Menghitung Titik Impas (Break Even Point) Usaha Makanan
Internasional (Spaghetti)
1. Pengertian Titik Impas (Break Even Point)
Break even point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu kegiatan usaha, seorang
wirausahawan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya). Sebelum
memproduksi suatu produk, seorang wirausahawan terlebih dulu merencanakan seberapa besar
laba yang diinginkan dan ketika menjalankan usaha tentunya akan mengeluarkan biaya
produksi. Hal tersebut dikarenakan biaya produksi sangat berpengaruh terhadap harga jual dan
begitu pula sebaliknya, sehingga dengan penentuan titik impas tersebut dapat diketahui jumlah
barang dan harga yang pada penjualan. Dengan analisis titik impas dapat ditetapkan penjualan
dengan harga yang bersaing tanpa melupakan laba yang diinginkan. Selanjutnya, dengan
adanya analisis titik impas tersebut akan sangat membantu wirausahawan dalam perencanaan
keuangan, penjualan dan produksi, sehingga wirausahawan dapat mengambil keputusan untuk
meminimalkan kerugian, memaksimalkan keuntungan, dan melakukan prediksi keuntungan yang
diharapkan melalui penentuan harga jual persatuan, produksi minimal, pendesainan produk, dan
lainnya.
Dalam penentuan titik impas perlu diketahui terlebih dulu hal-hal dibawah ini agar titik impas
dapat ditentukan dengan tepat, yaitu:
a. Tingkat laba yang ingin dicapai dalam suatu periode.
b. Kapasitas produksi yang tersedia, atau yang mungkin dapat ditingkatkan.
c. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan, mencakup biaya tetap maupun biaya variabel.
2. Strategi Menetapkan Harga Jual Makanan Internasional.
Menentukan harga jual produk yang pas perlu mendapat perhatikan yang serius dalam memulai
usaha makanan internasional. Jika harga yang ditetapkan terlalu mahal, keuntungan banyak tapi
konsumen sedikit, demikan pula jika sebaliknya. Untuk itu, para wirausahawan makanan
internasionalharus jeli dalam menetapkan harga jual. Perlu strategi yang jitu dalam menentukan
harga jual. Ada beberapa strategi dalam menentukan harga sehingga harga yang ditawarkan
masuk di akal para pembeli yaitu :
a. Menentukan Harga Jual Berdasarkan Biaya Produksi.
Cara ini sangat mudah dan paling disenangi oleh para wirausahawan makanan internasional.
Caranya hanya dengan menghitung berapa total biaya yang dikeluarkan ditambahkan dengan
margin keuntungan yang diinginkan, maka itulah harga jual produk tersebut. Contoh, misalkan
total biaya produksi adalah Rp 20.000,-. Kemudian ditambah dengan margin keuntungan yang
diinginkan misalnya sekitar 20%, maka harga jual produk tersebut Rp 20.000 + (Rp 20.000 x
20%) = Rp 24.000,-
b. Menentukan Harga Jual Berdasarkan Kompetisi.
Cara kedua ini biasa dipakai oleh wirausahawan yang baru mau memulai usaha. Cara ini
dilakukan dengan membandingkan harga jual kompetitor sebelum memutuskan untuk
menetapkan harga jual produknya. Biasanya harga jual produk baru lebih murah dari produk
sejenis yang telah ada sebelumnya. Meski lebih murah, biasanya tetap mendapat keuntungan.
Bedanya, margin keuntungan yang didapat lebih sedikit dibanding kompetitor. Pada beberapa
kasus, ada juga wirausahawan yang berani rugi saat menerapkan strategi harga jual berdasar
kompetisi ini. Namun jika modal yang kita miliki paspasan jangan pernah menerapkan strategi
ini. Karena, tentu saja usaha akan merugi jika menerapkan ini strategi kompetisi. Berbeda halnya
jika modal yang dimiliki cukup besar. Tak menjadi masalah jika berprinsip rugi di awal usaha,
karena selanjutnya bisa untung terus.
c. Menentukan Harga Jual Berdasar Tujuan Khusus.
Strategi terakhir, dengan menggunakan pendekatan tujuan khusus. Yakni, tujuan apa yang ingin
dicapai dari harga jual tersebut. Apakah sekedar meningkatkan jumlah penjualan, atau
mendongkrak image produk, atau karena hal lain.
3. Menghitung BEP Makanan Internasional.
BEP digunakan untuk mengetahui jangka waktu pengembalian modal atau investasi suatu
kegiatan usaha atau sebagai penentu batas pengembalian modal. Produksi minimal suatu
kegiatan usaha harus menghasilkan atau menjual produknya agar tidak menderita kerugian.
BEP adalah suatu keadaan dimana usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian.
Analisa BEP merupakan alat analisis untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume
produksi suatu usaha untuk mencapai nilai impas yang artinya suatu usaha tersebut tidak
mengalami keuntungan ataupun kerugian. Suatu usaha dikatakan layak, jika nilai BEP produksi
lebih besar dari jumlah unit yang sedang diproduksi saat ini dan BEP harga harus lebih rendah
daripada harga yang berlaku saat ini, dimana BEP produksi dan BEP harga dapat dihitung
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Jika biaya produksi yang dikeluarkan untuk pembuatan produk makanan internasional sebesar
Rp 190.700,-/paket, sedangkan total produksi menghasilkan 120 bungkus per paket, dan jika
harga produk makanan internasional dihargai Rp. 5000 per bungkus maka: