0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan21 halaman

Terapi Sosialisasi Lansia di Jabodetabek

Proposal ini membahas rencana pelaksanaan terapi aktivitas kelompok sosialisasi untuk lansia di wilayah Jabodetabek melalui media Google Meet. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial lansia. Kegiatannya akan meliputi perkenalan diri, berbagi pengalaman, dan umpan balik melalui diskusi kelompok secara daring.

Diunggah oleh

Herman Salbani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan21 halaman

Terapi Sosialisasi Lansia di Jabodetabek

Proposal ini membahas rencana pelaksanaan terapi aktivitas kelompok sosialisasi untuk lansia di wilayah Jabodetabek melalui media Google Meet. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial lansia. Kegiatannya akan meliputi perkenalan diri, berbagi pengalaman, dan umpan balik melalui diskusi kelompok secara daring.

Diunggah oleh

Herman Salbani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) SOSIALISASI

PADA LANSIA DI WILAYAH JABODETABEK


MELALUI MEDIA GOOGLE MEET

Proposal Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas

Keperarawatan Gerontik Program Profesi

Disusun Oleh:

1. Akhrina Yati
2. Koniah Nurulaeni
3. Dewi Murniyati
4. Sri Rahayu
5. Sumarni
6. Subagyo
7. Siti Supriati

PROGRAM STUDI PROFESI KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA

TAHUN 2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat
dan hidayat-Nya penulisan dan penyusunan proposal yang berjudul “Proposal
Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Pada Lansia Di Wilayah Jabodetabek”
dapat terselesaikan.

Proposal ini merupakan salah satu tugas mata ajar Keperawatan Gerontik di
STIKes PERTAMEDIKA. Tak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini,
khususnya kepada:
1. Bapak/Ibu dosen mata ajar Keperawatan Gerontik yang telah memberikan
tugas dan petunjuk dalam menyelesaikan makalah ini.
2. Kedua orang tua penulis yang telah memberikan dukungan baik dalam
bentuk materi dan non materi.
3. Keluarga Lansia atas kerjasamanya, sehingga proposal ini dapat selesai
sesuai dengan waktunya.
4. Teman-teman Program Profesi Ners S1 keperawatan – Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan PERTAMEDIKA.
5. Dan semua pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang
telah banyak membantu dalam pembuatan makalah ini.

Proposal ini penulis harapkan dapat memperdalam sekaligus dapat


menambah pengetahuan tentang bagaimana menerapkan Keperawatan Gerontik
bagi pembacanya. Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan. Untuk itu penulis sangat berterimakasih bila ada pihak-pihak yang
mengkoreksi proposal ini dan memberikan kritik dan saran supaya penulis dapat
memperbaikinya.

Jakarta, April 2021

Tim Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................1
B. Tujuan..........................................................................................3
C. Nama Kegiatan............................................................................3
D. Sasaran........................................................................................3
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Lansia...................................................................4
B. Konsep Terapi Aktivitas Keelompok..........................................9
C. Konsep Terapi Sosialisasi...........................................................11
BAB III RENCANA KEGIATAN
A. Karakteristik Sasaran...................................................................18
B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan.................................................18
C. Setting Tempat............................................................................18
D. Jenis Aktivitas.............................................................................18
E. Media...........................................................................................18
F. Metode.........................................................................................19
G. Uraian Kerja................................................................................19
H. Proses Pelaksanaan......................................................................20
I. Antisipasi Masalah......................................................................25
J. Rencana Evaluasi........................................................................25
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penuaan merupakan proses normal yang berhubungan dengan waktu, sudah
dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Pada usia lanjut, proses
penuaan terjadi secara alamiah seiring dengan penambahan usia. Perubahan
terjadi baik perubahan biologis, psikologis dan sosial. Perubahan biologis
bisa dilihat dengan perubahan fisik seperti penurunan massa tubuh,
penurunan persepsi sensori, penurunan kerja motorik dan lain-lain. Untuk
perubahan psikologis dapat dihubungkan dengan keakuratan mental dan
keadaan fungsional yang efektif. Adanya penurunan dari intelektualitas
yang meliputi persepsi, kemampuan kognitif, memori dan penurunan proses
belajar pada usia lanjut dapat menyebabkan mereka sulit untuk memahami
dan berinteraksi.

Perawat sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan usia lanjut berperan
dalam mempertahankan kesehatan dan kemampuan usia lanjut melalui
peningkatan, pencegahan, perawatan dan rehabilitasi kesehatan mereka.
Keberadaan perawat mempunyai peran penting di berbagai sarana pelayanan
usia lanjut.

Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu tindakan keperawatan untuk


meningkatkan fungsi kognitif pada lansia. Terapi ini adalah terapi yang
pelaksanaannya merupakan tanggung jawab penuh dari seorang perawat. Oleh
karena itu, seorang perawat harus lah mampu melakukan terapi aktivitas kelompok
secara tepat dan benar. Untuk mencapai hal tersebut di atas perlu dibuat suatu
pedoman pelaksanaan terapi aktivitas kelompok seperti terapi aktivitas kelompok
sosialisasi pada lansia di wilayah Jabodetabek.

1
B. Tujuan
1. Tujuan umum
WBS mampu meningkatkan kemampuan uji realitas melalui komunikasi
dan umpan balik dengan orang lain
2. Tujuan khusus
a. WBS dapat menyebutkan nama lengkap dan kegiatan yang dilakukan
sehari hari
b. WBS dapat membrikan tanggapan terhadap kegiatan yang disukainya
C. Nama Kegiatan
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) “Sosialisasi Sesi 1”
D. Sasaran
Sasaran dari kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) “Perkenalan”
adalah Lansia di wilayah Jabodetabek

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Lansia


1. Definisi Lansia
Lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas,
baik pria maupun wanita (Kushariyadi, 2011). Menurut WHO lanjut usia
meliputi usia pertengahan (middle age) yaitu kelompok usia 45 tahun
sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) yaitu usia 60 sampai 74 tahun,
lanjut usia tua (old) yaitu antara 75 tahun sampai 90 tahun dan usia
sangat tua (very old) yaitu diatas 90 tahun (Nugroho, 2008).

Lansia adalah individu yang mengalami proses menghilangnya secara


perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti
atau mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang di derita (Sunaryo et
al, 2016).

Lansia adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia.


Menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari
suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi
tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga
tahap kehidupan, yaitu anak, dewasa dan tua. Tiga tahap ini berbeda baik
secara biologis, maupun psikologis (Nasrullah, 2016).

2. Klasifikasi Lanjut Usia


Menurut pendapat beberapa ahli, batasan-batasan umur yang mencakup
batasan umur lansia (Sunaryo et al, 2016) sebagai berikut :
a. Depkes RI (2013) mengklasifikasikan lansia dalam kategori berikut:
Pralansia, seseorang yang berusia anatra 45-59 tahun. Lansia,
seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Lansia resiko tinggi,
seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
Lansia potensial, lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan
atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa. Lansia tidak

3
potensial, lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
b. Menurut organisasi kesehatan dunia, WHO, ada empat tahap yaitu
usia pertengahan (middle age ) (45-59 tahun), lanjut usia (elderly) (60-
74 tahun), lanjut usia tua (old) (75-90), usia sangat tua (very old) (di
atas 90 tahun).

c. Menurut Setyonugroho lanjut usia dikelompokan sebagai berikut: usia


dewasa muda( elderly adulthood) (usia 18/20-25 tahun), usia dewasa
penuh (middle years) atau maturitas (usia 25-60/65 tahun), lanjut usia
(geriatric age) ( usia lebih dari 65/70 tahun) terbagi sebagai berikut
usia 70-75 tahun (young old), usia 75-80 tahun (old), usia lebih dari 80
tahun (very old).

Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur


kehidupan manusia. Sedangkan menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU
No.13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah
seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Sunaryo, 2016).

3. Tugas Perkembangan Lansia


Menurut Erikson, kesepian lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan
diri terhadap perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh
kembang pada tahap sebelumnya. Ada tugas perkembangan lansia adalah
sebagai berikut menurut (Dewi, 2014) :
a. Mempersiapkan diri untuk kondisi menurun
b. Mempersiapkan diri untuk pensiun
c. Membentuk hubungan baik dengan orang yang seusianya
d. Mempersiapkan kondisi baru
e. Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial/masyarakat secara
santai
f. Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan.

4
4. Tipe-Tipe Lansia
Menurut lilik ma’rifatul (2011), tipe lanjut usia digolongkan seperti
berikut:
a. Tipe arif bijaksana
Kaya dengan hikmah pengalaman diri denan perubahan jaman,
mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, dermawan,
memenuhi undangan, dan mengambil perubahan
b. Tipe mandiri
Mengganti kegiatan-kegiatan yang hilang dengan kegiatan kegiatan
baru, selektif dalam mencari pekerjaan, teman bergaul, serta memnuhi
undangan
c. Tipe tidak pas
Konflik lahir batin menentang proses ketuaan, yang menyebabkan
kehilangan kecantikan, kehilangan daya tarik jasmaniah, kehilangan
kekuasaaan situs, tesinggung, menuntut, sulit dilayani
d. Tipe pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai konsep habis gelap
datang terang, mengikuti kegiatan beribadah, ringan kaki, pekerjaan
apa saja dilakukan
e. Tipe bingung
Kaget, kehilangan keperibadian, mengasingkan diri, merasa minder,
menyesal, pasif, mental, sosial dan ekonominya.

5. Proses Menua
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup,
tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak
pemulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang
berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupan, yaitu anak, dewasa,
dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun psikologis.
Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya
kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut
memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan

5
mulai memburuk, gerakan lambat, dan figur tubuh yang tidak
proposional (Nugroho, 2015).

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara


perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti
dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Khalid
Mujahidullah, 2012).
a. Perubahan Fisik Dan Fungsi Akibat Proses Menua
Perubahan kondisi fisik pada lansia meliputi: perubahan dari tingkat
sel sampai ke semua sistem organ tubuh, di antaranya sistem
pernapasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskular, sistem
pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, urogenital,
endokrin, dan integument (Widuri, 2010).
b. Perubahan Mental dan psikososial
1) Perubahan Mental
Di bidang mental atau psikis pada lanjut usia, perubahan dapat
sikap yang semakin egosentris, mudah curiga, bertambah pelit atau
tamak bila memiliki sesuatu. Yang perlu dimengerti adalah sikap
umum yang ditemukan pada hampir setiap lanjut usia, yakini
keinginan berumur panjang, tenaganya sedapat mungkin dihemat.
Mengharapkan tetap diberi peran dalam masyarakat. Ingin
mempertahankan hak dan hartanya, serta ingin tetap berwibawa.
Jika meninggal pun mereka ingin meninggal secara terhormat dan
masuk surga (Nasrullah, 2016).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
a. Perubahan fisik, khususnya organ perasa
b. Kesehatan umum
c. Tingkat pendidikan
d. Keturunan (hereditas)
e. Lingkungan

6
2) Perubahan psikososial
Nilai seseorang sering diukur melalui produktivitas dan
identitasnya dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan, bila
mengalami pensiun (parnatugas), seseorang akan mengalami
kehilangan (Nasrullah, 2016), antara lain :
a. Kehilangan finansial (pendapatan berkurang)
b. Kehilangan status ( dulu mempunyai jabatan / posisi yang cukup
tinggi, lengkap dengan semua fasilitas)
c. Kehilangan teman /kenalan atau relasi
d. Kehilangan pekerjaan/ kegiatan
e. Merasakan atau sadar terhadap kematian , perubahan cara hidup
(memasuki rumah perawatan, bergerak lebih sempit)
f. Kemampuan ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan. Biaya
hidup meningkat pada penghasilan yang sulit, biaya pengobatan
bertambah.
g. Adanya penyakit kronis dan ketidakmampuan
h. Timbul kesepian akibat pengasingan dari lingkungan sosial
i. Adanya gangguan saraf panca indra , timbul kebutaan dan
1. ketulian.
j. Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan
k. Rangkaian kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan
teman atau keluarga.
l. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik (perubahan terhadap
gambaran diri, perubahan konsep diri).

B. Konsep Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)


1. Definisi Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Terapi aktivitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan
perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah
keperawatan yang sama. Aktivitas yang digunakan sebagai terapi, dan
kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi
dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan

7
menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif
untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptif.

2. Tujuan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)


a. Mengembangkan stimulasi kognitif
b. Mengembangkan stimulasi sensori
c. Mengembangkan orientasi realitas
d. Mengembangkan sosialisasi
e. Secara umum tujuan kelompok adalah :
1) Setiap anggota kelompok dapat bertukar pengalaman.
2) Memberikan pengalaman dan penjelasan pada anggota lain.
3) Merupakan proses menerima umpan balik.

3. Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)


a. Manfaat umum
1) Meningkatkan kemampuan uji realitas (reality testing) melalui
komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.
2) Melakukan sosialisasi.
3) Membangkitkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan
afektif.
b. Manfaat khusus
1) Meningkatkan identitas diri
2) Menyalurkan emosi secara konstruktif
3) Meningkatkan ketrampilan hubungan interpersonal atau sosial.
c. Manfaat terapi
1) Meningkatkan keterampilan ekspresi diri.
2) Meningkatkan keterampilan sosial.
3) Meningkatkan kemampuan empati.
4) Meningkatkan kemampuan atau pengetahuan pemecahan masalah.

8
4. Tahap-tahap Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
a. Pre kelompok
Dimulai dengan membuat tujuan, merencanakan, siapa yang menjadi
leader, co-leader, observer, fasilitator, di mana, kapan kegiatan
kelompok tersebut dilaksanakan, proses evaluasi pada anggota dan
kelompok, menjelaskan sumber-sumber yang diperlukan kelompok
seperti proyektor dan jika memungkian biaya dan keuangan.
b. Fase awal
Pada fase ini terdapat 3 kemungkinan tahapan yang terjadi yaitu
orientasi, konflik atau kebersamaan.
1) Orientasi
Anggota mulai mengembangkan sistem sosial masing-masing, dan
leader mulai menunjukkan rencana terapi dan mengambil kontrak
dengan anggota.
2) Konflik
Merupakan masa sulit dalam proses kelompok, anggota mulai
memikirkan siapa yang berkuasa dalam kelompok, bagaimana
peran anggota, tugasnya dan saling ketergantungan yang akan
terjadi.
3) Kebersamaan
Anggota mulai bekerja sama untuk mengatasi masalah, anggota
mulai menemukan siapa dirinya.

c. Fase kerja
Pada tahap ini kelompok sudah menjadi tim. Perasaan positif dan
negatif dikoreksi dengan hubungan saling percaya yang telah dibina,
bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati, kecemasan
menurun, kelompok lebih stabil dan realistik, mengeksplorasikan
lebih jauh sesuai dengan tujuan dan tugas kelompok, dan penyelesaian
masalah yang kreatif.
d. Fase terminasi
Ada dua jenis terminasi (akhir dan sementara). Anggota kelompok
mungkin mengalami terminasi premature, tidak sukses atau sukses.

9
C. Konsep Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi
A. Pengertian Terapi Sosialisasi
Terapi yang berupaya memfasilitasi kemampuan sejumlah klien dengan
masalah hubungan social (Purwaningsih& Karlina, 2010: 77-79)
B. Tujuan Sosialisasi
Pada dasarnya tujuan sosialisasi adalah membangun hubungan antar
manusia, sehingga diharapkan masyarakat difasilitasi untuk terlibat
secara lebih berarti. Namun pada umumnya suatu aktivitas sosialisasi
mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Memperkenalkan apa yang akan di sampaikan
Sosialisasi diharapkan dapat menyampaikan pesan pada orang yang
dituju. Kemudian, Dengan demikian perlu dipilih cara yang sesuai
dengan orang yang ditargetkan itu.
2. Untuk menarik perhatian
Aktivitas sosialisasi harus dikemas dalam bentuk yang menarik
perhatian agar orang tertarik dan menyimpan pesan yang
disampaikan dalam memori pikiran mereka itu.
3. Tercapainya pemahaman
Sosialisasi yang direncanakan dengan baik akan memudahkan
orang memahami pesan yang disampaikan kepadanya. Kemudian,
Pesan yang jelas dan penggunaan media yang tepat dan kemasan
cerita yang menarik mampu menyampaikan pesan kepada pengguna
secara cepat dan tepat.
4. Perubahan sikap
Setelah sosialisasi dapat dipahami, diharapkan adanya tanggapan
terhadap sosialisasi yang dilakukan

10
BAB III
RENCANA KEGIATAN

A. Karakteristik Sasaran
Sasaran dari kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) “ Sosialisasi ”
adalah Lansia di wilayah Jabodetabek
B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Hari/Tanggal : Rabu, 7 April 2021
2. Waktu : 16.00 – 16.30 WIB
3. Tempat Kegiatan : Rumah WBS via zoom

C. Setting Tempat

Keterangan :

= Leader
W
1
= Co-Leader dan observer

= Media

= WBS
D. Jenis Aktivitas
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Sosialisasi Pada Lansia Di Wilayah
Jabodetabek

E. Media
1. Laptop
2. Handphone
3. Kertas HVS
4. Spidol warna hitam
5. Hand Rub
F. Metode
Komunikasi menggunakan media Google Meeting
1. Demonstrasi : memperagakan cara memperkenalkan diri
2. Peserta memperhatikan langkah-langkah memperkenalkan diri

11
3. Memperagakan cuci tangan

G. Uraian Kerja
1. Leader : Akhrina Yati
Tugas:
a. Menyampaikan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktivitas
kelompok sebelum kegiatan dimulai.
b. Memimpin kegiatan terapi aktivitas kelompok sesuai dengan rencana.
c. Memotivasi WBS untuk aktif dalam kegiatan terapi aktivitas
kelompok.
d. Memberikan reinforcement positif terhadap peserta
e. Menetralisir bila masalah timbul dalam kegiatan terapi aktivitas
kelompok.
2. Co Leader : Koniah
Tugas:
a. Membantu leader selama jalannya kegiatan
b. Menjelaskan materi yang akan di sampaikan
c. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader
d. Mengingatkan leader tentang waktu dan apabila terjadi penyimpangan
rencana kegiatan
3. Observer : Dewi Murniyati
a. Mengobservasi jalannya proses kegiatan
[Link] perilaku verbal dan non verbal peserta selama kegiatan
berlangsung.
4. Fasilitator : Subagyo, Ayu, Sumarni, Siti
Tugas:
a. Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung
b. Memotivasi peserta yang tidak aktif selama TAK berlangsung
c. Membantu leader memfasilitasi peserta untuk berperan aktif dalam
kegiatan

12
H. Proses Pelaksanaan
1. Perkenalan dan pengarahan
a. Mempersiapkan lingkungan suasana tenang dan nyaman.
b. Mempersiapkan tempat: pengaturan WBS sesuai dengan layout,
menempatkan WBS sesuai dengan tempatnya masing-masing.
c. Mempersiapkan peralatan: daftar nama WBS, papan nama WBS, dan
bahan yang diperlukan: kertas HVS, spidol warna hitam, dan handrub.
d. Kegiatan inti
1) Persiapan
a) Mempersiapkan alat dan tempat kegiatan.
b) Menanyakan kondisi WBS saat ini.
c) Menanyakan kesiapan WBS untuk mengikuti kegiatan sampai
selesai.
2) Orientasi
a) Salam teraupetik
(1)Salam dari terapis kepada WBS
(2)Terapis dan WBS memakai papan nama
b) Evaluasi atau validasi
Menanyakan perasaan WBS saat ini
c) Kontrak
(1)Menjelaskan tujuan terapi
(2)Menjelaskan aturan main berikut:
(a). Jika ada WBS yang ingin meninggalkan kelompok, harus
meminta ijin kepada terapis.
(b). Lama kegiatan kurang lebih 30 menit.
(c). Setiap WBS mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
d) Tahap Kerja
(1)Metode : Dinamika kelompok.
(2)Media : Google Meeting, Kertas HVS, spidol warna hitam,
handrub.

13
(3)Cara
(a)Terapis memberikan kesempatan kepada WBS untuk
memperkenalkan diri secara bergantian
(b)WBS menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan
(c) WBS menyebutkan kegiatannya sehari – hari
(d) WBS memperagakan cuci tangan
(4)Tahap Terminasi
(a)Evaluasi
Terapis menanyakan perasaan WBS setelah melakukan
sosialisasi dan memberikan pujian atas keberhasilan
individu
(b)Tindak Lanjut
Menganjurkan WBS untuk melanjutkan kegiatan
sosialisasinya dengan warga dilingkungan sekitar untuk
mengurangi kejenuhan.
(c)Penutup
1. Leader menanyakan perasaan para WBS
2. Memberikan pujian atas kerjasama selama kegiatan
3. Sarankan agar WBS tetap berkomunikasi dengan WBS
lain.

14
No Waktu Fase Peran Tugas
1 5 menit Pembukaan Leader 1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri dan anggota kelompok lain.
2. Memperkenalkan diri dan tim
3. Menjelaskan tujuan dan kontrak waktu dalam kegiatan TAK
2 15 menit Kegiatan [Link] 1. [Link] menjelaskan langkah-langkah memperkenalkan diri sebagai berikut :
inti a. Terapis memberikan kesempatan kepada WBS untuk memperkenalkan diri secara
Fasilitator bergantian
b. WBS menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan
c. WBS menunjukan namanya yang ditulis pada kertas HVS kepada WBS lain
d. WBS menyebutkan kegiatannya sehari – hari
e. WBS memperagakan cuci tangan
2. Leader memberikan reinforcment positif bila lansia mampu melakukan kegiatan
sosialisasi dengan baik
3 10 menit Penutup Leader 1. Menanyakan perasaan peserta TAK setelah melakukan perkenalan
Co Leader 2. Meminta WBS untuk mengingat kembali WBS lain yang mengikuti kegiatan
perkenalan
3. Salam penutup

15
I. Antisipasi Masalah
1. Penanganan WBS yang tidak aktif selama TAK:
a. Memanggil nama WBS.
b. Memberi kesempatan kepada WBS untuk dibantu.
2. WBS yang meninggalkan acara kegiatan TAK
a. Memanggil nama WBS.
b. Menanyakan alasan meninggalkan kegiatan.
c. Memberikan penjelasan tujuan kegiatan dan anjurkan WBS untuk
melaksanakan keperluannya setelah acara berakhir.
3. Bila WBS di luar kelompok ingin ikut kegiatan
a. Berikan penjelasan bahwa kegiatan ini dilakukan hanya untuk
WBS kelolaan saja yang dilakukan melalui google meeting,
mengingat adanya pandemic Corona
b. Jika WBS lain memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan
tidak memberi peran pada kegiatan tersebut.

J. Rencana Evaluasi
1. Evaluasi Input
a. Tim berjumlah enam orang yang terdiri dari seorang leader, satu
orang co leader, satu orang observer dan empat orang fasilitator.
b. Lingkungan tenang dan tepat waktu.
2. Peralatan : daftar nama peserta, papan nama peserta, kertas HVS, spidol
warna hitam dan handrub
3. Evaluasi Proses
a. Minimal 75% peserta dapat mengikuti dari awal sampai
berakhirnya kegiatan.
b. Minimal 75% peserta aktif mengikuti kegiatan.
c. Maksimal 25% peserta yang keluar dari kegiatan.
4. Evaluasi Output
a. Minimal 75% peserta dapat mengikuti dari awal sampai berakhirnya
kegiatan.
b. Minimal 75% peserta aktif mengikuti kegiatan.

16
c. Maksimal 25% peserta yang keluar dari kegiatan.
5. Evaluasi dan Dokumentasi
Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah sebagai berikut:
a. Kemampuan dalam berkomunikasi
b. Tingkah laku selama berkomunikasi
c. Kerja sama
d. Cara memperlihatkan emosi (spontan, wajar, jelas, dll)
e. Kemampuan untuk diajak berkomunikasi
f. Menyatakan perasaan tanpa agresi
g. Wajar dalam penampilan
h. Orientasi, tempat, waktu, situasi, orang lain
i. Kemampuan menerima intruksi dan mengingatnya

17
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, S.R. (2014). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 1. Yogyakarta: Budi
Hutama.

Efendi, Ferry (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori Dan Praktek


Dalam Keperawatan. Jilid 1. Jakarta : Salemba Medika.

Mujahidullah, Khalid. (2012). Keperawatan Gerontik. Jogjakarta : Pustaka


Pelajar.

Nasrullah, D. (2016). Buku Ajar Keperawanan Gerontik Jilid 1. Jakarta: Trans


Info.

Nugroho, W. (2015). Keperawatan Gerontik & Geriatrik. Edisi 3. Jakarta: EGC.

Riyadi, S. dan Purwanto, T. 2009. Asuhan  Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha 
Ilmu.

Sunaryo, Wijayanti, R., Kuhu, M.M., Sumedi, T., Widayanti, E.D., Sukrillah,
U.A., Riyadi, S., Kuswati, A. (2016). Asuhan Keperawatan Gerontik.
Yogyakarta: ANDI.

Widuri, H. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Lanjut Usia di Tatanan Klinik.


Yogyakarta : Fitramaya.

Anda mungkin juga menyukai