Penggolongan Polimer
1) Penggolongan polimer berdasarkan sifat termal
Berdasarkan sifatnya terhadap panas, polimer dapat dibedakan atas
polimer termoplastik dan polimer termoset. Marilah kita pelajari
perbedaan keduanya.
a. Polimer Termoplastik
Benda-benda plastik jika dipanaskan umumnya akan meleleh, akan
melunak yang akhirnya melebur, sehingga dapat dicetak kembali
(didaur ulang), tetapi akan mengeras kembali jika didinginkan. Proses
melunak dan mengeras ini dapat terjadi berulang kali. Polimer ini
biasanya dapat terlarut dalam pelarut tertentu. Inilah sifat dari
polimer termoplastik.
Contoh : botol (PE), pipa (PVC), styrofoam (polistirena), nilon 6,6
Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Hal ini dikarenakan termoplastik memiliki banyak rantai panjang yang
terikat oleh gaya antar molekul yang lemah. Dengan demikian rantai-
rantai polimer mudah bergeser, ketika dipanaskan atau digerakkan.
Gambar 16. Rantai panjang polimer termoplastik yang terikat oleh gaya antar
molekul yang lemah sehingga rantai mudah bergeser saat dipanaskan atau ditarik
Sumber : [Link]
1
b. Polimer Termoset
Anda tentu tidak asing dengan benda pada Gambar 17, dan mungkin
saat ini benda tersebut ada disekitar Anda.
Gambar 17. Stop Kontak
Sumber : [Link]
Benda pada gambar 17 termasuk kategori plastik yang mempunyai
sifat-sifat tidak lentur, keras tidak dapat larut dalam pelarut apapun,
tidak meleleh jika dipanaskan, lebih tahan terhadap asam dan basa,
jika dipanaskan akan rusak dan tidak dapat kembali seperti semula.
Polimer seperti ini disusun secara permanen dalam bentuk pertama
kali dicetak, inilah yang disebut polimer termoset. Jadi polimer
termoset adalah polimer yang pada awalnya liat saat dipanaskan,
namun sekali didinginkan tidak dapat dilunakkan lagi/polimer sekali
cetak. Sekalipun polimer-polimer termoset lebih sulit untuk
dipakai/dicetak ulang, namun polimer termoset lebih tahan lama.
Mengapa Demikian?
Hal ini dikarenakan, plastik termoset memiliki banyak ikatan kovalen
yang sangat kuat di antara rantai-rantainya, pada Gambar 19. Namun
pemanasan yang terlalu tinggi akan menyebabkan ikatan-ikatan
tersebut putus dan termoset akan terbakar.
Contoh termoset adalah bakelit yang bersifat keras karena mereka
memiliki banyak ikatan kovalen yang sangat kuat antara rantai-
rantainya dan ikatannya saling silang. Plastik termoset menjadi lebih
keras ketika dipanaskan karena panas itulah yang menyebabkan
ikatan-ikatan silang lebih mudah terbentuk. (Azizah,2004).
Gambar 19. Struktur Ikatan Kovalen pada Bauksit
Sumber :
[Link]
Beberapa contoh polimer termoset disajikan pada tabel 5.
Tabel 5. Contoh Polimer Termoset
Tipe Singkatan Kegunaan khas
Fenol-formaldehida PF Alat listrik dan
(Bakelit) elektronik, bagian
mobil, perekat
plywood, utensil
Handle
Resin Urea-formaldehida UF Perekat kayu lapis
Poliester tak jenuh -- Konstruksi, bagian-
bagian mobil,
lambung kapal,
asesoris kapal
Epoksi -- Bahan protektif,
perekat, aplikasi-
apliakasi listrik dan
listrik
Melamin-formaldehida MF Bingkai dekoratif,
tutup meja,
perkakas makan
Sbr: ttp://[Link]/files/Polimer;%20Ilmu%20Material_Normal_bab%[Link]
Tabel 6 Menunjukkan beberapa perbedaan sifat-sifat polimer termoplas
dan termoset.
Tabel 6. Perbedaan sifat polimer termoplastik dan termoset
Polimer Termoplastik Polimer Termoset
Mudah diregangkan Keras dan Rigid
Fleksibel Tidak Fleksibel
Meleleh, lunak jika dipanaskan Tidak meleleh jika dipanaskan
Dapat dibentuk ulang Tidak dapat dibentuk ulang
Rantai polimer dihubungkan oleh gaya Rantai polimer dihubungkan
Van Der Waals yang lemah oleh ikatan kovalen yang kuat
Tidak memiliki ikatan silang antar Mempunyai ikatan silang antar
rantainya rantai
Larut dalam pelarut organik Tidak larut dalam pelarut
organik
Tipe polimerisasi adisi Tipe polimerisasi kondensasi
2) Penggolongan Polimer Berdasarkan Asalnya
Berdasarkan asalnya, polimer dibedakan atas polimer alam dan polimer
buatan (sintetis).
1. Polimer Alam
Polimer alam adalah polimer yang terdapat di alam dan
dihasilkan dari proses metabolisme makhluk hidup. Sifat polimer
alam yang tidak stabil oleh pemanasan, mudah menyerap air dan
sukar dibentuk menyebabkan penggunaanya amat terbatas.
Polimer alam sangat sukar dikembangkan fungsinya untuk
tujuan-tujuan yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat
sehari-hari.
Contohnya :
karet alam kadang-kadang cepat rusak, tidak elastis, dan
berombak, tidak tahan terhadap minyak bensin atau
minyak tanah.
sutera dan wol merupakan senyawa protein bahan
makanan bakteri, sehingga wol dan sutera cepat rusak.
Beberapa polimer yang terdapat di alam ditunjukkan pada tabel 7.
Tabel 7. Polimer Alami
No Polimer Monomer Polimerisasi Contoh
1 Pati/amilum Glukosa Kondensasi Biji-bijian, akar umbi
2 Selulosa Glukosa Kondensasi Sayur, kayu, kapas
3 Protein Asam Amino Kondensasi Susu, daging, wol
4 Asam nukleat Nukleotida Kondensasi Molekul DNA RNA
5 Karet alam Isoprena Adisi Getah pohon karet
2. Polimer Buatan (Sintetis)
Polimer sintetis atau buatan dapat berupa polimer regenerasi
(semi sintetik) dan polimer sintetis. Polimer regenerasi (semi
sintetik) adalah polimer alam yang dimodifikasi. Contohnya :
rayon, yaitu serat sintetis yang dibuat dari kayu (selulosa),
selulosa nitrat (yang dikenal dengan istilah nitroselulosa) yang
dipasarkan dengan nama – nama “Celluloid” dan“gun cotton”.
Polimer sintetis adalah polimer yang dibuat dari bahan baku
kimia.
Contohnya:
PVC dari monomer vinil klorida
Polietena dari monomer etena
Nilon dari monomer asam adipat dan 1,6-diaminoheksana
Bakelit dari monomer fenol dan formaldehida
Teflon dari monomer tetrafluoro etena
Melamin dari monomer formaldehida dan melamin
Kebanyakan polimer ini berupa plastik yang digunakan untuk
berbagai keperluan baik untuk rumah tangga, industri, atau mainan
anak-anak. Polimer sintetis sudah banyak membantu kita dalam
kehidupan. Tidak dapat kita bayangkan jika kehidupan tanpa
mengenal polimer sintesis.
3) Penggolongan Polimer Berdasarkan Jenis Monomernya
Berdasarkan jenis monomernya, polimer dibedakan atas homopolimer dan
kopolimer.
1. Homopolimer
Homopolimer adalah polimer yang monomernya sejenis, dengan
struktur polimer .... –M-M-M-M-M-M-M-M-.....
Contoh:
Selulosa tersusun dari monomer glukosa, melalui polimerisasi
kondensasi
Protein tersusun dari mononer asam amino, melalui polimerisasi
kondensasi
Polivinilklorida tersusun dari monomer vinilklorida, melalui
poliimerisasi adisi.
Polietilena tersusun dari monomer etena, melalui polimerisasi adisi
Poliisoprena tersusun dari monomer isoprena, melalui
polimerisasi adisi
2. Kopolimer
Kopolimer atau disebut juga heteropolimer adalah polimer yang
monomernya tidak sejenis.
Contoh :
Poliester dari monomer etena 1,2-diol dan asam benzena 1,2
dikarboksilat
Nilon 6,6 dari monomer asam adipat dan 1,6-diaminoheksana
Bakelit dari monomer fenol dan formaldehida
Dakron dari monomer etilen glikol dan dimetilteretfalat
SBR dari monomer stirena dan butadiena
Proses pembentukan polimer sintetis berlangsung dengan suhu
dan tekanan tinggi. Reaksinya ada yang dibantu katalis dan ada
yang tanpa katalis. Perbedaannya jika dengan menggunakan
katalis struktur molekul lebih teratur, sedang yang tanpa katalis
struktur molekul yang terbentuk tidak beraturan. Jadi, fungsi
katalis adalah untuk mengendalikan proses pembentukan struktur
molekul polimer agar lebih teratur sehingga sifat-sifat polimer
yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.
Polimerisasi tanpa katalis menghasilkan struktur rantai molekul
polimer tidak beraturan , sebagai berikut :
(-A-B-B-A-B-B-B-A-A-B-A-)n
Polimerisasi dengan katalis menghasilkan struktur rantai
molekul polimer yang beraturan , sebagai berikut :
(-A-A-A-B-B-B-A-A-A-B-B-B-)n
Jenis-Jenis Kopolimer
Kopolimer acak, yaitu kopolimer yang monomernya
tersusun acak dalam rantai polimer.
Kopolimer berseling teratur (alternasi), yaitu kopolimer
yang susunan monomernya berselang-seling secara teratur
dalam rantai polimer.
Kopolimer balok (blok), yaitu kopolimer yang tersusun dari
suatu kesatuan berulang yang berselang-seling dengan
kesatuan berulang lainnya dalam rantai polimer.
Kopolimer cangkok, yaitu kopolimer yang mempunyai satu
macam kesatuan berulang menempel pada polimer tulang
punggung lurus yang mengandung hanya satu macam
kesatuan berulang dari satu jenis monomer.
Gambar 20. Gambar Susunan Monomer Untuk Jensi Kopolimer
4)Penggolongan Polimer Berdasarkan Bentuk Susunan Rantai Polimer
Dibagi atas tiga kelompok yaitu:
Polimer Linier, yaitu polimer yang susunan rantainya lurus, tidak
memiliki cabang selain gugus-gugus utama. Sifatnya: titik leleh,
kuat tarik dan densitas tinggi. Contohnya polietilena,
polivinilklorida
Polimer Bercabang, yaitu polimer membentuk cabang pada rantai
utama. Sifatnya: mempunyai titik leleh, kuat tarik dan densitas
rendah, contoh glikogen
Polimer Berikatan Silang (Cross – linking), yaitu polimer yang
terbentuk karena beberapa rantai polimer saling berikatan satu
sama lain pada rantai utamanya. Jika sambungan silang terjadi ke
berbagai arah maka akan terbentuk sambung silang tiga dimensi
yang sering disebut polimer jaringan 3 dimensi. Sifatnya sangat
keras, kaku dan rapuh, contoh bakelit, resin urea formaldehida.
Gambar 21. Tipe-Tipe Rantai Polimer
(a) Rantai Linear, (b) Rantai Bercabang, (c) Rantai Silang-Menyilang
Semakin banyaknya ikatan silang pada polimer akan menyebabkan
semakin kaku dan rapuh sehingga gampang patah. Hal itu
dikarenakan adanya ikatan silang antar rantai polimer
menyebabkan terjadinya jaringan yang kaku dan menyusun bahan
polimer yang terbentuk menjadi yang keras dan kaku.
Sifat-Sifat Polimer Sintetis
Sifat-sifat polimer sangat dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing
polimer. Adapun sifat-sifat polimer secara umum adalah sebagai berikut:
a) Sifat ketahanan terhadap panas
Sifat polimer terhadap panas ada yang menjadi lunak jika
dipanaskan dan keras jika didinginkan, polimer seperti ini disebut
termoplas, contohnya : plastik yang digunakan untuk kantong dan
botol plastik. Sedangkan polimer yang menjadi keras jika
dipanaskan disebut termoset, contohnya melamin.
b) Sifat kelenturan atau sifat elastis
Sifat ini dipengaruhi susunan rantai dari polimer. Elastomer
(polimer bersifat elastis) memiliki struktur yang saling
bersilangan dan longgar. Saat jumlah rata-rata ikatan saling
bersilangan itu meningkat, material menjadi lebih kaku dan
rapuh. Baik karet alami dan sintetis adalah contoh dari elastomer.
Sifat ketahanan terhadap mikroorganisme
Polimer alam seperti wool, sutra, atau selulosa tidak tahan
terhadap mikroorganisme atau ulat (rayap). Sedangkan polimer
sintetis lebih tahan terhadap mikroorganisme atau ulat.
c) Sifat kristalinitas rantai polimer
Polimer berstruktur tidak teratur memiliki kristanilitas rendah
dan bersifat amorf (tidak keras). Sedangkan polimer dengan
struktur teratur mempunyai kristanilitas tinggi sehingga lebih
kuat dan lebih tahan terhadap bahan-bahan kimia dan enzim.
Sebuah struktur rantai bercabang cenderung menurunkan tingkat
kristanilitas (cristanility) dan kepadatan (density) polimer
tersebut, yang mengakibatkan sifat dari polimer akan berkurang,
terutama kekuatan (strength).
d) Sifat lainnya
Ringan, dalam artian rasio bobot/volume kecil;
Tahan korosi dan kehancuran terhadap lingkungan yang
agresif;
Dimensinya stabil sebab mempunyai berat molekul besar;
Kegunaan Polimer Sintetis
Polimer sintetis atau buatan memiliki keunggulan dibanding bahan-
bahan tradisional. Pada bagian ini akan dibahas secara mendalam mengenai
plastik sebagai salah satu material yang merupakan polimer sintetis. Plastik
merupakan material yang baru secara luas dikembangkan dan digunakan
sejak abad ke-20 yang berkembang secara luar biasa penggunaannya dari
hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun
pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005.
Plastik dibagi menjadi dua klasifikasi utama berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan ekonomis dan kegunaannya:
a. Plastik komoditi
Plastik- plastik komoditi dicirikan oleh volumenya yang tinggi dan
harga yang murah. Plastik jenis ini dipakai dalam bentuk barang yang
bersifat pakaibuang (disposable) seperti lapisan pengemas, namun
ditemukan juga pemakaiannya dalam barang-barang yang tahan lama.
Plastik komoditi pada prinsipnya terdiri dari empat jenis polimer
utama: polietilena, polipropilena, polivinil klorida dan polistirena. Plastik-
plastik komoditi mewakili sekitar 90% dari seluruh produksi termoplastik,
dan sisanya terbagi diantara kopolimer stirena-butadiena, kopolimer
akrilonitril-butadiena-stirena (ABS), poliamida dan polyester. Hampir
semua plastik komoditi merupakan polimer termoplastik, sehingga dapat
didaur ulang. Akan tetapi harga plastik daur ulang lebih mjrah
dibandingkan dengan ongkos produksi untuk mendaur ulang plastik
tersebut. Disis lain biaya memproduksi bijih plastik relatif lebih murah,
sehingga perusahaan
cenderung untuk memproduksi bijih plastik dibanding dengan
mengolahnya.
Untuk memudahkan daur ulang plastik diberikan simbol daur ulang
yang berbentuk segitiga dengan kode-kode tertentu. Kode ini dikeluarkan
oleh The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan
diadopsi oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, salah satunya
ISO (International Organization for Standardization). Pada dasarnya,
pengkodean ini dirancang untuk membantu staf di pusat daur ulang, agar
dapat memisahkan bahan untuk diproses dengan baik. Pengetahuan dasar
lambang ini juga dapat membantu kita dalam memastikan apakah barang
plastik di rumah aman untuk kita dan anak-anak kita.
Tabel 8. Beberapa Kegunaan Plastik Komoditi
Kode Singkatan Kegunaan utama
PET PET (Polietilena tereftalat)
Botol plastik berwarna jernih, biasanya
digunakan untuk botol minuman
HDPE High Density Polyethylene
galon air minum, botol susu, deterjen,
botol minyak. HDPE mampu mencegah
reaksi kimia dengan
makanan/minuman yang dikemasnya.
PP Mainan anak-anak, bingkai jendela dan
pintu, selang, dan teralis plastik
LDPE Low Density Polyethylene
kantong kresek, botol-botol yang
lembek, dan jenis plastik kantong
belanja
PP Polipropilena
Botol kosmetik, wadah makanan
PS Stryrofoam untuk wadah makanan
Lainnya tempat makanan dan minuman, suku
cadang mobil, peralatan rumah tangga, dan
kemasan plastik lainnya.
b. Plastik teknik.
Plastik teknik lebih mahal harganya dan volumenya lebih rendah,
tetapi memiliki sifat mekanik yang unggul dan daya tahan yang lebih baik.
Konsumsi plastik teknik dunia hingga akhir 80-an mencapai kira-kira 1,5 x
109 kg/tahun, diantaranya poliamida, polikarbonat, asetal, poli(fenilena
oksida), dan polyester mewakili 99% dari pemasaran. Plastik-plastik teknik
banyak dipakai terutama dalam bidang transportasi (mobil, truk, pesawat
udara), konstruksi (perumahan, instalasi pipa ledeng, perangkat keras), dan
barang-barang konsumsi.
Dampak Negatif, dan Penanganan Polimer
a. Dampak terhadap Lingkungan
Polimer yang dibuang ke lingkungan sulit diuraikan oleh
mikroorganisme tanah. Hal ini menyebabkan pencemaran lingkungan.
Contoh kantong plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit
dikelola. Diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk membuat
sampah bekas kantong plastik itu benar-benar terurai. Saat terurai pun
partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Kantong
plastik juga penyebab banjir, karena menyumbat saluran-saluran air,
tanggul.
Sampah plastik tidaklah bijak jika dibakar karena akan menghasilkan
gas yang akan mencemari udara dan membahayakan pernafasan manusia,
dan jika sampah plastik ditimbun dalam tanah maka akan mencemari tanah,
air tanah. Sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik
mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer. Salah satunya dengan
melakukan upaya kampanye untuk menghambat terjadinya pemanasan
global. Sampah kantong plastik telah menjadi musuh serius bagi kelestarian
lingkungan hidup.
Sampah plastik dapat menyebabkan perubahan iklim. Sejak mulai
dari proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik
mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer. Selama kegiatan produksi
plastik sangat tidak menghemat energi. Membutuhkan bahan baku minyak
bumi yang cukup
banyak dan pohon setiap tahunnya.
b. Dampak terhadap Kesehatan Manusia
Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang
berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakaranya tidak sempurna,
plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat
berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit
kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf dan memicu
depresi.
Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap
barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa paralon, plastik laminating,
gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-
alat militer hingga pestisida.
Industri makanan dan minuman banyak menggunakan plastik
sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air
mineral, dan botol bayi. Plastik tersebut umumnya menggunakan bahan
polikarbonat yang mengandung bisphenol-A. Pemanasan atau goresan pada
plastik polikarbonat akan melepaskan bisphenol A, yang efeknya dalam
dosis rendah merugikan pertumbuhan otak pada janin, obesitas, pubertas
dini, kanker dan kerusakan genital. Satu tes membuktikan 95% orang
pernah memakai barang mengandung bisphenol-A. Oleh karena itu kita
harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai, sehingga dapat
meminimalkan resiko yang ditimbulkan oleh plastik. Alasan mengapa plastik
jenis ini banyak digunakan, karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah.
Bahaya lain penggunaan bahan polimer untuk kemasan makanan
adalah gugus atom pada polimer yang terlarut di dalam makanan lalu masuk
ke dalam tubuh akan menyebabkan kanker (karsinogenik).
Kode daur ulang plastik juga dapat digunakan untuk memastikan
apakah plastik yang kita gunakan aman, serta bagaimana cara
penanganannya
Tabel 9. Kode Plastik dan Dampaknya Bagi Kesehatan Manusia
Kode Cara penggunaan dan dampaknya
botol berbahan PET adalah botol ini hanya sekali pakai.
1 Tidak disarankan sekali Anda menggunakannya dengan
berulang, apalagi mengisinya dengan air hangat atau
panas. Hal ini bisa mengakibatkan lapisan polimer yang
ada di botol meleleh dan mengeluarkan Zat Karsinogenik
yang menyebabkan kanker jangka panjang. Botol yang
memiliki simbol PET wajib didaur ulang tapi tidak untuk
kamu
gunakan berulang.
2 HDPE adalah plastik yang paling sering didaur ulang dan
dianggap sebagai salah satu plastik yang paling aman
untuk digunakan. Kamu tidak perlu khawatir jika
menggunakannya berulang kali, dengan catatan
kebersihannya harus tetap dijaga.
3 Plastik PVC sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh dan
lebih baik dihindari untuk pemakaian bahan jenis ini. PVC
mengandung DEHA yang dapat bereaksi dengan makanan
yang dikemas dengannya secara langsung. Selain itu, PVC
juga memiliki sifat yang sangat sulit untuk didaur ulang.
Dengan sifat-sifat ini, plastik PVC harus digunakan secara
bijak agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan.
4 LDPE relatif aman untuk digunakan. Daya proteksinya
terhadap uap air tergolong baik, namun kurang bagus bagi
gas-gas lain seperti oksigen. Bahan ini juga memiliki sifat
yang mudah untuk didaur ulang.
5 Polypropylene menunjukkan baiknya juga bahan ini
terhadap kesehatan. Plastik berbahan Polypropylene bisa
digunakan berulang dan merupakan jenis plastik terbaik
untuk kebutuhan dapur.
6 Jika terkena suhu panas, bahan kimianya sangat mudah
berpindah ke dalam makanan. Efek buruk dari bahan ini
adalah dapat merusak kesehatan otak, mengganggu
hormon estrogen pada wanita dan bisa mengganggu
pertumbuhan dan sistem saraf.
c. Penanganan Limbah Polimer
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menangani limbah plastik anatara
lain:
1. Kurangi penggunaan kantong plastik dan gunakan tas kain setiap kali
berbelanja. Harus diingat untuk selalu membawa tas kain saat belanja
dari rumah.
2. Limbah plastik ditanggulangi dengan cara:
a) Reuse ( pakai ulang / penggunaan kembali ) adalah upaya
penggunaan limbah plastik dipakai kembali tanpa perlakuan apa-apa,
misal untuk dibuat hiasan,
b) Recycle (daur ulang) adalah upaya mendaur ulang limbah plastik
untuk dimanfaatkan dengan memproses kembali ke proses semula
melalui perlkuan fisika, kimia dan biologi menjadi produk lain seperti
bahan baku sekunder produk plastik lain, misal plastik kresek hitam,
pot hitam, dan
c) Recovery ( pungut ulang/ambil ulang ) adalah upaya mengambil ulang
bahan-bahan yang masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dari suatu
limbah, kemudian dikembalikan ke dalam proses produksi dengan atau
tanpa perlakuan fisika, kimia dan biologi, ketiganya dikenal dengan 3
R.
3. Menghindari pembuangan sampah plastik ke lingkungan karena akan
secara tidak langsung merusak ekosistem melalui (1) sumbatan pada
sistem saluran air yang menyebabkan sedimentasi dan banjir, (2)
merusak lahan subur seperti hutan mangrove karena keberadaan
sampah plastik menutupi permukaan dan mengurangi sistem
pengudaraan, (3) karena sifatnya yang tidak dapat membusuk, akan
mengurangi kapasitas lahan pembuangan akhir sampah.
4. Kelembagaan meliputi instansi dan organisasi yang khusus menangani
sampah plastik khususnya dan barang plastik. Kelembagaan
mempunyai fungsi yang penting dalam mengnangani sistem
pengelolaan sampah plastik secara menyeluruh dan komprehensif
termasuk didalamnya penerbitan peraturan yang berkaitan dengan
sistem pengelolaan sampah plastik dan plastik.
5. Pemerntah dalam hal ini misalnya instansi yang terkait dengan sistem
pengelolaan sampah plastik seperti Departemen Perindustrian dan
Perdagangan yang mengatur secara langsung sistem pengelolaan
plastik dari bahan baku sampai ke produk. Kementerian Lingkungan
Hidup mempunyai tugas dan fungsi dalam pengelolaan lingkungan
hidup termasuk berbagai dampak yang ditimbulkan akibat proses
pembuatan plastik dan produk barang plastik yang sudah tidak
terpakai dan dibuang ke lingkungan. Pemerintah Daerah cq. Dinas
Kebersihan merupakan instansi terdepan dalam pengelolaan sampah
plastik dalam sistem pengelolaan sampah kota.