Formulasi Lip Balm Ekstrak Delima
Formulasi Lip Balm Ekstrak Delima
SKRIPSI
OLEH:
MEGA WAHYUNI
NIM 131501084
SKRIPSI
OLEH:
MEGA WAHYUNI
NIM 131501084
1501001
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena limpahan rahmat, karunia, dan
L)”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Tujuan penelitian membuat Sediaan lipbalm ekstrak kulit kuah delima (Punica
granatum L). Hasil yang didapat yaitu diperoleh bahwa semua sediaan lipbalm
melembabkan bibir paling baik yang mampu memulihkan kulit bibir setelah
Dra. Nazliniwaty, [Link]., Apt., yang telah membimbing penulis dengan penuh
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada kepada IbuProf. Dr.
Anayanti Arianto, M. Si., Apt., selaku ketua penguji, Ibu T. Ismanelly Hanum,
[Link]., [Link]., Apt., selaku anggota penguji yang telah memberikan saran untuk
penyempurnaan skripsi ini, dan kepada Ibu Marianne, [Link]., [Link]., Apt., selaku
dosen penasehat akademik serta Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi
iv
Universitas Sumatera Utara
USU yang telah banyak membimbing penulis selama masa perkuliahan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Masfria, M.S.,
Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi yang telah menyediakan fasilitas kepada
Penulis juga mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang tulus
kepada keluarga tercinta, Ayahanda Darno Edlan, Ibunda Suhartini, dan adik
saya Bayu Irfandi atas limpahan kasih sayang, semangat dan doa yang tidak
ternilai dengan apapun. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para
Mega Wahyuni
NIM 131501084
v
Universitas Sumatera Utara
SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini ditulis berdasarkan data dari
hasil pekerjaan yang saya lakukan sendiri, dan belum pernah diajukan oleh
orang lain untuk memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi lain, dan
bukan plagiat karena kutipan yang ditulis telah disebutkan sumbernya di dalam
daftar pustaka.
Mega Wahyuni
NIM 131501084
vi
Universitas Sumatera Utara
FORMULASI SEDIAAN LIP BALM DARI EKSTRAK KULIT BUAH
DELIMA (Punica granatum L)
ABSTRAK
vii
Universitas Sumatera Utara
FORMULATION OF LIP-BALM OF POMEGRANATE PEEL
EKSTRACT (Punica granatum L)
ABSTRACT
viii
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ...................................................................................................... i
SURAT PERNYATAAN.......................................................................... vi
2.1.1 Klasifikas........................................................................... 4
ix
Universitas Sumatera Utara
2..3.1 Bibir Kering ..................................................................... 7
3.2.2. Bahan................................................................................ 15
x
Universitas Sumatera Utara
3.6.2 Formula Modifikasi ........................................................... 20
xi
Universitas Sumatera Utara
[Link] Kadar Air (moisture) ............................................. 33
LAMPIRAN .............................................................................................. 39
xii
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
4.4 Data pengamatan perubahan bentuk, warna dan bau sediaan ....... 30
xiii
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
xiv
Universitas Sumatera Utara
BAB I
PENDAHULUAN
Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan
pada bagian luar badan seperti epidermis, rambut, kuku, bibir, gigi, dan rongga
Bibir adalah bagian wajah yang sensitif. Tidak seperti kulit yang
memiliki melanin sebagai pelindung dari sinar matahari, bibir tidak memiliki
pelindung. Oleh karena itu, saat udara terlalu panas atau terlalu dingin, bibir
bisa menjadi kering dan pecah-pecah. Selain tidak enak dipandang, bibir yang
pecah-pecah juga menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman (Muliyawan dan
Suriana, 2013).
Akibat dari fungsi perlindungan yang buruk, bibir sangat rentan terhadap
produk perawatan kulit lainnya yang dapat menyebabkan kerusakan kulit yaitu
bibir menjadi kering, pecah-pecah, dan warna yang kusam. Selain tidak enak
dipandang, bibir yang pecah-pecah juga menimbulkan rasa nyeri dan tidak
Secara umum formula lip balm sama seperti formula lipstik, hanya
berbeda pada penambahan zat warnanya. Sebagai basis atau bahan pembawa
1
Universitas Sumatera Utara
mendapatkan sediaan lip balm yang stabil dan menarik, sering pula
(Harry, 1982).
melembabkan dan mengkilatkan bibir. Biasanya lip balm digunakan pada bibir
yang membutuhkan proteksi, seperti misalnya pada kulit bibir yang peka, pada
cuaca dengan kelembaban yang rendah, atau karena suhu yang terlalu dingin
1997)
C juga sangat tinggi dalam kulit delima sehingga kulit delima semakin
kelembaban dan zat lain yang terkandung dapat melindungi kulit dari polusi
akan dicoba untuk memformulasikan sediaan pelembab bibir (lip balm) dengan
formula lip balm yang baik, efektif dan aman untuk digunakan.
2
Universitas Sumatera Utara
1.2 Rumusan Masalah
lipbalm?
1.3 Hipotesis
adalah:
3
Universitas Sumatera Utara
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Famili : Lythraceae
Genus : Punica.
Buah delima memiliki rasa yang manis, daging buah berair dengan biji
buah yang berwarna merah. Buah delima kaya akan vitamin dan mineral, juga
senyawa lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Delima juga merupakan sumber
kelompok vitamin B complex dan vitamin K. Selain itu, delima kaya akan
asam galat, asam ellagic, katekin, kuercetin, flavonol, flavon, dan antocianidin
4
Universitas Sumatera Utara
kulit delima berlimpah manfaat karena kandungan zat antioksidan yang
C juga sangat tinggi dalam kulit delima sehingga kulit delima semakin
2.2 Kosmetik
dari kata “kosmein” yang berarti menata atau menghias. Kosmetik merupakan
sediaan/padua bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan (epidermis,
rambut, kuku, bibir dan organ kelamin luar), gigi dan rongga mulut untuk
supaya dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan
rasa percaya diri dan perasaan tenang, melindungi kulit dan rambut dari
kerusakan sinar UV, polusi dan faktor lingkungan yang lain, mencegah
5
Universitas Sumatera Utara
penuaan dan secara umum membantu seseorang lebih menikmati dan
atau normal cenderung kering. Kosmetika pelembab dibedakan atas dua tipe
yaitu:
6
Universitas Sumatera Utara
2. Kosmetika yang didasarkan pada gliserol atau humektan sejenis
darah lebih jelas terlihat melalui kulit bibir yang memberi warna bibir
mengandung sekitar 3 sampai 4 lapisan dan sangat tipis dibanding kulit wajah
biasa. Kulit bibir tidak memiliki folikel rambut dan tidak ada kelenjar keringat
yang berfungsi untuk melindungi bibir dari lingkungan luar (Kadu, 2014).
Bibir tiap orang apapun warna kulitnya, berwarna merah. Warna merah
bawah kulit bibir. Pada bagian ini warna itu terlihat lebih jelas karena pada
bibir tidak ditemukan satu lapisan kulit paling luar yaitu lapisan stratum
korneum (lapisan tanduk). Jadi kulit bibir lebih tipis dari kulit wajah, karena
itu bibir jadi lebih mudah luka dan mengalami pendarahan. Di samping itu,
karena kulitnya yang tipis saraf yang mengurus sensasi pada bibir lebih sensitif
(Wibowo, 2013).
7
Universitas Sumatera Utara
2.3.1 Bibir Kering
terjadi pada bibir. Penyebab umum terjadinya bibir kering dan pecah-
pecah yaitu kerusakan sel keratin karena sinar matahari dan dehidrasi. Sel
keratin merupakan sel yang melindungi lapisan luar pada bibir. Paparan sinar
yang pecah akan rusak. Sel yang rusak akan terjadi secara terus menerus
sampai sel tersebut terkelupas dan tumbuh sel yang baru (Jacobsen, 2011)
kemungkinan mudah kering dan pecah-pecah karena suhu yang terlalu dingin
atau terlalu panas, yaitu dengan adanya kelenjar ludah (saliva) pada bibir
sebelah dalam sehingga bibir dapat selalu dibasahi. Namun pada bibir tidak
terdapat kelenjar keringat dan kelenjar lemak pun sangat jarang terdapat,
sehingga hal ini menyebabkan bibir hampir bebas dari lemak. Dalam cuaca
yang dingin dan kering, lapisan jangat bibr akan cenderung mengering, pecah-
alamiah pada kulit bibir tidak mencukupi, karena itu dibutuhkan perlindungan
8
Universitas Sumatera Utara
tambahan nonalamiah yaiitu mialnya dengan menggunakan kosmetika
kekeringan pada kulit bibir disebut emollien tau moisturizer. Senyawa ini
pelembut memiliki pengaruh baik pada kulit yaitu dapat memperbaiki struktur
memperbaiki kulit yang kasar, bersisik, atau pecah-pecah, serta dapat untuk
Lip balm merupakan sediaan kosmetik yang dibuat dengan basis yang
sama dengan basis lipstik namun tanpa pewarna, sehingga terlihat transparan,
dan hanya berguna untuk melembabkan bibir agar tidak mudah kering dan
karena suhu yang terlalu dingin, untuk mencegah penguapan air dari sel-sel
a. Lip balm memberikan nutrisi yang dibutuhkan agar bibir tetap lembut
dan sehat
9
Universitas Sumatera Utara
b. Lip balm dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan
c. Produk lip balm membantu melindungi bibir dari keadaan luka, kering,
di atas bibir untuk melindungi lendir labial yang rentan terhadap faktor
1. Lemak
lip balm. Fungsi yang lain dalam proses pembuatan lip balm
adalah sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak dan fase
lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak padat yang
biasa digunakan dalam basis lip balm adalah lemak coklat, lanolin,
2. Minyak
Asam lemak dapat berupa asam lemak jenuh atau tidak jenuh
10
Universitas Sumatera Utara
kelapa sawit. Minyak dengan tingkat asam lemak tak jenuh yang tinggi
alpukat. Minyak dengan asam lemak jenuh lebih stabil dan tidak
menjadi anyir secepat minyak tak jenuh. Namun, minyak dengan asam
lemak tidak jenuh lebih halus, lebih mahal, kurang berminyak, dan
3. Lilin
kurang berminyak dan lebih rapuh daripada lemak. Lilin sangat tahan
lilin sebagai berikut: (a) Lilin hewani, contohmya yaitu lilin lebah,
dan candelilla wax. Secara fisik, lilin ditandai dengan titik leleh
leleh yang lebih tinggi membuat mereka lebih stabil (Kadu, 2014).
11
Universitas Sumatera Utara
2.4.4 Zat Tambahan Dalam Lip Balm
terbentuknya sediaan yang baik, stabil, aman dan menarik. Pada pembuatan
sediaan lip balm hampir selalu digunakan campuran malam, lemak, dan
cepat rusak dan berbau tengik. Untuk mencegah hal tersebut perlu
1. Antioksidan
2. Pengawet
lip balm, sebenarnya sangat kecil karena lip balm tidak mengandung
2000).
12
Universitas Sumatera Utara
3. Humektan
putih kekuningan, bau khas aromatik, rasa khas lemak dan agak
Cera alba adalah hasil pemurnian dan pengentalan malam kuning yang
diperoleh dari sarang lebah madu Apis mellifera Linne (familia apidae).
dalam keadaan lapisan tipis, bau khas lemah dan bebas bau tengik.
Kelarutannya tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol
minyak atsiri. Suhu leburnya antara 62o C hingga 64o C. khasiat dan
13
Universitas Sumatera Utara
untuk memberikan srtuktur batang yang kuat pada lip balm dan
berupa cairan kental, jernih, kuning pucat atau hampir tidak berwarna,
bau lemah, rasa manis dan agak pedas. Kelarutannya yaitu larut dalam
2,5 bagian etanol (90%), mudah larut dalam etanol mutlak, dan dalam
4. Nipagin
sedikit rasa terbakar. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan
benzen, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam
5. Butil hidroksitoluen
mencegah oksidasi lemak dan minyak menjadi tengik, dan juga untuk
14
Universitas Sumatera Utara
6. Propilen glikol
15
Universitas Sumatera Utara
BAB III
METODE PENELITIAN
5%, 7,5%, 10%. Pemeriksaan mutu fisik sediaan meliputi uji homogenitas,
suhu lebur, uji stabilitas sediaan, pengukuran pH, uji iritasi terhadap kulit, dan
analyzer
3.2.1 Alat
penangas air, batang pengaduk, spatula, tisu, kaca objek, cawan penguap,
pipet tetes, pot plastik wadah lip balm, pH meter (Hanna), dan alat-alat gelas
yang diperlukan.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit buah delima.
Bahan yang digunakan antara lain: Cera alba, oleum cacao, minyak jarak,
16
Universitas Sumatera Utara
3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel
yang digunakan adalah kulit buah delima yang diambil dari daerah Brastagi
Sumatera Utara.
pengering (suhu 40-500C) hingga kering dan diperoleh berat kering sebanyak
maserasi. Prosedur pembuatan ekstrak: sebanyak 500 g kulit buah delima, yang
penyari etanol 96% sebanyak 3,75 liter. Biarkan 5 hari, diaduk sehari sekali.
Setelah 5 hari, disaring, serkai, ampas diperas. Ampas ditambah cairan penyari
17
Universitas Sumatera Utara
1,25 liter, aduk serkai hingga keseluruhan sari yang diperoleh 5 liter. Hasil
maserat diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kulit buah
kadar air, penetapan kadar abu total, penetapan kadar abu tidak larut dalam
asam, penetapan kadar sari yang larut dalam air, penetapan kadar sari yang
didestilasi selama 2 jam. Setelah itu toluen didinginkan dan volume air di
kecepatan tetesan air diatur, lebih kurang 2 tetes tiap detik, hingga sebagian
tetes tiap detik. Setelah 2 jam didestilasi, kemudian toluen dibiarkan dingin,
bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen yang telah dijenuhkan. Destilasi
sampai suhu kamar. Setelah air dan toluen terpisah sempurna, volume air
dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai
dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang telah dipriksa. Kadar
18
Universitas Sumatera Utara
3.5.2 Penetapan kadar sari yang larut dalam air
dalam air suling sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok
rata yang dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105 oC sampai
bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang larut dalam air dihitung terhadap
di udara, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml etanol 96% dalam labu
rata yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC
sampai bobot [Link] dalam persen sari yang larut dalam etanol (96%)
dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 2000).
Sebanyak 2 g ekstrak etanol kulit buah delima yang telah digerus dan
ditimbang seksama dimasukkan ke dalam krus porselin yang telah dipijar dan
habis, pemijaran dilakukan pada suhu 500`- 600ºC selama 3 jam kemudian
19
Universitas Sumatera Utara
didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung
asam klorida encer selama 5 menit. Bagian yang tidak larut dalam asam
dikumpulkan, disaring dengan kertas masir atau kertas saring bebas abu, cuci
dengan air panas, dipijarkan sampai bobot tetap, kemudian dinginkan dan
ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bobot
Formula dasar yang dipilih pada pembuatan Lip balm dalam penelitian
Gliserin 5%
Nipagin 0,18%
Nipasol 0.02%
BHT 0,05%
lip balm ekstrak kulit delima dalam berbagai perbandingan. Hal ini dilakukan
20
Universitas Sumatera Utara
untuk mendapatkan basis lip balm yang baik dalam tekstur, konsistensi dan
yaitu propilen glikol, dan tween 80. Ekstrak kulit buah delima tidak dapat
larut dalam oleum ricini sehingga perlu ditambahkan propilen glikol dan tween
sebagai pelarut yaitu 5-80% (Rowe, dkk., 2009) dalam penelitian ini
R/ Propilen Glikol 5%
Tween 80 2%
Nipagin 0,2%
BHT 0,05%
hasil orientasi terhadap kulit buah delima pada sediaan lip balm diperoleh
saat dioleskan. Orientasi dilanjutkan dengan sediaan lip balm kulit buah
21
Universitas Sumatera Utara
kelembaban. Sebagai blanko juga dibuat sediaan lip balm tanpa
Tabel. 3.1 Modifikasi formula sediaan lip balm menggunakan kulit buah
delima
konsentrasi %
Komposisi
F0 F1 F2 F3 F4
propilen glikol 5 5 5 5 5
Cera alba 22 22 22 22 22
Minyak Jarak 15 15 15 15 15
Tween 80 2 2 2 2 2
Keterangan:
F0 : Blanko (dasar lip balm tanpa ekstrak)
F1 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%
(campuran A). Ditimbang cera alba dan oleum cacao dimasukkan ke dalam
22
Universitas Sumatera Utara
Campuran A dan campuran B dicampurkan perlahan-lahan di dalam cawan,
3.7 Sukarelawan
balm. Pemeriksaan mutu fisik antara lain: pengujian homogenitas, suhu lebur
sediaan, uji stabilitas sediaan, pengukuran pH, uji iritasi dan kemampuan
Sejumlah tertentu sediaan jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan
homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM, 1979).
23
Universitas Sumatera Utara
3.8.2 Suhu Lebur Sediaan
penelitian adalah dengan cara memasukkan lip balm ke dalam oven dengan
suhu awal 300C selama 15 menit, diamati apakah melebur atau tidak, setelah
itu suhu dinaikkan 10C setiap 15 menit dan diamati pada suhu berapa lip balm
mulai melebur
Cara kerja: Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar
standar netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat
yaitu ditimbang 1 g sediaan dilarutkan dalam air suling yang sudah dipanaskan
Uji iritasi dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan uji pada kulit
24
Universitas Sumatera Utara
menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Teknik yang digunakan pada uji
iritasi ini adalah uji tempel terbuka (open test) pada lengan bawah bagian
mengoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5
x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati apa yang terjadi. Uji ini dilakukan
Semua sukarelawan diukur kondisi awal kulit bibir pada area uji yang
akan dioleskan lip balm. Pengujian yang dilakukan adalah uji kadar air
dilakukan sebanyak 2 kali sehari secara rutin pagi dan malam hari. Lip balm
25
Universitas Sumatera Utara
kulit bibir diukur selama 4 minggu dengan menggunakan alat moisture checker
Whitney Test.
26
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
Hasil karakterisasi ekstrak kulit buah delima diperoleh kadar air 4,66%,
kadar sari yang larut dalam air 77,90%, kadar sari yang larut dalam etanol
79,31%, kadar abu total 3,61%, kadar abu tidak larut asam 0,77%. Hasil
karakterisasi ekstrak etanol kulit buah delima dapat dilihat pada Tabel 4.1
berikut ini. Tabel 4.1 Hasil karakterisasi ekstrak etanol kulit buah delima
27
Universitas Sumatera Utara
Dari tabel 4.1 diatas bahwa persyaratan karakterisasi ekstrak kulit buah
delima belum memiliki standar, jadi belum dapat diketahui apakah ekstrak
ekstrak kulit buah delima dapat terlihat pada Lampiran 3 halaman 41.
Keterangan:
+ = mengandung senyawa
- = tidak mengandung senyawa
Hasil skrining fitokimia simplisia dan etanol ekstrak kulit buah delima
dan steroid.
masingmasing 2,5%, 5%, 7,5% dan 10% berwarna coklat. Semakin tinggi
konsentrasi kulit buah delima semakin coklat warna lip balm yang dihasilkan.
28
Universitas Sumatera Utara
4.6 Penentuan Mutu Fisik Sediaan
buah delima dengan konsentrasi 2,5 %, 5%, 7,5%, 10% menunjukkan bahwa
sediaan yang dibuat mempunyai susunan homogen. Hal ini ditandai dengan
tidak adanya butir-butir kasar pada saat sediaan dioleskan pada kaca
transparan. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat memiliki susunan
berhubungan dengan kadar obat yang sama pada setiap pemakaian, jika
sediaan homogen maka kadar zat aktif pada saat pemakaian diasumsikan akan
sama. setiap bagian zat aktif harus memiliki kesempatan yang sama untuk
kesempatan yang sama untuk dapat kontak dengan zat aktif, kondisi ini dapat
lip balm ekstrak kulit buah delima berkisar 36-380C. Suhu lebur lip balm
yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir,
bervariasi antara 36-38°C. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan lip balm
ekstrak kulit buah delima memenuhi persyaratan suhu ideal dalam lip balm.
Data hasil pemeriksaan suhu lebur dapat dilihat pada Tabel 4.3
berikut ini.
29
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.3 Data Hasil Pemeriksaan Suhu Lebur
F0 380C
F1 380C
F2 370C
F3 360C
F4 360C
Hasil uji stabilitas sediaan lip balm dari ekstrak kulit buah delima
Parameter yang diamati dalam uji kestabilan fisik ini meliputi perubahan
diketahui bahwa seluruh sediaan lip balm yang dibuat memiliki bentuk dan
konsistensi yang baik, yaitu tidak meleleh pada penyimpanan suhu kamar.
Warna lip balm tidak berubah. Bau sediaan tetap stabil dalam penyimpanan
30
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.4 Data pengamatan perubahan bentuk, warna dan bau sediaan
Keterangan :
F0 : Blanko (dasar lip balm tanpa ekstrak)
F1 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%
B : Baik
TB : Tidak berwarna
CM : Coklat muda
C : Coklat
CT : Coklat tua
BK : Bau khas
Hasil penentuan pH sediaan lip balm dari ekstrak kulit buah delima
kulit buah delima memiliki pH yaitu 5,6-6,1. Hasil uji pengukuran pH sediaan
31
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.5 Data pengukuran pH sediaan pelembab bibir ekstrak kulit buah
delima setelah penyimpanan selama 12 minggu
Keterangan:
F0 : Blanko (dasar lip balm tanpa ekstrak)
F1 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%
lip balm maka pH semakin menurun. Hal ini disebabkan karena pH ekstrak
yaitu antara 4,5-6,5. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan kosmetik yang
Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan pada 10 orang panelis yang
dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan lip balm pada kulit lengan bawah
tidak menunjukkan reaksi terhadap parameter reaksi iritasi yang diamati yaitu
adanya eritema, papula, ataupun adanya vesikula. Dari hasil uji iritasi tersebut
32
Universitas Sumatera Utara
dapat disimpulkan bahwa sediaan lip balm yang dibuat aman untuk digunakan
(Tranggono dan Latifah, 2007). Hasil uji iritasi dapat dilihat pada Tabel 4.6
berikut ini.
Panelis
Reaksi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Eritema - - - - - - - - - -
Eritema dan
Papula - - - - - - - - - -
Eritema, Papula
dan Vesikula - - - - - - - - - -
Edema dan
Vesikula - - - - - - - - - -
Keterangan:
Tidak ada reaksi :-
Eritema :+
Eritema dan papula : ++
Eritema, papula dan vesikula : +++
Edema dan vesikula : ++++
analyzer. Hal ini bertujuan agar bisa melihat seberapa besar pengaruh lip balm
yang mengandung ekstrak kulit buah delima dalam perawatan bibir yang
Shapiro-Wilk test, diperoleh nilai p<0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data
33
Universitas Sumatera Utara
tidak terdistribusi normal, sehingga dilakukan uji non parametrik Kruskal-
Wallis Test untuk mengetahui efektivitas lip balm diantara formula yang di
pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.7, yang menunjukkan bahwa kadar air
dehidrasi.
Tabel 4.7 Hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit bibir
34
Universitas Sumatera Utara
Keterangan:
Dehidrasi 0-29; Normal 30-50;Hidrasi 51-100 (Aramo, 2012)
F0 : Blanko (dasar pelembab tanpa sampel)
F1 : lip balm ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : lip balm ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : lip balm ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : lip balm ekstrak kulit buah delima 10%
minggu perawatan dengan pemberian sediaan lip balm setiap hari pada
pagi dan malam hari secara rutin, semua sukarelwan mengalami peningkatan
kadar air dari dehidrasi menjadi normal. Persentase peningkatan kadar air pada
menggunakan sediaan lip balm ekstrak kulit buah delima 10% yaitu sebesar
29,8%.
dilihat
40
35
30
Kadar Air
25
F0(Blanko)
20
F1(2,5%)
15
F2(5%)
10
F3(7,5%)
5
F4(10%)
0
0(kondisi I II III IV
awal)
Waktu (Hari)
35
Universitas Sumatera Utara
Keterangan:
F0 : Blanko (dasar pelembab tanpa sampel)
F1 : lip balm ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : lip balm ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : lip balm ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : lip balm ekstrak kulit buah delima 10%
Bibir merupakan kulit yang memiliki ciri tersendiri dengan kulit jangat
yang sangat tipis, aliran darah lebih banyak mengalir di daerah permukaan
kulit bibir, tidak terdapat kelenjar keringat, dan sangat jarang terdapat kelenjar
lemak sehingga kulit bibir lebih peka dibandingkan kulit lainnya (Ditjen POM,
1985).
perfusi air dari kapiler dan penguapan dan konveksi dari permukaan
Kruskal Wallis. Hasil analisis statistik dari pengukuran kadar air menunjukkan
lip balm setiap minggu selama 4 minggu. Hasil analisis statistik setelah 4
peningkatan kadar air yang signifikan (p ≤ 0,05) antara blanko dengan semua
formula lip balm ekstrak kulit buah delima. Hasil statistik dapat dilihat pada
lampiran 12 halaman 63
36
Universitas Sumatera Utara
BAB V
5.1 Kesimpulan
1. Ekstrak kulit buah delima dapat diformulasikan dalam sediaan lip balm
dalam lip balm memberikan kelembaban. Sediaan lip balm ekstrak kulit
5.2 Saran
lebih lanjut menggunakan ekstrak kulit buah delima dalam sediaan gel, atau
lotion.
37
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA
Aramo.(2012). Skin and Hair Diagnosis System. Sungnam: Aram Huvis Korea
Ltd. Hal 1-10.
Elsner, P., and Maibach, HI. (2000). Cosmeceuticals Drugs vc Cosmetics. New
York: Marcel Dekker Inc.74.
Harry, R.G. (1982). Harry’s Cosmetology. 7nd edition. New York: Chemical
Publishing Company. 147-156.
Jacobsen, P.L., Denis, P.L., Michael, A.S., Drore, E., Barbara, D.W. (2011).
The Little Lip Book. USA: Carma Laboratories Inc. Hal. 27-29
Kadu, M., Suruchi, V., Sonia, S. (2014). Review on Natural Lip Balm.
International Journal of Research in Cosmetic Science. Hal. 1-2
Madans, A., Katie, P., Christine, P., Shailly, P. (2012). Ithaca Got Your Lips
Chapped: A Performance Analysis of Lip Balm. BEE 4530. Hal. 4-5.
38
Universitas Sumatera Utara
Madrigal, S., Carballo, G., Rodriguez, C.G., Krueger, M., Dreher, J., Dreed.
(2009). Pomegranate (Punicagranatum) supplements: Authenticity,
antioxindant and polyphenol composition. Journal of Functional Foods.
Oci., dan Kurnia, K. D. (2014). Khasiat Ajaib Delima. Jakarta: Padi. Hal. 1-
23.
Tranggono, R.I., dan Latifah, F., (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan
Kosmetik. Jakarta: [Link] Pusaka Utama. Hal.11–32, 167.
Trookman, N.S., Ronald, L., Rosanne, F., Rahul, M., Vincent, G. (2009).
Clinical Assessment of a Combination Lip Treatment to Restore
Moisturization and Fullness. The Journal of Clinical Aesthetic
Dermatology.2(12). Hal. 44-45.
Vishwakarma, B., Dwivedi, S., Dubey, K., dan Joshi, H. (2011). Formulation
and Evaluation of Herbal Lipstick. International Journal of Drug
Discovery & Herbal Research. 1(1): 18-19.
39
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 1. Hasil Identifikasi Sampel
40
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 2. Surat pernyataan persetujuan ikut serta dalam penelitian
Nama :
Umur :
Alamat :
Telah mendapat penjelasan secukupnya bahwa saya akan melakukan uji lip balm
dari ekstrak kulit buah delima terhadap bibir sebagai sediaan lip balm. Setelah
menyatakan SETUJU untuk ikut serta dalam penelitian dari Mega Wahyuni
BUAH DELIMA (Punica granatum L), sebagai usaha untuk mengetahui apakah
sediaan lip balm dari ekstrak kulit buah delima mampu atau tidak dalam
memulihkan bibir yang telah kering. Saya menyatakan sukarela dan bersedia
Persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak
sebagaimana mestinya.
Peneliti, Sukarelawan,
(Mega Wahyuni) ( )
41
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 3. Perhitungan karakterisasi ekstrak
1. Kadar air
No. Berat sampel (g) Volume awal (ml) Volume akhir (ml)
x 100% = 4,0%
x 100% = 3,99%
x 100% = 6%
42
Universitas Sumatera Utara
2. Kadar sari larut air
Keterangan: C = cawan
x 100% = 80,94%
100% = 78,97%
100% = 73,81%
43
Universitas Sumatera Utara
3. Kadar sari larut etanol
Keterangan: C = cawan
100% = 81,98%
100% = 72,99%
100% = 82,96%
44
Universitas Sumatera Utara
4. Penetapan kadar abu total
Keterangan: K = kurs
x 100% = 3,37%
x 100% = 3,55%
x 100% = 3,93%
45
Universitas Sumatera Utara
5. Penetapan kadar abu tidak larut asam
x 100% = 0,82%
x 100% = 0,78%
x 100% = 0,72%
46
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 4. Perhitungan Modifikasi Formula Sediaan Lip Balm Ekstrak Kulit
Buah Delima.
47
Universitas Sumatera Utara
Oleum cacao = 100 – 49,25gr
= 50,75 gr
48
Universitas Sumatera Utara
F4 yaitu sediaan dengan konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%
49
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 5. Gambar Sampel
A B
Keterangan :
A : Buah delima
B : kulit buah delima yang telah dikeringkan
C : Ekstrak kulit buah delima
50
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 6. Karekterisasi Ekstrak Kulit Buah Delima
A B
Keterangan: A: karakterisasi Ekstrak etanol kulit buah delima sari larut air
B: karakterisasi Ekstrak etanol kulit buah delima sari larut etanol
C: karakterisasi Ekstrak etanol kulit buah delima kadar abu total
51
Universitas Sumatera Utara
Lanjutan.
Keterangan: D: Ekstrak etanol kulit buah delima kadar abu tidak larut asam
E: Alat penetapan kadar air ekstrak etanol kulit buah delima
52
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 7. Gambar alat
A B
Keterangan :
A : skin analyzer
B : Moisture Checker
C : pH meter (Hanna Instrumen)
Lampiran 8. Gambar Hasil Uji Homogenitas
53
Universitas Sumatera Utara
F0 F1 F2 F3 F4
Keterangan:
F0 : Blanko (dasar pelembab tanpa ekstrak)
F1 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 2,5%
F2 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 5%
F3 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 7,5%
F4 : konsentrasi ekstrak kulit buah delima 10%
54
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 9. Gambar Hasil Uji Stabilitas Sediaan Lip Balm
55
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 10. Gambar hasil pemakaian lip balm ekstrak kulit buah delima
menggunakan alat skin analyzer
1. Kadar Air (Moisture)
Kondisi Awal
Pemakaian Minggu I
56
Universitas Sumatera Utara
Pemakaian Minggu II
Pemakaian Minggu IV
57
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 11. Gambar bibir sukarelawan setelah pemakaian lip balm selama 4
minggu
Pemakaian Lip balm minggu kedua pemakaian lip balm minggu ketiga
58
Universitas Sumatera Utara
(Lanjutan).
Pemakaian Lip balm minggu kedua pemakaian lip balm minggu ketiga
59
Universitas Sumatera Utara
(Lanjutan)
Pemakaian lip balm Minggu Kedua Pemakaian lip balm minggu ketiga
60
Universitas Sumatera Utara
(Lanjutan)
Pemakaian Lip balm minggu kedua pemakaian lip balm minggu ketiga
61
Universitas Sumatera Utara
Lanjutan.
Pemakaian Lip balm minggu kedua pemakaian lip balm minggu ketiga
62
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 12 : Data Hasil Uji Statistik
Kelembaban (moisture)
Tes Normality
Tests of Normalityb,c,d,e
FORMUL Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
A Statistic df Sig. Statistic df Sig.
MO di F1 ,175 3. 1,000 3 1,000
me F2 ,175 3. 1,000 3 1,000
nsi F3 ,385 3. ,750 3 ,000
on1 F4 ,175 3 . 1,000 3 1,000
M1 di F1 ,385 3 . ,750 3 ,000
me F2 ,175 3 . 1,000 3 1,000
nsi F3 ,385 3 . ,750 3 ,000
on1 F4 ,385 3 . ,750 3 ,000
M2 di F0 ,385 3 . ,750 3 ,000
me F2 ,385 3 . ,750 3 ,000
nsi F3 ,385 3 . ,750 3 ,000
on1 F4 ,385 3 . ,750 3 ,000
M3 di F0 ,385 3 . ,750 3 ,000
me F1 ,385 3 . ,750 3 ,000
nsi F2 ,175 3 . 1,000 3 1,000
on1 F4 ,385 3 . ,750 3 ,000
M4 F0 ,385 3 . ,750 3 ,000
di F1 ,385 3. ,750 3 ,000
me
F2 ,175 3. 1,000 3 1,000
nsi
on1 F3 ,385 3. ,750 3 ,000
F4 ,385 3. ,750 3 ,000
a. Lilliefors Significance Correction
b. MO is constant when FORMULA = F0. It has been omitted.
c. M1 is constant when FORMULA = F0. It has been omitted.
d. M2 is constant when FORMULA = F1. It has been omitted.
e. M3 is constant when FORMULA = F3. It has been omitted.
2. UJI KRUSKAL WALLIS
Test Statisticsa,b
MO M1 M2 M3 M4
Chi-square 6,918 11,784 12,252 12,232 12,968
63
Universitas Sumatera Utara
Df 4 4 4 4 4
Asymp. ,140 ,019 ,016 ,016 ,011
Sig.
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: FORMULA
UJI MANN-WHITNEY
F0 dengan F1
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 1,500 3,000 3,000 2,000 1,000
Wilcoxon W 7,500 9,000 9,000 8,000 7,000
Z -1,549 -1,000 -1,000 -1,291 -1,650
Asymp. Sig. (2-tailed) ,121 ,317 ,317 ,197 ,099
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,200 ,700a ,700a ,400a ,200a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
F0 dengan F2
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U ,000 ,000 3,000 1,000 ,000
Wilcoxon W 6,000 6,000 9,000 7,000 6,000
Z -2,087 -2,087 -,745 -1,623 -1,993
Asymp. Sig. (2-tailed) ,037 ,037 ,456 ,105 ,046
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,100 ,100a ,700a ,200a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
64
Universitas Sumatera Utara
F0 dengan F3
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U ,000 3,000 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 6,000 9,000 6,000 6,000 6,000
Z -2,121 -1,000 -2,023 -2,121 -2,023
Asymp. Sig. (2-tailed) ,034 ,317 ,043 ,034 ,043
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,100 ,700a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
F0 dengan F4
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 1,500 ,000 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 7,500 6,000 6,000 6,000 6,000
Z -1,549 -2,121 -2,023 -2,023 -2,023
Asymp. Sig. (2-tailed) ,121 ,034 ,043 ,043 ,043
Exact Sig. [2*(1-tailed ,200a ,100a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
F1 dengan F2
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 2,000 ,000 1,500 2,500 1,000
Wilcoxon W 8,000 6,000 7,500 8,500 7,000
Z -1,124 -1,993 -1,581 -,943 -1,623
Asymp. Sig. (2-tailed) ,261 ,046 ,114 ,346 ,105
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,400 ,100a ,200a ,400a ,200a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
65
Universitas Sumatera Utara
F1 dengan F3
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 3,500 4,500 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 9,500 10,500 6,000 6,000 6,000
Z -,471 ,000 -2,121 -2,121 -2,023
Asymp. Sig. (2-tailed) ,637 1,000 ,034 ,034 ,043
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,700 1,000a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
F1 dengan F4
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 4,500 ,500 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 10,500 6,500 6,000 6,000 6,000
Z ,000 -1,826 -2,121 -2,023 -2,023
Asymp. Sig. (2-tailed) 1,000 ,068 ,034 ,043 ,043
a
Exact Sig. [2*(1-tailed1,000 ,100a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
F2 dengan F3
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 2,500 ,000 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 8,500 6,000 6,000 6,000 6,000
Z -,943 -1,993 -2,023 -2,087 -1,993
Asymp. Sig. (2-tailed) ,346 ,046 ,043 ,037 ,046
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,400 ,100a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
66
Universitas Sumatera Utara
F2 dengan F4
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 2,000 ,000 ,000 ,000 ,000
Wilcoxon W 8,000 6,000 6,000 6,000 6,000
Z -1,124 -1,993 -2,023 -1,993 -1,993
Asymp. Sig. (2-tailed) ,261 ,046 ,043 ,046 ,046
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,400 ,100a ,100a ,100a ,100a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
F3 dengan F4
Test Statisticsb
MO M1 M2 M3 M4
Mann-Whitney U 3,500 ,500 ,500 1,500 1,000
Wilcoxon W 9,500 6,500 6,500 7,500 7,000
Z -,471 -1,826 -1,826 -1,581 -1,650
Asymp. Sig. (2-tailed) ,637 ,068 ,068 ,114 ,099
a
Exact Sig. [2*(1-tailed ,700 ,100a ,100a ,200a ,200a
Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: FORMULA
67
Universitas Sumatera Utara