Rencana Induk Penyediaan Air Minum Gowa
Rencana Induk Penyediaan Air Minum Gowa
1
MAKALAH
PEMODELAN PERENCANAAN AIR MINUM
I. PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Kebutuhan akan air minum bagi suatu daerah akan terus meningkat mengikuti laju pertumbuhan penduduk dan
tumbuhnya aktivitas sosial ekonomi di dalamnya. Kebutuhan air minum sifatnya berkelanjutan dan primer.
Olehnya perlu perhatian ekstra bagi pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengupayakan
terpenuhinya secara berkelanjutan. Air merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi,
ketersediaan air dalam jumlah dan kualitas yang memadai akan berdampak pada terganggunya keseimbangan
hajat hidup manusia. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah dan kesejahteraan penduduk di suatu daerah
akan semakin meningkat pula kebutuhannya terhadap air.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi pelayanan air bersih kepada masyarakat antara lain :
1. Ketersedian potensi air baku yang berkurang dan terganggunya keseimbangan akibat perluasan pemukiman
dan kegiatan sosial ekonpomi penduduk.
2. Kemampuan penyediaan dan operasional pengolahan dan dan pengelolaan air minum oleh pemerintah
daerah yang tidak berimbang dengan perluasan permukiman yang memacu tumbuhnya kebutuhan air
minum dan semakin luasnya cakupan layanan yang membutuhkan nilai investasi yang cukup besar.
3. Fasilitas pelayanan operasional yang belum memadai seperti peralatan, periode desain infrastruktur, waktu
pelayanan dan lain sebagainya.
4. Kemampuan daya beli masyarakat yang kurang khususnya golongan masyarakat berpenghasilan rendah
(MBR).
Pemenuhan kebutuhan air minum rumah tangga di Kabupaten Gowa yang terus meningkat seiring dengan
pertambahan populasi penduduk, dilakukan dengan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM),
baik di wilayah pedesaan ataupun pusat-pusat permukiman di kawasan perkotaan. Pemenuhan juga dilakukan
secara swadaya oleh masyarakat dengan memanfaatkan sumur gali atau sumur bor sebagai sumber air bersih atau
air minumnya. Kewajiban untuk mengembangkan SPAM tersebut pada dasarnya adalah merupakan tanggung
jawab pemerintah daerah Kabupaten. Namun, mengingat masih sangat terbatasnya sumber daya modal untuk
investasi dalam pembiayaan pembangunan prasarana dan sarana air minum serta masih perlunya peningkatan
kompetensi sumber daya manusia dalam bidang air minum, yang ada di daerah. Kabupaten Gowa,
1.2.1. Maksud
Penyusunan Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) dimaksudkan untuk:
Mengidentifikasi potensi sumber daya air, khususnya sumber-sumber air baku untuk memenuhi
kebutuhan air minum penduduk (kebutuhan domestic) dan kebutuhan untuk mendukung
aktivitas ekonomi masyarakat (non domestic)
1
Merumuskan rencana induk pengembangan sistem penyediaan air minum selama 10-20 tahun
kedepan berdasarkan dinamika pertumbuhan penduduk dan kebutuhan air minumnya, potensi
air baku yang dapat dimanfaatkan, kondisi eksisisting penyediaan air minum yang ada, kendala
dan permasalahan penyediaan air minum yang dihadapi dan target yang akan dicapai dalam
penyediaan air minum.
1.2.2. Tujuan
Menghasilkan draft dokumen rencana induk pengembangan SPAM, sebagai rujukan atau pedoman
dalam penyelenggaraan pengembangan SPAM selama periode tahun perencanaan hingga 20 tahun
kedepan (2040) dan nantinya dilegalkan dan ditetapkan oleh Surat Keputusan Bupati Kabupaten Gowa
atau dalam bentuk Perda.
Air merupakan sumberdaya yang sangat diperlukan oleh makhluk hidup baik untuk memenui kebutuhannya
maupun menopang hidupnya secara alami. Kegunaan air yang bersifat universal atau menyeluruh dari setiap
aspek kehidupan menjadi semakin berharganya air baik jika dilihat dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Air
dibumi sekitar 95,1% adalah air asin sedangkan 4,9% berupa airtawar, hal ini tentu saja menjadi perhatian yang
sangat penting mengingat keberadaan air yang bisa dimanfaatkan terbatas sedangkan kebutuhan manusia tidak
terbatas sehingga perlu suatu pengelolaan yang baik agar air dapat dimanfaatkan secara lestari.
Pemanfaatan air tentu akan sangat berkaitan dengan ketersediaan dan jenis pemanfaatan seperti pemanfaatan air
untuk irigasi, perikanan, peternakan, industry dan lainnya. Adanya berbagai kepentingan dalam pemanfaatan air
dapat menimbulkan terjadinya konflik baik dalam penggunaan airnya maupun cara memperolehnya. Seiring
dengan bertambahnya penduduk maka persaingan untuk mendapatlkan air untuk berbagai macam kepentingan
pun terus meningkat.
Konsep mengenai ketersediaan dan kebutuhan air perlu dipahami dengan baik agar pola penggunaan air atau
manajemen dapat baik pula sehingga hal-hal negative seperti krisis air, banjir, kekeringan maupun dampak-
dampak lainnya setidaknya dapat direduksi. Banyaknya kasus-kasus degradasi sumberdaya air seperti intrusi air
laut oleh pengambilan yang berlebihan melebihi batas aman, pencemaran airtanah maupun air permukaan
disebabkan oleh pemanfaatan air yang tidak berwawasan lingkungan yang cenderung mengedapankan
kebutuhan saja tanpa mempertimbangkan ketersediaannya. Untuk itu, evaluasi sumberdaya air sangat penting
dilakukan agar semua potensi air yang ada dapat diinventarisasi dan dihitung ketersediaannya dan juga
menghitung kebutuhan air sehingga dapat diupayakan sebuah rencana yang ideal agar kebutuhan manusia
terpenuhi dan ketersesiaan air tetap terjaga.
2
Tingkat pemakaian air per orang sangat bervariasi antara suatu daerah dengan daerah lainnya, sehingga secara
keseluruhan penggunaan air dalam suatu sistem penyediaan air minum juga akan bervariasi. Bervariasinya
pemakaian air ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: iklim, standar hidup, aktivitas masyarakat, tingkat
sosial dan ekonomi, pola serta kebiasaan masyarakat dan hari libur. Berhubungan dengan fluktuasi pemakaian air
ini, terdapat tiga macam pengertian, yaitu:
a. Kebutuhan Rata-Rata, Pemakaian air rata-rata dalam satu hari adalah pemakaian air dalam setahun
dibagi dengan 365 hari.
a. Kebutuhan maksimum (Qmax), Fluktuasi pemakaian air dari hari ke hari dalam satu tahun sangat
bervariasi dan terdapat satu hari dimana pemakaian air lebih besar dibandingkan dengan hari lainnya.
Kebutuhan air pada hari maksimum digunakan sebagai dasar perencanaan untuk menghitung kapasitas
bangunan penangkap air, perpipaan transmisi dan Instalasi Pengolahan Air (IPA). Faktor hari
maksimum (fm) berkisar antara 1,1 sampai 1,5 (Lampiran III Permen PU NO. 18 Tahun 2007). Dalam
penyusunan Rencana Induk SPAM Kabupaten Gowa, faktor hari maksimum (fm) yang digunakan
sebagai kriteria desain adalah : 1,2.
b. Kebutuhan Puncak (Qpeak), Faktor jam puncak (fp) adalah suatu kondisi dimana pemakaian air pada
jam tersebut mencapai maksimum. Faktor jam puncak biasanya dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan
tingkat perkembangan kota, dimana semakin besar jumlah penduduknya semakin beraneka ragam
aktivitas penduduknya. Dengan bertambahnya aktivitas penduduk, maka fluktuasi pemakian air
semakin kecil. Berdasarkan standar yang tercantum dalam Lampiran III Permen PU No.18 Tahun 2007,
faktor jam puncak (fp) berkisar antara 1,15 – 3. Dalam penyusunan Rencana Induk SPAM Kabupaten
Gowa, faktor jam puncak (fp) yang digunakan sebagai kriteria desain adalah 1,5. Kebutuhan air
ditentukan berdasarkan :
1) Proyeksi penduduk
Proyeksi penduduk harus dilakukan untuk interval 5 tahun selama periode perencanaan kedepan.
2) Pemakaian air (L/o/h)
Laju pemakaian air diproyeksikan setiap interval 5 tahun.
3) Ketersediaan air
Perkiraan kebutuhan air hanya didasarkan pada data sekunder sosial ekonomi dan kebutuhan air
diklasifikasikan berdasarkan aktifitas perkotaan atau masyarakat.
Air akan sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup dan aktivitas manusia (Jasrotia dkk, 2009). Kebutuhan air
domestik dihitung berdasarkan jumlah penduduk, tingkat pertumbuhan, kebutuhan air perkapita dan
proyeksi waktu air akan digunakan (Yulistiyanto dan Kironoto,2008). Standar kebutuhan air domestik
adalah dari Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah tahun 2003 dan SNI tahun 2002.
Kebutuhan air merupakan kebutuhan yang berasal dari rumah tangga dan kegiatan sosial. Standar konsumsi
pemakaian domestik ditentukan berdasarkan rata-rata pemakaian air perhari yang diperlukan oleh setiap
orang. Standar konsumsi pemakaian air domestik dapat dilihat dari Tabel dibawah ini.
3
Tabel 1 Tingkat Konsumsi/Pemakaian Air Rumah Tangga Sesuai Kategori Kota
Tingkat
No. Kategori Kota Jumlah Penduduk Sistem
Pemakaian Air
1. Kota Metropolitan >1.000.000 Non Standar 190
2. Kota Besar 500.000 – 1.000.000 Non Standar 170
3. Kota Sedang 100.000 – 500.000 Non Standar 150
4. Kota Kecil 20.000 – 100.000 Standar BNA 130
5. Kota kecamatan <20.000 Standar IKK 100
6. Kota Pusat Pertumbuhan <3.000 Standar DPP 60
Sumber: Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah tahun 2003 dan SNI tahun 2002
Kebutuhan air untuk rumah tangga (domestik) dihitung berdasarkan jumlah penduduk tahun perencanaan.
Kebutuhan air minum untuk daerah domestic ini dilayani dengan sambungan rumah (SR) dan hidran umum
(HU). Kebutuhan air minum untuk daerah domestik ini dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut:
Kegiatan non domestik adalah kegiatan penunjang kota terdiri dari kegiatan komersil berupa industri,
perkantoran, perniagaan dan kegiatan sosial seperti sekolah, rumah sakit dan tempat ibadah. Penentuan
kebutuhan air non domestic didasarkan pada faktor jumlah penduduk pendukng dan jumlah unit fasilitas
yang dimaksud. Fasilitas perkotaan tersebut antara lain adalah fasilitas umum, industri dan komersil.
Perhitungan kebutuhan air nnon domestik di Kabupaten Gowa diasumsikan sebesar 15-20%.
a. Kriteria Perencanaan
1) Unit Air Baku
Tentukan kebutuhan air berdasarkan:
Proyeksi penduduk, harus dilakukan untuk interval 5 tahun selama periode perencanaan untuk
perhitungan kebutuhan domestic
Identifikasi jenis penggunaan nondomestik sesuai RSNI T-01-2003 butir 5.2 tentang Tata Cara
Perencanaan Plambing
Pemakaian air untuk setiap jenis penggunaan sesuai RSNI T-01-2003 butir 5.2 tentang Tata Cara
Perencanaan Plambing
Perhitungan kebutuhan air domestil dan nondomestik berdasarkan perhitungan butir a, b dan c
4
Kehilangan air fisik/teknis maksimal 15% dengan komponen utama penyebab kehilangan atau
kebocoran air sebagai berikut:
Kebocoran pada pipa transmisi dan pipa induk
Kebocoran dan luapan pada tangki reservoir
Kebocoran pada pipa dinas hingga meter pelanggan
Sedangkan kehilangan nonteknis dan konsumsi resmi tak berekening diminiminalkan hingga
mendekati [Link] air baku rata-rata dihitung berdasarkan jumlah perhitungan kebutuhan air
domestik, non domestik dan air tak berekening. Rencana alokasi air baku dihitung 130% dari
kebutuhan air baku rata-rata.
Unit Air Baku dapat terdiri dari bangunan penampungan air, bangunan pengambilan/ penyadapan,
alat pengukuran dan peralatan pemantauan, sistem pengadaan, dan/atau sarana pembawa serta
perlengkapannya. Unit air baku merupakan sarana pengambilan dan/atau penyedia air baku.
Dalam usaha pengolahan air baku, banyak sumber air baku yang dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan air. Untuk mengetahui mutu air yang baik untuk air minum, maka mutu air baku tersebut
harus sesuai dengan standar kualitas mutu air, apabila ternyata mutu air tersebut telah diperiksa tidak
memenuhi standar yang ada, maka unsur-unsur didalam air tersebut harus diolah terlebih dahulu
sebelum digunakan sebagai air minum, karena jika tidak diolah akan membahayakan kesehatan
manusia dan akan mempengaruhi peralatan-peralatan untuk mendistribusikan air.
Unsur-unsur tersebut baik yang bersifat fisik, kimiawi maupun bakteriologis, tidak diperkenankan
melebihi standar yang dibuat berdasarkan percobaan-percobaan yang telah dilakukan sebelumnya.
Standar-standar (yang dibuat oleh organisasi dan instansi yang berhubungan dengan kesehatan
masyarakat baik internasional maupun nasional) tersebut dibuat berdasarkan atas beberapa
pertimbangan, seperti ketahanan tubuh manusia, keadaan lingkungan dan sebagainya. Standar-
standar yang banyak dikenal di Indonesia adalah standar WHO dan Departemen Kesehatan RI.
Air mengandung senyawa pencemar baik sebatas yang dijinkan maupun sampai pada kadar yang
membahayakan. Kebanyakan air sungai mengandung sisa atau limbah dari perumahan, pertanian
dan industri. Apakah air tersebut kelihatan jernih atau keruh, setiap air yang akan dikonsumsi sebagai
air minum harus dibersihkan dan dimurnikan. Pengolahan air ditujukan untuk memenuhi standar
kualitas air minum sebagaimana Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor
907/MENKES/SK/VII/2002 yang merupakan standar kualitas air minum di Indonesia.
Proses pengolahan air minum tergantung dari kualitas air baku asal air itu diperoleh dari air tanah, air
sungai, air danau, air laut, air hujan dan air limbah atau air buangan. Saat ini pada umumnya masih
digunakan air baku yang berasal dari air tanah dan air permukaan. Hal ini dikarenakan biaya
operasinya relatif murah jika dibandingkan dengan pengolahan air hujan atau air [Link]-
parameter fisik seperti kekeruhan, warna, bau dan sebagainya dibatasi atas dasar [Link]
parameter kimia, biologis dan radioaktif dibatasi atas dasar kesehatan [Link] karena itu
5
Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah menetapkan parameter-parameter standar kualitas
air [Link] – parameter kualitas air tersebut seperti berikut:
a) Syarat Fisik
Dalam hal ini akan diperoleh pengertian yang lebih jauh mengenai unsur-unsur yang terdapat
pada syarat fisik kualitas air minum (suhu, warna, bau, rasa dan kekeruhan), khususnya dalam
hubungan dengan dicantumkannya unsur tersebut dalam standar kualitas.
Suhu
Suhu air minum sama dengan suhu kamar (berkisar antara 20C – 26C). Hal ini bertujuan
untuk mencegah terjadinya toksitas bahan kimia dalam air dan menghambat pertumbuhan
mikroorganisme dan virus dalam air. Atas dasar itulah suhu dijadikan sebagai salah satu
standar kualitas air minum yang berguna untuk:
Intensitas warna dalam air diukur dengan satuan unit warna standar, yang dihasilkan oleh 1
mg/lt platina cobalt dengan cara membandingkannya. Berdasarkan sifat-sifat penyebabnya,
warna dalam air dibagi dalam 2 jenis, yaitu warna sejati dan warna [Link] sejati
disebabkan oleh koloida-koloida organik atau zat-zat [Link] warna semu disebabkan
oleh suspensi partikel-partikel penyebab kekeruhan. Air yang berwarna dalam batas tertentu
akan mengurangi segi estetika dan tidak dapat diterima oleh masyarakat, sehingga
menimbulkan kemungkinan pencarian sumber air lain yang kurang aman. Penetapan standar
warna ini diharapkan bahwa semua air minum yang diperuntukkan masyarakat akan dapat
langsung diterima oleh masyarakat.
Air yang memenuhi standar kesehatan harus terbebas dari bau yang biasanya disebabkan
oleh bahan-bahan organik yang membusuk serta karena senyawa kimia seperti phenol.
Biasanya bau dan rasa terjadi karena proses dekomposisi bahan organik didalam air.
Pengukuran bau biasanya dinyatakan dalam TON (Threshold Odor Number), yaitu jumlah
pelarutan suatu sampel dengan air yang bebas bau untuk dideteksi dengan tes [Link]
pengolahan air, bau-bau biasanya berasal dari sumber-sumber biologis seperti algae,
pembusukan zat-zat organik dan bakteri.
Efek kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh adanya bau dan rasa dalam air ini diantaranya
adalah timbulnya kekhawatiran bahwa air yang berbau dan berasa ini masih mengandung
6
bahan-bahan kimia yang bersifat toksis, sehingga hal ini akan mendorong masyarakat untuk
mencari sumber lain yang kurang terjamin kesehatannya.
Kekeruhan (Turbidity)
Air dikatakan keruh jika air tersebut mengandung begitu banyak partikel bahan yang
tersuspensi sehingga memberikan warna atau rupa yang berlumpur dan kotor. Bahan-bahan
yang menyebabkan kekeruhan ini antara lain yaitu: tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik
dan partikel-partikel kecil yang tersuspensi lainnya. Kekeruhan biasanya disebabkan karena
butiran-butiran halus yang melayang (koloid). Penyimpangan terhadap standar kualitas
kekeruhan akan menyebabkan gangguan estetika dan mengurangi efektifitas desinfeksi air.
Jumlah zat padat terlarut dapat memberi rasa yang tidak enak pada lidah, rasa mual yang
disebabkan karena natrium sulfat, magnesium sulfat dan dapat menimbulkan cardia disease
toxemia pada wanita hamil.
b) Syarat kimia
Zat-zat kimia yang terlarut dalam air minum yang berlebihan selain akan bersifat racun juga
dapat merusak material beton, pipa alat-alat rumah tangga dan lain-lain. Oleh sebab itu perlu
adanya pembatasan kandungan zat-zat kimia yang diantaranya yaitu:
Derajat keasaman (pH) dan Kesadahan jumlah (Total hardness) pH adalah istilah yang
digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam atau basa suatu larutan. Dalam
penyediaan air, pH merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan mengingat bahwa
derajat keasaman air akan sangat mempengaruhi aktifitas pengolahan yang akan dilaksanakan,
misalnya dalam melakukan koagulasi kimiawi, desinfeksi, pelunakan air dan dalam pencegahan
korosi.
Sebagai suatu faktor lingkungan, derajat keasaman merupakan salah satu faktor yang sangat
penting karena pH dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dalam air. Sebagian besar
mikroba akan tumbuh dengan baik dalam pH 6,0 – 8,0, selain itu pH juga akan menyebabkan
perubahan kimiawai dalam air. Apabila pH lebih besar atau lebih kecil dari itu akan
menyebabkan terjadinya korosifitas pada pipa-pipa air yang terbuat dari logam.
Kesadahan dalam air sebagian besar adalah berasal dari kontaknya tanah dan pembentukan
batuan. Pada umumnya air sadah berasal dari daerah tanah lapis atas (topsoil) tebal dan ada
pembentukan batu kapur. Air lunak berasal dari daerah lapisan tanah atas tipis dan tidak terjadi
pembentukan batuan kapur. Kesadahan total adalah kesadahan yang disebabkan karena air
mengandung kation Ca++ dan Mg++ dalam jumlah yang berlebihan. Air sadah tidak enak
diminum selain itu dapat mengurangi efektifitas kerja sabun dan deterjen.
7
Zat organik yang terdapat dalam air diantaranya berasal dari alam (misalnya minyak nabati,
serat-serat minyak, lemak hewan, alkohol sellulose, gula, pati dan sebagainya), dari sintesa
(misalnya berbagai persenyawaan dan buah-buahan yang dihasilkan dari proses-proses
dalam pabrik), dari fermentasi (misalnya alkohol acetone, glyserol, antibiotik, asama-asam
dan sejenisnya yang berasal dari kegiatan mikroorganisme terhadap bahan-bahan organik).
Zat organik dalam air disebabkan karena air buangan dari rumah tangga, pertanian, industri
dan pertambangan seperti diterangkan diatas, keberadaannya dalam air dapat diukur dengan
angka permanganatnya (KMnO4).Pengaruh kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh
penyimpangan terhadap standar ini adalah timbulnya bau yang tidak sedap dan dapat
menyebabkan sakit perut.
Hasil dari perombakan zat organik oleh bakteri tertentu akan menghasilkan zat mineral yang
salah satunya adalah CO2 agresif. Zat ini larut dalam air sehingga dapat mengakibatkan
korosif pada pipa-pipa air yang terbuat dari logam. Gas CO2 ini dapat dihilangkan dengan
proses aerasi dan pembubuhan CaO atau kedua-duanya.
Besi (Fe)
Unsur besi dalam air dalam jumlah tetentu sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk
pembentukan sel darah merah, akan tetapi kelebihan pada unsur ini akan menimbulkan bau
dan perubahan warna menjadi kemerah-merahan sehingga air tidak enak diminum, selain itu
juga dapat membentuk endapan pada pipa-pipa logam dan bahan cucian.
Mangan (Mn)
Kandungan unsur mangan dalam air yang menyimpang dapat menimbulkan noda-noda pada
benda yang berwarna putih, menyebabkan bau dan rasa pada minuman dan juga dapat
menyebabkan kerusakan pada hati.
Keracunan kronis memberi gejala susunan syaraf : insomnia, kemidian lemah pada kaki dan
otot muka seerti beku sehingga tampak seperti topeng, bila terkapar terus maka bicaranya
lambat, monoton, terjadi hyper-refleksi, clonus pada platella dan tumir, dan berjalan seperti
penderita parkinsonism.
Fluorida (F)
Apabila jumlah fluor didalam air kecil (0,6 mg/lt) dapat dipakai sebagai pencegah penyakit
gigi yang paling efektif tanpa mengganggu kesehatan. Akan tetapi apabila kadarnya terlalu
tinggi (diatas 2 ppm), maka akan mengakibatkan timbulnya fluorisitas pada gigi. Sedangkan
bila terlalu rendah (dibawah 1 ppm), dapat menimbulkan pengrusakan gigi pada anak-anak
atau dental caries.
Tembaga (Cu)
8
Dalam jumlah kecil, unsur tembaga dibutuhkan oleh tubuh untuk proses metabolisme dan
pembentukan sel darah merah, namun dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan rasa
yang tidak enak di lidah dan kerusakan pada hati.
Arsen (As)
Arsen yang terdapat di dalam air berasal dari persenyawaan-persenyawaan arsen yang
banyak digunakan sebagai insektisida (lead arsenate, calcium arsenate).Persenyawaan arsen
merupakan salah satu racun sistemik yang paling penting dan dapat berakumulasi dalam
tubuh. Arsen dapat menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan dan kemungkinan
dapat menyebabkan kanker kulit, hati dan saluran empedu.
Timbal (Pb)
Sebagaimana logam berat lainnya Pb dan persenyawaannya adalah racun. Timbal
merupakan yang dikenal dengan pemasukan tiap hari melalui makanan, air, udara dan
penghirupan asap tembakau. Akibat yang ditimbulkan akan diperkuat dengan
terakumulasinya unsur ini dalam tubuh manusia yang akhirnya akan menghambat reaksi-
reaksi enzim dalam tubuh. Konsentrasi standar yang diperbolehkan untuk air minum oleh
Depkes RI adalah 0,1 mg/lt.
Cyanida (CN)
Konsentrasi yang melebihi standar yang ditetapkan akan menimbulkan gangguan pada
metabolisme oksigen, sehingga jaringan tubuh tidak mampu mengubah oksigen, dan juga
dapat meracuni hati. Konsentrasi CN dalam air minum sebesar 0,05 mg/lt masih dianggap
tidak membahayakan.
Sulfat
Ion-ion sulfat yang terdapat dalam air bersih dapat bersenyawa dengan kalsium, membentuk
kalsium [Link] dalam air bersih umumnya berasal dari buangan-buangan industri.
Chlorida
Kadar chlorida lebih besar dari 200 ppm dapat menimbulkan rasa asin jika air tersebut
[Link] zat chlor yang tinggi secara tiba-tiba dalam air menandakan masuknya
air kotor (sewage).
9
c) Syarat Radioaktif
Sinar radioaktif dapat mengakibatkan timbulnya kontaminasi radioaktif pada lingkungan dan
dapat mengakibatkan rusaknya sel-sel pada tubuh [Link]-zat radioaktif dapat bersatu
dengan pasir atau lumpur dalam kehidupan biologis atau terlarut dalam [Link] karena itu
keberadaannya dalam air minum perlu [Link] standar kualitas dari Depkes RI telah
ditetapkan bahwa kandungan sinar alfa maksimal yaitu 10-9 mc/ml dan kandungan sinar beta
maksimal adalah 10-8 mc/ml.
d) Syarat Mikrobiologi
Pencemaran lingkungan oleh kontaminan-kontaminan biologi harus dicegah karena dapat
menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat. Sehingga air minum harus terbebas dari
kuman parasit dan bakteri pathogen sama sekali serta bakteri golongan coli sampai melebihi
batas-batas yang telah ditentukan yaitu 1 coli atau 100 ml air. Bakteri golongan coli ini berasal
dari usus besar (feaces) dan tanah. Bakteri pathogen yang mungkin ada dalam air diantaranya
yaitu :
Bakteri typhsum
Vibrio colerae
Bakteri dysentriae
Entamoeba hystolotica
Bakteri enteritis
Sumber air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku meliputi: mata air, air tanah, air permukaan
dan air hujan
10
Penampung dan pengukuran volume air dengan mengukur lamanya (t) air mengisi
penampungan air yang mempunyai volume tertentu:
Dengan mengukur perubahan tinggi muka air (H) dalam penampangan yang mempunyai
luas tertentu (A) dalam jangka waktu tertentu maka dapat dihitung:
H xA
Debit (Q) ( L / det ik )
t
Q A .V
V C . R.S
Dimana:
Q = debit (m³/detik)
A = luas penampang basah (m²)
R = jari-jari hidrolik (m)
S = kemiringan/slope
m = koefisien Bazin
157,6
C koefisien Chezy
m
1
R
11
Selain pengukuran perlu diperoleh data-data lain dan informasi yang dapat diperoleh dari
penduduk. Data-data yang diperlukan meliputi debit aliran, pemanfaatan sungai, tinggi muka
air minimum dan tinggi muka air maksimum.
Perhitungan debit air danau dilakukan berdasarkan pengukuran langsung. Cara ini dilakukan
dengan pengamatan atau pencatatan fluktuasi tinggi muka air selama minimal 1 tahun. Besarnya
fluktuasi debit dapat diketahui dengan mengalikan perbedaan tinggi air maksimum dan
minimum dengan luas muka air danau. Pengukuran ini mempunyai tingkat ketelitian yang
optimal bila dilakukan dengan periode pengamatan yang cukup [Link]-data di atas dapat
diperoleh dari penduduk setempat tentang fluktuasi yang pernah terjadi (muka air terendah).
Pengukuran debit yang masuk ke dalam embung dapat dilakukan pada saat musim penghujan,
yaitu dengan mengukur luas penampang basah sungai/parit yang bermuara di embung dan
dikalikan dengan kecepatan aliran. Sedangkan volume tampungan dapat dihitung dengan
melihat volume cekungan untuk setiap ketinggian air. Volume cekungan dapat dibuat pada saat
musim kering (embung tidak terisi air) yaitu dari hasil pemetaan topografi embung dapat dibuat
lengkung debit (hubungan antara tinggi air dan volume).
12
Pertimbangan pemilihan bangunan penangkap adalah pemunculan mata air cenderung arah
horisontal dimana muka air semula tidak berubah, mata air yang muncul dari kaki
perbukitan; apabila keluaran mata air melebar maka bangunan pengambilan perlu dilengkapi
dengan konstruksi sayap yang membentang di outlet mata air.
Perlengkapan bangunan penangkap adalah outlet untuk konsumen air bersih, outlet untuk
konsumen lain (perikanan atau pertanian, dan lain-lain), peluap (overflow), penguras (drain),
bangunan pengukur debit, konstruksi penahan erosi, lubang periksa (manhole), saluran
drainase keliling, pipa ventilasi.
Bangunan pengumpul atau sumuran
Pertimbangan pemilihan bangunan pengumpul adalah pemunculan mata air cenderung arah
vertikal, mata air yang muncul pada daerah datar dan membentuk tampungan, apabila outlet
mata air pada suatu tempat maka digunakan tipe sumuran, apabila outlet mata air pada
beberapa tempat dan tidak berjatuhan maka digunakan bangunan pengumpul atau dinding
keliling.
Perlengkapan bangunan penangkap adalah outlet untuk konsumen air bersih, outlet untuk
konsumen lain (perikanan atau pertanian, dan lain-lain), peluap (overflow), penguras (drain),
bangunan pengukur debit, konstruksi penahan erosi, lubang periksaan (manhole), saluran
drainase keliling, pipa ventilasi.
b) Sumber Air Baku Air Tanah
Pemilihan bangunan pengambilan air tanah dibedakan menjadi sumur dangkal dan sumur dalam
Sumur dangkal
Pertimbangan pemilihan sumur dangkal adalah secara umum kebutuhan air di daerah
perencanaan kecil; potensi sumur dangkal dapat mencukupi kebutuhan air bersih di daerah
perencanaan (dalam kondisi akhir musim kemarau/kondisi kritis).
Perlengkapan bangunan sumur dangkal dengan sistem sumur gali, meliputi: ring beton kedap
air, penyekat kontaminasi dengan air permukaan tiang beton, ember/pompa tangan.
Sedangkan perlengkapan sumur dangkal dengan sistem sumur pompa tangan (SPT) meliputi
pipa tegak (pipa hisap), pipa selubung, saringan, sok reducer.
Sumur dalam
Pertimbangan pemilihan sumur dalam adalah secara umum kebutuhan air di daerah
perencanaan cukup besar; di daerah perencanaan potensi sumur dalam dapat mencukupi
kebutuhan air minum daerah perencanaan sedangkan kapasitas air dangkal tidak memenuhi.
Sumur dalam sumur pompa tangan (SPT) dalam meliputi pipa tegak (pipa hisap), pipa
selubung, saringan, sok reducer. Sumur pompa benam (submersible pump) meliputi pipa
buta, pipa jambang, saringan, pipa observasi, pasckersocket/reducer, dop socket, tutup sumur,
batu kerikil.
c) Sumber air baku air permukaan
Pemilihan bangunan pengambilan air permukaan dibedakan menjadi :
a. Bangunan 1. Pertimbangan pemilihan bangunan penyadap
13
penyadap (Intake) (intake) bebas adalah fluktuasi muka air tidak terlalu
bebas besar, ketebalan air cukup untuk dapat masuk inlet.
2. Kelengkapan bangunan pada bangunan penyadap
(intake) bebas adalah saringan sampah, inlet,
bangunan pengendap, bangunan sumur
a. Bangunan 1. Pertimbangan pemilihan bangunan penyadap
penyadap (Intake) (intake) dengan bendung adalah ketebalan air tidak
dengan bendung cukup untuk intake bebas.
2. Kelengkapan bangunan penyadap (intake) dengan
bendung adalah saringan sampah, inlet, bangunan
sumur, bendung, pintu bilas.
b. Saluran Resapan 1. Pertimbangan pemilihan saluran resapan
(Infiltration (Infiltration galleries) adalah ketebalan air sangat tipis,
galleries) sedimentasi dalam bentuk lumpur sedikit, kondisi
tanah dasar cukup poros (porous), aliran air bawah
tanah cukup untuk dimanfaatkan, muka air tanah
terletak maksimum 2 meter dari dasar sungai.
2. Kelengkapan bangunan pada saluran resapan
(Infiltration galleries) media infiltrasi: pipa pengumpul
berlubang, sumuran.
a) Perencanaan teknis unit transmisi = mengoptimalkan jarak antara unit air baku menuju unit produksi
dan/atau dari unit produksi menuju reservoir/jaringan distribusi sependek mungkin, terutama untuk
sistem transimisi distribusi (pipa transmisi dari unit produksi menuju reservoir).
Karena transmisi distribusi = debit aliran untuk kebutuhan jam puncak, sedangkan pipa transmisi air
baku = kebutuhan maksimum harian.
Pipa transmisi sedapat mungkin harus diletakkan sedemikian rupa dibawah level garis hidrolis untuk
menjamin aliran sesuai harapan.
Dalam pemasangan pipa transmisi, perlu memasang angker penahan pipa pada bagian belokan baik
dalam bentuk belokan arah vertikal maupun belokan arah horizontal untuk menahan gaya yang
ditimbulkan akibat tekanan internal dalam pipa dan energi kinetik dari aliran air dalam pipa yang
mengakibatkan kerusakan pipa maupun kebocoran aliran air dalam pipa tersebut secara berlebihan.
a) Sistem transmisi harus menerapkan metode-metode yang mampu mengendalikan pukulan air (water
hammer) yaitu bilamana sistem aliran tertutup dalam suatu pipa transmisi terjadi perubahan kecepatan
aliran air secara tiba-tiba yang menyebabkan pecahnya pipa transmisi atau berubahnya posisi pipa
transmisi dari posisi semula.
14
b) Sistem pipa transmisi air baku yang panjang dan berukuran diameter relatif besar dari diameter nominal
ND-600 mm sampai dengan ND-1000 mm perlu dilengkapi dengan aksesoris dan perlengkapan pipa
yang memadai.
Perlengkapan penting dan pokok dalam sistem transmisi air baku air minum adalah :
a) Katup pelepas udara, yang berfungsi melepaskan udara yang terakumulasi dalam pipa transmisi, yang
dipasang pada titik-titik tertentu dimana akumulasi udara dalam pipa akan terjadi.
a) Katup pelepas tekanan, yang berfungsi melepas atau mereduksi tekanan berlebih yang mungkin terjadi
pada pipa transmisi.
b) Katup penguras (Wash-out Valve), berfungsi untuk menguras akumulasi lumpur atau pasir dalam pipa
transmisi, yang umumnya dipasang pada titik-titik terendah dalam setiap segmen pipa transmisi.
c) Katup ventilasi udara (Air Valve) perlu disediakan pada titik-titik tertentu guna menghindari terjadinya
kerusakan pada pipa ketika berlangsung tekanan negatif atau kondisi vakum udara.
Debit pompa transmisi air minum ke reservoir ditentukan bardasarkan debit hari maksimum. Perioda
operasi pompa antara 20–24 jam per hari. Dengan melihat kondisi diatas bahwa dapat diketahui bahwa
saluran terbuka hanya digunakan untuk transmisi air baku.
15
Tabel 3 Ketentuan Teknis Pipa Transmisi
1. Jalur pipa sependek 1. Pipa harus direncanakan untuk 1. Spesifikasi pipa PVC mengikuti
mungkin; mengalirkan debit maksimum standar SNI 03-6419-2000 tentang
2. Menghindari jalur yang harian; Spesifikasi Pipa PVC bertekanan
mengakibatkan 2. Kehilangan tekanan dalam berdiameter 110-315 mm untuk Air
konstruksi sulit dan pipa tidak lebih air 30% dari Bersih dan SK SNI S-20-1990-2003
mahal; total tekanan statis (head tentang Spesifikasi Pipa PVC untuk
3. Tinggi hidrolis pipa statis) pada sistem transmisi Air Minum.
minimum 5 m diatas dengan pemompaan. Untuk 2. SNI 06-4829-2005 tentang Pipa
pipa, sehingga cukup sistem gravitasi, kehilangan Polietilena Untuk Air Minum;
menjamin operasi air tekanan maksimum 5 m/1000 3. Standar BS 1387-67 untuk pipa baja
valve; m atau sesuai dengan kelas medium.
4. Menghindari perbedaan spesifikasi teknis pipa 4. Fabrikasi pipa baja harus sesuai
elevasi yang terlalu besar dengan AWWA C 200 atau SNI-07-
sehingga tidak ada 0822-1989 atau SII 2527-90 atau JIS
perbedaan kelas pipa. G 3452 dan JIS G 3457.
5. Standar untuk pipa ductile
menggunakan standar dari ISO 2531
dan BS 4772.
Unit produksi direncanakan berdasarkan kebutuhan kebutuhan hari puncak yang besarnya berkisar 120% dari
kebutuhan rata-rata. Penyusunan perencanaan teknis unit produksi didasarkan pada kajian kualitas air yang akan
diolah (kondisi rata-rata dan terburuk yang mungkin terjadi dijadikan sebagai acuan dalam penetapan proses
pengolahan air dikaitkan dengan sasaran standar kualitas air minum (output).
Rangkaian proses pengolahan air umumnya : satuan operasi dan satuan proses yaitu untuk memisahkan material
kasar, material tersuspensi, material terlarut, proses netralisasi dan proses desinfeksi.
Unit koagulasi
Unit flokulasi
Unit sedimentasi
Unit filtrasi
Unit netralisasi
Unit desinfeksi
Perencanaan unit produksi antara lain dapat mengikuti standar berikut ini:
SNI 03-3981-1995 tentang tata cara perencanaan instalasi saringan pasir lambat;
16
SNI 19-6773-2002 tentang Spesifikasi Unit Paket Instalasi Penjernihan Air Sistem Konvensional Dengan
Struktur Baja;
SNI 19-6774-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi Penjernihan Air.
Penyusunan perencanaan teknis unit produksi didasarkan pada kajian kualitas air yang akan diolah (kondisi rata-
rata dan terburuk yang mungkin terjadi dijadikan sebagai acuan dalam penetapan proses pengolahan air dikaitkan
dengan sasaran standar kualitas air minum (output).
Rangkaian proses pengolahan air umumnya : satuan operasi dan satuan proses yaitu untuk memisahkan material
kasar, material tersuspensi, material terlarut, proses netralisasi dan proses desinfeksi. Unit produksi dapat terdiri
dari :
Unit koagulasi
Unit flokulasi
Unit sedimentasi
Unit filtrasi
Unit netralisasi
Unit desinfeksi
SNI 03-3981-1995 tentang tata cara perencanaan instalasi saringan pasir lambat;
SNI 19-6773-2002 tentang Spesifikasi Unit Paket Instalasi Penjernihan Air Sistem Konvensional Dengan
Struktur Baja;
17
SNI 19-6774-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi Penjernihan Air.
Unit distribusi direncanakan berdasarkan kebutuhan jam puncak yang besarnya berkisar 115%-300% dari
kebutuhan rata-rata. Air yang dihasilkan dari IPA dapat ditampung dalam reservoir air yang berfungsi untuk
menjaga kesetimbangan antara produksi dengan kebutuhan, sebagai penyimpan kebutuhan air dalam kondisi
darurat, dan sebagai penyediaan kebutuhan air untuk keperluan instalasi. Reservoir air dibangun baik dengan
konstruksi baja maupun konstruksi beton bertulang.
Jaringan perpipaan yang terkoneksi satu dengan lainnya membentuk jaringan tertutup (loop), sistem jaringan
distribusi bercabang (dead-end distribution system), atau kombinasi dari kedua sistem tersebut (grade system).
Bentuk jaringan pipa distribusi ditentukan oleh kondisi topografi, lokasi reservoir, luas wilayah pelayanan, jumlah
pelanggan dan jaringan jalan dimana pipa akan dipasang.
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam perancangan denah (lay-out) sistem distribusi adalah sebagai
berikut :
Denah (Lay-out) sistem distribusi ditentukan berdasarkan keadaan topografi wilayah pelayanan dan lokasi
instalasi pengolahan air;
Tipe sistem distribsi ditentukan berdasarkan keadaan topografi wilayah pelayanan;
Jika keadaan topografi tidak memungkinkan untuk sistem gravitasi seluruhnya, diusulkan kombinasi sistem
gravitasi dan pompa. Jika semua wilayah pelayanan relatif datar, dapat digunakan sistem perpompaan
langsung, kombinasi dengan menara air, atau penambahan pompa penguat (booster pump);
Jika terdapat perbedaan elevasi wilayah pelayanan terlalu besar atau lebih dari 40 m, wilayah pelayanan dibagi
menjadi beberapa zone sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan tekanan minimum. Untuk
mengatasi tekanan yang berlebihan dapat digunakan katup pelepas tekan (pressure reducing valve). Untuk
mengatasi kekurangan tekanan dapat digunakan pompa penguat.
Unit pelayanan terdiri dari sambungan rumah, hidran umum, dan hidran kebakaran. Untuk mengukur besaran
pelayanan pada sambungan rumah dan hidran umum harus dipasang alat ukur berupa meter air.
Kapasitas sistem dihitung berdasarkan kebutuhan untuk rumah tangga/domestik ditambah dengan kebutuhan
untuk non domestik. Kebutuhan rumah tangga dihitung berdasarkan proyeksi jumlah penduduk, prosentase
pelayanan dan besarnya konsumsi kebutuhan. Sedangkan kebutuhan air non domestik dihitung berdasarkan
18
konsumsi kebutuhan air bersih tiap unit dan jumlah unit fasilitas. Disamping hal-hal di atas, ada beberapa faktor
yang perlu diperhatikan antara lain:
a) Kebocoran/kehilangan air
Kebocoran atau kehilangana ir diperkirakan sebesar 20% dari kapasitas produksi. Kebocoran tersebut
meliputi pemakaian air di instalasi, kehilangan pada unit transmisi, kehilangan pada reservoir dan
kebocoran pada jaringan distribusi.
Kapasitas pengambilan sumber air baku disesuaikan dengan kapasitas produksi atau debit hari
maksimum.
Kebutuhanrata-rata meliputi pemakaian domestik dan non domestik, sedangkan pemakaian hari
maksimum diperkirakan sebesar 1,15 kali kebutuhan rata-rata dan pemakaian jam puncak diperkirakan
sebesar 1,75-2 kali pemakaian rata-rata.
Jaringan pipa transmisi direncanakan untuk dapat mengalirkan air sesuai dengan kapasitas hari
maksimum.
Kapasitas reservoir distribusi direncanakan untuk dapat menampung sisa kapasitas produksi pada saat
pemakaian jam minimum dan mampu mensuplai pada saat pemakaian jam puncak.
Perencanaan penyediaan air baku dilakukan dengan pengembangan sistem penampungan dengan
reservoir. Kapasitas reservoir ditentukan oleh beberapa hal yaitu debit sumber mata air, besarnya
kemampuan reservoir yang akan direncanakan untuk menampung kapasitas produksi dari sumber mata
air yang dikaitkan dengan besarnya proyeksi kebutuhan air.
Jaringan pipa induk distribusi direncanakan mampu mengalirkan air bersih pada saat pemakaian jam
puncak.
Secara lebih rinci batasan-batasan perencanaan yang digunakan antara Lain :
Kapasitas sistem perpipaan dirancang untuk memenuhi kebutuhan air pada jam puncak dan jam
maksimum.
19
Kecepatan aliran dalam pipa direncanakan minimum 0,3 m/dt dan maksimum 3,0 m/dt. Sisa tekanan
minimum yang dikehendaki pada jaringan pipa induk pada titik kritis minimal 10 m kolom air atau 1
atm.
Daerah pelayanan dibagi menjadi blok-blok pelayanan dan kebutuhan air tiap blok disesuaikan
dengan kebutuhan air bagi penduduk dan aktifitas yang berada dalam blok tersebut.
Kelas pipa yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan dan tekanan air yang melalui pipa
tersebut.
f) Kapasitas aliran dalam pipa
Kecepatan aliran minimum dalam pipa direncanakan sebesar 0,5 m/dt, sedangkan kecepatan aliran
maksimum direncanakan sebesar 3 m/dt.
Dasar perhitungan kapasitas hidrolis baik pada pipa transmisi maupun distribusi menggunakan koefisien
kekasaran pipa (koefisien Hazen-Williem) sebagai berikut:
pipa PVC baru : 120-140
pipa baja bar : 100-120
Periode perencanaan antara 15 – 20 tahun dan dievaluasi setiap 5 tahun, sehingga periode perencanaan menjadi 4
tahap atau perlima tahun agar memudahkan adanya evaluasi dan pelaksanaan terhadap rencana induk di
lapangan.
20
2.5. KRITERIA DAERAH PELAYANAN
Daerah pelayanan disesuaikan dengan arah pengembangan yang ada dalam RTRW serta memperhatikan daerah
potensial, daerah yang tinggi kepadatan penduduknya, daerah strategi (wisata, industri, perkantoran), daerah
dengan penduduk berpenghasilan rendah (MBR), daerah rawan air, serta kebijakan pemerintah kabupaten dalam
ppenyediaan air minum. Upayakan daerah yang Bukan Jarinan Perpipaan tak terlindungi dijadikan Bukan Jarinan
Perpipaan terlindungi atau diubah menjadi Jaringan Perpipaan.
21