TEKNIK PEMBUATAN TANAMAN
JATI (Tectona grandis)
Tectona grandis atau Jati termasuk family Vebenaceae adalah tumbuhan tropis yang
penyebarannya meliputi India, Myanmar, Thailand, Vietnam dan Indonesia. Di Indonesia
terrtama di jawa pada ketinggian kurang dari 700 mdpl , tumbuhan ini juga terdapat di Muna
Buton, Maluku dan Nusa Tenggara. Untuk pertumbuhannya membutuhkan iklim musim
yang nyata yaitu musim dengan curah hujan berkisar 1.250- 2500 mm dan jumlah bulan
kering berkisar antara 3-5 bulan dan membutuhkan tanah yang mempunyai aerasi baik.
Tinggi pohon antara 25 m – 30 m namun daerah yang subur tinggi pohon bisa mencapai 50
meter dengan diameter + 150 cm, Batang umunnya bulat lurus, kulit kayu agak tipis beralur
dalam sampai agak dalam. Kayu memiliki kelas – awet I, kelas kuat II dan mempunyai
berat jenis 0,70, cocok dipergunakan untuk keperluan kayu perkakas dan pertukangan.
Gambar Tanaman Jati (Tectona grandis)
Sumber gambar : [Link]
I. Pengadaan Bibit
Untuk mendapatkan biji yang berkualitas,pemungutan biji hanya dilakukan pada kebin biji
atau petak – petak yang telah ditunjuk sebagai_tegakan biji . penguatan biji tersebut dilakukan
pada bulan agustus_september .sebelum dilakukan penguatan .lantai hutan di bersihkan untuk
memudah kan penuatan dan agar biji –biji yang telah lama jatuh tidak ikut dikumpulkan Biji
yang baik adalah sudah diseleksi , berukuran minimum 14 mm, berwarna coklat, tidak rusak
karena gangguan hamadan cukup kering biji yang ditanam sebaiknya dikumpulkan padatahun
berjalan jumlah biji yang dibutuhkan setiap ha adalah:
- Untuk jarak tanaman 2 X 1 X 1 M sebanyak 6 blik
- Untuk jarak tanaman 2,5 X 1 M sebanyak 5 blik
- Untuk jaeak tanam 3 X 1 M sebanyak 4 blik.
Gambar Bibit Jati (Tectona grandis)
Sumber gambar : [Link]
Penyimpanan biji dilakukan setelah biji di keringkan sehingga beratnya tetap. Dianjurkan
untuk disimpan didalam kotak kayu ukuran 2 X 1 X 1 m atau sesuai dengan [Link]
keperluan penyulaman dapat di gunakan biji atau [Link] digunakan bibit,diperlukan
pesrsemaian [Link] biji atau bibit sulaman yang harus dipersiapkan + 20% dari
target tanaman. Cara pembuatan persemaian sederhana tersebut adalah sebagai berikut :
1. Lokasi persemaian berada sedekat mungkin dengan lokasi tanam.
2. Dipilih tanah yang subur dan datar dengan kelerengan maximal 5%
3. Bedengan dibuat dengan ukuran 5 X 1 M dengan tinggi 10- 15 cm
4. Penyemaian biji dalam bedengan sedalam 2 cm dengan jarak 5 X 5 cm.
II. Penanaman
A. Persiapan lahan.
1. Pembersihan lahan
Mengingat jenis ini termasuk jenis toleran maka di perlukan pembersihan
lapangan yang [Link] pembersihan lahan di sesuaikan dengan keadaan
vegetasi lokasi calon [Link] lokasi calon tanaman yang bervegatasi relative lebat
dan jarang maka kegiatan pembersihan lapangan: tebas,tebang, dan rumpuk (pengumpulan
sisa) .sedang untuk lokasi yang vegetasinya alang-alang dan semak belukar bisa langsung
menggunakan bulldozer (croewler bulldozer) untuk membersihkan [Link]
buldozerr sebaiknya disesuaikan pula dengan luas lahan calon tanaman.
2. Pengolahan tanah
Untuk lahan-lahan bekas hutan alam yang masih subur tidak diperlukan pengolahan tanah
secara [Link] untuk lokasi bekas semak belukar dan alang-alang umumnya
memiliki tanah relative padat sehingga diperlukan pengolahan tanah untuk memperbaiki
sifat fisik tanah tersebut dan untuk mematikan tumbuhan pengganggu. Agar biji,jati dapat
berkecambah dan tumbuh dengan baik diperlukan tanah yang [Link] karena itu pads
tsnsh-tsnsh yang padat diperlukan pengolahan tanah.
Alternatif rangkaian kegiatan persiapan lahan dan kegiatan pengolahan tanah adslsh :
a. Pembersihan lahan [tanpa pengolahan tanah]
b. pembersihan lahan + bajak I
c. pembersihan lahan + bajak I + bajak II
d. pembersihan lahan + bajak I + garu
e. pembersihan lahan + bajak I + bajak II + garu
B. Penanaman
Sebelum biji ditanam perlu dipersiapkan ajir tanaman sesuai dengan jarak tanam yang
[Link] jarak tanam yang dianjurkan :
- Bonita 2 – 2,5 jarak tanam 2 X 1 M
- Bonita 3 jarak tanam 2,5 X 1 M atau 3 X 1 M
- Bonita 3,5 jarak tanam 3 X 1 M
Untuk lahan-lahan yang belum diketahui bonitanya jarak tanam tersebut disesuaikan
dengan kesuburannya. Cara penanaman biji jati adalah dengan memasukan biji ke dalam
tanah dengan kedalaman 2 cm dan bekas tangkai berada di bawah. Jumlah biji yang
ditanam tiap ajir sebanyak 5 [Link] antara biji diusahakan + 5 cm
III. Pemeliharaan Tanaman
A. Penyulaman Tanaman
Bahan tanaman untuk keperluan penyulaman dapat digunakan kecambah biji, bibit
putaran dan stump.
- Penyulaman dengan pletekan dan kecambah
Biji jati yang telah ditanam selama 4 minggu belum tumbuh disulam dengan pletekan
atau kecamabah
- Penyulaman dengan biji
Apabila setelah biji tumbuh kemudian terjadi petatan (tidak ada hujan) sehingga
banyak yang mati disulam dengan biji tiap ajir diusahakan 5 biji
- Penyulaman dengan bibit puteran
Dua bulan setelah penanaman apabila biji belum tumbuh disulam dengan bibit putaran
dan persemaian, cara membuat puteran adalah :
a) Alat yang digunakan Solet dari bambu atau bahan lain yang sejenis
b) Anakan jati yang berdaun 4 diamabil Bersama tanahnya dengan solet, akar dan
tanah harus menjadi satu.
c) Puteran lalu dimasukan ke dalam lubang yang telah disediakan kemudian diurug
dan dipadatkan dari samping.
- Stump
Apabila dalam jangka 1-2 bulan setelah penanaman biji jati belum tumbuh atau mati
dapat disulam dengan stump, cara membuat/menanam stump :
a) Anakan yang baik untuk dibuat stump adalah anakan yang diameternya
0,5–2,5 cm
b) Panjang stump 25 – 50 cm yang terdiri dari 5 – 10 cm bagian batang dan
20 – 40 cm bagaian akar
c) Stump ditanam pada lubang yang telah disediakan sampai pada leher akar, bagian
yang ditanam ditempelkan pada tanah yang keras (bukan tanah urugan) kemudian
ditimbun sedikit demi sedikit sambal dipadatkan
B. Penyiangan
Yang dimaksud penyiangan adalah membebaskan tanaman dari persaingan tumbuhan
penggangu dengan cara membersihkan tumbuhan lain dengan radius + 1 meter dari
tanaman pokok, kegiatan ini sebaiknya dilakukan sampai dengan umur 3 tahun.
C. Penjarangan
Penjarangan pertama tergantung pada keadaan bonita tanahnya berkisar anatar umur
3-5 tahun, kemudian 3 tahun sekali sampai umur + 15 tahun selanjtnya dijarangi
setiap 5 tahun samapi umur 30 tahun periode selanjutnya penjarangan dilakukan
setiap 10 tahun.
D. Hama dan Penyakit
Beberapa penyakit yang biasanya menyerang anakan jati adalah penyakit penyakit
lanas yang disebabkan oleh bacterium (Pseudomonas) Solanacearum Smith.
Pencegahan dapat dilakukan dengan membabat dan membakar anakan yang diserang
menyiangi rumput yang ada diskeitarnya, dan usahakan supaya lingkungan tidak
terlalu lembab. Adapun hama yang menyerang tumbuhan jati adalah engkes-engkes
(Monohamus rusticator F), uter-uter (Phasus damor moore), oleng-oleng (Domitus
ceramicus WIK), Inger-inger (Veotermes tectonae dam), busuk hati (Xy lobarus
destruen), Pyrausta machaeralis, Entung Jati (Hyblaea puera Cr) dan Benalu.
Cara pencegahan dan pemberantasan hama-hama tersebut adalah:
- Uter-uter/engkes-engkes ; larva dibunuh dengan memasukan sepotong kawat ke
dalam lubang serangga,waktu diadakan penjarangan.
- Oleng-oleng : seperti pada uter-uter,terutama antara bulan juni- januari atau bila
perlu diadakan penjarangan sebelum bulan januari.
- Inger-inger : penjarangan teratur dan tepat waktunya dan hendaknya dilakukan
sebelum musim hujan dengan memusnahkan pohon yang [Link] ini
mengingat sulungiger-iger biasanyan terbang di musim hujan
- busuk hati:tidak menanam jati di daerah daerah di mana tidak ada perbedaan yang
nyat antara musim hujan dan musim kemarau dengan curah hujan lebih dari 2.000
mm tiap tahun dan di lereng gunung vulkanis.
E. Pengendalian kebakaran.
Dengan jarak tanam yangrelatif rapat ,diharapkan pada umur 3-4 tahun tegakan jati
telah dapat menutup lantai hutan sehingga dapat mengurangi kerawanan akan bahaya
[Link] lokasi-lokasi yang rawan terhadap bahaya kebakaran diperlukan
upaya-upaya:
1) Penyuluhan terhadap masyarakat di sekitar kawasan hutan.
2) Membuat fasilitas pencegahan kebakaran hutan:
a. Pembuatan sekat bakar.
Pembuatan sekar bakar yang berupa jalur hijau dan jalur kuning,ditempatkan
di kiri kanan jalan utama dan jalan [Link] sekat bakar (termasuk jalan
hutan) tergantung dari kondisi [Link] lebar sekat bakar
[termasuk jalan hutan]antara 26 m sampai 40 m.
b. Pembuatan Menara pengawas api
3) mempersiapkan personil secukupnya untuk melaksanakan pengendalian
kebakaran.
Pustaka
Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1991, Teknik pembuatan tanaman Jati,
Jakarta.
Anonimous, 1976, Vademecum Kehutanan Indonesia, Jakarta