SMKN 1 MUNDU CIREBON
KOMPAS
A. Definisi
Salah satu alat navigasi yang berfungsi
untuk menetapkan arah haluan kapal dan
juga untuk membaring suatu target sasaran.
KOMPAS MAGNIT BASAH
( Magnetic Liquid Compass )
Mawar Pedoman Batang Magnet &
KOMPAS KEMUDI
(Compass Rose ) Pengapun
( Steering compass ) Cincin
Lenja (Cardanus Ring) Ketel
Pedoman ( Compass Bowl )
Batang Semat
Penutup
Kaca Penutup
hal.1
B. PEDOMAN MAGNET
Pedoman magnet adalah satu-satunya jenis pedoman yang tidak menggunakan kelistrikan kapal,
sehingga tetap dapat bekerja walaupun listrik kapal padam. Oleh karena itu IMO (International Maritime
Organization) melalui Konvensi SOLAS (Safety Of Life At Sea = Keselamatan Jiwa di Laut) mensyaratkan
bagi semua kapal niaga untuk dilengkapi dengan pedoman magnet dengan menetapkan persyaratan
konstruksi dan jumlahnya yang harus ada di kapal.
Menurut konstruksinya pedoman magnet ada 2 yaitu:
1. Pedoman magnet kering, dan
2. Pedoman magnet basah (cair)
Menurut fungsi dan penempatannya, terdapat 3 pedoman magnet yaitu:
1. Pedoman Tolok (Standard Compass) yang diletakkan di atas anjungan, digunakan untuk membaring
benda diluar kapal, penempatnya diusahakan tidak terhalang oleh bagian-bagian kapal sehingga
dapat digunakan pada busur 360º. Pedoman ini juga digunakan sebagai patokan bagi pedoman
magnet yang lainnya.
2. Pedoman Kemudi (Steering Compass), yaitu pedoman magnet yang diletakkan didepan roda kemudi,
sehingga juru mudi dapat melihat setiap saat pada waktu mengemudikan kapal. Pedoman ini
diletakkan tepat dibawah pedoman standard agar juru mudi mudah memeriksa perbedaan antara
penunjukan pedoman tolok dan pedoman kemudi.
3. Pedoman Cadangan (Spare Compass), berfungsi untuk mengganti salah satu pedoman tolok atau
pedoman kemudi bila terdapat kerusakan secara fisik.
Sifat-sifat magnet batang / jarum-jarum magnet:
1. Memiliki gaya tarik menarik dan tolak menolak terhadap logam bermagnet lainnya (baja dan besi)
2. Kekuatan gaya tarik-tolak terdapat pada ujung-ujungnya
3. Ujung-ujung magnet batang diberi nama kutub magnet, yaitu kutub Utara dan Kutub selatan magnet
4. Kutub-kutub yang senama dari dua buah magnet batang akan saling tolak-menolak, dan kutub yang
tidak senama akan tarik-menarik.
5. Apabila sebuah magnet batang ditempatkan pada bidang horizontal sedemikian rupa sehingga bebas
berputar (misalnya digantung), maka ujung-ujungnya akan mengarah ke kutub-kutub magnetis bumi.
Ujung yang mengarah ke kutub Utara magnetis bumi disebut kutub utara, dan ujung yang mengarah
ke kutub selatan magnetis bumi disebut kutub selatan magnet.
6. Besarnya kekuatan gaya tarik/tolak antara 2 buah magnet batang yang berbeda, berbanding lurus
dengan hasil kali kekuatan magnet kedua kutub yang bersangkutan dan berbanding terbalik dengan
jarak antara kutub-kutub pangkat dua (Hukum Coloumb)
a. Penyimpanan atau peletakan pedoman magnet dikapal harus:
1. Sedapat mungkin pada pertengahan kapal (diatas garis luanas kapal)
2. Jauh dari massa besi, yang terbagi tidak sama pada kedua sisi
3. Tidak ditempatkan dekat linggi-linggi karena disini terdapat kutub-kutub magnetisme permanent (P
& Q)
4. Jauh dari massa besi yang besar dan vertical (cerobong asap, tiang baja, penopang, dll)
5. Jauh dari besi lunak membujur dan melintang yang berjalan terus (most continous iron/steel)
6. bebas pemandangan (untuk pedoman tolok)
b. Pedoman Magnet Kering
Pedoman magnet kering adalah pedoman magnet dimana batang-batang magnet dipasang
sejajar satu sama lain dan digantungkan dibawah mawar pedoman dengan menggunakan benang sutera,
sehingga dapat bergerak bebas secara horizontal.
Bagian-bagian utama pada pedoman magnet kering adalah:
1. Ketel pedoman, berfungsi sebagai tempat semat, piringan pedoman, dan garis layar
2. Piringan pedoman, terdapat mawar pedoman, batang magnet, dan sungkup
3. Cincin lenja, untuk menggantung ketel pedoman pada rumah pedoman agar pedoman selalu dalam
keadaan datar pada waktu kapal mengoleng atau mengangguk.
4. Rumah pedoman, sebagai tempat ketel pedoman dan batang-batang penimbal.
Pedoman Magnet Zat Cair (Basah)
Pada pedoman zat cair atau pedoman basah ini piringan pedoman berada di dalam zat cair.
Untuk itu ketel pedoman harus benar-benar kedap air dan konstruksinya lebih kuat disbanding pedoman
magnet kering. Secara umum, fungsi cairan adalah untuk meredam getaran-getaran kapal sehingga
piringan pedoman lebih tenang. Selain itu dapat mengurangi kemungkinan kerusakan pada semat, dan
mawar pedoman.
Konstruksi Pedoman Magnet Basah :
Pedoman magnet memiliki piringan pedoman, yang terbagi dalam lingkaran sebesar 3600
mengelilingi permukaan piring pedoman. Arah kutub magnet yang terdapat di bagian dalam piring
pedoman, tidak searah dengan poros utara-selatan bumi. Piringan pedoman mengapung didalam cairan
yang ada untuk mengurangi geseran dan kelembaban getaran yang disebabkan oleh gerakan kapal.
C. Cara Pengoperasian
Untuk Menentukan Arah Haluan Kapal :
1. Tentukan terlebih dahulu arah haluan kapal yang akan dituju.
2. Letakkan kompas tepat ditengah-tengah kapal sejajar dengan garis lunas kapal, dekat
dengan kemudi kapal.
3. Putar kemudi kapal kekiri/kekanan seiring dengan pergerakan arah haluan kapal sampai
dengan arah haluan kapal yang dituju sesuai dengan sudut arah pada
[Link] benda di darat.
1. Persiapkan alat-alat baring, antara lain :
- Kompas magnit
- Pesawat Penjera Celah
- Pesawat Baring Thomson
2. Baring target sasaran dengan menggunakan alat pembaringan.
( pembahasan cara pengoperasian lihat pada prosedur pengoperasian Pesawat
Penjera Celah dan Pesawat Baring Thomson )
D. Aplikasi Kompas
4. Haluan yang dikemudikan pada pedoman magnit kapal besi adalah Haluan Pedoman (HP) dan
pedoman magnit pada kapal kayu adalah Haluan Magnetis (HM). Baringan yang diperoleh dari
pedoman baringnya adalah Baringan Pedoman (BP) atau Baringan Magnetis (BM).
5. Garis haluan yang ditarik diatas peta adalah Haluan Sejati (HS) dan baringannya adalah
Baringan Sejati (BS).
6. Hasil baringan dari pedoman baring, jika ingin dilukiskan di peta harus diubah terlebih dahulu
menjadi BS, dengan menggunakan rumus :
BP + D = BM ; BM + V = BS , atau
V + D = S ; BP + S = BS
7. Pada nilai variasi perhatikan perubahan tahunan variasinya, sedangkan untuk nilai deviasi
perhatikan deviasi pedoman kemudi pada daftar deviasi untuk haluan yang bersangkutan.
8. Untuk keperluan pengemudian kapal, ubahlah HS menjadi HP untuk jenis Kapal Besi atau HM
untuk jenis Kapal Kayu.
9. Bulatkanlah selalu nilai haluan ( 0, keatas dibulatkan menjadi dan dibawah 0, dihilangkan ).,
contoh :
23, menjadi ; 23, menjadi
E. Aplikasi Deviasi Kompas
Deviasi = sudut antara Utara Magnit dan Utara Pedoman
- Nilai deviasi (+) bila UP dikanan UM
- Nilai deviasi (-) bila UP dikiri UM Sembir Sembir = Variasi + Deviasi
= sudut antara US dan UP Deviasi = HM – HP
- Nilai sembir (+) bila UP dikanan US
Variasi = HS - HM
- Nilai sembir (-) bila UP dikiri US
Macam-macam pedoman magnit berdasarkan penggunaannya di kapal :
10. Pedoman magnit kering (magnetic dry compass).
11. Pedoman magnit basah (magnetic liquid compass)
Sesuai dengan penempatan dan fungsinya di kapal, pedoman magnit dibagi menjadi tiga jenis
:
1. Pedoman standard (standard compass).
2. Pedoman kemudi (steering compass).
3. Pedoman darurat.
Gbr. Mawar pedoman
Sifat-sifat magnit :
1. Memiliki gaya tarik atau tolak terhadap logam bermagnit lainnya (baja dan besi).
2. Kekuatan terkuat gaya tarik magnit terdapat pada ujung-ujung magnit batang.
3. Ujung-ujung magnit batang diberi nama kutub. Kutub utara dan kutub selatan,
karena ujungnya selalu mengarah ke kutub-kutub bumi.
4. Kutub senama akan saling tolak menolak dan kutub tidak senama akan tarik menarik.
Syarat-syarat piringan pedoman yang baik :
1. Harus ringan, sungkup piringan pedoman bagian bawahnya harus licin.
2. Tidak memiliki kesalahan kolimasi.
3. Pembagian derajatnya harus jelas, sehingga mudah dibaca dan dibuat secara teratur.
4. Besarnya piringan pedoman harus seimbang dengan besarnya ketel pedoman.
5. Piringan pedoman harus tenang namun peka.
6. Waktu ayun piringan pedoman harus cukup besar, yaitu minimum 14 detik agar
tidak terjadi sinkronisasi dengan olengan kapal.
Cara memeriksa kepekaan piringan pedoman :
1. Putar piringan pedoman ke kanan + dari kedudukan seimbang semula.
2. Lepaskan dan kemudian baca penyimpangan sudut pada sisi lainnya.
3. Ulangi dengan arah berbeda, yaitu putar piringan pedoman kekiri.
4. Bila hasil penyimpangan pada kedua sisi sama atau berselisih ½ 0 saja, berarti piringan
pedoman cukup peka.
Syarat ketel pedoman yang baik :
1. Ketel pedoman tidak boleh mengandung magnit.
2. Pada saat kapal dalam keadaan diam, maka tutup kaca bening dibagian atas harus
dalam keadaan datar.
3. Posisi ketel pedoman tidak boleh menyentuh bagian-bagian pedoman lain, sehingga
setiap saat bagian-bagian dalam pedoman dapat mengayun dengan bebas.
4. Semat atau pasak pedoman harus benar-benar terpasang vertical ditengah-tengah ketel
pedoman.
5. Tuas untuk menempatkan pesawat baring harus tepat dititik pusat mawar
pedoman/piringan.
6. Garis layar tepat pada bidang lunas linggi kapal.
Cara memeriksa ketepatan garis layar :
1. Buatlah sebuah tonggak dan berdirikan dibidang lunas linggi didepan pedoman
pada jarak yang cukup, misalnya diujung haluan.
2. Baringlah tonggak tersebut dan pada saat yang sama lihatlah
penunjukkan skala derajat oleh garis layar.
3. Bila kedua penunjukkan adalah sama berarti garis layar telah tepat.
Perawatan pedoman magnit meliputi :
1. Perawatan alat dan bagian-bagiannya :
Bila terjadi gelembung udara cukup banyak atau kedudukan piringan pedoman berubah,
cara perawatannya :
a.. Lepaskan pedoman dari rumah pedoman.
b. Baringkan ketel pedoman pada tempat yang rata.
c. Buka bagian penyumbatnya (prop) dengan cara diputar.
d. Keluarkan cairan melalui prop, namun bila hanya terjadi gelembung udara cukup
banyak dengan menambahkan campuran alcohol (70
%) dan air (30 %) melalui lubang prop tersebut.
e. Setelah cairan dikeluarkan, selanjutnya buka sekrup-sekrup yang berada pada
tutup ketel pedoman.
f. Perbaiki bagian-bagian yang rusak atau aus dan ganti bila perlu.
g. Setelah selesai perbaikan, tutup kembali kaca penutup bagian atasnya dan
sekrup yang rapih.
h. Isi kembali cairan alcohol dan air melalui prop, dan usahakanlah sampai
penuh, selanjutnya prop ditutup.
i. Cek terlebih dahulu apakah masih terdapat gelembung udara dalam ketel tersebut
atau tidak ? Bila tidak, kencangkan prop tersebut.
j. Kembalikan ketel pedoman pada rumah pedoman.
2. Penempatan pedoman yang baik di kapal.
a. Agar piringan pedoman di kapal tetap pada posisi mendatar, maka perlu diberi
cincin kardanus.
b. Benda-benda besi/baja, benda bermagnit atau alat-alat listrik disekitar kompas
harus disingkirkan untuk menghindari pengaruh penunjukkan pedoman.
c. Bila pedoman tidak dipergunakan, tutuplah dengan rapih.
3. Koreksi secara periodik terhadap arah penunjukkan pedoman.
a. Lakukan pengecekan dengan cara melakukan pembaringan dua benda yang terdapat
di peta dan diketahui arah sejatinya.
b. Bila penunjukkan arah terlalu besar lakukan penimbalan, yaitu memasang dan
mengatur letak batangan parameter disekitar dinding luar ketel pedoman sambil
membaring.
c. Namun bila masih terdapat keragu-raguan mengenai arah penunjukkan pedoman atau
kepekannya maka perlu dibawa ke bengkel khusus untuk perbaikan lebih lanjut.
Soal Latihan
1. Jelaskan perbedaan pedoman magnet kering dan pedoman magnet basah (20)
2. Menurut fungsi dan penempatannya, terdapat 3 pedoman magnet. Sebutkan dan
jelaskan.(20)
3. Sebutkan syarat-syarat piringan pedoman yang baik (20)
4. Sebutkan syarat ketel pedoman yang baik (20)
5. sebutkan syarat Penempatan pedoman yang baik di kapal. (20)