0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan36 halaman

Model Latihan Heading untuk Remaja

Lembar persetujuan seminar proposal skripsi yang berisi persetujuan pembimbing untuk diseminarkan. Kata pengantar berterima kasih kepada pembimbing dan orang tua serta teman yang telah membantu penyelesaian proposal ini. Bab I berisi latar belakang pentingnya pengembangan model latihan teknik dasar heading untuk anak usia 13-15 tahun di SSB, tujuan penelitian dan spesifikasi produk, pentingnya pengembangan, asumsi

Diunggah oleh

Linggo Juventino
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan36 halaman

Model Latihan Heading untuk Remaja

Lembar persetujuan seminar proposal skripsi yang berisi persetujuan pembimbing untuk diseminarkan. Kata pengantar berterima kasih kepada pembimbing dan orang tua serta teman yang telah membantu penyelesaian proposal ini. Bab I berisi latar belakang pentingnya pengembangan model latihan teknik dasar heading untuk anak usia 13-15 tahun di SSB, tujuan penelitian dan spesifikasi produk, pentingnya pengembangan, asumsi

Diunggah oleh

Linggo Juventino
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LEMBAR PERSETUJUAN SEMINAR PROPOSAL SKRIPSI

Proposal Skripsi oleh Linggo Jiventino Yono Prayogo ini telah diperiksa dan
disetujui untuk diseminarkan.

Malang, 9 Oktober 2019


Pembimbing I

(Dr. Imam Hariadi, [Link])


NIP. 196703211999031002

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi
ini dengan judul “Pengembangan Model-model Latihan Teknik Dasar
Heading Untuk Anak Usia 13-15 Tahun di SSB Unibraw 82 Kota Malang”

Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah memberikan bantuan


dalam penulisan proposal skripsi ini, sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
Oleh karena itu pada kesempatan ini ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Imam Hariadi, [Link] selaku dosen pembimbing yang telah


membimbing, memberi masukan, saran dan arahan dalam penyelesaian
proposal skripsi ini.
2. Bapak Suyono dan Ibu Parti selaku orang tua telah memberi doa dan
semangat penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi ini.
3. Seluruh teman-teman satu bimbingan skripsi yang mau memberi motivasi,
saran, berbagi ilmu dan membantu proses penyelesaian proposal skripsi
ini.

Semoga semua bantuan yang telah diberikan untuk penulisan proposal


skripsi ini mendapatkan balasan yang sebesar-besarnya dari Allah SWT. Akhirnya
dengan segala kekurangan dan kelebihannya, diharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk perbaikan penulis.

Malang, 9 Oktober 2019

ii
Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN.....................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Tujuan Penelitian dan Pengembangan..........................................................5
C. Spesifikasi Produk yang Diharapkan............................................................5
D. Pentingnya Pengembangan.........................................................................10
E. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan...........................10
F. Definisi Istilah.............................................................................................11

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Sepak Bola..................................................................................................12
1. Pengertian Sepak Bola.............................................................................12
2. Teknik Dasar Sepak Bola........................................................................13
B. Heading.......................................................................................................14
1. Pengertian Heading.................................................................................14
2. Teknik Dasar Heading.............................................................................14
3. Macam-macam Gerakan Heading...........................................................15
C. Latihan........................................................................................................17
1. Pengertian Latihan...................................................................................17
2. Prinsip-prinsip Latihan............................................................................18
3. Komponen Latihan..................................................................................20
D. Pembelajaran Ketrampilan Teknik Dasar Heading....................................20

BAB III METODE PENELITIAN

iii
A. Model Penelitian dan Pengembangan.........................................................23
B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan.....................................................23
C. Uji Coba Produk..........................................................................................25
D. Desain Uji Coba..........................................................................................25
E. Subjek Uji Coba..........................................................................................26
F. Jenis Data....................................................................................................26
G. Instrumen Pengumpulan Data.....................................................................27
H. Teknik Analisis Data...................................................................................27
DAFTAR RUJUKAN

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab I membahas tentang latar belakang masalah, tujuan


penelitian dan pengembangan, spesifikasi produk yang diharapkan,
pentingnya penelitian dan pengembangan, asumsi dan keterbatasan penelitian
dan pengembangan dan definisi istilah.

A. Latar Belakang
Olahraga menjadi kebutuhan masyarakat pada masa sekarang ini.
Banyak manfaat yang diperoleh langsung dari aktivitas olahraga tersebut baik
untuk atlet hingga orang dewasa. Husdarta (2010:133) menyatakan bahwa
olahraga merupakan kegiatan otot yang energik dan dalam kegiatan itu atlet
memperagakan kemampuan geraknya dan kemauanya semaksimal mungkin.
Pada perkembangannya olahraga terbagi dalam olahraga prestasi, olahraga
rekreasi dan olahraga pendidikan. Dalam olahraga prestasi, pergerakan dalam
permainan merupakan salah satu unsur yang penting karena pergerakan dalam
permainan merupakan salah satu tolok ukur dari suatu kemampuan bermain.
Dalam dunia olahraga prestasi, atlet profesional mampu menampilkan teknik
dan taktik permainan yang efektif dan memiliki karakteristik psikologis,
mental, fisik dan moral sebagai ciri khas cabang olahraga yang ditekuni serta
memiliki tingkat kedisiplinan, dedikasi, dan ketekunan yang tinggi. Tujuan
dari olahraga prestasi adalah untuk meraih prestasi dari bidang yang
diperlombakan baik di tingkat daerah, nasional dan juga internasional.
Untuk saat ini salah satu cabang olahraga prestasi yang sudah
berkembang lama dan sudah profesional yang ada di Indonesia adalah
olahraga sepak bola. Hal ini dibuktikan dengan banyak didirikannya sekolah
sepak bola (SSB). Sekolah Sepak Bola (SSB) adalah salah satu sarana anak
untuk bermain bersama teman sebaya, dengan mengikuti kegiatan di Sekolah
Sepak Bola (SSB), anak dapat belajar teknik-teknik bermain sepak bola yang
benar dan bersosialisasi dengan teman sebaya nya. Selain baik untuk

1
2

perkembangan fisiknya, aktivitas tersebut juga dapat untuk mengembangkan


kemampuan bersosial anak. Ada banyak pilihan untuk memasukkan anak di
Sekolah Sepak Bola (SSB) yang diinginkan, sayangnya Sekolah Sepak Bola
(SSB) masih banyak yang berpedoman pada tujuan utamanya yaitu prestasi,
bukan pada pembinaan. Kebanyakan pelatih masih berpedoman pada
pencapaian anak dalam sebuah kompetisi yang dituntut menang dalam setiap
pertandingan tanpa melihat perkembangannya. Seperti halnya beberapa
Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di Indonesia memberikan wadah bibit-
bibit pemain sepak bola yang ingin menyalurkan bakat ke dalam sepak bola
sejak usia dini hingga dewasa sampai ada yang menjadi atlet dengan cara yang
benar. Untuk sarana dan prasarana Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di
Indonesia sudah cukup walaupun sederhana untuk pembinaan sekolah sepak
bola.
Secara khusus pembinaan merupakan salah satu proses yang harus
dilaksanakan untuk mencapai suatu prestasi. Karena dalam mencapai suatu
prestasi, banyak faktor yang mempengaruhi. Dalam ranah keolahragaan,
sebuah proses pembinaan harus dibangun secara bertahap, dimulai dari
pembinaan usia dini hingga pembinaan pada tingkat atlet profesional. Dalam
merancang sebuah program pembinaan yang efektif dan efisien, kemungkinan
besar akan menghasilkan atlet yang memiliki kemampuan yang sangat luar
biasa. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mempersiapkan pelayanan
(treatment) yang profesional dalam proses pembinaan yang dilakukan oleh
para pelatih, guru, maupun tenaga kependidikan jasmani lainnya yang tentu
akan meningkatkan kualitas dari pembinaan formal maupun informal pada
tahap usia dini tersebut (Martinek & Hellison, 2009:15).
Namun banyak Sekolah Sepak Bola (SSB) yang kurang
memperhatikan hal ini, sehingga tidak dapat bersaing dalam hal prestasi
maupun keberlangsungan latihan tidak terencana dengan baik, sistematis dan
bertahan lama. Sistem pembinaan prestasi olahraga di Indonesia adalah
pemanduan bakat dan pengembangan bakat. Jadi, untuk mencapai jenjang
prestasi tinggi di butuhkan sistem pembinaan yang baik. Tanpa pembinaan
yang tersistem dengan maksimal maka tahap pencapaian prestasi tidak akan
3

tercapai. Pembinaan pemain sejak usia dini memang sangat penting dilakukan
dalam upaya membentuk pemain yang cerdas dan terampil. Dalam
memberikan latihan untuk anak usia 13-15 tahun, latihan yang dilakukan
sebaiknya dikhususkan pada teknik-teknik dasar bermain dan pembentukan
sebuah karakter pemain tanpa melupakan faktor kesenangan.
Salah satu aspek yang perlu dikuasai secara sempurna oleh seorang
pemain sepak bola adalah teknik. Teknik ini merupakan salah satu dari
beberapa aspek latihan yang perlu dikembangkangkan dalam kaitannya
dengan prestasi. Bukan hanya dalam sepak bola, tapi dalam setiap cabang
olahraga, teknik merupakan hal yang penting untuk dipelajari dan dikuasai.
Dalam olahraga sepakbola teknik merupakan landasan utama yang perlu
dikuasai oleh seorang pemaian, karena dengan teknik kita akan dapat bermain
sepakbola dengan baik dan benar. Yunus (2013:3) menyatakan bahwa teknik-
teknik dasar sepak bola antara lain: teknik menendang bola, teknik menerima
bola, teknik menggiring bola, teknik menyundul bola, teknik merampas bola,
teknik melempar bola, teknik gerak tipu dengan bola, teknik penjaga bola.
Dalam permainan sepak bola banyak terdapat teknik-teknik dasar salah
satunya yakni menyundul bola atau heading. Setiap pemain di semua lini
harus memiliki kemampuan dasar dalam menyundul bola. Beberapa posisi
mungkin sangat penting menguasai teknik ini. Posisi tersebut, seperti pemain
belakang dan pemain depan. Para pemain belakang harus menguasai sundulan
untuk mengantisipasi datangnya bola udara yang membahayakan daerah
pertahanannya. Demikian pula seorang pemain depan, sundulan kerap
dilakukan untuk menyongsong umpan silang dan memberi peluang dalam
mencetak gol ke gawang lawan (Herdiansyah, 2011:66).
Heading bola merupakan salah satu dari beberapa teknik yang ada
pada permainan sepakbola, yang harus memenuhi ketentuan peraturan
permainan untuk dimanfaatkan dalam bermain sepakbola. Dalam situasi
bermain sepakbola, bola tidak selamanya hanya dimainkan dengan kaki tetapi
juga menggunakan kepala apabila arah datangnya bola di atas jangkauan kaki.
Bola disundul dengan menggunakan kepala dengan tujuan untuk: (1)
memasukkan bola ke gawang bola yang datangnya melambung tinggi,
4

misalnya melalui tendangan sudut dimanfaatkan langsung untuk memasukkan


bola ke gawang dengan sundulan. Apabila bukan melalui sundulan
memberikan kemungkinan untuk lawan merebut atau menguasai bola tersebut.
Jadi praktisnya hanya melalui sundulan untuk memasukkan bola ke gawang;
(2) mematahkan serangan lawan bagi pemain pertahanan bertugas
mematahkan serangan lawan, dan apabila bola yang diumpankan bagi
penyerang lawan dimana bola itu arahnya melambung tinggi, maka pemain
bertahan berusaha merebut bola dengan secepat mungkin apakah dengan
melompat atau tidak segera menyundul bola. Apabila menunggu untuk bola
dimainkan dengan kaki agak lambat sehingga memberikan peluang bagi lawan
untuk merebutnya; (3) mengoper atau memberi umpan dalam situasi
permainan yang membutuhkakn strategi permainan cepat, maka bola yang
datangnya melambung tinggi segera dilanjutkan pada teman atau memberikan
umpan pada teman secara praktis hanya melalui sundulan; (4) mengontrol bola
tidak semua bola yang datang melambung tinggi langsung disundul, misalnya
dalam posisi bebas tidak terjaga oleh lawan, maka bola yang datangnya
melambung tinggi perlu terlebih dahulu dikontrol dengan menggunakan
kepala.
Untuk mencapai kesempurnaan teknik dan penguasaan teknik tersebut
perlu latihan yang sistematis dan juga perlu adanya suatu model-model latihan
yang tepat guna mencapai tujuan tersebut. Maka dari itu dalam pembinaan
khususnya di bidang olahraga seperti sepakbola, ada berbagai cara dan model-
model latihan untuk melatih dan meningkatkan keterampilan teknik dasar
heading. Peran seorang pelatih harus bisa dan wajib membuat program latihan
yang fokus untuk meningkatkan ketrampilan teknik dasar heading.
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang diperoleh melalui observasi
kepada siswa SSB Unibraw 82 Kota Malang pada tanggal 1 Oktober 2019
diperoleh data sebagai berikut: (a) jumlah siswa U13-15 yang ada atau yang
aktif latihan berjumlah 30 siswa; (b) sebanyak 16 siswa U13-15 SSB Unibraw
82 mengatakan latihan teknik dasar heading sangat penting; (c) sebanyak 8
siswa mengatakan latihan variasi heading jarang diberikan dalam setiap sesi
latihan; (d) sebanyak 20 siswa SSB Unibraw 82 U13-15 ingin meningkatkan
5

teknik dasar heading; (e) sebanyak 15 siswa SSB Unibraw 82 Kota Malang
sangat membutuhkan variasi latihan teknik dasar heading.
Sedangkan analisis kebutuhan yang diberikan kepada pelatih SSB
Unibraw 82 diperoleh data sebagai berikut; (1) Pelatih membutuhkan model
atau informasi baru untuk model-model latihan teknik dasar heading. (2)
Pelatih setuju bila ada pengembangan model-model latihan teknik dasar
heading.
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisis kebutuhan tersebut
menyatakan bahwa model-model latihan teknik dasar heading sangat
diperlukan oleh siswa U13-15 SSB Unibraw 82 untuk dijadikan panduan
dalam melaksanakan latihan dengan bentuk latihan yang tidak membosankan.
Harapannya antusias untuk latihan meningkat sehingga kualitas teknik dasar
heading pun akan meningkat.
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, dapat dibuat model latihan
yang berfungsi untuk meningkatkan ketrampilan heading para siswa sekolah
sepakbola (SSB) UNIBRAW 82 KOTA MALANG. Maka peneliti tertarik
untuk mengembangkan model-model latihan heading melalui penelitian yang
berjudul “Pengembangan Model Latihan Teknik Dasar Heading Untuk
Anak Usia 13-15 Tahun Di Sekolah Sepakbola (SSB) Unibraw 82 Kota
Malang”

B. Tujuan Penelitian dan Pengembangan


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model latihan
teknik dasar heading yang bervariasi untuk siswa sekolah sepakbola usia 13-
15 dalam bentuk modul.

C. Spesifikasi Produk yang Diharapkan


Dalam kegiatan pengembangan ini, peneliti akan mengembangkan
model-model variasi teknik dasar heading. Adapun produk yang dihasilkan
berupa modul panduan model-model varisi teknik dasar heading. Dalam hal
ini model-model latihan yang akan diberikan adalah memberikan urutan
tahapan-tahapan pelaksanaan latihan yang dimulai dari paling mudah ke tahap
6

yang susah, dari tahapan yang ringan menuju tahapan yang berat, tahapan dari
tingkat kesulitan yang rendah menuju tahapan tingkat kesulitan yang tinggi.
Alat yang digunakan berupa bola, peluit, meteran, gawang, stopwatch dan
cone yang berguna untuk variasi latihan untuk rintangan gerakan.
Spesifikasi produk yang diharapkan adalah tentang model latihan
teknik dasar heading yang akan diberikan kepada siswa SSB, adapun produk
yang dikembangkan adalah buku panduan model latihan teknik dasar heading.
Model latihan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dalam berlatih dan
pemahaman siswa SSB akan situasi pertandingan yang sebenarnya. Sedangkan
dalam modul tersebut yang bertujuan untuk mempermudah siswa SSB dalam
mempelajari model latihan dasar yang bersifat sederhana atau cepat
dimengerti, memberi referensi model latihan baru kepada pelatih, serta tidak
merasa bosan dengan latihan yang diberikan pelatih. Adapun spesifikasi
produk yang diharapkan yaitu:

1. Model Latihan Heading 1


a) Pemain berdiri memegang bola menggunakan kedua tangan.
b) Pemain melempar bola melambung di atas kepala.
c) Selanjutnya pemain menyundul bola ke arah atas. Lalu bola ditangkap
lagi dengan kedua tangan.
2. Model latihan Heading 2
a) 2 Pemain berdiri saling berhadapan.
b) Pemain A memegang bola dengan kedua tangan lalu melempar bola
melambung di atas kepalanya sendiri.
c) Pemain A menyundul bola ke arah pemain B.
3. Model Latihan Heading 3
a) 2 Pemain berdiri saling berhadapan.
b) Pemain A memegang bola dengan kedua tangan dengan posisi kaki
ditekuk dan lutut menempel di tanah.
c) Pemain A melempar bola melambung di atas kepalanya sendiri.
d) Pemain A menyundul bola dengan dengan gerakan badan dijatukan ke
tanah ke arah pemain B yang ada di depan nya.
4. Model Latihan Heading 4
7

a) 2 Pemain saling berhadapan.


b) Pemain A berdiri sambil memegang bola.
c) Pemain B posisi badan tengkurap seperti gerakan back up.
d) Pemain A melempar bola ke pemain B.
e) Pemain B dengan posisi badan tengkurap seperti gerakan back up
menyundul bola ke arah pemain A.
5. Model Latihan Heading 5
a) 2 Pemain berdiri saling berhadapan.
b) Pemain A berdiri sambil memegang bola lalu melempar bola ke arah
pemain B.
c) Pemain B melompat menyundul bola ke arah pemain A.
6. Model Latihan Heading 6
a) 2 Pemain berdiri saling berhadapan.
b) Pemain A berdiri sambil memegang bola lalu melempar bola ke arah
pemain B
c) Pemain B melompat menyundul bola ke arah pemain A.
d) Pemain A melempar bola ke arah cone di depan nya pemain B lalu
pemain B lari ke depan menyundul bola ke arah pemain A.
e) Pemain A melempar bola ke arah cone di belakang nya pemain B lalu
pemain B mundur dan menyundul bola ke arah pemain A.
7. Model Latihan Heading 7
a) 2 Pemain berdiri saling berhadapan
b) Pemain A berdiri sambil memegang bola lalu melempar bola ke arah
pemain B
c) Pemain B melompat menyundul bola ke arah pemain A.
d) Pemain B geser ke cone samping kanan dan pemain A melempar bola
ke arah pemain B, lalu pemain B menyundul bola ke arah pemain A.
e) Pemain B geser ke cone belakang dan pemain A melempar bola ke arah
pemain B, lalu pemain B menyundul bola ke arah pemain A.
f) Pemain B kembali lagi ke cone awal.
8. Model Latihan Heading 8
a) 2 Pemain berdiri saling berhadapan.
8

b) Pemain A dari arah samping melempar bola ke arah pemain B yang


berada di depan gawang.
c) Pemain B melompat menyundul bola dan memasukan bola ke gawang.
9. Model Latihan Heading 9
a) 3 Pemain berdiri saling berhadapan.
b) Pemain A melempar bola ke pemain C dan di depan pemain C ada
pemain B.
c) Pemain C melompat menyundul bola ke arah pemain A.
10. Model Latihan Heading 10
a) 3 Pemain berdiri saling berhadapan
b) Pemain A melemparbola ke arah pemain B.
c) Pemain B melompat menyundul bola ke arah pemain C.
d) Pemain C melompat menyundul bola ke pemain B.
e) Pemain B melompat menyundul bola ke pemain A.
11. Model Latihan Heading 11
a) 3 Pemain berdiri saling berhadapan.
b) Pemain A melempar bola ke depan nya pemain B.
c) Pemain C dari belakang lari ke depan melakukan intercept atau
memotong umpan dengan cara melompat menyundul bola ke arah
pemain A.
12. Model Latihan Heading 12
a) 3 Pemain berdiri saling berhadapan.
b) Pemain A melempar bola ke depan nya pemain C
d) Pemain B dari samping kiri pemain C melakukan intercept atau
memotong umpan dengan cara melompat menyundul bola ke arah
pemain A.
13. Model Latihan Heading 13
a) 2 pemain berdiri saling berhadapan.
b) Pemain A melempar bola ke pemain B.
c) Pemain B menyundul bola ke arah 3 sasaran bola diatas cone yang
sudah disediakan dan harus mengenai sasaran.
14. Model Latihan Heading 14
9

a) 2 pemain berdiri saling berhadapan.


b) Pemain A melempar bola ke pemain B yang berada di depan gawang.
c) Pemain B menyundul bola dengan cara dive header atau menyundul
bola dengan menjatuhkan badan dan memasukan bola ke gawang.
15. Model Latihan Heading 15
a) 3 pemain berdiri saling berhadapan.
b) Pemain A melempar bola ke pemain B yang berada di depan gawang.
c) Pemain B menyundul bola dengan cara dive header atau menyundul
bola dengan menjatuhkan badan dan memasukan bola ke gawang.
d) Pemain C melempar bola ke pemain B yang berada di depan gawang.
e) Pemain B menyundul bola dengan cara dive header atau menyundul
bola dengan menjatuhkan badan dan memasukan bola ke gawang.

Kemudian dari model-model latihan teknik dasar heading di atas akan


dikemas dalam bentuk modul. Adapun spesifikasi produk dari modul ini
adalah sebagai berikut:
a) Ukuran modul PxL (21 cm x 16 cm).
b) Jenis font times new roman.
c) Jenis kertas yang digunakan berupa kertas HVS.
d) Modul berisi tentang pengertian sepak bola, teknik dasar heading
sepakbola, model-model latihan teknik dasar heading untuk siswa
SSB Unibraw 82 Kota Malang lengkap dengan petunjuk pelaksanaan
model-model latihan.
e) Model-model latihan teknik dasar heading di mulai dari model latihan
1 sampai dengan model latihan 15.
f) Model-model latihan heading yang dimulai dari paling mudah ke
tahap yang susah, dari tahapan yang ringan menuju tahapan yang
berat, tahapan dari tingkat kesulitan yang rendah menuju tahapan
tingkat kesulitan yang tinggi.
g) Berisikan gambar, tulisan dan halaman yang diharapkan siswa tertarik
untuk mempelajarinya.
10

D. Pentingnya Pengembangan
Dengan adanya model latihan heading yang bervariasi tersebut akan
bermanfaat untuk beberapa pihak, antara lain :
1. Bagi Peneliti
Dapat digunakan sebagai bahan acuan dan belajar sebelum terjun ke
lapangan dan kondisi sebenarnya.
2. Bagi Siswa SSB
Dengan adanya program latihan yang bervariatif dan teratur, latihan
akan lebih efektif dan efisien, dapat meningkatkan motivasi siswa SSB dalam
berlatih, dapat meningkatkan ketrampilan siswa SSB bermain sepakbola
terutama pada teknik dasar heading.
3. Bagi Pelatih SSB
Dapat digunakan sebagai bahan rujukan untuk menyusun program
latihan. Sebagai bahan acuan untuk latihan sehingga pelatih akan lebih mudah
menerapkan pola latihan karena telah tersusun dan terprogram dengan baik.
4. Bagi Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Malang
Penelitian pengembangan model-model latihan teknik dasar heading
untuk meningkatkan keterampilan teknik dasar heading dan bisa menambah
bahan kepustakaan jurusan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan bisa digunakan
sebagai rujukan.

E. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan


Dalam penelitian ini peneliti memiliki beberapa asumsi, antara lain:
1. Model latihan yang bervariasi dan bisa meningkatkan kemauan serta
ketrampilan siswa SSB dalam bermain sepak bola.
2. Model latihan yang teratur dengan baik, agar latihan yang dilakukan
menjadi menjadi lebih efektif dan efisien.
3. Model latihan yang bervariasi dibutuhkan dalam upaya meningkatkan
ketrampilan siswa dalam bermain sepakbola.
11

Dalam pengembangan ini mempunyai keterbatasan sebagai berikut :


1. Pengembangan ini terbatas hanya pada model latihan teknik dasar
heading.
2. Pengembangan ini hanya dilakukan pada anak usia 13-15 tahun di SSB
yang akan diterapkan beberapa pertemuan.

F. Definisi Istilah
Dalam skripsi ini peneliti memberikan pengertian dari beberapa istilah
yang terdapat dalam penelitian ini, antara lain :
1. Model Latihan adalah bentuk latihan yang dikembangkan oleh seorang
pelatih untuk mengatasi kebosanan dalam satu sesi latihan namun tetap
dalam tujuan yang sama.
2. Heading adalah menanduk atau menyundul bola dengan kepala. Dalam
permainan sepak bola, sundulan yang terarah sangat bermanfaat untuk
mengawali serangan yang efektif, atau bahkan bisa menghasilkan gol.
3. Model Latihan Heading adalah latihan heading dengan berbagai macam
bentuk dan dilengkapi dengan latihan permainan sepakbola yang bertujuan
untuk memperkenalkan dan meningkatkan keterampilan teknik dasar
heading.
12
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Sepak Bola

1. Pengertian Sepak Bola


Sepakbola merupakan cabang olahraga permainan yang tergolong
dalam permainan bola besar, dimana sepak bola sangat populer hampir di
seluruh dunia (Lubis, 2014:2). Sehingga banyak orang yang meminati
olahraga ini, dari anak-anak hingga dewasa, bahkan sekarang wanita juga bisa
bermain sepakbola. Menurut Nuh (2013:7) Pengertian sepak bola adalah
“suatu permaainan yang dilakukan dengan jalan menyepak bola kian-kemari
untuk diperebutkan antara pemain-pemain, yang mempunyai tujuan untuk
memasukkan bola ke gawang lawan dan mempertahankan gawang sendiri agar
tidak kemasukan bola.
Komarudin (2011:21) bahwa definisi sepak bola adalah kegiatan fisik
yang kaya struktur pergerakan yang dimana dilihat dari taksonomi gerak
umum, sepakbola bisa secara lengkap baik gerakan-gerakan dasar yang
membangun pola gerak yang lengkap, dari mulai pola gerak lokomotor,
nonlokomotor dan gerakan manipulative. Dari pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa sepak bola adalah permainan tim yang dimana masing-
masing beranggotakan 11 (sebelas) orang, dan tiap-tiap tim tersebut berusaha
untuk memasukan bola ke gawang lawan, dan berusaha untuk memenangkan
pertandingan dengan skor sebanyak-banyaknya. Dan didalam permainan
sepak bola merupakan permainan yang menantang secara fisik dan mental,
maka dari itu sebelum bermain sepak bola harus menguasai teknik, fisik dan
taktik.
Adhianto (2013:10) menjelaskan bahwa sepak bola adalah “permainan
bola besar yang dimainkan secara beregu, satu regu berjumlah sebelas orang
yang dimainkan di lapangan berumput dengan media sebuah bola, secara garis

12
13

besar posisi pemain dalam permainan sepak bola dibagi menjadi empat, yaitu
penjaga gawang, pemain bertahan, pemain tengah, pemain depan (striker).
Dari beberapa penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
permainan sepak bola adalah permainan yang dilakukan dengan cara
menendang sebuah bola yang diperebutkan oleh pemain kedua tim. Tujuan
utama dari permainan sepak bola yaitu untuk memasukan bola ke gawang
lawan sebanyak-banyaknya dan mempertahankan sendiri agar tidak
kemasukan bola.

2. Teknik Dasar Sepak Bola


Teknik dasar sepak bola merupakan sesuatu yang mendasar dalam
bermain sepak bola dan digunakan untuk melakukan suatu permainan sepak
bola yang baik serta menjalankan teknik lanjutan dan taktik dalam permainan
sepak bola agar teknik bisa berjalan sempurna. Budiwanto (2012: 46)
menyimpulkan bahwa “latihan teknik merupakan latihan keterampilan untuk
meningkatkan kesempurnaan teknik”. Kesempurnaan teknik dalam sepak bola
dapat dilakukan dengan latihan yang baik dan proses yang panjang dan
konsisten agar dapat memperoleh keterampilan teknik sepakbola yang baik
dan sempurna. Untuk menunjang jalannya pertandingan sepak bola, maka
diperlukan berbagai macam komponen, salah satunya yaitu teknik dalam
bermain sepak bola. Adapun teknik-teknik dasar dalam permainan sepak bola
terdiri dari menendang bola, menggiring bola, merebut bola dan sebagainya
(Yusriuddin, 2012:64).
Scheuneman (2008:33-75) berpendapat bahwa teknik dasar permainan
sepak bola terdiri dari mengumpan (passing), menggiring (dribbling),
menembak/menendang (shooting), menyundul (heading) dan menghentikan
bola (control).
Berdasarkan pernyataan diatas yang di dijelaskan para ahli, dalam
penelitian ini peneliti hanya mengambil teknik dasar menyundul bola
(heading) untuk dikembangkan. Model latihan yang dikembangkan
berdasrkan kebutuhan dan latar belakang masalah yang diuraikan pada bab I.
14

B. Heading

1. Pengertian Heading
Menyundul bola atau heading pada hakikatnya adalah memainkan bola
dengan kepala. Tujuan menyundul bola dalam permainan sepakbola adalah
untuk mengumpan, mencetak gol, dan untuk mematakan serangan lawan atau
membuang bola dapat dilakukan sambil berdiri, melompat, dan sambil
meloncat. Banyak gol tercipta dalam permainan sepak bola dari hasil sundulan
kepala (Sucipto, 2000:32). Dalam pelaksanaannya menyundul bola dilakukan
melalui tiga cara yaitu: 1) menyundul bola sambil berdiri, 2) menyundul bola
sambil meloncat, dan 3) menyundul bola sambil melayang. Menurut Danny
Mielke (2009:49) Heading atau Menyundul bola merupakan salah satu teknik
dasar sepakbola yang harus dikuasai dengan baik, dengan mengusai teknik
menyundul bola permainan sepak bola akan lebih menarik dan tim yang
mengusai teknik menyundul bola lebih besar kemungkinannya untuk
memenangkan pertandingan.
Menurut Mehnert (2011:22) Pemain menggunakan heading dalam dua
situasi permainan yang berbeda, misalnya pada saat permainan offensive dan
defensive. Heading defensive digunakan untuk membuang bola yang
mengarah ke gawang. Sedangkan, Heading offensive biasanya dilakukan dari
sisi penyerangan, digunakan untuk menempatkan bola ke gawang lawan.

2. Teknik Dasar Heading


Teknik dasar heading dalam permainan sepak bola merupakan salah
satu teknik dasar yang penting dalam bermain sepakbola, oleh karena itu harus
dikuasai oleh setiap pemain. Kemampuan heading secara terarah akan
bertambah penting artinya apabila lawan bermain dengan sistem bertahan,
sehingga ruang gerak hanya ada lewat kepala. Banyak gol tercipta secara
langsung atau tidak langsung tercipta dari duel di udara. Pemain yang ahli
dalam heading sangat dicari kesebelasan-kesebelasan di dunia, karena tidak
15

banyak pemain yang mampu heading secara terarah pada saat dijaga ketat oleh
pemain lawan. Situasi pertandingan yang demikian menghendaki bentuk
latihan meloncat (melompat) dengan tolakan pada kaki kiri dan kaki kanan
bahkan juga dengan kedua kaki atau sambil berdiri posisi tegak. Banyak gol
tercipta dalam permainan sepakbola dari hasil heading kepala. (Sucipto,
2000:32). Menurut Koger (2007:34) pemain harus menghitung waktu yang
tepat untuk menggerakkan kepala saat bola datang, kepala harus digerakkan ke
depan untuk menyundul bola. Dalam melakukan gerakan heading dengan
kepala harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) gerakan tubuh ke
jalur melayangnya bola, kemudian usahakan selalu menggerakkan kaki
sehingga bisa menyesuaikan saat bola datang; (2) usahakan mata tetap tertuju
pada bola dan mulut tertutup pada saat bola datang, karena hal ini bisa
menghindari cedera yang bisa saja terjadi; (3) menyundul bola dengan
menggunakan dahi tepat pada daerah pertemuan dahi dengan garis rambut dan
pertahankan keseimbangan kaki ketika bola mendekat; (4) gerakan tubuh
bagian atas dari posisi melengkung menuju bola ketika bola mendekat dan
gunakan kaki untuk melontarkan tubuh menuju ke arah bola dan arahkan bola
pada sasaran; (5) usahakan selalu menjemput bola yang datang dan jangan
menunggu bola datang di kepala.

3. Macam-macam Gerakan Heading

a) Heading dengan sikap berdiri


Menurut Sucipto (2000:32) menyundul dengan sikap berdiri pada
umumnya dilakukan pada saat datangnya bola maksimal setinggi kepala.
Cara melakukannya adalah sikap dan pandangan kearah sasaran, kedua
kaki dibuka selebar bahu, salah satu kaki maju ke depan sebagai gerak
lanjutan dan menghadap kearah sasaran, berat badan di kaki terkuat.
Sebelum melakukan sundulan, badan ditarik sedikit kebelakang dalam
posisi sedikit melenting. Kemudian kedua lengan terbuka, siku
dibengkokan mengimbangi badan, leher ditegangkan, pandangan kearah
bola. Selanjutnya gerakan badan kedepan menuju bola dan sundul bola
tepat dengan dahi bagian depan hingga bola kembali meluncur ke depan.
16

Gambar 2.1 gerakan menyundul bola dengan berdiri


Sumber: [Link]

b) Heading dengan melompat dan meloncat (Jump Header)


Menyundul bola sambil melompat/meloncat pada umumnya dilakukan
pada saat datangnya bola diluar jangkauan, baik secara vertical maupun
horizontal (Sucipto, 2000:33). Cara melakukannya adalah tempatkan diri
dibawah lambungan bola, kedua kaki dalam posisi sejajar. Pada saat bola
turun ambil tolakan. Kemudian meloncat kearah bola dengan badan sedikit
melenting dan tangan dibuka kesamping, posisi siku ditekuk kemudian
mendarat secara eksplosif.

Gambar 2.2 gerakan jump header


Sumber: [Link]
17

c) Heading sambil melayang menjatuhkan badan (Dive Header)


Menurut Luxbacher (2004:89) menyundul sambil melayang digunakan
untuk mengarahkan bola yang bergerak secara pararel ke permukaan
dengan ketinggian sepinggang atau lebih rendah lagi. Cara melakukannya
adalah badan mengarah ke sasaran dengan pandangan mengawasi bola
melayang, sikap badan condong kedepan, lutut ditekuk. Kemudian pada
waktu bola meluncur dari arah yang berlawanan lompat ke depan dan
melayang sejajar dengan tanah,sundul bola dengan dahi. Pada saat
mendarat, tangan bertumpu pada tanah.

Gambar 2.3 gerakan dive header


Sumber: [Link]

C. Latihan

1. Pengertian Latihan
Olahraga yang bertujuan “untuk mencapai prestasi memerlukan proses
latihan secara detail dan teratur dengan benar, baik yang bersifat individual
ataupun beregu” (Herwin, 2011:75). Latihan merupakan salah satu unsur yang
dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam hal tertentu, dengan latihan
seseorang dapat meningkat secara bertahap sesuai dengan puncak prestasi
yang dapat dicapai seseorang (Effendy, 2015:14). Kemudian menurut
18

Sukadiyanto (2011:1) menyatakan latihan adalah suatu proses perubahan ke


arah yang lebih baik yaitu untuk meningkatkan kualitas fisik, kemampuan
fungisional tubuh, dan psikis anak latih. Oleh karena itu latihan merupakan
bagian terpenting bagi seorang atlet.
Menurut Budiwanto (2012:16) menyatakan bahwa latihan adalah
“proses melakukan kegiatan olahraga yang dilakukan berdasarkan program
latihan yang disusun secara sistematis, bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan atlet dalam upaya mencapai prestasi semaksimal mungkin,
terutama untuk menghadapi suatu pertandingan”. Kemudian menurut
Winarko, (2011:30) juga menjelaskan pengertian latihan adalah aktivitas
olahraga yang sistematik dalam waktu yang lama, ditingkatkan secara
progresif dan individual yang mengarah kepada ciri-ciri fungsi fisiologis dan
psikologis manusia untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan”.
Dari beberapa penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
latihan adalah kegiatan olahraga yang dilakukan berdasarkan program latihan
yang disusun secara sistematis, menuju ke arah yang lebih baik yaitu untuk
meningkatkan kualitas fisik, kemampuan fungisional tubuh, dan psikis serta
mencapai sasaran yang telah ditentukan.

2. Prinsip-prinsip Latihan
Menurut Bompa (2009:38), tujuan utama dari latihan adalah untuk
meningkatkan kinerja keterampilan (skills) keolahragaan atlet dan pada
akhirnya level kinerja pelatihan olahraga . Prinsip-prinsip latihan merupakan
bagian dari seluruh konsep dan tidak dapat dilihat secara sempit saja . Namun
demikian, prinsip latihan ini sering juga dilihat secara terpisah untuk
memahami konsep dasarnya Pemakaian secara tepat prinsip-prinsip latihan
ini akan menghasilkan program-program latihan yang superior dan proses
pelatihan yang bagus bagi atlet . Prinsip-prinsip latihan yaitu sebagai berikut:
(1) multilateral merupakan suatu pengembangan fisik secara keseluruhan,
tahap ini sangat penting pada awal pengembangan atlet, karena pada tahap ini
mampu mengembangkan kemampuan atlet secara fisik dan psikologis yang
merupakan suatu dasar kinerja atlet. Pelatih harus memberikan ini pada tahap
19

awaal pengembangan atlet sebagai landasan untuk spsialissasi dimasa depan


atlet dan kesempurnan dalam suatu cabang olahraga tersebut; (2) spesialisasi
merupakan latihan yang dilakukan dilapangan, kolam renang, ruang senam,
yang berguna untuk mendapatkan adaptasi fisiologis atlet. Tahap ini
merupakan tahap kemajuan atlet dari seorang pemula menuju kematangan
dalam cabang olahraganya, volume dan intensitas latihan meningkat secara
progresif, ketika tahap ini respon spesifik pada latihan dengan latihan
kecabanagn dengan sasaran kemampuan biomotorik setelah tahap multilateral
dikembangkan; (3) individual merupakan suatu syarat utama latihan
sepanjang masa seorang atlet, hal ini karena menuju kepada kemampuan atlet,
potensi, dan karakteristik pembelajran, kebutuhan kecabangan atlet; (4) beban
berlebih merupakan suatu pembeanan latihan yang semakin hari semaki
meningkat. Hal ini merupakan prinsip yang mendasar dari prinsip-prinsip
latihan karena dalam prinsip ini prestasi seseorang adalah akibat langsug dari
jumlah dan kualitas kinerja yang dicapainya dalam latihan. Dalam tahap ini
untuk mendapatkan prestasi yang meningkat perlu berlatih dengan kerja yang
lebih berat dari pada yang dilkukan sebelumnya; (5) perbedaan gender
merupakan peran utama dalam pemberian kinerja dan individualisasi dalam
setiap latihan, dikarenakan laki-laki dan perempuan setelah masa puber
memiliki perbedaan remAja perempuan lebih cenderung ke lemak yang
meningkat, massa tubuh yang ringan, sedangkan laki-laki masa otot,
kekuatan, daya ledak, dan kapasitas anaerobik, dan kapasitas aerobik
maksimal kinerjanya; (6) variasi latihan adalah suatu rangsangan latihan
untuk melakukan penyesuaian agar atlet tidak merasakan kemonotonan dalam
latihan; (7) pengembangan model latihan adalah rangkaian proses yang
berkaitan dari model sebelumnya, evaluasi atlet saat ini dan fondasi keilmuan
yang kuat, pengembangan model latihan diawali dengan menganalisis secara
detail keilmuan berdasarkan cabang olahraga. Pengembangan model latihan
diawali dengan menganalisis secara detail keilmuan berdasarkan cabang
olahraga tersebut, seperti misalnya imu fisiologi, morfologi, biomotor, dan
karakteristik fisik dalam cabang olahraga tersebut. Kemampuan seorang atlet
yang dimiliki taktik dan teknik harus dievaluasi guna melihat area kelemahan
20

yang akan dirubah untuk membantu mengobati kelemahan tersebut. Tes yang
diberikan harus berkembang sesuai mana yang dimiliki kelemahan atlet
tersebut . bagian yang mampu dievalusi juga misalnya watak psikologis, dan
akhirnya catatan atlet dalam penampilan harus dievaluasi agar dapat
ditentukan hal apa yang efektif untuk model latihan yang akan diberikan.

3. Komponen Latihan
Menurut Sukadiyanto (2011:25) menyatakan, komponen latihan
merupakan kunci atau hal penting yang harus dipertimbangkan dalam
menentukan dosis dan beban latihan. Selain itu komponen latihan sebagai
patokan dan tolak ukur yang sangat menentukan untuk tercapai tidaknya suatu
tujuan dalam sasaran latihan yang telah disusun dan dilaksanakan. Adapun
beberapa macam komponen latihan beserta pengertiannya adalah sebagai
berikut: (1) intensitas adalah ukuran yang menunjukan kualitas (mutu) suatu
rangsang atau pembebanan; (2) volume adalah ukuran yang menunjukan
kualitas (jumlah) sutau rangsang dan pembebanan; (3) recovery adalah waktu
istirahat yang diberikan pada saat antar set atau antar repetisi (ulangan); (4)
interval adalah waktu istirhata yang diberikan pada saat antar serri, sirkuit atau
sesi per unit laihan; (5) repetisi adalah jumlah ulangan yang dilakukan untuk
setiap butir atau item latihan; (6) set adalah jumlah ulangan untuk satu jenis
butir latihan; (7) sirkuit adalah ukuran keberhasilan dalam menyelesaikan
beberapa rangkaian butir latihan yang berbeda; (8) durasi adalah ukuran yang
menunjukan lamamnya waktu pemberian rangsang (lamanya waktu latihan);
(9) densitas adalah ukuran yang menunjukan kecepatan pelaksanaan suatu
perangsangan atau pembebanan; (10) frekuensi adalah jumlah latihan yang
dilakukan dalam periode waktu tertentu (dalam satu minggu); (11) sesi adalah
jumlah materi progam latihan yang disususn dan yang harus dilakukan dalam
satu kali pertemuan (tatap muka).

D. Pembelajaran Ketrampilan Teknik Dasar Heading


Pembelajaran keterampilan teknik dasar menyundul bola juga sangat
penting utnuk dipelajari. Karena tanpa pembelajaran teknik dasar menyundul
21

bola pemain sepak bola tidak akan dapat menyundul bola dengan baik
sehingga harus dilakukan pembelajaran teknik dasar menyundul bola dari
model latihan sederhana ke komplek dilakukan secara intensif. Menurut
Yunus (2013:39-42) model pembelajaran ketrampilan teknik dasar menyundul
bola terdiri dari tujuh model yaitu:
1) Model 1
Menyundul bola dengan dinding atau tembok. Cara melakukan:
a) Berdiri menghadap tembok dengan jarak kurang lebih 2-3 meter.
b) Bola dilemparkan ke atas kemudian disundul ke arah tembok.
c) Bola memantul kembali disundul ke arah tembok.
2) Model 2
Menyundul bola dengan dua orang pemain berdiri saling berhadapan
dengan jarak antar 3-6 meter. Cara melakukan:
a) Pemain A melempar bola ke arah pemain B
b) Pemain B menyundul bola kembali ke pemain A
c) Pemain A menghentikan bola dengan kaki, selanjutnya mengambil
bola dan melemparkan bola ke atas kembali ke arah pemain B, dan
seterusnya ganti pemain B yang melempar bola ke arah pemain A
dan menyundul bola.
3) Model 3
Menyundul bola dengan beberapa orang pemain membuat lingkaran,
seorang pemain berdiri di tengah dengan membawa bola. Cara melakukan:
a) Pemain yang berdiri di tengah melempar bola ke atas ke arah
pemain yang lain yang berdiri pada lingkaran.
b) Pemain yang mendapat umpan bola segera menyundul bola
kembali ke pemain tengah.
c) Pemain tengah menangkap bola dan melemparkan ke arah pemain
lain.
4) Model 4
Menyundul bola dengan kombinasi melempar bola dengan menyundul
bola. Cara melakukan:
22

a) Pemain berdiri, baris berbanjar, seorang pemain dengan berdiri di


depan barisan dengan jarak 8-12 meter.
b) Bola dilemparkan ke arah atas pemain yang ada di depannya.
c) Pemain yang di depan segera menyundul bola kembali ke arah
pelempar.
d) Setelah menyundul bola, pemain terdepan segera lari ke belakang
barisan.
5) Model 5
Menyundul bola dengan memasukkan bola ke gawang. Cara melakukan:
a) Dua pemain berdiri berhadapan dengan jarak 5-10 meter.
b) Di tengah-tengah diberi dua buah tiang/pancang dengan jarak 2-4
meter sebagai gawang.
c) Pemain yang satu sebagai pelempar, melempar bola ke arah
temannya, temannya segera menyundul bola kembali ke teman
pelempar.
d) Bola harus melalui di antara tiang atau gawang.
6) Model 6
Menyundul bola ke arah samping. Cara melakukan:
a) Tiga orang pemain A, B dan C berdiri terbentuk posisi segitiga.
b) Dengan jarak antara pemain 3-5 meter.
c) Menggunakan satu bola.
7) Model 7
Menyundul bola dengan bola digantung. Cara melakukan:
a) Bola di gantung dengan tali.
b) Bola dalam keadaan diam.
c) Pemain menyundul bola dengan cara tanpa awalan, dengan awalan
atau dengan lompatan.
23
BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam bab III ini meliputi: model penelitian dan pengembaangan,


prosedur penelitian dan pengembangan, dan uji coba produk. Uji coba produk
terdiri dari: desain uji coba, jenis data, instrumen pengumpulan data, dan
teknik analisis data.

A. Model Penelitian dan Pengembangan


Menurut Winarno (2011:76-77) penelitian pengembangan merupakan
penelitian yang berupaya mengembangkan produk tertentu dengan kebutuhan
masyarakat saat ini. Dalam pendidikan jasmani, rancangan penelitian
pengembangan dilakukan berdasarkan data hasil analisis kebutuhan lapangan.
Data tersebut digunakan sebagai dasar dalam menyususn rencana
pengembangan.
Penelitian dan pengembangan ini mengembangkan model-model
latihan teknik dasar heading untuk siswa SSB Unibraw 82 Kota Malang.
Menurut Sugiyono (2016:407) “Penelitian dan pengembangan dalam Bahasa
inggrisnya research and development adalah metode penelitian yang
digunakan untuk menghasilkan suatu produk tertentu, menguji keefektifan
produk tersebut”. Dalam metode penelitian dan pengembangan ini , penelitian
mengacu pada metode pengembangan research & development (R&D) yang
memuat 10 langkah yang meliputi “ (1) Potensi dan masalah, (2)
Pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6)
ujicoba produk, (7) revisi produk, (8) ujicoba pemakaian, (9) revisi produk
dan (10) produk masal.

B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan


Prosedur penelitian dan pengembangan model latihan teknik dasar
heading untuk anak usia 13-15 tahun di SSB Unibraw 82 Kota Malang.

23
24

Peneliti mengambil penelitian dan pengembangan melalui 7 langkah


prosedural menurut kebutuhan peneliti. Prosedur penelitian dan
pengembangan yang akan dijalankan peneliti digambarkan pada bagan berikut
beserta penjabaran langkah-langkah yang akan di tempuh yaitu (1) Potensi dan
masalah, (2) Pengumpulan data, (3) Desain produk, (4) validasi desain, (5)
revisi desain, (6) Ujicoba produk, (7) Revisi produk.

1. Potensi dan Masalah

2. Pengumpulan Data

3. Desain Produk

4. Validasi Desain

5. Revisi Desain

6. Ujicoba Produk

7. Revisi Produk

Gambar 3.1 Bagan Penelitian dan Pengembangan

Sumber : Sugiyono (2016:409)

Langkah prosedur penelitian dan pengembangan diatas diuraikan sebagai


berikut :

1. Potensi dan masalah berupa observasi SSB Unibraw 82 Kota Malang.


Observasi dilakukan dengan cara mengamati siswa SSB Unibraw 82
Kota Malang saat melakukan latihan heading .
25

2. Pengumpulan data berupa pengukuran dan pengumpulan informasi


dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan cara
melakukan wawancara terhadap pelatih atlet serta pengisian kuisioner
terhadap 20 siswa SSB Unibraw 82 Kota Malang.
3. Setelah melakukan pengumpulan data maka penelitian mulai
membentuk desain produk .
4. Desain produk yang telah dibuat kemungkinan dilakukan validasi
produk yang melibatkan para ahli yaitu satu ahli sepak bola.
5. Berdasarkan hasil validasi produk, selanjutnya penelitian melakukan
revisi desain yang sudah dibenarkan kelayakannya oleh para ahli
sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut .
6. Revisi desain sudah jadi, kemudian diujikan kepada 20 siswa SSB
Unibraw 82 Kota Malang sebagai uji coba produk .

Setelah uji coba produk, langkah terakhir akan dilakukan revisi produk
akhir hingga tidak ada lagi kritik dan saran dari para ahli dan subjek yang
diteliti.

C. Uji Coba Produk


Uji coba produk dimaksudkan untuk mendapatkan saran dan masukan
dari para ahli sebagai acuan untuk perbaikan dan penyempurnaan produk yang
akan dibuat oleh peneliti, dan untuk mengumpulkan data yang dapat
digunakan digunakan sebagai dasar untuk mengetahui tingkat keefektifan,
kelayakan atau daya tarik produk tersebut sebagai variasi latihan heading yang
dapat digunakan pelatih pada siswa SSB Unibraw 82 Kota Malang.

D. Desain Uji Coba


Tujuan mendesain uji coba ini adalah untuk memperoleh dan
menyimpulkan data yang dapat digunakan sebaagai dasar untuk memperbaiki
produk secara lengkap.
a. Evaluasi Ahli
26

Sebelum produk pembelajaran dikembangkan padaa subjek, terlebih


dahulu produk yang dibuat di evaluasikan oleh para ahli untuk memperoleh
masukan.
b. Uji Coba Kelompok Kecil
Pada tahap ini dilakukan uji coba pada siswa SSB Unibraw Kota
Malang dengan subjek berjumlah 10 siswa.
c. Uji Coba Kelompok Besar
Pada tahap ini dilakukan uji coba lapangan (kelompok besar) dengan
subjek siswa SSB Unibraw 82 Kota Malang yang berjumlah 20 siswa.

E. Subjek Uji Coba


Subjek uji coba yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini
adalah siswa SSB Unibraw 82 Kota Malang Pembagian subjek coba tersebut
meliputi :
a. Subjek analisis kebutuhan sebanyak 20 siswa SSB Unibraw 82 Kota
Malang.
b. Subjek uji lapangan terdiri dari 10 siswa pada uji coba kelompok kecil dan
20 siswa pada uji coba kelompok besar pada siswa SSB Unibraw 82 Kota
Malang.
c. Subjek evaluasi terdiri dari ahli kepelatihan, ahli sepak bola, dan ahli
multimedia.

F. Jenis Data
Jenis data yang didapatkan merupakan data kuantitatif dan kualitatif.
Data kuantitatif diperoleh dengan cara memberi skor pada kuesioner yang
diberikan. Sedangkan data kualitatif karena data yang diperoleh dinyatakan
dengan kalimat bukan angket. Jadi jenis data yang diolah adalah data
kuantitatif.

G. Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen yang digunakan pengembangan model latihan teknik dasar
heading untuk anak usia 13-15 tahun di SSB Unibraw 82 Kota Malang adalah
27

dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang berupa


kuisioner.

a. Kuisioner/angket
Angket digunakan untuk pengumpulan data kuantitatif dari hasil analisis
kebutuhan terhadap atlet yang mengikuti latihan dengan model variasi latihan
Kelincahan. Kuisioner adalah “sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari responden tentang sesuatu yang akan
diteliti. Bentuk kuisioner untuk atlet SSB Unibraw 82 Kota Malang usia 13-15
tahun berupa kuisioner tertutup, sedangkan bentuk kuisioner untuk ahli berupa
kuisioner tertutup dan terbuka. Kuisioner terbuka adalah “kuisioner yang
memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya
sendiri”. Sedangkan kuisioner tertutup adalah “kuisioner yang sudah
disediakan jawabannya sehinggga tinggal memilih” (Winarno, 2013:73).
b. Wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk
memperoleh informasi dari orang yang akan diwawancarai. Interview bebas
adalah “wawancara yang dilakukan dimana pewawancara bebas menanyakan
apa saja , tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan”
(Winarno,2013:76)

H. Teknik Analisis Data


Dalam suatu analisis data dalam penelitian dan pengembangan ini
menggunakan teknik analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.
1. Analisis kualitatif
Teknik analisis kualitatif diperoleh dari pengumpulan data dari para
tinjauan para ahli menggunakan metode data wawancara, observasi, dan
dokumentasi serta masukan dalam data yang disajikan sampai tahap
kesimpulan para ahli.
2. Analisis kuantitatif
28

Data kuantitatif adalah data yang berupa angka dalam persen dan
diperoleh pada saat melakukan uji coba. Teknik analisis ini digunakan untuk
menganalisis data yang didapat dari penyebaran angket kepada atlet SSB
Unibraw 82 Kota Malang. Rumus untuk menghitung data kuantitaif dalam
bentuk presentase adalah menurut Akbar dan Sriwiyana, (2011:208), yaitu
sebagai berikut:

TSEV
V= × 100 %
S−max

Keterangan :

V : Validasi

TSEV : Total Skor Empirik Validasi

S-max : Skor Maksimal yang Diharapkan

Penggolongan presentase yang digunakan sebagaimana pada :

Tabel 3.1 Kriteria Kualitas Produk

Presentase Tingkat Validitas


75,01 % - 100,00 % Sangat Valid (dapat digunakan tanpa revisi)
50,01 % - 75,00 % Cukup Valid (dapat digunakan dengan revisi
kecil) Kurang

25,01 % - 50,00 % Tidak Valid (tidak dapat digunakan)


00,00 % - 25,00 % Sangat Tidak Valid (terlarang digunakan)
(Sumber : Akbar dan Sriwiyana, 2011:207)
DAFTAR RUJUKAN
Adhianto, I. 2013. Perbedaan Akurasi Passing Antara Kaki Bagian Dalam
(inside), Kaki Bagian Luar (onside) dan Punggung Kaki (instep) Pada
Siswa Sekolah (SSB) Akatan Muda Seyegan (Ams) Kelompok Usia 14-15
Tahun. Skripsi. (online) ([Link] diakses 7 Mei 2019.

Akbar, Sa’dun dkk, 2011. Pengembangan Kurikulum dam Pembelajaran Ilmu


Pengetahuan Sosial. Yogyakarta: Cipta Media.

Bompa, T.O, 2009. Periodezation Theory and Methodology of Training. Ilions:


Kendall hunt Publishing Company.

Budiwanto, S. 2012. Metodologi Latihan Olahraga. Malang:UM Press.

Effendy, D. 2015 Pengaruh Model Latihan Small-Sided Games Terhadap


Kecepatan Umpan Passing pada Pemain Sepakbola Melati Mudah Bantul.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Herdiansyah,wildan. (2011). Mengenal Sepak Bola. Jakarta: PT Wadah Ilmu.

Herwin. 2011. Latihan Fisik Untuk Pemain Usia Muda. (online)


([Link] diakses 7 Mei 2019.

Husdarta, H.J.S..(2010). Sejarah dan Filsafat Olahraga. Bandung: Alfabeta.

Koger, Robet. 2007.” Latihan Dasar Andal Sepakbola Remaja ”. Klaten: Saka
Mitra Kompetensi.

Komaruddin, 2011. Kondisi fisik dan struktur tubuh atlet sepakbola usia 18 tahun
PSM Makassar. Jurnal ILARA, volume I I, Nomor 2, 83.

Lubis, M.E. 2014. Upaya Meningkatkan Kemampuan Passing Sepakbola Melalui


Variasi Latihan Pasing Pada Atlet Usia 12-13 Tahun SSB PTP Wilayah I
Sumatra Utara Tahun 2013. Skripsi. (online) ([Link]
dikases 7 Mei 2019.

Luxbacher, Joseph. (2004). Sepak Bola. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Martinek, Tom, & Hellison, Don, 2009. Youth leadership in sport and phsycal
education. United States of America: Palgrave Macmillan.

Mielke, Danny. (2009). Dasar-dasar sepakbola. Bnadung: Pakar Raya.

Nuh, M. 2013. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Jakarta.

Scheuneman, Timo. 2008. Dasar-dasar Sepakbola Modern untuk Pemain dan


Pelatih. Malang: Dioma.

29
30

Subagyo, I. 2010. Pengembangan Tes Kecakapan “David Lee” UntukSekolah


Sepakbola (SSB) Kelompok Umur 14-15 Tahun. Tesis. Pascasarjana UNY.

Sucipto, dkk. (2000). Sepakbola. Jakarta: Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan.

Sugiyono, 2016. Metode Penelitian Pendidikan (pendekatan koorperatif,dan


R&D). Bandung :Alfabeta.

Sukadiyanto. 2011. Pengantar Teori dan Metodologi Melatih Fisik, Bandung:


CV Lubuk Agung.

Winarko, S. 2011. Perbedaan Pengaruh Latihan Plyometrik dan Kebugaran Otot


Tungkai Terhadap Peningkatan Kecepatan Menggiring Bola. Skripsi.
(online) ([Link] diakses 7 Mei 2019.

Winarno, M. E. 2013. Metodologi Penelitian dalam Pendidikan Jasmani. Malang:


Universitas Negeri Malang (UM PRESS).

Yasriuddin. 2012. Survei Ketrampilan Bermain Sepakbola Siswa SMA Negeri 3


Sungguminasa Kabupaten Gowa, 1 (1). (online) ([Link]
diakses 7 Mei 2019.

Yunus. 2013. Dasar-Dasar Permainan Sepakbola. Malang:


Universitas Negeri Malang.

Common questions

Didukung oleh AI

Model latihan ini telah mengalami uji coba produk yang melibatkan siswa dan para ahli untuk mendapatkan masukan dan penilaian efektivitas . Meski hasil efisiensi dan peningkatannya belum dijelaskan secara detail, model ini dikembangkan dari hasil observasi dan analisis kebutuhan siswa dan pelatih, mengindikasikan potensi besar untuk efektif meningkatkan keterampilan .

Pembelajaran teknik dasar heading penting karena tanpa penguasaan ini, pemain sepak bola tidak dapat menyundul bola dengan baik dalam pertandingan. Model latihan yang bervariasi dimulai dari latihan yang paling mudah hingga yang sulit, yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan teknik dasar heading dengan cara yang mudah dimengerti dan menarik bagi siswa .

Model latihan heading yang bervariasi dan disusun dari tahapan yang mudah ke sulit membantu siswa tetap tertarik dan termotivasi dalam berlatih. Variasi latihan menyebabkan siswa lebih terlibat secara aktif dan lebih memahami teknik serta strategi yang relevan dalam situasi pertandingan sebenarnya karena latihan dirancang untuk mensimulasikan skenario pertandingan .

Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan pelatih, serta kuisioner kepada siswa untuk analisis kebutuhan dan efektivitas model latihan. Analisis data bersifat kualitatif dan kuantitatif, mencakup evaluasi oleh para ahli dan penghitungan validitas menggunakan skor persentase untuk menentukan kualitas produk .

Model latihan heading disusun secara bertahap, dimulai dari yang paling mudah hingga yang lebih kompleks. Langkah pertama melibatkan latihan dasar seperti melempar bola dan menyundul dengan gerakan dasar. Secara bertahap, intensitas dan kompleksitas meningkat dengan skenario termasuk koordinasi dengan rekan tim dan situasi yang lebih menyerupai pertandingan nyata .

Validasi produk dilakukan dengan melibatkan para ahli, termasuk ahli sepak bola, untuk mengevaluasi desain produk. Setelah validasi, desain produk direvisi jika diperlukan, kemudian diujicobakan kepada siswa dalam kelompok kecil dan besar untuk mendapatkan data keefektifan, sebelum revisi akhir dilakukan untuk penyempurnaan produk .

Kebutuhan utama yang diidentifikasi adalah bahwa siswa membutuhkan variasi dalam latihan teknik dasar heading karena latihan yang ada saat ini dianggap kurang bervariasi dan membosankan. Pelatih juga membutuhkan model atau informasi baru untuk latihan heading yang lebih efektif dan mendukung pengembangan kemampuan siswa .

Tujuan utama dari pengembangan model latihan teknik dasar heading ini adalah untuk meningkatkan keterampilan heading siswa sekolah sepakbola (SSB) usia 13-15 tahun melalui model latihan yang bervariasi dan tidak membosankan, serta untuk memberi panduan kepada pelatih dalam pelaksanaan latihan yang lebih efektif dan menyenangkan .

Pelatih berperan penting dalam menciptakan program latihan yang fokus dan efektif untuk meningkatkan keterampilan heading. Mereka harus mengadaptasi panduan model latihan untuk memastikan latihan tidak membosankan dan tetap mendukung peningkatan motivasi serta pemahaman situasi pertandingan yang sebenarnya bagi siswa .

Komponen penting dalam merancang program latihan termasuk intensitas latihan, volume, recovery, dan interval. Faktor seperti repetisi, set, durasi, densitas, dan frekuensi juga harus dievaluasi untuk memastikan program disusun dengan kadar kesulitan yang tepat dan dapat mencapai tujuan latihan yang telah ditetapkan .

Anda mungkin juga menyukai