Asuhan Keperawatan Colic Abdomen Anak
Asuhan Keperawatan Colic Abdomen Anak
S DENGAN
DIAGNOSA MEDIK COLIC ABDOMEN
DIRUANG ALI BIN ABI THALIB
RSI SUNAN KUDUS
Oleh
AULIA KAMILA
NIM: 2020181060
i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nyeri merupakan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan,
persepsi nyeri seseorang sangat ditentukan oleh pengalaman dan status
emosionalnya (Zakiyah, 2015). Persepsi nyeri bersifat sangat pribadi dan
subjektif, ini terjadi akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata, nyeri ini
dinamakan nyeri akut yang dapat menghilang seiring dengan penyembuhan
jaringan (Zakiyah, 2015). Nyeri akut adalah adalah nyeri 3 yang diakibatkan
kerusakan jaringan yang akan hilang selama proses penyembuhannya, terjadi
dalam waktu singkat dari 1 detik sampai kurang dari 6 bulan (Alimul dan
Uliyah, 2014). Nyeri kronis adalah serangan yang tiba-tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi dan berlangsung > 6 bulan (NANDA,2012).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah
sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat
terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan. Ada berbagai nyeri salah
satunya colic abdomen. Colic abdomen adalah rasa nyeri pada perut yang
bersifat hilang timbul dan bersumber dari organ yang terdapat dalam
abdomen atau perut, yang disebabkan oleh infeksi di dalam organ perut.
Faktor penyebab colic abdomen adalah konstipasi yang tidak dapat terobati
dan gejala klinis colic abdomen adalah kram pada abdomen, distensi, muntah,
dan adanya nyeri tekan pada abdomen. Akhir-akhir ini, peningkatan kolik
abdomen meningkat sangat pesat. Kejadian penyakit colic abdomen terjadi
karena pola hidup yang tidak sehat sehingga berdampak pada kesehatan tubuh
(Bare, 2011).
Menurut data dari WHO (World Health Organitation) pada tahun 2012
±7 miliar jiwa, Amerika Serikat berada diposisi pertama dengan penderita
kolik abdomen terbanyak 47% dari 810.000 orang penduduk. Prevelensi colic
1
2
C. Metode Penulisan
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan beberapa
metode pengumpulan data yaitu:
1. Wawancara
Pengumpulan data untuk mendapatkan informasi secara langsung pada
pasien,keluarga,perawat atau tim kesehatan lain yang mengetaui komdisi
pasien.
2. Observasi
Penulis mendapatkan data selama melakukan asuhan keperawatan dengan
melakukan observasi tindakan yang telah dilakukan serta resppon yang di
rujuk oleh [Link] itu juga dengan kerja sama yang komdusif dari
pasien dan keluarga pasien.
3. Dokumentasi
4
Suatu cara untuk mendapatan data ,baik dari catatan medis maupun
catatan perawat yang tergabungdalam buku statu pasien ,sebagai bahan
untuk menunjang tindakan perawatan pasien dengan BBLR.
4. Study Keperawatan
Metode pengumpuan data dengan cara mempelajari materi yang sesuai
dengan judul karya tulis ilmiah tersebut.
D. Sistematika Penulisan
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, pemulis menggunakan sistematika
penulisan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Metode Penelitian
E. Sistematika Penulisan
F. Manfaat Penulisan
B. Analisa Data
C. Diagnosa Keperawatan
D. Perencanaan ( Intervensi, Tujuan, Kritria Hasil, Rasionalisasi)
E. Implementasi
F. Evaluasi ( SOAP )
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian
B. Diagnosa Keperawatan
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi RSI Sunan Kudus
Penelitian ini dapat meberikan informasi kepada tenaga kesehatan
tentang kejadian BBLR dan factor penyebab dari BBLR.
2. Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang
BBLR sehingga masyarakat lebih waspada terhadap kejadian BBLR dan
menghindari factor penyebab BBLR
3. BagiUniversitas Muhammadiyah Kudus
Sebagai inormasi khususnya prodi kebidanan mengenai gambaran
kejadian BBLR di RSI Sunan Kudus serta dapat dijadikan referensi
penelitian selanjutnya dan dapat mengembalikan lagi ke penelitian yang
lebih baik.
4. Bagi Peneliti
Hasil penelitian itu dapat menambah pengetahuan dan wawasan
mengenai kejadian BBLR selanjutnya dapat dijadikan penelitian atau
referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Berat Badan Lahir Rendah ialah Bayi baru lahir yang berat badannya saat
lahir kurang dari 2500 gram (WHO,2014). Bayi berat lahir rendah adalah bayi
yang lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa
kehamilan. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR
seperti terlahir dari ibu yang memiliki masalah kesehatan saat hamil,
misalnya preeklamsia, tekanan darah tinggi, atau kurang gizi, infeksi selama
kehamilan, adanya kelainan genetik atau cacat bawaan lahir pada bayi.
Adapun pencegahan terjadinya BBLR dapat dilakukan dengan cara hindari
merokok, minum alkhohol dan menggunakan obat terlarang, jauhi polusi,
perhatikan berat badan. (Mahayana dkk, 2015)
BBLR menurut indikator data statistik WHO adalah bayi yang berat <
2500 gram, terlepas dari usia kehamilan. BBLR termasuk faktor utama dalam
peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak
yang lahir dengan BBLR memberikan dampak jangka panjang terhadap
kehidupannya di masa depan (Dewey, 2011).
B. Klasifikasi BBLR
1. Primaturitas murni
Yaitu bayi pada kehamilan <37 minggu dengan berat badan yang sesuai.
2. Small far date (SFD) atau kecil untuk masa kehamilan
Yaitu bayi yang berat badannya kurang dari seharusnya umur kehamilan.
3. Reterdasi pertumbuhan janin intraurine (IUGR)
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan
usia kehamilan.
4. Dismaturitas
Suatu sidrom klinik dimana terjadi ketidakseimbanga antara
pertumbuhan janin dengan lanjutnya kehamilan atau bayi – bayi yang
7
8
lahir dengan BB yang tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. Atau bayi
dengan gejala intrauterine malnutrition or wasting. (Amin & Hardhi
Kusuma, 2015).
C. Etiologi
1. Faktor Ibu:
a. Perdarahan
b. Trauma fisik
c. Penyakit
d. Status gizi saat hamil
e. Usia ibu
f. Jarak kehamilan dan bersalin terlalu dekat
g. Usia kehamilan ibu
2. Faktor janin
a. Kelainan kromosom (trisomy autosomal)
b. Infeksi janin kronik (inkulusi sitomegali, rubella bawaan)
c. Disautonomia familial
d. Radiasi
e. Kehamilan ganda / kembar (gemeli)
f. Aplasia pancreas.
3. Faktor Plasenta
a. Berat plasenta berkuran atau berongga atau keduanya (hidramnion)
b. Luas permukaan berkurang
c. Plasentitis vilus (bakteri, virus dan prasite)
d. Tumar (korioangioma, molahidatidosa)
e. Sindrom plasenta yang lepas
f. Sindrom transfusi bayi kembar (sindrom prabiotik)
4. Faktor lingkungan
a. Bertempat tinggi di dataran tinggi
b. Terkena radiasi
c. Terpapar zat beracun.
9
D. Patofisiologi
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang
belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas.
Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan
(BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak
mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan
pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit
ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan
lain yang menyebabkan suplai makanan kebayi jadi berkurang.(Verawati
2014)
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin
tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan
berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi
normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra
hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih
sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan
kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR,
vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu
menderita anemia.(Verawati 2014)
Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di
bawah normal. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang
paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami
deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang
dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan
menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah
11gr/dl selama trimester III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan
gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel
otak.
Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan,
abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini
10
E. Gambaran Klinis
1. Manifestasi Klinis Secara Umum
a. Berat kurang dari 2500 gram
b. Panjang kurang dari 45 cm
c. Lingkar dada kurang dari 30 cm
d. Lingkar kepala kurang dari 30 cm
e. Umur kehamilan kurang dai 37 minggu
f. Kepala lebih besar
g. Kulit tipis,transparan,rambut lanugo banyak,lemak kurang
h. Otot hipotenik lemah
i. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea
j. Ekstermitas:paha abduksi,sendi lutut/kaki fleksi-lurus
k. Kepala tidak mampu tegak
l. Pernapasan 40-50 kali/menit
m. Nadi 100-140 kali/menit
2. Manifestasi Klinis Secara Khusus ( Verawati 2014)
a. Tanda-tanda Bayi Premature
1) BB kurang dari 2500 gram,PB kurang dari 45cm,Lingkar kepala
kurang dari 33 cm,Lingkar dada kurang dari 30 cm
2) Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
3) Kepala relative lebih besar
4) Rambut tipis dan halus,ubun-ubun dan sutura lebar
5) Kepala mengarah ke satu sisi
6) Tulang rawan dan daun telinga imatur
7) Putting susu belum terbentuk dengan baik
11
F. Pengelolaan Kasus
Pada bayi BBLR banyak sekali resiko terjadi komplikasi pada sistem
tubuh, oleh karena kondisi tubuh yang tidak stabil, kematian perinatal pada
bayi BBLR adalah 8 kali lebih besar dari bayi normal. Prognosis akan lebih
buruk bila berat badan semakin rendah, kematian sering disebabkan karena
komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi, pneomonia, pendarahan intra
kranial, hipoglikemia.
Bila hidup akan dijumpai kerusakan saraf, gangguan bicara, tingkat
kecerdasan rendah. Prognosis ini juga tergantung dari keadaan sosial
ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat kehamilan,
persalinan dan posnata.
Dibawah ini adalah risiko permasalahan yang sering terjadi pada bayi
BBLR dan memerlukan perawatan khusus. Pada bayi prematur dengan
BBLR, ada beberapa resiko permasalahan yang mungkin timbul:
1. Gangguan Metabolik
a. Hipotermia
12
G. Pathway
A. Pathway
1. Pusat Pengaturan SuhuPanas 2. Fungsi Pengaturan Pernafasan 3 . Fungsi Pencernaan 4 . Penurunan FungsiImun
Badan BelumSempurna BelumSempurna BelumSempurna
Rentan terjadi infeksi
Terjadi Penguapan Surfaktan paru-paru Penyerapan makan lemah
yang sempurna masih kurang
Resiko Aspirasi
Ketidak Efektifan Ketidak
pola nafas seimbangan
nutrisi kurang dari
Sumber : Verawati (2014) kebutuhantubuh
16
H. Penatalaksanaan
Menurut Astutiningsih (2012) perawatan pada bayi berat lahir rendah
(BBLR) adalah:
1. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi
a. Rawat didalam incubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam inkubator.
Inkubator yang modern dilengkapi dengan alat pengaturan suhu dan
kelembaban agar bayi dapat mempertahankan suhu tubuhnya yang
normal, alat oksigen yang dapat diatur, serta kelengkapan lain untuk
mengalami kontaminasi bila inkubator dibersihkan.
Bila bayi dirawat didalam inkubator, maka suhunya untuk bayi
dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 350C. Berat badan 2-2,5
kg dengan suhu 340C agar ia dapat mempertahankan suhu tubuh
sekitar. Suhu inkubator dapat diturunkan 10C perminggu untuk bayi
dengan berat badan kurang dari 2 kg secara berangsur-angsur.
b. Metode kangguru
Tempatkan bayi diantara payudara ibu, sehingga dada ibu dan bayi
bertemu. Kepala bayi dipangklingkan disuatu sisi (kanan atau kiri)
dan dengan sedikit di tengadah, bertujuan untuk menjaga saluran bayi
tetap terbuka. Pada saat melakukan metode kanguru biarkan bayi
dalam kondisi telanjang, hanya menggunakan popok, kaus kaki, dan
topi. Bertujuan agar semakin luas kontak kulit yang terjadi antara
bayi dan ibu.
Bayi dimasukan kedalam baju ibu dan ditempatkan tepat didada
ibu sehingga terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi. Perawatan
kanguru harus dilakukan secara bertahap dan terus menerus pada bayi
dengan kondisi stabil.
17
J. Intervensi
No Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Domain Setelah dilakukan 1. Observasi tanda-
11:Keamanan tindakan keperawatan tanda vital
kelas selama 60 menit 2. Awasi dan atur
6:termogulasi diharapkan termogulasi control temperature
(00006) bayi baru lahir teratasi dalam incubator
hipotermia dengan kriteria hasil sesuai kebutuhan.
berhubungan 1. suhu tubuh berada 3. Hindarkan bayi
di kisaran normal
dengan kurang kontak langsung
36,0-37,5 ºC
suplai lemak 2. Akral hangat dengan sumber panas
subkutan. 3. Bayi tidak menggigil atau dingin.
4. Ganti popok bila
basah.
2. Domain4 Setelah dilakukan 1. Observasi pola Nafas.
Aktifitas/Istirahat tindakan keperwatan 2. Berikan terapi O²
-kelas:4respon selama 60 menit status 2lt/menit
Kardiovaskuler pernafasan teratasi 3. Posisikan klien semi
(00032) ketidak dengan kriteria: fowler
efektifan pola 1. Pernafasan adekuat 4. Jaga kepatenan jalan
nafas 40-60x/menit. nafas : suction
berhubungan 2. Tidak ada retraksi
dengan imaturitas otot
neurologi 3. Tidak ada
penumpukan cairan
19
di paru
3. Domain 2 :Nutrisi Setelah dilakukan 1. Kaji kemampuan
kelas:1Makan tindakan keperawatan reflek hisap
(00002)Ketidak selama 60 menit status 2. Monitor asupan
seimbangan nutrisi teratasi dengan intake dan output
nutrisi kurang kriteria: cairan
dari kebutuhan 1. BB seimbang 2500- 3. Kolaborasi dengan
tubuh 3500 gram ahli gizi untuk
2. Reflek hisap kuat pemberian nutrisi
3. Intake ASI adekuat
4 Domain 11 Setelah dilakukan 1. Buka jalan nafas
Keamanan atau tindakan keperawatan dengan teknik chin
Perlindungan selama 60 menit status lift.
-kelas:2Cedera pernafasan normal 2. Posisikan pasien
Fisik dengan kriteria hasil untuk
(00039) 1. tidak terjadinya memaksimalkan
risiko aspirasi aspirasi ventilasi.
berhubungan 2. tidak ada gangguan 3. Ajarkan pasien
dengan gangguan menelan bagaimana
menelan menggunakan
inhaler sesuai resep.
4. Berikan nebulizer
5 Domain11 Setelah dilakukan 1. Pantau tanda gejala
Keamanan tindakan keperwatan infeksi : suhu, lekosit,
atau Perlindungan selama 60 menit penurunan BB
kelas 1 Resiko tidak terjadinya infeksi 2. Batasi jumlah
Infeksi dengan kriteria hasil: pengunjung
(00004) 1. Tidak ada tanda tanda 3. Gunakan teknik
berhubungan infeksi aseptic selama
dengan mal 2. Jumlah lekosit dalam berinteraksi dengan
nutrisi batas normal 5000- klien.
10000 4. Bersihkan incubator
20
secara berkala.
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Hari/tanggal: Selasa, 18/06/2019
Jam : 09.40 WIB
Oleh : Diah Ayu Puji Pangesti
1. Biodata Pasien
a. Identitas Pasien
Nama : Bayi E
TTL : Kudus, 16 juni 2019
Umur : 3 hari
Jenis Kelamin : laki-laki
Pendidikan :-
Alamat :Kudus, Prambatan
Agama : Islam
Diagnosa medis : BBLR
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. P
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Umur : 25 th
Hub dg pasien : Ayah
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Bayi lahir dengan BB rendah 1.450 gram
b. Riwayat penyakit sekarang
Ny.E mengatakan melahirkan secara sc dikamar bersalin RSI
SUNAN KUDUS, pada hari selasa 16 juni 2019. Usia kehamilan 35
minggu, bayi lahir langsung menangis, usaha nafas spontan, normal
22
3
3
t
n
Keterangan :
Laki – laki
Perempuan
Pasien
Tinggal serumah
23
3. Pola Fungsional
a. Pola Pernafasan
Sebelum sakit: Pasien tidak mengalami gangguan pernafasan,pasien
dapat bernafas dengan normal.
Selama sakit : Pasien tidak mengalami gangguan pernafasan, suara
pernafasan vesikuler tidak ada suara ronchi,frekuensi pernafasan
40x/m.
b. Kebutuhan Nutrisi
Sebelum sakit: Pasien minum ASI ibunya kurang lebih 5x sehari.
Selama sakit : pasien minum air ASI sebanyak 10 cc kurang lebih 3x
sehari.
c. Kebutuhan Eliminasi
Sebelum sakit : Pasien BAB 1x sehari dan BAK 3-4x dalam sehari
Selama sakit : Pasien BAB 1x dan BAK kurang lebih 2-3x dalam
sehari
d. Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Sebelum sakit : Pasien tidur kurang lebih 6-7 jam dalam sehari
Selama sakit : Pasien jarang tidur karena merasakan badanya kurang
sehat
e. Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
Sebelum sakit : Pasien terlihat aman dan nyaman karena dekat dengan
orang tua
Selama sakit : Pasien terlihat kurang aman dan nyaman karena berada
di ruangan perawatan dan jauh dari orang tua
f. Kebutuhan Berpakaian
Sebelum sakit : Pasien memakai pakian dibantu dengan keluarganya
karena dekat dengan keluarga
Selama sakit : pasien memakai pakaian harus dibantu dengan perawat
karena jauh dengan orang tua.
g. Kebutuhan Mempertahankan Temperature Tubuh
Sebelum sakit :Tubuh pasien normal tidak panas
24
g. Suhu : 35,0ºC
h. Nadi : 128x/m
i. Pernapasan : 63x/m
j. SPO2 : 98x/m
k. Kepala : Fontanel anterior lunak,rambut hitam,tidak
ada lesi di kulit Kepala
l. Mata : Simetris, tidak terdapat kotoran
m. Hidung : Bersih, tidak ada lesi pada hidung
n. Wajah : Simetris,tidak ada lesi pada wajah
o. Mulut : Reflek hisap,masih lemah,terpasang selang
OGT, mukosa kering.
p. Telinga : Simetris, bersih, tidak ada lesi
q. Reflek
1) Rooting : Bayi lemah tapi sudah bisa sedikit-sedikit
2) Grasping : Jari-jari dapat melengkung, Menggenggam
3) Moro : Lengan dapat ekstensi jari-jari dapat
menggenggam tungkai sedikit ekstensi tetapi
masih lemah.
4) Sunching : Bayi menghisap masih lemah.
r. Keadaan jalan nafas : Pernafasan dibantu dengan oksigen.
s. Keadaan tali pusat : Tidak ada perdarahan,pembengkakan
nanah,tidak berbau.
t. Ekstermitas : tangan kanan terpasang infus kulit sedikit
kemerahan.
u. bayi ditempatkan di incubator
v. pasien terpasang selang O² di hidung
26
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium (18-06-2019)
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN
HEMATOLOGI
LEUKOSIT L 6.7 10ˆ3/ul 6.0-18.0
ERITROSIT L 4.39 10ˆ3/ul 4.7 – 6.1
HEMOGLOBIN 16.5 g/dl 10 – 17
HEMATOKRIT 47.6 % 40 – 52
MCV H 108.8 Fl 82 – 92
MCH H 37.6 Pg 27 – 31
MCHC 34.7 % 32 – 36
TROMBOSIT 160 10ˆ3/ul 15.0 – 40.0
RDW-CV H 17.1 % 11.5 – 14.5
RDW-SD H 67.1 fl 35 – 47
PDW H 13.2 Fl 9.0 – 13.0
MPV H 10.9 Fl 6.8 – 10.0
P-LLR 31.7 %
KIMIA KLINIK
BILLIRUBIN H 16.16 Mg/dl 0.00 – 1.00
TOTAL
BILLIRUBIN H 0.70 Mg/dl 0.0 – 0.25
DIRECT
BILLIRUBIN H 15.46 Mg/dl 0.0– 0.75
INDIRECT
b. Terapi (18-06-2019)
1) Termogulasi dalam incubator suhu 35
2) Infus WFD D5%1/4 NS 8 tetes tpm mikro
3) Ceftazedime 2x175mg
4) Aminophiline 3x3mg
5) Vit K 1X1mg
6) Oksigen 2liter/menit
7) ASI 3x10cc/24 jam
27
B. Analisa Data
No Hari/ tgl Dx Data fokus Ds & Do Problem Etiologi
1. Selasa I Ds : - Penurunan Kurang
18/06/2019 Do:[Link] sedikit suhu suplai
Dingin lemak
[Link] prematur subkutan
34 minggu
[Link] 1.450 gram
4..Suhu 35,0ºc
[Link]
dalam incubator
2. Rabu II Ds : - Ketidak Maturitas
19/06/2019 Do : [Link] sesak efektifan neurologis
nafas pola nafas
[Link] :63x/menit
3. Kamis III Ds : - Ketidak Kurang
20/06/2019 Do:[Link] tampak seimbangan asupan
Lemas nutrisi makanan
[Link] menetek kurang dari
[Link] belum kebutuhan
lancar tubuh
[Link]
menghisap lemah
C. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan suhu berhubungan dengan kurang suplai lemak subkutan.
2. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan maturitas neurologis
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kurang asupan makanan.
D. Intervensi Keperawatan
No Hari/ Dx Tujuan dan KH Intervensi Rasional
28
tgl
1. Selasa I Setelah [Link] [Link] acuan
18/06/ dilakukan tanda-tanda penatalaksanaa
2019 tindakan vital n tindakan
keperawatan [Link] atur [Link]
selama 60 menit control memberikan
diharapkan temperaturedal program yang
termogulasi bayi am incubator dianjurkan
baru lahir teratasi sesuai
dengan kriteria kebutuhan
hasil: [Link] suhu [Link]
[Link] tubuh setelah menegtahui
berada di pemeberian perubahan
kisaran normal panas dengan suhu pada bayi
36,0-37,5 ºC lampu
[Link] hangat pemanas.
Bayi tidak [Link] popok [Link]
menggigil bila basah. memberikan
kehangatan
2. Rabu II Setelah [Link] pola [Link] acuan
19/06/ dilakukan Nafas. penatalaksanaa
2019 tindakan n tindakan
keperawatan [Link] terapi [Link] O²
selama O² 2Lt/menit dalam tubuh
60 menit status [Link] klien [Link]
pernafasan semi fowler memberikan
normal dengan rasa nyaman
kriteria hasil: pada klien
[Link] [Link] kepatenan [Link] jalan
adekuat 40- jalan nafas nafas agar
60x/menit. suction tidak ada
29
E. Implementasi Keperawatan
No Hari/ Dx Implementasi Respon/Hasil TTD
tanggal
1. Selasa I 1. Mengobservasi Ds : -
18/06/2019 tanda-tanda Do : warna kulit
vital kemerahan
Diah
Suhu : 35.0ºC
30
Ds : -
2. Mengatur suhu Do:Terlihat suhu
Incubator incubator klien
sesuai indikasi 34ºC Diah
3. Monitor suhu Ds : -
setelah Do : Pasien tidak
pemberian menggigil
lampu pemanas setelah Diah
diberi
4. Mengganti lampu
popok bila pemanas.
basah Ds:-(pasien
tampak Diah
menangis)
Do : klien
tampak
menangis
saat popoknya
diganti.
2. Rabu II 1. Mengobservasi Ds : -
19/06/3201 pola nafas Do : - RR :
9 63x/menit
Diah
-S: 35,0ºC
-N:128x/meni
2. Memberikan t
terapi -Spo2:98x/me
O² 2Lt/menit nit
Ds : - Diah
Do :-klien tampak
terpasang
3. Memposisikan ventilator
31
F. Evaluasi
No Hari/Tanggal D Evaluasi TTD
x
1. Selasa I S:-
18/06/2019 O : S : 35,0ºC
RR : 63x/menit
N : 128x/menit
Diah
Spo2 :98%
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor TTV
2. Pertahankan kelembaban
incubator
II S:-
O:
1. Terpasang O² 2 Liter
2. Ada cuping hidung
3. Retraksi dinding dada
4. RR : 63x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor tanda-tanda vital
II 2. Tinggikan kepala bayi
I S:-
O : Berat badan 1.450 gram
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
Monitor tentang pemberian ASI
30cc/OGT
2. Rabu II S : -
19/06/2019 O : Pasien tampak rileks
33
jika sesak
BAB IV
PEMBAHASAN
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan berdasarkan nanda NANDA merupakan
pertimbangan klinis mengenai pengalaman atau respon individu. Keluarga
36
istirahat yang cukup, monitor status cairan dan elektrolit, isi ulang
makanan setiap 4 jam, Monitor nutrisi, Mengkaji reflek hisap, jaga wadah
makanan, gunakan teknik yang bersih dalam memberikan makanan,
Namun intervensi dalam asuhan keperawatan yang penulis lakukan hanya
4 poin dari teori diantaranya adalah:[Link] berat badan 2. Pasang
selang OGT [Link] reflek hisap [Link] dengan ahli gizi untuk
pemberian nutrisi (Nic 2015)
Alasan penulis tidak menggunakan semua intervensi yang ada dari
teori untuk ketidakseimbagan nutrisi karena intervensi yang penulis
rumuskan adalah intervensi yang memang benar-benar di butuhkan untuk
pasien,namun bukan berarti intervensi yang tidak dilakukantidak di
butuhkan pasien,intervensi tersebut dapat dilakukan pada saat
menjalankan intervensi yang terumus.
Implementasi yang penulis lakukan pada tanggal 18-20 juni 2019
sudah sesuai dengan intervensi dan teori yang telah terumuskan, penulis
melakukan tindakan seperti:.Monitor nutrisi, Manajemen gangguan
makan, Bantuan peningkatan berat badan, ,Pemberian makan dengan
tabung [Link] dilakukan tindakan keperawatan selama tiga hari
penulis tidak mengalami hambatan dalam memberikan nutrisi kepada
pasien.
D. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati
dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan (Asmadi,
2012).
Setelah beberapa tindakan keperawatan yang dilakukan, dapat di evaluasi
yaitu dengan hasil Ny. E bersedia diajari perawatan metode kanguru dan
akan selalu merawat bayinya setelah apa yang telah diajarkan oleh penulis
dan [Link] menemukan data subjektif penulis mengukur suhu tubuh
pasien belum normal tetapi sudah mendingan, data objektifnya suhu
42
A. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada bayi Ny E dengan
berat badan lahir rendah (BBLR) di ruang FATIMAH AZZAHRA RSI Sunan
Kudus,Maka dalam BAB ini penulis mencoba menarik kesimpulan dari uraian
bab yang sebelumnya,yang berkaitan dengan tujuan yang telah diharapkan.
1. Pengkajian
Berdasakan uraian yang telah disebutkan diatas penulis dapat
menympulkan bahwa bayi Ny E dengan kasus berat badan lahir rendah
(BBLR) yang penulis kelola melalui asuhan keperawatan ,muncul beberapa
diagnosa sepertisesuai dengan pengkajian yang penulis lakuakan. Dalam
pengkajian penulis mendapatkan data bahwa pasien mengalami berat badan
lahirrendah (BBLR) sehingga menyebabkan pasien mengalami hipotermia
didapatkan hasil suhu tubuh dibawah kisaran normal yaitu S:35,0ºC.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dinyatakan dalam teori terdapat 5 diagnosa
keperawatan untuk berat badan lahir rendah (BBLR) namun dalam kasus
bayi Ny E hanya ditemukan 3diagnosa,diagnosa yang muncul
diantaranya:Penurunan suhu berhubungan dengan kurang lemak subkutan.
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas neurologi. Nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurang asupan
[Link] diagnosa yang tidak diangkat 2 yaitu: Resiko aspirasi
berhubungan dengan gangguan menelan. Resiko infeksi berhubungan
dengan pertahanan imunologis yang kurang.
Intervensi keperawatan telah disusun sesuai dengan teori asuhan
keperawatan pada pasien berat badan lahir rendah (BBLR)yang
diambildalam NIC-NOC tahun 2015,penulis hanya menuliskan intervensi
yang dibutuhkan pasien dan sesuai kondisipasien. Pada saat implementasi
penulis mengikut sertakan keluarga,perawat ruangan dan petugas kesehatan
45
B. Saran
Setelah penulis melakukan studi kasus Berat Badan lahir rendah (BBLR)
penulis mengalami beberapa hambatan dalam penulisan ini. namun, dengan
bantuan dari berbagai pihak penulis mampu menyelesaikan karya tulis ini tepat
pada waktunya. Demi kemajuan selanjutnya maka penulis menyarankan:
1. Bagi Penulis
a. Penulis perlu belajar lebih giat lagi dalam memenuhi kasus Berat badan
lahir rendah (BBLR)
b. Penulis perlu giat bertanya kepada perawat ruangan serta tim medis lain
nya untuk menetukan tindakan yang akan dilakukan selama merawat
pasien Berat badan lahir rendah di RSI Sunan Kudus.
2. Bagi Rumah Sakit
Di butuhkan kerja sama antar perawat ruangan dengan perawat
praktikan dalam melakukan asuhan keperawatan sehingga tercapai tujuan
keperawatan yang sesuai kriteria hasil.
46
Astria, Y., Christopher, S.S., Benedicta, M.S., Felix, F.W., Rinawati, R. 2016.
Low Birth Weight Profiles at H. Boejasin Hospital South Borneo, Indonesia
in 2010–2012. Paediatrica Indonesiana, [e-journal] 56 (3): pp. 155–161.
Astutiningsih, De. 2012. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir Dengan BBLR
Pada Ny. W Umur 0 Jam Di Ruang VK Rsud Setjonegoro Wonosobo.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Kemenkes RI. 2010. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2010. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Mahayana, S. A. S., Chundrayetti, E., & Yulistini. 2015. Faktor Risiko Yang
Berpengaruh Terhadap Kejadian Badan Lahir Rendah di RSUP Dr. M.
Djamil Padang, Jurnal Kesehatan Andalas, 4 (3), 664-673.
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi NANDA NIC NOC.
Yogyakarta: Media Action Publishing.
Proverowati, Atika dan Cahyo Ismawati, 2015. BBLR Berat Badan Lahir
Rendah. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sutan, R., Mazlina, M., Aimi, N.M., Azmi, M.T. 2014. Determinant of Low Birth
Weight Infants: A Matched Case Control Study. Open Journal of Preventive
Medicine, [e-journal] 4 (3): pp. 91–99.
Verawati S. 2014. Faktor Risiko Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Wilayah
Kerja Puskesmas Singkawang Timur Dan Utara Kota Singkawang.
WHO. The United Nations Children’s Fund And World Health Organization.
Low Birth Weight Country, Regional And Global Estimates. New York:
WHO; 2014
LAMPIRAN
Lembar Konsul
Lembar Undangan
Formulir Pengajuan Ujian Karya Tulis Ilmiah
Formulir Bukti Penerimaan Naskah Karya Tulis Ilmiah
Formulir Bukti ACC
Formulir Penilaian
Berita Acara Penyerahan Revisi
FORMAT PENILAIAN UJIAN KARYA TULIS ILMIAH PROGRAM STUDI
D-3 KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS