ANALISIS KEMACETAN LALU LINTAS DI JALAN RAYA LENTENG AGUNG
Previanto Pradipta
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Jl. Margonda Raya, Pondok Cina, Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424
Email : previantop@[Link]
ABSTRAK
Jalan raya Lenteng Agung berada di Jakarta Selatan yang menyambungkan Jakarta
dengan Depok. Jalan ini terbagi menjadi jalan Lenteng Agung Barat dan jalan Lenteng Agung
Timur. Jalan raya Lenteng Agung merupakan jalan kolektor primer. Jalan ini sangat ramai
kendaraan dan pejalan kaki, yang menyebabkan banyaknya faktor penyebab kemacetan di
daerah ini. Hal tersebut menyebabkan bertambahnya waktu tempuh yang harus dirasakan oleh
pemakai jalan, tidak hanya di hari kerja, namun juga di akhir pekan. Oleh karena itu dilakukan
pengamatan yang bertujuan untuk menemukan penyebab kemacetan dengan data yang berupa
data arus kendaraan, waktu arus kendaraan maksimal, dan kecepatan perjalanan kendaraan pada
saat kondisi normal atau macet. Setelah melakukan pengamatan, penyebab kemacetan di jalan
raya Lenteng Agung adalah aktivitas pejalan kaki seperti menyeberang jalan yang memiliki
intensitas yang tinggi, banyakan angkutan perkotaan yang berhenti mencari penumpang,
banyaknya kendaraan serta persimpangan yang tidak diimbangin dengan rambu dan marka yang
memadai. Berdasarkan berbagai hal yang menjadi penyebab kemacetan di jalan raya Lenteng
Agung perlu adanya arahan rekomendasi upaya penanganan prioritas di ruas Barat dan Timur
dengan pengelolaan lalu lintas untuk mengurangi kemacetan dengan perbaikan fasilitas pejalan
kaki agar berfungsi seperti sedia kala, penambahan fasilitas pejalan kaki seperti pagar pembatas
yang memaksa penjalan kaki untuk memakai JPO lebih sering. Dengan dua buah rekomendasi
tersebut diharapkan waktu tempuh untuk melewati jalan raya Lenteng Agung bisa berkurang.
Keywords: kemacetan lalu lintas, jalan Lenteng Agung rate of flow, JPO
1. PENDAHULUAN
Macet sudah menjadi masalah yang biasa di Kawasan yang memiliki intensitas kegiatan
yang tinggi dan penggunaan lahan yang padat. Kemacetan lalu lintas terjadi juga karena volume
lalu lintas tinggi yang disebabkan bercampurnya lalu lintas menerus, lalu lintas regional dan
lokal. Bilamana sifat kemacetan lalu lintas tersebut merupakan suatu kejadian yang
rutin, akibatnya bukan saja akan mempengaruhi inefisiensi penggunaan sumber daya,
tetapi juga dapat mengganggu kegiatan di lingkungan yang ada. Selain itu, berdampak
luas pula terhadap kelancaran kegiatan sosial ekonomi kota. Demikian juga yang terjadi di
jalan Lenteng Agung yang menghubungkan antara Kota Depok dengan Kota Jakarta hampir
setiap hari kerja maka ruas jalan ini selalu terjadi kemacetan lalu lintas. Jalan Lenteng Agung
terbagi menjadi dua, yaitu jalan Lenteng Agung Barat dan jalan Lenteng Agung Timur.
Panjang ruas jalan Lenteng Agung secara keseluruhan ±4900m dengan lebar ±18m dan tipe
jalan enam-lajur dua-arah terbagi (6/2 UD).
Kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan Lenteng Agung merupakan masalah
yang harus segera ditangani agar dampak yang ditimbulkannya tidak merusak dan
merugikan masyarakat sekitarnya. Usaha-usaha untuk mencegah dan mengurangi
terjadinya kemacetan lalu lintas harus segera dilakukan. Untuk itu perlu dilakukan
analisis untuk mengetahui penyebab kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan Lenteng Agung
sehingga dapat memberikan solusi untuk mengatasi kemacetan yang terjadi.
2. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dipakai adalah metode deskriptif. Metode deskriptif merupakan
salah satu dari jenis jenis metode penelitian. Metode penelitian deskriptif bertujuan untuk
mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada,
mengindetifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku, membuat
perbandingan atau evaluasi dan menetukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi
masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan
keputusan pada waktu yang akan datang.
Dengan demikian metode penelitian deskriptif ini digunakan untuk melukiskan secara
sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu, dalam hal ini bidang
secara aktual dan cermat. Metode deskriptif bukan saja menjabarkan (analitis), akan tetapi juga
memadukan. Bukan saja melakukan klasifikasi, tetapi juga organisasi. Metode penelitian
deskriptif pada hakikatnya adalah mencari teori, bukan menguji teori. Metode ini
menitikberatkan pada observasi dan suasana alamiah.
2.1. Aktivitas Pejalan Kaki / Penyeberang Jalan
Aktivitas pejalan kaki / penyeberang jalan yang ada di jalan Lenteng Agung cukup
banyak. Rata –rata waktu tempuh bagi pejalan kaki untuk menyeberang dengan lebar ruas
jalan 9 m adalah 1,25 m/detik (pemilihan pejalan kaki yang menyeberangi ruas jalan
Lenteng Agung dilakukan secara random. Selain itu, fasilitas yang ada untuk pejalan kaki
masih kurang. Walaupun jumlah zebracross yang ada berjumlah 16 buah, tetapi
keberadaan zebracross tersebut tidak terawat. Sehingga fungsi zebracross tersebut tidak
berjalan dengan baik sebagai sarana penyeberang jalan. Sedangkan Jembatan
Penyeberangan Orang (JPO) yang ada juga sangat kurang untuk memenuhi aktivitas
penyeberang jalan. JPO yang ada hanya 2, yaitu terletak di dekat halte Universitas
Indonesia dan dekat Stasiun Universitas Pancasila, dan kondisi kedua JPO tidak terawat
dengan baik. Kemudian, kesadaran dari pejalan kaki dalam memenuhi peraturan yang
berlaku juga minim seperti menyebrang bukan pada tempatnya (seperti JPO atau
zebracross) . Hal ini juga didukung dari hasil jajak pendapat terhadap pengguna jalan
Lenteng Agung bahwa aktivitas pejalan kaki / penyeberang jalan ini menjadi penyebab
kemacetan terbesar yaitu dengan nilai 36,47 %. Berdasarkan hasil pengamatan adanya
aktivitas pejalan kaki ini juga menyebabkan terjadinya waktu hambatan sebesar 5 –15
detik/kendaraan dan kecepatan rata-rata kendaraan menjadi 5 –10 km/jam.
Gambar 1. Aktivitas pejalan kaki / penyeberang jalan di jalan raya Lenteng Agung
2.2. Perilaku Pengemudi Angkutan Perkotaan
Angkutan kota atau angkot adalah salah satu moda transportasi yang sering digunakan oleh
masyarakat Indonesia. Tetapi angkot juga sering menjadi penyebab kemacetan yang terjadi,
karena sering berhenti mendadak untuk menurunkan penumpang dan juga berhenti / ngetem
pada tempat yang dilarang. Demikian juga yang terjadi di jalan Lenteng Agung bahwa perilaku
angkot yang tidak sesuai aturan menjadi salah satu penyebab kemacetan yang terjadi.
Dari hasil jajak pendapat terhadap pengguna jalan Lenteng Agung bahwa perilaku
angkutan kota ini menjadi penyebab kemacetan kedua yaitu dengan nilai 31,76 %.
Berdasarkan hasil pengamatan perilaku angkot ini juga menyebabkan terjadinya waktu
hambatan sebesar 5 –20 detik/kendaraan dan kecepatan rata-rata kendaraan menjadi 5 –10
km/jam.
Gambar 2. Perilaku angkutan perkotaan di jalan raya Lenteng Agung Barat
2.3. Banyaknya Kendaraan
Arus kendaraan yang melewati jalan Lenteng Agung cukup banyak. Hal ini dapat
dilihat dari hasil pengamatan (Tabel 1dan Tabel 2)tentang jumlah arus kendaraan ruas jalan
Lenteng Agung Barat dan Lenteng Agung Timur). Banyaknya kendaraan yang melewati
jalan Lenteng Agung karena jalan ini adalah salah satu jalan penghubung antara Kota Jakarta
dengan Kota Depok dan sekitarnya. Hal ini juga didukung dari hasil jajak pendapat terhadap
pengguna jalan Lenteng Agung bahwa banyaknya kendaraan ini menjadi penyebab kemacetan
ketiga yaitu dengan nilai 24,71 %.
Tabel 1. Rate of flow jalan Tabel 2. Rate of flow jalan
RATE OF FLOW RATE OF FLOW
WAKTU WAKTU
(smp/jam) (smp/jam)
PENGAMATAN PENGAMATAN
Lenteng Agung Barat Lenteng Agung Timur
06.00-08.00 WIB 4734 06.00-08.00 WIB 3133.8
09.00-11.00 WIB 4099 09.00-11.00 WIB 3866.2
12.00-13.00 WIB 3418.4 12.00-13.00 WIB 3470.4
14.00-16.00 WIB 3152 14.00-16.00 WIB 3983
18.00-20.00 WIB 2623 18.00-20.00 WIB 4964.8
Berdasarkan tabel hubungan antara waktu pengamatan dengan tingkat arus (rate of
flow) didapatkan bahwa pada jalan Lenteng Agung Barat tingkat arus terbesar terjadi
pada pukul 06.00–08.00 WIB. Sedangkan, untuk jalan Lenteng Agung Timur tingkat arus
terbesar terjadi pada pukul 18.00–20.00 WIB.
2.4 Persimpangan Jalan
Persimpangan adalah pertemuan atau percabangan jalan, baik sebidang maupun yang
tidak sebidang (Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu lintas
jalan). Persimpangan jalan pertama yang menjadi penyebab macet di jalan Lenteng Agung
adalah Persimpangan Moh. Kahfi 2, yaitu persimpangan tersebut adalah pertemuan antara jalan
Lenteng Agung Barat dengan jalan Moh. Kahfi 2. Selain itu, tidak jauh dari persimpangan
tersebut terdapat persimpangan jalan yang menuju ke arah jalan Jagakarsa. Sehingga kendaraan
dari jalan Moh. Kahfi 2 yang akan menuju ke jalan Lenteng Agung Barat akan terhambat oleh
kendaraan dari Jalan Jagakarsa menuju ke Jalan Lenteng Agung Barat. Hal ini juga diperparah
oleh perilaku angkot yang sering berhenti di persimpangan tersebut. Persimpangan jalan kedua
yang menjadi penyebab kemacetan di jalan Lenteng Agung adalah Persimpangan Kampus
Universitas Indonesia yaitu persimpangan antara jalan Lenteng Agung Timur dengan jalan yang
akan menuju ke Kampus Universitas Indonesia/Pasar Minggu dan juga jalan yang akan menuju
ke Depok dan Kelapa Dua. Kemacetan pada persimpangan ini terjadi pada malam hari, karena
arus kendaraan dari arah Jakarta yang melalui jalan Lenteng Agung Timur menuju Depok dan
Kelapa Dua lebih banyak dibandingkan dengan arus kendaraan yang menuju ke arah Kampus
Universitas Indonesia / Pasar Minggu. Selain itu, terdapat juga persimpangan jalan yang akan
menuju Kelapa Dua dari Depok sehingga terdapat crossing jalan sehingga arus kendaraan yang
menuju ke Depok dari jalan Lenteng Agung Timur terhambat oleh crossing jalan tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan akibat persimpangan jalan ini juga menyebabkan terjadinya
waktu hambatan sebesar 5 –10 detik/kendaraan dan kecepatan rata-rata kendaraan menjadi 5 –
10 km/jam.
Gambar 3. Persimpangan Moh. Kahfi 2 (jalan Lenteng Agung Barat)
Gambar 4. Persimpangan kampus Universitas Indonesia (jalan Lenteng Agung Timur)
3. RESULTS AND DISCUSSION
Jalan Lenteng Agung merupakan salah satu jalan yang menghubungkan Kota Jakarta
dengan Kota Depok dan sekitarnya. Setiap hari kerja banyak sekali masyarakat, yang pergi
beraktivitas ke Jakarta maupun Depok dan sekitarnya, melalui jalan ini, baik menggunakan
kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan
tersebut sangat merugikan masyarakat sekitar dan juga pengguna jalan tersebut. Oleh karena
itu, kemacetan yang terjadi pada jalan harus segera diatasi. Berikut adalah beberapa solusi
yang dapat diterapkan untuk mengatasi kemacetan di jalan Lenteng Agung.
3.1. Meningkatkan Fasilisitas untuk Pejalan Kaki / Penyeberangan Jalan
Salah satu penyebab kemacetan yang terjadi di jalan Lenteng Agung adalah aktivitas
pejalan kaki/penyeberang jalan. Hal ini dikarenakan fasilitas yang ada untuk pejalan kaki di
jalan tersebut kurang memadai. Sedangkan aktivitas pejalan kaki di jalan tersebut cukup tinggi,
seperti di depan Kampus Universitas Pancasila dan persimpangan Moh. Kahfi 2 di jalan
Lenteng Agung Barat, dan juga di depan Stasiun Lenteng Agung di jalan Lenteng Agung
Timur. Hal ini dikarenakan di lokasi tersebut terdapat Stasiun Lenteng Agung dan Stasiun
Universitas Pancasila, sehingga banyak penyeberang jalan yang lalu lintas di lokasi tersebut.
Fasilitas yang ada di jalan Lenteng Agung masih kurang memadai, walaupun sudah terdapat 2
buah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dan juga 16 buah zebracross yang dilengkapi
rambu peringatan pejalan kaki tetapi kondisi fasilitas yang ada sudah tidak baik dan tidak
terawat. Hal ini dikarenakan karena perawatan untuk fasilitas tersebut kurang baik. Oleh karena
itu, untuk mengatasi kemacetan yang ada dapat dilakukan dengan cara meningkatkan fasilitas
untuk pejalan kaki/penyeberang jalan. Cara tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki
fasilitas yang sudah ada sehingga dapat berfungsi dengan baik kembali dan juga dengan
menambah fasilitas untuk pejalan kaki, seperti menambah Jembatan Penyeberangan Orang
(JPO).
Aktivitas pejalan kaki yang terjadi di sekitar Stasiun Lenteng Agung cukup tinggi, tetapi
hal ini tidak disertai dengan fasilitas untuk pejalan kaki yang memadai. Padahal aktivitas
pejalan kaki yang ada diwilayah tersebut sangat mengganggu aktivitas kendaraan yang
melewati wilayah tersebut baik di jalan Lenteng Agung Barat (persimpangan Moh. Kahfi 2)
maupun di jalan Lenteng Agung Timur. Fasilitas JPO adalah solusi yang tepat untuk mengatasi
kemacetan yang terjadi yang disebabkan oleh penyeberang jalan di Stasiun Lenteng Agung. Hal
ini juga berdasarkan hasil survey terhadap pengguna jalan Lenteng Agung yang menunjukkan
rencana pembangunan JPO tersebut menjadi pilihan terbesar (yaitu sebesar 55,77 %)
dibandingkan dengan rencana pembangunan traffic sign (sebesar 34,62 %) maupun
pembangunan zebracross (sebesar 9,61 %).
Diharapkan dengan adanya fasilitas JPO di sekitar Stasiun Lenteng Agung ini dapat
mengurangi hambatan yang dialami oleh pengguna kendaraan. Adanya penambahan fasilitas
JPO ini agar waktu hambatan yang diakibatkan oleh aktivitas pejalan kaki dapat dihilangkan
dan kecepatan rata-rata kendaraan dapat meningkat terutama pada saat tingkat arus kendaraan
tertinggi yaitu pada pukul 06.00-08.00 WIB untuk jalan Lenteng Agung Barat dan pada pukul
18.00 –20.00 WIB untuk jalan Lenteng Agung Timur sehingga kendaraan dapat melalui jalan
Lenteng Agung dengan kecepatan normal yaitu 40 – 80 km/jam. Selain itu, juga dapat
mempermudah para pejalan kaki untuk bisa enyeberang jalan dengan aman dan nyaman tanpa
hambatan apapun. Dan juga tentunya akan dapat mengurangi tingkat kecelakaan lalulintas.
3.2. Mengubah Sistem Arus
Solusi kedua untuk mengatasi kemacetan di jalan Lenteng Agung adalah dengan
mengubah sistem arus lalu lintas kendaraan yang ada. Perubahan sistem arus lalu lintas
kendaraan terjadi di persimpangan Moh. Kahfi 2 di jalan Lenteng Agung Barat dan di
persimpangan Kampus Universitas Indonesia di jalan Lenteng Agung Timur
3.2.1 Persimpangan Moh. Kahfi 2
Berdasarkan hasil pengamatan, salah satu titik kemacetan di jalan Lenteng Agung Barat,
terletak di persimpangan Moh. Kahfi 2. Kondisi eksisting sistem arus kendaraan pada
persimpangan tersebut bersifat dua arah. Kendaraan dapat secara langsung ke jalan Moh. Kahfi
2 dari jalan Lenteng Agung Barat, begitu juga sebaliknya. Selain itu, kendaraan juga dapat
secara langsung menuju ke jalan Jagakarsa dari Jalan Lenteng Agung Barat.
Sistem arus kendaraan tersebut dinilai kurang efektif, karena dapat menimbulkan waktu
tundaan akibat adanya persimpangan jalan tersebut. Oleh karena itu, sistem arus kendaraan
pada persimpangan Moh. Kahfi 2 ini harus dirubah. Berdasarkan hasil questionerterhadap
pengguna jalan Lenteng Agung, bahwa mayoritas pengguna jalan setuju jika terjadi perubahan
arus kendaraan/ arus lalu lintas pada persimpangan tersebut. Perubahan arus kendaraan ini
adalah arus kendaraan dari Jalan Moh. Kahfi 2 hanya diperbolehkan untuk arus kendaraan yang
akan menuju jalan Lenteng Agung Barat. Dan arus kendaraan yang menuju ke jalan Moh. Kahfi
2 dari jalan Lenteng Agung Barat harus melewati jalan Jagakarsa (jalan Jeruk dan jalan Putat).
Oleh karena itu, Jalan Moh. Kahfi 2 dan Jalan Jagakarsa bersifat menjadi jalan 1 arah dimulai
dari persimpangan jalan Jeruk sampai jalan Lenteng Agung Barat.
Diharapkan dengan adanya perubahan sistem arus kendaraan pada persimpangan Moh.
Kahfi 2 dapat mengurangi hambatan yang dialami oleh pengguna kendaraan, sehingga dapat
meningkatkan kecepatan kendaraan pada saat melalui wilayah tersebut. Sehingga waktu
hambatan yang diakibatkan oleh persimpangan jalan dapat dihilangkan dan kecepatan rata-rata
kendaraan dapat meningkat menjadi 40 - 80 km/jam terutama pada saat tingkat arus kendaraan
tertinggi yaitu pada pukul 06.00 - 08.00 WIB.
3.2.1 Persimpangan Kampus Universitas Indonesia
Berdasarkan hasil pengamatan, salah satu titik kemacetan di jalan Lenteng Agung Timur,
terletak di persimpangan Kampus Universitas Indonesia. Kemacetan pada persimpangan ini
terjadi pada malam hari, karena arus kendaraan dari arah Jakarta yang melalui jalan Lenteng
Agung Timur menuju Depok dan Kelapa Dua lebih banyak dibandingkan dengan arus
kendaraan yang menuju ke arah kampus UI / Pasar Minggu. Selain itu, terdapat juga
persimpangan jalan yang akan menuju Kelapa Dua dari Depok sehingga terdapat crossing jalan
sehingga arus kendaraan yang menuju ke Depok dari jalan Lenteng Agung Timur terhambat
oleh crossing jalan tersebut. Sistem arus kendaraan tersebut dinilai kurang efektif, karena dapat
menimbulkan waktu tundaan akibat adanya persimpangan jalan tersebut. Oleh karena itu,
sistem arus kendaraan pada persimpangan Kampus Universitas Indonesia ini harus dirubah.
Awalnya direncanakan untuk membuat batas jalan seperti pembatas busway tetapi ide/solusi
tersebut kurang disetujui oleh para pengguna jalan Lenteng Agung Timur. Hal ini berdasarkan
dari hasil questioner yaitu hanya 34 % dari pengguna jalan yang setuju berbanding
dengan 66 % yang tidak setuju jika dipersimpangan tersebut dibangun pembatas
jalan.
Oleh karena itu, untuk mengatasi kemacetan dipersimpangan tersebut maka direncanakan
dengan mengubah sistem arus kendaraan. Perubahan arus kendaraan ini adalah untuk kendaraan
dari Depok (jalan Margonda) yang akan menuju ke Kelapa Dua tidak boleh melewati
persimpangan tersebut, sehingga kendaraan harus melewati Flyover Universitas Indonesia
menuju jalan Lenteng Agung Barat kemudian berputar balik di depan KFC menuju ke jalan
Lenteng Agung Timur. Diharapkan dengan adanya perubahan sistem arus kendaraan pada
persimpangan Kampus Universitas Indonesia dapat mengurangi hambatan yang dialami oleh
pengguna kendaraan, sehingga dapat meningkatkan kecepatan kendaraan pada saat melalui
wilayah tersebut. Sehingga waktu hambatan yang diakibatkan oleh persimpangan jalan dapat
dihilangkan dan kecepatan rata-rata kendaraan dapat meningkat menjadi 40 – 80 km/jam
terutama pada saat tingkat arus kendaraan tertinggi yaitu pada pukul 18.00 – 20.00 WIB.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan langsung dilapangan dan melalui analisis
permasalahan menunjukkan bahwa titik lokasi kemacetan pada jalan Lenteng Agung
Barat terjadi di ruas jalan antara depan Kampus Universitas Pancasila sampai dengan
persimpangan Moh. Kahfi 2, terutama pada saat tingkat arus terbesar / puncak yaitu pada pukul
06.00 – 08.00 WIB. Sedangkan titik lokasi kemacetan pada jalan Lenteng Agung Timur terjadi
di depan Stasiun Lenteng Agung dan di persimpangan kampus Universitas Indonesia, terutama
pada saat tingkat arus terbesar / puncak yaitu pada pukul 18.00 – 20.00 WIB. Hal ini dapat
dilihat dari menurunnya kecepatan perjalanan kendaraan yang melalui jalan tersebut.
Penyebab kemacetan yang terjadi di jalan Lenteng Agung, baik jalan Lenteng Agung
Barat dan jalan Lenteng Agung Timur, adalah aktivitas pejalan kaki / penyeberang
jalan, perilaku angkutan kota, banyaknya kendaraan dan persimpangan jalan. Selain itu,
fasilitas yang ada di jalan Lenteng Agung masih kurang memadai, walaupun sudah terdapat 2
buah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dan juga 16 buah zebracross yang dilengkapi
rambu peringatan pejalan kaki tetapi kondisi fasilitas yang ada sudah tidak baik dan
tidak terawat. Hal ini dikarenakan karena perawatan untuk fasilitas tersebut kurang baik.
Selain itu partisipasi dan kesadaran masyarakat sekitar maupun pengguna jalan masih kurang
dalam menaati peraturan lalu lintas yang berlaku.
5. ACKNOWLEDGEMENT
Untuk permasalahan kemacetan yang terjadi di jalan raya Lenteng Agung ini ada baiknya
dilakukan usaha-usaha untuk menyelesaikan masalah tersebut seperti :
1. Meningkatkan fasilitas untuk pejalan kaki/penyeberang jalan
2. Mengubah sistem arus di persimpangan Moh. Kahfi 2
3. Mengubah sistem arus di persimpangan Kampus Universitas Indonesia
6. REFERENSI
C. Jotin Khisty dan B. Kent Hall. (2005). Dasar-dasar Rekayasa Transportasi Jilid 1. Erlangga,
Jakarta.
C. Jotin Khisty dan B. Kent Hall. (2006). Dasar-dasar Rekayasa Transportasi Jilid 2. Erlangga,
Jakarta.
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. (1999). Rekayasa Lalu Lintas: Pedoman Perencanaan
Dan Pengoperasian Lalu Lintas Di Wilayah Perkotaan. Direktorat Jenderal Perhubungan
Darat, Jakarta.
Firmansyah, Deden dan A.R. Indra Tjahjani. (2012). Analisis Kemacetan Lalu Lintas di Suatu
Wilayah (Studi Kasus di Jalan Lenteng Agung). Universitas Pancasila Jakarta.