0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan7 halaman

Analisis Resiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan klien dengan resiko bunuh diri. Secara garis besar dibahas tentang definisi bunuh diri, faktor-faktor yang berhubungan dengan resiko bunuh diri seperti faktor predisposisi, presipitasi, dan respon neurobiologis. Selanjutnya dibahas pohon masalah dan masalah keperawatan serta diagnosa dan rencana tindakan keperawatan untuk menangani resiko bunuh diri.

Diunggah oleh

Ulfa Puspita Sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan7 halaman

Analisis Resiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan klien dengan resiko bunuh diri. Secara garis besar dibahas tentang definisi bunuh diri, faktor-faktor yang berhubungan dengan resiko bunuh diri seperti faktor predisposisi, presipitasi, dan respon neurobiologis. Selanjutnya dibahas pohon masalah dan masalah keperawatan serta diagnosa dan rencana tindakan keperawatan untuk menangani resiko bunuh diri.

Diunggah oleh

Ulfa Puspita Sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RESIKO BUNUH DIRI

DISUSUN OLEH
DEWI ARIFA SATRIANA
18170100066

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
JAKARTA
2018

1
LAPORAN PENDAHULUAN
KLIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

I. Kasus ( Masalah Utama)


Resiko Bunuh Diri
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terakhir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi ( Keliat,1991)
Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri (Stuart & Laraia,1998).

II. Proses Terjadinya Masalah


a. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart & Sundeen (1998) adalah faktor diagnose psikiatrik ( lebih dari 90%
orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, tiga gangguan jiwa yang
dapat membuat individu beresiko untuk bunuh diri yaitu gangguan afektif,
penyalahgunaan dan skizofrenia) ; faktor sifat kepribadian (tiga aspek kepribadian
yang berkaitan erat dengan besarnya resiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan,
impulsif, dan depresi ), faktor lingkungan psikososial (baru mengalami kehilangan,
perpisahan atau perceraian, kehilangan yang didini, dan berkurangnya dukungan
sosial merupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri), faktor riwayat
keluarga (riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
penting untuk perilaku destruktif) dan faktor biokimia (data menunjukkan bahwa
secara serotogenik, opiatergik, dan dopaminergik menjadi media proses yang dapat
menimbulkan perilaku destruktif).

b. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor presipitasi bunuh diri terdiri dari keputusasaan, jenis kelamin laki –
laki, usia lebih tua, hidup sendiri, psikosis, penyalahgunaan zat. Perilaku bunuh diri
dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami individu. Pencetusnya sering
kali berupa kejadian kehidupan yang memalukan, seperti masalah interpersonal,
dipermalukan didepan umum, kehilangan pekerjaan, atau ancaman pengurungan.
Selain itu, mengetahui seseorang yang telah mencoba atau melakukan bunuh diri atau
membaca melalui media dapat juga membuat individu makin rentan untuk melakukan
perilaku destruktif diri.
2
c. Rentang Respon Neurobiologis
Respon Adaptif Respon Maladaptif

Peningkatan Beresiko Destruktif diri Pencederaan Bunuh


Diri destruktif tak langsung diri diri

1. Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap
situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap
pimpinan ditempat kerjanya.

2. Beresiko destruktif
Seorang memiliki kecendrungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif atau
menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan
diri, seperti seseorang yang patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak
loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.

3. Destruktif diri tak langsung


Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi
yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya karena
pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan
menjadi tak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.

4. Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat
hilangnya harapan situasi yang ada.

5. Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai nyawanya hilang.
Perilaku bunuh diri menurut Stuart & Sudden (1995) dibagi menjadi 3
kategori :

3
a. Upaya bunuh diri (Suicide attempt)
Yaitu sengaja melakukan kegiatan menuju bunuh diri dan bila kegiatan sampai
tuntas akan menyebabkan kematian. Kondisi ini terjadi setelah tanda peringatan
terlewatkan atau diabaikan.
b. Isyarat bunuh diri (suicide gesture)
Yaitu bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang
lain.
c. Ancaman bunuh diri (suicide threat)
Yaitu suatu peringatan baik secara langsung atau tidak langsung verbal atau non
verbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh diri. Orang tersebut
mungkin menunjukkan secara verbal bahwa dia tidak akan ada disekitar kita lagi,
atau juga mengungkapkan secara non verbal berupa pemberian hadiah, wasiat dan
sebagainya.

d. Mekanisme Koping
Mekanisme koping dapat berupa denial, rasionalization, regression, dan magical
thinking. Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa
memberikan koping alternative. Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan
mekanisme koping, bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan koping dan
mekanisme adaptif pada diri seseorang.

[Link] Masalah dan Masalah Keperawatan


a. Pohon Masalah
Resiko Bunuh Diri

Harga diri rendah

Keputusasaan

b. Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji


Resiko Bunuh Diri
Data Subyektif :
 Mengatakan hidupnya tidak berguna lagi
 Mengatakan putus asa dengan penyakit yang dialami

4
 Mengatakan ingin mati
 Menyatakan pernah mencoba bunuh diri
 Mengatakan ada yang menyuruh bunuh diri
 Mengatakan lebih baik mati saja, mengatakan sudah bosan hidup
 Klien mengatakan hal – hal negatif terhadap dirinya

Data Obyektif :
 Ekspresi murung
 Tak bergairah
 Ada bekas percobaan bunuh diri
 Perubahan kebisaaan hidup
 Perubahan perangai
 Agitasi dan gelisah
 Insomnia yang menetap
 Kelainan afektif
 Dimensia diri / status kekacauan mental pada lansia.

IV. Diagnosa Keperawatan


Resiko Bunuh diri

V. Rencana Tindakan Keperawatan


Tujuan Intervensi Rasional
Pasien tidak melakukan Pindahkan benda yang Prioritaskan tertinggi diberikan pada
aktivitas yang mencederai membahayakan aktivitas penyelamatan hidup pasien
Observasi dengan ketat Perilaku pasien harus diawasi
dirinya
sampai kendali diri memadai untuk
keamanan
Siapkan lingkungan Memberikan kenyamanan pada
yang aman pasien
Pasien dapat Identifikasi kekuatan Perilaku bunuh diri mencerminkan
mengidentifikasi aspek pasien depresi yang mendasar dan terkait
positif pada dirinya dengan harga diri rendah serta
kemarahan terhadap diri sendiri
Ajak pasien untuk Dijadikan sebagai salah satu cara
berperan serta dalam mengendalikan perilaku ingin

5
aktivitas yang disukai bunuh diri
dan dapat dilakukannya
Pasien akan Bantu pasien mengenal Mekanisme koping maladaptive
mengimplementasikan mekanisme koping yang harus diganti dengan mekanisme
respons protektif diri yang tidak adaptif koping yang sehat untuk mengatasi
adaptif stress dan ansietas
Identifikasi alternatif Untuk menumbuhkan dan
cara koping meningkatkan mekanisme koping
pasien
Pasien akan Bantu orang terdekat Isolasi sosial menyebabkan harga
mengidentifikasi sumber untuk berkomunikasi diri rendah dan depresi,
dukungan sosial yang secara konstruktif mencetuskan perilaku destruktif-diri
bermanfaat dengan pasien
Tingkatkan hubungan Meningkatkan kepercayaan diri
keluarga yang sehat pasien dan mencegah perilaku
destruktif diri
Pasien akan mampu Libatkan pasien dan Pemahaman dan peran serta dalam
menjelaskan rencana orang terdekat dalam perencanaan pelayanan kesehatan
pengobatan dan perencanaan asuhan meningkatkan kepatuhan
Jelaskan karakteristik Pemahaman dalam proses
rasionalnya
dari kebutuhan perawatan dan pengobatan
pelayanan kesehatan meningkatkan kepatuhan dan
yang telah mendukung proses penyembuhan
diidentifikasi,
kebutuhan asuhan
keperawatan, diagnosis
medis, pengobatan, dan
medikasi yang
direkomendasikan

VI. Sumber :

Carpenito, L. J, 1997, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis, Jakarta ; EGC
Kelliat, B.A, 1998, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta ; EGC
Stuart & Sundeen, , 1998, Buku saku Kesehatan Jiwa, Edisi 3, Jakarta,\ ; EGC
6
Towsend Mary, C, 1998, Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri, Edisi 3, Jakarta
; EGC.

Anda mungkin juga menyukai