0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan10 halaman

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

Diunggah oleh

Muhammad Rizaldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan10 halaman

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

Diunggah oleh

Muhammad Rizaldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Tuhan merupakan tujuan kita hidup, untuk mencapai tujuan itu


maka kita perlu mengenal siapa tuhan itu (Fauzan, 2015). Banyak yang
mengaku “bertuhan” tetapi tidak mengenal Tuhan itu sendiri dan masih
banyak yang meragukan eksistensi Tuhan. Bahkan ada beberapa orang
atau kelompok yang menganggap Tuhan sama sekali tidak ada dan tidak
benar.

Sebuah pepatah mengatakan ”tak kenal maka tak sayang”. Pepatah


ini sangat benar. Jika kita tidak mengenal sesuatu maka tidak mungkin kita
menyayanginya, begitupun dengan Tuhan. Jika kita ingin selalu dekat dan
disayang oleh Tuhan, maka kita pun harus mengenal-Nya (Ihsan, 2007).

Mengenal Tuhan menjadi sangat penting karena banyak sekali dalil


sangat kuat yang telah membuktikan Keberadaan serta Kekuasaan-Nya
yang tak terbantahkan. Jika dalil-dalil tersebut demikian banyak dan kuat
dan kita masih meragukan bahkan tidak mengenali-Nya, berarti kita
ketinggalan informasi yang dikirimkan Tuhan secara langsung untuk
menegaskan Kekuasaan-Nya (Pratama, 2016).

Dan manfaat yang kita rasakan dengan mengenal Tuhan adalah di


akhirat, dimana kita akan mendapatkan surga serta keridhaan-Nya dan
menjadi lebih dekat dengan-Nya (Pratama, 2016). Tidak ada kenikmatan
yang sebanding dengan kenikmatan tersebut dan menjadi salah satu insan
yang dicintai-Nya.

I.2 TUJUAN

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk :

1. Mengetahui definisi dari Tuhan secara umum dan filosofis.


2. Mengetahui tentang sejarah pemikiran umat manusia tentang Tuhan.

1
3. Mengetahui bagaimana pandangan agama-agama wahyu tentang
Tuhan.
4. Mengetahui pembuktian wujud Tuhan (Tuhan menurut Sains).

2
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 SIAPAKAH TUHAN ITU?


Tuhan ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh
manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai
[Link] logika Al-Qur’an, setiap manusia pasti mempunyai
sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian, manusia tidak mungkin
atheis, tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Adapun Tuhan mereka ialah
ideologi atau utopia mereka.

a) Menurut Filosofis
Adapun menurut beberapa filosof tentang Tuhan, ialah :
1. Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: Yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-
Nya, merendahkan diri dihadapan-Nya, takut, mengharapkan-Nya, kepada-
Nya tepat berpasrah jika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal
kepada-Nya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari pada-
Nya, dan menimbulkan ketenangan disaat mengingat-Nya dan terpaut
cinta kepada-Nya.
2. Santo Agustinus
Santo Agustinus percaya bahwa Tuhan ada dengan melihat sejarah dari
drama penciptaan, yang melibatkan Tuhan dengan [Link]
didefinisikan berdasarkan sifat-sifat-Nya ; Maha Tahu, Maha Hadir, Kekal,
Pencipta segala sesuatu. Namun Tuhan bukan ada begitu saja, melainkan
selalu terhubung dengan peristiwa-peristiwa besar manusia.
3. Imanuel Kant
Ajaran Kant tentang Tuhan ditemui dalam hukum moralnya
melalui beberapa tahap:
1. Allah adalah suara hati
2. Allah adalah tujuan moralitas

3
3. Allah adalah pribadi yang menjamin bahwa orang yang bertindak baik
demi kewajiban moral akan mengalami kebahagiaan sempurna.

II.2 SEJARAH PEMIKIRAN MANUSIA TENTANG TUHAN


1. Pemikiran Barat
Teori Evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya proses
dari kepercayaan yang amat sederhana, lama kelamaan meningkat
menjadi sempurna. Prosesnya adalah sebagai berikut:
a. Dinamisme
Secara etimologis, Dinamisme berasal dari kata yunani yang
artinya kekuatan atau tenaga. Menurut paham ini, manusia sejak zaman
primitif telah mengakui adanya kekuatan yang bepengaruh dalam
kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut ditujukkan
pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada
yang berpengaruh positif dan ada pula yang berpengaruh negatif.
b. Animisme
Kata animisme berasal dari bahasa latin yang berarti roh atau
nyawa yang mencakup nafas atau jiwa manusia. Disamping
kepercayaan dinamisme, masyarakat primitif juga mempercayai
adanya peran roh dalam hidupnya. Setiap benda yang dianggap benda
baik mempunyai roh. Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai
sesuatu yang aktif sekalipun bendanya telah mati.
c. Politeisme
Secara harfiah, politeisme berasal dari bahasa yunani yang berarti
banyak Tuhan. Politeisme adalah kepercayaan pada dewa-dewa. Dewa
mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan bidangnya.
Tujuan beragama dalam politeisme bukan hanya memberi sesajen atau
persembahan pada dewa-dewa itu, tetapi juga menyembah dan berdoa
kepada mereka untuk menjauhkan amarahnya dari masyarakat yang
bersangkutan.
d. Henoteisme

4
Istilah henoteisme muncul pada abad 19 oleh F. Max Muller.
Dalam henoteisme, satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang
disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan (ilah)
bangsa lain. Kepercayaan satu Tuhan untuk satu bangsa disebut
dengan Henoteisme (Tuhan tingkat nasional).
e. Monoteisme
Monoteisme secara kebahasaan berasal dari bahasa Yunani
Monos yang berarti tunggal dan Theos yang artinya dewa. Dalam
monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan
bersifat Internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat
Ketuhanan terbagi dalam 3 paham yaitu:
1. Deisme (Tuhan bersifat transenden: Setelah penciptaan alam,
Tuhan tidak terlibat lagi dengan hasil ciptaannya).
2. Panteisme (Tuhan bersifat imanen: Tuhan menampakkam
diri dalam berbagai fenomena alam, artinya alam sendiri
itulah Tuhan).
3. Teisme (Tuhan pada prinsipnya bersifat transenden,
mengatasi semesta kenyataan, tetapi Tuhan juga selalu
terlibat dengan alam semesta). Teisme dalam pandangan al-
Ghazali, menurutnya Allah adalah Zat yang Esa Pencipta
alam serta berperan aktif rdalam mengendalikan alam. Allah
menciptakan alam dari tidak ada. Karena itu, menurut al-
Ghazali, mukjizat adalah suatu peristiwa yang wajar karena
Tuhan bisa mengubah hukum alam yang dianggap tidak bisa
berubah. Al-Ghazali berpendapat, karena Maha Kuasa dan
berkehendak mutlak, Tuhan mampu mengubah segala
ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak mutlak-Nya.

2. Pemikiran Umat Islam


Pemikiran terhadap Tuhan yang melahirkan Ilmu Tauhid di
kalangan umat Islam, timbul sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Secara garis besarnya terdiri dari:

5
a) Mu’tazilah: Secara harfiah, mu’tazilah berasal dari kata I’tazala
yang berarti berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga
menjauh atau menjauhkan diri. Aliran ini berpendapat bahwa
orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak
mukmin. Ia berada di antara posisi mukmin dan kafir (manzilah
baina manzilatain).
b) Qodariah: qodariah berasal dari bahasa Arab, yang artinya
kemampuan dan kekuatan. Secara terminologi, qadariyah adalah
suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak
diinterverensi oleh Tuhan. Maksudnya, manusia mempunyai
kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri yang
menghendaki apakah ia akan kafir atau mukmin.
c) Jabariah: Secara bahasa jabariyah yang memiliki arti memaksa.
Kalau dikatakan bahwa Allah mempunyai sifat Al-Jabbar (dalam
bentuk muballaghah), itu artinya bahwa Allah Maha Memaksa.
Aliran ini meyakini bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan
dalam berkehendak dan berbuat. Semua tingkah laku manusia
ditentukan dan dipaksa oleh Tuhan.
d) Asy’ariyah dan Maturidiyah: Kata Asy’ariyah berasal dari nama
Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin
Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa
Al-asy’ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260H/875M. Aliran ini
menolak konsep tentang posisi tengah (manzilah baina
manzilatain). Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan
lawan kufr, maka predikat bagi seseorang haruslah salah satunya.
Jika tidak mukmin ia kafir. Oleh karena itu, Al-Asy’ari
berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah
mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena
dosa selain kufur.
II.3 TUHAN MENURUT AGAMA-AGAMA WAHYU
Tuhan yang haq dalam konsep Al-Qur’an adalah “Allah” , dan
kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan dari wahyu yang

6
datang dari Allah sendiri. Keesaan Allah adalah mutlak, tidak dapat
disejajarkan dengan yang lain.
Menurut para musafir, melalui wahyu pertama Al-Qur’an Q.S. Al-
Alaq. 1-5, Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan
mengajarkan manusia berbagai hal termasuk diantaranya konsep
ketuhanan. Umat Muslim percaya Al-Qur’an adalah kalam Allah, sehingga
semua keterangan Allah dalam Al-Qur’an merupakan “penuturan Allah
tentang diri-Nya”.
Kebenaran tentang Tuhan yang datang dari Tuhan sendiri
merupakan kebenaran yang bersifat mutlak. Informasi yang benar tentang
Tuhan harus melalui Rasul yang dipercaya dan dipilih Tuhan untuk
menerangkan tentang diri-Nya. Al-Qur’an menegaskan Nabi Muhammad
SAW. Sebagai Rasul terakhir (Q.S. An-Najm, 53: 2-4).

II.4 PEMBUKTIAN WUJUD TUHAN


1. Metode Pembuktian Ilmiah
Metode ini mengenal hakikat melalui percobaan dan
pengamatan,sedang akidah agama berhubungan dengan alam di luar
indera,yang tidak mungkin dilakukan percobaan (agama didasarkan
pada analogi dan induksi). Hal inilah yang menyebabkan menurut
metode ini agama batal, sebab agama tidak mempunyai landasan
ilmiah.
2. Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan
Adanya alam serta Organisasinya yang menakjubkan dan rahasia-
Nya yang pelik. Adanya manusia, namun manusia sendiri mengakui
bahwa dia terjadi bukan atas kehendak sendiri. Kejadian alam dan
manusia ini memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang
telah menciptaknnya, suatu “akal” yang tidak ada batasannya.
3. Pembuktikan Adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika
Hukum Termodinamika II yang dikenal dengan hukum
keterbatasan energi atau teori pembatasan perubahan energy panas,

7
membuktikan bahwa adanya alam ini tidak mungkin bersifat azali,
pasti ada yang menciptakannya.
4. Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi
Semua sistem tata surya yang ada di alam ini, baik matahari, bumi,
bulan, bintang-bintang dan lainnya tidak ada yang diam dan berhenti
pada suatu tempat tertentu. Semuanya bergerak dan beredar pada garis
edarnya masing-masing tanpa pernah berbenturan antara satu dengan
yang lainnya.

8
BAB III

PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
1. Definisi Tuhan secara umum : Tuhan ialah sesuatu yang dipentingkan
(dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia
merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya.
Menurut filosof :
a) Ibnu Taimiyah, Al-ilah ialah yang dipuja dan, dicintai sepenuh
hati, yang harus ditakuti, yang dimintai pertolongan dan
perlindungan, serta pusatnya (tujuan) segala ibadah.
b) Santo Agustinus, Tuhan didefinisikan berdasarkan sifat-sifat-Nya ;
Maha Tahu, Maha Hadir, Kekal, Pencipta segala sesuatu. Namun
Tuhan bukan ada begitu saja, melainkan selalu terhubung dengan
peristiwa-peristiwa besar manusia.
c) Immanuel Kant, Tuhan didefiniskan sebagi suara hati, tujuan
moralitas, dan pribadi yang menjamin bahwa orang yang bertindak
baik demi kewajiban moral akan mengalami kebahagiaan
sempurna.

2. Sejarah pemikiran manusia tentang Tuhan terbagi menjadi 2, yaitu


pemikiran barat dan pemikiran umat Islam.
a) Pemikiran Barat, yaitu teori evolusionisme (proses peningkatan
kepercayaan dari sederhana menjadi sempurna) yang terdiri dari
proses dinamisme (benda), animisme (roh), politeisme (dewa-
dewa), henoteisme (satu dewa/Tuhan untuk satu bangsa), dan
monoteisme (satu dewa/Tuhan untuk seluruh bangsa).
b) Pemikiran umat Islam, secara garis besar terdiri atas mu’tazilah,
qodariah, jabariah, asy’ariyah, dan maturidiyah.

3. Menurut pandangan agama, Allah adalah Tuhan yang haq (konsep Al


qur’an), kemahaesaan-Nya datang dari wahyu yang diberikan-Nya,

9
Keesaan-Nya bersifat mutlak dan tak ada yang mampu menandingi-
Nya.

4. Tuhan menurut sains ialah dengan adanya alam beserta semua


fenomena yang terdapat didalamnya dan adanya manusia, memberikan
penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang menciptakan dan
mengendalikan itu semua yang tidak dapat dinalar dengan akal
manusia yang hanya terbatas.

III.2 SARAN
Sebagai hamba-Nya yang beriman sudah seharusnya kita lebih mengenal-
Nya dan meyakini bahwa Allah SWT nyata adanya tanpa keraguan sedikit
pun. Sebagai manusia kita wajib mematuhi perintah dan menjauhi
larangan-Nya sesuai ajaran masing-masing. Kita pun harus meyakini
bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan kekuasaan-Nya mutlak atas
ciptaan-Nya serta menigkatkan ketakwaan dan keimanan agar lebih dekat
dan dicintai oleh-Nya.

10

Anda mungkin juga menyukai