Page:of 9
Automatic Zoom
C
ontoh Cerpen Persahabatan 1:
Sebuah Janji
“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita d
isaat kita kesepian, ikut
tersenyum disaat kita bahagia, b
ahkan rela menga
lah padahal hat
i kecilnya menangis...”
Bel istirahat akan berakhir bera
pa menit lagi. Wina harus seger
a membawa buku tugas teman‐
temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketu
a kelas membuatnya sibuk
seperti ini. Gubrak.... Buku‐buku
yang dibawa Wina jatuh semua. O
rang yang menabrak entah lari
kemana. Jangankan menolongny
a, meminta maaf pun tidak.
“Sial! Lari nggak pakek mata ap
a ya...” rutuk Wina. Dengan waj
ah masam ia mulai jongkok untuk
merapikan buku‐buku yang terjatuh. Belum selesai Wina merapikan
terdengar langkah kaki yang
datang menghampirinya.
“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemoh seorang cowok d
engan senyum sinis. Sejenak
Wina berhenti merapikan buku‐buku, ia mencoba melihat orang yan
g berani mencemohnya.
Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan.
Sumpah! Wina
benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Wina nggak bakal bers
ikap baik sama cowok yang ada
di depannya ini. Lalu Wina mulai melanjutkan merapikan buku tan
pa menjawab pertanyaan cowok
tersebut.
Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia
tercenung karena cewek di
depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Wina terpancing denga
n omongannya, perang mulut
pun akan terjadi dan takkan sele
sai sebelum sese
orang datang me
lerai.
Teeeett... Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring. “Maksud hati pengen
bantu temen
gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori ng
gak bisa bantu.” ucap cowok tersebut
sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.
Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya
. Tapi yang ditunggu tidak
membalas dengan cemohan atau pun ejekan. “Lo berubah.” gumam co
wok tersebut lalu berbalik
bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badanny
a, Wina yang sudah selesai
membereskankan buku mulai memasang ancang‐ancang. Dengan semang
at 45 Wina mulai
n keras.
mengayunkan kaki kanannya kearah
kaki kiri cowok tersebut denga
“Adooooww” pekik cowok tersebut
sambil menggerang kesakitan.
“Makan tuh sakit!!” ejek Wina sambil berlari membawa buku‐buku
yang tadi sempat berserakan.
Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Wina pakek ke
kuatan yang super duper keras.
Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi kurus tersebu
t.
[Link]
1
[Link]
2
biar kemaren pulang cepet? Hah?
Jadi cowok kok banci baget!!!”
Jujur Alex udah bosen kayak gini terus sama Wina. Dia pengen hu
bungannya dengan Wina bisa
kembali seperti dulu. “Nggak usah cari gara‐gara deh. Gue cuma
mau cari Amel.” ucap Alex dingin
“Wina....”
Wina menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata da
ri kejauhan Amel teman
baiknya sejak SMP seda
ng berlari kearahnya.
Dengan santai Wina
membalikkan badannya berjalan
mencari motor matic kesayanganny
a. Ia sendiri lupa dimana menar
uh motornya. Wina emang
paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celinga
k‐celinguk mencari motor, Amel
malah menjitak kepalanya dari belakang.
“Woe non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apa
an yang nggak nyaut sapaan
temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas ce
wek putih tersebut kalo lagi
ngambek.
“Sori deh Mel. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”
“Bad mood? Jelas‐jelas lo tadi
bikin gempar satu kelas. Udah n
endang kaki cowok ampe tuh cowok
permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas Amel panjang leba
r.
“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak seg
itu parahnya?” Wina benar‐
benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata
bener‐bener lembek, pikirnya
dalam hati.
lex lho.”
“Nendang sih nendang tapi lo pa
kek tendangan super duper. Kasi
an A
“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Wina membela d
iri.
Sejenak Amel terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. “
Kenapa sih kalian berdua selalu
berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP. Dulu banget.
” ujar Amel polos, tanpa
bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah
bisa nerima kalo Alex nggak suka
sama gue.”
“Tau ah gelap!”
Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian
panas tak
menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang k
e rumah. Wina sendiri sudah
membereskan buku‐bukunya. Sedangkan Amel masih berkutat pada bu
ku catatanya lalu sesekali
menoleh ke papan tulis.
“Makanya kalo nulis jangan kayak kura‐kura.” Dengan gemas Wina
menjitak kepala Amel. “Duluan
ya, Mel. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Amel hanya mendengus
lalu kembali sibuk dengan
catatanya.
Saat Wina membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka
pintu kelasnya dari luar. “Eh,
sori..” ucap Wina kikuk. Tapi beg
itu sadar siapa orang yang ada
di depannya, Wina langsung ngasi
tampang jutek kepada orang itu. “Ngapaen lo kesini? Masih sakit
kakinya? Apa cuma dilebih‐lebihin
sambil celingak celinguk mencari Amel. “Hey Mel!” ucap Alex ria
ng begitu orang yang dicarinya
nongol.
“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Amel sejenak melirik Wina. Lalu
dilihatnya Al
ex mengangguk
bertanda mengiyakan. “Win, kita duluan ya,” ujar Amel singkat.
Wina hanya benggong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Amel dan Alex yang
kian jauh.
Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang
sakit di suatu
organ tubuhnya. Biasanya Alex selalu mencari masalah dengannya.
Namun kini berbeda. Alex tidak
menggodanya dengan cemohan atau ejekan khasnya. Alex juga tidak menatapnya saat ia
bicara.
Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.
Byuuurr.. Fanta rasa stowberry menggalir deras dari rambut Wina hingga menetes ke
kemeja
putihnya. Wina nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam
terakhir. Nggak
ada yang akan bisa menolongnya
sampai bel pulang berbunyi.
“Maksud lo apa?” bentak Wina me
nantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.
“Belum kapok di guyur kayak gin
i?” balas cewek tersebut sambil
menjambak rambut Wina. “Tha,
mana fanta jeruk yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanann
ya masih menjambak rambut Wina.
yang sudah terbuk
a.
Thata langsung memberi satu botol fanta jeruk
“Lo mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.
Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada
orang yang secara sukarela mau
berbasah ria dengan fanta strobe
rry atau pun jeruk? Teriak Wina
dalam hati. Ia tau kalau cewek di
depannya ini bernama Linda. Linda terkenal sesaentro sekolah ka
rena keganasannya dalam hal
melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk ru
mah sakit, mending Wina diem
aja. Ia juga tau kalo Linda satu kelas dengan Alex. Wait, wait.
. Alex??? Jangan‐jangan dia biang
keladinya. Awas lo Lex, sampe gue tau lo biang keroknya. Gue ba
kal ngamuk entar di kelas lo!
“Gue rasa, gue nggak ada masala
h ama lo.” teriak Wina sambil m
endorong Linda dengan sadisnya.
Wina benar‐benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat g
ue masuk rumah sakit. Yang
jelas ni nenek lampir pe
rlu dikasi pelajaran.
Kedua teman Linda, Thata dan Mayang dengan sigap mencoba menaha
n Wina. Tapi Wina malah
memberontak. “Buruan Lin, ntar kita ketahuan.” kata Mayang si c
ewek sawo mateng.
Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Wina dengan fanta jeruk. “Jauhin Alex.
Gue tau lo
berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Alex. Tapi kenapa lo sekarang nggak
mau ngelepas
Alex?!!”
“Maksud lo?” ledek Wina sinis. “Gue nggak kenal kalian semua.
Asal lo tau gue nggak ada apa‐apa
[Link]
3
ama Alex. Lo nggak liat kerjaan g
ue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”
Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Wina. “Tapi lo seneng
kan?” teriak Linda tepat disebelah
kuping Wina. Kesabaran Wina akhi
rnya sampai di level terbawah.
[Link]
unek‐uneknya.
“Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancam Wina.
Nih orang emang sinting. Gue baru
kena musibah yang bikin kepala puyeng, malah dikasi obrolan yan
g makin puyeng.
4
Buuugg! Tonjokan Wina mengenai te
pat di hidung Linda. Linda yan
g marah makin meledak. Perang
dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Wina kalah. T
ak perlu lama, Wina sudah jatuh
terduduk lemas. Rambutnya sudah
basah dan sakit karena dijambak
, pjpinya sakit kena tamparan.
Kepalanya terasa pening.
“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas.
Serempak trio geng labrak
menoleh untuk melihat orang itu,
Wina juga ingin, tapi tertutup
oleh Linda. Dari suaranya Wina
sudah tau. Tapi Ia nggak tau bener apa salah.
“Pergi lo semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat.
Samar‐samar Wina melihat geng
labrak pergi dengan buru‐buru. Lalu cowok tadi menghampiri Wina dan membantunya
untuk
n?”
berdiri. “Lo nggak apa‐apa kan, Wi
“Nggak apa‐apa dari hongkong!?”
Hujan rintik‐rintik membasahi bumi. Wina dan Alex berada di ruang UKS. Wina
membaringkan diri
tempat tidur yang tersedia di UKS. Alex memegangi sapu tangan d
ingin yang diletakkan di sekitar
pipi Wina. Wina lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga,
dia nggak bakalan mau tangan Alex
sa. Mau gimana lagi.
nyentuh pipinya sendiri. Tapi ka
rena terpak
“Ntar lo pulang giman
a?” tanya Alex polos.
“Nggak gimana‐mana. Pulang ya pulang.” jawab Wina jutek. Rasan
ya Wina makin benci sama yang
namanya Alex. Gara‐gara Alex dirinya dilabrak hidup‐hidup. Tapi
kalau Alex nggak datang. Mungkin
dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.
cewek lo ya?” ucap Wina dengan wajah jengkel.
“Tadi itu
“Nggak.”
“Trus kok dia malah ngelabrak gue? Isi nyuruh jauhin lo segala
. Emang dia siapa? “ rutuk Wina
e
m
kesal seribu kesal. Ups! Kok gu ngomong kayak gue nggak au ja
uh‐jauh ama Alex. Aduuuhh...
Alex sejenak tersenyum. “Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia
tau semuanya tentang gue dan
termasuk tentang lo” ucap Alex sambil menunjuk Wina.
Wina diam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Alex menunjuknya
. Padahal cuma nunjuk. “Ntar
bisa pulang sendiri kan?” tanya Alex.
“Bisalah. Emang lo mau nganter gue pulang?”
“Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi
terus
lupaen segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener te
ntang diri lo. Malah perasaan gue
masi sama kayak dulu.” jelas Ale
x sejelas‐selasnya. Alex pikir
sekarang udah saatnya ngungkapin
[Link]
5
“Thanks Mel. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucap Wina tulus. “Tapi gue tetap pada
prinsip gue.”
Amel terlihat menerawang. “Jujur
, waktu gue tau Alex suka sama
lo dan cuma nganggep gue sebagai
temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa duni
a nggak adil sama gue. Tapi
“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asa
l lo tau, gue selalu cari gara‐gara
ama lo itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem‐d
ieman, atau apalah. Pas lo nolak
gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dap
et sekolah yang sama. Gue coba buat
nerima. Tapi nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue
kesel, dan tanpa sadar gue malah
ngajakin lo berantem.” Sejenak Alex menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue?
Apapun
jawabannya gue terima.”
Hening sejenak diantara mereka berdua. “Kayaknya gue pulang dul
uan deh.” Ucap Wina sambil
buru‐buru mengambil tasnya. Inil
ah kebiasaan Wina, selalu menge
lak selalu menghindar pada
realita. Ia bener‐bener nggak tau harus ngapaen. Dulu ia nolak
Alex karena Amel juga suka Alex.
Tapi sekarang?
“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Ale
x berbicara tepat saat Wina sudah
a di a b p
berad m ang intu UKS.
Wina diam tak sanggup berkata‐kata. Dilangkahkan kakinya pergi
meninggalkan UKS.
e
Meninggalkan Alex yang term nung sendiri.
Kelas masih sepi. Hanya ada bebe
rapa murid yang baru datang. Di
liriknya bangku sebelah. Amel
belum datang. Wina sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel,
disaat
kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Wina nggak bisa tidur.
Entah kenapa bayangan Alex
selalu terbesit di benaknya. Apa benar Alex pindah sekolah? Ken
apa harus pindah? Peduli amat
Alex mau pindah apa nggak, batin Wina. “Argggg... Kenapa sih gue
mikir dia terus?”
“Mikirin Alex maksud lo?” ucap Amel tiba‐tiba udah ada disampi
ng Wina. “Nih hadiah dari
pangeran lo.” Dilihatnya Amel mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena
penasaran
dengan cepat Wina membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto b
ermotif rainbow dengan foto
Wina dan Alex saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebua
h kertas. Dengan segera
urat tersebut.
dibacanya s
Dear wina,
Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara‐gara
di hukum ama osis. Dalam hati gue
ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. L
o dulu pernah bilang pengen liat
pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelang
i yang ada di bingkai foto.
Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus iku
t ortu yang pindah tugas. Tapi suatu
hari nanti gue bakal nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi.
Saat waktu
itu tiba, ga ada alasan buat lo ga mau jadi pacar gue.
“Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka Alex tapi lo
nggak mau nyakitin gue.” sejenak
Amel tersenyum. “Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Alex. Dia cuma
temen kecil
gue dan nggak akan lebih.”
[Link]
6
seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita
inginkan adalah yang terbaik
untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo
harus janji sama gue kalo lo bakal
jujur tentang persaan lo sama Al
ex. Janji?” lanjut Amel sambil
mengangkat jari kelingkingnya.
Ingin rasanya Wina menolak. Amel
terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Amel belum
sepenuhnya melupakan Alex. Tapi Wina juga tak ingin mengecewaka
n Amel. Berlahan diangkatnya
jari kelingkingnya.
“Janji..” gumam Wina lirih.
C
ontoh Cerpen Persahabatan 2:
Kepergian Sahabatku .......................
Dia sering mengajakku kerumah‐nya,dan aku pun sering mengajak n
ya [Link] bernama
DINDA dan aku bernama DITA. Aku suka bercerita tentang hidupku
kepadanya,itu karna ia bisa
memberiku nasihat dan membuatku semangat,biarpun di ejek teman‐
[Link] adalah tife
orang peceria,ia selalu ceria biar ada yang nakal kepada‐nya at
aupun jail,tidak seperti aku Cuma di
ejek aja aku sudah mer
asa ... eeeeehhhhmmmm.
Pada suatu hari Dinda mengajakku jalan‐jalan ke tempat bermain,
aku saaaangat senang,kami
bermain sepuas‐nya,semua permainan kami coba,mulai dari komedi
putar hingga
[Link]‐sampai kami lup
a [Link] sudah sore,ak
hirnya kami pulang kerumah
masing‐masing.
Selama aku tetap bersamanya,hidupku akan terasa senang dan baha
gia, biar diejek teman‐
temanku,karena ada dinda yang selalu menghiburku. Tapi, pada su
atu hari ia tak hadir ke sekolah,
sehabis pulang sekolah aku kerumah‐nya. Tapi apaa? dirumahnya p
un kosong,aku sangat
bingung,kenapa hari ini dinda tak ada,biasanya kalau ia mau per
gi ia selalu memberi [Link]
kali ini tidak. Aku bingung skali.
Besok harinya, disekolah dinda masih tidak [Link] pun kembal
i lagi kerumah‐nya,dan masih
tidak ada orang‐nya. Besok hari nya lagi disekolah ia tetap tid
ak hadir,kambali lagi aku kerumah‐
nya dan masih tidak [Link] hari aku menunggnya di sekolah t
api ia tak kunjung [Link]
hari pun aku [Link] dirumah‐nya masih tak ada orang‐nya
. Akhirnya,hari‐hariku, ku
lewati sendirian,tidak lagi bersamanya,hari‐hari pun berjalan d
engan [Link]‐temanku tak
da yang mau menjadi temanku,mungkin...itu karna hidupku yang mis
kin.
a
[Link]
7
C
ontoh Cerpen Persahabatan 3:
Persahabatan Terlarang
Sejak pertemuan itu, aku dan Devan mulai bersahabat. Kami bertemu tanpa sengaja
mencoba akrab
satu sama lain, saling mengerti dan menjalani hari ‐hari penuh m
akna. Pesahabatan dengan jarak
yang begitu dekat itu membuat kami semakin mengenal pentingnya
hubungan ini.
Tak lama kemudian, aku harus pergi meninggalkannya. Sesungguhny
a hatiku sangat berat untuk
ini, tapi apa boleh buat. Pertem
uan terakhirku berlangsung sang
at haru, tatapan penuh canda itu
mulai sirna dibalut dengan duka mendalam.
“Van maafkan aku atas semua kesa
lahan yang pernah ku lakukan, y
a.” Kataku saat ia berdiri pas di
depanku.
ng udah kamu lakukan buat
aku itu lebih dari cukup.”
“kamu gak pernah salah Citra, semua ya
“pleace, tolong jangan lupain aku, Van”
“ok, kamu nggak usah khawatir.”
Sesaat kemudian mobilku melaju perlahan meninggalkan sesosok
makhluk manis itu.
Ku lihat dari dalam tempatku duduk terasa pedih sangat kehilang
an. Jika nanti kami dipertemukan
kembali ingin ku curahkan semua rasa rinduku padanya. Itu janji
yang akan selalu ku ingat. Suara
manis terakhir yang memberi aku harapan.
Awalnya persahabatan kami berjalan dengan lancar, walau kami te
lah berjauh tempat tinggal. Pada
suatu ketika, ibu bertanya tentang sahabat baruku itu.
“siapa gerangan makhluk yang membuatmu begitu bahagia, Citra?”
tanya ibu saat aku sedang asyik
chatingan dengan Devan.
g kemarin.”
“ini, ma. Namanya Devan. Kami berkenalan saat liburan panjan
“seganteng apa sich sampai buat anak mama jadi kayak gini?”
“gak tahu juga sih ma, pastinya keren banget deh, tapi nggak pa
pah kan, Ma aku berteman sama
dia.?”
g kayak gitu?”
“Apa maksud kamu ngomon
“kami berbeda agama, Ma”
[Link]
8
[Link]
9
“hah??,” sesaat mama terkejut mendengar cerita ku. Tapi beliau
mencoba menutupi rasa resahnya.
Aku tahu betul apa yang ada di fikiran mama, pasti dia sangat t
idak menyetujui jalinan ini. Tapi aku
mencoba memberi alasan yang jelas terhadapnya.
Sehari setelah percakapan itu, tak ku temui lagi kabar dari Dev
an, aku sempat berfikir apa dia tahu
masalah ini,,? Ku coba awali perbincangan lewat SMS..
“sudah lama ya nggak bertemu? Gimana kabarnya nech,,? “
Pesan itu tertuju kepadanya, aku masih ingat banget saat lapora
n penerimaan itu. Berjam‐jam ku
tunggu balasan darinya. Tapi tak ku lihat Hp ku berdering hingg
a aku tertidur di buatnya. Tak
kusangka dia tak membalas SMS ku lagi.
maki
Tak kusangka ternyata mama selalu melihat penampilan ku yang se
n hari semakin layu.
“citra, maafkan mama ya, tapi ini perlu kamu ketahui. Jauhi ana
k itu, tak usah kamu ladeni lagi.”
Suara mama sungguh mengagetkan ku saat itu. Ku coba tangkap mak
nanya. Tapi sungguh pahit ku
rasa.
aksudmama?”
“apa m
“kamu boleh kok berteman dengan dia, tapi kamu harus ingat pesa
n mama. Jaga jarak ya, jangan
terlalu dekat. Mama takut kamu akan kecewa.”
“mama ngomong paan sih,? Aku semakin gak mengerti.”
“suatu saat kamu pasti bisa mengerti ucapan mama” mamapun pergi
meninggalkan ku sendiri.. Aku
coba berfikir tenteng ucapan itu. Saat ku tahu jiwa ini langsun
g kaget di buatnya.. tak terasa
tangispun semakin menjadi‐jadi d
an mengalir deras di kedua pipi
ku. Mama benar kami berbeda
agama dan nggak selayaknya bersatu kayak gini. tapi aku semakin
ingat kenangan saat kita masih
bersama.
Satu tahun telaj berlalu, bayangan tentangnya masih teikat jelas di haitku. Aku belum bisa
melupakannya. Mungkin suatu saat nanti dia kan sadar betapa ber
harganya aku nutuknya.
Satu harapan dari hatiku yang paling dalam adalah bertemu denga
nnya dan memohon alasannya
mengapa ia pergi dari hidupku secepat itu tanpa memberi tahu ke
salahanku hingga membuat aku
terluka.
Pernah aku menyesali pertemuan itu. Tapi aku menyadari betapa b
erartinya ia di hidupku. Canda
tawa yang tinggal sejarah itu ma
sih terlihat jelas di benakku d
an akan selalu ku kenang menjadi
bumbu dalam kisah hidupku.
Devan, kau adalah sahabat yang paling ku banggakan. Aku menungg
u cerita‐ceritamu lagi. Sampai
kapanpun aku akan setia menunggu
. Hingga kau kembali lagi menja
lani kisah‐kisah kita berdua.