BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Trombosit
Trombosit adalah sel darah tak berinti, berbentuk cakram dengan diameter 1-4
mikrometer dan volume 7–8 fl. Trombosit dapat dibagi dalam 3 daerah (zona), zona
daerah tepi berperan sebagai adhesi dan agregasi, zona “sol gel” menunjang struktur
dan mekanisme interaksi trombosit, zona organel berperan dalam pengeluaran isi
trombosit. Fungsi utama trombosit adalah pembentukan sumbatan mekanis sebagai
respon hemostatik normal terhadap luka vaskuler, melalui reaksi adhesi, pelepasan,
agregasi dan fusi serta aktivitas prokoagulannya (Wirawan, 2006).
Trombosit dihasilkan dalam sumsum tulang dengan fragmentasi sitoplasma
megakariosit. Prekusor megakriosit – megakarioblas timbul dengan proses
diferensiasi dari sel asal haemopoietik. Megakariosit matang dengan proses replikasi
endomitotik inti secara sinkron, yang memperbesar volume sitoplasma saat jumlah
inti bertambah dua kali lipat. Tingkat perkembangan bervariasi terbanyak pada
stadium 8 inti, replikasi inti lebih lanjut dan pertumbuhan sel berhenti, sitoplasma
menjadi granular dan selanjutnya trombosit dibebaskan. Produksi trombosit
mengikuti pembentukan mikrovesikulus dalam sitoplasma sel yang bersatu
(Koalesensi) membentuk membran batas pemisah (demarkasi) trombosit. Tiap
megakariosit menghasilkan sekitar 4000 trombosit. Produk trombosit berada di
bawah kontrol zat humoral yang dikenal sebagai trombopoietin yang dihasilkan oleh
[Link]
hati dan ginjal. Trombopoietin memiliki homologi yang substansial dengan
eitropoitein dan meningkatkan produksi trombosit dan proliferasi megakarosit.
Trombosit yang baru dibentuk berukuran lebih besar dan memiliki kapasitas
hemostatik yang lebih kuat daripada trombosit matang. Jumlah trombosit normal
adalah sekitar 150-400 x 109/l dan lama hidup yang normal ialah antara 7 sampai 10
hari. (Hoffbrand, 2005).
Nilai normal trombosit bervariasi sesuai metode yang dipakai. Jumlah
trombosit normal menurut Daecie adalah 150 – 400 x 109 / L. Menurut metode Rees
Ecker jumlah normal trombosit 140 – 340 x 109/ L, bila menggunakan Coulter
Counter jumlah normal trombosit 150 – 350 x 109/L. Kelainan trombosit meliputi
kuantitas dan kualitas trombosit. Kelainan kuantitas trombosit
diantaranya trombositopeni, trombositosis dan trombositemi. Trombositopeni
merupakan berkurangnya jumlah trombosit dibawah normal, yaitu kurang dari 150 x
109 / L. Trombositosis merupakan peningkatan jumlah trombosit pada peredaran
darah diatas normal, yaitu lebih dari 400x109. Trombositemi yaitu peningkatan
jumlah trombosit oleh proses ganas, misalnya pada leukemia mielositik kronik jumlah
trombosit melebihi 1.000x109/L (Wirawan, 2006).
Kelainan kualitas trombosit diantaranya trombositopati, merupakan keadaan
yang menggambarkan kelainan trombosit yang melibatkan “platelet factor 3” dan
selanjutnya pembentukan tromboplastin plasma. Hal ini disebabkan oleh kelainan
bawaan atau didapat (Price, et al, 2006).
[Link]
2.2 Pemeriksaan Hitung Jumlah Trombosit
2.2.1 Cara Langsung
1. Metode Rees Ecker
Darah diencerkan dengan larutan BCB (Brilliant Cresyl Blue), sehingga
trombosit akan tercat terang kebiruan. Trombosit dihitung dengan bilik hitung di
bawah mikroskop, kemungkinan kesalahan metode Rees Ecker 16-25%
(Gandasoebrata, 2013).
2. Metode Brecher Cronkite
Darah diencerkan dengan larutan amonium oksalat 1% untuk melisiskan
eritrosit, trombosit dihitung pada bilik hitung menggunakan mikroskop fase kontras.
Kemungkinan kesalahan Brecher Cronkite 8-10% (Dacie, 2002).
3. Metode Automatic Cell Counter
Metode automatik menggunakan prinsip flow cytometri yang memungkinkan
sel-sel masuk flow chamber untuk dicampur dengan diluent yang dialirkan melalui
apertura berukuran kecil sehingga memungkinkan sel lewat satu per satu. Aliran
yang keluar dilewatkan medan listrik untuk kemudian sel dipisah-pisahkan sesuai
muatannya. Teknik dasar pengukuran sel dalam flow cytometri ialah impedansi listrik
(electrical impedance) dan pendar cahaya (light scattering.) Teknik pendar cahaya
menghamburkan, memantulkan atau membiaskan cahaya yang berfokus pada sel,
oleh karena tiap sel memiliki granula dan indek bias berbeda maka akan
menghasilkan pendar cahaya berbeda dan dapat teridentifikasi (Sysmex).
[Link]
Prinsip kerja hematology analyzer adalah sampel darah yang sudah dicampur
dengan reagen dilusi sebanyak 200X dan melalui proses hemolyzing untuk mengukur
jumlah lekosit, serta didilusi lagi sebanyak 200x (jadi 40.000x) untuk mengukur
eritrosit dan trombosit, kemudian diproses pada blok data processing dan hasilnya
akan ditampilkan pada monitor dan dicetak dengan mesin print. (Indolab, 2017).
Alat autoanalyzer ini memiliki beberapa kelebihan yaitu efisiensi waktu,
volume sampel, dan ketepatan hasil. Pemeriksaan dengan autoanalyzer dapat
dilakukan dengan cepat hanya memerlukan waktu sekitar 2-3 menit. Pemeriksaan
secara manual membutuhkan lebih banyak sampel darah, namun hematology
autoanalyzer hanya menggunakan sedikit sampel. Beberapa kasus pengambilan darah
pasien kadang sulit mendapatkan darah yang dibutuhkan, namun dengan hematology
autoanalyzer ini sampel darah yang digunakan dapat menggunakan darah perifer
dengan jumlah darah yang lebih sedikit. Hasil yang dikeluarkan alat ini biasanya
sudah melalui quality control yang dilakukan oleh intern laboratorium (Sysmex).
Beberapa kekurangan hematologi autoanalyzer antara lain tidak dapat
menghitung sel abnormal, misalnya sel-sel yang belum matang pada lekemia, infeksi
bakterial, sepsis dan sebagainya, dan tidak mampu menghitung ketika jumlah sel
sangat tinggi. Pembacaan alat otomatis, lekosit yang rusak berupa pecahan-pecahan
atau butiran-butiran kecil terbaca sebagai trombosit (Gandasoebrata, 2013).
Cross check menggunakan sediaan apus darah tepi sangat berarti. Alat
autoanalyzer perlu mendapatkan perhatian khusus dalam hal perawatan. Suhu
ruangan harus dilakukan kontrol secara berkala, reagen harus dalam penyimpanan
[Link]
yang baik, dan sampel dijaga supaya tidak terjadi aglutinasi. Sampel darah yang
digunakan adalah sampel darah yang sudah ditambahkan antikoagulan, apabila ada
darah yang menggumpal jika terhisap akan merusak alat (Medonic).
2.2.2 Hitung Trombosit Secara Tak Langsung
Hitung trombosit cara tak langsung dilakukan dengan metode Fonio dan
estimasi jumlah trombosit pada sediaan apus darah tepi (SADT). Metode Fonio
dilakukan menggunakan darah kapiler dicampur dengan larutan magnesium sulfat
14% kemudian dibuat SADT dan dilakukan pengecatan giemsa. Jumlah trombosit
dihitung dalam 1000 eritrosit, jumlah mutlak trombosit dapat diperhitungkan dari
jumlah mutlak eritrosit. Cara ini lebih kasar daripada cara langsung.
Cara estimasi jumlah trombosit pada SADT, semua hasil hitung trombosit baik
normal maupun abnormal yang diperiksa secara langsung harus dilakukan cross
check dengan SADT yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hitung
trombosit secara langsung dan estimasi (Gandasoebrata, 2013).
2.3 Darah EDTA
Pemeriksaan hematologi seringkali menggunakan darah utuh (whole blood),
yaitu darah yang sama bentuk atau kondisinya seperti ketika beredar dalam aliran
darah. Spesimen berupa darah vena atau kapiler, sehingga untuk keperluan ini darah
harus ditambah dengan antikoagulan. Antikoagulan yang dipakai adalah antikoagulan
EDTA. Antikoagulan oksalat tidak disarankan karena dapat menyebabkan perubahan
morfologi lekosit dan eritrosit, heparin dapat mengubah karakteristik trombosit serta
[Link]
menimbulkan dasar warna biru kehitam-hitaman bila sediaan diwarnai dengan Wright
(Riswanto, 2013).
Pengambilan darah vena untuk orang dewasa dilakukan pada vena difossa
cubiti, sedangkan pada anak-anak atau bayi apabila terpaksa darah diambil dari vena
jugularis eksterna, vena femoralis bahkan dari sinus sagittalis superior.
Pengambilan darah vena perlu dilakukan dengan hati-hati dan seksama, karena
bahaya yang terjadi jauh lebih besar daripada pengambilan darah kapiler. Hal-hal
yang perlu diperhatikan, daerah yang akan ditusuk harus diperiksa dengan seksama
antara lain letak dan ukuran vena (Riswanto, 2013).
Antikoagulan EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetate) merupakan
antikoagulan yang baik dan sering digunakan untuk berbagai macam pemeriksaan
hematologi. Digunakan dalam bentuk garam Na2EDTA atau K2EDTA. K2EDTA
lebih banyak digunakan karena daya larut dalam air kira-kira 15 kali lebih besar dari
Na2EDTA. EDTA dalam bentuk kering dengan pemakaian 1-1,5 mg EDTA / ml
sedang dalam bentuk larutan EDTA 10% pemakaiannya 0,01 ml / ml darah. Garam-
garam EDTA mengubah ion kalsium dari darah menjadi bentuk yang bukan ion. Tiap
1 miligram EDTA menghindarkan membekunya 1 mililiter darah. Darah EDTA
dibuat dengan cara mengalirkan 2 ml darah vena pada tabung atau botol yang telah
berisi 2 mg EDTA kemudian botol / tabung ditutup dan segera darah dicampur
dengan antikoagulan EDTA selama 60 detik atau lebih (Gandasoebrata, 2013).
Jumlah trombosit menurun karena perbandingan volume EDTA yang
berlebihan. Trombosit akan membengkak kemudian terjadi disintegrasi yang
[Link]
membentuk fragmen dalam ukuran yang lebih kecil dari trombosit sehingga tidak
terhitung alat elektronik (Wirawan, 2004).
2.4 Pengaruh Suhu dan Waktu Simpan Terhadap Jumlah Trombosit
Penyimpanan bahan pemeriksaan sedapat mungkin dihindarkan, artinya darah
sedapat mungkin segera diperiksa setelah berhasil ditampung atau diambil. Apabila
pemeriksaan tidak dapat dilakukan segera, darah EDTA disimpan dalam lemari es,
dan dibiarkan mendapat suhu kamar lebih dahulu sebelum darah diperiksa
(Gandasoebrata, 2013).
Batas waktu penyimpanan darah EDTA untuk pemeriksaan hitung jumlah
trombosit adalah kurang dari 1 jam pada suhu kamar. Penundaan pemeriksaan lebih
dari 1 jam menyebabkan penurunan fungsi dan jumlah trombosit. Faktor yang
mempengaruhi antara lain antikoagulan, temperatur, penyimpanan, bahan, ukuran,
bentuk permukaan dan tempat penyimpanan. Darah EDTA yang ditunda lebih dari 1
jam akan mudah sekali menempel antara trombosit dengan trombosit yang lainnya
(agregasi) atau menempel pada benda asing (adhesi). Pemeriksaan hematologi yang
tidak segera diperiksa, darah dapat disimpan pada suhu 4ºC antara 12-18 jam
penyimpanan (Wirawan, 2011).
Penggunaan hematology analyzer pada darah K3EDTA yang mengalami
penundaan akan mempengaruhi perubahan morfologi sel . Hal ini disebabkan oleh
teknologi yang digunakan mengandalkan ukuran dan sifat pendar dari sel untuk
membedakan populasi dari masing-masing sel. Perubahan-perubahan struktur sel
[Link]
sampai dengan terjadinya desintegrasi akan mempengaruhi pengelompokan populasi
sel dan perhitungan jumlah sel (Hill dalam Marpiah, 2017).
2.5 Sumber Kesalahan Pemeriksaan Jumlah Trombosit
Tahap Pra Analitik atau tahap persiapan awal sangat menentukan kualitas
sampel yang akan dihasilkan dan mempengaruhi proses kerja berikutnya. Tahap pra
analitik meliputi kondisi pasien, pengambilan dan persiapan sampel. Sebelum
pengambilan spesimen form permintaan laboratorium diperiksa. Identitas pasien
harus ditulis dengan benar (nama, umur, jenis kelamin, nomor rekam medis dan
sebagainya) disertai diagnosis atau keterangan klinis.
Teknik atau cara pengambilan spesimen harus dilakukan dengan benar sesuai
Standard Operating Procedure (SOP).. Volume darah mencukupi, kondisi baik, tidak
lisis, segar atau tidak kadaluwarsa, tidak berubah warna, tidak berubah bentuk.
Kesalahan dalam pengambilan darah vena antara lain menggunakan spuit dan jarum
yang basah, mengenakan ikatan pembendung terlalu lama atau terlalu keras sehingga
dapat mengakibatkan hemokonsentrasi. Adanya bekuan dalam spuit karena
lambatnya bekerja, dan bekuan dalam botol karena darah tidak tercampur merata
dengan antikoagulan (Gandasoebrata, 2013).
Perbandingan jumlah darah dengan antikoagulan yang kurang menyebabkan
hitung jumlah trombosit menurun. Antikoagulan berlebihan menyebabkan hitung
jumlah trombosit menurun tetapi dapat juga meningkat. Darah EDTA yang ditunda
lebih dari 1 jam akan menyebabkan penyimpangan jumlah trombosit (Wirawan,
2002).
[Link]
Tahap Analitik adalah tahap pengerjaan pengujian sampel sehingga diperoleh
hasil pemeriksaan. Tahap analitik perlu memperhatikan reagen, alat, metode
pemeriksaan, pencampuran sampel dan proses pemeriksaan. Penggunaan hematology
analyzer pada darah EDTA yang mengalami penundaan akan menyebabkan hasil
yang tidak akurat (Hill dalam Marpiah, 2017). Tahap paska analitik yang dikeluarkan
untuk meyakinkan bahwa hasil pemeriksaan yang dikeluarkan benar – benar valid
atau benar (Budiwiyono, 2002).
2.6 Kerangka Teori
Pra Analitik Jumlah Paska
Trombosit Analitik
Sampling
darah vena Analitik Pencatatan
dan pelaporan
Darah +
EDTA 1. Alat
2. Metode
Penyimpanan 3. Reagen
darah EDTA
Waktu Suhu
Gambar 1. Skema Kerangka Teori
[Link]
2.7 Kerangka Konsep
Darah EDTA Segera
diperiksa
Jumlah trombosit
Darah EDTA simpan
12 jam, 18 jam suhu
4-8ºC
Gambar 2. Skema Kerangka Konsep
2.8 Hipotesis
Terdapat perbedaan jumlah trombosit pada darah EDTA segera diperiksa
dengan darah EDTA simpan 12 jam dan 18 jam suhu 4-8ºC.
[Link]
[Link]