0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan42 halaman

Perkawinan Hukum Adat Tionghoa

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian perkawinan menurut hukum adat Tionghoa dan pencatatannya. Terdapat definisi perkawinan menurut para ahli hukum dan undang-undang. Perkawinan diartikan sebagai perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk membentuk keluarga bahagia. Hukum adat Tionghoa masih dipertahankan dan berkembang seiring perkembangan masyarakat Tionghoa.

Diunggah oleh

Stacy Dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan42 halaman

Perkawinan Hukum Adat Tionghoa

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian perkawinan menurut hukum adat Tionghoa dan pencatatannya. Terdapat definisi perkawinan menurut para ahli hukum dan undang-undang. Perkawinan diartikan sebagai perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk membentuk keluarga bahagia. Hukum adat Tionghoa masih dipertahankan dan berkembang seiring perkembangan masyarakat Tionghoa.

Diunggah oleh

Stacy Dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

26

BAB II

PERKAWINAN MENURUT HUKUM ADAT TIONGHOA DAN


PENCATATANNYA

A. Pengertian Perkawinan menurut Hukum Adat Tionghoa

Sudah menjadi kodrat Tuhan, bahwa dua orang manusia yang berlainan jenis

kelamin, laki-laki dan perempuan mempunyai keinginan yang sama, untuk saling

mengenal, mengamati, dan mencintai bahkan mereka juga mempunyai keinginan

yang sama untuk melangsungkan pernikahan. Apabila mereka melangsungkan

perkawinan, maka timbullah hak dan kewajiban antara suami dan istri secara timbal

balik, demikian juga apabila dalam perkawinan itu dilahirkan anak, maka akan juga

timbul hak dan kewajiban antara orang tua dan anak secara timbal balik.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata “nikah” sebagai perjanjian

antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami isteri atau sering diartikan pula

sebagai perkawinan. Para pakar hukum perkawinan Indonesia juga memberikan

definisi tentang perkawinan, antara lain sebagai berikut:

1. Menurut Wirjono Prodjodikoro, peraturan yang digunakan untuk mengatur

perkawinan inilah yang menimbulkan pengertian perkawinan.32

2. Menurut Sajuti Thalib, perkawinan adalah suatu perjanjian yang suci dan luas

dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dengan

32
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan Indonesia, (Bandung : Sumur, 1974), hal.6.

Universitas Sumatera Utara


27

seorang perempuan membentuk keluarga yang kekal, santun menyantuni,

kasih-mengasihi, tenteram dan bahagia.33

3. Menurut Imam Syafi’i, perkawinan adalah suatu akad yang dengannya menjadi

halal hubungan seksual antara laki-laki dengan seorang perempuan. 34

4. Menurut Hazairin menyatakan bahwa inti dari sebuah perkawinan adalah

hubungan seksual. Menurutnya tidak ada nikah (perkawinan) apabila tidak ada

hubungan seksual.35

5. Menurut Prof. Ibrahim Hosen, nikah menurut arti asli kata dapat juga berarti

akad dengannya menjadi halal kelamin antara pria dan wanita, sedangkan

menurut arti lain bersetubuh.36

6. Menurut Subekti, Perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang laki-laki

dengan seorang perempuan untuk waktu yang lama.

7. Menurut Ali Afandi, Perkawinan adalah persetujuan antara laki-laki dan

perempuan di dalam hukum keluarga. 37

8. Menurut Victor Situmorang, perkawinan dilangsungkan dengan persetujuan

timbal balik yang bebas yang tidak dapat digantikan oleh campur tangan

siapapun. Sebagai persetujuan timbal balik untuk hidup bersama, yang

hakikatnya adalah sosial dan penting bagi pergaulan hidup manusia.

33
Mohammad Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996),
hal.2.
34
Hosen Ibrahim, Figh Perbandingan dalam Masalah Nikah, Talak dan Rujuk, (Jakarta : Ihya
Ulumudin, 1971), hal. 65.
35
Hazairin, Hukum kekeluargaan Nasional Indonesia, (Jakarta : Tintamas, 1961), hal. 61.
36
Ibid., hal. 65.
37
Rusli, dan R. Tama, Perkawinan antar agama dan masalahnya, (Bandung : Shantika
Dharma, 1984), hal. 10.

Universitas Sumatera Utara


28

Persetujuan bebas suami isteri mempunyai akibat-akibat hukum. Perkawinan

diakui dan dilindungi hukum, oleh sebab itu perkawinan dapat dipandang

sebagai suatu kontrak, akan tetapi ia merupakan suatu kontrak tersendiri. 38

9. Menurut K. Wantjik Saleh, perkawinan adalah suatu perjanjian yang diadakan

oleh dua orang, dalam hal ini perjanjian antara seorang pria dengan seorang

wanita dengan tujuan material, yaitu membentuk keluarga (rumah tangga) yang

bahagia dan kekal itu haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai

azas pertama dalam Pancasila.39

10. Menurut Ali Afandi, perkawinan adalah persatuan seorang laki-laki dan

perempuan secara hukum untuk hidup bersama, hidup bersama ini dimaksudkan

untuk berlangsung selama-lamanya.40

Perbedaan pendapat-pendapat para ahli diatas tidak memperlihatkan adanya

pertentangan yang sungguh-sungguh antara pendapat yang satu dengan pendapat

yang lain. Perbedaan itu hanya terdapat pada keinginan para perumus untuk

memasukkan unsur yang sebanyak-banyaknya dalam merumuskan pengertian

perkawinan. Dalam pendapat-pendapat para ahli diatas terdapat kesamaan yaitu

bahwa perkawinan merupakan suatu perjanjian antara seorang laki-laki dengan

38
Victor Situmorang, Kedudukan Wanita di Mata Hukum, (Jakarta : Bina Aksara, 1998),
hal. 34.
39
K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1976),
hal. 15.
40
Ali Afandi, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian, (Jakarta : Rineka Cipta,
1997), hal. 95.

Universitas Sumatera Utara


29

seorang perempuan. Perjanjian perkawinan merupakan perjanjian suci untuk

membentuk keluarga yang bahagia, kekal, abadi untuk selamanya.

Pada prinsipnya, perkawinan atau nikah adalah suatu akad untuk

menghalalkan hubungan serta membatasi hak dan kewajiban, tolong menolong

antara laki-laki dan perempuan yang antara keduanya bukan muhrim. Apabila

ditinjau dari segi hukum, tampak jelas bahwa pernikahan adalah suatu akad suci

dan luhur antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sahnya status sebagai

suami isteri dan dihalalkannya hubungan seksual dengan tujuan mencapai keluarga

sakinah, penuh kasih sayang dan kebajikan serta saling menyantuni antara

keduanya.41

Dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

dirumuskan pengertian perkawinan yang didalamnya terkandung tujuan dan dasar

perkawinan dengan rumusan “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang

pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga

(Rumah Tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha

Esa.”

Jika diperhatikan bagian pertama pasal tersebut, perkawinan ialah ikatan

lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri.

Dari kalimat diatas, jelas bahwa perkawinan itu baru ada apabila dilakukan oleh

seorang lelaki dengan seorang perempuan. Seiring dengan perkembangan jaman,

41
Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, (Jakarta : Penerbit PT. Rineke Cipta, 1991,
cetakan I), hal 1.

Universitas Sumatera Utara


30

sering dijumpai di dalam masyarakat terdapat hubungan antara seorang pria dengan

seorang pria yang disebut homo seksual atau seorang wanita dengan seorang wanita

yang disebut lesbian, hubungan ini tidak dapat dilanjutkan ke jenjang perkawinan,

karena di negara Indonesia tidak mengatur perkawinan sesama jenis dan di dalam

hukum agamapun tidak diperbolehkan adanya perkawinan sesama jenis. Dengan

demikian di dalam pengertian perkawinan itu jelas terlihat adanya unsur ikatan

antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri.

Tujuan perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan berpegang kepada rumusan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun

1974 tentang Perkawinan yaitu pada bagian kalimat kedua yang berbunyi sebagai

berikut: ”dengan tujuan membentuk keluarga (Rumah Tangga) yang bahagia dan

kekal berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Rumusan tujuan perkawinan tersebut mengandung arti bahwa dengan

melangsungkan perkawinan, diharapkan akan memperoleh kebahagiaan lahir batin.

Kebahagiaan yang akan dicapai ini bukanlah kebahagian yang bersifat sementara

melainkan kebahagiaan yang bersifat kekal selamanya sampai kematian

memisahkan mereka berdua. Berdasarkan rumusan tersebut, maka Undang-Undang

membuat pembatasan yang ketat terhadap perceraian atau pemutusan perkawinan.

Masyarakat Tionghoa Indonesia adalah masyarakat patrilineal yang terdiri

atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial yang selanjutnya

Universitas Sumatera Utara


31

telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih

membawa dan mempercayai adat leluhurnya. 42

Hukum adat adalah hukum Indonesia asli yang tidak tertulis dalam bentuk

perundang-undangan Republik Indonesia yang disana-sini mengandung unsur

agama.43 Menurut Kusumadi Pudjosewojo bahwa “Adat ialah tingkah laku yang

oleh dan dalam suatu masyarakat (sudah, sedang, akan) diadakan. Dan adat itu ada

yang tebal, ada yang tipis, dan senantiasa menebal dan menipis. Aturan-aturan

tingkah laku manusia dalam masyarakat seperti yang dimaksudkan tadi adalah

aturan-aturan adat.”44

Hukum adat Tionghoa hidup dan berkembang seiring dengan perkembangan

masyarakat Tionghoa itu sendiri. Bertahan atau tidaknya sebahagian maupun

keseluruhan dari kebiasaan dan adat-istiadat Tionghoa tergantung kepada

masyarakat etnis Tionghoa itu sendiri, apakah masih sesuai adat-istiadat tersebut

untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengikuti perkembangan

dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Agama merupakan faktor penting yang

menentukan berlanjutnya kebiasaan budaya Tionghoa. Bagi keluarga yang

menganut kepercayaan Budha dan Tao misalnya, kedekatan dengan kebudayaan

42
K. Ginarti B, Adat Pernikahan, Majalah Jelajah Volume 3, Tahun 1999, tanggal 20
Desember 1999, hal. 12.
43
Sulaiman, B. Taneka, Hukum Adat Suatu Pengantar Awal dan Prediksi Masa Depan,
(Bandung : [Link], 1987), hal. 11.
44
Iman Sudiyat, Asas-Asas Hukum Adat Bekal Pengantar, (Yogyakarta : Liberty, 1978),
hal. 14.

Universitas Sumatera Utara


32

Tionghoa masih kuat karena banyak upacara keagamaan, seperti penggunaan hio

dalam pemujaan leluhur yang terkait dengan kebudayaan Tionghoa.45

Hukum adat Tionghoa tidak memberikan pengertian secara gamblang

mengenai definisi dari perkawinan. Namun dalam adat Tionghoa itu sendiri,

perkawinan merupakan suatu sarana bagi seorang laki-laki dan seorang wanita

untuk hidup bersama dan mendapatkan keturunan yang pada akhirnya akan

meneruskan marga dari si ayah.

Sistem kekeluargaan yang dianut dalam hukum adat Tionghoa adalah sistem

kekeluargaan patrilineal, yakni bahwa yang menentukan garis keturunan adalah dari

pihak laki-laki. Pihak laki-laki memegang peranan yang sangat penting dalam suatu

keluarga, artinya bahwa anak laki-laki memiliki posisi dan kedudukan yang

istimewa dalam keluarga karena merupakan penerus marga atau nama keluarga.

Ada atau tidaknya anak laki-laki yang lahir dari suatu perkawinan pada

masyarakat etnis Tionghoa sangat menentukan sekali diteruskan atau tidaknya

marga atau nama keluarga dari si ayah karena hanya anak laki-laki yang

meneruskan marga atau nama keluarga dari ayahnya, sedangkan anak perempuan

tidak dapat meneruskan marga atau nama keluarga dari ayahnya karena menurut

hukum keluarga atau aturan kekerabatan bangsa Cina, perempuan yang sudah

45
Aimee Dawis, Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas, (Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2010), hal. 21.

Universitas Sumatera Utara


33

menikah akan keluar dari keluarganya dan masuk dalam keluarga suami 46 sehingga

anak-anak yang lahir akan meneruskan marga atau nama keluarga suaminya pula.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian

perkawinan menurut hukum adat Tionghoa adalah ikatan lahir dan batin antara

seorang pria dengan seorang wanita untuk hidup bersama dalam membina rumah

tangga dan mendapatkan keturunan untuk meneruskan nama keluarga atau marga

dari ayahnya.

B. Syarat dan Prosesi Perkawinan menurut Hukum Adat Tionghoa

Dalam adat-istiadat Tionghoa sebenarnya tidak ada mengatur secara tertulis

mengenai syarat-syarat perkawinan, melainkan syarat-syarat perkawinan tersebut

hanya dilaksanakan secara terus menerus dan turun temurun dari generasi ke

generasi. Peran orang tua sangat besar dalam pelaksanaan maupun pelestarian adat

istiadat dalam perkawinan, terutama mengenai syarat-syarat perkawinan, antara lain

dengan memberitahukan kepada anak dan keturunannya serta menerapkannya

dalam perkawinan anak-anaknya.

Salah satu syarat perkawinan yang paling utama dilaksanakan dan dianut

sampai sekarang adalah calon mempelai yang satu marga dilarang untuk menikah.

Hal ini disebabkan karena mereka dianggap masih mempunyai hubungan darah satu

46
Natasya Yunita Sugiastuti, Tradisi Hukum Cina : Negara dan Masyarakat, Studi Mengenai
Peristiwa-Peristiwa Hukum di Pulau Jawa Zaman Kolonial (1870-1942), (Jakarta : Program Pasca
Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2003), hal. 342.

Universitas Sumatera Utara


34

dengan lainnya dan adanya anggapan bahwa perkawinan antara marga yang sama

dapat memberikan keturunan yang kurang baik.

Pada dasarnya syarat-syarat perkawinan dalam hukum adat Tionghoa sangat

dipengaruhi oleh pandangan masyarakat etnis Tionghoa itu sendiri, terutama

pandangan dari keluarga dan kedua calon mempelai. Secara garis besar, syarat-

syarat perkawinan dalam hukum adat Tionghoa sangat sederhana dan hanya

terfokus kepada cara pandang dan kebiasaan-kebiasaan serta adat istiadat dari suku

dan/atau keluarga. Tidak ada akibat dan sanksi hukum yang timbul apabila syarat-

syarat perkawinan tersebut tidak dipenuhi atau dilaksanakan oleh para pihak yang

melangsungkan perkawinan, akan tetapi hanya berupa sanksi sosial, seperti

cemoohan dari pihak keluarga maupun masyarakat.

Masyarakat keturunan Tionghoa dalam suatu perkawinan yang akan

dilaksanakan harus melalui tiga tahap upacara, yaitu: 47

a. Upacara adat Tionghoa

b. Upacara tata cara agama yang diyakini

c. Upacara pesta perkawinan (Resepsi Pernikahan)

Ketiga upacara itu tidak diharuskan dilaksanakan seluruhnya, karena di

dalam melakukan tiap-tiap upacara tersebut diperlukan biaya-biaya yang tidak

sedikit, kecuali memang tingkat ekonominya mendukung. Sekalipun hanya

melakukan upacara perkawinan secara adat saja maupun tata cara agama, tanpa

47
Vasanti Puspa, Kebudayaan Orang Tionghoa Indonesia, (Jakarta : Djambatan, 1996),
hal. 43.

Universitas Sumatera Utara


35

melaksanakan upacara pesta perkawinan, perkawinan tersebut telah dianggap sah

dalam masyarakat adat Tionghoa.

Upacara pernikahan merupakan adat perkawinan yang didasarkan atas dan

bersumber kepada kekerabatan, keleluhuran dan kemanusiaan serta berfungsi

melindungi keluarga. Upacara pernikahan tidaklah dilakukan secara seragam di

semua tempat, tetapi terdapat berbagai variasi yang disesuaikan dengan pandangan

mereka pada adat tersebut dan pengaruh adat lainnya pada masa lampau.

Pesta dan upacara pernikahan merupakan saat peralihan sepanjang

kehidupan manusia yang sifatnya universal. Perkawinan penting untuk

mengekalkan institusi keluarga. Melalui perkawinan, keturunan nenek moyang

dapat diteruskan daripada satu generasi kepada generasi yang lain. Walaupun

perkawinan pada masa kini perlu didaftarkan, tetapi upacara dan kenduri

perkawinan penting untuk mengikiraf perkawinan. 48 Oleh karena itu, upacara

perkawinan selalu ada pada hampir setiap kebudayaan. Demikian pula halnya

dengan adat pernikahan orang Tionghoa yang mempunyai upacara-upacara, antara

lain:

A. Upacara Adat Tionghoa

Upacara ini terdiri atas beberapa tahapan yaitu:49

48
Aan Wan Seng, [Link].
49
Hasil wawancara dengan Bapak Djohan Adjuan, Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu
Indonesia (Matakin) Medan, tanggal 15 Juli 2011.

Universitas Sumatera Utara


36

1. Melamar

Untuk menghindari kesia-siaan dan rasa malu, lazimnya lamaran

dilakukan setelah pihak keluarga pria mendapat kepastian bahwa

lamaran akan diterima. Ketika proses lamaran berlangsung pun, pihak

pelamar belum akan menyentuh makanan dan minuman yang disajikan

sebelum keluarga calon mempelai wanita memastikan lamaran telah

diterima. Saat akan pulang, ayah atau wali dari calon mempelai pria

akan menyelipkan angpau berisi uang di bawah cangkir teh yang

disajikan calon mempelai wanita sebagai tanda kasih kepada calon

menantu. Sebagai balasan, jika lamaran diterima, keluarga pengantin

wanita akan memberi perhiasan sebagai tanda ikatan.

2. Penentuan Hari Baik, Bulan Baik

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa dalam setiap melaksanakan suatu

upacara, harus dilihat hari dan bulannya. Apabila jam, hari dan bulan

pernikahan kurang tepat akan dapat mencelakakan kelanggengan

pernikahan mereka. Oleh karena itu harus dipilih jam, hari dan bulan

yang baik. Biasanya semuanya serba muda yaitu jam sebelum matahari

tegak lurus, hari tergantung perhitungan bulan Tionghoa, dan bulan

yang baik adalah bulan naik / menjelang purnama.

Universitas Sumatera Utara


37

3. Prosesi Seserahan Adat Tionghoa atau Sangjit

Sangjit merupakan tradisi hantaran rantang bambu yang disusun bulat

atau persegi empat, berisi aneka buah dan kue yang jumlahnya harus

genap. Namun, semua tergantung kemampuan calon mempelai pria.

Hantaran ini akan dibawa oleh para pria lajang. Tradisi ini diyakini akan

membuat para pembawa hantaran ini menjadi ”enteng jodoh”. Diantara

sekian banyak barang hantaran terdapat beberapa barang bermakna

simbolis.

Pada budaya Tionghoa suku tertentu, hantaran yang diterima tidak

diambil seluruhnya, melainkan hanya separuh. Bahkan, uang susu

sebagai ungkapan terima kasih kepada ibu pengantin wanita yang telah

membesarkan anak gadisnya sama sekali tidak diambil. Ini sebagai

isyarat si ibu tidak mempunyai pamrih atas jasa itu. Hantaran yang telah

diterima akan dibalas dengan hantaran pula.

Dalam rangkaian adat Tionghoa, Sangjit dilakukan setelah acara

lamaran. Hari dan waktu yang baik untuk melakukan Sangjit ini

ditetapkan pada saat proses lamaran tersebut. Dalam prakteknya, Sangjit

sering ditiadakan atau digabung dengan lamaran. Namun sayang rasanya

meniadakan prosesi yang satu ini, karena makna yang terkandung di

dalamnya sebenarnya sangat indah. 50

50
Hasil wawancara dengan Ibu Liany, anggota Perhimpunan Marga Tjeng Indonesia, tanggal
20 Juli 2011.

Universitas Sumatera Utara


38

4. Menata kamar pengantin

Seusai melaksanakan prosesi sangjit, keluarga calon pengantin pria akan

mempersiapkan ranjang baru untuk kamar pengantin. Ada tradisi unik,

anak-anak akan diminta meloncat-loncat di atas ranjang pengantin

sebelum ranjang ditata. Selain bisa untuk menguji kekuatan ranjang, ada

mitos tradisi ini bisa membuat pengantin cepat mendapat momongan.

5. Menyalakan Lilin

Ada keharusan bagi orang tua kedua calon pengantin untuk menyalakan

lilin perkawinan beberapa hari menjelang pernikahan digelar. Nyala lilin

perkawinan dipercaya bisa mengusir pengaruh buruk yang dapat

mengacaukan jalannya prosesi pernikahan. Biasanya lilin dinyalakan

mulai pukul satu dini hari. Lilin harus tetap menyala hingga tiga hari

setelah pernikahan. 51

6. Siraman

Siraman dalam tradisi masyarakat Tionghoa diawali dengan

sembahyang dan penghormatan kepada leluhur. Setelah itu, barulah

mempelai wanita dimandikan dengan air yang telah dibubuhi

wewangian alami. Selain untuk membersihkan mempelai dan

membuatnya wangi, ritual ini juga bermaksud mengusir pengaruh jahat

yang bisa mengganggu mempelai.

51
Hasil wawancara dengan Ibu Liany, anggota Perhimpunan Marga Tjeng Indonesia, tanggal
20 Juli 2011.

Universitas Sumatera Utara


39

7. Menyisir rambut atau chio thao

Chio thao biasanya dilakukan oleh orang yang telah menikah dan

memiliki keturunan. Mempelai akan disisir sebanyak tiga kali.

Mempelai yang akan menjalani prosesi ini didudukkan di atas kursi

yang telah dialasi tampah besar bergambar yin-yang. Dihadapan mereka

terdapat meja kecil yang diatasnya telah diletakkan penakar beras yang

terisi penuh oleh beras dan sembilan benda simbolis, yaitu timbangan

obat khas China, alat pengukur panjang, cermin, sisir, gunting, pedang,

pelita. Selain itu, terdapat juga benang sutra yang terdiri dari lima

warna. Semua benda-benda ini mengandung makna ajaran moral bagi

calon pengantin untuk membereskan segala keruwetan rumah tangga

yang akan dihadapi serta mampu menimbang baik-buruknya suatu

tindakan.

8. Makan 12 sayur

Memasuki detik-detik penyambutan pengantin pria, mempelai wanita

yang telah dipakaikan busana pengantin oleh orang tuanya, dibimbing

menuju meja makan. Diatas meja telah tersaji 12 mangkuk yang masing-

masing berisi satu jenis masakan yang memiliki rasa yang berbeda-beda.

Manis, asin, asem, pedas, pahit, gurih, dan sebagainya. Semua rasa ini

menjadi pelambang suka-duka hidup berumah tangga yang harus

Universitas Sumatera Utara


40

dijalani dan dinikmati. Pengantin pria juga menjalani prosesi yang

sama di rumahnya, sebelum berangkat menuju rumah pengantin wanita.

9. Penjemputan Mempelai Wanita

Mempelai pria yang datang untuk menjemput mempelai wanita akan

disambut dengan taburan beras kuning, biji buncis merah dan hijau,

uang logam, serta bunga. Aneka taburan ini bermakna kesejahteraan

yang melimpah bagi mempelai. Masih dalam keadaan wajah ditutupi

kerudung, mempelai wanita dipertemukan dengan pengantin pria yang

telah datang menjemput. Dalam prosesi ini, kerudung pelambang

kesucian belum boleh dibuka.

10. Penyambutan Pengantin Wanita

Di rumah segala keperluan untuk menyambut kedatangan pengantin

telah dipersiapkan. Begitu rombongan pengantin datang, di muka pintu,

ibu dan nenek pengantin pria yang telah menunggu akan menyambut

dengan taburan beras kuning, biji kacang buncis hijau dan merah

sebagai simbol kesuburan, serta uang logam sebagai lambang rezeki dan

kemakmuran. Setelah pasangan pengantin masuk rumah, keduanya akan

dibimbing menuju kamar, barulah kerudung pengantin wanita boleh

dibuka.

Universitas Sumatera Utara


41

B. Upacara Tata Cara Agama yang Diyakini

1. Upacara Sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa dan/atau Leluhur

("Cio Tao")

Di pagi hari pada upacara hari pernikahan, diadakan Cio Tao. Namun,

adakalanya upacara sembahyang Tuhan ini diadakan pada tengah malam

menjelang pernikahan. Selain menyembahyangi Tuhan Yang Maha Esa,

calon pengantin pria dan wanita juga memberi hormat kepada para

leluhur dari calon pengantin pria dan juga para leluhur dari calon

mempelai wanita dengan disaksikan orangtua dan sanak keluarga

sebagai persyaratan sahnya perkawinan mereka secara adat dan

kepercayaan.

Meja sembahyang yang digunakan berwarna merah 3 tingkat. Di

bawahnya diberi 7 macam buah. Di bawah meja harus ada jambangan

berisi air, rumput berwarna hijau yang melambangkan alam nan

makmur. Di belakang meja ada tampah dengan garis tengah 2 meter dan

di atasnya ada tong kayu berisi sisir, timbangan, sumpit, dll. yang

semuanya itu melambangkan kebaikan, kejujuran, panjang umur dan

setia.

Kemudian selain melakukan acara sembahyang di rumah masing-

masing, acara tata cara agama juga dapat dan hendaknya dilaksanakan di

lembaga keagamaan, seperti Vihara misalnya, karena dari Vihara

Universitas Sumatera Utara


42

tersebut akan dikeluarkan Surat Keterangan Perkawinan yang akan

diperlukan untuk melakukan pencatatan perkawinan.

Persyaratan administrasi yang diperlukan untuk pelaksanaan pernikahan

secara agama Budha, yakni dengan melampirkan dokumen-dokumen

berikut:52

a. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk masing-masing calon


mempelai pria dan wanita yang masih berlaku sebanyak 2
lembar ;
b. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk orang tua dan/atau wali dari
calon mempelai pria dan wanita sebanyak 2 lembar ;
c. Fotokopi Akta Kelahiran masing-masing calon mempelai pria
dan wanita sebanyak 2 lembar ;
d. Fotokopi Kartu Keluarga masing-masing calon mempelai pria
dan wanita sebanyak 2 lembar ;
e. Fotokopi Kartu Tisarana masing-masing calon mempelai pria
dan wanita (bila belum ada dapat mengambil Tisarana sebelum
upacara tata cara agama dilakukan) ;
f. Pas Foto warna berukuran 2 x 3 masing-masing 3 lembar ;
g. Fotokopi Undangan Pernikahan sebanyak 2 lembar ;
h. Fotokopi Surat Ganti Nama sebanyak 2 lembar (jika ada).

Selain itu, guna melakukan pencatatan sipil diperlukan dokumen-

dokumen tambahan, yakni:53

a. Fotokopi Surat Keterangan Bukti Kewarganegaraan Indonesia


dari kedua orang tua calon mempelai pria dan wanita sebanyak
2 lembar ;
b. Fotokopi Akta Kelahiran kedua orang tua calon mempelai pria
dan wanita sebanyak 2 lembar ;
c. Pas Foto warna berukuran 6 x 4 kedua orang tua calon
mempelai pria dan wanita sebanyak 3 lembar ;

52
Wawancara dengan Bapak Iwan, Pengurus Vihara Borobudur bagian Perkawinan dan
Pencatatan Sipil, tanggal 10 Agustus 2011.
53
Wawancara dengan Bapak Iwan, Pengurus Vihara Borobudur bagian Perkawinan dan
Pencatatan Sipil, tanggal 10 Agustus 2011.

Universitas Sumatera Utara


43

d. Fotokopi Surat Ganti Nama kedua orang tua calon mempelai


pria dan wanita sebanyak 2 lembar (jika ada) ;
e. Fotokopi paspor (jika merupakan Warga Negara Asing) ;
f. Surat asli dan fotokopi Surat Keterangan Lurah sebanyak 2
lembar, yang antara lain menerangkan bahwa status calon
mempelai belum pernah menikah (hanya berlaku 3 bulan).

2. Penghormatan kepada Orang tua dan Keluarga

Setelah selesai ritual sembahyang, dilanjutkan dengan penghormatan

kepada kedua orang tua, keluarga dan kerabat dekat yang lebih tua dari

kedua calon mempelai. Penghormatan dilakukan dengan menuangkan

secangkir teh hangat (Phang Teh) untuk diminum oleh kedua orang tua,

keluarga dan kerabat dekat yang lebih tua sebagai wujud restu atas

pernikahan yang mereka lakukan sambil mengelilingi tampah dan

berlutut serta bersujud. Upacara ini sangat sakral dan merupakan salah

satu acara yang paling penting dalam perkawinan adat Tionghoa. Setiap

penghormatan akan dibalas dengan "ang pauw", baik berupa uang

maupun emas.

C. Upacara Pesta Pernikahan (Resepsi Pernikahan)

Selesai upacara penghormatan, pada malam hari dilanjutkan dengan resepsi

pernikahan yang biasanya diselenggarakan di restoran maupun di rumah

dengan mengundang sanak keluarga dan teman-teman dari calon pengantin

maupun kedua orang tuanya. Dalam acara resepsi pernikahan ini dilakukan

Universitas Sumatera Utara


44

pemotongan kue pernikahan (Wedding Cake), acara makan dan hiburan, serta

kedua mempelai wanita dan pria beserta kedua orang tua dan keluarga dekat

duduk bersama dalam satu meja yang diberikan kain merah sebagai taplak

meja sebagai lambang kebersamaan dalam kebahagian.

D. Tul Sam Ciao (membawa pulang calon mempelai wanita)

Setelah segala upacara-upacara tersebut diatas selesai dilakukan, maka tiba

saat perpisahan calon mempelai wanita kepada kedua orang tuanya dan

melanjutkan hidup sebagai isteri serta menantu keluarga mempelai pria. Mulai

saat itulah, mempelai wanita tinggal bersama dan serumah dengan keluarga

mempelai laki-laki.

C. Akibat Hukum Perkawinan menurut Hukum Adat Tionghoa

Akibat hukum yang timbul dari suatu perkawinan menurut hukum adat

Tionghoa berbeda dengan akibat hukum yang timbul dari suatu perkawinan yang

dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan. Perbedaan paling mendasar terletak pada kepastian hukumnya.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan jelas mengatur

mengenai akibat-akibat hukum suatu perkawinan, mulai dari hak dan kewajiban

suami isteri dan anak serta mengenai harta benda perkawinan sedangkan akibat

hukum perkawinan menurut hukum adat Tionghoa lebih cenderung kepada

Universitas Sumatera Utara


45

pertanggungjawaban moral karena tidak adanya hukum tertulis yang mengatur

masalah ini secara tegas. Jadi mengenai hak dan kewajiban suami, isteri dan anak-

anak serta harta benda perkawinan dilaksanakan berdasarkan kebiasaan-kebiasaan

dalam adat-istiadat Tionghoa.

Perkawinan yang dilaksanakan menurut hukum adat Tionghoa menimbulkan

akibat-akibat hukum sebagai berikut:

a. Terhadap suami dan isteri

Menurut hukum adat Tionghoa, seorang suami merupakan kepala keluarga

dan kepala rumah tangga, serta merupakan pengambil keputusan mutlak dalam

keluarga. Hal ini sebagai pengaruh sistem kekeluargaan patrilineal yang dianut oleh

masyarakat Tionghoa yang mana anak laki-laki sebagai penerus marga atau nama

keluarga.

Suami berkewajiban melindungi dan memberikan nafkah lahir dan batin

kepada isterinya, termasuk memenuhi segala keperluan berumah tangga sesuai

dengan kemampuannya. Demikian juga sebaliknya, isteri juga berkewajiban

memenuhi nafkah lahir dan batin kepada suaminya, mengurus rumah tangga dengan

baik serta memberikan keturunan.

b. Terhadap anak

Menurut hukum adat Tionghoa, anak yang lahir dalam suatu perkawinan

yang dilaksanakan menurut hukum adat adalah merupakan anak sah. Orang tua

Universitas Sumatera Utara


46

berkewajiban memelihara dan memberikan penghidupan serta pendidikan yang baik

dan layak kepada anak-anaknya, sesuai dengan kemampuan orang tua tersebut.

Kedudukan dan hak anak laki-laki dalam hukum adat Tionghoa lebih

istimewa dibandingkan dengan anak perempuan. Demikian juga halnya dalam

mewarisi harta warisan dari orang tuanya, hanya anak laki-laki yang berhak untuk

menjadi ahli waris, sedangkan kepada anak perempuan biasanya dianggap telah

cukup dengan membekalinya dengan pendidikan yang cukup serta pemberian

perhiasan maupun uang pada saat anak perempuan itu menikah. Anak perempuan

tidak mempunyai hak untuk mewaris karena anak perempuan yang sudah menikah

dianggap telah keluar dari rumah dan masuk ke dalam keluarga suaminya, kecuali

apabila anak perempuan tersebut merupakan anak tunggal atau anak satu-satunya.

Terutama terhadap harta warisan yang telah diwarisi secara turun-temurun,

misalnya rumah peninggalan leluhur, anak laki-laki tertua yang berhak untuk

mengurusi dan menguasai secara bersama-sama anak laki-laki yang lain. Selain itu

dalam setiap acara adat dan keluarga, pengambilan keputusan didasarkan kepada

keputusan dan sepakat para anak laki-laki.

Dalam perkembangannya, masyarakat Tionghoa mulai menyadari dan

kemudian terjadi pergeseran nilai tentang kedudukan anak laki-laki dan anak

perempuan. Anak perempuanpun dalam masa sekarang ini banyak yang

dipertimbangkan untuk diberikan bagian harta warisan oleh orang tuanya, meskipun

Universitas Sumatera Utara


47

masih banyak yang tetap mempertahankan adat istiadat Tionghoa sehingga anak

perempuan cukup dibekali pendidikan dan perhiasan atau uang saat ia menikah.

c. Terhadap harta benda perkawinan

Akibat hukum perkawinan yang dilangsungkan menurut hukum adat

Tionghoa terhadap harta benda perkawinan adalah sama dengan akibat hukum

perkawinan terhadap harta benda perkawinan yang diatur dalam Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Akibat-akibat hukum tersebut antara lain

dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Harta bawaan suami yang telah ada sebelum berlangsungnya perkawinan tetap

berada dalam penguasaan dan menjadi hak sepenuhnya dari suami.

2. Harta bawaan isteri yang telah ada sebelum berlangsungnya perkawinan tetap

berada dalam penguasaan dan menjadi hak sepenuhnya dari isteri.

3. Harta benda yang didapat selama berlangsungnya perkawinan menjadi hak

dari suami dan isteri bersama-sama dan digunakan sepenuhnya untuk

keperluan rumah tangga sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anak.

Adapun mengenai harta benda yang didapat selama berlangsungnya

perkawinan, suami memiliki kedudukan yang lebih dominan. Penggunaan harta

benda perkawinan tersebut oleh isteripun harus seizin dan mendapat persetujuan

dari suami. Isteri tidak memiliki wewenang penuh untuk menggunakan harta benda

perkawinan tersebut, sedangkan sebaliknya terhadap wewenang suami dalam

Universitas Sumatera Utara


48

mempergunakan harta benda perkawinan tersebut. Suami memiliki wewenang

penuh dan tidak memerlukan persetujuan isteri sekalipun dalam menggunakan harta

benda yang diperoleh semasa perkawinan tersebut.

D. Pencatatan Perkawinan

1. Pengertian Pencatatan Perkawinan

Peristiwa hukum perkawinan, seperti juga peristiwa-peristiwa hukum yang

lain dalam kehidupan seseorang misalnya kelahiran, kematian, perceraian dan

penggantian nama memerlukan pencatatan di Kantor Catatan Sipil untuk

memperoleh kepastian hukum bahwa telah terjadi suatu perkawinan. Kepastian

hukum sangat penting artinya dalam setiap perbuatan hukum, yakni untuk

menentukan hak dan kewajiban yang sah antara pihak-pihak yang berhubungan

hukum tersebut.

Menurut Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan

dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil bahwa Pencatatan Sipil

adalah pencatatan Peristiwa Penting yang dialami oleh seseorang dalam register

Pencatatan Sipil pada Instansi Pelaksana.54 Sedangkan Peristiwa Penting adalah

kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati,

54
Pasal 1 angka 14 Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.

Universitas Sumatera Utara


49

perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak,

perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan. 55

Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil bertujuan untuk memberikan

keabsahan identitas dan kepastian hukum atas dokumen penduduk, perlindungan

status hak sipil penduduk, dan mendapatkan data yang mutakhir, benar dan

lengkap.56

Menurut Arso Sastroatmodjo dan H.A. Wasit Aulawi mengatakan bahwa,

“pencatatan perkawinan merupakan suatu tindakan dari instansi yang diberikan

tugas untuk mencatat perkawinan dan perceraian, dilakukan menurut ketentuan

yang berlaku dicatat dalam buku register.” 57

Sedangkan M. Yahya Harahap mengemukakan bahwa pencatatan

perkawinan adalah “tindakan administratif yang mengharapkan pegawai catatan

sipil untuk melakukan pencatatan tentang peristiwa penting yang dimuat dalam

register perkawinan.”58

Dari pendapat-pendapat yang telah dikemukakan diatas, maka dapat diambil

beberapa kesimpulan mengenai pencatatan perkawinan, yakni:

a. Pencatatan perkawinan adalah suatu tindakan administratif.

b. Pencatatan perkawinan harus dilakukan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan.

55
Pasal 1 angka 16 Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
56
Pasal 2 Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara
Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
57
Arso Sastroatmodjo dan H.A. Wasit Aulawi, [Link]., hal. 31.
58
M. Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional, (Medan : CV. Zahir Trading Co., 1975),
hal. 56.

Universitas Sumatera Utara


50

c. Pencatatan perkawinan harus berdasarkan atas ketentuan perundang-

undangan.

2. Pencatatan Perkawinan menurut Peraturan Perundang-undangan yang

Berlaku di Indonesia

Keharusan melakukan pencatatan perkawinan diatur dalam Penjelasan

Umum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang

menyatakan bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut

hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, dan disamping itu tiap-

tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selanjutnya dijelaskan bahwa pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya

dengan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran,

kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akta resmi yang juga

dimuat dalam pencatatan. 59 Jadi jelas bahwa pencatatan perkawinan adalah sebagai

pencatatan peristiwa penting, bukan pencatatan peristiwa hukum.

Fungsi dan kedudukan pencatatan perkawinan, menurut Bagir Manan,

adalah untuk menjamin ketertiban hukum (legal order) yang berfungsi sebagai

instrumen kepastian hukum, kemudahan hukum, disamping sebagai salah satu alat

bukti perkawinan. Oleh karena itu, jika terjadi pasangan yang telah melakukan

59
Penjelasan Umum angka 4 huruf b Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan.

Universitas Sumatera Utara


51

perkawinan yang sah menurut agama, karena itu telah sah pula menurut Pasal 2 ayat

(1), tetapi belum dicatat, maka cukup dilakukan pencatatan. 60

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak

mengatur mengenai perkawinan yang tidak dicatatkan tersebut, sehingga

menimbulkan berbagai pendapat mengenai pencatatan perkawinan, yang dapat

dikelompokkan menjadi 2 (dua), yakni:

1. Ahli hukum yang berpegang pada cara penafsiran legisme 61.

Mereka berpendapat bahwa perkawinan yang dilakukan menurut cara

berdasarkan aturan agama dan keyakinan kedua belah pihak yang melakukan

perkawinan adalah sah. Pencatatan perkawinan bukanlah syarat sah

perkawinan, tetapi hanya sebagai syarat kelengkapan administrasi

perkawinan.62

2. Ahli hukum yang berpegang pada cara penafsiran sistematis 63.

Mereka berpendapat bahwa pencatatan perkawinan adalah syarat sahnya

sebuah perkawinan. Pencatatan perkawinan menentukan sah atau tidaknya

perkawinan. Menurut pendapat ini, kedua ayat dari Pasal 2 Undang-Undang

Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan harus dibaca sebagai satu kesatuan.

60
Bagir Manan, [Link], hal. 6.
61
Penafsiran Legisme adalah penafsiran yang didasarkan hanya kepada Undang-Undang,
diluar Undang-Undang tidak ada hukum.
62
Jaih Mubarok, Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia, (Bandung : Pustaka Bani
Quraisy, 1999), hal. 73.
63
Penafsiran Sistematis adalah penafsiran Undang-Undang dengan menghubungkan pasal
yang satu dengan pasal lainnya atau penjelasannya dalam peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan atau dalam peraturan perundang-undangan lain yang saling menjelaskan dan merupakan
satu kesatuan.

Universitas Sumatera Utara


52

Artinya perkawinan yang dilangsungkan menurut agama dan kepercayaannya

itu harus disusul dengan pencatatan, karena menurut pendapat ini akta

perkawinan merupakan bukti satu-satunya suatu perkawinan. 64 Oleh karena

itu, perkawinan yang tidak dicatat (perkawinan dibawah tangan) dianggap

tidak mempunyai kekuatan hukum.

Pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan, menentukan: "tiap-tiap perkawinan dicatat menurut perundang-

undangan yang berlaku", namun di dalam penjelasan tidak dijelaskan lebih lanjut

tentang pendaftaran ini. Selanjutnya setahun kemudian, yaitu pada tahun 1975,

diundangkan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan, yang dikenal dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun

1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan.

Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, menentukan tentang

lembaga Pencatatan Perkawinan yang berbeda bagi yang beragama Islam dan non-

Islam. Bagi yang beragama Islam pencatatan perkawinannya dilakukan oleh

Pegawai Pencatat Perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk, yaitu Kantor

Urusan Agama. Sedangkan bagi mereka yang melangsungkan perkawinannya

64
Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata , (Bandung : Alumni, 1985),
hal.80.

Universitas Sumatera Utara


53

menurut agamanya dan kepercayaannya itu selain agama Islam, dilakukan oleh

Pegawai Pencatat Perkawinan pada Kantor Catatan Sipil sebagaimana dimaksud

dalam berbagai perundang-undangan mengenai pencatatan perkawinan. 65

Penjelasan dari Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975

tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

menentukan “dengan adanya ketentuan tersebut dalam Pasal ini, maka pencatatan

perkawinan dilakukan hanya oleh dua instansi, yakni Pegawai Pencatat Nikah,

Talak dan Rujuk dan Kantor Catatan Sipil atau Instansi / Pejabat yang

membantunya". Jadi kedua lembaga itu, berfungsi ‘hanya mencatatkan’ perkawinan

yang telah dilangsungkan secara sah.

Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan

kehendaknya itu kepada Pegawai Pencatat di tempat perkawinan akan

dilangsungkan. Pemberitahuan tersebut dilakukan sekurang-kurangnya 10 (sepuluh)

hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan. Pengecualian terhadap jangka waktu

tersebut disebabkan sesuatu alasan yang penting diberikan oleh Camat atas nama

bupati kepala daerah. 66 Pemberitahuan dapat dilakukan secara lisan atau tertulis

oleh calon mempelai, atau oleh orang tua atau wakilnya. 67 Pemberitahuan memuat

nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat kediaman calon mempelai dan

65
Pasal 2 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
66
Pasal 3 ayat (1), (2) dan (3) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
67
Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Universitas Sumatera Utara


54

apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin, disebutkan juga nama istri atau

suaminya terdahulu.68

Pegawai Pencatat yang menerima pemberitahuan kehendak melangsungkan

perkawinan, meneliti apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah

tidak terdapat halangan perkawinan menurut Undang-Undang. Selain penelitian

terhadap hal sebagai dimaksud dalam ayat (1), Pegawai Pencatat meneliti pula:69

a. Kutipan akta kelahiran atau surat kenal lahir calon mempelai. Dalam hal
tidak ada akta kelahiran atau surat kenal lahir, dapat dipergunakan surat
keterangan yang menyatakan umur dan asal-usul calon mempelai yang
diberikan oleh Kepala Desa atau yang setingkat dengan itu ;
b. Keterangan mengenai nama, agama/kepercayaan, pekerjaan dan tempat
tinggal orang tua calon mempelai ;
c. Izin tertulis / izin Pengadilan sebagai dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2),
(3), (4) dan (5) Undang-Undang, apabila salah seorang calon mempelai
atau keduanya belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun ;
d. Izin Pengadilan sebagai dimaksud Pasal 4 Undang-Undang ; dalam hal
calon mempelai adalah seorang suami yang masih mempunyai isteri ;
e. Dispensasi Pengadilan / Pejabat sebagai dimaksud Pasal 7 ayat (2)
Undang-undang ;
f. Surat kematian isteri atau suami yang terdahulu atau dalam hal
perceraian surat keterangan perceraian, bagi perkawinan untuk kedua
kalinya atau lebih ;
g. Izin tertulis dari Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri HANKAM /
PANGAB, apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya anggota
Angkatan Bersenjata ;
h. Surat kuasa otentik atau di bawah tangan yang disahkan oleh Pegawai
Pencatat, apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya tidak
dapat hadir sendiri karena sesuatu alasan yang penting, sehingga
mewakilkan kepada orang lain.

68
Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
69
Pasal 6 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Universitas Sumatera Utara


55

Hasil penelitian sebagai dimaksud dalam Pasal 6, oleh Pegawai Pencatat

ditulis dalam sebuah daftar yang diperuntukkan untuk itu. Apabila ternyata dari

hasil penelitian terdapat halangan perkawinan sebagai dimaksud Undang-Undang

dan/atau belum dipenuhinya persyaratan tersebut dalam Pasal 6 ayat (2) Peraturan

Pemerintah ini, keadaan itu segera diberitahukan kepada calon mempelai atau

kepada orang tua atau kepada wakilnya. 70

Setelah dipenuhinya tata cara dan syarat-syarat pemberitahuan serta tiada

sesuatu halangan perkawinan, Pegawai Pencatat menyelenggarakan pengumuman

tentang pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan dengan cara

menempelkan surat pengumuman menurut formulir yang ditetapkan pada kantor

Pencatatan Perkawinan pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan mudah dibaca

oleh umum.71 Pengumuman ditandatangani oleh Pegawai Pencatat dan memuat:72

a. Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat kediaman dari calon

mempelai dan dari orang tua calon mempelai; apabila salah seorang atau

keduanya pernah kawin disebutkan nama isteri dan atau suami mereka

terdahulu ;

b. Hari, tanggal, jam dan tempat perkawinan akan dilangsungkan.

70
Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
71
Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
72
Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Universitas Sumatera Utara


56

Perkawinan dilangsungkan setelah hari kesepuluh sejak pengumuman

kehendak perkawinan oleh Pegawai Pencatat seperti yang dimaksud dalam Pasal 8

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Tata cara perkawinan dilakukan menurut

hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Dengan mengindahkan

tata cara perkawinan menurut masing-masing hukum agamanya dan

kepercayaannya itu, perkawinan dilaksanakan dihadapan Pegawai Pencatat dan

dihadiri oleh dua orang saksi.73

Sesaat sesudah dilangsungkannya perkawinan sesuai dengan ketentuan-

ketentuan tersebut, kedua mempelai menandatangani akta perkawinan yang telah

disiapkan oleh Pegawai Pencatat berdasarkan ketentuan yang berlaku. Akta

perkawinan yang telah ditandatangani oleh mempelai itu, selanjutnya

ditandatangani pula oleh kedua saksi dan Pegawai Pencatat yang menghadiri

perkawinan dan bagi yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam,

ditandatangani pula oleh wali nikah atau yang mewakilinya. Dengan

penandatanganan akta perkawinan, maka perkawinan telah tercatat secara resmi. 74

Akta perkawinan dibuat dalam rangkap 2 (dua), helai pertama disimpan

oleh Pegawai Pencatat dan helai kedua disimpan pada Panitera Pengadilan dalam

wilayah Kantor Pencatatan Perkawinan itu berada. Kepada suami dan istri

73
Pasal 10 ayat (1), (2) dan (3) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
74
Pasal 11 ayat (1), (2) dan (3) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Universitas Sumatera Utara


57

masing-masing diberikan kutipan akta perkawinan. 75 Akta perkawinan tersebut

memuat :76

a. Nama, tanggal dan tempat lahir, agama/kepercayaan, pekerjaan dan


tempat kediaman suami-isteri ;
Apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin, disebutkan juga
nama isteri atau suami terdahulu.
b. Nama, agama/kepercayaan, pekerjaan dan tempat kediaman orang tua
mereka ;
c. Izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (2), (3), (4), dan (5)
Undang-Undang ;
d. Dispensasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (2) Undang-
Undang ;
e. Izin pengadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 Undang-Undang ;
f. Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) Undang-
Undang ;
g. Izin dari Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri HANKAM/PANGAB bagi
anggota Angkatan Bersenjata ;
h. Perjanjian perkawinan apabila ada ;
i. Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan dan tempat kediaman para
saksi dan wali nikah bagi yang beragama Islam ;
j. Nama, umur, agama/kepercayaan, perkerjaan dan tempat kediaman
kuasa apabila perkawinan dilakukan melalui seorang kuasa.

Kemudian dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia

Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk

dan Pencatatan Sipil, turut diatur mengenai syarat-syarat dan tata cara guna

melakukan pencatatan perkawinan, antara lain pencatatan perkawinan dilakukan di

Instansi Pelaksana atau UPTD Instansi Pelaksana77 tempat terjadinya perkawinan.78

75
Pasal 13 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
76
Pasal 12 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
77
“Unit Pelaksana Teknis Dinas Instansi Pelaksana, selanjutnya disingkat UPTD Instansi
Pelaksana, adalah satuan kerja di tingkat kecamatan yang melaksanakan pelayanan Pencatatan Sipil
dengan kewenangan menerbitkan akta.” Lihat Pasal 1 angka 21 Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun
2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil juncto Pasal 1

Universitas Sumatera Utara


58

Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan

memenuhi syarat berupa:79

a. Surat keterangan telah terjadinya perkawinan dari pemuka


agama/pendeta atau surat perkawinan Penghayat Kepercayaan yang
ditandatangani oleh Pemuka Penghayat Kepercayaan;
b. KTP suami dan isteri;
c. Pas foto suami dan isteri;
d. Kutipan Akta Kelahiran suami dan isteri;
e. Paspor bagi suami atau isteri Orang Asing.

Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan

dengan tata cara: 80

a. Pasangan suami dan isteri mengisi formulir pencatatan perkawinan


pada UPTD Instansi Pelaksana atau pada Instansi Pelaksana dengan
melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2);
b. Pejabat Pencatatan Sipil pada UPTD Instansi Pelaksana atau Instansi
Pelaksana mencatat pada Register Akta Perkawinan dan menerbitkan
Kutipan Akta Perkawinan;
c. Kutipan Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud pada huruf b
diberikan kepada masing-masing suami dan isteri;
d. Suami atau istri berkewajiban melaporkan hasil pencatatan perkawinan
kepada Instansi Pelaksana atau UPTD Instansi Pelaksana tempat
domisilinya.

Pasal 45 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 menentukan hukuman

terhadap orang yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 3 Peraturan

Pemerintah tersebut, yang memuat ketentuan tentang orang yang akan

angka 6 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2010 tentang Pedoman Pencatatan
Perkawinan dan Pelaporan Akta yang Diterbitkan oleh Negara Lain.
78
Pasal 67 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
79
Pasal 67 ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
80
Pasal 67 ayat (3) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.

Universitas Sumatera Utara


59

melangsungkan perkawinan harus memberitahukan kehendaknya kepada Pegawai

Pencatat Nikah dan Pasal 10 ayat (3) tentang tata cara perkawinan menurut masing-

masing agamanya dan kepercayaannya itu dilaksanakan dihadapan Pegawai

Pencatat Nikah dan dihadiri oleh dua orang saksi serta Pasal 40 tentang poligami

oleh suami tanpa izin pengadilan, dihukum dengan hukuman denda paling banyak

Rp.7.500,00 (tujuh ribu lima ratus rupiah).

Orang yang dapat dijatuhi hukuman denda menurut Pasal 45 Peraturan

Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dapat dilihat dari ketentuan Pasal 3 ayat (1)

Peraturan Pemerintah tersebut, yakni setiap orang yang akan melangsungkan

perkawinan, antara lain calon mempelai laki-laki dan calon mempelai perempuan.

3. Kebiasaan Masyarakat Hukum Adat Tionghoa dalam Pencatatan

Perkawinan di Indonesia

Dengan berlakunya hukum perdata Eropa mengenai hukum keluarga, maka

berdasarkan Stb. 1917 : 129, perkawinan menurut hukum adat Cina harus

ditinggalkan. Sebelum tanggal 1 Mei 1919 perkawinan orang Cina dilangsungkan

menurut hukum adatnya. 81 Setelah tanggal 1 Mei 1919 perkawinan bangsa Cina

harus dilakukan oleh pegawai kantor Catatan Sipil. Kedua pengantin harus datang

ke kantor Catatan Sipil. Perkawinan yang hanya dilangsungkan menurut adat dan

tidak dilangsungkan oleh pegawai Catatan Sipil tidak dianggap sebagai perkawinan

81
Natasya Yunita Sugiastuti, [Link]., hal. 368.

Universitas Sumatera Utara


60

dan oleh hukum tidak diberi akibat, jika kemudian lahir seorang anak maka anak ini

dianggap sebagai anak luar kawin. 82

Kemudian dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan yang dalam Pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa perkawinan

adalah sah apabila dilakukan menurut masing-masing agamanya dan

kepercayaannya itu dan Pasal 2 ayat (2) lebih lanjut menyebutkan bahwa tiap-tiap

perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini

menunjukkan bahwa Undang-Undang menghendaki agar setiap perkawinan dicatat

menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam kenyataaannya dalam masyarakat, sering dijumpai perkawinan

masyarakat Tionghoa yang hanya dilangsungkan menurut adat dan/atau agama,

namun lalai dicatatkan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk

mengetahui sebab-sebab masyarakat Tionghoa yang tidak mencatatkan

perkawinannya di Kantor Catatan Sipil dapat kita lihat pada tabel dibawah ini:

82
Ibid, hal. 369.

Universitas Sumatera Utara


61

Tabel 1
Alasan masyarakat Tionghoa tidak mencatatkan perkawinan

No. Alasan Jumlah Narasumber Persentase


1. Tidak mempunyai biaya 1 orang 10 %
2. Menghindari urusan yang berbelit- 2 orang 20 %
belit
3. Perkawinan yang tidak disetujui 1 orang 10 %
4. Cara pandang yang salah 4 orang 40 %
5. Tidak mengetahui hukum perkawinan 2 orang 20 %
Indonesia
Jumlah/Total : 10 orang 100 %
Sumber: Hasil wawancara dengan narasumber di Kota Medan pada bulan Juli 2011.

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa faktor cara pandang

masyarakat Tionghoa yang memegang teguh adat Tionghoa dan menganggap

perkawinan yang telah dilangsungkan menurut adat Tionghoa tetap sah meskipun

tidak dicatatkan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia

menjadi alasan dan/atau penyebab utama bagi masyarakat Tionghoa tidak

mencatatkan perkawinannya, diikuti dengan faktor-faktor lain, seperti kurangnya

pengetahuan masyarakat Tionghoa akan pentingnya pencatatan perkawinan dan

menghindari urusan birokrasi pencatatan perkawinan yang berbelit-belit di Kantor

Catatan Sipil tanpa menghiraukan atau mempertimbangkan akibat-akibat hukum

yang tentu tidak diinginkan di kemudian hari.

Universitas Sumatera Utara


62

Faktor keengganan untuk mencatatkan perkawinan ini menjadi salah satu

masalah yang sampai saat ini masih terjadi dalam masyarakat Tionghoa. Fenomena

sosial yang timbul jelas bukan disebabkan oleh tinggi atau rendahnya faktor

ekonomi, akan tetapi lebih cenderung timbul diakibatkan oleh karena sikap pandang

masyarakat Tionghoa yang menjunjung tinggi adatnya. Selain itu, sebenarnya

kesalahan juga ada pada pihak-pihak yang berkompeten, yaitu lembaga-lembaga

yang berkaitan dengan catatan sipil. Karena sebagaimana diketahui, masyarakat

masih banyak yang buta hukum, atau tidak memahami peraturan-peraturan yang

berlaku baginya sebagai warga negara. Masyarakat masih banyak belum mengerti

hukum yang mengatur segala aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat. 83

Untuk itu, lembaga pencatatan perkawinan perlu untuk mensosialisasikan

pentingnya pencatatan serta bekerjasama dengan lembaga keagamaan maupun

kepercayaan.

Tidak menjadi masalah ketika pasangan suami isteri yang tidak mencatatkan

perkawinannya masih hidup dan kemudian sadar untuk mencatatkan

perkawinannya, yang harus mereka lakukan adalah mencatatkan perkawinan yang

telah melampaui batas waktu tersebut. Timbul permasalahan ketika salah satu dari

suami / isteri tersebut telah meninggal dunia, sedangkan perkawinan antara mereka

lalai dicatatkan. Hal demikian sering terjadi dalam masyarakat Tionghoa, terutama

dijumpai dalam bidang kenotarisan, yang dibenarkan oleh salah seorang Notaris

83
Iman Jauhari, Advokasi Hak-Hak Anak (Ditinjau dari Hukum Islam dan Peraturan
Perundang-undangan), (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 120-121.

Universitas Sumatera Utara


63

senior di Kota Medan, yakni bahwa kesadaran masyarakat Tionghoa baru muncul

ketika salah satu dari suami / isteri tersebut telah meninggal dunia akan tetapi

ternyata perkawinan mereka belum dicatatkan sehingga ketika para ahli waris

bersangkutan hendak membuat Surat Keterangan Ahli Waris, akta-akta pembagian

warisan ataupun hendak menjual dan/atau membalik nama harta benda yang

merupakan harta warisan, barulah mereka sadar bahwa mereka tidak berhak
84
menurut hukum atas harta warisan yang ditinggalkan. Terhadap kasus demikian,

jalur hukum yang dapat ditempuh adalah melalui permohonan penetapan

pengesahan perkawinan yang tergantung kepada keputusan dan pertimbangan

hakim mengenai sah atau tidaknya perkawinan tersebut.

E. Akibat Hukum Perkawinan Tidak Dicatatkan

Adanya suatu perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan cara lain,

melainkan dengan akta pelaksanaan perkawinan itu, yang telah dibukukan dalam

register-register catatan sipil, kecuali dalam hal-hal teratur dalam pasal-pasal

berikut.85 Sahnya suatu perkawinan merupakan hal yang sangat penting karena

berkaitan erat sekali dengan akibat hukum yang timbul dari perkawinan, baik yang

menyangkut keturunan (anak-anak) maupun harta.

Kelalaian dalam mencatatkan perkawinan sesuai ketentuan Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengakibatkan konsekuensi yuridis

84
Hasil wawancara dengan Bapak Tjong, Deddy Iskandar, Sarjana Hukum, Notaris dan
Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kota Medan, tanggal 9 Agustus 2011.
85
Pasal 100 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Universitas Sumatera Utara


64

terhadap perkawinan yang bersangkutan. Apabila perkawinan dinyatakan sah,

maka kedudukan harta yang diperoleh selama perkawinan dan anak yang lahir

dari perkawinan itu menjadi tegas dan jelas, demikian pula sebaliknya.

Akibat-akibat hukum dari perkawinan tidak dicatatkan dapat berupa :

a. Akibat hukum terhadap perempuan (isteri)

1. Ketidakjelasan (kekaburan) status perkawinan.

2. Kelemahan posisi perempuan (isteri) dalam penuntutan pemenuhan hak-

haknya, antara lain hak untuk mendapatkan nafkah lahir dan batin, hak

untuk mengajukan pembatalan perkawinan, hak untuk menggugat cerai

suami, hak untuk menuntut harta warisan, hak untuk menuntut harta gono

gini dan sebagainya.

3. Kesewenang-wenangan pihak laki-laki (suami) dalam menjatuhkan

talak/cerai.

4. Ketiadaan perlindungan hukum bagi isteri dalam hal suami melakukan

perkawinan poligami.

5. Isteri seringkali menjadi korban yang lemah kedudukannya dalam hal

terjadi kekerasan rumah tangga.

b. Akibat hukum terhadap anak (keturunan)

Anak yang lahir dalam Perkawinan yang tidak dicatatkan setelah berlakunya

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan disebut sebagai anak

Universitas Sumatera Utara


65

luar kawin, sehingga dalam akta kelahiran hanya dicantumkan nama ibunya saja.

Anak yang dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata

dengan ibunya dan keluarga ibunya saja. 86 Kedudukan anak yang dilahirkan diluar

perkawinan tersebut selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah 87, namun

sampai sekarang Peraturan Pemerintah dimaksud belum juga diterbitkan. 88

Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat

perkawinan yang sah.89 Asal-usul seorang anak hanya dapat dibuktikan dengan akta

kelahiran yang otentik, yang dikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang. Bila akta

kelahiran tersebut tidak ada, maka pengadilan dapat mengeluarkan penetapan

tentang asal usul seorang anak setelah diadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan

bukti-bukti yang memenuhi syarat. Atas dasar penetapan pengadilan tersebut, maka

instansi pencatat kelahiran yang ada dalam daerah hukum pengadilan yang

bersangkutan mengeluarkan akta kelahiran bagi anak yang bersangkutan. 90

Status hukum anak-anak juga menjadi tidak jelas dalam perkawinan yang

tidak dicatatkan ini, terutama dalam mengurus akta kelahiran dan kelemahan dalam

melakukan penuntutan hak-haknya, antara lain hak untuk mendapatkan pengakuan

sebagai keturunan yang sah, hak untuk dinafkahi secara lahiriah, hak untuk

menuntut harta warisan, dan sebagainya.

86
Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
87
Pasal 43 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
88
Iman Jauhari, [Link], hal. 170.
89
Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
90
Pasal 55 ayat (1), (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Universitas Sumatera Utara


66

Dalam pasal 47 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan disebutkan bahwa anak yang belum mencapai umur 18 (delapan

belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah

kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya dan orang

tua mewakili anak tersebut mengenai perbuatan hukum di dalam dan di luar

Pengadilan. Melihat isi ketentuan pasal 47 Undang-Undang tersebut dapat

ditafsirkan bahwa terhadap perkawinan yang tidak dicatatkan, ayah tidak dapat

mewakili anak bawah umur yang dilahirkan diluar perkawinan tersebut dalam

melakukan perbuatan hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan karena anak

luar kawin tersebut hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan

keluarga ibunya.

c. Akibat hukum terhadap harta benda perkawinan

Perkawinan yang tidak dicatatkan mengakibatkan perkawinan tersebut tidak

dianggap sah oleh Negara dan hukum sehingga tidak berlaku hukum nasional

terhadapnya. Oleh sebab itu dalam suatu perkawinan yang tidak dicatatkan tersebut

menurut hukum perkawinan Indonesia tidak terdapat suatu harta bersama dalam

perkawinan, melainkan hanya harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri

dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah

dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain. 91

91
Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Universitas Sumatera Utara


67

Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan isteri mempunyai hak

sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya. 92

Terhadap perkawinan yang tidak dicatatkan ini, Undang-Undang

memandang tidak ada ahli waris kelas satu terhadap harta warisan yang

ditinggalkan suami/ayah, karena isteri dan anak-anak dalam perkawinan yang tidak

dicatatkan tersebut bukanlah ahli waris sah dan tidak mempunyai kedudukan

sebagai ahli waris kelas satu menurut Undang-Undang. Kecuali terhadap harta

warisan yang ditinggalkan oleh isteri/ibu, anak-anaknya yang mempunyai hubungan

perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya berhak mewarisi, demikian dengan

keturunan anak-anaknya tersebut.

Hal ini mengakibatkan ahli waris kelas dua dan seterusnya dari pihak

suami/ayah, yakni orang tua kandung maupun saudara-saudara kandung beserta

keturunannya yang masih hidup berhak dan merupakan ahli waris sah pada saat

si suami/ayah dalam perkawinan yang tidak dicatatkan tersebut meninggal dunia.

92
Pasal 36 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai