Motor Induksi Tiga Fasa dan Pengaturannya
Motor Induksi Tiga Fasa dan Pengaturannya
TINJAUAN PUSTAKA
Motor induksi adalah suatu mesin listrik yang merubah energi listrik menjadi
energi gerak dengan menggunakan gandengan medan listrik dan mempunyai slip
antara medan stator dan medan rotor. Stator adalah bagian dari mesin yang tidak
berputar dan terletak pada bagian luar. Stator terbuat dari besi bundar berlaminasi dan
mempunyai alur – alur sebagai tempat meletakkan kumparan. Rotor adalah bagian
dari mesin yang berputar bebas dan letaknya bagian dalam. Rotor terbuat dari besi
laminasi yang mempunayi slot dengan batang alumunium / tembaga yang terhubung
pada rotornya. Arus motor ini didapat bukan dari sumber tertentu tetapi secara
induksi atau imbas, sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dan
Belitan stator yang dihubungkan dengan sumber tegangan tiga fasa akan
menghasilkan medan magnet yang berputar. Medan putar pada stator tersebut akan
memotong konduktor pada rotor, sehingga terinduksi tegangan sesuai dengan hukum
lenz, sehingga rotor akan turut berputar mengikuti medan putar stator. Perbedaan
putaran relatif antara putaran medan stator dan putaran rotor disebut slip (S) [16].
11
Berdasarkan cara penamaan dan proses terjadinya medan putar rotor, maka
prinsip kerja motor induksi tiga fasa adalah berdasarkan prinsip induksi
elektromagnetik dimana bila sumber tegangan tiga fasa dipasang pada kumparan
medan stator, maka akan timbul medan putar dengan kecepatan (n) yang ditunjukan
120 f
n ..................................................................................... (2.1)
P
Dimana:
Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada rotor.
Akibatnya pada kumparan jangkar atau rotor akan timbul tegangan induksi (ggl).
Karena kumparan jangkar merupakan kumparan tertutup, ggl akan mengalirkan arus
pada kumparan rotor. Adanya arus dalam medan magnet menimbulkan gaya pada
rotor. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya rotor cukup besar untuk memikul
terpotongnya batang konduktor (rotor) oleh medan putar stator, artinya agar tegangan
terinduksi maka diperlukan adanya perbedaan relatif antara kecepatan medan putar
tersebut disebut dengan slip (S) dan dinyatakan dengan Persamaan (2.2) [2] :
ns nr
S x100% ........................................................................... (2.2)
ns
n = n (1 − S).............................................................................. (2.3)
n =n (1 − S).............................................................. (2.4)
S =n −n ................................................................................ (2.5)
Dengan demikian Persamaan (2.5) slip rpm (kecepatan slip) menjadi Persaman (2.6) :
(n − n ) = S. n................................................................................. (2.6)
P
f2 = ( ns nr ) = Sf1 .................................................................... (2.7)
120
Dimana:
S : slip
P : jumlah kutub
Dengan mengacu pada Persamaan (2.1), maka variabel P (jumlah kutub) dan f
Jumlah kutub motor induksi jenis sangkar bajing dapat diubah dengan
perbandingan 1 : 2.
kecepatan putar motor induksi. Hal yang harus diperhatikan, bahwa dengan
pengubahan frekuensi adalah kerapatan fluks yang ada harus diusahakan tetap,
agar kopel yang dihasilkan pun tidak berubah, untuk itu tegangan jaringan
pun harus diubah seiring dengan pengubahan frekuensi. Hal yang paling
umum dalam penerapan cara ini adalah dengan menggunakan perangkat yang
Seperti pada metoda pengasutan motor, motor induksi jenis rotor belitan yang
kerugian dari jenis ini adalah rendahnya efesiensi pada saat kecepatan
terhadap tegangan dan kecepatan motor, maka metode ini pada prinsipnya
Dari sekian banyak metode untuk mengatur kecepatan putar motor induksi,
cara dengan mengubah frekuensi jaringan adalah yang paling umum digunakan yaitu
Variable Speed Drive atau juga disebut dengan Variable Frequency Drive
atau singkatnya disebut dengan inverter adalah solusi aplikasi yang membutuhkan
kemampuan pengaturan motor lebih lanjut, misal: pengaturan putaran motor sesuai
bebannya atau sesuai dengan kecepatan yang diinginkan. Rangkaian dalam VSD
pada umumnya terdiri dari sebuah rectifier, filter, inverter , dan rangkaian kontrol.
Pemasangan VSD bisa untuk aplikasi motor AC maupun DC. Istilah inverter sering
digunakan untuk aplikasi AC [13]. Salah satu jenis Variable Speed Drive (VSD) yang
sering digunakan adalah tipe ATV12H075M2 seperti pada Gambar 2.1 (Tabel
lampiran 1), di mana tipe jenis ini memiliki input satu fasa dan keluarannya tiga fasa
[15].
Secara sederhana untuk drive AC, Variable Speed Drive atau inverter akan
tegangan input AC ke DC. SCR adalah komponen elektronika daya yang memiliki
kemampuan untuk mengatur nilai tegangan DC mulai dari 0 hingga mendekati 600
thyristor, transistor bipolar, MOSFET, atau IGBT. Gambar 2.2 rangkaian variabel
Pengatur logika, biasanya dalam bentuk kartu elektronik, yang memiliki komponen
hidup atau mati untuk menghasilkan tegangan dan frekuensi yang bervariasi untuk
putaran 360°(6 langkah masing-masing 60°). Oleh karena hanya enam langkah,
inverter jenis ini memiliki kekurangan yaitu torsi yang pulsatif (peningkatan/
penurunan nilai yang mendadak) setiap penyaklaran terjadi seperti pada Gambar 2.3.
Ini dapat ditemui pada operasi kecepatan rendah seiring variasi putaran motor. Istilah
teknis dari putaran yang bervariasi ini adalah cogging. Selain itu, bentuk gelombang
Tegangan
Arus
Jenis inverter satu ini menggunakan SCR untuk menghasilkan tegangan DC-
link yang bervariasi untuk suplai ke bagian inverter yang juga terdiri dari SCR untuk
menyaklarkan keluaran ke motor seperti pada Gambar 2.4. Beda dengan VVI yang
mengontrol tegangan, CSI justru mengontrol arus yang akan disuplai ke motor.
Karena inilah pemilihan motor haruslah hati-hati agar cocok dengan drive. Percikan
arus akibat proses penyaklaran dapat dilihat pada keluaran jika kita mengukurnya
menggunakan oscilloscope seperti pada Gambar 2.5. Pada kecepatan rendah sifat arus
Tegangan
Arus
terbukti lebih efisien dan memberikan tingkat performa yang lebih tinggi. Sama
seperti VVI, sebuah PWM juga terdiri atas rangkaian konverter, DC link, control
logic, dan sebuah inverter . Biasanya konverter yang digunakan adalah tipe tidak
terkontrol (dioda biasa) namun juga ada yang menggunakan setengah terkontrol atau
masih banyak digunakan dalam aplikasi tertentu karena faktor kesederhanaan dan
biaya yang rendah, tetapi penyearah jenis ini akan mengurangi kualitas daya pada sisi
AC masukan yang disebabkan adanya kandungan harmonisa yang masih besar serta
faktor daya yang relatif rendah. Teknik modulasi lebar pulsa (PWM = Pulse Width
dan waktu divariasikan, dengan demikian lebar pulsa bervariasi [20]. PWM akan
menarik arus dari sumber hampir mendekati bentuk gelombang sinusoidal. PWM tipe
karena tipe kontrol PWM dapat dinyalakan dan dimatikan beberapa kali setiap
setengah siklus, sehingga dapat meredam harmonisa yang timbul pada arus masukan.
Bentuk rangkaian dan prinsip kerja dari penyearah PWM satu fasa seperti
yang pada Gambar 2.6, penyearah PWM full bridge, dimana menggunakan empat
swich daya yang anti parallel dengan diode untuk mengontrol tegangan DC (Vo) [21].
Penyearah terdiri dari empat buah transistor IGBT dimana bentuknya seperti itu
disebut dengan bentuk full bridge, induktansi diletakkan di sisi input dan kapasitansi
diletakkan di sisi output yang dikontrol oleh pulse width modulation (PWM).
Tegangan sumber berupa VS tegangan pada sisi penyearah input berupa Vo dengan
Gambar 2.6. Penyearah PWM satu fasa full bridge. (a) Rangkaian penyearah
PWM, rangkaian ekivalen dengan (b) T1 dan T4 On, (c) T2 dan
T3On, (d) T1 dan T3 atau T2 dan T4 On [21]
1. Apabila T1 dan T4 dalam keadaan on maka T2 dan T3 dalam keadaan off , VAFE
= Vo (Gambar 2.6(b))
2. Apabila T1 dan T4 dalam keadaan off, maka T2 dan T3 dalam keadaan on, VAFE
3. Apabila T1 dan T3 dalam keadaan on, T2 dan T4 dalam keadaan off, atau T1 dan
T3 dalam keadaan off , T2 dan T4 dalam keadaan on, VAFE = 0 (Gambar 2.6(d))
dari sumber jaringan, dimana sefasa dengan sumber tegangan. Hal ini didapatkan
dengan mengontrol penyearah salah satunya dengan cara modulasi lebar pulsa.
Tegangan dan arus dalam kondisi kontrol dapat dilihat pada Gambar 2.7 [22].
Salah satu cara yang bisa dilakukan pada switching transistor seperti pada
Gambar 2.7 yang paling bawah, ini menggambarkan dua keadaan alternatif, yang
pertama, arus mengalir ke beban (T1 dan T4 berkonduksi) dan kedua, penyearah input
Vr eff
V
V g(1) m Vd
Vr (1)
Vn
Vn (1) m IC I d reff
I n (1)
T1; D1
T2; D2
T3; D3
T4; D4
Gambar 2.7. Bentuk gelombang tegangan dan arus pada penyearah PWM [22]
1. Dengan hanya mempertimbangkan satu pasang pulsa, sehingga jika satu pulsa
mulai dari t = 1 dan berakhir saat t = 1+ 1, pulsa lain mulai saat t = + 1
2. Dengan menggabungkan efek semua pulsa. Jika pulsa mth mulai dari t = m,
dimana lebar pulsa adalah m, nilai rata-rata tegangan keluaran bergantung pada
=∑ ∫ sin ( )
Jika arus beban dengan nilai rata-rata Ia selalu kontinyu dan ripple diabaikan, arus
input sesaat dapat diekspresikan dalam deret Fourier seperti berikut ini.
Karena bentuk gelombang arus input simetris, disana tidak terdapat harmonisa genap
dan A0 akan menjadi nol dan koefisien dari Persamaan 2.9 adalah :
1
= ( ) cos ( )
/
2 2
= cos ( )− cos ( ) =0
/
1
= ( ) sin ( )
/
2 2
= sin ( )− sin ( )
/
untuk n= 1, 3, 5, …
2.3. Harmonisa
Harmonisa adalah gangguan yang terjadi pada sistem distribusi tenaga listrik
akibat terjadinya distorsi gelombang arus dan tegangan. Gejala pembentukan
gelombang dengan frekuensi berbeda yang merupakan perkalian bilangan bulat
dengan frekuensi dasarnya. Hal ini disebut frekuensi harmonisa yang timbul pada
bentuk gelombang aslinya sedangkan bilangan bulat pengali frekuensi dasar disebut
angka urutan harmonisa. Misalnya, frekuensi dasar suatu sistem tenaga listrik adalah
50 Hz, maka harmonisa keduanya adalah gelombang dengan frekuensi 100 Hz,
harmonisa ketiga adalah gelombang dengan frekuensi sebesar 150 Hz dan seterusnya.
Gelombang-gelombang ini kemudian menumpang pada gelombang murni/aslinya
sehingga terbentuk gelombang cacat yang merupakan jumlah antara gelombang
murni sesaat dengan gelombang harmonisanya seperti pada Gambar 2.8 [23].
analisa deret Fourier untuk tegangan dan arus dalam fungsi waktu yaitu [24]:
( ) = Vo + ∑∞ ( + ) ........................................................ (2.13)
Tegangan dan arus RMS dari gelombang sinusoidal yaitu nilai puncak gelombang
dibagi √2 dan secara deret Fourier untuk tegangan dan arus yaitu [25]:
V =V + ∑∞ ......................................................... ..(2.14)
√
I =I + ∑ .............................................................(2.15)
√
Pada umumnya untuk mengukur besar harmonisa yang disebut dengan Total
Harmonic Distortion (THD). Untuk THD tegangan dan arus didefenisikan sebagai
nilai RMS harmonisa urutan diatas frekuensi fundamental dibagi dengan nilai RMS
Besar Total Harmonic Distortion (THD) untuk tegangan dan arus ditunjukan pada
∑ ∑ ( )
√
= = ………………………………….. (2.16)
√
∑ ∑ ( )
√
= = ......................................................(2.17)
√
Hubungan Persamaan THD dengan arus RMS dari Persamaan (2.17) yaitu:
1
=
2
∑ ∑ −
= =
= + . = (1 + )
1
= 1
2 2
= +
1+ ) .................................................................. (2.18)
,
= , 1+ ..........................................................(2.19)
orde harmonisa terdistorsi terhadap nilai RMS pada frekuensi fundamental yaitu :
√
= = ...........................................................................(2.20)
√
√
= = ................................................................................(2.21)
√
Hubungan Persamaan IHD dengan arus RMS dari Persamaan (2.21) yaitu:
= ................................................................................(2.22)
= = .................................................................(223)
= + . = 1+ ...................................(2.24)
= 1+ .................................................................(2.25)
= 1+ ......................................................(2.26)
Untuk mengurangi harmonisa pada suatu sistem secara umum tidaklah harus
mengeliminasi semua harmonisa yang ada, tetapi cukup dengan mereduksi sebagian
harmonisa tersebut sehingga diperoleh nilai dibawah standar yang diizinkan. Hal ini
berkaitan dengan analisa secara teknis dan ekonomis, dimana dalam mereduksi
harmonisa secara teknis dibawah standar yang diizinkan sementara dari sisi ekonomis
tidak membutuhkan biaya yang besar. Standar yang digunakan sebagai batasan
(IEC) yang mengatur batasan harmonisa pada beban beban kecil satu fasa ataupun
1). Kelas A
penggerak motor dan semua peralatan 3 fasa yang arusnya tidak lebih dari 16 amper
perfasanya. Semua peralatan yang tidak termasuk dalam 3 kelas yang lain
untuk peralatan satu fasa (tegangan kerja 230 V) dan tiga fasa (230/400 V) dimana
2). Kelas B
Kelas ini meliputi semua peralatan tool portable yang batasan arus harmonisanya
merupakan harga absolut maksimum dengan waktu kerja yang singkat. Batasan arus
3). Kelas C
aktifnya lebih besar 25 watt. Batasan arusnya diekspresikan dalam bentuk persentase
4). Kelas D
Kelas ini berisi semua jenis peralatan yang dayanya dibawah 600 watt dan
personal komputer, layar monitor dan penerima TV. Batasan arusnya diekspresikan
dalam bentuk mA/W untuk peralatan dengan daya pengenal melebihi 75 W tapi
kurang dari 600 W atau dalam ampere untuk peralatan yang lebih besar
dari 600 W. Batasan arus harmonisanya diperlihatkan pada oleh Tabel 2.4.
Tujuan utama dari filter harmonisa adalah untuk mengurangi amplitudo satu
frekuensi tertentu dari sebuah tegangan atau arus. Penambahan filter harmonisa pada
penyebaran arus harmonisa keseluruh jaringan dapat ditekan sekecil mungkin. Selain
itu filter harmonisa pada frekuensi fundamental dapat mengkompensasi daya reaktif
Filter pasif merupakan metode penyelesaian yang efektif dan ekonomis untuk
masalah harmonisa, rangkaian filter pasif seperti Gambar 2.9. Filter pasif sebagian
besar didesain untuk memberikan bagian khusus untuk mengalihkan arus haromonisa
yang tidak diinginkan dalam sistem tenaga. Filter pasif banyak digunakan untuk
instalasi.
Beberapa jenis filter pasif yang umum beserta konfigurasi dan impedansinya
seperti pada Gambar 2.10 [27]. Passive single-tuned filter atau band-pass filter adalah
yang paling umum digunakan. Dua buah passive single-tuned filter akan memiliki
karakteristik yang mirip dengan double band-pass filter. Tipe filter pasif yang paling
umum digunakan adalah single-tuned filter. Filter umum ini biasa digunakan pada
tegangan rendah. Rangkaian filter ini mempunyai impedansi yang rendah. Sebelum
merancang suatu filter pasif, maka perlu diketahui besarnya kebutuhan daya reaktif
pada sistem. Daya reaktif sistem ini diperlukan untuk menghitung besarnya nilai
Rangkain passive LC filter untuk inverter tiga fasa seperti Gambar 2.11.
Gambar 2.11. Rangkaian passive LC filter untuk inverter tiga fasa [10].
menentukan induktansi dan kapasitansi dari passive LC filter . Pada penelitian ini
minimum, ukuran, kerugian, dan lain-lain. Ukuran minimalisasi, kerugian dan biaya
filter, kriteria tambahan berdasarkan daya reaktif minimum juga termasuk digunakan
[28]. Namun, sebagai passive LC filter pada harmonik diberikan dalam bentuk
Fourier seri ekspresi dari induktansi dan kapasitansi dari passive LC filter yang tidak
diperoleh [6].
Prinsip kerja dari filter shunt (filter pasif paralel) adalah dengan meng-short
circuit-kan arus harmonisa yang ada dekat dengan sumber distorsi. Ini dilakukan agar
supaya menjaga arus harmonisa yang masuk tersebut tidak keluar menuju peralatan
lain dan sumber suplai energi listrik. Komponen filter pasif ini terdiri dari dua
Pemasangan filter jenis ini dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi sistem
pada peralatan ini dapat memperbaiki cos sistem, pada reaktornya berfungsi
sebagai filter dan juga melindungi kapasitor dari over kapasitor hal ini dikarenakan
yaitu Induktor dan kapasitor. Dalam mendesain passive LC filter terlebih dahulu
menentukan besar kapasitor sesuai kebutuhan faktor daya dan induktor filter.
adalah :
Dimana :
= .............................................................. (2.27)
Dimana:
= ...................................................................(2.28)
Dimana :
= ...........................................................................(2.29)
= ...........................................................................(2.30)
=ℎ ....................................................................(2.31)
= .............................................................................(2.32)
= +( )
= +( )
= +
√
= .......................................................................(2.33)
Di mana:
L : induktansi (H)
= ...…………………………………..…….. (2.34)
pasif R, L dan C terhubung seri, seperti pada Gambar 2.14. Passive single-tuned
filter akan mempunyai impedansi yang kecil pada frekuensi resonansi sehingga arus
yang memiliki frekuensi yang sama dengan frekuensi resonansi akan dibelokkan
melalui filter. Untuk mengatasi harmonisa di dalam sistem tenaga listrik yang paling
= + ( − ) .....................................................................(2.35)
= + − ................................................................(2.36)
=2 ℎ .................................................................................(2.37)
= + ( ℎ − ) ..................................................................(2.39)
Saat resonansi terjadi nilai reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif sama besar, maka
diperoleh impedansi passive single tuned filter seperti pada Persamaan (2.40) adalah
= ..................................................................................................... (2.40)
impedansi passive single-tuned filter akan mempunyai impedansi yang sangat kecil,
lebih kecil dari impedansi beban yaitu sama dengan tahanan induktor R, sehingga
arus harmonisa yang mempunyai frekuensi yang sama dengan frekuensi resonansi
akan dialirkan atau dibelokkan melalui passive single-tuned filter dan tidak mengalir
ke sistem. Frekuensi respon dan sudut fasa dari passive single-tuned filter
ditunjukkan seperti Gambar 2.15 (a) dan (b), dimana dapat dilihat bahwa pada
frekuensi harmonisa atau orde ke-5 dari harmonisa (fr = 250 Hz), impedansi passive
Gambar 2.15. (a) Frekuensi respon, (b) sudut fasa Passive single tuned filter [31]
IHD tegangan dan IHD arus sampai dengan 10-30%. Besarnya tahanan R dari
induktor dapat ditetukan oleh faktor kualitas dari induktor. Faktor kualitas (Q) adalah
kualitas listrik suatu induktor, secara matematis Q adalah perbandingan nilai reaktansi
induktif atau reaktansi kapasitif pada frekuensi resonansi dengan tahanan R. Semakin
besar nilai Q yang dipilih maka semakin kecil nilai R dan semakin bagus kualitas dari
filter dimana energi yang dikonsumsi oleh filter akan semakin kecil, artinya rugi-rugi
= ...........................................................................................(2.42)
Berdasarkan persamaan (2.17), tahanan resistor adalah:
= ...........................................................................................(2.43)
Pada Frekuensi resonansi (fr), Passive single tuned filter memiliki impedansi
minimum sebesar nilai resistansi R dari induktor. Oleh karena itu, filter ini menyerap
semua arus harmonik yang dekat dengan frekuensi resonansi (fr) yang diinjeksikan,
dengan distorsi tegangan harmonik yang rendah pada frekuensi ini. Pada prinsipnya,
sebuah Passive single tuned filter untuk setiap harmonik yang akan dihilangkan.
dan C, yaitu:
Kualitas dari sebuah filter (Q) adalah ukuran ketajaman penyetelan filter
frekuensi rendah (misalnya harmonisa kelima), dan nilainya biasanya terletak antara
resistansi. Perkiraan nilai Q untuk reaktor inti udara (air core reactors) adalah 75 dan
circuit-kan arus harmonisa yang ada dekat dengan sumber distorsi. Ini dilakukan
untuk menjaga arus harmonisa yang masuk tidak keluar menuju peralatan lain dan
sumber supply energi listrik. Passive single tuned filter yang merupakan hubungan
merperbaiki cos φ sistem, sedangkan induktor (reaktor) berfungsi sebagai filter dan
juga melindungi kapasitor dari over kapasitor akibat adanya resonansi. Sebuah
rangkaian passive single tuned filter dipasang pada frekuensi harmonisa sebagai
arus yang terjadi akibat beban non linier seperti yang ditunjukkan pada gelombang
warna biru. Setelah kapasitor dan induktor yang digunakan sebagai filter untuk
memperbaiki gelombang warna biru dengan sinyal gelombang warna hijau, sehingga
Dengan demikian tingkat distorsi gelombang dapat diperbaiki oleh induktor dan
kapasitor.
Mendesain passive single tuned filter yang terdiri dari hubungan seri
[13], [14],[29].
untuk perbaikan faktor daya dengan Persamaan (2.44). Daya reaktif kapasitor
adalah :
−1 −1
= {tan 1
− tan 2
.......................... (2.44)
Dimana :
P : beban (kW)
= ......................................................................(2.45)
C= ..................................................................(2.46)
X = .................................................................(2.47)
= .........................................................................(2.48)
Persamaan (2.49) :
=ℎ ..................................................................(2.49)
= ..........................................................................(2.50)
Untuk menentukan kebutuhan daya reaktif dapat digambarkan dalam bentuk
P(watt)
1 2
2 2( )
1( )
( )
Gambar 2.19. Segitiga daya untuk menentukan kebutuhan daya reaktif Q [30]
memperbaiki faktor daya beban. Komponen daya aktif (P) umumnya konstan, daya
semu (S) dan daya reaktif (Q) berubah sesuai dengan faktor daya beban.
= .................................................... ……..(2.51)
= .................................................................... ……..(2.52)
Sehingga rating kapasitor yang diperlukan untuk memperbaiki faktor daya yaitu:
Daya reaktif ΔQ = Q1 - Q2
Atau
ΔQ = P(tan 1- 2) ..................................................................(2.53)
Besar nilai ΔQ yang didapat, selanjutnya menentukan nilai reaktansi kapasitif yang
kapasitor yang dibutuhkan untuk memperbaiki faktor daya pada Persamaan (2.46).