Peningkatan Permeabilitas Metformin
Peningkatan Permeabilitas Metformin
Volume 17 Nomor 1 97
Ike Susanti
ikesusanti702@[Link]
Diserahkan 09/02/2019, diterima 17/02/2019
ABSTRAK
Uji disolusi merupakan suatu metode yang digunakan dalam pengembangan formulasi obat baru,
memantau kualiatas roduk obat, menilai dampak potensial dari perubahan pasca-persetujuan pada kasus
kinerja produk, memprediksi kinerja in vivo dari produk obat. Metformin ini merupakan zat aktif yang
termasuk kedalam BCS kelas III, kelarutan tinggi tetapi permeabilitas rendah. Review ini memaparkan
mengenai pengaruh medium disolusi dan upaya peningakatan permeabilitas metformin. Medium yang
menghasilkan nilai disolusi yang tinggi adalah medium buffer fosfat pH 6,8; buffer pH 7,4; HCl 0,1 N
+ SLS dan buffer asetat pH 4,2 + SLS. Dalam meningkatkan permeabilitas, β-siklodekstrin, Poloxamer-
407, ekstrak gokhru, piperin dapat digunakan dalam formulasi. Sediaan dalam bentuk liposom yang
dilapisi GP/CH microcomplexes dan teknologi spray drying dapat diterapkan.
Kata Kunci : Meformin, uji disolusi, BCS III, permeabilitas
ABSTRACT
Dissolution testing is a method used in the development of new drug formulations, monitoring the quality
of drug products, assessing the potential impact of post-approval changes in product performance cases,
predicting in vivo performance of drug products. Metformin is an active substance belonging to BCS
class III, high solubility but low permeability. This review describes the effect of dissolution medium
and efforts to increase metformin permeability. The medium that produces a high dissolution value is a
phosphate buffer pH 6.8; buffer pH 7.4; HCl 0.1 N + SLS and acetate buffer pH 4.2 + SLS. In increasing
permeability, β-cyclodextrin, Poloxamer-407, extract of gokhru, piperine can be used in formulations.
Preparations in the form of liposomes with GP/CH micro-complexes and spray drying technology can
be applied.
Keywords : Meformin, dissolution test, BCS III, permeability
kinerja produk, memprediksi kinerja in vivo signaling, keseimbangan energi tubuh dan
dari produk obat (Diaz et al, 2015). Uji disolusi metabolisme glukosa dan lemak (Mansour
adalah marker pengganti untuk uji bioekivalen dan Isbera, 2016).
karena merupakan pendekatan praktis dan
Dalam biopharmaceutical
ekonomis di negara berkembang dimana
classification system, metformin
teknologi dan sumber daya terbatas untuk
merupakan zat yang termasuk kedalam
penelitian in vivo. Dalam studi disolusi,
kelas III (kelarutan tinggi, permeabilitas
pelepasan bahan aktif farmasi (API) dari produk
rendah) (Chaundhari et al, 2016). Sebagian
obat di media disolusi yang sebanding dengan
cairan saluran cerna ditentukan. Berdasarkan besar obat-obatan yang tersedia termask dalam
ini, pelarutan secara in vitro mungkin dapat kelas III dari sistem klasifikasi biofarmasi
menilai kinerja penyerapan obat in vivo. (BCS), memiliki potensi terapeutik yang tinggi
Kecepatan disolusi dipengaruhi oleh beberapa tetapi tidak dapat secara efektif disampaikan
faktor diantaranya medium uji disolusi. melalui rute oral karena permeasinya yang
buruk di epitel gastrointestinal (Kumar dan
Bansal, 2014).
Tujuan dari review ini, untuk melihat
pengaruh medium uji disolusi dalam kecepatan
disolusi serta untuk melihat bagaimana cara
Gambar 1. Struktur Kimia Metformin meningkatkan permeabilitas dari metformin.
Hidroklorida (Sachan et al, 2016)
Metformin hidroklorida memiliki nama METODE
hydrochloride) yang bekerja untuk menurunkan publikasi 2010-1018. Literatur yang digunakan
absorpsi gula di usus, mengurangi produksi gula merupakan jurnal internasional. Pencarian
hati dan meningkatkan sensitivitas insulin. literatur dilakukan dengan cara mencari
Metformin merupakan first-line untuk oral langsung jurnal melalui website pencarian
hipoglikemik pada penderita diabetes melitus online. Penelusuran dilakukan dengan kata
tipe 2. Metformin merupakan pilihan untuk kunci “Dissolution test”, “factor effecting
HASIL
Tabel 1. Hasil Disolusi Metformin pada berbagai macam pH
Rata-Rata % Metformin Hidrokorida yang Larut Referensi
Produk 15
30 menit 45 menit 60 menit
menit
Tablet Khan, 2014
Buffer pH
Sustained - 28,65 - 33,58
7,4
Release
FDC 50 94 101 101 Desai et al,
2014
Dosis
64 93 99 99
tunggal
Osman et al,
Tablet 91,0 92,37 93,03 94,01
2017
Desai et al,
Buffer Tablet - 96 - -
2014b
kalium
Sachan et al,
fosfat pH Tablet 68,02 85,97 92,12 97, 05
2016
6,8
Tablet 56,6 88,6 - - Troja, 2016
Oyetunde et al,
Tablet 96,55 102,11 102,85 103,20
2012
Tablet Khan, 2014
Sustained - 8,96 - 16,06
Release
Buffer Desai et al,
kalium 2014b
Tablet - 98 - -
fosfat pH
6,8 + SLS
FDC 31 53 68 78 Desai et al,
Dosis 2014
Buffer 40 59 76 87
Tunggal
natrium
Oyetunde et
asetat pH Tablet 77,38 95,79 97,27 96,81
al, 2012
4,5
Desai et al,
Tablet - 60 - -
2014b
Buffer Desai et al,
Tablet - 89 - -
natrium 2014b
Farmaka
Volume 17 Nomor 1 100
single 2014
39 55 68 78
entity
0,1 N HCl
Oyetunde et
pH 1,2 Tablet 54,67 86,50 96,96 98,84
al, 2012
Desai et al,
Tablet - 61 - -
2014b
0,1 N Desai et al,
Tablet 98 - -
HCL 1,2 2014b
+ SLS Tablet 73,4 100,6 - - Troja, 2016
Disolusi atau “transfer massa” obat yang dilepaskan selama waktu tertentu
pergerakan partikel dari padatan menjadi proses disolusi telah berkembang ketika uji
larutan dimana partikel masuk kedalam pelarut disolusi dapat mengganitikan uji klinis in vivo
Farmaka
Volume 17 Nomor 1 101
utuk beberapa bahan aktif. Namun demikian, disolusi terbanding, persen kadar metformin
fungsi awal disolusi untuk mengkonfirmasi yang terlarut dalam waktu 15 menit hingga 1
kualitas dan kinerja untuk berbagai macam jam mengalami peningkatan.
obat. Uji disolusi ini vitro dijelaskan dalam Menurut penelitian Desai et al (2014a),
farmakope sebagai pelepasan obat pada satu Uji disolusi dilakukan dalam ketiga medium
atau lebih titik waktu dalam buffer (Stuart et al, tersebut. Hasil yang diperoleh menunjukkan
2015). bahwa nilai kelarutan metformin lebih baik
Medium yang digunakan dalam uji pada medium buffer pH 6,8. Berbeda dengan
disolusi adalah larutan asam klorida 0,1 N (pH penelitian Khan (2014), uji disolusi metformin
1,2), buffer natrium asetat pH 4,5 dan buffer hidroklorida sustained release dilakukan pada
kalium fosfat pH 6,8. Dalam uji disolusi sediaan pH 2,4; 6,8 dan 7,4. Nilai disolusi tertinggi
metformin, dilakukan dengan menggunakan terdapat pada pH 7,4 dapat dilihat pada Gambar
medium buffer kalium fosfat pH 6,8. Pada 2.
penelitian Osman et al (2017) mengenai uji
% Obat terlarut
Waktu (jam)
Gambar 2. Data Disolusi tablet metformin pada pH yang berbeda (Khan, 2014)
Pada pH slurry metformin hidroklorida menurunkan laju disolusi pada garam
pada suhu 25°C, terjadi pergeseran dari 1,2 hidroklorida (Desai et al, 2014a). Pada pH asam
menjadi 4,2 pada 0,1 N HCl dan 4,5 menjadi metformin terjadi protonasi sehingga
5,1 pada pH 4,5 dalam buffer asetat karena self- menghasilkan solvasi yang lebih tinggi dan
bufering sedangkan pada pH 6,8 tidak terjadi radius termodinamik yang lebih besar,
perubahaan pH. Pada saat uji disolusi, tidak mengakibatkan difusi dan disolusi yang lebih
terjadi pergeseran pH karena konsentrasi lambat (Desai et al, 2014b). Selain dari dua
metformin hidroklorida yang rendah. penelitian diatas, Desai et al (2014b)
Rendahnya disolusi garam hidrokorida pada menyimpulkan bahwa pada pH 6,8 laju disolusi
medium HCl 0,1 N dikarenakan dengan adanya intrinsik tertinggi dibandingkan pH lainnya
efek common ion. Adanya ion klorida dapat dengan laju 31,2 mg/min/cm2.
Farmaka
Volume 17 Nomor 1 102
Surfaktan termasuk dalam media tinggi dan fraksi yang terserap kadang-kadang
disolusi untuk meningkatkan pembasahan obat- dibatasi oleh permeabilitasmya (Parr et al,
obatan yang sulit larut untuk meningkatkan 2016). Maka dari itu perlu adanya usaha untuk
kelarutannya. Ketika partikel hidrofobik meningkatkan permeabilitas pada mukosa
bersentuhan dengan medium disolusi, mereka intestinal untuk meningkatkan bioavailabilitas
akan membentuk agregat karena tegangan antar obat. Upaya yang dapat dilakukan untuk
muka yang tinggi antara medium dan partikel, meningkatkan permeabilitas metformin yaitu
menurunkan luas permukaan dan menurunkan dengan mengubah formulasi dari suatu sediaan.
kelarutan. Namun, agen pembasahan seperti β-cyclodextrin
natrium lauril sulfat (SLS) mengurangi
Metformin merupakan obat yang
tegangan antar muka dan meningkatkan
termasuk dalam klasifikasi BCS kelas III
pembasahan, menyebabkan peningkatan
dengan permeabilitass rendah. Dalam upaya
disolusi. Dengan adanya konsentrasi SLS
meningkatkan permeabilitas metformin,
0,01% dalam medium disolusi 0,1 N HCl pH
pembentukan solid dispersi menggunakan β-
1,2 dan buffer asetat pH 4,5 dapat
siklodekstrin. Dalam β-siklodekstrin inklusi
meningkatkan secara signifikan. Kadar
kompleks obat dalam larutan hanya bentuk
metformin yang terlarut dalam waktu 30 menit
bebas dari obat, yang dalam kesetimbangan,
dalam medium disolusi 0,1 N HCl pH 1,2 dan
mampu menembus hambatan lipofilik dan
buffer asetat pH 4,5 secara berturut-turut adalah
dengan demikian memasuki sirkulasi
61 dan 62%. Sedangkan setelah dilakukan
sistematis. Cyclodextrin meningkatkan
penambahan surfaktan 0,01% kadar disolusi
permeabilitas obat mukosa terutama dengan
meningkat menjadi 89% untuk kedua metode.
meningkatkan ketersediaan obat bebas di
Tetapi pada medium buffer fosfat pH 6,8
permukaan absortif (Chaudhari et al, 2016).
penambahan SLS tidak berpengaruh (Desai et
Dalam Chaudhari et al (2016) Permeabilitas
al, 2014b). Pada penelitian Troja (2014), hasil
metformin meningkat dari 7,3904 x 10-5 cm/sec
disolusi pada medium 0,1 N HCl dengan
menjadi 15,3598 x 10-5 cm/sec dengan
penambahan SLS 0,1% memiliki nilai disolusi
formulasi β-cyclodextrin dan metformin (1:1).
yang tinggi dibandingkan dengan pada medium
Dalam penelitian Ashok dan
buffer fosfat pH 6,8.
Wahid (2015), siklodekstrin mampu
Upaya dalam meningkatkan meningkatkan permeabilitas dari suatu sediaan
permeabilitas metformin. Metode yang dilakukan dalam
Metformin merupakan zat yang formulasi ini yaitu menggunakan teknologi
termasuk dalam biopharmaceutical spray drying untuk meningkatkan sifat alir dari
classification system (BCS) kelas III metformin dalam polimer. Massa siklodektrin
(Chaudhari et al, 2016). BCS kelas III memiliki yang ditambahkan dalam formulasi F-4, F-5, F-
permeabilitas yang rendah dan kelarutan yang 6 secara berturut-turut adalah adalah 50, 100
Farmaka
Volume 17 Nomor 1 103
dan 150 mg. Permeabilitas tertinggi yaitu pada mukoadhesif digunakan untuk melindungi dan
F-6 dengan massa siklodektrin 150 mg. Jika menstablikan liposom dengan cara melapisi
dibandingkan dengan formulasi tablet (coating) (Manconi et al, 2010). Salah satu
menggunakan polimer lain seperti chitosan dan polimes yang digunakan adalah kitosan yang
natrium salisilat dengan massa yang sama, terbukti memiliki sifat mukoadhesif yang baik
permeabilitas metformin menggunakan polimer dalam bentuk terhidrasi. Selain itu, kitosan
siklodektrin lebih tinggi dibandingkan dengan berhasil digunakan untuk melapisi formulasi
polimer lainnya (Ashok dan Wahid, 2015). liposom (Manca et al, 2012). Modifikasi
pada permeabilitas pada epitel usus. Salah satu meningkatkan permeabilitasnya. Dalam
natural enhancer yang digunakan dalam penelitiannya, studi permeasi obat dilakukan
meningkatkan absorpsi gastrointestinal dengan metode everted sac dan digunakan usus
metformin adalah ekstrak gokhru fruit (Tribulus ayam sebagai model dalam studi permeabilitas.
terrestris Linn). Dalam penelitian Kumar dan Permeabilitas metformin meningkat dengan
Bansal (2014), ekstrak gokhru fruit memiliki meningkatnya konsentrasi ekstrak dalam suatu
peranan penting dalam formulasi untuk formulasi tablet dapat dilihat pada Gambar 3.
% Obat berpermeasi
Konsentrasi Gokhru
(mg)
Gambar 3. Hubungan % permeabilitas obat dengan konsentrasi ekstrak gokhru (Kumar dan Bansal,
2014).
Selain menggunakan ekstrak gokhru, emulsi) secara terus menerus dibagi menjadi
natural enhancer yang digunakan dalam tetesan yang sangat halus (prosses ini dikenal
meningkatkan permeabilitas metformin adalah sebagai atominsasi) ke dalam drying chamber.
piperin. Dalam penelitian Rai et al (2014), Ketika droplet berada dalam drying chamber,
piperin digunakan dalam formulasi sediaan pelarut akan menguap dan akan membentuk
metformin sustained release. Dalam formulasi partikel yang kering, yang dipisahkan dari gas
tanpa menggunakan piperin, 50 mg metformin pengering menggunakan siklon atau bag-filter
terserap secara akumulatif dalam waktu 2 jam. (Ashok dan Wahid, 2015).
Pada formulasi yang mengandung piperin 6% Metformin hasil spray-dried akan
(b/b), permeabilitas metformin meningkat mengalami penurunan ukuran dan berubah
sebesar 24,49%. menjadi bentuk hampir bulat. Bentuk bulat dari