0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan11 halaman

Pola Pergerakan Pengguna Kereta TOD Batu Ceper

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pergerakan penumpang kereta di Stasiun Batu Ceper dan menganalisis variabel pembentuk kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang sudah diterapkan. Penelitian menggunakan metode campuran antara analisis kuantitatif untuk memahami pergerakan penumpang dan analisis kualitatif untuk mengamati penerapan variabel TOD. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar penumpang berasal dari

Diunggah oleh

Yudha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan11 halaman

Pola Pergerakan Pengguna Kereta TOD Batu Ceper

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pergerakan penumpang kereta di Stasiun Batu Ceper dan menganalisis variabel pembentuk kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang sudah diterapkan. Penelitian menggunakan metode campuran antara analisis kuantitatif untuk memahami pergerakan penumpang dan analisis kualitatif untuk mengamati penerapan variabel TOD. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar penumpang berasal dari

Diunggah oleh

Yudha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

POLA PERGERAKAN PENGGUNA KERETA COMMUTER LINE SEBAGAI

DASAR PENGEMBANGAN KAWASAN TRANSIT ORIENTED


DEVELOPMENT
(STUDI KASUS : STASIUN BATU CEPER, KOTA TANGERANG)

Fikri Arrasyta

Program Studi Magister Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia


fikriarrasyta@[Link]

INTISARI
Kota Tangerang terus berbenah soal transportasi massal dengan menerapkan transportasi yang
terintegrasi untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Lokasi integrasi antarmoda transportasi di
Kota Tangerang adalah Stasiun Batu Ceper karena letaknya yang dekat dengan Terminal Poris Plawad
sehingga memungkinkan adanya integrasi antarmoda yang mendukung konsep Transit Oriented
Development (TOD). Konsep TOD adalah solusi sebagai salah satu konsep pembangunan berkelanjutan
khususnya untuk memecahkan masalah transportasi dengan menjadikan Stasiun sebagai titik transit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pergerakan pengguna kereta commuter line di
Stasiun Batu Ceper dan menganalisis variabel pembentuk TOD yang sudah diterapkan di kawasan sebagai
dasar untuk pengembangan kawasan TOD yang baik. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah
mix method, penggabungan antara analisis kuantitatif untuk mengetahui pergerakan pengguna kereta
commuter line di Stasiun Batu Ceper dan analisis kualitatif yaitu observasi mengenai variabel yang sudah
diterapkan di kawasan penelitian untuk menerapkan kawasan TOD.
Hasil penelitian yang didapatkan berupa kawasan Stasiun Batu Ceper memiliki potensi untuk menjadi
kawasan TOD dengan pergerakan pengguna kereta di Stasiun Batu Ceper didominasi oleh masyarakat
sekitar stasiun dalam radius 500 m – 1 km. Akan tetapi, variabel pembentuk TOD masih kurang lengkap
dan setiap variabel masih belum terhubung dengan variabel lainnya. Dari beberapa faktor karakteristik
pergerakan pengguna kereta, hanya faktor lokasi stasiun yang mempengaruhi pembangunan kawasan
TOD karena dapat dilihat dari hasil kuesioner yang didapat bahwa keseluruhan pengguna kereta di
Stasiun Batu Ceper merupakan masyarakat yang tinggal tidak jauh dari lokasi stasiun

Kata Kunci: Pengembangan kawasan transit, pergerakan penumpang, Stasiun Batu Ceper

ABSTRACT
Tangerang city keeps improvement about public transportation by adjusting an integrated
transportation to reduce the use of private vehicle. Batu Ceper Railway Station is a place for integrated
multi – modal transportation in Tangerang because the location of Batu Ceper Railway Station is near
from Poris Plawad Bus Station so there will be allowing integration multi – modal transportation with
supporting Transit Oriented Development (TOD). TOD concept is present as a solution as one of the
concept of sustainable development in particular to solve the problem of transportation by making the
Railway Station as transit point.
This research is aimed to identifiying character of commuter line’s passenger in Batu Ceper Railway
Station and analysis of forming variable TOD which already implemented in area as a base for good
developing a TOD. This type of research used is mixed method, a combine between quantitative analysis
to know commuter line’s passenger movement in Batu Ceper Railway Station and qualitative analysis is
observation about a forming variable which already implemented in research area as a base of TOD.
The study shows as a region of Batu Ceper Railway Station has potential to develop a TOD which
commuter line’s passenger movement in the railway station is a people who lived near railway station in
area between 500 m – 1 km. However,forming variable of TOD still not completed and many variable still
stands alone or is not integrated between the one and the other. From many factor passenger movement
characteristic, only station location has affected in developing a TOD because from the result of
questionnaire that entire of passenger in Batu Ceper Railway Station are people who lived near station.

Keywords: Transit Oriented Development, Passenger Movement, Batu Ceper Railway Station

1
1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jumlah dan Kepadatan penduduk yang tinggi di Kota Tangerang tidak terlepas dari letak
geografis wilayah tersebut yang berbatasan langsung dengan Ibukota DKI Jakarta.
Kedekatan dengan Ibukota berdampak pada jumlah penduduk yang besar dan tingkat
kepadatan yang tinggi. Pengaruh pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat terhadap
perkembangan kota adalah terjadinya fenomena urban sprawl yang merupakan kondisi
dimana suatu kawasan perumahan, industri, dan daerah komersial saling berjauhan, sehingga
kondisi ini akan saling mendorong penduduk untuk menggunakan kendaraan pribadi sebagai
alat transportasi. Dengan banyaknya penduduk menggunakan kendaraan pribadi maka
jumlah kendaraan akan semakin bertambah sedangkan kapasitas jalan masih tetap.
Salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan
konsep TOD sebagai pengembangan kawasan transit. Transit Oriented Development (TOD)
merupakan pola pembangunan tata kota yang terintegrasi dengan sistem transportasi
sehingga menciptakan suatu kota yang efisien. Menurut Calthorpe (1993) konsep TOD
merupakan konsep yang memberikan arahan sebuah kawasan yang memiliki komunitas
campuran (mixed – use) di sekitar lokasi sebuah transit, seperti stasiun dikaitkan dengan
manusia sebagai penggunanya sehingga tercipta lingkungan yang walkable, aman, dan
nyaman dengan menjadikan Stasiun sebagai titik transit. Salah satu lokasi transportasi
massal di Kota Tangerang adalah Stasiun Batu Ceper. Pada lokasi ini direncanakan akan
mengusung konsep TOD (Transit Oriented Development). Konsep Transit Oriented
Development (TOD) merupakan konsep yang memberikan arahan sebuah kawasan yang
memiliki komunitas campuran (mixed – use) di sekitar lokasi sebuah transit, seperti stasiun
dikaitkan dengan manusia sebagai penggunanya sehingga tercipta lingkungan yang
walkable, aman, dan nyaman.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dari tugas akhir ini adalah:
1. Mengidentifikasi pola pergerakan pengguna kereta commuter line di Stasiun Batu Ceper
sebagai dasar pengembangan kawasan TOD.
2. Menganalisis variabel pembentuk TOD apa saja yang sudah diterapkan pada kawasan
Stasiun Batu Ceper sebagai dasar pembentuk kawasan transit berbasis TOD.
C. Manfaat Penelitian
Manfaat yang bisa diambil dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengembangkan kawasan Stasiun Batu Ceper menjadi kawasan TOD, sebagai
langkah awal dalam memperbaiki penataan tata lingkungan Kota Tangerang.
2. TOD menjadi konsep alternatif dalam mengurangi kemacetan di Kota Tangerang.
3. Mengimplementasikan TOD dalam pengembangan sistem jaringan transportasi.
4. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai konsep TOD dan dapat mengetahui
bagaimana karakteristik kawasan TOD.

2. METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang akan digunakan dalam menganalisis data adalah mix method yang merupakan
penggabungan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Masing – masing metode digunakan
pada variabel yang berbeda.
Variabel penelitian dibedakan atas dua yaitu pola pergerakan pengguna kereta dan variabel
pembentuk TOD.
a. Pola Pergerakan Pengguna Kereta
Berdasarkan tinjauan pustaka maka ditentukan variabel karakteristik pergerakan menurut
Black dalam Setiawan (2005) yaitu : Tujuan perjalanan, waktu perjalanan, lokasi
stasiun/shelter, jadwal keberangkatan, jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan usia.
b. Variabel Pembentuk TOD

2
Sedangkan untuk variabel pembentuk TOD ditinjau dari pembentukan TOD menurut
Calthorpe (1993), yaitu : Area komersial, area hunian campuran, fungsi ruang publik, area
sekunder dan fungsi campuran.
Untuk pengambilan sampel diperlukan jumlah populasi di Stasiun Batu Ceper, didapatkan
dari jumlah penumpang/hari yaitu 2050 orang/hari. Dari jumlah tersebut dengan menggunakan
rumus Slovin didapat jumlah sampel adalah sebanyak 96 orang. Kriteria awal dalam memilih
kawasan pada penelitian ini adalah berdasar rencana Walikota Tangerang yang ingin
mengintegrasikan Stasiun Batu Ceper dengan Terminal Poris Plawad, dengan memanfaatkan
KeretaBandara yang melintas dan berhenti di Stasiun Batu Ceper sehingga menciptakan sebuah
kawasan TOD. Teori Calthorpe (1993) mengatakan bahwa kawasan TOD harus dapat dijangkau
dengan berjalan kaki atau sejauh 2000 ft. (609,6 meter). Berdasarkan teori tersebut maka
ditetapkan kawasan penelitian adalah Stasiun Batu Ceper dengan radius 600 meter.

1. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


A. Analisis Kuesioner Pergerakan Penumpang di Stasiun Batu Ceper
Pria,
Wanita, 40%
60%

Gambar 1Grafik Persentase Jenis Kelamin Pengguna Kereta


(Sumber: Hasil Analisis)

31 - 40 41 - 50 > 50 < 21
Tahun Tahun Tahun Tahun
14% 3% 2% 34%

21 - 30
Tahun
47%

Gambar 2 Grafik Persentase Usia Pengguna Kereta


(Sumber: Hasil Analisis)
Guru/Do Pedagan Lainnya
sen g/Pengu 4%
5% saha Pelajar/
9% Mahasis
wa
48%

Pegawai
Swasta PNS
30% 4%
Gambar 3 Grafik Persentase Jenis Pekerjaan Pengguna Kereta
(Sumber: Hasil Analisis)

3
1 km - > 2 km 100 m -
2 km 3% 500 m
9% 40%

500 m -
1 km
48%

Gambar 4 Grafik Persentase Jarak Tempat Tinggal Pengguna Kereta dari Stasiun Batu
Ceper
(Sumber: Hasil Analisis)
Berbelanja Lainnya
Rekreasi 9% 3%
3%

Bekerja
40%

Sekolah/Kuli
ah
45%

Gambar 5 Grafik Persentase Maksud Perjalanan Pengguna Kereta


(Sumber: Hasil Analisis)
1-2
jam
10% <1
jam
90%

Gambar 6 Grafik Persentase Waktu Tempuh Pengguna Kereta menuju Stasiun Batu
Ceper
(Sumber: Hasil Analisis)

1 kali 2 kali 3 kali


3% 2% 12%

> 4 kali 4 kali


75% 8%

Gambar 7 Grafik Persentase Frekuensi Perjalanan Pengguna Kereta


(Sumber: Hasil Analisis)

4
Berjalan Lainnya Kendaraa
Kaki 8% n Pribadi
7% 27%
Angkutan
Online/O
jek Angkutan
Online… Umum
13%
Gambar 8 Grafik Persentase Moda Kendaraan Pengguna Kereta menuju Stasiun Batu Ceper
(Sumber: Hasil Analisis)
Kendara
Berjalan Lainnya
an
Kaki 8%
Pribadi
5%
Angkuta 27%
n
Online/
Ojek…
Angkuta
n Umum
11%
Gambar 9 Grafik Persentase Moda Kendaraan Pengguna Kereta meninggalkan Stasiun
Batu Ceper
(Sumber: Hasil Analisis)

Pada variabel ini keseluruhan responden lebih memiliki moda angkutan online/ojek
online untuk menuju atau meninggalkan Stasiun Batu Ceper ketimbang berjalan kaki.
Sebanyak 45% calon penumpang kereta commuter line menggunakan angkutan online/ojek
online untuk menuju titik transit dan sebanyak 49% menggunakan angkutan online/ojek
online untuk meninggalkan titik transit. Hanya 7% saja yang berjalan kaki menuju stasiun
dan 5% yang berjalan kaki meninggalkan stasiun. Hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya
pedestrian untuk akses ke stasiun sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan jasa
ojek online ketimbang berjalan kaki. Padahal sebanyak 48% responden memiliki jarak yang
dekat dari tempat tinggal menuju stasiun, yaitu 500 m – 1 km.

Tabel 2 Hasil Analisis Fungsi Transit pada Kawasan Penelitian

(Sumber: Hasil Analisis)

B. Analisis Variabel Kawasan Penelitian sebagai Pembentuk TOD

5
1. Area Komersial
Area komersial dalam TOD menurut Calthorpe (1993) adalah area dengan fungsi
campuran yang berfungsi memberi pelayanan pada kegiatan transit seperti fungsi retail,
supermarket, komersial dan hiburan serta hunian pada level lantai atas yang dapat
menjadi daya tarik keragaman tujuan pada lokasi. Adapun area komersial pada kawasan
penelitian yaitu Pasar Royal dan Ruko Perumahan Taman Royal.
a. Ruko Taman Royal
Ruko Taman Royal atau Ruko Royal merupakan deretan ruko yang terletak
disepanjang Jalan Benteng Betawi sejauh 1,6 km dari Terminal Poris hingga Pintu
Utara Perumahan Taman Royal 1 & 3. Ruko ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan
warga sekitar perumahan Taman Royal, khususnya warga Cluster Edelweiss dan Palm
yang letaknya dibelakang ruko tersebut. Pada ruko ini terdapat minimarket, klinik,
rumah makan/restoran, bank, dan lain – lain. Ruko royal dikatakan sebagai komersial
dikarenakan fungsinya yang dominan digunakan sebagai kantor dibandingkan rumah.

Gambar 10 Ruko Taman Royal


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017)
Berdasarkan hasil analisis, keberadaan Ruko Taman Royal tidak terintegrasi
dengan Stasiun Batu Ceper, hal ini terlihat dari tidak tersedianya penyeberangan jalan.
Untuk area parkir, Ruko Royal sudah memiliki lahan parkir yang bersifat off street.
Sedangkan untuk jalur pedestrian hanya ada di beberapa ruas dengan kondisi yang
buruk dikarenakan kurangnya masyarakat menggunakan jalur pedestrian pada
kawasan ini.
b. Pasar Royal
Pasar yang memiliki luas bangunan sekitar 16500 m2 memiliki kondisi bangunan
yang buruk dan letaknya dibelakang Terminal Poris sehingga pasar ini tidak berada
pada akses Jalan Benteng Betawi. Selain itu, akses jalan menuju Pasar Royal sangat
buruk seperti jalan yang sudah bergelombang.
Berdasarkan hasil analisis, Pasar Royal tidak terintegrasi dengan Stasiun Batu
Ceper seperti Ruko Royal yang tidak adanya akses penyeberangan jalan yang baik.

Gambar 11 Pasar Royal


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017)

6
Tabel 3 Hasil Analisis Area Komersial pada Kawasan Penelitian

(Sumber: Hasil Analisis)


2. Area Hunian
Berdasarkan hasil analisis pada kawasan 600 meter dari titik transit yang merupakan
lokasi penelitian, tipe area hunian didominasi oleh rumah tunggal, baik kelas rendah
maupun tinggi. Area hunian campuran pada kawasan ini sama sekali tidak terintegrasi
dengan titik transit, karena akses antara titik transit dengan area hunian tidak tersedia
dengan baik. Walaupun jarak antara titik transit dengan area hunian dekat, tetapi hal ini
belum dapat mengurangi tingginya tingkat penggunaan kendaraan pribadi pada kawasan
ini. Hal ini dikarenakan tidak adanya jalur pejalan kaki yang layak digunakan untuk akses
menuju titik transit.

Gambar 12 Area Hunian Campuran


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017)
Pada kawasan penelitian, tidak adanya akses yang jelas untuk pejalan kaki membuat
pergerakan masyarakat yang tinggal pada kawasan ini masih didominasi oleh kendaraan
bermotor.

7
Gambar 13 Rute Pergerakan Masyarakat Area Hunian menuju Titik Transit
(Sumber: Hasil Analisis, 2017)

Tabel 4 Hasil Analisis Area Hunian Campuran pada Kawasan Penelitian

(Sumber: Hasil Analisis)


3. Fungsi Ruang Publik
Ruang publik sebagai salah satu komponen tata ruang kota yang vital karena ruang
publik dapat di artikan sebagai tempat atau ruang yang dapat diakses atau dimanfaatkan
oleh warga atau masyarakat secara cuma-cuma tanpa mengambil keuntungan dan bisa
digunakan masyarakat secara bersama-sama baik secara individu maupun berkelompok
tanpa terkecuali.
Pada penelitian ini, kawasan Stasiun Batu Ceper tidak terdapat area ruang publik
seperti taman, plaza, ataupun ruang terbuka hijau. Ruang terbuka publik sendiri memiliki
peran penting dalam sebuah kawasan TOD yaitu sebagai pendukung aktivitas pada titik
transit.

8
Tabel 5 Hasil Analisis Fungsi Ruang Publik pada Kawasan Penelitian

(Sumber: Hasil Analisis)


4. Area Sekunder
Area sekunder merupakan area yang berjarak 1 mil (sekitar 1,6 kilometer) dari daerah
pusat dan memiliki jaringan jalan sebagai penghubung ke daerah belakang. Penghubung
ini dilengkapi dengan jalur pedestrian dan sepeda. Area sekunder pada kawasan
penelitian masih didominasi oleh berbagai hunian, mulai kelas rendah, menengah, hingga
tinggi.

Gambar 14 Area Sekunder pada Kawasan TOD


(Sumber: Hasil Analisis, 2017)

Tabel 6 Hasil Analisis Area Sekunder pada Kawasan Penelitian

(Sumber: Hasil Analisis)

9
5. Area Campuran
Area campuran merupakan bangunan yang memiliki fungsi beragam seperti ruang
publik, komersial, dan hunian dalam kawasan TOD dimana bangunan tersebut disarankan
memiliki tipe bangunan vertikal. Pada kawasan penelitian tidak terdapat area campuran
yang multifungsi. Seiring dengan pembangunan Stasiun Batu Ceper yang akan dijadikan
sebagai salah satu stasiun pemberhentian Kereta Express Bandara Soetta, akan dibangun
Poris Superblock yang merupakan properti multifungsi yang letaknya tidak jauh dari titik
transit (Stasiun Batu Ceper).

6. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
1. Dari beberapa faktor karakteristik pergerakan pengguna kereta, hanya faktor lokasi
stasiun yang mempengaruhi pembangunan kawasan TOD karena dapat dilihat dari hasil
kuesioner yang didapat bahwa keseluruhan pengguna kereta di Stasiun Batu Ceper
merupakan masyarakat yang tinggal tidak jauh dari lokasi stasiun. Hasil ini menandakan
bahwa dengan letaknya yang dekat dengan tempat tinggal masyarakat dapat memudahkan
masyarakat untuk menjangkau stasiun dari tempat tinggalnya. Hal ini terkait dengan
prinsip TOD dalam hal penempatan pemukiman dalam jangkauan berjalan kaki dari
fungsi transit dan karakteristik utama TOD dalam hal terintegrasinya antara fungsi lahan
dalam suatu kawasan dengan angkutan umum yang ditunjukkan dengan terintegrasinya
antara area hunian dengan stasiun walaupun jalan akses untuk pejalan kaki belum
tersedia.
2. Variabel pembentuk kawasan TOD di Stasiun Batu Ceper masih kurang, seperti tidak
adanya ruang publik dan bangunan multifungsi yang menjadi variabel penting pembentuk
kawasan TOD. Selain itu, setiap variabel yang ada di kawasan penelitian masih belum
terhubung dengan variabel lainnya, padahal faktor penting dalam kesuksesan kawasan
TOD sendiri adalah terhubungnya jalur pejalan kaki yang menjadi penghubung utama
antara kawasan TOD dengan titik transit. Berikut merupakan beberapa karakteristik TOD
yang telah diterapkan pada kawasan Stasiun Batu Ceper.
• Fungsi transit, yang pergerakannya masih didominasi oleh angkutan online/ojek
online.
• Area komersial, yang belum terhubung dengan dengan titik transit.
• Area hunian yang terdiri dari beragam tipe (tunggal, apartemen, atau town house).
Pada poin ini sesuai dengan teori Calthorpe (1993) mengenai keragaman tipe hunian
dalam kawasan TOD.
• Area sekunder, tidak memiliki jalur penghubung pedestrian untuk menuju titik transit.
• Bangunan fungsi campuran (multifungsi), belum tersedia pada kawasan penelitian.
• Ruang publik, belum tersedia pada kawasan penelitian.

B. Saran
Setelah dilakukannya penelitian, analisis data dan didapatkan kesimpulan diatas, maka
peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Seiring dengan pengembangan Stasiun Batu Ceper dalam membangun fasilitias untuk
pemberhentian kereta bandara, diharapkan pengembangan sebuah fasilitas penghubung
antara Stasiun Batu Ceper dengan Terminal Poris Plawad karena letaknya yang
berdekatan dengan Terminal Poris Plawad diharapkan dapat dikembangkan jaringan jalan
yang ramah bagi pejalan kaki sehingga dapat terwujud integrasi antarmoda karena potensi
Stasiun Batu Ceper dan Terminal Poris Plawad yang letaknya berseberangan dapat
mewujudkan sebuah kawasan transit antarmoda sehingga aspek integrasi moda dapat
terwujud dalam kawasan penelitian.
2. Pembenahan pada kawasan wajib dilakukan dalam upaya mewujudkan sebuah kawasan
TOD yang baik. Pembenahan ini terutama dalam aspek keberagaman tata guna lahan di
kawasan karena semakin banyak variasi fungsi lahan semakin baik dalam kawasan TOD

10
dan akses pejalan kaki baik akses penyeberangan jalan maupun akses pedestrian dengan
minimal lebar 1 m dengan dilengkapi vegetasi pedestrian (tanaman rindang) di sepanjang
pedestrian sehingga memunculkan keinginan masyarakat menuju stasiun dengan berjalan
kaki.

DAFTAR PUSTAKA
Altoon, Ronald. A. & Auld, James C. (2011). Urban Transformation Transit Oriented
Development and Sustainable City. Australia: The Images Publishing.
Cahyadi, Gundy. Kursten, Barbara., Weiss, Marc. & Yang, Guang. (2004). Singapore Metropolitan
Economic Strategy Report: Singapore’s Economic Transformation. Prague: Global Urban
Development.
Handayeni, Ketut Dewi Martha Erli. & Ariasita, Putu Gde. (2014). Keberlanjutan Transportasi di
Kota Surabaya Melalui Pengembangan Kawasan Berbasis TOD (Transit Oriented
Development). Semarang: Jurnal TATALOKA Volume 16 Nomor 2, Mei 2014 Biro Penerbit
Planologi Undip.
Institute for Transportation & Development Policy. Transit-Oriented Development (TOD) Standard
2.1. New York: ITDP.
Isa, Muhammad Hidayat (2014). Transit Oriented Develovment (TOD) Sebagai Solusi Alternatif
Dalam Mengatasi Permasalahan Kemacetan Di Kota Surabaya. Surabaya: Jurnal Teknik Sipil
dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Noor, Juliansyah. (2011). MeTODologi Penelitian : Skripsi, Tesis, Disertasi dan Karya Ilmiah.
Jakarta: Kharisma Putra Utama
Setiawan, Rudy. (2005). Karakteristik Pengguna Kereta Api Komuter Surabaya – Sidoarjo.
Surabaya: Seminar Nasional Rekayasa Perencanaan Universitas Petra.
Siregar, Nova Lestari. (2015). Pola Pergerakan Pengguna Kereta Api Sebagai Dasar
Pengembangan Kawasan TOD di Stasiun Medan. Medan: Perpustakaan Digital Universitas
Sumatera Utara..
Taolin, Tetriana Vivi Oktora. (2008). Kualitas Ruang Publik Kota Pada Kawasan TOD. Depok:
Perpustakaan Digital Universitas Indonesia.
Widyahari, Ni Luh Asti. (2014). Potensi dan Peluang Pengembangan Transit Oriented
Development di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Bandung: Jurnal Perencanaan
Wilayah dan Kota B SAPPK Vol. 3 No.2. Institut Teknologi Bandung
Wijaya, Alfred. (2009). Penataan Ruang Yang Ramah Lingkungan Melalui Perencanaan
TOD (Transit Oriented Development). Surabaya: Seminar Nasional Perencanaan
Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Yuniasih, Fahdiana. (2007). Perancangan kawasan Transit Oriented Development Dukuh
Atas Berdasarkan Optimalisasi Sirkulasi. Bandung: Jurnal Program Studi Magister
Rancang Kota Institut Teknologi Bandung.

11

Anda mungkin juga menyukai