0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan12 halaman

Jodoh Dalam Sehari: Rani dan Falah

Cerita ini menceritakan tentang perjodohan Rani dengan Falah yang dilakukan sejak mereka kecil atas perjanjian antara ayah Rani dan paman Falah. Meskipun awalnya kaget dan tidak setuju, pada akhirnya Rani menerima perjodohan tersebut setelah mengetahui bahwa Falah juga baru diberitahu soal perjodohan ini. Pernikahan Rani dan Falah akan dilaksanakan 3 hari lagi.

Diunggah oleh

Isnaini Azizah12
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan12 halaman

Jodoh Dalam Sehari: Rani dan Falah

Cerita ini menceritakan tentang perjodohan Rani dengan Falah yang dilakukan sejak mereka kecil atas perjanjian antara ayah Rani dan paman Falah. Meskipun awalnya kaget dan tidak setuju, pada akhirnya Rani menerima perjodohan tersebut setelah mengetahui bahwa Falah juga baru diberitahu soal perjodohan ini. Pernikahan Rani dan Falah akan dilaksanakan 3 hari lagi.

Diunggah oleh

Isnaini Azizah12
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bertemu Jodoh dalam Sehari

Aku terbangun ketika bekerku berbunyi dan menunjukkan pukul 3.00 dini hari,
segera aku mengambil air wudhu’ untuk melakukan kegiatan rutinanku di rumah yaitu
sholat tahajjud berjama’ah bersama Ayah, Bunda, adikku, Dina. Kemudian kami membaca
Al-Qur’an sambil menunggu sholat shubuh. Setelah sholat shubuh, aku mandi, Dina
menyapu halaman, Ayah menyiram taman, Bi Nay membantu Bunda memasak untuk
sarapan. Sebenarnya Bunda tidak membutuhkan asisten rumah tangga, tapi karena Ayah
tidak tega melihat Bi Nay yang saat itu sedang mencari pekerjaan, akhirnya ayah menerima
Bi Nay menjadi asisten rumah tangga.

Setelah mandi, aku bergegas sarapan bersama di ruang makan, setelah makan, aku
bersiap-siap pergi ke kampus. Aku, Dina dan Ayah berpamitan dengan bunda. Karena mobil
di rumah mogok, Ayah dan Dina berangkat naik sepeda motor, dan aku naik angkutan
umum, karena jarak kampus dengan rumahku lebih dekat daripada jarak kantor Ayah dan
sekolah Dina.

Sekarang aku sedang menunggu angkutan umum di depan kompleks perumahanku.

“ Hai. ” sapa laki-laki di sebelahku.

Aku menoleh, mengerutkan kening, sejak kapan ada laki-laki ini di sekitar sini? batinku.

“ Hai. “ jawabku.

“ Kamu dari kompleks Permata kan? “ tanya laki-laki itu.

Belum sempat kujawab, angkutan umum yang kutunggu akhirnya datang, aku menaikinya,
dan ternyata laki-laki itu juga naik angkutan umum yang sama denganku tapi dia duduk di
samping supir.

Aku turun di depan kampus Garuda yang menjadi tempat belajarku 1 bulan ini. Lagi-
lagi laki-laki itu turun bersamaan denganku.

“ Kamu dari kompleks Permata kan? “ tanya laki-laki itu lagi.

1
“ Hm. ” jawabku singkat.

“ Aku pindahan dari Bandung kemarin, aku sempat melihatmu saat kamu ke
minimarket. Namaku Falah, dari kompleks Indah, siapa namamu? “

“ Rani. ” jawabku.

Aku terus berjalan dengannya sampai tak terasa kita sudah sampai di depan kelas.
Aku masuk kelas dan menuju di tempat dudukku yang berada di baris kedua. Ketika akan
duduk, aku terkejut karena lagi-lagi siapa tadi namanya? Falah? Itu mungkin namanya, Falah
ternyata juga masuk di kelas yang sama denganku. Kenapa sih dari tadi si Falah
mengikutiku? Batinku.

“ Siapa dia? “ tanya Alya teman sebangkuku.

“ Fa – lah mungkin namanya. “ jawabku

“ Saudaramu Ran? “ Tanya Alya.

“ Bukan. “ jawabku.

“ Terus kenapa kamu tau namanya, jalan bareng lagi? Hayo..? “ Cerocos Alya

“ Aku calon suaminya Rani, Kenalin namaku Falah. Namamu siapa? “ Falah
menjawab Alya

Aku melihatnya dengan mengerutkan kening. Orang gak waras, baru juga ketemu tapi
langsung ngaku-ngaku calon suami. Batinku

“ Oh, namaku Alya Fal, salam kenal ya... hah calon suami? kok kamu gak cerita sih
Ran kalau udah tunangan?“ ucap Alya sambil menoleh padaku.

“ Gak usah di dengerin Al, di... “ aku terhenti bicara karena Pak Bim, Dosen mata
kuliah Sejarah Indonesia datang.

“ Selamat pagi anak-anak. “ Sapa Pak Bim

“ Selamat pagi pak. “ jawab sekelas.

2
Pak Bim memulai mata kuliah seperti biasanya, menerangkan pelajaran, memberi
tugas dan mahasiswa mempresentasikan tugas yang telah diberi Pak Bim. Setelah Pak Bim,
ada Bu Ita yang menjadi dosen mata kuliah Sejarah dan Kebudayaan Peradaban Kuno.

Bel istirahat pun berbunyi, aku berdiri menuju perpustakaan, Tapi apalah daya jika
Alya mengajakku ke kantin. Alya masih penasaran tentang perkataan Falah yang akan
menjadi calon suamiku. Aku sudah meyakinkan Alya bahwa perkataan Falah hanya omong
kosong dan sangat tidak mungkin, karena kita baru kenal tadi pagi. Tapi Alya masih kekeuh
dengan keyakinannya bahwa aku dan Falah sudah tunangan. Di kantin Alya memesan nasi
goreng karena katanya tadi pagi tidak sarapan. Dan aku hanya memesan air putih karena
memang aku tidak lapar.

Disaat aku dan Alya menunggu pesanan, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahku
dengan membawa dua mangkuk yang berisi bakso. Aku langsung menoleh, ternyata si Falah.
Aku terdiam, Falah bawa mangkok dua? batinku.

“ Ran, ini bakso buat kamu. “ ucap Falah.

Ih, ngapain aku mikirin Falah. Emang dia siapa aku? Batinku.

“ RAN!!!! “ Alya mengejutkanku.

“ Apa Al? “ jawabku.

“ Kamu dikasih bakso tuh sama Falah. “ ucap Alya.

Aku menoleh ke arah Falah dan tidak menghiraukannya. Bukan karena aku sombong
tapi karena memang aku sudah kenyang dan tidak selera makan.

“ Buat aku aja Fal gak papa. “ ucap Alya.

“ Maaf ya Ran, tadi aku bukan asal ngomong kok Ran, aku sungguhan bilang kalau
kamu adalah calon istriku. “ cerocos Falah.

“ Oh ya? Kok aku gak tau ya kalau kamu calon suamiku? “ ucapku.

“ Sudahlah Ran, jangan begitu sama Falah, kan dia calon suamimu. “ ucap Alya.

“ Aku harus bilang ber.... “

3
Aku terhenti bicara ketika Ibu kantin membawa pesanan Alya yakni nasi goreng dan
jeruk hangat.

“ Ayo makan !!! “ ucap Alya.

***

Aku pulang bersama Alya meskipun beda tujuan. Daripada aku harus bersama si
ngaku-ngaku itu. Yang ada malah nanti darahku semakin mendidih. Rani udah, gak usah
mikirin dia lagi!!!! Aku berusaha menulis kalimat itu dengan besar di kepalaku.

Tidak terasa aku sudah sampai rumah.

“ Assalamu’alaikum, Rani pulang Bun. “ ucapku

“ Wa’alaikumsalam Rani. “ jawab Bunda sambil melihatku.

“ Wajahnya kok cemberut Ran? “ tanya Bunda

“ Gak papa kok Bun. “ jawabku sambil jalan menuju kamarku.

“ Segera ganti baju lalu makan Ran. “ teriak Bunda

Aku melemparkan tas sembarangan di kamar, lalu aku merebahkan tubuhku di kasur
dan lagi – lagi masih memikirkan perkataan Falah. Jika perkataan Falah benar, apa yang
harus kulakukan? Batinku.

Aku terlalu memikirkannya sampai aku tertidur.

“ Kak, Kak Rani, ayo bangun kak, “ Dina membangunkanku.

“ Dipanggil Bunda kak. “ ucap Dina lagi

“ Iya iya. “ ucapku.

Ternyata aku tertidur cukup lama sampai maghrib. Untung aku tadi sudah sholat
ashar di kampus. Aku memutuskan untuk mandi lalu sholat maghrib dan menemui Bunda di
ruang makan. Ketika aku turun, aku terkejut karena sudah banyak orang di ruang makanku.
Mungkin teman – temannya ayah batinku. Aku segera duduk di meja maka karena

4
semuanya sudah siap. Di meja makan ada Ayah, Bunda, Dina, dua orang laki – laki dan satu
perempuan.

“ Rani, perkenalkan, ini Tante Aisyah, ini Om Ahmad, ini Andi. “ ucap Ayah.

“ Hai Rani. “ sahut Tante Aisyah, Om Ahmad dan Andi.

“ Hai juga. “ ucapku.

Tak lama kemudian seseorang duduk di kursi sebelah Andi dan tepat berada di
depanku. Di hari yang penuh kejutan ini, lagi – lagi aku terkejut karena yang berada di
depanku adalah anak sok yang dari tadi ngaku – ngaku jadi calon suamiku yaitu si Falah. Aku
langsung memalingkan wajahku. Duh dia lagi, dia lagi batinku.

“ Maksud kedatangan kami disini adalah untuk mendiskusikan tanggal pernikahan


kalian. “ ucap Om Ahmad.

Apa aku barusan salah dengar ya? Gak mungkin! Ini pasti halusinasiku saja, batinku

“ Tunggu sebentar, yang barusan om bilang apa? Pernikahan??? “ ucapku.

“ Iya Ran, kamu dan Falah dijodohkan dari masih kecil, karena Ayah dan Om Ahmad
dulu sahabat dan pernah berjanji jika anak Ayah dan Om Ahmad beda jenis kelamin maka di
jodohkan dan ternyata memang berbeda. Ayah memang tidak memberitahukan kepadamu.
Sebab, jika Ayah memberitahumu, kamu akan mencari calon suamimu, kepikiran dan pasti
tidak akan setuju jika dijodohkan. Memang Om Ahmad tidak datang untuk melamarkan
anaknya untukmu karena ini memang tidak bisa ditolak, jika kamu dilamar, kan kamu bisa
menolak Falah, jadi langsung kita tentukan hari dan tanggal pernikahan kalian berdua ya.”
Ucap Ayah.

“Bunda tau ? “ ucapku.

Belum sempat ibu menjawab, aku sudah lari menuju kamar. BRAAAK suara pintu
kamarku dan langsung aku menguncinya. Ini gak adil. Kenapa hanya Falah yang dikasih tau?
Kenapa di zaman sekarang masih jodoh – jodohan sih? Kenapa di hari ini banyak sekali
kejutan yang gak aku suka? Ini mimpi kan? Ya kan? Batinku. Aku memastikannya dengan
mencubit pipiku. “ Aww, “ ucapku. Ternyata bukan mimpi.

5
Di meja makan

“ Bagaimana ini Yah? “ ucap Bunda

“ Rani akan menyetujuinya, Ayah yakin Bun, jangan terlalu mengkhawatirkannya. “


jawab Ayah.

“ Bunda tidak tega Yah melihat Rani. “ ucap Bunda.

“ Sudahlah Bun, “ ucap Ayah.

“ Falah kapan tau kalau dijodohkan? “ tanya Bunda.

“ Kemarin tante. “ jawab Falah.

“ Oh kemarin. “ ucap Bunda.

“ Saya tadi di kampus sudah bilang ke Rani kalau dia calon istri saya, tapi dia gak
percaya. “ ucap Falah.

“ Ya sudah kita tunggu Rani sampai emosinya mereda. “ ucap Ayah.

***

Esok harinya aku bangun dan melakukan kegiatan seperti biasa, mulai dari tahajjud
sampai berangkat ke kampus. Aku sudah tidak marah lagi masalah kemarin karena ternyata
Falah juga baru tahu kemarin, Dia juga sama shock nya sepertiku makanya dia menanyakan
alamat rumahku dan pura – pura jadi mahasiswa di kampusku. Sebenarnya dia sudah lulus
kuliah tahun kemarin dan sekarang jadi manager di perusahaan Om Ahmad.

Jangan heran kalau aku tahu tentang Falah, karena kemarin Ibu menceritakan semuanya
padaku. Akhirnya aku menyetujui pernikahan atas dasar perjodohan itu.

Pernikahanku 3 hari lagi karena Ayah ingin cepat – cepat melihat aku menikah.
Bayangkan saja, sejak kecil sudah dijodohkan, lalu semuanya sudah disiapkan 6 bulan
sebelumnya. belakangan ini Alya selalu menelponku karena bahagia melihatku segera
menikah.

***

6
Tak terasa besok pagi aku akan menyandang gelar sebagai seorang istri. Rasanya
belum siap tapi mau bagaimana lagi. Ibu menyuruhku segera istirahat agar besok bisa
menyiapkan acara pernikahanku.

Aku bangun pukul 03.00 untuk mandi, sholat tahajjud bersama keluarga, dilanjutkan dengan
membaca Al – Qur’an sambil menunggu shubuh, lalu tukang rias segera meriasku. Ibu
membantu Bi Nay menyiapkan di dapur, Tante Aisyah menyiapkan makanan untuk tamu
undangan. Keluarga besar Falah telah datang.

Tidak terasa, Akad telah dilangsungkan pukul 08.00, aku terkejut dari lamunanku
karena pintu kamarku terbuka, dan ternyata Falah. Aku hanya melihatnya. Falah tersenyum
sambil berjalan menuju padaku, aku bingung, kenapa dia tersenyum? Batinku. Rani bodoh,
bodoh, bodoh, kan dia sudah sah menjadi suamiku sekarang. Kenapa aku masih duduk
disini? Batinku. Aku segera menghampiri ‘suami’ ku dan mencium tangannya. Falah
memegang kepalaku dan membacakan doa.

“ Cantik sekali istriku. “ ucap Falah.

Wajahku memerah seketika.

“ Ayo kita ke depan istriku, banyak tamu yang sudah menunggu. “ ucap Falah.

“ Iya. “ ucapku.

Acara resepsi digelar di depan rumahku, tamu undangan yang hadir lebih dari lima
ratus. Alya datang mengolok – olokku.

“ Katanya Falah yang ngaku - ngaku, sekarang kok jadi beneran? Emang kamu aja
yang gak mau ngaku kalau udah lamaran kan? Iya kan Ran? “ cerocos Alya.

“ Ssstt, jangan ramai dong Al. “ ucapku.

“ Kamu malu kan Ran? “ Tanya Alya.

“ Nggak kok. Ngapain malu? Kan emang dulu aku gak tau kalau Falah gak bohong. “
ucapku.

“ Sudah berantemnya? “ tanya Falah.

7
“ Hehehe, ampun ampun, jangan hukum aku. “ ucap Alya sambil kedua tangannya
diletakkan di depan wajah seperti memohon ampun.

“ Kamu akan ku hukum karena telah mengolok – olok istriku. “ ucap Falah.

“ Cieeee ciee istri nih yee. Rani manggil Falah apa? “ ucap Alya.

“ Banyak yang antri mau foto tuh. Minggir Al ! “ ucapku.

“ Sahabatnya gak diajak foto nih? “ tanya Alya.

Aku tidak menjawab pertanyaan Alya, karena ia sudah berpose di sebelahku.

“ Gandengan dong tangannya. “ ucap Alya.

Duh, Alya... plis deh, aku kan baru kenal dalam satu hari, gimana bisa gandengan? Kan
malu.. batinku

Tangan kanan Falah menarik tangan kananku dan menaruhnya di tangan kiri Falah. Aku
terkejut, ini semua gara – gara Alya. Bagaimana ini... jujur, aku masih gugup.

“ Ehem – ehem, Jangan mengumbar kemesraan di depan Alya yang masih jomblo
doong, kan Alya pengeen. “ cerocos Alya

“ Emang susah kalau lawan si Alya. “ ucapku.

Setelah acara resepsi usai, aku mandi lalu tertidur. Saat aku tertidur, aku mendengar
suara

“ Tenang aja, pernikahanku gak akan lama. Kamu tunggu aja ya sayang. “

“ ...... “

“ Gak bakal aku mencintainya, aku kan hanya mencintaimu. Tunggu sampai aku
menceraikannya. Pernikahan paksa ini hanya agar harta ayah jatuh di tanganku, bukan di
tangan Andi. Jika harta, perusahaan, dan semua yang dimiliki ayah telah jadi milikku, aku
akan menceraikannya dan menikahimu. “

“ ....... ”

8
“ Good night sayang. “

Ini mimpi kan? Aku tidur kan? Gak mungkin Falah sejahat itu. Ayah, Bunda, tolong jelaskan
pada Rani kalau ini semua hanya mimpi. Batinku

Aku bangun tepat pukul 03.00 aku melihat Falah tidur di sofa. Aku
membangunkannya untuk sholat tahajjud berjama’ah seperti biasanya.

“ Mas, bangun udah jam 03, ayo kita tahajjud berjama’ah dengan Ayah. “ ucapku.

“ Kamu aja yang tahajjud, aku gak ikut. “ ucap Falah.

“ Nanti kalau aku ditanya Ayah, aku jawab apa? “ tanyaku.

“ Sssstt, aku mau tidur jangan banyak tanya. “ ucap Falah.

Aku mandi kemudian menuju musholla di rumahku.

“ Rani, suamimu mana? “ tanya Ayah.

“ Kecapek an mungkin Yah, sudah Rani bangunkan kok. “ jawabku.

“ Falah disini Yah. “ ucap Falah.

Aku hanya melihatnya dengan tatapan datar. Alhamdulillah batinku.

Setelah melakukan kegiatan seperti biasanya, aku memasak membantu Bunda dan Bi Nay.

Beberapa menit kemudian masakan telah usai. Semua telah berkumpul di meja makan
kecuali Falah, akhirnya aku mencari di kamar, dan hasilnya nihil. Ku putuskan kembali ke
meja makan.

“ Mas Falah kemana Yah? “ tanyaku.

“ Katanya tadi ada urusan mendadak, jadi gak bisa sarapan bareng. “ jawab Ayah.

“ Emangnya Mas Falah gak bilang sama kakak? “ tanya Dina.

“ Lupa kakak dek, Mas Falah udah bilang mungkin. “ jawabku.

Padahal dia gak bilang apapun kepadaku. Batinku.

9
Usai makan bersama, semuanya bergegas dengan kesibukan masing – masing. Aku masih
belum kuliah sampai minggu depan. Tiba – tiba handphone ku berbunyi, nomor yang tidak
dikenal menelponku.

“ Halo, selamat pagi ini dari Rumah Sakit Indah apa benar ini keluarga dari Bapak
Falah? “ tanya suara di handphone

“ Benar, kebetulan saya istrinya Bapak Falah, ada apa ya? “ tanyaku.

“ Bapak Falah mengalami kecelakaan mobil. “ ucap suara di handphone.

“ Baik, saya akan segera kesana. “ ucapku.

Aku memberi tahu Bunda tentang hal tersebut, karena hanya Bunda yang berada di rumah,
dan segera menuju Rumah Sakit tersebut.

Aku terkejut dengan keadaan Mas Falah dengan begitu banyak selang yang di pasang
di tubuhnya. Tidak lama kemudian, dokter datang memberi tahu keadaan Mas Falah kalau
Mas Falah sedang kritis, Mas Falah kecelakaan mobil bersama perempuan, tapi perempuan
itu tidak bisa diselamatkan. Air mataku dan Bunda tidak dapat dibendung lagi.

Aku dan Bunda memutuskan menemui perempuan yang tidak bisa diselamatkan dari
kecelakaan. Suster menyerahkan handphone Mas Falah padaku, aku membuka
handphonenya dan ternyata foto wallpaper layar kunci adalah perempuan tersebut. Jadi
kemarin malam itu benar? Aku tidak mimpi. Mas Falah menikahiku agar harta ayahnya
jatuh ke Mas Falah dan Mas Falah bisa menikahi perempuan itu setelah menceraikanku.
Ternyata tadi pagi Mas Falah tidak ikut sarapan karena jalan sama perempuan yang di
panggil sayang kemarin. Ya Allah, apa maksud semua ini? Engkau pertemukan jodoh hamba
dalam sekejap, dan mengetahui keburukan jodoh hamba dalam sekejap. Bagaimana
perasaan Mas Falah jika tau kalau perempuan yang dicintainya meninggal? Akankah Mas
Falah masih marah padaku karena pernikahan paksa ini? Ya Allah kuatkan hamba atas apa
yang akan terjadi pada hamba-Mu yang lemah dan penuh dosa ini. Batinku.

“ Ada apa Ran? Kok wajah kamu seketika berubah ketika melihat handphone
suamimu? “ tanya Bunda.

“ Tidak apa – apa kok Bun, “ jawabku.

10
Suster buru – buru kepadaku karena Mas Falah sudah melewati masa kritisnya dan sekarang
telah sadar. Alhamdulillah Ya Allah batinku. Aku segera menuju ruangan Mas Falah.

“ Rani, “ ucap Mas Falah lirih.

“ Iya Mas, “ jawabku.

“ Maafkan aku ya Ran, yang tidak bisa menjadi suami yang baik bagi kamu, padahal
kamu adalah istri yang baik. Kamu tidak punya dendam apapun meskipun kamu tahu kalau
aku tidak setia padaku. Aku sebenarnya kemarin tahu kalau kamu belum sepenuhnya tidur
disaat aku menelpon. Bangun tidur kamu seakan – akan tidak mendengarnya dan
membangunkanku dengan sangat lembut, tapi jawaban ku kasar sekali dan mengusirmu,
tadi pagi pun kamu masak untukku tapi aku memutuskan untuk keluar bersama pacarku dan
akhirnya aku di ingatkan melalui kecelakaan ini bahwa aku tidak boleh menjalin hubungan
yang dilarang. Sekali lagi maafkan aku ya Ran, “ ucap Falah.

“ Aku sudah memaafkan Mas Falah. “ ucapku.

“ Alhamdulillah. “ ucap Mas Falah.

“ Syukurlah nak jika kamu mengakui kesalahanmu, “ ucap Bunda

Beberapa hari kemudian Mas Falah diperbolehkan pulang. Semua orang mengantarkan
pulang ke rumah. Selama di Rumah Sakit, aku bahagia sebab meskipun awalnya aku tidak
setuju dengan Ayah yang menjodohkanku tanpa sepengetahuanku, tidak akan Ayah
menjodohkanku dengan sembarang orang, dan ternyata memang Mas Falah orang yang
baik. Terima kasih Ya Allah atas semua nikmat yang telah kau berikan kepada hamba dan
keluarga hamba.

TAMAT

11
12

Anda mungkin juga menyukai