0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
206 tayangan61 halaman

Asuhan Keperawatan Colic Abdomen Anak

Teks tersebut membahas tentang asuhan keperawatan pada bayi dengan diagnosa kolik abdomen. Ringkasannya adalah: Teks tersebut memberikan latar belakang tentang kolik abdomen, tujuan penulisan karya tulis ilmiah untuk memahami asuhan keperawatan pada kondisi tersebut, serta metode dan sistematika penulisan yang digunakan."

Diunggah oleh

Alvint Mboh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
206 tayangan61 halaman

Asuhan Keperawatan Colic Abdomen Anak

Teks tersebut membahas tentang asuhan keperawatan pada bayi dengan diagnosa kolik abdomen. Ringkasannya adalah: Teks tersebut memberikan latar belakang tentang kolik abdomen, tujuan penulisan karya tulis ilmiah untuk memahami asuhan keperawatan pada kondisi tersebut, serta metode dan sistematika penulisan yang digunakan."

Diunggah oleh

Alvint Mboh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI Tn.

S DENGAN
DIAGNOSA MEDIK COLIC ABDOMEN
DIRUANG ALI BIN ABI THALIB
RSI SUNAN KUDUS

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Ahli
Madya Keperawatan

Oleh
AULIA KAMILA
NIM: 2020181060

PROGRAM STUDI D-3 KEPERAWATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN 2021

i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nyeri merupakan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan,
persepsi nyeri seseorang sangat ditentukan oleh pengalaman dan status
emosionalnya (Zakiyah, 2015). Persepsi nyeri bersifat sangat pribadi dan
subjektif, ini terjadi akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata, nyeri ini
dinamakan nyeri akut yang dapat menghilang seiring dengan penyembuhan
jaringan (Zakiyah, 2015). Nyeri akut adalah adalah nyeri 3 yang diakibatkan
kerusakan jaringan yang akan hilang selama proses penyembuhannya, terjadi
dalam waktu singkat dari 1 detik sampai kurang dari 6 bulan (Alimul dan
Uliyah, 2014). Nyeri kronis adalah serangan yang tiba-tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi dan berlangsung > 6 bulan (NANDA,2012).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah
sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat
terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan. Ada berbagai nyeri salah
satunya colic abdomen. Colic abdomen adalah rasa nyeri pada perut yang
bersifat hilang timbul dan bersumber dari organ yang terdapat dalam
abdomen atau perut, yang disebabkan oleh infeksi di dalam organ perut.
Faktor penyebab colic abdomen adalah konstipasi yang tidak dapat terobati
dan gejala klinis colic abdomen adalah kram pada abdomen, distensi, muntah,
dan adanya nyeri tekan pada abdomen. Akhir-akhir ini, peningkatan kolik
abdomen meningkat sangat pesat. Kejadian penyakit colic abdomen terjadi
karena pola hidup yang tidak sehat sehingga berdampak pada kesehatan tubuh
(Bare, 2011).
Menurut data dari WHO (World Health Organitation) pada tahun 2012
±7 miliar jiwa, Amerika Serikat berada diposisi pertama dengan penderita
kolik abdomen terbanyak 47% dari 810.000 orang penduduk. Prevelensi colic

1
2

abdomen di Indonesia tercatat 40,85% dari 800.000 orang penduduk.


Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian yang dilakukan oleh
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) tahun 2012 diperoleh
angka penderita kolik abdomen di Indonesia cukup tinggi sekitar 91,6%.
Penyebab dari kasus kolik abdomen tersebut adalah makanan yang
mengandung pedas dan biji - bijihan seperti: cabai, biji jambu dan biji tomat
(Depkes RI, 2012).
Penatalaksanaan colic abdomen dapat dilakukan dengan cara
pemeriksaan radiologi yang di dalamnya terdapat aspirasi abses dan terapi
antibiotik. Pada akhirnya, penanganan pasien kolik abdomen secara umum
adalah dengan menentukan apakah pasien tersebut merupakan kasus bedah
yang harus dilakukan tindakan operasi atau tidak (Crown 2011).
Peran seorang perawat yaitu membantu meredakan nyeri dengan
memberikan intervensi pereda nyeri baik menggunakan pendekatan/
manajemen farmakologi maupun nonfarmakologi (Sulistyo,2013).
Manajemen untuk mengatasi nyeri dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu
manajemen farmakologi dan manajemen non farmakologi. Manajemen
farmakologi yaitu manajemen yang berkolaborasi antara dokter dengan
perawat, yang menekankan pada pemberian obat yang mampu
menghilangkan rasa nyeri sedangkan manajemen non farmakologi dengan
menggunakan teknik yaitu kompres dingin atau hangat, teknik relaksasi,
terapy hypnotis, imajinasi terbimbing, distraksi, stimulus saraf elektrik
transkutan, stimulus, terapi music dan massage kutaneus (Mediarti,2015).

Berdasarkan dari latar belakang di atas maka penulis ingin melakukan


penelitian kasus yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Tn.S dengan
Diagnosa Medik Colic Abdomen dengan masalah Nyeri Akut di Rumah Sakit
Islam Sunan Kudus”.
3

B. Tujuan Penulisan Karya Tulis Ilmiah


1. Tujuan Umum
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah agar mahasiswa mampu mengetahui
dan memahami tentang pengertian colic abdomen, penyebab, tandagejala
dan asuhan keperawatannya di RSI Sunan Kudus.
2. Tujuan Khusus
a. Mampumendokumentasikan frekuensi kejadian BBLR berdasarkan
usia kehamilan ibu di RSI Sunan Kudus
Mampumendokumentasikan frekuensi kejadian BBLR berdasarkan
status gizi ibu di RSI Sunan Kudus
b. Mampumendokomentasikan frekuensi kejadian BBLR berdasarkan
klasifikasi berat badan lahir bayi di RSI Sunan Kudus
c. Mampumendokumentasikan frekuensi kejadian BBLR berdasarkan
komplikasi yang menyertai di RSI Sunan Kudus.

C. Metode Penulisan
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan beberapa
metode pengumpulan data yaitu:
1. Wawancara
Pengumpulan data untuk mendapatkan informasi secara langsung pada
pasien,keluarga,perawat atau tim kesehatan lain yang mengetaui komdisi
pasien.
2. Observasi
Penulis mendapatkan data selama melakukan asuhan keperawatan dengan
melakukan observasi tindakan yang telah dilakukan serta resppon yang di
rujuk oleh [Link] itu juga dengan kerja sama yang komdusif dari
pasien dan keluarga pasien.
3. Dokumentasi
4

Suatu cara untuk mendapatan data ,baik dari catatan medis maupun
catatan perawat yang tergabungdalam buku statu pasien ,sebagai bahan
untuk menunjang tindakan perawatan pasien dengan BBLR.
4. Study Keperawatan
Metode pengumpuan data dengan cara mempelajari materi yang sesuai
dengan judul karya tulis ilmiah tersebut.

D. Sistematika Penulisan
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, pemulis menggunakan sistematika
penulisan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Metode Penelitian
E. Sistematika Penulisan
F. Manfaat Penulisan

BAB II TINJAUAN TEORI


A. Definisi
B. Etiologi
C. Patofisiologi
D. Manifestasi Klinis
E. Komplikasi
F. Komplikasi
G. Penatalaksanaan
H. Pengkajian Keperawatan
I. Diagnosa Keperawatan
J. Intervensi Keperawatan
BAB III HASIL STUDI KASUS (ASKEP)
A. Pengkajian
5

B. Analisa Data
C. Diagnosa Keperawatan
D. Perencanaan ( Intervensi, Tujuan, Kritria Hasil, Rasionalisasi)
E. Implementasi
F. Evaluasi ( SOAP )
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian
B. Diagnosa Keperawatan
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi RSI Sunan Kudus
Penelitian ini dapat meberikan informasi kepada tenaga kesehatan
tentang kejadian BBLR dan factor penyebab dari BBLR.

2. Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang
BBLR sehingga masyarakat lebih waspada terhadap kejadian BBLR dan
menghindari factor penyebab BBLR
3. BagiUniversitas Muhammadiyah Kudus
Sebagai inormasi khususnya prodi kebidanan mengenai gambaran
kejadian BBLR di RSI Sunan Kudus serta dapat dijadikan referensi
penelitian selanjutnya dan dapat mengembalikan lagi ke penelitian yang
lebih baik.
4. Bagi Peneliti
Hasil penelitian itu dapat menambah pengetahuan dan wawasan
mengenai kejadian BBLR selanjutnya dapat dijadikan penelitian atau
referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Berat Badan Lahir Rendah ialah Bayi baru lahir yang berat badannya saat
lahir kurang dari 2500 gram (WHO,2014). Bayi berat lahir rendah adalah bayi
yang lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa
kehamilan. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR
seperti terlahir dari ibu yang memiliki masalah kesehatan saat hamil,
misalnya preeklamsia, tekanan darah tinggi, atau kurang gizi, infeksi selama
kehamilan, adanya kelainan genetik atau cacat bawaan lahir pada bayi.
Adapun pencegahan terjadinya BBLR dapat dilakukan dengan cara hindari
merokok, minum alkhohol dan menggunakan obat terlarang, jauhi polusi,
perhatikan berat badan. (Mahayana dkk, 2015)
BBLR menurut indikator data statistik WHO adalah bayi yang berat <
2500 gram, terlepas dari usia kehamilan. BBLR termasuk faktor utama dalam
peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak
yang lahir dengan BBLR memberikan dampak jangka panjang terhadap
kehidupannya di masa depan (Dewey, 2011).

B. Klasifikasi BBLR
1. Primaturitas murni
Yaitu bayi pada kehamilan <37 minggu dengan berat badan yang sesuai.
2. Small far date (SFD) atau kecil untuk masa kehamilan
Yaitu bayi yang berat badannya kurang dari seharusnya umur kehamilan.
3. Reterdasi pertumbuhan janin intraurine (IUGR)
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan
usia kehamilan.
4. Dismaturitas
Suatu sidrom klinik dimana terjadi ketidakseimbanga antara
pertumbuhan janin dengan lanjutnya kehamilan atau bayi – bayi yang

7
8

lahir dengan BB yang tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. Atau bayi
dengan gejala intrauterine malnutrition or wasting. (Amin & Hardhi
Kusuma, 2015).

C. Etiologi
1. Faktor Ibu:
a. Perdarahan
b. Trauma fisik
c. Penyakit
d. Status gizi saat hamil
e. Usia ibu
f. Jarak kehamilan dan bersalin terlalu dekat
g. Usia kehamilan ibu
2. Faktor janin
a. Kelainan kromosom (trisomy autosomal)
b. Infeksi janin kronik (inkulusi sitomegali, rubella bawaan)
c. Disautonomia familial
d. Radiasi
e. Kehamilan ganda / kembar (gemeli)
f. Aplasia pancreas.
3. Faktor Plasenta
a. Berat plasenta berkuran atau berongga atau keduanya (hidramnion)
b. Luas permukaan berkurang
c. Plasentitis vilus (bakteri, virus dan prasite)
d. Tumar (korioangioma, molahidatidosa)
e. Sindrom plasenta yang lepas
f. Sindrom transfusi bayi kembar (sindrom prabiotik)
4. Faktor lingkungan
a. Bertempat tinggi di dataran tinggi
b. Terkena radiasi
c. Terpapar zat beracun.
9

D. Patofisiologi
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang
belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas.
Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan
(BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak
mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan
pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit
ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan
lain yang menyebabkan suplai makanan kebayi jadi berkurang.(Verawati
2014)
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin
tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan
berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi
normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra
hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih
sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan
kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR,
vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu
menderita anemia.(Verawati 2014)
Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di
bawah normal. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang
paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami
deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang
dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan
menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah
11gr/dl selama trimester III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan
gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel
otak.
Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan,
abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini
10

menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara


bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat
meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi,
kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar
(Verawati, 2014).

E. Gambaran Klinis
1. Manifestasi Klinis Secara Umum
a. Berat kurang dari 2500 gram
b. Panjang kurang dari 45 cm
c. Lingkar dada kurang dari 30 cm
d. Lingkar kepala kurang dari 30 cm
e. Umur kehamilan kurang dai 37 minggu
f. Kepala lebih besar
g. Kulit tipis,transparan,rambut lanugo banyak,lemak kurang
h. Otot hipotenik lemah
i. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea
j. Ekstermitas:paha abduksi,sendi lutut/kaki fleksi-lurus
k. Kepala tidak mampu tegak
l. Pernapasan 40-50 kali/menit
m. Nadi 100-140 kali/menit
2. Manifestasi Klinis Secara Khusus ( Verawati 2014)
a. Tanda-tanda Bayi Premature
1) BB kurang dari 2500 gram,PB kurang dari 45cm,Lingkar kepala
kurang dari 33 cm,Lingkar dada kurang dari 30 cm
2) Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
3) Kepala relative lebih besar
4) Rambut tipis dan halus,ubun-ubun dan sutura lebar
5) Kepala mengarah ke satu sisi
6) Tulang rawan dan daun telinga imatur
7) Putting susu belum terbentuk dengan baik
11

8) Pergerakan kurang dan lemah


9) Reflek menghisap dan menelan belum sempurna
10) Tangisnya lemah dan jarang.
b. Tanda-tanda Bayi Dismature
1) Preterm Sama Dengan Bayi Premature
2) Term dan Post Term
a) Kulit pucat atau bernoda
b) Jaringan lemak dibawah kulit sedikit
c) Pergerakan gesit,aktif dan kuat
d) Tali pusat kuning kehijauan
e) Mekonium kering
3) Komplikasi Pada BBLR
a) Sistem pernapasan
b) Sistem kardiovaskuler

F. Pengelolaan Kasus
Pada bayi BBLR banyak sekali resiko terjadi komplikasi pada sistem
tubuh, oleh karena kondisi tubuh yang tidak stabil, kematian perinatal pada
bayi BBLR adalah 8 kali lebih besar dari bayi normal. Prognosis akan lebih
buruk bila berat badan semakin rendah, kematian sering disebabkan karena
komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi, pneomonia, pendarahan intra
kranial, hipoglikemia.
Bila hidup akan dijumpai kerusakan saraf, gangguan bicara, tingkat
kecerdasan rendah. Prognosis ini juga tergantung dari keadaan sosial
ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat kehamilan,
persalinan dan posnata.
Dibawah ini adalah risiko permasalahan yang sering terjadi pada bayi
BBLR dan memerlukan perawatan khusus. Pada bayi prematur dengan
BBLR, ada beberapa resiko permasalahan yang mungkin timbul:
1. Gangguan Metabolik
a. Hipotermia
12

1) Suhu tubuh < 32ºC


2) Mengantuk dan sukar dibangunkan
3) Menangis sangat lemah
4) Seluruh tubuh dingin
Sedangkan tanda-tanda stadium lanjutan dari terjadinya
hipotermia ini adalah sebagai berikut:
1) Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
2) Bagian tubuh lainnya pucat
3) Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung
kaki dan tangan (sklerema).
4) Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung
kaki dan tangan (sklerema).
5) Hipoglikemia
6) Hiperglikemia
7) Masalah Pemberian ASI
2. Gangguan Imunitas
a. Ikterus (kadar bilirubin yang tinggi)
Ikterus adalah menjadi kuningnya warna kulit, selaput lendir dan
berbagai jaringan oleh zat warna empedu. Iketrus neonatal adalah
suatu gejala yang sering ditemukan pada bayi baru lahir.
Bayi dengan BBLR menjadi kuning lebih awal dan lebih lama dari
pada bayi yang cukup berat badannya. Adapun bayi ikterus yang
memerlukan tindakan lebih lanjut adalah bayi yang memiliki
tandatanda sebagai berikut:
1) Ikterus timbul dalam 24 jam sesudah lahir
2) Bayi dan ibu mengandung Rh antagonis dan ABO antigen
3) Ikterus yang menetap lebih dari 2 (dua) minggu
3. Gangguan Pernafasan
a. Sindroma Gangguan Pernafasan
Sindrom gangguan pernafasan pada Bayi BBLR adalah perkembangan
imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan
13

pada paru-paru. Secara garis besar gejala gangguan pernapasan dapat


dikenali sebagai berikut:
1) Frekuensi nafas takhipneu (60x/menit)
2) Retraksi supasternal dan subternal
3) Gerakan cuping hidung
4) Pucat dan kelelahan
5) Apneu dan pernafasan tidak teratur
6) Pernapasan dangkal
4. Asfiksia
5. Apneu Periodik (henti napas)
14

G. Pathway
A. Pathway

Faktor Ibu : Faktor Kehamilan : FaktorJanin :


- Perdarahan - Kehamilanganda - Cacatbawaan
- Traumafisik - KelainanKromosom - Infeksi padarahim

BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah)

1. Pusat Pengaturan SuhuPanas 2. Fungsi Pengaturan Pernafasan 3 . Fungsi Pencernaan 4 . Penurunan FungsiImun
Badan BelumSempurna BelumSempurna BelumSempurna
Rentan terjadi infeksi
Terjadi Penguapan Surfaktan paru-paru Penyerapan makan lemah
yang sempurna masih kurang

Kompiane paru menurun Aktifitas otot menurun


Kehilangan Panas Resiko infeksi

Ventilasi paru menurun Merangsang HCI meningkat Mual muntah

Regurgitasi isi lambung


Hipotermi Sesak Anofeksia

Resiko Aspirasi
Ketidak Efektifan Ketidak
pola nafas seimbangan
nutrisi kurang dari
Sumber : Verawati (2014) kebutuhantubuh
16

H. Penatalaksanaan
Menurut Astutiningsih (2012) perawatan pada bayi berat lahir rendah
(BBLR) adalah:
1. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi
a. Rawat didalam incubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam inkubator.
Inkubator yang modern dilengkapi dengan alat pengaturan suhu dan
kelembaban agar bayi dapat mempertahankan suhu tubuhnya yang
normal, alat oksigen yang dapat diatur, serta kelengkapan lain untuk
mengalami kontaminasi bila inkubator dibersihkan.
Bila bayi dirawat didalam inkubator, maka suhunya untuk bayi
dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 350C. Berat badan 2-2,5
kg dengan suhu 340C agar ia dapat mempertahankan suhu tubuh
sekitar. Suhu inkubator dapat diturunkan 10C perminggu untuk bayi
dengan berat badan kurang dari 2 kg secara berangsur-angsur.
b. Metode kangguru
Tempatkan bayi diantara payudara ibu, sehingga dada ibu dan bayi
bertemu. Kepala bayi dipangklingkan disuatu sisi (kanan atau kiri)
dan dengan sedikit di tengadah, bertujuan untuk menjaga saluran bayi
tetap terbuka. Pada saat melakukan metode kanguru biarkan bayi
dalam kondisi telanjang, hanya menggunakan popok, kaus kaki, dan
topi. Bertujuan agar semakin luas kontak kulit yang terjadi antara
bayi dan ibu.
Bayi dimasukan kedalam baju ibu dan ditempatkan tepat didada
ibu sehingga terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi. Perawatan
kanguru harus dilakukan secara bertahap dan terus menerus pada bayi
dengan kondisi stabil.
17

I. Asuhan Keperawatan Teoritis


1. Pengkajian
a. Biodata
Terjadi pada bayi prematur yang dalam pertumbuhan di dalam
kandungan terganggu
b. Keluhan Utama
Menangis lemah, reflek menghisap lemah, bayi kedinginan atau suhu
tubuh rendah
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Lahir spontan, SC umur kehamilan antara 24 sampai 37 minnggu,
berat badan kurang atau sama dengan 2.500 gram, apgar pada 1
sampai 5 menit, 0 sampai 3 menunjukkan kegawatan yang parah, 4
sampai 6 kegawatan sedang, dan 7-10 normal.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Ibu memliki riwayat kelahiran prematur kehamilan ganda,hidramnion
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya penyakit tertentu yang menyertai kehamilan seperti DM,TB
Paru, tumor kandungan, kista, hipertensi
f. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
a) Kesadaran compos mentis
b) Nadi : 128X/menit pada menit
c) RR : 63X/menit pada menit
d) Suhu : kurang dari 36,5ºC
2) Diagnosa Keperawatan
Menurut Proverawati (2015), diagnosa keperawatan yang
mungkin muncul pada BBLR adalah:
a) Penurunan suhu berhubungan dengan kurang suplai lemak
subkutan.
b) Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan maturitas
neurologis
18

c) Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan kurang asupan makanan.
d) Resiko aspirasi berhubungan dengan gangguan menelan.
e) Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis
yang kurang.

J. Intervensi
No Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Domain Setelah dilakukan 1. Observasi tanda-
11:Keamanan tindakan keperawatan tanda vital
kelas selama 60 menit 2. Awasi dan atur
6:termogulasi diharapkan termogulasi control temperature
(00006) bayi baru lahir teratasi dalam incubator
hipotermia dengan kriteria hasil sesuai kebutuhan.
berhubungan 1. suhu tubuh berada 3. Hindarkan bayi
di kisaran normal
dengan kurang kontak langsung
36,0-37,5 ºC
suplai lemak 2. Akral hangat dengan sumber panas
subkutan. 3. Bayi tidak menggigil atau dingin.
4. Ganti popok bila
basah.
2. Domain4 Setelah dilakukan 1. Observasi pola Nafas.
Aktifitas/Istirahat tindakan keperwatan 2. Berikan terapi O²
-kelas:4respon selama 60 menit status 2lt/menit
Kardiovaskuler pernafasan teratasi 3. Posisikan klien semi
(00032) ketidak dengan kriteria: fowler
efektifan pola 1. Pernafasan adekuat 4. Jaga kepatenan jalan
nafas 40-60x/menit. nafas : suction
berhubungan 2. Tidak ada retraksi
dengan imaturitas otot
neurologi 3. Tidak ada
penumpukan cairan
19

di paru
3. Domain 2 :Nutrisi Setelah dilakukan 1. Kaji kemampuan
kelas:1Makan tindakan keperawatan reflek hisap
(00002)Ketidak selama 60 menit status 2. Monitor asupan
seimbangan nutrisi teratasi dengan intake dan output
nutrisi kurang kriteria: cairan
dari kebutuhan 1. BB seimbang 2500- 3. Kolaborasi dengan
tubuh 3500 gram ahli gizi untuk
2. Reflek hisap kuat pemberian nutrisi
3. Intake ASI adekuat
4 Domain 11 Setelah dilakukan 1. Buka jalan nafas
Keamanan atau tindakan keperawatan dengan teknik chin
Perlindungan selama 60 menit status lift.
-kelas:2Cedera pernafasan normal 2. Posisikan pasien
Fisik dengan kriteria hasil untuk
(00039) 1. tidak terjadinya memaksimalkan
risiko aspirasi aspirasi ventilasi.
berhubungan 2. tidak ada gangguan 3. Ajarkan pasien
dengan gangguan menelan bagaimana
menelan menggunakan
inhaler sesuai resep.
4. Berikan nebulizer
5 Domain11 Setelah dilakukan 1. Pantau tanda gejala
Keamanan tindakan keperwatan infeksi : suhu, lekosit,
atau Perlindungan selama 60 menit penurunan BB
kelas 1 Resiko tidak terjadinya infeksi 2. Batasi jumlah
Infeksi dengan kriteria hasil: pengunjung
(00004) 1. Tidak ada tanda tanda 3. Gunakan teknik
berhubungan infeksi aseptic selama
dengan mal 2. Jumlah lekosit dalam berinteraksi dengan
nutrisi batas normal 5000- klien.
10000 4. Bersihkan incubator
20

secara berkala.
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
Hari/tanggal: Selasa, 18/06/2019
Jam : 09.40 WIB
Oleh : Diah Ayu Puji Pangesti
1. Biodata Pasien
a. Identitas Pasien
Nama : Bayi E
TTL : Kudus, 16 juni 2019
Umur : 3 hari
Jenis Kelamin : laki-laki
Pendidikan :-
Alamat :Kudus, Prambatan
Agama : Islam
Diagnosa medis : BBLR
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. P
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Umur : 25 th
Hub dg pasien : Ayah
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Bayi lahir dengan BB rendah 1.450 gram
b. Riwayat penyakit sekarang
Ny.E mengatakan melahirkan secara sc dikamar bersalin RSI
SUNAN KUDUS, pada hari selasa 16 juni 2019. Usia kehamilan 35
minggu, bayi lahir langsung menangis, usaha nafas spontan, normal
22

APGAR Score 7, BB:1.450 gram, panjang badan: 37cm, lingkar


kepala: 30cm, lingkar dada: 24cm, laki-laki, katiledon lengkap, tidak
ada penyakit bawaan pada bayi ketika lahir. Sekarang bayi berada
diruang picu/nicu.
c. Riwayat Keluarga
Ny. E mengatakan bahwa keluarganya tidak ada riwayat
melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah ( BBLR ), diabetes,
ginjal dan jantung.
d. Riwayat Alergi
Ny.E Mengatakan tidak mempunyai riwayat alergi seperti
makanan,minuman ataupun minum-minuman.
e. Genogram

3
3
t
n

Keterangan :

Laki – laki

Perempuan

Pasien

Tinggal serumah
23

3. Pola Fungsional
a. Pola Pernafasan
Sebelum sakit: Pasien tidak mengalami gangguan pernafasan,pasien
dapat bernafas dengan normal.
Selama sakit : Pasien tidak mengalami gangguan pernafasan, suara
pernafasan vesikuler tidak ada suara ronchi,frekuensi pernafasan
40x/m.
b. Kebutuhan Nutrisi
Sebelum sakit: Pasien minum ASI ibunya kurang lebih 5x sehari.
Selama sakit : pasien minum air ASI sebanyak 10 cc kurang lebih 3x
sehari.
c. Kebutuhan Eliminasi
Sebelum sakit : Pasien BAB 1x sehari dan BAK 3-4x dalam sehari
Selama sakit : Pasien BAB 1x dan BAK kurang lebih 2-3x dalam
sehari
d. Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Sebelum sakit : Pasien tidur kurang lebih 6-7 jam dalam sehari
Selama sakit : Pasien jarang tidur karena merasakan badanya kurang
sehat
e. Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
Sebelum sakit : Pasien terlihat aman dan nyaman karena dekat dengan
orang tua
Selama sakit : Pasien terlihat kurang aman dan nyaman karena berada
di ruangan perawatan dan jauh dari orang tua
f. Kebutuhan Berpakaian
Sebelum sakit : Pasien memakai pakian dibantu dengan keluarganya
karena dekat dengan keluarga
Selama sakit : pasien memakai pakaian harus dibantu dengan perawat
karena jauh dengan orang tua.
g. Kebutuhan Mempertahankan Temperature Tubuh
Sebelum sakit :Tubuh pasien normal tidak panas
24

Selama sakit :Suhu tubuh pasien 35,0ºC


h. Kebutuhan Personal Hygine
Sebeleum sakit : Pasien mandi 2x sehari pada pagi dan sore hari
Selama sakit : Pasien tidak mandi tapi dengan sibin pada pagi hari
i. Kebutuhan Gerak dan Keseimbangan Tubuh
Sebelum sakit :Pergerkan normal
Selama sakit :Pergerakan normal
j. Berkomunikasi dengan orang lain
Sebelum sakit : Biasanya pasien diajak berkomunikasi dengan
keluarganya
Selama sakit : Pasien diajak komunikasi dengan perawat/yang merawat
pasien
k. Kebutuhan Spiritual
Sebelum sakit : Tidak terkaji
Selama sakit : Tidak terkaji
l. Kebutuhan Bekerja
Sebelum sakit : Tidak terkaji
Selama sakit : Tidak terkaji
m. Kebutuhan Bermain
Sebelum sakit : Tidak terkaji
Selama sakit : Tidak terkaji
n. Kebutuhan Belajar
Sebelum sakit : Tidak terkaji
Selama sakit : Tidak terkaji
4. Pemeriksaan Fisik
a. BB : 1.450 gram
b. PB : 37 cm
c. LK : 30 cm
d. LD : 24 cm
e. TB : 37 cm
f. Keadaan : lemah
25

g. Suhu : 35,0ºC
h. Nadi : 128x/m
i. Pernapasan : 63x/m
j. SPO2 : 98x/m
k. Kepala : Fontanel anterior lunak,rambut hitam,tidak
ada lesi di kulit Kepala
l. Mata : Simetris, tidak terdapat kotoran
m. Hidung : Bersih, tidak ada lesi pada hidung
n. Wajah : Simetris,tidak ada lesi pada wajah
o. Mulut : Reflek hisap,masih lemah,terpasang selang
OGT, mukosa kering.
p. Telinga : Simetris, bersih, tidak ada lesi
q. Reflek
1) Rooting : Bayi lemah tapi sudah bisa sedikit-sedikit
2) Grasping : Jari-jari dapat melengkung, Menggenggam
3) Moro : Lengan dapat ekstensi jari-jari dapat
menggenggam tungkai sedikit ekstensi tetapi
masih lemah.
4) Sunching : Bayi menghisap masih lemah.
r. Keadaan jalan nafas : Pernafasan dibantu dengan oksigen.
s. Keadaan tali pusat : Tidak ada perdarahan,pembengkakan
nanah,tidak berbau.
t. Ekstermitas : tangan kanan terpasang infus kulit sedikit
kemerahan.
u. bayi ditempatkan di incubator
v. pasien terpasang selang O² di hidung
26

5. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium (18-06-2019)
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN
HEMATOLOGI
LEUKOSIT L 6.7 10ˆ3/ul 6.0-18.0
ERITROSIT L 4.39 10ˆ3/ul 4.7 – 6.1
HEMOGLOBIN 16.5 g/dl 10 – 17
HEMATOKRIT 47.6 % 40 – 52
MCV H 108.8 Fl 82 – 92
MCH H 37.6 Pg 27 – 31
MCHC 34.7 % 32 – 36
TROMBOSIT 160 10ˆ3/ul 15.0 – 40.0
RDW-CV H 17.1 % 11.5 – 14.5
RDW-SD H 67.1 fl 35 – 47
PDW H 13.2 Fl 9.0 – 13.0
MPV H 10.9 Fl 6.8 – 10.0
P-LLR 31.7 %
KIMIA KLINIK
BILLIRUBIN H 16.16 Mg/dl 0.00 – 1.00
TOTAL
BILLIRUBIN H 0.70 Mg/dl 0.0 – 0.25
DIRECT
BILLIRUBIN H 15.46 Mg/dl 0.0– 0.75
INDIRECT

b. Terapi (18-06-2019)
1) Termogulasi dalam incubator suhu 35
2) Infus WFD D5%1/4 NS 8 tetes tpm mikro
3) Ceftazedime 2x175mg
4) Aminophiline 3x3mg
5) Vit K 1X1mg
6) Oksigen 2liter/menit
7) ASI 3x10cc/24 jam
27

B. Analisa Data
No Hari/ tgl Dx Data fokus Ds & Do Problem Etiologi
1. Selasa I Ds : - Penurunan Kurang
18/06/2019 Do:[Link] sedikit suhu suplai
Dingin lemak
[Link] prematur subkutan
34 minggu
[Link] 1.450 gram
4..Suhu 35,0ºc
[Link]
dalam incubator
2. Rabu II Ds : - Ketidak Maturitas
19/06/2019 Do : [Link] sesak efektifan neurologis
nafas pola nafas
[Link] :63x/menit
3. Kamis III Ds : - Ketidak Kurang
20/06/2019 Do:[Link] tampak seimbangan asupan
Lemas nutrisi makanan
[Link] menetek kurang dari
[Link] belum kebutuhan
lancar tubuh
[Link]
menghisap lemah

C. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan suhu berhubungan dengan kurang suplai lemak subkutan.
2. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan maturitas neurologis
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kurang asupan makanan.

D. Intervensi Keperawatan
No Hari/ Dx Tujuan dan KH Intervensi Rasional
28

tgl
1. Selasa I Setelah [Link] [Link] acuan
18/06/ dilakukan tanda-tanda penatalaksanaa
2019 tindakan vital n tindakan
keperawatan [Link] atur [Link]
selama 60 menit control memberikan
diharapkan temperaturedal program yang
termogulasi bayi am incubator dianjurkan
baru lahir teratasi sesuai
dengan kriteria kebutuhan
hasil: [Link] suhu [Link]
[Link] tubuh setelah menegtahui
berada di pemeberian perubahan
kisaran normal panas dengan suhu pada bayi
36,0-37,5 ºC lampu
[Link] hangat pemanas.
Bayi tidak [Link] popok [Link]
menggigil bila basah. memberikan
kehangatan
2. Rabu II Setelah [Link] pola [Link] acuan
19/06/ dilakukan Nafas. penatalaksanaa
2019 tindakan n tindakan
keperawatan [Link] terapi [Link] O²
selama O² 2Lt/menit dalam tubuh
60 menit status [Link] klien [Link]
pernafasan semi fowler memberikan
normal dengan rasa nyaman
kriteria hasil: pada klien
[Link] [Link] kepatenan [Link] jalan
adekuat 40- jalan nafas nafas agar
60x/menit. suction tidak ada
29

[Link] ada sumbatan


retraksi otot
[Link] ada
penumpukan
cairan di paru
3 Kamis III Setelah [Link] BB [Link]
20/06/ dilakukan klien perkembangan
2019 tindakan nutrisi bayi
keperawatan [Link] selang [Link]
selama 60 menit OGT suplai nutrisi
status nutrisi untuk tubuh
teratasi dengan [Link] [Link] bayi
kriteria hasil: kemampuan mampu
[Link] seimbang reflek hisap menyerap
2500-3500 nutrisi
gram [Link] [Link] nutrisi
[Link] hisap dengan ahli bayi bisa
kuat gizi untuk tercukupi
[Link] ASI pemberian
adekuat nutrisi

E. Implementasi Keperawatan
No Hari/ Dx Implementasi Respon/Hasil TTD
tanggal
1. Selasa I 1. Mengobservasi Ds : -
18/06/2019 tanda-tanda Do : warna kulit
vital kemerahan
Diah
Suhu : 35.0ºC
30

Ds : -
2. Mengatur suhu Do:Terlihat suhu
Incubator incubator klien
sesuai indikasi 34ºC Diah
3. Monitor suhu Ds : -
setelah Do : Pasien tidak
pemberian menggigil
lampu pemanas setelah Diah
diberi
4. Mengganti lampu
popok bila pemanas.
basah Ds:-(pasien
tampak Diah
menangis)
Do : klien
tampak
menangis
saat popoknya
diganti.
2. Rabu II 1. Mengobservasi Ds : -
19/06/3201 pola nafas Do : - RR :
9 63x/menit
Diah
-S: 35,0ºC
-N:128x/meni
2. Memberikan t
terapi -Spo2:98x/me
O² 2Lt/menit nit
Ds : - Diah

Do :-klien tampak
terpasang
3. Memposisikan ventilator
31

klien semi O² 2ltr/mnt


fowler dengan SPO2
88% Diah
Ds : -
4. Menjaga
Do : klien tampak
kepatenan jalan
nyaman dengan
nafas suction
posisi semi fowler
Ds : - Diah
Do : Cairan dalam
tabung suction
tampak jernih
3. Kamis II 1. Memonitor BB Ds : -
20/062019 I klien Do : -BB : 1450
gram
LD : 24 cm Diah
PB : 37cm
2. Memasang LK : 30cm
selang OGT Ds : -
Do : -Terpasang
Diah
selang OGT
3. Mengkaji pada klien
reflek hisap Ds : -
Do : -Reflek hisap Diah
4. Kolaborasi klien tampak
dengan ahli gizi lemah
untuk Ds : -
pemberian Do : -klien Diah
nutrisi mendapat
susu
30cc/OGT
32

F. Evaluasi
No Hari/Tanggal D Evaluasi TTD
x
1. Selasa I S:-
18/06/2019 O : S : 35,0ºC
RR : 63x/menit
N : 128x/menit
Diah
Spo2 :98%
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor TTV
2. Pertahankan kelembaban
incubator
II S:-
O:
1. Terpasang O² 2 Liter
2. Ada cuping hidung
3. Retraksi dinding dada
4. RR : 63x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor tanda-tanda vital
II 2. Tinggikan kepala bayi
I S:-
O : Berat badan 1.450 gram
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
Monitor tentang pemberian ASI
30cc/OGT
2. Rabu II S : -
19/06/2019 O : Pasien tampak rileks
33

A : Masalah teratasi sebagian


Diah
P : Lanjutkan intervensi
1. Tinggikan kepala bayi
I 2. Pasang O² jika sesak
S:-
O : S : 35,0ºC
Spo² : 98%
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor suhu
2. Pertahankan kelembaban
incubator
3. Kamis III S:-
20/06/2019 O : Berat badan 1.450 gram
A : Masalah belum teratasi
P : pertahankan intervensi
Diah
I S:-
O : S : 35,5ºC
Spo² : 98%
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor suhu tubuh pasien
2. Pertahankan kelembaban
incubator
II S:-
O:
1. Pasien tampak membaik
2. Pasien sudah tidak sesak \
3. RR :55x/menit
A : Masalah teratasi
P : pertahankan intervensi pasang O²
34

jika sesak
BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah memberikan asuhan keperawatan pada bayi Ny E dengan Berat


Badan Lahir Rendah (BBLR) di RSI SUNAN Kudus maka pada bab ini penulis
akan membahas kesenjangan antara asuhan keperawatan berat badan lahir rendah
(BBLR) secara teori dengan asuhan keperawatan pada pasien yang dirawat
diruang FATIMAH AZ-ZAHRA.
Adapun ruang lingkup dari pembahasan ini adalah sesuai dengan
keperawatan yaitu mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan
(intervensi), pelaksanaan (implementasi), dan evaluasi.
A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dan dasar dalam proses keperawatan.
Pengkajian merupakan tahap yang paling menentukan bagi tahap berikutnya.
Kemampuan mengidentifikasi masalah keperawatan yang terjadi pada tahap
ini akan menentukan diagnosis keperawatan. Oleh karena itu, pengkajian
harus dilakukan dengan teliti dan cermat, sehingga seluruh kebutuhan
perawatan pada klien dapat diidentifikasi. (NANDA 2015)
Pengkajian ini dilakukan di RSI SUNAN Kudus pada diperoleh dari
tanggal 18-20 juni 2019 pukul 11.00 WIB di ruang FATIMAH AZ-ZAHRA,
data diperoleh dari wawancara dengan ibu pasien yaitu dengan Ny E dan
catatan [Link] pengkajian didapatkan bahwa Bayi Ny E,
mengeluh hipotermia,sesak nafas dan kurangnya nutrisi dari kebutuhan
[Link] mengakibatkan pada bayi lahir dengan kasus BBLR bayi
nangis tidak kencang karena organ paru-paru pada bayi belum berkembang
secara sempurna dan bayi cenderung mengalami gangguan pernafasan saat
lahir.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan berdasarkan nanda NANDA merupakan
pertimbangan klinis mengenai pengalaman atau respon individu. Keluarga
36

atau komunitas terhadap adanya masalah kesehatan/proses kehidupan,baik


yang aktual maupun potensial (NANDA,2015).
1. Diagnosa yang muncul pada bayi Ny. E
a. Hipotermia adalah suhu inti tubuh dibawah kisaran normal karena
kegagalan termoregulasi (NANDA 2015)
Batasan karakteristik untuk menegakan hipotermi yaitu: Suhu
tubuh dibawah kisaran normal, Kulit dingin, Pucat, Menggigil
(NANDA 2015).
Terjadinya hipotermia yang dialami bayi Ny. E karena tubuh gagal
untuk menghangatkan diri sendiri karena perubahan suhunya terjadi
sangat cepat.
Data untuk menegakkan diagnosa tersebut berdasarkan pengkajian
dari Bayi Ny E yang penulis dapatkan adalah Ds: pasien tidak bisa
dikaji karena masih bayi ,Do:Akral sedikit dingin,lahir prematur 34
minggu, , S:35,0⁰C. Dari data diatas pengkajian yang di dapat dari
pasien sudah sama dengan teori menurut Nanda untuk di jadikan
diagnosa.
Diagnosa Hipotermia penulis prioritaskan menjadi diagnosa
pertama karena pada saat pasien dikaji yang dikeluhkan pertama kali
adalah hipotermia,jika hipotermia tidak segera di tangani akan
membahayakan pasien dan menghambat proses penyembuhan pasien.
b. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan maturitas neurologis
Pola nafas tidak efektif adalah inspirasi atau ekspirasi yang tidak
memberi ventilasi yang adekuat (Nanda 2015). Batasan karakteristik
untuk menegakan ketidak efektifan pola nafas yaitu:
Penurunan pertukaran udara per menit, Menggunakan otot pernafasan
tambahan,Perubahan penyimpangan dada,Nafas pendek (Nanda 2015).
Terjadinya pola nafas tidak efektif pada pasien dengan BBLR
adalah karena proses pematangan paru belum sempurna sehingga bisa
menyebabkan gangguan pada fungsi paru bayi dan bayi menjadi lebih
mudah sesak nafas
37

Data untuk menegakkan diagnosa tersebut berdasarkan pengkajian


dari Bayi Ny E yang penulis dapatkan adalah Ds: pasien mengatakan
sesak nafas Do:pasien terlihat sesak nafas -N:128x/m ,RR:63x/m,
Spo2:98%, S:35,0⁰C, -suara nafas ronchi, pernafasan menggunakan
cuping hidung, nafas pendek. Dari data di atas pengkajian yang di
dapat dari pasien sudah sama dengan teori menurut Nanda untuk di
jadikan diagnosa.
c. Ketidak efektifan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh behubungan
dengan kurang asupan makanan.
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah
asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh
metabolik (NANDA 2015).
Batasan karakteristik diantaranya: berat badan 20 persen atau lebih
dibawah rentang berat badan ideal,bising usus hiperaktif,diare,kurang
minat makanan,membran mukosa pucat ,penurunan berat badan
denganasupan makanan adekuat,(Nanda 2015).
Terjadinya ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh karena ketidak mampuan mencerna makanan atau mengobsi zat-
zat gizi berhubungan dengan faktor biologis,psikologis atau ekonomi
Data untuk menegakan diagnosa tersebut berdasarkan pengkajian
diagnosa pada Bayi Ny E yang penulis dapatkan adalah berdasarkan
dari data subyektif dan data [Link] subyektif didaptkan dari ibu
pasien yang mengatakan bahwa anaknya tidak nafsu makan,bayi Ny E
cuman minum ASI 5-10CC.

C. Intervensi dan Implementasi Keperawatan


Rencana keperawatan merupakan suatu petunjuk atau bukti tertulis yang
menggambarkan secara tepat rencana tindakan keperawatan yang dilakukan
terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa
keperawatan (Asmadi, 2012). Sedangkan implementasi keperawatan adalah
tahap ketika perawat mengaplikasikan asuhan keperawatan ke dalam bentuk
38

intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah


ditetapkan (Asmadi, 2012).
1. Penurunan suhu berhubungan dengan kurang suplai lemak subkutan
Intervensi yang penulis lakukan belum sesuai teori yang seharusnya
24 jam tetapi hanya dilakukan selama 7 jam menyesuaiakan dengan
jadwal shift. Tindakan keperawatan juga ada yang tidak sesuai dengan
teori,di teori dijelaskan ada 16 intervensi (Monitor suhu bayi baru lahir
sampai stabil,Selimuti bayi segera, setelah lahir untuk mencegah
kehilangan panas,Berikan medikasi, yang tepat untuk mencegah atau
mengontor menggigil, Laporkan adanya tanda dan gejala dari hipotermia,
Ciptakan lingkungan yang aman bagi pasien, Sediakan tempat tidur yang
aman dan bersih, Sediakan linen dan pakaianyang bersih atau bebas dari
noda, Batasi pengunjung, Monitor tanda-tanda vital, Pantau adanya
menggigil, Monitor warna dan kulit pasien, Berikan obat yang tepat
untuk mencegah atau mengendalikan menggigil, Pastikan inversi
intravena cukup paten untuk pemberian nutrisi intra vena, Yakinkan
cairan nutrisi total parental yang dimasukan bukan melalui infus sentral
mempunyai osolaritas kurang dari 900 mOsm/l, Pertahankan intake
nutrisi per oral walaupun sedikit,
Cek cairan nutrisi untuk meyakinkan bahwa jenis nutrisi yang di
berikan sesuai dengan kebutuhan pasien. Namun intervensi dalam asuhan
keperawatan yang penulis lakukan hanya 4 poin dari teori diantaranya
adalah:[Link] Tanda-tanda vital,[Link] suhu incubator
[Link] suhu setelah pemberian lampu pemanas 4Menggati popok bila
basah, (Nic 2015).
Alasan penulis tidak menggunakan semua intervensi yang ada dari
teori untuk hipotermia karena intervensi yang penulis rumuskan adalah
intervensi yang memang benar-benar di butuhkan untuk pasien,namun
bukan berarti intervensi yang tidak dilakukantidak di butuhkan
pasien,intervensi tersebut dapat dilakukan pada saat menjalankan
intervensi yang terumus.
39

Implementasi yang penulis lakukan pada tanggal 18-20 juni 2019


sudah sesuai dengan intervensi dan teori yang telah terumuskan, penulis
melakukan tindakan seperti: Obsevarsi tanda-tanda vital, Mengatur suhu
incubator, Monitor suhu setelah pemberian lampu pemanas, Mengganti
popok bila basah. (Nic 2015).
Pada implementasi tersebut pasien kooperatif maka penulis tidak
mengalami hambatan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
tiga hari ,diagnosa keperawatan ini belum teratasi ,hal ini dibutkikan
dengan keadaan suhu tubuh pasien belum normal, Data objektifnya
pasien tampak rileks.
2. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan maturitas neurologis
Intervensi yang penulis lakukan belum sesuai teori yang seharusnya
24 jam tetapi hanya dilakukan selama 7 jam menyesuaiakan dengan
jadwal shift. Intervensi yang penulis lakukan belum sesuai teori yang
seharusnya 24 jam tetapi hanya dilakukan selama 7 jam menyesuaiakan
dengan jadwal shift. Tindakan keperawatan juga ada yang tidak sesuai
dengan teori,di teori dijelaskan ada 16 intervensi Monitor
kecepatan,irama,kedalaman danbunyi nafas,Monitor suara nafas
tambahan, Auskultasi suara nafas setelah tindakan, Berikan bantuan
terapi nafas jika diperlukan (nebulizer), Berikan terapi O² 2Lt/menit,
Buka jalan nafas dengan teknik chin lift, Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi, ajarkan pasien bagaimana menggunakan
inhaler sesuai resep, Berikan nebulizer, Monitor reaksi asma, Ajarkan
teknk bernafas/relaksasi, Berikan pengobatan dengan tepat, Resepkan
atau perbarui pengobatan asma, Monitor kemungkinan alergi pada obat,
Pemberian obat dengan 5 benar, Beritahukan klien jenis obat,alasan
pemberian obat,hasil yang diharapkan dan efek samping,
Dokumentasikan pemberian obat dan respon klien, ,Namun intervensi
dalam asuhan keperawatan yang penulis lakukan hanya 4 poin dari teori
diantaranya adalah:1. Observasi pola nafas 2. Berikan terapi O² 2Lt/menit
40

[Link] klien semi fowler 4. Menjaga kepatenan jalan nafas (Nic


2015)
Alasan penulis tidak menggunakan semua intervensi yang ada dari
teori untuk ketidakefektifan pola nafas karena intervensi yang penulis
rumuskan adalah intervensi yang memang benar-benar di butuhkan untuk
pasien,namun bukan berarti intervensi yang tidak dilakukantidak di
butuhkan pasien,intervensi tersebut dapat dilakukan pada saat
menjalankan intervensi yang terumus.
Implementasi yang penulis lakukan pada tanggal 18-20 juni 2019
sudah sesuai dengan intervensi dan teori yang telah terumuskan, penulis
melakukan tindakan seperti: Observasi pola nafas, Beri terapi O²
2Lt/menit, Posisikan klien semi fowler, Menjaga kepatenan jalan nafas
(Nic 2015).Pada implentasi tersebut pasien kooperatif maka penulis tidak
mengalami hambatan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama tiga hari diagnosa
keperawatan ini sudah teratasi hal tersebut dibuktikan dengan kondisi
pernfasasan pasien [Link] objektifnya pasien tampak lebih nyaman.
3. Ketidak efektifan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh behubungan
dengan kurang asupan makanan.
Intervensi yang penulis lakukan belum sesuai teori yang seharusnya
24 jam tetapi hanya dilakukan selama 7 jam menyesuaiakan dengan
jadwal shiff. Tindakan keperawatan juga ada yang tidak sesuai dengan
teori,di teori dijelaskan ada 17 intervensi (Monitor pertumbuhan dan
perkembangan, Lakukan pemeriksaan laboratorium hb,albumin,elektrolit
dll, Identifikasi perubahan berat badan, Mulai tindakan atau berikan
rujukan sesuaikebutuhan, Monitor berat badan klien secara rutin, Monitor
perilaku klien yang berhubungan dengan pola makan, Batasi aktifitas
fisik sesuai kebutuhan untuk meningkatkan berat badan, Dorong klien
untuk mendiskusikan makanan yang disukai, Observasi klien salama dan
setelah pemberian makanan, Monitor mual muntah, Bantu pasin untuk
makan/suapi pasien, Lakukan perawatan mulut sebelum makan, Berikan
41

istirahat yang cukup, monitor status cairan dan elektrolit, isi ulang
makanan setiap 4 jam, Monitor nutrisi, Mengkaji reflek hisap, jaga wadah
makanan, gunakan teknik yang bersih dalam memberikan makanan,
Namun intervensi dalam asuhan keperawatan yang penulis lakukan hanya
4 poin dari teori diantaranya adalah:[Link] berat badan 2. Pasang
selang OGT [Link] reflek hisap [Link] dengan ahli gizi untuk
pemberian nutrisi (Nic 2015)
Alasan penulis tidak menggunakan semua intervensi yang ada dari
teori untuk ketidakseimbagan nutrisi karena intervensi yang penulis
rumuskan adalah intervensi yang memang benar-benar di butuhkan untuk
pasien,namun bukan berarti intervensi yang tidak dilakukantidak di
butuhkan pasien,intervensi tersebut dapat dilakukan pada saat
menjalankan intervensi yang terumus.
Implementasi yang penulis lakukan pada tanggal 18-20 juni 2019
sudah sesuai dengan intervensi dan teori yang telah terumuskan, penulis
melakukan tindakan seperti:.Monitor nutrisi, Manajemen gangguan
makan, Bantuan peningkatan berat badan, ,Pemberian makan dengan
tabung [Link] dilakukan tindakan keperawatan selama tiga hari
penulis tidak mengalami hambatan dalam memberikan nutrisi kepada
pasien.

D. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati
dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan (Asmadi,
2012).
Setelah beberapa tindakan keperawatan yang dilakukan, dapat di evaluasi
yaitu dengan hasil Ny. E bersedia diajari perawatan metode kanguru dan
akan selalu merawat bayinya setelah apa yang telah diajarkan oleh penulis
dan [Link] menemukan data subjektif penulis mengukur suhu tubuh
pasien belum normal tetapi sudah mendingan, data objektifnya suhu
42

tubuhnya 35,5cº, nadi 128x/menit, RR 63x/menit, Spo² 98% suhu


lingkungan terasa hangat dengan pengaturan suhu incubator 32,5cº, keadaan
tubuh bayi bersih, lingkungan incubator juga bersih, pasien lebih tampak
nyaman,penulis menyimpulkan bahwa masalah belum teratasi. Jalan nafas
yang paten dengan RR 55x/menit (klien tidak merasa tercekik,irama
nafas,frekuensi pernafasan dalam rentang normal,tidak ada suara nafas
abnormal). Reflek menghisap masih lemah, BB 1.450 gram, bayi
mendapatkan ASI 30cc melalui OGT, penulis menyimpulkan bahwa masalah
belum teratasi. Dari beberapa tindakan tersebut dapat disimpulkan bahwa
masalah kesehatan pada bayi Ny. E harus ditingkatkan dengan cara terus
mengulangi semua tindakan keperawatan yang sudah diberi agar kondisi bayi
dapat mengalami peningkatan kesehatan, berat badan naik, tidak mengalami
hipotermi, dan tidak mengalami masalah kesehatan lainnya.

E. Terdapat Masalah Keperawatan Teori yang Tidak Muncul Pada Kasus


Bayi Ny E yaitu:
1. Resiko Aspirasi berhubungan dengan gangguan menelan.
Aspirasi adalah kondisi dimana ada suatu benda yang masuk ke
saluran pernafasan [Link] asing dapat berupa makanan air liur atau
cairan perut saat anda memuntahkan [Link] bisa terjadi pada orang
dewasa,bayi dan orang-orang yang mengalami kesulitan menelan.
Diagnosa ini tidak di munculkan karena tidak terdapat tanda-tanda yang
mendukung untuk mernjadikan penegak seperti adanya sumbatan pada
jalan nafas. (NANDA 2015)
2. Resiko Infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis yang kurang.
Resiko Infeksi adalah diagnosa keperawatan yang didefinisikan
sebagaikeadaan dimana seorang individu beresiko diserang ole agen
oportunistik atau patogen (virus,jamur,bakteri,protoza atau parasit lain)
NANDA 2015.
Pada kasus bayi Ny E penulis tidak memunculkan diagnosa resiko
infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis yang kurang
43

dikarenakan tidak menemukan data-data yang mendukung penegakan


dagnosa [Link] tidak dimunculkan dikarenakan pada saat
pengkajian maupun pada saat pasien dilakukan perawatan tidak
ditemukan data yag mendukung seperti yang ada pada teori,leokosit
pasien normal yaitu 6,700.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada bayi Ny E dengan
berat badan lahir rendah (BBLR) di ruang FATIMAH AZZAHRA RSI Sunan
Kudus,Maka dalam BAB ini penulis mencoba menarik kesimpulan dari uraian
bab yang sebelumnya,yang berkaitan dengan tujuan yang telah diharapkan.
1. Pengkajian
Berdasakan uraian yang telah disebutkan diatas penulis dapat
menympulkan bahwa bayi Ny E dengan kasus berat badan lahir rendah
(BBLR) yang penulis kelola melalui asuhan keperawatan ,muncul beberapa
diagnosa sepertisesuai dengan pengkajian yang penulis lakuakan. Dalam
pengkajian penulis mendapatkan data bahwa pasien mengalami berat badan
lahirrendah (BBLR) sehingga menyebabkan pasien mengalami hipotermia
didapatkan hasil suhu tubuh dibawah kisaran normal yaitu S:35,0ºC.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dinyatakan dalam teori terdapat 5 diagnosa
keperawatan untuk berat badan lahir rendah (BBLR) namun dalam kasus
bayi Ny E hanya ditemukan 3diagnosa,diagnosa yang muncul
diantaranya:Penurunan suhu berhubungan dengan kurang lemak subkutan.
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas neurologi. Nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurang asupan
[Link] diagnosa yang tidak diangkat 2 yaitu: Resiko aspirasi
berhubungan dengan gangguan menelan. Resiko infeksi berhubungan
dengan pertahanan imunologis yang kurang.
Intervensi keperawatan telah disusun sesuai dengan teori asuhan
keperawatan pada pasien berat badan lahir rendah (BBLR)yang
diambildalam NIC-NOC tahun 2015,penulis hanya menuliskan intervensi
yang dibutuhkan pasien dan sesuai kondisipasien. Pada saat implementasi
penulis mengikut sertakan keluarga,perawat ruangan dan petugas kesehatan
45

lain. Tidak seluruh rencana kesehatan keperawatan yang telah


direncanakan penulis dilaksanakan karena disesuaikan dengan kondisi
pasien.
3. Evaluasi
Dalam rangkaian asuhan keperawatan pada bayi Ny E dengan penyakit
berat badan lahir rendah (BBLR) yang telah dilaksanakan penulis selama
tiga hari ,penulis mampu melakukan asuhan keperawatan dengan masalah
keperawatan pertama yaitu Penurunan suhu pada bayi Ny E dengan hasil
suhu tubuhS:35,5ºC sehingga belum mencapai kriteria hasil dari intervensi,
masalah keperawatan yang ke dua yaitu ketidak efektifan pola nafas yang
sudah teratasi dengan kriteria hasil RR: 55x/menit pola nafas dalam rentan
normal. Lalu masalah keperawatan yang ketiga yaitu ketidak seimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 1.450 gram sehingga belum mencapai
kriteria hasil dari intervensi.

B. Saran
Setelah penulis melakukan studi kasus Berat Badan lahir rendah (BBLR)
penulis mengalami beberapa hambatan dalam penulisan ini. namun, dengan
bantuan dari berbagai pihak penulis mampu menyelesaikan karya tulis ini tepat
pada waktunya. Demi kemajuan selanjutnya maka penulis menyarankan:
1. Bagi Penulis
a. Penulis perlu belajar lebih giat lagi dalam memenuhi kasus Berat badan
lahir rendah (BBLR)
b. Penulis perlu giat bertanya kepada perawat ruangan serta tim medis lain
nya untuk menetukan tindakan yang akan dilakukan selama merawat
pasien Berat badan lahir rendah di RSI Sunan Kudus.
2. Bagi Rumah Sakit
Di butuhkan kerja sama antar perawat ruangan dengan perawat
praktikan dalam melakukan asuhan keperawatan sehingga tercapai tujuan
keperawatan yang sesuai kriteria hasil.
46

3. Bagi Institusi Pendidikan


a. Diharapkan dapat memfasilitasi yang diperlukan penulis agar mudah
dan dapat mengembangkan ilmu.
b. Bisa menambah referensi dibidang ilmu kesehatan mengenai asuhan
keperawatan pada pasien berat badan lahir rendah (BBLR), dan dapat
digunakan sebagai bahan acuan masukan bagi pihak pihak yang
berkepentingan langsung dalam Karya Tulis Ilmiyah untuk tenaga
kesehatan khususnya perawat.
4. Bagi Masyarakat
a. Masyarakat bisa lebih paham tentang penyakit berat badan lahir rendah
(BBLR) secara umum dan secara khusus
b. Apa saja penyebabnya, bagaimana dan tanda gejalanya, bagaimana
perjalanan penyakitnya.
c. Bagaimana penatalaksanaannya, bagaiamana pengkajiannya, bagaimana
cara mengatasi pasien nya jika dalam keluarga, sehingga keluarga
mampu memberikan penanganan yang tepat ketika berada di rumah
dan mengantisipasi semakin parahnya kondisi pasien.
5. Bagi Perawat
a. Perawat memberikan informasi dan pengertian tentang kesehatan
kepada pasien dan keluarag karena hak mendapatkan informasi dan
pelayanan kesehatan pasien dilindungi oleh undang-undang.
b. Perawat hendaknya selalu mendokumentasikan setiap tindakan yang
dilakuakan segera setelah tindakan dilakukan.
c. Perawat harusnya memberitahukan kepada pasien setiap melakukan
tindakan yang dilakukan perawat agar tidak membuat cemas pasien
maupun keluarga.
47
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi, (2012). Teknik Prosedural Keperawatan : Konsep Anak Aplikasi


Kebutuhan Dasar Klien. Salemba Medika : Jakarta.

Astria, Y., Christopher, S.S., Benedicta, M.S., Felix, F.W., Rinawati, R. 2016.
Low Birth Weight Profiles at H. Boejasin Hospital South Borneo, Indonesia
in 2010–2012. Paediatrica Indonesiana, [e-journal] 56 (3): pp. 155–161.

Astutiningsih, De. 2012. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir Dengan BBLR
Pada Ny. W Umur 0 Jam Di Ruang VK Rsud Setjonegoro Wonosobo.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian RI. Riset Kesehatan


Dasar (Riskesdas). Jakarta, 2013.

Dewey, K. G, & Mayers, D. R, 2011. Early Growt : How Do Nutrition and


Infection Interact? Maternal and Child Nutrition, 7(3).

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Kemenkes RI. 2010. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2010. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Mahayana, S. A. S., Chundrayetti, E., & Yulistini. 2015. Faktor Risiko Yang
Berpengaruh Terhadap Kejadian Badan Lahir Rendah di RSUP Dr. M.
Djamil Padang, Jurnal Kesehatan Andalas, 4 (3), 664-673.

NANDA Internasional Inc. Nursing Diagnosis. Definitions & Classfications


2015-2017, edisi 10

Nursing Interventions Classification (NIC), edisi 6

Nursing Outcomes Classification (NOC), edisi 5

Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi NANDA NIC NOC.
Yogyakarta: Media Action Publishing.

Perera, K.P.N., Manzur, K. 2014. SocioEconomic and Nutritional Determinants


of Low Birth Weight in India. North American Journal of Medical Sciences,
[e-journal] 6 (7): pp. 302–308.

Proverowati, Atika dan Cahyo Ismawati, 2015. BBLR Berat Badan Lahir
Rendah. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sutan, R., Mazlina, M., Aimi, N.M., Azmi, M.T. 2014. Determinant of Low Birth
Weight Infants: A Matched Case Control Study. Open Journal of Preventive
Medicine, [e-journal] 4 (3): pp. 91–99.

Verawati S. 2014. Faktor Risiko Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Wilayah
Kerja Puskesmas Singkawang Timur Dan Utara Kota Singkawang.

WHO. The United Nations Children’s Fund And World Health Organization.
Low Birth Weight Country, Regional And Global Estimates. New York:
WHO; 2014
LAMPIRAN
Lembar Konsul
Lembar Undangan
Formulir Pengajuan Ujian Karya Tulis Ilmiah
Formulir Bukti Penerimaan Naskah Karya Tulis Ilmiah
Formulir Bukti ACC
Formulir Penilaian
Berita Acara Penyerahan Revisi
FORMAT PENILAIAN UJIAN KARYA TULIS ILMIAH PROGRAM STUDI
D-3 KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS

NAMA TERUJI : Diah Ayu Puji Pangesti


NIM : 11920171055
TANGGAL UJIAN :
PENGUJI :
NILAI
NO ASPEK YANG DINILAI
1 2 3 4
Susunan kalimat / penggunaan bahasa
1
Sesuai EYD, cara pengutipan, kesalahan penulisan
Keputusan / Rujukan
2
Jumlah literature keperawatan (min 5), validasi
Kejelasan Isi Tulisan
Keterkaitan judul, latar belakang, tujuan,
3
pengumpulan data, sistematika penulisan,
manfaaat dan tinjauan teori
Penulisan Kasus
4 Pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi
dan evaluasi
Ketajaman analisa / pembahasan
5 Sesuai dengan masalah, di dukung data dan
referensi
Kesimpulan dan saran
6
Menjawab tujuan penulisan, operasional
Presentasi dan Media
Penguasaan materi, kejelasan, alokasi waktu,
7
bahasa tepat, ucapan lancar, fokus pada audience,
media menarik dan mudah dibaca
Pemahaman Konsep
8
Penguasaan terhadap konsep
Responsi
9 Menjawab dengan benar dan sistematis, didukung
teori / data
Argumentasi
10 Mampu berargumentasi, argumentasi didukung
teori / data
NILAI AKHIR = NILAI / 4

Anda mungkin juga menyukai