RANGKUMAN MATA KULIAH AKUNTANSI MANAJEMAN
SEGMENTED REPORTING; INVESTMENT CENTRE EVALUATION AND
TRANSFER PRICING
RPS 7
Dosen Pengampu : Bapak Prof. Dr. I Ketut Yadnyana, S.E., AK., [Link].
Disusun Oleh:
I Made Lopa Rustiana (1907531257)
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 200
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat-Nya kepada Kami, sehingga dapat menyelesaikan Makalah Akuntansi Manajemen
dengan materi Segmented Reporting; Investment Centre Evaluation And Transfer Pricing.
Penulis berharap Makalah Akuntansi Manajemen yang telah disusun ini dapat
memberikan sumbangsih untuk menambah pengetahuan para pembaca. Penulis menyadari
bahwa Makalah Akuntansi Manajemen ini masih memiliki banyak kekurangan yang
membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritikan dari para
pembaca.
Denpasar, 20 Maret 2021
Penulis
A. DESENTRALISASI DAN PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN
Secara umum, sebuah perusahaan diatur menurut garis-garis
pertanggungjawaban. Bagan organisasi tradisional dengan bentuk piramidnya
mengilustrasikan garis pertanggungjawaban yang mengalir dari CEO turun melewati
wakil direktur menuju manajer yang lebih rendah.
Perusahaan yang memiliki beberapa pusat pertanggungjawaban biasanya memilih
salah satu dari dua pendekatan pengambilan keputusan untuk mengelola kegiatan mereka
yang rumit dan beragam .
Semua organisasi berada dalam rentang dari yang sangat tersentraliasi hingga
sangat terdesentralisasi. Kebanyakan perusahaan berada di tengah di antara kedua ujung
rentang tersebut dengan mayoritas cenderung ke arah desentralisasi.
1. Alasan-alasan untuk Melakukan Desentralisasi
a. Mengumpulkan dan menggunakan informasi lokal
Kualitas dari berbagai keputusan dipengaruhi oleh kualitas informasi yang
tersedia. Sejalan dengan pertumbuhan perusahaan dan penambahan operasi
dipasar dan area yang berbeda, manajemen pusat mungkin tidak memahami
kondisi lokal.
b. Memfokuskan manajemen pusat
Dengan mendesentralisasikan keputusan-keputusan operasional, manajemen
pusat bebas menangani perencanaan dan pengambilan keputusan strategis.
Keberlangsungan jangka panjang dari perusahaan harus lebih penting bagi
manajemen pusat daripada operasional sehari-sehari.
c. Melatih dan memotivasi para manajer
Organisasi selalu membutuhkan manajer yang terlatih untuk menggantikan
posisi manajer jenjang ;ebih tinggi yang keluar untuk mengambil keuntungan
dari peluang yang lain. Manajer-manajer yang menghasilkan keputusan
terbaik adalah manajer yang bisa dipromosikan.
d. Meningkatkan daya saing
Pada perusahaan yang sangat tersentralisasi, margin laba secara
keseluruhan mampu menutupi ketidakefisienan yang terjadi di berbagai
divisinya. Perusahaan-perusahaan besar sekarang menemukan bahwa
mereka tidak mampu mempertahankan suatu divisi yang tidak berdaya
saing.
2. Divisi-divisi dalam Perusahaan yang Terdesentralisasi
Desentralisasi biasanya diwujudkan melalui pembentukan unit-unit
yang disebut divisi. Satu cara pembagian dvisi adalah berdasarkan jenis barang
atau jasa yang diproduksi. Dalam latar terdesentralisasi, biasanya terdapat
beberapa saling kebergantungan. Jika tidak, satu perusahaan hanya akan
menyerupai kumpulan entitas yang terpisah secara total.
Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu segmen bisnis yang
manajernya bartanggung jawab terhadap serangkaian kegiatan-kegiatan
tertentu. Berikut ini jenis utama pusat pertanggungjawaban.
- Pusat biaya ( cost center )
- Pusat pendapatan ( revenue center)
- Pusat laba (profit center )
- Pusat investasi (investment center )
B. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN
LAPORAN LABA – RUGI VARIABEL DAN ABSORPSI
Pusat laba dinilai berdasarkan laporan laba rugi. Akan tetapi, laporan laba rugi
perusahaan secara keseluruhan tidak terlalu berguna untuk tujuan ini. Dua metode
perhitungan laba yang telah dikembangkan, yaitu satu berdasarkan perhitungan biaya
variabel dan yang lainnya berdasarkan perhitungan biaya penuh atau absorpsi.
Perbedaan
antara perhitungan biaya variabel dan absorpsi bergantung pada perlakuan terhadap
satu biaya tertentu, yaitu overhead tetap.
Perhitungan biaya variabel yang juga disebut perhitungan biaya langsung hanya
membebankan biaya manufaktur variabel ke produk, biaya-biaya ini meliputi bahan
baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variabel.
Perhitungan biaya absorpsi membebankan semua biaya manufaktur pada
produk. Bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead variabel, dan overhead
tetap adalah hal-hal yang menentukan biaya produk. Menurut perhitungan biaya
absorpsi, overhead tetap dipandang sebagai biaya produk, bukan biaya periode.
1. Penilaian Persediaan
Perhitungan biaya persediaan akhir dapat menggunakan perhitungan
biaya absorpsi dan perhitungan biaya variabel. Pada persediaan absorpsi,
persediaan akhir mencakup biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung,
overhead variabel dan overhead tetap per unit. Pada metode perhitungan biaya
variabel, persediaan akhir hanya mencakup biaya bahan baku langsung, tenaga
kerja langsung dan overhead variabel. Tidak dimasukkannya overhead tetap
dalam hasil biaya persediaan perhitungan biaya variabel membuat penilaian
persediaan yang lebih rendah daripada model absorpsi.
2. Laporan Laba Rugi dengan Menggunakan Biaya Variabel dan Abrospsi
Karena biaya produk per unit merupakan dasar bagi penghitungan harga
pokok penjualan, metode perhitungan biaya variabel dan absorpsi dapat
mengakibatkan angka laba bersih yang berbeda. Perbedaan tersebut terjadi
karena jumlah overhead tetap yang diakui sebagai beban pada kedua metode.
Laba menurut perhitungan biaya absoprsi akan lebih tinggi daripada
laba menurut perhitungan biaya variabel. Perbedaan ini karena sebagian
overhead tetap periode tersebut yang masuk dalam persediaan ketika
perhitungan biaya absorpsi digunakan. Hanya sebagian besar dari overhead
tetap yang dimasukkan dalam harga pokok penjualan pada perhitungan biaya
absorpsi, sisanya ditambahkan ke persediaan. Akan tetapi, pada perhitungan
biaya variabel, semua
biaya overhead overhead tetap untuk periode tersebut ditambahkan ke beban
pada laporan laba rugi.
Beban penjualan dan administrasi tidak pernah dimasukkan dalam
biaya produk. Beban penjualan dan administrasi selalu dikeluarkan dari
laporan laba- rugi dan tidak pernah muncul di neraca.
3. Hubungan antara Produksi, Penjualan, dan Laba
Hubungan antara laba menurut perhitungan biaya variabel dan laba
menurut perhitungan biaya absorpsi berubah ketika hubungan antara produksi
dan penjualan berubah. Jika barang yang terjual lebih banyak dari barang yang
diproduksi, maka laba menurut perhitungan biaya variabel akan lebih tinggi
dari laba menurut perhitungan biaya absorpsi. Menjual lebih banyak dari yang
diproduksi berarti persediaan awal dan unit yang diproduksi telah terjual.
Menurut perhitungan biaya absorpsi, unit-unit yang keluar dari persediaan
mangandung overhead tetap dari periode sebelumnya. Selain itu, unit-unit yang
diproduksi dan dijual telah mengandung seluruh overhead tetap periode
berjalan. Dengan demikian, jumlah beban overhead tetap menurut perhitungan
biaya absorpsi lebih besar dari overhead tetap periode berjalan, yaitu sebesar
jumlah overhead tetap yang keluar dari persediaan. Oleh karena itu, laba
menurut perhitungan biaya variabel lebih tinggi dari laba menurut perhitngan
biaya absorpsi sebesar jumlah overhead tetap yang mengalir keluar dari
persediaan awal.
Jika jumlah produksi dan penjualan sama, maka tidak ada perbedaan
laba yang dilaporkan. Karena unit-unit yang diproduksi terjual seluruhnya,
perhitungan biaya absorpsi – seperti juga perhitungan biaya variabel – akan
mengakui total overhead tetap periode tersebut sebagai beban. Tidak ada
overhead tetap yang masuk atau keluar dari persediaan.
Jika Ma
ka
1 Produksi > Penjualan Laba Bersih Absorpsi > Laba Bersih
. Variabel
2 Produksi < Penjualan Laba Bersih Absorpsi < Laba Bersih
. Variabel
3 Produksi = Laba Bersih Absorpsi = Laba Bersih
. Penjualan Variabel
Kunci untuk menjelaskan perbedaan antara laba yang dihasilkan
perhitungan biaya absorpsi dan perhitungan biaya variabel adalah analisis
terhadap arus overhead tetap. Perhitungan biaya variabel selalu mengakui total
overhead tetap periode sebagai beban. Dilain pihak, perhitungan biaya absorpsi
hanya mengakui overhead tetap yang ada pada unit-unit yang terjual. Jika
jumlah yang diproduksi berbeda dari yang terjual, overhead tetap dalam
persediaan meningkat, maka laba menurut perhitungan biaya absorpsi lebih
besar dari pada menurut perhitungan biaya variabel sebesar kenaikan
bersihnya. Jika overhead tetap persediaan berkurang, maka laba menurut
perhitungan biaya variabel lebih besar daripada laba menurut perhitungan biaya
absorpsi sejumlah penurunan bersihnya.
4. Mengevaluasi Manajer Pusat Laba
Evaluasi terhadap para manajer sering dikaitkan dengan profitabilitas
unit- unit yang berada dalam kendali mereka. Bagaimana laba berubah dari satu
periode ke periode berikutnya dan bagaimana laba aktual dibandingkan dengan
laba yang direncanakan sering digunakan sebagai petunjuk terhadap
kemampuan manajerial. Akan tetapi, laba harus mencerminkan usaha
manajerial agar dapat menjadi petunjuk bermakna. Secara umum, jika kinerja
laba diharapkan untuk mencerminkan kinerja manajerial, maka manajer berhak
mengharapkan berlakunya hal-hal berikut:
1. Ketika pendapatan penjualan meningkat dari satu periode ke periode
berikutnya, sementara faktor-faktor lainnya tetap, maka laba akan
meningkat.
2. Ketika pendapatan penjualan menurun dari satu periode ke periode
berikutnya, sementara faktor-faktor lainnya tetap, maka laba akan
menurun.
3. Ketika pendapatan penjualan tidak berubah dari satu periode ke periode
berikutnya, sementara faktor-faktor lainnya tetap, maka laba akan tetap
tidak berubah.
5. Laporan Laba Rugi Segmen dengan Menggunakan Perhitungan Biaya
Variabel
Perhitungan biaya variabel berguna dalam menyiapkan laporan laba
rugi segmen karena perhitungan ini menyediakan informasi penting mengenai
beban variabel dan tetap. Sebuah segmen adalah subunit dari suatu perusahaan
yang cukup penting dalam pembuatan laporan kinerja. Segmen bisa berupa
divisi, departemen, lini produk, kelompok pelanggan, dan lain-lain. Akan
tetapi, dalam laporan laba rugi segmen, beban tetap dibagi menjadi dua
kategori : beban tetap langsung (direct fixed expense) dan beban tetap umum
(common fixed expense).
Beban tetap langsung (direct fixed expense) adalah beban tetap yang
secara langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen. Beban ini terkadang disebut
sebagai beban tetap yang dapat dihindari (avoidable fixed expenses) atau beban
tetap yang dapat ditelusuri (traceable fixed expenses) karena beban itu akan
hilang jika segmen ditutup atau dihapus.
Beban tetap umum (common fixed expenses) disebabkan oleh dua atau
lebih segmen secara bersamaan. Beban-beban ini tetap muncul, bahkan ketika
salah satu segmen dihapus.
Kontribusi laba yang dihasilkan setiap segmen untuk menutupi biaya
tetap umum perusahaan disebut margin segmen (segment margin). Suatu
segmen harus mampu menutup paling tidak biaya variabel dan biaya tetap
langsungnya sendiri.
Laporan laba rugi segmen dengan menggunakan perhitungan biaya
variabel memiliki satu keistimewaan di samping laporan laba rugi perhitungan
biaya variabel yang telah disajikan sebelumnya. Pembagian seluruh beban tetap
dalam beban tetap langsung dan beban tetap umum, memberikan informasi
tambahan bagi manajer.
Karena beban tetap langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen, beban
ini disebabkan oleh keberadaan dari segmen itu sendiri. Jika segmen atau lini
produk dihapus, maka beban tetap ini akan hilang.
C. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN
ROI
1. Pengembalian atas Investasi
Satu cara mengaitkan laba operasi dengan aktiva yang digunakan adalah
dengan menghitung pengembalian atas investasi (return on investment-ROI),
yaitu laba yang diperoleh untuk setiap dolar investasi. ROI adalah ukuran
kinerja yang paling lazim bagi suatu pusat investasi. ROI dapat didefinisikan
sebagai berikut,
ROI = Laba Operasi / Aktiva Operasi Rata-rata
Laba operasi (operation income) mengacu pada laba sebelum bunga dan
pajak. Aktiva operasi (operating assets) adalah seluruh aktiva yang digunakan
untuk menghasilkan laba operasi, termasuk kas, piutang, persediaan, tanah,
gedung, dan peralatan. Gambaran aktiva operasi rata-rata dihitung sebagai
berikut.
Aktiva operasi rata-rata = (Nilai buku bersih awal + Nilai buuku bersih akhir)/2
2. Margin dan Perputaran
Cara kedua untuk mengitung ROI adalah memisahkan rumusnya (Laba
operasi/aktiva operasi rata-rata) dalam margin dan perputaran.
ROI = Margin x perputaran
= Laba operasi x Penjualan Penjualan Aktiva operasi
rata-rata
Margin adalah rasio dari laba operasi terhadap penjualan. Hal ini
menunjukkan jumlah laba operasi yang dihasilkan dari setiap dolar penjualan.
Hal ini menyatakan laba operasi yang dihasilkan dari setiap penjualan. Hal ini
menyatakan bagian dari penjualan yang tersedia untuk bunga, pajak, dan laba.
Perputaran (turnover) adalah suatu ukuran lain yang dihitung dengan membagi
pendaptan penjualan dengan aktiva operasi rata-rata. Perputaran menunjukkan
jumlah penjualan yang dihasilkan dari setiap dollar yang diinvestasikan dalam
aktiva operasi.
3. Keunggulan ROI
Sedikitnya, ada tiga hasil positif dari penggunaan ROI.
1. ROI mendorong manajer untuk fokus pada hubungan antara penjualan,
beban, dan investasi sebagaimana yang diharapkan dari seorang manajer
pusat investasi.
2. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi biaya.
3. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi aktiva operasi.
4. Kelemahan Pengukuran ROI
Penekanan yang berlebihan pada ROI dapat menghasilkan pemikiran
yang sempit. Berikut dua aspek negative ROI yang sering disebutkan.
1. ROI mengakibatkan focus yang sempit pada profitabilitas divisi dengan
mengorbankan profitabilitas keseluruhan perusahaan.
2. ROI mendorong para manajer untuk focus pada kepentingan jangka
pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.
D. MENGUKUR KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN
LABA RESIDU DAN NILAI TAMBAH EKONOMI
Untuk mengatasi kecendurungan ROI untuk menghalangi investasi menguntungkan
perusahaan, beberapa perusahaan telah menerapkan alternatif ukuran kinerja seperti
laba residu. Nilai tambah ekonomi adalah cara alternatif untuk menghitung laba residu
yang saat ini digunakan di sejumlah perusahaan.
1. Laba Residu
Laba residu adalah perbedaan antara laba operasi dan pengembalian
dollar minimum yang disyaratkan atas aktiva operasi perusahaan.
Laba = Laba – (Tingkat pengembalian minimum x aktiva operasi rata – rata)
residu operasi
Tingkat pengembalian minimum ditentukan perusahaan dan sama
dengan burdle rate yang disebutkan pada bagian ROI. Jika laba residu lebih
besar dari nol, divisi memperoleh lebih banyak tingkat tingkat pengembalian
minimum. Jika laba residu kurang dari nol, divisi memperoleh lebih sedikit
pengembalian minimum. Akhirnya laba residu yang sama dengan nol
menunjukkan divisi memperoleh tepat sama dengan tingkat pengembalian
minimum.
a. Keunggulan Laba Residu
Menurunkan ROI menyebabkan laba perusahaan terbebani. Laba residu
sebagai ukuran kinerja akan mencegah kerugian yang terjadi. Dengan
menggunakan perbandingan laba residu divisi menunjukkan perbeadaan
antara dua kelompok dan penggunaan laba residu mendorong para manajer
untuk menerima proyek apapun yang menghasikan tingkat di atas
minimum.
b. Kelemahan Laba Residu
Laba residu bisa mendorong orientasi jangka pendek. Masalah lainnya
dengan laba residu tidak seperti ROI, laba residu adalah ukuran absolut
dari profitabilitas. Jadi, perbandingan langsung dari kinerja pada dua pusat
investasi yang berbeda menjadi sulit karena tingkat investasinya bisa
berbeda.
2. Nilai Tambah Ekonomi
Nilai Tambah ekonomi adalah laba bersih ( laba operasi dikurangi pajak
) dikurangi total biaya modal tahunan. Pada dasarnya nilai tambah ekonomi
(EVA
)merupakan laba residu dengan biaya modal sama dengan biaya modal akrual
dari perusahaan ( sebagai ganti dari suatu tingkat pengembalian minimum yang
diinginkan perusahaan karena alasan lainnya. Jika EVA positif maka
perusahaan sedang menciptakan kekayaan. Jika negative maka perusahaan
sedang menyia – nyiakan modal.
Sebagai suatu bentuk dari laba residu, EVA adalah suatu bentuk satuan
dolar, bukan suatu tingkat persentase pengembalian. Akan tetapi, EVA juga
menghasilkan tingkat pengembaliann seperti ROI karena menghubungkan
penghasilan bersih ( pengembalian ) dengan modal yang dipakai. Inti EVA
adalah penekanan pada laba bersih operasi dan biaya akrual dari modal.
a. Menghitung EVA
EVA adalah laba bersih atau laba operasi setelah pajak dikurang biaya
modal yang dipakai. Biaya modal yang dipakai adalah presentase aktual
dari biaya modal dikali dengan total modal yang dipakai. Persamaan
EVA dinyatakan sbb.
b. Aspek Perilaku EVA
Sejumlah perusahaan telah menemukan bahwa EVA membantu
mendorong jenis perilaku yang sesuai dari berbagai divisi dengan
menunjukkan menekanan semata-mata pada pendapatan operasi tidaklah
mencukupi. Alasan yang mendasarnya adalah EVA mengandalkan biaya
modal yang sebenarnya.
E. PENETAPAN HARGA TRANSFER
Ketika divisi diperlakukan sebagai pusat pertanggungjawaban, divisi tersebut
dievaluasi berdasarkan laba operasi, pengembalian atas investasi dan laba residu atau
EVA. Jadi, nilai barang yang ditransfer merupakan pendapatan bagi divisi yang
menjual dan biaya bagi divisi yang membeli. Nilai atau harga internal disebut harga
transfer. Dengan kata lain harga transfer adalah harga yang dibebankan untuk suatu
komponen oleh divisi penjualan pada divisi pembeli di perusahaan yang sama.
1. Dampak Penetapan Harga Transfer terhadap Divisi dan Perusahaan
secara Keseluruhan
Ketika suatu divisi menjual pada divisi lain, kedua divisi tersebut dan
perusahaan secara keseluruhan mendapat pengaruhnya. Harga yang dikenakan
untuk barang yang ditransfer memengaruhi biaya divisi pembeli dan
pendapatan divisi penjual. Artinya, laba kedua divisi tersebut, sebagaimana
juga evaluasi dan kompensasi para manajer mereka, dipengaruhi oleh harga
transfer.
Meskipun harga transfer aktual tidak memengaruhi perusahaan
sebagai suatu kesatuan, penetapan harga transfer ternyata mampu
memengaruhi tingkat laba yang dihasilkan perusahaan multinasional
mmelalui pajak badan dan
persyaratan hukum lainnya yang ditetapkan negara tempat berbagai
divisi beroperasi.
2. Kebijakan Penetapan Harga Transfer
Perusahaan yang terdesentralisasi memungkinkan lebih banyak
wewenang pengambilan keputusan di tingkat manajemen yang lebih rendah.
Dalam penyusun sebuah kebijakan penetapan harga transfer, pandangan dari
divisi penjualan dan divisi pembelian harus dipertimbangkan. Pendekatan biaya
peluang mencapai tujuan tersebut dengan mengidentifikasi harga minimum
yang ingin diterima divisi penjualan dan harga maksimum yang ingin dibayar
oleh divisi pembeli. Harga maksimum dan minimum tersebut sesuai dengan
biaya transfer internal.
Berikut harga yang ditetapkan:
1. Harga transfer minimum adalah harga transfer yang akan membuat
keadaan divisi penjual tidak menjadi lebih buruk jika barang dijual pada
divisi internal daripada dijual pada pihak l uar.
2. Harga transfer maksimum adalah harga transfer yang akan membuat
keadaan divisi pembeli tidak menjadi lebih buruk jika suatuinput dibeli
secara internal.
Beberapa kebijakan penetapan harga transfer digunakan dalam praktik.
Kebijakan penetapan harga transfer ini mencakup harga pasar, harga transfer
berdasarkan biaya, dan harga transfer yang dinegosiasikan.
3. Harga Pasar
Jika tersedia, harga pasar adalah pendekatan terbaik untuk penetapan
harga transfer. Karena divisi penjual mampu menjual barangnya pada harga
pasar, transfer internal pada harga yang lebih rendah dari harga pasar akan
mengakibatkan divisi tersebut merugi. Divisi pembeli yang selalu mampu
membeli barang pada harga pasar untuk barang yang ditransfer secara internal.
4. Harga Transfer Berdasarkan Biaya
Harga pasar luar kerap tidak tersedia. Hal tersebut bisa terjadi karena
karena produk yang akan ditrasfer menggunakan desain hak paten yang
dimiliki perusahaan [Link] hal ini, perusahaan bisa menggunakan
penetapan harga
transfer berdasarkan biaya. Sebagai contoh, perusahaan matras menggunakan
busa dengan kepadatan tinggi untuk matras dari tempat tidur lipat tersebut dan
perusahaan luar tidak memproduksi matras semacam ini dengan ukuran yang
sesuai. Jika perusahaan telah menetapkan kebijakan penetapan harga transfer
berdasarkan biaya, maka divisi matras akan membebankan biaya penuh
mencakup biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead
variabel, dan bagian dari overhead tetap.
5. Harga Transfer yang Dinegosiasikan
Akhirnya, manajemen tingkat atas nisa mengizinkan manajer divisi
pembeli dan penjual untuk menegosiasikan harga transfer. Secara khusus,
pendekatan ini berguna saat kondisi pasar tidak sempurna, seperti kemampuan
divisi di dalam perusahaan untuk menghindari biaya penjualan dan distribusi.
Dalam hal ini, biaya yang dihemat bisa dibagi di antara dua divisi.
KESIMPULAN
Untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan, banyak perusahaan memilih
desentralisasi. Inti desentralisasi adalah kebebasan pengambilan keputusan. Perusahaan
yang terdesentralisasi membentuk pusat pertanggungjawaban. Empat pusat
pertanggungjawaban adalah pusat pendapatan, pusat laba, dan pusat rugi. Hasil-hasil
aktual dari setiap pusat pertanggungjawaban bisa dibandingkan dengan hasil aktual
yang diharapkan.
Perhitungan biaya variabel memperlakukan overhead tetap sebagai beban periode.
Oleh karena itu, biaya unit produksi menurut perhitungan biaya variabel terdiri atas
bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variabel. Perhitungan biaya
absorsi memperlakukan overhead tetap sebagai biaya produk. Jadi, biaya unit produksi
menurut perhitungan biaya absorsi terdiri atas bahan baku langsung, tenaga kerja
langsung, overhead variabel, dan bagian dari overhead tetap.
ROI adalah rasio laba operasi terhadap aktiva operasi rata-rata. Pengembalian atas
investasi adalah ukuran kinerja manajer yang paling lazim pada unit-unit desentralisasi.
Laba residu adalah laba operasi dikurangi persentase minimum dari laba modal
dikalikan modal yang dipakai. EVA adalah laba operasi setelah pajak dikurangi total
biaya modal tahunan.
DAFTAR PUSTAKA
Hansen, D.R. and Mowen, M.M. 2005. Management Accounting. Cicinnati:
South-Western College Publishing
[Link]