0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
255 tayangan146 halaman

Pengaruh GCG dan Leverage pada Profitabilitas

Dokumen tersebut membahas tentang kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan rasio profitabilitas seperti ROA. Ia menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi profitabilitas yaitu good corporate governance, ukuran perusahaan, leverage, dan manajemen laba. Penelitian ini akan meneliti pengaruh ketiga faktor eksternal tersebut terhadap profitabilitas dengan memodelkan manajemen laba sebagai variabel intervening.

Diunggah oleh

Mochi x Mochi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
255 tayangan146 halaman

Pengaruh GCG dan Leverage pada Profitabilitas

Dokumen tersebut membahas tentang kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan rasio profitabilitas seperti ROA. Ia menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi profitabilitas yaitu good corporate governance, ukuran perusahaan, leverage, dan manajemen laba. Penelitian ini akan meneliti pengaruh ketiga faktor eksternal tersebut terhadap profitabilitas dengan memodelkan manajemen laba sebagai variabel intervening.

Diunggah oleh

Mochi x Mochi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kinerja keuangan merupakan kemampuan atau prestasi, prospek pertumbuhan serta potensi

perusahaan dalam menjalankan usahanya yang secara finansial ditunjukkan dalam laporan

keuangan (Mulyadi, 2009:428). Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dilihat dari berbagai

jenis rasio yang digunakan, namun pada dasarnya kinerja keuangan perusahaan sering diukur

dengan rasio profitabilitas, dimana kinerja keuangan diukur dengan membandingkan laba bersih

perusahaan dari tahun ke tahun.

Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari

keuntungan (Kasmir, 2013:196). Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas

manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan

pendapatan investasi. Profitabilitas suatu perusahaan di pengaruhi oleh berbagai faktor, menurut

Windah (2013), faktor-faktor yang mempengaruhi profitabilitas antara lain komposisi

kepemilikan aktiva, ukuran perusahaan, tingkat inflasi, harga jual komoditi, efisiensi dan

efektivitas penggunaan sumber daya perusahaan, kesempatan bertumbuh perusahaan, nilai tukar

kurs rupiah, serta good corporate governance.

Selain faktor – faktor diatas, Brata (2015) menambahkan leverage sebagai salah satu faktor

yang mempengaruhi profitabilitas karena rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh mana

kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban dalam bentuk utang terhadap modal yang

dimiliki perusahaan, juga leverage merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk
meningkatkan laba. Oleh karena itu dalam hal ini good corporate governance, ukuran

perusahaan, dan leverage dipilih untuk diteliti pengaruhnya terhadap profitabilitas.

Rasio profitabilitas dalam penelitian ini diproksikan dengan Return On Asset (ROA). ROA

digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan perusahaan atas keseluruhan dana yang

digunakan untuk aktivitas operasional yang bertujuan menghasilkan laba dalam perusahaan

(Utami, 2011). Para manajer yang mengelola laporan keuangan khususnnya laporan laba rugi

akan berusaha mengatur laba yang dilaporkannya dengan tujuan dapat memaksimalkan jumlah

bonus yang akan diterima (Sukarta, 2007:41 dalam Indriani, 2014).

Peningkatan profitabilitas perusahaan membutuhkan penerapan pengelolaan perusahaan

yang baik maka perusahaan perlu mengimplementasikan Good Corporate Governance (GCG).

Good Corporate Governance merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan

untuk menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder (Monks dalam Kaihatu,

2006). Boediono (2005) juga menjelaskan bahwa good corporate governance memiliki

kemampuan dalam kaitannya menghasilkan suatu laporan keuangan yang memiliki kandungan

informasi laba. Laporan keuangan harus menunjukkan informasi yang sebenarnya, agar tidak

menyesatkan pihak pengguna laporan. Kebijakan dan keputusan yang diambil akan berpengaruh

terhadap penilaian kinerja (Ujiyantho dan Pramuka 2007). Apabila konsep ini diterapkan dengan

baik maka diharapkan pertumbuhan ekonomi akan terus menanjak seiring dengan transparansi

pengelolaan perusahaan yang makin baik dan nantinya menguntungkan banyak pihak (Nasution

dan Setiawan, 2007).

Dalam penelitian ini good corporate governance di proksikan dengan proporsi dewan

komisaris independen, karena anggota dewan komisaris independen merupakan anggota dewan

komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya, dan pemegang
saham pengendali serta bebas dari hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya

untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata untuk kepentingan perseroan.

Ukuran perusahaan (firm size) adalah salah satu kriteria yang dipertimbangkan oleh investor

dalam strategi berinvestasi. Ukuran perusahaan dapat digunakan sebagai alat bantu mengukur

besar kecilnya perusahaan. Terdapat dua pandangan tentang bentuk ukuran perusahan terhadap

manajemen laba. Pandangan pertama, ukuran perusahaan yang kecil dianggap lebih banyak

melakukan praktik manajemen laba daripada perusahaan besar. Hal ini dikarenakan perusahaan

kecil cenderung ingin memperlihatkan kondisi perusahaan yang selalu berkinerja baik agar

investor menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Perusahaan yang besar lebih

diperhatikan oleh masyarakat sehingga akan lebih berhati-hati dalam melakukan pelaporan

keuangan sehingga berdampak perusahaan tersebut melaporkan kondisinya lebih akurat

(Nasution dan Setiawan, 2007 dalam Jao dan Pagalung, 2011:44). Akan tetapi, pandangan kedua

memandang ukuran perusahan mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen laba. Watts and

Zimmerman, (1990) dalam Jao dan Pagalung (2011:44) menyatakan bahwa perusahaan-

perusahaan besar yang memiliki biaya politik tinggi lebih cenderung memilih metode akuntansi

untuk mengurangi laba yang dilaporkan dibandingkan perusahaan-perusahaan kecil.

Selain good corporate governance dan ukuran perusahaan, Salah satu faktor yang

mempengaruhi profitabilitas adalah leverage (Brata, 2015). Leverage merupakan salah satu

alternatif investor untuk melihat kemampuan dan risiko perusahaan. Brigham dan Houston

(dalam Agustia, 2013) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki rasio hutang relatif tinggi

akan memiliki ekspektasi pengembalian yang juga lebih tinggi ketika perekonomian berada pada

kondisi yang normal, namun memiliki risiko kerugian ketika ekonomi mengalami resesi dengan
memperoleh dana melalui hutang, para pemegang saham dapat mempertahankan kendali mereka

atas perusahaan tersebut dengan sekaligus membatasi investasi yang mereka tanamkan.

Leverage merupakan tingkat sejauh mana sekuritas dengan utang digunakan dalam struktur

modal perusahaan. Leverage keuangan harus dianalisis untuk melihat sebaik apa dana ditangani,

Bauran dana jangka pendek dan jangka panjang yang diperoleh dari luar harus sesuai dengan

tujuan dan kebijakan perusahaan. Jika penanganan dana tersebut tidak dilakukan dengan baik,

maka leverage keuangan perusahaan dapat memicu pihak manajemen melakukan manajemen

laba.

Salah satu yang menjadi dasar pertimbangan manajemen dalam pengambilan keputusan

ekonomi yang berguna bagi pihak internal dan eksternal adalah laba. Kebanyakan investor hanya

menaruh perhatian pada informasi laba, namun tanpa memperhatikan bagaimana laba tersebut

dihasilkan. Perhatian yang besar dari investor terhadap tingkat laba perusahaan menjadi salah

satu celah yang dimanfaatkan manajer untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja

perusahaannya dengan cara melakukan manajemen laba (earning management).

Menurut Sulistyanto (2008) : “Manajemen laba adalah upaya manajer perusahaan untuk

mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan

untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan”.

Alasan peneliti menggunakan manajemen laba sebagai variabel intervening adalah karena

manipulasi laba merupakan salah satu topik akuntansi yang paling banyak dipelajari dan diteliti.

Hal ini terjadi karena peran laba yang penting dalam laporan keuangan, sesuai dengan Statement

of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1, informasi laba merupakan perhatian utama

untuk menaksir kinerja atau pertanggungjawaban manajemen. Selain itu informasi laba juga
membantu pemilik atau pihak lain dalam menaksir earnings power perusahaan di masa yang

akan datang.

Hal ini diperkuat dengan research gap beberapa penelitian yang dilakukan dalam meneliti

manajemen laba terhadap profitabilitas. Penelitian yang dilakukan oleh Salim (2015)

menunjukkan bahwa manajemen laba berdampak positif terhadap profitabilitas, hasil yang sama

juga ditunjukkan oleh penelitian Maha (2014) dimana manajemen laba terbukti secara signifikan

berpengaruh terhadap profitabilitas.

Dalam penelitian ini manajemen laba diproksikan dengan akrual modal kerja, dimana akrual

modal kerja lebih tepat digunakan sebagaimana yang telah dikaji oleh Peasnell et al (2000). Hal

ini sesuai dengan pendapat McNichols (2000) serta Dechow dan Skinner (2000) yang

menyatakan bahwa manajemen laba lebih baik diproksi dengan spesifik akrual dan

menggunakan model yang lebih sederhana (tidak rumit).

Beberapa penelitian terdahulu telah dilakukan untuk meneliti pengaruh good corporate

governance terhadap profitabilitas. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rumapea (2017)

mengenai pengaruh Corporate Governance terhadap profitabilitas perusahaan, Hasil penelitian

ini menunjukkan bahwa Good Corporate Governance berpengaruh terhadap rasio profitabilitas,

namun hasil tersebut bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wicaksono

(2014) yang menyatakan bahwa Good Corporate Governance tidak berpengaruh signifikan

terhadap profitabilitas. Penelitian yang dilakukan oleh Putri, Safitri, dan Wijaya (2015)

menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan leverage tidak berpengaruh terhadap profitabilitas,

namun hasil yang berbeda ditunjukkan oleh penelitian Setiadewi dan Purbawangsa (2015) bahwa

ukuran perusahaan dan leverage berpengaruh positif terhadap profitabilitas.


Dalam penelitian  ini, peneliti memilih perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi,

khususnya subsektor makanan dan minuman. Alasan peneliti memilih perusahaan manufaktur

sub sektor makanan dan minuman sebagai objek penelitian adalah karena perusahaan food &

beverages memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Kebutuhan akan

produk makanan dan minuman akan selalu ada karena merupakan salah satu kebutuhan pokok.

Selain itu sektor ini merupakan salah satu sektor yang bertahan di tengah kondisi perekonomian

Indonesia, sehingga prospek yang dimiliki oleh perusahaan sektor ini sangat baik karena pada

dasarnya setiap orang membutuhkan makanan dan minuman dalam hidup (Devi dan Putu,

2012:2).

Sebagai gambaran awal mengenai kondisi perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan

minuman di Bursa Efek Indonesia pada tahun periode penelitian, maka Tabel 1.1. berikut

memuat data tentang perusahaan sampel.

Tabel 1.1. GCG, Ukuran Perusahaan, Leverage , Manajemen Laba dan Return On Assets

pada Perusahaan Manufaktur sub sektor makanan dan minuman di BEI tahun 2012-2016.

Ukuran
GCG Leverage Manajemen ROA
TAHUN Perusahaan
(%) (%) laba (%) (%)
(kali)
2012 37,94 27,74 44,28 2,28 19,45
2013 36,54 27,99 45,81 (67,95) 17,62
2014 35,77 28,11 49,22 0,68 12,74
2015 37,68 28,21 48,96 (7,31) 11,27
2016 38,01 28,31 46,4 (4,31) 14,3
Rata – rata 37,19 28,07 46,93 (15,32) 15,08
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018

Berdasarkan tabel 1.1. Dapat diketahui bahwa nilai rata – rata GCG pada perusahaan

Manufaktur sub sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016

menunjukkan nilai yang cenderung menurun, yaitu pada tahun 2012 sebesar 37,94% turun
menjadi 36,54% di tahun 2013, dan 35,77% di tahun 2014. GCG mengalami kenaikan di tahun

2015 sebesar 37,68%, dan terus mengalami kenaikan sampai 38,01% di tahun 2016, dengan rata

– rata 37,19,%. Sejalan dengan GCG, rata – rata manajemen laba menunjukkan fluktuasi yang

cenderung menurun. Bisa dilihat dari tahun 2012 nilai manajemen laba sebesar 2,28%

mengalami penurunan di tahun 2013 menjadi -67,95%. Nilai manajemen laba di tahun 2014

mengalami peningkatan menjadi 0,68%, mengalami penurunan di tahun 2015 menjadi -7,31%

dan kembali meningkat di tahun 2016 menjadi -4,31% dengan rata – rata manajemen laba tahun

2012-2016 sebesar 15,32%. Adapun pergerakan nilai GCG dan manajemen laba tersebut sejalan

dengan nilai rata – rata ROA yang berfluktuasi cenderung menurun dimana pada tahun 2012

ROA mengalami penurunan dari 19,45% menjadi 17,62% di tahun 2013, di tahun 2014 dan 2015

ROA kembali mengalami penurunan dengan nilai masing – masing sebesar 12,74% dan 11,27%

dan baru meningkat di tahun 2016 sebesar 14,3% dengan rata – rata ROA dari tahun 2012-2016

menjadi 15,08%.

Berbeda dengan pergerakan nilai rata – rata GCG dan ROA, pergerakan nilai rata – rata

ukuran perusahaan dan leverage mengalami fluktuasi yang cenderung meningkat. Dimana

pergerakan nilai rata – rata pada ukuran perusahaan mengalami peningkatan dari tahun 2012

sebesar 27,74 kali menjadi 27,99 kali di tahun 2013. Pergerakan nilai ukuran perusahaan terus

mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Di tahun 2014 nilai ukuran perusahaan sebesar 28,11 kali naik menjadi 28,21 di tahun 2015,

dan 28,31 kali di tahun 2016, dengan rata – rata ukuran perusahaan pada tahun 2012-2016

sebesar 28,31 kali. Hal yang sama juga terjadi pada pergerakan nilai rata-rata leverage yang

berfluktuasi cenderung meningkat.


Dimana pada tahun 2012 nilai leverage adalah 44,28% meningkat menjadi 45,81% di tahun

2013. Nilai leverage kembali meningkat di tahun 2014 dengan nilai 49,22%, dan mengalami

penurunan di tahun 2015 sebesar 48,96% menjadi 46,4% di tahun 2016, dengan rata – rata

leverage dari tahun 2012-2016 sebesar 46,93%. Pergerakan nilai data ukuran perusahaan dan

leverage tersebut tidak sejalan dengan pergerakan nilai ROA yang cenderung menurun.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian dengan judul

“Pengaruh Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, Dan Leverage Terhadap

Profitabilitas Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan

Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

Tahun 2012-2016”.

1.2. Identifikasi Masalah

1. Rata – rata GCG yang ditunjukkan mengalami fluktuasi yang cenderung menurun,

sejalan dengan rata - rata ROA yang cenderung menurun.

2. Rata – rata ukuran perusahaan yang ditunjukkan mengalami fluktuasi yang cenderung

meningkat berbeda dengan rata - rata ROA yang cenderung menurun.

3. Rata – rata leverage yang ditunjukkan mengalami fluktuasi yang cenderung meningkat

berbeda dengan rata - rata ROA yang cenderung menurun.

4. Rata – rata manajemen laba yang ditunjukkan mengalami fluktuasi yang cenderung

menurun diikuti oleh nilai ROA yang cenderung menurun juga.

1.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka perumusan

masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :


1. Apakah good corporate governance berpengaruh terhadap manajemen laba?

2. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba?

3. Apakah leverage berpengaruh terhadap manajemen laba?

4. Apakah good corporate governance berpengaruh terhadap profitabilitas?

5. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap profitabilitas?

6. Apakah leverage berpengaruh terhadap profitabilitas?

7. Apakah manajemen laba berpengaruh terhadap profitabilitas?

8. Apakah good corporate governance berpengaruh terhadap profitabilitas melalui

manajemen laba sebagai variabel intervening?

9. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap profitabilitas melalui manajemen laba

sebagai variabel intervening?

10. Apakah leverage berpengaruh terhadap profitabilitas melalui manajemen laba sebagai

variabel intervening?

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengaruh good corporate governance terhadap manajemen laba.

2. Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba.

3. Untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap manajemen laba.

4. Untuk mengetahui pengaruh good corporate governance terhadap profitabilitas.

5. Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap profitabilitas.

6. Untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap profitabilitas.

7. Untuk mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap profitabilitas.


8. Untuk mengetahui pengaruh good corporate governance terhadap profitabilitas melalui

manajemen laba sebagai variabel intervening.

9. Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap profitabilitas melalui

manajemen laba sebagai variabel intervening.

10. Untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap profitabilitas melalui manajemen laba

sebagai variabel intervening.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1. Secara akademik

Merupakan salah satu syarat untuk mencapai kebulatan studi program Strata Satu (S1)

Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Mataram. Penelitian ini juga

diharapkan dapat menambah refrensi bukti empiris sebagai rekomendasi penelitian yang

dilakukan kedepannya.

1.5.2. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan berguna untuk melatih, mengembangkan dan meningkatkan

pengetahuan peneliti selama proses penelitian berlangsung dan selama menimba ilmu di

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis hingga mampu di implementasikan dalam kehidupan

bermasyarakat nantinya.

1.5.3. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan yang dapat digunakan dalam

menerapkan good corporate governance, ukuran perusahaan dan leverage, serta dapat

memberikan informasi tambahan informasi yang bermanfaat bagi manajemen sebagai

pertimbangan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan manajemen laba serta

pengaruhnya terhadap profitabilitas.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1. Landasan Teoritis

2.1.1. Profitabilitas

Profit dalam kegiatan operasional perusahaan merupakan elemen penting untuk menjamin

kelangsungan hidup perusahaan pada masa yang akan datang. Keberhasilan perusahaan dapat

dilihat dari kemampuan perusahaan untuk dapat bersaing dipasar. Setiap perusahaan

mengharapkan profit yang maksimal. Laba merupakan alat ukur utama kesuksesan suatu

perusahaan. Profitabilitas adalah hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang oleh

perusahaan.

Menurut Sutrisno (2009:16) “Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan keuntungan dengan semua modal yang bekerja didalamnya. Profitabilitas

menurut sofyan Syafri Harahap (2009:304) adalah “Menggambarkan kemampuan perusahaan

mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya yang ada seperti kegiatan

penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang perusahaan, dan lain sebagainya”.

Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2009:109) “Profitabilitas merupakan hasil akhir

dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan”.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan adalah kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan sumber daya yang ada didalam

perusahaan itu sendiri.


[Link]. Rasio Profitabilitas

Menurut Kasmir (2011:196) “Rasio Profitabilitas merupakan rasio untuk menilai

kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan”.

Rasio profitabilitas menurut J. Fred Weston dan Thomas [Link] (2010:237) adalah

mengukur efektivitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang dihasilkan dari

penjualan dan investasi, sedangkan rasio profitabilitas menurut Sutrisno (2009:222) adalah

rasio untuk mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat diperoleh oleh

perusahaan.

Berdasarkan teori diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa rasio profitabilitas merupakan

rasio untuk mengukur seberapa besar sebuah perusahaan mampu menghasilkan laba dengan

menggunakan semua faktor perusahaan yang ada didalamnya untuk menghasilkan laba yang

maksimal. Rasio profitabilitas ini yang biasanya dijadikan bahan pertimbangan investor dalam

menanamkan sahamnya disuatu perusahaan. Bila suatu perusahaan memiliki tingkat

profitabilitas yang tinggi terhadap pengembalian saham, maka seorang investor akan memiih

perusahaan tersebut untuk menanamkan sahamnya. Penjualan dan investasi yang besar sangat

diperlukan dan mempengaruhi besarnya rasio profitabilitas semakin besar aktivitas penjualan

dan investasi maka akan semakin besar pula rasio profitabilitasnya.

Menurut Kasmir (2008:199) ada empat jenis analisis utama yang digunakan untuk

menilai tingkat profitabilitas yakni terdiri dari :

1) Net Profit Margin

Menurut Riyanto (2013:336) “Net Profit Margin adalah suatu rasio yang mengukur

keuntungan netto per rupiah penjualan”. Menurut Riyanto (2013:336) “Net Profit

Margin adalah perbandingan antara net operating income dengan net sales. Net Profit
Margin merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan.

Rasio ini akan menggambarkan penghasilan bersih perusahaan berdasarkan total

penjualan bersih.

Rumus menghitung NPM :

Laba setela h pajak


NPM = Penjualan

2) Return On Asseys (ROA)

Return On Asset menurut Kasmir (2012:201) adalah “rasio yang menunjukan hasil atas

jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan”. Menurut Toto Prihadi (2008)

mengemukakan ROA bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam

mendaya gunakan aset untuk memperoleh laba dan mengukur hasil total untuk seluruh

kreditor dan pemegang saham selaku penyedia sumber dana. Menurut Toto Prihadi

(2008:68) “Return On Asset yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat laba

terhadap asset yang digunakan dalam menghasilkan laba tersebut”. Persentase ini

dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

Laba setela h pajak


ROA = Total aktiva

3) Return On Equity (ROE)

Menurut Brigham & Houston (2010) “Return On Equity yaitu rasio laba bersih

terhadap ekuitas biasa mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang

saham. Sedangkan menurut Tandelin “Return On Equity menggambar sejauh mana

kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang bisa diperoleh pemegang saham”.

Menurut Sawir (2009 : 20) “Return On Equity adalah rasio yang memperlihatkan
sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri secara efektif mengukur tingkat

keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemiliki modal sendiri atau pemegang

saham perusahaan”. Persentase ini dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

Laba setela h pajak


ROE = Modal sendiri

4) Earning Per Share (EPS)

Earning per share merupakan rasio yang menggambarkan jumlah rupiah yang

diperoleh untuk setiap lembar saham biasa (Syamsuddin, 2009:66). Menurut Sofyan

Syafri Harahap 2008 : 306 “Earning Per Share merupakan rasio yang menunjukan

berapa besar kemampuan per lembar saham dalam menghasilkan laba”. Oleh karena

itu pada umumnya perusahaan manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan

calon pemegang saham sangat tertarik akan Earning Per Share. Earning Per Share

merupakan suatu indikator keberhasilan suatu perusahaan. Rumus menghitung EPS

adalah sebagai berikut :

Laba setela h pajak


ROE = Jumla h lembar sa h am beredar

Dari berbagai macam rasio di atas, rasio yang akan digunakan oleh penulis dalam

penelitian ini adalah Return on Assets (ROA). Alasan penggunaan variabel ROA dalam

penelitian ini adalah karena ROA memiliki banyak keunggulan. ROA dapat mengukur

efisiensi penggunaan modal yang menyeluruh, yang sensitif terhadap setiap hal yang

mempengaruhi keadaan keuangan perusahaan (Isnaeni Ken Zuraedah, 2010:22).


Menurut Abdul Halim dan Supomo (2001: 151) keunggulan Return On Asset (ROA)

adalah sebagai berikut :

1) Perhatian manajemen dititik beratkan pada maksimalisasi laba atas modal yang

diinvestasikan.

2) ROA dapat dipergunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan

oleh setiap divisinya dan pemanfaatan akuntansi divisinya. Selanjutnya dengan ROA

akan menyajikan perbandingan berbagai macam prestasi antar divisi secara obyektif.

ROA akan mendorong divisi untuk menggunakan dalam memperoleh aktiva yang

diperkirakan dapat meningkatkan ROA tersebut.

3) Analisa ROA dapat juga digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing

produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

[Link]. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas

Menurut Windah (2013), faktor-faktor yang mempengaruhi profitabilitas antara lain :

1) Komposisi kepemilikan aktiva

2) Ukuran perusahaan

3) Tingkat inflasi

4) Harga jual komoditi

5) Efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya perusahaan

6) Kesempatan bertumbuh perusahaan

7) Nilai tukar kurs rupiah

8) Good corporate governance

Selain faktor – faktor diatas, Brata (2015) menambahkan leverage sebagai salah satu

faktor yang mempengaruhi profitabilitas karena rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh
mana kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban dalam bentuk utang terhadap modal

yang dimiliki perusahaan, juga leverage merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk

meningkatkan laba.

2.1.2. Manajemen Laba

Menurut Sugiri (1998) dalam Widyaningdyah (2001) membagi definisi manajemen laba

menjadi dua, yaitu :

 Definisi sempit : Manajemen laba dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan

metode akuntansi. Manajemen laba dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai

perilaku manajer untuk bermain dengan komponen discretionary accrual dalam

menentukan besarnya laba.

 Definisi luas : Manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan

(mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit usaha dimana manajer

bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas

ekonomi jangka panjang unit tersebut.

Scott (2009 ; 403) mendefinisikan manajemen laba sebagai berikut: “Earnings

management is the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some specific

objective”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa manajemen laba adalah suatu tindakan

manajer yang dilakukan melalui pilihan kebijakan akuntansi untuk memperoleh tujuan tertentu.

Menurut Sulistyanto (2008) : “Manajemen laba adalah upaya manajer perusahaan untuk

mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan

tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan”.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen laba

merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh manajer dengan cara memanipulasi data atau
informasi akuntansi agar jumlah laba yang tercatat dalam laporan keuangan sesuai dengan

keinginan manajer, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan perusahaan.

[Link]. Klasifikasi Manajemen Laba

Menurut Sastradipraja (2010 ; 33-34), manajemen laba diklasifikasikan sebagai berikut :

1) Cosmetic Earnings Managemen

Cosmetic Earnings Management terjadi jika manajer memanipulasi akrual yang tidak

memiliki konsekuensi cash flow. Teknik ini merupakan hasil dari kebebasan dalam

akuntansi akrual yang mungkin terjadi. Standar Akuntansi Keuangan dan mekanisme

pengawasan mengurangi kebebasan ini tetapi tidak mungkin untuk meniadakan pilihan

karena kompleksitas dan keragaman aktivitas usaha. Akuntansi akrual membutuhkan

estimasi dan pertimbangan (judgement) yang menyebabkan kebebasan manajer dalam

menetapkan angka akuntansi.

2) Real Earnings Management

Real Earnings Management terjadi jika manajer melakukan aktivitas dengan

konsekuensi cash flow. Insentif untuk melakukan earnings management

mempengaruhi keputusan investing dan financing oleh manajer. Real earnings

management lebih bermasalah dibandingkan dengan cosmetic earnings management

karena mencerminkan keputusan usaha yang sering kali mengurangi kekayaan

pemegang saham.
[Link]. Faktor Pendorong Dan Motivasi Manajemen Laba

Dalam positif accounting theory terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi terjadinya

manajemen laba, Watt dan Zimmerman (1986) dalam Rahmawati et al. (2006), yaitu :

1) Bonus Plan Hypothesis

Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu

bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan

earnings lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang

dilaporkan.

2) Debt Covenant Hypothesis

Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit cenderung

memilih metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba. Hal ini untuk

menjaga reputasi mereka dalam pandangan pihak eksternal.

3) Political Cost Hypothesis

Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut

memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan

laba yang tinggi pemerintah akan segera mengambil tindakan, misalnya, mengenakan

peraturan antitrust, menaikkan pajak pendapatan perusahaan, dan lain-lain.

Scott (2000) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba :

1) Bonus Purposes

Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara

oportunistic untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini.
2) Political Motivations

Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkanpada perusahaan

publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya

tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang lebih

ketat.

3) Taxation Motivations

Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata.

Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan.

4) Pergantian CEO

CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan untuk

meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan

memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.

5) Initital Public Offering (IPO)

Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan

manajer perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba dalam

prospektus mereka dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.

6) Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor

Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga

pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut

dalam kinerja yang baik.

[Link]. Model – Model Pengukuran Manajemen Laba

Manajemen laba biasanya diteliti dengan cara peneliti membentuk hipotesis dimana

manajemen laba kemungkinan bisa muncul dan menguji kemungkinan tersebut dengan
metode yang tepat. Berdasarkan riset-riset yang telah dilakukan, manajemen laba bisa

dideteksi dengan model - model sebagai berikut :

1) Model Healy

Pengujian Healy untuk manajemen laba dengan cara membandingkan rata-rata total

akrual (dibagi total aktiva periode sebelumnya). Healy (1985) menganggap non

discretionary accrual (NDA) tidak dapat diobservasi. Model untuk non discretionary

accrual adalah sebagai berikut :

NDA = 0 sehingga TA = NDA

2) Model De Angelo

Model De Angelo (1986) menguji manajemen laba dengan menghitung perbedaan

awal dalam total akrual dan dengan asumsi bahwa perbedaan pertama tersebut

diharapkan nol, yang berarti tidak ada manajemen laba. Model ini menggunakan total

akrual periode terakhir (dibagi total aktiva periode sebelumnya) untuk mengukur non

discretionary accrual.

NDAt = TAt-1

Keterangan :

NDAt = estimasi non discretionary accrual

TAt-1 = total accrual dibagi total aktiva 1 tahun sebelum tahun t

3) Model Jones

Jones (1991) mengajukan model yang menolak asumsi bahwa non discretionary

accrual adalah konstan. Model ini mencoba mengontrol pengaruh perubahan keadaan

ekonomi perusahaan pada non discretionary accrual sebagai berikut :


NDAt = α1 1/ TAt-1 + α2 ∆ REVt / TAt-1 + α3 PPEt / TAt-1

Keterangan :

∆ REVt = revenue pada tahun t dikurangi revenue pada tahun t-1 dibagi total aktiva

tahun t-1.

PPEt = gross property plan and equipment pada tahun t dibagi total aktiva tahun t-1

At-1 = total aktiva tahun t-1

α1, α2, α3 = Firm-spesific parameters

4) Working Capital Accrual (WAC)

Menurut kajian McNichols (2000) serta Dechow dan Skinner (2000), proksi

manajemen laba yang mereka gunakan adalah model spesifik akrual yaitu akrual

modal kerja (working capital accrual). Penggunaan akrual modal kerja lebih tepat

sebagaimana yang telah dikaji oleh Peasnell et al. (2000). Discretionary accrual tidak

diestimasi berdasarkan kesalahan residual karena teknik tersebut dianggap relatif

rumit, oleh karena itu digunakan proksi rasio akrual modal kerja terhadap penjualan.

Alasan pemakaian penjualan sebagai deflator akrual modal kerja adalah karena

manajemen laba banyak terjadi pada akun penjualan sebagaimana yang diungkapkan

oleh Nelson et al. (2000). Penggunaan penjualan sebagai deflator juga dilakukan oleh

Friedlan (1994) yang memodifikasi model DeAngelo (1986) menjadi rasio antara

perubahan total akrual dengan penjualan. Manajemen laba diproksi berdasarkan rasio

akrual modal kerja dengan penjualan, yaitu :

Manajemen laba (ML) = Akrual Modal kerja (t) / Penjualan periode (t)

Keterangan :

Akrual modal kerja = ∆ AL - ∆ HL - ∆ Kas


∆ AL = Perubahan aktiva lancar pada periode t

∆ HL = Perubahan hutang lancar pada periode t

∆ Kas = Perubahan kas dan ekuivalen kas pada periode t.

Data akrual modal kerja dapat diperoleh langsung dari laporan arus kas aktivitas

operasi, sehingga investor dapat langsung memperoleh data tersebut tanpa melakukan

perhitungan yang rumit.

Proksi manajemen yang akan digunakan untuk dalam penelitian ini adalah model

spesifikasi akrual yaitu akrual modal kerja/working capital accrual yang juga digunakan

dalam penelitian Wiwik & Utami (2005).

2.1.3. Teori Keagenan

Menurut Jensen dan Meckling (1976) agency theory adalah sebuah kontrak antara

manajer (agent) dengan pemilik (principal). Agar hubungan kontraktual ini dapat berjalan

dengan lancar, pemilik akan mendelegasikan otoritas pembuatan keputusan kepada manajer.

Perencanaan kontrak yang tepat untuk menyelaraskan kepentingan manajer dan pemilik dalam

hal konflik kepentingan inilah yang merupakan inti dari agency theory.

Teori keagenan dilandasi oleh beberapa asumsi (Eisenhardt, 1989 dalam Emirzon, 2007).

Asumsi-asumsi tersebut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : (a) asumsi tentang sifat manusia,

(b) asumsi keorganisasian dan (c) asumsi informasi. Asumsi sifat manusia menekankan bahwa

manusia memiliki sifat mementingkan diri sendiri (selfinterest), manusia memiliki daya pikir

terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan manusia selalu

menghindari resiko (risk averse). Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota

organisasi, efisiensi sebagai kriteria efektivitas dan adanya asimetri informasi antara principal
dan agent. Asumsi informasi adalah bahwa informasi sebagai barang komoditi yang dapat

diperjualbelikan.

Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia dijelaskan bahwa masing-masing individu

semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik

kepentingan antara prinsipal dan agen. Pihak pemilik (principal) termotivasi mengadakan

kontrak untuk mensejahterahkan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat.

Sedangkan manajer (agent) termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan ekonomi dan

psikologinya, antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak

kompensasi. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan

dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat

kemakmuran yang dikehendaki.

Permasalahan yang timbul akibat adanya perbedaan kepentingan antara prinsipal dan

agen disebut dengan agency problems. Salah satu penyebab agency problems adalah adanya

asymmetric information. Asymmetric Information adalah ketidakseimbangan informasi yang

dimiliki oleh prinsipal dan agen, ketika prinsipal tidak memiliki informasi yang cukup tentang

kinerja agen sebaliknya, agen memiliki lebih banyak informasi mengenai kapasitas diri,

lingkungan kerja dan perusahaan secara keseluruhan (Widyaningdyah, 2001). Adanya asumsi

bahwa tiap pihak bertindak untuk memaksimalkan dirinya sendiri, mengakibatkan agen

memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimilikinya untuk menyembunyikan beberapa

informasi yang tidak diketahui oleh principal. Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang

terjadi antara principal dan agent mendorong agent untuk menyajikan informasi yang tidak

sebenarnya kepada principal, terutama jika informasi berkaitan dengan pengukuran kinerja

agent.
Teori keagenan berusaha untuk menjawab masalah keagenan yang terjadi jika pihak-

pihak yang saling bekerja sama memiliki tujuan dan pembagian kerja yang berbeda. Secara

khusus teori keagenan membahas tentang adanya hubungan keagenan, dimana suatu pihak

tertentu (principal) mendelegasikan pekerjaan kepada pihak lain (agent) yang melakukan

perkerjaan.

Isu corporate governance dalam penelitian ini di latarbelakangi oleh agency theory (teori

keagenan) yang menyatakan bahwa permasalahan agency muncul ketika kepengurusan suatu

perusahaan terpisah dari kepemilikannya. Dewan komisaris dan direksi yang berperan sebagai

agen dalam suatu perusahaan diberi kewenangan untuk mengurus jalannya perusahaan dan

mengambil keputusan atas nama pemilik. Dengan kewenangan yang dimiliki maka manajer

mempunyai kemungkinan untuk tidak bertindak yang terbaik bagi kepentingan pemilik karena

adanya perbedaan kepentingan (conflict of interest). Dengan kata lain, manajemen mempunyai

kepentingan yang berbeda dengan kepentingan pemilik (Riyanto, 2003).

Ide dasar pengelolaan agency theory memberikan cara pandang baru mengenai corporate

governance. Perusahaan ditunjukkan sebagai suatu hubungan kerja sama antara prinsipal

(pemegang saham atau pemilik perusahaan) dan agen (manajemen). Adanya vested interest

manajemen mengakibatkan perlunya proses check and balance untuk mengurangi kemungkinan

penyalahgunaan kekuasaan oleh manajemen.

2.1.4. Good Corporate Governance

Nasution dan Setiawan (2007) mendefinisikan corporate governance sebagai konsep

yang diajukan demi peningkatan kinerja perusahaan melalui supervisi atau monitoring kinerja

manajemen dan menjamin akuntabilitas manajemen terhadap stakeholder dengan mendasarkan

pada kerangka peraturan. Konsep corporate governance diajukan demi tercapainya pengelolaan
perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan. Bila konsep ini

diterapkan dengan baik maka diharapkan pertumbuhan ekonomi akan terus menanjak seiring

dengan transparansi pengelolaan perusahaan yang makin baik dan nantinya menguntungkan

banyak pihak.

Corporate governance muncul karena terjadi pemisahan antara kepemilikan dengan

pengendalian perusahaan, atau seringkali dikenal dengan istilah masalah keagenan.

Permasalahan keagenan dalam hubungannya antara pemilik modal dengan manajer adalah

bagaimana sulitnya pemilik dalam memastikan bahwa dana yang ditanamkan tidak diambil alih

atau diinvestasikan pada proyek yang tidak menguntungkan sehingga tidak mendatangkan

return. Corporate governance diperlukan untuk mengurangi permasalahan keagenan antara

pemilik dan manajer.

Adanya pemisahan kepemilikan oleh principal dengan pengendalian oleh agen dalam

sebuah organisasi cenderung menimbulkan konflik keagenan diantara principal dengan agen.

Jansen dan Meckling (1976), Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan bahwa laporan

keuangan yang dibuat dengan angka - angka akuntansi diharapkan dapat meminimalkan konflik

diantara pihak - pihak yang berkepentingan. Laporan keuangan yang dilaporkan oleh agen

sebagai pertanggungjawaban kinerjanya, dengan itu principal dapat menilai, mengukur, dan

mengawasi sampai sejauh mana agen tersebut bekerja untuk meningkatkan kesejahteraannya,

serta memberikan kompensasi kepada agen.

[Link]. Prinsip Good Corporate Governance

Menurut Wolfensohn (1999) terdapat empat prinsip utama yang terkandung dalam

mekanisme corporate governance untuk terselenggaranya praktik good gorporate

governance.
1) Fairness (Kewajaran)

Secara sederhana kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai perlakuan adil dan

setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian

serta peraturan pandangan yang berlaku. Fairness mencakup adanya kejelasan hak-hak

pemodal, sistem hukum dan penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor –

khususnya pemegang saham minoritas – dari berbagai bentuk kecurangan.

2) Transparancy (keterbukaan informasi)

Transparansi bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi, baik dalam proses

pengambilan keputusan, maupun dalam menggunakan informasi material dan relevan

mengenai perusahaan. Dalam mewujudkan transparansi itu sendiri, perusahaan harus

menyediakan informasi yang cukup, akurat, dan tepat waktu kepada berbagai pihak

yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut.

3) Accountability (akuntabilitas)

Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban organ

perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. Bila prinsip

accountability ini diterapkan secara efektif, maka ada kejelasan fungsi, hak,

kewajiban, wewenang, dan tanggungjawab antara pemegang saham, dewan komisaris,

serta direksi. Dengan adanya kejelasan inilah maka perusahaan akan terhindar dari

kondisi agency problem (benturan kepentingan peran).

4) Responsibility (Pertanggungjawaban)

Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (patuh) di dalam pengelolaan

perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang

berlaku. Peraturan yang berlaku di sini termasuk yang berkaitan dengan masalah
pajak, hubungan industrial, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan/keselamatan

kerja, standar penggajian, dan persaingan yang sehat.

Endri (2008) menambahkan satu prinsip corporate governance, yakni independency,

dimana perusahaan bertindak hanya untuk kepentingan perusahaannya saja, tidak dipengaruhi

oleh aktivitas-aktivitas yang mengarah pada timbulnya conflict of interest.

[Link]. Mekanisme Good Corporate Governance

Mekanisme merupakan cara kerja sesuatu secara tersistem untuk memenuhi persyaratan

tertentu. Mekanisme corporate governance merupakan suatu prosedur dan hubungan yang

jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang melakukan kontrol atau

pengawasan terhadap keputusan.

Mekanisme dalam pengawasan corporate governance menurut Barnhart dan Rosentein

(1998) dalam Naftalia (2013) dibagi dalam dua kelompok yaitu external dan internal

mechanism. Mekanisme eksternal corporate governance adalah sistem, aturan dan faktor

yang berada diluar kekuasaaan perusahaan yang mengontrol operasi perusahaan. Mekanisme

tersebut meliputi level debt financing dan pengendalian oleh pasar.

Sedangkan mekanisme internal adalah suatu sistem hukum, aturan dan faktor yang

dapat dikendalikan perusahaan dalam hal mengontrol operasi perusahaan. Mekanisme tersebut

meliputi kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris

independen, komite audit, dan kualitas audit.

1. Kepemilikan institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham oleh institusi dalam dan luar

negeri pada akhir tahun dalam suatu perusahaan. Kepemilikan institusional memiliki

kelebihan yakni profesional dalam menganalisis informasi sehingga dapat menguji


keandalan informasi dan memiliki motivasi yang kuat untuk melaksanakan

pengawasan lebih ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan.

2. Kepemilikan manajerial

Kepemilikan manajerial menurut Dyah dan Widanar (2009) adalah proporsi pemegang

saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan

perusahaan (direktur dan komisaris). Adanya kepemilikan manajemen dalam sebuah

perusahaan akan menimbulkan persepsi bahwa nilai perusahaan akan meningkat

seiring dengan meningkatnya kepemilikan manajemen dalam suatu perusahaan.

3. Komisaris Independen

Komisaris independen menurut UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseoran Terbatas

adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan

komisaris lainnya, dan pemegang saham pengendali serta bebas dari hubungan lainnya

yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak

semata-mata untuk kepentingan perseroan.

Kriteria mengenai komisaris independen yang diatur dalam Lampiran Keputusan

Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor: Kep339/BEJ/07-2001 yang isinya adalah

sebagai berikut : (a) Komisaris independen tidak memiliki hubungan afiliasi dengan

pemegang saham mayoritas atau pemegang saham pengendali (controlling

shareholders) perusahaan tercatat yang bersangkutan ; (b) Komisaris independen tidak

memiliki hubungan dengan direktur dan/atau komisaris lainnya perusahaan tercatat

yang bersangkutan ; (c) Komisaris independen tidak memiliki kedudukan rangkap

pada perusahaan lainnya yang terafiliasi dengan perusahaan tercatat bersangkutan ; (d)

Komisaris independen harus mengerti peraturan perundang-undangan di bidang pasar


modal; (e) Komisaris independen diusulkan dan dipilih oleh pemegang saham

minoritas yang bukan merupakan pemegang saham pengendali (bukan controlling

shareholders) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pengukuran komisaris

independen dapat menggunakan persentase anggota dewan komisaris independen

terhadap jumlah dewan komisari perusahaan bersangkutan. Selain itu, komisaris

independen dapat dihitung menggunakan logaritma natural dari total anggota dewan

komisaris independen, akan tetapi penggunaan rumus tersebut kurang mewakili

kondisi sesungguhnya perusahaan karena mengabaikan total anggota dewan komisaris

perusahaan.

4. Komite Audit

Komite Nasional Kebijakan Governance (2006) dalam Pedoman Umum Good

Corporate Governance Indonesia mendefinisikan komite audit sebagai : “Sekelompok

orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk mengerjakan pekerjaan

tertentu atau untuk melakukan tugas-tugas khusus atau sejumlah anggota dewan

komisaris perusahaan klien yang bertanggungjawab untuk membantu auditor dalam

mempertahankan independsinya dari manajemen”. Komite audit memiliki tugas yang

berhubungan dengan kualitas pelaporan keuangan. Keberadaan komite audit

diharapkan dapat membantu dewan komisaris melakukan tugasnya dalam mengawasi

proses pelaporan keuangan.

5. Reputasi Auditor

Audit atas laporan keuangan bertujuan untuk memberikan kepastian mengenai

keandalan dan kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen yang

sangat diperlukan oleh pihak eksternal dalam mengambil suatu keputusan bisnis.
Laporan auditor independen juga menjadi salah satu syarat perusahaan agar dapat

listing di BEI. Kualitas laporan auditor independen secara sederhana dapat dilihat dari

auditor yang melakukan audit atas perusahaan tersebut. Reputasi auditor diukur

dengan menggunakan variabel dummy, dimana untuk perusahaan yang laporan

keuangannya tidak diaudit oleh KAP The Big Four diberi nilai 0 (nol) dan untuk

perusahaan yang laporan keuangannya diaudit KAP The Big Four diberi nilai 1 (satu).

Proksi good corporate governance dalam penelitian ini adalah proporsi dewan

komisaris independen. Proporsi Dewan Komisaris Independen dapat dihitung dengan cara

menghitung persentase anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan terhadap

seluruh ukuran dewan komisaris perusahaan sampel (Ujiyanto, 2007).

Rumus menghitung proporsi dewan komisaris independen :

Dewan komisaris independen


PDKI = X 100 %
UDK

Keterangan :

PDKI : Proporsi dewan komisaris independen

Dewan komisaris independen : Jumlah anggota dewan komisaris berasal dari luar perusahaan

UDK : Ukuran dewan komisaris/total anggota dewan komisaris

2.1.5. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan secara umum dapat diartikan sebagai suatu skala yang

mengklasifikasikan besar atau kecilnya suatu perusahaan dengan berbagai cara antara lain

dinyatakan dalam total aset, total penjualan, nilai pasar saham, dan lain-lain. Menurut Riyanto
(2008:313) “ukuran perusahan adalah besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai

equity, nilai penjualan atau nilai aktiva”.

Suwito dan Herawati (2005:) mengatakan firm size atau ukuran perusahaan adalah suatu

skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan menurut berbagai cara, dimana

ukuran perusahaan hanya terbagi dalam 3 kategori yaitu perusahaan besar (large firm),

perusahaan menengah (medium size), dan perusahaan kecil (small firm).

Ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap manajemen

laba perusahaan. Ukuran perusahaan juga merupakan salah satu indikator yang digunakan

nvestor dalam menilai aset maupun kinerja perusahaan. Besar kecilnya suatu perusahaan dapat

dilihat dari total aktiva (asset) dan total penjualan (net sales) yang dimiliki oleh perusahaan.

Perusahaan besar cenderung bertindak hati – hati dalam melakukan pengelolaan perusahaan

dan cenderung melakukan pengelolaan laba secara efisien. Perusahaan yang besar lebih

diperhatikan oleh masyarakat sehingga mereka akan lebih berhati-hati dalam melakukan

pelaporan keuangan, sehingga berdampak perusahaan tersebut melaporkan kondisinya lebih

akurat (Nasution dan Setiawan, 2007).

[Link]. Indikator Ukuran Perusahaan

Perusahaan dapat diklasifikasikan sebagai perusahaan besar atau kecil didasari oleh

indikator yang mempengaruhinya. Adapun indikator dalam ukuran perusahaan menurut Edy

Suwito dan Arleen Herawaty (2005), “adalah total aktiva, nilai pasar saham, total pendapatan

dan lain-lain.” Sedangkan menurut Ardi Mardoko Sudarmaji (2007), indikator dari ukuran

perusahaan adalah sebagai berikut : “Total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar. Semakin

besar total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran

perusahaan itu. Ketika variabel ini digunakan untuk menentukan ukuran perusahaan karena
dapat mewakili seberapa besar perusahaan tersebut. Semakin besar aktiva, semakin banyak

modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin banyak perputaran uang, dan

semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat”. Dari

beberapa indikator yang mempengaruhi pengklasifikasian dalam ukuran perusahaan, maka

indikator dalam penelitian ini dibatasi agar lebih berfokus dan hasil yang dicapai sesuai

dengan asumsi yang diharapkan. Salah satu indikator yang dipilih untuk digunakan dalam

penelitian ini adalah total aset.

Menurut Weygandt (2007:11) yang diterjemahkan oleh Emil Salim adalah sebagai

berikut : “Aset ialah sumber penghasilan atas usahanya sendiri, dimana karakteristik umum

yang dimilikinya yaitu memberikan jasa atau manfaat dimasa yang akan datang.” Menurut

Werner R. Murhadi (2013) Firm Size diukur dengan mentrasformasikan total aset yang

dimiliki perusahaan ke dalam bentuk logaritma natural. Ukuran perusahaan diproksikan

dengan menggunakan Log Natural Total Aset dengan tujuan agar mengurangi fluktuasi data

yang berlebih. Dengan menggunakan log natural, jumlah aset dengan nilai ratusan miliar

bahkan triliun akan disederhanakan, tanpa mengubah proporsi dari jumlah aset yang

sesungguhnya.

“Ukuran perusahaan = Ln (Total Aset)”

Ayu Sri Mahatma Dewi dan Ary Wijaya (2013) mengemukakan bahwa pengukuran

variabel ukuran perusahaan berdasarkan total aktiva. Menurut Jogiyanto (2007:282)

menyatakan ukuran aktiva digunakan untuk mengukur besarnya perusahaan, ukuran aktiva

tersebut diukur sebagai logaritma dari total aktiva. Nilai total asset biasanya bernilai sangat

besar dibandingkan dengan variabel keuangan lainya, untuk itu variabel aset diperhalus

menjadi Log Asset atau Ln Total Asset.


2.1.6. Leverage

Menurut Kasmir (2008:151) rasio solvabilitas atau leverage merupakan rasio yang

digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiaya dengan hutang. Artinya

berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam

arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan

untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila

perusahaan dibubarkan (dilikuidasi). 

[Link]. Jenis – Jenis Rasio Leverage

Biasanya penggunaan rasio leverage disesuaikan dengan tujuan perusahaan. Artinya

perusahaan dapat menggunakan rasio leverage secara keseluruhan atau sebagian dari masing-

masing jenis rasio leverage yang ada. 

Menurut Kasmir jenis-jenis rasio leverage antara lain :

1) Debt To Assets Ratio (debt ratio)

Merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total

utang dengan total aktiva.

Rumus untuk mencari Debt Ratio dapat digunakan sebagai berikut :

Total h utang
Debt To Assets Ratio = X 100%
Total aset

2) Debt to Equity Ratio

Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan

ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk

utang lancar dengan seluruh ekuitas.


Rumus untuk mencari debt to equity ratio dapat digunakan perbandingan antara total

hutang dengan total ekuitas sebagai berikut :

Total Hutang
Debt to Equity Ratio = X 100%
Ekuitas

3) Long Term Debt to Equity Ratio

Long Term Debt to Equity Ratio (LTDtER), merupakan rasio yang digunakan untuk

mengukur perbandingan antara utang jangka panjang dengan total modal sendiri.

Rumus untuk menghitung (LTDtER) :

Longterm debt
Long Term Debt to Equity Ratio = X 100%
Equity

4) Times Interest Earned Ratio

Rasio ini menunjukkan besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga hutang

jangka panjang.

Rumus untuk menghitung Times Interest Earned Ratio :

Earning before interest tax


Times Interest Earned Ratio =
Longtermliabilities interest

Proksi leverage yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt To Assets Ratio (debt

ratio) dimana rasio leverage dihitung dengan cara membagi antara total hutang dengan total

aset.

2.2. Penelitian Terdahulu

Sebagai bahan pertimbangan dan untuk memperkaya bahan dalam tulisan ini, maka perlu

juga menuangkan penelitian terdahulu yang pernah dilakukan menyangkut permasalahan yang

akan di teliti oleh penulis. Adapun yang akan dijadikan bahan perbandingan yaitu skripsi dan
jurnal terdahulu yang ada kaitannya dengan judul dan permasalahan yang diangkat sebagai bahan

penelitian.

1) Penelitian yang dilakukan oleh Suryani (2010) dengan judul “Pengaruh Mekanisme

Corporate Governance Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba Pada

Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Tujuan dari penelitian

ini adalah untuk meneliti pengaruh mekanisme corporate governance, dan ukuran

perusahaan terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

Mekanisme corporate governance yang digunakan pada penelitian ini antara lain :

kepemilikan institusiomal, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, komposisi

dewan komisaris independen, dan komite audit. Sampel yang digunakan dalam penelitian

ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2004 – 2008. Total

sampel penelitian adalah 55 perusahaan yang ditentukan berdasarkan metode purposive

sampling. Penelitian ini menggunakan metode regresi berganda untuk menguji pengaruh

mekanisme corporate governance dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur kepemilikan institusional, kepemilikan

manajerial, dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen

laba. Variabel ukuran dewan komisaris, komposisi dewan komisaris independen, dan

komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Agustina (2013) dengan judul “Pengaruh Mekanisme

Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan Dengan Manajemen Laba sebagai

Variabel Intervening”. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menemukan bukti

empiris pengaruh elemen-elemen dalam penerapan good corporate governance terhadap

kinerja perusahaan dengna manajemen laba sebagai variabel intervening. Populasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia (BEI) selama periode 2009-2011. Pengujian hipotesis dilakukan dengan

analisis regresi berganda dan path analysis. Penelitian ini membuktikan bahwa Proporsi

Komisaris Independen mampu menjadi mekanisme monitoring dalam meminimalisir

tindakan manajemen laba dan meningkatkan kinerja perusahaan.

3) Penelitian yang dilakukan oleh Gabriela Cynthia Windah (2013) dengan judul “Pengaruh

Penerapan Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Hasil Survei

The Indonesian Institute Corporate Governance (iicg) Periode 2008-2011”. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui penerapan Good Corporate Governance (GCG) terhadap

kinerja keuangan perusahaan pada periode 2008-2011. Objek penelitian pada perusahaan

yang telah menerapkan GCG dan masuk dalam Corporate Governance Perception Index

(CGPI) hasil survei The Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG). Penelitian

ini menggunakan metode analisis statistik regresi berganda secara parsial maupun secara

simultan untuk menghubungkan GCG dengan kinerja keuangan perusahaan. Analisis

regresi menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan antara variabel independen GCG

terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROA.

4) Penelitian yang dilakukan oleh Sari Putri H, Novita and Safitri, Ervita and Wijaya (2015)

dengan judul “Pengaruh Leverage, Ukuran Perusahaan, Perputaran Modal Kerja dan

Likuiditas Terhadap Profitabilitas”. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh

leverage, ukuran perusahaan, perputaran modal kerja, dan likuiditas terhadap

profitabilitas pada perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

(BEI) periode 2009-2013. Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan telekomunikasi

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2009-2013. Sampel pada penelitian
ini menggunakan metode sampling jenuh yang berjumlah 6 perusahaan. Teknik analisis

data pada penelitian ini antara lain regresi linear berganda. Hasil yang diperoleh dalam

penelitian ini adalah secara parsial variabel leverage, ukuran perusahaan, perputaran

modal kerja tidak berpengaruh terhadap profitabilitas. Sedangkan variabel likuiditas

berpengaruh terhadap profitabilitas. Secara Simultan variabel leverage, ukuran

perusahaan, perputaran modal kerja, dan likuiditas berpengaruh terhadap profitabilitas.

5) Penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani, Nur, dan Ratnawati (2015) dengan judul

“Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kualitas Laba dengan Manajemen

Laba Sebagai Variabel Intervening (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang

Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2012)”. Penelitian ini bertujuan untuk

membuktikan secara empiris bagaimana pengaruh antara good corporate governance,

kualitas laba dan manajemen laba, serta untuk mengetahui apakah good corporate

governance berpengaruh terhadap kualitas laba melalui manajemen laba sebagai variabel

intervening. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data keuangan yang

diperoleh dari laporan keuangan masing-masing perusahaan sampel dan dari buku ICMD

(Indonesian Capital Market Directory). Metode analisisnya adalah path analysis (analisis

jalur) dengan menggunakan regresi berganda dengan bantuan SPSS versi 21. Populasi

yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009 - 2012, dengan jumlah sampel sebanyak 64

perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa variabel kepemilikan

institusional, dewan komisaris dan komite audit berpengaruh signifikan terhadap

manajemen laba, sedangkan kepemilikan manajerial dan dewan direksi tidak berpengaruh

signifikan tehadap manajemen laba. Variabel good corporate governance terhadap


kualitas laba (kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dewan komisaris, dewan

direksi dan komite audit) hasilnya berpengaruh signifikan. Manajemen lababerpengaruh

signifikan terhadap kualitas laba. Hubungan variabel good corporate governance dalam

hal ini hanya kepemilikan institusional, dewan komisaris dan komite audit yang

berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba melalui manajemen laba sebagai variabel

intervening, sedangkan kepemilikan manajerial dan dewan direksi tidak berpengaruh

signifikan.

6) Penelitian yang dilakukan oleh Putri (2016) dengan judul “Pengaruh Tidak Langsung

Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Dengan Manajemen Laba

Sebagai Variabel Intervening”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Good

Corporate Governance (GCG) berpengaruh tidak langsung terhadap kinerja keuangan

melalui manajemen laba sebagai variabel intervening pada perusahaan yang terdaftar di

Jakarta Islamic Index (JII). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh

perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) sebanyak 30 perusahaan dan

dengan metode purposive sampling sesuai dengan kriteria terdapat 12 perusahaan yang

terpilih, dan dengan menggunakan tahun amatan 2011 s/d 2014 (4 tahun), maka akan

diperoleh 48 data amatan sebagai sampling dalam penelitian ini. Pengujian hipotesis

dilakukan dengan analisis regresi linear. Dari hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa

penerapan Good Corporate Governance (kepemilikan institusional, kepemilikan

manajerial, ukuran dewan komisaris, proporsi dewan komisaris independen dan komite

audit) tidak ada pengaruh secara simultan terhadap Manajemen Laba, penerapan Good

Corporate Governance (kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan

komisaris, proporsi dewan komisaris independen dan komite audit) berpengaruh


signifikan secara simultan terhadap Kinerja Keuangan dan Manajemen Laba tidak

berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan.

7) Penelitian yang dilakukan oleh Linda Ratnasari (2016) dengan judul “Pengaruh Leverage,

Likuiditas, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Otomotif Di

BEI”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel leverage, likuiditas, dan

ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada Perusahaan

Otomotif Yang Terdaftar di BEI. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan

otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sesuai publikasi Indonesian Capital

Market Directory (ICMD), yang berjumlah 12 Perusahaan Sektor Automotif dan

komponen. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sampling jenuh,

merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai

sampel. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi

berganda, uji asumsi klasik, uji kelayakan model, uji hipotesis. Hasil pengujian kelayakan

model menunjukan bahwa model dinyatakan layak sehingga pengujian hipotesis dapat

dilakukan. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa Leverage berpengaruh

signifikan dan negatif terhadap profitabilitas, Likuiditas berpengaruh tidak signifikan

terhadap profitabilitas, demikian juga ukuran perusahaan berpengaruh tidak signifikan

terhadap profitabilitas.
Tabel 2.1 : Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian Sekarang

Indikator
Judul Perbedaan Persamaan
Peneliti Penelitian

Suryani Pengaruh Peneliti terdahulu Variabel yang


(2010) Mekanisme menggunakan digunakan penelitian
Corporate kepemilikan terdahulu dengan
Governance Dan institusional,
penelitian yang akan
Ukuran kepemilikan manajerial,
Perusahaan ukuran dewan komisaris, dilakukan sama – sama
Terhadap komposisi dewan menggunakan GCG dan
Manajemen Laba komisaris independen, ukuran perusahaan
Pada Perusahaan dan komite audit untuk sebagai variabel
Manufaktur Yang mengukur GCG, independen, juga sama
Terdaftar Di sedangkan peneliti saat – sama menggunakan
Bursa Efek ini hanya menggunakan
objek penelitian
Indonesia proporsi dewan
komisaris independen, perusahaan manufaktur
peneliti juga dan rentang penelitian
menambahkan leverage selama 5 tahun.
dan ukuran perusahaan
sebagai variabel
independen.
Agustina Pengaruh Peneliti terdahulu Variabel yang
(2013) Mekanisme menggunakan digunakan penelitian
Corporate kepemilikan terdahulu dengan
Governance institusional,
penelitian yang akan
Terhadap Kinerja kepemilikan manajerial,
Perusahaan proporsi dewan dilakukan sama – sama
Dengan komisaris independen, menggunakan
Manajemen Laba dan komite audit , manajemen laba
sebagai Variabel sedangkan peneliti saat sebagai variabel
Intervening ini hanya menggunakan intervening, juga
proporsi dewan menggunakan objek
komisaris independen.
penelitian perusahaan
Peneliti saat ini juga
menambahkan variabel manufaktur
Leverage dan Ukuran
Perusahaan.
Gabriela Pengaruh Peneliti terdahulu Baik peneliti terdahulu
Cynthia Penerapan menggunakan Corporate maupun peneliti saat ini
Windah Corporate Governance Perception sama – sama meneliti
(2013) Governance Index (CGPI) sebagai pengaruh GCG
Terhadap Kinerja objek penelitian, terhadap kinerja
Keuangan sedangkan peneliti saat keuangan yang
Perusahaan Hasil ini menggunakan objek diproksikan dengan
Survei The penelitian perusahaan ROA.
Indonesian manufaktur sub sektor
Institute makanan dan minuman.
Corporate Peneliti saat ini juga
Governance (iicg) menambahkan variabel
Periode 2008- ukuran perusahaan dan
2011 leverage
Sari Putri H, Pengaruh Selain leverage dan Baik peneliti saat ini
Novita dan Leverage, Ukuran ukura perusahaan, maupun peneliti
Safitri, Perusahaan, peneliti terdahulu terdahulu menggunakan
Ervita dan  Perputaran Modal menambahkan variabel
variabel ukuran
Wijaya Kerja dan likuiditas dan perputaran
(2015) Likuiditas modal kerja terhadap perusahaan dan
Terhadap profitabilitas. Sedangkan leverage terhadap
Profitabilitas peneliti saat ini profitabilitas, juga
menambahkan variabel menggunakan ROA
GCG. sebagai proksi
peneliti terdahulu profitabilitas
menggunakan objek
penelitian perusahaan
telekomunikasi,
sedangkan peneliti saat
ini menggunakan objek
perusahaan manufaktur
sub sektor makanan dan
minuman
Oktaviani, Pengaruh Good Peneliti terdahulu Variabel yang
Nur, dan Corporate menggunakan digunakan penelitian
Ratnawati Governance kepemilikan terdahulu dengan
(2015) Terhadap Kualitas institusional,
penelitian yang akan
Laba dengan kepemilikan manajerial,
Manajemen Laba dewan komisaris, dewan dilakukan sama – sama
Sebagai Variabel direksi, komite audit meneliti pengaruh
Intervening (Studi sebagai proksi GCG, GCG, juga
Empiris Pada sedangkan peneliti saat menggunakan
Perusahaan ini hanya menggunakan manajemen laba
Manufaktur Yang proporsi dewan sebagai variabel
Terdaftar Di komisaris independen
intervening. Baik
Bursa Efek sebagai proksi GCG.
Indonesia Tahun Peneliti saat ini juga peneliti terdahulu
maupun peneliti saat ini
2009-2012) menambahkan variabel menggunakan objek
Leverage dan Ukuran penelitian perusahaan
Perusahaan sebagai manufaktur
variabel independen.
Putri (2016) Pengaruh Tidak Peneliti terdahulu Variabel yang
Langsung Good menggunakan digunakan penelitian
Corporate kepemilikan terdahulu dengan
Governance institusional, penelitian yang akan
Terhadap Kinerja kepemilikan manajerial, dilakukan sama – sama
Keuangan ukuran dewan komisaris, mengukur pengaruh
Dengan proporsi dewan GCG, menggunakan
Manajemen Laba komisaris independen, kinerja keuangan
Sebagai Variabel dan komite audit, sebagai variabel
Intervening sedangkan peneliti saat dependen, dan
ini hanya menggunakan menggunakan
proporsi dewan manajemen laba
komisaris independen sebagai variabel
sebagai proksi GCG, intervening.
juga peneliti saat ini
menambahkan variabel
Leverage dan Ukuran
Perusahaan.
Linda Pengaruh Selain leverage dan Baik peneliti saat ini
Ratnasari Leverage, ukura perusahaan, maupun peneliti
(2016) Likuiditas, Dan peneliti terdahulu terdahulu menggunakan
Ukuran menambahkan variabel variabel ukuran
Perusahaan likuiditas dalam meneliti perusahaan dan
Terhadap pengaruh terhadap leverage terhadap
Profitabilitas Pada profitabilitas. Sedangkan profitabilitas, juga
Perusahaan peneliti saat ini menggunakan ROA
Otomotif Di BEI menambahkan variabel sebagai proksi
GCG. profitabilitas
peneliti terdahulu
menggunakan objek
penelitian perusahaan
Otomotif, sedangkan
peneliti saat ini
menggunakan objek
perusahaan manufaktur
sub sektor makanan dan
minuman
2.3. Kerangka Konseptual Penelitian

Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan dan leverage terhadap variabel dependen

yaitu Kinerja Keuangan melalui variabel intervening Manajemen Laba.

Berdasarkan uraian landasan teori diatas dalam tinjauan pustaka yang telah diuraikan

sebelumnya, maka kerangka konseptual yang digunakan untuk memudahkan pemahaman konsep

yang digunakan sebagai berikut :

Good Corporate
Governance
( X 1)

Ukuran Perusahaan Manajemen Laba


(Y 1 ) Profitabilitas
( X 2)
(Y 2 )

Leverage
( X 3)

2.4. Pengembangan Hipotesis

Pengembangan hipotesis pada dasarnya adalah suatu anggapan yang mungkin benar dan

sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan, pemecahan persoalan maupun dasar

penelitian lebih lanjut, anggapan sebagai satu hipotesis juga merupakan data tetapi karena

kemungkinan bisa salah, apabila akan digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan harus di uji

dahulu dengan memakai data hasil observasi.

Adapun pengembangan hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

2.4.1. Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap Manajemen Laba

Dalam penelitian ini, GCG diproksikan dengan proporsi dewan komisaris independen.

Dechow et al., (1996) yang dikutip oleh Darmawati (2003) menyatakan bahwa perusahaan
yang melakukan manipulasi laba lebih besar kemungkinan memiliki dewan komisaris yang

didominasi oleh manajemen dan lebih besar kemungkinan memiliki CEO yang merangkap juga

sebagai Chairman of the Board. Sementara itu Beasly (1996) yang dikutip oleh Darmawati

(2003) menemukan bahwa perusahaan yang tidak curang memiliki dewan komisaris yang

presentase anggota luarnya lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang curang. Hasil

penelitian juga menunjukan bahwa kemungkinan dilakukannya kecurangan laporan keuangan

akan menurun sejalan dengan peningkatan pengalaman dan keahlian dewan.

Hasil penelitian Chtourou, Bedard dan Chtourou (2001) menunjukkan bahwa semakin

besar proporsi dewan komisaris eksternal maka semakin kecil earning management. Hal ini

menunjukkan bahwa proporsi dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap earning

management. Kusumaning (2004) menguji pengaruh proporsi dewan komisaris eksternal

terhadap aktivitas manajemen laba. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan disimpulkan

bahwa proporsi dewan komisaris eksternal terbukti signifikan negatif mempengaruhi

manajemen laba. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H1 : Good Corporate Governance berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen

laba

2.4.2. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba

Ukuran perusahaan dapat menggambarkan besar kecilnya perusahaan yang ditunjukkan

oleh total aset, penjualan, dan kapitalisasi pasar. Semakin besar total aset, penjualan, dan

kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran suatu perusahaan. Semakin besar aset, maka

semakin besar modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin banyak

perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar.


Penelitian Chtourou et al. (2001), Lee and Choi (2002), Midiastuty dan Machfoedz

(2003), Saleh et al. (2005), Liu dan Lu (2007), dan Cornett et al. (2009) menemukan bahwa

ukuran perusahaan mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap besaran pengelolaan laba.

Perusahaan yang besar lebih diperhatikan oleh masyarakat sehingga mereka akan lebih berhati-

hati dalam melakukan pelaporan keuangan, sehingga berdampak perusahaan tersebut

melaporkan kondisinya lebih akurat (Nasution dan Setiawan, 2007). Hal ini menunjukkan

bahwa semakin besar perusahaan semakin kecil pengelolaan laba yang dilakukan. Berdasarkan

uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H2 : Ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba

2.4.3. Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba

Leverage merupakan rasio yang terdapat pada laporan keuangan untuk mengetahui

seberapa besar aset perusahaan dijamin oleh hutang dengan kemampuan perusahaan yang

digambarkan oleh modal (Nugroho, 2011). Leverage mempunyai pengaruh dengan praktik

manajemen laba, yaitu ketika perusahaan mempunyai leverage tinggi maka perusahaan

cenderung melakukan manajemen laba karena perusahaan terancam tidak dapat memenuhi

kewajibannya. Ketika hutang perusahaan tinggi, maka perusahaan akan cenderung menurunkan

laba untuk mengurangi pembayaran kewajiban, seperti pembayaran beban pajak, karena

semakin rendah laba maka beban pajak yang harus dibayarkan juga rendah (Antonia, 2008).

Penelitian yang dilakukan oleh Wardani, dkk (2011) membuktikan bahwa leverage

berpengaruh signifikan positif terhadap manajemen laba. Begitu pula penelitian Agustia (2013)

yang menemukan bukti bahwa leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H3 : Leverage berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba


2.4.4. Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap Profitabilitas

Dalam menjamin terciptanya GCG yang baik maka komisaris independen diharuskan

mempunyai kredibilitas, profesional, integritas yang baik. Komisaris independen memikul

tanggung jawab untuk mendorong secara proaktif agar komisaris dalam melaksanakan tugasnya

sebagai pengawas dan penasihat direksi dapat memastikan perusahaan memiliki strategi bisnis

yang efektif, memastikan perusahaan mematuhi hukum perundangan yang berlaku maupun

nilai nilai yang ditetapkan di perusahaan, sehingga perusahaan perusahaan memiliki corporate

governance yang baik.

Penelitian Wardani (2007) menyatakan bahwa komisaris independen dapat bertindak

sebagai penengah dalam perselisihan yang terjadi di antara para manajer internal dan

mengawasi kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada manajemen. Komisaris

independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar tercipta

perusahaan yang good corporate governance. Peran komisaris ini diharapkan akan

meminimalkan permasalahan keagenan yang timbul antara dewan direksi dengan pemegang

saham. Sehingga apabila semakin banyak komisaris independen, maka pengawasan akan

semakin ketat dan agency problem semakin kecil. Semakin banyak jumlah dewan komisaris

independen, maka semakin terlepas pula penyusunan laporan keuangan dari unsur kepentingan

pribadi sehingga laporan keuangan dapat disusun sedemikian rupa dan mewakili kenyataan

yang sesungguhnya terjadi. Semakin tinggi persentase dewan komisaris independen, maka

diharapkan semakin tinggi pula kinerja karyawan yang nantinya akan meningkatkan

profitabilitas perusahaan ( Kusuma, 2015 ). Hasil penelitian Muntiah (2012), Agustiningsih

(2016), Rini & Ghozalli (2012), Nugrahani & Nugroho (2010), Dzajilah (2016), Sanjaya &

Marsudi (2014), Endri (2012) membuktikan bahwa Good Corporate Governance (GCG) yang
di proyeksikan dengan dewan komisaris independen berpengaruh positif dan signifikan

terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H4 : Good Corporate Governance berpengaruh positif signifikan terhadap Profitabilitas

2.4.5. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas

Ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap manajemen

laba perusahaan. Ukuran perusahaan juga merupakan salah satu indikator yang digunakan

nvestor dalam menilai aset maupun kinerja perusahaan. Besar kecilnya suatu perusahaan dapat

dilihat dari total aktiva (asset) dan total penjualan (net sales) yang dimiliki oleh perusahaan.

Ukuran perusahaan jika dihubungkan dalam teori agensi maka perusahaan yang tumbuh

memiiki biaya yang cukup besar umtuk menerangkan informasi penting dalam menekan biaya

keagenan. Ukuran perusahaan juga dapat sebagai proksi yang digunakan dalam menjelaskan

berbagai pengungkapan laporan tahunan mengenai informasi dari kalangan perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Utami (2007) memiliki hasil bahwa ukuran perusahaan

berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas dan penelitian yang dilakukan oleh

Sunarto dan Prasetyo (2009) juga memiliki hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif

signifikan terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian

ini adalah :

H5 : Ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap Profitabilitas

2.4.6. Pengaruh Leverage terhadap Profitabilitas

Leverage atau strukur hutang adalah cerminan dari besar atau kecilnya jumlah pemakaian

hutang oleh perusahaan yang digunakan untuk membiayai aktivitas operasionalnya (Setiadewi

dan Purbawangsa, 2014). Hutang yang digunakan untuk membiayai aktiva berasal dari kreditor,

bukan dari pemegang saham ataupun investor. Semakin besar leverage maka semakin besar
juga risikonya, dan begitu pula sebaliknya. Risiko yang dimaksud adalah kemungkinan

terjadinya gagal bayar. Puspitasari dan Ernawati (2010) menyatakan semakin tinggi pendanaan

perusahaan yang didapat dari pinjaman yang tercantum dalam nilai leverage peruhasaan,

semakin tinggi pula konflik keagenan yang terjadi yang kemudian berdampak pada

menurunnya kinerja keuangan perusahaan.

Penelitian terdahulu yang mendukung pernyataan tersebut adalah penelitian yang

dilakukan oleh Martono (2002) dan Sari dan Abudanti (2014) yang menyatakan bahwa

leverage berpengaruh negatif terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis

dalam penelitian ini adalah :

H6 : Leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja keuangan

2.4.7. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Profitabilitas

Manajemen laba adalah suatu proses pelaporan keuangan yang di dalamnya terdapat

campur tangan manajemen yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri (Rahmawati et al,

2006). Sedangkan kinerja dari perusahaan tersebut digunakan oleh pemilik modal dalam

menilai prospek perusahaan, yang terlihat pada kinerja saham. Sehingga, manajemen laba yang

dilakukan manajer pada laporan keuangan tersebut akan berpengaruh terhadap kinerja

keuangan (Wibisono, 2004). Widiatmaja (2010) mengemukakan dalam penelitiannya bahwa

manajemen laba berpengaruh positif terhadap profitabilitas, yang artinya semakin tinggi praktik

manajemen laba akan meningkatkan Return on Assets (ROA) yang merupakan proksi

profitabilitas, begitu juga sebaliknya, semakin rendah praktik manajemen laba maka nilai yg

ditunjukkan ROA juga semakin rendah. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam

penelitian ini adalah :

H7 : Manajemen laba berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan


2.4.8. Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas melalui Manajemen

Laba sebagai variabel intervening

GCG yang diproksikan oleh dewan komisaris independen merupakan anggota dewan

komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya, dan

pemegang saham pengendali serta bebas dari hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi

kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata untuk kepentingan

perseroan.

Beasley (1996) meneliti hubungan antara komposisi dewan komisaris dengan kecurangan

pelaporan keuangan dan menemukan bahwa perusahaan yang melakukan kecurangan memiliki

persentase dewan komisaris eksternal yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan

perusahaan yang tidak melakukan kecurangan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Chtourou

et al. (2001), Xie et al. (2001), Peasnell et al. (2001), Cornett et al. (2006), Nasution dan

Setiawan (2007), Liu and Lu (2007), serta Cornet et al. (2009) menyimpulkan bahwa proporsi

anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan berhubungan negatif dengan

manajemen laba karena anggota komisaris dari luar dapat meningkatkan tindakan pengawasan,

sehingga adanya manajemen laba akan menimbulkan dugaan yang menarik bahwa profitabilitas

yang diproksikan dengan ROA akan lebih baik apabila proporsi dewan komisaris independen

lebih tinggi, dan berpotensi mengurangi kemungkinan kecurangan dalam pelaporan keuangan.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H8 : Good Corporate Governance dengan manajemen laba sebagai variabel intervening

berpengaruh positif signifikan terhadap Profitabilitas


2.4.9. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas melalui Manajemen Laba

sebagai variabel intervening

Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba karena perusahaan yang besar

cenderung akan memerlukan dana yang lebih besar dibanding perusahaan kecil, sehingga

memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba agar pelaporan laba yang tinggi dapat

menarik investor dan kreditur untuk menanamkan dananya (Agustia, 2013).

Menurut Fachrudin (2011) ukuran perusahaan bukan jaminan bahwa perusahaan

memiliki kemampuan dalam menghasilkan laba yang baik. Pengaruh yang negatif ini

diakibatkan oleh semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka perusahaan tersebut akan

membutuhkan biaya yang semakin besar untuk menjalankan aktivitas operasionalnya(Sari dan

Budiasih, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Siregar dan Utama (2005) juga menunjukkan

hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Berdasarkan uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa ukuran perusahaan yang berpengaruh

negatif terhadap manajemen laba juga akan berdampak pada profitabilitas perusahaan, maka

hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H9 : Ukuran Perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel intervening

berpengaruh negatif signifikan terhadap Profitabilitas

2.4.10. Pengaruh Leverage terhadap Profitabilitas melalui Manajemen Laba sebagai

variabel intervening

Perusahaan dengan leverage tinggi memiliki pengawasan yang lemah terhadap

manajemen yang menyebabkan manajemen dapat membuat keputusan sendiri, dan juga

menetapkan strategi yang kurang tepat (Hallak : 2004). Berdasarkan penelitian (Herawati &

Arleen : 2010) tingkat leverage berpengaruh signifikan positif terhadap manajemen laba,
artinya semakin tinggi persentase leverage suatu perusahaan maka akan semakin termotivasi

pula manajer untuk melakukan manajemen laba guna menutupi risiko kerugian dan kinerja

buruk perusahaan.

Guenther (1994) dalam Setiawati (2000) menemukan bahwa tingkat manajemen laba

perusahaan dengan tingkat leverage utang yang tinggi relatif lebih tinggi dibandingkan

perusahaan dengan tingkat leverage utang rendah. Semakin tinggi tingkat leverage yang

berdampak positif pada manajemen laba yang dilakukan manajer, semakin tinggi pula konflik

keagenan yang terjadi yang kemudian berdampak pada menurunnya kinerja keuangan

perusahaan. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H10 : Leverage dengan manajemen laba sebagai variabel intervening berpengaruh positif

signifikan terhadap Profitabilitas

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian


Berdasarkan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, maka jenis penelitian ini adalah

explanatory. Menurut Sani & Mashuri (2013 : 180) penelitian eksplanatori (explanatory

research) adalah untuk menguji antar variabel yang dihipotesiskan. Penelitian ini terdapat

hipotesis yang akan diuji kebenarannya. Hipotesis ini menggambarkan hubungan antara dua

variabel, untuk mengetahui apakah variabel berasosiasi ataukah tidak dengan variabel lainnya,

atau apakah variabel disebabkan atau dipengaruhi atau tidak oleh variabel lainnya.

Dalam penelitian ini menggunakan model analisis jalur (path analysis) karena di antara

variabel independen dengan variabel dependen terdapat mediasi yang mempengaruhi. Penelitian

ini terdiri tiga variabel, yakni variabel bebas (independent) yaitu good corporate governance,

ukuran perusahaan dan leverage, variabel mediasi/intervening yaitu manajemen laba, sedangkan

variabel terikat (dependent) yaitu profitabilitas.

3.2. Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman

yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.

3.3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sample

survey, yang mana hanya menggunakan sebagian kecil dari populasi (Nazir, 1999:183). Survey

yangdimaksud dalam penelitian ini bukan survey lapangan, melainkan survey pustaka dengan

cara pengumpulan data dari buku, catatan-catatan atau dokumenberupa jurnal atau berbagai

bentuk terbitan periodik seperti laporan keuangan, laporan tahunan dan refrensi yang berkaitan

dengan masalah yang di teliti.

3.4. Teknik Pengumpulan Data


Teknik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Teknik ini dilakukan

melalui pengumpulan dan pencatatan laporan keuangan pada perusahaan manufaktur sub sektor

makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2016 yang memiliki

data sesuai variabel yang digunakan.

3.5. Populasi Dan Sampel Penelitian

Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah perusahaan manufaktur sub sektor

makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2012-2016 dengan

jumlah populasi perusahaan sebanyak 15 perusahaan.

Pada penelitian ini, teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling adalah teknik

pengambilan sampel yang dilakukan sesuai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Kriteria

pengambilan sampel meliputi :

1) Perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia sampai dengan 31 Desember 2016.

2) Perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang melaporkan data

annual report selama 5 tahun berturut-turut yaitu dari 2012-2016.

3) Perusahaan manufaktur yang memiliki data lengkap selama tahun pengamatan yang

berhubungan dengan variabel-variabel yang akan diteliti.

Tabel 3.1 : Kriteria Pengambilan Sampel

NO KRITERIA PENGAMBILAN JUMLAH


SAMPEL
1 Perusahaan manufaktur sub sektor 15
makanan dan minuman yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2 Perusahaan yang delisting selama (1)
tahun pengamatan (2012-2016)
Perusahaan yang menjadi Sampel 14
Sumber : idx 2012-2016 (diolah tahun 2018)

Tabel 3.2 : Perusahaan Sampel

KODE
NO NAMA PERUSAHAAN
PERUSAHAAN
1. ALTO Tri Banyan Tirta Tbk
2. AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
3. CEKA Cahaya Kalbar Tbk
4. DLTA Delta Djakarta Tbk
5. ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
6. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk
7. MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk
8. MYOR Mayora Indah Tbk
9. PSDN Prashida Aneka Niaga Tbk
10. ROTI Nippon Indosari Corporindo Tbk
11. SKBM Sekar Bumi Tbk
12. SKLT Sekar Laut Tbk
13. STTP Siantar Top Tbk
14 ULTJ Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk
Sumber : idx 2012-2016 (diolah tahun 2018)

3.6. Jenis Dan Sumber Data

1) Jenis data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu data yang

berbentuk angka-angka yang dapat dihitung dengan satuan tertentu seperti data

laporan keuangan dan annual report perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan

minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang telah dijadikan sampel.
2) Sumber data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder

dalam penelitian ini diperoleh dari laporan tahunan keuangan perusahaan manufaktur

sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) 2012-

2016. Data tersebut diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia yaitu [Link].

3.7. Identifikasi, Klasifikasi, Dan Definisi Operasional Variabel

3.7.1. Identifikasi Variabel

Menurut (Sugiyono, 2004) variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi-informasi tentang

hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka

variabel yang terkait dapat di identifikasi sebagai berikut :

1) Good Corporate Governance ¿)

2) Ukuran Perusahaan ¿)

3) Leverage ¿)

4) Manajemen Laba ¿)

5) Profitabilitas ¿)

3.7.2. Klasifikasi Variabel

Dari identifikasi variabel tersebut diatas, maka variabel yang digunakan dalam penelitian

ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1) Variabel terikat (dependent variable)

Variabel dependen merupakan variabel yang memiliki ketergantungan terhadap

variabel lainnya. Variabel dependen disini adalah Profitabilitas ¿).


2) Variabel bebas (independent variable)

Variabel independen yaitu variabel yang tidak bergantung pada variabel lain. Variabel

independen disini adalah Good Corporate Governance ¿), ukuran perusahaan ¿), dan

leverage ¿).

3) Variabel mediasi (intervening variable)

Variabel ini merupakan variabel penyela / antara variabel independen dengan variabel

dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau

timbulnya variabel dependen. Variabel intervening yang digunakan dalam penelitian ini

adalah manajemen laba ¿).

3.7.3. Definisi Operasional Variabel

1) Good Corporate Governance

GCG dalam penelitian ini didefinisikan sebagai sistem dan struktur untuk mengelola

perusahaan dengan tujuan meningkatkan nilai pemegang saham serta mengakomodasi

berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan (stakeholders) seperti kreditor,

supplier, asosiasi usaha, konsumen, pekerja, pemerintah dan masyarakat luas. GCG

dalam penelitian ini di proksikan dengan proporsi dewan komisaris independen, dimana

proporsi dewan komisaris independen merupakan perbandingan antara anggota dewan

komisaris independen dengan ukuran dewan komisaris/total anggota dewan komisaris.

Proporsi dewan komisaris independen dapat diformulasikan sebagai berikut :

Dewan Komisaris Independen


PDKI = X 100 %
UDK

Keterangan :

PDKI : Proporsi dewan komisaris independen


Dewan komisaris independen : Jumlah anggota dewan komisaris berasal dari luar

perusahaan

UDK : Ukuran dewan komisaris/total anggota dewan komisaris

2) Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan merupakan nilai besar kecilnya suatu perusahaan, besar kecilnya

perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity, nilai total penjualan atau nilai total aktiva,

Riyanto (1999:313). Ukuran perusahaan diproksikan dengan menggunakan Log Natural

Total Aset, dimana ukuran perusahaan diukur dengan mentrasformasikan total aset yang

dimiliki perusahaan ke dalam bentuk logaritma natural. Rumus menghitung ukuran

perusahaan adalah sebagai berikut :

Firm Size = LN of Total Assets

Keterangan :

Firm Size : Ukuran Perusahaan

Ln TR : Logaritma natural dari Total Penjualan

3) Leverage

Rasio Leverage ini akan menggambarkan sumber dana operasi yang digunakan oleh

perusahaan. Semakin besar rasio leverage, berarti semakin tinggi nilai utang

perusahaan. Proksi leverage yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt To Assets

Ratio (debt ratio). Debt ratio dihitung dengan cara membagi antara total hutang dengan

total aset. Formulasinya adalah sebagai berikut :


Total Utang
Debt ¿ Assets Ratio= X 100 %
Total Aktiva

4) Manajemen Laba

Manajemen laba dalam penelitian ini didefinisikan sebagai tindakan manajer untuk

meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas unit dimana manager

bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas

ekonomis jangka panjang unit tersebut. Proksi manajemen laba yang digunakan pada

penelitian ini adalah model spesifik akrual (akrual modal kerja), dimana dalam hal ini

akrual manajemen laba dapat diformulasikan sebagai berikut :

Akrual Modal Kerja


Manajemen Laba = X 1 kali
Penjualan

Akrual modal kerja : ΔAL - ΔHL - ΔKas

Keterangan :

ΔAL : Perubahan aktiva lancar pada periode t

ΔHL : Perubahan hutang lancar pada periode t

ΔKas : Perubahan kas dan ekuivalen kas pada periode t

5) Profitabilitas

Profitabilitas dalam penelitain ini didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan

memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, total aktiva produktif maupun

modal sendiri. Rasio profitabilitas ini akan memberikan gambaran tentang tingkat

efektifitas pengelolaan perusahaan. Proksi profitabilitas dalam peneliitian ini adalah


ROA. ROA membandingkan laba bersih setelah pajak dengan total aktiva. ROA dapat

di formulasikan sebagai berikut :

Laba setela h pajak


ROA = Total aktiva X 100%

3.8. Prosedur Analisis Data

3.8.1. Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif dalam penelitian ini merupakan proses transformasi data penelitian

dalam bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan. Tabulasi menyajikan

ringkasan, peratura dan penyusunan data dalam bentuk tabel numerik dan grafik. Statistik

deskriftif bertujuan untuk memberikakan informasi mengenai karakteristik penelitian yang

utama. Ukuran yang digunakan dalam deskripsi antara lain berupa frekuensi, tedensi sentral

(mean, median, modus), disperse (deviasi standar dan varian) dan koefisien variasi antar

variabel penelitian (Indiartoro dan Supomo, 1999).

3.8.2. Uji Asumsi Klasik

[Link]. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variable

pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t

mengansumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal (Ghozali, 2013:160). Uji

normalitas secara statistik dapat menggunakan alat analisis One Sample Kolmogorov-Smirnov

test. Pedoman yang akan digunakan dalam pengambilan kesimpulan adalah sebagai berikut :

1) Jika nilai signifikan lebih kecil dari 5% (p < 0,05) ; maka data terdistribusi tidak

normal.

2) Jika nilai signifikan lebih besar dari 5% (p > 0,05) ; maka data terdistribusi normal.
[Link]. Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas adalah suatu kedaan dimana satu atau lebih variabel bebas terdapat

korelasi dengan variabel bebas lainya atau suatu variabel bebas merupakan fungsi linier dari

variabel bebas lainya. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau variabel indevenden (Ghozali, 2013).

Adanya beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya

multikolinieritas didalammodel regresi antaranya menggunkan Variance Inflation Factor.

Apabila nilai VIF (Variance Inflation Factor) adalah lebih besar dari 10, maka ada korelasi

yang tinggi dianatara variabel independen atau dapat dikatakan terjadi multikolinier

sedangkan jika VIF kurang dari 10, maka dapan diartikan tidak terjadi multikolinier.

Pedoman yang akan digunakan dalam pengambilan kesimpulan adalah sebagai berikut :

1) Jika nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada

multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

2) Jika nilai tolerance < 0,1 dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada

multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi

[Link]. Uji Autokorelasi

Autokorelasi berarti terdapat korelasi antara anggota sampel atau data pengamatan yang

diurutkan berdasrakan waktu, sehingga satu data dipengaruhi oleh data sebelumnya.

Autokorelasi muncul pada regresi yang menggunakan data berskala tau time series. Pengujian
autokorelasi yang banyak digunakan adalah model Durbin-Watson. Kriteria pengujian

Durbin-watson adalah sebagai berikut :

1) Bila angka DW < -2 (lebih kecil dari dU atau lebih besar dari 4-dL) berarti

autokorelasinya positif

2) Bila angka DW -2 sampai dengan +2 (terletak antara dU dab(4-dU) berarti tidak ada

korelasi

3) Bila angka DW terletak antara (4-dU) dan (4dL), berarti tidak ada kesimpulan

4) Bila angka DW > +2 ada autokorelasi negatif.

[Link]. Uji Heteroskedasitas

Uji heteroskedasitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan [Link] varians dari

residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap maka disebut homokedastisitas dan jika

berbeda disebut heteroskedasitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau

tidak terjadi heteroskesitas (Ghozali 2002:69). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya

heteroskedastisitas yaitu dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat

(ZPRED) dengan residualnya (SRESID), yaitu dengan deteksi ada tidaknya pola tertentu pada

grafik sctareplot antara SRESID dan ZPRED.

Dasar analisinya dalah sebagai berikut :

1) Jika ada pola tertentu, seperti titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur

(bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka itu mengindikasikan telah

terjadi heteroskedasitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serts titik menyebebar diatas dan dibawah angka 0 dan

sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedasitas. Kemudian uji heteroskedasitas juga

dapat dilakukan denagn uji heteroskedasitas bertujuan menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan

lain. Jika varians dari residual suatu pengmatan ke pengamatan yang lain tetap maka

disebut homoskedasitas dan jika berbeda disebut heteroskedasitas. Model regresi yang

baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskesitas (Ghozali 2002:69).

3.8.3. Uji Hipotesis

[Link]. Uji t

Uji t pada dasarnya bertujuan untuk menguji pengaruh satu variabel bebas terhadap

variabel terikat secara parsial (individual) dalam menerangkan variasi variabel dependen

(Ghozali, 2005:84). Cara melakukan uji t adalah sebagai berikut : Jika nilai signifikan < 0,05,

ini berarti bahwa ada pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap variabel terikat

(hipotesis diterima) dan jika nilai signifikan > 0,05, ini berarti tidak ada pengaruh secara

parsial antara variabel bebas dengan variabel terikat (hipotesis ditolak).

[Link]. Analisis Jalur (Path Analysis)

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur. Analisis ini

digunakan karena terdapat kemungkinan hubungan antara variabel dalam model bersifat

linier. Teknik analisis jalur ini akan digunakan dalam menguji besarnya sumbangan

(kontribusi) yang ditujukkan oleh koefisien jalur pada setiap diagram jalur dari hubungan

kasual antar variabel X1, X2 dan X3 terhadap Y1 serta berdampak terhadap Y2. Jadi, model

path analysis digunakan untuk manganalisis hubungan antara variabel dengan tujuan untuk
mengetahui pengaruh langsung atau tidak langsung seperangkat variabel bebas terhadap

variabel terikat (Ridwan dan Kuncoro, 2010:116).

Analisis jalur yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini dengan

langkah-langkah sebagai berikut :

1) Membuat diagram jalur strukturnya sebagai berikut :

Good Corporate
ρx 1 y 2 ϵ₁ ϵ₂
Governance
( X 1) ρx₁y₁
Manajemen Laba ρy 1 y 2
Ukuran Perusahaan (Y 1 ) Profitabilitas
ρx₂y₁
( X 2) (Y 2 )
ρx 2 y 2
ρx 3 y 1
Leverage
( X 3) ρx 3 y 2

2) Memutuskan hipotesis dan persamaan structural

Persamaan struktural 1 :

Y 1 = PY 1 X 1 + PY 2 X 2 + P Y 3 X 3 + PY 4 X 4 + e1

Persamaan struktural 2 :

Y 2 = PY 2 X 1 + PY 2 X 2 + PY 2 X 3 + PY 2 X 4 + e2

Dimana dalam penelitian ini :

Y 1 = Manajemen Laba

Y 2 = Profitabilitas

X₁ = Good Corporate Governance

X₂ = Ukuran Perusahaan

X₃ = Leverage
ρx₁y₁ = Koefisien jalur X₁ ke Y 1

ρx₂y₁ = Koefisien jalur X₂ ke Y 1

ρx₃y₁ = Koefisien jalur X₃ ke Y 1

ρx₁y₂ = Koefisien jalur X₁ ke Y 2

ρx₂y₂ = Koefisien jalur X₂ ke Y 2

ρx₃y₂ = Koefisien jalur X₃ ke Y 2

ρy₁y₂ = Koefisien jalur Y 1 ke Y 2

ϵ₁ = Koefisien jalur variabel error 1

ϵ₂ = Koefisien jalur variabel error 2

3) Penafsiran hasil substruktur 1

Melihat pengaruh GCG, Ukuran Perusahaan dan Leverage secara parsial terhadap

Manajemen Laba.

(1) Pengaruh antara Good Corporate Governance dan Manajemen Laba

(2) Pengaruh antara Komite Audit dan Manajemen Laba

(3) Pengaruh antara Leverage dan Manajemen Laba

(4) Pengaruh antara Ukuran Perusahaan dan Manajemen Laba

4) Penafsiran hasil untuk substruktur 2

Melihat pengaruh Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan dan Leverage

secara parsial terhadap Profitabilitas.

(1) Pengaruh antara Good Corporate Governance dengan Profitabilitas

(2) Pengaruh antara Ukuran Perusahaa dengan Profitabilitas

(3) Pengaruh antara Leverage dengan Profitabilitas

5) Perhitungan pengaruh
(a) Pengaruh langsung (direct effect atau DE)

Jonathan Sarwono (2007: 46) menjelaskan bahwa untuk mengetahui pengaruh

langsung (direct effect atau DE), digunakan formula sebagai berikut :

Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Manajemen Laba X1 → Y 1

Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba X3 → Y 1

Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba X3 → Y 1

Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas X1 → Y 2

Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas X2 → Y 2

Pengaruh Leverage terhadap Profitabilitas X3 → Y 2

Pengaruh variabel Manajemen Laba terhadap Profitabilitas Y1 → Y2

(b) Pengaruh tidak langsung (indirect effect atau IE)

Jonathan Sarwono (2007 : 46) menjelaskan bahwa untuk mengetahui pengaruh tidak

langsung (indirect effect atau IE) digunakan formula sebagai berikut :

Pengaruh variabel Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas melalui

Manajemen Laba sebagai variabel intervening X 1 → Y 1 → Y 2

Pengaruh variabel Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas melalui Manajemen

Laba sebagai variabel intervening X 2 → Y 1 → Y 2

Pengaruh variabel Leverage terhadap Profitabilitas melalui Manajemen Laba sebagai

variabel intervening X 3 → Y 1 → Y 2

(c) Pengaruh total (total effect)

Jonathan Sarwono (2007: 46) menjelaskan bahwa untuk mengetahui pengaruh total (total

effect) digunakan formula sebagai berikut :


Pengaruh variabel Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas melalui

Manajemen Laba sebagai variabel intervening X1 → Y 1 → Y 2

Pengaruh variabel Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas melalui Manajemen

Laba sebagai variabel intervening X2 → Y 1 → Y 2

Pengaruh variabel Leverage terhadap Profitabilitas melalui Manajemen Laba sebagai

variabel intervening X3 → Y 1 → Y 2

Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Manajemen Laba X1 → Y 1

Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba X3 → Y 1

Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba X3 → Y 1

Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas X1 → Y 2

Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas X2 → Y 2

Pengaruh Leverage terhadap Profitabilitas X3 → Y 2

Pengaruh variabel Manajemen Laba terhadap Profitabilitas Y1 → Y2

6) Langkah-langkah dalam menguji hipotesis adalah :

(1) Menentukan hipotesis yaitu H 0 dan H 1

(2) Menghitung besarnya t hitung, besarnya t hitung dapat dilihat pada hasil perhitungan

SPSS (tabel coefficients)

(3) Menghitung besarnya angka t tabel dengan ketentuan tarif signifikansi 0,05 dan

Derajat Kebebasan (DK) dengan ketentuan : DK = n – 2 (Jonathan Sarwono, 2007)

(4) Menentukan kriteria uji hipotesis sebagai berikut :

Jika t hitung > t tabel, maka H 0 ditolak dan H 1 diterima

Jika t hitung≤ t tabel, maka H 0 diterima dan H 1 ditolak


(5) Membuat keputusan apakah terdapat pengaruh dari masing - masing variabel X 1 ,

X 2 , dan X 3 , terhadap variabel Y 1

7) Membuat diagram jalur untuk model II dengan memperhatikan pengaruh-pengaruh

baik secara tidak langsung, langsung dan pengaruh total

8) Menentukan kesimpulan-kesimpulan dari penelitian ini mengenai pengaruh GCG

Ukuran Perusahaan, dan Leverage terhadap Profitabilitas dan Manajemen Laba baik

secara gabungan maupun secara parsial.

[Link]. Uji Sobel

Signifikan atau tidak pengaruh mediasi dapat diuji dengan sobel test. Seperti dijelaskan di

atas bahwa sobel test menghendaki asumsi jumlah sampel besar dan nilai koefisien mediasi

berdistribusi normal. Hasil sobel test memberikan nilai estimasi indirect effect yang kemudian

di cari nilai t hitungnya dengan cara membagi besarnya nilai data terhadap nilai standart error

dan membandingkan dengan t tabel. Jika nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel berarti

pengaruh mediasi dikatakan signifikan. Standar error koefisien a dan b ditulis dengan Sa dan

Sb, besarnya standar error tidak langsung (indirect effect) Sab dihitung dengan rumus berikut

ini :

Sab= √b 2 Sa 2+a 2 Sb 2+ Sa 2 Sb 2

Untuk menguji signifikansi pengaruh tidak langsung, maka kita perlu menghitung nilai t

dari koefisien ab dengan rumus sebagai berikut :

ab
t = Sab
Nilai t hitung ini dibandingkan dengan nilai t tabel dan jika nilai t hitung lebih besar dari

nilai t tabel maka dapat disimpulkan bahwa terjadi pengaruh mediasi (Ghozali, 2013:255).
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Gambaran Umum Penelitian

Industri Manufaktur adalah industri pengolahan, yaitu suatu usaha yang

mengolah/mengubah bahan mentah menjadi barang jadi ataupun setengah jadi yang

mempunyai nilai tambah, yang dilakukan secara mekanis dengan mesin, ataupun tanpa

menggunakan mesin/manual (BPS:2008). Dalam hal ini peneliti memilih perusahaan

manufaktur sub sektor makanan dan minuman.

Objek dari penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur

Sub Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016.

Subjek penelitian adalah laporan keuangan tahunan yang diambil dari website Bursa Efek

Indonesia yaitu [Link]. Pemilihan sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan

metode purposive sampling dengan beberapa ketentuan. Total perusahaan Manufaktur Sub

Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 5 tahun adalah

15 perusahaan, dari 15 perusahaan tersebut hanya 14 perusahaan yang menjadi sampel

penelitian (1 perusahan delisting). Berikut merupakan profil dari 14 perusahaan terpilih yang

dijadikan sampel :

1) Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (TPS Food) (AISA) didirikan pada tanggal 26 Januari

1990 dengan nama PT Asia Intiselera dan mulai beroperasi secara komersial pada

tahun 1990. Kantor pusat AISA berada di Gedung Plaza Mutiara, LT. 16, Jl. DR. Ide

Agung Gede Agung, Kav.E.1.2 No 1 & 2 (Jl. Lingkar Mega Kuningan), Jakarta
Selatan 12950. Lokasi pabrik mie kering, biskuit dan permen terletak di Sragen, Jawa

Tengah. Usaha perkebunan kelapa sawit terletak di beberapa lokasi di Sumatera dan

Kalimantan. Usaha pengolahan dan distribusi beras terletak di Cikarang, Jawa Barat

dan Sragen, Jawa Tengah.

Telp : (62-21) 5795-6768 (Hunting), Fax: (62-21) 5785-3456.

2) Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) didirikan tanggal 03 Juni 1997 dan memulai kegiatan

usaha komersialnya pada tahun 1997. Kantor pusat ALTO terletak di Kp. Pasir

Dalem RT.02 RW.09 Desa Babakan pari, Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi,

Jawa Barat 43158 – Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang

lingkup kegiatan ALTO adalah bergerak dalam bidang industri air mineral (air

minum) dalam kemasan plastik, makanan, minuman dan pengalengan/pembotolan

serta industri bahan kemasan. Produksi Air minum dalam kemasan secara komersial

dimulai pada tanggal 3 Juni 1997.

Telp: (62-266) 735-813 (Hunting), Fax: (62-266) 731-319

3) Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (sebelumnya Cahaya Kalbar Tbk) (CEKA) didirikan

03 Februari 1968 dengan nama CV Tjahaja Kalbar dan mulai beroperasi secara

komersial pada tahun 1971. Kantor pusat CEKA terletak di Kawasan Industri

Jababeka II, Jl. Industri Selatan 3 Blok GG No.1, Cikarang, Bekasi 17550, Jawa

Barat – Indonesia, sedangkan lokasi pabrik terletak di Kawasan Industri Jababeka,

Cikarang, Jawa Barat dan Pontianak, Kalimantan Barat. Berdasarkan Anggaran

Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan CEKA meliputi bidang industri makanan

berupa industri minyak nabati (minyak kelapa sawit beserta produk-produk

turunannya), biji tengkawang, minyak tengkawang dan minyak nabati spesialitas


untuk industri makanan & minuman; bidang perdagangan lokal, ekspor, impor, dan

berdagang hasil bumi, hasil hutan, berdagang barang-barang keperluan sehari-hari.

Saat ini produk utama yang dihasilkan CEKA adalah Crude Palm Oil (CPO) dan

Palm Kernel serta turunannya.

Telp: (62-21) 8983-0003, 8983-0004 (Hunting), Fax: (62-21) 893-7143.

4) Delta Djakarta Tbk (DLTA) didirikan tanggal 15 Juni 1970 dan memulai kegiatan

usaha komersialnya pada tahun 1933. Kantor pusat DLTA dan pabriknya berlokasi di

Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur – Jawa Barat. Berdasarkan Anggaran

Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan DLTA yaitu terutama untuk memproduksi

dan menjual bir pilsener dan bir hitam dengan merek “Anker”, “Carlsberg”, “San

Miguel”, “San Mig Light” dan “Kuda Putih”. DLTA juga memproduksi dan menjual

produk minuman non-alkohol dengan merek “Sodaku”.

Telp : (62-21) 882-2520 (Hunting), Fax : (62-21) 881-9423.

5) Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) didirikan 02 September 2009 dan mulai

beroperasi secara komersial pada tahun 1 Oktober 2009. ICBP merupakan hasil

pengalihan kegiatan usaha Divisi Mi Instan dan Divisi Penyedap Indofood Sukses

Makmur Tbk (INDF), pemegang saham pengendali. Kantor pusat Indofood CBP

berlokasi di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Lantai 23, Jl. Jend. Sudirman, Kav.

76-78, Jakarta 12910, Indonesia, sedangkan pabrik perusahaan dan anak usaha

berlokasi di pulau Jawa, Sumatera, Kalimatan, Sulawesi dan Malaysia. Berdasarkan

Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ICBP terdiri dari, antara lain,

produksi mi dan bumbu penyedap, produk makanan kuliner, biskuit, makanan ringan,
nutrisi dan makanan khusus, kemasan, perdagangan, transportasi, pergudangan dan

pendinginan, jasa manajemen serta penelitian dan pengembangan.

Telp: (62-21) 5793-7500 (Hunting), Fax: (62-21) 5793-7557

6) Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) didirikan tanggal 14 Agustus 1990 dengan

nama PT Panganjaya Intikusuma dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada

tahun 1990. Kantor pusat INDF berlokasi di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Lantai

21, Jl. Jend. Sudirman Kav. 76 – 78, Jakarta 12910 – Indonesia. Sedangkan pabrik

dan perkebunan INDF dan anak usaha berlokasi di berbagai tempat di pulau Jawa,

Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Malaysia. Berdasarkan Anggaran Dasar

Perusahaan, ruang lingkup kegiatan INDF antara lain terdiri dari mendirikan dan

menjalankan industri makanan olahan, bumbu penyedap, minuman ringan, kemasan,

minyak goreng, penggilingan biji gandum dan tekstil pembuatan karung terigu.

Telp : (62-21) 5795-8822 (Hunting), Fax : (62-21) 5793-7550

7) Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) didirikan 03 Juni 1929 dengan nama N.V.

Nederlandsch Indische Bierbrouwerijen dan mulai beroperasi secara komersial pada

tahun 1929. Kantor pusat MLBI berlokasi di Talavera Office Park Lantai 20, Jl. Let.

Jend. TB. Simatupang Kav. 22-26, Jakarta 12430. Berdasarkan Anggaran Dasar

Perusahaan, ruang lingkup kegiatan MLBI beroperasi dalam industri bir dan

minuman lainnya. Saat ini, kegiatan utama MLBI adalah memproduksi dan

memasarkan bir (Bintang dan Heineken), bir bebas alkohol (Bintang Zero) dan

minuman ringan berkarbonasi (Green Sands).

Telp: (62-21) 7592-4611 (Hunting), Fax: (62-21) 7592-4617.


8) Mayora Indah Tbk (MYOR) didirikan 17 Februari 1977 dan mulai beroperasi secara

komersial pada bulan Mei 1978. Kantor pusat Mayora berlokasi di Gedung Mayora,

[Link] Raya No. 21-23, Jakarta 11440 – Indonesia, dan pabrik terletak di

Tangerang dan Bekasi. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup

kegiatan Mayora adalah menjalankan usaha dalam bidang industri, perdagangan serta

agen/perwakilan. Saat ini, Mayora menjalankan bidang usaha industri biskuit (Roma,

Danisa, Royal Choice, Better, Muuch Better, Slai O Lai, Sari Gandum, Sari Gandum

Sandwich, Coffeejoy, Chees’kress.), kembang gula (Kopiko, KIS, Tamarin dan Juizy

Milk), wafer (beng beng, Astor, Roma), coklat (Choki-choki), kopi (Torabika dan

Kopiko) dan makanan kesehatan (Energen) serta menjual produknya di pasar lokal

dan luar negeri.

Telp: (62-21) 565-5320 s/d 22 (Hunting), Fax: (62-21) 565-5323.

9) Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) didirikan tanggal 16 April 1974 dengan nama PT

Aneka Bumi Asih dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1974.

Kantor pusat PSDN terletak di Gedung Plaza Sentral, Lt. 20, Jln. Jend. Sudirman No.

47, Jakarta 12930 dan pabriknya berlokasi di Jl. Ki Kemas Rindho, Kertapati,

Palembang. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan PSDN

adalah bergerak dalam bidang pengolahan dan perdagangan hasil bumi (karet remah,

kopi bubuk dan instan serta kopi biji).

10) Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) (Sari Roti) didirikan 08 Maret 1995 dengan

nama PT Nippon Indosari Corporation dan mulai beroperasi komersial pada tahun

1996. Kantor pusat dan salah satu pabrik ROTI berkedudukan di Kawasan Industri

MM 2100 Jl. Selayar blok A9, Desa Mekarwangi, Cikarang Barat, Bekasi 17530 –
Jawa Barat, dan pabrik lainnya berlokasi di Kawasan Industri Jababeka Cikarang

blok U dan W – Bekasi, Pasuruan, Semarang, Makassar, Purwakarta, Palembang,

Cikande dan Medan. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup usaha

utama ROTI bergerak di bidang pabrikasi, penjualan dan distribusi roti (roti tawar,

roti manis, roti berlapis, cake dan bread crumb) dengan merek "Sari Roti".

Pendapatan utama ROTI berasal dari penjualan roti tawar dan roti manis.

11) Sekar Bumi Tbk (SKBM) didirikan 12 April 1973 dan mulai beroperasi secara

komersial pada tahun 1974. Kantor pusat SKBM berlokasi di Plaza Asia, Lantai 2, Jl.

Jend. Sudirman Kav. 59, Jakarta 12190 – Indonesia dan pabrik berlokasi di Jalan

Jenggolo 2 No. 17 Waru, Sidoarjo serta tambak di Bone dan Mare, Sulawesi.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan SKBM adalah

dalam bidang usaha pengolahan hasil perikanan laut dan darat, hasil bumi dan

peternakan. Sekar Bumi memiliki 2 divisi usaha, yaitu hasil laut beku nilai tambah

(udang, ikan, cumi-cumi, dan banyak lainnya) dan makanan olahan beku (dim sum,

udang berlapis tepung roti, bakso seafood, sosis, dan banyak lainnya). Selain itu,

melalui anak usahanya, Sekar Bumi memproduksi pakan ikan, pakan udang, mete

dan produk kacang lainnya. Produk-produk Sekar Bumi dipasarkan dengan berbagai

merek, diantaranya SKB, Bumifood dan Mitraku.

Telp: (62-21) 5140-1122 (Hunting), Fax: (62-21) 5140-1212.

12) Sekar Laut Tbk (SKLT) didirikan 19 Juli 1976 dan mulai beroperasi secara komersial

pada tahun 1976. Kantor pusat SKLT berlokasi di Wisma Nugra Santana, Lt. 7, Suite

707, Jln. Jend. Sudirman Kav. 7-8, Jakarta 10220 dan Kantor cabang berlokasi di

Jalan Raya Darmo No. 23-25, Surabaya, serta Pabrik berlokasi di Jalan Jenggolo
II/17 Sidoarjo. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan

SKLT meliputi bidang industri pembuatan kerupuk, saos tomat, sambal, bumbu

masak dan makan ringan serta menjual produknya di dalam negeri maupun di luar

negeri. Produk-produknya dipasarkan dengan merek FINNA.

13) Siantar Top Tbk (STTP) didirikan tanggal 12 Mei 1987 dan mulai beroperasi secara

komersial pada bulan September 1989. Kantor pusat Siantar Top beralamat di Jl.

Tambak Sawah No. 21-23 Waru, Sidoarjo, dengan pabrik berlokasi di Sidoarjo (Jawa

Timur), Medan (Sumatera Utara), Bekasi (Jawa Barat) dan Makassar (Sulawesi

Selatan). Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Siantar

Top terutama bergerak dalam bidang industri makanan ringan, yaitu mie (snack

noodle, antara lain: Soba, Spix Mie Goreng, Mie Gemes, Boyki, Tamiku, Wilco,

Fajar, dll), kerupuk (crackers, seperti French Fries 2000, Twistko, Leanet, Opotato,

dll), biskuit dan wafer (Goriorio, Gopotato, Go Malkist, Brio Gopotato, Go Choco

Star, Wafer Stick, Superman, Goriorio Magic, Goriorio Otamtam, dll), dan kembang

gula (candy dengan berbagai macam rasa seperti: DR. Milk, Gaul, Mango, Era Cool,

dll). Selain itu, STTP juga menjalankan usaha percetakan melalui anak usaha (PT

Siantar Megah Jaya).

14) Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) didirikan tanggal 2

November 1971 dan mulai beroperasi secara komersial pada awal tahun 1974.

Kantor pusat dan pabrik Ultrajaya berlokasi di Jl. Raya Cimareme 131 Padalarang –

40552, Kab. Bandung Barat. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang

lingkup kegiatan Ultrajaya bergerak dalam bidang industri makanan dan minuman,

dan bidang perdagangan. Di bidang minuman Ultrajaya memproduksi rupa-rupa jenis


minuman seperti susu cair, sari buah, teh, minuman tradisional dan minuman

kesehatan, yang diolah dengan teknologi UHT (Ultra High Temperature) dan

dikemas dalam kemasan karton aseptik. Di bidang makanan Ultrajaya memproduksi

susu kental manis, susu bubuk, dan konsentrat buah-buahan tropis. Ultrajaya

memasarkan hasil produksinya dengan cara penjualan langsung (direct selling),

melalui pasar modern (modern trade).

Telp : (62-22) 8670-0700 (Hunting), Fax : (62-22) 665-4612.

4.1.2. Analisis Stistik Deskriptif

Deskripsi data merupakan bagian dari analisis yang memberikan gambaran awal

mengenai variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Gambaran dari variabel penelitian

yang digunakan yaitu nilai rata-rata (mean), nilai maksimum, nilai minimum dan standar

deviasi dari setiap variabel. Deskripsi data merupakan bagian dari analisis yang memberikan

gambaran awal mengenai variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Gambaran dari

variabel penelitian yang digunakan yaitu nilai rata-rata (mean), nilai maksimum, nilai minimum

dan standar deviasi dari setiap variabel. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

Profitabilitas, sedangkan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, dan Leverage, dan variabel intervening

dalam penelitian ini adalah Manajemen Laba. Hasil dari pengujian statistik deskriptif dari

variabel yang diteliti di sajikan dalam tabel dibawah ini.


Tabel 4.1 Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

GCG 70 .25 .57 .3719 .07025


Ukuran Perusahaan 70 20.43 32.15 28.0725 2.53296
Leverage 70 .15 .75 .4693 .14371
Manajemen Laba 70 -10.04 .31 -.1532 1.21016
Profitabilitas 70 -5.32 111.77 15.1735 18.73424
Valid N (listwise) 70

Tabel 4.1 merupakan output statistik deskriptif variabel penelitian dari tahun 2012 sampai

2016 dengan menggunakan sofware SPSS. Jumlah sampel keseluruhan adalah 14 perusahaan

Manufaktur Sub Sektor Makanan dan Minuman selama 5 tahun. Dari tabel tersebut dapat

dijelaskan statistik deskriptif masing-masing variabel sebagai berikut :

1) Good Corporate Governance (GCG)

Variabel GCG yang diproksikan oleh proporsi dewan komisaris independen (PDKI)

menunjukkan persentase jumlah dewan komisaris independen terhadap jumlah total

komisaris yang ada dalam susunan dewan komisaris perusahaan. Berdasarkan tabel

4.1, dapat diketahui besarnya nilai proporsi dewan komisaris independen berkisar

antara 0,25 – 0,57 dengan nilai mean (rata – rata) sebesar 0,3719 dan standar deviasi

sebesar 0,07025. Nilai mean sebesar 0,3719 memiliki arti bahwa rata – rata proporsi

dewan komisaris independen pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan

minuman sebesar 37,19%. Perusahaan yang memiliki nilai proporsi dewan komisaris

terendah dalam penelitian ini adalah PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) dengan

nilai PDKI pada tahun 2016 sebesar 0,25. Sedangkan perusahaan dengan nilai proporsi
dewan komisaris independen tertinggi adalah PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI)

dengan nilai PDKI pada tahun 2016 sebesar 0,57.

2) Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan menunjukkan besarnya skala perusahaan. Ukuran perusahaan

dapat diukur oleh total aktiva (assets) perusahaan. Berdasarkan tabel 4.1, dapat

diketahui besarnya nilai ukuran perusahaan berkisar antara 20,43 – 32,15 dan nilai

mean (rata – rata ) sebesar 28,0725 dengan nilai standar deviasi sebesar 2,53296. Nilai

mean sebesar 28,0725 memiliki arti bahwa rata – rata ukuran perusahaan pada

perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman sebesar 2807,25%.

Perusahaan yang memiliki nilai ukuran perusahaan terendah dalam penelitian ini

adalah PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) dengan ukuran perusahaan sebesar 20,43 pada

tahun 2012. Sedangkan nilai ukuran perusahaan tertinggi adalah PT Indofood Sukses

Makmur Tbk (INDF) dengan ukuran perusahaan pada tahun 2016 sebesar 32,15.

3) Leverage

Rasio Leverage adalah rasio yang menunjukkan besarnya aktiva sebuah perusahaan

yang didanai dengan utang. Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa nilai

leverage berkisar antara 0,15 – 0,75 dan nilai mean (rata – rata) sebesar 0,4693 dengan

standar deviasi sebesar 0,14371. Nilai mean sebesar 0,4693 memiliki arti bahwa rata –

rata leverage pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman sebesar

46,93%. Perusahaan yang memiliki nilai leverage terendah dalam penelitian ini adalah

PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) dengan leverage sebesar 0,15 pada tahun 2012.

Sedangkan perusahaan dengan nilai leverage tertinggi adalah PT Multi Bintang

Indonesia Tbk (MLBI) dengan leverage pada tahun 2014 sebesar 0,75.
4) Manajemen Laba

Salah satu parameter penting dalam mengukur kinerja manajemen adalah laba. Untuk

menunjukan prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba, manajemen cenderung

mengelola laba secara oportunis dan melakukan manipulasi laporan keuangan.

Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa nilai manajemen laba berkisar antara

-10,04% – 0,31% dan nilai mean (rata – rata) sebesar -0,1532 dengan standard deviasi

sebesar 1,21016. Nilai mean sebesar -0,1532 memiliki arti bahwa rata – rata tingkat

manajemen laba pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman

adalah -15,32%. Perusahaan yang memiliki nilai manajemen laba terendah adalah PT

Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) sebesar -10,04 pada tahun 2012. Sedangkan perusahaan

yang memiliki nilai manajemen laba tertinggi adalah PT Tiga Pilar Sejahtera Food

Tbk (AISA) dengan nilai manajemen laba sebesar 0,31% pada tahun 2016.

5) Profitabilitas

Rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan besarnya laba yang diperoleh

sebuah perusahaan dalam periode tertentu. Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui

bahwa nilai profitabilitas berkisar antara -5,32% – 111,77% dan mean (rata – rata)

sebesar 15,1735 dengan standar deviasi 18,73424. Nilai mean sebesar 15,1735 memiliki

arti bahwa rata – rata tingkat profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sektor

makanan dan minuman adalah 1517,35%. Perusahaan yang memiliki nilai profitabilitas

terendah adalah PT Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) dengan nilai profitabilitas

sebesar -5,32% pada tahun 2015. Sedangkan perusahaan yang memiliki nilai

profitabilitas tertinggi adalah PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) dengan nilai

profitabilitas 111,77% pada tahun 2015.


4.1.3. Hasil Uji Asumsi Klasik

[Link]. Substruktur 1

1) Uji Normalitas

Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai Asym. Sig. (2-

Tailed) dalam Kolmogorov-Smirnov. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan

nilai residual yang diuji dengan Kolmogorov-Smirnov Test melalui pengukuran tingkat

signifikan 5%. Data dikatakan berdistribusi normal apabila [Link]. (2-Tailed)

lebih besar dari 5% atau 0,05 (Ghozali, 2013).

Pada penelitian ini dilakukan outlier untuk mendapatkan normalitas data. Menurut

Ghozali (2013:41) data outlier adalah kasus atau data yang memiliki karakteristik unik

yang terlihat sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan muncul dalam

bentuk nilai ekstrim. Deteksi terhadap outlier dapat dilakukan dengan menentukan

nilai batas yang dapat dikatagorikan sebagai data outlier yaitu dengan cara

mengkonversi nilai data ke dalam skor standaridized atau yang biasa disebut z-score.

Setelah dilakukan outlier dari 70 sampel, 6 data dinyatakan sebagai data outlier

sehingga harus dihapus dari sampel.


Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 64
Mean .0000000
Normal Parametersa,b
Std. Deviation .06587405
Absolute .076
Most Extreme Differences Positive .042
Negative -.076
Kolmogorov-Smirnov Z .604
Asymp. Sig. (2-tailed) .858

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.

Dari tabel diatas diperolah nilai signifikan sebesar 0,858 lebih dari nilai 0,05. Hal ini

menunjukkan nilai residual terdistribusi secara normal atau memenuhi asumsi klasik

normalitas. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa data dari variabel GCG,

ukuran perusahaan, leverage, manajemen laba dan profitabilitas, sudah berdistribusi

normal.

2) Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan

variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel

independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai cut-off

yang dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance ≥

0,10 dan nilai VIF ≤ 10 (Ghozali, 2013). Ringkasan hasil uji multikolinearitas

penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :


Tabel 4.3 Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Model Unstandardized Standardized T Sig. Collinearity Statistics


Coefficients Coefficients

B Std. Error Beta Tolerance VIF

(Constant) .142 .096 1.487 .142

GCG -.102 .123 -.102 -.830 .410 .934 1.070


1 Ukuran .000 .004 -.015 -.117 .907 .868 1.152
Perusahaan

Leverage -.172 .061 -.355 -2.817 .007 .889 1.125

a. Dependent Variable: Manajemen Laba

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan

bahwa tidak ada variabel independen yang memiliki nilai toleransi < 0,10 dan nilai

VIF > 10. Hal ini dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak

terjadi multikolinearitas.

3) Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel

pengganggu pada periode tertentu dengan periode sebelumnya. Untuk mengetahui

adanya autokorelasi dalam model regresi dilakukan pengujian Durbin-Watson. Tabel

berikut ini menunjukkan hasil pengujian autokorelasi.

Tabel 4.3 Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

1 .392a .153 .111 .06750 2.149

a. Predictors: (Constant), Leverage, GCG, Ukuran Perusahaan


b. Dependent Variable: Manajemen Laba
Berdasarkan tabel 4.3, hasil pengujian diperoleh nilai DW sebesar 2,149 Jika dilihat

dari pengambilan keputusan termasuk du < d < 4 – du = 1,6932 < 2,149 < 2,3068

dapat disimpukan tidak terjadi autokorelasi.

4) Uji Heteroskedasitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan meguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain

(Ghozali, 2013). Menurut Priyatno (2009) heteroskedastisitas adalah keadaan dimana

terjadinya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Dapat dilihat pada

scatter plot titik-titik menyebar tanpa menggumpal dan membentuk sebuah pola dapat

disimpulkan data tidak terkena heteroskedastisitas.

Tabel 4.4 Hasil Uji Heteroskedasitas


[Link]. Substruktur 2

1) Uji Normalitas

Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai Asym. Sig. (2-

Tailed) dalam Kolmogorov-Smirnov. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan

nilai residual yang diuji dengan Kolmogorov-Smirnov Test melalui pengukuran tingkat

signifikan 5%. Data dikatakan berdistribusi normal apabila [Link]. (2-Tailed)

lebih besar dari 5% atau 0,05 (Ghozali, 2013).

Pada penelitian ini dilakukan outlier untuk mendapatkan normalitas data. Menurut

Ghozali (2013:41) data outlier adalah kasus atau data yang memiliki karakteristik unik

yang terlihat sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan muncul dalam

bentuk nilai ekstrim. Deteksi terhadap outlier dapat dilakukan dengan menentukan

nilai batas yang dapat dikatagorikan sebagai data outlier yaitu dengan cara

mengkonversi nilai data ke dalam skor standaridized atau yang biasa disebut z-score.

Setelah dilakukan outlier dari 70 sampel, 3 data dinyatakan sebagai data outlier

sehingga harus dihapus dari sampel.

Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 67
Mean .0000000
Normal Parametersa,b
Std. Deviation 9.46617568
Absolute .094
Most Extreme Differences Positive .094
Negative -.086
Kolmogorov-Smirnov Z .768
Asymp. Sig. (2-tailed) .597

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.
Tabel diatas menunjukkan bahwa tingkat signifikan adalah 0,597 yang telah berada di

atas 0,05, hal ini menunjukkan nilai residual terdistribusi secara normal atau

memenuhi asumsi klasik normalitas. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa data

dari variabel GCG, ukuran perusahaan, leverage, manajemen laba dan profitabilitas,

sudah berdistribusi normal.

2) Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan

variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel

independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai cut-

offyang dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance ≥

0,10 dan nilai VIF ≤ 10 (Ghozali, 2013). Ringkasan hasil ujimultikolinearitas

penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6 Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Model Unstandardized Standardized T Sig. Collinearity Statistics


Coefficients Coefficients

B Std. Error Beta Tolerance VIF

(Constant) 38.111 14.266 2.671 .010

GCG 74.851 17.411 .471 4.299 .000 .930 1.075


1
Ukuran Perusahaan -1.710 .528 -.365 -3.240 .002 .879 1.137

Leverage -11.270 8.873 -.140 -1.270 .209 .924 1.083

a. Dependent Variable: Profitabilitas

Berdasarkan tabel diatas, hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan bahwa tidak

ada variabel independen yang memiliki nilai toleransi < 0,10 dan nilai VIF > 10. Hal

ini dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak terjadi

multikolinearitas .
3) Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel

pengganggu pada periode tertentu dengan periode sebelumnya. Untuk mengetahui

adanya autokorelasi dalam model regresi dilakukan pengujian Durbin-Watson. Tabel

berikut ini menunjukkan hasil pengujian autokorelasi.

Tabel 4.7 Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

1 .544a .296 .263 9.68894 2.100

a. Predictors: (Constant), Leverage, GCG, Ukuran Perusahaan


b. Dependent Variable: Profitabilitas

Tidak ada autokorelasi apabila du < d < 4-du = 1,6988 < 2,100 < 2,3012, dapat

disimpukan tidak terjadi autokorelasi.

4) Uji Heteroskedasitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan meguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain

(Ghozali, 2013).Menurut Priyatno (2009) heteroskedastisitas adalah keadaan dimana

terjadinya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Dapat dilihat pada

scatter plot titik-titik menyebar tanpa menggumpal dan membentuk sebuah pola dapat

disimpulkan data tidak terkena heteroskedastisitas.


Tabel 4.8 Hasil Uji Heteroskedasitas

4.1.4. Hasil Uji Hipotesis

[Link]. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji-t)

1) Substruktur 1

Uji statistik t dilakukan untuk menguji pengaruh dari variabel independen terhadap

variabel dependen secara individu. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikan t yang

dihasilkan dari perhitungan. Apabila nilai signifikan t <tingkat signifikan (0,05) maka

variabel independen secara individu berpengaruh terhadap variabel dependennya,

sebaliknya jika nilai signifikan t > tingkat signifikan (0,05) maka variabel independen

secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependennya. Hasil uji signifikan

t dapat dilihat pada tabel berikut ini :


Tabel 4.9 Hasil Uji t Substruktur 1

Coefficients a

Model Unstandardized Coefficients Standardized T Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .142 .096 1.487 .142

GCG -.102 .123 -.102 -.830 .410


1
Ukuran Perusahaan .000 .004 -.015 -.117 .907

Leverage -.172 .061 -.355 -2.817 .007

a. Dependent Variable: Manajemen Laba

Berdasarkan hasil signifikan parameter individual (uji t) yang disajikan pada tabel

diatas diketahui bahwa variabel X3 memiliki nilai signifikan < 0,05 dan t hitung >

1,9962 (nilai t tabel) yang artinya secara individu X3 berpengaruh signifikan terhadap

Y1. Sedangkan variabel X1 dan X2 memiliki nilai signifikan > 0,05 dan t hitung <

1,9962 (nilai t tabel) yang artinya secara individu X1 dan X2 tidak berpengaruh

signifikan terhadap Y1.

2) Substruktur 2

Uji statistik t dilakukan untuk menguji pengaruh dari variabel independen terhadap

variabel dependen secara individu. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikan t yang

dihasilkan dari perhitungan. Apabila nilai signifikan t <tingkat signifikan (0,05) maka

variabel independen secara individu berpengaruh terhadap variabel dependennya,

sebaliknya jika nilai signifikan t > tingkat signifikan (0,05) maka variabel independen

secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependennya. Hasil uji signifikan

t dapat dilihat pada tabel berikut ini :


Tabel 4.10 Hasil Uji t substruktur 2

Coefficients a

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

(Constant) 38.111 14.266 2.671 .010

GCG 74.851 17.411 .471 4.299 .000

1 -1.710 .528 -.365 -3.240 .002


Ukuran Perusahaan

Leverage -11.270 8.873 -.140 -1.270 .209


Manajemen Laba 21.584 18.509 .155 1.166 .249

a. Dependent Variable: Profitabilitas

Berdasarkan hasil signifikan parameter individual (uji t) yang disajikan pada tabel

diatas diketahui bahwa variabel X1 dan X2 memiliki nilai signifikan < 0,05 dan t

hitung >1,9977 (nilai t tabel) yang artinya secara individu X1 dan X2 berpengaruh

signifikan terhadap Y2. Sedangkan variabel X3 memiliki nilai signifikan > 0,05 dan t

hitung < 1,9977 (nilai t tabel) yang artinya secara individu X3 tidak berpengaruh

signifikan terhadap Y2, untuk variabel Y1 memiliki nilai signifikan > 0,05 dan t

hitung < 1,9977 (nilai t tabel) yang artinya secara individu Y1 tidak berpengaruh

signifikan terhadap Y2.

[Link]. Analisis Jalur (Path Analysis)

Analisis jalur merupakan suatu teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang

terjadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel terikat tidak

hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung. Dalam penelitian ini, analisis jalur

digunakan untuk menguji hipotesis pertama sampai ketujuh. Jonathan (2007: 39-40)

menjelaskan kriteria yang digunakan dalam pengujian hipotesis ini adalah :


 Melihat besarnya nilai thitung dan membandingkannya dengan ttabel dan dengan

melihat tingkat signifikansi yang telah ditetapkan sebesar 5%. Apabila t hitung > ttabel dan

nilai signikansi <0,05 maka hipotesis diterima sedangkan apabila t hitung ≤ ttabel dan nilai

signifikansi ≥ 0,05 maka hipotesis ditolak

 Besarnya ttabel dihitung dengan melihat derajat kebebasan (DK) dengan cara DK= n-3

dan ketentuan tarif signifikansi dalam penelitian ini sebesar 0,05 (5%). Penggunaan

signifikansi sebesar 5% menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan/keyakinan sebesar

95% dan tingkat kesalahan yang ditoleransi dalam penelitian ini sebesar 5%.

Nilai masing-masing koefisien regresi diketahui melalui hasil perhitungan SPSS

Statistic 22 For Windows pada lampiran. Berikut adalah penjelasan tentang hasil pengujian

hipotesis untuk persamaan substruktur 1 dan 2.

PENAFSIRAN HASIL SUBSTRUKTUR 1

a) Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Manajemen Laba

Tabel 4.11 Hasil Analisis Hipotesis 1

Variabel dependen : GCG


Variabel Std Nilai t KETERANGAN
B
independen Error Beta t hitung t tabel sig
Hipotesis 1
Manajemen
-0,102 0,123 -0,102 -0,830 1,99962 0,410 Ditolak
Laba
Sumber : Data Sekunder diolah tahun 2018

Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji signifikansi dapat dilakukan dengan

membandingkan thitung dengan ttabel atau dengan membandingkan nilai probabilitas

signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -0,830

sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,99962 sehingga t hitung≤ t tabel (-0,830

≤ 1,99962). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,410 atau
lebih tinggi dari 0,05 (0,410>0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat

disimpulkan bahwa variabel Good corporate governance tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba sehingga hipotesis pertama yang menyatakan “Good Corporate

Governance berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba” ditolak.

b) Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba

Tabel 4.12 Hasil Analisis Hipotesis 2

Variabel dependen : Ukuran Perusahaan


Variabel Std Nilai t KETERANGAN
B
independen Error Beta t hitung t tabel Sig
Hipotesis 2
Manajemen
0,000 0,004 -0,015 -0,117 1,99962 0,907 Ditolak
Laba
Sumber : Data Sekunder diolah tahun 2018

Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji signifikansi dapat dilakukan dengan

membandingkan t hitung dengan t tabelatau dengan membandingkan nilai probabilitas

signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -0,117

sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,99962 sehingga t hitung≤ t tabel (-0,117

≤ 1,99962). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,907 atau

lebih tinggi dari 0,05 (0,907 > 0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat

disimpulkan bahwa variabel Ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba sehingga hipotesis kedua yang menyatakan “Ukuran perusahaan

berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba” ditolak.

c) Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba


Tabel 4.13 Hasil Analisis Hipotesis 3

Variabel dependen : Leverage


Variabel Std Nilai t KETERANGAN
B
independen Error Beta t hitung t tabel Sig
Hipotesis 3
Manajemen
-0,172 0,061 -0,355 -2,817 1,99962 0,007 Diterima
Laba
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018

Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji signifikansi dapat dilakukan dengan

membandingkan t hitung dengan t tabelatau dengan membandingkan nilai probabilitas

signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -2,817

sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,99962 sehingga t hitung > t tabel (-2,817

> 1,99962). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,007 atau

lebih rendah dari 0,05 (0,007 < 0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat

disimpulkan bahwa variabel leverage berpengaruh terhadap manajemen laba sehingga

hipotesis ketiga yang menyatakan “Leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap

manajemen laba” diterima.

PENAFSIRAN HASIL SUBSTRUKTUR 2

d) Pengaruh Good Corporate Governance terhadap profitabilitas

Tabel 4.14 Hasil Analisis Hipotesis 4

Variabel dependen : Good Corporate Governance


Variabel Nilai t KETERANGAN
B Std Error
independen Beta t hitung t tabel Sig Hipotesis 4
Profitabilitas 74,851 17,411 0,471 4,299 1,996 0,000 Diterima
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018

Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji signifikansi dapat dilakukan dengan

membandingkan t hitung dengan t tabelatau dengan membandingkan nilai probabilitas

signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar 4,299
sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,996 sehingga t hitung > t tabel

(4,299>1,996). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,000 atau

lebih rendah dari 0,05 (0,000<0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat

disimpulkan bahwa variabel good corporate governance berpengaruh terhadap

manajemen laba sehingga hipotesis keempat yang menyatakan “Good Corporate

Governance berpengaruh positif signifikan terhadap Profitabilitas” diterima.

e) Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas

Tabel 4.15 Hasil Analisis Hipotesis 5

Variabel dependen : Ukuran Perusahaan


Variabel Nilai t KETERANGAN
B Std Error Beta
independen t hitung t tabel Sig Hipotesis 5
Profitabilitas -1,710 0,528 -0,365 -3,240 1,996 0,002 Diterima
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018

Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji signifikansi dapat dilakukan dengan

membandingkan t hitung dengan t tabelatau dengan membandingkan nilai probabilitas

signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -3,240

sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,996 sehingga t hitung > t tabel (-

3,240>1,996). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,002 atau

lebih rendah dari 0,05 (0,002<0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat

disimpulkan bahwa variabel ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba

sehingga hipotesis kelima yang menyatakan “Ukuran perusahaan berpengaruh negatif

signifikan terhadap Profitabilitas” diterima.

f) Pengaruh Leverage terhadap Profitabilitas

Tabel 4.16 Hasil Analisis Hipotesis 6

Variabel dependen : Leverage


Variabel B Std Error Beta Nilai t KETERANGAN
independen t hitung t tabel Sig Hipotesis 6
Profitabilitas -11,270 8,873 -0,140 -1,270 1,996 0,209 Ditolak
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018

Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji signifikansi dapat dilakukan dengan

membandingkan t hitung dengan t tabelatau dengan membandingkan nilai probabilitas

signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar -1,270

sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 1,996 sehingga t hitung≤ t tabel (-

1,270≤1,996). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,209 atau

lebih tinggi dari 0,05 (0,209>0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat

disimpulkan bahwa variabel leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba

sehingga hipotesis kedua yang menyatakan “Leverage berpengaruh negatif signifikan

terhadap profitabilitas” ditolak.

g) Pengaruh Manajemen Laba terhadap Profitabilitas

Tabel 4.17 Hasil Analisis Hipotesis 7

Variabel dependen : Manajemen Laba


Variabel Nilai t KETERANGAN
B Std Error Beta
independen t hitung t tabel Sig Hipotesis 7
Profitabilitas 21,584 18,509 0,155 1,166 2,0048 0,249 Ditolak
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018

Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji signifikansi dapat dilakukan dengan

membandingkan t hitung dengan t tabelatau dengan membandingkan nilai probabilitas

signifikansi sebesar 0,05. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat t hitung sebesar 1,166

sedangkan t tabel pada signifikansi 0,05 sebesar 2,0048 sehingga t hitung≤ t tabel

(1,166≤2,0048). Selain itu dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,249

atau lebih tinggi dari 0,05 (0,249>0,05). Berdasarkan uji hipotesis diatas, dapat

disimpulkan bahwa variabel manajemen laba tidak berpengaruh terhadap profitabilitas


sehingga hipotesis ketujuh yang menyatakan “Manajemen laba berpengaruh positif

signifikan terhadap Profitabilitas” ditolak.

Untuk melihat besarnya pengaruh dapat dilihat pada nilai beta yang disajikan dalam tabel

berikut ini :

Tabel 4.18 Nilai Beta Hipotesis 1 - 7

Hipotesis Nilai Beta


Good Corporate Governance berpengaruh negatif
H1 -0,102
signifikan terhadap manajemen laba
Ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan
H2 -0,015
terhadap manajemen laba
Leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap
H3 -0,355
manajemen laba
Good Corporate Governance berpengaruh negatif
H4 0,471
signifikan terhadap Profitabilitas
Ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan
H5 -0,365
terhadap Profitabilitas
Leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap
H6 -0,140
profitabilitas
Manajemen laba berpengaruh positif signifikan
H7 0,155
terhadap profitabilitas
Sumber : Perhitungan SPSS Statistik 22 for Windows

Berdasarkan tabel di atas, maka dapat dilakukan perhitungan besarnya pengaruh :

1) Pengaruh langsung (direct effect atau DE)

 Pengaruh variabel good corporate governance terhadap manajemen

laba = -0,102
 Pengaruh variabel ukuran perusahaan terhadap manajemen laba = -0,015

 Pengaruh variabel leverage terhadap manajemen laba = -0,355

 Pengaruh variabel good corporate governance terhadap profitabilitas = 0,471

 Pengaruh variabel ukuran perusahaan terhadap profitabilitas = -0,365

 Pengaruh variabel leverage terhadap profitabilitas = -0,140

 Pengaruh variabel manajemen laba terhadap profitabilitas = 0,155

2) Pengaruh tidak langsung (indirect effect atau IE)

 Pengaruh variabel good corporate governance terhadap profitabilitas melalui

manajemen laba = -0,102 x 0,155 = -0,01581

 Pengaruh variabel ukuran perusahaan terhadap profitabilitas melalui

manajemen laba = -0,015 x 0,155 = -0,002325

 Pengaruh variabel leverage terhadap profitabilitas melalui manajemen

laba = -0,355 x 0,155 = -0,055025

3) Pengaruh Total (Total effect)

 Pengaruh variabel good corporate governance terhadap profitabilitas melalui

manajemen laba = -0,102 + 0,155 = 0,448

 Pengaruh variabel ukuran perusahaan terhadap profitabilitas melalui

manajemen laba = -0,015 + 0,155 = 0,14

 Pengaruh variabel leverage terhadap profitabilitas melalui manajemen

laba = -0,355 + 0,155 = -0,2

 Pengaruh variabel good corporate governance terhadap profitabilitas = 0,471

 Pengaruh variabel ukuran perusahaan terhadap profitabilitas = -0,365

 Pengaruh variabel leverage terhadap profitabilitas = -0,140


 Pengaruh variabel manajemen laba terhadap profitabilitas = 0,155

Dari perhitungan-perhitungan tersebut kemudian digunakan untuk membuat Diagran Jalur

Model 2 sebagai berikut :

€1 0,920
Good Corporate €2 0,839
Governance 0,471
( X 1)
-0,102
Manajemen Laba
Ukuran Perusahaan
0,155 Profitabilitas
(Y 1 )
( X 2) -0,015 (Y 2 )
-0,365
-0,355 -0,140
Leverage
( X 3)

Berdasarkan diagram diatas, dapat disimpulkan persamaan strukturalnya sebagai berikut :

Substruktur 1 : Y1 = -0,102X1 – 0,015X2 – 0,355X3 + 0,920

Berdasarkan persamaan di atas dapat diartikan apabila Good Corporate Governance

naik 1 poin maka manajemen laba akan mengalami penurunan sebesar 0,102 poin dengan

asumsi variabel X2 dan X3 konstan. Selanjutnya, apabila ukuran perusahaan mengalami

kenaikan 1 poin, maka manajemen laba akan mengalami penurunan juga sebesar 0,015

dengan asumsi variabel X1 dan X3 konstan. Jika leverage naik 1 poin, maka manajemen laba

akan mengalami penurunan sebesar 0,355 poin dengan asumsi X 1 dan X2 konstan. Ketiga

variabel independen (good corporate governance, ukuran perusahaan dan leverage) dapat

menjelaskan variabel manajemen laba sebesar 8% sedangkan, sedangkan sisanya sebesar 92%

(0,920) dijelaskan oleh variabel bebas lainnya.


Substruktur 2 : Y2 = 0,471X1 – 0,365X2 – 0,140X3 + 0,839

Berdasarkan persamaan di atas dapat diartikan apabila Good Corporate Governance

naik 1 poin maka profitabilitas juga akan mengalami peningkatan sebesar 0,471 poin dengan

asumsi variabel X2 dan X3 konstan. Selanjutnya, apabila ukuran perusahaan mengalami

kenaikan 1 poin, maka profitabilitas akan mengalami penurunan sebesar 0,365 dengan asumsi

variabel X1 dan X3 konstan. Jika leverage naik 1 poin, maka profitabilitas akan mengalami

penurunan sebesar 0,140 poin dengan asumsi X1 dan X2 konstan. Ketiga variabel independen

(good corporate governance, ukuran perusahaan dan leverage) dapat menjelaskan variabel

profitabilitas sebesar 16,1% sedangkan, sedangkan sisanya sebesar 83,9% (0,839) dijelaskan

oleh variabel bebas lainnya.

[Link]. Uji Sobel

Uji Sobel digunakan untuk meguji hipotesis 8, 9, dan 10. Signifikan atau tidak pengaruh

mediasi dapat diuji dengan sobel test. Hasil sobel test memberikan nilai estimasi indirect

effect yang kemudian di cari nilai t hitungnya dengan cara membagi besarnya nilai data

terhadap nilai standart error dan membandingkan dengan t tabel. Jika nilai t hitung lebih besar

dari nilai t tabel berarti pengaruh mediasi dikatakan signifikan dan nilai ttabel sebesar 1,996.

1) Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas melalui

Manajemen Laba sebagai variabel intervening

Pengaruh mediasi yang ditunjukkan oleh perkalian koefisien (p2 x p3) yaitu ( -0,102 x

0,155) sebesar -0,01581, untuk mengetahui signifikan atau tidak, diuji dengan Sobel

test sebagai berikut : Hitung standar error dari koefisien inderect effect (Sp2p3)
GCG Sp2p3 = √ p 3 2 sp 22+ p 22 sp 3 2+ sp 22 sp 3 2

¿ √ ( 0,155 ) ² ( 0,123 ) ²+ (−0,102 ) ²(18,509) ²+( 0,123)2 (18,509)2

¿ √ ( 0,024025 ) ( 0,015129 )+ ( 0,010404 ) ( 342,583 ) + ( 0,015129 ) (342,583)

¿ √ 0,000363474225+3,564233532+5,182938207

¿ √ 8,747535213225

= 2,9576

Berdasarkan hasil Sp2p3 dapat menghitung nilai t statistik pengaruh mediasi dengan

rumus sebagai berikut :

P2P3 −0,01581
t = Sp 2 p 3 t= 2,9576 = -0,0053

Oleh karena nilai thitung = -0,0052 lebih kecil dari ttabel dengan tingkat signifikan 0,05

yaitu sebesar 1,996, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi -0,01581 tidak

signifikan yang berarti tidak ada pengaruh mediasi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel manajemen laba bukan

merupakan variabel intervening antara Good corporate governance dan profitabilitas

sehingga hipotesis kedelapan yang menyatakan “Good Corporate Governance dengan

manajemen laba sebagai variabel intervening berpengaruh positif signifikan terhadap

Profitabilitas” ditolak.

b) Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas melalui Manajemen Laba

sebagai variabel intervening

Pengaruh mediasi yang ditunjukkan oleh perkalian koefisien (p5 x p3) yaitu ( -0,102 x

0,155) sebesar -0,002325, untuk mengetahui signifikan atau tidak, diuji dengan Sobel

test sebagai berikut : Hitung standar error dari koefisien inderect effect (Sp5p3)
Sp5p3 = √ P3 2 Sp 52+ P 52 Sp 3 2+ Sp 52 Sp 32

¿ √ ( 0,155 ) ² ( 0,004 ) ²+ (−0,015 ) ² (18,509)²+(0,004)2 (18,509)2

¿ √ ( 0,024025 ) ( 0,000016 ) + ( 0,000225 ) (342,583 )+ ( 0,000016 ) (342,583)

¿ √ 0,0000003844+77,081175+ 0,005481328

¿ √ 77,0866567124

= 8,7799

Berdasarkan hasil Sp5p3 dapat menghitung nilai t statistik pengaruh mediasi dengan

rumus sebagai berikut :

P5P3 −0,002325
t = Sp 5 p 3 t= 8,7799 = -2,648

Oleh karena nilai thitung = -2,648 lebih besar dari ttabel dengan tingkat signifikan 0,05 yaitu

sebesar 1,996, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi

-0,002325 signifikan yang berarti ada pengaruh mediasi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel manajemen laba merupakan

variabel intervening antara ukuran perusahaan dan profitabilitas sehingga hipotesis

kesembilan yang menyatakan “Ukuran Perusahaan dengan manajemen laba sebagai

variabel intervening berpengaruh negatif signifikan terhadap Profitabilitas” diterima.

c) Leverage dengan manajemen laba sebagai variabel intervening berpengaruh

positif signifikan terhadap Profitabilitas

Pengaruh mediasi yang ditunjukkan oleh perkalian koefisien (p7 x p3) yaitu ( -0,355 x

0,155) sebesar -0,055025, untuk mengetahui signifikan atau tidak, diuji dengan Sobel

test sebagai berikut : Hitung standar error dari koefisien inderect effect (Sp7p3)

Sp7p3 = √ P3 2 Sp 72 + P7 2 Sp 32+ Sp 72 Sp 3 2
¿ √ ( 0,155 ) ² ( 0,061 ) ² + (−0,0355 ) ²(18,509)²+(0,061)2 (18,509)2

¿ √ ( 0,024025 ) ( 0,003721 )+ ( 0,00126025 )( 342,583 ) + ( 0,003721 ) (342,583)

¿ √ 0,000089397+0,4314503683+1,24751343

¿ √ 1.7062911083

= 1,3062

Berdasarkan hasil Sp7p3 dapat menghitung nilai t statistik pengaruh mediasi dengan

rumus sebagai berikut :

P7P3 −0,055025
t = Sp 7 p 3 t= 1,3062 = -0,4212

Oleh karena nilai thitung = -0,4212 lebih kecil dari ttabel dengan tingkat signifikan 0,05

yaitu sebesar 1,996, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi

-0,055025 tidak signifikan yang berarti tidak ada pengaruh mediasi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel manajemen laba bukan variabel

intervening antara leverage dan profitabilitas sehingga hipotesis kesepuluh yang

menyatakan “leverage dengan manajemen laba sebagai variabel intervening

berpengaruh positif signifikan terhadap Profitabilitas” ditolak.

4.2. Pembahasan

4.2.1. Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel good corporate governance

yang diukur dengan proporsi dewan komisaris independen tidak berpengaruh signifikan

terhadap manajemen laba yang diukur dengan akrual modal kerja pada perusahaan manufaktur

sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan
dengan melihat signifikansi GCG sebesar 0,410 lebih dari 0,05 (0,410 > 0,05) yang berarti

bahwa good corporate governance tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Nilai

signifikansi ini menunjukkan perubahan nilai GCG tidak mempengaruhi perubahan nilai

manajemen laba.

Menurut Effendi (2009) terdapat kecenderungan bahwa kedudukan direksi biasanya

sangat kuat, bahkan ada direksi yang enggan membagi wewenang serta tidak memberikan

informasi yang memadai kepada komisaris independen. Selain itu, terdapat kendala yang cukup

menghambat kinerja dewan komisaris independen yaitu masih lemahnya kemampuan dan

integritas mereka untuk mengawasi kinerja manajemen. Padahal integritas dan independensi

merupakan prinsip agar penerapan good corporate governance dapat berjalan secara efektif.

Dalam hal ini, dewan komisaris independen tidak benar-benar independen dan tidak dapat

melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya secara optimal karena terbatas oleh kebijakan

dari pemegang saham mayoritas yang merupakan pengendali kuat perusahaan. Pemegang

saham mayoritas mempunyai kemampuan yang besar untuk menetapakan dan mempengaruhi

keputusan. Dengan demikian, besar kecilnya proporsi dewan komisaris independen tidak dapat

mendorong perusahaan untuk melaksanakan good corporate governance dengan baik sehingga

dapat mengurangi praktik manajemen laba.

Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani (2014) yang

menyatakan bahwa GCG yang diukur dengan proporsi dewan komisaris independen tidak

berpengaruh terhadap praktik manajemen laba. Namun tidak mendukung penelitian yang

dilakukan oleh eka (2011), Abdillah (2014) yang menyatakan proporsi dewan komisaris

independen berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga hipotesis 1 (H1) yang menyatakan
bahwa Good Corporate Governance berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba

ditolak.

4.2.2. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel ukuran perusahaan yang

diukur dengan logaritma natural tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba yang

diukur dengan akrual modal kerja pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan

minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat

signifikansi ukuran perusahaan sebesar 0,907 lebih dari 0,05 (0,907 > 0,05) yang berarti bahwa

ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Nilai signifikansi ini

menunjukkan perubahan nilai ukuran perusahaan tidak mempengaruhi perubahan nilai

manajemen laba.

Menurut Lusi (2014:20) pengawasan yang ketat dari pemerintah, analis, dan investor

yang ikut menjalankan perusahaan menyebabkan manajer tidak berani melakukan praktik

perataan laba yang merupakan salah satu teknik dalam manajemen laba. Hal ini dikarenakan,

dengan pengawasan yang ketat tersebut jika manajer melakukan praktik manajemen laba besar

kemungkinan akan diketahui oleh pemerintah, analis, dan investor sehingga hal ini dapat

merusak citra dan kredibilitas manajer perusahaan tersebut. Khazan faozi (2003) dalam Lusi

(2014:20) menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak menjadi pertimbangan satu- satunya

bagi para investor dalam pengambilan keputusan investasi, tapi masih terdapat faktor-faktor

lain yang lebih penting untuk dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi seperti

tingkat keuntungan, prospek usaha perusahaan dimasa yang akan datang dan lain sebagainya.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Nasution dan

Setiawan (2007), Siti Nayiroh (2013), Lusi (2014), dan Setyaningtyas dan Hadiprajitno (2014)
yang juga menyatakan ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen

laba. Namun tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Nuryaman (2008), Nur Azlina

(2010), Prambudi dan Sumantri (2014), serta Jao dan Pagalung (2014) yang menyatakan

terdapat pengaruh signifikan antara ukuran perusahaan terhadap manajemen laba, sehingga

hipotesis 2 (H2) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan

terhadap manajemen laba ditolak.

4.2.3. Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel leverage berpengaruh

signifikan terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan

minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat

signifikansi leverage sebesar 0,007 kurang dari 0,05 (0,007 < 0,05) yang berarti bahwa

leverage berpengaruh terhadap manajemen laba. Nilai signifikansi ini menunjukkan perubahan

nilai leverage mempengaruhi perubahan nilai manajemen laba.

Leverage sebagai salah satu usaha dalam peningkatan laba perusahaan, dapat menjadi

tolak ukur dalam melihat perilaku manajer dalam hal manajemen laba. Perusahaan yang

memiliki financial leverage tinggi akibat besarnya hutang dibandingkan aktiva yang dimiliki

perusahaan, diduga melakukan manajemen laba karena perusahaan terancam default, yaitu

tidak dapat memenuhi kewajiban membayar hutang pada waktunya. Kurangnya pengawasan

juga menyebabkan leverage yang tinggi juga akan meningkatkan perilaku oportunis

manajemen seperti melakukan manajemen laba untuk mempertahankan kinerjanya di mata

pemegang saham dan publik (Suad Husnan, 2001).

Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian menyatakan bahwa leverage berpengaruh dan

signifikan terhadap Manajemen Laba. Bahwa leverage menjadi salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap praktik manajemen laba karena manajemen laba berkaitan dengan

sumber dana eksternal khususnya utang yang digunakan untuk membiayai kelangsungan

operasi perusahaan ke depannya.

Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Widyaningdyah (2001) dan

Agustia (2013) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap manajemen

laba. Namun tidak mendukung penelitian Rivaldo (2013) yang menyatakan leverage tidak

berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga hipotesis 3 (H3) yang menyatakan bahwa

Leverage berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba diterima.

4.2.4. Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel good corporate governance

yang diukur dengan proporsi dewan komisaris independen berpengaruh signifikan terhadap

profitabilitas yang diukur dengan return on assets (ROA) pada perusahaan manufaktur sub

sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan

dengan melihat signifikansi GCG sebesar 0,000 kurang dari 0,05 (0,000 < 0,05) yang berarti

bahwa good corporate governance berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas. Nilai

signifikansi ini menunjukkan perubahan nilai GCG mempengaruhi perubahan nilai

profitabilitas.

Penelitian ini mempunyai hasil sesuai hipotesis yakni komisaris independen berpengaruh

positif signifikan terhadap kinerja perusahaan dengan pengukuran ROA. Hal ini terkait dengan

fungsi dari komisaris independen, yakni melakukan fungsi pengawasan, evaluasi, dan

pemecatan terhadap manajer puncak (KNKG, 2006). Serta peranan komisaris independen pada

perusahaan adalah obyektif yakni tidak terikat oleh kepentingan dan pihak manapun. Jika

proporsi komisaris independen ditambah didalam komposisi dewan komisaris maka


pengawasan terhadap manajemen dan dewan direksi serta laporan keuangan perusahaan juga

akan semakin ketat dan obyektif. Sehingga manajemen akan selalu bertindak sesuai tujuan

perusahaan. Ketika proporsi dewan komisaris ditambah maka akan menaikkan kinerja

perusahaan. Ketika kinerja perusahaan naik, maka penilaian pasar terhadap aktiva perusahaan

juga akan naik. Hal ini akan menarik keinginan investor untuk memiliki saham tersebut. Hal ini

sesuai dengan penelitian yang dilakukan O’Connell dan Cramer (2010) yang menjelaskan

bahwa proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan dengan

pengukuran RET, ROA, Tobins Q.

Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Dwiputra (2015) yang

menyatakan bahwa proporsi dewan komisaris independen berpengaruh positif signifikan

terhadap profitabilitas yang diukur dengan ROA. Namun tidak mendukung penelitian yang

dilakukan oleh Noviawan dan Septiani (2013) yang menyatakan bahwa dewan komisaris

independen tidak berpengaruh terhadap ROA, sehingga hipotesis 4 (H4) yang menyatakan

bahwa good corporate governance berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas

diterima.

4.2.5. Pengaruh Ukuran Perusahaan tehadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel ukuran perusahaan

berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan

dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat

signifikansi ukuran perusahaan sebesar 0,002 kurang dari 0,05 (0,002 < 0,05) yang berarti

bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas. Nilai


signifikansi ini menunjukkan perubahan nilai ukuran perusahaan mempengaruhi perubahan

nilai profitabilitas.

Adanya pengaruh yang signifikan dan positif ini mengindikasikan bahwa semakin besar

nilai ukuran perusahaan dapat menjelaskan dan memprediksi peningkatan profitabilitas.

Sebaliknya, semakin redah nilai ukuran perusahaan dapat menjelaskan dan memprediksi

penurunan profitabilitas. Hasil pengaruh positif signifikan ini menunjukan hal yang sejalan

antara ukuran perusahaan dan profitabilitas, dimana ukuran perusahaan dalam hal ini total

aktiva, total karyawan dan total penjualan yang meningkat dapat dimaksimalkan oleh

perusahaan untuk meningkatkan profitabilitasnya. Peningkatan ukuran perusahaan juga akan

meningkatkan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membayar karyawan, biaya penjualan

dan biaya perawatan aset yang dimiliki perusahaan nilainya masih lebih kecil dibanding dengan

laba yang di dapat perusahaan dari memaksimalkan ukuran perusahaan.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kodrat (2009) dan

Pangestuti (2016) yang mengungkapkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif

signifikan terhadap profitabilitas. Namun hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian

Anindito (2015) yang mengungkapkan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap terhadap

profiabilitas, sehingga hipotesis 5 (H5) yang menyatakan Ukuran perusahaan berpengaruh

positif signifikan terhadap Profitabilitas, diterima.

4.2.6. Pengaruh Leverage terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel leverage tidak berpengaruh

terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang

terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat signifikansi leverage

sebesar 0,209 lebih dari 0,05 (0,209 > 0,05) yang berarti bahwa leverage tidak berpengaruh
terhadap profitabilitas. Nilai signifikansi ini menunjukkan perubahan nilai leverage tidak

mempengaruhi perubahan nilai profitabilitas.

Leverage merupakan suatu rasio yang menunjukkan sejauh mana bisnis bergantung pada

pembiayaan utang (Pradipta, 2011). Pengujian hipotesis untuk menguji variabel kontrol

leverage menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap ROA. Perusahaan dengan

tingkat leverage tinggi menunjukkan komposisi total hutang semakin besar di banding dengan

total modal sendiri sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar

(kreditur), berupa beban bunga. Selain itu, terdapat kemungkinan kegagalan pembayaran pokok

hutang. Informasi ini akan direspon negatif oleh investor karena beranggapan bahwa

perusahaan akan lebih memilih membayar utang daripada membayar dividen (Pradipta, 2011).

Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Helen dan Heremi (2014)

serta Pradipta (2011) yang mengungkapkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap

profitabilitas yang diukur dengan ROA. Namun tidak mendukung penelitian yang dilakukan

oleh Putra dan Badjra (2015), sehingga hipotesis 6 (H6) yang menyatakan Leverage

berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas, ditolak.

4.2.7. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel manajemen laba yang diukur

dengan akrual modal kerja tidak berpengaruh terhadap profitabilitas yang diukur dengan ROA

pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun

2012-2016. Hal ini dibuktikan dengan melihat signifikansi manajemen laba sebesar 0,249 lebih

dari 0,05 (0,249 > 0,05) yang berarti bahwa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap
profitabilitas. Nilai signifikansi ini menunjukkan perubahan nilai manajemen laba tidak

mempengaruhi perubahan nilai profitabilitas.

Lemahnya pengaruh akrual modal kerja terhadap return on assets disebabkan oleh

pengukuran manajemen laba yang hanya menggunakan penjualan sebagai deflator akrual

modal kerja sehingga menjadi kurang komprehensif ketika pengukuran manajemen laba hanya

mempertimbangkan satu faktor pembentuk laba, yaitu penjualan (Dechow et al : 2011).

Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh oleh Gideon dan Theresia

dalam Ujiyantho dan pramuka (2007) yang menyatakan manajemen laba tidak berpengaruh

terhadap kinerja keuangan. Namun tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Oktora

(2014) yang menyatakan bahwa manajemen laba berpengaruh terhadap profitabilitas, sehingga

hipotesis 7 (H7) yang menyatakan bahwa manajemen laba berpengaruh positif signifikan

terhadap kinerja keuangan, ditolak.

4.2.8. Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas melalui

Manajemen Laba

Hipotesis kedelapan menyatakan bahwa good corporate governance dengan manajemen

laba sebagai variabel intervening berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas pada

perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-

2016. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar -0,0052 lebih kecil dari ttabel

dengan tingkat signifikan 0,05 yaitu sebesar 1,996 (-0,0052 ≤ 1,996). Oleh karena itu, dapat

disimpulkan bahwa variabel manajemen laba bukan merupakan variabel intervening antara

good corporate governance terhadap profitabilitas.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Laksana (2015) dan

Zabri (2015) yang juga tidak menemukan pengaruh yang signifikan antara proporsi dewan

komisaris independen terhadap profitabilitas melalui manajemen laba. Menurut Zabri (2015)
keberadaan komisaris independen dalam suatu perusahaan tidak menjamin perusahaan

melakukan prinsip-prinsip good corporate governance yang nantinya berdampak positif

terhadap profitabilitas, sehingga meskipun good corporate governance dapat memberikan

pengaruh terhadap profitabilitas secara langsung namun manajemen laba tidak dapat

membuktikan keberadaannya sebagai variabel perantara (intervening) antara GCG terhadap

profitabilitas. Namun hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh

Noviawan dan Septiani (2013) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan variabel

intervening antara dewan komisaris independen terhadap profitabilitas, sehingga hipotesis 8

(H8) yang menyatakan Good Corporate Governance dengan manajemen laba sebagai variabel

intervening berpengaruh positif signifikan terhadap Profitabilitas, ditolak.

4.2.9. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas melalui Manajemen Laba

Hipotesis kesembilan menyatakan bahwa ukuran perusahaan dengan manajemen laba

sebagai variabel intervening berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas pada

perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-

2016. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai t hitung sebesar -2,648 lebih besar dari ttabel

dengan tingkat signifikan 0,05 yaitu sebesar 1,996 (-2,648 ≥ 1,996). Oleh karena itu dapat

disimpulkan bahwa variabel manajemen laba merupakan variabel intervening antara ukuran

perusahaan terhadap profitabilitas.

Menurut Fachrudin (2011) ukuran perusahaan bukan jaminan bahwa perusahaan

memiliki kemampuan dalam menghasilkan laba yang baik. Pengaruh yang negatif ini

diakibatkan oleh semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka perusahaan tersebut akan

membutuhkan biaya yang semakin besar untuk menjalankan aktivitas operasionalnya (Sari dan
Budiasih, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Siregar dan Utama (2005) juga menunjukkan

hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Siregar dan Utama (2005) yang menyatakan

bahwa manajemen laba merupakan variabel intervening antara ukuran perusahaan terhadap

profitabilitas. Namun hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh

Azlina (2010) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan variabel intervening antara

ukuran perusahaan terhadap peoditabilitas, sehingga hipotesis 9 (h9) yang menyatakan ukuran

perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel intervening berpengaruh negatif

signifikan terhadap profitabilitas, diterima.

4.2.10. Pengaruh Leverage terhadap Profitabilitas melalui Manajemen Laba

Hipotesis kesepuluh menyatakan bahwa leverage dengan manajemen laba sebagai

variabel intervening berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas pada perusahaan

manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016. Setelah

dilakukan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar -0,4212 lebih kecil dari ttabel dengan tingkat

signifikan 0,05 yaitu sebesar 1,996 (-0,4212 ≤ 1,996). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa

variabel manajemen laba bukan merupakan variabel intervening antara leverage terhadap

profitabilitas.

Rasio leverage digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi

kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Semakin besar utang yang dimiliki perusahaan maka

semakin besar pula nilai leverage suatu perusahaan. Nilai leverage yang tinggi

mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki pinjaman yang semakin tinggi untuk operasional

perusahaan sehingga rasio ini digunakan sebagai indikator bagi investor dalam menentukan

investasi. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi dapat menyebabkan profit yang
didapatkan oleh perusahaan menjadi berkurang, sehingga fixed cost yang harus ditanggung oleh

perusahaan akan lebih besar daripada operating income yang dihasilkan dari hutang tersebut.

Kaitannya dengan manjemen laba, Hallak (2004) mengungkapkan perusahaan dengan leverage

tinggi memiliki pengawasan yang lemah terhadap manajemen yang menyebabkan manajemen

dapat membuat keputusan sendiri, dan juga menetapkan strategi yang kurang tepat. [Link]

membuktikan bahwa leverage tidak berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas

dimana manajemen laba sebagai variabel intervening. Artinya jika perusahaan memiliki

leverage yang tinggi maka tindakan manajemen laba yang dilakukan akan tetap atau konstan

begitupun dampaknya terhadap profitabilitas

Hasil penelitian ini mendukung penilitian yang dilakukan oleh (Astuti, 2017) yang

menyatakan bahwa manajemen laba bukan variabel intervening antara leverage terhadap

manajemen laba. Namun penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh

Martono (2002) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan variabel intervening

antara leverage terhadap profitabilitas, sehingga hipotesis 10 (H10) yang menyatakan leverage

dengan manajemen laba sebagai variabel intervening berpengaruh positif signifikan terhadap

profitabilitas, ditolak.
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat

ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Good corporate governance yang diukur dengan proporsi dewan komisaris

independen tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Terdapat

kecenderungan bahwa kedudukan direksi biasanya sangat kuat, bahkan ada direksi

yang enggan membagi wewenang serta tidak memberikan informasi yang memadai

kepada komisaris independen, sehingga hal tersebut menjadi kendala yang cukup

menghambat kinerja dewan komisaris independen dan berakibat menjadi lemahnya

kemampuan dan integritas mereka untuk mengawasi kinerja manajemen.

2. Ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

Pengawasan yang ketat dari pemerintah, analis, dan investor yang ikut menjalankan

perusahaan menyebabkan manajer tidak berani melakukan praktik perataan laba

yang merupakan salah satu teknik dalam manajemen laba. Hal ini dikarenakan,

dengan pengawasan yang ketat tersebut jika manajer melakukan praktik manajemen

laba besar kemungkinan akan diketahui oleh pemerintah, analis, dan investor

sehingga hal ini dapat merusak citra dan kredibilitas manajer perusahaan tersebut.

3. Leverage berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba. Kurangnya

pengawasan menyebabkan leverage yang tinggi akan meningkatkan perilaku


oportunis manajemen seperti melakukan manajemen laba untuk mempertahankan

kinerjanya di mata pemegang saham dan publik

4. Good corporate governance yang diukur dengan proporsi dewan komisaris

independen berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas yang diukur

dengan return on assets (ROA). Peranan komisaris independen pada perusahaan

adalah obyektif yakni tidak terikat oleh kepentingan dan pihak manapun. Ketika

proporsi dewan komisaris ditambah maka, pengawasan terhadap manajemen dan

dewan direksi serta laporan keuangan perusahaan juga akan semakin ketat dan

obyektif, sehingga manajemen akan selalu bertindak sesuai tujuan perusahaan. Hal

ini akan meningkatkan kinerja perusahaan dan penilaian pasar terhadap aktiva

perusahaan.

5. Ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini

mengindikasikan bahwa semakin besar nilai ukuran perusahaan dapat menjelaskan

dan memprediksi peningkatan profitabilitas. Ukuran perusahaan dalam hal ini total

aktiva, total karyawan dan total penjualan yang meningkat dapat dimaksimalkan

oleh perusahaan untuk meningkatkan profitabilitasnya.

6. Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Perusahaan dengan

tingkat leverage tinggi menunjukkan komposisi total hutang semakin besar di

banding dengan total modal sendiri sehingga berdampak semakin besar beban

perusahaan terhadap pihak luar (kreditur), berupa beban bunga. Selain itu, terdapat

kemungkinan kegagalan pembayaran pokok hutang.

7. Manajemen laba yang diukur dengan akrual modal kerja tidak berpengaruh

signifikan terhadap profitabilitas yang diukur dengan ROA. Lemahnya pengaruh


akrual modal kerja terhadap return on assets disebabkan oleh pengukuran

manajemen laba yang hanya menggunakan penjualan sebagai deflator akrual modal

kerja sehingga menjadi kurang komprehensif ketika pengukuran manajemen laba hanya

mempertimbangkan satu faktor pembentuk laba, yaitu penjualan.

8. Manajemen laba bukan merupakan variabel intervening antara good corporate

governance terhadap profitabilitas. Keberadaan dewan komisaris independen dalam

suatu perusahaan tidak menjamin perusahaan melakukan prinsip-prinsip good

corporate governance yang nantinya berdampak positif terhadap profitabilitas,

sehingga meskipun good corporate governance dapat memberikan pengaruh

terhadap profitabilitas secara langsung namun manajemen laba tidak dapat

membuktikan keberadaannya sebagai variabel perantara (intervening) antara GCG

terhadap profitabilitas.

9. Manajemen laba merupakan variabel intervening antara ukuran perusahaan

terhadap profitabilitas. Semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka perusahaan

tersebut akan membutuhkan biaya yang semakin besar untuk menjalankan aktivitas

operasionalnya, sehingga dalam keadaan seperti ini memaksa pihak manajemen

untuk memanipulasi laba agar profitabilitas perusahaan juga meningkat.

10. Manajemen laba bukan variabel intervening antara leverage terhadap profitabilitas.

perusahaan dengan leverage tinggi memiliki pengawasan yang lemah terhadap

manajemen yang menyebabkan manajemen dapat membuat keputusan sendiri, dan

juga menetapkan strategi yang kurang tepat, jika perusahaan memiliki leverage

yang tinggi maka tindakan manajemen laba yang dilakukan akan tetap atau konstan

begitupun dampaknya terhadap profitabilitas.


5.2. Saran

Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan analisis yang telah dilakukan

adalah sebagai berikut :

1. Bagi investor, hendaknya dalam mengambil keputusan investasi tidak hanya

terfokus pada informasi keuangan. Investor dapat melihat aspek informasi lain

seperti penerapan mekanisme corporate governance dalam perusahaan sebagai

salah satu pertimbangan keputusan investasi. Hal ini dikarenakan peran mekanisme

dalam perusahaan akan memberikan manfaat jangka pendek ataupun jangka

panjang dan mampu meningkatkan nilai bagi para pemegang saham.

2. Bagi Perusahaan, Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu perusahaan

dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan keuangan perusahaan. Karena

keputusan keuangan yang diambil akan berpengaruh terhadap keputusan keuangan

lainnya dan akan berpengaruh terhadap kemajuan dan kelangsungan hidup

perusahaan di masa yang akan datang.

3. Bagi peneliti selanjutnya dapat memperbaiki keterbatasan yang ada dalam

penelitian ini dan memperbanyak jumlah sampel serta tahun pengamatan untuk

mendapatkan hasil yang lebih maksimal, selain itu juga dapat menggunakan proksi

yang lain selain proporsi dewan komisaris independen, logaritma natural, debt to

assets ratio, dan akrual modal kerja untuk mengukur good corporate governance,

ukuran perusahaan, leverage dan profitabilitas. Penelitian selanjutnya diharapkan

dapat mengembangkan penelitian dengan faktor lain yang memengaruhi

manajemen laba dan profitabilitas perusahaan diluar penelitian ini.


5.3. Keterbatasan Penelitian

Hasil penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan diantaranya sebagai berikut :

1. Penelitian ini hanya menggunakan sampel dari perusahaan manufaktur sub sektor

makanan dan minuman dalam kurun waktu 5 tahun, sehingga sampel penelitian

menjadi sangat terbatas dan hanya mencerminkan keadaan jangka pendek serta

tidak mewakili perusahaan manufaktur secara menyeluruh.

2. Alat ukur good corporate governance hanya menggunakan proporsi dewan

komisaris independen saja, sehingga untuk mendapatkan hasil yang lebih baik

peneliti selanjutnya setidaknya menambahkan alat ukur lain seperti kepemilikan

manajerial maupun kepemilikan institusional yang juga termasuk indikator

corporate governance.

3. Alat ukur manajemen laba menggunakan akrual modal kerja, dimana hanya

menggunakan penjualan sebagai deflator akrual modal kerja sehingga kurang

komprehensif dalam mengukur manajemen laba karena hanya mempertimbangkan satu

faktor pembentuk laba, yaitu penjualan.


DAFTAR PUSTAKA

Agustina. 2013. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan


Dengan Manajemen Laba sebagai Variabel Intervening. Skripsi. Universitas Katolik
Soegijapranata. Semarang.
Barnhart, Scott W. Dan Stuart Rosenstein. (1998). Board composition, managerial ownership,
and firm performance : An empirical analysis. The Financial Review. 33 (November).
(4).1-16.
Beasley, M. 1996. An Empirical Analysis Of The Relation Between The Board Of Director
Composition And Financial Statement Fraud. The Accounting Review. Vol. 71.
Pp.443-465.
Boediono, Gideon SB. 2005. Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governance
dan Dampak Manajemen Laba dengan Menggunakan Analisis Jalur.
Belkaoui, Ahmed Riahi, 2007, Accounting Theory, terjemahan Ali Akbar Yulianto dan Krista,
Jakarta: Salemba Empat.
Brata, Ignatius OD. (2015). Pengaruh Leverage Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan
Manufaktur. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Humanika. Vol. 5 No.
Brigham, Eugene F and Joel F. Houston. 2009. Fundamentals of Financial Management. 12th
Edition. Mason: South-Westtern Cengage Learning.
Brigham, Houston. 2010. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.
Cornett et al, (2006). Earnings Management, Corporate Governance, and True Financial
Performance. [Link]
Chtourou, Sonda Marrakchi, Jean Bedard dan Lucie Courteau. 2001. “Corporate Governance
and Earnings Management”.Working Paper. April
DeAngelo, L.E. (1986). “Accounting number as Valuation Substitutes: A Study of Management
Buyouts of Public Stockholders.” The Accounting Review. 67 (1): 77 – 95
Dechow, P. M., Sloan, R. G., and Sweeney, A. P. 1996. Causes and Consequences Of Earnings
Manipulaton: An Analysis of Firms Subject to Enforcement Actions by the SEC.
Contemporary Accounting Research. 13.1: 1-36.
Dechow, P.M., and Skinner, D. (2000). “Earnings Management: Reconciling The Views of
Accounting Academics, Practitioners, and Regulators,” Accounting Horizons, 14 (2),
235-250
Eisenhardt, Kathleem. (1989). Agency Theory: An Assesment and Review. Academy of
Management Review, 14. Hal 57-74.
Engkos Ridwan Achmad Kuncoro, Cara Menggunakan dan Memaknai Path Analysis, Alfabeta:
Bandung, 2013.
Friedlan, M.L. (1994). Accounting Choices of Issues of Initial Public Offerings. Contemporary
Accounting Research, 11: 1-31.
Guenther, D.A, 1994, Earnings Management in Response to Corporate Tax Rate Changes:
Evidence from the 1986 Tax Reform Act. The Accounting Review 69 (1)
Ghozali, Imam. 2013. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS 19 Edisi Kelima”.
Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Harahap, Sofyan Syafri. 2009. “Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan”. Jakarta: RajaGrafindo
Persada
Hallak, J. 2004. The Effect of Cross-Country Differences in Product Quality on the Direction of
International Trade. Departments of Economics, University of Michigan, Ann Arbor,
MI.
Halim dan Supomo. 2001. Akuntansi Manajemen, Edisi 1. Salemba Empat:Jakarta
Healy, P.M. 1985. The effect of Bonus Schemes of Accounting Decisions. Journal of Accounting
and Economics. Vol. 7 : 85-107
Isti’adah. 2015. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan
Dengan Kualitas Laba Sebagai Variabel Intervening. Skripsi. Universitas Negeri
Yogyakarta.
Isnanta, R. (2008). Pengaruh Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan terhadap
Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
Jao, Robert. 2010. Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, dan Leverage terhadap
Manajemen Laba Perusahaan Manufaktur Indonesia. Skripsi. Universitas Hasanuddin.
Jensen, Michael C. dan Meckling. William H., 1976, “Theory of The Firm: Managerial
Behavior, Agency Cost, and Ownership Structure”, Jurnal of Financial Economics, Vol.
3, No. 4, October pp. 305-360.
Jonathan Sarwono, 2007 Analisis Jalur untuk Riset Bisnis dengan SPSS, Yogyakarta : Andi
Offset
Jones, Jennifer J, 1991. Earnings Management During Import Relief Investigations. Journal Of
Accounting Research, Vol 29, No.2 1991, p.193 – 228.
Kaihatu, Thomas S, 2006, “Good Corporate Governance dan Penerapannya di Indonesia”,
Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol. 8, No. 1, Maret
Kasmir. 2013. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, edisi revisi, cetakan 12. Jakarta: Rajawali
Pers.
Kaihatu, T.S. 2006. Good Corporate Governance dan Penerapannya di Indonesia. Jurnal
Manajemen dan Kewirausahaan 8(1): 1-9
Latifah. 2015. Pengaruh Good Corporate Governance Dan Leverage Tergadap Integritas
Laporan Keuangan Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening. Skripsi.
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang.
Mahiswari, Nugroho. 2014. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance, Ukuran Perusahaan
dan Leverage Terhadap Manajemen Laba Dan kinerja Keuangan. Jurnal Ekonomi dan
Bisnis Volume XVII No, 1. April 2014
Mulyadi. (2009). Akuntansi Biaya. Yogyakarta: Aditia M
McNichols, M. F. (2000). “Research Design Issues in Earnings Management Studies,” Journal
of Accounting and Public Policy, 19, 313-345.
Naftalia, V.C., dan Marsono. 2013. Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba dengan
Corporate Governance sebagai Variabel Pemoderasi. Skripsi. Universitas Diponegoro.
Semarang.
Nasution, Marihot dan Doddy Setiawan. 2007. Pengaruh Corporate Governance Terhadap
Manajemen Laba Di Industri Perbankan. Simposium Nasional Akuntansi X, IAI,
Makassar 2007.
.
Oktaviani, Nur dan Vince Ratnawati. 2015. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap
Kualitas Laba dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening (Studi Empiris
Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-
2012). Skripsi. Universitas Riau.
Oktovianti, T. and Agustia, D. (2012). Influence of the Internal Corporate Governance and
Leverage Ratio to the Earnings Management”, Journal of Basic and Applied, 2(7),
7192-719
Peasnell, K., et al. (2000). Accrual Management to Meet Earnings target: UK Evidence Pre and
Post Cadburry. British Accounting Review, vol. 32 No. 4, p. 415-445.
Putri. 2016. Pengaruh Tidak Langsung Good Corporate Governance Terhadap Kinerja
Keuangan Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening. Skripsi. Universitas
Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta
Pradipta, Arya dan Yulius Kurnia Susanto. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi perataan
laba. Media Bisnis halaman : 13-19.
Rahman. 2013. Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Expected Earnings Dengan
Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening. Skripsi. Universitas Jember
Riyanto. (2013). Statistik Deskriptif. Yogyakarta: Nuha Medika.
Reza, Pratomo dan Siska Yudowati. 2016. Pengaruh Komisaris Independen dan Komite Audit
terhadap Manajemen Laba. Jurnal e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus
2016-Page 1552
Sastradipraja, U. 2010. Analisis dan Penggunaan Laporan Keuangan Hal. 33-34
Sani dan Mashuri. 2013. Metodologi riset manajemen Sumber daya Manusia. Malang : UIN
Press
Sawir, 2009. Analisa Kinerja Keuangan dan Perencanaan keauangan Perusahaan, Jakarta : PT.
Gramedia Pustaka Utama
Siregar, S.V.N.P., dan S. Utama. 2005. Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan
dan Praktik Corporate Governance terhadap Pengelolaan Laba. Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia.
Suryani, D.I. 2010. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan
terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI.
Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.
Sulistyanto, H. Sri. 2008. “Manajemen Laba, Teori dan Model Empiris. Jakarta: Grasindo
Sugiri, S., 1998. Earnings Management: Teori, Model, dan Bukti Empiris. Telaah:1‐1
Sutrisno. (2009), Manajemen Keuangan Teori, Konsep dan Aplikasi, Edisi Pertama, Cetakan
Ketujuh, Penerbit Ekonisia, Yogyakarta.
Setyaningtyas, Ina dan Basuki Hadiprajitno. 2014. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Perataan Laba (Income Smoothing). Diponegoro Journal Of Accounting, Vol. 03 No.
02, hal: 1-10 ISSN.
Sofyan Syafri Harahap. 2008. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada
Syamsuddin, Lukman. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan: Konsep Aplikasi dalam:
Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan. Jakarta: Rajawali Pers
Scott,William [Link] Accounting [Link]:Prentice-Hall.
Scott, William R, 2009. Financial Accounting Theory. Fifth Edition. Canada Prentice Hall.
Toto Prihadi. 2008. Deteksi Cepat Kondisi Keuangan : 7 Analisis Rasio Keuangan. Cetakan 1.
Jakarta : PPM.
The Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No.1. 1978. Financial Accounting
Standards Board (FSAB).
Ujiyanto, M. Arif dan Bambang Agus Pramuka. 2007. Mekanisme Corporate Governance,
Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan. Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar.
Watts, R. L., and Zimmerman, J.L. 1990. “Positive Accounting Theory: A Ten Year
Perspective.”American Accounting Association, 131-156.
Watts, Ross L. dan Jerold L. Zimmerman (1986). Positive Accounting Theory. USA: Prentice-
Hall.
Wicaksono, Tangguh. 2014. “Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Profitabilitas
Perusahaan”, Skripsi.
Wiwik Utami, 2005, “Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Biaya Modal Ekuitas (Studi Pada
Perusahaan Publik Sektor Manufaktur”, Simposium Nasional Akuntansi VIII.
Windah, Gabriela Cynthia, dan Fidelis Arastyo Andono, 2013, “Pengaruh Penerapan Corporate
Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Hasil Survei The Indonesian
Institute Perception Governance (IICG) Periode 2008-2011”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Universitas Sruabaya, Vol. 2, No.1, Surabaya
Weston, J. Feed dan Thomas E. Copeland. 2010. Manajemen Keuangan. Jakarta: Binarupa
Aksara.
Weygandt, Jerry J and Kieso, Donald E and Kimmel, Paul D, Accounting Principles Pengantar
Akutansi, Edisi Ketujuh, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2007
Wolfensohn, J. 1999. Corporate Governance. Financial Times.
[Link] diakses pada 27 April 2018
[Link] diakses pada 6 Mei 2018
[Link] diakses pada 22 Mei 2018
Lampiran 1. Perkembangan Good Corporate Governance pada perusahaan manufaktur
sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2012 –
2016

Dewan komisaris independen


PDKI = X 100 %
Ukuran dewan komisaris
a) Data Proporsi Dewan Komisaris b) Data Proporsi Dewan Komisaris

Independen tahun 2012 Independen tahun 2013

KODE UD KODE UD
DKI PDKI*100 DKI PDKI*100
EMITEN K EMITEN K
ALTO 1 3 33,33 ALTO 1 3 33,33
AISA 2 5 40 AISA 2 6 33,33
CEKA 1 3 33,33 CEKA 1 4 25
DLTA 2 5 40 DLTA 2 5 40
ICBP 3 8 37,5 ICBP 3 8 37,5
INDF 3 8 37,5 INDF 3 7 42,86
MLBI 3 7 42,86 MLBI 3 7 42,86
MYOR 2 4 50 MYOR 2 5 40
PSDN 2 6 33,33 PSDN 2 6 33,33
ROTI 1 3 33,33 ROTI 1 3 33,33
SKBM 1 3 33,33 SKBM 1 3 33,33
SKLT 1 3 33,33 SKLT 1 3 33,33
STTP 1 2 50 STTP 1 2 50
ULTJ 1 3 33,33 ULTJ 1 3 33,33
RATA - RATA 37,94 RATA - RATA 36,54

Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018


c) Data Proporsi Dewan Komisaris d) Data Proporsi Dewan Komisaris

Independen Tahun 2014 Independen Tahun 2015

KODE UD KODE UD
DKI PDKI*100 DKI PDKI*100
EMITEN K EMITEN K
ALTO 1 3 33,33 ALTO 1 3 33,33
AISA 1 4 25 AISA 2 4 50,00
CEKA 1 3 33,33 CEKA 1 3 33,33
DLTA 2 6 33,33 DLTA 1 3 33,33
ICBP 3 7 42,86 ICBP 3 7 42,86
INDF 3 7 42,86 INDF 3 8 37,50
MLBI 4 8 50 MLBI 4 7 57,14
MYOR 2 5 40 MYOR 1 3 33,33
PSDN 2 6 33,33 PSDN 2 5 40,00
ROTI 1 3 33,33 ROTI 1 3 33,33
SKBM 1 3 33,33 SKBM 1 3 33,33
SKLT 1 3 33,33 SKLT 1 3 33,33
STTP 1 3 33,33 STTP 1 3 33,33
ULTJ 1 3 33,33 ULTJ 1 3 33,33
RATA – RATA 35,77 RATA - RATA 37,68

Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018


e) Data Proporsi Dewan Komisaris Independen Tahun 2016

KODE UD
DKI PDKI*100
EMITEN K
ALTO 1 3 33,33
AISA 1 4 25,00
CEKA 1 3 33,33
DLTA 1 3 33,33
ICBP 3 6 50,00
INDF 3 6 50,00
MLBI 4 7 57,14
MYOR 1 3 33,33
PSDN 2 6 33,33
ROTI 1 3 33,33
SKBM 1 3 33,33
SKLT 1 3 33,33
STTP 1 2 50,00
ULTJ 1 3 33,33
RATA - RATA 38,01

Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018


Lampiran 2. Perkembangan Ukuran Perusahaan pada perusahaan manufaktur sub sektor

makanan dan minuman yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016

Ln Total Asset

a) Data Ukuran Perusahaan b) Data Ukuran Perusahaan

Tahun 2012 Tahun 2013

KODE KODE
TOTAL ASET LN TOTAL ASET LN
EMITEN EMITEN
AISA [Link].000 28,98365 AISA [Link].000 29,24462
ALTO [Link] 27,51607 ALTO [Link].759 28,03816
CEKA [Link].504 27,65834 CEKA [Link].747 27,69833
DLTA 745.306.835 20,42931 DLTA 867.040.802 20,58060
ICBP [Link].000 30,50760 ICBP [Link].000 30,68820
INDF [Link].000 31,71404 INDF [Link].000 31,98892
MLBI [Link].000 27,77256 MLBI [Link].000 28,20884
MYOR [Link].903 29,74758 MYOR [Link].000 29,90420
PSDN [Link] 27,24919 PSDN [Link] 27,24805
ROTI [Link].223 27,81745 ROTI [Link].108 28,23133
SKBM [Link] 26,38956 SKBM [Link] 26,93317
SKLT [Link] 26,24371 SKLT [Link] 26,43366
STTP [Link].890 27,85404 STTP [Link].892 28,01632
ULTJ [Link].029 28,51512 ULTJ [Link].142 28,66478
RATA - RATA 27,74 RATA - RATA 27,99

Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018


c) Data Ukuran Perusahaan d) Data Ukuran Perusahaan

Tahun 2014 Tahun 2015

KODE KODE
TOTAL ASET LN TOTAL ASET LN
EMITEN EMITEN
AISA [Link].000 29,62869 AISA [Link].000 29,83500
ALTO [Link].858 27,84537 ALTO [Link].164 27,79673
CEKA [Link].341 27,88112 CEKA [Link].015 28,02699
DLTA 991.947.134 20,71518 DLTA [Link] 20,76087
ICBP [Link].000 30,84630 ICBP [Link].00
INDF [Link].000 32,08466 0 30,91045
MLBI INDF [Link].00
[Link].000 28,43349
0 32,15098
MYOR [Link].334 29,96230 MLBI [Link].000 28,37336
PSDN [Link] 27,15448 MYOR [Link].22
ROTI [Link].216 28,39318 1 30,05960
SKBM [Link] 27,20481 PSDN [Link] 27,15363
SKLT [Link] 26,52712 ROTI [Link].034 28,62661
STTP [Link].895 28,16177 SKBM [Link] 27,36247
ULTJ [Link].355 28,70161 SKLT [Link] 26,65580
RATA - RATA 28,11 STTP [Link].170 28,28312
ULTJ [Link].248 28,89515
RATA - RATA 28,21
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
e) Data Ukuran Perusahaan Tahun 2016

KODE
TOTAL ASET LN
EMITEN
AISA [Link].000 29,85614
ALTO [Link].823 27,78382
CEKA [Link].418 27,98587
DLTA [Link] 20,90375
ICBP [Link].000 30,99493
INDF [Link].000 32,03987
MLBI [Link].000 28,45302
MYOR [Link].142 30,18999
PSDN [Link] 27,20606
ROTI [Link].718 28,70248
SKBM [Link].004 27,63268
SKLT [Link] 27,06581
STTP [Link].941 28,47964
ULTJ [Link].365 29,07540
RATA – RATA 28,31

Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018


Lampiran 3. Perkembangan Leverage pada perusahaan Manufaktur Sub Sektor Makanan

Dan Minuman yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016

Total Hutang
Debt to Equity Ratio = X 100%
Ekuitas

a) Data Leverage Tahun 2012

KODE LEVERAGE*10
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA
EMITEN 0
AISA [Link].000 [Link].000 47,42
ALTO [Link] [Link] 15,45
CEKA [Link] [Link].504 54,91
DLTA 147.095.322 745.306.835 19,74
ICBP [Link].000 [Link].00
0 32,48
INDF [Link].00 [Link].00
0 0 42,45
MLBI [Link] [Link].000 71,37
MYOR [Link].665 [Link].903 63,05
PSDN [Link] [Link] 40,00
ROTI [Link] [Link].223 44,68
SKBM [Link] [Link] 55,81
SKLT [Link] [Link] 48,15
STTP [Link] [Link].890 53,62
ULTJ [Link] [Link].029 30,75
RATA - RATA 44,28
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
b) Data Leverage tahun 2013

KODE
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA LEVERAGE*100
EMITEN
AISA [Link].000 [Link].000 53,06
ALTO [Link] [Link].759 63,91
CEKA [Link] [Link].747 50,61
DLTA 190.482.809 867.040.802 21,97
ICBP [Link].000 [Link].000 37,62
INDF [Link].000 [Link].000 19,62
MLBI [Link] [Link].000 44,59
MYOR [Link].823 [Link].000 59,90
PSDN [Link] [Link] 38,75
ROTI [Link].437 [Link].108 56,80
SKBM [Link] [Link] 59,59
SKLT [Link] [Link] 53,76
STTP [Link] [Link].892 52,78
ULTJ [Link] [Link].142 28,33
RATA - RATA 45,81

c) Data Leverage tahun 2014

KODE
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA LEVERAGE*100
EMITEN
AISA [Link].000 [Link].000 50,90
ALTO [Link] [Link].858 57,01
CEKA [Link] [Link].341 58,14
DLTA 227.473.881 991.947.134 22,93
ICBP [Link].000 [Link].000 39,62 Sumber :
INDF [Link].000 [Link].000 52,03 Data
MLBI [Link].000 [Link].000 75,18 sekunder
MYOR [Link].545 [Link].334 60,15 diolah
PSDN [Link] [Link] 39,03 tahun 2018
ROTI [Link].472 [Link].216 55,20
SKBM [Link] [Link] 50,79
SKLT [Link] [Link] 53,75
STTP [Link] [Link].895 52,03
ULTJ [Link] [Link].355 22,35
RATA - RATA 49,22
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
d) Data leverage Tahun 2015
KODE
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA LEVERAGE*100
EMITEN
AISA [Link].000 [Link].000 56,22
ALTO [Link] [Link].164 57,04
CEKA [Link] [Link].015 56,93
DLTA 188.700.435 [Link] 18,17
ICBP [Link].000 [Link].000 38,30
INDF [Link].000 [Link].000 53,04
MLBI [Link].000 [Link].000 63,52
MYOR [Link].034 [Link].221 54,20
PSDN [Link] [Link] 47,72
ROTI [Link].162 [Link].034 56,08
SKBM [Link] [Link] 56,04
SKLT [Link] [Link] 59,68
STTP [Link] [Link].170 47,45
ULTJ [Link] [Link].248 20,97
RATA - RATA 48,96

e) Data Leverage Tahun 2016

KODE
TOTAL UTANG TOTAL AKTIVA LEVERAGE*100
EMITEN
AISA [Link].000 [Link].000 53,92
ALTO [Link] [Link].823 58,73
CEKA [Link] [Link].418 37,73
DLTA 185.422.642 [Link] 15,48
ICBP [Link].000 [Link].000 35,20
INDF [Link].000 [Link].000 46,53
MLBI [Link].000 [Link].000 63,93
MYOR [Link].077 [Link].142 51,52
PSDN [Link] [Link] 57,13
ROTI [Link].692 [Link].718 50,58
SKBM [Link] [Link].004 63,22
SKLT [Link] [Link] 47,88
STTP [Link].271 [Link].941 49,99
ULTJ [Link] [Link].365 17,69
RATA - RATA 46,40
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
Lampiran 4. Perkembangan Manajemen Laba pada perusahaan Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman yang

terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016

Manajemen laba (ML) = Akrual Modal kerja (t) / Penjualan periode (t)

Akrual modal kerja = ∆ AL - ∆ HL - ∆ Kas

a) Data Manajemen Laba tahun 2012

KODE AKRUAL MANAJEMEN


∆AL ∆HL ∆KAS PENJUALAN
EMITEN MODAL KERJA LABA
AISA -[Link] [Link] -[Link] [Link] [Link].000 1,66
ALTO [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] 14,67
CEKA -[Link] [Link] [Link] -[Link] [Link].631 -18,56
DLTA 73.688.685 23.790.249 44.099.685 5.798.751 35.688.685 16,25
ICBP [Link].00
[Link].000 [Link] [Link] -[Link] 0 -1,22
INDF [Link].00
[Link].000 [Link] [Link] [Link].000 0 2,48
MLBI -[Link] [Link] -[Link] -[Link] [Link].000 -15,74
MYOR [Link].60 [Link].83
[Link].425 [Link] 1 [Link] 2 1,19
PSDN [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link].447 5,43
ROTI [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link].000 17,80
SKBM [Link] [Link] [Link] -[Link] [Link] -0,27
SKLT [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link] 6,55
STTP [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].902 0,96
ULTJ [Link] -[Link] [Link] [Link] [Link].000 0,67
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
b) Data Manajemen Laba Tahun 2013
KODE AKRUAL MANAJEMEN
∆AL ∆HL ∆KAS PENJUALAN
EMITEN MODAL KERJA LABA
AISA [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].000 12,47
ALTO [Link] [Link].170 [Link] -[Link].633 [Link] -1.003,56
CEKA [Link] -[Link] [Link] [Link] [Link].546 11,82
DLTA 53.688.685 73.824 44.099.685 9.515.176 [Link] 0,55
ICBP [Link].00
[Link].000 [Link].000 [Link] [Link] 0 1,33
INDF [Link].00
[Link].000 [Link].000 [Link] -[Link] 0 -1,27
MLBI [Link] -[Link] [Link] [Link] [Link].000 7,62
MYOR [Link].33
[Link].355 [Link] [Link] [Link] 7 3,43
PSDN 837.932.089 -[Link] [Link] [Link] [Link].584 0,61
ROTI [Link] [Link] [Link] -[Link] [Link].691 -2,92
SKBM [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link].503 8,41
SKLT [Link] [Link] [Link] -[Link] [Link] -2,13
STTP [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].814 5,00
ULTJ [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].075 7,29
RATA - RATA -67,95
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
c) Data Manajemen Laba Tahun 2014

KODE
AKRUAL MANAJEMEN
EMITE ∆AL ∆HL ∆KAS PENJUALAN
MODAL KERJA LABA
N
AISA [Link].000 [Link] [Link] [Link] [Link].000 10,42
ALTO -[Link] -[Link] [Link] -[Link] [Link] -5,62
CEKA -[Link] [Link] 14063197429 -[Link] [Link].192 -5,83
DLTA 106.065.141 33.861.394 -18.615.326 90.819.073 879.253.383 10,33
ICBP [Link].000 [Link].000 [Link].000 -[Link].000 [Link].000 -3,66
INDF [Link].000 [Link].000 [Link] [Link].000 [Link].000 6,88
MLBI [Link] [Link] 440.000.000 -[Link] [Link].000 -25,31
MYOR [Link] [Link] -[Link].329 [Link] [Link].238 5,57
PSDN -[Link] -[Link] -[Link] -[Link] [Link] -0,83
ROTI [Link] -12588736589 [Link] [Link] [Link].697 0,40
SKBM [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].724 0,37
SKLT [Link] [Link] -[Link] -855.351.782 [Link] -0,13
STTP [Link] -[Link] -[Link] [Link] [Link].350 8,14
ULTJ [Link] -[Link] -[Link] [Link] [Link].423 8,72
RATA - RATA 0,68
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
d) Data Manajemen Laba Tahun 2015

KODE
AKRUAL MODAL MANAJEMEN
EMITE ∆AL ∆HL ∆KAS PENJUALAN
KERJA LABA
N
AISA [Link] [Link].000 -[Link] -[Link] [Link].000 -2,37
ALTO -[Link] -[Link] -[Link] -[Link] [Link] -6,95
CEKA [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link].354 3,41
DLTA 48.693.704 -54.670.124 79.725.095 23.638.733 [Link] 1,50
ICBP [Link] -[Link] [Link] [Link] [Link].000 0,72
INDF -[Link].000 [Link].000 -[Link].000 -[Link].000 [Link].000 -63,16
MLBI -[Link] -[Link] [Link] [Link] [Link].000 2,54
MYOR [Link] [Link] [Link] -[Link] [Link].847 -0,40
PSDN -[Link] [Link] -[Link] -[Link] [Link] -34,99
ROTI [Link] [Link] [Link] -[Link] [Link].899 -2,22
SKBM -[Link] [Link] -[Link] -[Link] [Link].664 -4,54
SKLT [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link] 1,27
STTP [Link] [Link] 649.480.412 [Link] [Link].656 2,34
ULTJ [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].171 0,48
RATA - RATA -7,31

Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018


e) Data Manajemen Laba Tahun 2016

KODE AKRUAL MANAJEMEN


∆AL ∆HL ∆KAS PENJUALAN
EMITEN MODAL KERJA LABA
AISA [Link].000 -[Link] -[Link] [Link].000 [Link].000 30,92
ALTO -[Link] -[Link] [Link] -[Link] [Link] -100,00
CEKA -[Link] -[Link] [Link] [Link] [Link].173 3,72
DLTA 146.126.864 -2.577.399 163.779.368 -15.075.105 [Link] -0,91
ICBP [Link].000 [Link] [Link] [Link] [Link].00
0 0,91
INDF -[Link].000 -[Link].000 [Link] -[Link].000 [Link].00
0 -12,50
MLBI [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].000 0,66
MYOR [Link].054 [Link] -[Link] [Link] [Link].35
8 3,82
PSDN [Link] [Link] [Link] -[Link] [Link] -7,92
ROTI [Link] -[Link] [Link] [Link] [Link].213 4,60
SKBM [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link].446 1,79
SKLT [Link] [Link] -[Link] [Link] [Link] 3,91
STTP [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].897 9,27
ULTJ [Link] [Link] [Link] [Link] [Link].355 1,43
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
138

Lampiran 5. Perkembangan Profitabilitas pada perusahaan Manufaktur Sub Sektor

Makanan Dan Minuman yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016

Laba setela h pajak


ROA = Total aktiva X 100%

a) Data Profitabilitas Tahun 2012

KODE LABA SEBELUM


TOTAL ASET ROA
EMITEN PAJAK
AISA [Link] [Link].000 8,39
ALTO [Link] [Link] 2,46
CEKA [Link] [Link].504 8,15
DLTA 287.505.070 745.306.835 38,58
ICBP [Link].000 [Link].00
17,05
0
INDF [Link].000 [Link].00
10,64
0
MLBI [Link].000 [Link].000 111,77
MYOR [Link] [Link].903 11,56
PSDN [Link] [Link] 7,44
ROTI [Link] [Link].223 16,58
SKBM [Link] [Link] 8,66
SKLT [Link] [Link] 4,67
STTP [Link] [Link].890 7,45
ULTJ [Link] [Link].029 18,92
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018 RATA - RATA 19,45
139

b) Data Profitabilitas 2013

KODE LABA SEBELUM


TOTAL ASET ROA
EMITEN PAJAK
AISA [Link] [Link].000 8,95
ALTO [Link] [Link].759 1,59
CEKA [Link] [Link].747 8,09
DLTA 358.395.988 867.040.802 41,34
ICBP [Link].00
[Link].000 0 13,95
INDF [Link].00
[Link].000 0 5,98
MLBI [Link].000 [Link].000 88,49
MYOR [Link].557 [Link].000 13,97
PSDN [Link] [Link] 6,34
ROTI [Link] [Link].108 11,57
SKBM [Link] [Link] 15,73
SKLT [Link] [Link] 5,50
STTP [Link] [Link].892 9,71
ULTJ [Link] [Link].142 15,53
RATA - RATA 17,62

c) Data Profitabilitas Tahun 2014

KODE LABA SEBELUM


TOTAL ASET ROA
EMITEN PAJAK
AISA [Link] [Link].000 6,57
ALTO -[Link] [Link].858 -0,82
CEKA [Link] [Link].341 4,44
DLTA 379.518.812 991.947.134 38,26
ICBP [Link].00
[Link].000 0 13,60
INDF [Link].00
[Link].000 0 7,25
MLBI [Link].000 [Link].000 48,33
MYOR [Link].33
[Link] 4 5,15
PSDN -[Link] [Link] -3,05
ROTI [Link] [Link].216 11,80
SKBM [Link] [Link] 16,90
SKLT [Link] [Link] 7,10
STTP [Link] [Link].895 9,88
ULTJ [Link] [Link].355 12,87
Sumber : Data sekunder diolah tahun 2018
140

d) Data Profitabilitas tahun 2015

KODE LABA SEBELUM


TOTAL ASET ROA
EMITEN PAJAK
AISA [Link] [Link].000 5,52
ALTO -[Link] [Link].164 -3,31
CEKA [Link] [Link].015 9,58
DLTA 250.197.742 [Link] 24,10
ICBP [Link].00
[Link].000 0 15,10
INDF [Link].00
[Link].000 0 5,40
MLBI [Link] [Link].000 32,16
MYOR [Link].22
[Link].801 1 14,46
PSDN -[Link] [Link] -5,32
ROTI [Link] [Link].034 13,98
SKBM [Link] [Link] 7,02
SKLT [Link] [Link] 7,26
STTP [Link] [Link].170 12,09
ULTJ [Link] [Link].248 19,79
RATA - RATA 11,27
e) Data Profitabilitas Tahun 2016

KODE LABA SEBELUM


TOTAL ASET ROA
EMITEN PAJAK
AISA [Link] [Link].000 9,71
ALTO -[Link] [Link].823 -1,25
CEKA [Link] [Link].418 20,04
DLTA 327.047.654 [Link] 27,30
ICBP [Link].00
[Link].000 0 17,26
INDF [Link].00
[Link].000 0 8,99
MLBI [Link].000 [Link].000 58,03
MYOR [Link].14
[Link].238 2 14,28
PSDN -[Link] [Link] -1,55
ROTI [Link] [Link].004 5,79
SKBM [Link] [Link].004 5,79
SKLT [Link] [Link] 4,43
STTP [Link] [Link].941 9,32
ULTJ [Link]
Sumber : Data sekunder diolah tahun 20184.[Link] 22,00
RATA - RATA 14,30
141

Lampiran 6. Hasil Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

GCG 70 .25 .57 .3719 .07025


Ukuran Perusahaan 70 20.43 32.15 28.0725 2.53296
Leverage 70 .15 .75 .4693 .14371
Manajemen Laba 70 -10.04 .31 -.1532 1.21016
Profitabilitas 70 -5.32 111.77 15.1735 18.73424
Valid N (listwise) 70

Lampiran 7. Hasil Uji Normalitas Substruktur 1

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 64
Mean .0000000
Normal Parametersa,b
Std. Deviation .06587405
Absolute .076
Most Extreme Differences Positive .042
Negative -.076
Kolmogorov-Smirnov Z .604
Asymp. Sig. (2-tailed) .858

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.

Sumber : Olah Data SPSS 22


142

Lampiran 8. Hasil Uji Multikolinearitas Substruktur 1

Coefficientsa

Model Unstandardized Standardized T Sig. Collinearity Statistics


Coefficients Coefficients

B Std. Error Beta Tolerance VIF

(Constant) .142 .096 1.487 .142

GCG -.102 .123 -.102 -.830 .410 .934 1.070


1 Ukuran .000 .004 -.015 -.117 .907 .868 1.152
Perusahaan

Leverage -.172 .061 -.355 -2.817 .007 .889 1.125

a. Dependent Variable: Manajemen Laba

Lampiran 9. Hasil Uji Autokorelasi Substruktur 1

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

1 .392a .153 .111 .06750 2.149

a. Predictors: (Constant), Leverage, GCG, Ukuran Perusahaan


b. Dependent Variable: Manajemen Laba

Lampiran 10. Hasil Uji Heteroskedasitas

Sumber : Olah Data SPSS 22


143

Lampiran 11. Hasil Uji Normalitas Substruktur 2

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 67
Mean .0000000
Normal Parametersa,b
Std. Deviation 9.46617568
Absolute .094
Most Extreme Differences Positive .094
Negative -.086
Kolmogorov-Smirnov Z .768
Asymp. Sig. (2-tailed) .597

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.

Lampiran 12. Hasil Uji Multikolinearitas Substruktur 2

Coefficientsa

Model Unstandardized Standardized T Sig. Collinearity Statistics


Coefficients Coefficients

B Std. Error Beta Tolerance VIF

(Constant) 38.111 14.266 2.671 .010

GCG 74.851 17.411 .471 4.299 .000 .930 1.075


1
Ukuran Perusahaan -1.710 .528 -.365 -3.240 .002 .879 1.137

Leverage -11.270 8.873 -.140 -1.270 .209 .924 1.083


a. Dependent Variable: Profitabilitas

Lampiran 13. Hasil Uji Autokorelasi Substruktur 2

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

1 .544a .296 .263 9.68894 2.100

a. Predictors: (Constant), Leverage, GCG, Ukuran Perusahaan


b. Dependent Variable: Profitabilitas

Sumber : Olah Data SPSS 22


144

Lampiran 14 Hasil Uji Heteroskedasitas Substruktur 2

Lampiran 15. Hasil Uji t Substruktur 1

Coefficients a

Model Unstandardized Coefficients Standardized T Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) .142 .096 1.487 .142

GCG -.102 .123 -.102 -.830 .410


1
Ukuran Perusahaan .000 .004 -.015 -.117 .907

Leverage -.172 .061 -.355 -2.817 .007

a. Dependent Variable: Manajemen Laba


Lampiran 16. Hasil Uji t Substruktur 2
Coefficients a

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

(Constant) 38.111 14.266 2.671 .010

GCG 74.851 17.411 .471 4.299 .000

1 -1.710 .528 -.365 -3.240 .002


Ukuran Perusahaan

Leverage -11.270 8.873 -.140 -1.270 .209


Manajemen Laba 21.584 18.509 .155 1.166 .249

a. Dependent Variable: Profitabilitas


Sumber : Olah Data SPSS 22
145

Lampiran 17. Hasil Analisis Hipotesis 1

Variabel dependen : GCG


Variabel Std Nilai t KETERANGAN
B
independen Error Beta t hitung t tabel sig
Hipotesis 1
Manajemen
-0,102 0,123 -0,102 -0,830 1,99962 0,410 Ditolak
Laba

Lampiran 18. Hasil Analisis Hipotesis 2

Variabel dependen : Ukuran Perusahaan


Variabel Std Nilai t KETERANGAN
B
independen Error Beta t hitung t tabel Sig
Hipotesis 2
Manajemen
0,000 0,004 -0,015 -0,117 1,99962 0,907 Ditolak
Laba

Lampiram 19. Hasil Analisis Hipotesis 3


Variabel dependen : Leverage
Variabel Std Nilai t KETERANGAN
B
independen Error Beta t hitung t tabel Sig
Hipotesis 3
Manajemen
-0,172 0,061 -0,355 -2,817 1,99962 0,007 Diterima
Laba

Lampiran 20. Hasil Analisis Hipotesis 4

Variabel dependen : Good Corporate Governance


Variabel Nilai t KETERANGAN
B Std Error
independen Beta t hitung t tabel Sig Hipotesis 4
Profitabilitas 74,851 17,411 0,471 4,299 1,996 0,000 Diterima

Sumber : Olah Data SPSS 22


146

Lampiran 21. Hasil Analisis Hipotesis 5


Variabel dependen : Ukuran Perusahaan
Variabel Nilai t KETERANGAN
B Std Error Beta
independen t hitung t tabel Sig Hipotesis 5
Profitabilitas -1,710 0,528 -0,365 -3,240 1,996 0,002 Diterima

Lampiran 22. Hasil Analisis Hipotesis 6


Variabel dependen : Leverage
Variabel Nilai t KETERANGAN
B Std Error Beta
independen t hitung t tabel Sig Hipotesis 6
Profitabilitas -11,270 8,873 -0,140 -1,270 1,996 0,209 Ditolak

Lampiran 23. Hasil Analisis Hipotesis 7


Variabel dependen : Manajemen Laba
Variabel Nilai t KETERANGAN
B Std Error Beta
independen t hitung t tabel Sig Hipotesis 7
Profitabilitas 21,584 18,509 0,155 1,166 2,0048 0,249 Ditolak

Lampiran 24. Nilai Beta Hipotesis 1 - 7


Hipotesis Nilai Beta
Good Corporate Governance berpengaruh negatif
H1 -0,102
signifikan terhadap manajemen laba
Ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan
H2 -0,015
terhadap manajemen laba
Leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap
H3 -0,355
manajemen laba
Good Corporate Governance berpengaruh negatif
H4 0,471
signifikan terhadap Profitabilitas
Ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan
H5 -0,365
terhadap Profitabilitas
Leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap
H6 -0,140
profitabilitas
Manajemen laba berpengaruh positif signifikan
H7 0,155
terhadap profitabilitas

Sumber : Perhitungan SPSS Statistik 22 for Windows

Anda mungkin juga menyukai