada tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 37

responden, jumlah responden yang memiliki perilaku merokok rendah

berjumlah 7 responden dimana perilaku merokok rendah dengan kejadian

hipertensi pra hipertensi berjumlah 7 responden (18.9 %), jumlah

responden dengan perilaku merokok sedang 16 responden, dimana

perilaku merokok sedang dengan kejadian hipertensi tingkat 1 berjumlah

16 responden 43.2%. sedangkan jumlah perilaku merokok tinggi sebanyak

14 responden dimana perilaku merokok tinggi dengan kejadian hipertensi

tingkat 2 berjumlah 16 responden 43.2 %. Hasil uji Chi-Square dari

variabel hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi

pada lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow. Hasil uji

statistika didapat p value = 0,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa

terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi

pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.

Konsep ini mengandung pengertian bahwa semakin banyak kadar zat-

zat beracun tersebut maka semakin berat juga hipertensi terjadi. Kadar zat-

zat kimia rokok dalam darah secara langsung ditentukan banyak sedikitnya

konsumsi rokok (Sutomo, 2009). Terlepas dari perbedaan tingkat

hipertensi yang terjadi karena perbedaan jumlah konsumsi rokok, pada

dasarnya merokok berpengaruh terhadap kejadian hipertensi. Zat-zat kimia

beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok
46

yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh

darah arteri, mengakibatkan proses aterosklerosis dan tekanan darah tinggi.

Pada studi autopsi dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan

adanyaa terosklerosis pada seluruh pembuluh darah. Merokok pada

penderita tekanan darah tinggi semakin meningkatkan resiko kerusakan

pada pembuluh darah arteri (Priyoto, 2015).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian indar kurniawan (2017),

Hasil pengujian menunjukan bahwa uji Kendal Tau-b menghasilkan nilai

signifikan sebesar 0,008. Nilai uji signifikan 0,008 yang lebih kecil dari

0,05 menunjukan bahwa ada hubungan perilaku merokok dengan kejadian

hipertensi di Puskesmas Pajangan Bantul. Hubungan yang terjadi adalah

hubungan yang sedang karena nilainya berada pada rentang 0,40 sampai

0,599 (Dahlan, 2013). Hasil tabulasi silang pada tabel 4.4 diatas

menyatakan bahwa sebagian besar responden perilaku merokok sedang

dengan kejadian hipertensi grade I sebanyak 14 responden (35.9%),

sedangkan hasil tabulasi silang paling sedikit yaitu perilaku merokok

rendah, dengan kejadian hipertensi normal, prehipertensi dan hipertensi

grade II adalah yaitu 0 responden (0.0%).


47

BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian responden

memiliki perilaku merokok sedang yaitu sebanyak 16 responden

(43.2%).

2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bahwa sebagian

responden dengan kejadian hipertensi tingkat 1 sebanyak 16

responden (43.2 %).

3. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 30 responden dalam

penelitian ini, responden yang memiliki PHBS kurang baik sebanyak

17 responden (56,7%).

4. Hasil uji statistika didapat p value = 0,000, sehingga dapat

disimpulkan bahwa terdapat hubungan hubungan perilaku merokok

dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow

kabupaten bolaang mongondow.

B. Saran

1. Bagi Desa Adow

Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukkan bagi

Desa Adow dalam meningkatkan derajat kesehatan para lansia guna

mencegah terjadinya hipertensi.


48

2. Institusi Pendidikan

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi atau literature

bagi peneliti selanjutnya tentang vulnus laceratum dan Hasil penelitian

ini juga dapat dijadikan fasilitas belajar untuk praktikum keperawatan

Gerontik.

3. Bagi Peneliti

Bagi peneliti selanjutnya bila berminat melakukan penelitian ini

disarankan penelitiannya ditinjau dari segala aspek dengan menggunakan

metode penelitian yang lain, sampel yang lebih besar, dan waktu yang

lebih lama agar hasil penelitian yang diperoleh lebih signifikan.


49

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Maman, dkk, Dasar-dasar Metode Statistika Untuk Penelitian,


Bandung: CV Pustaka Setia, 2011.

Aula, L. E. (2010). Stop merokok. Jogjakarta: Garailmu

Buku Pedoman Penulisan Skripsi Institut Kesehatan dan teknologi Graha Medika
Kotamobagu 2021.

Daeli, F.S. 2017. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pasien Hipertensi
dengan Upaya Pengendalian Hipertensi di UPTD Puskesmas Kecamatan
Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. [Skripsi]. Fakultas Kesehatan
Masyarakat USU, Medan

Data Lansia Puskesmas Adow, Januari 2021

Departemen Kesehatan RI. 2010. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2010. Jakarta
: Departemen Kesehatan.

Departemen Kesehatan RI. [Link]. Gizi Buruk di Nusa Tenggara


Timur. Diakses Tanggal 19 Februari 2017. Pukul 00.01 WIB.

Donsu, J. D. T. (2016). Metodologi Penelitian Keperawatan (Cetakan 1).


PUSTAKABARUPRESS.

Eric Untario, 2017. Hubungan merokok terhadap kejadian hipertensi. Universitas


Hasanudin Makkasar. Skripsi

Fatmawati, Noviyanti R.D, et al. 2019. Hubungan Asupan Protein, Karbohidrat


Dan Lingkar Pinggang Dengan Kadar Asam Urat Di Posyandu Lansia
Werdho Mulyo Kadipiro Surakarta. Skripsi. Program Studi S1 Gizi. Institut
Teknologi Sains Dan Kesehatan PKU Muhammadiyah Surakarta. Di Akses
29 Februari 2020.
50

Hartono. (2019). Metodologi Penelitian Dilengkapi Analisis Regresi dan Path


Analysis Dengan IBM SPSS Statistics Version 25 (Cetakan 1). Zafana
Publishing.

Kemenkes RI. Hipertensi. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian


kesehatan RI. 2014; (Hipertensi):1-7.

Kemenkes RI. Hipertensi. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian


kesehatan RI. 2014; (Hipertensi):1-7.

Marthen IS. 2017. Buku Profil Kesehatan Sulawesi Utara Tahun 2016.

Prasetyaningrum, Yunita Indah. (2014). Hipertensi Bukan untuk Ditakuti.


Jakarta : Fmedia.

Presiden Republik Indonesia. 2012. Peraturan Pemerintah No. 109 tahun 2012
tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk
Tembakau Bagi Kesehatan. Jakarta: Sekretaris Negara.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan


Kesehatan Kementerian RI tahun 2018.
[Link]
018/Hasil%20Riskesdas%[Link] – Diakses Agustus 2018.

Siswanto, Susila, dan Suyanto. (2014). Metodologi Penelitian Kesehatan dan


Kedokteran. Yogyakarta: Bursa Ilmu.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukmana, Teddie. 2011. Mengenal Rokok dan Bahayanya. Jakarta : Be


Champion.

Triyanto, E. (2014). Pelayanan keperawatan bagi penderita Hipertensi Secara


Terpadu. Yokyakarta: Graha Ilmu.
51

World Health Organization (WHO) 2014. Commission on Ending Childhood


Obesity. Geneva, World Health Organization, Departement of
Noncommunicable disease surveillance.

World Health Organization. The World Medicine Situation 2011 3ed. Rational
Use of Medicine. Geneva, 2011.

Yanti & Muliati. (2019). Batas Normal Tekanan Darah, World Health
Organization (WHO)
52

Lampiran 1
53

Lampiran 2
54

Lampiran 3
55

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth :

Bapak/Ibu Calon Responden

Di Tempat

Dengan hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama : Rosmina Mamonto, NIM: 01707010026 Fakultas Ilmu Kesehatan

Program Studi S1 Keperawatan Institut Kesehatan Dan Teknologi Graha Medika

Kotamobagu, dengan ini akan melakukan penelitian tentang “Hubungan

Perilaku Merokok Dengan Kejadian Hipertensi pada Lnasia laki-Laki Di

Desa Adow Kabupaten Bolaang Mongondow”.

Untuk keperluan tersebut saya memohon kesediaan dari Bapak/Ibu untuk

menjadi responden dalam penelitian ini dan menandatangani lembar persetujuan

menjadi responden. Selanjutnya saya mengharapkan Bapak/Ibu untuk dapat

bersedia dilakukan pemeriksaan dengan hasil yang dijamin kerahasiaannya. Jika

Bapak/Ibu tidak bersedia menjadi responden, saya sebagai peneliti tidak akan

memaksakan Hak dari Bapak/Ibu. Namun apabila Bapak/Ibu menyetujui

permohonan ini, maka saya mohon kesediaannya untuk menandatangani lembar

persetujuan dan mengikuti semua rangkaian proses kegiatan penelitian ini.

Demikian permohonan ini saya buat, atas bantuan dan partisipasinya saya

ucapkan terima kasih.

Kotamobagu, Maret 2021


Peneliti

Rosmina Mamonto
56

SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

(Informed Consent)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk menjadi

responden dalam penelitian yang akan dilakukan oleh Nama: Rosmina

Mamonto, NIM : 01707010026 Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi S1

Keperawatan Institut Kesehatan Dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu,

dengan ini akan melakukan penelitian tentang “Hubungan Perilaku Merokok

Dengan Kejadian Hipertensi pada Lnasia laki-Laki Di Desa Adow

Kabupaten Bolaang Mongondow”.

Saya memahami dan mengerti bahwa penelitian ini tidak berdampak buruk

terhadap saya, maka dari itu saya bersedia menjadi responden peneliti.

Demikian persetujuan ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana

mestinya.

Kotamobagu, Maret 2021

Partisipan Peneliti

(…………………….) ( Rosmina Mamonto )


57

A. Kuesioner Perilaku

Isilah kuesioner berikut dengan melingkari pada kolom angka yang sesuai dengan

pribadi Anda atau apa yang Anda rasakan saat ini.

1. Apakah anda perokok Aktif ?


A. Ya
B. Tidak
2. Berapa batang rokok yang anda hisap setiap hari ?
A. >6
B. <5
3. Apakah anda rutin berolahraga
A. Ya
B. Tidak
4. Sudah berapa lama anda merokok ?
A. > 5 tahun
B. < 4 Tahun
5. Apakah anda rutin mengkonsumsi obat hipertensi sesuai anjuran ?
A. Ya
B. Tidak

( Sumber, Penelitian Eric Untario 2017).


58

Lembar Observasi Hipertensi

No Kategori Sistol Diastol

1 Pra-hipertensi 120 - 139 80 – 89

2 Hipertensi tingkat 1 140 - 159 90 – 99

3 Hipertensi Tingkat 2 > 160 > 100

Sumber : Kemenkes RI, (2018).


59

Lampiran 4 Master Tabel


60

Lampiran 5

Tabel Frekuensi

UMUR
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Lansia Usia Pertengahan 12 32.4 32.4 32.4
45-55 Tahun
Lansia 55-65 Tahun 21 56.8 56.8 89.2
Lansia Muda 66-74 Tahun 4 10.8 10.8 100.0
Total 37 100.0 100.0

PENDIDIKAN
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid SD 21 56.8 56.8 56.8
SMP 13 35.1 35.1 91.9
SMA 3 8.1 8.1 100.0
Total 37 100.0 100.0

PEKERJAAN
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tani 16 43.2 43.2 43.2
Wiraswasta 19 51.4 51.4 94.6
PNS 2 5.4 5.4 100.0
Total 37 100.0 100.0

PERILAKU MEROKOK PADA LANSIA


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Rendah 7 18.9 18.9 18.9
Sedang 16 43.2 43.2 62.2
Tinggi 14 37.8 37.8 100.0
Total 37 100.0 100.0
61

KEJADIAN HIPERTENSI
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Pra Hipertensi 7 18.9 18.9 18.9
Hipertensi Tingkat 1 16 43.2 43.2 62.2
Hipertensi Tingkat 2 14 37.8 37.8 100.0
Total 37 100.0 100.0

Tabel Uji Chi Square


PERILAKU MEROKOK PADA LANSIA * KEJADIAN HIPERTENSI Crosstabulation
KEJADIAN HIPERTENSI
Hipertensi Hipertensi
Pra Hipertensi Tingkat 1 Tingkat 2 Total
PERILAKU MEROKOK Rendah Count 7 0 0 7
PADA LANSIA % within PERILAKU 100.0% 0.0% 0.0% 100.0%
MEROKOK PADA
LANSIA
% within KEJADIAN 100.0% 0.0% 0.0% 18.9%
HIPERTENSI
Sedang Count 0 16 0 16
% within PERILAKU 0.0% 100.0% 0.0% 100.0%
MEROKOK PADA
LANSIA
% within KEJADIAN 0.0% 100.0% 0.0% 43.2%
HIPERTENSI
Tinggi Count 0 0 14 14
% within PERILAKU 0.0% 0.0% 100.0% 100.0%
MEROKOK PADA
LANSIA
% within KEJADIAN 0.0% 0.0% 100.0% 37.8%
HIPERTENSI
Total Count 7 16 14 37
% within PERILAKU 18.9% 43.2% 37.8% 100.0%
MEROKOK PADA
LANSIA
62

% within KEJADIAN 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%


HIPERTENSI

Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
Pearson Chi-Square 74.000a 4 .000
Likelihood Ratio 77.349 4 .000
Linear-by-Linear Association 36.000 1 .000
N of Valid Cases 37
a. 5 cells (55.6%) have expected count less than 5. The minimum
expected count is 1.32.
63
64
65
66
67
68
69
70

Anda mungkin juga menyukai