Pengaruh GCG dan Leverage pada Profitabilitas
Pengaruh GCG dan Leverage pada Profitabilitas
PENDAHULUAN
Kinerja keuangan merupakan kemampuan atau prestasi, prospek pertumbuhan serta potensi
perusahaan dalam menjalankan usahanya yang secara finansial ditunjukkan dalam laporan
keuangan (Mulyadi, 2009:428). Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dilihat dari berbagai
jenis rasio yang digunakan, namun pada dasarnya kinerja keuangan perusahaan sering diukur
dengan rasio profitabilitas, dimana kinerja keuangan diukur dengan membandingkan laba bersih
Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari
keuntungan (Kasmir, 2013:196). Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas
manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan
pendapatan investasi. Profitabilitas suatu perusahaan di pengaruhi oleh berbagai faktor, menurut
kepemilikan aktiva, ukuran perusahaan, tingkat inflasi, harga jual komoditi, efisiensi dan
efektivitas penggunaan sumber daya perusahaan, kesempatan bertumbuh perusahaan, nilai tukar
Selain faktor – faktor diatas, Brata (2015) menambahkan leverage sebagai salah satu faktor
yang mempengaruhi profitabilitas karena rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh mana
kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban dalam bentuk utang terhadap modal yang
dimiliki perusahaan, juga leverage merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk
meningkatkan laba. Oleh karena itu dalam hal ini good corporate governance, ukuran
Rasio profitabilitas dalam penelitian ini diproksikan dengan Return On Asset (ROA). ROA
digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan perusahaan atas keseluruhan dana yang
digunakan untuk aktivitas operasional yang bertujuan menghasilkan laba dalam perusahaan
(Utami, 2011). Para manajer yang mengelola laporan keuangan khususnnya laporan laba rugi
akan berusaha mengatur laba yang dilaporkannya dengan tujuan dapat memaksimalkan jumlah
yang baik maka perusahaan perlu mengimplementasikan Good Corporate Governance (GCG).
Good Corporate Governance merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan
untuk menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder (Monks dalam Kaihatu,
2006). Boediono (2005) juga menjelaskan bahwa good corporate governance memiliki
kemampuan dalam kaitannya menghasilkan suatu laporan keuangan yang memiliki kandungan
informasi laba. Laporan keuangan harus menunjukkan informasi yang sebenarnya, agar tidak
menyesatkan pihak pengguna laporan. Kebijakan dan keputusan yang diambil akan berpengaruh
terhadap penilaian kinerja (Ujiyantho dan Pramuka 2007). Apabila konsep ini diterapkan dengan
baik maka diharapkan pertumbuhan ekonomi akan terus menanjak seiring dengan transparansi
pengelolaan perusahaan yang makin baik dan nantinya menguntungkan banyak pihak (Nasution
Dalam penelitian ini good corporate governance di proksikan dengan proporsi dewan
komisaris independen, karena anggota dewan komisaris independen merupakan anggota dewan
komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya, dan pemegang
saham pengendali serta bebas dari hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya
Ukuran perusahaan (firm size) adalah salah satu kriteria yang dipertimbangkan oleh investor
dalam strategi berinvestasi. Ukuran perusahaan dapat digunakan sebagai alat bantu mengukur
besar kecilnya perusahaan. Terdapat dua pandangan tentang bentuk ukuran perusahan terhadap
manajemen laba. Pandangan pertama, ukuran perusahaan yang kecil dianggap lebih banyak
melakukan praktik manajemen laba daripada perusahaan besar. Hal ini dikarenakan perusahaan
kecil cenderung ingin memperlihatkan kondisi perusahaan yang selalu berkinerja baik agar
investor menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Perusahaan yang besar lebih
diperhatikan oleh masyarakat sehingga akan lebih berhati-hati dalam melakukan pelaporan
(Nasution dan Setiawan, 2007 dalam Jao dan Pagalung, 2011:44). Akan tetapi, pandangan kedua
memandang ukuran perusahan mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen laba. Watts and
Zimmerman, (1990) dalam Jao dan Pagalung (2011:44) menyatakan bahwa perusahaan-
perusahaan besar yang memiliki biaya politik tinggi lebih cenderung memilih metode akuntansi
Selain good corporate governance dan ukuran perusahaan, Salah satu faktor yang
mempengaruhi profitabilitas adalah leverage (Brata, 2015). Leverage merupakan salah satu
alternatif investor untuk melihat kemampuan dan risiko perusahaan. Brigham dan Houston
(dalam Agustia, 2013) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki rasio hutang relatif tinggi
akan memiliki ekspektasi pengembalian yang juga lebih tinggi ketika perekonomian berada pada
kondisi yang normal, namun memiliki risiko kerugian ketika ekonomi mengalami resesi dengan
memperoleh dana melalui hutang, para pemegang saham dapat mempertahankan kendali mereka
atas perusahaan tersebut dengan sekaligus membatasi investasi yang mereka tanamkan.
Leverage merupakan tingkat sejauh mana sekuritas dengan utang digunakan dalam struktur
modal perusahaan. Leverage keuangan harus dianalisis untuk melihat sebaik apa dana ditangani,
Bauran dana jangka pendek dan jangka panjang yang diperoleh dari luar harus sesuai dengan
tujuan dan kebijakan perusahaan. Jika penanganan dana tersebut tidak dilakukan dengan baik,
maka leverage keuangan perusahaan dapat memicu pihak manajemen melakukan manajemen
laba.
Salah satu yang menjadi dasar pertimbangan manajemen dalam pengambilan keputusan
ekonomi yang berguna bagi pihak internal dan eksternal adalah laba. Kebanyakan investor hanya
menaruh perhatian pada informasi laba, namun tanpa memperhatikan bagaimana laba tersebut
dihasilkan. Perhatian yang besar dari investor terhadap tingkat laba perusahaan menjadi salah
satu celah yang dimanfaatkan manajer untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja
Menurut Sulistyanto (2008) : “Manajemen laba adalah upaya manajer perusahaan untuk
untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan”.
Alasan peneliti menggunakan manajemen laba sebagai variabel intervening adalah karena
manipulasi laba merupakan salah satu topik akuntansi yang paling banyak dipelajari dan diteliti.
Hal ini terjadi karena peran laba yang penting dalam laporan keuangan, sesuai dengan Statement
untuk menaksir kinerja atau pertanggungjawaban manajemen. Selain itu informasi laba juga
membantu pemilik atau pihak lain dalam menaksir earnings power perusahaan di masa yang
akan datang.
Hal ini diperkuat dengan research gap beberapa penelitian yang dilakukan dalam meneliti
manajemen laba terhadap profitabilitas. Penelitian yang dilakukan oleh Salim (2015)
menunjukkan bahwa manajemen laba berdampak positif terhadap profitabilitas, hasil yang sama
juga ditunjukkan oleh penelitian Maha (2014) dimana manajemen laba terbukti secara signifikan
Dalam penelitian ini manajemen laba diproksikan dengan akrual modal kerja, dimana akrual
modal kerja lebih tepat digunakan sebagaimana yang telah dikaji oleh Peasnell et al (2000). Hal
ini sesuai dengan pendapat McNichols (2000) serta Dechow dan Skinner (2000) yang
menyatakan bahwa manajemen laba lebih baik diproksi dengan spesifik akrual dan
Beberapa penelitian terdahulu telah dilakukan untuk meneliti pengaruh good corporate
governance terhadap profitabilitas. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rumapea (2017)
ini menunjukkan bahwa Good Corporate Governance berpengaruh terhadap rasio profitabilitas,
namun hasil tersebut bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wicaksono
(2014) yang menyatakan bahwa Good Corporate Governance tidak berpengaruh signifikan
terhadap profitabilitas. Penelitian yang dilakukan oleh Putri, Safitri, dan Wijaya (2015)
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan leverage tidak berpengaruh terhadap profitabilitas,
namun hasil yang berbeda ditunjukkan oleh penelitian Setiadewi dan Purbawangsa (2015) bahwa
sub sektor makanan dan minuman sebagai objek penelitian adalah karena perusahaan food &
beverages memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Kebutuhan akan
produk makanan dan minuman akan selalu ada karena merupakan salah satu kebutuhan pokok.
Selain itu sektor ini merupakan salah satu sektor yang bertahan di tengah kondisi perekonomian
Indonesia, sehingga prospek yang dimiliki oleh perusahaan sektor ini sangat baik karena pada
dasarnya setiap orang membutuhkan makanan dan minuman dalam hidup (Devi dan Putu,
2012:2).
Sebagai gambaran awal mengenai kondisi perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan
minuman di Bursa Efek Indonesia pada tahun periode penelitian, maka Tabel 1.1. berikut
Tabel 1.1. GCG, Ukuran Perusahaan, Leverage , Manajemen Laba dan Return On Assets
pada Perusahaan Manufaktur sub sektor makanan dan minuman di BEI tahun 2012-2016.
Ukuran
GCG Leverage Manajemen ROA
TAHUN Perusahaan
(%) (%) laba (%) (%)
(kali)
2012 37,94 27,74 44,28 2,28 19,45
2013 36,54 27,99 45,81 (67,95) 17,62
2014 35,77 28,11 49,22 0,68 12,74
2015 37,68 28,21 48,96 (7,31) 11,27
2016 38,01 28,31 46,4 (4,31) 14,3
Rata – rata 37,19 28,07 46,93 (15,32) 15,08
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
Berdasarkan tabel 1.1. Dapat diketahui bahwa nilai rata – rata GCG pada perusahaan
Manufaktur sub sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016
menunjukkan nilai yang cenderung menurun, yaitu pada tahun 2012 sebesar 37,94% turun
menjadi 36,54% di tahun 2013, dan 35,77% di tahun 2014. GCG mengalami kenaikan di tahun
2015 sebesar 37,68%, dan terus mengalami kenaikan sampai 38,01% di tahun 2016, dengan rata
– rata 37,19,%. Sejalan dengan GCG, rata – rata manajemen laba menunjukkan fluktuasi yang
cenderung menurun. Bisa dilihat dari tahun 2012 nilai manajemen laba sebesar 2,28%
mengalami penurunan di tahun 2013 menjadi -67,95%. Nilai manajemen laba di tahun 2014
mengalami peningkatan menjadi 0,68%, mengalami penurunan di tahun 2015 menjadi -7,31%
dan kembali meningkat di tahun 2016 menjadi -4,31% dengan rata – rata manajemen laba tahun
2012-2016 sebesar 15,32%. Adapun pergerakan nilai GCG dan manajemen laba tersebut sejalan
dengan nilai rata – rata ROA yang berfluktuasi cenderung menurun dimana pada tahun 2012
ROA mengalami penurunan dari 19,45% menjadi 17,62% di tahun 2013, di tahun 2014 dan 2015
ROA kembali mengalami penurunan dengan nilai masing – masing sebesar 12,74% dan 11,27%
dan baru meningkat di tahun 2016 sebesar 14,3% dengan rata – rata ROA dari tahun 2012-2016
menjadi 15,08%.
Berbeda dengan pergerakan nilai rata – rata GCG dan ROA, pergerakan nilai rata – rata
ukuran perusahaan dan leverage mengalami fluktuasi yang cenderung meningkat. Dimana
pergerakan nilai rata – rata pada ukuran perusahaan mengalami peningkatan dari tahun 2012
sebesar 27,74 kali menjadi 27,99 kali di tahun 2013. Pergerakan nilai ukuran perusahaan terus
Di tahun 2014 nilai ukuran perusahaan sebesar 28,11 kali naik menjadi 28,21 di tahun 2015,
dan 28,31 kali di tahun 2016, dengan rata – rata ukuran perusahaan pada tahun 2012-2016
sebesar 28,31 kali. Hal yang sama juga terjadi pada pergerakan nilai rata-rata leverage yang
2013. Nilai leverage kembali meningkat di tahun 2014 dengan nilai 49,22%, dan mengalami
penurunan di tahun 2015 sebesar 48,96% menjadi 46,4% di tahun 2016, dengan rata – rata
leverage dari tahun 2012-2016 sebesar 46,93%. Pergerakan nilai data ukuran perusahaan dan
leverage tersebut tidak sejalan dengan pergerakan nilai ROA yang cenderung menurun.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian dengan judul
Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Tahun 2012-2016”.
1. Rata – rata GCG yang ditunjukkan mengalami fluktuasi yang cenderung menurun,
2. Rata – rata ukuran perusahaan yang ditunjukkan mengalami fluktuasi yang cenderung
3. Rata – rata leverage yang ditunjukkan mengalami fluktuasi yang cenderung meningkat
4. Rata – rata manajemen laba yang ditunjukkan mengalami fluktuasi yang cenderung
Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka perumusan
10. Apakah leverage berpengaruh terhadap profitabilitas melalui manajemen laba sebagai
variabel intervening?
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
10. Untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap profitabilitas melalui manajemen laba
Merupakan salah satu syarat untuk mencapai kebulatan studi program Strata Satu (S1)
Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Mataram. Penelitian ini juga
diharapkan dapat menambah refrensi bukti empiris sebagai rekomendasi penelitian yang
dilakukan kedepannya.
pengetahuan peneliti selama proses penelitian berlangsung dan selama menimba ilmu di
bermasyarakat nantinya.
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan yang dapat digunakan dalam
menerapkan good corporate governance, ukuran perusahaan dan leverage, serta dapat
pertimbangan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan manajemen laba serta
2.1.1. Profitabilitas
Profit dalam kegiatan operasional perusahaan merupakan elemen penting untuk menjamin
kelangsungan hidup perusahaan pada masa yang akan datang. Keberhasilan perusahaan dapat
dilihat dari kemampuan perusahaan untuk dapat bersaing dipasar. Setiap perusahaan
mengharapkan profit yang maksimal. Laba merupakan alat ukur utama kesuksesan suatu
perusahaan. Profitabilitas adalah hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang oleh
perusahaan.
mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya yang ada seperti kegiatan
penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang perusahaan, dan lain sebagainya”.
Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2009:109) “Profitabilitas merupakan hasil akhir
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan adalah kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan sumber daya yang ada didalam
Rasio profitabilitas menurut J. Fred Weston dan Thomas [Link] (2010:237) adalah
penjualan dan investasi, sedangkan rasio profitabilitas menurut Sutrisno (2009:222) adalah
rasio untuk mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat diperoleh oleh
perusahaan.
Berdasarkan teori diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa rasio profitabilitas merupakan
rasio untuk mengukur seberapa besar sebuah perusahaan mampu menghasilkan laba dengan
menggunakan semua faktor perusahaan yang ada didalamnya untuk menghasilkan laba yang
maksimal. Rasio profitabilitas ini yang biasanya dijadikan bahan pertimbangan investor dalam
profitabilitas yang tinggi terhadap pengembalian saham, maka seorang investor akan memiih
perusahaan tersebut untuk menanamkan sahamnya. Penjualan dan investasi yang besar sangat
diperlukan dan mempengaruhi besarnya rasio profitabilitas semakin besar aktivitas penjualan
Menurut Kasmir (2008:199) ada empat jenis analisis utama yang digunakan untuk
Menurut Riyanto (2013:336) “Net Profit Margin adalah suatu rasio yang mengukur
keuntungan netto per rupiah penjualan”. Menurut Riyanto (2013:336) “Net Profit
Margin adalah perbandingan antara net operating income dengan net sales. Net Profit
Margin merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan.
penjualan bersih.
Return On Asset menurut Kasmir (2012:201) adalah “rasio yang menunjukan hasil atas
jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan”. Menurut Toto Prihadi (2008)
mendaya gunakan aset untuk memperoleh laba dan mengukur hasil total untuk seluruh
kreditor dan pemegang saham selaku penyedia sumber dana. Menurut Toto Prihadi
(2008:68) “Return On Asset yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat laba
terhadap asset yang digunakan dalam menghasilkan laba tersebut”. Persentase ini
Menurut Brigham & Houston (2010) “Return On Equity yaitu rasio laba bersih
Menurut Sawir (2009 : 20) “Return On Equity adalah rasio yang memperlihatkan
sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri secara efektif mengukur tingkat
keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemiliki modal sendiri atau pemegang
Earning per share merupakan rasio yang menggambarkan jumlah rupiah yang
diperoleh untuk setiap lembar saham biasa (Syamsuddin, 2009:66). Menurut Sofyan
Syafri Harahap 2008 : 306 “Earning Per Share merupakan rasio yang menunjukan
berapa besar kemampuan per lembar saham dalam menghasilkan laba”. Oleh karena
itu pada umumnya perusahaan manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan
calon pemegang saham sangat tertarik akan Earning Per Share. Earning Per Share
Dari berbagai macam rasio di atas, rasio yang akan digunakan oleh penulis dalam
penelitian ini adalah Return on Assets (ROA). Alasan penggunaan variabel ROA dalam
penelitian ini adalah karena ROA memiliki banyak keunggulan. ROA dapat mengukur
efisiensi penggunaan modal yang menyeluruh, yang sensitif terhadap setiap hal yang
1) Perhatian manajemen dititik beratkan pada maksimalisasi laba atas modal yang
diinvestasikan.
oleh setiap divisinya dan pemanfaatan akuntansi divisinya. Selanjutnya dengan ROA
akan menyajikan perbandingan berbagai macam prestasi antar divisi secara obyektif.
ROA akan mendorong divisi untuk menggunakan dalam memperoleh aktiva yang
3) Analisa ROA dapat juga digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing
2) Ukuran perusahaan
3) Tingkat inflasi
Selain faktor – faktor diatas, Brata (2015) menambahkan leverage sebagai salah satu
faktor yang mempengaruhi profitabilitas karena rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh
mana kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban dalam bentuk utang terhadap modal
yang dimiliki perusahaan, juga leverage merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk
meningkatkan laba.
Menurut Sugiri (1998) dalam Widyaningdyah (2001) membagi definisi manajemen laba
Definisi sempit : Manajemen laba dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan
metode akuntansi. Manajemen laba dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai
(mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit usaha dimana manajer
objective”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa manajemen laba adalah suatu tindakan
manajer yang dilakukan melalui pilihan kebijakan akuntansi untuk memperoleh tujuan tertentu.
Menurut Sulistyanto (2008) : “Manajemen laba adalah upaya manajer perusahaan untuk
tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan”.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen laba
merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh manajer dengan cara memanipulasi data atau
informasi akuntansi agar jumlah laba yang tercatat dalam laporan keuangan sesuai dengan
Cosmetic Earnings Management terjadi jika manajer memanipulasi akrual yang tidak
memiliki konsekuensi cash flow. Teknik ini merupakan hasil dari kebebasan dalam
akuntansi akrual yang mungkin terjadi. Standar Akuntansi Keuangan dan mekanisme
pengawasan mengurangi kebebasan ini tetapi tidak mungkin untuk meniadakan pilihan
pemegang saham.
[Link]. Faktor Pendorong Dan Motivasi Manajemen Laba
Dalam positif accounting theory terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi terjadinya
manajemen laba, Watt dan Zimmerman (1986) dalam Rahmawati et al. (2006), yaitu :
bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan
earnings lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang
dilaporkan.
memilih metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba. Hal ini untuk
memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan
laba yang tinggi pemerintah akan segera mengambil tindakan, misalnya, mengenakan
1) Bonus Purposes
Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara
oportunistic untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini.
2) Political Motivations
ketat.
3) Taxation Motivations
Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata.
4) Pergantian CEO
CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan untuk
meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan
Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan
pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut
Manajemen laba biasanya diteliti dengan cara peneliti membentuk hipotesis dimana
manajemen laba kemungkinan bisa muncul dan menguji kemungkinan tersebut dengan
metode yang tepat. Berdasarkan riset-riset yang telah dilakukan, manajemen laba bisa
1) Model Healy
Pengujian Healy untuk manajemen laba dengan cara membandingkan rata-rata total
akrual (dibagi total aktiva periode sebelumnya). Healy (1985) menganggap non
discretionary accrual (NDA) tidak dapat diobservasi. Model untuk non discretionary
2) Model De Angelo
awal dalam total akrual dan dengan asumsi bahwa perbedaan pertama tersebut
diharapkan nol, yang berarti tidak ada manajemen laba. Model ini menggunakan total
akrual periode terakhir (dibagi total aktiva periode sebelumnya) untuk mengukur non
discretionary accrual.
NDAt = TAt-1
Keterangan :
3) Model Jones
Jones (1991) mengajukan model yang menolak asumsi bahwa non discretionary
accrual adalah konstan. Model ini mencoba mengontrol pengaruh perubahan keadaan
Keterangan :
∆ REVt = revenue pada tahun t dikurangi revenue pada tahun t-1 dibagi total aktiva
tahun t-1.
PPEt = gross property plan and equipment pada tahun t dibagi total aktiva tahun t-1
Menurut kajian McNichols (2000) serta Dechow dan Skinner (2000), proksi
manajemen laba yang mereka gunakan adalah model spesifik akrual yaitu akrual
modal kerja (working capital accrual). Penggunaan akrual modal kerja lebih tepat
sebagaimana yang telah dikaji oleh Peasnell et al. (2000). Discretionary accrual tidak
rumit, oleh karena itu digunakan proksi rasio akrual modal kerja terhadap penjualan.
Alasan pemakaian penjualan sebagai deflator akrual modal kerja adalah karena
manajemen laba banyak terjadi pada akun penjualan sebagaimana yang diungkapkan
oleh Nelson et al. (2000). Penggunaan penjualan sebagai deflator juga dilakukan oleh
Friedlan (1994) yang memodifikasi model DeAngelo (1986) menjadi rasio antara
perubahan total akrual dengan penjualan. Manajemen laba diproksi berdasarkan rasio
Manajemen laba (ML) = Akrual Modal kerja (t) / Penjualan periode (t)
Keterangan :
Data akrual modal kerja dapat diperoleh langsung dari laporan arus kas aktivitas
operasi, sehingga investor dapat langsung memperoleh data tersebut tanpa melakukan
Proksi manajemen yang akan digunakan untuk dalam penelitian ini adalah model
spesifikasi akrual yaitu akrual modal kerja/working capital accrual yang juga digunakan
Menurut Jensen dan Meckling (1976) agency theory adalah sebuah kontrak antara
manajer (agent) dengan pemilik (principal). Agar hubungan kontraktual ini dapat berjalan
dengan lancar, pemilik akan mendelegasikan otoritas pembuatan keputusan kepada manajer.
Perencanaan kontrak yang tepat untuk menyelaraskan kepentingan manajer dan pemilik dalam
hal konflik kepentingan inilah yang merupakan inti dari agency theory.
Teori keagenan dilandasi oleh beberapa asumsi (Eisenhardt, 1989 dalam Emirzon, 2007).
Asumsi-asumsi tersebut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : (a) asumsi tentang sifat manusia,
(b) asumsi keorganisasian dan (c) asumsi informasi. Asumsi sifat manusia menekankan bahwa
manusia memiliki sifat mementingkan diri sendiri (selfinterest), manusia memiliki daya pikir
terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan manusia selalu
menghindari resiko (risk averse). Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota
organisasi, efisiensi sebagai kriteria efektivitas dan adanya asimetri informasi antara principal
dan agent. Asumsi informasi adalah bahwa informasi sebagai barang komoditi yang dapat
diperjualbelikan.
kepentingan antara prinsipal dan agen. Pihak pemilik (principal) termotivasi mengadakan
psikologinya, antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak
kompensasi. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan
Permasalahan yang timbul akibat adanya perbedaan kepentingan antara prinsipal dan
agen disebut dengan agency problems. Salah satu penyebab agency problems adalah adanya
dimiliki oleh prinsipal dan agen, ketika prinsipal tidak memiliki informasi yang cukup tentang
kinerja agen sebaliknya, agen memiliki lebih banyak informasi mengenai kapasitas diri,
lingkungan kerja dan perusahaan secara keseluruhan (Widyaningdyah, 2001). Adanya asumsi
bahwa tiap pihak bertindak untuk memaksimalkan dirinya sendiri, mengakibatkan agen
informasi yang tidak diketahui oleh principal. Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang
terjadi antara principal dan agent mendorong agent untuk menyajikan informasi yang tidak
sebenarnya kepada principal, terutama jika informasi berkaitan dengan pengukuran kinerja
agent.
Teori keagenan berusaha untuk menjawab masalah keagenan yang terjadi jika pihak-
pihak yang saling bekerja sama memiliki tujuan dan pembagian kerja yang berbeda. Secara
khusus teori keagenan membahas tentang adanya hubungan keagenan, dimana suatu pihak
tertentu (principal) mendelegasikan pekerjaan kepada pihak lain (agent) yang melakukan
perkerjaan.
Isu corporate governance dalam penelitian ini di latarbelakangi oleh agency theory (teori
keagenan) yang menyatakan bahwa permasalahan agency muncul ketika kepengurusan suatu
perusahaan terpisah dari kepemilikannya. Dewan komisaris dan direksi yang berperan sebagai
agen dalam suatu perusahaan diberi kewenangan untuk mengurus jalannya perusahaan dan
mengambil keputusan atas nama pemilik. Dengan kewenangan yang dimiliki maka manajer
mempunyai kemungkinan untuk tidak bertindak yang terbaik bagi kepentingan pemilik karena
adanya perbedaan kepentingan (conflict of interest). Dengan kata lain, manajemen mempunyai
Ide dasar pengelolaan agency theory memberikan cara pandang baru mengenai corporate
governance. Perusahaan ditunjukkan sebagai suatu hubungan kerja sama antara prinsipal
(pemegang saham atau pemilik perusahaan) dan agen (manajemen). Adanya vested interest
manajemen mengakibatkan perlunya proses check and balance untuk mengurangi kemungkinan
yang diajukan demi peningkatan kinerja perusahaan melalui supervisi atau monitoring kinerja
pada kerangka peraturan. Konsep corporate governance diajukan demi tercapainya pengelolaan
perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan. Bila konsep ini
diterapkan dengan baik maka diharapkan pertumbuhan ekonomi akan terus menanjak seiring
dengan transparansi pengelolaan perusahaan yang makin baik dan nantinya menguntungkan
banyak pihak.
Permasalahan keagenan dalam hubungannya antara pemilik modal dengan manajer adalah
bagaimana sulitnya pemilik dalam memastikan bahwa dana yang ditanamkan tidak diambil alih
atau diinvestasikan pada proyek yang tidak menguntungkan sehingga tidak mendatangkan
Adanya pemisahan kepemilikan oleh principal dengan pengendalian oleh agen dalam
sebuah organisasi cenderung menimbulkan konflik keagenan diantara principal dengan agen.
Jansen dan Meckling (1976), Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan bahwa laporan
keuangan yang dibuat dengan angka - angka akuntansi diharapkan dapat meminimalkan konflik
diantara pihak - pihak yang berkepentingan. Laporan keuangan yang dilaporkan oleh agen
sebagai pertanggungjawaban kinerjanya, dengan itu principal dapat menilai, mengukur, dan
mengawasi sampai sejauh mana agen tersebut bekerja untuk meningkatkan kesejahteraannya,
Menurut Wolfensohn (1999) terdapat empat prinsip utama yang terkandung dalam
governance.
1) Fairness (Kewajaran)
Secara sederhana kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai perlakuan adil dan
serta peraturan pandangan yang berlaku. Fairness mencakup adanya kejelasan hak-hak
pemodal, sistem hukum dan penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor –
menyediakan informasi yang cukup, akurat, dan tepat waktu kepada berbagai pihak
3) Accountability (akuntabilitas)
accountability ini diterapkan secara efektif, maka ada kejelasan fungsi, hak,
serta direksi. Dengan adanya kejelasan inilah maka perusahaan akan terhindar dari
4) Responsibility (Pertanggungjawaban)
perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang
berlaku. Peraturan yang berlaku di sini termasuk yang berkaitan dengan masalah
pajak, hubungan industrial, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan/keselamatan
dimana perusahaan bertindak hanya untuk kepentingan perusahaannya saja, tidak dipengaruhi
Mekanisme merupakan cara kerja sesuatu secara tersistem untuk memenuhi persyaratan
tertentu. Mekanisme corporate governance merupakan suatu prosedur dan hubungan yang
jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang melakukan kontrol atau
(1998) dalam Naftalia (2013) dibagi dalam dua kelompok yaitu external dan internal
mechanism. Mekanisme eksternal corporate governance adalah sistem, aturan dan faktor
yang berada diluar kekuasaaan perusahaan yang mengontrol operasi perusahaan. Mekanisme
Sedangkan mekanisme internal adalah suatu sistem hukum, aturan dan faktor yang
dapat dikendalikan perusahaan dalam hal mengontrol operasi perusahaan. Mekanisme tersebut
1. Kepemilikan institusional
Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham oleh institusi dalam dan luar
negeri pada akhir tahun dalam suatu perusahaan. Kepemilikan institusional memiliki
2. Kepemilikan manajerial
Kepemilikan manajerial menurut Dyah dan Widanar (2009) adalah proporsi pemegang
saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan
3. Komisaris Independen
adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan
komisaris lainnya, dan pemegang saham pengendali serta bebas dari hubungan lainnya
sebagai berikut : (a) Komisaris independen tidak memiliki hubungan afiliasi dengan
pada perusahaan lainnya yang terafiliasi dengan perusahaan tercatat bersangkutan ; (d)
independen dapat dihitung menggunakan logaritma natural dari total anggota dewan
perusahaan.
4. Komite Audit
orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk mengerjakan pekerjaan
tertentu atau untuk melakukan tugas-tugas khusus atau sejumlah anggota dewan
5. Reputasi Auditor
keandalan dan kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen yang
sangat diperlukan oleh pihak eksternal dalam mengambil suatu keputusan bisnis.
Laporan auditor independen juga menjadi salah satu syarat perusahaan agar dapat
listing di BEI. Kualitas laporan auditor independen secara sederhana dapat dilihat dari
auditor yang melakukan audit atas perusahaan tersebut. Reputasi auditor diukur
keuangannya tidak diaudit oleh KAP The Big Four diberi nilai 0 (nol) dan untuk
perusahaan yang laporan keuangannya diaudit KAP The Big Four diberi nilai 1 (satu).
Proksi good corporate governance dalam penelitian ini adalah proporsi dewan
komisaris independen. Proporsi Dewan Komisaris Independen dapat dihitung dengan cara
menghitung persentase anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan terhadap
Keterangan :
Dewan komisaris independen : Jumlah anggota dewan komisaris berasal dari luar perusahaan
Ukuran perusahaan secara umum dapat diartikan sebagai suatu skala yang
mengklasifikasikan besar atau kecilnya suatu perusahaan dengan berbagai cara antara lain
dinyatakan dalam total aset, total penjualan, nilai pasar saham, dan lain-lain. Menurut Riyanto
(2008:313) “ukuran perusahan adalah besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai
Suwito dan Herawati (2005:) mengatakan firm size atau ukuran perusahaan adalah suatu
skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan menurut berbagai cara, dimana
ukuran perusahaan hanya terbagi dalam 3 kategori yaitu perusahaan besar (large firm),
Ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap manajemen
laba perusahaan. Ukuran perusahaan juga merupakan salah satu indikator yang digunakan
nvestor dalam menilai aset maupun kinerja perusahaan. Besar kecilnya suatu perusahaan dapat
dilihat dari total aktiva (asset) dan total penjualan (net sales) yang dimiliki oleh perusahaan.
Perusahaan besar cenderung bertindak hati – hati dalam melakukan pengelolaan perusahaan
dan cenderung melakukan pengelolaan laba secara efisien. Perusahaan yang besar lebih
diperhatikan oleh masyarakat sehingga mereka akan lebih berhati-hati dalam melakukan
Perusahaan dapat diklasifikasikan sebagai perusahaan besar atau kecil didasari oleh
indikator yang mempengaruhinya. Adapun indikator dalam ukuran perusahaan menurut Edy
Suwito dan Arleen Herawaty (2005), “adalah total aktiva, nilai pasar saham, total pendapatan
dan lain-lain.” Sedangkan menurut Ardi Mardoko Sudarmaji (2007), indikator dari ukuran
perusahaan adalah sebagai berikut : “Total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar. Semakin
besar total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran
perusahaan itu. Ketika variabel ini digunakan untuk menentukan ukuran perusahaan karena
dapat mewakili seberapa besar perusahaan tersebut. Semakin besar aktiva, semakin banyak
modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin banyak perputaran uang, dan
semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat”. Dari
indikator dalam penelitian ini dibatasi agar lebih berfokus dan hasil yang dicapai sesuai
dengan asumsi yang diharapkan. Salah satu indikator yang dipilih untuk digunakan dalam
Menurut Weygandt (2007:11) yang diterjemahkan oleh Emil Salim adalah sebagai
berikut : “Aset ialah sumber penghasilan atas usahanya sendiri, dimana karakteristik umum
yang dimilikinya yaitu memberikan jasa atau manfaat dimasa yang akan datang.” Menurut
Werner R. Murhadi (2013) Firm Size diukur dengan mentrasformasikan total aset yang
dengan menggunakan Log Natural Total Aset dengan tujuan agar mengurangi fluktuasi data
yang berlebih. Dengan menggunakan log natural, jumlah aset dengan nilai ratusan miliar
bahkan triliun akan disederhanakan, tanpa mengubah proporsi dari jumlah aset yang
sesungguhnya.
Ayu Sri Mahatma Dewi dan Ary Wijaya (2013) mengemukakan bahwa pengukuran
menyatakan ukuran aktiva digunakan untuk mengukur besarnya perusahaan, ukuran aktiva
tersebut diukur sebagai logaritma dari total aktiva. Nilai total asset biasanya bernilai sangat
besar dibandingkan dengan variabel keuangan lainya, untuk itu variabel aset diperhalus
digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiaya dengan hutang. Artinya
berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam
arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila
perusahaan dapat menggunakan rasio leverage secara keseluruhan atau sebagian dari masing-
Merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total
Total h utang
Debt To Assets Ratio = X 100%
Total aset
Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan
ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk
Total Hutang
Debt to Equity Ratio = X 100%
Ekuitas
Long Term Debt to Equity Ratio (LTDtER), merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur perbandingan antara utang jangka panjang dengan total modal sendiri.
Longterm debt
Long Term Debt to Equity Ratio = X 100%
Equity
Rasio ini menunjukkan besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga hutang
jangka panjang.
Proksi leverage yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt To Assets Ratio (debt
ratio) dimana rasio leverage dihitung dengan cara membagi antara total hutang dengan total
aset.
Sebagai bahan pertimbangan dan untuk memperkaya bahan dalam tulisan ini, maka perlu
juga menuangkan penelitian terdahulu yang pernah dilakukan menyangkut permasalahan yang
akan di teliti oleh penulis. Adapun yang akan dijadikan bahan perbandingan yaitu skripsi dan
jurnal terdahulu yang ada kaitannya dengan judul dan permasalahan yang diangkat sebagai bahan
penelitian.
1) Penelitian yang dilakukan oleh Suryani (2010) dengan judul “Pengaruh Mekanisme
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk meneliti pengaruh mekanisme corporate governance, dan ukuran
perusahaan terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.
Mekanisme corporate governance yang digunakan pada penelitian ini antara lain :
dewan komisaris independen, dan komite audit. Sampel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2004 – 2008. Total
sampling. Penelitian ini menggunakan metode regresi berganda untuk menguji pengaruh
laba. Variabel ukuran dewan komisaris, komposisi dewan komisaris independen, dan
2) Penelitian yang dilakukan oleh Agustina (2013) dengan judul “Pengaruh Mekanisme
Variabel Intervening”. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menemukan bukti
kinerja perusahaan dengna manajemen laba sebagai variabel intervening. Populasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) selama periode 2009-2011. Pengujian hipotesis dilakukan dengan
analisis regresi berganda dan path analysis. Penelitian ini membuktikan bahwa Proporsi
3) Penelitian yang dilakukan oleh Gabriela Cynthia Windah (2013) dengan judul “Pengaruh
The Indonesian Institute Corporate Governance (iicg) Periode 2008-2011”. Penelitian ini
kinerja keuangan perusahaan pada periode 2008-2011. Objek penelitian pada perusahaan
yang telah menerapkan GCG dan masuk dalam Corporate Governance Perception Index
(CGPI) hasil survei The Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG). Penelitian
ini menggunakan metode analisis statistik regresi berganda secara parsial maupun secara
regresi menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan antara variabel independen GCG
dengan judul “Pengaruh Leverage, Ukuran Perusahaan, Perputaran Modal Kerja dan
Likuiditas Terhadap Profitabilitas”. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh
(BEI) periode 2009-2013. Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan telekomunikasi
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2009-2013. Sampel pada penelitian
ini menggunakan metode sampling jenuh yang berjumlah 6 perusahaan. Teknik analisis
data pada penelitian ini antara lain regresi linear berganda. Hasil yang diperoleh dalam
penelitian ini adalah secara parsial variabel leverage, ukuran perusahaan, perputaran
5) Penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani, Nur, dan Ratnawati (2015) dengan judul
Laba Sebagai Variabel Intervening (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2012)”. Penelitian ini bertujuan untuk
kualitas laba dan manajemen laba, serta untuk mengetahui apakah good corporate
governance berpengaruh terhadap kualitas laba melalui manajemen laba sebagai variabel
intervening. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data keuangan yang
diperoleh dari laporan keuangan masing-masing perusahaan sampel dan dari buku ICMD
(Indonesian Capital Market Directory). Metode analisisnya adalah path analysis (analisis
jalur) dengan menggunakan regresi berganda dengan bantuan SPSS versi 21. Populasi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009 - 2012, dengan jumlah sampel sebanyak 64
manajemen laba, sedangkan kepemilikan manajerial dan dewan direksi tidak berpengaruh
signifikan terhadap kualitas laba. Hubungan variabel good corporate governance dalam
hal ini hanya kepemilikan institusional, dewan komisaris dan komite audit yang
berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba melalui manajemen laba sebagai variabel
signifikan.
6) Penelitian yang dilakukan oleh Putri (2016) dengan judul “Pengaruh Tidak Langsung
Sebagai Variabel Intervening”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Good
melalui manajemen laba sebagai variabel intervening pada perusahaan yang terdaftar di
Jakarta Islamic Index (JII). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh
perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) sebanyak 30 perusahaan dan
dengan metode purposive sampling sesuai dengan kriteria terdapat 12 perusahaan yang
terpilih, dan dengan menggunakan tahun amatan 2011 s/d 2014 (4 tahun), maka akan
diperoleh 48 data amatan sebagai sampling dalam penelitian ini. Pengujian hipotesis
dilakukan dengan analisis regresi linear. Dari hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa
manajerial, ukuran dewan komisaris, proporsi dewan komisaris independen dan komite
audit) tidak ada pengaruh secara simultan terhadap Manajemen Laba, penerapan Good
7) Penelitian yang dilakukan oleh Linda Ratnasari (2016) dengan judul “Pengaruh Leverage,
BEI”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel leverage, likuiditas, dan
Otomotif Yang Terdaftar di BEI. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan
otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sesuai publikasi Indonesian Capital
komponen. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sampling jenuh,
merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai
sampel. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi
berganda, uji asumsi klasik, uji kelayakan model, uji hipotesis. Hasil pengujian kelayakan
model menunjukan bahwa model dinyatakan layak sehingga pengujian hipotesis dapat
terhadap profitabilitas.
Tabel 2.1 : Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian Sekarang
Indikator
Judul Perbedaan Persamaan
Peneliti Penelitian
Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan dan leverage terhadap variabel dependen
Berdasarkan uraian landasan teori diatas dalam tinjauan pustaka yang telah diuraikan
sebelumnya, maka kerangka konseptual yang digunakan untuk memudahkan pemahaman konsep
Good Corporate
Governance
( X 1)
Leverage
( X 3)
Pengembangan hipotesis pada dasarnya adalah suatu anggapan yang mungkin benar dan
sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan, pemecahan persoalan maupun dasar
penelitian lebih lanjut, anggapan sebagai satu hipotesis juga merupakan data tetapi karena
kemungkinan bisa salah, apabila akan digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan harus di uji
Dalam penelitian ini, GCG diproksikan dengan proporsi dewan komisaris independen.
Dechow et al., (1996) yang dikutip oleh Darmawati (2003) menyatakan bahwa perusahaan
yang melakukan manipulasi laba lebih besar kemungkinan memiliki dewan komisaris yang
didominasi oleh manajemen dan lebih besar kemungkinan memiliki CEO yang merangkap juga
sebagai Chairman of the Board. Sementara itu Beasly (1996) yang dikutip oleh Darmawati
(2003) menemukan bahwa perusahaan yang tidak curang memiliki dewan komisaris yang
presentase anggota luarnya lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang curang. Hasil
Hasil penelitian Chtourou, Bedard dan Chtourou (2001) menunjukkan bahwa semakin
besar proporsi dewan komisaris eksternal maka semakin kecil earning management. Hal ini
terhadap aktivitas manajemen laba. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan disimpulkan
manajemen laba. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
laba
oleh total aset, penjualan, dan kapitalisasi pasar. Semakin besar total aset, penjualan, dan
kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran suatu perusahaan. Semakin besar aset, maka
semakin besar modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin banyak
(2003), Saleh et al. (2005), Liu dan Lu (2007), dan Cornett et al. (2009) menemukan bahwa
ukuran perusahaan mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap besaran pengelolaan laba.
Perusahaan yang besar lebih diperhatikan oleh masyarakat sehingga mereka akan lebih berhati-
melaporkan kondisinya lebih akurat (Nasution dan Setiawan, 2007). Hal ini menunjukkan
bahwa semakin besar perusahaan semakin kecil pengelolaan laba yang dilakukan. Berdasarkan
Leverage merupakan rasio yang terdapat pada laporan keuangan untuk mengetahui
seberapa besar aset perusahaan dijamin oleh hutang dengan kemampuan perusahaan yang
digambarkan oleh modal (Nugroho, 2011). Leverage mempunyai pengaruh dengan praktik
manajemen laba, yaitu ketika perusahaan mempunyai leverage tinggi maka perusahaan
cenderung melakukan manajemen laba karena perusahaan terancam tidak dapat memenuhi
kewajibannya. Ketika hutang perusahaan tinggi, maka perusahaan akan cenderung menurunkan
laba untuk mengurangi pembayaran kewajiban, seperti pembayaran beban pajak, karena
semakin rendah laba maka beban pajak yang harus dibayarkan juga rendah (Antonia, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Wardani, dkk (2011) membuktikan bahwa leverage
berpengaruh signifikan positif terhadap manajemen laba. Begitu pula penelitian Agustia (2013)
yang menemukan bukti bahwa leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
Dalam menjamin terciptanya GCG yang baik maka komisaris independen diharuskan
tanggung jawab untuk mendorong secara proaktif agar komisaris dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pengawas dan penasihat direksi dapat memastikan perusahaan memiliki strategi bisnis
yang efektif, memastikan perusahaan mematuhi hukum perundangan yang berlaku maupun
nilai nilai yang ditetapkan di perusahaan, sehingga perusahaan perusahaan memiliki corporate
sebagai penengah dalam perselisihan yang terjadi di antara para manajer internal dan
independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar tercipta
perusahaan yang good corporate governance. Peran komisaris ini diharapkan akan
meminimalkan permasalahan keagenan yang timbul antara dewan direksi dengan pemegang
saham. Sehingga apabila semakin banyak komisaris independen, maka pengawasan akan
semakin ketat dan agency problem semakin kecil. Semakin banyak jumlah dewan komisaris
independen, maka semakin terlepas pula penyusunan laporan keuangan dari unsur kepentingan
pribadi sehingga laporan keuangan dapat disusun sedemikian rupa dan mewakili kenyataan
yang sesungguhnya terjadi. Semakin tinggi persentase dewan komisaris independen, maka
diharapkan semakin tinggi pula kinerja karyawan yang nantinya akan meningkatkan
(2016), Rini & Ghozalli (2012), Nugrahani & Nugroho (2010), Dzajilah (2016), Sanjaya &
Marsudi (2014), Endri (2012) membuktikan bahwa Good Corporate Governance (GCG) yang
di proyeksikan dengan dewan komisaris independen berpengaruh positif dan signifikan
terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap manajemen
laba perusahaan. Ukuran perusahaan juga merupakan salah satu indikator yang digunakan
nvestor dalam menilai aset maupun kinerja perusahaan. Besar kecilnya suatu perusahaan dapat
dilihat dari total aktiva (asset) dan total penjualan (net sales) yang dimiliki oleh perusahaan.
Ukuran perusahaan jika dihubungkan dalam teori agensi maka perusahaan yang tumbuh
memiiki biaya yang cukup besar umtuk menerangkan informasi penting dalam menekan biaya
keagenan. Ukuran perusahaan juga dapat sebagai proksi yang digunakan dalam menjelaskan
Penelitian yang dilakukan oleh Utami (2007) memiliki hasil bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas dan penelitian yang dilakukan oleh
Sunarto dan Prasetyo (2009) juga memiliki hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif
signifikan terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian
ini adalah :
Leverage atau strukur hutang adalah cerminan dari besar atau kecilnya jumlah pemakaian
hutang oleh perusahaan yang digunakan untuk membiayai aktivitas operasionalnya (Setiadewi
dan Purbawangsa, 2014). Hutang yang digunakan untuk membiayai aktiva berasal dari kreditor,
bukan dari pemegang saham ataupun investor. Semakin besar leverage maka semakin besar
juga risikonya, dan begitu pula sebaliknya. Risiko yang dimaksud adalah kemungkinan
terjadinya gagal bayar. Puspitasari dan Ernawati (2010) menyatakan semakin tinggi pendanaan
perusahaan yang didapat dari pinjaman yang tercantum dalam nilai leverage peruhasaan,
semakin tinggi pula konflik keagenan yang terjadi yang kemudian berdampak pada
dilakukan oleh Martono (2002) dan Sari dan Abudanti (2014) yang menyatakan bahwa
leverage berpengaruh negatif terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis
Manajemen laba adalah suatu proses pelaporan keuangan yang di dalamnya terdapat
campur tangan manajemen yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri (Rahmawati et al,
2006). Sedangkan kinerja dari perusahaan tersebut digunakan oleh pemilik modal dalam
menilai prospek perusahaan, yang terlihat pada kinerja saham. Sehingga, manajemen laba yang
dilakukan manajer pada laporan keuangan tersebut akan berpengaruh terhadap kinerja
manajemen laba berpengaruh positif terhadap profitabilitas, yang artinya semakin tinggi praktik
manajemen laba akan meningkatkan Return on Assets (ROA) yang merupakan proksi
profitabilitas, begitu juga sebaliknya, semakin rendah praktik manajemen laba maka nilai yg
ditunjukkan ROA juga semakin rendah. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam
GCG yang diproksikan oleh dewan komisaris independen merupakan anggota dewan
komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya, dan
pemegang saham pengendali serta bebas dari hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi
perseroan.
Beasley (1996) meneliti hubungan antara komposisi dewan komisaris dengan kecurangan
pelaporan keuangan dan menemukan bahwa perusahaan yang melakukan kecurangan memiliki
persentase dewan komisaris eksternal yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan
perusahaan yang tidak melakukan kecurangan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Chtourou
et al. (2001), Xie et al. (2001), Peasnell et al. (2001), Cornett et al. (2006), Nasution dan
Setiawan (2007), Liu and Lu (2007), serta Cornet et al. (2009) menyimpulkan bahwa proporsi
anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan berhubungan negatif dengan
manajemen laba karena anggota komisaris dari luar dapat meningkatkan tindakan pengawasan,
sehingga adanya manajemen laba akan menimbulkan dugaan yang menarik bahwa profitabilitas
yang diproksikan dengan ROA akan lebih baik apabila proporsi dewan komisaris independen
lebih tinggi, dan berpotensi mengurangi kemungkinan kecurangan dalam pelaporan keuangan.
Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba karena perusahaan yang besar
cenderung akan memerlukan dana yang lebih besar dibanding perusahaan kecil, sehingga
memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba agar pelaporan laba yang tinggi dapat
memiliki kemampuan dalam menghasilkan laba yang baik. Pengaruh yang negatif ini
diakibatkan oleh semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka perusahaan tersebut akan
membutuhkan biaya yang semakin besar untuk menjalankan aktivitas operasionalnya(Sari dan
Budiasih, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Siregar dan Utama (2005) juga menunjukkan
Berdasarkan uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa ukuran perusahaan yang berpengaruh
negatif terhadap manajemen laba juga akan berdampak pada profitabilitas perusahaan, maka
variabel intervening
manajemen yang menyebabkan manajemen dapat membuat keputusan sendiri, dan juga
menetapkan strategi yang kurang tepat (Hallak : 2004). Berdasarkan penelitian (Herawati &
Arleen : 2010) tingkat leverage berpengaruh signifikan positif terhadap manajemen laba,
artinya semakin tinggi persentase leverage suatu perusahaan maka akan semakin termotivasi
pula manajer untuk melakukan manajemen laba guna menutupi risiko kerugian dan kinerja
buruk perusahaan.
Guenther (1994) dalam Setiawati (2000) menemukan bahwa tingkat manajemen laba
perusahaan dengan tingkat leverage utang yang tinggi relatif lebih tinggi dibandingkan
perusahaan dengan tingkat leverage utang rendah. Semakin tinggi tingkat leverage yang
berdampak positif pada manajemen laba yang dilakukan manajer, semakin tinggi pula konflik
keagenan yang terjadi yang kemudian berdampak pada menurunnya kinerja keuangan
perusahaan. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H10 : Leverage dengan manajemen laba sebagai variabel intervening berpengaruh positif
BAB III
METODE PENELITIAN
explanatory. Menurut Sani & Mashuri (2013 : 180) penelitian eksplanatori (explanatory
research) adalah untuk menguji antar variabel yang dihipotesiskan. Penelitian ini terdapat
hipotesis yang akan diuji kebenarannya. Hipotesis ini menggambarkan hubungan antara dua
variabel, untuk mengetahui apakah variabel berasosiasi ataukah tidak dengan variabel lainnya,
atau apakah variabel disebabkan atau dipengaruhi atau tidak oleh variabel lainnya.
Dalam penelitian ini menggunakan model analisis jalur (path analysis) karena di antara
variabel independen dengan variabel dependen terdapat mediasi yang mempengaruhi. Penelitian
ini terdiri tiga variabel, yakni variabel bebas (independent) yaitu good corporate governance,
ukuran perusahaan dan leverage, variabel mediasi/intervening yaitu manajemen laba, sedangkan
Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sample
survey, yang mana hanya menggunakan sebagian kecil dari populasi (Nazir, 1999:183). Survey
yangdimaksud dalam penelitian ini bukan survey lapangan, melainkan survey pustaka dengan
cara pengumpulan data dari buku, catatan-catatan atau dokumenberupa jurnal atau berbagai
bentuk terbitan periodik seperti laporan keuangan, laporan tahunan dan refrensi yang berkaitan
melalui pengumpulan dan pencatatan laporan keuangan pada perusahaan manufaktur sub sektor
makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2016 yang memiliki
Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah perusahaan manufaktur sub sektor
makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2012-2016 dengan
Pada penelitian ini, teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling adalah teknik
pengambilan sampel yang dilakukan sesuai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Kriteria
1) Perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek
2) Perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang melaporkan data
3) Perusahaan manufaktur yang memiliki data lengkap selama tahun pengamatan yang
KODE
NO NAMA PERUSAHAAN
PERUSAHAAN
1. ALTO Tri Banyan Tirta Tbk
2. AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
3. CEKA Cahaya Kalbar Tbk
4. DLTA Delta Djakarta Tbk
5. ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
6. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk
7. MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk
8. MYOR Mayora Indah Tbk
9. PSDN Prashida Aneka Niaga Tbk
10. ROTI Nippon Indosari Corporindo Tbk
11. SKBM Sekar Bumi Tbk
12. SKLT Sekar Laut Tbk
13. STTP Siantar Top Tbk
14 ULTJ Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk
Sumber : idx 2012-2016 (diolah tahun 2018)
1) Jenis data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu data yang
berbentuk angka-angka yang dapat dihitung dengan satuan tertentu seperti data
laporan keuangan dan annual report perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan
minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang telah dijadikan sampel.
2) Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder
dalam penelitian ini diperoleh dari laporan tahunan keuangan perusahaan manufaktur
sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) 2012-
2016. Data tersebut diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia yaitu [Link].
Menurut (Sugiyono, 2004) variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi-informasi tentang
hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka
2) Ukuran Perusahaan ¿)
3) Leverage ¿)
4) Manajemen Laba ¿)
5) Profitabilitas ¿)
Dari identifikasi variabel tersebut diatas, maka variabel yang digunakan dalam penelitian
Variabel independen yaitu variabel yang tidak bergantung pada variabel lain. Variabel
independen disini adalah Good Corporate Governance ¿), ukuran perusahaan ¿), dan
leverage ¿).
Variabel ini merupakan variabel penyela / antara variabel independen dengan variabel
timbulnya variabel dependen. Variabel intervening yang digunakan dalam penelitian ini
GCG dalam penelitian ini didefinisikan sebagai sistem dan struktur untuk mengelola
supplier, asosiasi usaha, konsumen, pekerja, pemerintah dan masyarakat luas. GCG
dalam penelitian ini di proksikan dengan proporsi dewan komisaris independen, dimana
Keterangan :
perusahaan
2) Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan nilai besar kecilnya suatu perusahaan, besar kecilnya
perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity, nilai total penjualan atau nilai total aktiva,
Total Aset, dimana ukuran perusahaan diukur dengan mentrasformasikan total aset yang
Keterangan :
3) Leverage
Rasio Leverage ini akan menggambarkan sumber dana operasi yang digunakan oleh
perusahaan. Semakin besar rasio leverage, berarti semakin tinggi nilai utang
perusahaan. Proksi leverage yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt To Assets
Ratio (debt ratio). Debt ratio dihitung dengan cara membagi antara total hutang dengan
4) Manajemen Laba
Manajemen laba dalam penelitian ini didefinisikan sebagai tindakan manajer untuk
meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas unit dimana manager
ekonomis jangka panjang unit tersebut. Proksi manajemen laba yang digunakan pada
penelitian ini adalah model spesifik akrual (akrual modal kerja), dimana dalam hal ini
Keterangan :
5) Profitabilitas
memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, total aktiva produktif maupun
modal sendiri. Rasio profitabilitas ini akan memberikan gambaran tentang tingkat
Statistik deskriptif dalam penelitian ini merupakan proses transformasi data penelitian
dalam bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan. Tabulasi menyajikan
ringkasan, peratura dan penyusunan data dalam bentuk tabel numerik dan grafik. Statistik
utama. Ukuran yang digunakan dalam deskripsi antara lain berupa frekuensi, tedensi sentral
(mean, median, modus), disperse (deviasi standar dan varian) dan koefisien variasi antar
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variable
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t
mengansumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal (Ghozali, 2013:160). Uji
normalitas secara statistik dapat menggunakan alat analisis One Sample Kolmogorov-Smirnov
test. Pedoman yang akan digunakan dalam pengambilan kesimpulan adalah sebagai berikut :
1) Jika nilai signifikan lebih kecil dari 5% (p < 0,05) ; maka data terdistribusi tidak
normal.
2) Jika nilai signifikan lebih besar dari 5% (p > 0,05) ; maka data terdistribusi normal.
[Link]. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas adalah suatu kedaan dimana satu atau lebih variabel bebas terdapat
korelasi dengan variabel bebas lainya atau suatu variabel bebas merupakan fungsi linier dari
variabel bebas lainya. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau variabel indevenden (Ghozali, 2013).
Adanya beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya
Apabila nilai VIF (Variance Inflation Factor) adalah lebih besar dari 10, maka ada korelasi
yang tinggi dianatara variabel independen atau dapat dikatakan terjadi multikolinier
sedangkan jika VIF kurang dari 10, maka dapan diartikan tidak terjadi multikolinier.
Pedoman yang akan digunakan dalam pengambilan kesimpulan adalah sebagai berikut :
1) Jika nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada
2) Jika nilai tolerance < 0,1 dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada
Autokorelasi berarti terdapat korelasi antara anggota sampel atau data pengamatan yang
diurutkan berdasrakan waktu, sehingga satu data dipengaruhi oleh data sebelumnya.
Autokorelasi muncul pada regresi yang menggunakan data berskala tau time series. Pengujian
autokorelasi yang banyak digunakan adalah model Durbin-Watson. Kriteria pengujian
1) Bila angka DW < -2 (lebih kecil dari dU atau lebih besar dari 4-dL) berarti
autokorelasinya positif
2) Bila angka DW -2 sampai dengan +2 (terletak antara dU dab(4-dU) berarti tidak ada
korelasi
3) Bila angka DW terletak antara (4-dU) dan (4dL), berarti tidak ada kesimpulan
Uji heteroskedasitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan [Link] varians dari
residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap maka disebut homokedastisitas dan jika
berbeda disebut heteroskedasitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau
tidak terjadi heteroskesitas (Ghozali 2002:69). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya
heteroskedastisitas yaitu dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat
(ZPRED) dengan residualnya (SRESID), yaitu dengan deteksi ada tidaknya pola tertentu pada
1) Jika ada pola tertentu, seperti titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur
terjadi heteroskedasitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serts titik menyebebar diatas dan dibawah angka 0 dan
dapat dilakukan denagn uji heteroskedasitas bertujuan menguji apakah dalam model
lain. Jika varians dari residual suatu pengmatan ke pengamatan yang lain tetap maka
disebut homoskedasitas dan jika berbeda disebut heteroskedasitas. Model regresi yang
baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskesitas (Ghozali 2002:69).
[Link]. Uji t
Uji t pada dasarnya bertujuan untuk menguji pengaruh satu variabel bebas terhadap
variabel terikat secara parsial (individual) dalam menerangkan variasi variabel dependen
(Ghozali, 2005:84). Cara melakukan uji t adalah sebagai berikut : Jika nilai signifikan < 0,05,
ini berarti bahwa ada pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap variabel terikat
(hipotesis diterima) dan jika nilai signifikan > 0,05, ini berarti tidak ada pengaruh secara
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur. Analisis ini
digunakan karena terdapat kemungkinan hubungan antara variabel dalam model bersifat
linier. Teknik analisis jalur ini akan digunakan dalam menguji besarnya sumbangan
(kontribusi) yang ditujukkan oleh koefisien jalur pada setiap diagram jalur dari hubungan
kasual antar variabel X1, X2 dan X3 terhadap Y1 serta berdampak terhadap Y2. Jadi, model
path analysis digunakan untuk manganalisis hubungan antara variabel dengan tujuan untuk
mengetahui pengaruh langsung atau tidak langsung seperangkat variabel bebas terhadap
Analisis jalur yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini dengan
Good Corporate
ρx 1 y 2 ϵ₁ ϵ₂
Governance
( X 1) ρx₁y₁
Manajemen Laba ρy 1 y 2
Ukuran Perusahaan (Y 1 ) Profitabilitas
ρx₂y₁
( X 2) (Y 2 )
ρx 2 y 2
ρx 3 y 1
Leverage
( X 3) ρx 3 y 2
Persamaan struktural 1 :
Y 1 = PY 1 X 1 + PY 2 X 2 + P Y 3 X 3 + PY 4 X 4 + e1
Persamaan struktural 2 :
Y 2 = PY 2 X 1 + PY 2 X 2 + PY 2 X 3 + PY 2 X 4 + e2
Y 1 = Manajemen Laba
Y 2 = Profitabilitas
X₂ = Ukuran Perusahaan
X₃ = Leverage
ρx₁y₁ = Koefisien jalur X₁ ke Y 1
Melihat pengaruh GCG, Ukuran Perusahaan dan Leverage secara parsial terhadap
Manajemen Laba.
5) Perhitungan pengaruh
(a) Pengaruh langsung (direct effect atau DE)
Jonathan Sarwono (2007 : 46) menjelaskan bahwa untuk mengetahui pengaruh tidak
variabel intervening X 3 → Y 1 → Y 2
Jonathan Sarwono (2007: 46) menjelaskan bahwa untuk mengetahui pengaruh total (total
variabel intervening X3 → Y 1 → Y 2
(2) Menghitung besarnya t hitung, besarnya t hitung dapat dilihat pada hasil perhitungan
(3) Menghitung besarnya angka t tabel dengan ketentuan tarif signifikansi 0,05 dan
Ukuran Perusahaan, dan Leverage terhadap Profitabilitas dan Manajemen Laba baik
Signifikan atau tidak pengaruh mediasi dapat diuji dengan sobel test. Seperti dijelaskan di
atas bahwa sobel test menghendaki asumsi jumlah sampel besar dan nilai koefisien mediasi
berdistribusi normal. Hasil sobel test memberikan nilai estimasi indirect effect yang kemudian
di cari nilai t hitungnya dengan cara membagi besarnya nilai data terhadap nilai standart error
dan membandingkan dengan t tabel. Jika nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel berarti
pengaruh mediasi dikatakan signifikan. Standar error koefisien a dan b ditulis dengan Sa dan
Sb, besarnya standar error tidak langsung (indirect effect) Sab dihitung dengan rumus berikut
ini :
Sab= √b 2 Sa 2+a 2 Sb 2+ Sa 2 Sb 2
Untuk menguji signifikansi pengaruh tidak langsung, maka kita perlu menghitung nilai t
ab
t = Sab
Nilai t hitung ini dibandingkan dengan nilai t tabel dan jika nilai t hitung lebih besar dari
nilai t tabel maka dapat disimpulkan bahwa terjadi pengaruh mediasi (Ghozali, 2013:255).
BAB IV
4.1. Hasil
mengolah/mengubah bahan mentah menjadi barang jadi ataupun setengah jadi yang
mempunyai nilai tambah, yang dilakukan secara mekanis dengan mesin, ataupun tanpa
Objek dari penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur
Sub Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016.
Subjek penelitian adalah laporan keuangan tahunan yang diambil dari website Bursa Efek
Indonesia yaitu [Link]. Pemilihan sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan
metode purposive sampling dengan beberapa ketentuan. Total perusahaan Manufaktur Sub
Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 5 tahun adalah
penelitian (1 perusahan delisting). Berikut merupakan profil dari 14 perusahaan terpilih yang
dijadikan sampel :
1) Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (TPS Food) (AISA) didirikan pada tanggal 26 Januari
1990 dengan nama PT Asia Intiselera dan mulai beroperasi secara komersial pada
tahun 1990. Kantor pusat AISA berada di Gedung Plaza Mutiara, LT. 16, Jl. DR. Ide
Agung Gede Agung, Kav.E.1.2 No 1 & 2 (Jl. Lingkar Mega Kuningan), Jakarta
Selatan 12950. Lokasi pabrik mie kering, biskuit dan permen terletak di Sragen, Jawa
Tengah. Usaha perkebunan kelapa sawit terletak di beberapa lokasi di Sumatera dan
Kalimantan. Usaha pengolahan dan distribusi beras terletak di Cikarang, Jawa Barat
2) Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) didirikan tanggal 03 Juni 1997 dan memulai kegiatan
usaha komersialnya pada tahun 1997. Kantor pusat ALTO terletak di Kp. Pasir
Dalem RT.02 RW.09 Desa Babakan pari, Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi,
lingkup kegiatan ALTO adalah bergerak dalam bidang industri air mineral (air
serta industri bahan kemasan. Produksi Air minum dalam kemasan secara komersial
3) Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (sebelumnya Cahaya Kalbar Tbk) (CEKA) didirikan
03 Februari 1968 dengan nama CV Tjahaja Kalbar dan mulai beroperasi secara
komersial pada tahun 1971. Kantor pusat CEKA terletak di Kawasan Industri
Jababeka II, Jl. Industri Selatan 3 Blok GG No.1, Cikarang, Bekasi 17550, Jawa
Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan CEKA meliputi bidang industri makanan
Saat ini produk utama yang dihasilkan CEKA adalah Crude Palm Oil (CPO) dan
4) Delta Djakarta Tbk (DLTA) didirikan tanggal 15 Juni 1970 dan memulai kegiatan
usaha komersialnya pada tahun 1933. Kantor pusat DLTA dan pabriknya berlokasi di
Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur – Jawa Barat. Berdasarkan Anggaran
Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan DLTA yaitu terutama untuk memproduksi
dan menjual bir pilsener dan bir hitam dengan merek “Anker”, “Carlsberg”, “San
Miguel”, “San Mig Light” dan “Kuda Putih”. DLTA juga memproduksi dan menjual
5) Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) didirikan 02 September 2009 dan mulai
beroperasi secara komersial pada tahun 1 Oktober 2009. ICBP merupakan hasil
pengalihan kegiatan usaha Divisi Mi Instan dan Divisi Penyedap Indofood Sukses
Makmur Tbk (INDF), pemegang saham pengendali. Kantor pusat Indofood CBP
berlokasi di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Lantai 23, Jl. Jend. Sudirman, Kav.
76-78, Jakarta 12910, Indonesia, sedangkan pabrik perusahaan dan anak usaha
Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ICBP terdiri dari, antara lain,
produksi mi dan bumbu penyedap, produk makanan kuliner, biskuit, makanan ringan,
nutrisi dan makanan khusus, kemasan, perdagangan, transportasi, pergudangan dan
6) Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) didirikan tanggal 14 Agustus 1990 dengan
tahun 1990. Kantor pusat INDF berlokasi di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Lantai
21, Jl. Jend. Sudirman Kav. 76 – 78, Jakarta 12910 – Indonesia. Sedangkan pabrik
dan perkebunan INDF dan anak usaha berlokasi di berbagai tempat di pulau Jawa,
Perusahaan, ruang lingkup kegiatan INDF antara lain terdiri dari mendirikan dan
minyak goreng, penggilingan biji gandum dan tekstil pembuatan karung terigu.
7) Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) didirikan 03 Juni 1929 dengan nama N.V.
tahun 1929. Kantor pusat MLBI berlokasi di Talavera Office Park Lantai 20, Jl. Let.
Jend. TB. Simatupang Kav. 22-26, Jakarta 12430. Berdasarkan Anggaran Dasar
Perusahaan, ruang lingkup kegiatan MLBI beroperasi dalam industri bir dan
minuman lainnya. Saat ini, kegiatan utama MLBI adalah memproduksi dan
memasarkan bir (Bintang dan Heineken), bir bebas alkohol (Bintang Zero) dan
komersial pada bulan Mei 1978. Kantor pusat Mayora berlokasi di Gedung Mayora,
[Link] Raya No. 21-23, Jakarta 11440 – Indonesia, dan pabrik terletak di
kegiatan Mayora adalah menjalankan usaha dalam bidang industri, perdagangan serta
agen/perwakilan. Saat ini, Mayora menjalankan bidang usaha industri biskuit (Roma,
Danisa, Royal Choice, Better, Muuch Better, Slai O Lai, Sari Gandum, Sari Gandum
Sandwich, Coffeejoy, Chees’kress.), kembang gula (Kopiko, KIS, Tamarin dan Juizy
Milk), wafer (beng beng, Astor, Roma), coklat (Choki-choki), kopi (Torabika dan
Kopiko) dan makanan kesehatan (Energen) serta menjual produknya di pasar lokal
9) Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) didirikan tanggal 16 April 1974 dengan nama PT
Aneka Bumi Asih dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1974.
Kantor pusat PSDN terletak di Gedung Plaza Sentral, Lt. 20, Jln. Jend. Sudirman No.
47, Jakarta 12930 dan pabriknya berlokasi di Jl. Ki Kemas Rindho, Kertapati,
adalah bergerak dalam bidang pengolahan dan perdagangan hasil bumi (karet remah,
10) Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) (Sari Roti) didirikan 08 Maret 1995 dengan
nama PT Nippon Indosari Corporation dan mulai beroperasi komersial pada tahun
1996. Kantor pusat dan salah satu pabrik ROTI berkedudukan di Kawasan Industri
MM 2100 Jl. Selayar blok A9, Desa Mekarwangi, Cikarang Barat, Bekasi 17530 –
Jawa Barat, dan pabrik lainnya berlokasi di Kawasan Industri Jababeka Cikarang
Cikande dan Medan. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup usaha
utama ROTI bergerak di bidang pabrikasi, penjualan dan distribusi roti (roti tawar,
roti manis, roti berlapis, cake dan bread crumb) dengan merek "Sari Roti".
Pendapatan utama ROTI berasal dari penjualan roti tawar dan roti manis.
11) Sekar Bumi Tbk (SKBM) didirikan 12 April 1973 dan mulai beroperasi secara
komersial pada tahun 1974. Kantor pusat SKBM berlokasi di Plaza Asia, Lantai 2, Jl.
Jend. Sudirman Kav. 59, Jakarta 12190 – Indonesia dan pabrik berlokasi di Jalan
Jenggolo 2 No. 17 Waru, Sidoarjo serta tambak di Bone dan Mare, Sulawesi.
dalam bidang usaha pengolahan hasil perikanan laut dan darat, hasil bumi dan
peternakan. Sekar Bumi memiliki 2 divisi usaha, yaitu hasil laut beku nilai tambah
(udang, ikan, cumi-cumi, dan banyak lainnya) dan makanan olahan beku (dim sum,
udang berlapis tepung roti, bakso seafood, sosis, dan banyak lainnya). Selain itu,
melalui anak usahanya, Sekar Bumi memproduksi pakan ikan, pakan udang, mete
dan produk kacang lainnya. Produk-produk Sekar Bumi dipasarkan dengan berbagai
12) Sekar Laut Tbk (SKLT) didirikan 19 Juli 1976 dan mulai beroperasi secara komersial
pada tahun 1976. Kantor pusat SKLT berlokasi di Wisma Nugra Santana, Lt. 7, Suite
707, Jln. Jend. Sudirman Kav. 7-8, Jakarta 10220 dan Kantor cabang berlokasi di
Jalan Raya Darmo No. 23-25, Surabaya, serta Pabrik berlokasi di Jalan Jenggolo
II/17 Sidoarjo. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan
SKLT meliputi bidang industri pembuatan kerupuk, saos tomat, sambal, bumbu
masak dan makan ringan serta menjual produknya di dalam negeri maupun di luar
13) Siantar Top Tbk (STTP) didirikan tanggal 12 Mei 1987 dan mulai beroperasi secara
komersial pada bulan September 1989. Kantor pusat Siantar Top beralamat di Jl.
Tambak Sawah No. 21-23 Waru, Sidoarjo, dengan pabrik berlokasi di Sidoarjo (Jawa
Timur), Medan (Sumatera Utara), Bekasi (Jawa Barat) dan Makassar (Sulawesi
Top terutama bergerak dalam bidang industri makanan ringan, yaitu mie (snack
noodle, antara lain: Soba, Spix Mie Goreng, Mie Gemes, Boyki, Tamiku, Wilco,
Fajar, dll), kerupuk (crackers, seperti French Fries 2000, Twistko, Leanet, Opotato,
dll), biskuit dan wafer (Goriorio, Gopotato, Go Malkist, Brio Gopotato, Go Choco
Star, Wafer Stick, Superman, Goriorio Magic, Goriorio Otamtam, dll), dan kembang
gula (candy dengan berbagai macam rasa seperti: DR. Milk, Gaul, Mango, Era Cool,
dll). Selain itu, STTP juga menjalankan usaha percetakan melalui anak usaha (PT
14) Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) didirikan tanggal 2
November 1971 dan mulai beroperasi secara komersial pada awal tahun 1974.
Kantor pusat dan pabrik Ultrajaya berlokasi di Jl. Raya Cimareme 131 Padalarang –
lingkup kegiatan Ultrajaya bergerak dalam bidang industri makanan dan minuman,
kesehatan, yang diolah dengan teknologi UHT (Ultra High Temperature) dan
susu kental manis, susu bubuk, dan konsentrat buah-buahan tropis. Ultrajaya
Deskripsi data merupakan bagian dari analisis yang memberikan gambaran awal
mengenai variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Gambaran dari variabel penelitian
yang digunakan yaitu nilai rata-rata (mean), nilai maksimum, nilai minimum dan standar
deviasi dari setiap variabel. Deskripsi data merupakan bagian dari analisis yang memberikan
gambaran awal mengenai variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Gambaran dari
variabel penelitian yang digunakan yaitu nilai rata-rata (mean), nilai maksimum, nilai minimum
dan standar deviasi dari setiap variabel. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah
Profitabilitas, sedangkan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, dan Leverage, dan variabel intervening
dalam penelitian ini adalah Manajemen Laba. Hasil dari pengujian statistik deskriptif dari
Descriptive Statistics
Tabel 4.1 merupakan output statistik deskriptif variabel penelitian dari tahun 2012 sampai
2016 dengan menggunakan sofware SPSS. Jumlah sampel keseluruhan adalah 14 perusahaan
Manufaktur Sub Sektor Makanan dan Minuman selama 5 tahun. Dari tabel tersebut dapat
Variabel GCG yang diproksikan oleh proporsi dewan komisaris independen (PDKI)
komisaris yang ada dalam susunan dewan komisaris perusahaan. Berdasarkan tabel
4.1, dapat diketahui besarnya nilai proporsi dewan komisaris independen berkisar
antara 0,25 – 0,57 dengan nilai mean (rata – rata) sebesar 0,3719 dan standar deviasi
sebesar 0,07025. Nilai mean sebesar 0,3719 memiliki arti bahwa rata – rata proporsi
dewan komisaris independen pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan
minuman sebesar 37,19%. Perusahaan yang memiliki nilai proporsi dewan komisaris
terendah dalam penelitian ini adalah PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) dengan
nilai PDKI pada tahun 2016 sebesar 0,25. Sedangkan perusahaan dengan nilai proporsi
dewan komisaris independen tertinggi adalah PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI)
2) Ukuran Perusahaan
dapat diukur oleh total aktiva (assets) perusahaan. Berdasarkan tabel 4.1, dapat
diketahui besarnya nilai ukuran perusahaan berkisar antara 20,43 – 32,15 dan nilai
mean (rata – rata ) sebesar 28,0725 dengan nilai standar deviasi sebesar 2,53296. Nilai
mean sebesar 28,0725 memiliki arti bahwa rata – rata ukuran perusahaan pada
Perusahaan yang memiliki nilai ukuran perusahaan terendah dalam penelitian ini
adalah PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) dengan ukuran perusahaan sebesar 20,43 pada
tahun 2012. Sedangkan nilai ukuran perusahaan tertinggi adalah PT Indofood Sukses
Makmur Tbk (INDF) dengan ukuran perusahaan pada tahun 2016 sebesar 32,15.
3) Leverage
yang didanai dengan utang. Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa nilai
leverage berkisar antara 0,15 – 0,75 dan nilai mean (rata – rata) sebesar 0,4693 dengan
standar deviasi sebesar 0,14371. Nilai mean sebesar 0,4693 memiliki arti bahwa rata –
rata leverage pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman sebesar
46,93%. Perusahaan yang memiliki nilai leverage terendah dalam penelitian ini adalah
PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) dengan leverage sebesar 0,15 pada tahun 2012.
Indonesia Tbk (MLBI) dengan leverage pada tahun 2014 sebesar 0,75.
4) Manajemen Laba
Salah satu parameter penting dalam mengukur kinerja manajemen adalah laba. Untuk
Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa nilai manajemen laba berkisar antara
-10,04% – 0,31% dan nilai mean (rata – rata) sebesar -0,1532 dengan standard deviasi
sebesar 1,21016. Nilai mean sebesar -0,1532 memiliki arti bahwa rata – rata tingkat
manajemen laba pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman
adalah -15,32%. Perusahaan yang memiliki nilai manajemen laba terendah adalah PT
Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) sebesar -10,04 pada tahun 2012. Sedangkan perusahaan
yang memiliki nilai manajemen laba tertinggi adalah PT Tiga Pilar Sejahtera Food
Tbk (AISA) dengan nilai manajemen laba sebesar 0,31% pada tahun 2016.
5) Profitabilitas
sebuah perusahaan dalam periode tertentu. Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui
bahwa nilai profitabilitas berkisar antara -5,32% – 111,77% dan mean (rata – rata)
sebesar 15,1735 dengan standar deviasi 18,73424. Nilai mean sebesar 15,1735 memiliki
arti bahwa rata – rata tingkat profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sektor
makanan dan minuman adalah 1517,35%. Perusahaan yang memiliki nilai profitabilitas
terendah adalah PT Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) dengan nilai profitabilitas
sebesar -5,32% pada tahun 2015. Sedangkan perusahaan yang memiliki nilai
profitabilitas tertinggi adalah PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) dengan nilai
[Link]. Substruktur 1
1) Uji Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai Asym. Sig. (2-
nilai residual yang diuji dengan Kolmogorov-Smirnov Test melalui pengukuran tingkat
Pada penelitian ini dilakukan outlier untuk mendapatkan normalitas data. Menurut
Ghozali (2013:41) data outlier adalah kasus atau data yang memiliki karakteristik unik
yang terlihat sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan muncul dalam
bentuk nilai ekstrim. Deteksi terhadap outlier dapat dilakukan dengan menentukan
nilai batas yang dapat dikatagorikan sebagai data outlier yaitu dengan cara
mengkonversi nilai data ke dalam skor standaridized atau yang biasa disebut z-score.
Setelah dilakukan outlier dari 70 sampel, 6 data dinyatakan sebagai data outlier
Unstandardized Residual
N 64
Mean .0000000
Normal Parametersa,b
Std. Deviation .06587405
Absolute .076
Most Extreme Differences Positive .042
Negative -.076
Kolmogorov-Smirnov Z .604
Asymp. Sig. (2-tailed) .858
Dari tabel diatas diperolah nilai signifikan sebesar 0,858 lebih dari nilai 0,05. Hal ini
menunjukkan nilai residual terdistribusi secara normal atau memenuhi asumsi klasik
normalitas. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa data dari variabel GCG,
normal.
2) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan
variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel
independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai cut-off
0,10 dan nilai VIF ≤ 10 (Ghozali, 2013). Ringkasan hasil uji multikolinearitas
Coefficientsa
bahwa tidak ada variabel independen yang memiliki nilai toleransi < 0,10 dan nilai
VIF > 10. Hal ini dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak
terjadi multikolinearitas.
3) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel
Model Summaryb
dari pengambilan keputusan termasuk du < d < 4 – du = 1,6932 < 2,149 < 2,3068
4) Uji Heteroskedasitas
terjadinya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Dapat dilihat pada
scatter plot titik-titik menyebar tanpa menggumpal dan membentuk sebuah pola dapat
1) Uji Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai Asym. Sig. (2-
nilai residual yang diuji dengan Kolmogorov-Smirnov Test melalui pengukuran tingkat
Pada penelitian ini dilakukan outlier untuk mendapatkan normalitas data. Menurut
Ghozali (2013:41) data outlier adalah kasus atau data yang memiliki karakteristik unik
yang terlihat sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan muncul dalam
bentuk nilai ekstrim. Deteksi terhadap outlier dapat dilakukan dengan menentukan
nilai batas yang dapat dikatagorikan sebagai data outlier yaitu dengan cara
mengkonversi nilai data ke dalam skor standaridized atau yang biasa disebut z-score.
Setelah dilakukan outlier dari 70 sampel, 3 data dinyatakan sebagai data outlier
Unstandardized Residual
N 67
Mean .0000000
Normal Parametersa,b
Std. Deviation 9.46617568
Absolute .094
Most Extreme Differences Positive .094
Negative -.086
Kolmogorov-Smirnov Z .768
Asymp. Sig. (2-tailed) .597
atas 0,05, hal ini menunjukkan nilai residual terdistribusi secara normal atau
memenuhi asumsi klasik normalitas. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa data
dari variabel GCG, ukuran perusahaan, leverage, manajemen laba dan profitabilitas,
2) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan
variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel
independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai cut-
Coefficientsa
Berdasarkan tabel diatas, hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan bahwa tidak
ada variabel independen yang memiliki nilai toleransi < 0,10 dan nilai VIF > 10. Hal
ini dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak terjadi
multikolinearitas .
3) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel
Model Summaryb
Tidak ada autokorelasi apabila du < d < 4-du = 1,6988 < 2,100 < 2,3012, dapat
4) Uji Heteroskedasitas
terjadinya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Dapat dilihat pada
scatter plot titik-titik menyebar tanpa menggumpal dan membentuk sebuah pola dapat
1) Substruktur 1
Uji statistik t dilakukan untuk menguji pengaruh dari variabel independen terhadap
variabel dependen secara individu. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikan t yang
dihasilkan dari perhitungan. Apabila nilai signifikan t <tingkat signifikan (0,05) maka
sebaliknya jika nilai signifikan t > tingkat signifikan (0,05) maka variabel independen
secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependennya. Hasil uji signifikan
Coefficients a
Berdasarkan hasil signifikan parameter individual (uji t) yang disajikan pada tabel
diatas diketahui bahwa variabel X3 memiliki nilai signifikan < 0,05 dan t hitung >
1,9962 (nilai t tabel) yang artinya secara individu X3 berpengaruh signifikan terhadap
Y1. Sedangkan variabel X1 dan X2 memiliki nilai signifikan > 0,05 dan t hitung <
1,9962 (nilai t tabel) yang artinya secara individu X1 dan X2 tidak berpengaruh
2) Substruktur 2
Uji statistik t dilakukan untuk menguji pengaruh dari variabel independen terhadap
variabel dependen secara individu. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikan t yang
dihasilkan dari perhitungan. Apabila nilai signifikan t <tingkat signifikan (0,05) maka
sebaliknya jika nilai signifikan t > tingkat signifikan (0,05) maka variabel independen
secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependennya. Hasil uji signifikan
Coefficients a
Berdasarkan hasil signifikan parameter individual (uji t) yang disajikan pada tabel
diatas diketahui bahwa variabel X1 dan X2 memiliki nilai signifikan < 0,05 dan t
hitung >1,9977 (nilai t tabel) yang artinya secara individu X1 dan X2 berpengaruh
signifikan terhadap Y2. Sedangkan variabel X3 memiliki nilai signifikan > 0,05 dan t
hitung < 1,9977 (nilai t tabel) yang artinya secara individu X3 tidak berpengaruh
signifikan terhadap Y2, untuk variabel Y1 memiliki nilai signifikan > 0,05 dan t
hitung < 1,9977 (nilai t tabel) yang artinya secara individu Y1 tidak berpengaruh
Analisis jalur merupakan suatu teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang
terjadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel terikat tidak
hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung. Dalam penelitian ini, analisis jalur
digunakan untuk menguji hipotesis pertama sampai ketujuh. Jonathan (2007: 39-40)
melihat tingkat signifikansi yang telah ditetapkan sebesar 5%. Apabila t hitung > ttabel dan
nilai signikansi <0,05 maka hipotesis diterima sedangkan apabila t hitung ≤ ttabel dan nilai
Besarnya ttabel dihitung dengan melihat derajat kebebasan (DK) dengan cara DK= n-3
dan ketentuan tarif signifikansi dalam penelitian ini sebesar 0,05 (5%). Penggunaan
95% dan tingkat kesalahan yang ditoleransi dalam penelitian ini sebesar 5%.
Statistic 22 For Windows pada lampiran. Berikut adalah penjelasan tentang hasil pengujian
signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -0,830
sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,99962 sehingga t hitung≤ t tabel (-0,830
≤ 1,99962). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,410 atau
lebih tinggi dari 0,05 (0,410>0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat
signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -0,117
sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,99962 sehingga t hitung≤ t tabel (-0,117
≤ 1,99962). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,907 atau
lebih tinggi dari 0,05 (0,907 > 0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat
signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -2,817
sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,99962 sehingga t hitung > t tabel (-2,817
> 1,99962). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,007 atau
lebih rendah dari 0,05 (0,007 < 0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat
signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar 4,299
sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,996 sehingga t hitung > t tabel
(4,299>1,996). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,000 atau
lebih rendah dari 0,05 (0,000<0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat
signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -3,240
sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,996 sehingga t hitung > t tabel (-
3,240>1,996). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,002 atau
lebih rendah dari 0,05 (0,002<0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat
signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -1,270
sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,996 sehingga t hitung≤ t tabel (-
1,270≤1,996). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,209 atau
lebih tinggi dari 0,05 (0,209>0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat
signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar 1,166
sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 2,0048 sehingga t hitung≤ t tabel
(1,166≤2,0048). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,249
atau lebih tinggi dari 0,05 (0,249>0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat
Untuk melihat besarnya pengaruh dapat dilihat pada nilai beta yang disajikan dalam tabel
berikut ini :
laba = -0,102
Pengaruh variabel ukuran perusahaan terhadap manajemen laba = -0,015
€1 0,920
Good Corporate €2 0,839
Governance 0,471
( X 1)
-0,102
Manajemen Laba
Ukuran Perusahaan
0,155 Profitabilitas
(Y 1 )
( X 2) -0,015 (Y 2 )
-0,365
-0,355 -0,140
Leverage
( X 3)
naik 1 poin maka manajemen laba akan mengalami penurunan sebesar 0,102 poin dengan
kenaikan 1 poin, maka manajemen laba akan mengalami penurunan juga sebesar 0,015
dengan asumsi variabel X1 dan X3 konstan. Jika leverage naik 1 poin, maka manajemen laba
akan mengalami penurunan sebesar 0,355 poin dengan asumsi X 1 dan X2 konstan. Ketiga
variabel independen (good corporate governance, ukuran perusahaan dan leverage) dapat
menjelaskan variabel manajemen laba sebesar 8% sedangkan, sedangkan sisanya sebesar 92%
naik 1 poin maka profitabilitas juga akan mengalami peningkatan sebesar 0,471 poin dengan
kenaikan 1 poin, maka profitabilitas akan mengalami penurunan sebesar 0,365 dengan asumsi
variabel X1 dan X3 konstan. Jika leverage naik 1 poin, maka profitabilitas akan mengalami
penurunan sebesar 0,140 poin dengan asumsi X1 dan X2 konstan. Ketiga variabel independen
(good corporate governance, ukuran perusahaan dan leverage) dapat menjelaskan variabel
profitabilitas sebesar 16,1% sedangkan, sedangkan sisanya sebesar 83,9% (0,839) dijelaskan
Uji Sobel digunakan untuk meguji hipotesis 8, 9, dan 10. Signifikan atau tidak pengaruh
mediasi dapat diuji dengan sobel test. Hasil sobel test memberikan nilai estimasi indirect
effect yang kemudian di cari nilai t hitungnya dengan cara membagi besarnya nilai data
terhadap nilai standart error dan membandingkan dengan t tabel. Jika nilai t hitung lebih besar
dari nilai t tabel berarti pengaruh mediasi dikatakan signifikan dan nilai ttabel sebesar 1,996.
Pengaruh mediasi yang ditunjukkan oleh perkalian koefisien (p2 x p3) yaitu ( -0,102 x
0,155) sebesar -0,01581, untuk mengetahui signifikan atau tidak, diuji dengan Sobel
test sebagai berikut : Hitung standar error dari koefisien inderect effect (Sp2p3)
GCG Sp2p3 = √ p 3 2 sp 22+ p 22 sp 3 2+ sp 22 sp 3 2
¿ √ 0,000363474225+3,564233532+5,182938207
¿ √ 8,747535213225
= 2,9576
Berdasarkan hasil Sp2p3 dapat menghitung nilai t statistik pengaruh mediasi dengan
P2P3 −0,01581
t = Sp 2 p 3 t= 2,9576 = -0,0053
Oleh karena nilai thitung = -0,0052 lebih kecil dari ttabel dengan tingkat signifikan 0,05
yaitu sebesar 1,996, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi -0,01581 tidak
Profitabilitas” ditolak.
Pengaruh mediasi yang ditunjukkan oleh perkalian koefisien (p5 x p3) yaitu ( -0,102 x
0,155) sebesar -0,002325, untuk mengetahui signifikan atau tidak, diuji dengan Sobel
test sebagai berikut : Hitung standar error dari koefisien inderect effect (Sp5p3)
Sp5p3 = √ P3 2 Sp 52+ P 52 Sp 3 2+ Sp 52 Sp 32
¿ √ 0,0000003844+77,081175+ 0,005481328
¿ √ 77,0866567124
= 8,7799
Berdasarkan hasil Sp5p3 dapat menghitung nilai t statistik pengaruh mediasi dengan
P5P3 −0,002325
t = Sp 5 p 3 t= 8,7799 = -2,648
Oleh karena nilai thitung = -2,648 lebih besar dari ttabel dengan tingkat signifikan 0,05 yaitu
Pengaruh mediasi yang ditunjukkan oleh perkalian koefisien (p7 x p3) yaitu ( -0,355 x
0,155) sebesar -0,055025, untuk mengetahui signifikan atau tidak, diuji dengan Sobel
test sebagai berikut : Hitung standar error dari koefisien inderect effect (Sp7p3)
Sp7p3 = √ P3 2 Sp 72 + P7 2 Sp 32+ Sp 72 Sp 3 2
¿ √ ( 0,155 ) ² ( 0,061 ) ² + (−0,0355 ) ²(18,509)²+(0,061)2 (18,509)2
¿ √ 0,000089397+0,4314503683+1,24751343
¿ √ 1.7062911083
= 1,3062
Berdasarkan hasil Sp7p3 dapat menghitung nilai t statistik pengaruh mediasi dengan
P7P3 −0,055025
t = Sp 7 p 3 t= 1,3062 = -0,4212
Oleh karena nilai thitung = -0,4212 lebih kecil dari ttabel dengan tingkat signifikan 0,05
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel manajemen laba bukan variabel
4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel good corporate governance
yang diukur dengan proporsi dewan komisaris independen tidak berpengaruh signifikan
terhadap manajemen laba yang diukur dengan akrual modal kerja pada perusahaan manufaktur
sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan
dengan melihat signifikansi GCG sebesar 0,410 lebih dari 0,05 (0,410 > 0,05) yang berarti
bahwa good corporate governance tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Nilai
signifikansi ini menunjukkan perubahan nilai GCG tidak mempengaruhi perubahan nilai
manajemen laba.
sangat kuat, bahkan ada direksi yang enggan membagi wewenang serta tidak memberikan
informasi yang memadai kepada komisaris independen. Selain itu, terdapat kendala yang cukup
menghambat kinerja dewan komisaris independen yaitu masih lemahnya kemampuan dan
integritas mereka untuk mengawasi kinerja manajemen. Padahal integritas dan independensi
merupakan prinsip agar penerapan good corporate governance dapat berjalan secara efektif.
Dalam hal ini, dewan komisaris independen tidak benar-benar independen dan tidak dapat
melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya secara optimal karena terbatas oleh kebijakan
dari pemegang saham mayoritas yang merupakan pengendali kuat perusahaan. Pemegang
saham mayoritas mempunyai kemampuan yang besar untuk menetapakan dan mempengaruhi
keputusan. Dengan demikian, besar kecilnya proporsi dewan komisaris independen tidak dapat
mendorong perusahaan untuk melaksanakan good corporate governance dengan baik sehingga
Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani (2014) yang
menyatakan bahwa GCG yang diukur dengan proporsi dewan komisaris independen tidak
berpengaruh terhadap praktik manajemen laba. Namun tidak mendukung penelitian yang
dilakukan oleh eka (2011), Abdillah (2014) yang menyatakan proporsi dewan komisaris
independen berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga hipotesis 1 (H1) yang menyatakan
bahwa Good Corporate Governance berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba
ditolak.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel ukuran perusahaan yang
diukur dengan logaritma natural tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba yang
diukur dengan akrual modal kerja pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan
minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat
signifikansi ukuran perusahaan sebesar 0,907 lebih dari 0,05 (0,907 > 0,05) yang berarti bahwa
ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Nilai signifikansi ini
manajemen laba.
Menurut Lusi (2014:20) pengawasan yang ketat dari pemerintah, analis, dan investor
yang ikut menjalankan perusahaan menyebabkan manajer tidak berani melakukan praktik
perataan laba yang merupakan salah satu teknik dalam manajemen laba. Hal ini dikarenakan,
dengan pengawasan yang ketat tersebut jika manajer melakukan praktik manajemen laba besar
kemungkinan akan diketahui oleh pemerintah, analis, dan investor sehingga hal ini dapat
merusak citra dan kredibilitas manajer perusahaan tersebut. Khazan faozi (2003) dalam Lusi
(2014:20) menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak menjadi pertimbangan satu- satunya
bagi para investor dalam pengambilan keputusan investasi, tapi masih terdapat faktor-faktor
lain yang lebih penting untuk dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi seperti
tingkat keuntungan, prospek usaha perusahaan dimasa yang akan datang dan lain sebagainya.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Nasution dan
Setiawan (2007), Siti Nayiroh (2013), Lusi (2014), dan Setyaningtyas dan Hadiprajitno (2014)
yang juga menyatakan ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen
laba. Namun tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Nuryaman (2008), Nur Azlina
(2010), Prambudi dan Sumantri (2014), serta Jao dan Pagalung (2014) yang menyatakan
terdapat pengaruh signifikan antara ukuran perusahaan terhadap manajemen laba, sehingga
hipotesis 2 (H2) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan
signifikan terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan
minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat
signifikansi leverage sebesar 0,007 kurang dari 0,05 (0,007 < 0,05) yang berarti bahwa
leverage berpengaruh terhadap manajemen laba. Nilai signifikansi ini menunjukkan perubahan
Leverage sebagai salah satu usaha dalam peningkatan laba perusahaan, dapat menjadi
tolak ukur dalam melihat perilaku manajer dalam hal manajemen laba. Perusahaan yang
memiliki financial leverage tinggi akibat besarnya hutang dibandingkan aktiva yang dimiliki
perusahaan, diduga melakukan manajemen laba karena perusahaan terancam default, yaitu
tidak dapat memenuhi kewajiban membayar hutang pada waktunya. Kurangnya pengawasan
juga menyebabkan leverage yang tinggi juga akan meningkatkan perilaku oportunis
Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian menyatakan bahwa leverage berpengaruh dan
signifikan terhadap Manajemen Laba. Bahwa leverage menjadi salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap praktik manajemen laba karena manajemen laba berkaitan dengan
sumber dana eksternal khususnya utang yang digunakan untuk membiayai kelangsungan
Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Widyaningdyah (2001) dan
Agustia (2013) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap manajemen
laba. Namun tidak mendukung penelitian Rivaldo (2013) yang menyatakan leverage tidak
berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga hipotesis 3 (H3) yang menyatakan bahwa
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel good corporate governance
yang diukur dengan proporsi dewan komisaris independen berpengaruh signifikan terhadap
profitabilitas yang diukur dengan return on assets (ROA) pada perusahaan manufaktur sub
sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan
dengan melihat signifikansi GCG sebesar 0,000 kurang dari 0,05 (0,000 < 0,05) yang berarti
bahwa good corporate governance berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas. Nilai
profitabilitas.
Penelitian ini mempunyai hasil sesuai hipotesis yakni komisaris independen berpengaruh
positif signifikan terhadap kinerja perusahaan dengan pengukuran ROA. Hal ini terkait dengan
fungsi dari komisaris independen, yakni melakukan fungsi pengawasan, evaluasi, dan
pemecatan terhadap manajer puncak (KNKG, 2006). Serta peranan komisaris independen pada
perusahaan adalah obyektif yakni tidak terikat oleh kepentingan dan pihak manapun. Jika
akan semakin ketat dan obyektif. Sehingga manajemen akan selalu bertindak sesuai tujuan
perusahaan. Ketika proporsi dewan komisaris ditambah maka akan menaikkan kinerja
perusahaan. Ketika kinerja perusahaan naik, maka penilaian pasar terhadap aktiva perusahaan
juga akan naik. Hal ini akan menarik keinginan investor untuk memiliki saham tersebut. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan O’Connell dan Cramer (2010) yang menjelaskan
bahwa proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan dengan
Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Dwiputra (2015) yang
terhadap profitabilitas yang diukur dengan ROA. Namun tidak mendukung penelitian yang
dilakukan oleh Noviawan dan Septiani (2013) yang menyatakan bahwa dewan komisaris
independen tidak berpengaruh terhadap ROA, sehingga hipotesis 4 (H4) yang menyatakan
diterima.
berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan
dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat
signifikansi ukuran perusahaan sebesar 0,002 kurang dari 0,05 (0,002 < 0,05) yang berarti
nilai profitabilitas.
Adanya pengaruh yang signifikan dan positif ini mengindikasikan bahwa semakin besar
Sebaliknya, semakin redah nilai ukuran perusahaan dapat menjelaskan dan memprediksi
penurunan profitabilitas. Hasil pengaruh positif signifikan ini menunjukan hal yang sejalan
antara ukuran perusahaan dan profitabilitas, dimana ukuran perusahaan dalam hal ini total
aktiva, total karyawan dan total penjualan yang meningkat dapat dimaksimalkan oleh
meningkatkan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membayar karyawan, biaya penjualan
dan biaya perawatan aset yang dimiliki perusahaan nilainya masih lebih kecil dibanding dengan
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kodrat (2009) dan
signifikan terhadap profitabilitas. Namun hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian
Anindito (2015) yang mengungkapkan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap terhadap
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel leverage tidak berpengaruh
terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang
terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat signifikansi leverage
sebesar 0,209 lebih dari 0,05 (0,209 > 0,05) yang berarti bahwa leverage tidak berpengaruh
terhadap profitabilitas. Nilai signifikansi ini menunjukkan perubahan nilai leverage tidak
Leverage merupakan suatu rasio yang menunjukkan sejauh mana bisnis bergantung pada
pembiayaan utang (Pradipta, 2011). Pengujian hipotesis untuk menguji variabel kontrol
leverage menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap ROA. Perusahaan dengan
tingkat leverage tinggi menunjukkan komposisi total hutang semakin besar di banding dengan
total modal sendiri sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar
(kreditur), berupa beban bunga. Selain itu, terdapat kemungkinan kegagalan pembayaran pokok
hutang. Informasi ini akan direspon negatif oleh investor karena beranggapan bahwa
perusahaan akan lebih memilih membayar utang daripada membayar dividen (Pradipta, 2011).
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Helen dan Heremi (2014)
serta Pradipta (2011) yang mengungkapkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap
profitabilitas yang diukur dengan ROA. Namun tidak mendukung penelitian yang dilakukan
oleh Putra dan Badjra (2015), sehingga hipotesis 6 (H6) yang menyatakan Leverage
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel manajemen laba yang diukur
dengan akrual modal kerja tidak berpengaruh terhadap profitabilitas yang diukur dengan ROA
pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun
2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat signifikansi manajemen laba sebesar 0,249 lebih
dari 0,05 (0,249 > 0,05) yang berarti bahwa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap
profitabilitas. Nilai signifikansi ini menunjukkan perubahan nilai manajemen laba tidak
Lemahnya pengaruh akrual modal kerja terhadap return on assets disebabkan oleh
pengukuran manajemen laba yang hanya menggunakan penjualan sebagai deflator akrual
modal kerja sehingga menjadi kurang komprehensif ketika pengukuran manajemen laba hanya
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh oleh Gideon dan Theresia
dalam Ujiyantho dan pramuka (2007) yang menyatakan manajemen laba tidak berpengaruh
terhadap kinerja keuangan. Namun tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Oktora
(2014) yang menyatakan bahwa manajemen laba berpengaruh terhadap profitabilitas, sehingga
hipotesis 7 (H7) yang menyatakan bahwa manajemen laba berpengaruh positif signifikan
Manajemen Laba
laba sebagai variabel intervening berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas pada
perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-
2016. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar -0,0052 lebih kecil dari ttabel
dengan tingkat signifikan 0,05 yaitu sebesar 1,996 (-0,0052 ≤ 1,996). Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa variabel manajemen laba bukan merupakan variabel intervening antara
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Laksana (2015) dan
Zabri (2015) yang juga tidak menemukan pengaruh yang signifikan antara proporsi dewan
komisaris independen terhadap profitabilitas melalui manajemen laba. Menurut Zabri (2015)
keberadaan komisaris independen dalam suatu perusahaan tidak menjamin perusahaan
pengaruh terhadap profitabilitas secara langsung namun manajemen laba tidak dapat
profitabilitas. Namun hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Noviawan dan Septiani (2013) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan variabel
(H8) yang menyatakan Good Corporate Governance dengan manajemen laba sebagai variabel
perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-
2016. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai t hitung sebesar -2,648 lebih besar dari ttabel
dengan tingkat signifikan 0,05 yaitu sebesar 1,996 (-2,648 ≥ 1,996). Oleh karena itu dapat
disimpulkan bahwa variabel manajemen laba merupakan variabel intervening antara ukuran
memiliki kemampuan dalam menghasilkan laba yang baik. Pengaruh yang negatif ini
diakibatkan oleh semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka perusahaan tersebut akan
membutuhkan biaya yang semakin besar untuk menjalankan aktivitas operasionalnya (Sari dan
Budiasih, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Siregar dan Utama (2005) juga menunjukkan
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Siregar dan Utama (2005) yang menyatakan
bahwa manajemen laba merupakan variabel intervening antara ukuran perusahaan terhadap
profitabilitas. Namun hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Azlina (2010) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan variabel intervening antara
ukuran perusahaan terhadap peoditabilitas, sehingga hipotesis 9 (h9) yang menyatakan ukuran
manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Setelah
dilakukan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar -0,4212 lebih kecil dari ttabel dengan tingkat
signifikan 0,05 yaitu sebesar 1,996 (-0,4212 ≤ 1,996). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa
variabel manajemen laba bukan merupakan variabel intervening antara leverage terhadap
profitabilitas.
kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Semakin besar utang yang dimiliki perusahaan maka
semakin besar pula nilai leverage suatu perusahaan. Nilai leverage yang tinggi
mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki pinjaman yang semakin tinggi untuk operasional
perusahaan sehingga rasio ini digunakan sebagai indikator bagi investor dalam menentukan
investasi. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi dapat menyebabkan profit yang
didapatkan oleh perusahaan menjadi berkurang, sehingga fixed cost yang harus ditanggung oleh
perusahaan akan lebih besar daripada operating income yang dihasilkan dari hutang tersebut.
Kaitannya dengan manjemen laba, Hallak (2004) mengungkapkan perusahaan dengan leverage
tinggi memiliki pengawasan yang lemah terhadap manajemen yang menyebabkan manajemen
dapat membuat keputusan sendiri, dan juga menetapkan strategi yang kurang tepat. [Link]
dimana manajemen laba sebagai variabel intervening. Artinya jika perusahaan memiliki
leverage yang tinggi maka tindakan manajemen laba yang dilakukan akan tetap atau konstan
Hasil penelitian ini mendukung penilitian yang dilakukan oleh (Astuti, 2017) yang
menyatakan bahwa manajemen laba bukan variabel intervening antara leverage terhadap
manajemen laba. Namun penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Martono (2002) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan variabel intervening
antara leverage terhadap profitabilitas, sehingga hipotesis 10 (H10) yang menyatakan leverage
dengan manajemen laba sebagai variabel intervening berpengaruh positif signifikan terhadap
profitabilitas, ditolak.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat
kecenderungan bahwa kedudukan direksi biasanya sangat kuat, bahkan ada direksi
yang enggan membagi wewenang serta tidak memberikan informasi yang memadai
kepada komisaris independen, sehingga hal tersebut menjadi kendala yang cukup
Pengawasan yang ketat dari pemerintah, analis, dan investor yang ikut menjalankan
yang merupakan salah satu teknik dalam manajemen laba. Hal ini dikarenakan,
dengan pengawasan yang ketat tersebut jika manajer melakukan praktik manajemen
laba besar kemungkinan akan diketahui oleh pemerintah, analis, dan investor
sehingga hal ini dapat merusak citra dan kredibilitas manajer perusahaan tersebut.
adalah obyektif yakni tidak terikat oleh kepentingan dan pihak manapun. Ketika
dewan direksi serta laporan keuangan perusahaan juga akan semakin ketat dan
obyektif, sehingga manajemen akan selalu bertindak sesuai tujuan perusahaan. Hal
ini akan meningkatkan kinerja perusahaan dan penilaian pasar terhadap aktiva
perusahaan.
dan memprediksi peningkatan profitabilitas. Ukuran perusahaan dalam hal ini total
aktiva, total karyawan dan total penjualan yang meningkat dapat dimaksimalkan
banding dengan total modal sendiri sehingga berdampak semakin besar beban
perusahaan terhadap pihak luar (kreditur), berupa beban bunga. Selain itu, terdapat
7. Manajemen laba yang diukur dengan akrual modal kerja tidak berpengaruh
manajemen laba yang hanya menggunakan penjualan sebagai deflator akrual modal
kerja sehingga menjadi kurang komprehensif ketika pengukuran manajemen laba hanya
terhadap profitabilitas.
tersebut akan membutuhkan biaya yang semakin besar untuk menjalankan aktivitas
10. Manajemen laba bukan variabel intervening antara leverage terhadap profitabilitas.
juga menetapkan strategi yang kurang tepat, jika perusahaan memiliki leverage
yang tinggi maka tindakan manajemen laba yang dilakukan akan tetap atau konstan
Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan analisis yang telah dilakukan
terfokus pada informasi keuangan. Investor dapat melihat aspek informasi lain
salah satu pertimbangan keputusan investasi. Hal ini dikarenakan peran mekanisme
penelitian ini dan memperbanyak jumlah sampel serta tahun pengamatan untuk
mendapatkan hasil yang lebih maksimal, selain itu juga dapat menggunakan proksi
yang lain selain proporsi dewan komisaris independen, logaritma natural, debt to
assets ratio, dan akrual modal kerja untuk mengukur good corporate governance,
Hasil penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan diantaranya sebagai berikut :
1. Penelitian ini hanya menggunakan sampel dari perusahaan manufaktur sub sektor
makanan dan minuman dalam kurun waktu 5 tahun, sehingga sampel penelitian
menjadi sangat terbatas dan hanya mencerminkan keadaan jangka pendek serta
komisaris independen saja, sehingga untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
corporate governance.
3. Alat ukur manajemen laba menggunakan akrual modal kerja, dimana hanya
KODE UD KODE UD
DKI PDKI*100 DKI PDKI*100
EMITEN K EMITEN K
ALTO 1 3 33,33 ALTO 1 3 33,33
AISA 2 5 40 AISA 2 6 33,33
CEKA 1 3 33,33 CEKA 1 4 25
DLTA 2 5 40 DLTA 2 5 40
ICBP 3 8 37,5 ICBP 3 8 37,5
INDF 3 8 37,5 INDF 3 7 42,86
MLBI 3 7 42,86 MLBI 3 7 42,86
MYOR 2 4 50 MYOR 2 5 40
PSDN 2 6 33,33 PSDN 2 6 33,33
ROTI 1 3 33,33 ROTI 1 3 33,33
SKBM 1 3 33,33 SKBM 1 3 33,33
SKLT 1 3 33,33 SKLT 1 3 33,33
STTP 1 2 50 STTP 1 2 50
ULTJ 1 3 33,33 ULTJ 1 3 33,33
RATA - RATA 37,94 RATA - RATA 36,54
KODE UD KODE UD
DKI PDKI*100 DKI PDKI*100
EMITEN K EMITEN K
ALTO 1 3 33,33 ALTO 1 3 33,33
AISA 1 4 25 AISA 2 4 50,00
CEKA 1 3 33,33 CEKA 1 3 33,33
DLTA 2 6 33,33 DLTA 1 3 33,33
ICBP 3 7 42,86 ICBP 3 7 42,86
INDF 3 7 42,86 INDF 3 8 37,50
MLBI 4 8 50 MLBI 4 7 57,14
MYOR 2 5 40 MYOR 1 3 33,33
PSDN 2 6 33,33 PSDN 2 5 40,00
ROTI 1 3 33,33 ROTI 1 3 33,33
SKBM 1 3 33,33 SKBM 1 3 33,33
SKLT 1 3 33,33 SKLT 1 3 33,33
STTP 1 3 33,33 STTP 1 3 33,33
ULTJ 1 3 33,33 ULTJ 1 3 33,33
RATA – RATA 35,77 RATA - RATA 37,68
KODE UD
DKI PDKI*100
EMITEN K
ALTO 1 3 33,33
AISA 1 4 25,00
CEKA 1 3 33,33
DLTA 1 3 33,33
ICBP 3 6 50,00
INDF 3 6 50,00
MLBI 4 7 57,14
MYOR 1 3 33,33
PSDN 2 6 33,33
ROTI 1 3 33,33
SKBM 1 3 33,33
SKLT 1 3 33,33
STTP 1 2 50,00
ULTJ 1 3 33,33
RATA - RATA 38,01
makanan dan minuman yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016
Ln Total Asset
KODE KODE
TOTAL ASET LN TOTAL ASET LN
EMITEN EMITEN
AISA [Link].000 28,98365 AISA [Link].000 29,24462
ALTO [Link] 27,51607 ALTO [Link].759 28,03816
CEKA [Link].504 27,65834 CEKA [Link].747 27,69833
DLTA 745.306.835 20,42931 DLTA 867.040.802 20,58060
ICBP [Link].000 30,50760 ICBP [Link].000 30,68820
INDF [Link].000 31,71404 INDF [Link].000 31,98892
MLBI [Link].000 27,77256 MLBI [Link].000 28,20884
MYOR [Link].903 29,74758 MYOR [Link].000 29,90420
PSDN [Link] 27,24919 PSDN [Link] 27,24805
ROTI [Link].223 27,81745 ROTI [Link].108 28,23133
SKBM [Link] 26,38956 SKBM [Link] 26,93317
SKLT [Link] 26,24371 SKLT [Link] 26,43366
STTP [Link].890 27,85404 STTP [Link].892 28,01632
ULTJ [Link].029 28,51512 ULTJ [Link].142 28,66478
RATA - RATA 27,74 RATA - RATA 27,99
KODE KODE
TOTAL ASET LN TOTAL ASET LN
EMITEN EMITEN
AISA [Link].000 29,62869 AISA [Link].000 29,83500
ALTO [Link].858 27,84537 ALTO [Link].164 27,79673
CEKA [Link].341 27,88112 CEKA [Link].015 28,02699
DLTA 991.947.134 20,71518 DLTA [Link] 20,76087
ICBP [Link].000 30,84630 ICBP [Link].00
INDF [Link].000 32,08466 0 30,91045
MLBI INDF [Link].00
[Link].000 28,43349
0 32,15098
MYOR [Link].334 29,96230 MLBI [Link].000 28,37336
PSDN [Link] 27,15448 MYOR [Link].22
ROTI [Link].216 28,39318 1 30,05960
SKBM [Link] 27,20481 PSDN [Link] 27,15363
SKLT [Link] 26,52712 ROTI [Link].034 28,62661
STTP [Link].895 28,16177 SKBM [Link] 27,36247
ULTJ [Link].355 28,70161 SKLT [Link] 26,65580
RATA - RATA 28,11 STTP [Link].170 28,28312
ULTJ [Link].248 28,89515
RATA - RATA 28,21
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
e) Data Ukuran Perusahaan Tahun 2016
KODE
TOTAL ASET LN
EMITEN
AISA [Link].000 29,85614
ALTO [Link].823 27,78382
CEKA [Link].418 27,98587
DLTA [Link] 20,90375
ICBP [Link].000 30,99493
INDF [Link].000 32,03987
MLBI [Link].000 28,45302
MYOR [Link].142 30,18999
PSDN [Link] 27,20606
ROTI [Link].718 28,70248
SKBM [Link].004 27,63268
SKLT [Link] 27,06581
STTP [Link].941 28,47964
ULTJ [Link].365 29,07540
RATA – RATA 28,31
Dan Minuman yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016
Total Hutang
Debt to Equity Ratio = X 100%
Ekuitas
KODE LEVERAGE*10
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA
EMITEN 0
AISA [Link].000 [Link].000 47,42
ALTO [Link] [Link] 15,45
CEKA [Link] [Link].504 54,91
DLTA 147.095.322 745.306.835 19,74
ICBP [Link].000 [Link].00
0 32,48
INDF [Link].00 [Link].00
0 0 42,45
MLBI [Link] [Link].000 71,37
MYOR [Link].665 [Link].903 63,05
PSDN [Link] [Link] 40,00
ROTI [Link] [Link].223 44,68
SKBM [Link] [Link] 55,81
SKLT [Link] [Link] 48,15
STTP [Link] [Link].890 53,62
ULTJ [Link] [Link].029 30,75
RATA - RATA 44,28
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
b) Data Leverage tahun 2013
KODE
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA LEVERAGE*100
EMITEN
AISA [Link].000 [Link].000 53,06
ALTO [Link] [Link].759 63,91
CEKA [Link] [Link].747 50,61
DLTA 190.482.809 867.040.802 21,97
ICBP [Link].000 [Link].000 37,62
INDF [Link].000 [Link].000 19,62
MLBI [Link] [Link].000 44,59
MYOR [Link].823 [Link].000 59,90
PSDN [Link] [Link] 38,75
ROTI [Link].437 [Link].108 56,80
SKBM [Link] [Link] 59,59
SKLT [Link] [Link] 53,76
STTP [Link] [Link].892 52,78
ULTJ [Link] [Link].142 28,33
RATA - RATA 45,81
KODE
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA LEVERAGE*100
EMITEN
AISA [Link].000 [Link].000 50,90
ALTO [Link] [Link].858 57,01
CEKA [Link] [Link].341 58,14
DLTA 227.473.881 991.947.134 22,93
ICBP [Link].000 [Link].000 39,62 Sumber :
INDF [Link].000 [Link].000 52,03 Data
MLBI [Link].000 [Link].000 75,18 sekunder
MYOR [Link].545 [Link].334 60,15 diolah
PSDN [Link] [Link] 39,03 tahun 2018
ROTI [Link].472 [Link].216 55,20
SKBM [Link] [Link] 50,79
SKLT [Link] [Link] 53,75
STTP [Link] [Link].895 52,03
ULTJ [Link] [Link].355 22,35
RATA - RATA 49,22
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
d) Data leverage Tahun 2015
KODE
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA LEVERAGE*100
EMITEN
AISA [Link].000 [Link].000 56,22
ALTO [Link] [Link].164 57,04
CEKA [Link] [Link].015 56,93
DLTA 188.700.435 [Link] 18,17
ICBP [Link].000 [Link].000 38,30
INDF [Link].000 [Link].000 53,04
MLBI [Link].000 [Link].000 63,52
MYOR [Link].034 [Link].221 54,20
PSDN [Link] [Link] 47,72
ROTI [Link].162 [Link].034 56,08
SKBM [Link] [Link] 56,04
SKLT [Link] [Link] 59,68
STTP [Link] [Link].170 47,45
ULTJ [Link] [Link].248 20,97
RATA - RATA 48,96
KODE
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA LEVERAGE*100
EMITEN
AISA [Link].000 [Link].000 53,92
ALTO [Link] [Link].823 58,73
CEKA [Link] [Link].418 37,73
DLTA 185.422.642 [Link] 15,48
ICBP [Link].000 [Link].000 35,20
INDF [Link].000 [Link].000 46,53
MLBI [Link].000 [Link].000 63,93
MYOR [Link].077 [Link].142 51,52
PSDN [Link] [Link] 57,13
ROTI [Link].692 [Link].718 50,58
SKBM [Link] [Link].004 63,22
SKLT [Link] [Link] 47,88
STTP [Link].271 [Link].941 49,99
ULTJ [Link] [Link].365 17,69
RATA - RATA 46,40
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
Lampiran 4. Perkembangan Manajemen Laba pada perusahaan Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman yang
Manajemen laba (ML) = Akrual Modal kerja (t) / Penjualan periode (t)
KODE
AKRUAL MANAJEMEN
EMITE ∆AL ∆HL ∆KAS PENJUALAN
MODAL KERJA LABA
N
AISA [Link].000 [Link] [Link] [Link] [Link].000 10,42
ALTO -[Link] -[Link] [Link] -[Link] [Link] -5,62
CEKA -[Link] [Link] 14063197429 -[Link] [Link].192 -5,83
DLTA 106.065.141 33.861.394 -18.615.326 90.819.073 879.253.383 10,33
ICBP [Link].000 [Link].000 [Link].000 -[Link].000 [Link].000 -3,66
INDF [Link].000 [Link].000 [Link] [Link].000 [Link].000 6,88
MLBI [Link] [Link] 440.000.000 -[Link] [Link].000 -25,31
MYOR [Link] [Link] -[Link].329 [Link] [Link].238 5,57
PSDN -[Link] -[Link] -[Link] -[Link] [Link] -0,83
ROTI [Link] -12588736589 [Link] [Link] [Link].697 0,40
SKBM [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].724 0,37
SKLT [Link] [Link] -[Link] -855.351.782 [Link] -0,13
STTP [Link] -[Link] -[Link] [Link] [Link].350 8,14
ULTJ [Link] -[Link] -[Link] [Link] [Link].423 8,72
RATA - RATA 0,68
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
d) Data Manajemen Laba Tahun 2015
KODE
AKRUAL MODAL MANAJEMEN
EMITE ∆AL ∆HL ∆KAS PENJUALAN
KERJA LABA
N
AISA [Link] [Link].000 -[Link] -[Link] [Link].000 -2,37
ALTO -[Link] -[Link] -[Link] -[Link] [Link] -6,95
CEKA [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link].354 3,41
DLTA 48.693.704 -54.670.124 79.725.095 23.638.733 [Link] 1,50
ICBP [Link] -[Link] [Link] [Link] [Link].000 0,72
INDF -[Link].000 [Link].000 -[Link].000 -[Link].000 [Link].000 -63,16
MLBI -[Link] -[Link] [Link] [Link] [Link].000 2,54
MYOR [Link] [Link] [Link] -[Link] [Link].847 -0,40
PSDN -[Link] [Link] -[Link] -[Link] [Link] -34,99
ROTI [Link] [Link] [Link] -[Link] [Link].899 -2,22
SKBM -[Link] [Link] -[Link] -[Link] [Link].664 -4,54
SKLT [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link] 1,27
STTP [Link] [Link] 649.480.412 [Link] [Link].656 2,34
ULTJ [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].171 0,48
RATA - RATA -7,31
Makanan Dan Minuman yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016
Descriptive Statistics
Unstandardized Residual
N 64
Mean .0000000
Normal Parametersa,b
Std. Deviation .06587405
Absolute .076
Most Extreme Differences Positive .042
Negative -.076
Kolmogorov-Smirnov Z .604
Asymp. Sig. (2-tailed) .858
Coefficientsa
Model Summaryb
Unstandardized Residual
N 67
Mean .0000000
Normal Parametersa,b
Std. Deviation 9.46617568
Absolute .094
Most Extreme Differences Positive .094
Negative -.086
Kolmogorov-Smirnov Z .768
Asymp. Sig. (2-tailed) .597
Coefficientsa
Model Summaryb
Coefficients a