0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan39 halaman

Geologi dan Stratigrafi Cekungan Sunda

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai geologi regional Cekungan Sunda. Cekungan Sunda terbentuk pada zaman Tersier akibat aktivitas tektonik dan terisi oleh endapan berumur Oligosen hingga Pliosen dengan ketebalan hingga 6000m. Cekungan ini terbentuk oleh sesar normal dan terdiri atas beberapa deposenter. Secara stratigrafi terdiri dari Formasi Banuwati, Talang Akar, Baturaja,

Diunggah oleh

Riki Aulia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan39 halaman

Geologi dan Stratigrafi Cekungan Sunda

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai geologi regional Cekungan Sunda. Cekungan Sunda terbentuk pada zaman Tersier akibat aktivitas tektonik dan terisi oleh endapan berumur Oligosen hingga Pliosen dengan ketebalan hingga 6000m. Cekungan ini terbentuk oleh sesar normal dan terdiri atas beberapa deposenter. Secara stratigrafi terdiri dari Formasi Banuwati, Talang Akar, Baturaja,

Diunggah oleh

Riki Aulia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Geologi Regional Cekungan Sunda

2.1.1 Tektonik Regional Cekungan Sunda

Secara fisiografi, daerah penelitian termasuk ke dalam Cekungan Sunda

yang merupakan salah satu cekungan terkecil back-arc diantara cekungan lainnya

yang berumur tersier terletak diantara Pulau Jawa dan Sumatra pada koordinat 106°

- 107 ° BT dan 4°- 6° [Link] Sunda dibatasi oleh Pulau Sumatera di sebelah

barat sementara di selatan di batasi oleh daratan Pulau Jawa dan tinggian Pulau

Seribu hingga ke bagian timur – tenggara. Cekungan Jawa Barat Utara menjadi

batas di sebelah timur dan dangkalan disebelah utara.

Cekungan Sunda di golongkan sebagai cekungan yang produktif dalam

menghasilkan minyak bumi. Cekungan Sunda berbentuk triangular yang terbentang

dari Timur laut Merak, sebelah timur Selat Sunda sepanjang 90 mil (145 km),

dengan lebar terbesarnya 50 mil (64 km). Bagian terdalam nya tersusun oleh Graben

Seribu dan terakumuasi sedimen tersier dengan ketebalan mencapai lebih dari 6000

m.

Berdasarkan Gambar 2.1 tektonik Cekungan Sunda pada umumya di

dominasi oleh sesar normal dan beberapa pengaruh struktur – struktur

kompresional. Cekungannya terdiri dari beberapa deposenter diantaranya Kitty –

Nora, Nunung dan Yani. Deposenter tersebut terisi oleh sedimen tersier dengan

7
8

ketebalan melebihi 6.000 m. Struktur yang umumnya ditemukan pada Cekungan

Sunda adalah tinggian yang dibentuk oleh struktur perlipatan dan blok “horst”,

perlipatan dari sesar normal dan stuktur draping pada tinggian batuan dasar.

Struktur kompresional hadir dalam bentuk reaktivasi dari patahan berarah baratlaut

– tenggara dan berasosiasi dengan struktur transpressional dari sesar mendatar.

Gambar 2.1 Tektonik Regional Cekungan Sunda (CNOOC SES Ltd)


Wight et al. (1986), mengurutkan sejarah pembentukan cekungan sunda

menjadi beberapa periode tektonik, diantaranya :

1. Tektonisme pada Mesozoic, ditandai dengan terbentuknya busur gunung

berapi berumur Cretaceous dengan arah trend Timur – Barat

2. Pada Paleogene, terjadi proses pengangkatan dan diiringi dengan erosi

3. Pada Early Oligocene, terjadi Rifting dan Subsidence yang sangat cepat.

Struktur utama yang terbentuk memiliki arah trend Utara – Selatan


9

4. Pada Early Miocene, merupakan fase tektonik pasif yang di tandai

dengan subsidence post-rift dan transgresi marine yang tersebar luas.

5. Pada Middle-Miocene, proses tektonisme tidak terlalu mempengaruhi

cekungan. Pada bagian marginal cekungan terjadi pengangkatan dan

perubahan kemiringan. Fase ini diprediksi terjadi bersamaan dengan

proses regresi yang tersebar luas pada saat Early Miocen hampir

berakhir.

6. Pada Late Miocene – Pliocene, terjadi Rifting Minor yang

mengakibatkan terbentuknya beberapa sesar anthithetic kecil dan

terjadinya pembentukan dan migrasi hidrokarbon.

Struktur geologi utama yang membentuk Cekungan Sunda yaitu deretan

graben terisolir serta hal-graben besar yang terbentuk di sepanjang sistem sesar

utama dengan arah sumbu utama antara N 45° W – N 40° E (Wight et al., 1986).

Sistem sesar utama yang terdapat pada cekungan Sunda sebagian besar dikontrol

oleh sesar normal dengan arah trend Utara – Selatan. Sedangkan Graben – graben

yang terbentuk memiliki arah trend ke Timur.

Berdasarkan penjelsan diatas, periode tektonik signifikan yang pertama

adalah pada saat Paleosen – Eosen yang melibatkan tektonik regangan yang

menyertai pengendapan Formasi Banuwati. Sesar – sesar dengan arah trend

baratlaut – tenggara dan Utara – Selatan aktif dan bertindak sebagai pembatas

cekungan. Pengangkatan signifikan terjadi pada Late Oligocene yang

mengakibatkan perubahan sumber sedimen yang mengisi Cekungan Sunda.

Formasi Talang Akar Anggota Zelda diendapkan pada masa Late Oligocene dan
10

dipada masa pengendapan dikendalikan oleh sesar – sesar yang membentuk blok –

blok besar horst. Periode tektonik tenang pada Miosen Awal disertai dengan genang

laut maksimum menjadi periode yang tepat untuk pengendapan batugamping

Formasi Baturaja dan menandai dimulainya periode sagging dari sedimen yang

diendapkan di Cekungan Sunda kemudian diikuti oleh fase transgresi yang terjadi

di seluruh cekungan kecuali pada tinggian lokal. Periode yang lebih muda pada Late

Miocene – Pliocene masih merupakan kelanjutan dari proses tektonik Rifting.

2.1.2 Stratigrafi Regional Daerah Penelitian

Sejak Pra – Tersier pada Cekungan Sunda terjadi dua siklus pengendapan,

yang pertama didominasi oleh genang laut yang dimulai pad Early Oligocene –

Early Miocene dan dilanjutkan dengan fase susut laut sejak Early Miocene – Late

Miocene. Menurut Todd dan Paulonggono (1971) bagian yang lebih tua dari sekuen

Cekungan Sunda terdiri atas Formasi Talang akar, Formasi Baturaja, Formasi

Gumai dan Formasi Air Benakat. Hal ini dikarenkan ditemukan kesamaan

stratigrafi antara Cekungan Sunda dengan Cekungan Sumatera Selatan. Namun

pada akhir pertengahan Miocene, dijumpai kesamaan stratigrafi dengan Cekungan

Jawa Barat Laut sehingga digunakan nama Formasi Parigi dan Formasi Cisubuh

(Gambar 2.2). Dibawah ini akan dijelaskan secara singkat formasi – formasi yang

terdapat di Cekungan Sunda berdasarkan Stratigrafi dari tua ke muda:

1. Formasi Banuwati

Pada Early – Oligocene ditandai dengan terendapkannya Formasi

Banuwati yang merupakan endapan pertama dengan variasi litologi berupa

konglomerat, batupasir kipas alluvium dan shale lacustrine (Bushnell dan


11

Temansja, 1986) dan memiliki hubungan yang tidak selaras dengan batuan

dasar (basement) berumur Pra-Tersier.

2. Formasi Talang Akar

Formasi Talang Akar terendapkan diatas Formasi Banuwati dan

berumur Late Oligocene yang terdiri dari variasi litologi berupa

konglomerat, batupasir kuarsa, dan serpih coklat yang di dominasi oleh

lingkungan pengendapan fluviatile. Selain fluviatile, lingkungan

pengendapan lain yang terdapat pada Formasi Talang Akar adalah

lingkungan lacustrine dan paludal yang terbatas persebarannya yaitu hanya

ditemukan di daerah deposenter. Formasi Talang Akar secara stratigrafi

terendapkan secara selaras diatas Formasi Banuwati dan tidak selaras di atas

basement. Adanya sisipan batubara pada bagian atas formasi ini

mencerminkan fasies rawa payau. Pada umumnya Formasi Talang Akar

dapat dibedakan menjadi dua bagian, diantaranya :

a. Anggota Zelda

Anggota Zelda berumur lebih tua, dan terdiri atas variasi litologi

berupa perselingan batupasir, batulempung, batulanau, dan

batubara. Batupasir yang terendapkan pada lingkungan fluviatile

ini didominasi oleh endapan braided-stream dengan

perbandingan sand-shale yang tinggi

b. Anggota Gita

Anggota Gita terendapkan secara selaras di atas Anggota Zelda,

dan variasi litologi diendapkan dengan energi rendah berupa


12

batupasir channel dan batulempung dengan fasies rawa dan

overbank. Selain itu ditemukan volkanik pada bagian atas

formasi serta menjelang akhir dari Anggota Gita yaitu ditandai

dengan kehadiran batubara yang tebal dan pengaruh transgresi

mulai dirasakan.

3. Formasi Baturaja

Formasi Baturaja terendapkan secara selaras diatas Formasi Talang

Akar pada Early-Miocene. Formasi Baturaja merupakan produk dari

fase transgresi yang menenggelamkan daerah lower delta plain, yang

menyebabkan berkembangnya batugamping fasies laut dangkal baik

berupa batugampingpaparan pada bagian bawah atau batugamping

terumbu bioclastic di bagian atas.

4. Formasi Gumai

Formasi Gumai terendapkan secara selaras diatas Formasi baturaja dan

berumur Early – Miocene. Formasi ini dicirikan oleh kehadiran shale

berwarna abu – abu yang merupakan produk dari fase transgresi marine

maksimum. Pada umumnya, variasi litologi yang terdapat pada Formasi

Gumai terdiri atas batulempung, shale, batugamping, dan perselingan

batulempung, batulanau dan batupasir

5. Formasi Air Benakat

Formasi Air Benakat juga terendapkan secara selaras diatas Formasi .

Gumai dan brumur Late Early Miocene – Middle Miocene. Variasi

litologi dari Formasi Air Benakat ini terdiri atas batupasir dari Anggota
13

Krisna, batulempung, dan batugamping. Litologi batupasir yang

mendominasi di bagian bawah dan berubah menjadi batulempung

dengan sisipan batugamping ke arah atas yang di kenal dengan Formasi

Parigi.

6. Formasi Cisubuh

Formasi Cisubuh umumnya terendapkan secara selaras di atas Formasi

Air Benakat dan ketidakselarasan di beberapa tempat dan berumur Late

Miocene – Early Pliocene. Variasi litologi terdiri atas batulempung,

batupasir, dan batugamping pada lower member , serta volkanik, dan

batubara pada upper member.

Gambar 2.2 Penampang Kolom Stratigrafi Cekungan Sunda (Wight et al, 1986)
14

2.1.3 Struktur Geologi Regional Daerah Penelitian

Secara umum, struktur Cekungan Sunda terdiri dari kumpulan rift berarah

utara – selatan yang tersebar kearah timur laut, menuju Paparan Sunda, yang

merupakan kerak continental dari lempeng Asia Tenggara. Subsidence yang terjadi

di sepanjang rift membentuk sekumpulan half – graben. Struktur fitur – fitur

Cekungan Sunda terdii dari horst dan graben yang asimetri, palung – palung kecil

dan banyak sekali sesar normal yang mayoritas berorientasi utara, utara – timur laut

dan timur laut.

Pusat dari Cekungan Sunda terletak 100 mil sebelah utara busur volkanik

yang membentuk “geanticline” berarah timur – barat sepanjang Pulau Jawa. Fitur

utama lain di area ini adalah Platform Seribu, blok sesar miring arah timur laut yang

memisahkan Cekungan Sunda dari sub – cekungan Arjuna, tinggian Lampung yang

memisahkannya dari cekungan Sumatra Selatan dan Sunda Shelf yang luas berarah

selatan yang mendasari seluruh Laut Jawa bagian utara. Sistem sesar di area ini dari

barat ke timur, termasuk juga dalam sistem sesar Sumatra, suatu set sesar berarah

timut laut di Selat Sunda (Ranneft, 1972). Sesar Kepayang melewati tinggian

Lampung (Pulonggono dan Cameon, 1984), sesar yang dipostulatkan berarah utara

– selatan sepanjang timur laut pantai Sumatra (Todd dan Pulonggono, 1971), dan

sesar wrench besar berorientasi 70° timur laut di Jawa Barat (Chotin et al, 1984),

Natuna Rift di sebelah utara Paparan Sunda, depresi Biliton di selatan dan berlanjut

sebelah selatan trench Jawa menuju Samudra Hindia (Ben-Avraham, 1978). Tiga

half – graben berkembang pada awal pembentukan cekungan yaitu Yani, Seribu,

dan Kitty – Nora.


15

Haile (1979), dalam teorinya mengatakan bahwa struktur Cekungan Sunda

kmungkinan berhubungan dengan rotasi Sumatra, yang di duga searah jarum jam.

Ninkovich (1976) dan Pulonggono – Cameron (1984) serta Davies (1985)

mengusulkan unit tektonik “microplate Sunda” yang berotasi berlawanan arah

jarum jam.

Cekungan Sunda dikelilingi oleh platform batuan beku dan metamorf

berumur kapur yang mengalami rifting selama periode Eocene – Oligocene. Batuan

ini juga terdapat di sebagian besar basin – floor, walaupun basement belum

memasuki bagian paling tebal dari depocenter Seribu. Subsidence yang terkait

dengan rifting diikuti oleh deposisi continental klastik di enam buah depocenter

half – graben terpisah. Komposisi stratigrafinya meliputi alluvial fan, lacustrine,

endapan fluviatile dan paludal dari Formasi Banuwati dan Talang Akar yang

berumur Early Oligocene – Early Miocene. Sedimen diduga berasal dari timur laut

dan barat, sebagian terjadi secara lokal, walaupun batupasir yang lebih tua

kemungkinan berasal dari daerah yang paling jauh. Sejarah sedimentasi cekungan

dapat dibagi menjadi 3 fase subsidence. Periode deposisi continental selama proses

deposisi yang sangat cepat diikuti oleh dua periode deposisi marine, kecepatan

subsidence berkurang setengahnya selama periode marine, namun kemudian

akhirnya bertambah lagi sedikit demi sedikit.

2.1.4 Geologi Sejarah Regional

Tektonisme Paleocene, ketika terjadi collusion antara Lempeng Eurasia

dengan Lembeng Hindia yang mengakibatkan sekumpulan half –graben berarah

utara – selatan. Terjadi uplift dan erosi ketika masa Paleogene.


16

Rifting dengan subsidence yang amat cepat selama masa Early – Oligocene.

elemen – elemen structural utama berorientasi utara – selatan. Area batas cekungan

terangkat dan tererosi di beberapa tempat.

Tektonisme pasif pada Early – Miocene, saat subsidencen post – rift terjadi

bersamaan dengan transgresi marine yang tersebar luas. Reaktivasi sesar – sesar

rifting utama dan perkembangan sesar intra – cekungan hanya sedikit yang terjadi.

Tektonisme Middle – Miocene, hanya berefek sedikit pada cekungan,

mengakibatkan uplift tambahan dan penyerongan pada batas cekungan. Fase ini

kemungkinan terjadi bersamaan dengan regresi luas yang dimulai pada sekitar Late

Miocene.

Rifting minor yang baru selama Late – Miocene hingga Pliocene

mengaktfifkan kembali rifting – rifiting awal dan memicu sesar naik antitetik kecil.

Pembentukan dan migrasi hidrokarbon terjadi selama periode inisejarah evolusi

cekungsn adalah : Rift Basin (Early Oligocene) – Sag Basin (Late Oligocene) –

Back Arc Basin (Late Miocene)

Cekungan Back Arc Sundan di golongkan sebagai Active Continental

Margin karena zona subduksi Lempeng Eurasia – Hindia masih aktif hingga kini.

2.1.5 Petroleum Sistem Cekungan Sunda

Berikut merupakan susunan petroleum sistem Cekungan Sunda, serta

ilustrasi hydrocarbon play pada Cekungan Sunda menurut Koesoemadinata, 2004

(Gambar 2.3) yaitu :


17

1. Batuan Induk (Source Rock)

Batuan induk pada Cekungan Sunda berasal dari Formasi Banuwati

lacustrine shale yang diendapkan pada Late Eocene – Early Oligocene dan

merupakan batuan induk tipe I (Oil Prone). Selain itu, batubara, overbank

shales, dan shallow lacustrine shale dari Anggota Zelda dan Gita dari

Formasi Talang Akar, serta marine shales dan marls dari Formasi Baturaja

dan Gumai dapat menjadi batuan induk yang baik apabila matang. S

Serta, serpih dari Formasi Talang Akar dinilai paling baik karena

pelamparannya menebal kearah depocenter dengan kandungan TOC ± 3%

bertipe kerogen II. Reflektansi vitrinit mencapai 0.5% dengan Tmaks 435°

C memperlihatkan tingkat kematangan dari Formasi Talang Akar

2. Batuan Reservoir (Reservoir Rock)

Reservoir utama pada Cekungan Sunda adalah Formasi Talang Akar yang

berumur Oligocene, termasuk didalamnya batupasir Anggota Zelda dan

Gita. Formasi Baturaja bagian bawah berupa batugamping menjadi

alternative reservoir yang lain ditambah dengan kompleks batuan terumbu

di bagian yang lebih muda. Selain itu, batuan Pra – Tersier juga berpotensi

menjadi reservoir yang baik dengan mengambil analog dari Cekungan Jawa

Barat Utara begitu juga dengan batuan volkanik Formasi Jatibarang yang

telah terbukti menghasilkan hidrokarbon di Cekungan Jawa Barat Utara.

3. Perangkap (Trap)

Pada umumnya perangkap yang berkembang berupa structural traps yang

terdiri dari antiklin dan sesar – sesar. Perangkap yang ditemukan three –
18

four way dip, yaitu antiklin yang terbentuk karena sesar – sesar naik atau

bagian dari struktur transpressional juga hadir sebagai perangkap potensial.

Blok – blok sesar yang termiringkan juga menyimpan potensi untuk menjadi

jebakan selain sedimen yang onlapping terhadap batuan dasar pembatas

cekungan. Stratigraphic traps berupa perubahan fasies dari karbonat build-

up menjadi batulempung intraformasi merupakan alternatif perangkap yang

potensial.

4. Batuan Penyekat (Seals)

Batuan penyekat yang terdapat secara regional adalah serpih dari Formasi

Gumai dan serpih dari Formasi Air Benakat. Selain itu serpih pada beberapa

formasi seperti Formasi Baturaja dan Cisubuh dapat menjadi batuan

penyekat di daerah – daerah tertentu.

5. Migrasi (Migration)

Migrasi yang berkembang pada Cekungan Sunda berupa migrasi primer dan

sekunder. Migrasi primer telah terbukti berlangsung pada batupasir,

konglomerat pada retakan – retakan batubara pada Formasi Talang Akar,

6. Hydrocarbon Play

Reservoir utama pada Formasi Talang Akar dengan litologi di dominasi

oleh batupasir dengan perangkap potensial berupa antiklin. Sedangkan

reservoir utama lainnya yaitu Formasi Baturaja sebagai produk dari

transgresi marine dengan litologi batugamping serta perangkap yang

berkembang berupa perangkap struktural atau kombinasi antara struktural

dan stratigrafi. Potensi perangkap stratigrafi telah teridentifikasi pada


19

Formasi Baturaja dengan perangkap potensial bergantung pada perubahan

fasies dari terumbu yang porus.

Gambar 2.3 Petroleum Sistem Cekungan Sunda (Koesoemadinata, 2004)

2.2 Litofasies dan Batuan Karbonat

2.2.1 Pengertian Batuan Karbonat

Fasies adalah sebuah tubuh batuan yang dicirikan oleh kombinasi litologi,

struktur biologi atau fisika yang membedakan tubuh batuan tersebut dengan batuan

yang ada diatasnya, dibawahnya atau di bagian lain yang lateral (Walker, 1992).

Batuan karbonat adalah batuan dengan kandungan material karbonat lebih

dari 50% yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau

karbonat kristalin hasil presipitasi langsung. Batugamping dan dolomit merupakan

bagian dari batuan karbonat. Sedangkan batgamping adalah batuan yang

mengandung kalsium karbonat mencapai 95% (Reijers & Hsu, 1986).


20

2.2.2 Komposisi Mineralogi Batuan Karbonat

Komposisi kimia atau mineralogi tidak begitu memperlihatkan lingkungan


pengendapan atau provenance. Tetapi penting sebagai derajat diagenesa,
rekristalisasi dan replacement kalsium karbonat. Jenis-jenis mineral karbonat
adalah sebagai berikut :

1. Aragonit : CaCO3 (Orhtorombic)

Memiliki paling tidak stabil, seing pula meyerupai serabut (fibre). Jarum-jarum

aragonit biasanya diendapkan secara kimiawi, dari presipitasi langsung air laut.

Diagenesanya biasanya berubah jadi kalsit. Juga organisme membuat rumah/test

dari aragonit, seperti moluska.

2. Kalsit : CaCO3 (Hexagonal)

Kalsti bersifat lebih stabil, dan biasanya merupakan hablur kristal yang bagus dan

jelas. Terdapat sebagai rekristalisasi dari aragonit; sering merupakan “cavity filling

atau cement”, serta umumnya batugamping terdiri atas mineral kalsit.

3. Dolomit : CaMg (CO3)2 atau CaMg Karbonat (Hexagonal)

Hampir sama dengan kalsit namun secara petrografis dapat di bedakan dari indeks

biasnya, dapat terbentuk sebagai presipitasi langsung air laut namun lebih sering

sebagai akibat dari penggantian mineral kalsit.

4. High Magnesium Calcite

Larutan padat (solid solution) dari MgCO3 dalam kalsit. Ditemukan dalam jumlah

yang tidak begitu banyak namun sering ditemukan pada batugamping dolomit.
21

5. Magnesite (MgCO3)

Kristal hexagonal, terbentuk sebagai akibat penggantian dari kalsit dan dolomit,

namun sering terjadi akibat dari rombakan batuan yang mengandung magnesium

silikat.

6. Siderite FeCO3

2.2.3 Prinsip Pembentukan Batuan Karbonat

Secara umum, proses pembentukan karbonat terjadi secara insitu, yang

berasal dari larutan yang mengalami proses kimiawi maupun biokimia. Pada proses

tersebut, organisme turut berperan. Selain itu proses pembentukan batuan karbonat

juga dapat terjadi dari butiran rombakan yang telah mengalami transportasi secara

mekanik dan kemudian diendapkan di tempat lain, dan pembentukannya dapat pula

terjadi akibat proses diagenesa dari batuan karbonat lain (Suyoto, 1993).

Sedimen karbonat dapat terbentuk akibat proses biokimia organik dengan

lingkungan laut yang hangat, jernih, dan dangkal. Menurut Suyoto (1993) kondisi

lingkungan seperti itu banyak di temukan di daerah tropis – subtropis. Berikut

syarat – syarat pembentukan karbonat :

1. Garis Lintang dan Iklim

Sedimen karbonat umumnya akan terakumulasi pada laut yang berada pada

posisi 30° LU – 30° LS, terutama pada daaerah paparan dengan kedalaman 0 –

200 meter (lingkungan neritik). Sedimen karbonat terbentuk dari hasil sekresi

karbonat oleh organisme seperti koral dan alga yang banyak tumbuh pada air

laut dangkal dengan kedalaman kurang dari 30 meter. Sedangkan sedimen

plankton banyak ditemukan pada lingkungan laut dalam pada daerah dengan
22

posisi antara 40° LU – 40° LS. Koral dan alga umumnya banyak terdapat pada

karbonat neritik dangkal pada lingkungan laut yang hangat di daerah dengan

lintang yang rendah (dekat khatulistiwa), sedangkan briozoa, moluska dan

foraminifera banyak terdapat pada lingkungan laut yang lebih dingin.

Faktor iklim berkaitan erat dengan sedimen asal darat. Influks sedimen klastik

terigenous berbutir halus seperti batulempung akan mengurangi produktivitas

sekresi batuan karbonat oleh organisme. Sebagai contoh, akumulasi reef

karbonat pada Selat Sunda berjumlah sedikit disebabkan oleh tingginya

suspensi sedimen yang di bawa oleh air sungai yang masuk ke laut. Influks

sedimen asal darat kaitannya dengan iklim (curah hujan) dan setting tektonik

pada daerah tersebut.

2. Penetrasi Sinar Matahari

Meningkatnya kedalaman kolom air, pertambahan posisi lintang dan

berkurangnya kejernihan air laut dapat berakibat terhadap penurunan penetrasi

sinar matahari. Fotosintesis yang dilakukan oleh organisme sangat bergantung

terhadap penetrasi sinar matahari yang memungkinkan produktivitas sekresi

karbonat. Umumnya, penetrasi sinar matahari dapat menembus hingga

kedalaman 10 meter. Apabila kondisi air laut tidak pekat oleh suspensi

lempung, penyerapan sinar matahari oleh organisme akan meningkat dan

karbonat dapat terbentuk pada kedalaman 50 – 60 meter. Batas terbawah

penetrasi matahari adalah 100 – 150 meter, dimana daerah tersebut merupakan

batas bawah zona euphotic yaitu zona dimana organisme yang berfotosintesis

dapat tumbuh dengan baik.


23

3. Salinitas

Salinitas normal umumnya diantara 30 – 40 ppt (salinitas air laut normal 32 –

36 ppt), kondisi ini dapat mengakibatkan biota dapat hidup dan berkembang

dengan baik. Perubahan salinitas laut biasanya dapat menyebabkan organisme

yang tidak dapat beradaptasi dan mati, tapi di sisi lain dapat menguntung kan

untuk jenis biota yang tergolong hypersaline dan hiposaline. Melimpahnya

satu atau lebih spesies biota umumnya terjadi pada perubahan salinitas yang

signifikan. Perubahan salinitas biasanya akan terekan pada komposisi

karbonat.

4. Organisme Laut

Sedimen karbonat dihasilkan secara biologis dan biokimia. Organisme laut

pembentuk reef, antara lain : koral, alga hijau, alga merah, foraminifera,

briozoa, dan moluska. Bentuk pertumbuhan reef oleh organisme sangat

tergantung pada besar kecilnya energi yang ada pada daerah tersebut.

5. Sirkulasi Air

Pada kondisi normal, suatu paparan yang tidak memiliki penghalang sirkulasi

air akan berlangsung dengan baik. Sirkulasi air akan tergantung pada besar

kecilnya aktivitas gelombang, pasang surut dan arus yang bekerja pada daerah

tersebut. Material karbonat berukuran besar dapat larut oleh adanya gelombang

laut atau aktivitas organisme dan kemudian dapat terbawa masuk kedalam

lingkungan yang lebih tenang dan dalam.


24

Gambar 2.4 Ilustrasi Pembentukan Karbonat (James & Bourque, 1992)

Gambar 2.5 Faktor Pembentukan Karbonat (C.G. St.C. Kendall, 2010 after Jones
& Desrochers, 1992)

2.2.4 Tekstur Batuan Karbonat

Salah satu contoh batuan karbonat adalah batugamping. Menurut Tucker

(1991), komponen penyusun batugamping dibedakan atas non – skeletal grain,

skeletal grain, matrix, dan cement.

1. Non – Skeletal Grain

a. Ooid dan Pisoid


25

Ooid adalah butiran karbonat yang memilik bentuk bulat atau elips dan

memiliki satu atau lebih struktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti.

Inti penyusun biasanya berupa partikel karbonat atau butiran kuarsa (Tucker,

1991). Ooid memiliki ukuran butir <2 mm dan apabila memiliki ukuran >2 mm

disebut sebagai pisoid.

b. Peloid

Peloid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat, ellipsoid, atau meruncing

yang tersusun atas mikrit dan tanpa struktur internal. Ukuran pelois berkisa 0.1

– 0.5 mm. kebanyakan peloid ini berasal dari kotoran (faecal origin) sehingga

disebut pellet (Tucker, 1991)

c. Aggregat dan Intraklas

Aggregat merupakan kumpulan dari beberapa macam butiran karbonat yang

tersemenkan bersama – sama oleh semen microcrystalline atau tergabung

akibat material organik. Sedangkan intraklas adalah fragmen dari sedimen

yang sudah terlitifikasi atau setengah terlitifikasi yang terjadi akibat pelepasan

air lumpur pada daerah pasang surut atau tidal flat (Tucker, 1991).

2. Skeletal Grain

Skeletal grain adlah butiran cangkang penyusun batuan karbonat yang terdiri

dari seluruh mikrofosil, butiran fosil, maupun pecahan dari fosil – fosil makro.

Cangkang ini merupakan allochem yang paling umum dijumpai pada

batugamping (Boggs, 1987). Komponen cangkang pada batugamping juga


26

merupakan penunjuk pada distribusi invertebrata penghasil karbonat sepanjang

waktu geologi (Tucker, 1991).

3. Lumpur Karbonar atau Mikrit

Mikrit merupakan matriks yang biasanya berwarna gelap. Pada batugamping

hadir sebagai butir yang sangat halus. Mikrit memiliki ukuran butur <4

mikrometer. Berdasarkan petrografi mikrit memiliki ukuran yang bersifat

heterogen yaitu berukuran kasar sampai halus dengan batas antara kristal yang

berbentuk planar, melengkung, bergerigi, ataupun tidak teratur. Mikrit dapat

mengalami alterasi dan dapat tergantikan oleh mozaik mikrospar yang kasar

(Tucker, 1991).

4. Semen

Semen terdiri dari material halus yang menjadi pengikat antar butiran dan

mengisi rongga pori yang diendapkan setelah fragmen dan matriks. Semen

dapat berupa kalsit, silika, oksida besi dan sulfat. Semen pada umumnya terdiri

dari hablur – hablur mineral kalsit yang jelas atau dikenal juga dengan istilah

sparry calcite atau spar (Folk, 1962). Semen kalsit biasanya mengisi rongga –

rongga diantara butiran selama proses diagenesis. Kadang – kadang sulit untuk

membedakannya dengan kalsit sebagai hasil rekristalisasiyang ukurannya lebih

halus atau sering di sebut microspar.

Gambar 2.6 Material Penyusun Batuan Karbonat


27

2.2.5 Porositas Batuan Karbonat

Batuan karbonat memiliki porositas yang lebih kompleks dibandingkan

dengan batupasir. Besar – kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor,

yaitu ukuran butir, pemilahan, susunan butir, kompaksi, dan sementasi. Pada batuan

karbonat ada dua tipe porositas yaitu : porositas primer yaitu porositas yang

terbentuk bersamaan pada saat sedimentasi berlangsung, dan porositas sekunder

yang terbentuk setelah terjadinya sedimentasi dan erat kaitannya terhadap proses

diagenesa.

Choquette dan Pray (1970) mengklasifikasikan porositas berdasarkan

deskripsi dan genesanya melalui analisis petrografi dan di bagi menjadi 3

diantaranya :

1. Fabric Selective

Tergolong fabric selective apabila porositas saling berhubungan dengan kemas

dari batuan tersebut. Jenis porositas yang tergolong fabric selective diantaranya :

a. Interpartikel : porositas primer dimana pori – pori terletak diantara butiran

b. Intrapartikel : porositas primer dimana pori – pori terletak didalam butiran

c. Interkristal : porositas sekunder yang terletak diantara kristal penyusun

butiran umumnya ditemukan pada dolomit

d. Mouldic : porositas sekunder dimana pori berasal dari material cangkang

yang telah terlarutkan

e. Fenestral : porositas primer yang berasal dari lepasan gas atau air pada saat

pengendapan jalinan ganggang


28

f. Shelter : porositas primer yan terbentuk sebagai ongga di bagian bawah

cangkang yang menutup sehingga terlindung dari pengisian oleh agregat

halus

g. Growth Framework : porositas primer sebagai akibat dari pertumbuhan

fragmen pembentuk tubuh batuan karbonat.

2. Non – Fabric Selective

Tergolong non – fabric selective apabila porositas dan kemas tidak saling

berhubungan. Jenis porositas yang tergolong non – fabric selective

diantaranya:

a. Fracture : porositas sekunder yang terbentuk akibat rekahan yang

diakibatkan oleh faktor mekanik dan faktor kimia.

b. Channel : porositas sekunder yang terbentuk sebagai akibat dari pelarutan

yang memanjang mengikuti bagian – bagian yang lemah

c. Vuggy : porositas sekunder yang terbentuk sebagai akibat adanya pelarutan

yang berkembang dari sistem pori yang telah ada sebelumnya.

d. Caver : porositas sekunder yang terbentuk sebagai akibat dari pelarutan dan

memiliki ukuran yang sangat besar.

3. Fabric Selective or Not Fabric Selective

Tergolong fabric selective or not fabric selective apabila jenis porositas yang

dapat berhubungan dan tidak berhubungan dengan kemas. Jenis porositas yang

tergolong ke dalam fabric selective or not fabric selective diantaranya :

a. Breccia : porositas sekunder yang terdapat pada breksi dengan pori – pori

yang terletak diantara butiran. Biasanya berasosiasi dengan fracture


29

b. Boring : porositas primer atau sekunder yang terbentuk sebagai hasil

penggalian organisme kedalam lapisan batuan yang keras

c. Burrow : porositas primer atau sekunder yang terbentuk sebagai hasil dari

jejak organisme ke lapisan batuan yang lunak

d. Shrinkage : porositas sekunder yang terbentuk sebagai akibat dari adanya

rekahan akibat penyusutan kristal.

Gambar 2.7 Klasifikasi Pori Pada Batuan Karbonat (Choquette & Pray 1970)

2.2.6 Klasifikasi Batuan Karbonat

Klasifikasi batuan karbonat sangat penting untuk menggambarkan tekstur

batuan karbonat dan mempermudah dalam penentuan fasies karbonat. Sebelum

adanya klasifikasi karbonat yang diajukan oleh Dunham (1962) dan Embry &

Klovan (1971) klasifikasi karbonat telah lebih dulu dilakukan oleh Folk (1962).

Folk membuat klasifikasi berdasarkan analisis petrografi dan lebih bersifat

deskriptif. Kelemahan dari klasifikasi Folk yaitu hanya bersifat untuk

mendeskripsikan batuan tetapi hanya sedikit untuk menginterpretasikan apa yang

telah dideskripsi. Pada penelitian kali ini akan ditekankan dalam penggunaan

klasifikasi Dunham (1962) dan Embry & Klovan (1971).


30

Gambar 2.8 Klasifikasi Batuan Karbonat (Dunham, 1962) dan


(Embry & Klovan,1971)
Dunham (1962) menyempurnakan klasifikasi yang telah di lakukan oleh

Folk dan lebih menekankan terhadap tekstur batuan karbonat dan penggambaran

genesa pembentukannya. Berdasarkan proporsi atau perbedaan antara batuan dan

matriks, Dunham (1962) membagi menjadi empat dasar klasifikasi diantaranya :

1. Butiran yang didukung oleh matriks (mud supported)

Keadaran butiran mengambang dalam matriks, dan tekstur batuan karbonat

mud supported dibagi menjadi 2 yaitu apabila butiran <10% disebut sebagai

mudstone, sedangkan butiran >10% disebut sebagai wackestone

2. Butiran yang didukung oleh butiran (grain supported)

Keadan butiran – butiran jelas saling bersentuhan dan umumnya

terendapkan pada lingkungan berenergi sedang – tinggi. Tekstur ini terbagi

menjadi 2 yaitu apabila masih mengandung matriks disebut packstone,


31

sedangkan butiran yang tidak mengandung matriks sama sekali disebut

sebagai grainstone

3. Butiran yang saling terikat pada saat pengendapan (boundstone)

Material skeletal grain terikat oleh alga pada saat pengendapan dan

biasanya memiliki kenampakan laminasi

4. Butiran yang telah mengalami diagenesis (crystalline)

Komponen penyusun dari batuan karbonat tidak lagi memperlihatkan

tekstur asalnnya kemungkinan besar dihancurkan oleh proses diagenesa,

maka kelompok batuan ini disebut sebagai crystalline.

Embry & Klovan (1971) menyempurnakan klasifikasi Dunham (1961)

dengan menambahkan aspek pengaruh energi dan sedimen – sedimen yang terbawa

dan terakumulasi pada batuan karbonat. Embry & Klovan membagi klasifikasi

batuan karbonat sebagai berikut :

1. Batugamping allochttonous, merupakan batuan karbonat yang sudah

berpindah tempat dari awal pembentukan nya dengan komponen berukuran

>2 mm dan sebanyak >10%. Jenis batugamping allochtonous terdiri atas :

floatstone (didominasi oleh matriks), dan rudstone (didominasi oleh butiran

yang saling menyangga)

2. Batugamping autochtonous, merupakan batuan karbonat yang tidak

berpindah dari tempat awal keterdapatannya dan saling terikat sejak awal

pengendapan. Jenis batugamping autochtonous ini terdiri atas : bafflestone

(fosil menyerupai tangkai) dimana tekstur batuan karbonat ini terdiri dari

organisme penyusun yang cara hidupnya menadah sedimen yang jatuh pada
32

organisme tersebut, sangat umum dijumpai pada lingkungan berenergi

sedang. Bafflestone ini terdiri atas koral yang berada pada posisi tumbuh

dan diselimuti oleh lumpur gamping. Kerangka organic yang beringak

sebagai “baffle” yang menjebak lumpur gamping. Bindstone (fossil tipis dan

rata) dimana organisme yang menyusun batuan karbonat hidupnya

mengikat sedimen yang terakumulasi pada organisme tersebut, umumnya

dijumai pada lingkungan dengan energy sedang – tinggi. Batuan ini

umumnya terdiri dari kerangka ataupun pecahan – pecahan kerangka

organik, seperti koral, briozoa dan lain sebagainya. Framestone (fossil

massif) dimana tekstur batuan ini umumnya hidup pada lingkungan

berenergi tinggi sehingga tahan terhadap gelombang dan arus. Penyusun

batuan ini seluruhnya dari kerangka organik seperti koral, btiozoa,

ganggang, sedangkan matriksnya <10% dan semen diperkirakan kosong.

Embry & Klovan (1971) selain menjelaskan mengenai klasifikasi tekstur

batuan karbonat juga menambahkan aspek energi pada saat pembentukan. Oleh

karena itu, secara umum pembagian zona energi dan batuan penyusun dapat di

ilustrasikan pada Gambar 2.9.

Pembagian zona terumbu menurut James & Bourque (1992) selain dapat

membantu dalam penentuan tekstur batuan karbonat serta kaitannya terhadap energi

pembentukan juga sangat membantu dalam peentuan asosiasi fasies. Berdasarkan

gambar 2.8 pembagian zona terumbu di bagi menjadi 5 zona, diantaranya fasies

backreef ditandai dengan tekstur bafflestone dan floatstone, fasies reef flat ditandai

dengan tekstur rudstone dan grainstone, fasies reef crest ditandai dengan tekstur
33

bindstone, fasies reef front ditandai dengan tekstur bafflestone, bindstone,

framestone, dan terakhir fasies fore reef ditandai dengan tekstur rudstone dan

grainstone. Selain menggunakan klasifikasi James & Bourque (1992) penentuan

asosiasi fasies juga dibantu dengan menggunakan klasifikasi Luis Pomar (2004),

karena dalam pembaian klasifikasinya menyertakan jenis biota yang menjadi

penciri dari suatu fasies tertentu, dengan ilustragi sebagai berikut :

Gambar 2.9 Penampang Melintang Kompleks Pembagian Zona Terumbu (James


& Bourque, 1992)

Gambar 2.10 Pembagian Zona Terumbu (Pomar, L. 2004)


34

2.2.7 Platform Karbonat

Sedimen karbonat umumnya terendapkan pada paparan laut dangkal

(platform). Menurut Wilson & Jordan (1983), karbonat platform dapat juga terjadi

pada tepi blok kratonik dalam cekungan intrakratonik, melintasi top bank – bank

lepas pantai, dan daerah – daerah positif lainnya pada paparan. Selain itu sedimen

karbonat juga mungkin ditemukan pada lingkungan laut marginal, seperti pantai

dan tidal flats.

Berdasarkan sifat tepi (edge) platformnya, terdapat tiga tipe dasar platform

karbonat yang dapat dikenali (H. Moore & Wilson, 1985) :

1. Paparan Karbonat Rimmed

Paparan karbonat rimmed adalah platform dangkal ditandai dengan

perubahan kemiringan yang tajam pada tepian paparan kedlm lingkungan laut

yang lebih dalam. Lingkungan pengendapan ini biasanya memiliki suatu

penghalang (barrier) di sepanjang tepian platform. Barrier atau penghalang ini

biasanya berupa terumbu buidup karena koral tumbu subur di daerah ini atau

gundukn pasir skeletal atau ooid yang dapat menyerap atau menghalangi energi

gelombang dan membatasi sirkulasi air, sehingga menghasilkan lingkungan

paparan energi rendah kea rah darat, yakni berupa lingkungan lagoon atau

berpotensi terbentuknya lingkungan evaporit. Kearah darat, lagoon tersebut

berangsur ke lingkungan tidak flat berenergi rendah disbanding dengan pantai

berenergi tinggi.
35

Gambar 2.11 Paparan Karbonat Rimmed (Read, 1985)

2. Paparan Karbonat Ramp (Unrimmed)

Umumnya berupa platform yg memiliki sudut kemiringan kurang dari 1o,

dimana endapan laut dangkal akan tertransport ke bawah dgn kecepatan yang

rendah ke dalam fasies air laut yang lebih dalam. Oleh karena itu platform ini

tidak tidandai oleh barrier marginal yang jelas. Paparan ini biasanya terjadi pada

bank – bank tropis besar yang dingin dan dalam semua karbonat daerah dingin

(James & kendall, 1992). Sirkulasi air yang melintasi platform ramp mungkin

cukup untuk perkembangan energi tinggi zona pantai disepanjang pantai

moderat disamping skeletal atau gundukan pasir ooid – pellet sepanjang tepi

paparan. Jadi, karbonat platform ramp dipengaruhi oleh proses fisika yang

seperti paparan silisiklastik.

Gambar 2.12 Paparan Karbonat Ramp (Read, 1985)

3. Paparan Karbonat Isolated


36

Biasanya berupa platform laut dangkal yang memiliki lebar 10 sampai

ratusan kilometer yang dikelilingi oleh laut dalam yang memiliki kedalaman

beberapa ratus meter. Platform ini dibatasi oleh suatu lereng yang memiliki

sudut kemiringan yang tinggi.

Gambar 2.13 Paparan Karbonat Isolated (Read, 1985)

2.3 Konsep Dasar Wireline Logging dan Elektrofasies Batuan Karbonat

2.3.1 Wireline Logging

Log merupakan sebuah grafik kedalaman dari sebuah dataset yang

menunjukkan parameter yang diukur secara kontinu didalam sebuh sumur (Adi

Harsono, 1997). Kurva yang terekam pada log merupakan reaksi dari alat logging

terhadap sifat fisik batuan. Berdasarkan sumbernya well log dapat dibagi menjadi

beberapa jenis yaitu : berdasarkan sumber radioaktif, listrik, akustik, dan

elektomagnetik.

Tabel 2.1 Sumber, jenis log, properti yang diukur dan fungsi (Walker, 1992)

Log Properti yang


Sumber Fungsi
(satuan) Diukur
Analisis litologi,
Gamma Ray Radioaktivitas
volume shale, korelasi,
(API) alami (K, Th, U)
analisis bentuk kurva
Readioaktif
Identifikasi zona poros,
Neutron (Persen Konsentrasi
menhitung porositas,
Porositas) hidrogen pada pori
penentuan fluida
37

Identifikasi zona poros,


Density (Kg/m3
Densitas Bulk menghitung porositas,
atau g/cm3)
penentuan fluida
Potensi elektrik
Spontaneous alami Mengetahui litologi,
Potential (dibandingkan korelasi, identifikasi
Listrik (Milivolts) dengan lumpur zona poros
pemboran)
Resistivity Ketahanan arus Identifikasi batubara,
(Ohm – meters) listrik evaluasi fluida
Identifikasi zona poros,
Sonic Laju gelombang
Akustik batubara, zona
(Microsecond/ft) suara kompresi
tersementasi padat
Evaluasi kondisi lubang
Mekanik Caliper (cm) Ukuran lubang bor bor dan kelayakan log
lainnya
2.3.2 Elekrofasies

Pola yang terekam dalam log dapat mencerminkan perubahan energi

pengendapan baik dari energi rendah hingga ke energi tinggi. Umumnya pola log

tersebut selalu diamati dengan kurva gamma ray dan spontaneous potential, tetapi

dalam penarikan kesimpulan juga dibantu oleh log neutron – densitas serta

resistivitas. Menurut Walker dan James (1992) log suatu sumur memiliki beberapa

bentuk dasar yang dapat menceritakan karakteristik suatu lingkungan atau energi

pengendapan. Gambar berikut merupakan respon kurva gamma ray dan aplikasinya

terhadap batuan karbonat.


38

Gambar 2.14 Pola Penumpukan Sedimentasi Batuan Karbonat (Kendall, 2003)


Berdasarkan pola elektrofasies di atas terdapat keterkaitan antara

pertumbuhan terumbu dengan air laut relative yang akan di jelaskan sebagai

berikut:

1. Pola Cylindrical

Pola cylindrical diinterpretasikan sebagai fase agradasi, yaitu batuannya

relatif seragam dan fasies berakumulasi pada laut dangkal. Pola log seperti

ini mngindikasikan bentuk keep up carbonate shelf.

Keep up memiliki artian yaitu laju pertumbuhan terumbu = laju kenaikan

muka air laut relatif, sehingga menyebabkan terumbu dapat tumbuh dengan

baik dengan pertumbuhan ke arah vertikal.

2. Pola Funnel

Pola funnel diinterpretasikan sebagai fase progradasi (regresi), dimana

terjadi perubahan build-up dari klastik menjadi karbonat. Pola log seperti

ini mengindikasikan bentuk Catch-up Carbonates.


39

Catch – up carbonates memiliki artian yaitu pada kondisi ini air laut

mengalami pendalaman, kemudian laju pertumbuhan terumbu mengejar

laju kenaikan muka air laut, sehingga pada akhirnya pertumbuhan terumbu

sama dengan kenaikan muka air laut relatif.

3. Pola Bell Shape

Pola bell shape diinterpretasikan sebagai fase retrogradasi (transgresi),

terjadi pada daerah tidal channel-fill, tidal flat, dan trangressive shelf.

Pola log seperti ini mengindikasikan bentuk Give-up Carbonates.

Give – up carbonate memiliki artian yaitu pada kondisi ini air laut

mengalami pendalaman, kemudian laju pertumbuhan terumbu tidak mampu

mengimbangi laju kenaikan muka air laut, sehingga terumbu tenggelam

kemudian mati.

4. Pola Symmetrical

Pola symmetrical diinterpretasikan sebagai gabungan antara fase progradasi

dan fase retrogardasi, terjadi pada daerah reworked offshore buildup, dan

regressive to transgressive shore face.

Pola log seperti mengindikasikan perubahan bentuk dari Catch-up

Carbonates ke Give-up Carbonates.

5. Pola Serrated

Pola serrated diinterpretasikan sebagai fase agradasi dan terjadi pada daerah

storm dominate shelf, dan distal deep marine slope interbedded with shaley

intervals.
40

2.4 Diagenesis Batuan Karbonat

Diagenesa merupakan perubahan yang terjadi pada sedimen secara alami,

dimulai sejak awal proses pengendapan hingga batas terakhir dimana

metamorfisme akan terbentuk. Diagenesa pada batugamping bertujuan untuk

menciptakab batuan yang bersifat lebih stabil berdasarkan komposisi mineralogi

dan batuannya. Tucker (1990), menjelaskan beberapa proses utama diagenesis yang

umumnya terjadi pada batuan karbonat. Proses tersebut diantaranya :

1. Microbial Micrittization

Proses dimana bioklastik terubah pada saat berada di dasar laut. Butiran

mengalami pemboran oleh alga, jamur, dan bakteri disekitar perbatasan dan

kemudian lubang hasil pemboran tersebut terisi oleh sedimen halus

(micrite). Umumnya terjadi pada lingkungan diagenesis stagnant and active

marine phreatic zone

2. Pelarutan (Dissolution)

Pelarutan dapat meningkatkan porositas serta penipisan lapisan batuan

sedimen terutama pada batuan yang mudah larut seperti batuan karbonat dan

evaporit. Proses ini dikontrol oleh pH, Eh, suhu, tekanan parsial CO2,

komposisi kimia dan kekuatan ion. Umumnya terjadi pada lingkungan

diagenesis freshwater vadose

3. Sementasi (Cementation)

Proses sementasi adalah proses dimana butiran – butiran sedimen di

rekatkan oleh material lain, dapat berasal dari air tanah atau hasil pelarutan

mineral – mineral dalam sedimen itu sendiri. Material semennya dapat


41

berupa karbonat (CO3), silika (Si), atau Oksida (Fe). Semen merupakan

komponen batuan karbonat yang mengisi pori – pori dan merupakan hasil

diagenesis atau hasil presipitasi dalam pori batuan dari batuan yang telah

ada. Umumnya terjadi pada lingkungan diagenesis fresh or salt water.

Semen karbonat sangat penting dalam penentuan lingkungan diagenesis.

Berikut merupakan tipe semen yang umum dijumpai pada analisis petrografi

Gambar 2.15 Jenis Semen Pada Lingkungan Vadose dan Phreatic

Gambar 2.16 Jenis – Jenis Semen Karbonat


42

4. Neomorphisme

Perubahan suatu mineral menjadi mineral yang lebih stabil. Berbeda dengan

rekristalisasi dimana terjadi perubahan mineralogi untuk menuju mineral

yang lebih stabil. Umumnya dijumpai pada lingkungan diagenesis early

burial of freshwater phreatic

5. Dolomitisasi (Dolomitization)

Dolomitisasi adalah perubahan batugamping secara parsial maupun

keseluruhan menjadi kristal dolomit. Dolomit memiliki densitas yang lebih

besar, sukar larut dalam air, dan lebih mudah patah (brittle). Secara umum,

dolomit bersifat lebih porous dan permeable dibandingkan batugamping.

Umumnya ditemukan pada lingkungan diagenesis mixing zone

6. Kompaksi (Compaction)

Kompaksi merupakan proses penyusunan kembali butiran sedimen

sehingga menghasilkan hubungan antara butiran yang lebih rapat. Hasil dari

proses kompaksi adalah penurunan porositas dan permeabilitas sedimen,

pengeluaran fluida dan pori antara butiran serta penipisan lapisan.

Kompaksi umumnya dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut :

a. Kompaksi Mekanik

Kompaksi mekanik terjadi akibat lapisan mengalami pembebanan

oleh sedimen yang berada diatasnya, sehingga menyebabkan

hubungan antar butir menjadi lebih dekat dan juga air yang

terkandung dalam pori – pori lapisan tertekan keluar.


43

b. Kompaksi Kimia

Kompaksi kimia terjadi apabila butiran yang bersentuhan

menyebabkan terjadinya pelarutan diantara butiran – butiran.

Gambar 2.17 Pengaruh Proses Diagenesis (Jaldrin and Wilshart,1988)

Lingkungan Diagenesis Batuan Karbonat

Moore (1989) membagi lingkungan diagenesa menjadi 3. Lingkungan

diagenesa batuan karbonat tersebut yaitu marine, meteoric dan subsurface

environment. Longmann (1980) membagi lingkungan diagenesa dekat permukaan

menjadi 4 yaitu marine phreatic, mixing zone, freshwater phreatic dan freshwater

vadose.

Marine environment, dimana kebanyakan sedimen karbonat dicirikan oleh

fluida pori normal atau laut yang termodifikasi yang biasanya sangat jenuh oleh

mineral karbonat utama (Bathurst, 1975). Merupakan daerah penghancur porositas

yang ekstensif karena semen laut (James dan Choquette, 1983). Distribusi

sementasi laut biasanya dikontrol oleh laju pergerakan fluida melalui sistem pori

sedimen, dipengaruhi pula oleh keadaan saat pengendapan seperti tingkat energi,
44

porositas dan permeabilitas sedimen, dan laju sedimentasi. Sementasi di lingkungan

ini hanya terjadi pada beberapa sublingkungan seperti shelf margin reef dan zona

intertidal. Dalam Longmann (1980) terbagi menjadi meteoric phreatic, marine

phreatic dan mixing zone yang dapat menghasilkan mikritisasi dan sementasi dan

membentuk kristal Mg-calcite dan dolomit.

Meteoric environment, dimana lingkungan terpapar ke permukaan dan

kehadiran dilute water relatif yang menampilkan jarak kejenuhan yang sangat jauh

dari sangat tidak jenuh menjadi sangat jenuh. Zona ini disebut juga sebagai zona

vadose yaitu zona diatas water table dimana terdapat air dan udara. Lingkungan ini

memiliki potensi sangat tinggi untuk membentuk porositas sekunder oleh disolusi

dan juga penghancuran porositas oleh sementasi pasif. Dalam Longmann (1980)

termasuk dalam lingkungan freshwater vadose, dimana terjadi leaching dan

pelarutan untuk pembentukan porositas sekunder.

Subsurface environment, merupakan daerah pencampuran antara meteoric

dan marine waters (Folk, 1974). Karena interaksi ini, maka fluida diperkirakan

jenuh dengan jenis karbonat paling stabil deperti kalsit dan dolomit (Choquette dan

James, 1979). Dibawah pengaruh temperatur dan tekanan tinggi bawah permukaan,

pelarutan karena tekanan merupakan proses penghancur porositas yang penting

dibantu oleh presipitasi semen pada pori. Area lokal yang tidak jenuh dan

berhubungan dengan degradasi termal menghasilkan disolusi.


45

Gambar 2.18 Lingkungan Diagenesis (After longman, 1982)

Anda mungkin juga menyukai