SUSTAINABLE TRANSPORTATION: A LITERATURE REVIEW
Alia Zata Izzati Shodiqi
Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Jalan Kampus
UI, Kukusan, Depok, Kota Depok, Jawa Barat, 16424, Indonesia
ABSTRAK: Untuk menjawab permasalahan transportasi di Indonesia, dibuatlah
beberapa parameter guna terciptanya transportasi yang berkelanjutan. Dengan
masalah utama pada sistem perencanaan transportasi, digunakan beberapa
pemodelan transportasi yang dapat membantu proses analisis. Dengan demikian,
diharapkan paparan yang ditulis dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam turut
serta membangun tranportasi yang berkelanjutan.
Gambaran Transportasi di Indonesia
Pergerakan ekonoomi, jaringan distribusi, dan sistem logistik di Indonesia
masih sangat bergantung pada sistem jalan raya. Pada awal tahun 1999, mobilitas
ekonomi di seluruh Indonesia digambarkan dengan tingkat utilisasi jalan nasional
dan jalan provinsi dengan peningkatan masing-masing 21% dan 6.7% disbanding
tahun sebelumnya. Hal ini membutuhkan jaringan sistem transportasi yang stabil
untuk mencapai efisiensi dalam bidang ekonomi.
Masalah utama pada jalan di Indonesia adalah rusaknya jalanan dan
banyaknya kendaraan umum yang sebenarnya tidak layak beroperasi namun tetap
dioperasikan (Munawar, 2007). Rusaknya jalan diakibatkan oleh pelaksanaan dan
pengawasan pelaksanaan pembangunan belum prima. Selanjutnya, kendaraan
umum yang tidak layak beroperasi menyebabkan lingkungan terganggu karena
polusi udara dari gas buangan yang tidak memenuhi persyaratan. Selain itu,
pengguna jasa kereta api mengalami kenaikan yang sangat tinggi, tetapi belum
diimbangi dengan peningkatan pengembangan jaringan dan teknologi
perkeretaapian yang sesuai serta sumber daya manusia yang mencukupi, sehingga
sering terjadi kecelakaa fatal.
Untuk daerah perkotaan, masalah transportasi yang terjadi adalah
bagaimana memenuhi permintaan jumlah perjalanan yang semakin meningkat
tanpa menimbulkan kemacetan lalu lintas di jalan raya. Selain itu, masalah yang
sering terjadi adalah pada perencanaan sistem transportasi. Dewasa ini, kendaraan
pribadi (mobil dan sepeda motor) tetap merupakan moda transportasi yang
dominan. Populasi pergerakan kendaraan pribadi yang begitu besar di daerah
perkotaan ditambah dengan pola angkutan umum yang masih tradisional
menimbulkan biaya sosial yang sangat besar akibat waktu tempuh yang terbuang
percuma, pemborosan bahan bakar minyak, depresi kendaraan yang terlalu cepat,
meningkatnya polusi udara, dan kebisingan.
Transportasi Berkelanjutan (Sustainable Transportation)
Gambar 1. Interaksi Antar Elemen dalam Sistem yang Berkelanjutan
Sumber: Center for Sustainable Development, 1997
Sistem transportasi berkelanjutan diartikan sebagai suatu sistem yang
menyediakan akses terhadap kebutuhan dasar individu atau masyarakat secara
aman dan dalam cara yang tetap konsisten dengan kesehatan manusia dan
ekosistem, dengan keadilan masyarakat saat ini dan masa mendatang (Center for
Sustainable Development, 1997).
Transportasi yang berkelanjutan (sustainable transportation) merupakan
salah satu aspek keberlanjutan menyeluruh (global sustainability) yang memiliki
tiga komponen utama yang saling berhubungan, yaitu lingkungan, masyarakat,
dan ekonomi. Dalam interaksi tersebut, transportasi memegang peranan penting
dengan merencanakan dan menyediakan sistem transportasi yang memerhatikan
segi ekonomi, lingkungan, dan masyarakat (Tamin, 2007).
Menurut Aminah (2006), sistem transportasi yang berkelanjutan lebih
mudah terwujud bila moda transportasi yang digunakan berupa kendaraan umum
dibandingkan kendaraan pribadi. Oleh sebab itu, dibutuhkan sistem transportasi
publik yang berkelanjutan. Langkah yang diperlukan adalah merevitalisasi semua
aspek yang berkaitan dengan transportasi publik.
Prinsip Dasar Menuju Terciptanya Transportasi Berkelanjutan
Menurut Tamin (2007), prinsip dasar yang harus dilakukan untuk
mencapai transportasi berkelanjutan adalah:
Aksesibilitas Bagi Siapa Saja
Sistem transportasi bertujuan untuk menyediakan aksesibilitas
(kemudahan) bagi setiap pengguna (manusia), barang, dan jasa secara adil,
seimbang, dengan biaya rendah, dan mempunyai dampak negatif yang kecil.
Perencanaan ini bertujuan untuk menjamin bahwa setiap tempat tujuan tetap
mudah dicapai dengan segala jenis moda transportasi yang tersedia.
Keadilan Sosial Bagi Siapa Saja
Transportasi memiliki dampak negatif bagi masyarakat yang
berpendapatan rendah, orang dengan disabilitas, wanita, anak-anak, dan manula.
Kebijakan keadilan sosial bagi siapa saja mengedepankan prinsip tersedianya
angkutan umum, pejalan kaki, dan kendaraan tidak bermotor yang mudah
dijangkau bagi siapapun.
Berkelanjutan dalam Lingkungan
Transportasi menyebabkan polusi udara dan suara (kebisingan) yang
banyak ditemukan di kota-kota besar di Asia. Tempat yang memberikan dampak
kecil terhadap lingkungan adalah tempat yang menggunakan kendaraan pribadi
lebih sedikit dan menggunakan kendaraan umum, berjalan kaki, dan bersepeda
yang tinggi.
Kesehatan dan Keselamatan
Kendaraan bermotor menyumbang 70% polusi udara di kota-kota besar
dunia. Lebih dari 500.000 orang terbunuh setiap tahunnya akibat kecelakaan
kendaran dan lebih dari 50 juta orang terluka parah di seluruh dunia. Di negara
berkembang, lebih dari 60% korban kecelakaan adalah pejalan kaki. Fakta ini
membuka pandangan bahwa sistem transportasi yang direncanakan harus
memikirkan aspek kesehatan dan keselamatan.
Partisipasi Publik dan Transparansi
Transparansi dan informasi yang terbuka bagi setiap orang akan
menghindarkan terjadinya praktik korupsi yang akan berdampak negatif bagi
komunitas. Saat ini, perencanaan transportasi sudah beralih dari menyerahkan
segala proses perencanaan ke para pakar menjadi perencanaan terbuka dengan
melibatkan semua pihak yang terkait (stakeholders).
Ekonomis dan Murah
Kebijakan transportasi yang berkelanjutan harus berujung pada proyek
yang berbiaya murah dan sekaligus membatasi penggunaan moda transportasi
yang pembangunannya membutuhkan biaya yang sangat mahal (mobil pribadi).
Informasi dan Analisis
Untuk melakukan sesuatu, komnitas harus mengerti hal-hal yang berkaitan
dengan prioritas yang harus dilakukan sehingga dapat berargumentasi dengan
usulan kebijakan-kebijakan yang diajukan oleh pemerintah. Untuk menghindari
proposal-proposal yang akan merugikan masyarakat, dapat dilakukan kajian
kesalahan dan keberhasilan dari negara-negara lain dalam penanganan sistem
transportasi perkotannya.
Advokasi
Advokasi untuk masyarakat yang berpendapatan rendah melalui Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) sangat penting karena pemerintah hanya akan
mendengar keinginan investor besar yang memiliki kepentingan tertentu.
Jejaring
Jejaring antar komunitas sangat diperlukan untuk proses pertukaran
informasi dan kerja sama antar komunitas. Melalui jejaring ini akan muncul ide-
ide baru, informasi, pelajaran dari tempat lain, dan solidaritas untuk menghasilkan
tujuan yang lebih baik bagi seluruh komunitas.
Perencanaan Model Transportasi
Untuk merencanakan model transportasi, diperlukan analisis yang
komprehensif. Langkah awal yang harus diambil adalah pengumpulan data yang
akurat dan reliable. Dari data sebagai dasar analisis tersebut, kemudian dirancang
model transportasi yang mendefinisak sesuatu yang dapat menggambarkan
keadaan yang ada di lapangan (Munawar, 2005). Model memiliki berbagai jenis,
yaitu:
Model verbal, yakni menggambarkan keadaan yang ada dalam bentuk kalimat.
Misalnya “suatu jalan yang memiliki 6 lajur dengan 3 lajur mengarah ke utara
dan sisanya mengarah ke selatan”
Model fisik, yakni mengambarkan keadaan dengan ukuran yang lebih kecil.
Misalnya model saluran, model jembatan, dan maket bangunan
Model matematis, yakni menggambarkan keadaan yang ada dalam bentuk
persamaan-persamaan matematis. Model ini yang dipakai dalam perencanaan
transportasi. Misalnya jumlah lalu lintas sebanding dengan jumlah penduduk
Model matematis sendiri dapat dijabarkna ke dalam bentuk-bentuk
berikut; (1) deskriptif, yaitu menjelaskan keadaan yang ada, (2) prediktif, yaitu
meramalkan keadaan yang akan datang, dan (3) planning, yaitu meramalkan
keadaan yang akan datang disertai rencana-rencana perubahannya.
Dalam perencanaan transportasi, dikenal Model Empat Langkah atau four
step model, yaitu model bangkitan perjalanan (trip generation model), model
distribusi perjalanan (trip distribution model), model pemilihan jenis
kendaraan/moda (modal split), dan model pemilihan rute perjalanan (traffic
assignment). Selain itu, ada beberapa contoh program pemodelan yang bisa
digunakan, yaitu:
Teacher Friendly Transportation Program (TFTP)
TFTP ini dikembangkan oleh Hammerslag (1997) dari Belanda. Input
yang digunakan adalah data jaringan jalan, jumlah lapangan kerja, dan jumlah
pekerja untuk masing-masing zona, serta beberapa input parameter yang
ditentukan. Dalam TFTP ini, interaksi asal dan tujuan diimplementasikan dalam
bentuk sistem tata guna lahan, yakni sejumlah pekerja yang bertempat tinggal
dengan sejumlah lapangan pekerjaan untuk setiap zona. Aplikasi ini terbilang
cukup mudah digunakan, namun hanya mampu menampung jumlah node yang
sedikit, yaitu hanya 99 nodes.
EMME-2
EMME-2 merupakan akronim dari equilibre multimodal, multimodal
equilibrium. Program ini dibuat di Kanada dengan kemampuan sangat tinggi,
yaitu bisa manampung hingga 1 juta node. Selain itu, formula dapat dibuat sendiri
sesuai keadaan dan kebutuhan. Contohnya, menghitung kapasitas dan waktu
tempuh yang disesuaikan dengan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997
(Munawar, 2005).
KESIMPULAN
Sistem transportasi yang berkelanjutan adalah sistem transportasi yang
menyediakan akses terhadap kebutuhan dasar masyarakat dengan memikirkan
aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Untuk itu, prinsip-prinsip dalam
membangun sistem transportasi yang berkelanjutan adalah:
Aksesibilitas Bagi Siapa Saja
Keadilan Sosial Bagi Siapa Saja
Berkelanjutan dalam Lingkungan
Kesehatan dan Keselamatan
Partisipasi Publik dan Transparansi
Ekonomis dan Murah
Informasi dan Analisis
Advokasi
Jejaring
Untuk merencanakan model transportasi, dikenal Model Empat Langkah
atau four step model, yaitu model bangkitan perjalanan (trip generation model),
model distribusi perjalanan (trip distribution model), model pemilihan jenis
kendaraan/moda (modal split), dan model pemilihan rute perjalanan (traffic
assignment). Selain itu, perencanaan bisa menggunakan program Teacher
Friendly Transportation Program (TFTP) dan EMME-2.
DAFTAR PUSTAKA
Aminah, Siti. Transportasi Publik dan Aksesibilitas Masyarakat Perkotaan, 2006.
Budiartha, I Nyoman. Perencanaan dan Evaluasi Sistem Transportasi Logistik
Kota Denpasar yang Ramah Lingkungan, 2013.
Center for Sustainable Development. Definition and Vision of Sustainable
Transportation, 1997.
Hairulsyah. Kajian tentang Transportasi di Kota Medan dan Permasalahannya,
2006.
Handajani. Analisis Pengaruh Kota - Sistem Transportasi - Konsumsi BBM Kota-
Kota di Jawa, 2011.
Manis, Aro, and Siti Tri Susiati Hutami. Sistem Transportasi Bus Kampus Unand,
2010.
Munawar, A. "Proceeding of the 9th International Seminar + Workshop on
Sustainable Resource Development (SURED)." Economic Disparity
between the East and the West of Indonesia. Los Banos, Filipina, 2005.
Munawar, Ahmad. "Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar." Pengembangan
Transportasi yang Berkelanjutan, 2007.
Tamin, Ofyar Z. Menuju Terciptanya Sistem Transportasi Berkelanjutan di Kota-
Kota Besar di Indonesia, 2007.