STUDI LITERATUR : LATIHAN SENAM ASMA UNTUK MENCEGAH
KEKAMBUHAN PENYAKIT ASMA PADA PASIEN ASMA
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan
Diploma III Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palu Jurusan
Keperawatan Program Studi D III Keperawatan Poso
DISUSUN OLEH :
RISQUH TOYYIB
NIM : P00220217039
POLITEKHNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN PALU
J U R U S A N K E P E R A W A T A N
PRODI D-III KEPERAWATAN POSO
TAHUN 2020
i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Karya tulis ilmiah penelitian ini telah di setujui untuk diuji Tim Penguji
Poltekkes Kemenkes Palu Jurusan Keperawatan Program Studi D-III
Keperawatan Poso.
Nama : RISQUH TOYYIB
Nim : P00220217039
Poso, agustus 2020
Pembimbing I
Dafrosia Darmi Manggasa [Link] Ns. [Link]
NIP. 198106082005012003
ii
Poso, agustus 2020
Pembimbing II
Tasnim, [Link]. Ns. MM
NIP : 197404011995031004
Mengetahui
Ketua Program Studi
Agusrianto, [Link]. Ns. MM
iii
NIP :197307271997031002
LEMBAR TIM PENGESAHAN PENGUJI
Proposal Penelitian ini telah diperiksa dan disetujui oleh Tim Penguji Poltekkes
Kemenkes Palu Jurusan Keperawatan Program Studi D-III Keperawatan Poso.
pada tanggal Februari 2020.
Nama : RISQUH TOYYIB
Nim : P00220217039
Poso, agustus 2020
Tim Penguji
Penguji 1
Agusrianto, [Link]. Ns. MM
Penguji 2
iv
Ulfa sulfianingsih, [Link]. [Link]
Penguji 3
Nirva [Link]
Mengetahui Menyetujui
Direktur Poltekkes Kemenkes Palu Ketua Jurusan
Keperawatan
Nasrul SKM,[Link] Selvi Alfrida Mangundap,[Link].M,Si
Nip.196804051988021001 NIP. 196604191989032002
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN POSO
Risquh toyyib, 2020 : Studi literatur latihan senam asma untuk mencegah
kekambuhan penyakit asma pada pasien asma Karya tulis ilmiah
prodi DIII keperawatan poso jurusan keperawatan poltekkes
kemenkes palu. Pembimbing (1) Dafrosia darmi manggasa (2)
Tasnim
ABSTRAK
v
XI+36 halaman+2 tabel+4 lampiran
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran pernapasan mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu sehingga
menyebabkan peradangan. Terjadinya peradangan pada asma disebabkan oleh
alergi berupa udara dingin, asap rokok atau polusi dan debu. Ikawati,
Zullies(2016). Salah satu intervensi keperawatan untuk mencegah kekambuhan
penyakit asma dengan yaitu senam asma. Tujuan penulisan : untuk
mengidentifikasi pengaruh senam asma terhadap kekambuhan penyakit asma pada
pasien asma. Metode penelusuran : berbasis data yang digunakan dalam studi
literatur yaitu Google scholar dan Perpustakaan Nasional republik Indonesia.
Hasil : ada 5 jurnal yang diidentifikasi dan diterbitkan dari 2016-2019. Hasi
penelitian menunjukan bahwa Pasien asma yang melakukan latihan senam asma
terdapat penurunan frekuensi kekambuhan lebih besar dibandingkan dengan
pasien yang tidak melakukan senam asma. Saran : diharapkan hasil penelitian ini
bisa menambah pengatahuan dan wawasan bagi pembaca dan dapat diterapkan
pada intervensi-intervensi mandiri keperawatan.
Kata kunci : senam asma, kekambuhan asma dan penyakit asma.
Daftar rujukan : 19 referensi (2010-2020)
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN POSO
vi
Risquh toyyib, 2020 : literature study : asthma gymnastics exercise to prevent
recurrence of asthma in asthma patients. Scientific paper of the DIII
Nursing Program in Poso, Department of Health, Ministry of Health,
Ministry of Health, hammer. Advisors (1) Dafrosia darmi manggasa
[Link] N.S [Link] (2) Tasnim [Link] N.S MM.
ABSTRACT
XI + 36 pages + 2 tables + 4 attachments
Asthma is a condition in which the respiratory tract is narrowed due to
hyperactivity to certain stimuli, causing inflammation. The occurrence of
inflammation in asthma is caused by allergies in the form of cold air, cigarette
smoke or pollution and dust. Ikawati, Zullies (2016). Asthma management is
asthma exercise. Purpose of writing: to identify the effect of asthma exercise on
recurrence of asthma in asthma patients. Search method: based on data used in the
literature study, namely Google scholar and the National Library of the Republic
of Indonesia. Results: 5 journals were identified and published from 2016-2019.
The results of the study showed that asthma patients who did asthma exercise had
a greater decrease in recurrence frequency than patients who did not do asthma
exercises. Suggestion: it is hoped that the results of this study can add knowledge
and insight for readers and can be applied to independent nursing interventions.
Key words: asthma exercise, bronchial asthma,
List of references: 19 references (2010-2020).
KATA PENGANTAR
vii
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat,
rahmat dan karunia-Nya, sehingga karya tulis ilmiah yang berjudul “latihan
senam asma untuk mencegah kekambuhan penyakit asma pada pasien asma” ini
bisa terselesaikan dengan baik dan benar.
Kepada kedua orang tua saya Bapak Taryono sardan dan Ibu Saniem
Stropawiro yang telah membesarkan dan mendidik saya sehingga menjadi seperti
sekarang. selalu mendukung dan memberikan nasihat agar saya selalu sabar dan
iklas selama penyusunan karya tulis ilmiah ini.
Karya tulis ilmiah dengan Studi Kasus ini tidak akan selesai tanpa bantuan
dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
berbagai pihak yang telah membantu penulis di antaranya :
1. Nasrul, SKM,[Link]. Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan
Palu
2. Selvi Afrida Mangundap, [Link] Ketua Jurusan Keperawatan Politekknik
Kesehatan Kementian Kesehatan Palu.
3. Agusrianto, [Link]. Ns. MM sebagai Ketua Program Studi Keperawatan
Politekknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Palu Prodi D-III Keperawatan
Poso sekaligus sebagai penguji utama.
4. Dafrosia Darmi Manggasa [Link] [Link] sebagai pembimbing 1 yang
selalu sabar dan tidak pernah lelah mamberikan masukan dan bimbingannya.
5. Tasnim [Link] sebagai pembimbing 2 yang telah memberikan saran
dan masukan dalam penyelesaian penulisan Karya Tulis Ilmiah.
viii
6. Bapak, Ibu Dosen dan tenaga pendidikan Program Studi keperawatan Poso
yang selama ini telah banyak memberi bantuan kepada penulis.
7. Kepada teman kelas seangkatan 2017 yang telah memberikan dukungan,
motivasi sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis menyadari dengan segala keterbatasan pengetahuan dan
kemampuan yang di miliki penulis jika karya tulis ilmiah dengan Studi kasus
ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat di harapkan penulis untuk di jadikan sebagai perbaikan
dalam penyusunan hasil penelitian.
Poso, Februari 2020
Penulis
ix
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING.....................................................................ii
LEMBAR TIM PENGESAHAN PENGUJI......................................................................iii
DAFTAR ISI...................................................................................................................viii
DAFTAR TABEL..............................................................................................................x
DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................................xi
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
A. Latar belakang...........................................................................................................1
B. Rumusan masalah......................................................................................................3
C. Tujuan penelitian.......................................................................................................3
D. Manfaat penelitian.....................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................5
A. Tinjauan tentang asma bronchial...............................................................................5
1. Definisi asma.........................................................................................................5
2. Faktor risiko...........................................................................................................6
3. Klasifikasi..............................................................................................................6
4. Etiologi...................................................................................................................7
5. Manifestasi klinis...................................................................................................9
6. Patofisiologi.........................................................................................................10
Pathway Asma Bronkial (Gloria M Bulechek, dkk. 2016)...............................................11
7. Pemeriksaan laboratorium....................................................................................12
8. Pemeriksaan penunjang........................................................................................13
9. Komplikasi...........................................................................................................15
10. Penatalaksanaan.................................................................................................15
B. Tinjauan tentang konsep Evidence Based Nursing (EBN).......................................18
SOP SENAM ASMA.......................................................................................................21
BAB III METODE PENELITIAN................................................................................24
x
A. Metode penelusuran..............................................................................................24
B. Alasan pemilihan jurnal.......................................................................................24
C. Subyek Studi..........................................................................................................24
D. Fokus Studi............................................................................................................25
E. Etika Penelitian......................................................................................................25
BAB IV............................................................................................................................27
HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN......................................................................27
A. Analisis...................................................................................................................27
B. Pembahasan.............................................................................................................32
C. Hambatan................................................................................................................34
BAB V KESIMPULAN...................................................................................................35
A. Kesimpulan.............................................................................................................35
B. Saran........................................................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................36
xi
DAFTAR TABEL
Table 2.1 sop senam asma……………………………………………………….21
Table 2.2 analisis jurnal………………………………………………………….27
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Biodata Penulis
Lampiran 2 : Pengambilan Data Awal
Lampiran 3 : Persyaratan Keaslian Penulisan
Lampiran 4 : Glosarium
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran pernapasan mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu sehingga
menyebabkan peradangan. Terjadinya peradangan pada asma disebabkan oleh
alergi berupa udara dingin, asap rokok atau polusi dan debu. Ikawati, Zullies
(2016). Pada penyakit asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi
daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi
sehingga menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat
sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang
menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma
biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi ketika
ekspirasi terjadi [Link] ini yang menyebabkan gejala dispnea pada pasien
[Link] pada otot-otot pernapasan juga bisa terjadi akibat terjadinya
sesak napas dan pembatasan aktifitas. Ikawati, Zullies (2016).
Berdasarkan Global atsma report 2018, empat puluh juta kematian, atau
70% dari seemua kematian di seluruh [Link] oleh penyakit tidak
menular dengan 80% kematian terjadi di negara [Link] pernapasan
kronis,termasuk asma menyebabkan 15% kematian di dunia. Asma adalah
penyakit kronis yang di perkirakan mempengaruhi sebanyak 339 juta orang di
seluruh [Link] adalah penyebab beban penyakit yang substansial,termasuk
kematian dini dan penurunan kualitas hidup,pada semua kelompok umur di
1
2
seluruh dunia. Asma berada di peringkat ke-16 dunia di antara penyebab utama
tahun hidup dengan disabilitas dan peringkat ke-28 di antara penyebab utama
beban penyakit (The Global Atsma Report, 2018).
Berdasarkan data prevalensi asma menurut World Health Organization
(WHO) tahun 2016, prevalensi asma bronkial sekitar 235 juta dengan angka
kematian lebih dari 80% di negara-negara berkembang. Prevalensi asma di
Amerika Serikat berdasarkan umur sebesar 7,4% pada orang dewasa dan 8,6%
pada anak-anak, berdasarkan jenis kelamin 6,3% laki-laki dan 9,0% perempuan.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, mendapatkan angka prevalensi
penyakit asma pada semua umur di Indonesia adalah 57,5% dengan prevalensi
tertinggi di Aceh 68,9% dari 100% sedangkan di Sulteng mencapai 57,6%.
Salah satu cara untuk mengatasi masalah kekambuhan penyakit asma pada
pasien asma yaitu latihan senam asma. Salah satu penatalaksanaan asma yang
dapat dibudayakan adalah dengan menjaga pola hidup sehat dan senam asma yang
bersifat melatih otot pernapasan. Latihan otot pernapasan dapat meningkatkan
fungsi otot pernapasan, mengurangi derajat gangguan pernapasan, meningkatkan
toleransi terhadap aktivitas dan menurunkan gejala dipsnea. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa setelah mengikuti senam asma secara teratur pasien asma
mendapatkan beberapa manfaat yaitu frekuensi serangan asma berkurang,
pemakaian obat berkurang, dan gejala asma menjadi ringan.
Selain itu, Senam asma merupakan salah satu penatalaksanaan non
farmakologis pada pasien asma yang tujuannya untuk melatih ekspirasi dan
inspirasi dalam mengeluarkan CO2 karena adanya obstruksi jalan napas.
3
Meningkatnya sirkulasi oksigen ke otot pernapasan menyebabkan metabolisme
aerob dan energi tubuh menjadi meningkat (Antoro, 2016). Apabila senam asma
dilakukan secara rutin maka bermanfaat bagi pasien untuk mencegah
kekambuhannya, selain itu juga pasien dapat mengurangi penggunaan obat-obatan
atau farmakologi. Senam asma memiliki fungsi untuk memperkuat otot
pernapasan, menurunkan kadar IgE. IgE merupakan faktor utama yang
menyebabkan adanya inflamasi dalam patofisiologi penyakit asma (Widjanegara
et al., 2015).
Berdasarkan latar belakang maka penulis ingin mengidentifikasi studi
literatur tentang Pengaruh latihan senam asma untuk mencegah kekambuhan
penyakit asma pada pasien asma.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mencoba melakukan studi
literatur pada beberapa jurnal penelitian untuk mengetahui lebih mendalam
yang berhubungan dengan pengaruh latihan senam asma untuk mencegah
kekambuhan penyakit asma pada pasien asma.
C. Tujuan penelitian
Untuk mengidentifikasi studi literatur yang berhubungan dengan
Pengaruh latihan senam untuk mencegah kekambuhan penyakit asma pada
pasien asma.
4
D. Manfaat penelitian
Manfaat penulisan proposal studi kasus ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait
dengan intervensi keperawatan mandiri berdasarkan evidence-based
terkini dan dapat diaplikasikan dalam rangka memberikan informasi
terkini kepada mahasiswa yang akan turun praktek, serta menjadi
tambahan bacaan di perpustakaan Prodi D-III Keperawatan Poso
2. Manfaat bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengalaman dan
pengetahuan penulis tentang penyakit asma khususnya dalam
menerapkan intervensi keperawatan mandiri sebagai terapi modalitas
keperawatan yang telah efektif dapat mengatasi masalah
ketidakefektifan pola napas pada pasien asma.
3. Manfaat bagi Ilmu Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi media informasi terkait
manfaat intervensi keperawatan yang mudah untuk dilakukan,
sederhana, murah, dan tentunya lebih aman untuk diaplikasikan kepada
pasien dan sudah dibuktikan oleh penelitian – penelitian terkait
intervensi keperawatan khususnya, latihan senam asma untuk mencegah
kekambuhan penyakit asma pada pasien asma.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan tentang asma bronchial
1. Definisi asma
Asma adalah gangguan yang terdapat pada saluran pernapasan, dimana
terjadi peradangan karena penyempitan pada saluran pernapasan yang diakibatkan
hiperaktifitas. Penyebab asma meliputi beberapa faktor pencetus yaitu faktor
predisposisi atau genetik dan faktor presipitasi berupa debu, bulu binatang, polusi,
asap rokok, makanan, maupun lingkungan. Penyakit asma bronkial sering
mengeluh sesak nafas, batuk, dada terasa berat atau tertindih dan terdengar bunyi
napas mengi (wheezing). Beberapa gejala yang ditimbulkan dari penyakit asma
diantaranya kesulitan bernapas, perasaan seperti hampir kehabisan napas dan
berpikir bahwa dirinya akan meninggal dunia sehingga menimbulkan kecemasan
pada setiap individu yang mengalaminya (Tumigolung dkk, 2016).
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran pernapasan mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu sehingga
menyebabkan peradangan. Terjadinya peradangan pada asma disebabkan oleh
alergi berupa udara dingin, asap rokok atau polusi, debu, dan bulu hewan.(Judith,
2016).
5
6
2. Faktor risiko
Faktor risiko terjadinya asma merupakan interaksi antara faktor pejamu
dan faktor lingkungan. Faktor pejamu yaitu faktor predisposisi genetik yang
mempengaruhi berkembangnya asma pada suatu individu, berupa genetik
asma, riwayat alergi (atopi), hiperaktivitas bronkus, jenis kelamin, sedangkan
faktor lingkungan yaitu faktor yang mempengaruhi suatu individu dengan
predisposisi asma untuk berkembang menjadi asma dan menyebabkan
terjadinya eksaserbasi serta gejala asma yang menetap (Judith, 2016).
Faktor lingkungan berupa alergen, lingkungan kerja, asap rokok, polusi
udara, infeksi pernapasan (virus), diet, status sosial ekonomi dan besarnya
keluarga. Paparan asap rokok selama masa kehamilan meningkatkan
kemungkinan terjadinya wheezing pada bayi. Pada orang dewasa yang
menderita asma, merokok dapat meningkatkan derajat keparahan asma dan
menurunkan respon terhadap penggunaan kortikosteroid inhalan (Husna,
2015).
3. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan
menjadi 3 tipe menurut Husna (2015), sebagai berikut:
a. Ekstrinsik (alergik)
Reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang
spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotik dan
aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya
suatu
7
predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor
pencetus spesifik seperti yang disebutkan diatas, maka akan terjadi serangan
asma ekstrinsik.
b. Intrinsik (non alergik)
Reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik
atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya
infeksi pada saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih
berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang
menjadi bronkhitis kronik dan emfisema.
c. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari
bentuk alergik dan non alergik atau gabungan dari keduanya.
4. Etiologi
Menurut Nursalam (2015), ada beberapa hal yang merupakan faktor
predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial.
a. Faktor predisposisi
Genetik, dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi.
Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma
bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas
saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.
8
b. Faktor presipitasi
1) Alergi
Alergi terbagi menjadi tiga jenis, antara lain:
a). Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan seperti debu, bulu
binatang, serbuk bunga, dan polusi udara.
b). Ingestan, yang masuk melalui mulut seperti makanan dan obat-obatan
c). Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit seperti perhiasan,
logam dan jam tangan.
2) Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor
pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan
dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal
ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
3) Stres
Stres atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma,
selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.
Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma
yang mengalami stres perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum
bisa diobati.
9
4) Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan
asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang
bekerja dilaboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu
lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
5) Olah raga atau aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling
mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas
biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
5. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan
tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak
bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta
tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma
bronkial ini adalah sesak nafas, mengi (wheezing), batuk, dan pada sebagian
penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu
dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat, gejala-gejala yang
timbul makin banyak, yaitu: silent chest, sianosis, gangguan kesadaran,
hyperinflasi dada, takikardi, pernapasan cepat dan dangkal. Serangan asma
seringkali terjadi pada malam hari (Putra dkk, 2018).
10
6. Patofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada
asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara yaitu seorang yang alergi
mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi IgE abnormal
dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi
dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibodi ini terutama melekat pada
sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan
brokhiolus dan bronkhus kecil (Judith, 2016).
Asma terjadi akibat interaksi antara faktor pejamu (host factor) dan
faktor lingkungan. Faktor pejamu (host) meliputi genetik asma, alergik (atopi),
hiperaktivitas bronkus, jenis kelamin dan ras. Faktor lingkungan
mempengaruhi kecenderungan/predisposisi untuk berkembang menjadi asma,
terjadinya eksaserbasi atau menyebabkan gejala-gejala asma menetap. Faktor
lingkungan meliputi alergen, sensitisasi lingkungan kerja, asap rokok, polusi
udara, infeksi pernapasan (virus) dan diet (Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia, 2013).
Pada penyakit asma bronkial, diameter bronkiolus lebih berkurang
selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam
paru selama ekspirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena
bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah
akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama
11
selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi
dengan baik dan adekuat, tetapi ketika ekspirasi sering terasa [Link] ini yang
menyebabkan dispnea pada pasien asma. Kapasitas residu fungsional dan
volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat
kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru (Judith, 2016).
Pathway Asma Bronkial (Gloria M Bulechek, dkk. 2016)
Faktor pencetus (alergi, Hipersensitivitas ,Menstimulasi IgE ,Degranulasi
sel mast,Melepaskan histamin dan cuaca, lingkungan )
permeabilitas kapiler
edema mukosa,sekresi produktif,kontraksi otot polos
konsentrasi O2 dalam
darah
Hipoksemia
Gangguan pertukaran gas
Suplai darah dan O2 ke
Jantung berkurang tekanan O2 alveoli
Penurunan cardiac output penyempitan jalan napas
Penurunan curah jantung peningkatan kerja otot napas
Dan tekanan darah menurun
Kelemahan dan keletihan Ketidakefektifan pola napas
Intoleransi aktivitas
12
7. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan sputum
1) Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari
kristaleosinopil
2) Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari
cabang bronkus
3) Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus
4) Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat
mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
b. Pemeriksaan darah
1) Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis
2) Peningkatan SGOT dan LDH
3) Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang diatas 15.000/mm3
dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi Pada pemeriksaan faktor-
faktor alergi terjadi peningkatan dari IgE pada waktu serangan dan
menurun pada waktu bebas dari serangan.
8. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium menurut Judith (2016), sebagai berikut:
A. pemeriksaan laboratorium
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu
serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen
yang bertambah dan peleburan rongga interkostalis, serta diafragma yang
menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat
adalah, sebagai berikut:
13
1) Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan
bertambah
2) Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran
radiolusen akan semakin bertambah
3) Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru
dan dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal
4) Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumo
perikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-
paru.
b Pemeriksaan tes kulit
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan
berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada
asma.
c. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat
dibagi menjadi 3 bagian yang disesuaikan dengan gambaran yang
terjadi pada emfisema paru yaitu perubahan aksis jantung, yakni pada
umumnya terjadi right axisdeviasi dan clock wise rotation, terdapatnya
tanda-tanda hipertropi otot jantung RBB (Right Bundle Branch Block)
dan tanda-tanda hipoksemia dengan terdapatnya sinus takikardia,
SVES, danVES atau terjadinya depresi segmen ST negatif.
14
d. Scanning paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa
redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-
paru.
e. Spirometri
Menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversibel, cara yang
paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon
pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan
sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau
nebulizer) golongan adrenergik.
Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20%
menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol
bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting
untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat
obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi
pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.
9. Komplikasi
a. Status asmatikus ; merupakan suatu kondisi dimana terjadi serangan asma
berat yang tidak berespon terhadap pengobatan asma pada umumnya.
b. Hipoksemia ; kondisi dimana kadar oksigen dalam darah rendah.
c. Emfisema ; penyakit kronis akibat kerusakan kantong udara atau alveolus
pada paru-paru.
15
d. Deformitas thoraks ; keadaan dimana terdapat peerubahan bentuk dan
struktur dada.
e. Gagal nafas ; kondisi kegawatan medis yang terjadi akibat gangguan serius
pada system pernapasan,sehingga menyebabkan tubuh kekurangan oksigen.
Jika tidak segera di tangani gagal napas dapat menyebabkan kerusakan
organ tubuh dan bahkan kematian.
10. Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial menurut Judith (2016), sebagai
berikut:
a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara
b. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan
asma.
c. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai
penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya
sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan
bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya.
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, antara lain:
[Link] farmakologik
Bronkodilator yaitu obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2
golongan, antara lain:
1) Simpatomimetik/andrenergik (adrenalin)
Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet,
sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan MDI (Metered Dose
16
Inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin
Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan bronkodilator (alupent),
fenoterol (berotec), terbutalin (bricasma) oleh alat khusus diubah menjadi
aerosol (partikel-partikel yang sangat halus) untuk selanjutnya dihirup.
2) Santin (teofilin)
Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi
cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan
efeknya saling memperkuat. Jenis obat santin berupa aminofilin
(amicamsupp), aminofilin (Euphilin Retard), teofilin (amilex).
Bentuk suntikan teofillin atau aminofilin dipakai pada serangan asma
akut dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena
sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum
sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung
sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk
supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria
ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin
(misalnya muntah atau lambungnya kering).
3) Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah
serangan asma. Obat ini bermanfaat untuk penderita asma yang alergi
terutama anak-anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti
asma yang lain dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.
17
4) Ketolifen
Ketolifen mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti
kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1 mg/hari. Keuntungan
obat ini adalah dapat diberika secara oral.
b. Pengobatan non farmakologik
1) Memberikan penyuluhan atau edukasi kesehatan mengenai asma bronkial
2) Memberikan pengetahuan untuk menghindari faktor pencetus alergi
3) Pemberian posisi fowler
4) Menganjurkan minum air hangat
5) Mengajarkan batuk efektif
6) Melakukan terapi murottal untuk menurunkan kecemasan
7) Beri O2 bila perlu
B. Tinjauan tentang konsep Evidence Based Nursing (EBN)
Senam Asma merupakan rangkaian senam yang bertujuan untuk
melatih dan memperkuat otot pernapasan agar penderita asma lebih mudah
melakukan respirasi dan ekspetorasi. Senam asma meningkatkan kapasitas
penyandang asma dalam melakukan aktivitas sehari-hari, meningkatkan
kemampuan pernafasan dan efisiensi kerja otot pernafasan, serta menambah
aliran darah ke paru sehingga aliran darah teroksigenasi lebih banyak,
pernafasan lebih lambat dan efisien, mengurangi laju penurunan faal paru, dan
memperpendek waktu pemulihan. Manifestasinya berupa peningkatan toleransi
terhadap latihan, berkurangnya kekambuhan, menurunnya depresi dan
18
kecemasan, perbaikan faal paru, dan menurunnya resiko kematian sebelum
waktunya (Azhar & Berawi, 2015). Perubahan sistem respirasi yang terjadi
akibat latihan diantaranya, bertambahnya ventilasi semenit sebagai akibat
bertambahnya volume tidal dan frekuensi nafas, terjadinya peningkatan
efisiensi ventilasi, yaitu jumlah udara yang ikut berventilasi pada tingkat
konsumsi oksigen yang sama, akan lebih rendah pada orang yang terlatih. Otot
rangka yang aktif mendapat oksigen lebih banyak dari otot pernapasan, dan
volume paru lebih besar pada orang yang terlatih (Bebasari & Azrin, 2016).
Hasil penelitian ini selaras dengan teori yang menyatakan bahwa senam
asma mempunyai berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan pernapasan
karena dapat meningkatkan kekuatan otot pernapasan. Latihan otot merangsang
pusat vasomotor di batang otak, diikuti peningkatan tekanan arteri dan
peningkatan ventilasi paru. Gerakan tubuh terutama lengan dan tungkai
meningkatkan ventilasi dengan merangsang propioseptor sendi dan otot, yang
kemudian menjalarkan impuls eksitasi ke pusat pernapasan. Hipoksia yang
terjadi dalam otot selama latihan menghasilkan sinyal saraf aferen ke pusat
pernapasan untuk merangsang pernapasan. Selain itu otot-otot yang bekerja
akan membentuk CO2 dalam jumlah yang banyak dan membutuhkan banyak
oksigen sehingga PCO2 dan PO2 berubah secara nyata antara siklus inspirasi
dan ekspirasi pada pernapasan (Guyton & Hall, 2016). Senam asma secara
rutin meningkatkan peredaran darah ke selutuh tubuh khususnya ke otot-otot
pernapasan. Aliran darah yang lancar membawa nutrisi dan oksigen yang lebih
banyak, termasuk kalsium dan kalium. Peningkatan ion kalsium dalam sitosol
19
terjadi akibat pelepasan ion yang semakin banyak dari retikulum endoplasma.
Ion kalsium yang ada di dalam otot berfungsi untuk mengingkatkan potensial
aksi otot sehingga massa otot dapat dipertahankan dan kerja otot meningkat
(Sahat dkk, 2011).
Latihan (exercise) mempunyai hubungan timbal balik dengan respirasi.
Senam asma yang teratur akan meningkatkan efisiensi sistem pernapasan,
meningkatkan kerja otot pernapasan, kesegaran jasmani atau kesanggupan
tubuh melakukan penyesuaian terhadap beban fisik yang diberikan kepadanya
berupa kerja yang dilakukan sehari-hari dan tidak menimbulkan kelelahan yang
berlebihan, karena kapasitas difusi orang yang terlatih lebih besar dari orang
yang tidak terlatih. Senam asma melatih para penderita asma dengan beberapa
sesi termasuk didalamnya adalah sesi latihan menarik napas dan
menghembuskan napas dengan ekspirasi lebih panjang dua hitungan dibanding
inspirasi. Latihan ini bertujuan melatih cara bernapas yang baik. Sesi yang lain
adalah untuk melenturkan otot pernapasan, sehingga mempermudah
pernapasan dan ekspektorasi. Sesi utama adalah sesi aerobik yang
menggunakan otot-otot besar untuk melatih sistem kardiovaskular dan respirasi
dalam mendistribusikan pasokan darah, sehingga nilai APE mengalami
peningkatan setelah melakukan senam asma. Dengan demikian penderita asma
yang mau mengikuti senam asma secara teraturmengalami peningkatan
kemampuan pernapasan yang ditandai dengan peningkatan nilai APE.
Senam asma berpengaruh terhadap kemampuan pernapasan (APE)
penderita asma di Poli Asma RSUD Bangil. Nilai rata-rata APE responden
20
sebelum senam sebesar 208 l/m, sedangkan setelah senam rata-rata sebesar
304. Rata-rata kenaikan nilai APE sebelum senam dan sesudah senam sebesar
95 l/m. Hasil ini memperkuat penelitian Azhar & Berawi (2015) dimana
senam asma yang dilakukan secara rutin mampu meningkatkan faal paru (p =
0,001). Senam asma meningkatkan kapasitas penyandang asma dalam
melakukan kegiatan sehari-hari, seperti meningkatkan kemampuan pernafasan,
meningkatkan efisiensi kerja otot-otot pernafasan, menambah aliran darah ke
paru sehingga aliran darah yang teroksigenasi lebih banyak, menyebabkan
pernafasan lebih lambat dan efisien, mengurangi laju penurunan faal paru, dan
memperpendek waktu pemulihan. Manifestasinya adalah naiknya toleransi
terhadap latihan, berkurangnya kekambuhan, menurunnya depresi dan
kecemasan, perbaikan faal paru, dan menurunnya resiko kematian sebelum
waktunya. Perubahan sistem respirasi yang terjadi akibat latihan diantaranya,
bertambahnya ventilasi semenit sebagai akibat bertambahnya volume tidal dan
frekuensi nafas, terjadinya peningkatan efisiensi ventilasi, yaitu jumlah udara
yang ikut berventilasi pada tingkat konsumsi oksigen yang sama akan lebih
rendah pada orang yang terlatih. Otot rangka yang aktif mendapat oksigen
lebih banyak dari otot pernapasan, dan volume paru lebih besar pada orang
yang terlatih (Azhar & Berawi, 2015).
21
SOP SENAM ASMA
Tabel 2.1 Sop senam asma
1 pengertian Merupakan salah satu upaya untuk pengobatan
dan pencegahan asma bagi penderita asma
2 tujuan 1. Melatih cara bernapas yang benar
2. Melenturkan dan memperkuat otot pernapasan
3. Melatih ekspektorasi yang efektif
4. Meningkatkan sirkulasi
[Link] asma yang terkontro. Mempertahankan
asma yang terkontrol
7. Kualitas hidup lebih baik
3 indikasi 1. Pasien Asma namun namun tidak dalam keadaan
serangan asma
2. Tidak dalam serangan jantung
3. Tidak dalam stamina menurun (flu, kurang tidur,
baru sembuh).
4 kontraindikasi 1. Pasien dalam keadaan serangan asma
2. Pasien dalam keadaan serangan jantung
3. Pasien dalam keadaan stamina yang menurun (flu,
kurang tidur, baru sembuh)
5 persiapan klien 1. Identifikasi klien dengan memeriksa identitas,riwayat
kesehatan, penyakit dan keluhanklien secara
cermat.
2. Berikan salam, perkenalkan diri anda,
danidentifikasi klien dengan memeriksa identitas
klien secara cermat.
22
3. Jelaskan tentang prosedur tindakan yang
akandilakukan, berikan kesempatan kepada klienuntuk
bertanya dan jawab seluruh pertanyaanklien.
4. Atur posisi klien sehingga merasakan amandan
nyaman
6 persiapan alat 1. pemutar musik
dan bahan
Table 2.2 Gerakan senam asma.
no gerakan gambar gerakan
1 (1) Ayunkan lengan, setinggi
bahu. Dilakukan 2 x 8 kali.
2 (2) Ayunkan lengan lebih tinggi.
Dilakukan 2 x 8 kali, hitungan
terakhir tegak.
3 (3) Putar kedua lengan.
Dilakukan 2 x 8 kali, (4 x ke
depan, 4 x ke belakang).
4 (4) Berjalan. Dilakukan
sebanyak sepuluh kali hitungan.
23
5 (5) Tarik siku ke belakang.
Dilakukan 2 x 8 kali. Tiap
hitungan ke-4, kedua lengan ke
bawah.
6 (6) Tarik siku (sama dengan
latihan ke-5), dilakukan 2 x ,
disambung dengan 2 x hitungan
dengan lengan direntangkan.
Tiap hitungan 4; kedua lengan
turun.
7 (7) Tarik lengan ke belakang
(dalam sikap lurus). Dilakukan 2
x 8 kali , tiap hitungan 4, kedua
lengan lurus ke bawah.
8 (8) Renggutkan badan ke bawah
sebanyak 3 x , hitungan 4, tegak.
Tegak. Dilakukan sebanyak 2 x
8 kali.
9 (9) Sama dengan latihan 8, 1 x
tunduk, 2 x melengkung ke
belakang, hitungan 4
[Link] 2 x 8 kali.
10 (10) Berjalan, dilakukan
sebanyak sepuluh kaki hitungan
24
11 (11) Renggutkan badan ke
samping dilakukan sampai 3 x ,
hitungan 4 putar ke arah Iain.
Dilakukan 2 x - 8 kali.
12 (12) Tarik-menarik dilakukan
sampai 3 x , hitungan 4 tegak.
Dilakukan 2 x 8 kali.
13 (13) Hitungan 1, putar, hitungan
2-3 renggutkan badan ke depan,
hitungan 4 kembali ke sikap
semula. Tiap selesai hitungan 4,
ganti orang. Dilakukan 2 x 8
kali.
14 (14) Istirahat, dilakukan
sebanyak sepuluh kali hitungan,
(dr. Dangsina Moeloek & Pieter
Panggabean)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode penelusuran
Penelitian ini merupakan sebuah studi literatur yang merangkum
beberapa literatur yang relevan dengan tema. Peneliti melakukan pencarian
literatur melalui Google Scholar, kata kunci yang digunakan dalam pencarian
literatur antara lain: “senam asma’’, asma bronkhial’’, ‘’efektifitas senam
asma’’, ‘’kapasitas vital asma’’dan ‘’arus puncak ekspirasi’’.
B. Alasan pemilihan jurnal
Artikel ini dipilih karena jenis intervensi yang dilakukan merupakan
intervensi mandiri perawat, sederhana serta bermanfaat. Selain itu, jurnal ini
memiliki tahun publikasi yang tergolong baru (tahun 2015-2020). Jurnal ini
juga dapat menjawab pertanyaan klinis yang diajukan peneliti.
C. Subyek Studi
1. Budi antoro (2015). ‘’ pengaruh senam asma terstruktur terhadap
peningkatan arus puncak ekspirasi (APE) pada pasien asma.
2. Neza Ukhalima Hafia Sudrajat dan Khairun Nisa (2016). “Efektifitas
Senam Asma untuk Meningkatkan Fungsi Paru Penderita Asma”.
3. Arizka dwi kustiono dan siti baitul M (2019). ‘’pengarus senam asma
terhadap frekuensi kekambuhan dan kapasitas vital paru pada penderita
asma di balai kesehatan paru masyarakat semarang.
25
26
4. Erik Kusuma dan Bayu Herlambang (2020). “Pengaruh Senam Asma
Terhadap Kemampuan Pernapasan Penderita Asma Di Poli Asma RSUD
Bangil”.
5. Lungguh Tarenaksa Suranggana, Koesbaryanto dan Azizah Khoiriyati
(2018). “Pengaruh Senam Asma Bronkhial Terhadap Frekuensi
Kekambuhan Pasien Asma Bronkhial Di Puskesmas Penujak Lombok
Tengah Nusa Tenggara Barat”.
D. Fokus Studi
Fokus studi dalam penelitian ini yaitu latihan senam asma untuk
mencegah kekambuhan penyakit asma pada pasien asma
E. Etika Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, peneliti harus memahami prinsip-
prinsip etika dalam penelitian karena penelitian yang digunakan adalah subjek
manusia, dimana setiap manusia memiliki hak masing-masing yang tidak bisa
dipaksakan. Adapun etika dalam penelitian, sebagai berikut:
1. Informed consent
Sebelum melakukan tindakan yang akan diberikan maka pasien harus
menandatangani surat persetujuan. Dimana dalam surat persetujuan tersebut
sudah dijelaskan maksud dan tujuan dari tindakan yang akan diberikan.
2. Anonimity (Tanpa nama)
Salah satu etika keperawatan yang harus dilakukan oleh perawat adalah
menjaga kerahasian pasien. Maka dari itu dalam melakukan penelitian
27
perawat harus menjaga kerahasian pasien dengan tidak mencantumkan nama
responden. Data yang tampilkan menggunakan inisial untuk menjaga privasi
pasien.
3. Prinsip autonomy
Prinsip autonomy didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Dalam melakukan
tindakan perawat harus jujur dan menggungkap akan sesuai dengan
kenyataan yang ada.
4. Prinsip confidientiality (Kerahasiaan)
Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh
peneliti, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya, data yang telah
didapatkan harus dijaga kerahasiannya.
5. Prinsip Beneficence and Non maleficence
Dalam memberikan tindakan perawat harus berbuat artinya dalam
melakukan tindakan harus mempertimbangkan apakah tindakan tersebut
berbahaya atau tidak kepada pasien serta tidak merugikan pasien.
6. Prinsip justice
Prinsip ini menekankan pada aspek keadilan, dimana dalam melakukan
penelitian perawat tidak memandang dari segi ras, suku, agama, ekomomi
dan lain-lain.
BAB IV
HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN
A. Analisis
Berdasarkan hasil penelusuran jurnal yang dilakukan melalui “google
scholar’’peneliti membuat analisis jurnal yang dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 1.2 analisis jurnal (2015-2020)
No peneliti tujuan desain responden pengumpulan hasil
(tahun & penelitian penelitian data penelitian
judul)
1. Erik kusuma & Tujuan Jenis Sampel data dalam Dari hasil
Bayu penelitian ini penelitian ini dalam penelitian ini penelitian
herlambang untuk adalah pre penelitian diambil didapatkan
(2018) mengidentifi eksperimen ini adalah menggunaka rata-rata
“pengaruh kasi pengaruh dengan 31 orang n lembar kemampuan
senam asma senam asma desain pre pasien asma observasi pernapasan
terhadap terhadap test-post test yang dipilih umur, jenis (APE)
kemampuan kemampuan desain. menggunak kelamin dan sebelum
pernapasan pernapasan an teknik pekerjaan. senam 208
penderita asma penderita total lt/mnt dan
di poli asma asma di Poli sampling. setelah
RSUD Asma RSUD melakukan
Bangil”. Bangil senam naik
menjadi 304
lt/mnt, uji
statistik
didapatkan
nilai p :
0,000 (< α :
0,05),
artinya ada
pengaruh
senam asma
terhadap
kemampuan
pernapasan
pada
penderita
asma di Poli
Asma rsud
28
bangil
29
29
2 Lungguh Penelitian ini Penelitian ini total data dalam Berdasarkan
tarenaksa bertujuan menggunaka sampling penelitian ini analisis data
suranggana, menganalisis n metode sesuai diambil bahwa nilai
Koesbaryanto pengaruh quasi kriteria menggunaka frekuensi
& Azizah senam asma eksperimen sedang n lembar kekambuha
khoriyati(2018 bronkhial dengan sebanyak 55 observasi n pada
).“pengaruh terhadap control group responden, usia, jenis kelompok
senam asma frekuensi design dilakukan kelamin dan intervensi
bronchial kekambuhan dengan cara pendidikan. adalah 2,75
terhadap pasien asma time series ± 0,70 dan
frekuensi bronkhial Di pada setelah
kekambuhan Puskesmas kelompok intervensi
pasien asma Penujak intervensi adalah 1,21
bronchial di Lombok dan ± 0,42.
puskesmas Tengah, Nusa kelompok Pasien asma
penujak Tenggara kontrol, yang
Lombok Barat tahun setiap 3 kali melakukan
tengah NTT”. 2018 seminggu latihan
selama 4 senam asma
minggu di terdapat
Puskesmas penurunan
Penunjuk frekuensi
Lombok kekambuha
Tengah, n lebih
Nusa besar
Tenggara dibandingka
Barat n dengan
pasien yang
tidak
melakukan
senam
asma.
3. Budi antoro tujuan Penelitian ini Sampel data dalam hasil uji
(2015). penelitian ini menggunaka berjumlah penelitian ini statistik ada
“Pengaruh untuk n metode 38 diambil perbedaan
senam asma mengetahui penelitian responden menggunaka yang
terstruktur perbedaan quasi dipilih n lembar signifikan
terhadap arus puncak eksperimenta menggunak observasi rerata
peningkatan ekspirasi l dengan an usia, jenis peningkatan
arus puncak (APE) desain purposive kelamin dan arus puncak
ekspirasi sesudah pretest- sampling pekerjaan. ekspirasi
(APE) pada senam asma postest with sesudah
pasien asma”. pada control group senam asma
kelompok design. terstruktur
intervensi pada
dan kelompok
30
kelompok intervensi
kontrol. p=.037,
(<0.05).
Usia paling
signifikan
mempengar
uhi
peningkatan
arus pucak
ekspirasi
p=.000,
sedangkan
Jenis
kelamin dan
pekerjaan
tidak
signifikan
pengaruhi
peningkatan
arus puncak
ekspirasi.
Dari
penelitian
ini
disarankan
agar
petugas
kesehatan
tentang
pentingnya
senam asma
terstruktur
guna
meningkatk
an arus
puncak
ekspirasi
menjadi
lebih
optimal.
4. Rina loriana Penelitian ini Penelitian ini Sampel data yang Dari uji
(2018). bertujuan merupakan dalam diambil statistik
“kombinasi untuk penelitian penelitian dalam maka pada
latihan senam mengetahui quasi ini penelitian ini kelompok 1
asma disertai pengaruh experiment, berjumlah dengan dan
31
teknik pemberian dengan 22 kriteria : kelompok 2
pernapasan intervensi menggunaka responden Pasien asma terdapat
buteyko efektif senam asma n desain pre diambil rawat jalan perbedaan
menurunkan dan teknik test dan post secara acak, wilayah nilai
kekambuhan pernapasan test kelompok 1 Puskesmas frekuensi
asma”. buteyko nonequivalen diberikan Lempake, kekambuha
terhadap t control intervensi Pasien asma n sebelum
frekuensi group. kombinasi yang tidak dan sesudah
kekambuhan senam asma dalam intervensi,
asma. dengan kondisi dan terlihat
teknik serangan pula pada
pernafasan asma, Usia kedua
buteyko dan dewasa 20 – kelompok
kelompok 2 35 tahun, memiliki
diberikan tidak rutin perbedaan
intervensi melakukan dalam hasil
senam asma olahraga frekuensi
saja fisik/ bukan kekambuha
olahragawan, nnya,
bukan kemudian
pekerja bila diliat
pabrik kimia, dari rata-
tidak rata
ketergantung perubahan
an obat- maka
obatan dan kelompok 1
pasien masuk intervensi
dalam derajat senam asma
asma kombinasi
persisten tehnik
ringan pernapasan
buteyko
dinilai lebih
efektif
dalam
menurunkan
frekuensi
kekambuha
n dari
kelompok 2
senam asma
saja.
32
5. Arizka dwi penelitian ini Jenis Dalam data dalam Hasil
kustiono & siti bertujuan penelitian penelitian penelitian ini penelitian
baitul M memberikan yang ini peneliti diambil menunjukan
(2019). senam asma digunakan menggunak menggunaka bahwa
“Pengaruh yang dalam an desain n lembar berdasarkan
senam asma bertujuan penelitian ini penelitian observasi analisis data
terhadap untuk melatih adalah one group berdasarkan uji statistik
kekambuhan cara bernapas metode pretest usia dan jenis dengan t
dan kapasitas yang benar, eksperimen, posttest kelamin. test dan
vital paru pada melenturkan yaitu suatu design hasil
penderita asma dan metode dengan pengukuran
di balai memperkuat penelitian sampel kapasital
kesehatan paru otot yang penelitian vital paru
masyarakat pernapasan, digunakan sebanyak 20 dapat
semarang”. melatih untuk orang disimpulkan
ekspektorasi mencari penderita bahwa ada
yang efektif, pengaruh asma. pengaruh
meningkatka perlakuan Kegiatan antara
n sirkulasi, tertentu senam asma senam asma
mempercepat terhadap dilaksanaka terhadap
asma yang yang lain n 3 kali frekuensi
terkontrol, dalam setiap kekambuha
mempertahan kondisi yang minggu n asma dan
kan asma terkendalikan dengan kapasital
yang durasi vital paru
berkontrol, waktu 45 dan pada
dan kualitas menit penderita
hidup yang selama 8 asma di
lebih baik minggu Balai
Kesehatan
Paru
Masyarakat
Semarang.
33
B. Pembahasan
Asma adalah gangguan yang terdapat pada saluran pernapasan, dimana
terjadi peradangan karena penyempitan pada saluran pernapasan yang
diakibatkan hiperaktifitas. Penyebab asma meliputi beberapa faktor pencetus
yaitu faktor predisposisi atau genetik dan faktor presipitasi berupa debu, bulu
binatang, polusi, asap rokok, makanan, maupun lingkungan. Penyakit asma
bronkial sering mengeluh sesak nafas, batuk, dada terasa berat atau tertindih
dan terdengar bunyi napas mengi (wheezing). Asma terjadi akibat interaksi
antara faktor pejamu (host factor) dan faktor lingkungan. Faktor pejamu (host)
meliputi genetik asma, alergik (atopi), hiperaktivitas bronkus, jenis kelamin
dan ras. Faktor lingkungan mempengaruhi kecenderungan/predisposisi untuk
berkembang menjadi asma, terjadinya eksaserbasi atau menyebabkan gejala-
gejala asma menetap. Faktor lingkungan meliputi alergen, sensitisasi
lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara, infeksi pernapasan (virus) dan diet
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2013). Oleh karena itu, sehingga perlu di
lakukan penanganan yang tepat untuk mengatasi penyakit asma yaitu latihan
senam asma.
Hasil penelitian Arizka Dwi Kustiono, Siti Baitul M, menyimpukan
berdasarkan analisis data hasil pengukuran Kapasital Vital Paru (KVP) ada
pengaruh antara senam asma terhadap Kapasital Vital Paru (KVP) pada
penderita Asma Bronkial di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM)
Semarang. Kapasital Vital Paru (KVP) sebelum melakukan senam adalah
34
rata-rata 902,50 ml. Kapasital Vital Paru (KVP) setelah melakukan senam
selama 4 minggu adalah 916,08 ml dan setelah 8 minggu 941,33 ml
Hasil penelitian Budi antoro (2015) didapatkan nilai rerata arus puncak
ekspirasi (APE) pada kelompok intervensi pada pengukuran sebelum senam
asma 329.47 ml/mnt sesudah senam asma 342.11 ml/mnt. Terlihat nilai mean
perbedaan antara sebelum dan sesudah 12.63 ml/mnt dengan Standar deviasi
24.45 l/mnt 9. Hasil uji statistik di dapat nilai t=-2.251 dengan p= .037, maka
dapat di simpulkan ada perbedaan yang signifikan antara nilai arus puncak
ekspirasi sebelum dan sesudah melakukan senam asma.
Hasil penelitian Rina loriana (2018), menyimpulkan Berdasarkan data,
teori, dan beberapa hasil penelitian yang sebelumnya telah dipaparkan dapat
disimpulkan bahwa pada kelompok 1 intervensi dengan senam asma yang
dikombinasikan dengan teknik pernapasan buteyko, dan kelompok 2 intervensi
senam asma, kedua intervensi ini memiliki pengaruh dalam menurunkan
frekuensi kekambuhan pasien penderita asma, namun berdasarkan hasil uji
statistik kelompok 1 memiliki perubahan yang lebih besar dalam menurunkan
frekuensi kekambuhan pasien.
Selain itu intervensi asma yang dapat dibudayakan adalah dengan senam
asma yang bersifat melatih otot pernapasan. Latihan otot pernapasan dapat
meningkatkan fungsi otot pernapasan, mengurangi derajat gangguan
pernapasan, meningkatkan toleransi terhadap aktivitas dan menurunkan gejala
dipsnea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mengikuti senam asma
secara teratur pasien asma mendapatkan beberapa manfaat yaitu frekuensi
35
serangan asma berkurang, pemakaian obat berkurang, dan gejala asma menjadi
ringan (Erik Kusuma & Bayu Herlambang, 2020).
Di dukung oleh penelitian Lungguh Tarenaksa Suranggana,
Koesbaryanto & Azizah Khoiriyati (2018). Senam asma merupakan salah satu
penatalaksanaan non farmakologis pada pasien asma yang tujuannya untuk
melatih ekspirasi dan inspirasi dalam mengeluarkan CO2 karena adanya
obstruksi jalan napas. Meningkatnya sirkulasi oksigen ke otot pernapasan
menyebabkan metabolisme aerob dan energi tubuh menjadi meningkat
(Antoro, 2016). Apabila senam asma dilakukan secara rutin maka bermanfaat
bagi pasien untuk mencegah kekambuhannya, selain itu juga pasien dapat
mengurangi penggunaan obat-obatan atau farmakologi. Senam asma memiliki
fungsi untuk memperkuat otot pernapasan, menurunkan kadar IgE. IgE
merupakan faktor utama yang menyebabkan adanya inflamasi dalam
patofisiologi penyakit asma (Widjanegara et al., 2015).
C. Hambatan
Hambatan yang dialami oleh peneliti dalam menyusun stud literatur ini
yaitu sulitnya akses jaringan internet dalam proses pencarian jurnal yang
berhubungan dengan judul studi literature ini, sehingga menjadi hambatan
dalam proses penyusunan studi literatur ini.
BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari studi literatur ini didapatkan bahwa latihan senam
asma dapat mencegah kekambuhan penyakit asma pada pasien asma.
B. Saran
1. Bagi pelayanan
Dengan melihat hasil dari penelitian ini, peneliti merekomendasikan
kepada tim kesehatan yang melakukan perawatan khusunya di tempat
pelayanan kesehatan harus lebih memahami dan mengatahui konsep
penyakit asma dengan menggunakan latihan senam asma.
2. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan selalu memberikan mutu pembelajaran yang lebih baik lagi
sehingga dapat menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang professional.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Melihat dari hasil penelitian yang telah didapatkan, peneliti
mengharapkan sebaiknya untuk peneliti selanjutnya direncanakan untuk
melakukan penelitian dengan menggunakan referensi yang lebih banyak
lagi sehingga mendapatkan hasil yang lebih representatif.
36
37
DAFTAR PUSTAKA
Tumigolong, G. T. (2016). Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Serangan
Asma di Kelurahan Mahakeret Barat dan Timur Kota Manado. pp. 229 vol.
World health organizations (WHO). 2016. Asthma fact sheets. 16 november 2016.
Kementrian Kesehatan Republik., (2013). Pusat Data dan Informasi Kementrian
Kesehatan RI." (2013).
The global atsma report 2018, global atsma report, new Zealand : 2019
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2013). Asma Pedoman Diagnosis &
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PDPI
Nugroho,S,2009. Terapi pernapasan pada penderita asma. MEDIKORA V (1), hal. 71-
91.
Yunani, Jamaludin, M. & widiati, A. 2017. Terapi peregangan otot pernapasan untuk
kapasitas vital paru pasien asma. 2018: Bidang MIPA dan kesehatan.
Nugroho, Y. A. 2011. Batuk Efektif dalam Pengeluaran Dahak pada Pasien
dengan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas di Instalasi Rehabilitasi
Medik Rumah Sakit Baptis Kediri. pp. 135-142. Vol. 4
Nugroho Wisnu Murti. 2015. Efektifitas Circulo Massage Terhadap Gangguan
Tidur pada Wanita Lansia di Posyandu Lansia Cebongan Ngestiharjo
Kasihan Bantul. pp.1-9.
Bebasari, E., & Azrin, M. (2016). Korelasi Lama Senam Asma dengan Faal Paru
pada Pasien Asma yang Mengikuti Senam Asma. JIK, Jilid 10, No. 1, hal
17-23. DOI: 10.26891/JIK.v10i1.2016.17-23
Judith, 2016. The latest startsin web and mobile in [Link] akses pada 11
desember 2016.
Yohana & Dwi Kustriyanti. (2014). Pengaruh Senam Asma terhadap kapasital
vital Paru Pada Penderita Asma di Balai Kesehatan Paru Masyarakat
Semarang. Jurnal KMB Edisi Mei 2014. PPNI Jawa Tengah
Nursalam, Laily Hidayati, Ni Putusari. 2015. Faktor Risiko Asma dan Perilaku
Pencegahan Berhubungan dengan Tingkat Kontrol Penyakit Asma. Vol. 4.
pp. 9-1.
Widjanegara, I. G., Tirtayasa, K., & Pangkahila, A. (2015). senam asma
mengurangi kekambuhan dan meningkatkan saturasi oksigen pada penderita
38
asma di poliklinik paru rumah sakit umum daerah wangaya denpasar. Sport
and Fitness Journal, 3(2), 1-1.
Antoro, B. (2016). Pengaruh Senam Asma Terstruktur Terhadap Peningkatan
Arus Puncak Ekspirasi (APE) Pada Pasien Asma. Jurnal Kesehatan, 6(1).
Vironica. (2013). Pengaruh Senam Asma Terhadap Fungsi Paru (KVP dan FEV1)
Pada Wanita Asma di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM)
Semarang. Universitas Muhammadiyah Semarang.
Elizabeth. (2011). Persepsi Pasien Asma Tentang Efektivitas Senam Asma Dalam
Meminimalkan Kejadian Ulang Serangan Asma. STIKES SANTO
BORROMEUS BANDUNG.
Bebasari, E., & Azrin, M. (2016). Korelasi Lama Senam Asma dengan Faal Paru
pada Pasien Asma yang Mengikuti Senam Asma. JIK, Jilid 10, No. 1, hal
17-23. DOI: 10.26891/JIK.v10i1.2016.17-23
Nurdiansyah. Pengaruh senam asma dan Teknik Pernapasan Buteyko Terhadap
Penurunan Gejala Pasien Asma Kota Tangerang Selatan. Fak. Kedokt. dan
Ilmu Kesehat. Progr. Stud. Ilmu Keperawatan Univ. Islam Indones. Syarif
Hidayatulah Jakarta (2013).