7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Lalat
Lalat merupakan salah satu Insecta yang termasuk dalam Ordo diptera,
yaitu insecta yang mempunyai sepasang sayap berbentuk membran. Pada saat ini
telah ditemukan tidak kurang dari 60.000 sampai 100.000 spesies lalat. Namun
tidak semua spesies lalat diatas perlu diawasi, karena beberapa diantaranya tidak
berbahaya bagi manusia jika di tinjau dari segi kesehatan.
Gambar 2.1 Lalat
(Sumber: [Link], 2013)
Beberapa spesies yang penting dari sudut kesehatan yaitu : lalat rumah
(Musca domestica), lalat kandang (Stomoxys celeitrans), lalat hijau (Phenisia),
lalat daging (Sarcophaga), dan lalat kecil (Fannia), (Azwar, 1995). Untuk
mengenal lalat dalam arti sesungguhnya dapat dilakukan dengan identifikasi atau
memperhatikan salah satu dari morfologinya, misalnya seperti lalat rumah (Musca
domestica) dengan ciri-ciri yaitu tubuh tumpul, warna kelabu atau coklat kehitam-
hitaman, garis ke 4 sayap berbentuk sudut, thorax berwarna gelap dengan 4 garis
hitam (WHO,1972).
8
Pada prinsipnya bahwa morfologi dan susunan tubuh dari lalat sesuai
dengan ciri umum Phylum Anthropoda. Tubuhnya terdiri dari 3 bagian utama
yaitu kepala (Head), Thorax, dan Abdomen. Ketiga bagian tubuhmempunyai
batas-batas yang jelas yang memisahkan bagian yang satu dan bagian lainnya.
Lalat disebut juga serangga yang termasuk dalam kelas Hexapoda yang ciri-
cirinya mempunyai 6 kaki (Hexa = 6) dan poda = kaki), (WHO,1972).
2.2 Siklus Hidup Lalat
Gambar 2.2 Siklus Hidup lalat
(Sumber: [Link], 2008)
Lalat merupakan insekta yang mengalami metamorfosa sempurna, dimana
selama hidupnya mempunyai stadium yaitu : telur, larva, kepompong dan stadium
dewasa. Lalat betina umumnya telah menghasilkan telur pada usia 4-8 hari,
setelah keluar dari pupa. Telur dikeluarkan lalat betina sekaligus sebanyak 150-
200 butir. Selama hidupnya lalat betina bertelur 5-6 kali (Depkes RI, 1991).
9
2.2.1 Stadium Telur
Dalam bertelur, biasanya lalat meletakan telurnya pada bahan-bahan
organik yang lembab. Pada tempat yang tidak langsung kena sinar matahari. Telur
lalat berwarna putih lonjong dengan ukuran 1-2 mm dan biasanya menetas setelah
8-30 jam, tergantung dari suhu sekitarnya.
Gambar 2.3 Telur lalat
(Sumber: [Link], 2013)
2.2.2 Stadium Larva
Pada stadium larva ini mempunyai tiga tingkatan yaitu :
a. Tingkat 1 : Telur yang baru menetas, disebut instar I, berwarna putih
berukuran panjang 2 mm, tidak bermata dan berkaki amat aktif dan ganas
terhadap makanan.
b. Tingkat 2 : Setelah 1-4 hari melepas kulit, keluar instar II, ukurannya besar
dua kali dari instar I, setelah 1 sampai beberapa dari kulit mengelupas keluar
instar III
c. Tingkat 3 : Larva berukuran 8 mm atau lebih, tingkat ini memakan waktu 2-8
hari tergantung kelembaban. Pada tingkat III, larva mencari tempat dengan
10
temperature yang disenangi untuk berubah menjadi kepompong. Temperature
yang disukai antara 30-350C.
Gambar 2.4 Larva lalat
(Sumber: [Link], 2013)
2.2.3 Stadium Pupa/Kepompong
Pada masa ini, jaringan larva berubah menjadi jaringan tubuh dewasa.
Stadium ini berlangsung 2-8 hari, temperature yang disukai ±350C, stadium ini
tidak bergerak, mempunyai selaput luar yang keras disebut Chitine dan pada
jaringan spiracle yang berguna untuk menentukan jenisnya.
Gambar 2.5 Pupa lalat
(Sumber: [Link], 2013)
11
2.2.4 Stadium Dewasa
Stadium ini merupakan stadium terakhir yang sudah berwujud serangga
yaitu lalat. Proses pematangan menjadi lalat dewasa kurang lebih 15 jam dan
setelah itu siap untuk mengadakan perkawinan. Seluruh waktu yang diperlukan 8-
20 hari, tergantung pada suhu ditempat, kelembaban dan makanan yang tersedia.
2.3 Tata Hidup Lalat
Banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan lalat dalam melakukan
aktifitasnya seperti faktor iklim/musim, tempat, faktor makanan dan faktor
lainnya (Depkes RI, 1991).
2.3.1 Tempat perkembang biakan/perindukan
Tempat yang disenangi adalah tempat basah, bahan-bahan organik, tinja,
sampah basah, kotoran binatang, tumbuh-tumbuhan busuk, kotoran yang
menumpuk secara kumulatif, (dikandang hewan) sangat disenangi sebagai tempat
perindukn lalat. Kapasitas reproduksi lalat yaitu satu ons kotoran ternak yang
diambil beberapa inci dibawah permukaan tanah berisi 868 pupa lalat, dari 1/6
kaki kubik medium kotoran manusia yang dipendam menghasilkan 4,042 lalat,
bila gonotropic cycle 10 hari dari tiap ekor betina, bertelur 120 butir, setelah 5
bulan akan dihasilkan lalat 5,592,720 ekor lalat (Depkes RI, 1991).
2.3.2 Jarak Terbang
Jarak terbang sangat tergantung pada adanya makanan yang tersedia, rata-
rata 6-9 km, kadang-kadang dapat mencapai 19-20 km dari tempat perindukan
(Depkes RI, 1991).
12
2.3.3 Kebiasaan Makan
Lalat dewasa sangat aktif sepanjang hari, dari makanan satu ke makanan
lainnya. Lalat sangat tertarik oleh makanan yang dimakan oleh manusia sehari-
hari seperti gula, susu, dan makanan lainnya, kotoran manusia, serta darah.
Protein diperlukan untuk pematangan telur, sehubungan dengan bentuk mulutnya,
lalat hanya makan dalam berbentuk cair atau makanan yang basah, sedang
makanan yang kering dibasahi oleh ludahnya terlebih dahulu baru dihisap. Air
merupakan hal yang penting dalam kehidupan lalat dewasa. Tanpa air lalat hanya
bisa hidup tidak lebih dari 48 jam. Pada waktu hinggap lalat mengeluarkan ludah
dan feses. Timbunan dari ludah dan faeces ini membentuk titik-titik hitam dimana
ini adalah hal yang sangat penting untuk mengenal tempat istirahat lalat (Depkes
RI, 1991).
2.3.4 Tempat Istirahat
Lalat beristirahat pada tempat terntentu. Pada siang hari bila lalat tidak
makan maka mereka akan beristirahat pada lantai, dinding, langit-langit, jemuran
pakaian, rumput-rumput. Kawat listrik dan lain-lain serta sangat disukai tempat-
tempat dengan tepian tajam yang permukaannya vertikal. Biasanya tempat
istirahat ini terletak berdekatan dengan tempat makanannya atau tempat
perkembangbiakannya dan biasa yang terlindung dari angin. Di dalam rumah lalat
istirahat pada kawat listrik, langit-langit, dan lain-lain. Lalat tidak aktif pada
malam hari tempat istirahat tersebut biasanya tidak lebih dari 4,5 meter di atas
permukaan tanah (Depkes RI, 1991).
13
2.3.5 Lama Hidup
Lama kehidupan lalat sangat tergantung pada makanan, air, dan
temperature. Lalat dewasa hidup 2-4 minggu pada musim panas dan lebih lama
pada musim dingin bisa mencapai 70 hari, mereka paling aktif pada suhu 32,5°C
dan akan mati pada suhu 45°C. Mereka melampaui musim dingin (over
wintering) sebagai lalat dewasa, dan berkembang biak di tempat-tempat yang
relatif terlindung seperti kandang ternak dan gudang-gudang (Depkes RI, 1991)..
2.3.6 Temperature
Lalat tidak dapat berkembangbiak pada suhu diatas 350C (Depkes RI,
2008). Hubungan kepadatan dan aktivitas lalat dengan temperature udara menurut
Rozendaal (1997) disebutkan bahwa kepadatan lalat dipengaruhi oleh temperatur
udara. Kepadatan tertinggi terjadi pada temperatur 200C - 250C, dan berkurang
pada temperatur di atas atau di bawah rentang tersebut. Lalat tidak terdeteksi pada
suhu udara di bawah 100C atau di atas 450C. Kelembaban erat hubungannya
dengan temperature setempat. Bila temperature rendah maka kelembaban akan
semakin tinggi, dalam hal ini kelembaban yang disukai lalat adalah kelembaban
60%rH (Depkes RI, 1991).
2.3.7 Warna
Lalat merupakan serangga yang bersifat fototropik yaitu menyukai cahaya.
Lalat menyukai warna yang terang seperti putih dan kuning, lalat juga takut pada
warna biru. Pada malam hari tidak aktif, namun dapat aktif dengan adanya sinar
buatan, Azwar. 1995.
14
Menurut Rozendaal (dalam Sayono dkk, 2005) menyatakan bahwa: “kepadatan
dan penyebaran lalat sangat dipengaruhi oleh reaksi terhadap cahaya, suhu dan
kelembaban udara, serta warna dan tekstur permukaan tempat”.
2.3.8 Kecepatan angin
Lalat sangat aktif mencari makanan pada angin yang tenang tetapi lalat
dewasa akan mengurangi aktifitasnya pada angin kencang. Angin juga akan
mempengaruhi istirahat lalat, lalat akan menghindarkan diri dari tempat-tempat
angin kencang. Menurut Sir francis beaufort kecepatan angin dikatakan tenang
yaitu 0-1,5 km/jam dan angin kencang antara 5-61 km/jam. (Depkes RI 1991)
2.4 Lalat sebagai vektor penyakit
Menurut Rudianto (2002), penyakit yang dapat ditularkan oleh lalat antara
lain:
1. Dysentri, penyebaran bibit penyakit yang dibawa oleh lalat rumah yang
berasal dari sampah, kotoran manusia atau hewan terutama melalui bulu-bulu
badannya, kaki dan bagian tubuh yang lain dari lalat dan bila lalat hinggap ke
makanan manusia maka kotoran tersebut akan mencemari makanan yang akan
dimakan oleh manusia.
2. Diare, cara penyebarannya sama dengan dysentri dengan gejala sakit pada
bagian perut, lemas dan pecernaan terganggu.
3. Typhoid, cara penyebaran sama dengan dysentri, gangguan pada usus, sakit
pada perut, sakit kepala, diare disertai darah dan demam tinggi.
4. Cholera, penyebarannya sama dengan dysentri dengan gejala muntah-muntah,
demam, dehidrasi.
15
Lalat banyak jenisnya tetapi paling banyak merugikan manusia adalah jenis
lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Lucilia seritica), lalat biru (Calliphora
vomituria) dan lalat latirine (Fannia canicularis).
2.5 Pengendalian lalat
Pengendalian adalah upaya–upaya yang dapat dilakukan untuk menekan
jumlah kepadatan populasi dari lalat.
Pengendalian yang dapat dilakukan adalah:
2.5.1 Kontrol sanitasi lingkungan
Menjaga kebersihan secara umum, menempatkan sampah pada container
yang tertutup rapat sebelum sampah diangkut dan dibuang ke TPA (tempat
pembuangan akhir), mengadakan TPS sampah yang dilengkapi dengan penutup,
menggunakan kakus yang saniter (water sealed latrine).
2.5.2 Kontrol biologi
Parasit lalat biasanya membunuh lalat pada saat fase larva dan pupa.
Spalangia nigroaenea merupakan sejenis tawon (lebah penyengat) yang menjadi
parasit bagi pupa lalat. Mekanismenya ialah tawon dewasa bertelur pada pupa
lalat, yaitu dibagian puparium (selubung pupa) dan perkembangan dari telur
tawon memangsa pupa lalat (pupa lalat mati).
Selain tawon, tungau (Macrochelis muscaedomesticae dan Fuscuropoda
vegetans) dan kumbang (Carnicops pumilio, Gnathoncus nanus) juga merupakan
“lawan” lalat.
16
Aplikasi dari teknik pengendalian lalat ini memerlukan suatu manajemen
yang relatif sulit. Siklus hidup hewan pemangsa lalat tersebut juga relatif lebih
lama. Selain itu, hewan pemangsa lalat ini dapat juga menjadi agen penularan
penyakit. Meskipun demikian, keseimbangan ekosistem akan tetap terjaga,
terlebih lagi keberadaan lalat di kandang juga membantu dalam proses
dekomposisi (penguraian) faeces atau sampah organik lainnya sehingga baik jika
digunakan sebagai pupuk kompos.
2.5.3 Kontrol mekanik
Teknik pengendalian lalat ini relatif banyak diaplikasikan oleh masyarakat
pada umumnya. Di pasaran, juga telah banyak dijual perangkat alat untuk
membasmi lalat, biasanya disebut sebagai perangkap lalat. Perangkap tersebut
bekerja secara elektrikal (aliran arus listrik) dan dilengkapi dengan bahan yang
dapat menarik perhatian lalat untuk mendekat. Perangkap lalat seringkali
diletakkan di tengah kandang. Di tempat penyimpanan telur sebaiknya juga
diletakkan perangkap lalat ini.
Lalat tidak akan bergerak atau terbang melawan arus atau arah angin. Oleh
karenanya tempatkan fan atau kipas angin dengan arah aliran angin keluar
kandang atau ke arah pintu kandang. Penggunaan plastik yang berisi air (biasanya
di warung makan) juga bisa digunakan untuk mengusir lalat meskipun mekanisme
kerjanya belum diketahui. Teknik pengendalian lalat ini (kontrol mekanik) relatif
kurang efektif untuk diaplikasikan jika populasi lalat banyak.
17
2.5.4 Kontrol kimiawi
Cyromazine merupakan zat aktif yang digunakan untuk membunuh larva
lalat sedangkan azamethipos dan cypermethrin merupakan zat aktif yang bekerja
membunuh lalat dewasa. Penggunaan cyromazine untuk membasmi lalat dewasa
tidak akan memberikan hasil yang optimal (lalat dewasa tidak bisa mati) dan
begitu juga sebaliknya (pemberian cypermethrin tidak akan bisa membunuh larva
lalat).
2.6 Pengukuran kepadatan lalat
Untuk mengetahui angka kepadatan lalat disuatu wilayah dilakukan
dengan cara mengukur angka kepadatan lalat. Pengukuran populasi lalat
hendaknya dilakukan pada:
1. Setiap kali dilakukan pengendalian lalat (sebelum dan sesudah)
2. Memonitoring secara berkala, yang dilakukan sedikitnya 3 bulan sekali
Menurut Depkes 1991 bahwa fly grill dapat dibuat dari bilah-bilah kayu
yang lebarnya 2 cm dan tebalnya 1 cm dengan panjang masing-masing 80 cm
sebanyak 16-24 dan dicat. Fly grill dipakai untuk mengukur tingkat kepadatan
lalat dengan cara meletakan fly grill ditempat yang akan diukur kepadatan
lalatnya, hitung jumlah lalat yang hinggap selama 30 detik. Selanjutnya mundur 1
m dari daerah awal, lalu melakukan perhitungan seperti awal. Setelah 10 kali
perhitungan diambil jumlah lalat terbanyak dan 5 perhitungan tertinggi di buat
rata-ratanya.
18
Pembuatan fly grill yang dilakukan peneliti dalam menghadirkan alat
adalah dibuat dengan cara yang sama seperti yang terurai diatas. Namun kali ini
peneliti lebih menambahkan pada proses pengecetan atau pemberian warna.
Setelah alat telah terangkai dengan baik maka peneliti akan membuat fly grill
yang baru lagi hingga jumlahnya sesuai yang dibutuhkan peneliti. Fly grill yang
telah terangkai rapi akan dicat dengan cat warna. Jumlah cat warna yang
digunakan sesuai dengan jumlah fly grill yang telah berhasil dirangkai agar
masing-masing fly grill akan dicat dengan warna yang berbeda. Adapun ilustrasi
bentuk fly grill yang dapat dilihat pada gambar 2.6.
Gambar 2.6 Fly grill
(Sumber: Depkes RI, 1991)
Menurut Depkes (2000) lokasi pengukuran kepadatan lalat adalah yang
berdekatan dengan kehidupan/kegiatan manusia karena berhubungan dengan
kesehatan manusia, antara lain:
1. Pemukiman penduduk.
Untuk penentuan lokasi pengukuran di pemukiman penduduk, dapat
ditentukan secara random sampling. Sampel dapat didasarkan pada : Perbedaan
tingkat hunian, misalnya pada rumah-rumah yang sudah teratur (kompleks, BTN,
real estate dan lain-lain), rumah-rumah di daerah kumuh/padat dan sebagainya.
Area, misalnya dibagi menurut RT, RW, dan sebagainya.
19
2. Tempat-tempat umum
Tempat-tempat umum seperti pasar, terminal, rumah makan/warung-
warung makanan, hotel, dan sebagainya. Pengukuran populasi lalat dapat
dilakukan pada:
a. Sekitar tempat pengumpulan sampah pasar
b. Tempat penjualan daging, ikan, beras, gula dan sebagainya.
c. Tempat penjualan makanan yang telah masak
3. Terminal, pengukuran dilakukan pada:
a. Sekitar tempat pengumpulan sampah di terminal.
b. Tempat-tempat yang berdekatan dengan penjualan makanan/minuman.
4. Hotel/losmen, restaurant, dan rumah makan.
Menurut Depkes RI (2000), pengukuran kepadatan lalat dilakukan pada
bagian-bagian: dapur, ruang makan, lokasi sekitar tempat pembuangan sementara
(TPS) dan tempat pembuangan akhir sampah yang berdekatan dengan
pemukiman. Lokasi pengukuran ditetapkan pada jarak-jarak tertentu dengan
rumah penduduk terdekat pada jarak 10 meter, 20 meter, 30 meter, 40 meter, 50
meter, 100 meter, 200 meter, dan seterusnya. Interpretasi hasil pengukuran indeks
populasi lalat pada setiap lokasi (block grill) sebagai berikut:
a. 0 – 2 : Rendah atau tidak menjadi masalah Sedang dan
b. 3 – 5 : perlu dilakukan pengamanan terhadap tempat-tempat
berkembangbiakan lalat (tumpukan sampah, kotoran
hewan dan lain-lain)
c. 6 – 20 : Tinggi/padat dan perlu pengamanan terhadap
20
tempat-tempat perkembangbiakan lalat dan bila
mungkin direncanakan upaya pengendaliannya.
d. >21 : Sangat tinggi/sangat padat dan perlu dilakukan
Pengamanan terhadap tempat-tempat perkembang-
biakan lalat dan tindakan pengendalian lalat.
2.7 Pasar
2.7.1 Pengertian pasar
Pengertian pasar dalam arti sempit adalah tempat bertemunya calon
penjual dan calon pembeli barang dan jasa. Sedangkan dalam arti luas Pasar
adalah tempat bertemunya permintaan dan penawaran. Pasar adalah salah satu dari
berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur dimana
usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan
uang.
2.7.2 Jenis-Jenis Pasar
Pada dasarnya pasar dibagi dalam beberapa golongan yaitu sebagai berikut:
1. Berdasarkan Wujudnya
Menurut wujudnya pasar dibedakan menjadi pasar konkret dan pasar abstrak
a. Pasar Konkret (pasar nyata) merupakan pasar yang menunjukkan suatu
tempat terjadinya hubungan secar langsung (tatap muka) antara pembeli
dan penjual. Barang yang diperjual belikan pun berada di tempat tersebut.
Misalnya pasar-pasar tradisional dan swalayan.
21
b. Pasar Abstrak (tidak nyata) merupakan pasar yang menunjukkan hubungan
antara penjual dan pembeli, baik secara langsung maupun tidak langsung,
barangnya tidak secara langsung dapat diperoleh pembeli. Misalnya, pasar
modal di bursa efek indonesia.
2. Berdasarkan Waktu Terjadinya
Menurut waktu terjadinya pasar dibedakan menjadi pasar harian, pasar
mingguan, pasar bulanan, pasar tahunan, dan pasar temporer.
a. Pasar harian merupakan pasar yang melakukan aktivitas setiap hari.
Misalnya pasar pagi, dan warung-warung.
b. Pasar mingguan merupakan pasar yang melakukan aktivitas setiap satu
minggu sekali. Misalnya pasar senin atau pasar minggu.
c. Pasar bulanan merupakan pasar yang melakukan aktivitas setiap satu bulan
sekali. Dalam aktivitasnya bisa satu hari atau lebih. Misalnya, pasar yang
biasa terjadi di depan kantor-kantor tempat pensiunan atau purnawirawan
yang mengambil uang tunjangan pensiunannya tiap awal bulan.
d. Pasar tahunan merupakan pasar yang melakukan aktivitas setiap satu tahun
sekali. Kejadian pasar ini biasanya lebih dari satu hari, bahkan bisa
mencapai lebih dari satu bulan. Misalnya pekan raya jakarta, pasar malam,
dan pameran pembangunan.
e. Pasar temporer merupakan pasar yang dapat terjadi sewaktu-waktu dalam
waktu yang tidak tentu (tidak rutin) pasar ini biasanya terjadi pada
peristiwa tertentu. Misalnya pasar murah, bazar, dan pasar karena ada
perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia.
22
3. Berdasarkan Luas Jangkauannya
Menurut luas jangkauannya pasar dibedakan menjadi pasar lokal, pasar
nasional, dan pasar internasional.
a. Pasar lokal merupakan pasar yang mempertemukan penjual dan pembeli
dari berbagai daerah atau wilayah tertentu saja.
b. Pasar nasional merupakan pasar yang mempertemukan penjual dan
pembeli dari berbagai daerah atau wilayah dalam suatu negara. Misalnya,
pasar kayu putih di Ambon dan pasar tembakau di Deli.
c. Pasar internasional penjual dan pembeli dari berbagai negara. Misalnya
pasar tembakau di Bremen Jerman.
2.7.3 Pasar Hygienis Kota Ternate
Pasar Hygienis yaitu salah satu pasar yang ada di Kelurahan Gamalama
Kecamatan Ternate tengah dan dibangun pada tahun 2012 kemudian di fungsikan
pada tahun 2013 dengan luas ± 8400 m2 dengan jumlah kios/los sebanyak 56 dan
jumlah pedagang 583 orang jenis jualan ikan, sayur, buah, dan lain-lain.
Batas wilayah Pasar Hygienis yaitu:
1. Sebelah timur berbatasan dengan laut
2. Sebelah barat berbatasan dengan terminal
3. Sebelah utara berbatasan dengan tapak I
4. Sebelah selatan berbatasan dengan pasar modern (mall)