Ir.
Soekarno (1945-1966)
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno,
lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya
bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya,
beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai
anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai
Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli
Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..
Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar.
Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said
Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di
HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa
nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS
(Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia
berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.
Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai
Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda,
memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan
kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau
menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.
Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun
dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan
sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende,
Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta
memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal
1 Juni 1945, [Link] mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya
Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945
[Link] terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi
dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan
nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan
Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian
berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan
penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto
sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni
1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan
dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah
menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”
Presiden Kedua, Soeharto (1966-1998)
Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk,
Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga
sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.
Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula
disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran
ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak
Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik
perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.
Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa
Tengah pada tahun 1941. Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada
tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran.
Perkimpoian Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember
1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai
enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti
Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.
Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir
militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara
KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan
komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.
Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota
Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal
Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala (pembebasan
Irian Barat).
Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan
Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai
Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima
Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan
ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.
Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang
Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan
selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa
lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.
Presiden RI Kedua HM Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari
2008. Jenderal Besar yang oleh MPR dianugerahi penghormatan sebagai Bapak
Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari
(sejak 4 sampai 27 Januari 2008) di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta.
Berita wafatnya Pak Harto pertama kali diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru,
Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Kemudian secara resmi Tim Dokter
Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB
Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ.
Kemudian sekira pukul 14.40, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari
RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta. Ambulan yang
mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta
pengawal. Sejumlah wartawan merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu
bergerak menuju Jalan Cendana, mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak.
Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut
kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Isak tangis warga pecah
begitu rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki
Jalan Cendana, sekira pukul 14.55, Minggu (27/1).
Seementara itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden
Jusuf Kalla dan sejumlah menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang
ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di
Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1). Presiden menyampaikan belasungkawa yang
mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI Kedua Haji Muhammad Soeharto.
Presiden Ketiga, Habibie (1998-1999)
Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare,
Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan
bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie
yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua
orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.
Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi
Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak.
Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda ini, harus kehilangan bapaknya yang
meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung. Tak lama setelah
bapaknya meninggal, Habibie pindah ke Bandung untuk menuntut ilmu di Gouvernments
Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam
pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.
Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di
Bandung (Sekarang ITB). Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule,
Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gekar Doktor dari tempat yang sama tahun
1965. Habibie menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, menjadi
Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.
Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum
namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan
bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu
menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih
gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu
bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi
panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.
Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT,
memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI,
dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto.
Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945.
Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih
merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi
warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.
Presiden Keempat, Abdurrahman Wahid (1999-2001)
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar
Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan
“darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri
jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri
Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren
Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh
NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan
demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa
Indonesia.
Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya
diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke
Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para
tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya,
terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman
tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur
juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering
mangkal di rumahnya.
Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan
mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab
terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke
daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang
pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa
diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh
tersendiri dalam kehidupannya.
Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin
memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung
keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan
berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang
dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi
wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. Di
samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan
demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di
televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop.
Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya
mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.
Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua
tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur
tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di
Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya,
yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkimpoiannya dilaksanakan ketika ia berada di
Mesir.
Presiden Keenam, Soesilo Bambang Yudhoyono (2004-
2014)
Ini dia Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden RI ke-6. Berbeda
dengan presiden sebelumnya, beliau merupakan presiden pertama yang dipilih secara
langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004. Lulusan
terbaik AKABRI (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September
1949. Istrinya bernama Kristiani Herawati, merupakan putri ketiga almarhum Jenderal (Purn)
Sarwo Edhi Wibowo.
Pensiunan jenderal berbintang empat ini adalah anak tunggal dari pasangan R.
Soekotjo dan Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai
Letnan Satu. Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang pendiri Ponpes Tremas.
Beliau dikaruniai dua orang putra yakni Agus Harimurti Yudhoyono (mengikuti dan
menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun 2000 dengan meraih penghargaan
Bintang Adhi Makayasa) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lulusan terbaik SMA Taruna
Nusantara, Magelang yang kemudian menekuni ilmu ekonomi).
Pendidikan SR adalah pijakan masa depan paling menentukan dalam diri SBY. Ketika
duduk di bangku kelas lima, beliau untuk pertamakali kenal dan akrab dengan nama Akademi
Militer Nasional (AMN), Magelang, Jawa Tengah. Di kemudian hari AMN berubah nama
menjadi Akabri. SBY masuk SMP Negeri Pacitan, terletak di selatan alun-alun. Ini adalah
sekolah idola bagi anak-anak Kota Pacitan. Mewarisi sikap ayahnya yang berdisiplin keras,
SBY berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk
Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA akhir tahun
1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, SBY tidak langsung masuk Akabri. Maka SBY
pun sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November Surabaya (ITS).
Namun kemudian, SBY justru memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan
Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Sewaktu belajar di PGSLP Malang itu, beliau
mempersiapkan diri untuk masuk Akabri. Tahun 1970, akhirnya masuk Akabri di Magelang,
Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung. SBY satu angkatan dengan
Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa pendidikan,
SBY yang mendapat julukan Jerapah, sangat menonjol. Terbukti, belaiu meraih predikat
lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya.
Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course di Fort Benning,
Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-
1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank
Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung
(1985), Seskoad di Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort
Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster University AS.
Perjalanan karier militernya, dimulai dengan memangku jabatan sebagai Dan Tonpan Yonif
Linud 330 Kostrad (Komandan Peleton III di Kompi Senapan A, Batalyon Infantri Lintas
Udara 330/Tri Dharma, Kostrad) tahun 1974-1976, membawahi langsung sekitar 30 prajurit.
Batalyon Linud 330 merupakan salah satu dari tiga batalyon di Brigade Infantri Lintas
Udara 17 Kujang I/Kostrad, yang memiliki nama harum dalam berbagai operasi militer.
Ketiga batalyon itu ialah Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Batalyon Infantri
Lintas Udara 328/Dirgahayu, dan Batalyon Infantri Lintas Udara 305/Tengkorak. Kefasihan
berbahasa Inggris, membuatnya terpilih mengikuti pendidikan lintas udara (airborne) dan
pendidikan pasukan komando (ranger) di Pusat Pendidikan Angkatan Darat Amerika Serikat,
Ford Benning, Georgia, 1975. Kemudian sekembali ke tanah air, SBY memangku jabatan
Komandan Peleton II Kompi A Batalyon Linud 305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305
Kostrad) tahun 1976-1977. Beliau pun memimpin Pleton ini bertempur di Timor Timur.
Sepulang dari Timor Timur, SBY menjadi Komandan Peleton Mortir 81 Yonif Linud
330 Kostrad (1977). Setelah itu, beliau ditempatkan sebagai Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17
Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), dan Paban
Muda Sops SUAD (1981-1982). Ketika bertugas di Mabes TNI-AD, itu SBY kembali
mendapat kesempatan sekolah ke Amerika Serikat. Dari tahun 1982 hingga 1983, beliau
mengikuti Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983 sekaligus
praktek kerja-On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983.
Kemudian mengikuti Jungle Warfare School, Panama, 1983 dan Antitank Weapon Course di
Belgia dan Jerman, 1984, serta Kursus Komando Batalyon, 1985. Pada saat bersamaan SBY
menjabat Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
Lalu beliau dipercaya menjabat Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988) dan
Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988), sebelum mengikuti pendidikan di Sekolah
Staf dan Komando TNI-AD (Seskoad) di Bandung dan keluar sebagai lulusan terbaik
Seskoad 1989. SBY pun sempat menjadi Dosen Seskoad (1989-1992), dan ditempatkan di
Dinas Penerangan TNI-AD (Dispenad) dengan tugas antara lain membuat naskah pidato
KSAD Jenderal Edi Sudradjat. Lalu ketika Edi Sudradjat menjabat Panglima ABRI, beliau
ditarik ke Mabes ABRI untuk menjadi Koordinator Staf Pribadi (Korspri) Pangab Jenderal
Edi Sudradjat (1993).
Lalu, beliau kembali bertugas di satuan tempur, diangkat menjadi Komandan Brigade
Infantri Lintas Udara (Dan Brigif Linud) 17 Kujang I/Kostrad (1993-1994) bersama dengan
Letkol Riyamizard Ryacudu. Kemudian menjabat Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan
Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995). Tak lama kemudian, SBY dipercaya
bertugas ke Bosnia Herzegovina untuk menjadi perwira PBB (1995). Beliau menjabat sebagai
Kepala Pengamat Militer PBB (Chief Military Observer United Nation Protection Force)
yang bertugas mengawasi genjatan senjata di bekas negara Yugoslavia berdasarkan
kesepakatan Dayton, AS antara Serbia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina. Setelah kembali
dari Bosnia, beliau diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Jaya (1996). Kemudian menjabat
Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda dan Ketua Fraksi ABRI
MPR (Sidang Istimewa MPR 1998) sebelum menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI
(1998-1999).
Sementara, langkah karir politiknya dimulai tanggal 27 Januari 2000, saat
memutuskan untuk pensiun lebih dini dari militer ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri
Pertambangan dan Energi pada pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Tak lama
kemudian, SBY pun terpaksa meninggalkan posisinya sebagai Mentamben karena Gus Dur
memintanya menjabat Menkopolsoskam. Pada tanggal 10 Agustus 2001, Presiden Megawati
mempercayai dan melantiknya menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong-Royong. Tetapi pada
11 Maret 2004, beliau memilih mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Langkah
pengunduran diri ini membuatnya lebih leluasa menjalankan hak politik yang akan
mengantarkannya ke kursi puncak kepemimpinan nasional. Dan akhirnya, pada pemilu
Presiden langsung putaran kedua 20 September 2004, SBY yang berpasangan dengan Jusuf
Kalla meraih kepercayaan mayoritas rakyat Indonesia dengan perolehan suara di attas 60
persen. Dan pada tanggal 20 Oktober 2004 beliau dilantik menjadi Presiden RI ke-6.
Presiden Ketujuh, Joko Widodo (2015-2019)
‘Pemimpin sederhana,bersih, dan merakyat’ itulah hal yang banyak melekat pada sosok presiden
Indonesia, Ir. H. Joko Widodo atau kerap disapa Jokowi.
Ketika ia terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia ketujuh, namanya kemudian
banyak menjadi perbincangan masyarakat hingga media asing pun ramai memberitakannya,
banyak orang kemudian yang ingin mengetahui profil, biodata serta biografi dari Jokowi,
bagaimana kisah hidupnya hingga ia menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Biografi Jokowi
Terlebih dahulu untuk mengetahui perjalanan hidup Jokowi kita harus kembali ke
masa kecil Joko Widodo atau Jokowi, dimana ia termasuk seorang anak yang berasal dari
keluarga sederhana.
Jokowi lahir dengan nama lengkap Joko Widodo. Ia lahir di Surakarta, 21 Juni 1961.
Ia merupakan Putera dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudhiatmi dan anak sulung dari empat
bersaudara.
Ia satu-satunya anak laki-laki, adiknya semua adalah perempuan. Sebenarnya, ia juga
memiliki adik laki-laki namun meninggal ketika ibunya sedang bersalin. Nama kecil dari
Jokowi ialah Mulyono.
Masa Kecil
Berasal dari keluarga sederhana menyebabkan Jokowi merasakan hidup yang sulit dan
keras, sejak ia mulai bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 111 Tirtoyoso, menjadi seorang kuli
panggul, ojek payung dan berdagang sudah ia lakoni sejak kecil hanya untuk membiayai
kebutuhan sekolahnya hingga makan sehari-hari.
Disaat teman-temannya yang lain bersekolah, ia lebih memilih untuk berjalan kaki.
Kepandaiannya sebagai tukang kayu didapatnya dari ayahnya yaitu Noto Mihardjo, ketika
Jokowi berusia 12 tahun ia sudah bekerja sebagai tukang gergaji.
Di masa itulah ia merasakan pahitnya penggusuran sebab rumahnya tiga kali terkena
penggusuran, dari situ cara berpikirnya tentang kepemimpinan dibentuk, ia tahu apa yang
harus ia lakukan ketika ia harus menertibkan pemukiman warganya ketika ia menjadi
Walikota Solo dan Gubernur Jakarta.
Lulus sekolah Dasar, ia kemudian masuk di SMP Negeri 1 Surakarta kemudian lulus
dari sana ia melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri 6 Surakarta.
Masuk di UGM
Selepas tamat dari SMA, ia kemudian mencoba kuliah di perguruan tinggi, ia
kemudian diterima di jurusan Kehutanan di Universitas Gajah Mada.
Disana ia belajar sangat giat mengenai kayu, teknologi pengolahannya serta
pemanfaatnnya hingga ia kemudian banyak dikenal sebagai Juragan Mebel.
Jokowi menyelesaikan kuliahnya tahun 1985, ia kemudian menikah dengan Iriana
Jokowi pada tanggal 24 Desember 1986 di Solo yang kemudian memberinya tiga orang anak
bernama Gibran Rakabuming, Kaesang Pangarep dan Kahiyang Ayu.
Jokowi kemudian pada tahun itu juga ia mulai bekerja di Perusahaan Kertas BUMN
bernama PT. Kraft Aceh, namun disana ia merasa tidak betah sehingga memilih
mengundurkan diri dan mencoba untuk berbisnis kayu di Solo sembari menunggu kelahiran
anak pertamanya.
Memulai Usaha Berbisnis Mebel
Di Solo, yang pertama yang ia lakukan adalah bekerja di perusahaan milik pamannya,
di CV Roda Jati, kemudian setelah banyak pengalaman yang ia dapat, ia kemudian
memberanikan diri untuk membuka usaha kayu sendiri dengan membuat badan usaha
bernama CV. Rakabu pada tahun 1988 di bidang mebel kayu, nama badan usahanya
terinspirasi dari nama Anak pertamanya yaitu Gibran Rakabuming.
Bisnis kayu Jokowi dibawah naungan CV. Rakabu mengalami pasang surut bahkan
hampir kolaps atau bangkrut namun pada tahun 1990 berkat suntikan pinjaman sebesar 30
juta rupiah dari ibunya, Jokowi kemudian mencoba bangkit kembali.
Mengapa di panggil ‘Jokowi’ ?
Dari usaha kayunya itulah yang kemudian ia dikenal dengan nama sapaan ‘Jokowi’,
nama Jokowi diberikan oleh pelanggannya yaitu Mikl Romaknan yang merupakan pria
berkebangsaan Jerman.
Nama Joko Widodo terkesan sulit diucapkan oleh Mikl Romaknan hingga ia
kemudian menyingkat menjadi ‘Jokowi’ saja hingga kemudian Joko Widodo terkenal dengan
sapaan Jokowi sampai sekarang ini.
Dan berkat Mikl Romaknan ia kemudian banyak menerima orderan mebel dari luar
negeri selain kejujuran dan kerja kerasnya dalam usaha kayu.
Jokowi Terjun di Dunia Politik
Inspirasi mengenai kepemimpinan yang baik serta tata kota yang bersih serta rapi
didapatnya dari hasil jalan-jalannya ke luar negeri berkeliling Eropa ketika ia berbisnis
mebel.
Walikota Solo
Kemudian tahun 2005, ia dicalonkan menjadi calon Walikota Solo oleh Partai
Kebangkitan Bangsa dan PDI Perjuangan meskipun ia tidak memiliki pengalaman politik
yang cukup, ia berhasil keluar sebagai pemenang dan menjadi walikota Solo.
Kemenangan Jokowi sebagai Walikota Solo menjadi pijakan awal Jokowi menuju
kursi Presiden Indonesia. Kepemimpinan serta gebrakannya sebagai Walikota Solo banyak
mengubah wajah kota Solo sebagai ‘Spirit Of Java‘, ia juga dikenal sebagai pemimpin
‘blusukan’ yaitu sering berkeliling melihat langsung keadaan kotanya.
Kota Solo menjadi kota yang nyaman, penataan kota, relokasi pedagang tanpa
menimbulkan kerusuhan, serta membuat Solo menjadi sebagai kota tuan rumah di acara
Internasional adalah sebagian kecil dari prestasi Jokowi.
Terbukti pula ia berhasil sekali lagi menjadi walikota solo pada pilkada selanjutnya di
tahun 2010. Dan dari situlah ia kemudian mulai dikenal rakyat karena kesederhanaannya
serta prestasi yang ditorehkannya.
Gubernur DKI Jakarta
Keberhasilan memimpin kota Solo kemudian membuat tokoh Golkar yang juga
mantan wakil presiden Jusuf Kalla meminta Jokowi untuk maju menjadi ke Kursi Gubernur.
Sempat menolak, Jokowi kemudian akhirnya menerima pinangan Partai PDI
Perjuangan pimpinan Megawati Soekarno Putri bersama Partai Gerindra pimpinan Prabowo
Subianto.
PDI perjuangan dan Partai Gerindra resmi mengusungnya pada tahun 2012 sebagai
Calon Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih
dikenal sebagai Ahok.
Banyak pihak yang berpendapat pasangan Jokowi-Ahok sebagai pasangan Calon
Gubernur yang tidak diunggulkan bahkan survei pun mengatakan demikian, namun yang
terjadi pasangan Jokowi-Ahok berhasil mengumpulkan suara yang mengimbangi pasangan
incumbent yaitu Fauzi Bowo dengan selisih suara yang tipis hingga akhirnya diadakan
pilkada DKI Jakarta putaran kedua.
Akhirnya pilkada putaran kedua berhasil membuat Jokowi-Ahok memenangkan kursi
Gubernur DKI Jakarta. Banyak pihak yang menganggap bahwa strategi kampanye politik
cerdas Jokowi sebagai keberhasilan Jokowi dalam memenangkan kursi gubernur.
Setelah ia dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, ia kemudian mencoba bekerja
sesuai dengan yang ia janjikan saat kampanye dulu. Perbaikan irigasi, penataan Pedagang
Kaki Lima, hingga perbaikan transportasi yang menjadi masalah ibukota DKI Jakarta ia coba
lakukan selain itu kebijakannya seperti pembuatan Kartu Jakarta Sehat untuk kesehatan dan
kartu Jakarta Pintar untuk pendidikan, perbaikan sistem transportasi, pengurangan nepotisme
di birokrasi DKI Jakarta dengan sistem lelang jabatan.
Meskipun banyak kalangan yang menilai yang dilakukan belum berhasil mengatasi
permasalahan ibukota namun banyak warga DKI Jakarta merasa cukup puas dari kebijakan
yang ia lakukan terhadap Jakarta.
Belum lama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, PDI Perjuangan melalui mandat
dari Megawati Soekarno Putri menberikan perintah agar Jokowi maju sebagai Calon Presiden
bersama Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden pada tahun 2014.
Hal itu kemudian ia laksanakan, pengumuman Jokowi sebagai Calon Presiden
Indonesia dilaksanakan di rumah Si Pitung dengan mencium Bendera Merah Putih.
Kemudian deklarasi resmi Jokowi sebagai calon Presiden dilakukan di Gedung Juang 45,
majunya ia sebagai Calon Presiden Indonesia didukung oleh empat partai pengusungnya
yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa,
dan Partai Hanura.
Presiden Republik Indonesia
Kemudian pada bulan juli 2014, hasil perhitungan suara oleh KPU Indonesia
menyatakan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pemenang pada Pemilihan Presiden tahun 2014
dengan perolehan suara sebesar 53,15% atau 70.997.833 dengan mengalahkan lawannya
pasangan Prabowo-Hatta Rajasa dengan perolehan suara 46,85% atau 62.576.444 adapun
selisih suara antara Jokowi dan Prabowo sebesar 8.421.389 suara.
1. "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya."
2. "Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh,
engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
3. "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda
niscaya akan kuguncangkan dunia"
4. "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit
karena melawan bangsamu sendiri."
5. "Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan
minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu!
Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tapi budak."
6. "Bangunlah suatu dunia dimana semuanya bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan."
7. "Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada
batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya
adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa."
8. "Musuh kita yang terbesar yang selalu merusakkan keselamatan dan kesejahteraan Asia
dan juga merusakkan keselamatan dan kesejahteraan Indonesia ialah Amerika dan Inggris.
Oleh karena itu, di dalam peperangan Asia Timur Raya ini, maka segenap kita punya tenaga,
segenap kita punya kemauan, segenap kita punya tekad harus kita tujukan kepada hancur-
leburnya Amerika dan Inggris itu. Selama kekuasaan dan kekuatan Amerika dan Inggris
belum hancur-lebur, maka Asia dan Indonesia tidak bisa selamat. Karena itu, semboyan kita
sekarang ini ialah, Hancurkan kekuasaan Amerika. Hancurkan kekuasaan Inggris. Amerika
kita setrika, Inggris kita linggis!"
9. "Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama,
bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua
dari Sabang sampai Merauke!"
10. "Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar
dengan tekad ‘Merdeka, merdeka atau mati'!"
11. "Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat
semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan
Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya
buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!"
2. "Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah."
13. "Orang tidak bisa me-ngabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama
manusia.. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin."
14. "Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam."
15. "Kalau perempuan itu baik, maka jayalah negara. Tetapi kalau perempuan itu buruk,
maka runtuhlah negara.