ROUTING
Disusun Oleh :
Nama : Khoirul Raihan Mariadi
Kelas : XI TKJ 2
M. Pelajaran : Administrasi Infrastruktur Jaringan
No. Absen : 13
SMK BHAKTI ANINDYA
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat anugerah
dan rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai “Routing”.
Sebelumnya penulis ingin berterima kasih kepada Pak Bobby Gea selaku guru mata
Pelajaran Administrasi Infrastruktur Jaringan yang telah memberikan tugas makalah
ini kepada penulis. Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis banyak menemukan
kesulitan- kesulitan dalam merangkai kata-kata yang baik dan benar. Namun, penulis
membuat makalah ini dengan sebenar-benarnya. Penulis menyusun makalah ini
berdasarkan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki dengan bantuan sumber-
sumber yang didapatkan dari internet. Penulis berharap makalah ini dapat dimengerti
oleh siapapun yang membacanya. Selain itu juga dapat berguna dan menambah
pengetahuan. Akhirnya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Namun,
makalah ini masih ada kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Sehingga penulis
masih membutuhkan kritik dan saran untuk membangun dan memberikan masukan
yang baik dari rekan-rekan sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
Contents
BAB 1........................................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................................5
BAB 2........................................................................................................................... 6
2.1 Pengertian Routing..............................................................................................6
2.2 Konsep Dasar Routing.........................................................................................6
2.3 Jenis- Jenis Routing.............................................................................................8
2.4 Konsep Penomoran, syarat Penomoran, dan Struktur Penomoran.....................12
BAB 3......................................................................................................................... 15
3.1 Kesimpulan........................................................................................................15
BAB 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Routing adalah suatu protokol yang digunakan untuk mendapatkan
rute dari satujaringan ke jaringan yang lain. Rute ini disebut dengan route dan
informasi route secaradinamis dapat diberikan ke router yang lain ataupun
dapat diberikan secara statis kerouter lain.K o ns e p da s a r da r i ro ut in g adalah
bahwa router meneruskan paket-paket IP berdasarkan pada IP address tujuan
yang ada dalam header IP paket. Dia mencocokkan IPaddress tujuan dengan routing
table dengan harapan menemukan kecocokan entri; suatuentri yang menyatakan
kepada router ke mana paket selanjutnya harus diteruskan. Jikatidak ada
kecocokan entri yang ada dalam routing table, dan tidak ada default route, makarouter
tersebut akan membuangpaket tersebut. Untuk itu adalah sangat penting
untukmempunyai isian routingtable yang tepat dan benar. Agar isian pada table
routing tepatdan benar, makaperlu bantuan dari adminstrator untuk
mengisikannya, oleh karena ituroutingStatic adalah pilihan tepat untuk
membangun sebuah jaringan, terutama untuk jaringanberskala kecil.
Perkembangan IT saat ini menuju dengan konsep-kosenp socialnetworkingnya,
openess, share, colaborations, mobile, easy maintenance, one
click,terdistribusi / tersebar, scalability, Concurency dan Transparan, Saat ini
terdapat trendteknologi yang masih terus digali dalam penelitian-penelitian
para pakar IT di dunia,yaitu Cloud Computing. Apabila jaringan memiliki
lebih dari satu kemungkinan ruteuntuk tujuan yang sama maka perlu digunakan
dynamic routing Sebuah dynamic routingdibangunberdasarkan informasi yang
dikumpulkan oleh protokolrouting Protokol ini didesain untuk mendistribusikan
informasi yang secara dinamismengikutiperubahan kondisi jaringan. Protokol
routing mengatasi situasi routing yangkompleks secara cepat dan akurat. Protokol
routng didesain tidak hanya untuk mengubahke rute backup bila rute utama tidak
berhasil, namun juga didesain untuk menentukanrute mana yang terbaik untuk
mencapai tujuan [Link] danpemeliharaantable routingtidak dilakukan
secara manual oleh admin.
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa itu Routing ?
b) Apa Konsep Dasar Routing?
c) Jelaskan Jenis Jenis Routing?
d) Apa itu Konsep Penomoran,syarat Penomoran,dan Struktur Penomoran?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan Rumusan Masalah Tujuan Penulisan Makalah Schrodinger adalah
:
a) Menjelaskan pengertian Routing
b) Menjelaskan Bagaimana Konsep Dasar Routing
c) Menjelaskan Jenis – Jenis dari Routing
d) Menjelaskan Konsep Penomoran,syarat Penomoran,dan Struktur Penomoran
BAB 2
PEMBAHASAN
BAB 3Pengertian Routing
Routing adalah proses pengambilan sebuah paket dari sebuah alat dan
mengirimkannya melalui network ke alat lain di sebuah network yang
[Link] dalam sebuah network tidak memiliki router, maka tidak
akan dapat melakukan routing. Atau proses dimana suatu router memforward
paket ke jaringan yang [Link] router membuat keputusan berdasarkan IP
address yang dituju oleh paket. Semua routermenggunakan IP address tujuan
untuk mengirim paket. Agar keputusan routing tersebut benar,router harus
belajar bagaimana untuk mencapai tujuan. Ketika router menggunakan
routing dinamis, informasi ini dipelajari dari router yang lain. Ketika
menggunakan routing statis,seorang network administrator mengkonfigurasi
informasi tentang jaringan yang ingin ditujusecara manual
Fungsi utama dari routing itu sendiri adalah menentukan jalur terbaik
pengiriman paket dan mengirimkan paket tersebut ke destinasi. Router
menggunakan routing table yang dimilikinya untuk menentukan jalur terbaik
pengiriman paket.
BAB 4Konsep Dasar Routing
Konsep routing adalah hal yang utama pada lapisan internet di jaringan
TCP/IP. Hal ini karena pada lapisan internet terjadi proses pengalamatan.
Data-data dari device yang terhubung ke internet dikirim dalam bentuk
datagram, yaitu paket data yang didefinisikan oleh IP. Datagram memiliki
alamat tujuan paket data. Internet Protokol memeriksa alamat ini untuk
menyampaikan datagram dari device asal ke device tujuan. Jika alamat tujuan
datagram tersebut terletak satu jaringan dengan device asal, datagram tersebut
langsung [Link] alamat tujuan datagram tidak terdapat di jaringan
yang sama, datagram akan disampaikan kepada router yang paling tepat.
Untuk itu sangat penting untuk mempunyai isian table [Link] tepat dan
[Link] 2 item yang harus dimasukan oleh table routing untuk mengirim
paket data diantara:
1. Destination Addres merupakan sebuah alamat pada jaringan yang
tidak dapat dijangkau oleh router.
2. Pointer to the destination merupakan penunjuk yang akan
memberitahu bahwa jaringan atau network yang dituju dapat
terhubung dengan router
Router akan menyesuaikan informasi yang terdapat pada table routing
sebelum mengirimkan ke alamat tujuan sehingga tidak ada yang namanya
salah sasaran dalam mengirimkan paket data. Berikut adalah urutan table
routing untuk menyesuaikan alamat tujuan:
1. Host Addres
2. Subnet
3. Group of subnet
4. Major Network Number
5. Group of Major Network Number
6. Default Addres
7. Routing table
Table routing adalah table yang memuat seluruh informasi IP address dari
interfaces router yang lain sehingga router yang satu dengan router lainnya
bisa berkomunikasi. Routing table hanya memberikan informasi sedang
routing algoritma yang menganalisa dan mengatur routing table. Intinya,
router hanya tahu cara menghubungkan nertwork atau subnet yang terubung
langsung dengan router tersebut. Router akan memberi rekomendasi jalur
mana yang paling tepat untuk melewatkan paket data yang dikirim ke alamat
tertentu sesuai dengan informasi yang terdapat pada tabel routing sehingga
pada saat paket data telah dikirimkan atau diarahkan maka router akan
melakukan pemeriksaan yang terdapat pada tabel routing dan router akan
menentukan jalur mana yang paling sesuai dengan informasi yang ada.
Informasi yang terdapat pada tabel routing dapat diperoleh secara static
routing melalui perantara administrator dengan cara mengisi tabel routing
secara manual ataupun secara dynamic routing menggunakan protokol routing,
dimana setiap router yang berhubungan akan saling bertukar informasi routing
agar dapat mengetahui alamat tujuan dan memelihara tabel [Link] data
yang dikirimkan oleh pengirim ke alamat atau jaringan yang dituju tidak
sesuai dengan entri diatas maka paket data yang telah dikirimkan oleh
pengirim akan dibuang dan pengirim data akan diberikan pesan oleh router
bahwa data yang dikirim telah di drop karena ketidaksesuain dan terjadi
kesalahan pengalamatan pada address source pengirim. Tabel routing (routing
table) terdiri atas entri-entri rute dan setiap entri rute terdiri dari IP Address.
Berikut adalah field dari tabel routing IPv4:
1. Destination :Dapat berupa alamat IPv4 atau prefix alamat IPv4. Dalam
Windows, kolom ini dinamakan Network Destination dalam display
perintah route print.
2. Network Mask Subnet: mask digunakan untuk menyesuaikan tujuan
alamat IPv4 dari nilai paket yang dikirim dari field destination. Pada
windows, kolom ini dinamakan Netmask.
3. Next-Hop :Alamat IPv4 yang dilewati. Pada tabel router di Windows,
kolom ini dinamakan Gateway.
4. Interface :Interface jaringan yang digunakan untuk mengirim kembali
paket IPv4. Dalam Windows, kolom ini berisi alamat IPv4 yang
ditugaskan sebagai interface.
Metric ;Merupakan angka yang digunakan sebagai indikasi penggunaan route
sehingga menjadi route yang terbaik di antara banyak route dengan tujuan yang sama
bisa dipilih. Metric dapat menunjuk pada banyak links di jalan ke tujuan atau rute
yang diinginkan untuk digunakan, tergantung banyak link.
BAB 5Jenis- Jenis Routing
Bahwa dalamjaringan WAN kita sering mengenal yang namanya TCP/IP
(Transmission Control Protocol/ Internet Protocol) sebagai alamat sehingga
pengiriman paket data dapat sampai ke alamat yang dituju (host tujuan).
TCP/IP membagi tugas masing-masing mulai dari penerimaan paket data
sampai pengiriman paket data dalam sistem sehingga jika terjadi permasalahan
dalam pengiriman paket data dapat dipecahkan dengan baik.
a) Berdasarkan pengiriman paket data routing dibedakan menjadi
routing lansung dan routing tidak langsung:
1. Routing langsung : merupakan sebuah pengalamatan secara
langsung menuju alamat tujuan tanpa melalui host lain. Contoh:
sebuah computer dengan alamat [Link] mengirimkan data ke
komputer dengan alamat [Link]
2. Routing tidak langsung merupakan sebuah pengalamatan yang
harus melalui alamat host lain sebelum menuju alamat hort tujuan.
(contoh: computer dengan alamat [Link] mengirim data ke
komputer dengan alamat [Link], akan tetapi sebelum menuju
ke komputer dengan alamat [Link], data dikirim terlebih
dahulu melalui host dengan alamat [Link] kemudian
dilanjutkan ke alamat host tujuan.
b) Routing berdasarkan jenis konfogurasinya
1. Routing default: digunakan untuk mengirimkan paket-paket secara
manual menambahkan router ke sebuah tujuan yang tidak ada di
routing table, ke router hop berikutnya. Bisanya digunakan pada
jaringan yang hanya memiliki satu jalur keluar.
2. Static Routing: Static routing adalah metode routing yang tabel
jaringannya dibuat secara manual oleh administrator jaringannya.
Static routing mengharuskan admin untuk merubah route atau
memasukkan command secara manual di router tiap kali terjadi
perubahan jalur. Router meneruskan paket dari sebuah network ke
network yang lainnya berdasarkan route (catatan: seperti route pada
bis kota) yang ditentukan oleh administrator. Route pada static
routing tidak berubah, kecuali jika diubah secara manual oleh
administrator.
3. Dinamic Routing: Dynamic routing adalah teknik routing dengan
menggunakan beberapa aplikasi networking yang bertujuan
menangani routing secara otomatis. Tabel routing akan dimaintain
oleh sebuah protokol routing. Dynamic Routing Protocol adalah
routing protocol yang memungkinkan network admin untuk
mengatur jaringan tanpa harus merubah konten dari routing table
secara manual bila terjadi perubahan. Router mempelajari sendiri
route yang terbaik yang akan ditempuhnya untuk meneruskan paket
dari sebuah network ke network lainnya. Administrator tidak
menentukan route yang harus ditempuh oleh paket-paket tersebut.
Administrator hanya menentukan bagaimana cara router
mempelajari paket, dan kemudian router mempelajarinya sendiri.
Route pada dynamic routing berubah, sesuai dengan pelajaran yang
didapatkan oleh router.
c) Routing berdasarkan pembagian jenis Roouting protocol
1. Single Versus Multipath :Routing protocol menggunakan sebuah
algoritma untuk menentukan jalur terbaik ke tujuan. Jika hanya ada
1 jalur, pengambilan keputusan akan simple. Jika ada beberapa
jalur, routing protocol akan mempunyai beberapa pilihan:
mengambil route terbaik, meninggalkan route yang lain sampai
dibutuhkan, atau ia bisa meninstall multiple jalur ke destinasi
tersebut.
2. Interior Vs Exterior: Jaringan yang di design dibawah 1 single
administrative control (autonomous system) disebut dengan interior
routing protocol. Sedangkan yang di design untuk topologi yang
lebih besar seperti WAN disebut dengan exterior. Exterior protocol
mengabungkan autonomous system bersama. Autonomous system
(AS) adalah kumpulan router di bawah administrasi seperti
perusahaan atau organisasi. Konsep AS adalah yang mendasari
internet, oleh karena itu ada 2 jenis routing protocol:
a. Interior Gateway Protocol (IGP): digunakan untuk routing
dalam AS. Perusahaan, organisasi dan service provide
menggunakan IGP pada jaringan internal mereka. RIP,
EIGRP, OSPF, dan IS-IS termasuk ke dalam IGP.
b. Exterior Gateway Protocol(EGP): digunakan untuk routing
antar AS. Service provider dan perusahaan besar akan saling
terhubung dengan EGP. Border Gateway Protocol (BGP)
merupakan EGP.
3. Flat versus Hierachial Ketika mengimplementasikan routing
protocol, router melakukan berbagai macam tugas, yaitu
menghandle perubahan topologi, mencari jalur terbaik. Jika router
melakukan tugas yang sama, protocol tersebut dikatakan flat,
contohnya RIP. Akan tetapi, jika ada fungsi lain yang dikerjakan
router, protocol tersebut dikatakan bekerja secara hierarchia.
Link State Versus Distance Vector Kedua istilah ini mengacu pada algoritma yang
digunakan oleh protocol untuk menentukan route yang digunakan. Distance Vector
menentukan dari asal ke tujuan dengan menggunakan hop count (number of router).
Tetapi tidak banyak informasi yang didapat selain hop count dan arah jalur. Oleh
karena itu sulit untuk menentukan pilihan jalur dengan kualitas terbaik. RIP adalah
distance vector protocol. Distance vector protocol lebih lambat dibanding link state
protocol. Lambat dalam arti saat terjadi perubahan topologi proses untuk kembali ke
awal. Router yang menggunakan distance vector tidak mempunyai pengetahuan
tentang jalur ke semua destinasi. Informasi yang diketahui hanya distance (jarak yang
diketahui melalui metric, yaitu hop count). Distance Vector meliputi RIPv1, RIPv2,
IGRP, dan EIGRP. Link state protocol memberikan detail informasi link atau koneksi
antar router agar pengambilan keputusan lebih baik. Sebagai contoh jika ada 2 jalur
yang mempunyai jarak yang sama, jalur pertama berdasarkan Ethernet 1Gbps dan
jalur kedua berdasarkan frame relay, maka jalur pertama yang akan dipilih, bahkan
jika hop count sama. Setelah routing sudah dilakukan, router akan melakukan kontak
secara regular dengan sesamanya via “hello” message untuk melakukan pengecekan
bahwa tidak ada terjadi perubahan. Karena alasan inilah link state protocol bekerja
lebih cepat dibanding distance vector. OSPF dan IS-IS merupakan link state protocol.
BAB 6Konsep Penomoran, syarat Penomoran, dan Struktur Penomoran
a) Konsep Penomoran
Penomoran berarti menentukan penomoran yang unik kepada pelanggan
lokal dan nasional yang memungkinkan pengaturan panggilan secara
otomatis. Fungsi utama penomoran adalah sebagai berikut:Membedakan
setiap pelanggan dengan memberikan mereka nomor yang unik.,
Merutekan setiap panggilan,Memungkinkan proses pembebanan
biaya/charging.
b) Syarat – Syarat Penomoran
Harus dibuat sependek mungkin ,Harus sesuai dengan sistem yang sudah
ada serta sesuai dengan penomoran international,Mudah dalam routing.
Mudah disesuaikan dengan [Link] aplikasi pada
mekanisme penyambungan telepon Setiap pelanggan dinyatakan dengan
nomor yang khusus untuk dia sendiri. Jika seseorang akan mengadakan
suatu sambungan telepon, maka ia mengangkat handset (off hook) dan
menunggu sampai terdengar nada pilihan (dial tone) yang menyatakan
bahwa alat – alat penyambungan sudah siap untuk menerima instuksi –
instruksi. Instruksi – instruksi inilah yang berupa nomor nomor yang
diputar atau ditekan (pesawat tombol tekan) oleh pelanggan
[Link] – nomor inilah yang akan memberikan informasi yang
dibutuhkan oleh alat – alat penyambung untuk mendapatkan jalan yang
akan dilalui serta untuk menentukan tarif dari pelanggan yang
[Link] nomor pelanggan yang satu berlainan dengan nomor
pelanggan yang lainnya, maka ada hubungan antara jumlah pelanggan
dengan nomor [Link] suatu sentral mempunyai kapasitas 100
sambungan, maka ia dapat melayani 100 pelanggan dengan nomor antara
00 sampai 99. Jika suatu sentral mempunyai kapasitas 1000 sambungan,
maka ia dapat melayani 1000 pelanggan dengan nomor antara 000 sampai
999, dst
c) Struktur Penomoran
Ilustrasi dari struktur penomoran adalah sebagai berikut: Nomor
Internasional adalah nomor Nasional ditambah dengan kode negara
(country code). Rekomendasi dari CCIT/ITU-T adalah bahwa panjang
nomor internasional tidak boleh lebih dari 12 digit dan panjang nomor
nasional tidak boleh lebih dari 10 [Link] Prefix: Digit yang
harus diputar oleh pelanggan yang akan mengadakan hubungan
internasional. Sentral yang akan menyambungkan pada peralatan outgoing
internasional secara otomatis. Trunk Prefix: Digit didepan nomor
pelanggan yang harus diputar bila ingin menghubungi pelanggan lainnya di
luar jaringan lokal. Trunk Code: Suatu digit atau kombinasi digit yang
menunjukan wilayah dari pelanggan yang dipanggil. Country Code: Digit
yang menyatakan negara yang dipanggil. Subscriber Number: Nomor yang
diputar atau dipanggil untuk menghubungi pelanggan dalam wilayah
layanan lokal yang sama.
d) Sistem Penomoran
Penomoran Khusus Dan Darurat: 1. Pelayanan Khusus Lokal 11x –
Pemadam Kebakaran (113) Pengaduan gangguan telepon (117). Pelayanan
Khusus Terpusat 10x – Penerangan Lokal (108) – Billing Telepon (109)
Untuk nomor pelanggan, CCITT/ITU-T membagi menjadi 2 sistem yang
dipakai yaitu:
1. Penomoran Uniform: Suatu sistem penomoran dimana panjang
atau banyaknya digit dari nomor pelanggan yang terletak di dalam
satu daerah penomoran lokal adalah sama
2. Penomoran Non Uniform: Apabila nomor pelanggannya yang
terletak pada satu daerah penomoran lokal mempunyai jumlah digit
atau panjang yang tidak sama.
Trunk Code terdiri dari 2 macam sistem: [Link] penentuan dengan cara sembarang,
adalah jika penentuan trunk code-nya dengan jalan tidak melihat peta geografisnya,
tergantung dari perkembangan dan kebutuhan yang ada [Link] yang
berturutan belum tentu daerahnya berdampingan atau berdekatan. 2. Sistem penentuan
dengan cara sematik, adalah jika penentuan trunk code-nya disesuaikan dengan peta
geografisnya Penomoran Pada Telepon Seluler. Berupa Mobile Subscriber
International ISDN Number (MSISDN):Merupakan nomor internasional untuk
terminal/pelanggan jaringan seluler. Terdiri Kode Negara (62untuk Indonesia) diikuti
oleh N(S)N-Mobil ,N(S)N-Mobil teridiri dari Kode Tujuan Nasional (NDC) dan
Nomor Pelanggan,Kode Tujuan Nasional .Setiap operator seluler diberi alokasi NDC
sendiri-sendiri terdiri atas 3 digit atau 4 digit ,digit terakhir berfungsi sebagai identitas
operator yang bersangkutan ,NDC 3 digit untuk operator seluler dengan cakupan
nasional sedangkan NDC 4 digit untuk operator seluler berlingkup regional
BAB 7
PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Routing adalah suatu protokol yang digunakan untuk mendapatkan
rute dari satu jaringan ke jaringan yang lain. Rute ini disebut dengan
route dan informasi route secara dinamis dapat diberikan ke router
yang lain ataupun dapat diberikan secara statis ke router lain.
Konsep dasar dari routing adalah bahwa router meneruskan paket-
paket IP berdasarkan pada IP address tujuan yang ada dalam header
IP paket. Dia mencocokkan IP address tujuan dengan routing table
dengan harapan menemukan kecocokan entri; suatu entri yang
menyatakan kepada router ke mana paket selanjutnya harus
diteruskan. Jika tidak ada kecocokan entri yang ada dalam routing
table, dan tidak ada default route, maka router tersebut akan
membuang paket tersebut. Untuk itu adalah sangat penting untuk
mempunyai isian routing table yang tepat dan benar. Agar isian pada
table routing tepat dan benar, maka perlu bantuan dari adminstrator
untuk mengisikannya, oleh karena itu routing