SKRIPSI
HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN
HIPERTENSI PADA LANSIA LAKI-LAKI DI DESA
ADOW KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW
OLEH :
ROSMINA MAMONTO
NIM. 01707010026
INSTITUT KESEHATAN DAN TEKNOLOGI GRAHA MEDIKA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
KOTA KOTAMOBAGU
2021
PERNYATAAN KEASLIAN
Saya,yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Rosmina Mamonto
NIM : 01707010026
Program studi : Ilmu Keperawatan
Menyatakan bahwa skripsi ini adalah benar merupakan hasil karya sendiri
dan sepanjang pengetahuan dan keyakinan saya tidak mencantumkan tanpa
pengakuan bahan-bahan yang telah dipublikasikan sebelumnya atau ditulis oleh
orang lain, atau sebagian bahan yang pernah diajukan untuk gelar atau ijasah pada
IKT Graha Medika atau perguruan tinggi lainnya.
Apabila pada masa yang akan dating diketahui bahwa pernyataan ini tidak
benar adanya, saya bersedia menerima sanksi yang diberikan dengan segala
konsekuensinya. Demikian pemyataan ini saya buat dengan sebenar benarnya.
Kotamobagu, Juni 2021
Rosmina Mamonto
ii
HALAMAN PERSETUJUAN
SKRIPSI
HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN
HIPERTENSI PADA LANSIA LAKI-LAKI DI DESA
ADOW KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW
Oleh:
ROSMINA MAMONTO
NIM. 01707010026
SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI
TANGGAL, Februari 2021
Oleh:
Pembimbing Ketua
DR. Henny Kaseger.,[Link].,Ns.,[Link]
NIDK. 8894280018
Pembimbing II
Ns. Widya Astuti.,[Link]
NIK. 093180.01.2017.069
Menyetujui,
Ketua Program Studi S1 Keperawatan
Ns. Widya Astuti.,[Link]
NIK. 093180.01.2017.069
HALAMAN PENGGESAHAN
Skripsi ini diajukan oleh :
Nama : Rosmina Mamonto
NIM : 01707010026
Program Studi : S1 Keperawatan
Judul Skripsi : Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian Hipertensi
Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang
Mongondow
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Tim Penguji dan diterima sebagai bagian
persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan pada
Program Studi S1 Keperawatan Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika
TIM PENGUJI
1. Heriyana Amir., [Link].., [Link] (….………………………)
(Penguji 1)
2. Ns. Suci Rahayu Ningsih, [Link]., [Link] (…………………………..)
(Penguji II)
3. Dr. Henny Kaseger., [Link]., Ns., [Link] (……………………...…...)
(Penguji III)
Ditetapkan di : Kotamobagu
Tanggal : Juli 2021
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena
atas segala limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan Skripsi ini tepat pada waktunya, yang berjudul
“Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Laki-laki
Di Desa Adow Kabupaten Bolaang Mongondow”.
Dalam penyusunan Skripsi ini penulis menemui beberapa kesulitan dan
hambatan, namun berkat bimbingan, dukungan, arahan, serta bantuan dan doa dari
berbagai pihak sehingga Skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Ibu Dr. Henny Kasenger, [Link]., Ns., [Link]., Selaku Ketua Yayasan
Pendidikan Bogani Bolaang Mongondow dan juga Dosen Pembimbing I yang
selama ini telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan
arahan, motivasi dan saran kepada penulis hingga dapat menyelesaikan
penyusunan Skripsi ini.
2. Ibu Ns. Heryana Amir, [Link]., [Link]., Selaku Rektor Institut Kesehatan dan
Teknologi Graha Medika Kotamobagu.
3. Ibu Ns. Siti Soleman, [Link]., [Link]., Selaku Wakil Rektor I. Bidang
Akademik Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu.
4. Bapak Marten Kaseger, SE.,MM., Selaku Wakil Rektor II. Bidang Keuangan
Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu.
i
5. Bapak Ns. Echa Effendy S. Amir, [Link]., Selaku Wakil Ketua III. Bidang
Kemahasiswaan Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika
Kotamobagu.
6. Bapak Ns. Fernando M. Mongkau, [Link].,[Link]. Selaku Wakil Rektor IV
Bidang Kerjasama Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika
Kotamobagu
7. Bapak Hairil Akbar, [Link].,M.;Epid Selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Institut Kesehatan Dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu.
8. Ibu Ns. Widya Astuti, [Link]., Selaku Ketua Program Studi S1-Ilmu
Keperawatan Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu
dan juga sebagai Dosen Pembimbing II yang selama ini telah meluangkan
waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan arahan, motivasi dan saran
kepada penulis hingga dapat menyelesaikan penyusunan Skripsi ini.
9. Seluruh Dosen dan staf pengawai Institut Kesehatan dan Teknologi Graha
Medika Kotamobagu, khususnya Program Studi S1-Ilmu Keperawatan, yang
telah banyak membantu selama proses perkuliahan hingga penyusunan Skripsi
ini.
10. Sangadi desa adow kabupaten bolaang mongondow serta segenap staf yang
telah memberikan izin dalam melakukan pengambilan data awal yang penulis
butuhkan dalam peyusunan Skripsi ini.
11. Terima kasih kepada Mama dan Papa, serta semua keluarga besar tercinta
yang selama ini telah memberikan doa, semangat dan dukungan baik moril
ii
maupun materi, nasehat serta motivasi kepada penulis dari awal proses
perkuliahan sampai pada tahap penyusunan Skripsi ini terselesaikan.
12. Terima kasih kepada teman-teman mahasiswa/mahasiswi Institut Kesehatan
dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu angkatan 2018 khususnya program
studi S1 Keperawatan yang telah sama-sama berjuang dan saling membantu
selama menempuh pendidikan sampai dalam penyusunan tugas akhir ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berkenan
membalas segala kebaikan dari semua pihak yang telah membantu yang tidak
dapat penulis sebut satu persatu. Namun penulis juga menyadari bahwa dalam
penyusunan Skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu kritik dan
saran yang konstruktif masih sangat diharapkan demi perbaikan penyusunan
Skripsi ini selanjutnya. Semoga Skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak dalam pengembangan ilmu khususnya profesi keperawatan.
Kotamobagu, Juni 2021
Rosmina Mamonto
iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. Identitas Pribadi
Nama : Rosmina Mamonto
Nim : 01707010026
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/Tanggal Lahir : Torosik, 10 September 1997
Suku/Bangsa : Mongondow/Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Torosik
II. Riwayat Pendidikan
1. Tahun 2005 – 2010 : SDN 1 Torosik
2. Tahun 2011 – 2013 : SMP Negeri 2 Pinolosian
3. Tahun 2014 – 2016 : SMK Lpmd Adow
4. Tahun 2017 – Sekarang : Institut Kesehatan dan Teknologi Graha
Medika Kotamobagu.
iv
MOTTO
Jawaban dari Sebuah Keberhasilan Adalah antara Cita-Cita dan Pencaoaiannya.
Jhon Ron.
v
ABSTRAK
Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu
Program Studi S1 Keperawatan
Skripsi, Juli 2021
Rosmina Mamonto,
HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN
HIPERTENSI PADA LANSIA LAKI-LAKI DI DESA ADOW
KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW
Pembimbing I : Dr. Henny Kaseger, [Link].,Ns.,[Link]
Pembimbing II : Ns. Widya Astuti, [Link]
Latar Belakang : Data World Health Organization (WHO) tahun 2015
menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi, artinya 1
dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penderita hipertensi di dunia
terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5
miliar orang yang mengalami hipertensi dan diperkirakan setiap tahunnya 10,44
juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya (Kemenkes RI, 2019).
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku
merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten
bolaang mongondow.
Jenis penelitian : Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik yaitu
menggambarkan hubungan variabel independen dan variabel dependen dan
menganalisa hubungan variabel-variabel yang diteliti. Waktu penelitian
dilaksanakan pada bulan mei - juni tahun 2021. Metode pengambilan sampel yang
digunakan pada penelitian adalah total sampling dengan 37 sampel.
Hasil Penelitian : Hubungan perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada
laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow hasil uji statistik chi-
square p < 0,05 di dapat p value = 0,00.
Kesimpulan dan Saran : Ada Hubungan perilaku merokok dengan kejadian
hipertensi pada laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi lansia khususnya
lansia laki-laki dan desa adow untuk meningkatkan derajat kesehatan khususnya
bagi lansia yang menderita hipertensi.
Kata Kunci : Perilaku Merokok dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia
Laki-laki
vi
ABSTRACT
Graha Medika Kotamobagu Institute Of Health and Technology
Nursing S1 Study Program
Study, July 2021
Rosmina Mamonto,
THE RELATIONSHIP OF SMOKING BEHAVIOR WITH THE EVENT
OF HYPERTENSION IN ELDERLY MEN IN ADOW VILLAGE,
BOLAANG MONGONDOW REGENCY.
Advisor I : Dr. Henny Kaseger, [Link].,Ns.,[Link]
Advisor II : Ns. Widya Astuti, [Link]
Background : Data from the World Health Organization (WHO) in 2015 showed
that around 1.13 billion people in the world suffer from hypertension, meaning
that 1 in 3 people in the world is diagnosed with hypertension. The number of
people with hypertension in the world continues to increase every year, it is
estimated that in 2025 there will be 1.5 billion people with hypertension and it is
estimated that every year 10.44 million people die from hypertension and its
complications (Kemenkes RI, 2019).
Objective : This study aims to determine the relationship between smoking
behavior and the incidence of hypertension in elderly men in Adow Village,
Bolaang Mongondow Regency.
Type of research : This type of research is descriptive analytic which describes
the relationship between the independent variable and the dependent variable and
analyzes the relationship between the variables studied. The time of the study was
carried out in May - June 2021. The sampling method used in the study was total
sampling with 37 samples.
Research Results : The relationship between smoking behavior and the incidence
of hypertension in men in Adow Village, Bolaang Mongondow Regency, the
results of the chi-square statistical test p < 0.05, p value = 0.00.
Conclusions and Suggestions : There is a relationship between smoking behavior
and the incidence of hypertension in men in Adow Village, Bolaang Mongondow
Regency. It is hoped that this research can be used as input for the elderly,
especially elderly men and adow villages to improve health status, especially for
the elderly who suffer from hypertension.
Keywords : Smoking Behavior with Hypertension Incidence in Male Elderly
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR.......................................................................................i
MOTTO.............................................................................................................v
ABSTRAK.........................................................................................................vi
DAFTAR ISI......................................................................................................viii
DAFTAR TABEL..............................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang....................................................................................1
1.2. Rumusan masalah...............................................................................6
1.3. Tujuan penelitian................................................................................6
1.4. Manfaat Penelitian..............................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Perilaku Merokok...............................................................8
2.1.1. Definisi Perilaku Merokok..................................................8
2.1.2. Jenis-jenis Rokok.................................................................10
2.1.3. Tipe Perilaku Merokok........................................................11
viii
2.2. Konsep Hipertensi...........................................................................15
2.2.1. Definisi Hipertensi...............................................................15
2.2.2. Klasifikasi Hipertensi..........................................................15
2.2.3. Etiologi................................................................................16
2.2.4. Tanda da Gejala...................................................................17
2.2.5. Komplikasi...........................................................................17
2.2.6. Faktor Resiko.......................................................................19
2.2.7. Penatalaksanaan...................................................................22
2.3. Konsep Lansia.................................................................................23
2.3.1. Definsi Lansia......................................................................23
2.3.2. Batasan lansia......................................................................23
2.3.3. Karakteristik Lansia.............................................................24
2.3.4. Tipe Lansia..........................................................................25
2.4. Kerangka Teori...............................................................................26
BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS PENELITIAN, DAN
DEFINISI OPERASIONAL
3.1. Kerangka Konsep...............................................................................27
3.2. Hipotesis Penelitian............................................................................28
3.3. Definisi Operasional...........................................................................29
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian................................................................................30
4.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian.............................................................30
4.3. Populasi Dan Sampel..........................................................................30
4.4. Instrumen Penelitian...........................................................................31
4.5. Pengelolaan Data................................................................................31
4.6. Analisa Data.......................................................................................32
4.7. Prosedur Pengumpulan Data..............................................................33
4.8. Etika Penelitian...................................................................................33
4.9. Alur Penelitian....................................................................................35
BAB V HASIL
ix
5.1 Gambaran Lokasi Penelitian................................................................36
5.2 Hasil Penelitian....................................................................................37
BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Perilaku Merokok..................................................................................42
6.3 Kejadian Hipertensi...............................................................................43
6.3 Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian Hipertensi..................45
BAB VII PENUTUP
7.1 Kesimpulan............................................................................................47
7.2 Saran .....................................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kerangka Teori Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian
Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang
Mongondow...........................................................................................26
Tabel 3.1 Kerangka Konsep Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian
Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang
Mongondow...........................................................................................27
Tabel 3.2 Definisi Operasional : Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian
Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang
Mongondow...........................................................................................29
Tabel 4.1 Alur Penelitian Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian
Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang
Mongondow...........................................................................................36
xi
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Lampiran Halaman
1. Surat permohonan izin studi pendahuluan di 40
puskesmas adow
2. Surat balasan pengambilan data awal Skripsi di 41
puskesmas adow
3. Surat permohonan izin studi pendahuluan di 42
balai desa adow
4. Surat balasan pengambilan data awal Skripsi di 42
balai desa adow
5. Surat permohonan menjadi responden 43
6. Surat persetujuan menjadi responden 44
7. Lembar observasi penelitian 45
8. Lembar bimbingan akademik 47
xii
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
World Health Organization ( WHO) pada tahun 2014 terdapat 600
juta penderita hipertensi diseluruh dunia. Prevalensi tertinggi terjadi di
wilayah afrika yaitu sebesar 30%. Prevalensi terendah trdapat wilayah
amerika sebesar 18%. Secara umum, laki-laki memiliki prevalensi
hipertensi lebih tinggi dibanding wanita.
Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian dini pada
masyarakat di dunia dan semakin lama, permasalahan tersebut semakin
meningkat. WHO telah memperkirakan pada tahun 2025 nanti, 1,5 milyar
orang di dunia akan menderita hipertensi tiap tahunnya. Merokok
merupakan masalah yang terus berkembang dan belum dapat ditemukan
solusinya di Indonesia sampai saat ini. Menurut data WHO tahun 2011,
pada tahun 2007 Indonesia menempati posisi ke-5 dengan jumlah perokok
terbanyak di dunia. Merokok dapat menyebabkan hipertensi akibat zat-zat
kimia yang terkandung di dalam tembakau yang dapat merusak lapisan
dalam dinding arteri, sehingga arteri lebih rentan terjadi penumpukan plak
(arterosklerosis). Hal ini terutama disebabkan oleh nikotin yang dapat
merangsang saraf simpati ssehingga memacu kerja jantung lebih keras dan
menyebabkan penyempitan pembuluh darah, serta peran karbon
monoksida
1
2
yang dapat menggantikan oksigen dalam darah dan memaksa jantung
memenuhi kebutuhan oksigen tubuh (WHO, 2011).
Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan
sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi, artinya 1 dari 3
orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penderita hipertensi di
dunia terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan
ada 1,5 miliar orang yang mengalami hipertensi dan diperkirakan setiap
tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya
(Kemenkes RI, 2019).
Data Riskesdas (2018), prevalensi kejadian hipertensi di Indonesia
sebesar 34.1%. Angka ini meningkat cukup tinggi dibandingkan hasil
Riskesdas (2013), yang prevalensi kejadian hipertensi sebesar 25.8%.
Prevalensi hipertensi mengalami peningkatan yang signifikan pada pasien
berusia 60 tahun ke atas. Hal ini dapat dilihat dari prevalensi hipertensi di
Indonesia pada tahun 2013 pada kelompok usia tua, yaitu kelompok usia
45-54 tahun sebesar 35,6%, kelompok usia 55-64 tahun sebesar 45,9% dan
pada kelompok usia 65-74 tahun sebesar 57,6%. Dan dari hasil riset yang
terbaru pada tahun 2018 angka ini mengalami peningkatan yang cukup
signifikan menjadi 45,3% pada usia 45-54 tahun, 56,2% di usia 55-64
tahun dan 63,2% pada kelompok usia 65-74 tahun (Riskesdas, 2018).
Tingginya angka kejadian hipertensi di dunia, dipengaruhi oleh dua
jenis faktor, yaitu yang tidak bisa diubah seperti umur, jenis kelamin, dan
ras. Faktor yang bisa diubah diantaranya obesitas, konsumsi alkohol,
3
kurang olahraga, konsumsi garam yang berlebihan, dan kebiasaan
merokok (Setyanda, 2015). Salah satu faktor risiko hipertensi adalah
kebiasaan merokok. Faktor risiko hipertensi lainnya antara lain umur, jenis
kelamin, riwayat keluarga, dan genetic (faktor resiko yang tidak dapat
diubah/dikontrol), serta kebiasaan mengonsumsi garam, konsumsi lemak
jenuh, penggunaan jelantah, kebiasaan konsumsi minuman beralkohol,
obesitas, kurang estrogen/kontrasepsi pil KB (Kemenkes RI, 2014).
Hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2011
menunjukkan, Indonesia menduduki posisi pertama dengan prevalensi
perokok aktif bila dibandingkan dengan negara-negara lain yang
melaksanakan GATS, yaitu 67,4% pada laki-laki dan 2,7% pada wanita.
Menurut laporan Riskesdas tahun 2010, persentase perokok di pedesaan
lebih tinggi dibandingkan persentase perokok di perkotaan. Dari 86.869
responden di pedesaan, sebanyak 37,4% merupakan perokok aktif,
sedangkan di perkotaan sebanyak 32,4% responden merupakan perokok
aktif dari 91.057 responden (Depkes, 2012).
Perilaku merokok adalah menghisap asap tembakau yang telah
menjadi cerutu kemudian disulut api. Menurutnya ada dua tipe merokok.
Pertama adalah menghisap rokok secara langsung yang disebut perokok
aktif, dan yang kedua mereka yag secara tidak langsung menghisap rokok.
Namun turut menghisap asap rokok disebut perokok pasif. Bermacam-
macam perilaku yang dilakukan manusia dalam menanggapi stimulus yang
4
diterimanya, salah satu bentuk perilaku manusia yang dapat diamati adalah
perilaku merokok (Sukmana, 2011).
Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, secara umum jumlah
penduduk lansia di Provinsi Sulawesi Utara sebanyak 191.853 jiwa atau
8,45 % dari keseluruhan penduduk. Jumlah penduduk lansia perempuan
(103.673 jiwa) lebih banyak dari jumlah penduduk lansia laki – laki (88.180
jiwa) penyebarannya jauh lebih banyak di daerah pedesaan (114.836 jiwa)
dibandingkan di daerah perkotaan (77.017 jiwa). Jika dilihat menurut
kelompok umur, jumlah penduduk lansia terbagi menjadi lansia muda (60-
69 tahun) sebanyak 110.791 jiwa, lansia menengah (70-79 tahun) sebanyak
60.969 jiwa, dan lansia tua ( 80 tahun ke atas) sebanyak 20.093 jiwa.
Sementara itu, penduduk pra lansia yaitu penduduk kelompok umur 45-54
tahun dan 55-59 tahun masing–masing sebanyak 268.022 jiwa dan 98.179
jiwa. (BPS Sulawesi Utara, 2010). Pada tahun 2016, hipertensi merupakan
Penyakit Tidak Menular tertinggi di Sulawesi Utara dengan prevalensi yang
mencapai 32.742 kasus dan meningkat pada tahun 2017 prevalensi di
Sulawesi Utara menjadi 103.376 kasus (Depkes Provinsi Sulawesi Utara,
2017).
Menurut data Dinas Kesehatan Sulut (2016), hipertensi merupakan
penyakit dengan nomor urut kedua setelah influenza dari sepuluh besar
penyakit di Sulawesi Utara berdasarkan Surveilans Terpadu Penyakit
(STP), yaitu sebesar 32,742 kasus. Menurut Kepala Bidang Pengendalian
dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Daerah Sulut Steven
5
Dandel mengakui Sulut sangat rentan akan penyakit tidak menular. Dandel
mengatakan, penyakit tidak menular yang mendominasi hipertensi dan
obesitas. Penyebab kematian akan penyakit tidak menular, tinggi di Sulut.
Kebanyakan masyarakat Sulut, tidak mengerti bahayanya penyakit tidak
menular. Dirinya menilai, penyakit tidak menular disebabkan oleh gaya
hidup tidak sehat (Profil Kesehatan Sulut, 2016).
Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan januari 2021
kepada 9 orang lansia laki-laki yang menderita hipertensi di Desa Adow
Kabupaten Bolaang Mongondow, dari 9 orang tersebut 6 diantaranya
mengatakan sebagai perokok berat dan 3 diantaranya pernah merokok
kemudian berhenti. Data yang diperoleh dari posyandu lansia yang berada
di desa Adow tercatat pada akhir tahun 2020 sebanyak 154 lansia yang
terdiri dari 79 orang lansia perempuan dan 58 orang lansia laki-laki. Dari
jumlah tersebut sebanyak 59 orang lansia laki-laki yang menderita
hipertensi dan 37 orang diantaranya menderita hipertensi juga sebagai
perokok aktif. Faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi adalah
kebiasaan merokok yang pada umumnya terdapat pada laki-laki perokok
aktif.
Berdasarkan uraian permasalahan diatas, penulis tertarik untuk
meneliti secara jelas dan nyata tentang “Hubungan Perilaku Merokok
Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Laki-laki Di Desa Adow
Kabupaten Bolaang Mongondow”.
6
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka
dirumuskan masalah sebagai berikut : Apakah ada hubungan antara
perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa
adow kabupaten bolaang mongondow?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok
dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow
kabupaten bolaang mongondow.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Diketahui hubungan perilaku perilaku merokok dengan kejadian
hipertensi pada lansia laki-laki di puskesmas adow kabupaten
bolaang mongondow
b. Diketahui perilaku merokok pada lansia laki-laki di desa adow
kabupaten bolaang mongondow.
c. Diketahui kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow
kabupaten bolaang mongondow
d. Teranalisis hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian
hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang
mongondow.
7
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan dapat dijadikan masukan dalam mensukseskan
program penanggulangan hipertensi pada masyarakat terkhususnya
lansia di puskesmas adow. Untuk lansia agar mereka tahu
pentingnya upaya mengontrol hipertensi.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat menambah sumber informasi
kepustakaan bagi kampus sehingga dapat digunakan mahasiswa
lain sebagai bahan referensi pembelajaran dan penelitian.
1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan sumber
informasi bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian selanjutnya
terkait dengan upaya mengontrol hipertensi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Perilaku Merokok
2.1.1 Pengertian
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang
dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak
luar (Marimbi, 2009). Menurut Skiner (1938 dalam Notoadmodjo,
2010), perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian perilaku manusia
terjadi melalui proses Stimulus Organisme Respons, sehingga teori ini
disebut teori SOR (stimulus-organisme-respons).
Rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan
untuk dibakar dan dihisap dan/atau dihirup asapnya, termasuk
rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan
dari tanaman nicotiana tabacum, nicotiana rustica, dan spesies lainnya
atau sintetisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar dengan atau
tanpa bahan tambahan (PP No. 109 tahun 2012).
Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang sekitar
70-120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10
mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar
pada salah satu ujungnya dandibiarkan membara agar asapnya dapat
dihirup melalui mulut pada ujung lainnya (Aula, 2010).
8
9
Sepertihalnya perilaku lain, perilaku merokokpun muncul karena
adanya faktor internal (faktor biologis dan faktor psikologis, seperti
perilaku merokok dilakukan untuk mengurangi stres) dan factor
eksternal (factor lingkungan sosial, seperti terpengaruh oleh temans
ebaya). Sari dkk (2003) menyebutkan bahwa perilaku merokok adalah
aktivitas menghisap atau menghirup asap rokok dengan menggunakan
pipa atau rokok. Menurut Ogawa (dalam Triyanti, 2006) dahulu
perilaku merokok disebut sebagai suatu kebiasaan atau ketagihan, tetapi
dewasa ini merokok disebut sebagai tobacco dependency atau
ketergantungan tembakau. Tobacco dependency sendiri dapat di
definisikan sebagai perlaku penggunaan tembakau yang menetap,
biasanya lebih dari setengah bungkus rokok per hari, dengan adanya
tambahan distres yang disebabkan oleh kebutuhan akan tembakau
secara berulang-ulang. Perilaku merokok dapat juga didefinisikan
sebagai aktivitas subjek yang berhubungan dengan perilaku
merokoknya, yang diukur melalui intensitas merokok, waktu merokok,
dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari (Komalasari & Helmi,
2000). Sementara Leventhal & Cleary (1980) menyatakan bahwa
perilaku merokok terbentuk melalui empat tahap, yaitu: tahap
preparation, initiation, becoming a smoker, dan maintenance of
smoking. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku
merokok adalah aktivitas menghisap atau menghirup asap rokok dengan
menggunakan pipa atau rokok yang dilakukan secara menetap dan
10
terbentuk melalui empat tahap, yaitu: tahap preparation, initiation,
becoming a smoker, dan maintenance of smoking (Maman, 2009).
2.1.2 Jenis-jenis rokok
Menurut Jaya (2009), di Indonesia pada umumnya, rokok dibedakan
menjadi beberapa jenis. Perbedaan ini didasarkan atas bahan pembungkus
rokok, bahan baku atau isi rokok, proses pembuatan rokok dan
penggunaan filter pada rokok.
1) Rokok berdasarkan bahan pembungkus
a) Klobot : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung.
b) Kawung: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.
c) Sigaret: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.
d) Cerutu: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau.
2) Rokok berdasarkan bahan baku
a) Rokok putih, yaitu rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun
tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma
tertentu.
b) Rokok kretek, yaitu rokok yang bahan bahan baku atau isinya
berupa daun tembakau dan cengkeh dan diberi saus untuk
mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
c) Rokok klembak, yaitu rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun
tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk
mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
11
3) Rokok berdasarkan proses pembuatannya
a) Sigaret Kretek Tangan (SKT), yaitu rokok yang proses pembuatannya
dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan atau
alat bantu sederhana.
b) Sigaret Kretek Mesin (SKM), yaitu rokok yang proses pembuatannya
menggunakan mesin. sederhananya, mater rokok dimasukan ke
dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin
pembuatan rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat
rokoktelah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu sampai
delapan ribu batang rokok per menit.
4) Rokok berdasarkan penggunaan filter
a) Rokok Filter (RF): rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.
b) Rokok Non Filter (RNF): rokok yang pada bagian pangkalnya tidak
terdapat gabus.
2.1.3 Tipe perilaku merokok
Silvan Tomkins (dalam Aula, 2010), membagi perilaku merokok
menjadi empat tipe perilaku merokok yaitu sebagai berikut:
1) Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Dengan
merokok seorang mengalami peningkatan rasa yang positif. Green
(dalam Psychologycal Factorin Smoking, 1978), menambahkan tiga
sub tipe ini yaitu:
12
a) Pleasure relaxation, yaitu perilaku merokok hanya untuk
menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah diperoleh,
misalnya merokok sambil minum kopi atau setelah makan.
b) Stimulation to pick them up, yaitu perilaku merokok hanya
dilakukan sekadarnya untuk menyenangkan perasaan.
c) Pleasure of handling the cigarette, yakni kenikmatan yang diperoleh
dengan memegang rokok, terutama yang dialami oleh perokok
pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa
dengan tembakau padahal untuk menghisapnya hanya
membutuhkan waktu beberapa menit. Perokokpun lebih senang
berlama-lama memainkan rokoknya dengan jari-jarinya sebelum
menyalakannya menggunakan api.
2) Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif. Banyak
orang yang merokok demi mengurangi perasaan negatif, misalnya
saat mereka marah, cemas dan gelisah rokok dianggap sebagai
penyelamat. Mereka merokok bila perasaan tidak enak sedang
dialami, sehingga mereka terhindar dari perasaan yang lebih tidak
mengenakan.
3) Perilaku merokok yang adiktif. Orang-orang yang menunjukan
perilaku seperti itu akan menambah dosis rokok yang digunakan
setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Pada
umumnya mereka akan pergi keluar rumah membeli rokok walaupun
13
tengah malam. Sebab, mereka khawatir bila rokok tidak tersedia
padahal mereka sangat menginginkannya.
4) Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Seseorang merokok
bukan demi mengendalikan perasaannya, tetapi karena bebar-benar
sudah menjadi kebiasaan rutin.
Menurut Aula (2010), tipe perokok dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Perokok aktif (Active smoker) Perokok aktif adalah seseorang yang
benar-benar memilik kebiasaan merokok. Merokok sudah menjadi
bagian hidupnya, sehingga rasanya tidak enak bila sehari saja
tidak merokok. Oleh karena itu, ia akan melakukan apapun demi
mendapatkan rokok, kemudian merokok.
2) Perokok pasif (passive smoker) Perokok pasif adalah seseorang yang
tidak memiliki kebiasan merokok, namun terpaksa harus
mengisap asap rokok yang dihembuskan oleh orang lain yang
kebetilan ada di dekatnya. Dalam keseharian, ia tidak berniat dan
tidak memiliki kebiasaan merokok. Jika tidak merokok ia tidak
merasakan apa-apa dan tidak terganggu aktivitasnya. Meskipun
perokok pasif tidak merokok, tetapi perokok pasif memiliki resiko
yang sama dengan perokok aktif dalam hal terkena penyakit yang
disebabkan oleh rokok. Perokok pasif mempunyai resiko yang
sama dengan perokokaktif karena perokok pasif juga menghirup
kandungn karsinogen (zat yang memudahkan timbulnya kanker
14
yang ada dalam asap rokok) dan 4.000 partikel lain yang ada di asap
rokok
Selain perokok aktif dan perokok pasif, masih ada tipe-tipe
perokok yang lain. Menurut Sitepoe tipe perokok ada lima:
a) Tidak merokok, yaitu tidak pernah merokok selama hidup.
b) Perokok ringan, yaitu merokok berselang-seling.
c) Perokok sedang, yaitu merokok setiap hari dalam kuantum kecil.
d) Perokok berat, yaitu merokok lebih dari satu bungkus setiap
hari.
e) Berhenti merokok, yaitu semula merokok, kemudian berhenti
dan tidak pernah merokok lagi. Menurut Mutadin (2002 dalam
Aula 2010), jika ditinjau dari banyaknya jumlah rokok yang
diisap setiap hari, tipe perokok dibedakan menjadi tiga.
1) Perokok sangat berat, yakni perokok yang menghabiskan
lebih dari 31 batang rokok setiap hari dengan selang
merokok lima menit setelah bangun tidur pada pagi hari.
2) Perokok berat, yakni prokok yang menghabiskan 21-30
batang rokok setiap hari dengan selanngg waktu merokok
berkisar 6-30 menit setelah bangun tidur pada pagi hari.
3) Perokok sedang, yakni perokok yang menghabiskan sekitar
10 batang rokok setiap hari dengan selang waktu merokok 60
menit setelah bangn tidur pada pagi hari.
15
2.2 Konsep Hipertensi
2.2.1 Pengertian
Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan
tekanan darah diatas normal yang dapat meningkatkan angka morbiditas
dan mortalitas. Tekanan darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase
dalam setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukkan fase
darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90
menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung (Triyanto, 2014).
Menurut World Health Organization (WHO) adalah 120-140
mmHg tekanan sistolik dan 80-90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang
dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg
(Yanti & Muliati, 2019).
2.2.2 Klasifikasi
Klasifikasi Hipertensi Menurut Kemenkes
Kategori TDS (mmHg) TDD (mmHg)
Normal < 120 dan < 80
Pra-hipertensi 120 - 139 atau 80 – 89
Hipertensi tingkat 1 140 - 159 atau 90 – 99
16
Hipertensi tingkat 2 > 160 atau > 100
2.2.3 Etiologi
a. Usia
Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia.
Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun dengan jelas
menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian premature.
b. Jenis Kelamin
Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi dari pada wanita,
namun pada usia pertengahan dan lebih tua, insiden pada wanita
mulai meningkat, sehingga pada usia di atas 65 tahun, insiden pada
wanita lebih tinggi.
c. Ras
Orang yang berkulit hitam umumnya rentan terkena hipertensi paling
sedikit dua kali pada orang berkulit putih. Contohnya mortalitas
pasien pria hitam dengan diastole 115 atau lebih, 3,3 kali lebih tinggi
daripada pria berkulit putih, dan 5,6 kali bagi wanita putih.
d. Pola Hidup
Penghasilan rendah, tingkat pendidikan rendah, dan kehidupan
pekerjaan yang penuh stress agaknya berhubungan dengan insiden
17
hipertensi yang lebih tinggi. Akan tetapi obesitas di pandang sebagai
faktor resiko utama. Bila berat badannya turun, tekanan darahnya
turun menjadi normal. Merokok di pandang sebagai faktor resiko
tinggi bagi hipertensi dan penyakit arteri koroner.
2.2.4 Tanda dan Gejala
Kejadian hipertensi biasanya tidak memiliki tanda dan gejala.
Gejala yang sering muncul adalah sakit kepala, rasa panas di tengkuk,
atau kepala berat. Namun, gejala tersebut tersebut tidak bisa dijadikan
patokan ada tidaknya hipertensi pada seseorang. Satu-satunya cara
untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan pengecekan tekanan
darah.
Seseorang biasanya tidak menyadari bahwa dirinya mengalami
hipertensi hingga ditemukan kerusakan dalam organ, seperti terjadinya
penyakit jantung koroner, stroke, atau gagal ginjal. Karena itu,
mengontrol tekanan darah sangatlah penting (Prasetyaningrum, 2014).
2.2.5 Komplikasi
Komplikasi hipertensi yang sering terjadi yaitu stroke, infark
miokard, gagal ginjal, ensefalopati (kerusakan otak) dan pregnancy-
included hypertension (PIH). Adapun komplikasi yang mungkin timbul
tergantung pada berapa tinggi tekanan darah, berapa lama telah dialami,
adakah faktor-faktor resiko lain dan bagaimana penyakit tersebut
ditangani.
18
a. Stroke
Akibat tekanan darah yang tinggi terjadi pendarahan di otak
sehingga menyebabkan stroke. Stroke dapat terjadi pada hipertensi
kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami
hipertrofi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah
yang diperdarahi berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami
arterosklerosis dapat melemah sehingga dapat meningkatkan
kemungkinan terbentuknya anurisma.
b. Infark Miokardium
Infark miokard dapat terjadi apabila tersumbatnya aliran darah
sehingga tidak dapat mensuplai cukup oksigen ke miokardium.
Akibat hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka kebutuhan
oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi
iskemia jantung yang menyebabkan infark.
c. Gagal Ginjal
Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang
progresif dan irreversible dari berbagai penyebab, salah satunya
pada bagian yang menuju ke kardiovaskular. Mekanisme terjadinya
hipertensi pada gagal ginjal kronik karena penimbunan garam dan
air atau sistem renin angiotensin aldosteron (RAA).
d. Ensefalopati (Kerusakan otak)
Ensefalopati dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna
(hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi pada
19
kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan
mendorong kedalam ruang intersitium diseluruh susunan saraf
pusat. Neuron-neuron disekitarnya kolaps yang dapat menyebabkan
ketulian, kebutaan dan tak jarang juga koma serta kematian
mendadak (Daeli, 2017).
2.2.6 Faktor Resiko
Menurut Suiraoka (2012), faktor resiko penyakit hipertensi sebagai
berikut :
1. Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol
a. Keturunan (Genetika)
Keturunan salah satu penyebab utama munculnya penyakit
hipertensi. Hal ini terbukti dengan ditemukannya kejadian
bahwa hipertensi lebih banyak terjadi pada kembar monozigot
(berasal dari satu sel telur) dibanding heterozigot (berasal dari
sel telur yang berbeda). Jika seseorang termasuk orang yang
mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) dan tidak
melakukan penanganan atau pengobatan maka ada
kemungkinan lingkungannya akan menyebabkan hipertensi
berkembang dalam waktu sekitar tiga puluhan tahun akan
mulai muncul tanda-tanda dan gejala hipertensi dengan
berbagai komplikasinya.
b. Jenis Kelamin
20
Pada umumnya pria lebih terserang hipertensi dibandingkan
dengan wanita. Hal ini disebabkan pria banyak mempunyai
faktor yang mendorong terjadinya hipertensi seperti kelelahan,
perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan, pengangguran dan
makan tidak terkontrol. Biasanya wanita akan mengalami
peningkatan resiko hipertensi setelah masa menopause.
c. Umur
Semakin bertambahnya usia, kemungkinan seseorang
menderita hipertensi juga semakin besar. Hilangnya elastisitas
jaringan arterosklerosis serta pelebaran pembuluh darah adalah
faktor penyebab hipertensi pada usia tua.
2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol
a. Konsumsi garam berlebihan
Konsumsi natrium yang berlebihan dapat menyebabkan
tingginya konsentrasi natrium didalam cairan ekstraseluler.
Meningkatnya volume cairan ektraseluler tersebut dapat
menyebabkan meningkatnya volume darah dalam tubuh,
sehingga berdampak pada timbulnya hipertensi.
b. Konsumsi lemak jenuh
Resiko terjadinya hipertensi disebabkan karena kebiasaan
mengkonsumsi lemak jenuh yang kaitannya sangat erat dengan
peningkatan berat badan, selain itu juga dapat meningkatkan
resiko arterosklerosis.
21
c. Alkohol
Mengkonsumsi alkohol juga membahayakan kesehatan karena
dapat meningkatkan sintesis katekholamin, karena adanya
katekholamin memicu kenaikan tekanan darah.
d. Obesitas
Pada penderita hipertensi yang mengalami obesitas curah
jantung dan sirkulasi volume darahnya lebih tinggi jika
dibandingkan dengan yang tidak obesitas. Dari hasil penelitian,
diungkapkan bahwa orang yang kegemukan mudah terkena
hipertensi. Wanita yang sangat gemuk pada usia 30 tahun
mempunyai resiko terserang hipertensi 7 kali lipat
dibandingkan dengan wanita langsing pada usia yang sama.
e. Kurang Olahraga
Orang yang kurang aktif melakukan olahraga pada umumnya
cenderung mengalami kegemukan dan akan menaikan tekanan
darah. Dengan olahraga kita dapat meningkatkan kerja jantung.
Sehingga darah bisa dipompa dengan baik ke seluruh tubuh.
f. Stres
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui
aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja ketika beraktivitas),
yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap.
22
Apabila stres menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan
darah menjadi meningkat.
g. Merokok
Nikotin yang terdapat dalam rokok sangat membahayakan
kesehatan selain dapat meningkatkan penggumpalan darah
dalam pembuluh darah, nikotin juga dapat menyebabkan
pengapuran pada dinding pembuluh darah.
2.2.7 Penatalaksanaan
Tatalaksana hipertensi meliputi non farmakologis dan
farmakologis. Tatalaksana non farmakologis meliputi modifikasi gaya
hidup, upaya ini dapat menurunkan tekanan darah atau menurunkan
ketergantungan penderita hipertensi terhadap pengunaan obat-obatan.
Sedangkan tatalaksana farmakologis umumnya dilakukan dengan
memberikan obat-obatan antihipertensi di Puskesmas. Apabila upaya
non farmakologis belum mampu mencapai hasil yang diharapkan,
Puskesmas bisa merujuk pasien ke pelayanan kesehatan sekunder yaitu
rumah sakit (Daeli, 2017).
2.3 Konsep Lansia
2.3.1 Pengertian Lansia
Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun
keatas (Dahlan, dkk 2018).
Lansia adalah kelompok manusia yang berusia 60 tahun
keatas. Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya
23
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga
tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan
yang terjadi. Oleh karena itu, dalam tubuh akan menumpuk makin
banyak distorsi metabolic dan struktural yang disebut penyakit
degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup
dengan episode terminal (Nastiti, 2018).
2.3.2 Batasan Lansia
Menurut WHO dalam Ratnawati (2017), menggolongkan lanjut
usia berdasarkan usia kronologis atau biologis menjadi 4 kelompok
a. Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) berusia antara 60 dan 74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) berusia 75 sampai 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun
2.3.3 Karakteristik Lansia
Beberapa karakteristik lansia yaitu :
a. Jenis Kelamin
Dari data Kemenkes RI (2015), lansia lebih didominasi oleh
jenis kelamin perempuan. Artinya, ini menunjukkan bahwa
harapan hidup yang paling tinggi adalah perempuan.
b. Status Perkawinan
Usia harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan
24
dengan usia harapan hidup laki-laki, sehingga presentase lansia
perempuan yang berstatus cerai mati lebih banyak
dibandingkan dengan lansia laki-laki. Sebaliknya, lansia laki-
laki yang bercerai umumnya segera kawin lagi.
[Link] Arrangement
Angka Beban Tanggungan adalah angka yang menunjukkan
perbandingan banyaknya orang yang tidak produktif (umur <15
tahun dan 65 tahun) dengan orang berusia produktif (umur 15-64
tahun). Angka tersebut menjadi cermin besarnya beban ekonomi
yang harus ditanggung penduduk usia produktif untuk
membiayai penduduk usia nonproduktif.
d. Kondisi Kesehatan
Menurut Kemenkes RI (2016), angka kesehatan penduduk
lansia tahun 2014 sebesar 25,05 persen, artinya bahwa dari
setiap 100 orang lansia terdapat 25 orang diantaranya
mengalami sakit. Penyakit terbanyak pada lansia adalah
penyakit tidak menular (PTM) antara lain hipertensi, stroke,
penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan diabetes mellitus
(DM).
e. Keadaan Ekonomi
25
Mengacu pada konsep active ageing WHO, lanjut usia sehat
berkualitas adalah proses penuaan yang tetap sehat secara fisik,
sosial, dan mental sehingga dapat tetap sejahtera sepanjang
hidup dan tetap berpartisipasi dalam rangka meningkatkan
kualitas hidup sebagai anggota masyarakat. Menurut Kemenkes
RI (2016), sumber dana untuk lansia sebagian besar
pekerjaan/usaha (46,7 persen), anak/menantu (32,1 persen),
suami/istri (8,9 persen) dan pensiun (8,5 persen), selebihnya
3,8 persen adalah tabungan, saudara/family lain, orang lain dan
jaminan sosial (Ratnawati, 2017).
2.3.4 Tipe Lansia
Menurut Widyanto (2014) tipe tipe lansia yaitu :
a. Tipe arif bijaksana, ditandai dengan lansia yang kaya dengan
hikmah, pengalaman, mampu menyesuaikan diri dengan
perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah,
rendah hati, sederhana, dermawan, serta mampu menjadi
panutan.
b. Tipe mandiri, ditandai dengan lansia yang mampu mengganti
kegiatan yang hilang dengan kegiatan baru, selektif dalam
mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, serta memenuhi
undangan.
c. Tipe tidak puas, ditandai dengan lansia yang memiliki konflik
lahir batin dengan menentang proses penuaan sehingga
26
menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit
dilayani, pengkritik, dan banyak menuntut.
d. Tipe pasrah, ditandai dengan lansia yang mau menerima dan
menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan
melakukan pekerjaan apa saja.
e. Tipe bingung, ditandai dengan lansia yang kaget, kehilangan
kepribadiaan, mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif,
dan acuh tak acuh.
2.4 Kerangka Teori
Konsep Perilaku Merokok
1. Deafinisi Perilaku
Merokok Konsep Teori Lansia
2. Jenis-jenis Rokok
3. Tipe Perilaku Merokok 1. Proses Menua (Aging
Proses)
2. Tipe Lansia
3. Batasan – Batasasn
Lanjut Usia
4. Peran Anggota
Konsep Teori Hipertensi Keluarga Terhadap
1. Definisi Hipertensi Lansia
2. Penyebab Hipertensi Peran Keluarga Dalam
3. Klasifikasi Hipertensi Perawatan Lansia
4. Gejala– Gejala
Hipertensi
5. Komplikasi Hipertensi
6. Faktor – Faktor Resiko
Hipertensi
27
2.2 Kerangka Teori Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian
Hipertensi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow
Kabupaten Bolaang Mongondow Tahun 2021
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep
Menurut (Sugiono, 2014), Kerangka konsep akan menghubungan secara
teoritis antara variabel-variabel penelitian yaitu antara variabel independen
dengan variabel dependen. Secara ringkas kerangka konseptual yang
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja auditor dengan
motivasi auditor sebagai variabel moderating.
Kejadian Hipertensi Pada
Perilaku Merokok Lansia
Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Garis penghubung antara variabel
Tabel 3.1. Kerangka Konsep Hubungan Perilaku Merokok Dengan Kejadian
Hipertansi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang
Mongondow.
27
28
3.2 Hipotesis
Menurt (Hartono, 2019), Hipotesis adalah suatu pernyataan yang pada
waktu di ungkapkan belum diketahui kebenarannya. Hipotesis merupakan
jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Berdasarkan teori kerangka konsep, maka peneliti mengangkat hipotesis :
(H0) : Tidak ada hubungan perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada
lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.
(Ha) : Ada hubungan perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada
lansia
laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.
3.3 Definisi Operasional
Definisi Operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan
bagaimana caranya mengukur suatu variabel. Dengan kata lain definisi
operasional adalah semacam petunjuk pelaksanaan bagaimana mengukur
suatu variabel (Suyanto, 2014).
29
Tabel 3.2. Definisi Operasional : Hubungan Perilaku Merokok Dengan
Kejadian Hipertansi Pada Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten
Bolaang Mongondow.
No
Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Tindakan atau 1 = Perokok Nominal
1 (Variabel respon Kuesioner Rendah
independen) seseorang
Perilaku dalam 1 = Perokok
merokok mengkonsumsi Sedang
rokok Setiap
2 = Perkok
hari
Tinggi
(Variabel Adalah lansia Kueisoner 1 = Pra Ordinal
2 dependen) laki-laki yang Hipertensi
Kejadian sudah
hipertensi terdiagnosa 2 = Hipertensi
pada lansia hipertensi Derajat 1
laki-laki
3 = Hipertensi
Derajat 2
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik yaitu menggambarkan
hubungan variabel independen dan variabel dependen dan menganalisa
hubungan variabel-variabel yang diteliti. Desain atau rancangan penelitian
yang digunakan adalah cross sectional, artinya data diambil hanya satu kali,
dan pengukuran variabel independen dan variabel dependen dilakukan dalam
kurun waktu yang sama (Suyanto, 2011).
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
4.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan di Desa Adow Kabupaten Bolaang
Mongondow
4.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan mei - juni 2021.
4.3 Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah 37 orang lansia sebagai
perokok dan menderita hipertensi.
30
31
4.3.2 Sampel dan Teknik Pengambilan sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah karakterististik yang dimiliki oleh
populasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Non-
probability sampling yaitu dengan metode total sampling yaitu teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, penelitian dengan
jumlah populasi yaitu 37 sampel yang digunakan harus memenuhi
Kriteria penelitian dengan menggunakan rumus slovin untuk
menentukan besar sampel (Nursalam, 2014).
4.4 Instrumen Penelitian
Instrumen pengukuran perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada
lansia menggunakan alat ukur kuesioner dengan 5 pertanyaan dengan jumlah
skor tertinggi adalah 2 jika menjawab Ya dan terendah diberi skor 1 jika
menjawab Tidak. Sedangkan untuk kejadian hipertensi menggunakan skala
pengukuran menurut Kemenkes RI.
4.5 Pengolahan Data
1. Editing
Editing adalah mengkaji dan meneliti data yang telah terkumpul lewat
lembar kueisoner. Dalam kegiatan ini langkah-langkah yang dilakukan
adalah :
a. Mengecek kembali nomor kode responden
b. Mengecek kelengkapan data maksudnya memeriksa instrumen
pengumpulan data
c. Mengecek macam isian data
32
d. Tahapan ini dimaksudkan untuk merapikan data agar bersih, rapi dan
teratur untuk mempermudah langkah berikutnya.
3. Coding
Mengklasifikasikan jawaban yang ada pada lembar kueisoner dengan
memberikan tanda-tanda pada masing-masing jawaban berupa angka dan
selanjutnya dimasukan dalam lembar tabel agar mempermudah pembaca.
4. Entry
Data yang telah didapat dari peneliti kemudian dimasukkan dan diolah
dengan menggunakan aplikasi computer menggunakan progam SPSS 24.
5. Scoring
Penentuan jumlah score, dalam penelitian ini menggunakan skala nominal
oleh karena itu hasil kuesioner yang telah diisi diberi score.
6. Tabulating
Setelah dilakukan entry data kemuadian dilakukan pengolahan data,
sehingga dapat diperoleh frekuensi dari kedua variabel-variabel tersebut.
4.6 Analisa Data
1. Analisis Univariat
Analisa univariat merupakan analisa data yang menganalisis satu
variabel, disebut analisa univariat karena proses penggumpulan data awal
masih acak dan abstrak, kemudian data diolah menjadi informasi yang
informatif. Analisa ini seringkali digunakan untuk statistik deskriptif, yang
dilaporkan dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase (Donsu,
2016).
33
2. Analisis Bivariat
Analisis Bivariat adalah analisis data yang mengenai dua variable.
Analisis Bivariat dilakukan untuk menganalisa hubungan yang signifikan
antara dua variable dan mengetahui perbedaan yang signifikan atara dua
fariabel atau lebih untuk membuktikan hipotesis penelitian (Donsu, 2016).
Untuk menganalisis bivariat hubungan pengetahuan dengan variabel
penggunaan alat kontrasepsi menggunakan uji chi-square (X2), pada
tingkat kemaknaan 95% (α 0,05). Jika p value< nilai α maka Ho yang
ditolak H1 diterima atau artinya ada hubungan perilaku merokok dengan
kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang
mongondow.
4.7 Prosedur Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data dimulai dengan langkah sebagai berikut:
a. Mendapat surat izin penelitian dari institusi
b. Memasukkan surat izin penelitian ke puskesmas adow
c. Mendapat izin dari kepala puskesmas adow untuk melakukan penelitian
d. Turun ke lokasi penelitian
e. Kontrak waktu dan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada
responden
f. Melakukan penelitian.
4.8 Etika Penelitian
34
Etika penelitian berguna sebagai pelindung terhadap responden dan peneliti
akan kemungkinan terjadinya ancaman (Fatmawati, 2019).
1. Informed Consent (lembar persetujuan), merupakan bentuk persetujuan
antara peneliti dengan responden. Lembar persetujuan ini diberikan kepada
responden lansia sebelum penelitian dimulai, tujuannya agar subjek
mengerti maksud dan tujuan penelitian. Jika subjek bersedia, responden
menandatangani lembar persetujuan dan jika subjek menolak, peneliti
tidak akan memaksa dan akan menghormati hak-hak mereka.
2. Anonymity (tanpa nama), yaitu memberikan jaminan untuk menjaga
kerahasiaan informasi dari responden dengan cara tidak mencantumkan
nama responden pada lembar pengumpulan data, tetapi menggantinya
dengan kode atau inisial sehingga hasil penelitian hanya diketahui peneliti
saja.
3. Confidentiality (kerahasiaan), merupakan masalah etika dengan menjaga
kerahasiaan responden baik hasil penelitian, informasi maupun masalah-
masalah lainnya yang diperoleh dari responden.
35
4.9 ALUR PENELITIAN
Pengumpulan Data Awal : Di Balai Desa Adow dan Puskesmas Adow
Populasi : Lansia yang merokok 37 orang di Desa Adow
Kabupaten Bolaang Mongondow.
Sampel : Teknik Total Sampling
ALAKL
Pengumpulan Data : Kueisoner
Variabel Independen : Variabel Dependen :
Perilaku Merokok Kejadian Hipertensi Pada
Lansia Laki-laki
Analisa Data Dengan Uji
Chi Square
Penyajian Hasil Penelitian
Laporan Hasil Penelitian
36
Tabel 4.1 : Alur Penelitian Hubungan Perilaku Merokok Dengan
Kejadian Hipertensi Pada Lansia Laki-laki Di Desa Adow Kabupaten
Bolaang Mongondow.
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1 Gambaran Lokasi Penelitian
1. Data Umum
Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan sesuai dengan
Visi Departemen Kesehatan “Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup
Sehat” dengan Misinya “Membuat Rakyat Sehat” diperlukan indikator.
Indikator yang tercantum dalam pedoman ini merupakan penggabungan
indikator Indonesia Sehat 2010 dan indikator kinerja Standar Pelayanan
Minimal yang meliputi : (1) Indikator Derajat Kesehatan yang terdiri atas
indikator-indikator untuk Mortalitas, Morbiditas, dan Status Gizi; (2)
Indikator -indikator untuk Keadaan Lingkungan, Perilaku Hidup, Akses
dan Mutu Pelayanan Kesehatan; serta (3) Indikator-indikator untuk
Pelayanan Kesehatan, Sumber Daya Kesehatan, Manajemen Kesehatan,
dan Kontribusi Sektor Terkait.
Pedoman Penyusunan Profil Kesehatan ini membahas tentang cara
pengumpulan, pengolahan dan analisis serta penyajian, mekanisme,
penjadwalan, format data serta cara pengisiannya selain memuat
keterkaitan indikator antar file juga, sehingga mudah dikompilasi dan
dikomparasikan
Pedoman Penyusunan Profil ini, selain dalam bentuk hard copy (buku)
juga dilengkapi dengan soft copy/CD sehingga memudahkan pengelola
data dalam penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota.
37
2. Letak Geografis
Letak : Pusat Kota Kab. BOLSEL
Luas Wilayah: 32.477 Km2 Meliputi 8 Desa Se- Kecamatan Pinolosian
Tengah
Batas Wilayah :
– Batas Utara : Lolayan
– Batas Selatan : Laut Maluku
– Batas Timur : Wilayah Kerja Puskesmas Pinolosian Timur
– Batas Barat : Wilayah Kerja Puskesmas Pinolosian
Demografi dan Sosial Ekonomi
• Jumlah Penduduk : 6.349 Jiwa
• Jumlah KK : 1.658 KK
• Jumlah penduduk miskin : jiwa, 28.4 % dr Jmlh Penduduk.
• BPJS : 2000 Kartu
5.2 Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden
a. Umur
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur pada lansia
di desa adow kabupaten bolaang mongondow
No Umur Frekuens %
i
1 Lansia Usia Pertengahan 12 32.4 %
45-55 Tahun
2 Lansia 55-65 Tahun 21 56.8 %
3 Lansia Muda 66-74 Tahun 4 10.8 %
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021
38
Berdasarkan tabel 5.1 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden
dalam penelitian ini, sebagian besart responden yang berumur 55 sampai
65 Tahun yaitu sebanyak 21 responden (56,8 %), dan paling sedikit yaitu
responden dengan usia 66 sampai 74 Tahun sebanyak 4 responden
(10.8 %).
b. Pendidikan
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan pada
lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow
No Pendidikan Frekuensi %
1 SD 21 56.8 %
2 SMP 13 35.1 %
3 SMA 3 8.1%
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021
Berdasarkan tabel 5.2 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden
dalam penelitian ini, sebagian besar responden yang berpendidikan SD
yaitu sebanyak 21 responden (56,8 %), dan paling sedikit yaitu responden
dengan pendidikan SMA sebanyak 3 responden (8.1 %).
c. Pekerjaan
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan pada
lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow
No Pekerjaan Frekuensi %
1 Tani 16 43.2 %
2 Wiraswasta 19 51.4 %
3 PNS 2 5.4 %
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021
39
Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden
dalam penelitian ini, sebagian besar responden yang pekerjaan wiraswasta
yaitu sebanyak 19 responden (51.4 %), dan paling sedikit yaitu responden
dengan pekerjaan PNS sebanyak 2 responden (5.4 %).
d. Perilaku Merokok Pada Lansia
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku
Merokok Pada Lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow
No Perilaku Merokok Frekuensi %
1 Rendah 7 18.9 %
2 Sedang 16 43.2 %
3 Tinggi 14 37.8 %
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021
Berdasarkan tabel 5.4 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden
dalam penelitian ini, sebagian besar responden dengan perilaku merokok
sedang yaitu sebanyak 16 responden (43.2 %), dan paling sedikit yaitu
responden dengan perilaku merokok rendah sebanyak 7 responden
(18.9%)
e. Kejadian Hipertensi Pada Lansia
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian
Hipertensi Pada Lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow
No Kejadian Hipertensi Frekuensi %
1 Pra Hipertensi 7 18.9 %
2 Hipertensi Tingkat 1 16 43.2 %
3 Hipertensi Tingkat 2 14 37.8 %
Total 37 100 %
Sumber data primer 2021
40
Berdasarkan tabel 5.5 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden
dalam penelitian ini, sebagian besar responden dengan kejadian hipertensi
tahap hipertensi tingkat 1 yaitu sebanyak 16 responden (43.2 %), dan
paling sedikit yaitu responden dengan kejadian hipertensi tahap pra
hipertensi sebanyak 7 responden (18.9%).
2. Analisa Bivariat
Tabel 5.6 Frekuensi Responden Berdasarkan hubungan perilaku merokok
dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten
bolaang mongondow
Kejadian Hipertensi
Nila
Perilaku Pra HPT HPT n %
Hipertensi Tingkat 1 Tingkat 2 ip
Merokok
n % n % n %
18.9 % 1.0. % 0 0.0
Rendah
7 0 % 7 18.9 %
1.0 % 43.2 % 0 0.0
Sedang 0 16 % 16 43.2 % 0.00
0.0 % 0.0 % 14 37.8
Tinggi 0 0 % 14 37.8 %
14 37.8 %
Total 7 18.9 % 16 43.2 % 37 100 %
Sumber data primer 2021
Berdasarkan data pada tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 37
responden, jumlah responden yang memiliki perilaku merokok rendah
berjumlah 7 responden dimana perilaku merokok rendah dengan kejadian
hipertensi pra hipertensi berjumlah 7 responden (18.9 %), jumlah
responden dengan perilaku merokok sedang 16 responden, dimana
perilaku merokok sedang dengan kejadian hipertensi tingkat 1 berjumlah
16 responden 43.2%. sedangkan jumlah perilaku merokok tinggi sebanyak
41
14 responden dimana perilaku merokok tinggi dengan kejadian hipertensi
tingkat 2 berjumlah 16 responden 43.2 %. Hasil uji Chi-Square dari
variabel hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi
pada lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow. Hasil uji
statistika didapat p value = 0,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi
pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.
42
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Perilaku Merokok
Berdasarkan tabel 5.4 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden
dalam penelitian ini, sebagian besar responden dengan perilaku merokok
sedang yaitu sebanyak 16 responden (43.2 %), dan paling sedikit yaitu
responden dengan perilaku merokok rendah sebanyak 7 responden (18.9%)
Perilaku merokok adalah menghisap asap tembakau yang telah menjadi
cerutu kemudian disulut api. Menurutnya ada dua tipe merokok. Pertama
adalah menghisap rokok secara langsung yang disebut perokok aktif, dan
yang keduamereka yag secara tidak langsung menghisap rokok. Namun turut
menghisap asap rokok disebut perokok pasif. Bermacam-macam perilaku
yang dilakukan manusia dalam menanggapi stimulus yang diterimanya, salah
satu bentuk perilaku manusia yangdapat diamati adalah perilaku merokok
(Sukmana, 2008). Menurut Candra Dewi (2012), perilaku merokok
merupakan suatu perilaku mengkonsumsi rokok berupa membakar dan
menghisap rokok yang dinilai dari frekuensi merokok perhari, jumlahHasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian Indar Kurniawan, dkk (2017), rokok
yang dihisap perhari, dan ada tidaknya ketergantungan terhadap tembakau.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian indar kurniawan (2017),
diketahui bahwa karakteristik responden berdasarkan perilaku merokok pada
pasien hipertensi di Puskesmas Pajangan Bantul, sebagian besar adalah
termasuk kategori tinggi yaitu sebanyak 18 responden (46,2%).
42
43
Hasil penelitian ini juga sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan
oleh Jatmika (2015), hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar
(66,67%) perilaku merokok responden adalah kurang baik dan sebagian kecil
(33,33% ) perilaku responden adalah cukup baik. Pengetahuan responden
tentang perilaku merokok sebagian besar (46,67%) adalah cukup baik dan
sebagian kecil (10%) adalah kurang baik. Sedangkan sikap responden
terhadap perilaku merokok sebagian besar (63, 33%) adalah negatif.
6.2 Kejadian Hipertensi
Berdasarkan tabel 5.5 di atas dapat diketahui bahwa dari 37 responden
dalam penelitian ini, sebagian besar responden dengan kejadian hipertensi
tahap hipertensi tingkat 1 yaitu sebanyak 16 responden (43.2 %), dan paling
sedikit yaitu responden dengan kejadian hipertensi tahap pra hipertensi
sebanyak 7 responden (18.9%).
Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan
darah diatas normal yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan
mortalitas. Tekanan darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase dalam
setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukkan fase darah yang
sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukkan fase darah
yang kembali ke jantung (Triyanto, 2014).
Menurut World Health Organization (WHO) adalah 120-140 mmHg
tekanan sistolik dan 80-90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang dinyatakan
mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg (Yanti &
Muliati, 2019).
44
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hasil ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan Yashinta (2015) menyatakan bahwa kebiasaan
merokok akan meningkatkan hipertensi kepada penderita hipertensi, yang
dulunya tidak pernah mengalami hipertensi maka akan terjadi hipertensi
grade I. Penyakit darah tinggi atau hipertensi (hypertension) adalah suatu
keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas 140
mmHg yang di tunjukan oleh angka sistolik(bagian atas) dan angka bawah
(diastolik) di atas 90 mmHg pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat
pengukur tekanan darah baik berupa cuff air raksa (sphygomomanometer)
ataupun alat digital lainnya (Pudiastuti, 2013). Faktor risiko yang memicu
terjadinya hipertensi dibagi menjadi dua yaitu faktor yang tidak dapat
dikontrol dan faktor yang dapat dikontrol. Faktor yang tidak dapat dikontrol
meliputi usia, jenis kelamin, dan keturunan (genetik). Faktor yang dapat
dikontrol meliputi kegemukan (obesitas), dislipidemia, stress, konsumsi
alkohol berlebihan konsumsi garam berlebihan, aktivitas fisik, diet yang tidak
seimbang dan merokok (Sudarmoko, 2015).
Hasil penelitian ini sejalan juga dengan penelitian indar kurniawan (2017),
dapat diketahui bahwa karakteristik responden berdasarkan kejadian
hipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Pajangan Bantul, sebagian
besar adalah responden termasuk kategori Hipertensi Grade I yaitu sebanyak
33 responden (84,6%).
45
6.3 Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian Hipertensi Pada
Lansia Laki-Laki di Desa Adow Kabupaten Bolaang Mongondow
Berdasarkan data pada tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 37
responden, jumlah responden yang memiliki perilaku merokok rendah
berjumlah 7 responden dimana perilaku merokok rendah dengan kejadian
hipertensi pra hipertensi berjumlah 7 responden (18.9 %), jumlah
responden dengan perilaku merokok sedang 16 responden, dimana
perilaku merokok sedang dengan kejadian hipertensi tingkat 1 berjumlah
16 responden 43.2%. sedangkan jumlah perilaku merokok tinggi sebanyak
14 responden dimana perilaku merokok tinggi dengan kejadian hipertensi
tingkat 2 berjumlah 16 responden 43.2 %. Hasil uji Chi-Square dari
variabel hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi
pada lansia di desa adow kabupaten bolaang mongondow. Hasil uji
statistika didapat p value = 0,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi
pada lansia laki-laki di desa adow kabupaten bolaang mongondow.
Konsep ini mengandung pengertian bahwa semakin banyak kadar zat-
zat beracun tersebut maka semakin berat juga hipertensi terjadi. Kadar zat-
zat kimia rokok dalam darah secara langsung ditentukan banyak sedikitnya
konsumsi rokok (Sutomo, 2009). Terlepas dari perbedaan tingkat
hipertensi yang terjadi karena perbedaan jumlah konsumsi rokok, pada
dasarnya merokok berpengaruh terhadap kejadian hipertensi. Zat-zat kimia
beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok
46
yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh
darah arteri, mengakibatkan proses aterosklerosis dan tekanan darah tinggi.
Pada studi autopsi dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan
adanyaa terosklerosis pada seluruh pembuluh darah. Merokok pada
penderita tekanan darah tinggi semakin meningkatkan resiko kerusakan
pada pembuluh darah arteri (Priyoto, 2015).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian indar kurniawan (2017),
Hasil pengujian menunjukan bahwa uji Kendal Tau-b menghasilkan nilai
signifikan sebesar 0,008. Nilai uji signifikan 0,008 yang lebih kecil dari
0,05 menunjukan bahwa ada hubungan perilaku merokok dengan kejadian
hipertensi di Puskesmas Pajangan Bantul. Hubungan yang terjadi adalah
hubungan yang sedang karena nilainya berada pada rentang 0,40 sampai
0,599 (Dahlan, 2013). Hasil tabulasi silang pada tabel 4.4 diatas
menyatakan bahwa sebagian besar responden perilaku merokok sedang
dengan kejadian hipertensi grade I sebanyak 14 responden (35.9%),
sedangkan hasil tabulasi silang paling sedikit yaitu perilaku merokok
rendah, dengan kejadian hipertensi normal, prehipertensi dan hipertensi
grade II adalah yaitu 0 responden (0.0%).
47
BAB VII
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian responden
memiliki perilaku merokok sedang yaitu sebanyak 16 responden
(43.2%).
2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bahwa sebagian
responden dengan kejadian hipertensi tingkat 1 sebanyak 16
responden (43.2 %).
3. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 30 responden dalam
penelitian ini, responden yang memiliki PHBS kurang baik sebanyak
17 responden (56,7%).
4. Hasil uji statistika didapat p value = 0,000, sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan hubungan perilaku merokok
dengan kejadian hipertensi pada lansia laki-laki di desa adow
kabupaten bolaang mongondow.
B. Saran
1. Bagi Desa Adow
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukkan bagi
Desa Adow dalam meningkatkan derajat kesehatan para lansia guna
mencegah terjadinya hipertensi.
48
2. Institusi Pendidikan
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi atau literature
bagi peneliti selanjutnya tentang vulnus laceratum dan Hasil penelitian
ini juga dapat dijadikan fasilitas belajar untuk praktikum keperawatan
Gerontik.
3. Bagi Peneliti
Bagi peneliti selanjutnya bila berminat melakukan penelitian ini
disarankan penelitiannya ditinjau dari segala aspek dengan menggunakan
metode penelitian yang lain, sampel yang lebih besar, dan waktu yang
lebih lama agar hasil penelitian yang diperoleh lebih signifikan.
49
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman, Maman, dkk, Dasar-dasar Metode Statistika Untuk Penelitian,
Bandung: CV Pustaka Setia, 2011.
Aula, L. E. (2010). Stop merokok. Jogjakarta: Garailmu
Buku Pedoman Penulisan Skripsi Institut Kesehatan dan teknologi Graha Medika
Kotamobagu 2021.
Daeli, F.S. 2017. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pasien Hipertensi
dengan Upaya Pengendalian Hipertensi di UPTD Puskesmas Kecamatan
Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. [Skripsi]. Fakultas Kesehatan
Masyarakat USU, Medan
Data Lansia Puskesmas Adow, Januari 2021
Departemen Kesehatan RI. 2010. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2010. Jakarta
: Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan RI. [Link]. Gizi Buruk di Nusa Tenggara
Timur. Diakses Tanggal 19 Februari 2017. Pukul 00.01 WIB.
Donsu, J. D. T. (2016). Metodologi Penelitian Keperawatan (Cetakan 1).
PUSTAKABARUPRESS.
Eric Untario, 2017. Hubungan merokok terhadap kejadian hipertensi. Universitas
Hasanudin Makkasar. Skripsi
Fatmawati, Noviyanti R.D, et al. 2019. Hubungan Asupan Protein, Karbohidrat
Dan Lingkar Pinggang Dengan Kadar Asam Urat Di Posyandu Lansia
Werdho Mulyo Kadipiro Surakarta. Skripsi. Program Studi S1 Gizi. Institut
Teknologi Sains Dan Kesehatan PKU Muhammadiyah Surakarta. Di Akses
29 Februari 2020.
50
Hartono. (2019). Metodologi Penelitian Dilengkapi Analisis Regresi dan Path
Analysis Dengan IBM SPSS Statistics Version 25 (Cetakan 1). Zafana
Publishing.
Kemenkes RI. Hipertensi. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian
kesehatan RI. 2014; (Hipertensi):1-7.
Kemenkes RI. Hipertensi. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian
kesehatan RI. 2014; (Hipertensi):1-7.
Marthen IS. 2017. Buku Profil Kesehatan Sulawesi Utara Tahun 2016.
Prasetyaningrum, Yunita Indah. (2014). Hipertensi Bukan untuk Ditakuti.
Jakarta : Fmedia.
Presiden Republik Indonesia. 2012. Peraturan Pemerintah No. 109 tahun 2012
tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk
Tembakau Bagi Kesehatan. Jakarta: Sekretaris Negara.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian RI tahun 2018.
[Link]
018/Hasil%20Riskesdas%[Link] – Diakses Agustus 2018.
Siswanto, Susila, dan Suyanto. (2014). Metodologi Penelitian Kesehatan dan
Kedokteran. Yogyakarta: Bursa Ilmu.
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukmana, Teddie. 2011. Mengenal Rokok dan Bahayanya. Jakarta : Be
Champion.
Triyanto, E. (2014). Pelayanan keperawatan bagi penderita Hipertensi Secara
Terpadu. Yokyakarta: Graha Ilmu.
51
World Health Organization (WHO) 2014. Commission on Ending Childhood
Obesity. Geneva, World Health Organization, Departement of
Noncommunicable disease surveillance.
World Health Organization. The World Medicine Situation 2011 3ed. Rational
Use of Medicine. Geneva, 2011.
Yanti & Muliati. (2019). Batas Normal Tekanan Darah, World Health
Organization (WHO)
52
Lampiran 1
53
Lampiran 2
54
Lampiran 3
55
SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth :
Bapak/Ibu Calon Responden
Di Tempat
Dengan hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini
Nama : Rosmina Mamonto, NIM: 01707010026 Fakultas Ilmu Kesehatan
Program Studi S1 Keperawatan Institut Kesehatan Dan Teknologi Graha Medika
Kotamobagu, dengan ini akan melakukan penelitian tentang “Hubungan
Perilaku Merokok Dengan Kejadian Hipertensi pada Lnasia laki-Laki Di
Desa Adow Kabupaten Bolaang Mongondow”.
Untuk keperluan tersebut saya memohon kesediaan dari Bapak/Ibu untuk
menjadi responden dalam penelitian ini dan menandatangani lembar persetujuan
menjadi responden. Selanjutnya saya mengharapkan Bapak/Ibu untuk dapat
bersedia dilakukan pemeriksaan dengan hasil yang dijamin kerahasiaannya. Jika
Bapak/Ibu tidak bersedia menjadi responden, saya sebagai peneliti tidak akan
memaksakan Hak dari Bapak/Ibu. Namun apabila Bapak/Ibu menyetujui
permohonan ini, maka saya mohon kesediaannya untuk menandatangani lembar
persetujuan dan mengikuti semua rangkaian proses kegiatan penelitian ini.
Demikian permohonan ini saya buat, atas bantuan dan partisipasinya saya
ucapkan terima kasih.
Kotamobagu, Maret 2021
Peneliti
Rosmina Mamonto
56
SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
(Informed Consent)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk menjadi
responden dalam penelitian yang akan dilakukan oleh Nama: Rosmina
Mamonto, NIM : 01707010026 Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi S1
Keperawatan Institut Kesehatan Dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu,
dengan ini akan melakukan penelitian tentang “Hubungan Perilaku Merokok
Dengan Kejadian Hipertensi pada Lnasia laki-Laki Di Desa Adow
Kabupaten Bolaang Mongondow”.
Saya memahami dan mengerti bahwa penelitian ini tidak berdampak buruk
terhadap saya, maka dari itu saya bersedia menjadi responden peneliti.
Demikian persetujuan ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana
mestinya.
Kotamobagu, Maret 2021
Partisipan Peneliti
(…………………….) ( Rosmina Mamonto )
57
A. Kuesioner Perilaku
Isilah kuesioner berikut dengan melingkari pada kolom angka yang sesuai dengan
pribadi Anda atau apa yang Anda rasakan saat ini.
1. Apakah anda perokok Aktif ?
A. Ya
B. Tidak
2. Berapa batang rokok yang anda hisap setiap hari ?
A. >6
B. <5
3. Apakah anda rutin berolahraga
A. Ya
B. Tidak
4. Sudah berapa lama anda merokok ?
A. > 5 tahun
B. < 4 Tahun
5. Apakah anda rutin mengkonsumsi obat hipertensi sesuai anjuran ?
A. Ya
B. Tidak
( Sumber, Penelitian Eric Untario 2017).
58
Lembar Observasi Hipertensi
No Kategori Sistol Diastol
1 Pra-hipertensi 120 - 139 80 – 89
2 Hipertensi tingkat 1 140 - 159 90 – 99
3 Hipertensi Tingkat 2 > 160 > 100
Sumber : Kemenkes RI, (2018).
59
Lampiran 4 Master Tabel
60
Lampiran 5
Tabel Frekuensi
UMUR
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Lansia Usia Pertengahan 12 32.4 32.4 32.4
45-55 Tahun
Lansia 55-65 Tahun 21 56.8 56.8 89.2
Lansia Muda 66-74 Tahun 4 10.8 10.8 100.0
Total 37 100.0 100.0
PENDIDIKAN
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid SD 21 56.8 56.8 56.8
SMP 13 35.1 35.1 91.9
SMA 3 8.1 8.1 100.0
Total 37 100.0 100.0
PEKERJAAN
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tani 16 43.2 43.2 43.2
Wiraswasta 19 51.4 51.4 94.6
PNS 2 5.4 5.4 100.0
Total 37 100.0 100.0
PERILAKU MEROKOK PADA LANSIA
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Rendah 7 18.9 18.9 18.9
Sedang 16 43.2 43.2 62.2
Tinggi 14 37.8 37.8 100.0
Total 37 100.0 100.0
61
KEJADIAN HIPERTENSI
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Pra Hipertensi 7 18.9 18.9 18.9
Hipertensi Tingkat 1 16 43.2 43.2 62.2
Hipertensi Tingkat 2 14 37.8 37.8 100.0
Total 37 100.0 100.0
Tabel Uji Chi Square
PERILAKU MEROKOK PADA LANSIA * KEJADIAN HIPERTENSI Crosstabulation
KEJADIAN HIPERTENSI
Hipertensi Hipertensi
Pra Hipertensi Tingkat 1 Tingkat 2 Total
PERILAKU MEROKOK Rendah Count 7 0 0 7
PADA LANSIA % within PERILAKU 100.0% 0.0% 0.0% 100.0%
MEROKOK PADA
LANSIA
% within KEJADIAN 100.0% 0.0% 0.0% 18.9%
HIPERTENSI
Sedang Count 0 16 0 16
% within PERILAKU 0.0% 100.0% 0.0% 100.0%
MEROKOK PADA
LANSIA
% within KEJADIAN 0.0% 100.0% 0.0% 43.2%
HIPERTENSI
Tinggi Count 0 0 14 14
% within PERILAKU 0.0% 0.0% 100.0% 100.0%
MEROKOK PADA
LANSIA
% within KEJADIAN 0.0% 0.0% 100.0% 37.8%
HIPERTENSI
Total Count 7 16 14 37
% within PERILAKU 18.9% 43.2% 37.8% 100.0%
MEROKOK PADA
LANSIA
62
% within KEJADIAN 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
HIPERTENSI
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
Pearson Chi-Square 74.000a 4 .000
Likelihood Ratio 77.349 4 .000
Linear-by-Linear Association 36.000 1 .000
N of Valid Cases 37
a. 5 cells (55.6%) have expected count less than 5. The minimum
expected count is 1.32.
63
64
65
66
67
68
69
70