0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan36 halaman

Motor Induksi Tiga Fasa dan Pengaturannya

Bab 2 membahas tentang tinjauan pustaka motor induksi tiga fasa dan variable speed drive. Pada bagian motor induksi, dijelaskan prinsip kerja motor induksi yang mengubah energi listrik menjadi energi gerak dengan menggunakan induksi elektromagnetik. Bagian variable speed drive menjelaskan bahwa variable speed drive dapat mengatur kecepatan motor sesuai dengan beban atau kecepatan yang diinginkan dengan mengubah frekuensi keluaran.

Diunggah oleh

Taufik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan36 halaman

Motor Induksi Tiga Fasa dan Pengaturannya

Bab 2 membahas tentang tinjauan pustaka motor induksi tiga fasa dan variable speed drive. Pada bagian motor induksi, dijelaskan prinsip kerja motor induksi yang mengubah energi listrik menjadi energi gerak dengan menggunakan induksi elektromagnetik. Bagian variable speed drive menjelaskan bahwa variable speed drive dapat mengatur kecepatan motor sesuai dengan beban atau kecepatan yang diinginkan dengan mengubah frekuensi keluaran.

Diunggah oleh

Taufik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Motor Induksi Tiga Fasa

Motor induksi adalah suatu mesin listrik yang merubah energi listrik menjadi

energi gerak dengan menggunakan gandengan medan listrik dan mempunyai slip

antara medan stator dan medan rotor. Stator adalah bagian dari mesin yang tidak

berputar dan terletak pada bagian luar. Stator terbuat dari besi bundar berlaminasi dan

mempunyai alur – alur sebagai tempat meletakkan kumparan. Rotor adalah bagian

dari mesin yang berputar bebas dan letaknya bagian dalam. Rotor terbuat dari besi

laminasi yang mempunayi slot dengan batang alumunium / tembaga yang terhubung

singkat pada ujungnya.

Motor induksi merupakan motor arus bolak-balik yang paling banyak

digunakan terutama dalam industri. Penamaannya berdasarkan cara memperoleh arus

pada rotornya. Arus motor ini didapat bukan dari sumber tertentu tetapi secara

induksi atau imbas, sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dan

medan putar yang dihasilkan oleh arus stator.

Belitan stator yang dihubungkan dengan sumber tegangan tiga fasa akan

menghasilkan medan magnet yang berputar. Medan putar pada stator tersebut akan

memotong konduktor pada rotor, sehingga terinduksi tegangan sesuai dengan hukum

lenz, sehingga rotor akan turut berputar mengikuti medan putar stator. Perbedaan

putaran relatif antara putaran medan stator dan putaran rotor disebut slip (S) [16].

11

Universitas Sumatera Utara


12

Berdasarkan cara penamaan dan proses terjadinya medan putar rotor, maka

prinsip kerja motor induksi tiga fasa adalah berdasarkan prinsip induksi

elektromagnetik dimana bila sumber tegangan tiga fasa dipasang pada kumparan

medan stator, maka akan timbul medan putar dengan kecepatan (n) yang ditunjukan

pada Persamaan 2.1 [16],[17] :

120 f
n ..................................................................................... (2.1)
P

Dimana:

n : kecepatan sinkron (rpm)

f : frekuensi stator (Hz)

P : jumlah kutub (buah)

Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada rotor.

Akibatnya pada kumparan jangkar atau rotor akan timbul tegangan induksi (ggl).

Karena kumparan jangkar merupakan kumparan tertutup, ggl akan mengalirkan arus

pada kumparan rotor. Adanya arus dalam medan magnet menimbulkan gaya pada

rotor. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya rotor cukup besar untuk memikul

kopel beban, rotor akan berputar searah medan putar stator.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, tegangan induksi timbul karena

terpotongnya batang konduktor (rotor) oleh medan putar stator, artinya agar tegangan

terinduksi maka diperlukan adanya perbedaan relatif antara kecepatan medan putar

stator (ns) dengan kecepatan putaran rotor (nr) [2].

Universitas Sumatera Utara


13

Perbedaan kecepatan antara medan putar stator dengan perputaran rotor

tersebut disebut dengan slip (S) dan dinyatakan dengan Persamaan (2.2) [2] :

ns  nr
S x100% ........................................................................... (2.2)
ns

Persamaan (2.2) dapat ditulis dengan Persamaan (2.3, 2.4, 2.5) :

n = n (1 − S).............................................................................. (2.3)

n =n (1 − S).............................................................. (2.4)

S =n −n ................................................................................ (2.5)

Dengan demikian Persamaan (2.5) slip rpm (kecepatan slip) menjadi Persaman (2.6) :

(n − n ) = S. n................................................................................. (2.6)

Maka diperolehlah frekuensi slip dengan Persamaan (2.7):

P
f2 = ( ns  nr ) = Sf1 .................................................................... (2.7)
120

Dimana:

ns : kecepatan stator (rpm)

nr : kecepatan rotor (rpm)

S : slip

P : jumlah kutub

f1 = fs : frekuensi suplai = frekuensi stator (Hz)

f2 : frekuensi slip = frekuensi rotor (Hz)

Universitas Sumatera Utara


14

2.1.1. Pengaturan kecepatan motor induksi

Pengaturan kecepatan motor induksi dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Dengan mengacu pada Persamaan (2.1), maka variabel P (jumlah kutub) dan f

(frekuensi) akan mempengaruhi kecepatan putar motor induksi [3]:

A. Pengaturan Kecepatan dengan Mengubah Jumlah Kutub Motor

Jumlah kutub motor induksi jenis sangkar bajing dapat diubah dengan

merencanakan kumparan stator sedemikian rupa, sehingga dapat menerima

tegangan masuk pada dua posisi kumparan yang berbeda, dengan

perbandingan 1 : 2.

B. Pengaturan Kecepatan dengan Mengubah Frekuensi Jaringan

Selain jumlah kutub, pengubahan frekuensi juga dapat berpengaruh pada

kecepatan putar motor induksi. Hal yang harus diperhatikan, bahwa dengan

pengubahan frekuensi adalah kerapatan fluks yang ada harus diusahakan tetap,

agar kopel yang dihasilkan pun tidak berubah, untuk itu tegangan jaringan

pun harus diubah seiring dengan pengubahan frekuensi. Hal yang paling

umum dalam penerapan cara ini adalah dengan menggunakan perangkat yang

dikenal sebagai inverter .

C. Pengaturan Kecepatan dengan Mengubah Resistansi Tahanan Rotor

Seperti pada metoda pengasutan motor, motor induksi jenis rotor belitan yang

dihubungkan dengan tahanan luar dapat diatur kecepatanputarnya. Dengan

mengubah-ubah nilai tahanan luar yang terhubung ke rotor, maka besarnya

kopel akan berubah, demikian juga dengan kecepatan putarnya. Adapun

Universitas Sumatera Utara


15

kerugian dari jenis ini adalah rendahnya efesiensi pada saat kecepatan

putarnya dikurangi dan pengaturan kecepatan putarnya sangat dipegaruhi oleh

perubahan beban yang dipikulnya.

D. Pengaturan Kecepatan dengan Mengubah Besarnya Slip

Dengan mengingat hubungan slip dengan daya listrik dan pengaruhnya

terhadap tegangan dan kecepatan motor, maka metode ini pada prinsipnya

menggunakan hubungan tersebut dengan menggunakan suatu alat tambahan,

baik elektrik, maupun elektronik. Peralatan tambahan tersebut berupa sistem

yang cukup rumit.

Dari sekian banyak metode untuk mengatur kecepatan putar motor induksi,

cara dengan mengubah frekuensi jaringan adalah yang paling umum digunakan yaitu

dengan menggunakan inverter . Dengan cara tersebut daerah pengaturan kecepatan

putarnya cukup lebar [3].

2.2. Variable Speed Drive

Variable Speed Drive atau juga disebut dengan Variable Frequency Drive

atau singkatnya disebut dengan inverter adalah solusi aplikasi yang membutuhkan

kemampuan pengaturan motor lebih lanjut, misal: pengaturan putaran motor sesuai

bebannya atau sesuai dengan kecepatan yang diinginkan. Rangkaian dalam VSD

pada umumnya terdiri dari sebuah rectifier, filter, inverter , dan rangkaian kontrol.

Pemasangan VSD bisa untuk aplikasi motor AC maupun DC. Istilah inverter sering

digunakan untuk aplikasi AC [13]. Salah satu jenis Variable Speed Drive (VSD) yang

Universitas Sumatera Utara


16

sering digunakan adalah tipe ATV12H075M2 seperti pada Gambar 2.1 (Tabel

lampiran 1), di mana tipe jenis ini memiliki input satu fasa dan keluarannya tiga fasa

[15].

Gambar 2.1. Variable Speed Drive (VSD) tipe ATV12H075M2

Secara sederhana untuk drive AC, Variable Speed Drive atau inverter akan

mengubah AC ke DC yang kemudian diatur dengan suatu teknik penyaklaran

‘switching‘ mengubah DC menjadi tegangan dan frekuensi keluaran AC yang

bervariasi. Ada empat jenis inverter yaitu [18]:

1. Variable voltage inverter (VVI)

Jenis inverter ini menggunakan konverter jembatan SCR untuk mengubah

tegangan input AC ke DC. SCR adalah komponen elektronika daya yang memiliki

kemampuan untuk mengatur nilai tegangan DC mulai dari 0 hingga mendekati 600

Universitas Sumatera Utara


17

VDC. Induktor L1 sebagai choke dengan kapasitor C1 membentuk bagian dengan

istilah DC-link yang membantu memperhalus kualitas tegangan DC hasil konversi.

Bagian inverter sendiri terdiri dari kumpulan divais penyaklaran seperti:

thyristor, transistor bipolar, MOSFET, atau IGBT. Gambar 2.2 rangkaian variabel

inverter tegangan menunjukkan inverter yang menggunakan transistor bipolar.

Pengatur logika, biasanya dalam bentuk kartu elektronik, yang memiliki komponen

utama sebuah mikroprosesor akan mengatur kapan waktu transistor-transistor inverter

hidup atau mati untuk menghasilkan tegangan dan frekuensi yang bervariasi untuk

dilanjutkan ke motor sesuai bebannya.

Gambar 2.2. Rangkaian variabel inverter tegangan

Tipe inverter ini menggunakan enam langkah untuk menyelesaikan satu

putaran 360°(6 langkah masing-masing 60°). Oleh karena hanya enam langkah,

inverter jenis ini memiliki kekurangan yaitu torsi yang pulsatif (peningkatan/

penurunan nilai yang mendadak) setiap penyaklaran terjadi seperti pada Gambar 2.3.

Universitas Sumatera Utara


18

Ini dapat ditemui pada operasi kecepatan rendah seiring variasi putaran motor. Istilah

teknis dari putaran yang bervariasi ini adalah cogging. Selain itu, bentuk gelombang

sinyal keluaran yang tidak sinusoidal sempurna mengakibatkan pemanasan berlebih

di motor mestipun motor dijalankan di bawah nilai rating-nya.

Tegangan

Arus

Gambar 2.3. Gelombang dari Variable Voltage Inverter (VVI)

2. Current source inverter (CSI)

Jenis inverter satu ini menggunakan SCR untuk menghasilkan tegangan DC-

link yang bervariasi untuk suplai ke bagian inverter yang juga terdiri dari SCR untuk

menyaklarkan keluaran ke motor seperti pada Gambar 2.4. Beda dengan VVI yang

mengontrol tegangan, CSI justru mengontrol arus yang akan disuplai ke motor.

Karena inilah pemilihan motor haruslah hati-hati agar cocok dengan drive. Percikan

arus akibat proses penyaklaran dapat dilihat pada keluaran jika kita mengukurnya

menggunakan oscilloscope seperti pada Gambar 2.5. Pada kecepatan rendah sifat arus

yang pulsatif dapat mengakibatkan motor tersendat ‘cog‘.

Universitas Sumatera Utara


19

Gambar 2.4. Skema sumber inverter arus

Tegangan

Arus

Gambar 2.5. Gelombang output sumber inverter arus

3. Pulse width modulation

Teknik penyaklaran satu ini memberikan output yang lebih sinusoidal

dibandingkan dua jenis inverter sebelumnya. Drive yang menggunakan PWM

terbukti lebih efisien dan memberikan tingkat performa yang lebih tinggi. Sama

seperti VVI, sebuah PWM juga terdiri atas rangkaian konverter, DC link, control

logic, dan sebuah inverter . Biasanya konverter yang digunakan adalah tipe tidak

terkontrol (dioda biasa) namun juga ada yang menggunakan setengah terkontrol atau

kontrol penuh [18].

Universitas Sumatera Utara


20

Penyearah dioda dan penyearah thyristor yang dikendalikan sudut fasanya

masih banyak digunakan dalam aplikasi tertentu karena faktor kesederhanaan dan

biaya yang rendah, tetapi penyearah jenis ini akan mengurangi kualitas daya pada sisi

AC masukan yang disebabkan adanya kandungan harmonisa yang masih besar serta

faktor daya yang relatif rendah. Teknik modulasi lebar pulsa (PWM = Pulse Width

Modulation) banyak diterapkan pada aplikasi penyearah [19]. Konverter AC-DC

yang menggunakan penyearah PWM beroperasi dengan menjaga frekuensi konstan

dan waktu divariasikan, dengan demikian lebar pulsa bervariasi [20]. PWM akan

menarik arus dari sumber hampir mendekati bentuk gelombang sinusoidal. PWM tipe

kontrol yang sangat baik digunakan utnuk me

ningkatkan faktor kerja penyearah dan mengurangi harmonisa arus masukan,

karena tipe kontrol PWM dapat dinyalakan dan dimatikan beberapa kali setiap

setengah siklus, sehingga dapat meredam harmonisa yang timbul pada arus masukan.

Bentuk rangkaian dan prinsip kerja dari penyearah PWM satu fasa seperti

yang pada Gambar 2.6, penyearah PWM full bridge, dimana menggunakan empat

swich daya yang anti parallel dengan diode untuk mengontrol tegangan DC (Vo) [21].

Penyearah terdiri dari empat buah transistor IGBT dimana bentuknya seperti itu

disebut dengan bentuk full bridge, induktansi diletakkan di sisi input dan kapasitansi

diletakkan di sisi output yang dikontrol oleh pulse width modulation (PWM).

Tegangan sumber berupa VS tegangan pada sisi penyearah input berupa Vo dengan

bentuk gelombang yang sinusoidal yang dipisahkan oleh induktansi input.

Universitas Sumatera Utara


21

Gambar 2.6. Penyearah PWM satu fasa full bridge. (a) Rangkaian penyearah
PWM, rangkaian ekivalen dengan (b) T1 dan T4 On, (c) T2 dan
T3On, (d) T1 dan T3 atau T2 dan T4 On [21]

Penyearah ini bekerja dengan cara:

1. Apabila T1 dan T4 dalam keadaan on maka T2 dan T3 dalam keadaan off , VAFE

= Vo (Gambar 2.6(b))

2. Apabila T1 dan T4 dalam keadaan off, maka T2 dan T3 dalam keadaan on, VAFE

= -Vo (Gambar 2.6(c))

3. Apabila T1 dan T3 dalam keadaan on, T2 dan T4 dalam keadaan off, atau T1 dan

T3 dalam keadaan off , T2 dan T4 dalam keadaan on, VAFE = 0 (Gambar 2.6(d))

Tujuan untuk mengontrol penyearah yaitu untuk menyerap arus harmonisa

dari sumber jaringan, dimana sefasa dengan sumber tegangan. Hal ini didapatkan

dengan mengontrol penyearah salah satunya dengan cara modulasi lebar pulsa.

Tegangan dan arus dalam kondisi kontrol dapat dilihat pada Gambar 2.7 [22].

Universitas Sumatera Utara


22

Salah satu cara yang bisa dilakukan pada switching transistor seperti pada

Gambar 2.7 yang paling bawah, ini menggambarkan dua keadaan alternatif, yang

pertama, arus mengalir ke beban (T1 dan T4 berkonduksi) dan kedua, penyearah input

di short circuit (D1 dan T3 berkonduksi). Area hitam menggambarkan konduksi

transistor, area putih menggambarkan elemen pasif berkonduksi. transistor di turnoff

dan arus mengalir melalui dioda.

Vr eff

V
V g(1) m Vd
Vr (1)

 Vn

Vn (1) m IC I d reff

I n (1)

T1; D1
T2; D2
T3; D3

T4; D4

Gambar 2.7. Bentuk gelombang tegangan dan arus pada penyearah PWM [22]

Universitas Sumatera Utara


23

Tegangan keluaran dan parameter dari penyearah PWM dapat dihitung

dengan dua langkah yaitu :

1. Dengan hanya mempertimbangkan satu pasang pulsa, sehingga jika satu pulsa

mulai dari t = 1 dan berakhir saat t = 1+ 1, pulsa lain mulai saat t = + 1

dan berakhir saat t = (+1+ 1) dan

2. Dengan menggabungkan efek semua pulsa. Jika pulsa mth mulai dari t = m,

dimana lebar pulsa adalah m, nilai rata-rata tegangan keluaran bergantung pada

jumlah pulsa p, yang didapatkan dari

=∑ ∫ sin ( )

= ∑ [cos − cos( + )] ........................................... (2.8)

Jika arus beban dengan nilai rata-rata Ia selalu kontinyu dan ripple diabaikan, arus

input sesaat dapat diekspresikan dalam deret Fourier seperti berikut ini.

( )= +∑ , ,… ( cos + sin ) ............................ (2.9)

Karena bentuk gelombang arus input simetris, disana tidak terdapat harmonisa genap

dan A0 akan menjadi nol dan koefisien dari Persamaan 2.9 adalah :

1
= ( ) cos ( )

/
2 2
= cos ( )− cos ( ) =0
/

Universitas Sumatera Utara


24

1
= ( ) sin ( )

/
2 2
= sin ( )− sin ( )
/

= ∑ sin sin + − sin + + .........(2.10)

untuk n= 1, 3, 5, …

Persamaan (2.9) dapat ditulis kembali menjadi Persamaan (2.11) :

( )=∑ , ,… √2 sin( + f ) ............................................(2.11)

Dimana: fn = tan-1 (An/Bn) = 0 dan = ( + ) /√2 = /√2

2.3. Harmonisa

Harmonisa adalah gangguan yang terjadi pada sistem distribusi tenaga listrik
akibat terjadinya distorsi gelombang arus dan tegangan. Gejala pembentukan
gelombang dengan frekuensi berbeda yang merupakan perkalian bilangan bulat
dengan frekuensi dasarnya. Hal ini disebut frekuensi harmonisa yang timbul pada
bentuk gelombang aslinya sedangkan bilangan bulat pengali frekuensi dasar disebut
angka urutan harmonisa. Misalnya, frekuensi dasar suatu sistem tenaga listrik adalah
50 Hz, maka harmonisa keduanya adalah gelombang dengan frekuensi 100 Hz,
harmonisa ketiga adalah gelombang dengan frekuensi sebesar 150 Hz dan seterusnya.
Gelombang-gelombang ini kemudian menumpang pada gelombang murni/aslinya
sehingga terbentuk gelombang cacat yang merupakan jumlah antara gelombang
murni sesaat dengan gelombang harmonisanya seperti pada Gambar 2.8 [23].

Universitas Sumatera Utara


25

Gambar 2.8. Gelombang fundamenal dengan gelombang harmonisanya [23].

2.4. Perhitungan Harmonisa

Untuk menentukan besar Total Harmonic Distortion (THD) dari perumusan

analisa deret Fourier untuk tegangan dan arus dalam fungsi waktu yaitu [24]:

v(t) = Vo + ∑ ( + ) ............................................. …...(2.12)

( ) = Vo + ∑∞ ( + ) ........................................................ (2.13)

Tegangan dan arus RMS dari gelombang sinusoidal yaitu nilai puncak gelombang

dibagi √2 dan secara deret Fourier untuk tegangan dan arus yaitu [25]:

V =V + ∑∞ ......................................................... ..(2.14)

I =I + ∑ .............................................................(2.15)

Pada umumnya untuk mengukur besar harmonisa yang disebut dengan Total

Harmonic Distortion (THD). Untuk THD tegangan dan arus didefenisikan sebagai

nilai RMS harmonisa urutan diatas frekuensi fundamental dibagi dengan nilai RMS

pada frekuensi fundamentalnya, dan tegangan DC nya diabaikan.

Universitas Sumatera Utara


26

Besar Total Harmonic Distortion (THD) untuk tegangan dan arus ditunjukan pada

persamaan (2.16) dan (2.17) yaitu :

∑ ∑ ( )

= = ………………………………….. (2.16)

∑ ∑ ( )

= = ......................................................(2.17)

Hubungan Persamaan THD dengan arus RMS dari Persamaan (2.17) yaitu:

1
=
2

∑ ∑ −
= =

Selanjutnya di dapat Persamaan (2.18) yaitu:

= + . = (1 + )

1
= 1
2 2

= +
1+ ) .................................................................. (2.18)
,

Sehingga arus RMS terhadap THDI yaitu:

= , 1+ ..........................................................(2.19)

Individual Harmonic Distortion (IHD) adalah perbandingan nilai RMS pada

orde harmonisa terdistorsi terhadap nilai RMS pada frekuensi fundamental yaitu :

Universitas Sumatera Utara


27


= = ...........................................................................(2.20)


= = ................................................................................(2.21)

Dimana: Vh = Tegangan harmonisa pada orde terdistorsi

Ih = Arus harmonisa pada orde terdistorsi

Hubungan Persamaan IHD dengan arus RMS dari Persamaan (2.21) yaitu:

= ................................................................................(2.22)

= = .................................................................(223)

Selanjutnya dari Persamaan (2.22) di dapat yaitu:

= + . = 1+ ...................................(2.24)

= 1+ .................................................................(2.25)

Sehingga arus RMS terhadap IHDi yaitu:

= 1+ ......................................................(2.26)

2.5. Batasan Harmonisa

Untuk mengurangi harmonisa pada suatu sistem secara umum tidaklah harus

mengeliminasi semua harmonisa yang ada, tetapi cukup dengan mereduksi sebagian

harmonisa tersebut sehingga diperoleh nilai dibawah standar yang diizinkan. Hal ini

berkaitan dengan analisa secara teknis dan ekonomis, dimana dalam mereduksi

harmonisa secara teknis dibawah standar yang diizinkan sementara dari sisi ekonomis

tidak membutuhkan biaya yang besar. Standar yang digunakan sebagai batasan

Universitas Sumatera Utara


28

harmonisa adalah yang dikeluarkan oleh International Electrotechnical Commission

(IEC) yang mengatur batasan harmonisa pada beban beban kecil satu fasa ataupun

tiga fasa. Untuk beban tersebut umumnya digunakan standar IEC61000-3-2.

Pada standar IEC61000-3-2, beban beban kecil tersebut diklasifikasikan

dalam kelas A, B, C, dan D, dimana masing-masing kelas mempunyai batasan

harmonisa yang berbeda beda yang dijelaskan sebagai berikut [4],[5].

1). Kelas A

Kelas ini merupakan semua kategori beban termasuk didalamnya peralatan

penggerak motor dan semua peralatan 3 fasa yang arusnya tidak lebih dari 16 amper

perfasanya. Semua peralatan yang tidak termasuk dalam 3 kelas yang lain

dimasukkan dalam kategori kelas A. Batasan harmonisanya hanya didefinisikan

untuk peralatan satu fasa (tegangan kerja 230 V) dan tiga fasa (230/400 V) dimana

batasan arus harmonisanya seperti yang diperlihatkan Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Batasan arus harmonisa untuk peralatan kelas A

Harmonisa ke-n Arus harmonisa maksimum yang diizinkan (A)


Harmonisa Ganjil
3 2,30
5 1,14
7 0,77
9 0,40
11 0,33
13 0,21
15≤n≤39 2,25/n
Harmonisa Genap
2 1,08
4 0,43
6 0,30
8≤n≤40 1,84/n

Universitas Sumatera Utara


29

2). Kelas B

Kelas ini meliputi semua peralatan tool portable yang batasan arus harmonisanya

merupakan harga absolut maksimum dengan waktu kerja yang singkat. Batasan arus

harmonisanya diperlihatkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Batasan arus harmonisa untuk peralatan kelas B

Harmonisa ke-n Arus harmonisa maksimum yang diizinkan (A)


Harmonisa Ganjil
3 3,45
5 1,71
7 1,155
9 0,60
11 0,495
13 0,315
15≤n≤39 3,375/n
Harmonisa Genap
2 1,62
4 0,645
6 0,45
8≤n≤40 2,76/n

3). Kelas C

Kelas C termasuk didalamnya semua peralatan penerangan dengan daya input

aktifnya lebih besar 25 watt. Batasan arusnya diekspresikan dalam bentuk persentase

arus fundamental. Persentase arus maksimum yang diperbolehkan untuk masing

masing harmonisa diperlihatkan Tabel 2.3.

Universitas Sumatera Utara


30

Tabel 2.3. Batasan arus harmonisa untuk peralatan kelas C

Harmonisa ke-n Arus harmonisa maksimum yang diizinkan


(% fundamental)
2 2
3 30xPF rangkaian
5 10
7 7
9 5
11≤n≤39 3

4). Kelas D

Kelas ini berisi semua jenis peralatan yang dayanya dibawah 600 watt dan

dianggap memiliki dampak terbesar pada jaringan listrik. Ini khususnya

personal komputer, layar monitor dan penerima TV. Batasan arusnya diekspresikan

dalam bentuk mA/W untuk peralatan dengan daya pengenal melebihi 75 W tapi

kurang dari 600 W atau dalam ampere untuk peralatan yang lebih besar

dari 600 W. Batasan arus harmonisanya diperlihatkan pada oleh Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Batasan arus harmonisa untuk peralatan kelas D

Harmonisa Arus harmonisa maksimum Arus harmonisa maksimum


ke-n yang diizinkan (mA/W) yang diizinkan (A)
75 < P < 600W P > 600W
3 3,4 2,30
5 1,9 1,14
7 1,0 0,77
9 0,5 0,40
11 0,35 0,33
13 0,296 0,21
15≤n≤39 3,85/n 2,25/n

Universitas Sumatera Utara


31

2.6. Filter Harmonisa

Tujuan utama dari filter harmonisa adalah untuk mengurangi amplitudo satu

frekuensi tertentu dari sebuah tegangan atau arus. Penambahan filter harmonisa pada

suatu sistem tenaga listrik yang mengandung sumber-sumber harmonisa, maka

penyebaran arus harmonisa keseluruh jaringan dapat ditekan sekecil mungkin. Selain

itu filter harmonisa pada frekuensi fundamental dapat mengkompensasi daya reaktif

dan dipergunakan untuk memperbaiki faktor daya sistem [26].

2.6.1. Filter pasif

Filter pasif merupakan metode penyelesaian yang efektif dan ekonomis untuk

masalah harmonisa, rangkaian filter pasif seperti Gambar 2.9. Filter pasif sebagian

besar didesain untuk memberikan bagian khusus untuk mengalihkan arus haromonisa

yang tidak diinginkan dalam sistem tenaga. Filter pasif banyak digunakan untuk

mengkompensasi kerugian daya reaktif akibat adanya harmonisa pada sistem

instalasi.

Gambar 2.9. Filter pasif

Universitas Sumatera Utara


32

Beberapa jenis filter pasif yang umum beserta konfigurasi dan impedansinya

seperti pada Gambar 2.10 [27]. Passive single-tuned filter atau band-pass filter adalah

yang paling umum digunakan. Dua buah passive single-tuned filter akan memiliki

karakteristik yang mirip dengan double band-pass filter. Tipe filter pasif yang paling

umum digunakan adalah single-tuned filter. Filter umum ini biasa digunakan pada

tegangan rendah. Rangkaian filter ini mempunyai impedansi yang rendah. Sebelum

merancang suatu filter pasif, maka perlu diketahui besarnya kebutuhan daya reaktif

pada sistem. Daya reaktif sistem ini diperlukan untuk menghitung besarnya nilai

kapasitor yang diperlukan untuk memperbaiki sistem tersebut [9].

Band-Pass High-Pass Double Band-Pass Composite

Gambar 2.10. Jenis-jenis filter pasif [9]

2.6.2. Passive LC filter

Rangkain passive LC filter untuk inverter tiga fasa seperti Gambar 2.11.

Universitas Sumatera Utara


33

Gambar 2.11. Rangkaian passive LC filter untuk inverter tiga fasa [10].

Meminimalkan daya reaktif sebuah kriteria tambahan yang diperlukan untuk

menentukan induktansi dan kapasitansi dari passive LC filter . Pada penelitian ini

daya reaktif digunakan sebagai tambahan meskipun kriterianya berdasarkan biaya

minimum, ukuran, kerugian, dan lain-lain. Ukuran minimalisasi, kerugian dan biaya

filter, kriteria tambahan berdasarkan daya reaktif minimum juga termasuk digunakan

[28]. Namun, sebagai passive LC filter pada harmonik diberikan dalam bentuk

Fourier seri ekspresi dari induktansi dan kapasitansi dari passive LC filter yang tidak

diperoleh [6].

2.6.3. Prinsip pereduksian harmonisa dari passive LC filter

Prinsip kerja dari filter shunt (filter pasif paralel) adalah dengan meng-short

circuit-kan arus harmonisa yang ada dekat dengan sumber distorsi. Ini dilakukan agar

supaya menjaga arus harmonisa yang masuk tersebut tidak keluar menuju peralatan

lain dan sumber suplai energi listrik. Komponen filter pasif ini terdiri dari dua

komponen yakni kapasitor yang dihubungkan seri dengan induktor (reaktor).

Pemasangan filter jenis ini dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi sistem

tenaga listrik, disamping mampu mereduksi tingkat harmonisa, pemasangan kapasitor

Universitas Sumatera Utara


34

pada peralatan ini dapat memperbaiki cos  sistem, pada reaktornya berfungsi

sebagai filter dan juga melindungi kapasitor dari over kapasitor hal ini dikarenakan

adanya resonansi. Sebuah rangkaian LC dipasang pada frekuensi harmonisa sebagai

filter, pemasangannya secara paralel dengan peralatan yang menyebabkan distorsi

harmonisa seperti Gambar 2.12 [9].

Gambar 2.12. Pemodelan passive LC filter [9]

2.6.4. Merancang passive LC filter

Rangkaian impedansi passive LC filter seperti Gambar 2.13.

Gambar 2.13. Rangkaian impedansi passive LC filter [29]

Universitas Sumatera Utara


35

Passive LC filter terdiri dari hubungan paralel komponen-komponen pasif

yaitu Induktor dan kapasitor. Dalam mendesain passive LC filter terlebih dahulu

menentukan besar kapasitor sesuai kebutuhan faktor daya dan induktor filter.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam merancang passive LC filter adalah

sebagai berikut [29],[30] :

A. Menghitung nilai kapasitor ( C )

1) Tentukan ukuran kapasitas kapasitor Qc berdasarkan kebutuhan daya

reaktif untuk perbaikan faktor daya. Daya reaktif kapasitor ( Qc )

adalah :

QC = P {tan(cos-1pf1) – tan (cos-1 pf2)}

Dimana :

P : daya aktif (kW).

pf1 : faktor daya mula-mula sebelum diperbaiki.

pf2 : faktor daya setelah diperbaiki.

2) Tentukan reaktansi kapasitor ( XC ) :

= .............................................................. (2.27)

Dimana:

XC : reaktansi kapasitif (Ω).

V : tegangan RMS (Volt).

QC : daya reaktif kapasitor (VAR).

Universitas Sumatera Utara


36

3) Tentukan kapasitas dari kapasitor ( C )

= ...................................................................(2.28)

Dimana :

C : kapasitansi kapasitor (Farad)

f0 : frekuensi fundamental (Hz).

B. Menghitung nilai induktor ( L )

1) Tentukan nilai impedansi Z induktor [29]:

= ...........................................................................(2.29)

2) Tentukan Reaktansi Induktif dari Induktor [29,30]:

= ...........................................................................(2.30)

3) Tentukan reaktansi karakteristik dari filter pada orde tuning:

=ℎ ....................................................................(2.31)

4) Tentukan Tahanan (R) dari Induktor [29,30]:

= .............................................................................(2.32)

5) Tentukan induktansi dari induktor didapat [30]:

= +( )

= +( )

= +

Universitas Sumatera Utara


37

di mana =2 , maka nilai induktansi dari indutor (L) [30]:


= .......................................................................(2.33)

Di mana:

Vs : daya pada input VSD (Volt)

Z : impedansi sistem (Ω)

I : arus yang mengalir pada VSD (A)

L : induktansi (H)

Dari Gambar 2-13 dapat dicari impedansi rangkain dengan persamaan:

= ...…………………………………..…….. (2.34)

2.6.5. Passive single tuned filter

Passive single-tuned filter adalah filter yang terdiri dari komponen-komponen

pasif R, L dan C terhubung seri, seperti pada Gambar 2.14. Passive single-tuned

filter akan mempunyai impedansi yang kecil pada frekuensi resonansi sehingga arus

yang memiliki frekuensi yang sama dengan frekuensi resonansi akan dibelokkan

melalui filter. Untuk mengatasi harmonisa di dalam sistem tenaga listrik yang paling

banyak digunakan adalah passive single tuned filter.

Universitas Sumatera Utara


38

Gambar 2.14. Passive single tuned filter [12]

Berdasarkan Gambar 2.14, besarnya impedansi passive single tuned filter

pada frekuensi fundamental adalah [5]:

= + ( − ) .....................................................................(2.35)

Pada frekuensi resonansi , Persamaan (2.34) menjadi:

= + − ................................................................(2.36)

Jika frekuensi sudut saat resonansi adalah:

=2 ℎ .................................................................................(2.37)

Impedansi filter dapat ditulis sebagai berikut:


= + 2 ℎ − ................................................(2.38)

= + ( ℎ − ) ..................................................................(2.39)

Saat resonansi terjadi nilai reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif sama besar, maka

diperoleh impedansi passive single tuned filter seperti pada Persamaan (2.40) adalah

= ..................................................................................................... (2.40)

Universitas Sumatera Utara


39

Pada Persamaan (2.40) menunjukkan bahwa pada frekuensi resonansi,

impedansi passive single-tuned filter akan mempunyai impedansi yang sangat kecil,

lebih kecil dari impedansi beban yaitu sama dengan tahanan induktor R, sehingga

arus harmonisa yang mempunyai frekuensi yang sama dengan frekuensi resonansi

akan dialirkan atau dibelokkan melalui passive single-tuned filter dan tidak mengalir

ke sistem. Frekuensi respon dan sudut fasa dari passive single-tuned filter

ditunjukkan seperti Gambar 2.15 (a) dan (b), dimana dapat dilihat bahwa pada

frekuensi harmonisa atau orde ke-5 dari harmonisa (fr = 250 Hz), impedansi passive

single-tuned filter sangat kecil.

(a) Frekuansi respon passive single tuned filter

(b) Sudut fasa fungsi orde harmonisa

Gambar 2.15. (a) Frekuensi respon, (b) sudut fasa Passive single tuned filter [31]

Universitas Sumatera Utara


40

Dengan demikian Passive single tuned filter diharapkan dapat mengurangi

IHD tegangan dan IHD arus sampai dengan 10-30%. Besarnya tahanan R dari

induktor dapat ditetukan oleh faktor kualitas dari induktor. Faktor kualitas (Q) adalah

kualitas listrik suatu induktor, secara matematis Q adalah perbandingan nilai reaktansi

induktif atau reaktansi kapasitif pada frekuensi resonansi dengan tahanan R. Semakin

besar nilai Q yang dipilih maka semakin kecil nilai R dan semakin bagus kualitas dari

filter dimana energi yang dikonsumsi oleh filter akan semakin kecil, artinya rugi-rugi

panas filter adalah kecil [29].

Pada frekuensi tuning:


1
= = ...............................................................................(2.41)
Faktor kualitas:

= ...........................................................................................(2.42)
Berdasarkan persamaan (2.17), tahanan resistor adalah:

= ...........................................................................................(2.43)

2.6.6. Prinsip pereduksian harmonisa dari passive single-tuned filter

Pada Frekuensi resonansi (fr), Passive single tuned filter memiliki impedansi

minimum sebesar nilai resistansi R dari induktor. Oleh karena itu, filter ini menyerap

semua arus harmonik yang dekat dengan frekuensi resonansi (fr) yang diinjeksikan,

dengan distorsi tegangan harmonik yang rendah pada frekuensi ini. Pada prinsipnya,

sebuah Passive single tuned filter untuk setiap harmonik yang akan dihilangkan.

Universitas Sumatera Utara


41

Filter-filter ini dihubungkan pada busbar dimana pengurangan tegangan harmonik

ditentukan bersama-sama, filter-filter ini membentuk filter bank .

Ada dua parameter yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan nilai R, L,

dan C, yaitu:

1. Faktor kualitas (Quality factor, Q)

2. Penyimpangan frekuensi relative (Relative Frequency Deviation, δ)

Kualitas dari sebuah filter (Q) adalah ukuran ketajaman penyetelan filter

tersebut dalam mengeliminasi harmonisa. Filter dengan Q tinggi disetel pada

frekuensi rendah (misalnya harmonisa kelima), dan nilainya biasanya terletak antara

30 dan 100. Dalam single-tuned filter, faktor kualitas Q didefinisikan sebagai

perbandingan antara induktansi atau kapasitansi pada frekuensi resonansi terhadap

resistansi. Perkiraan nilai Q untuk reaktor inti udara (air core reactors) adalah 75 dan

lebih besar 75 untuk reaktor inti besi (iron-core reactors) [21].

Passive single-tuned filter yang diletakkan secara paralel akan men-short

circuit-kan arus harmonisa yang ada dekat dengan sumber distorsi. Ini dilakukan

untuk menjaga arus harmonisa yang masuk tidak keluar menuju peralatan lain dan

sumber supply energi listrik. Passive single tuned filter yang merupakan hubungan

seri komponen R, L, dan C memberikan keuntungan tersendiri bagi sistem tenaga

listrik, disamping mampu mereduksi tigkat harmonisa, pemasangan kapasitor dapat

merperbaiki cos φ sistem, sedangkan induktor (reaktor) berfungsi sebagai filter dan

juga melindungi kapasitor dari over kapasitor akibat adanya resonansi. Sebuah

Universitas Sumatera Utara


42

rangkaian passive single tuned filter dipasang pada frekuensi harmonisa sebagai

filter, seperti pada Gambar 2.16

Gambar 2.16. Pemodelan passive single tuned filter [31]

Pada Gambar 2.17 diperlihatkan gelombang hasil dari pemfilteran harmonisa

dengan menggunakan bantuan simulasi MATLAB/Simulink, dimana gelombang

harmonisa menjadi berkurang distorsinya. Hasil simulasi MATLAB/Simulink dapat

menjelaskan proses eliminasi gelombang arus terdistorsi dimana distorsi gelombang

arus yang terjadi akibat beban non linier seperti yang ditunjukkan pada gelombang

warna biru. Setelah kapasitor dan induktor yang digunakan sebagai filter untuk

memperbaiki gelombang warna biru dengan sinyal gelombang warna hijau, sehingga

menghasilkan gelombang yang terperbaiki seperti yang ditunjukkan gelombang

warna merah dengan tingkat distorsi gelombang mendekati bentuk sinusoidal.

Dengan demikian tingkat distorsi gelombang dapat diperbaiki oleh induktor dan

kapasitor.

Universitas Sumatera Utara


43

Gelombang arus Gelombang kapasitor Gelombang yang


terdistorsi dan induktor sudah diperbaiki

Gambar 2.17. Kompensasi gelombang filter

2.6.7. Merancang passive single tuned filter

Mendesain passive single tuned filter yang terdiri dari hubungan seri

komponen-komponen pasif induktor, kapasitor dan tahanan seperti Gambar 2.18,

adalah bagaimana menentukan besarnya komponen-komponen dari filter tersebut

[13], [14],[29].

Gambar 2.18. Rangkaian resonansi seri

Universitas Sumatera Utara


44

Langkah-langkah rancangan passive single tuned filter adalah :

a. Tentukan ukuran kapasitas kapasitor Qc berdasarkan kebutuhan daya reaktif

untuk perbaikan faktor daya dengan Persamaan (2.44). Daya reaktif kapasitor

adalah :

−1 −1
= {tan 1
− tan 2
.......................... (2.44)

Dimana :

P : beban (kW)

pf1 : faktor daya mula-mula sebelum diperbaiki

pf2 : faktor daya setelah diperbaiki

b. Tentukan reaktansi kapasitor dengan Persamaan (2.45) :

= ......................................................................(2.45)

c. Tentukan kapasitansi dari kapasitor dengan Persamaan (2.46) :

C= ..................................................................(2.46)

d. Tentukan reaktansi induktif dari induktor dengan Persaman (2.47) :

X = .................................................................(2.47)

e. Tentukan induktansi dari induktor dengan Persamaan (2.48) :

= .........................................................................(2.48)

Universitas Sumatera Utara


45

f. Tentukan reaktansi karakteristik dari filter pada orde tuning dengan

Persamaan (2.49) :

=ℎ ..................................................................(2.49)

g. Tentukan tahanan (R) dari Induktor dengan Persamaan (2.50) :

= ..........................................................................(2.50)
Untuk menentukan kebutuhan daya reaktif dapat digambarkan dalam bentuk

segitiga daya seperti Gambar 2.19.

P(watt)
1 2

2 2( )

1( )

( )
Gambar 2.19. Segitiga daya untuk menentukan kebutuhan daya reaktif Q [30]

Kebutuhan daya reaktif dapat dihitung dengan pemasangan kapasitor untuk

memperbaiki faktor daya beban. Komponen daya aktif (P) umumnya konstan, daya

semu (S) dan daya reaktif (Q) berubah sesuai dengan faktor daya beban.

Daya Reaktif (Q) = Daya Aktif (P)× tan φ

Dengan merujuk segitiga daya Gambar 2.19, maka :

Daya reaktif pada pf awal yaitu :

= .................................................... ……..(2.51)

Universitas Sumatera Utara


46

Daya reaktif pada pf diperbaiki yaitu :

= .................................................................... ……..(2.52)

Sehingga rating kapasitor yang diperlukan untuk memperbaiki faktor daya yaitu:

Daya reaktif ΔQ = Q1 - Q2

Atau

ΔQ = P(tan 1- 2) ..................................................................(2.53)

Besar nilai ΔQ yang didapat, selanjutnya menentukan nilai reaktansi kapasitif yang

besarnya ditentukan berdasarkan Persamaan (2.45) dan besar nilai kapasitansi

kapasitor yang dibutuhkan untuk memperbaiki faktor daya pada Persamaan (2.46).

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai