BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Geologi Regional Cekungan Sunda
2.1.1 Tektonik Regional Cekungan Sunda
Secara fisiografi, daerah penelitian termasuk ke dalam Cekungan Sunda
yang merupakan salah satu cekungan terkecil back-arc diantara cekungan lainnya
yang berumur tersier terletak diantara Pulau Jawa dan Sumatra pada koordinat 106°
- 107 ° BT dan 4°- 6° [Link] Sunda dibatasi oleh Pulau Sumatera di sebelah
barat sementara di selatan di batasi oleh daratan Pulau Jawa dan tinggian Pulau
Seribu hingga ke bagian timur – tenggara. Cekungan Jawa Barat Utara menjadi
batas di sebelah timur dan dangkalan disebelah utara.
Cekungan Sunda di golongkan sebagai cekungan yang produktif dalam
menghasilkan minyak bumi. Cekungan Sunda berbentuk triangular yang terbentang
dari Timur laut Merak, sebelah timur Selat Sunda sepanjang 90 mil (145 km),
dengan lebar terbesarnya 50 mil (64 km). Bagian terdalam nya tersusun oleh Graben
Seribu dan terakumuasi sedimen tersier dengan ketebalan mencapai lebih dari 6000
m.
Berdasarkan Gambar 2.1 tektonik Cekungan Sunda pada umumya di
dominasi oleh sesar normal dan beberapa pengaruh struktur – struktur
kompresional. Cekungannya terdiri dari beberapa deposenter diantaranya Kitty –
Nora, Nunung dan Yani. Deposenter tersebut terisi oleh sedimen tersier dengan
7
8
ketebalan melebihi 6.000 m. Struktur yang umumnya ditemukan pada Cekungan
Sunda adalah tinggian yang dibentuk oleh struktur perlipatan dan blok “horst”,
perlipatan dari sesar normal dan stuktur draping pada tinggian batuan dasar.
Struktur kompresional hadir dalam bentuk reaktivasi dari patahan berarah baratlaut
– tenggara dan berasosiasi dengan struktur transpressional dari sesar mendatar.
Gambar 2.1 Tektonik Regional Cekungan Sunda (CNOOC SES Ltd)
Wight et al. (1986), mengurutkan sejarah pembentukan cekungan sunda
menjadi beberapa periode tektonik, diantaranya :
1. Tektonisme pada Mesozoic, ditandai dengan terbentuknya busur gunung
berapi berumur Cretaceous dengan arah trend Timur – Barat
2. Pada Paleogene, terjadi proses pengangkatan dan diiringi dengan erosi
3. Pada Early Oligocene, terjadi Rifting dan Subsidence yang sangat cepat.
Struktur utama yang terbentuk memiliki arah trend Utara – Selatan
9
4. Pada Early Miocene, merupakan fase tektonik pasif yang di tandai
dengan subsidence post-rift dan transgresi marine yang tersebar luas.
5. Pada Middle-Miocene, proses tektonisme tidak terlalu mempengaruhi
cekungan. Pada bagian marginal cekungan terjadi pengangkatan dan
perubahan kemiringan. Fase ini diprediksi terjadi bersamaan dengan
proses regresi yang tersebar luas pada saat Early Miocen hampir
berakhir.
6. Pada Late Miocene – Pliocene, terjadi Rifting Minor yang
mengakibatkan terbentuknya beberapa sesar anthithetic kecil dan
terjadinya pembentukan dan migrasi hidrokarbon.
Struktur geologi utama yang membentuk Cekungan Sunda yaitu deretan
graben terisolir serta hal-graben besar yang terbentuk di sepanjang sistem sesar
utama dengan arah sumbu utama antara N 45° W – N 40° E (Wight et al., 1986).
Sistem sesar utama yang terdapat pada cekungan Sunda sebagian besar dikontrol
oleh sesar normal dengan arah trend Utara – Selatan. Sedangkan Graben – graben
yang terbentuk memiliki arah trend ke Timur.
Berdasarkan penjelsan diatas, periode tektonik signifikan yang pertama
adalah pada saat Paleosen – Eosen yang melibatkan tektonik regangan yang
menyertai pengendapan Formasi Banuwati. Sesar – sesar dengan arah trend
baratlaut – tenggara dan Utara – Selatan aktif dan bertindak sebagai pembatas
cekungan. Pengangkatan signifikan terjadi pada Late Oligocene yang
mengakibatkan perubahan sumber sedimen yang mengisi Cekungan Sunda.
Formasi Talang Akar Anggota Zelda diendapkan pada masa Late Oligocene dan
10
dipada masa pengendapan dikendalikan oleh sesar – sesar yang membentuk blok –
blok besar horst. Periode tektonik tenang pada Miosen Awal disertai dengan genang
laut maksimum menjadi periode yang tepat untuk pengendapan batugamping
Formasi Baturaja dan menandai dimulainya periode sagging dari sedimen yang
diendapkan di Cekungan Sunda kemudian diikuti oleh fase transgresi yang terjadi
di seluruh cekungan kecuali pada tinggian lokal. Periode yang lebih muda pada Late
Miocene – Pliocene masih merupakan kelanjutan dari proses tektonik Rifting.
2.1.2 Stratigrafi Regional Daerah Penelitian
Sejak Pra – Tersier pada Cekungan Sunda terjadi dua siklus pengendapan,
yang pertama didominasi oleh genang laut yang dimulai pad Early Oligocene –
Early Miocene dan dilanjutkan dengan fase susut laut sejak Early Miocene – Late
Miocene. Menurut Todd dan Paulonggono (1971) bagian yang lebih tua dari sekuen
Cekungan Sunda terdiri atas Formasi Talang akar, Formasi Baturaja, Formasi
Gumai dan Formasi Air Benakat. Hal ini dikarenkan ditemukan kesamaan
stratigrafi antara Cekungan Sunda dengan Cekungan Sumatera Selatan. Namun
pada akhir pertengahan Miocene, dijumpai kesamaan stratigrafi dengan Cekungan
Jawa Barat Laut sehingga digunakan nama Formasi Parigi dan Formasi Cisubuh
(Gambar 2.2). Dibawah ini akan dijelaskan secara singkat formasi – formasi yang
terdapat di Cekungan Sunda berdasarkan Stratigrafi dari tua ke muda:
1. Formasi Banuwati
Pada Early – Oligocene ditandai dengan terendapkannya Formasi
Banuwati yang merupakan endapan pertama dengan variasi litologi berupa
konglomerat, batupasir kipas alluvium dan shale lacustrine (Bushnell dan
11
Temansja, 1986) dan memiliki hubungan yang tidak selaras dengan batuan
dasar (basement) berumur Pra-Tersier.
2. Formasi Talang Akar
Formasi Talang Akar terendapkan diatas Formasi Banuwati dan
berumur Late Oligocene yang terdiri dari variasi litologi berupa
konglomerat, batupasir kuarsa, dan serpih coklat yang di dominasi oleh
lingkungan pengendapan fluviatile. Selain fluviatile, lingkungan
pengendapan lain yang terdapat pada Formasi Talang Akar adalah
lingkungan lacustrine dan paludal yang terbatas persebarannya yaitu hanya
ditemukan di daerah deposenter. Formasi Talang Akar secara stratigrafi
terendapkan secara selaras diatas Formasi Banuwati dan tidak selaras di atas
basement. Adanya sisipan batubara pada bagian atas formasi ini
mencerminkan fasies rawa payau. Pada umumnya Formasi Talang Akar
dapat dibedakan menjadi dua bagian, diantaranya :
a. Anggota Zelda
Anggota Zelda berumur lebih tua, dan terdiri atas variasi litologi
berupa perselingan batupasir, batulempung, batulanau, dan
batubara. Batupasir yang terendapkan pada lingkungan fluviatile
ini didominasi oleh endapan braided-stream dengan
perbandingan sand-shale yang tinggi
b. Anggota Gita
Anggota Gita terendapkan secara selaras di atas Anggota Zelda,
dan variasi litologi diendapkan dengan energi rendah berupa
12
batupasir channel dan batulempung dengan fasies rawa dan
overbank. Selain itu ditemukan volkanik pada bagian atas
formasi serta menjelang akhir dari Anggota Gita yaitu ditandai
dengan kehadiran batubara yang tebal dan pengaruh transgresi
mulai dirasakan.
3. Formasi Baturaja
Formasi Baturaja terendapkan secara selaras diatas Formasi Talang
Akar pada Early-Miocene. Formasi Baturaja merupakan produk dari
fase transgresi yang menenggelamkan daerah lower delta plain, yang
menyebabkan berkembangnya batugamping fasies laut dangkal baik
berupa batugampingpaparan pada bagian bawah atau batugamping
terumbu bioclastic di bagian atas.
4. Formasi Gumai
Formasi Gumai terendapkan secara selaras diatas Formasi baturaja dan
berumur Early – Miocene. Formasi ini dicirikan oleh kehadiran shale
berwarna abu – abu yang merupakan produk dari fase transgresi marine
maksimum. Pada umumnya, variasi litologi yang terdapat pada Formasi
Gumai terdiri atas batulempung, shale, batugamping, dan perselingan
batulempung, batulanau dan batupasir
5. Formasi Air Benakat
Formasi Air Benakat juga terendapkan secara selaras diatas Formasi .
Gumai dan brumur Late Early Miocene – Middle Miocene. Variasi
litologi dari Formasi Air Benakat ini terdiri atas batupasir dari Anggota
13
Krisna, batulempung, dan batugamping. Litologi batupasir yang
mendominasi di bagian bawah dan berubah menjadi batulempung
dengan sisipan batugamping ke arah atas yang di kenal dengan Formasi
Parigi.
6. Formasi Cisubuh
Formasi Cisubuh umumnya terendapkan secara selaras di atas Formasi
Air Benakat dan ketidakselarasan di beberapa tempat dan berumur Late
Miocene – Early Pliocene. Variasi litologi terdiri atas batulempung,
batupasir, dan batugamping pada lower member , serta volkanik, dan
batubara pada upper member.
Gambar 2.2 Penampang Kolom Stratigrafi Cekungan Sunda (Wight et al, 1986)
14
2.1.3 Struktur Geologi Regional Daerah Penelitian
Secara umum, struktur Cekungan Sunda terdiri dari kumpulan rift berarah
utara – selatan yang tersebar kearah timur laut, menuju Paparan Sunda, yang
merupakan kerak continental dari lempeng Asia Tenggara. Subsidence yang terjadi
di sepanjang rift membentuk sekumpulan half – graben. Struktur fitur – fitur
Cekungan Sunda terdii dari horst dan graben yang asimetri, palung – palung kecil
dan banyak sekali sesar normal yang mayoritas berorientasi utara, utara – timur laut
dan timur laut.
Pusat dari Cekungan Sunda terletak 100 mil sebelah utara busur volkanik
yang membentuk “geanticline” berarah timur – barat sepanjang Pulau Jawa. Fitur
utama lain di area ini adalah Platform Seribu, blok sesar miring arah timur laut yang
memisahkan Cekungan Sunda dari sub – cekungan Arjuna, tinggian Lampung yang
memisahkannya dari cekungan Sumatra Selatan dan Sunda Shelf yang luas berarah
selatan yang mendasari seluruh Laut Jawa bagian utara. Sistem sesar di area ini dari
barat ke timur, termasuk juga dalam sistem sesar Sumatra, suatu set sesar berarah
timut laut di Selat Sunda (Ranneft, 1972). Sesar Kepayang melewati tinggian
Lampung (Pulonggono dan Cameon, 1984), sesar yang dipostulatkan berarah utara
– selatan sepanjang timur laut pantai Sumatra (Todd dan Pulonggono, 1971), dan
sesar wrench besar berorientasi 70° timur laut di Jawa Barat (Chotin et al, 1984),
Natuna Rift di sebelah utara Paparan Sunda, depresi Biliton di selatan dan berlanjut
sebelah selatan trench Jawa menuju Samudra Hindia (Ben-Avraham, 1978). Tiga
half – graben berkembang pada awal pembentukan cekungan yaitu Yani, Seribu,
dan Kitty – Nora.
15
Haile (1979), dalam teorinya mengatakan bahwa struktur Cekungan Sunda
kmungkinan berhubungan dengan rotasi Sumatra, yang di duga searah jarum jam.
Ninkovich (1976) dan Pulonggono – Cameron (1984) serta Davies (1985)
mengusulkan unit tektonik “microplate Sunda” yang berotasi berlawanan arah
jarum jam.
Cekungan Sunda dikelilingi oleh platform batuan beku dan metamorf
berumur kapur yang mengalami rifting selama periode Eocene – Oligocene. Batuan
ini juga terdapat di sebagian besar basin – floor, walaupun basement belum
memasuki bagian paling tebal dari depocenter Seribu. Subsidence yang terkait
dengan rifting diikuti oleh deposisi continental klastik di enam buah depocenter
half – graben terpisah. Komposisi stratigrafinya meliputi alluvial fan, lacustrine,
endapan fluviatile dan paludal dari Formasi Banuwati dan Talang Akar yang
berumur Early Oligocene – Early Miocene. Sedimen diduga berasal dari timur laut
dan barat, sebagian terjadi secara lokal, walaupun batupasir yang lebih tua
kemungkinan berasal dari daerah yang paling jauh. Sejarah sedimentasi cekungan
dapat dibagi menjadi 3 fase subsidence. Periode deposisi continental selama proses
deposisi yang sangat cepat diikuti oleh dua periode deposisi marine, kecepatan
subsidence berkurang setengahnya selama periode marine, namun kemudian
akhirnya bertambah lagi sedikit demi sedikit.
2.1.4 Geologi Sejarah Regional
Tektonisme Paleocene, ketika terjadi collusion antara Lempeng Eurasia
dengan Lembeng Hindia yang mengakibatkan sekumpulan half –graben berarah
utara – selatan. Terjadi uplift dan erosi ketika masa Paleogene.
16
Rifting dengan subsidence yang amat cepat selama masa Early – Oligocene.
elemen – elemen structural utama berorientasi utara – selatan. Area batas cekungan
terangkat dan tererosi di beberapa tempat.
Tektonisme pasif pada Early – Miocene, saat subsidencen post – rift terjadi
bersamaan dengan transgresi marine yang tersebar luas. Reaktivasi sesar – sesar
rifting utama dan perkembangan sesar intra – cekungan hanya sedikit yang terjadi.
Tektonisme Middle – Miocene, hanya berefek sedikit pada cekungan,
mengakibatkan uplift tambahan dan penyerongan pada batas cekungan. Fase ini
kemungkinan terjadi bersamaan dengan regresi luas yang dimulai pada sekitar Late
Miocene.
Rifting minor yang baru selama Late – Miocene hingga Pliocene
mengaktfifkan kembali rifting – rifiting awal dan memicu sesar naik antitetik kecil.
Pembentukan dan migrasi hidrokarbon terjadi selama periode inisejarah evolusi
cekungsn adalah : Rift Basin (Early Oligocene) – Sag Basin (Late Oligocene) –
Back Arc Basin (Late Miocene)
Cekungan Back Arc Sundan di golongkan sebagai Active Continental
Margin karena zona subduksi Lempeng Eurasia – Hindia masih aktif hingga kini.
2.1.5 Petroleum Sistem Cekungan Sunda
Berikut merupakan susunan petroleum sistem Cekungan Sunda, serta
ilustrasi hydrocarbon play pada Cekungan Sunda menurut Koesoemadinata, 2004
(Gambar 2.3) yaitu :
17
1. Batuan Induk (Source Rock)
Batuan induk pada Cekungan Sunda berasal dari Formasi Banuwati
lacustrine shale yang diendapkan pada Late Eocene – Early Oligocene dan
merupakan batuan induk tipe I (Oil Prone). Selain itu, batubara, overbank
shales, dan shallow lacustrine shale dari Anggota Zelda dan Gita dari
Formasi Talang Akar, serta marine shales dan marls dari Formasi Baturaja
dan Gumai dapat menjadi batuan induk yang baik apabila matang. S
Serta, serpih dari Formasi Talang Akar dinilai paling baik karena
pelamparannya menebal kearah depocenter dengan kandungan TOC ± 3%
bertipe kerogen II. Reflektansi vitrinit mencapai 0.5% dengan Tmaks 435°
C memperlihatkan tingkat kematangan dari Formasi Talang Akar
2. Batuan Reservoir (Reservoir Rock)
Reservoir utama pada Cekungan Sunda adalah Formasi Talang Akar yang
berumur Oligocene, termasuk didalamnya batupasir Anggota Zelda dan
Gita. Formasi Baturaja bagian bawah berupa batugamping menjadi
alternative reservoir yang lain ditambah dengan kompleks batuan terumbu
di bagian yang lebih muda. Selain itu, batuan Pra – Tersier juga berpotensi
menjadi reservoir yang baik dengan mengambil analog dari Cekungan Jawa
Barat Utara begitu juga dengan batuan volkanik Formasi Jatibarang yang
telah terbukti menghasilkan hidrokarbon di Cekungan Jawa Barat Utara.
3. Perangkap (Trap)
Pada umumnya perangkap yang berkembang berupa structural traps yang
terdiri dari antiklin dan sesar – sesar. Perangkap yang ditemukan three –
18
four way dip, yaitu antiklin yang terbentuk karena sesar – sesar naik atau
bagian dari struktur transpressional juga hadir sebagai perangkap potensial.
Blok – blok sesar yang termiringkan juga menyimpan potensi untuk menjadi
jebakan selain sedimen yang onlapping terhadap batuan dasar pembatas
cekungan. Stratigraphic traps berupa perubahan fasies dari karbonat build-
up menjadi batulempung intraformasi merupakan alternatif perangkap yang
potensial.
4. Batuan Penyekat (Seals)
Batuan penyekat yang terdapat secara regional adalah serpih dari Formasi
Gumai dan serpih dari Formasi Air Benakat. Selain itu serpih pada beberapa
formasi seperti Formasi Baturaja dan Cisubuh dapat menjadi batuan
penyekat di daerah – daerah tertentu.
5. Migrasi (Migration)
Migrasi yang berkembang pada Cekungan Sunda berupa migrasi primer dan
sekunder. Migrasi primer telah terbukti berlangsung pada batupasir,
konglomerat pada retakan – retakan batubara pada Formasi Talang Akar,
6. Hydrocarbon Play
Reservoir utama pada Formasi Talang Akar dengan litologi di dominasi
oleh batupasir dengan perangkap potensial berupa antiklin. Sedangkan
reservoir utama lainnya yaitu Formasi Baturaja sebagai produk dari
transgresi marine dengan litologi batugamping serta perangkap yang
berkembang berupa perangkap struktural atau kombinasi antara struktural
dan stratigrafi. Potensi perangkap stratigrafi telah teridentifikasi pada
19
Formasi Baturaja dengan perangkap potensial bergantung pada perubahan
fasies dari terumbu yang porus.
Gambar 2.3 Petroleum Sistem Cekungan Sunda (Koesoemadinata, 2004)
2.2 Litofasies dan Batuan Karbonat
2.2.1 Pengertian Batuan Karbonat
Fasies adalah sebuah tubuh batuan yang dicirikan oleh kombinasi litologi,
struktur biologi atau fisika yang membedakan tubuh batuan tersebut dengan batuan
yang ada diatasnya, dibawahnya atau di bagian lain yang lateral (Walker, 1992).
Batuan karbonat adalah batuan dengan kandungan material karbonat lebih
dari 50% yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau
karbonat kristalin hasil presipitasi langsung. Batugamping dan dolomit merupakan
bagian dari batuan karbonat. Sedangkan batgamping adalah batuan yang
mengandung kalsium karbonat mencapai 95% (Reijers & Hsu, 1986).
20
2.2.2 Komposisi Mineralogi Batuan Karbonat
Komposisi kimia atau mineralogi tidak begitu memperlihatkan lingkungan
pengendapan atau provenance. Tetapi penting sebagai derajat diagenesa,
rekristalisasi dan replacement kalsium karbonat. Jenis-jenis mineral karbonat
adalah sebagai berikut :
1. Aragonit : CaCO3 (Orhtorombic)
Memiliki paling tidak stabil, seing pula meyerupai serabut (fibre). Jarum-jarum
aragonit biasanya diendapkan secara kimiawi, dari presipitasi langsung air laut.
Diagenesanya biasanya berubah jadi kalsit. Juga organisme membuat rumah/test
dari aragonit, seperti moluska.
2. Kalsit : CaCO3 (Hexagonal)
Kalsti bersifat lebih stabil, dan biasanya merupakan hablur kristal yang bagus dan
jelas. Terdapat sebagai rekristalisasi dari aragonit; sering merupakan “cavity filling
atau cement”, serta umumnya batugamping terdiri atas mineral kalsit.
3. Dolomit : CaMg (CO3)2 atau CaMg Karbonat (Hexagonal)
Hampir sama dengan kalsit namun secara petrografis dapat di bedakan dari indeks
biasnya, dapat terbentuk sebagai presipitasi langsung air laut namun lebih sering
sebagai akibat dari penggantian mineral kalsit.
4. High Magnesium Calcite
Larutan padat (solid solution) dari MgCO3 dalam kalsit. Ditemukan dalam jumlah
yang tidak begitu banyak namun sering ditemukan pada batugamping dolomit.
21
5. Magnesite (MgCO3)
Kristal hexagonal, terbentuk sebagai akibat penggantian dari kalsit dan dolomit,
namun sering terjadi akibat dari rombakan batuan yang mengandung magnesium
silikat.
6. Siderite FeCO3
2.2.3 Prinsip Pembentukan Batuan Karbonat
Secara umum, proses pembentukan karbonat terjadi secara insitu, yang
berasal dari larutan yang mengalami proses kimiawi maupun biokimia. Pada proses
tersebut, organisme turut berperan. Selain itu proses pembentukan batuan karbonat
juga dapat terjadi dari butiran rombakan yang telah mengalami transportasi secara
mekanik dan kemudian diendapkan di tempat lain, dan pembentukannya dapat pula
terjadi akibat proses diagenesa dari batuan karbonat lain (Suyoto, 1993).
Sedimen karbonat dapat terbentuk akibat proses biokimia organik dengan
lingkungan laut yang hangat, jernih, dan dangkal. Menurut Suyoto (1993) kondisi
lingkungan seperti itu banyak di temukan di daerah tropis – subtropis. Berikut
syarat – syarat pembentukan karbonat :
1. Garis Lintang dan Iklim
Sedimen karbonat umumnya akan terakumulasi pada laut yang berada pada
posisi 30° LU – 30° LS, terutama pada daaerah paparan dengan kedalaman 0 –
200 meter (lingkungan neritik). Sedimen karbonat terbentuk dari hasil sekresi
karbonat oleh organisme seperti koral dan alga yang banyak tumbuh pada air
laut dangkal dengan kedalaman kurang dari 30 meter. Sedangkan sedimen
plankton banyak ditemukan pada lingkungan laut dalam pada daerah dengan
22
posisi antara 40° LU – 40° LS. Koral dan alga umumnya banyak terdapat pada
karbonat neritik dangkal pada lingkungan laut yang hangat di daerah dengan
lintang yang rendah (dekat khatulistiwa), sedangkan briozoa, moluska dan
foraminifera banyak terdapat pada lingkungan laut yang lebih dingin.
Faktor iklim berkaitan erat dengan sedimen asal darat. Influks sedimen klastik
terigenous berbutir halus seperti batulempung akan mengurangi produktivitas
sekresi batuan karbonat oleh organisme. Sebagai contoh, akumulasi reef
karbonat pada Selat Sunda berjumlah sedikit disebabkan oleh tingginya
suspensi sedimen yang di bawa oleh air sungai yang masuk ke laut. Influks
sedimen asal darat kaitannya dengan iklim (curah hujan) dan setting tektonik
pada daerah tersebut.
2. Penetrasi Sinar Matahari
Meningkatnya kedalaman kolom air, pertambahan posisi lintang dan
berkurangnya kejernihan air laut dapat berakibat terhadap penurunan penetrasi
sinar matahari. Fotosintesis yang dilakukan oleh organisme sangat bergantung
terhadap penetrasi sinar matahari yang memungkinkan produktivitas sekresi
karbonat. Umumnya, penetrasi sinar matahari dapat menembus hingga
kedalaman 10 meter. Apabila kondisi air laut tidak pekat oleh suspensi
lempung, penyerapan sinar matahari oleh organisme akan meningkat dan
karbonat dapat terbentuk pada kedalaman 50 – 60 meter. Batas terbawah
penetrasi matahari adalah 100 – 150 meter, dimana daerah tersebut merupakan
batas bawah zona euphotic yaitu zona dimana organisme yang berfotosintesis
dapat tumbuh dengan baik.
23
3. Salinitas
Salinitas normal umumnya diantara 30 – 40 ppt (salinitas air laut normal 32 –
36 ppt), kondisi ini dapat mengakibatkan biota dapat hidup dan berkembang
dengan baik. Perubahan salinitas laut biasanya dapat menyebabkan organisme
yang tidak dapat beradaptasi dan mati, tapi di sisi lain dapat menguntung kan
untuk jenis biota yang tergolong hypersaline dan hiposaline. Melimpahnya
satu atau lebih spesies biota umumnya terjadi pada perubahan salinitas yang
signifikan. Perubahan salinitas biasanya akan terekan pada komposisi
karbonat.
4. Organisme Laut
Sedimen karbonat dihasilkan secara biologis dan biokimia. Organisme laut
pembentuk reef, antara lain : koral, alga hijau, alga merah, foraminifera,
briozoa, dan moluska. Bentuk pertumbuhan reef oleh organisme sangat
tergantung pada besar kecilnya energi yang ada pada daerah tersebut.
5. Sirkulasi Air
Pada kondisi normal, suatu paparan yang tidak memiliki penghalang sirkulasi
air akan berlangsung dengan baik. Sirkulasi air akan tergantung pada besar
kecilnya aktivitas gelombang, pasang surut dan arus yang bekerja pada daerah
tersebut. Material karbonat berukuran besar dapat larut oleh adanya gelombang
laut atau aktivitas organisme dan kemudian dapat terbawa masuk kedalam
lingkungan yang lebih tenang dan dalam.
24
Gambar 2.4 Ilustrasi Pembentukan Karbonat (James & Bourque, 1992)
Gambar 2.5 Faktor Pembentukan Karbonat (C.G. St.C. Kendall, 2010 after Jones
& Desrochers, 1992)
2.2.4 Tekstur Batuan Karbonat
Salah satu contoh batuan karbonat adalah batugamping. Menurut Tucker
(1991), komponen penyusun batugamping dibedakan atas non – skeletal grain,
skeletal grain, matrix, dan cement.
1. Non – Skeletal Grain
a. Ooid dan Pisoid
25
Ooid adalah butiran karbonat yang memilik bentuk bulat atau elips dan
memiliki satu atau lebih struktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti.
Inti penyusun biasanya berupa partikel karbonat atau butiran kuarsa (Tucker,
1991). Ooid memiliki ukuran butir <2 mm dan apabila memiliki ukuran >2 mm
disebut sebagai pisoid.
b. Peloid
Peloid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat, ellipsoid, atau meruncing
yang tersusun atas mikrit dan tanpa struktur internal. Ukuran pelois berkisa 0.1
– 0.5 mm. kebanyakan peloid ini berasal dari kotoran (faecal origin) sehingga
disebut pellet (Tucker, 1991)
c. Aggregat dan Intraklas
Aggregat merupakan kumpulan dari beberapa macam butiran karbonat yang
tersemenkan bersama – sama oleh semen microcrystalline atau tergabung
akibat material organik. Sedangkan intraklas adalah fragmen dari sedimen
yang sudah terlitifikasi atau setengah terlitifikasi yang terjadi akibat pelepasan
air lumpur pada daerah pasang surut atau tidal flat (Tucker, 1991).
2. Skeletal Grain
Skeletal grain adlah butiran cangkang penyusun batuan karbonat yang terdiri
dari seluruh mikrofosil, butiran fosil, maupun pecahan dari fosil – fosil makro.
Cangkang ini merupakan allochem yang paling umum dijumpai pada
batugamping (Boggs, 1987). Komponen cangkang pada batugamping juga
26
merupakan penunjuk pada distribusi invertebrata penghasil karbonat sepanjang
waktu geologi (Tucker, 1991).
3. Lumpur Karbonar atau Mikrit
Mikrit merupakan matriks yang biasanya berwarna gelap. Pada batugamping
hadir sebagai butir yang sangat halus. Mikrit memiliki ukuran butur <4
mikrometer. Berdasarkan petrografi mikrit memiliki ukuran yang bersifat
heterogen yaitu berukuran kasar sampai halus dengan batas antara kristal yang
berbentuk planar, melengkung, bergerigi, ataupun tidak teratur. Mikrit dapat
mengalami alterasi dan dapat tergantikan oleh mozaik mikrospar yang kasar
(Tucker, 1991).
4. Semen
Semen terdiri dari material halus yang menjadi pengikat antar butiran dan
mengisi rongga pori yang diendapkan setelah fragmen dan matriks. Semen
dapat berupa kalsit, silika, oksida besi dan sulfat. Semen pada umumnya terdiri
dari hablur – hablur mineral kalsit yang jelas atau dikenal juga dengan istilah
sparry calcite atau spar (Folk, 1962). Semen kalsit biasanya mengisi rongga –
rongga diantara butiran selama proses diagenesis. Kadang – kadang sulit untuk
membedakannya dengan kalsit sebagai hasil rekristalisasiyang ukurannya lebih
halus atau sering di sebut microspar.
Gambar 2.6 Material Penyusun Batuan Karbonat
27
2.2.5 Porositas Batuan Karbonat
Batuan karbonat memiliki porositas yang lebih kompleks dibandingkan
dengan batupasir. Besar – kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu ukuran butir, pemilahan, susunan butir, kompaksi, dan sementasi. Pada batuan
karbonat ada dua tipe porositas yaitu : porositas primer yaitu porositas yang
terbentuk bersamaan pada saat sedimentasi berlangsung, dan porositas sekunder
yang terbentuk setelah terjadinya sedimentasi dan erat kaitannya terhadap proses
diagenesa.
Choquette dan Pray (1970) mengklasifikasikan porositas berdasarkan
deskripsi dan genesanya melalui analisis petrografi dan di bagi menjadi 3
diantaranya :
1. Fabric Selective
Tergolong fabric selective apabila porositas saling berhubungan dengan kemas
dari batuan tersebut. Jenis porositas yang tergolong fabric selective diantaranya :
a. Interpartikel : porositas primer dimana pori – pori terletak diantara butiran
b. Intrapartikel : porositas primer dimana pori – pori terletak didalam butiran
c. Interkristal : porositas sekunder yang terletak diantara kristal penyusun
butiran umumnya ditemukan pada dolomit
d. Mouldic : porositas sekunder dimana pori berasal dari material cangkang
yang telah terlarutkan
e. Fenestral : porositas primer yang berasal dari lepasan gas atau air pada saat
pengendapan jalinan ganggang
28
f. Shelter : porositas primer yan terbentuk sebagai ongga di bagian bawah
cangkang yang menutup sehingga terlindung dari pengisian oleh agregat
halus
g. Growth Framework : porositas primer sebagai akibat dari pertumbuhan
fragmen pembentuk tubuh batuan karbonat.
2. Non – Fabric Selective
Tergolong non – fabric selective apabila porositas dan kemas tidak saling
berhubungan. Jenis porositas yang tergolong non – fabric selective
diantaranya:
a. Fracture : porositas sekunder yang terbentuk akibat rekahan yang
diakibatkan oleh faktor mekanik dan faktor kimia.
b. Channel : porositas sekunder yang terbentuk sebagai akibat dari pelarutan
yang memanjang mengikuti bagian – bagian yang lemah
c. Vuggy : porositas sekunder yang terbentuk sebagai akibat adanya pelarutan
yang berkembang dari sistem pori yang telah ada sebelumnya.
d. Caver : porositas sekunder yang terbentuk sebagai akibat dari pelarutan dan
memiliki ukuran yang sangat besar.
3. Fabric Selective or Not Fabric Selective
Tergolong fabric selective or not fabric selective apabila jenis porositas yang
dapat berhubungan dan tidak berhubungan dengan kemas. Jenis porositas yang
tergolong ke dalam fabric selective or not fabric selective diantaranya :
a. Breccia : porositas sekunder yang terdapat pada breksi dengan pori – pori
yang terletak diantara butiran. Biasanya berasosiasi dengan fracture
29
b. Boring : porositas primer atau sekunder yang terbentuk sebagai hasil
penggalian organisme kedalam lapisan batuan yang keras
c. Burrow : porositas primer atau sekunder yang terbentuk sebagai hasil dari
jejak organisme ke lapisan batuan yang lunak
d. Shrinkage : porositas sekunder yang terbentuk sebagai akibat dari adanya
rekahan akibat penyusutan kristal.
Gambar 2.7 Klasifikasi Pori Pada Batuan Karbonat (Choquette & Pray 1970)
2.2.6 Klasifikasi Batuan Karbonat
Klasifikasi batuan karbonat sangat penting untuk menggambarkan tekstur
batuan karbonat dan mempermudah dalam penentuan fasies karbonat. Sebelum
adanya klasifikasi karbonat yang diajukan oleh Dunham (1962) dan Embry &
Klovan (1971) klasifikasi karbonat telah lebih dulu dilakukan oleh Folk (1962).
Folk membuat klasifikasi berdasarkan analisis petrografi dan lebih bersifat
deskriptif. Kelemahan dari klasifikasi Folk yaitu hanya bersifat untuk
mendeskripsikan batuan tetapi hanya sedikit untuk menginterpretasikan apa yang
telah dideskripsi. Pada penelitian kali ini akan ditekankan dalam penggunaan
klasifikasi Dunham (1962) dan Embry & Klovan (1971).
30
Gambar 2.8 Klasifikasi Batuan Karbonat (Dunham, 1962) dan
(Embry & Klovan,1971)
Dunham (1962) menyempurnakan klasifikasi yang telah di lakukan oleh
Folk dan lebih menekankan terhadap tekstur batuan karbonat dan penggambaran
genesa pembentukannya. Berdasarkan proporsi atau perbedaan antara batuan dan
matriks, Dunham (1962) membagi menjadi empat dasar klasifikasi diantaranya :
1. Butiran yang didukung oleh matriks (mud supported)
Keadaran butiran mengambang dalam matriks, dan tekstur batuan karbonat
mud supported dibagi menjadi 2 yaitu apabila butiran <10% disebut sebagai
mudstone, sedangkan butiran >10% disebut sebagai wackestone
2. Butiran yang didukung oleh butiran (grain supported)
Keadan butiran – butiran jelas saling bersentuhan dan umumnya
terendapkan pada lingkungan berenergi sedang – tinggi. Tekstur ini terbagi
menjadi 2 yaitu apabila masih mengandung matriks disebut packstone,
31
sedangkan butiran yang tidak mengandung matriks sama sekali disebut
sebagai grainstone
3. Butiran yang saling terikat pada saat pengendapan (boundstone)
Material skeletal grain terikat oleh alga pada saat pengendapan dan
biasanya memiliki kenampakan laminasi
4. Butiran yang telah mengalami diagenesis (crystalline)
Komponen penyusun dari batuan karbonat tidak lagi memperlihatkan
tekstur asalnnya kemungkinan besar dihancurkan oleh proses diagenesa,
maka kelompok batuan ini disebut sebagai crystalline.
Embry & Klovan (1971) menyempurnakan klasifikasi Dunham (1961)
dengan menambahkan aspek pengaruh energi dan sedimen – sedimen yang terbawa
dan terakumulasi pada batuan karbonat. Embry & Klovan membagi klasifikasi
batuan karbonat sebagai berikut :
1. Batugamping allochttonous, merupakan batuan karbonat yang sudah
berpindah tempat dari awal pembentukan nya dengan komponen berukuran
>2 mm dan sebanyak >10%. Jenis batugamping allochtonous terdiri atas :
floatstone (didominasi oleh matriks), dan rudstone (didominasi oleh butiran
yang saling menyangga)
2. Batugamping autochtonous, merupakan batuan karbonat yang tidak
berpindah dari tempat awal keterdapatannya dan saling terikat sejak awal
pengendapan. Jenis batugamping autochtonous ini terdiri atas : bafflestone
(fosil menyerupai tangkai) dimana tekstur batuan karbonat ini terdiri dari
organisme penyusun yang cara hidupnya menadah sedimen yang jatuh pada
32
organisme tersebut, sangat umum dijumpai pada lingkungan berenergi
sedang. Bafflestone ini terdiri atas koral yang berada pada posisi tumbuh
dan diselimuti oleh lumpur gamping. Kerangka organic yang beringak
sebagai “baffle” yang menjebak lumpur gamping. Bindstone (fossil tipis dan
rata) dimana organisme yang menyusun batuan karbonat hidupnya
mengikat sedimen yang terakumulasi pada organisme tersebut, umumnya
dijumai pada lingkungan dengan energy sedang – tinggi. Batuan ini
umumnya terdiri dari kerangka ataupun pecahan – pecahan kerangka
organik, seperti koral, briozoa dan lain sebagainya. Framestone (fossil
massif) dimana tekstur batuan ini umumnya hidup pada lingkungan
berenergi tinggi sehingga tahan terhadap gelombang dan arus. Penyusun
batuan ini seluruhnya dari kerangka organik seperti koral, btiozoa,
ganggang, sedangkan matriksnya <10% dan semen diperkirakan kosong.
Embry & Klovan (1971) selain menjelaskan mengenai klasifikasi tekstur
batuan karbonat juga menambahkan aspek energi pada saat pembentukan. Oleh
karena itu, secara umum pembagian zona energi dan batuan penyusun dapat di
ilustrasikan pada Gambar 2.9.
Pembagian zona terumbu menurut James & Bourque (1992) selain dapat
membantu dalam penentuan tekstur batuan karbonat serta kaitannya terhadap energi
pembentukan juga sangat membantu dalam peentuan asosiasi fasies. Berdasarkan
gambar 2.8 pembagian zona terumbu di bagi menjadi 5 zona, diantaranya fasies
backreef ditandai dengan tekstur bafflestone dan floatstone, fasies reef flat ditandai
dengan tekstur rudstone dan grainstone, fasies reef crest ditandai dengan tekstur
33
bindstone, fasies reef front ditandai dengan tekstur bafflestone, bindstone,
framestone, dan terakhir fasies fore reef ditandai dengan tekstur rudstone dan
grainstone. Selain menggunakan klasifikasi James & Bourque (1992) penentuan
asosiasi fasies juga dibantu dengan menggunakan klasifikasi Luis Pomar (2004),
karena dalam pembaian klasifikasinya menyertakan jenis biota yang menjadi
penciri dari suatu fasies tertentu, dengan ilustragi sebagai berikut :
Gambar 2.9 Penampang Melintang Kompleks Pembagian Zona Terumbu (James
& Bourque, 1992)
Gambar 2.10 Pembagian Zona Terumbu (Pomar, L. 2004)
34
2.2.7 Platform Karbonat
Sedimen karbonat umumnya terendapkan pada paparan laut dangkal
(platform). Menurut Wilson & Jordan (1983), karbonat platform dapat juga terjadi
pada tepi blok kratonik dalam cekungan intrakratonik, melintasi top bank – bank
lepas pantai, dan daerah – daerah positif lainnya pada paparan. Selain itu sedimen
karbonat juga mungkin ditemukan pada lingkungan laut marginal, seperti pantai
dan tidal flats.
Berdasarkan sifat tepi (edge) platformnya, terdapat tiga tipe dasar platform
karbonat yang dapat dikenali (H. Moore & Wilson, 1985) :
1. Paparan Karbonat Rimmed
Paparan karbonat rimmed adalah platform dangkal ditandai dengan
perubahan kemiringan yang tajam pada tepian paparan kedlm lingkungan laut
yang lebih dalam. Lingkungan pengendapan ini biasanya memiliki suatu
penghalang (barrier) di sepanjang tepian platform. Barrier atau penghalang ini
biasanya berupa terumbu buidup karena koral tumbu subur di daerah ini atau
gundukn pasir skeletal atau ooid yang dapat menyerap atau menghalangi energi
gelombang dan membatasi sirkulasi air, sehingga menghasilkan lingkungan
paparan energi rendah kea rah darat, yakni berupa lingkungan lagoon atau
berpotensi terbentuknya lingkungan evaporit. Kearah darat, lagoon tersebut
berangsur ke lingkungan tidak flat berenergi rendah disbanding dengan pantai
berenergi tinggi.
35
Gambar 2.11 Paparan Karbonat Rimmed (Read, 1985)
2. Paparan Karbonat Ramp (Unrimmed)
Umumnya berupa platform yg memiliki sudut kemiringan kurang dari 1o,
dimana endapan laut dangkal akan tertransport ke bawah dgn kecepatan yang
rendah ke dalam fasies air laut yang lebih dalam. Oleh karena itu platform ini
tidak tidandai oleh barrier marginal yang jelas. Paparan ini biasanya terjadi pada
bank – bank tropis besar yang dingin dan dalam semua karbonat daerah dingin
(James & kendall, 1992). Sirkulasi air yang melintasi platform ramp mungkin
cukup untuk perkembangan energi tinggi zona pantai disepanjang pantai
moderat disamping skeletal atau gundukan pasir ooid – pellet sepanjang tepi
paparan. Jadi, karbonat platform ramp dipengaruhi oleh proses fisika yang
seperti paparan silisiklastik.
Gambar 2.12 Paparan Karbonat Ramp (Read, 1985)
3. Paparan Karbonat Isolated
36
Biasanya berupa platform laut dangkal yang memiliki lebar 10 sampai
ratusan kilometer yang dikelilingi oleh laut dalam yang memiliki kedalaman
beberapa ratus meter. Platform ini dibatasi oleh suatu lereng yang memiliki
sudut kemiringan yang tinggi.
Gambar 2.13 Paparan Karbonat Isolated (Read, 1985)
2.3 Konsep Dasar Wireline Logging dan Elektrofasies Batuan Karbonat
2.3.1 Wireline Logging
Log merupakan sebuah grafik kedalaman dari sebuah dataset yang
menunjukkan parameter yang diukur secara kontinu didalam sebuh sumur (Adi
Harsono, 1997). Kurva yang terekam pada log merupakan reaksi dari alat logging
terhadap sifat fisik batuan. Berdasarkan sumbernya well log dapat dibagi menjadi
beberapa jenis yaitu : berdasarkan sumber radioaktif, listrik, akustik, dan
elektomagnetik.
Tabel 2.1 Sumber, jenis log, properti yang diukur dan fungsi (Walker, 1992)
Log Properti yang
Sumber Fungsi
(satuan) Diukur
Analisis litologi,
Gamma Ray Radioaktivitas
volume shale, korelasi,
(API) alami (K, Th, U)
analisis bentuk kurva
Readioaktif
Identifikasi zona poros,
Neutron (Persen Konsentrasi
menhitung porositas,
Porositas) hidrogen pada pori
penentuan fluida
37
Identifikasi zona poros,
Density (Kg/m3
Densitas Bulk menghitung porositas,
atau g/cm3)
penentuan fluida
Potensi elektrik
Spontaneous alami Mengetahui litologi,
Potential (dibandingkan korelasi, identifikasi
Listrik (Milivolts) dengan lumpur zona poros
pemboran)
Resistivity Ketahanan arus Identifikasi batubara,
(Ohm – meters) listrik evaluasi fluida
Identifikasi zona poros,
Sonic Laju gelombang
Akustik batubara, zona
(Microsecond/ft) suara kompresi
tersementasi padat
Evaluasi kondisi lubang
Mekanik Caliper (cm) Ukuran lubang bor bor dan kelayakan log
lainnya
2.3.2 Elekrofasies
Pola yang terekam dalam log dapat mencerminkan perubahan energi
pengendapan baik dari energi rendah hingga ke energi tinggi. Umumnya pola log
tersebut selalu diamati dengan kurva gamma ray dan spontaneous potential, tetapi
dalam penarikan kesimpulan juga dibantu oleh log neutron – densitas serta
resistivitas. Menurut Walker dan James (1992) log suatu sumur memiliki beberapa
bentuk dasar yang dapat menceritakan karakteristik suatu lingkungan atau energi
pengendapan. Gambar berikut merupakan respon kurva gamma ray dan aplikasinya
terhadap batuan karbonat.
38
Gambar 2.14 Pola Penumpukan Sedimentasi Batuan Karbonat (Kendall, 2003)
Berdasarkan pola elektrofasies di atas terdapat keterkaitan antara
pertumbuhan terumbu dengan air laut relative yang akan di jelaskan sebagai
berikut:
1. Pola Cylindrical
Pola cylindrical diinterpretasikan sebagai fase agradasi, yaitu batuannya
relatif seragam dan fasies berakumulasi pada laut dangkal. Pola log seperti
ini mngindikasikan bentuk keep up carbonate shelf.
Keep up memiliki artian yaitu laju pertumbuhan terumbu = laju kenaikan
muka air laut relatif, sehingga menyebabkan terumbu dapat tumbuh dengan
baik dengan pertumbuhan ke arah vertikal.
2. Pola Funnel
Pola funnel diinterpretasikan sebagai fase progradasi (regresi), dimana
terjadi perubahan build-up dari klastik menjadi karbonat. Pola log seperti
ini mengindikasikan bentuk Catch-up Carbonates.
39
Catch – up carbonates memiliki artian yaitu pada kondisi ini air laut
mengalami pendalaman, kemudian laju pertumbuhan terumbu mengejar
laju kenaikan muka air laut, sehingga pada akhirnya pertumbuhan terumbu
sama dengan kenaikan muka air laut relatif.
3. Pola Bell Shape
Pola bell shape diinterpretasikan sebagai fase retrogradasi (transgresi),
terjadi pada daerah tidal channel-fill, tidal flat, dan trangressive shelf.
Pola log seperti ini mengindikasikan bentuk Give-up Carbonates.
Give – up carbonate memiliki artian yaitu pada kondisi ini air laut
mengalami pendalaman, kemudian laju pertumbuhan terumbu tidak mampu
mengimbangi laju kenaikan muka air laut, sehingga terumbu tenggelam
kemudian mati.
4. Pola Symmetrical
Pola symmetrical diinterpretasikan sebagai gabungan antara fase progradasi
dan fase retrogardasi, terjadi pada daerah reworked offshore buildup, dan
regressive to transgressive shore face.
Pola log seperti mengindikasikan perubahan bentuk dari Catch-up
Carbonates ke Give-up Carbonates.
5. Pola Serrated
Pola serrated diinterpretasikan sebagai fase agradasi dan terjadi pada daerah
storm dominate shelf, dan distal deep marine slope interbedded with shaley
intervals.
40
2.4 Diagenesis Batuan Karbonat
Diagenesa merupakan perubahan yang terjadi pada sedimen secara alami,
dimulai sejak awal proses pengendapan hingga batas terakhir dimana
metamorfisme akan terbentuk. Diagenesa pada batugamping bertujuan untuk
menciptakab batuan yang bersifat lebih stabil berdasarkan komposisi mineralogi
dan batuannya. Tucker (1990), menjelaskan beberapa proses utama diagenesis yang
umumnya terjadi pada batuan karbonat. Proses tersebut diantaranya :
1. Microbial Micrittization
Proses dimana bioklastik terubah pada saat berada di dasar laut. Butiran
mengalami pemboran oleh alga, jamur, dan bakteri disekitar perbatasan dan
kemudian lubang hasil pemboran tersebut terisi oleh sedimen halus
(micrite). Umumnya terjadi pada lingkungan diagenesis stagnant and active
marine phreatic zone
2. Pelarutan (Dissolution)
Pelarutan dapat meningkatkan porositas serta penipisan lapisan batuan
sedimen terutama pada batuan yang mudah larut seperti batuan karbonat dan
evaporit. Proses ini dikontrol oleh pH, Eh, suhu, tekanan parsial CO2,
komposisi kimia dan kekuatan ion. Umumnya terjadi pada lingkungan
diagenesis freshwater vadose
3. Sementasi (Cementation)
Proses sementasi adalah proses dimana butiran – butiran sedimen di
rekatkan oleh material lain, dapat berasal dari air tanah atau hasil pelarutan
mineral – mineral dalam sedimen itu sendiri. Material semennya dapat
41
berupa karbonat (CO3), silika (Si), atau Oksida (Fe). Semen merupakan
komponen batuan karbonat yang mengisi pori – pori dan merupakan hasil
diagenesis atau hasil presipitasi dalam pori batuan dari batuan yang telah
ada. Umumnya terjadi pada lingkungan diagenesis fresh or salt water.
Semen karbonat sangat penting dalam penentuan lingkungan diagenesis.
Berikut merupakan tipe semen yang umum dijumpai pada analisis petrografi
Gambar 2.15 Jenis Semen Pada Lingkungan Vadose dan Phreatic
Gambar 2.16 Jenis – Jenis Semen Karbonat
42
4. Neomorphisme
Perubahan suatu mineral menjadi mineral yang lebih stabil. Berbeda dengan
rekristalisasi dimana terjadi perubahan mineralogi untuk menuju mineral
yang lebih stabil. Umumnya dijumpai pada lingkungan diagenesis early
burial of freshwater phreatic
5. Dolomitisasi (Dolomitization)
Dolomitisasi adalah perubahan batugamping secara parsial maupun
keseluruhan menjadi kristal dolomit. Dolomit memiliki densitas yang lebih
besar, sukar larut dalam air, dan lebih mudah patah (brittle). Secara umum,
dolomit bersifat lebih porous dan permeable dibandingkan batugamping.
Umumnya ditemukan pada lingkungan diagenesis mixing zone
6. Kompaksi (Compaction)
Kompaksi merupakan proses penyusunan kembali butiran sedimen
sehingga menghasilkan hubungan antara butiran yang lebih rapat. Hasil dari
proses kompaksi adalah penurunan porositas dan permeabilitas sedimen,
pengeluaran fluida dan pori antara butiran serta penipisan lapisan.
Kompaksi umumnya dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut :
a. Kompaksi Mekanik
Kompaksi mekanik terjadi akibat lapisan mengalami pembebanan
oleh sedimen yang berada diatasnya, sehingga menyebabkan
hubungan antar butir menjadi lebih dekat dan juga air yang
terkandung dalam pori – pori lapisan tertekan keluar.
43
b. Kompaksi Kimia
Kompaksi kimia terjadi apabila butiran yang bersentuhan
menyebabkan terjadinya pelarutan diantara butiran – butiran.
Gambar 2.17 Pengaruh Proses Diagenesis (Jaldrin and Wilshart,1988)
Lingkungan Diagenesis Batuan Karbonat
Moore (1989) membagi lingkungan diagenesa menjadi 3. Lingkungan
diagenesa batuan karbonat tersebut yaitu marine, meteoric dan subsurface
environment. Longmann (1980) membagi lingkungan diagenesa dekat permukaan
menjadi 4 yaitu marine phreatic, mixing zone, freshwater phreatic dan freshwater
vadose.
Marine environment, dimana kebanyakan sedimen karbonat dicirikan oleh
fluida pori normal atau laut yang termodifikasi yang biasanya sangat jenuh oleh
mineral karbonat utama (Bathurst, 1975). Merupakan daerah penghancur porositas
yang ekstensif karena semen laut (James dan Choquette, 1983). Distribusi
sementasi laut biasanya dikontrol oleh laju pergerakan fluida melalui sistem pori
sedimen, dipengaruhi pula oleh keadaan saat pengendapan seperti tingkat energi,
44
porositas dan permeabilitas sedimen, dan laju sedimentasi. Sementasi di lingkungan
ini hanya terjadi pada beberapa sublingkungan seperti shelf margin reef dan zona
intertidal. Dalam Longmann (1980) terbagi menjadi meteoric phreatic, marine
phreatic dan mixing zone yang dapat menghasilkan mikritisasi dan sementasi dan
membentuk kristal Mg-calcite dan dolomit.
Meteoric environment, dimana lingkungan terpapar ke permukaan dan
kehadiran dilute water relatif yang menampilkan jarak kejenuhan yang sangat jauh
dari sangat tidak jenuh menjadi sangat jenuh. Zona ini disebut juga sebagai zona
vadose yaitu zona diatas water table dimana terdapat air dan udara. Lingkungan ini
memiliki potensi sangat tinggi untuk membentuk porositas sekunder oleh disolusi
dan juga penghancuran porositas oleh sementasi pasif. Dalam Longmann (1980)
termasuk dalam lingkungan freshwater vadose, dimana terjadi leaching dan
pelarutan untuk pembentukan porositas sekunder.
Subsurface environment, merupakan daerah pencampuran antara meteoric
dan marine waters (Folk, 1974). Karena interaksi ini, maka fluida diperkirakan
jenuh dengan jenis karbonat paling stabil deperti kalsit dan dolomit (Choquette dan
James, 1979). Dibawah pengaruh temperatur dan tekanan tinggi bawah permukaan,
pelarutan karena tekanan merupakan proses penghancur porositas yang penting
dibantu oleh presipitasi semen pada pori. Area lokal yang tidak jenuh dan
berhubungan dengan degradasi termal menghasilkan disolusi.
45
Gambar 2.18 Lingkungan Diagenesis (After longman, 1982)