Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang
PENDAHULUAN
I.2 TUJUAN
1
3. Mengetahui bagaimana pandangan agama-agama wahyu tentang
Tuhan.
4. Mengetahui pembuktian wujud Tuhan (Tuhan menurut Sains).
2
BAB II
PEMBAHASAN
a) Menurut Filosofis
Adapun menurut beberapa filosof tentang Tuhan, ialah :
1. Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: Yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-
Nya, merendahkan diri dihadapan-Nya, takut, mengharapkan-Nya, kepada-
Nya tepat berpasrah jika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal
kepada-Nya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari pada-
Nya, dan menimbulkan ketenangan disaat mengingat-Nya dan terpaut
cinta kepada-Nya.
2. Santo Agustinus
Santo Agustinus percaya bahwa Tuhan ada dengan melihat sejarah dari
drama penciptaan, yang melibatkan Tuhan dengan [Link]
didefinisikan berdasarkan sifat-sifat-Nya ; Maha Tahu, Maha Hadir, Kekal,
Pencipta segala sesuatu. Namun Tuhan bukan ada begitu saja, melainkan
selalu terhubung dengan peristiwa-peristiwa besar manusia.
3. Imanuel Kant
Ajaran Kant tentang Tuhan ditemui dalam hukum moralnya
melalui beberapa tahap:
1. Allah adalah suara hati
2. Allah adalah tujuan moralitas
3
3. Allah adalah pribadi yang menjamin bahwa orang yang bertindak baik
demi kewajiban moral akan mengalami kebahagiaan sempurna.
4
Istilah henoteisme muncul pada abad 19 oleh F. Max Muller.
Dalam henoteisme, satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang
disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan (ilah)
bangsa lain. Kepercayaan satu Tuhan untuk satu bangsa disebut
dengan Henoteisme (Tuhan tingkat nasional).
e. Monoteisme
Monoteisme secara kebahasaan berasal dari bahasa Yunani
Monos yang berarti tunggal dan Theos yang artinya dewa. Dalam
monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan
bersifat Internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat
Ketuhanan terbagi dalam 3 paham yaitu:
1. Deisme (Tuhan bersifat transenden: Setelah penciptaan alam,
Tuhan tidak terlibat lagi dengan hasil ciptaannya).
2. Panteisme (Tuhan bersifat imanen: Tuhan menampakkam
diri dalam berbagai fenomena alam, artinya alam sendiri
itulah Tuhan).
3. Teisme (Tuhan pada prinsipnya bersifat transenden,
mengatasi semesta kenyataan, tetapi Tuhan juga selalu
terlibat dengan alam semesta). Teisme dalam pandangan al-
Ghazali, menurutnya Allah adalah Zat yang Esa Pencipta
alam serta berperan aktif rdalam mengendalikan alam. Allah
menciptakan alam dari tidak ada. Karena itu, menurut al-
Ghazali, mukjizat adalah suatu peristiwa yang wajar karena
Tuhan bisa mengubah hukum alam yang dianggap tidak bisa
berubah. Al-Ghazali berpendapat, karena Maha Kuasa dan
berkehendak mutlak, Tuhan mampu mengubah segala
ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak mutlak-Nya.
5
a) Mu’tazilah: Secara harfiah, mu’tazilah berasal dari kata I’tazala
yang berarti berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga
menjauh atau menjauhkan diri. Aliran ini berpendapat bahwa
orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak
mukmin. Ia berada di antara posisi mukmin dan kafir (manzilah
baina manzilatain).
b) Qodariah: qodariah berasal dari bahasa Arab, yang artinya
kemampuan dan kekuatan. Secara terminologi, qadariyah adalah
suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak
diinterverensi oleh Tuhan. Maksudnya, manusia mempunyai
kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri yang
menghendaki apakah ia akan kafir atau mukmin.
c) Jabariah: Secara bahasa jabariyah yang memiliki arti memaksa.
Kalau dikatakan bahwa Allah mempunyai sifat Al-Jabbar (dalam
bentuk muballaghah), itu artinya bahwa Allah Maha Memaksa.
Aliran ini meyakini bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan
dalam berkehendak dan berbuat. Semua tingkah laku manusia
ditentukan dan dipaksa oleh Tuhan.
d) Asy’ariyah dan Maturidiyah: Kata Asy’ariyah berasal dari nama
Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin
Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa
Al-asy’ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260H/875M. Aliran ini
menolak konsep tentang posisi tengah (manzilah baina
manzilatain). Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan
lawan kufr, maka predikat bagi seseorang haruslah salah satunya.
Jika tidak mukmin ia kafir. Oleh karena itu, Al-Asy’ari
berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah
mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena
dosa selain kufur.
II.3 TUHAN MENURUT AGAMA-AGAMA WAHYU
Tuhan yang haq dalam konsep Al-Qur’an adalah “Allah” , dan
kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan dari wahyu yang
6
datang dari Allah sendiri. Keesaan Allah adalah mutlak, tidak dapat
disejajarkan dengan yang lain.
Menurut para musafir, melalui wahyu pertama Al-Qur’an Q.S. Al-
Alaq. 1-5, Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan
mengajarkan manusia berbagai hal termasuk diantaranya konsep
ketuhanan. Umat Muslim percaya Al-Qur’an adalah kalam Allah, sehingga
semua keterangan Allah dalam Al-Qur’an merupakan “penuturan Allah
tentang diri-Nya”.
Kebenaran tentang Tuhan yang datang dari Tuhan sendiri
merupakan kebenaran yang bersifat mutlak. Informasi yang benar tentang
Tuhan harus melalui Rasul yang dipercaya dan dipilih Tuhan untuk
menerangkan tentang diri-Nya. Al-Qur’an menegaskan Nabi Muhammad
SAW. Sebagai Rasul terakhir (Q.S. An-Najm, 53: 2-4).
7
membuktikan bahwa adanya alam ini tidak mungkin bersifat azali,
pasti ada yang menciptakannya.
4. Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi
Semua sistem tata surya yang ada di alam ini, baik matahari, bumi,
bulan, bintang-bintang dan lainnya tidak ada yang diam dan berhenti
pada suatu tempat tertentu. Semuanya bergerak dan beredar pada garis
edarnya masing-masing tanpa pernah berbenturan antara satu dengan
yang lainnya.
8
BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
1. Definisi Tuhan secara umum : Tuhan ialah sesuatu yang dipentingkan
(dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia
merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya.
Menurut filosof :
a) Ibnu Taimiyah, Al-ilah ialah yang dipuja dan, dicintai sepenuh
hati, yang harus ditakuti, yang dimintai pertolongan dan
perlindungan, serta pusatnya (tujuan) segala ibadah.
b) Santo Agustinus, Tuhan didefinisikan berdasarkan sifat-sifat-Nya ;
Maha Tahu, Maha Hadir, Kekal, Pencipta segala sesuatu. Namun
Tuhan bukan ada begitu saja, melainkan selalu terhubung dengan
peristiwa-peristiwa besar manusia.
c) Immanuel Kant, Tuhan didefiniskan sebagi suara hati, tujuan
moralitas, dan pribadi yang menjamin bahwa orang yang bertindak
baik demi kewajiban moral akan mengalami kebahagiaan
sempurna.
9
Keesaan-Nya bersifat mutlak dan tak ada yang mampu menandingi-
Nya.
III.2 SARAN
Sebagai hamba-Nya yang beriman sudah seharusnya kita lebih mengenal-
Nya dan meyakini bahwa Allah SWT nyata adanya tanpa keraguan sedikit
pun. Sebagai manusia kita wajib mematuhi perintah dan menjauhi
larangan-Nya sesuai ajaran masing-masing. Kita pun harus meyakini
bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan kekuasaan-Nya mutlak atas
ciptaan-Nya serta menigkatkan ketakwaan dan keimanan agar lebih dekat
dan dicintai oleh-Nya.
10