100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan81 halaman

Formulasi Lip Balm Ekstrak Delima

Skripsi ini membahas formulasi sediaan lipbalm dari ekstrak kulit buah delima. Tujuannya adalah untuk membuat lipbalm dengan menggunakan ekstrak kulit buah delima dan mengevaluasi kemampuannya sebagai pelembab bibir. Ekstrak kulit buah delima diformulasi pada konsentrasi berbeda ke dalam lipbalm dan dievaluasi stabilitas, homogenitas, dan kemampuannya untuk melembabkan bibir selama 4 minggu. Has

Diunggah oleh

Ichsan Ramadhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan81 halaman

Formulasi Lip Balm Ekstrak Delima

Skripsi ini membahas formulasi sediaan lipbalm dari ekstrak kulit buah delima. Tujuannya adalah untuk membuat lipbalm dengan menggunakan ekstrak kulit buah delima dan mengevaluasi kemampuannya sebagai pelembab bibir. Ekstrak kulit buah delima diformulasi pada konsentrasi berbeda ke dalam lipbalm dan dievaluasi stabilitas, homogenitas, dan kemampuannya untuk melembabkan bibir selama 4 minggu. Has

Diunggah oleh

Ichsan Ramadhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

FORMULASI SEDIAAN LIPBALM EKSTRAK KULIT

BUAH DELIMA (Punica granatum L)

SKRIPSI

OLEH:
MEGA WAHYUNI
NIM 131501084

PROGRAM REGULER SARJANA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018

Universitas Sumatera Utara


FORMULASI SEDIAAN LIPBALM EKSTRAK KULIT
BUAH DELIMA (Punica granatum L)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh


Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
MEGA WAHYUNI
NIM 131501084
1501001

PROGRAM REGULER SARJANA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena limpahan rahmat, karunia, dan

ridho Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Formulasi Sediaan Lipbalm Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica granatum

L)”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Lipbalm merupakan sediaan kosmetikyang berguna untuk

melembabkan dan bibir. Kulit buah delima memiliki kandungan vitamin C

yang sangat tinggi sehingga baik untuk mempertahankan kelembaban bibir.

Tujuan penelitian membuat Sediaan lipbalm ekstrak kulit kuah delima (Punica

granatum L). Hasil yang didapat yaitu diperoleh bahwa semua sediaan lipbalm

ekstrak kulit duah delimadengan konsentrasi 10% dapat memberikan efek

melembabkan bibir paling baik yang mampu memulihkan kulit bibir setelah

4 [Link] ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada

masyarakat mengenai manfaat sediaan lipbalm ekstrak kulit buah delima.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu

Dra. Nazliniwaty, [Link]., Apt., yang telah membimbing penulis dengan penuh

kesabaran dan tanggung jawab hingga selesainya penyusunan skripsi ini.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada kepada IbuProf. Dr.

Anayanti Arianto, M. Si., Apt., selaku ketua penguji, Ibu T. Ismanelly Hanum,

[Link]., [Link]., Apt., selaku anggota penguji yang telah memberikan saran untuk

penyempurnaan skripsi ini, dan kepada Ibu Marianne, [Link]., [Link]., Apt., selaku

dosen penasehat akademik serta Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi

iv
Universitas Sumatera Utara
USU yang telah banyak membimbing penulis selama masa perkuliahan.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Masfria, M.S.,

Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi yang telah menyediakan fasilitas kepada

penulis selama perkuliahan di Fakultas Farmasi.

Penulis juga mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang tulus

kepada keluarga tercinta, Ayahanda Darno Edlan, Ibunda Suhartini, dan adik

saya Bayu Irfandi atas limpahan kasih sayang, semangat dan doa yang tidak

ternilai dengan apapun. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para

sahabat dan teman-teman yang selalu memberikan doa, dorongan dan

pengorbanan baik moril maupun materil dalam penyelesaian skripsi ini.

Medan, Oktober 2018


Penulis

Mega Wahyuni
NIM 131501084

v
Universitas Sumatera Utara
SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Mega Wahyuni
Nomor Induk Mahasiswa : 131501084
Program Studi : Sarjana Farmasi
Judul Skripsi :Formulasi Sediaan Lipbalm dari Ekstrak Kulit
Buah Delima (Punica granatum L).

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini ditulis berdasarkan data dari
hasil pekerjaan yang saya lakukan sendiri, dan belum pernah diajukan oleh
orang lain untuk memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi lain, dan
bukan plagiat karena kutipan yang ditulis telah disebutkan sumbernya di dalam
daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari ada pengaduan dari pihak lain karena di


dalam skripsi ini ditemukan plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya
bersedia menerima sanksi apapun oleh Program Studi Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara, dan bukan menjadi tanggung jawab pembimbing.

Demikian surat pernyataan ini saya perbuat dengan sebenarnya untuk


dapat digunakan jika diperlukan sebagaimana mestinya.

Medan, 2 Agustus 2018


Yang membuat pernyataan

Mega Wahyuni
NIM 131501084

vi
Universitas Sumatera Utara
FORMULASI SEDIAAN LIP BALM DARI EKSTRAK KULIT BUAH
DELIMA (Punica granatum L)

ABSTRAK

Latar Belakang:Lip balm merupakan sediaan kosmetik yang berguna untuk


melembabkan dan mengkilatkan bibir. Kulit buah delima merupakan salah
satu sumber antioksidan dari tumbuh-tumbuhan dengan kandungan fenol,
antosianin, dan vitamin C yang cukup tinggi serta asam ellagic yang dapat
mempertahankan kelembaban bibir.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasi sediaan lip balm
dengan menggunakan ekstrak kulit buah delima dan untuk mengevaluasi
efektivitas sebagai pelembab bibir.
Metode: Kulit buah delima diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan
pelarut etanol 96% dan dipekatkan dengan rotary evaporator. Ekstrak kulit
buah delima diformulasi dengan konsentrasi 2,5% , 5%, 7,5%, dan 10%,
sebagai blanko digunakan dasar lip balm. Pengujian terhadap sediaan lip
balm meliputi uji homogenitas, pengukuran pH, uji iritasi dan uji
stabilitas sediaan dengan parameter seperti bau, warna dan pH selama
penyimpanan 12 minggu. Pengujian kemampuan sediaan untuk melembabkan
menggunakan moisture checker yang terdapat dalam perangkat skin analyzer
setiap seminggu sekali selama 4 minggu.
Hasil: Hasil penelitian diperoleh bahwa semua sediaan lip balm homogen,
memiliki pH 5,6-6,1 dan stabil selama penyimpanan 12 minggu. Sediaan lip
balm ekstrak kulit buah delima dengan konsentrasi 10% dapat memberikan
efek melembabkan bibir paling baik memulihkan kulit bibir setelah 4
minggu. Semua sediaan lip balm ekstrak kulit buah delima tidak
mengiritasi kulit.
Kesimpulan: Sediaan lip balm dengan konsentrasi ekstrak kulit buah delima
10% menunjukkan efektivitas sebagai pelembab bibir yang paling baik.

Kata kunci: Ekstrak kulit buah delima, Lipbalm, moisture checker.

vii
Universitas Sumatera Utara
FORMULATION OF LIP-BALM OF POMEGRANATE PEEL
EKSTRACT (Punica granatum L)

ABSTRACT

Background: Lip balm is a cosmetic preparation that is useful for


moisturizing and glowing lips. Pomegranate skin is one of the sources of
antioxidants from plants with a high content ofphenol, anthocyanin , vitamin
Cand ellagic acid which can retain lip moisture
Purpose: This research is to formulate lip balm preparation using pomegranate
skin extract and to evaluate effectiveness as a lip moisturizer.
Methods: The pomegranate’s peel was extracted by means of maceration
using ethanol 96% solvent, and concentrated with a rotary evaporator.
Pomegranate’s peel extract were formulated with concentrations of 2.5%, 5%,
10%, and 7.5, as ablank used lip balm base. Testing of lip balm preparation
included homogeneity, pH measurement, irritation test and stability test of
preparations with parameters such as odor, color and pH during 12 weeks of
storageevaluate effectiveness as a lip moisturizer using moisture checker
contained in skin analyzer device during 4 weeks treatment.
Result: The research results obtained that all lip balm preparations,
homogenious had a pH of 5.6-6.1 and stable during the 12 weeks of storage.
preparation of lip balm with pomegranate peel extract concentration of 10%
could give effect to moisturize the lips that was the best restoring the skin of
the lips
every once a week after for 4 weeks application. All preparation of
pomegranate peel extract lip balm did not irritate the skin
Conclusion : The preparation of lip balm with a concentration of 10%
pomegranate peel extract showed the best effectiveness as lip moisturizer.

Keyword : pomegranate peel, lip balm, moisture checker.

viii
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ...................................................................................................... i

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... iii

KATA PENGANTAR .............................................................................. iv

SURAT PERNYATAAN.......................................................................... vi

ABSTRAK ................................................................................................ vii

ABSTRACT .............................................................................................. viii

DAFTAR ISI ............................................................................................. ix

DAFTAR TABEL ..................................................................................... xiii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xiv

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1


1.2 Perumusan Masalah ................................................................... 3
1.3 Hipotesis ..................................................................................... 3
1.4 Tujuan Penelitian ....................................................................... 3
1.5 Manfaat Penelitian ..................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 4

2.1 Uraian Buah Delima (Punica granatum L)................................. 4

2.1.1 Klasifikas........................................................................... 4

2.1.2 Kandungan Buah Delima .................................................. 4

2.1.3 Kandungan Kulit Buah Delima ......................................... 4

2.2 Kosmetik .................................................................................... 5

2.1.1 Pengertian Kosmetik ........................................................ 5

2.1.2 Penggolongan Kosmetik ................................................... 6

2.3 Kulit Bibir .................................................................................. 7

ix
Universitas Sumatera Utara
2..3.1 Bibir Kering ..................................................................... 7

2.4 Pelembab Bibir (Lip Balm) ........................................................ 8

2.4.1 Manfaat Penggunaan Lip Balm ......................................... 9

2.4.3 Komponen Utama Dalam Lip Balm .................................. 10

2.4.4 Zat Tambahan Dalam Lip Balm ........................................ 11

2.5 Komponen yang Digunakan dalam Lip Balm ............................ 12

BAB III METODE PENELITIAN............................................................ 15

3.1 Waktu dan tempat penelitian ..................................................... 15

3.2 Alat dan Bahan ........................................................................... 15

3.2.1 Alat-alat ............................................................................. 15

3.2.2. Bahan................................................................................ 15

3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel ..................................... 16

3.3.1 TeknikPengumpulan Sampel ........................................... 16

3.3.2 Identifikasi Tumbuhan ..................................................... 16

3.3.3 Pengolahan Sampel ........................................................... 16

3.4 Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Delima .................................... 16

3.5 Pemeriksaan Karakterisasi Ekstrak Etanol Kulit Buah Delima 17

3.5.1 Penetapan Kadar Air Ekstrak ............................................ 17

3.5.2 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air ............................. 18

3.5.3 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol ........................ 18

3.5.4 Penetapan Kadar Abu Total .............................................. 18

3.5.5 Penetapan Kadar Abu tidak Larut Asam .......................... 19

3.6 Pembuatan Lip balm dengan menggunakan ekstrak kulit buah


Delima dalam berbagai konsentrasi .......................................... 19

3.6.1 Formula ............................................................................. 19

x
Universitas Sumatera Utara
3.6.2 Formula Modifikasi ........................................................... 20

3.6.3 Prosedur Pembuatan Lip Balm .......................................... 21

3.7 Sukarelawan ............................................................................... 22

3.8 Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan ............................................... 22

3.8.1 Uji Homogenitas .............................................................. 22

3.8.2 Suhu Lebur Sediaan .......................................................... 22

3.8.3 Pengamatan Stabilitas Sediaan .......................................... 23

3.8.4 Pengukuran pH sediaan ..................................................... 23

3.8.5 Uji Iritasi ........................................................................... 23

3.8.6 Kemampuan Sediaan Untuk Melembabkan Bibir............. 24

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................. 26

4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan ..................................................... 26

4.2 Hasil ekstraksi Kulit Buah Delima ............................................ 26

4.3 Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Ekstrak Etanol Kulit

Buah Delima .............................................................................. 26

4.4 Hasil Skrinning Fitokimia .......................................................... 27

4.5 Hasil Formulasi Sediaan Lip balm ............................................. 27

4.6 Penentuan Mutu Fisik Sediaan ................................................... 28

4.6.1 Pemeriksaan Homogenitas ................................................ 28

4.6.2 Suhu Lebur Sediaan .......................................................... 28

4.6.3 Hasil Pengamatan Stabilitas .............................................. 29

4.6.4 Hasil Pemeriksaan pH Sediaan ......................................... 30

4.6.5 Hasil Uji Iritasi .................................................................. 31

4.6.6 Hasil Uji Kemampuan Sediaan Untuk Melembabkan


Bibir ................................................................................... 32

xi
Universitas Sumatera Utara
[Link] Kadar Air (moisture) ............................................. 33

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 36

5.1 Kesimpulan ........................................................................... 36

5.2 Saran ..................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 37

LAMPIRAN .............................................................................................. 39

xii
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

4.1 Hasil karakterisasi ekstrak etanol kulit buah delima ..................... 26

4.2 hasil skrinning ekstrak kulit buah delima ..................................... 27

4.3 Data Hasil Pemeriksaan Suhu Lebur ............................................ 29

4.4 Data pengamatan perubahan bentuk, warna dan bau sediaan ....... 30

4.5 Data pengukuran pH sediaan ....................................................... 31

4.6 Data hasil uji iritasi ....................................................................... 32

4.7 Hasil pengukuran kadar air ........................................................... 33

xiii
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

4.1 Grafik pengaruh perbedaan formula terhadap Kelembaban


(moisture) pada bibir sukarelawan ................................................ 34

xiv
Universitas Sumatera Utara
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan

pada bagian luar badan seperti epidermis, rambut, kuku, bibir, gigi, dan rongga

mulut antara lain untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah

penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau

badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu

penyakit (Tranggono dan Latifah, 2007).

Bibir adalah bagian wajah yang sensitif. Tidak seperti kulit yang

memiliki melanin sebagai pelindung dari sinar matahari, bibir tidak memiliki

pelindung. Oleh karena itu, saat udara terlalu panas atau terlalu dingin, bibir

bisa menjadi kering dan pecah-pecah. Selain tidak enak dipandang, bibir yang

pecah-pecah juga menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman (Muliyawan dan

Suriana, 2013).

Akibat dari fungsi perlindungan yang buruk, bibir sangat rentan terhadap

pengaruh lingkungan serta berbagai produk perawatan kesehatan, kosmetik dan

produk perawatan kulit lainnya yang dapat menyebabkan kerusakan kulit yaitu

bibir menjadi kering, pecah-pecah, dan warna yang kusam. Selain tidak enak

dipandang, bibir yang pecah-pecah juga menimbulkan rasa nyeri dan tidak

nyaman (Trookman, dkk., 2009).

Secara umum formula lip balm sama seperti formula lipstik, hanya

berbeda pada penambahan zat warnanya. Sebagai basis atau bahan pembawa

biasanya juga berupa campuran minyak, lemak, dan malam. Untuk

1
Universitas Sumatera Utara
mendapatkan sediaan lip balm yang stabil dan menarik, sering pula

ditambahkan zat-zat tambahan lainnya seperti zat pengawet, antioksidan

(Harry, 1982).

Lip balm merupakan sediaan kosmetik yang berguna untuk

melembabkan dan mengkilatkan bibir. Biasanya lip balm digunakan pada bibir

yang membutuhkan proteksi, seperti misalnya pada kulit bibir yang peka, pada

cuaca dengan kelembaban yang rendah, atau karena suhu yang terlalu dingin

atau terlalu panas, sehingga bibir menjadi mudah pecah-pecah (Wasitaadmaja,

1997)

Kulit buah delima mengandung senyawa flavonoid, tanin, alkaloid, asam

fenolat, yang terdiri dari gallotanin, ellegatanin, punicalagin, punicalin,

asam galat, asam ellagic, katekin, kuercetin, flavonol, flavon, dan

antocianidin (Madrigal, et al., 2009).

kulit delima berlimpah manfaat karena kandungan zat antioksidan yang

terkandung di dalamnya yang bisa melawan radikal bebas. kandungan vitamin

C juga sangat tinggi dalam kulit delima sehingga kulit delima semakin

bermanfaat bagi kesehatan tubuh. (Arora, 2016).

Kandungan asam ellagic yang ada di kulit delima dapat mempertahankan

kelembaban dan zat lain yang terkandung dapat melindungi kulit dari polusi

serta racun lainnya dan mengembalikan keseimbangan pH kulit (Arora, 2016).

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka dalam penelitian ini,

akan dicoba untuk memformulasikan sediaan pelembab bibir (lip balm) dengan

kulit buah delima (Punica granatum L) berbagai konsentrasi, hingga didapat

formula lip balm yang baik, efektif dan aman untuk digunakan.

2
Universitas Sumatera Utara
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah pada

penelitian ini adalah :

a. Apakah ekstrak kulit buah delima dapat diformulasikan kedalam sediaan

lipbalm?

b. Apakah terdapat perbedaan kelembaban bibir dari variasi konsentrasi

ekstrak kulit buah delima sebagai sediaan Lip balm?

1.3 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka hipotesis pada penelitian ini

adalah:

a. Ekstrak kulit buah delima dapat diformulasikan sebagai sediaan lipbalm.

b. Terdapat perbedaan kelembaban bibir dari variasi konsentrasi ekstrak kulit

buah delima sebagai sediaan lip balm.

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

a. Untuk mengetahui apakah ekstrak kulit buah delima dapat diformulasikan

sebagai lip balm.

b. Untuk mengevaluasi efektivitas sebagai pelembab bibir.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat untuk meningkatkan

pengembangan pengetahuan di bidang teknologi formulasi.

3
Universitas Sumatera Utara
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Buah Delima (Punica granatum L)

2.1.1 Klasifikasi Buah Delima menurut Herbarium Medanese (MEDA)


Sumatera Utara

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Myrtales

Famili : Lythraceae

Genus : Punica.

Spesies : Punica granatum L.

2.1.2 Kandungan Buah Delima (Punica granatum L)

Buah delima memiliki rasa yang manis, daging buah berair dengan biji

buah yang berwarna merah. Buah delima kaya akan vitamin dan mineral, juga

senyawa lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Delima juga merupakan sumber

kelompok vitamin B complex dan vitamin K. Selain itu, delima kaya akan

senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat merangkal radikal

bebas (Oci dan Kurnia, 2014).

2.1.3 Kandungan Kulit Buah Delima

Kulit buah delima mengandung senyawa flavonoid, tanin, alkaloid,

asam fenolat, yang terdiri dari gallotanin, ellegatanin, punicalagin, punicalin,

asam galat, asam ellagic, katekin, kuercetin, flavonol, flavon, dan antocianidin

(Madrigal, et al., 2009).

4
Universitas Sumatera Utara
kulit delima berlimpah manfaat karena kandungan zat antioksidan yang

terkandung di dalamnya yang bisa melawan radikal bebas. kandungan vitamin

C juga sangat tinggi dalam kulit delima sehingga kulit delima semakin

bermanfaat bagi kesehatan tubuh. (Arora, 2016)

Kandungan asam ellagic yang ada di kulit delima dapat

mempertahankan kelembaban dan zat lain yang terkandung dapat melindungi

kulit dari polusi serta racun lainnya dan mengembalikan keseimbangan pH

kulit (Arora, 2016)

2.2 Kosmetik

2.1.1 Pengertian Kosmetik

Kosmetik yang dalam bahasa Inggris disebut “cosmetics” berasal dari

bahasa Yunani “kosmetikos” yang berarti kecakapan dalam menghias, juga

dari kata “kosmein” yang berarti menata atau menghias. Kosmetik merupakan

sediaan/padua bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan (epidermis,

rambut, kuku, bibir dan organ kelamin luar), gigi dan rongga mulut untuk

membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampilan, melindungi

supaya dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan

untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit (Tranggono & Latifah, 2007).

Tujuan utama penggunaan kosmetik pada masyarakat adalah untuk

kebersihan pribadi, meningkatkan daya tarik melalui make up, meningkatkan

rasa percaya diri dan perasaan tenang, melindungi kulit dan rambut dari

kerusakan sinar UV, polusi dan faktor lingkungan yang lain, mencegah

5
Universitas Sumatera Utara
penuaan dan secara umum membantu seseorang lebih menikmati dan

menghargai hidup (Mitsui, 1997).

2.1.2 Penggolongan Kosmetik

Penggolongan kosmetik menurut kegunaaanya bagi kulit adalah

sebagai berikut (Tranggono dan Latifah, 2007):

1. Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetics) Jenis ini perlu untuk

merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk didalamnya :

a. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser)

b. Kosmetik untuk melembabkan kulit (mouisturizer)

c. Kosmetik pelindung kulit

d. Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling)

2. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up) Jenis ini diperlukan untuk

merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan

penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan efek psikologis

yang baik, seperti percaya diri 2(self confidence).

[Link] Kosmetik Pelembab

Kosmetika pelembab perlu dipakaikan terutama pada kulit yang kering

atau normal cenderung kering. Kosmetika pelembab dibedakan atas dua tipe

yaitu:

1. Kosmetika yang didasarkan pada lemak

Kosmetika yang didasarkan pada lemak akan membentuk lapisan lemak

di permukaan kulit untuk mencegah penguapan air kulit dan

menyebabkan kulit menjadi lembab dan lembut

6
Universitas Sumatera Utara
2. Kosmetika yang didasarkan pada gliserol atau humektan sejenis

Kosmetika yang didasarkan pada gliserol atau humektan sejenis akan

membentuk lapisan yang bersifat higroskopis yang akan menyerap uap

air dari udara dan mempertahankannya di permukaan kulit. Preparat ini

membuat kulit nampak lebih halus dan mencegah dehidrasi lapisan

stratum corneum kulit (Tranggono dan Latifah, 2007).

2.3 Kulit Bibir

Kulit bibir mengandung sel melanin yang sangat sedikit, pembuluh

darah lebih jelas terlihat melalui kulit bibir yang memberi warna bibir

kemerahan yang indah. Lapisan korneum pada kulit biasanya memiliki 15

sampai 16 lapisan untuk tujuan perlindungan. Lapisan korneum pada bibir

mengandung sekitar 3 sampai 4 lapisan dan sangat tipis dibanding kulit wajah

biasa. Kulit bibir tidak memiliki folikel rambut dan tidak ada kelenjar keringat

yang berfungsi untuk melindungi bibir dari lingkungan luar (Kadu, 2014).

Bibir tiap orang apapun warna kulitnya, berwarna merah. Warna merah

disebabkan oleh warna darah yang mengalir di dalam pembuluh di lapisan

bawah kulit bibir. Pada bagian ini warna itu terlihat lebih jelas karena pada

bibir tidak ditemukan satu lapisan kulit paling luar yaitu lapisan stratum

korneum (lapisan tanduk). Jadi kulit bibir lebih tipis dari kulit wajah, karena

itu bibir jadi lebih mudah luka dan mengalami pendarahan. Di samping itu,

karena kulitnya yang tipis saraf yang mengurus sensasi pada bibir lebih sensitif

(Wibowo, 2013).

7
Universitas Sumatera Utara
2.3.1 Bibir Kering

Bibir kering dan pecah-pecah merupakan gangguan yang umum

terjadi pada bibir. Penyebab umum terjadinya bibir kering dan pecah-

pecah yaitu kerusakan sel keratin karena sinar matahari dan dehidrasi. Sel

keratin merupakan sel yang melindungi lapisan luar pada bibir. Paparan sinar

matahari menyebabkan pecahnya lapisan permukaan sel keratin. Sel keratin

yang pecah akan rusak. Sel yang rusak akan terjadi secara terus menerus

sampai sel tersebut terkelupas dan tumbuh sel yang baru (Jacobsen, 2011)

Selain itu, penyebab bibir kering dan pecah-pecah adalah

dehidrasi. Air merupakan material yang sangat penting terhadap

kelembaban kulit. Dehidrasi terjadi karena asupan cairan yang tidak

cukup atau kehilangan cairan yang berlebihan disebabkan oleh pengaruh

lingkungan (Jacobsen, 2011).

Secara ilmiah kulit bibir akan berusaha melindungi dirinya dari

kemungkinan mudah kering dan pecah-pecah karena suhu yang terlalu dingin

atau terlalu panas, yaitu dengan adanya kelenjar ludah (saliva) pada bibir

sebelah dalam sehingga bibir dapat selalu dibasahi. Namun pada bibir tidak

terdapat kelenjar keringat dan kelenjar lemak pun sangat jarang terdapat,

sehingga hal ini menyebabkan bibir hampir bebas dari lemak. Dalam cuaca

yang dingin dan kering, lapisan jangat bibr akan cenderung mengering, pecah-

pecah, dan memungkinkan zat yang melekat padanya dapat berpenetrasike

stratum germinativum. Dalam suatu kondisi tertentu faktor perlindungan

alamiah pada kulit bibir tidak mencukupi, karena itu dibutuhkan perlindungan

8
Universitas Sumatera Utara
tambahan nonalamiah yaiitu mialnya dengan menggunakan kosmetika

pelembab kulit bibir (lip balm) (Wasitaadmadja, 1997).

2.4 Pelembab Bibir (Lip balm)

Sediaan atau senyawa yang dapat digunakan untuk mencegah

kekeringan pada kulit bibir disebut emollien tau moisturizer. Senyawa ini

berfungsi untuk mempertahankan kelembaban dari kulit. Emollient merupakan

suatu senyawa yang dibuat untuk melembutkan kulit. Moisturizer (pelembab)

merupakan senyawa yang biasanya mengandung humektan yang berfungsi

untuk melembabkan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pelembab dan

pelembut memiliki pengaruh baik pada kulit yaitu dapat memperbaiki struktur

dan membentuk barrier function, sehingga dapat digunakan untuk

memperbaiki kulit yang kasar, bersisik, atau pecah-pecah, serta dapat untuk

perawatan kulit (Elsner, 2000).

Lip balm merupakan sediaan kosmetik yang dibuat dengan basis yang

sama dengan basis lipstik namun tanpa pewarna, sehingga terlihat transparan,

dan hanya berguna untuk melembabkan bibir agar tidak mudah kering dan

pecah-pecah. Biasanya lip balm digunakan untuk bibir yang membutuhkan

proteksi, umpamanya pada keadaan kelembaban udara yang rendah atau

karena suhu yang terlalu dingin, untuk mencegah penguapan air dari sel-sel

epitel mukosa bibir (Wasitaatmadja, 1997).

2.4.1 Manfaat Penggunaan Lip Balm

a. Lip balm memberikan nutrisi yang dibutuhkan agar bibir tetap lembut

dan sehat

9
Universitas Sumatera Utara
b. Lip balm dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan

c. Produk lip balm membantu melindungi bibir dari keadaan luka, kering,

pecah pecah dan cuaca dingin dan kering.

d. Kontak produk dengan kulit tidak akan menyebabkan gesekan atau

kekeringan, dan harus memungkinkan pembentukan lapisan homogen

di atas bibir untuk melindungi lendir labial yang rentan terhadap faktor

lingkungan seperti radiasi UV, kekeringan dan polusi

e. Penggunaan kosmetik bibir alami untuk memperbaiki penampilan

wajah dan kondisi kulit bibir (Fernandes, dkk., 2013).

2.4.2 Komponen Utama dalam Lip Balm

1. Lemak

Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang

berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir, memberi

tekstur yang lembut, mengurangi efek berkeringat dan pecah pada

lip balm. Fungsi yang lain dalam proses pembuatan lip balm

adalah sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak dan fase

lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak padat yang

biasa digunakan dalam basis lip balm adalah lemak coklat, lanolin,

lesitin, minyak terhidrogenisasi dan lain-lain (Kadu, 2014).

2. Minyak

Asam lemak dapat berupa asam lemak jenuh atau tidak jenuh

yang menentukan stabilitas dari minyak. Minyak dengan asam

lemak jenuh tingkat tinggi (laurat, miristat, palmitat dan asam

stearat) termasuk minyak kelapa, minyak biji kapas, dan minyak

10
Universitas Sumatera Utara
kelapa sawit. Minyak dengan tingkat asam lemak tak jenuh yang tinggi

(asam oleat, arakidonat, linoleat) misalnya minyak canola, minyak

zaitun, minyak jagung, minyak almond, minyak jarak dan minyak

alpukat. Minyak dengan asam lemak jenuh lebih stabil dan tidak

menjadi anyir secepat minyak tak jenuh. Namun, minyak dengan asam

lemak tidak jenuh lebih halus, lebih mahal, kurang berminyak, dan

mudah diserap oleh kulit (Kadu, 2014).

3. Lilin

Secara kimia, wax (lilin) adalah campuran hidrokarbon dan asam

lemak yang kompleks dikombinasikan dengan ester. Lilin lebih keras,

kurang berminyak dan lebih rapuh daripada lemak. Lilin sangat tahan

terhadap kelembaban, oksidasi dan bakteri. Ada empat kategori dari

lilin sebagai berikut: (a) Lilin hewani, contohmya yaitu lilin lebah,

lanolin, Spermaceti; (B) Lilin nabati, contohnya yaitu carnauba,

candelilla, jojoba; (C) Lilin mineral, contohnya yaitu ozokerite, parafin,

mikrokristalin, ceresin; (D) Lilin sintetis, contohnya yaitu

polyethylene, carbowax, acrawax, stearon. Lilin yang paling banyak

digunakan untuk kosmetik adalah lilin lebah (beeswax), carnauba

dan candelilla wax. Secara fisik, lilin ditandai dengan titik leleh

tinggi (500-100oC). Lilin yang paling banyak digunakan adalah

beeswax yang merupakan emolien yang bagus dan pengental. Dua

wax alami lainnya sering digunakan dalam kosmetik adalah lilin

carnauba dan candelilla. Keduanya lebih keras dan memiliki titik

leleh yang lebih tinggi membuat mereka lebih stabil (Kadu, 2014).

11
Universitas Sumatera Utara
2.4.4 Zat Tambahan Dalam Lip Balm

Bahan tambahan dalam pembuatan lip balm berguna untuk membantu

terbentuknya sediaan yang baik, stabil, aman dan menarik. Pada pembuatan

sediaan lip balm hampir selalu digunakan campuran malam, lemak, dan

minyak-minyak yang mudah teroksidasi, sehingga pada penyimpanan akan

cepat rusak dan berbau tengik. Untuk mencegah hal tersebut perlu

ditambahkan suatu antioksidan, zat pengawet dan humektan.

1. Antioksidan

Antioksidan adalah zat yang berguna untuk menghindari adanya reaksi

oksidasi dari lemak dan minyak, sehingga akan mencegah terjadinya

ketengikan pada sediaan. Antioksidan yang biasa digunakan dalam

sediaan kosmetik adalah BHA (Butil Hidroksi Anisol), BHT(Butil

Hidroksi Toluen) (Young, 1974).

2. Pengawet

Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh di dalam sediaan

lip balm, sebenarnya sangat kecil karena lip balm tidak mengandung

air. Akan tetapi ketika lip balm diaplikasikan pada bibir

kemungkinan terjadi kontaminasi pada permukaan lip balm sehingga

terjadi pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu perlu

ditambahkan pengawet di dalam formula lip balm. Pengawet yang

sering digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben (Butler,

2000).

12
Universitas Sumatera Utara
3. Humektan

Humektan adalah material water soluble dengan kemampuan

absorbsi air yang tinggi. Humektan dapat menggerakkan air dari

atmosfer. Humektan yang baik memiliki kemampuan untuk

meningkatkan absorbsi air dari lingkungan untuk hidrasi kulit. Contoh

humektan adalah gliserin, sorbitol, dan propilen glikol (Butler, 2000).

2.5. Komponen yang Digunakan dalam Lip Balm

1. Lemak Coklat (Oleum cacao)

lemak coklat (Oleum cacao) merupakan lemak coklat padat yang

diperoleh dengan pemerasan panas biji Theobroma cacao L. yang

telah dikupas dan dipanggang. Pemeriannya yaitu lemak padat,

putih kekuningan, bau khas aromatik, rasa khas lemak dan agak

rapuh. Suhu lebur yaitu 31-34°C (Ditjen POM, 1979).

2. Cera alba (Malam putih)

Cera alba adalah hasil pemurnian dan pengentalan malam kuning yang

diperoleh dari sarang lebah madu Apis mellifera Linne (familia apidae).

Pemeriannya berupa padatan putih kekuningan, sedikit tembus cahaya

dalam keadaan lapisan tipis, bau khas lemah dan bebas bau tengik.

Kelarutannya tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol

dingin. Larut sempurna dalam kloroform, eter, minyak lemak, dan

minyak atsiri. Suhu leburnya antara 62o C hingga 64o C. khasiat dan

penggunaan sebagai zat tambahan (Ditjen POM, 1995). Digunakan

13
Universitas Sumatera Utara
untuk memberikan srtuktur batang yang kuat pada lip balm dan

menjaganya tetap padat walau dalam keadaan hangat (Balsam, 1972).

3. Oleum ricini (Minyak jarak)

Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan perasan

dingin biji Ricinus communis L. yang telah dikupas. Pemeriannya

berupa cairan kental, jernih, kuning pucat atau hampir tidak berwarna,

bau lemah, rasa manis dan agak pedas. Kelarutannya yaitu larut dalam

2,5 bagian etanol (90%), mudah larut dalam etanol mutlak, dan dalam

asam asetat glasial (Ditjen POM, 1979).

4. Nipagin

Nipagin atau metil paraben memiliki pemerian yaitu hablur kecil,

tidak berwarna, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai

sedikit rasa terbakar. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan

benzen, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam

minyak, propilen glikol, dan dalam gliserol. Suhu leburnya antara

125-128 °C. Khasiatnya adalah sebagai zat tambahan (zat pengawet)

(Ditjen POM, 1995).

5. Butil hidroksitoluen

Butil hidroksitoluen digunakan sebagai antioksidan dalam obat,

kosmetik, dan makanan. Biasanya digunakan untuk menunda atau

mencegah oksidasi lemak dan minyak menjadi tengik, dan juga untuk

mencegah hilangnya aktivitas vitamin-vitamin yang larut dalam

minyak. Konsentrasi butil hidroksitoluen yang digunakan untuk

formulasi sediaan topikal adalah 0,0075-0,1 (Rowe, et al., 2009).

14
Universitas Sumatera Utara
6. Propilen glikol

Propilen glikol adalah cairan jernih, tidak berwarna, kental, tidak

berbau, dan berasa manis. Propilen glikol diketahui sebagai material

non-toksik telah digunakan secara luas dalam formulasi farmasetik dan

kosmetik sebagai humektan, penawet, dan pelarut (Rowe, et al., 2009).

15
Universitas Sumatera Utara
BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini ini meliputi pembuatan formulasi sediaan

lipbalm, menggunakan ekstrak kulit buah delima dengan konsentrasi 2,5%,

5%, 7,5%, 10%. Pemeriksaan mutu fisik sediaan meliputi uji homogenitas,

suhu lebur, uji stabilitas sediaan, pengukuran pH, uji iritasi terhadap kulit, dan

pengujian kemampuan sediaan untuk melembabkan bibir dengan

menggunakan alat moisture checker yang terdapat pada perangkat skin

analyzer

3.1 Waktu dan tempat penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium Fitokimia dan kosmetologi

Farmasi USU pada bulan Juli 2017 – Januari 2018.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan antara lain: Neraca digital (Boeco Germany),

penangas air, batang pengaduk, spatula, tisu, kaca objek, cawan penguap,

pipet tetes, pot plastik wadah lip balm, pH meter (Hanna), dan alat-alat gelas

yang diperlukan.

3.2.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit buah delima.

Bahan yang digunakan antara lain: Cera alba, oleum cacao, minyak jarak,

propilen glikol, tween 80, nipagin, BHT.

16
Universitas Sumatera Utara
3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel

3.3.1 Teknik pengumpulan sampel

Pengambilan bahan tumbuhan dilakukan secara purposif yaitu tanpa

membandingkan tumbuhan yang sama dengan daerah lain. Bahan tumbuhan

yang digunakan adalah kulit buah delima yang diambil dari daerah Brastagi

Sumatera Utara.

3.3.2 Identifikasi tumbuhan

Identifikasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanense, Fakultas

MIPA, Universitas Sumatera Utara, Medan. Hasil determinasi dapat dilihat

pada Lampiran 1 halaman 39.

3.3.3 Pengolahan sampel

Buah delima segar sebanyak 5 kg, disortasi, dikumpulkan, dicuci, lalu

ditiriskan, kemudiaan pisahkan kulitnya dengan isinya, ditimbang kulit buah

delima 2 kg sebagai berat basah. Kemudian diiris dikeringkan dilemari

pengering (suhu 40-500C) hingga kering dan diperoleh berat kering sebanyak

1kg. Lalu dihaluskan menggunakan blender hingga menjadi serbuk, disimpan

dalam wadah yang terlindung dari sinar matahari.

3.4 Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Delima

Cara pembuatan ekstrak kulit buah delima adalah dengan metode

maserasi. Prosedur pembuatan ekstrak: sebanyak 500 g kulit buah delima, yang

telah dihaluskan dimasukkan dalam bejana. Simplisia direndam dengan

penyari etanol 96% sebanyak 3,75 liter. Biarkan 5 hari, diaduk sehari sekali.

Setelah 5 hari, disaring, serkai, ampas diperas. Ampas ditambah cairan penyari

17
Universitas Sumatera Utara
1,25 liter, aduk serkai hingga keseluruhan sari yang diperoleh 5 liter. Hasil

maserat diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kulit buah

delima yang kental (Ditjen POM, 1979).

3.5 Pemeriksaan Karakterisasi Ekstrak Etanol kulit buah delima

Pemeriksaan karakterisasi ekstrak buah delima meliputi penetapan

kadar air, penetapan kadar abu total, penetapan kadar abu tidak larut dalam

asam, penetapan kadar sari yang larut dalam air, penetapan kadar sari yang

larut dalam etanol.

3.5.1 Penetapan kadar air ekstrak

Penetapan kadar air dilakukan dengan metode Azeotropi (destilasi

toluen). Cara penetapan :

Kedalam labu bulat dimasukkan 200 ml toluen dan 2 ml air suling,

didestilasi selama 2 jam. Setelah itu toluen didinginkan dan volume air di

dalam tabung penerima dibaca. Kemudian di dalam labu dimasukkan ekstrak,

kecepatan tetesan air diatur, lebih kurang 2 tetes tiap detik, hingga sebagian

besar air tersuling. Kemudian kecepatan penyulingan air dinaikkan hingga 4

tetes tiap detik. Setelah 2 jam didestilasi, kemudian toluen dibiarkan dingin,

bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen yang telah dijenuhkan. Destilasi

dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin

sampai suhu kamar. Setelah air dan toluen terpisah sempurna, volume air

dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai

dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang telah dipriksa. Kadar

air dihitung dalam persen (Depkes RI, 2000).

18
Universitas Sumatera Utara
3.5.2 Penetapan kadar sari yang larut dalam air

Sebanyak 5 g ekstrak etanol kulit buah delima yang telah dikeringkan,

dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml air-kloroform (2,5 ml kloroform

dalam air suling sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok

selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam, kemudian disaring.

Ekstrak 20 ml diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar

rata yang dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105 oC sampai

bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang larut dalam air dihitung terhadap

bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 2000).

3.5.3 Penetapan kadar sari larut etanol

Sebanyak 5 g ekstrak etanol kulit buah delima yang telah dikeringkan

di udara, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml etanol 96% dalam labu

bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan

selama 18 jam, lalu disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol.

Ekstrak 20 ml diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar

rata yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC

sampai bobot [Link] dalam persen sari yang larut dalam etanol (96%)

dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 2000).

3.5.4 Penetapan kadar abu total

Sebanyak 2 g ekstrak etanol kulit buah delima yang telah digerus dan

ditimbang seksama dimasukkan ke dalam krus porselin yang telah dipijar dan

ditara, kemudian diratakan. Kurs porselin dipijar perlahan-lahan sampai arang

habis, pemijaran dilakukan pada suhu 500`- 600ºC selama 3 jam kemudian

19
Universitas Sumatera Utara
didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung

terhadap bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 2000).

3.5.5 Penetapan kadar abu tidak larut asam

Abu yang telah diperoleh dalam penetapan abu didihkan dengan 25 ml

asam klorida encer selama 5 menit. Bagian yang tidak larut dalam asam

dikumpulkan, disaring dengan kertas masir atau kertas saring bebas abu, cuci

dengan air panas, dipijarkan sampai bobot tetap, kemudian dinginkan dan

ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bobot

yang dikeringkan (Depkes RI, 2000).

3.6 Pembuatan Pelembab Bibir Dengan Menggunakan Ekstrak Kulit


Buah Delima Dalam Berbagai Konsentrasi
3.6.1 Formula

Formula dasar yang dipilih pada pembuatan Lip balm dalam penelitian

ini dengan komposisi sebagai berikut (Ratih, 2014):

R/ Minyak bunga kenanga x

Gliserin 5%

Cera alba 10%

Cera flava 12%

Nipagin 0,18%

Nipasol 0.02%

BHT 0,05%

Oleum cacao ad 100

Berdasarkan formula dasar di atas dilakukan modifikasi formula basis

lip balm ekstrak kulit delima dalam berbagai perbandingan. Hal ini dilakukan

20
Universitas Sumatera Utara
untuk mendapatkan basis lip balm yang baik dalam tekstur, konsistensi dan

kemampuan melembabkan bibir.

3.6.2 Formula modifikasi

Modifikasi formula dilakukan dengan menambahkan komponen

yaitu propilen glikol, dan tween 80. Ekstrak kulit buah delima tidak dapat

larut dalam oleum ricini sehingga perlu ditambahkan propilen glikol dan tween

80 untuk melarutkan zat warna tersebut. Propilen glikol yang digunakan

sebagai pelarut yaitu 5-80% (Rowe, dkk., 2009) dalam penelitian ini

digunakan sebanyak 5%.

Setelah dilakukan modifikasi formula, maka formula yang digunakan

dalam pembuatan sediaan lip balm pada penelitian ini adalah:

R/ Propilen Glikol 5%

Cera alba 22%

Minyak jarak 15%

Tween 80 2%

Nipagin 0,2%

BHT 0,05%

Oleum cacao ad 100

Selanjutnya dilakukan pengembangan formulasi sediaan lip balm

yang mengandung kulit buah delima dengan berbagai konsentrasi. Berdasarkan

hasil orientasi terhadap kulit buah delima pada sediaan lip balm diperoleh

hasil bahwa konsentrasi 2,5% sediaan mampu memberikan kelembaban pada

saat dioleskan. Orientasi dilanjutkan dengan sediaan lip balm kulit buah

delima dengan konsentrasi 5%, 7,5% dan 10% karena memberikan

21
Universitas Sumatera Utara
kelembaban. Sebagai blanko juga dibuat sediaan lip balm tanpa

menggunakan kulit buah delima.

Tabel. 3.1 Modifikasi formula sediaan lip balm menggunakan kulit buah
delima

konsentrasi %
Komposisi
F0 F1 F2 F3 F4

Ekstrak kulit buah delima - 2,5 5 7,5 10

propilen glikol 5 5 5 5 5

Cera alba 22 22 22 22 22

Minyak Jarak 15 15 15 15 15

Tween 80 2 2 2 2 2

Nipagin 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2

BHT 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05

Oleum cacao ad 100 100 100 100 100

Keterangan:
F0 : Blanko (dasar lip balm tanpa ekstrak)
F1 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%

3.6.3 Prosedur Pembuatan Lip balm

Cara pembuatannya adalah sebagai berikut :

Ekstrak kulit buah delima dilarutkan dalam propilen glikol, setelah

larut, butil Hidroksitoluen (BHT) dilarutkan dalam minyak jarak, kemudian

dimasukkan ke dalam campuran propilen glikol, lalu diaduk hingga homogen

(campuran A). Ditimbang cera alba dan oleum cacao dimasukkan ke dalam

cawan penguap, kemudian dilebur di atas penangas air (campuran B).

22
Universitas Sumatera Utara
Campuran A dan campuran B dicampurkan perlahan-lahan di dalam cawan,

kemudian ditambahkan nipagin, tween 80 dan parfum, aduk hingga homogen.

Selagi cair, diangkat dan masukkan ke dalam wadah lip balm.

3.7 Sukarelawan

Ditjen POM (1985) mencantumkan kriteria sukarelawan yang dijadikan

panel sebagai berikut:

1. Wanita berbadan sehat

2. Tidak ada riwayat penyakit yang berhubungan dengan alergi.

3. Bersedia menjadi sukarelawan.

3.8 Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan

Pemeriksaan mutu fisik dilakukan terhadap masing-masing sediaan lip

balm. Pemeriksaan mutu fisik antara lain: pengujian homogenitas, suhu lebur

sediaan, uji stabilitas sediaan, pengukuran pH, uji iritasi dan kemampuan

sediaan untuk melembabkan bibir menggunakan alat moisture checker yang

terdapat pada perangkat skin analyzer

3.8.1 Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan objek gelas.

Sejumlah tertentu sediaan jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan

transparan lain yang cocok, sediaan harus menunjukkan susunan yang

homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM, 1979).

23
Universitas Sumatera Utara
3.8.2 Suhu Lebur Sediaan

Metode pengamatan suhu lebur lip balm yang digunakan dalam

penelitian adalah dengan cara memasukkan lip balm ke dalam oven dengan

suhu awal 300C selama 15 menit, diamati apakah melebur atau tidak, setelah

itu suhu dinaikkan 10C setiap 15 menit dan diamati pada suhu berapa lip balm

mulai melebur

3.8.3 Pengamatan Stabilitas Sediaan

Pemeriksaan stabilitas sediaan dilakukan terhadap adanya perubahan

bentuk, warna, dan bau dari sediaan, dilakukan terhadap masing-masing

sediaan selama penyimpanan pada suhu kamar 1, 4, 8 dan 12 minggu

(Vishwakarma, dkk., 2011).

3.8.4 Pengukuran pH sediaan

Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan alat pH meter.

Cara kerja: Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar

standar netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat

menunjukkan harga pH tersebut. Kemudiaan elektroda dicuci dengan air

suling, lalu dikeringkan dengan tisu. Sampel dibuat dengan konsentrasi 1%

yaitu ditimbang 1 g sediaan dilarutkan dalam air suling yang sudah dipanaskan

hingga 100 ml dan biarkan hingga dingin. Kemudian elektroda dicelupkan

dalam larutan tersebut. Alat dibiarkan sampai menunjukkan harga pH konstan.

Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan (Rawlins, 2003).

3.8.5 Uji iritasi

Uji iritasi dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan uji pada kulit

normal panel manusia untuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat

24
Universitas Sumatera Utara
menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Teknik yang digunakan pada uji

iritasi ini adalah uji tempel terbuka (open test) pada lengan bawah bagian

dalam terhadap 10 orang panelis. Uji tempel terbuka dilakukan dengan

mengoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5

x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati apa yang terjadi. Uji ini dilakukan

selama 2 hari berturut-turut (Tranggono dan Latifah, 2007).

3.8.6 Kemampuan Sediaan Untuk Melembabkan Bibir

Pengujian efektivitas lip balm dilakukan terhadap sukarelawan

sebanyak 15 orang, yaitu:

a) Sediaan I : 3 sukarelawan untuk pelembab bibir F0 (Blanko)

b) Sediaan II : 3 sukarelawan untuk pelembab bibir F1

(konsentrasi kulit buah delima 2,5%)

c) Sediaan III : 3 sukarelawan untuk pelembab bibir F2

(konsentrasi kulit buah delima 5%)

d) Sediaan IV : 3 sukarelawan untuk pelembab bibir F3

(konsentrasi kulit buah delima 7,5%)

d) Sediaan V : 3 sukarelawan untuk pelembab bibir F4

(konsentrasi kulit buah delima 10%)

Semua sukarelawan diukur kondisi awal kulit bibir pada area uji yang

akan dioleskan lip balm. Pengujian yang dilakukan adalah uji kadar air

(moisture), dengan menggunakan alat moisture checker. Perawatan mulai

dilakukan dengan mengoles sediaan Lip balm secara merata, pengolesan

dilakukan sebanyak 2 kali sehari secara rutin pagi dan malam hari. Lip balm

dioles berdasarkan kelompok yang telah ditetapkan di atas. Perubahan kondisi

25
Universitas Sumatera Utara
kulit bibir diukur selama 4 minggu dengan menggunakan alat moisture checker

yang terdapat dalam perangkat skin analyzer

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan metode statistik

program SPSS (Statistical and Service Solution)18. Data terlebih dahulu

dianalisis distribusinya menggunakan Shapiro-Wilk Test. Selanjutnya data

dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis Test untuk mengetahui efektivitas lip

balm diantara formula. Selanjutnya untuk menganalisis pengaruh waktu dan

formula terhadap kondisi bibir selama 4 minggu perawatan digunakan Mann-

Whitney Test.

26
Universitas Sumatera Utara
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Indentifikasi Tumbuhan

Identifikasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanense, Universitas

Sumatera [Link] identifikasi menunjukkan bahwa sampel termasuk family

Punicaceae. Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada lampiran 1.

4.2 Hasil Ekstraksi Kulit Buah Delima

Hasil ekstraksi dari 500 g kulit buah delima dengan menggunakan

pelarut etanol 5L secara maserasi, kemudiaan maserat dipekatkan dengan

rotary evaporator sampai diperoleh ekstrak kental yaitu sebanyak 98,65 g

berwarna coklat kehitaman.

4.3 Hasil Pemeriksaan Karaktetrisasi Ekstrak Etanol Kulit Buah Delima

Hasil karakterisasi ekstrak kulit buah delima diperoleh kadar air 4,66%,

kadar sari yang larut dalam air 77,90%, kadar sari yang larut dalam etanol

79,31%, kadar abu total 3,61%, kadar abu tidak larut asam 0,77%. Hasil

karakterisasi ekstrak etanol kulit buah delima dapat dilihat pada Tabel 4.1

berikut ini. Tabel 4.1 Hasil karakterisasi ekstrak etanol kulit buah delima

No. Parameter Ekstrak

1. Penetapan kadar air 4,66%


2. Penetapan kadar sari larut air 77,90%
3. Penetapan kadar sari larut etanol 79,31%
4. Penetapan kadar abu total 3,61%
5. Penetapan kadar abu tidak larut asam 0,77%

27
Universitas Sumatera Utara
Dari tabel 4.1 diatas bahwa persyaratan karakterisasi ekstrak kulit buah

delima belum memiliki standar, jadi belum dapat diketahui apakah ekstrak

yang dibuat memenuhi standar. Hasil perhitungan pemeriksaan karakteristik

ekstrak kulit buah delima dapat terlihat pada Lampiran 3 halaman 41.

4.4 Hasil Skrining Fitokimia

Hasil skrining fitokimia telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya

(Agustina, 2016). Hasil dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Hasil skrining fitokimia ekstrak Kulit Buah delima


(Punica granatum L)

No. Pereaksi Simplisia


1 Alkaloida -
2 Flavonoida +
3 Glikosida +
4 Saponin +
5 Tanin +
6 Steroid/Triterpenoid +/-

Keterangan:
+ = mengandung senyawa
- = tidak mengandung senyawa

Hasil skrining fitokimia simplisia dan etanol ekstrak kulit buah delima

memperlihatkan adanya golongan senyawa glikosida, saponin, flavonoid, tanin

dan steroid.

4.5 Hasil Formulasi Sediaan Lip Balm

Sediaan lip balm dengan penambahan ekstrak kulit buah delima

masingmasing 2,5%, 5%, 7,5% dan 10% berwarna coklat. Semakin tinggi

konsentrasi kulit buah delima semakin coklat warna lip balm yang dihasilkan.

Lip balm blanko berwarna putih.

28
Universitas Sumatera Utara
4.6 Penentuan Mutu Fisik Sediaan

4.6.1 Pemeriksaan homogenitas

Hasil pemeriksaan homogenitas terhadap sediaan lip balm ekstrak kulit

buah delima dengan konsentrasi 2,5 %, 5%, 7,5%, 10% menunjukkan bahwa

sediaan yang dibuat mempunyai susunan homogen. Hal ini ditandai dengan

tidak adanya butir-butir kasar pada saat sediaan dioleskan pada kaca

transparan. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat memiliki susunan

yang homogen (Ditjen POM, 1979).

Homogenitas berpengaruh terhadap efektivtas terapi karena

berhubungan dengan kadar obat yang sama pada setiap pemakaian, jika

sediaan homogen maka kadar zat aktif pada saat pemakaian diasumsikan akan

sama. setiap bagian zat aktif harus memiliki kesempatan yang sama untuk

menempati tempat terapi, sebaliknya setiap bagian tempat terapi memiliki

kesempatan yang sama untuk dapat kontak dengan zat aktif, kondisi ini dapat

tercapai bila sediaan homogen (Swastika, 2013).

4.6.2 Suhu Lebur Sediaan

Hasil pemeriksaan suhu lebur lip balm menunjukkan bahwa sediaan

lip balm ekstrak kulit buah delima berkisar 36-380C. Suhu lebur lip balm

yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir,

bervariasi antara 36-38°C. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan lip balm

ekstrak kulit buah delima memenuhi persyaratan suhu ideal dalam lip balm.

Data hasil pemeriksaan suhu lebur dapat dilihat pada Tabel 4.3

berikut ini.

29
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.3 Data Hasil Pemeriksaan Suhu Lebur

Sediaan Suhu (0C)

F0 380C

F1 380C

F2 370C

F3 360C

F4 360C

4.6.3 Hasil Pengamatan Stabilitas Sediaan

Hasil uji stabilitas sediaan lip balm dari ekstrak kulit buah delima

menunjukkan bahwa seluruh sediaan yang dibuat tetap stabil dalam

penyimpanan pada suhu kamar selama 1, 4, 8, 12 minggu pengamatan.

Parameter yang diamati dalam uji kestabilan fisik ini meliputi perubahan

bentuk, warna dan bau sediaan. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk,

diketahui bahwa seluruh sediaan lip balm yang dibuat memiliki bentuk dan

konsistensi yang baik, yaitu tidak meleleh pada penyimpanan suhu kamar.

Warna lip balm tidak berubah. Bau sediaan tetap stabil dalam penyimpanan

selama 1, 4, 8, 12 minggu pengamatan pada suhu kamar.

Data hasil pemeriksaan hasil pengamatan stabilitas sediaan dapat

dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini.

30
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.4 Data pengamatan perubahan bentuk, warna dan bau sediaan

Pengamata Sediaan Lama pengamatan (Minggu)


n 1 4 8 2
F0 B B B B
F1 B B B B
Bentuk F2 B B B B
F3 B B B B
F4 B B B B
F0 TB TB TB TB
F1 CM CM CM CM
Warna F2 C C C C
F3 CT CT CT CT
F4 CT CT CT CT
F0 BK BK BK BK
F1 BK BK BK BK
F2 BK BK BK BK
Bau F3 BK BK BK BK
F4 BK BK BK BK

Keterangan :
F0 : Blanko (dasar lip balm tanpa ekstrak)
F1 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%
B : Baik
TB : Tidak berwarna
CM : Coklat muda
C : Coklat
CT : Coklat tua
BK : Bau khas

4.6.4 Hasil pemeriksaan pH sediaan

Hasil penentuan pH sediaan lip balm dari ekstrak kulit buah delima

dilakukan dengan menggunakan pH meter Hanna. Hasil pemeriksaan

menunjukkan bahwa sediaan lip balm yang menggunakan variasi konsentrasi

kulit buah delima memiliki pH yaitu 5,6-6,1. Hasil uji pengukuran pH sediaan

dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut ini.

31
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.5 Data pengukuran pH sediaan pelembab bibir ekstrak kulit buah
delima setelah penyimpanan selama 12 minggu

Lama pengamatan (Minggu)


Formula pH rata-rata
1 4 8 12
F0 6,1 6,2 6,1 6,1 6,1

F1 6,0 6,1 6,1 6,1 6,0

F2 5,9 6,0 5,9 5,9 5,9

F3 5,8 5,7 5,7 5,7 5,7

F4 5,7 5,7 5,6 5,6 5,6

Keterangan:
F0 : Blanko (dasar lip balm tanpa ekstrak)
F1 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa semakin banyak

konsentrasi ekstrak kulit buah delima yang ditambahkan ke dalam sediaan

lip balm maka pH semakin menurun. Hal ini disebabkan karena pH ekstrak

adalah asam yaitu 3,0-3,2. pH sediaan mendekati rentang pH fisiologis kulit

yaitu antara 4,5-6,5. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan kosmetik yang

dibuat cukup aman dan tidak menyebabkan iritasi pada bibir.

4.6.5 Hasil Uji Iritasi

Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan pada 10 orang panelis yang

dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan lip balm pada kulit lengan bawah

bagian dalam selama 2 hari berturut-turut, menunjukkan bahwa semua panelis

tidak menunjukkan reaksi terhadap parameter reaksi iritasi yang diamati yaitu

adanya eritema, papula, ataupun adanya vesikula. Dari hasil uji iritasi tersebut

32
Universitas Sumatera Utara
dapat disimpulkan bahwa sediaan lip balm yang dibuat aman untuk digunakan

(Tranggono dan Latifah, 2007). Hasil uji iritasi dapat dilihat pada Tabel 4.6

berikut ini.

Tabel 4.6 Data hasil uji iritasi

Panelis
Reaksi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Eritema - - - - - - - - - -
Eritema dan
Papula - - - - - - - - - -
Eritema, Papula
dan Vesikula - - - - - - - - - -
Edema dan
Vesikula - - - - - - - - - -

Keterangan:
Tidak ada reaksi :-
Eritema :+
Eritema dan papula : ++
Eritema, papula dan vesikula : +++
Edema dan vesikula : ++++

4.6.6 Hasil Uji Kemampuan Sediaan Untuk Melembabkan Bibir

Pengkuran efektivitas lip balm dilakukan dengan mengukur kondisi bibir

sukarelawan selama 4 minggu yang meliputi pengukuran kadar air (moisture)

menggunakan alat moisture checker yang terdapat dalam perangkat skin

analyzer. Hal ini bertujuan agar bisa melihat seberapa besar pengaruh lip balm

yang mengandung ekstrak kulit buah delima dalam perawatan bibir yang

mengalami pengeringan, dan dilihat dari persen pemulihan. Pengujian

dilakukan untuk sediaan dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5%,dan 10%.

Pengujian statistik dengan SPSS 18 dilakukan uji normalitas dengan

Shapiro-Wilk test, diperoleh nilai p<0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data

33
Universitas Sumatera Utara
tidak terdistribusi normal, sehingga dilakukan uji non parametrik Kruskal-

Wallis Test untuk mengetahui efektivitas lip balm diantara formula yang di

formulasi. Selanjutnya untuk menganalisis formula mana yang berbeda

digunakan uji Mann-Whitney Test.

[Link] Kadar air (moisture)

Pengukuran kadar air dilakukan dengan menggunakan alat moisture

checker yang terdapat dalam perangkat skin analyzer Aramo. Hasil

pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.7, yang menunjukkan bahwa kadar air

bibir semua kelompok sukarelawan sebelum pemakaian lip balm adalah

dehidrasi.

Tabel 4.7 Hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit bibir

Kadar Air Peningkatan


Pemakaian
Sediaan Sukarelawan Kadar air
Awal (minggu)
I II III IV %
I 29 30 31 31 31 6,8
F0 II 29 30 30 30 30 3,4
III 29 30 31 31 31 6,8
Rata-rata 29 30 30,6 30,6 30,6 5,7
I 28 30 31 31 32 14,2
F1 II 29 31 31 32 32 10,3
III 27 30 31 31 31 14,8
Rata-rata 28 30,3 31 31,3 31,6 13,1
I 27 28 30 31 32 18,5
F2 II 26 27 30 32 33 26,9
III 28 29 31 33 34 21,4
Rata-rata 27 28 30,3 32 33 22,2
I 27 30 32 34 35 29,6
F3 II 28 31 33 34 36 28,5
III 28 30 32 34 35 25
Rata-rata 27,6 30,3 32,3 34 35,3 27,7
I 28 31 33 34 36 28,5
F4 II 27 32 34 35 36 33,3
III 29 32 34 35 37 27,5
Rata-rata 28 31,6 33,6 34,6 36,3 29,8

34
Universitas Sumatera Utara
Keterangan:
Dehidrasi 0-29; Normal 30-50;Hidrasi 51-100 (Aramo, 2012)
F0 : Blanko (dasar pelembab tanpa sampel)
F1 : lip balm ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : lip balm ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : lip balm ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : lip balm ekstrak kulit buah delima 10%

Data pada uji efektivitas sediaan menunjukkan selama empat

minggu perawatan dengan pemberian sediaan lip balm setiap hari pada

pagi dan malam hari secara rutin, semua sukarelwan mengalami peningkatan

kadar air dari dehidrasi menjadi normal. Persentase peningkatan kadar air pada

bibir paling tinggi ditunjukkan oleh kelompok sukarelawan dengan perawatan

menggunakan sediaan lip balm ekstrak kulit buah delima 10% yaitu sebesar

29,8%.

Grafik pengaruh pemakaian lip balm ekstrak kulit buah delima

terhadap kelembaban bibir panelis selama empat minggu perawatan dapat

dilihat

40
35
30
Kadar Air

25
F0(Blanko)
20
F1(2,5%)
15
F2(5%)
10
F3(7,5%)
5
F4(10%)
0
0(kondisi I II III IV
awal)
Waktu (Hari)

Gambar 4.1 Grafik pengaruh perbedaan formula terhadap kelembaban


(moisture) pada bibir sukarelawan.

35
Universitas Sumatera Utara
Keterangan:
F0 : Blanko (dasar pelembab tanpa sampel)
F1 : lip balm ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : lip balm ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : lip balm ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : lip balm ekstrak kulit buah delima 10%

Bibir merupakan kulit yang memiliki ciri tersendiri dengan kulit jangat

yang sangat tipis, aliran darah lebih banyak mengalir di daerah permukaan

kulit bibir, tidak terdapat kelenjar keringat, dan sangat jarang terdapat kelenjar

lemak sehingga kulit bibir lebih peka dibandingkan kulit lainnya (Ditjen POM,

1985).

Kondisi lingkungan juga memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap konsentrasi kelembaban di bibir, akibat pengaruhnya terhadap

perfusi air dari kapiler dan penguapan dan konveksi dari permukaan

bibir. Saat lip balm dioleskan ke bibir, ia bertindak sebagai sealant

mencegah hilangnya kelembaban melalui penguapan. Perlindungan ini

memungkinkan bibir untuk rehidrasi melalui akumulasi kelembaban pada

antarmuka lip balm-stratum corneum (Madans,dkk.,2012).

Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik

Kruskal Wallis. Hasil analisis statistik dari pengukuran kadar air menunjukkan

adanya perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antar formula setelah pemakaian

lip balm setiap minggu selama 4 minggu. Hasil analisis statistik setelah 4

minggu pemakaian lip balm menunjukkan bahwa terdapat perbedaan

peningkatan kadar air yang signifikan (p ≤ 0,05) antara blanko dengan semua

formula lip balm ekstrak kulit buah delima. Hasil statistik dapat dilihat pada

lampiran 12 halaman 63

36
Universitas Sumatera Utara
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa:

1. Ekstrak kulit buah delima dapat diformulasikan dalam sediaan lip balm

sebagai pelembab bibir

2. Perbedaan variasi konsentrasi ekstrak kulit buah delima berpengaruh

dalam lip balm memberikan kelembaban. Sediaan lip balm ekstrak kulit

buah delima 10% merupakan sediaan yang paling baik dalam

meningkatkan kadar air bibir dari keadaan dehidrasi (5,7%) menjadi

keadaan normal (29,8).

5.2 Saran

Diharapkan kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian

lebih lanjut menggunakan ekstrak kulit buah delima dalam sediaan gel, atau

lotion.

37
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA

Aramo.(2012). Skin and Hair Diagnosis System. Sungnam: Aram Huvis Korea
Ltd. Hal 1-10.

Arora. D. (2016). Health Benefits Of Pomegranate Peel You Never Knew.


[Link]. Diakses pada tanggal 22 Mei 2018.

Agustina, Ruslan dan Agrippina.(2016). Skrinning Fitokimia Tanaman Obat di


Kabupaten Bima. Cakra kimia (indonesia E-Journal of Applied
Chemistri). Volume 4

Butler, H. (2000). Poucher,s Perfumes, Cosmetics and Soaps Tenth Edition.


Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Hal. 210.

Depkes RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.


Jakarta: Dirjen POM, Direktorat Pengawasan Obat tradisional. Hal. 14-
41

Ditjen POM RI.(1979). Farmakope [Link] III. Jakarta: Departemen


Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 33.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen


Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 33.

Elsner, P., and Maibach, HI. (2000). Cosmeceuticals Drugs vc Cosmetics. New
York: Marcel Dekker Inc.74.

Fernandes, A.R., Michelli, F.D., Claudineia, A.S.O.P., Telma, M.K., Andre,


R.B.,

Maria, V.R.V. (2013). Stability evaluation of organic Lip Balm. Brazilian


Journal of Pharmaceutical Sciences. 49(2). Hal. 294-296.

Harry, R.G. (1982). Harry’s Cosmetology. 7nd edition. New York: Chemical
Publishing Company. 147-156.

Jacobsen, P.L., Denis, P.L., Michael, A.S., Drore, E., Barbara, D.W. (2011).
The Little Lip Book. USA: Carma Laboratories Inc. Hal. 27-29

Kadu, M., Suruchi, V., Sonia, S. (2014). Review on Natural Lip Balm.
International Journal of Research in Cosmetic Science. Hal. 1-2

Madans, A., Katie, P., Christine, P., Shailly, P. (2012). Ithaca Got Your Lips
Chapped: A Performance Analysis of Lip Balm. BEE 4530. Hal. 4-5.

38
Universitas Sumatera Utara
Madrigal, S., Carballo, G., Rodriguez, C.G., Krueger, M., Dreher, J., Dreed.
(2009). Pomegranate (Punicagranatum) supplements: Authenticity,
antioxindant and polyphenol composition. Journal of Functional Foods.

Mitsui, T. (1997). Cosmetic and Skin: New Cosmetic Science. Amsterdam:


Elsevier. Hal. 38-46.

Muliyawan D., dan Suriana, N. (2013).A - Z Tentang Kosmetik. Jakarta: PT.


Elex Media Komputindo. Hal. 134, 157-158.

Oci., dan Kurnia, K. D. (2014). Khasiat Ajaib Delima. Jakarta: Padi. Hal. 1-
23.

Rawlins, E.A. (2003). Bentley’s Textbook of Pharmaceutics. 18th ed. London:


Bailierre Tindall. Hal. 355.

Rowe, R.C., Sheskey, P.J., dan Quin. (2009). Handbook of Pharmaceutical


Excipient. 6th Edition. London: Pharmaceutical Press and American
Pharmacist Association. Hal. 283, 441, 780.

Swastika, A. Mufrod, dan Purwanto.(2013). Aktivitas antioksidan krim ekstrak


sari [Link] Medicine Journal. 18(3):132-140.

Tranggono, R.I., dan Latifah, F., (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan
Kosmetik. Jakarta: [Link] Pusaka Utama. Hal.11–32, 167.

Trookman, N.S., Ronald, L., Rosanne, F., Rahul, M., Vincent, G. (2009).
Clinical Assessment of a Combination Lip Treatment to Restore
Moisturization and Fullness. The Journal of Clinical Aesthetic
Dermatology.2(12). Hal. 44-45.

Vishwakarma, B., Dwivedi, S., Dubey, K., dan Joshi, H. (2011). Formulation
and Evaluation of Herbal Lipstick. International Journal of Drug
Discovery & Herbal Research. 1(1): 18-19.

Wasitaatmadja, S.M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-


Press. Hal. 16–21, 199.

Wibowo, D.S. (2013). Anatomi Fungsional Elementer dan Penyakit yang


Menyertai. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Hal. 27.

Young, A. (1974). Practical Cosmetic Science. London: Mills and Boon


Limited. 3-10

39
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 1. Hasil Identifikasi Sampel

40
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 2. Surat pernyataan persetujuan ikut serta dalam penelitian

SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN IKUT SERTA DALAM


PENELITIAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini :

Nama :

Umur :

Alamat :

Telah mendapat penjelasan secukupnya bahwa saya akan melakukan uji lip balm

dari ekstrak kulit buah delima terhadap bibir sebagai sediaan lip balm. Setelah

mendapat penjelasan secukupnya tentang manfaat penelitian ini maka saya

menyatakan SETUJU untuk ikut serta dalam penelitian dari Mega Wahyuni

dengan judul “FORMULASI SEDIAAN LIP BALM EKSTRAK KULIT

BUAH DELIMA (Punica granatum L), sebagai usaha untuk mengetahui apakah

sediaan lip balm dari ekstrak kulit buah delima mampu atau tidak dalam

memulihkan bibir yang telah kering. Saya menyatakan sukarela dan bersedia

untuk mengikuti prosedur penelitian yang telah ditetapkan.

Persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak

manapun. Demikian surat pernyataan ini dibuat untuk dapat dipergunakan

sebagaimana mestinya.

Medan, 1 Desember 2017

Peneliti, Sukarelawan,

(Mega Wahyuni) ( )

41
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 3. Perhitungan karakterisasi ekstrak

1. Kadar air

No. Berat sampel (g) Volume awal (ml) Volume akhir (ml)

1 5,0028 1,8 2,0

2 5,0076 1,9 2,1

3 5,0033 1,8 2,1

Volume air = volume akhir – volume awal

2,0 ml – 1,8 ml = 0,2 ml


2,1 ml – 1,9ml = 0,2 ml
2,1 ml – 1,8 ml = 0,3 ml

Kadar air = x 100%

x 100% = 4,0%

x 100% = 3,99%

x 100% = 6%

% Rata-rata kadar air = = 4,66%

42
Universitas Sumatera Utara
2. Kadar sari larut air

No. Berat sampel Cawan kosong C1 C2 C3


(g) (g)

1 5,0034 62,65 63,44 58,06 65,54

2 5,0016 57,28 63,49 58,09 65,49

3 5,0124 64,77 63,45 58,06 65,50

Rata-rata cawan berisi 63,46 58,07 65,51

Keterangan: C = cawan

63,46 g – 62,65 g = 0,81 g

58,07g – 57,28 g = 0,79 g

65,51g –64,77 g = 0,74 g

Kadar sari larut air = x 100%

x 100% = 80,94%

100% = 78,97%

100% = 73,81%

Rata-rata kadar sari larut air= = 77,90%

43
Universitas Sumatera Utara
3. Kadar sari larut etanol

No. Berat sampel Cawan C1 C2 C3


(g) kosong (g)

1 5,0012 62,66 63,48 58,01 65,59

2 5,0008 57,22 63,48 58,01 65,60

3 5,0023 64,78 63,49 58,02 65,61

Rata-rata cawan berisi Σ= 63,48 Σ= 58,01 Σ= 65,60

Keterangan: C = cawan

63,48g – 62,66g = 0,82 g

58,01g – 57,28g = 0,73 g

65,60g – 64,77g = 0,83 g

Kadar sari larut etanol = 100%

100% = 81,98%

100% = 72,99%

100% = 82,96%

% Rata-rata kadar sari larut etanol= 79,31%

44
Universitas Sumatera Utara
4. Penetapan kadar abu total

No. Berat Krus K1 K2 K3


sampel (g) Kosong (g)
1 2,0162 57,2066 57,2746 54,9073 66,7236

2 2,0136 54,8358 57,2748 54,9074 66,7237

3 2,0142 66,6444 57,2145 54,9073 66,7235

Rata-rata Σ= 57,2746 Σ= 54,9073 Σ= 66,7236

Keterangan: K = kurs

Berat abu = krus berisi- krus kosong

57,2746 g – 57,2066 g = 0,068 g

54,9073 g – 54,8358 g = 0,0715 g

66,7236 g – 66,6444 g = 0,0792 g

%Kadar abu total = 100%

x 100% = 3,37%

x 100% = 3,55%

x 100% = 3,93%

%Rata-rata kadar abu total = = 3,61%

45
Universitas Sumatera Utara
5. Penetapan kadar abu tidak larut asam

Kurs kosong K1 = 56,0831 g


K2 = 53,8610 g
K3 = 65,6603 g

Kurs berisi K1 = 57,1418 g


K2 = 54,9188 g
K3 = 66,7168 g

Rata-rata berat kertas whatmann No. 41 = 1,042 g

Berat abu K1 = 57,1418 g – 56,0831 g – 1,042 g = 0,00167 g


K2 = 54,9188 g – 53,8610 g – 1,042 g = 0,0158 g
K3 = 66,7168 g – 65,6603g – 1,042 g = 0,0145 g

Kadar abu tidak larut asam = x 100%

x 100% = 0,82%

x 100% = 0,78%

x 100% = 0,72%

%Rata-rata kadar abu tidak larut asam= = 0,77%

46
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 4. Perhitungan Modifikasi Formula Sediaan Lip Balm Ekstrak Kulit
Buah Delima.

F0 yaitu sediaan tanpa Ekstrak Kulit Buah Delima

 Propilen glikol 5% = x100 = 5 gr


 Nipagin 0,2% = x100 = 0,2 gr
 BHT 0,05% = x100 = 0,05 gr
 Tween 80 2% = x100 = 2 gr
 Minyak Jarak 15% = x100 = 15 gr
 Cera alba 22% = x100 = 22 gr
 Oleum cacao = 100 – 44,25gr
= 55,75 gr

F1 yaitu sediaan dengan konsentrasi ekstrak kulit buah delima 2,5%

 Ekstrak Kulit buah Delima 2,5% = x100 = 2,5 gr


 Propilen glikol 5% = x100 = 5 gr
 Nipagin 0,2% = x100 = 0,2 gr
 BHT 0,05% = x100 = 0,05 gr
 Tween 80 2% = x100 = 2 gr
 Minyak Jarak 15% = x100 = 15 gr
 Cera alba 22% = x100 = 22 gr
 Oleum cacao = 100 – 46,75gr
= 53,25 gr

F2 yaitu sediaan dengan konsentrasi ekstrak kulit buah delima 5%

 Ekstrak Kulit buah Delima 5% = x100 = 5 gr


 Propilen glikol 5% = x100 = 5 gr
 Nipagin 0,2% = x100 = 0,2 gr
 BHT 0,05% = x100 = 0,05 gr
 Tween 80 2% = x100 = 2 gr
 Minyak Jarak 15% = x100 = 15 gr
 Cera alba 22% = x100 = 22 gr

47
Universitas Sumatera Utara
 Oleum cacao = 100 – 49,25gr
= 50,75 gr

F3 yaitu sediaan dengan konsentrasi ekstrak kulit buah delima 7,5%

 Ekstrak Kulit buah Delima 7,5% = x100 = 7,5 gr


 Propilen glikol 5% = x100 = 5 gr
 Nipagin 0,2% = x100 = 0,2 gr
 BHT 0,05% = x100 = 0,05 gr
 Tween 80 2% = x100 = 2 gr
 Minyak Jarak 15% = x100 = 15 gr
 Cera alba 22% = x100 = 22 gr
 Oleum cacao = 100 – 51,75gr
= 48,25 gr

48
Universitas Sumatera Utara
F4 yaitu sediaan dengan konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%

 Ekstrak Kulit buah De lima 10% = x100 = 10gr


 Propilen glikol 5% = x100 = 5 gr
 Nipagin 0,2% = x100 = 0,2 gr
 BHT 0,05% = x100 = 0,05 gr
 Tween 80 2% = x100 = 2 gr
 Minyak Jarak 15% = x100 = 15 gr
 Cera alba 22% = x100 = 22 gr
 Oleum cacao = 100 – 54,25gr
= 45,75 gr

49
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 5. Gambar Sampel

A B

Keterangan :

A : Buah delima
B : kulit buah delima yang telah dikeringkan
C : Ekstrak kulit buah delima

50
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 6. Karekterisasi Ekstrak Kulit Buah Delima

A B

Keterangan: A: karakterisasi Ekstrak etanol kulit buah delima sari larut air
B: karakterisasi Ekstrak etanol kulit buah delima sari larut etanol
C: karakterisasi Ekstrak etanol kulit buah delima kadar abu total

51
Universitas Sumatera Utara
Lanjutan.

Keterangan: D: Ekstrak etanol kulit buah delima kadar abu tidak larut asam
E: Alat penetapan kadar air ekstrak etanol kulit buah delima

52
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 7. Gambar alat

A B

Keterangan :
A : skin analyzer
B : Moisture Checker
C : pH meter (Hanna Instrumen)
Lampiran 8. Gambar Hasil Uji Homogenitas

53
Universitas Sumatera Utara
F0 F1 F2 F3 F4

Keterangan:
F0 : Blanko (dasar pelembab tanpa ekstrak)
F1 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%

54
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 9. Gambar Hasil Uji Stabilitas Sediaan Lip Balm

Gambar lip balm awal pembuatan

Gambar Lip balm minggu ke 12

55
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 10. Gambar hasil pemakaian lip balm ekstrak kulit buah delima
menggunakan alat skin analyzer
1. Kadar Air (Moisture)

Kondisi Awal

Pemakaian Minggu I

56
Universitas Sumatera Utara
Pemakaian Minggu II

Pemakaian Minggu III

Pemakaian Minggu IV

57
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 11. Gambar bibir sukarelawan setelah pemakaian lip balm selama 4
minggu

1. Gambar bibir sukarelawan


F0 : Sediaan tanpa Ekstrak kulit buah delima

Kondisi awal bibir Pemakaian Lip Balm minggu pertama

Pemakaian Lip balm minggu kedua pemakaian lip balm minggu ketiga

Pemakaian Lip balm minggu keempat

58
Universitas Sumatera Utara
(Lanjutan).

F1 : Sediaan dengan konsentrasi Ekstrak kulit delima 2,5%

Kondisi awal bibir Pemakaian Lip Balm minggu pertama

Pemakaian Lip balm minggu kedua pemakaian lip balm minggu ketiga

Pemakaian lip balm minggu keempat

59
Universitas Sumatera Utara
(Lanjutan)

F2: sediaan dengan konsentrasi ekstrak kulit delima 5%

kondisi awal bibir pemakaian lip balm minggu pertama

Pemakaian lip balm Minggu Kedua Pemakaian lip balm minggu ketiga

Pemakaian lip balm minggu keempat

60
Universitas Sumatera Utara
(Lanjutan)

F3: sediaan dengan konsentrasi kulit delima 7,5%

kondisi awal bibir pemakaian lip balm minggu pertama

Pemakaian Lip balm minggu kedua pemakaian lip balm minggu ketiga

Pemakaian lip balm minggu keempat

61
Universitas Sumatera Utara
Lanjutan.

F4: sediaan dengan konsentrasi kulit delima 10%

kondisi awal bibir pemakaian lip balm minggu pertama

Pemakaian Lip balm minggu kedua pemakaian lip balm minggu ketiga

pemakaian lip balm minggu keempat

62
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 12 : Data Hasil Uji Statistik

 Kelembaban (moisture)
Tes Normality

Tests of Normalityb,c,d,e
FORMUL Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
A Statistic df Sig. Statistic df Sig.
MO di F1 ,175 3. 1,000 3 1,000
me F2 ,175 3. 1,000 3 1,000
nsi F3 ,385 3. ,750 3 ,000
on1 F4 ,175 3 . 1,000 3 1,000
M1 di F1 ,385 3 . ,750 3 ,000
me F2 ,175 3 . 1,000 3 1,000
nsi F3 ,385 3 . ,750 3 ,000
on1 F4 ,385 3 . ,750 3 ,000
M2 di F0 ,385 3 . ,750 3 ,000
me F2 ,385 3 . ,750 3 ,000
nsi F3 ,385 3 . ,750 3 ,000
on1 F4 ,385 3 . ,750 3 ,000
M3 di F0 ,385 3 . ,750 3 ,000
me F1 ,385 3 . ,750 3 ,000
nsi F2 ,175 3 . 1,000 3 1,000
on1 F4 ,385 3 . ,750 3 ,000
M4 F0 ,385 3 . ,750 3 ,000
di F1 ,385 3. ,750 3 ,000
me
F2 ,175 3. 1,000 3 1,000
nsi
on1 F3 ,385 3. ,750 3 ,000
F4 ,385 3. ,750 3 ,000
a. Lilliefors Significance Correction
b. MO is constant when FORMULA = F0. It has been omitted.
c. M1 is constant when FORMULA = F0. It has been omitted.
d. M2 is constant when FORMULA = F1. It has been omitted.
e. M3 is constant when FORMULA = F3. It has been omitted.
2. UJI KRUSKAL WALLIS

Test Statisticsa,b
MO M1 M2 M3 M4
Chi-square 6,918 11,784 12,252 12,232 12,968

63
Universitas Sumatera Utara
Df 4 4 4 4 4
Asymp. ,140 ,019 ,016 ,016 ,011
Sig.
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: FORMULA

UJI MANN-WHITNEY
F0 dengan F1
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 1,500 3,000 3,000 2,000 1,000
Wilcoxon W 7,500 9,000 9,000 8,000 7,000
Z -1,549 -1,000 -1,000 -1,291 -1,650
Asymp. Sig. (2-tailed) ,121 ,317 ,317 ,197 ,099
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,200 ,700a ,700a ,400a ,200a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

F0 dengan F2

Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U ,000 ,000 3,000 1,000 ,000
Wilcoxon W 6,000 6,000 9,000 7,000 6,000
Z -2,087 -2,087 -,745 -1,623 -1,993
Asymp. Sig. (2-tailed) ,037 ,037 ,456 ,105 ,046
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,100 ,100a ,700a ,200a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

64
Universitas Sumatera Utara
F0 dengan F3

Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U ,000 3,000 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 6,000 9,000 6,000 6,000 6,000
Z -2,121 -1,000 -2,023 -2,121 -2,023
Asymp. Sig. (2-tailed) ,034 ,317 ,043 ,034 ,043
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,100 ,700a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

F0 dengan F4

Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 1,500 ,000 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 7,500 6,000 6,000 6,000 6,000
Z -1,549 -2,121 -2,023 -2,023 -2,023
Asymp. Sig. (2-tailed) ,121 ,034 ,043 ,043 ,043
Exact Sig. [2*(1-tailed ,200a ,100a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

F1 dengan F2

Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 2,000 ,000 1,500 2,500 1,000
Wilcoxon W 8,000 6,000 7,500 8,500 7,000
Z -1,124 -1,993 -1,581 -,943 -1,623
Asymp. Sig. (2-tailed) ,261 ,046 ,114 ,346 ,105
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,400 ,100a ,200a ,400a ,200a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

65
Universitas Sumatera Utara
F1 dengan F3

Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 3,500 4,500 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 9,500 10,500 6,000 6,000 6,000
Z -,471 ,000 -2,121 -2,121 -2,023
Asymp. Sig. (2-tailed) ,637 1,000 ,034 ,034 ,043
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,700 1,000a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

F1 dengan F4
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 4,500 ,500 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 10,500 6,500 6,000 6,000 6,000
Z ,000 -1,826 -2,121 -2,023 -2,023
Asymp. Sig. (2-tailed) 1,000 ,068 ,034 ,043 ,043
a
Exact Sig. [2*(1-tailed1,000 ,100a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

F2 dengan F3
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 2,500 ,000 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 8,500 6,000 6,000 6,000 6,000
Z -,943 -1,993 -2,023 -2,087 -1,993
Asymp. Sig. (2-tailed) ,346 ,046 ,043 ,037 ,046
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,400 ,100a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

66
Universitas Sumatera Utara
F2 dengan F4

Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 2,000 ,000 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 8,000 6,000 6,000 6,000 6,000
Z -1,124 -1,993 -2,023 -1,993 -1,993
Asymp. Sig. (2-tailed) ,261 ,046 ,043 ,046 ,046
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,400 ,100a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

F3 dengan F4
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 3,500 ,500 ,500 1,500 1,000
Wilcoxon W 9,500 6,500 6,500 7,500 7,000
Z -,471 -1,826 -1,826 -1,581 -1,650
Asymp. Sig. (2-tailed) ,637 ,068 ,068 ,114 ,099
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,700 ,100a ,100a ,200a ,200a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA

67
Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai