Perkawinan Hukum Adat Tionghoa
Perkawinan Hukum Adat Tionghoa
BAB II
Sudah menjadi kodrat Tuhan, bahwa dua orang manusia yang berlainan jenis
kelamin, laki-laki dan perempuan mempunyai keinginan yang sama, untuk saling
perkawinan, maka timbullah hak dan kewajiban antara suami dan istri secara timbal
balik, demikian juga apabila dalam perkawinan itu dilahirkan anak, maka akan juga
timbul hak dan kewajiban antara orang tua dan anak secara timbal balik.
antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami isteri atau sering diartikan pula
2. Menurut Sajuti Thalib, perkawinan adalah suatu perjanjian yang suci dan luas
dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dengan
32
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan Indonesia, (Bandung : Sumur, 1974), hal.6.
3. Menurut Imam Syafi’i, perkawinan adalah suatu akad yang dengannya menjadi
hubungan seksual. Menurutnya tidak ada nikah (perkawinan) apabila tidak ada
hubungan seksual.35
5. Menurut Prof. Ibrahim Hosen, nikah menurut arti asli kata dapat juga berarti
akad dengannya menjadi halal kelamin antara pria dan wanita, sedangkan
6. Menurut Subekti, Perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang laki-laki
timbal balik yang bebas yang tidak dapat digantikan oleh campur tangan
33
Mohammad Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996),
hal.2.
34
Hosen Ibrahim, Figh Perbandingan dalam Masalah Nikah, Talak dan Rujuk, (Jakarta : Ihya
Ulumudin, 1971), hal. 65.
35
Hazairin, Hukum kekeluargaan Nasional Indonesia, (Jakarta : Tintamas, 1961), hal. 61.
36
Ibid., hal. 65.
37
Rusli, dan R. Tama, Perkawinan antar agama dan masalahnya, (Bandung : Shantika
Dharma, 1984), hal. 10.
diakui dan dilindungi hukum, oleh sebab itu perkawinan dapat dipandang
oleh dua orang, dalam hal ini perjanjian antara seorang pria dengan seorang
wanita dengan tujuan material, yaitu membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal itu haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai
10. Menurut Ali Afandi, perkawinan adalah persatuan seorang laki-laki dan
perempuan secara hukum untuk hidup bersama, hidup bersama ini dimaksudkan
yang lain. Perbedaan itu hanya terdapat pada keinginan para perumus untuk
38
Victor Situmorang, Kedudukan Wanita di Mata Hukum, (Jakarta : Bina Aksara, 1998),
hal. 34.
39
K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1976),
hal. 15.
40
Ali Afandi, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian, (Jakarta : Rineka Cipta,
1997), hal. 95.
antara laki-laki dan perempuan yang antara keduanya bukan muhrim. Apabila
ditinjau dari segi hukum, tampak jelas bahwa pernikahan adalah suatu akad suci
dan luhur antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sahnya status sebagai
suami isteri dan dihalalkannya hubungan seksual dengan tujuan mencapai keluarga
sakinah, penuh kasih sayang dan kebajikan serta saling menyantuni antara
keduanya.41
perkawinan dengan rumusan “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang
pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga
(Rumah Tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa.”
lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri.
Dari kalimat diatas, jelas bahwa perkawinan itu baru ada apabila dilakukan oleh
41
Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, (Jakarta : Penerbit PT. Rineke Cipta, 1991,
cetakan I), hal 1.
sering dijumpai di dalam masyarakat terdapat hubungan antara seorang pria dengan
seorang pria yang disebut homo seksual atau seorang wanita dengan seorang wanita
yang disebut lesbian, hubungan ini tidak dapat dilanjutkan ke jenjang perkawinan,
karena di negara Indonesia tidak mengatur perkawinan sesama jenis dan di dalam
demikian di dalam pengertian perkawinan itu jelas terlihat adanya unsur ikatan
1974 tentang Perkawinan yaitu pada bagian kalimat kedua yang berbunyi sebagai
berikut: ”dengan tujuan membentuk keluarga (Rumah Tangga) yang bahagia dan
Kebahagiaan yang akan dicapai ini bukanlah kebahagian yang bersifat sementara
atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial yang selanjutnya
telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih
Hukum adat adalah hukum Indonesia asli yang tidak tertulis dalam bentuk
agama.43 Menurut Kusumadi Pudjosewojo bahwa “Adat ialah tingkah laku yang
oleh dan dalam suatu masyarakat (sudah, sedang, akan) diadakan. Dan adat itu ada
yang tebal, ada yang tipis, dan senantiasa menebal dan menipis. Aturan-aturan
tingkah laku manusia dalam masyarakat seperti yang dimaksudkan tadi adalah
aturan-aturan adat.”44
masyarakat etnis Tionghoa itu sendiri, apakah masih sesuai adat-istiadat tersebut
dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Agama merupakan faktor penting yang
42
K. Ginarti B, Adat Pernikahan, Majalah Jelajah Volume 3, Tahun 1999, tanggal 20
Desember 1999, hal. 12.
43
Sulaiman, B. Taneka, Hukum Adat Suatu Pengantar Awal dan Prediksi Masa Depan,
(Bandung : [Link], 1987), hal. 11.
44
Iman Sudiyat, Asas-Asas Hukum Adat Bekal Pengantar, (Yogyakarta : Liberty, 1978),
hal. 14.
Tionghoa masih kuat karena banyak upacara keagamaan, seperti penggunaan hio
mengenai definisi dari perkawinan. Namun dalam adat Tionghoa itu sendiri,
perkawinan merupakan suatu sarana bagi seorang laki-laki dan seorang wanita
untuk hidup bersama dan mendapatkan keturunan yang pada akhirnya akan
Sistem kekeluargaan yang dianut dalam hukum adat Tionghoa adalah sistem
kekeluargaan patrilineal, yakni bahwa yang menentukan garis keturunan adalah dari
pihak laki-laki. Pihak laki-laki memegang peranan yang sangat penting dalam suatu
keluarga, artinya bahwa anak laki-laki memiliki posisi dan kedudukan yang
istimewa dalam keluarga karena merupakan penerus marga atau nama keluarga.
Ada atau tidaknya anak laki-laki yang lahir dari suatu perkawinan pada
marga atau nama keluarga dari si ayah karena hanya anak laki-laki yang
meneruskan marga atau nama keluarga dari ayahnya, sedangkan anak perempuan
tidak dapat meneruskan marga atau nama keluarga dari ayahnya karena menurut
hukum keluarga atau aturan kekerabatan bangsa Cina, perempuan yang sudah
45
Aimee Dawis, Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas, (Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2010), hal. 21.
menikah akan keluar dari keluarganya dan masuk dalam keluarga suami 46 sehingga
anak-anak yang lahir akan meneruskan marga atau nama keluarga suaminya pula.
perkawinan menurut hukum adat Tionghoa adalah ikatan lahir dan batin antara
seorang pria dengan seorang wanita untuk hidup bersama dalam membina rumah
tangga dan mendapatkan keturunan untuk meneruskan nama keluarga atau marga
dari ayahnya.
hanya dilaksanakan secara terus menerus dan turun temurun dari generasi ke
generasi. Peran orang tua sangat besar dalam pelaksanaan maupun pelestarian adat
Salah satu syarat perkawinan yang paling utama dilaksanakan dan dianut
sampai sekarang adalah calon mempelai yang satu marga dilarang untuk menikah.
Hal ini disebabkan karena mereka dianggap masih mempunyai hubungan darah satu
46
Natasya Yunita Sugiastuti, Tradisi Hukum Cina : Negara dan Masyarakat, Studi Mengenai
Peristiwa-Peristiwa Hukum di Pulau Jawa Zaman Kolonial (1870-1942), (Jakarta : Program Pasca
Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2003), hal. 342.
dengan lainnya dan adanya anggapan bahwa perkawinan antara marga yang sama
pandangan dari keluarga dan kedua calon mempelai. Secara garis besar, syarat-
syarat perkawinan dalam hukum adat Tionghoa sangat sederhana dan hanya
terfokus kepada cara pandang dan kebiasaan-kebiasaan serta adat istiadat dari suku
dan/atau keluarga. Tidak ada akibat dan sanksi hukum yang timbul apabila syarat-
syarat perkawinan tersebut tidak dipenuhi atau dilaksanakan oleh para pihak yang
melakukan upacara perkawinan secara adat saja maupun tata cara agama, tanpa
47
Vasanti Puspa, Kebudayaan Orang Tionghoa Indonesia, (Jakarta : Djambatan, 1996),
hal. 43.
semua tempat, tetapi terdapat berbagai variasi yang disesuaikan dengan pandangan
mereka pada adat tersebut dan pengaruh adat lainnya pada masa lampau.
dapat diteruskan daripada satu generasi kepada generasi yang lain. Walaupun
perkawinan pada masa kini perlu didaftarkan, tetapi upacara dan kenduri
perkawinan selalu ada pada hampir setiap kebudayaan. Demikian pula halnya
lain:
48
Aan Wan Seng, [Link].
49
Hasil wawancara dengan Bapak Djohan Adjuan, Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu
Indonesia (Matakin) Medan, tanggal 15 Juli 2011.
1. Melamar
diterima. Saat akan pulang, ayah atau wali dari calon mempelai pria
upacara, harus dilihat hari dan bulannya. Apabila jam, hari dan bulan
pernikahan mereka. Oleh karena itu harus dipilih jam, hari dan bulan
yang baik. Biasanya semuanya serba muda yaitu jam sebelum matahari
atau persegi empat, berisi aneka buah dan kue yang jumlahnya harus
Hantaran ini akan dibawa oleh para pria lajang. Tradisi ini diyakini akan
simbolis.
sebagai ungkapan terima kasih kepada ibu pengantin wanita yang telah
isyarat si ibu tidak mempunyai pamrih atas jasa itu. Hantaran yang telah
lamaran. Hari dan waktu yang baik untuk melakukan Sangjit ini
50
Hasil wawancara dengan Ibu Liany, anggota Perhimpunan Marga Tjeng Indonesia, tanggal
20 Juli 2011.
sebelum ranjang ditata. Selain bisa untuk menguji kekuatan ranjang, ada
5. Menyalakan Lilin
Ada keharusan bagi orang tua kedua calon pengantin untuk menyalakan
mulai pukul satu dini hari. Lilin harus tetap menyala hingga tiga hari
setelah pernikahan. 51
6. Siraman
51
Hasil wawancara dengan Ibu Liany, anggota Perhimpunan Marga Tjeng Indonesia, tanggal
20 Juli 2011.
Chio thao biasanya dilakukan oleh orang yang telah menikah dan
terdapat meja kecil yang diatasnya telah diletakkan penakar beras yang
terisi penuh oleh beras dan sembilan benda simbolis, yaitu timbangan
obat khas China, alat pengukur panjang, cermin, sisir, gunting, pedang,
pelita. Selain itu, terdapat juga benang sutra yang terdiri dari lima
tindakan.
8. Makan 12 sayur
menuju meja makan. Diatas meja telah tersaji 12 mangkuk yang masing-
masing berisi satu jenis masakan yang memiliki rasa yang berbeda-beda.
Manis, asin, asem, pedas, pahit, gurih, dan sebagainya. Semua rasa ini
disambut dengan taburan beras kuning, biji buncis merah dan hijau,
ibu dan nenek pengantin pria yang telah menunggu akan menyambut
dengan taburan beras kuning, biji kacang buncis hijau dan merah
sebagai simbol kesuburan, serta uang logam sebagai lambang rezeki dan
dibuka.
("Cio Tao")
Di pagi hari pada upacara hari pernikahan, diadakan Cio Tao. Namun,
calon pengantin pria dan wanita juga memberi hormat kepada para
leluhur dari calon pengantin pria dan juga para leluhur dari calon
kepercayaan.
makmur. Di belakang meja ada tampah dengan garis tengah 2 meter dan
di atasnya ada tong kayu berisi sisir, timbangan, sumpit, dll. yang
setia.
masing, acara tata cara agama juga dapat dan hendaknya dilaksanakan di
berikut:52
52
Wawancara dengan Bapak Iwan, Pengurus Vihara Borobudur bagian Perkawinan dan
Pencatatan Sipil, tanggal 10 Agustus 2011.
53
Wawancara dengan Bapak Iwan, Pengurus Vihara Borobudur bagian Perkawinan dan
Pencatatan Sipil, tanggal 10 Agustus 2011.
kepada kedua orang tua, keluarga dan kerabat dekat yang lebih tua dari
secangkir teh hangat (Phang Teh) untuk diminum oleh kedua orang tua,
keluarga dan kerabat dekat yang lebih tua sebagai wujud restu atas
berlutut serta bersujud. Upacara ini sangat sakral dan merupakan salah
satu acara yang paling penting dalam perkawinan adat Tionghoa. Setiap
maupun emas.
maupun kedua orang tuanya. Dalam acara resepsi pernikahan ini dilakukan
pemotongan kue pernikahan (Wedding Cake), acara makan dan hiburan, serta
kedua mempelai wanita dan pria beserta kedua orang tua dan keluarga dekat
duduk bersama dalam satu meja yang diberikan kain merah sebagai taplak
saat perpisahan calon mempelai wanita kepada kedua orang tuanya dan
melanjutkan hidup sebagai isteri serta menantu keluarga mempelai pria. Mulai
saat itulah, mempelai wanita tinggal bersama dan serumah dengan keluarga
mempelai laki-laki.
Akibat hukum yang timbul dari suatu perkawinan menurut hukum adat
Tionghoa berbeda dengan akibat hukum yang timbul dari suatu perkawinan yang
mengenai akibat-akibat hukum suatu perkawinan, mulai dari hak dan kewajiban
suami isteri dan anak serta mengenai harta benda perkawinan sedangkan akibat
masalah ini secara tegas. Jadi mengenai hak dan kewajiban suami, isteri dan anak-
dan kepala rumah tangga, serta merupakan pengambil keputusan mutlak dalam
keluarga. Hal ini sebagai pengaruh sistem kekeluargaan patrilineal yang dianut oleh
masyarakat Tionghoa yang mana anak laki-laki sebagai penerus marga atau nama
keluarga.
memenuhi nafkah lahir dan batin kepada suaminya, mengurus rumah tangga dengan
b. Terhadap anak
Menurut hukum adat Tionghoa, anak yang lahir dalam suatu perkawinan
yang dilaksanakan menurut hukum adat adalah merupakan anak sah. Orang tua
dan layak kepada anak-anaknya, sesuai dengan kemampuan orang tua tersebut.
Kedudukan dan hak anak laki-laki dalam hukum adat Tionghoa lebih
mewarisi harta warisan dari orang tuanya, hanya anak laki-laki yang berhak untuk
menjadi ahli waris, sedangkan kepada anak perempuan biasanya dianggap telah
perhiasan maupun uang pada saat anak perempuan itu menikah. Anak perempuan
tidak mempunyai hak untuk mewaris karena anak perempuan yang sudah menikah
dianggap telah keluar dari rumah dan masuk ke dalam keluarga suaminya, kecuali
apabila anak perempuan tersebut merupakan anak tunggal atau anak satu-satunya.
misalnya rumah peninggalan leluhur, anak laki-laki tertua yang berhak untuk
mengurusi dan menguasai secara bersama-sama anak laki-laki yang lain. Selain itu
dalam setiap acara adat dan keluarga, pengambilan keputusan didasarkan kepada
kemudian terjadi pergeseran nilai tentang kedudukan anak laki-laki dan anak
dipertimbangkan untuk diberikan bagian harta warisan oleh orang tuanya, meskipun
masih banyak yang tetap mempertahankan adat istiadat Tionghoa sehingga anak
perempuan cukup dibekali pendidikan dan perhiasan atau uang saat ia menikah.
Tionghoa terhadap harta benda perkawinan adalah sama dengan akibat hukum
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Akibat-akibat hukum tersebut antara lain
1. Harta bawaan suami yang telah ada sebelum berlangsungnya perkawinan tetap
2. Harta bawaan isteri yang telah ada sebelum berlangsungnya perkawinan tetap
benda perkawinan tersebut oleh isteripun harus seizin dan mendapat persetujuan
dari suami. Isteri tidak memiliki wewenang penuh untuk menggunakan harta benda
penuh dan tidak memerlukan persetujuan isteri sekalipun dalam menggunakan harta
D. Pencatatan Perkawinan
hukum sangat penting artinya dalam setiap perbuatan hukum, yakni untuk
menentukan hak dan kewajiban yang sah antara pihak-pihak yang berhubungan
hukum tersebut.
dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil bahwa Pencatatan Sipil
adalah pencatatan Peristiwa Penting yang dialami oleh seseorang dalam register
kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati,
54
Pasal 1 angka 14 Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
status hak sipil penduduk, dan mendapatkan data yang mutakhir, benar dan
lengkap.56
sipil untuk melakukan pencatatan tentang peristiwa penting yang dimuat dalam
register perkawinan.”58
55
Pasal 1 angka 16 Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
56
Pasal 2 Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara
Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
57
Arso Sastroatmodjo dan H.A. Wasit Aulawi, [Link]., hal. 31.
58
M. Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional, (Medan : CV. Zahir Trading Co., 1975),
hal. 56.
undangan.
Berlaku di Indonesia
hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, dan disamping itu tiap-
kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akta resmi yang juga
dimuat dalam pencatatan. 59 Jadi jelas bahwa pencatatan perkawinan adalah sebagai
adalah untuk menjamin ketertiban hukum (legal order) yang berfungsi sebagai
instrumen kepastian hukum, kemudahan hukum, disamping sebagai salah satu alat
bukti perkawinan. Oleh karena itu, jika terjadi pasangan yang telah melakukan
59
Penjelasan Umum angka 4 huruf b Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan.
perkawinan yang sah menurut agama, karena itu telah sah pula menurut Pasal 2 ayat
berdasarkan aturan agama dan keyakinan kedua belah pihak yang melakukan
perkawinan.62
Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan harus dibaca sebagai satu kesatuan.
60
Bagir Manan, [Link], hal. 6.
61
Penafsiran Legisme adalah penafsiran yang didasarkan hanya kepada Undang-Undang,
diluar Undang-Undang tidak ada hukum.
62
Jaih Mubarok, Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia, (Bandung : Pustaka Bani
Quraisy, 1999), hal. 73.
63
Penafsiran Sistematis adalah penafsiran Undang-Undang dengan menghubungkan pasal
yang satu dengan pasal lainnya atau penjelasannya dalam peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan atau dalam peraturan perundang-undangan lain yang saling menjelaskan dan merupakan
satu kesatuan.
itu harus disusul dengan pencatatan, karena menurut pendapat ini akta
undangan yang berlaku", namun di dalam penjelasan tidak dijelaskan lebih lanjut
tentang pendaftaran ini. Selanjutnya setahun kemudian, yaitu pada tahun 1975,
Perkawinan.
lembaga Pencatatan Perkawinan yang berbeda bagi yang beragama Islam dan non-
Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk, yaitu Kantor
64
Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata , (Bandung : Alumni, 1985),
hal.80.
menurut agamanya dan kepercayaannya itu selain agama Islam, dilakukan oleh
menentukan “dengan adanya ketentuan tersebut dalam Pasal ini, maka pencatatan
perkawinan dilakukan hanya oleh dua instansi, yakni Pegawai Pencatat Nikah,
Talak dan Rujuk dan Kantor Catatan Sipil atau Instansi / Pejabat yang
tersebut disebabkan sesuatu alasan yang penting diberikan oleh Camat atas nama
bupati kepala daerah. 66 Pemberitahuan dapat dilakukan secara lisan atau tertulis
oleh calon mempelai, atau oleh orang tua atau wakilnya. 67 Pemberitahuan memuat
65
Pasal 2 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
66
Pasal 3 ayat (1), (2) dan (3) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
67
Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin, disebutkan juga nama istri atau
suaminya terdahulu.68
terhadap hal sebagai dimaksud dalam ayat (1), Pegawai Pencatat meneliti pula:69
a. Kutipan akta kelahiran atau surat kenal lahir calon mempelai. Dalam hal
tidak ada akta kelahiran atau surat kenal lahir, dapat dipergunakan surat
keterangan yang menyatakan umur dan asal-usul calon mempelai yang
diberikan oleh Kepala Desa atau yang setingkat dengan itu ;
b. Keterangan mengenai nama, agama/kepercayaan, pekerjaan dan tempat
tinggal orang tua calon mempelai ;
c. Izin tertulis / izin Pengadilan sebagai dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2),
(3), (4) dan (5) Undang-Undang, apabila salah seorang calon mempelai
atau keduanya belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun ;
d. Izin Pengadilan sebagai dimaksud Pasal 4 Undang-Undang ; dalam hal
calon mempelai adalah seorang suami yang masih mempunyai isteri ;
e. Dispensasi Pengadilan / Pejabat sebagai dimaksud Pasal 7 ayat (2)
Undang-undang ;
f. Surat kematian isteri atau suami yang terdahulu atau dalam hal
perceraian surat keterangan perceraian, bagi perkawinan untuk kedua
kalinya atau lebih ;
g. Izin tertulis dari Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri HANKAM /
PANGAB, apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya anggota
Angkatan Bersenjata ;
h. Surat kuasa otentik atau di bawah tangan yang disahkan oleh Pegawai
Pencatat, apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya tidak
dapat hadir sendiri karena sesuatu alasan yang penting, sehingga
mewakilkan kepada orang lain.
68
Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
69
Pasal 6 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
ditulis dalam sebuah daftar yang diperuntukkan untuk itu. Apabila ternyata dari
dan/atau belum dipenuhinya persyaratan tersebut dalam Pasal 6 ayat (2) Peraturan
Pemerintah ini, keadaan itu segera diberitahukan kepada calon mempelai atau
Pencatatan Perkawinan pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan mudah dibaca
mempelai dan dari orang tua calon mempelai; apabila salah seorang atau
keduanya pernah kawin disebutkan nama isteri dan atau suami mereka
terdahulu ;
70
Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
71
Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
72
Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
kehendak perkawinan oleh Pegawai Pencatat seperti yang dimaksud dalam Pasal 8
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Tata cara perkawinan dilakukan menurut
ditandatangani pula oleh kedua saksi dan Pegawai Pencatat yang menghadiri
oleh Pegawai Pencatat dan helai kedua disimpan pada Panitera Pengadilan dalam
wilayah Kantor Pencatatan Perkawinan itu berada. Kepada suami dan istri
73
Pasal 10 ayat (1), (2) dan (3) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
74
Pasal 11 ayat (1), (2) dan (3) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
memuat :76
Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk
dan Pencatatan Sipil, turut diatur mengenai syarat-syarat dan tata cara guna
75
Pasal 13 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
76
Pasal 12 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
77
“Unit Pelaksana Teknis Dinas Instansi Pelaksana, selanjutnya disingkat UPTD Instansi
Pelaksana, adalah satuan kerja di tingkat kecamatan yang melaksanakan pelayanan Pencatatan Sipil
dengan kewenangan menerbitkan akta.” Lihat Pasal 1 angka 21 Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun
2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil juncto Pasal 1
terhadap orang yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 3 Peraturan
angka 6 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2010 tentang Pedoman Pencatatan
Perkawinan dan Pelaporan Akta yang Diterbitkan oleh Negara Lain.
78
Pasal 67 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
79
Pasal 67 ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
80
Pasal 67 ayat (3) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
Pencatat Nikah dan Pasal 10 ayat (3) tentang tata cara perkawinan menurut masing-
Pencatat Nikah dan dihadiri oleh dua orang saksi serta Pasal 40 tentang poligami
oleh suami tanpa izin pengadilan, dihukum dengan hukuman denda paling banyak
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dapat dilihat dari ketentuan Pasal 3 ayat (1)
perkawinan, antara lain calon mempelai laki-laki dan calon mempelai perempuan.
Perkawinan di Indonesia
berdasarkan Stb. 1917 : 129, perkawinan menurut hukum adat Cina harus
menurut hukum adatnya. 81 Setelah tanggal 1 Mei 1919 perkawinan bangsa Cina
harus dilakukan oleh pegawai kantor Catatan Sipil. Kedua pengantin harus datang
ke kantor Catatan Sipil. Perkawinan yang hanya dilangsungkan menurut adat dan
tidak dilangsungkan oleh pegawai Catatan Sipil tidak dianggap sebagai perkawinan
81
Natasya Yunita Sugiastuti, [Link]., hal. 368.
dan oleh hukum tidak diberi akibat, jika kemudian lahir seorang anak maka anak ini
tentang Perkawinan yang dalam Pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa perkawinan
kepercayaannya itu dan Pasal 2 ayat (2) lebih lanjut menyebutkan bahwa tiap-tiap
perkawinannya di Kantor Catatan Sipil dapat kita lihat pada tabel dibawah ini:
82
Ibid, hal. 369.
Tabel 1
Alasan masyarakat Tionghoa tidak mencatatkan perkawinan
perkawinan yang telah dilangsungkan menurut adat Tionghoa tetap sah meskipun
masalah yang sampai saat ini masih terjadi dalam masyarakat Tionghoa. Fenomena
sosial yang timbul jelas bukan disebabkan oleh tinggi atau rendahnya faktor
ekonomi, akan tetapi lebih cenderung timbul diakibatkan oleh karena sikap pandang
masih banyak yang buta hukum, atau tidak memahami peraturan-peraturan yang
berlaku baginya sebagai warga negara. Masyarakat masih banyak belum mengerti
kepercayaan.
Tidak menjadi masalah ketika pasangan suami isteri yang tidak mencatatkan
telah melampaui batas waktu tersebut. Timbul permasalahan ketika salah satu dari
suami / isteri tersebut telah meninggal dunia, sedangkan perkawinan antara mereka
lalai dicatatkan. Hal demikian sering terjadi dalam masyarakat Tionghoa, terutama
dijumpai dalam bidang kenotarisan, yang dibenarkan oleh salah seorang Notaris
83
Iman Jauhari, Advokasi Hak-Hak Anak (Ditinjau dari Hukum Islam dan Peraturan
Perundang-undangan), (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 120-121.
senior di Kota Medan, yakni bahwa kesadaran masyarakat Tionghoa baru muncul
ketika salah satu dari suami / isteri tersebut telah meninggal dunia akan tetapi
ternyata perkawinan mereka belum dicatatkan sehingga ketika para ahli waris
warisan ataupun hendak menjual dan/atau membalik nama harta benda yang
merupakan harta warisan, barulah mereka sadar bahwa mereka tidak berhak
84
menurut hukum atas harta warisan yang ditinggalkan. Terhadap kasus demikian,
melainkan dengan akta pelaksanaan perkawinan itu, yang telah dibukukan dalam
berikut.85 Sahnya suatu perkawinan merupakan hal yang sangat penting karena
berkaitan erat sekali dengan akibat hukum yang timbul dari perkawinan, baik yang
84
Hasil wawancara dengan Bapak Tjong, Deddy Iskandar, Sarjana Hukum, Notaris dan
Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kota Medan, tanggal 9 Agustus 2011.
85
Pasal 100 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
maka kedudukan harta yang diperoleh selama perkawinan dan anak yang lahir
dari perkawinan itu menjadi tegas dan jelas, demikian pula sebaliknya.
haknya, antara lain hak untuk mendapatkan nafkah lahir dan batin, hak
suami, hak untuk menuntut harta warisan, hak untuk menuntut harta gono
talak/cerai.
perkawinan poligami.
Anak yang lahir dalam Perkawinan yang tidak dicatatkan setelah berlakunya
luar kawin, sehingga dalam akta kelahiran hanya dicantumkan nama ibunya saja.
dengan ibunya dan keluarga ibunya saja. 86 Kedudukan anak yang dilahirkan diluar
Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat
perkawinan yang sah.89 Asal-usul seorang anak hanya dapat dibuktikan dengan akta
kelahiran yang otentik, yang dikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang. Bila akta
tentang asal usul seorang anak setelah diadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan
bukti-bukti yang memenuhi syarat. Atas dasar penetapan pengadilan tersebut, maka
instansi pencatat kelahiran yang ada dalam daerah hukum pengadilan yang
Status hukum anak-anak juga menjadi tidak jelas dalam perkawinan yang
tidak dicatatkan ini, terutama dalam mengurus akta kelahiran dan kelemahan dalam
sebagai keturunan yang sah, hak untuk dinafkahi secara lahiriah, hak untuk
86
Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
87
Pasal 43 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
88
Iman Jauhari, [Link], hal. 170.
89
Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
90
Pasal 55 ayat (1), (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Dalam pasal 47 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan disebutkan bahwa anak yang belum mencapai umur 18 (delapan
kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya dan orang
tua mewakili anak tersebut mengenai perbuatan hukum di dalam dan di luar
ditafsirkan bahwa terhadap perkawinan yang tidak dicatatkan, ayah tidak dapat
mewakili anak bawah umur yang dilahirkan diluar perkawinan tersebut dalam
melakukan perbuatan hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan karena anak
luar kawin tersebut hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan
keluarga ibunya.
dianggap sah oleh Negara dan hukum sehingga tidak berlaku hukum nasional
terhadapnya. Oleh sebab itu dalam suatu perkawinan yang tidak dicatatkan tersebut
menurut hukum perkawinan Indonesia tidak terdapat suatu harta bersama dalam
perkawinan, melainkan hanya harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri
dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah
91
Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
memandang tidak ada ahli waris kelas satu terhadap harta warisan yang
ditinggalkan suami/ayah, karena isteri dan anak-anak dalam perkawinan yang tidak
dicatatkan tersebut bukanlah ahli waris sah dan tidak mempunyai kedudukan
sebagai ahli waris kelas satu menurut Undang-Undang. Kecuali terhadap harta
perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya berhak mewarisi, demikian dengan
Hal ini mengakibatkan ahli waris kelas dua dan seterusnya dari pihak
keturunannya yang masih hidup berhak dan merupakan ahli waris sah pada saat
92
Pasal 36 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.