0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan55 halaman

Senam Asma untuk Cegah Kekambuhan

Studi ini membahas manfaat latihan senam asma untuk mencegah kekambuhan penyakit asma pada pasien asma. Tujuannya adalah mengidentifikasi pengaruh senam asma terhadap kekambuhan penyakit asma pada pasien asma. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien asma yang melakukan latihan senam asma mengalami penurunan frekuensi kekambuhan yang lebih besar dibandingkan dengan yang tidak melakukannya

Diunggah oleh

Muh Akram
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan55 halaman

Senam Asma untuk Cegah Kekambuhan

Studi ini membahas manfaat latihan senam asma untuk mencegah kekambuhan penyakit asma pada pasien asma. Tujuannya adalah mengidentifikasi pengaruh senam asma terhadap kekambuhan penyakit asma pada pasien asma. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien asma yang melakukan latihan senam asma mengalami penurunan frekuensi kekambuhan yang lebih besar dibandingkan dengan yang tidak melakukannya

Diunggah oleh

Muh Akram
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI LITERATUR : LATIHAN SENAM ASMA UNTUK MENCEGAH

KEKAMBUHAN PENYAKIT ASMA PADA PASIEN ASMA

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan


Diploma III Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palu Jurusan
Keperawatan Program Studi D III Keperawatan Poso

DISUSUN OLEH :

RISQUH TOYYIB
NIM : P00220217039

POLITEKHNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN PALU


J U R U S A N K E P E R A W A T A N
PRODI D-III KEPERAWATAN POSO
TAHUN 2020

i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Karya tulis ilmiah penelitian ini telah di setujui untuk diuji Tim Penguji
Poltekkes Kemenkes Palu Jurusan Keperawatan Program Studi D-III
Keperawatan Poso.

Nama : RISQUH TOYYIB

Nim : P00220217039

Poso, agustus 2020

Pembimbing I

Dafrosia Darmi Manggasa [Link] Ns. [Link]

NIP. 198106082005012003

ii
Poso, agustus 2020

Pembimbing II

Tasnim, [Link]. Ns. MM

NIP : 197404011995031004

Mengetahui

Ketua Program Studi

Agusrianto, [Link]. Ns. MM

iii
NIP :197307271997031002

LEMBAR TIM PENGESAHAN PENGUJI

Proposal Penelitian ini telah diperiksa dan disetujui oleh Tim Penguji Poltekkes
Kemenkes Palu Jurusan Keperawatan Program Studi D-III Keperawatan Poso.
pada tanggal Februari 2020.

Nama : RISQUH TOYYIB

Nim : P00220217039

Poso, agustus 2020

Tim Penguji

Penguji 1

Agusrianto, [Link]. Ns. MM

Penguji 2

iv
Ulfa sulfianingsih, [Link]. [Link]

Penguji 3

Nirva [Link]

Mengetahui Menyetujui
Direktur Poltekkes Kemenkes Palu Ketua Jurusan
Keperawatan

Nasrul SKM,[Link] Selvi Alfrida Mangundap,[Link].M,Si


Nip.196804051988021001 NIP. 196604191989032002

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN POSO

Risquh toyyib, 2020 : Studi literatur latihan senam asma untuk mencegah
kekambuhan penyakit asma pada pasien asma Karya tulis ilmiah
prodi DIII keperawatan poso jurusan keperawatan poltekkes
kemenkes palu. Pembimbing (1) Dafrosia darmi manggasa (2)
Tasnim

ABSTRAK

v
XI+36 halaman+2 tabel+4 lampiran
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran pernapasan mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu sehingga
menyebabkan peradangan. Terjadinya peradangan pada asma disebabkan oleh
alergi berupa udara dingin, asap rokok atau polusi dan debu. Ikawati,
Zullies(2016). Salah satu intervensi keperawatan untuk mencegah kekambuhan
penyakit asma dengan yaitu senam asma. Tujuan penulisan : untuk
mengidentifikasi pengaruh senam asma terhadap kekambuhan penyakit asma pada
pasien asma. Metode penelusuran : berbasis data yang digunakan dalam studi
literatur yaitu Google scholar dan Perpustakaan Nasional republik Indonesia.
Hasil : ada 5 jurnal yang diidentifikasi dan diterbitkan dari 2016-2019. Hasi
penelitian menunjukan bahwa Pasien asma yang melakukan latihan senam asma
terdapat penurunan frekuensi kekambuhan lebih besar dibandingkan dengan
pasien yang tidak melakukan senam asma. Saran : diharapkan hasil penelitian ini
bisa menambah pengatahuan dan wawasan bagi pembaca dan dapat diterapkan
pada intervensi-intervensi mandiri keperawatan.

Kata kunci : senam asma, kekambuhan asma dan penyakit asma.


Daftar rujukan : 19 referensi (2010-2020)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN POSO

vi
Risquh toyyib, 2020 : literature study : asthma gymnastics exercise to prevent
recurrence of asthma in asthma patients. Scientific paper of the DIII
Nursing Program in Poso, Department of Health, Ministry of Health,
Ministry of Health, hammer. Advisors (1) Dafrosia darmi manggasa
[Link] N.S [Link] (2) Tasnim [Link] N.S MM.

ABSTRACT
XI + 36 pages + 2 tables + 4 attachments
Asthma is a condition in which the respiratory tract is narrowed due to
hyperactivity to certain stimuli, causing inflammation. The occurrence of
inflammation in asthma is caused by allergies in the form of cold air, cigarette
smoke or pollution and dust. Ikawati, Zullies (2016). Asthma management is
asthma exercise. Purpose of writing: to identify the effect of asthma exercise on
recurrence of asthma in asthma patients. Search method: based on data used in the
literature study, namely Google scholar and the National Library of the Republic
of Indonesia. Results: 5 journals were identified and published from 2016-2019.
The results of the study showed that asthma patients who did asthma exercise had
a greater decrease in recurrence frequency than patients who did not do asthma
exercises. Suggestion: it is hoped that the results of this study can add knowledge
and insight for readers and can be applied to independent nursing interventions.

Key words: asthma exercise, bronchial asthma,


List of references: 19 references (2010-2020).

KATA PENGANTAR

vii
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat,

rahmat dan karunia-Nya, sehingga karya tulis ilmiah yang berjudul “latihan

senam asma untuk mencegah kekambuhan penyakit asma pada pasien asma” ini

bisa terselesaikan dengan baik dan benar.

Kepada kedua orang tua saya Bapak Taryono sardan dan Ibu Saniem

Stropawiro yang telah membesarkan dan mendidik saya sehingga menjadi seperti

sekarang. selalu mendukung dan memberikan nasihat agar saya selalu sabar dan

iklas selama penyusunan karya tulis ilmiah ini.

Karya tulis ilmiah dengan Studi Kasus ini tidak akan selesai tanpa bantuan

dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada

berbagai pihak yang telah membantu penulis di antaranya :

1. Nasrul, SKM,[Link]. Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan

Palu

2. Selvi Afrida Mangundap, [Link] Ketua Jurusan Keperawatan Politekknik

Kesehatan Kementian Kesehatan Palu.

3. Agusrianto, [Link]. Ns. MM sebagai Ketua Program Studi Keperawatan

Politekknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Palu Prodi D-III Keperawatan

Poso sekaligus sebagai penguji utama.

4. Dafrosia Darmi Manggasa [Link] [Link] sebagai pembimbing 1 yang

selalu sabar dan tidak pernah lelah mamberikan masukan dan bimbingannya.

5. Tasnim [Link] sebagai pembimbing 2 yang telah memberikan saran

dan masukan dalam penyelesaian penulisan Karya Tulis Ilmiah.

viii
6. Bapak, Ibu Dosen dan tenaga pendidikan Program Studi keperawatan Poso

yang selama ini telah banyak memberi bantuan kepada penulis.

7. Kepada teman kelas seangkatan 2017 yang telah memberikan dukungan,

motivasi sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

Penulis menyadari dengan segala keterbatasan pengetahuan dan

kemampuan yang di miliki penulis jika karya tulis ilmiah dengan Studi kasus

ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saran dan kritik yang bersifat

membangun sangat di harapkan penulis untuk di jadikan sebagai perbaikan

dalam penyusunan hasil penelitian.

Poso, Februari 2020

Penulis

ix
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING.....................................................................ii


LEMBAR TIM PENGESAHAN PENGUJI......................................................................iii
DAFTAR ISI...................................................................................................................viii
DAFTAR TABEL..............................................................................................................x
DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................................xi
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
A. Latar belakang...........................................................................................................1
B. Rumusan masalah......................................................................................................3
C. Tujuan penelitian.......................................................................................................3
D. Manfaat penelitian.....................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................5
A. Tinjauan tentang asma bronchial...............................................................................5
1. Definisi asma.........................................................................................................5
2. Faktor risiko...........................................................................................................6
3. Klasifikasi..............................................................................................................6
4. Etiologi...................................................................................................................7
5. Manifestasi klinis...................................................................................................9
6. Patofisiologi.........................................................................................................10
Pathway Asma Bronkial (Gloria M Bulechek, dkk. 2016)...............................................11
7. Pemeriksaan laboratorium....................................................................................12
8. Pemeriksaan penunjang........................................................................................13
9. Komplikasi...........................................................................................................15
10. Penatalaksanaan.................................................................................................15
B. Tinjauan tentang konsep Evidence Based Nursing (EBN).......................................18
SOP SENAM ASMA.......................................................................................................21
BAB III METODE PENELITIAN................................................................................24

x
A. Metode penelusuran..............................................................................................24
B. Alasan pemilihan jurnal.......................................................................................24
C. Subyek Studi..........................................................................................................24
D. Fokus Studi............................................................................................................25
E. Etika Penelitian......................................................................................................25
BAB IV............................................................................................................................27
HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN......................................................................27
A. Analisis...................................................................................................................27
B. Pembahasan.............................................................................................................32
C. Hambatan................................................................................................................34
BAB V KESIMPULAN...................................................................................................35
A. Kesimpulan.............................................................................................................35
B. Saran........................................................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................36

xi
DAFTAR TABEL

Table 2.1 sop senam asma……………………………………………………….21

Table 2.2 analisis jurnal………………………………………………………….27

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Biodata Penulis

Lampiran 2 : Pengambilan Data Awal

Lampiran 3 : Persyaratan Keaslian Penulisan

Lampiran 4 : Glosarium

xiii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran pernapasan mengalami

penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu sehingga

menyebabkan peradangan. Terjadinya peradangan pada asma disebabkan oleh

alergi berupa udara dingin, asap rokok atau polusi dan debu. Ikawati, Zullies

(2016). Pada penyakit asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi

daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi

sehingga menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat

sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang

menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma

biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi ketika

ekspirasi terjadi [Link] ini yang menyebabkan gejala dispnea pada pasien

[Link] pada otot-otot pernapasan juga bisa terjadi akibat terjadinya

sesak napas dan pembatasan aktifitas. Ikawati, Zullies (2016).

Berdasarkan Global atsma report 2018, empat puluh juta kematian, atau

70% dari seemua kematian di seluruh [Link] oleh penyakit tidak

menular dengan 80% kematian terjadi di negara [Link] pernapasan

kronis,termasuk asma menyebabkan 15% kematian di dunia. Asma adalah

penyakit kronis yang di perkirakan mempengaruhi sebanyak 339 juta orang di

seluruh [Link] adalah penyebab beban penyakit yang substansial,termasuk

kematian dini dan penurunan kualitas hidup,pada semua kelompok umur di

1
2

seluruh dunia. Asma berada di peringkat ke-16 dunia di antara penyebab utama

tahun hidup dengan disabilitas dan peringkat ke-28 di antara penyebab utama

beban penyakit (The Global Atsma Report, 2018).

Berdasarkan data prevalensi asma menurut World Health Organization

(WHO) tahun 2016, prevalensi asma bronkial sekitar 235 juta dengan angka

kematian lebih dari 80% di negara-negara berkembang. Prevalensi asma di

Amerika Serikat berdasarkan umur sebesar 7,4% pada orang dewasa dan 8,6%

pada anak-anak, berdasarkan jenis kelamin 6,3% laki-laki dan 9,0% perempuan.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, mendapatkan angka prevalensi

penyakit asma pada semua umur di Indonesia adalah 57,5% dengan prevalensi

tertinggi di Aceh 68,9% dari 100% sedangkan di Sulteng mencapai 57,6%.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah kekambuhan penyakit asma pada

pasien asma yaitu latihan senam asma. Salah satu penatalaksanaan asma yang

dapat dibudayakan adalah dengan menjaga pola hidup sehat dan senam asma yang

bersifat melatih otot pernapasan. Latihan otot pernapasan dapat meningkatkan

fungsi otot pernapasan, mengurangi derajat gangguan pernapasan, meningkatkan

toleransi terhadap aktivitas dan menurunkan gejala dipsnea. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa setelah mengikuti senam asma secara teratur pasien asma

mendapatkan beberapa manfaat yaitu frekuensi serangan asma berkurang,

pemakaian obat berkurang, dan gejala asma menjadi ringan.

Selain itu, Senam asma merupakan salah satu penatalaksanaan non

farmakologis pada pasien asma yang tujuannya untuk melatih ekspirasi dan

inspirasi dalam mengeluarkan CO2 karena adanya obstruksi jalan napas.


3

Meningkatnya sirkulasi oksigen ke otot pernapasan menyebabkan metabolisme

aerob dan energi tubuh menjadi meningkat (Antoro, 2016). Apabila senam asma

dilakukan secara rutin maka bermanfaat bagi pasien untuk mencegah

kekambuhannya, selain itu juga pasien dapat mengurangi penggunaan obat-obatan

atau farmakologi. Senam asma memiliki fungsi untuk memperkuat otot

pernapasan, menurunkan kadar IgE. IgE merupakan faktor utama yang

menyebabkan adanya inflamasi dalam patofisiologi penyakit asma (Widjanegara

et al., 2015).

Berdasarkan latar belakang maka penulis ingin mengidentifikasi studi

literatur tentang Pengaruh latihan senam asma untuk mencegah kekambuhan

penyakit asma pada pasien asma.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mencoba melakukan studi

literatur pada beberapa jurnal penelitian untuk mengetahui lebih mendalam

yang berhubungan dengan pengaruh latihan senam asma untuk mencegah

kekambuhan penyakit asma pada pasien asma.

C. Tujuan penelitian
Untuk mengidentifikasi studi literatur yang berhubungan dengan

Pengaruh latihan senam untuk mencegah kekambuhan penyakit asma pada

pasien asma.
4

D. Manfaat penelitian
Manfaat penulisan proposal studi kasus ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait

dengan intervensi keperawatan mandiri berdasarkan evidence-based

terkini dan dapat diaplikasikan dalam rangka memberikan informasi

terkini kepada mahasiswa yang akan turun praktek, serta menjadi

tambahan bacaan di perpustakaan Prodi D-III Keperawatan Poso

2. Manfaat bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengalaman dan

pengetahuan penulis tentang penyakit asma khususnya dalam

menerapkan intervensi keperawatan mandiri sebagai terapi modalitas

keperawatan yang telah efektif dapat mengatasi masalah

ketidakefektifan pola napas pada pasien asma.

3. Manfaat bagi Ilmu Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi media informasi terkait

manfaat intervensi keperawatan yang mudah untuk dilakukan,

sederhana, murah, dan tentunya lebih aman untuk diaplikasikan kepada

pasien dan sudah dibuktikan oleh penelitian – penelitian terkait

intervensi keperawatan khususnya, latihan senam asma untuk mencegah

kekambuhan penyakit asma pada pasien asma.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan tentang asma bronchial

1. Definisi asma

Asma adalah gangguan yang terdapat pada saluran pernapasan, dimana

terjadi peradangan karena penyempitan pada saluran pernapasan yang diakibatkan

hiperaktifitas. Penyebab asma meliputi beberapa faktor pencetus yaitu faktor

predisposisi atau genetik dan faktor presipitasi berupa debu, bulu binatang, polusi,

asap rokok, makanan, maupun lingkungan. Penyakit asma bronkial sering

mengeluh sesak nafas, batuk, dada terasa berat atau tertindih dan terdengar bunyi

napas mengi (wheezing). Beberapa gejala yang ditimbulkan dari penyakit asma

diantaranya kesulitan bernapas, perasaan seperti hampir kehabisan napas dan

berpikir bahwa dirinya akan meninggal dunia sehingga menimbulkan kecemasan

pada setiap individu yang mengalaminya (Tumigolung dkk, 2016).

Asma adalah suatu keadaan dimana saluran pernapasan mengalami

penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu sehingga

menyebabkan peradangan. Terjadinya peradangan pada asma disebabkan oleh

alergi berupa udara dingin, asap rokok atau polusi, debu, dan bulu hewan.(Judith,

2016).

5
6

2. Faktor risiko
Faktor risiko terjadinya asma merupakan interaksi antara faktor pejamu

dan faktor lingkungan. Faktor pejamu yaitu faktor predisposisi genetik yang

mempengaruhi berkembangnya asma pada suatu individu, berupa genetik

asma, riwayat alergi (atopi), hiperaktivitas bronkus, jenis kelamin, sedangkan

faktor lingkungan yaitu faktor yang mempengaruhi suatu individu dengan

predisposisi asma untuk berkembang menjadi asma dan menyebabkan

terjadinya eksaserbasi serta gejala asma yang menetap (Judith, 2016).

Faktor lingkungan berupa alergen, lingkungan kerja, asap rokok, polusi

udara, infeksi pernapasan (virus), diet, status sosial ekonomi dan besarnya

keluarga. Paparan asap rokok selama masa kehamilan meningkatkan

kemungkinan terjadinya wheezing pada bayi. Pada orang dewasa yang

menderita asma, merokok dapat meningkatkan derajat keparahan asma dan

menurunkan respon terhadap penggunaan kortikosteroid inhalan (Husna,

2015).

3. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan

menjadi 3 tipe menurut Husna (2015), sebagai berikut:

a. Ekstrinsik (alergik)

Reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang

spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotik dan

aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya

suatu
7

predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor

pencetus spesifik seperti yang disebutkan diatas, maka akan terjadi serangan

asma ekstrinsik.

b. Intrinsik (non alergik)

Reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik

atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya

infeksi pada saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih

berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang

menjadi bronkhitis kronik dan emfisema.

c. Asma gabungan

Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari

bentuk alergik dan non alergik atau gabungan dari keduanya.

4. Etiologi
Menurut Nursalam (2015), ada beberapa hal yang merupakan faktor

predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial.

a. Faktor predisposisi

Genetik, dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum

diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit

alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi.

Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma

bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas

saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.


8

b. Faktor presipitasi

1) Alergi

Alergi terbagi menjadi tiga jenis, antara lain:

a). Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan seperti debu, bulu

binatang, serbuk bunga, dan polusi udara.

b). Ingestan, yang masuk melalui mulut seperti makanan dan obat-obatan

c). Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit seperti perhiasan,

logam dan jam tangan.

2) Perubahan cuaca

Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering

mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor

pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan

dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal

ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.

3) Stres

Stres atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma,

selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.

Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma

yang mengalami stres perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah

pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum

bisa diobati.
9

4) Lingkungan kerja

Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan

asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang

bekerja dilaboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu

lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.

5) Olah raga atau aktifitas jasmani yang berat

Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika

melakukan aktifitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling

mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas

biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

5. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan

tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak

bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta

tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma

bronkial ini adalah sesak nafas, mengi (wheezing), batuk, dan pada sebagian

penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu

dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat, gejala-gejala yang

timbul makin banyak, yaitu: silent chest, sianosis, gangguan kesadaran,

hyperinflasi dada, takikardi, pernapasan cepat dan dangkal. Serangan asma

seringkali terjadi pada malam hari (Putra dkk, 2018).


10

6. Patofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkhiolus yang

menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas

bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada

asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara yaitu seorang yang alergi

mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi IgE abnormal

dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi

dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibodi ini terutama melekat pada

sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan

brokhiolus dan bronkhus kecil (Judith, 2016).

Asma terjadi akibat interaksi antara faktor pejamu (host factor) dan

faktor lingkungan. Faktor pejamu (host) meliputi genetik asma, alergik (atopi),

hiperaktivitas bronkus, jenis kelamin dan ras. Faktor lingkungan

mempengaruhi kecenderungan/predisposisi untuk berkembang menjadi asma,

terjadinya eksaserbasi atau menyebabkan gejala-gejala asma menetap. Faktor

lingkungan meliputi alergen, sensitisasi lingkungan kerja, asap rokok, polusi

udara, infeksi pernapasan (virus) dan diet (Perhimpunan Dokter Paru

Indonesia, 2013).

Pada penyakit asma bronkial, diameter bronkiolus lebih berkurang

selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam

paru selama ekspirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena

bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah

akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama


11

selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi

dengan baik dan adekuat, tetapi ketika ekspirasi sering terasa [Link] ini yang

menyebabkan dispnea pada pasien asma. Kapasitas residu fungsional dan

volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat

kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru (Judith, 2016).

Pathway Asma Bronkial (Gloria M Bulechek, dkk. 2016)

Faktor pencetus (alergi, Hipersensitivitas ,Menstimulasi IgE ,Degranulasi


sel mast,Melepaskan histamin dan cuaca, lingkungan )

permeabilitas kapiler

edema mukosa,sekresi produktif,kontraksi otot polos

konsentrasi O2 dalam
darah

Hipoksemia
Gangguan pertukaran gas

Suplai darah dan O2 ke


Jantung berkurang tekanan O2 alveoli

Penurunan cardiac output penyempitan jalan napas

Penurunan curah jantung peningkatan kerja otot napas


Dan tekanan darah menurun

Kelemahan dan keletihan Ketidakefektifan pola napas

Intoleransi aktivitas
12

7. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan sputum
1) Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari
kristaleosinopil
2) Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari
cabang bronkus
3) Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus

4) Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat

mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.

b. Pemeriksaan darah

1) Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi

hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis

2) Peningkatan SGOT dan LDH

3) Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang diatas 15.000/mm3

dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi Pada pemeriksaan faktor-

faktor alergi terjadi peningkatan dari IgE pada waktu serangan dan

menurun pada waktu bebas dari serangan.

8. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium menurut Judith (2016), sebagai berikut:

A. pemeriksaan laboratorium

Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu

serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen

yang bertambah dan peleburan rongga interkostalis, serta diafragma yang

menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat

adalah, sebagai berikut:


13

1) Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan

bertambah

2) Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran

radiolusen akan semakin bertambah

3) Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru

dan dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal

4) Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumo

perikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-

paru.

b Pemeriksaan tes kulit

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan

berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada

asma.

c. Elektrokardiografi

Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat

dibagi menjadi 3 bagian yang disesuaikan dengan gambaran yang

terjadi pada emfisema paru yaitu perubahan aksis jantung, yakni pada

umumnya terjadi right axisdeviasi dan clock wise rotation, terdapatnya

tanda-tanda hipertropi otot jantung RBB (Right Bundle Branch Block)

dan tanda-tanda hipoksemia dengan terdapatnya sinus takikardia,

SVES, danVES atau terjadinya depresi segmen ST negatif.


14

d. Scanning paru

Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa

redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-

paru.

e. Spirometri

Menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversibel, cara yang

paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon

pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan

sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau

nebulizer) golongan adrenergik.

Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20%

menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol

bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting

untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat

obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi

pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.

9. Komplikasi
a. Status asmatikus ; merupakan suatu kondisi dimana terjadi serangan asma

berat yang tidak berespon terhadap pengobatan asma pada umumnya.

b. Hipoksemia ; kondisi dimana kadar oksigen dalam darah rendah.

c. Emfisema ; penyakit kronis akibat kerusakan kantong udara atau alveolus

pada paru-paru.
15

d. Deformitas thoraks ; keadaan dimana terdapat peerubahan bentuk dan

struktur dada.

e. Gagal nafas ; kondisi kegawatan medis yang terjadi akibat gangguan serius

pada system pernapasan,sehingga menyebabkan tubuh kekurangan oksigen.

Jika tidak segera di tangani gagal napas dapat menyebabkan kerusakan

organ tubuh dan bahkan kematian.

10. Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial menurut Judith (2016), sebagai

berikut:

a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara

b. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan

asma.

c. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai

penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya

sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan

bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya.

Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, antara lain:

[Link] farmakologik

Bronkodilator yaitu obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2

golongan, antara lain:

1) Simpatomimetik/andrenergik (adrenalin)

Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet,

sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan MDI (Metered Dose
16

Inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin

Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan bronkodilator (alupent),

fenoterol (berotec), terbutalin (bricasma) oleh alat khusus diubah menjadi

aerosol (partikel-partikel yang sangat halus) untuk selanjutnya dihirup.

2) Santin (teofilin)

Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi

cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan

efeknya saling memperkuat. Jenis obat santin berupa aminofilin

(amicamsupp), aminofilin (Euphilin Retard), teofilin (amilex).

Bentuk suntikan teofillin atau aminofilin dipakai pada serangan asma

akut dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena

sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum

sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung

sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk

supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria

ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin

(misalnya muntah atau lambungnya kering).

3) Kromalin

Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah

serangan asma. Obat ini bermanfaat untuk penderita asma yang alergi

terutama anak-anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti

asma yang lain dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.
17

4) Ketolifen

Ketolifen mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti

kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1 mg/hari. Keuntungan

obat ini adalah dapat diberika secara oral.

b. Pengobatan non farmakologik

1) Memberikan penyuluhan atau edukasi kesehatan mengenai asma bronkial

2) Memberikan pengetahuan untuk menghindari faktor pencetus alergi

3) Pemberian posisi fowler

4) Menganjurkan minum air hangat

5) Mengajarkan batuk efektif

6) Melakukan terapi murottal untuk menurunkan kecemasan

7) Beri O2 bila perlu

B. Tinjauan tentang konsep Evidence Based Nursing (EBN)

Senam Asma merupakan rangkaian senam yang bertujuan untuk

melatih dan memperkuat otot pernapasan agar penderita asma lebih mudah

melakukan respirasi dan ekspetorasi. Senam asma meningkatkan kapasitas

penyandang asma dalam melakukan aktivitas sehari-hari, meningkatkan

kemampuan pernafasan dan efisiensi kerja otot pernafasan, serta menambah

aliran darah ke paru sehingga aliran darah teroksigenasi lebih banyak,

pernafasan lebih lambat dan efisien, mengurangi laju penurunan faal paru, dan

memperpendek waktu pemulihan. Manifestasinya berupa peningkatan toleransi

terhadap latihan, berkurangnya kekambuhan, menurunnya depresi dan


18

kecemasan, perbaikan faal paru, dan menurunnya resiko kematian sebelum

waktunya (Azhar & Berawi, 2015). Perubahan sistem respirasi yang terjadi

akibat latihan diantaranya, bertambahnya ventilasi semenit sebagai akibat

bertambahnya volume tidal dan frekuensi nafas, terjadinya peningkatan

efisiensi ventilasi, yaitu jumlah udara yang ikut berventilasi pada tingkat

konsumsi oksigen yang sama, akan lebih rendah pada orang yang terlatih. Otot

rangka yang aktif mendapat oksigen lebih banyak dari otot pernapasan, dan

volume paru lebih besar pada orang yang terlatih (Bebasari & Azrin, 2016).

Hasil penelitian ini selaras dengan teori yang menyatakan bahwa senam

asma mempunyai berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan pernapasan

karena dapat meningkatkan kekuatan otot pernapasan. Latihan otot merangsang

pusat vasomotor di batang otak, diikuti peningkatan tekanan arteri dan

peningkatan ventilasi paru. Gerakan tubuh terutama lengan dan tungkai

meningkatkan ventilasi dengan merangsang propioseptor sendi dan otot, yang

kemudian menjalarkan impuls eksitasi ke pusat pernapasan. Hipoksia yang

terjadi dalam otot selama latihan menghasilkan sinyal saraf aferen ke pusat

pernapasan untuk merangsang pernapasan. Selain itu otot-otot yang bekerja

akan membentuk CO2 dalam jumlah yang banyak dan membutuhkan banyak

oksigen sehingga PCO2 dan PO2 berubah secara nyata antara siklus inspirasi

dan ekspirasi pada pernapasan (Guyton & Hall, 2016). Senam asma secara

rutin meningkatkan peredaran darah ke selutuh tubuh khususnya ke otot-otot

pernapasan. Aliran darah yang lancar membawa nutrisi dan oksigen yang lebih

banyak, termasuk kalsium dan kalium. Peningkatan ion kalsium dalam sitosol
19

terjadi akibat pelepasan ion yang semakin banyak dari retikulum endoplasma.

Ion kalsium yang ada di dalam otot berfungsi untuk mengingkatkan potensial

aksi otot sehingga massa otot dapat dipertahankan dan kerja otot meningkat

(Sahat dkk, 2011).

Latihan (exercise) mempunyai hubungan timbal balik dengan respirasi.

Senam asma yang teratur akan meningkatkan efisiensi sistem pernapasan,

meningkatkan kerja otot pernapasan, kesegaran jasmani atau kesanggupan

tubuh melakukan penyesuaian terhadap beban fisik yang diberikan kepadanya

berupa kerja yang dilakukan sehari-hari dan tidak menimbulkan kelelahan yang

berlebihan, karena kapasitas difusi orang yang terlatih lebih besar dari orang

yang tidak terlatih. Senam asma melatih para penderita asma dengan beberapa

sesi termasuk didalamnya adalah sesi latihan menarik napas dan

menghembuskan napas dengan ekspirasi lebih panjang dua hitungan dibanding

inspirasi. Latihan ini bertujuan melatih cara bernapas yang baik. Sesi yang lain

adalah untuk melenturkan otot pernapasan, sehingga mempermudah

pernapasan dan ekspektorasi. Sesi utama adalah sesi aerobik yang

menggunakan otot-otot besar untuk melatih sistem kardiovaskular dan respirasi

dalam mendistribusikan pasokan darah, sehingga nilai APE mengalami

peningkatan setelah melakukan senam asma. Dengan demikian penderita asma

yang mau mengikuti senam asma secara teraturmengalami peningkatan

kemampuan pernapasan yang ditandai dengan peningkatan nilai APE.

Senam asma berpengaruh terhadap kemampuan pernapasan (APE)

penderita asma di Poli Asma RSUD Bangil. Nilai rata-rata APE responden
20

sebelum senam sebesar 208 l/m, sedangkan setelah senam rata-rata sebesar

304. Rata-rata kenaikan nilai APE sebelum senam dan sesudah senam sebesar

95 l/m. Hasil ini memperkuat penelitian Azhar & Berawi (2015) dimana

senam asma yang dilakukan secara rutin mampu meningkatkan faal paru (p =

0,001). Senam asma meningkatkan kapasitas penyandang asma dalam

melakukan kegiatan sehari-hari, seperti meningkatkan kemampuan pernafasan,

meningkatkan efisiensi kerja otot-otot pernafasan, menambah aliran darah ke

paru sehingga aliran darah yang teroksigenasi lebih banyak, menyebabkan

pernafasan lebih lambat dan efisien, mengurangi laju penurunan faal paru, dan

memperpendek waktu pemulihan. Manifestasinya adalah naiknya toleransi

terhadap latihan, berkurangnya kekambuhan, menurunnya depresi dan

kecemasan, perbaikan faal paru, dan menurunnya resiko kematian sebelum

waktunya. Perubahan sistem respirasi yang terjadi akibat latihan diantaranya,

bertambahnya ventilasi semenit sebagai akibat bertambahnya volume tidal dan

frekuensi nafas, terjadinya peningkatan efisiensi ventilasi, yaitu jumlah udara

yang ikut berventilasi pada tingkat konsumsi oksigen yang sama akan lebih

rendah pada orang yang terlatih. Otot rangka yang aktif mendapat oksigen

lebih banyak dari otot pernapasan, dan volume paru lebih besar pada orang

yang terlatih (Azhar & Berawi, 2015).


21

SOP SENAM ASMA


Tabel 2.1 Sop senam asma

1 pengertian Merupakan salah satu upaya untuk pengobatan


dan pencegahan asma bagi penderita asma
2 tujuan 1. Melatih cara bernapas yang benar

2. Melenturkan dan memperkuat otot pernapasan

3. Melatih ekspektorasi yang efektif

4. Meningkatkan sirkulasi

[Link] asma yang terkontro. Mempertahankan

asma yang terkontrol

7. Kualitas hidup lebih baik


3 indikasi 1. Pasien Asma namun namun tidak dalam keadaan

serangan asma

2. Tidak dalam serangan jantung

3. Tidak dalam stamina menurun (flu, kurang tidur,

baru sembuh).
4 kontraindikasi 1. Pasien dalam keadaan serangan asma

2. Pasien dalam keadaan serangan jantung

3. Pasien dalam keadaan stamina yang menurun (flu,

kurang tidur, baru sembuh)


5 persiapan klien 1. Identifikasi klien dengan memeriksa identitas,riwayat

kesehatan, penyakit dan keluhanklien secara

cermat.

2. Berikan salam, perkenalkan diri anda,

danidentifikasi klien dengan memeriksa identitas

klien secara cermat.


22

3. Jelaskan tentang prosedur tindakan yang

akandilakukan, berikan kesempatan kepada klienuntuk

bertanya dan jawab seluruh pertanyaanklien.

4. Atur posisi klien sehingga merasakan amandan

nyaman
6 persiapan alat 1. pemutar musik

dan bahan

Table 2.2 Gerakan senam asma.

no gerakan gambar gerakan


1 (1) Ayunkan lengan, setinggi

bahu. Dilakukan 2 x 8 kali.

2 (2) Ayunkan lengan lebih tinggi.

Dilakukan 2 x 8 kali, hitungan

terakhir tegak.

3 (3) Putar kedua lengan.

Dilakukan 2 x 8 kali, (4 x ke

depan, 4 x ke belakang).

4 (4) Berjalan. Dilakukan

sebanyak sepuluh kali hitungan.


23

5 (5) Tarik siku ke belakang.

Dilakukan 2 x 8 kali. Tiap

hitungan ke-4, kedua lengan ke

bawah.
6 (6) Tarik siku (sama dengan

latihan ke-5), dilakukan 2 x ,

disambung dengan 2 x hitungan

dengan lengan direntangkan.

Tiap hitungan 4; kedua lengan

turun.
7 (7) Tarik lengan ke belakang

(dalam sikap lurus). Dilakukan 2

x 8 kali , tiap hitungan 4, kedua

lengan lurus ke bawah.


8 (8) Renggutkan badan ke bawah

sebanyak 3 x , hitungan 4, tegak.

Tegak. Dilakukan sebanyak 2 x

8 kali.
9 (9) Sama dengan latihan 8, 1 x

tunduk, 2 x melengkung ke

belakang, hitungan 4

[Link] 2 x 8 kali.
10 (10) Berjalan, dilakukan

sebanyak sepuluh kaki hitungan


24

11 (11) Renggutkan badan ke

samping dilakukan sampai 3 x ,

hitungan 4 putar ke arah Iain.

Dilakukan 2 x - 8 kali.
12 (12) Tarik-menarik dilakukan

sampai 3 x , hitungan 4 tegak.

Dilakukan 2 x 8 kali.

13 (13) Hitungan 1, putar, hitungan


2-3 renggutkan badan ke depan,
hitungan 4 kembali ke sikap
semula. Tiap selesai hitungan 4,
ganti orang. Dilakukan 2 x 8
kali.
14 (14) Istirahat, dilakukan
sebanyak sepuluh kali hitungan,
(dr. Dangsina Moeloek & Pieter
Panggabean)
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Metode penelusuran

Penelitian ini merupakan sebuah studi literatur yang merangkum

beberapa literatur yang relevan dengan tema. Peneliti melakukan pencarian

literatur melalui Google Scholar, kata kunci yang digunakan dalam pencarian

literatur antara lain: “senam asma’’, asma bronkhial’’, ‘’efektifitas senam

asma’’, ‘’kapasitas vital asma’’dan ‘’arus puncak ekspirasi’’.

B. Alasan pemilihan jurnal


Artikel ini dipilih karena jenis intervensi yang dilakukan merupakan

intervensi mandiri perawat, sederhana serta bermanfaat. Selain itu, jurnal ini

memiliki tahun publikasi yang tergolong baru (tahun 2015-2020). Jurnal ini

juga dapat menjawab pertanyaan klinis yang diajukan peneliti.

C. Subyek Studi
1. Budi antoro (2015). ‘’ pengaruh senam asma terstruktur terhadap

peningkatan arus puncak ekspirasi (APE) pada pasien asma.

2. Neza Ukhalima Hafia Sudrajat dan Khairun Nisa (2016). “Efektifitas

Senam Asma untuk Meningkatkan Fungsi Paru Penderita Asma”.

3. Arizka dwi kustiono dan siti baitul M (2019). ‘’pengarus senam asma

terhadap frekuensi kekambuhan dan kapasitas vital paru pada penderita

asma di balai kesehatan paru masyarakat semarang.

25
26

4. Erik Kusuma dan Bayu Herlambang (2020). “Pengaruh Senam Asma

Terhadap Kemampuan Pernapasan Penderita Asma Di Poli Asma RSUD

Bangil”.

5. Lungguh Tarenaksa Suranggana, Koesbaryanto dan Azizah Khoiriyati

(2018). “Pengaruh Senam Asma Bronkhial Terhadap Frekuensi

Kekambuhan Pasien Asma Bronkhial Di Puskesmas Penujak Lombok

Tengah Nusa Tenggara Barat”.

D. Fokus Studi
Fokus studi dalam penelitian ini yaitu latihan senam asma untuk

mencegah kekambuhan penyakit asma pada pasien asma

E. Etika Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, peneliti harus memahami prinsip-

prinsip etika dalam penelitian karena penelitian yang digunakan adalah subjek

manusia, dimana setiap manusia memiliki hak masing-masing yang tidak bisa

dipaksakan. Adapun etika dalam penelitian, sebagai berikut:

1. Informed consent

Sebelum melakukan tindakan yang akan diberikan maka pasien harus

menandatangani surat persetujuan. Dimana dalam surat persetujuan tersebut

sudah dijelaskan maksud dan tujuan dari tindakan yang akan diberikan.

2. Anonimity (Tanpa nama)

Salah satu etika keperawatan yang harus dilakukan oleh perawat adalah

menjaga kerahasian pasien. Maka dari itu dalam melakukan penelitian


27

perawat harus menjaga kerahasian pasien dengan tidak mencantumkan nama

responden. Data yang tampilkan menggunakan inisial untuk menjaga privasi

pasien.

3. Prinsip autonomy

Prinsip autonomy didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu

berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Dalam melakukan

tindakan perawat harus jujur dan menggungkap akan sesuai dengan

kenyataan yang ada.

4. Prinsip confidientiality (Kerahasiaan)

Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh

peneliti, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya, data yang telah

didapatkan harus dijaga kerahasiannya.

5. Prinsip Beneficence and Non maleficence

Dalam memberikan tindakan perawat harus berbuat artinya dalam

melakukan tindakan harus mempertimbangkan apakah tindakan tersebut

berbahaya atau tidak kepada pasien serta tidak merugikan pasien.

6. Prinsip justice

Prinsip ini menekankan pada aspek keadilan, dimana dalam melakukan

penelitian perawat tidak memandang dari segi ras, suku, agama, ekomomi

dan lain-lain.
BAB IV

HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN

A. Analisis
Berdasarkan hasil penelusuran jurnal yang dilakukan melalui “google
scholar’’peneliti membuat analisis jurnal yang dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 1.2 analisis jurnal (2015-2020)

No peneliti tujuan desain responden pengumpulan hasil


(tahun & penelitian penelitian data penelitian
judul)
1. Erik kusuma & Tujuan Jenis Sampel data dalam Dari hasil
Bayu penelitian ini penelitian ini dalam penelitian ini penelitian
herlambang untuk adalah pre penelitian diambil didapatkan
(2018) mengidentifi eksperimen ini adalah menggunaka rata-rata
“pengaruh kasi pengaruh dengan 31 orang n lembar kemampuan
senam asma senam asma desain pre pasien asma observasi pernapasan
terhadap terhadap test-post test yang dipilih umur, jenis (APE)
kemampuan kemampuan desain. menggunak kelamin dan sebelum
pernapasan pernapasan an teknik pekerjaan. senam 208
penderita asma penderita total lt/mnt dan
di poli asma asma di Poli sampling. setelah
RSUD Asma RSUD melakukan
Bangil”. Bangil senam naik
menjadi 304
lt/mnt, uji
statistik
didapatkan
nilai p :
0,000 (< α :
0,05),
artinya ada
pengaruh
senam asma
terhadap
kemampuan
pernapasan
pada
penderita
asma di Poli
Asma rsud

28
bangil

29
29

2 Lungguh Penelitian ini Penelitian ini total data dalam Berdasarkan


tarenaksa bertujuan menggunaka sampling penelitian ini analisis data
suranggana, menganalisis n metode sesuai diambil bahwa nilai
Koesbaryanto pengaruh quasi kriteria menggunaka frekuensi
& Azizah senam asma eksperimen sedang n lembar kekambuha
khoriyati(2018 bronkhial dengan sebanyak 55 observasi n pada
).“pengaruh terhadap control group responden, usia, jenis kelompok
senam asma frekuensi design dilakukan kelamin dan intervensi
bronchial kekambuhan dengan cara pendidikan. adalah 2,75
terhadap pasien asma time series ± 0,70 dan
frekuensi bronkhial Di pada setelah
kekambuhan Puskesmas kelompok intervensi
pasien asma Penujak intervensi adalah 1,21
bronchial di Lombok dan ± 0,42.
puskesmas Tengah, Nusa kelompok Pasien asma
penujak Tenggara kontrol, yang
Lombok Barat tahun setiap 3 kali melakukan
tengah NTT”. 2018 seminggu latihan
selama 4 senam asma
minggu di terdapat
Puskesmas penurunan
Penunjuk frekuensi
Lombok kekambuha
Tengah, n lebih
Nusa besar
Tenggara dibandingka
Barat n dengan
pasien yang
tidak
melakukan
senam
asma.
3. Budi antoro tujuan Penelitian ini Sampel data dalam hasil uji
(2015). penelitian ini menggunaka berjumlah penelitian ini statistik ada
“Pengaruh untuk n metode 38 diambil perbedaan
senam asma mengetahui penelitian responden menggunaka yang
terstruktur perbedaan quasi dipilih n lembar signifikan
terhadap arus puncak eksperimenta menggunak observasi rerata
peningkatan ekspirasi l dengan an usia, jenis peningkatan
arus puncak (APE) desain purposive kelamin dan arus puncak
ekspirasi sesudah pretest- sampling pekerjaan. ekspirasi
(APE) pada senam asma postest with sesudah
pasien asma”. pada control group senam asma
kelompok design. terstruktur
intervensi pada
dan kelompok
30

kelompok intervensi
kontrol. p=.037,
(<0.05).
Usia paling
signifikan
mempengar
uhi
peningkatan
arus pucak
ekspirasi
p=.000,
sedangkan
Jenis
kelamin dan
pekerjaan
tidak
signifikan
pengaruhi
peningkatan
arus puncak
ekspirasi.
Dari
penelitian
ini
disarankan
agar
petugas
kesehatan
tentang
pentingnya
senam asma
terstruktur
guna
meningkatk
an arus
puncak
ekspirasi
menjadi
lebih
optimal.

4. Rina loriana Penelitian ini Penelitian ini Sampel data yang Dari uji
(2018). bertujuan merupakan dalam diambil statistik
“kombinasi untuk penelitian penelitian dalam maka pada
latihan senam mengetahui quasi ini penelitian ini kelompok 1
asma disertai pengaruh experiment, berjumlah dengan dan
31

teknik pemberian dengan 22 kriteria : kelompok 2


pernapasan intervensi menggunaka responden Pasien asma terdapat
buteyko efektif senam asma n desain pre diambil rawat jalan perbedaan
menurunkan dan teknik test dan post secara acak, wilayah nilai
kekambuhan pernapasan test kelompok 1 Puskesmas frekuensi
asma”. buteyko nonequivalen diberikan Lempake, kekambuha
terhadap t control intervensi Pasien asma n sebelum
frekuensi group. kombinasi yang tidak dan sesudah
kekambuhan senam asma dalam intervensi,
asma. dengan kondisi dan terlihat
teknik serangan pula pada
pernafasan asma, Usia kedua
buteyko dan dewasa 20 – kelompok
kelompok 2 35 tahun, memiliki
diberikan tidak rutin perbedaan
intervensi melakukan dalam hasil
senam asma olahraga frekuensi
saja fisik/ bukan kekambuha
olahragawan, nnya,
bukan kemudian
pekerja bila diliat
pabrik kimia, dari rata-
tidak rata
ketergantung perubahan
an obat- maka
obatan dan kelompok 1
pasien masuk intervensi
dalam derajat senam asma
asma kombinasi
persisten tehnik
ringan pernapasan
buteyko
dinilai lebih
efektif
dalam
menurunkan
frekuensi
kekambuha
n dari
kelompok 2
senam asma
saja.
32

5. Arizka dwi penelitian ini Jenis Dalam data dalam Hasil


kustiono & siti bertujuan penelitian penelitian penelitian ini penelitian
baitul M memberikan yang ini peneliti diambil menunjukan
(2019). senam asma digunakan menggunak menggunaka bahwa
“Pengaruh yang dalam an desain n lembar berdasarkan
senam asma bertujuan penelitian ini penelitian observasi analisis data
terhadap untuk melatih adalah one group berdasarkan uji statistik
kekambuhan cara bernapas metode pretest usia dan jenis dengan t
dan kapasitas yang benar, eksperimen, posttest kelamin. test dan
vital paru pada melenturkan yaitu suatu design hasil
penderita asma dan metode dengan pengukuran
di balai memperkuat penelitian sampel kapasital
kesehatan paru otot yang penelitian vital paru
masyarakat pernapasan, digunakan sebanyak 20 dapat
semarang”. melatih untuk orang disimpulkan
ekspektorasi mencari penderita bahwa ada
yang efektif, pengaruh asma. pengaruh
meningkatka perlakuan Kegiatan antara
n sirkulasi, tertentu senam asma senam asma
mempercepat terhadap dilaksanaka terhadap
asma yang yang lain n 3 kali frekuensi
terkontrol, dalam setiap kekambuha
mempertahan kondisi yang minggu n asma dan
kan asma terkendalikan dengan kapasital
yang durasi vital paru
berkontrol, waktu 45 dan pada
dan kualitas menit penderita
hidup yang selama 8 asma di
lebih baik minggu Balai
Kesehatan
Paru
Masyarakat
Semarang.
33

B. Pembahasan

Asma adalah gangguan yang terdapat pada saluran pernapasan, dimana

terjadi peradangan karena penyempitan pada saluran pernapasan yang

diakibatkan hiperaktifitas. Penyebab asma meliputi beberapa faktor pencetus

yaitu faktor predisposisi atau genetik dan faktor presipitasi berupa debu, bulu

binatang, polusi, asap rokok, makanan, maupun lingkungan. Penyakit asma

bronkial sering mengeluh sesak nafas, batuk, dada terasa berat atau tertindih

dan terdengar bunyi napas mengi (wheezing). Asma terjadi akibat interaksi

antara faktor pejamu (host factor) dan faktor lingkungan. Faktor pejamu (host)

meliputi genetik asma, alergik (atopi), hiperaktivitas bronkus, jenis kelamin

dan ras. Faktor lingkungan mempengaruhi kecenderungan/predisposisi untuk

berkembang menjadi asma, terjadinya eksaserbasi atau menyebabkan gejala-

gejala asma menetap. Faktor lingkungan meliputi alergen, sensitisasi

lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara, infeksi pernapasan (virus) dan diet

(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2013). Oleh karena itu, sehingga perlu di

lakukan penanganan yang tepat untuk mengatasi penyakit asma yaitu latihan

senam asma.

Hasil penelitian Arizka Dwi Kustiono, Siti Baitul M, menyimpukan

berdasarkan analisis data hasil pengukuran Kapasital Vital Paru (KVP) ada

pengaruh antara senam asma terhadap Kapasital Vital Paru (KVP) pada

penderita Asma Bronkial di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM)

Semarang. Kapasital Vital Paru (KVP) sebelum melakukan senam adalah


34

rata-rata 902,50 ml. Kapasital Vital Paru (KVP) setelah melakukan senam

selama 4 minggu adalah 916,08 ml dan setelah 8 minggu 941,33 ml

Hasil penelitian Budi antoro (2015) didapatkan nilai rerata arus puncak

ekspirasi (APE) pada kelompok intervensi pada pengukuran sebelum senam

asma 329.47 ml/mnt sesudah senam asma 342.11 ml/mnt. Terlihat nilai mean

perbedaan antara sebelum dan sesudah 12.63 ml/mnt dengan Standar deviasi

24.45 l/mnt 9. Hasil uji statistik di dapat nilai t=-2.251 dengan p= .037, maka

dapat di simpulkan ada perbedaan yang signifikan antara nilai arus puncak

ekspirasi sebelum dan sesudah melakukan senam asma.

Hasil penelitian Rina loriana (2018), menyimpulkan Berdasarkan data,

teori, dan beberapa hasil penelitian yang sebelumnya telah dipaparkan dapat

disimpulkan bahwa pada kelompok 1 intervensi dengan senam asma yang

dikombinasikan dengan teknik pernapasan buteyko, dan kelompok 2 intervensi

senam asma, kedua intervensi ini memiliki pengaruh dalam menurunkan

frekuensi kekambuhan pasien penderita asma, namun berdasarkan hasil uji

statistik kelompok 1 memiliki perubahan yang lebih besar dalam menurunkan

frekuensi kekambuhan pasien.

Selain itu intervensi asma yang dapat dibudayakan adalah dengan senam

asma yang bersifat melatih otot pernapasan. Latihan otot pernapasan dapat

meningkatkan fungsi otot pernapasan, mengurangi derajat gangguan

pernapasan, meningkatkan toleransi terhadap aktivitas dan menurunkan gejala

dipsnea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mengikuti senam asma

secara teratur pasien asma mendapatkan beberapa manfaat yaitu frekuensi


35

serangan asma berkurang, pemakaian obat berkurang, dan gejala asma menjadi

ringan (Erik Kusuma & Bayu Herlambang, 2020).

Di dukung oleh penelitian Lungguh Tarenaksa Suranggana,

Koesbaryanto & Azizah Khoiriyati (2018). Senam asma merupakan salah satu

penatalaksanaan non farmakologis pada pasien asma yang tujuannya untuk

melatih ekspirasi dan inspirasi dalam mengeluarkan CO2 karena adanya

obstruksi jalan napas. Meningkatnya sirkulasi oksigen ke otot pernapasan

menyebabkan metabolisme aerob dan energi tubuh menjadi meningkat

(Antoro, 2016). Apabila senam asma dilakukan secara rutin maka bermanfaat

bagi pasien untuk mencegah kekambuhannya, selain itu juga pasien dapat

mengurangi penggunaan obat-obatan atau farmakologi. Senam asma memiliki

fungsi untuk memperkuat otot pernapasan, menurunkan kadar IgE. IgE

merupakan faktor utama yang menyebabkan adanya inflamasi dalam

patofisiologi penyakit asma (Widjanegara et al., 2015).

C. Hambatan

Hambatan yang dialami oleh peneliti dalam menyusun stud literatur ini

yaitu sulitnya akses jaringan internet dalam proses pencarian jurnal yang

berhubungan dengan judul studi literature ini, sehingga menjadi hambatan

dalam proses penyusunan studi literatur ini.


BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari studi literatur ini didapatkan bahwa latihan senam

asma dapat mencegah kekambuhan penyakit asma pada pasien asma.

B. Saran
1. Bagi pelayanan

Dengan melihat hasil dari penelitian ini, peneliti merekomendasikan

kepada tim kesehatan yang melakukan perawatan khusunya di tempat

pelayanan kesehatan harus lebih memahami dan mengatahui konsep

penyakit asma dengan menggunakan latihan senam asma.

2. Bagi institusi pendidikan

Diharapkan selalu memberikan mutu pembelajaran yang lebih baik lagi

sehingga dapat menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang professional.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Melihat dari hasil penelitian yang telah didapatkan, peneliti

mengharapkan sebaiknya untuk peneliti selanjutnya direncanakan untuk

melakukan penelitian dengan menggunakan referensi yang lebih banyak

lagi sehingga mendapatkan hasil yang lebih representatif.

36
37

DAFTAR PUSTAKA

Tumigolong, G. T. (2016). Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Serangan


Asma di Kelurahan Mahakeret Barat dan Timur Kota Manado. pp. 229 vol.
World health organizations (WHO). 2016. Asthma fact sheets. 16 november 2016.
Kementrian Kesehatan Republik., (2013). Pusat Data dan Informasi Kementrian
Kesehatan RI." (2013).
The global atsma report 2018, global atsma report, new Zealand : 2019
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2013). Asma Pedoman Diagnosis &
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PDPI

Nugroho,S,2009. Terapi pernapasan pada penderita asma. MEDIKORA V (1), hal. 71-
91.

Yunani, Jamaludin, M. & widiati, A. 2017. Terapi peregangan otot pernapasan untuk
kapasitas vital paru pasien asma. 2018: Bidang MIPA dan kesehatan.

Nugroho, Y. A. 2011. Batuk Efektif dalam Pengeluaran Dahak pada Pasien


dengan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas di Instalasi Rehabilitasi
Medik Rumah Sakit Baptis Kediri. pp. 135-142. Vol. 4
Nugroho Wisnu Murti. 2015. Efektifitas Circulo Massage Terhadap Gangguan
Tidur pada Wanita Lansia di Posyandu Lansia Cebongan Ngestiharjo
Kasihan Bantul. pp.1-9.
Bebasari, E., & Azrin, M. (2016). Korelasi Lama Senam Asma dengan Faal Paru
pada Pasien Asma yang Mengikuti Senam Asma. JIK, Jilid 10, No. 1, hal
17-23. DOI: 10.26891/JIK.v10i1.2016.17-23
Judith, 2016. The latest startsin web and mobile in [Link] akses pada 11
desember 2016.
Yohana & Dwi Kustriyanti. (2014). Pengaruh Senam Asma terhadap kapasital
vital Paru Pada Penderita Asma di Balai Kesehatan Paru Masyarakat
Semarang. Jurnal KMB Edisi Mei 2014. PPNI Jawa Tengah
Nursalam, Laily Hidayati, Ni Putusari. 2015. Faktor Risiko Asma dan Perilaku
Pencegahan Berhubungan dengan Tingkat Kontrol Penyakit Asma. Vol. 4.
pp. 9-1.
Widjanegara, I. G., Tirtayasa, K., & Pangkahila, A. (2015). senam asma
mengurangi kekambuhan dan meningkatkan saturasi oksigen pada penderita
38

asma di poliklinik paru rumah sakit umum daerah wangaya denpasar. Sport
and Fitness Journal, 3(2), 1-1.
Antoro, B. (2016). Pengaruh Senam Asma Terstruktur Terhadap Peningkatan
Arus Puncak Ekspirasi (APE) Pada Pasien Asma. Jurnal Kesehatan, 6(1).
Vironica. (2013). Pengaruh Senam Asma Terhadap Fungsi Paru (KVP dan FEV1)
Pada Wanita Asma di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM)
Semarang. Universitas Muhammadiyah Semarang.

Elizabeth. (2011). Persepsi Pasien Asma Tentang Efektivitas Senam Asma Dalam
Meminimalkan Kejadian Ulang Serangan Asma. STIKES SANTO
BORROMEUS BANDUNG.

Bebasari, E., & Azrin, M. (2016). Korelasi Lama Senam Asma dengan Faal Paru
pada Pasien Asma yang Mengikuti Senam Asma. JIK, Jilid 10, No. 1, hal
17-23. DOI: 10.26891/JIK.v10i1.2016.17-23

Nurdiansyah. Pengaruh senam asma dan Teknik Pernapasan Buteyko Terhadap


Penurunan Gejala Pasien Asma Kota Tangerang Selatan. Fak. Kedokt. dan
Ilmu Kesehat. Progr. Stud. Ilmu Keperawatan Univ. Islam Indones. Syarif
Hidayatulah Jakarta (2013).

Anda mungkin juga menyukai