RANGKUMAN MATA KULIAH AKUNTANSI MANAJEMAN
COST VOLUME PROFIT (CVP) ANALYSIS
RPS 3
Dosen Pengampu : Bapak Prof. Dr. I Ketut Yadnyana, S.E., AK., [Link].
Disusun Oleh:
I Made Lopa Rustiana (1907531257)
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 200
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat-Nya kepada Kami, sehingga dapat menyelesaikan Makalah Akuntansi
Manajemen dengan materi Cost Volume Profit (CVP) Analysis.
Penulis berharap Makalah Akuntansi Manajemen yang telah disusun ini dapat
memberikan sumbangsih untuk menambah pengetahuan para pembaca. Penulis menyadari
bahwa Makalah Akuntansi Manajemen ini masih memiliki banyak kekurangan yang
membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritikan dari
para pembaca.
Denpasar, 23 Februari 2021
Penulis
A. KONSEP BIAYA VARIABEL
Dalam setiap proses produksi, produsen atau perusahaan penghasil suatu produk
pasti akan mengeluarkan berbagai biaya. Dalam manajemen keuangan, biaya-biaya yang
dikeluarkan oleh produsen tersebut biasanya dibagi menjadi dua kategori utama yaitu
Biaya Tetap (Fixed Cost) dan Biaya Variabel (Variabel Cost).
Biaya variabel adalah biaya produksi atau pengeluaran yang berubah secara
proporsional dengan jumlah barang yang diproduksi. Dengan kata lain, biaya variabel
akan meningkat dengan jumlah yang sama dengan barang yang diproduksinya. Jika
jumlah unit barang yang diproduksi meningkat, maka biaya variabel juga akan meningkat
sebesar perubahan jumlah unit dikalikan dengan biaya variabel per satuannya.
Biaya Variabel atau variabel cost ini merupakan salah satu komponen yang sangat
penting dalam perhitungan total biaya dan mencari titik impas produksi atau Break Even
Point. Biaya Variabel ini dapat dihitung sebagai jumlah biaya marjinal (Marginal Cost)
dari semua unit yang diproduksi atau biaya yang berkaitan langsung dengan produksi
suatu barang. Selain itu, semua Biaya Variabel adalah biaya langsung yaitu biaya yang
dapat dengan mudah dikaitkan dengan objek biaya tertentu. Biaya variabel kadang-
kadang disebut juga sebagai biaya unit-level atau biaya tingkat level karena biaya-biaya
variabel tersebut bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi. Contoh dari biaya
variabel yaitu antara lain biaya bahan baku sebuah produk, biaya tenaga kerja langsung
dalam bentuk upah kepada karyawan (biasanya dihitung berdasarkan berapa unit produk
yang dapat dihasilkan per orang), biaya pengemasan produk, biaya kargo (berbeda-beda
sesuai dengan negara tujuan tempat produk akan diperjualbelikan), dan biaya lainnya.
B. KONSEP BIAYA TETAP
Dalam sebuah dasar akuntansi, Biaya tetap (Fixed Cost) adalah jenis biaya yang statis (tidak
berubah). Biaya ini akan selalu dikeluarkan meski pun Anda tidak melakukan kegiatan apa pun
atau bahkan ketika Anda melakukan kegiatan yang sangat banyak sekali pun. Ketika dalam
proses produksi, maupun sebaliknya ketika tidak berproduksi, biaya tetap akan Anda bayar atau
keluarkan tanpa menghitung berapa banyak produksi yang Anda lakukan. Namun ketika biaya ini
disejajarkan dengan jumlah produksi, keduanya akan menghasilkan sebuah gagasan yang
berbeda. Dilihat dari produksi yang dihasilkan, apabila produksi yang dihasilkan tinggi tentunya
biaya akan semakin menurun dan begitu juga sebaliknya.
Yang termasuk biaya tetap adalah biaya sewa gedung, gaji karyawan, biata, asuransi, biaya
cukai ( apabila melakukan pengiriman sebuah produk hingga ke luar negeri ), dan sebagainnya.
Dalam akuntansi terdapat 2 jenis biaya, yaitu biaya tetap dan biaya variabel atau bisa disebut
sebagai biaya tidak tetap. Yang dimaksud dengan biaya variabel adalah biaya variabel atau yang
disebut juga dengan variable cost merupakan biaya yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan
secara berubah-ubah yang didasarkan pada perubahan jumlah produk yang diproduksi. Apabila
semakin besar jumlah volume produk yang diproduksi oleh sebuah perusahaan maka semakin
besar biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi produk tersebut. Begitu pula sebaliknya,
jika jumlah volume produk yang diproduksi kecil maka biaya yang dikeluarkan juga kecil.
Contoh Biaya Tetap (Fixed Cost)
Berikut ini adalah contoh beberapa Biaya yang digolongkan sebagai Biaya Tetap
atau Fixed Cost.
1. Penyusutan (Depreciation) – Depresiasi atau penyusutan dalam akuntansi adalah
pembebanan bertahap dan sistematis terhadap biaya aset berwujud (seperti peralatan
produksi) selama umur manfaatnya.
2. Asuransi (Insurance) – Asuransi adalah biaya berkala berdasarkan kontrak asuransi.
3. Beban bunga (Interest Expenses) – Yang dimaksud dengan Beban Bunga adalah biaya
dana yang dipinjamkan ke perusahaan oleh pemberi pinjaman. Beban Bunga ini
digolongkan sebagai Biaya Tetap apabila suku bunga tetap dimasukkan ke dalam
perjanjian pinjaman.
4. Pajak Properti (Property Tax) – Pajak Properti adalah pajak yang dibebankan ke
perusahaan oleh pemerintah setempat, yang didasarkan pada biaya asetnya.
5. Biaya Sewa (Rent) – Biaya Sewa yang dimaksud disini adalah biaya berkala
untuk penggunaan real estat (kantor, pabrik, gudang) miliki orang lain yang
digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan operasinya.
6. Gaji (Salary) – Gaji adalah jumlah kompensasi tetap yang dibayarkan kepada
karyawan.
7. Utilitas (Utility) – Contoh Biaya Utilitas adalah seperti biaya listrik, gas,
telepon dan sebagainya. Biaya ini memiliki elemen variabel, tetapi sebagian
besar tetap.
C. KONSEP ANALISIS BIAYA VOLUME LABA
Analisis biaya, volume, dan laba merupakan alat yang berguna untuk perencanaan dan
pembuatan keputusan. Analisis biaya, volume, dan laba menekankan pada hubungan
antara biaya, volume dan laba itu sendiri (kuantitas penjualan). Analisis BVL juga
merupakan alat yang berguna untuk mengidentifikasi permasalahan yang berhubungan
dengan perencanaan penjualan dan membantu perusahaan dalam memecahkan
permasalahan tersebut. Analisis BVL juga dapat digunakan untuk membantu
memecahkan masalah penting lainnya, misalnya tentang perencanaan jumlah unit produk
yang seharusnya dijual agar perusahaan mencapai titik impas (break-even point),
perhitungan dampak penurunan biaya tetap terhadap titik impas dan perhitungan dampakn
kenaikan harga jual terhadap laba. [1]
Biaya, volume, dan laba merupakan tiga elemen pokok dalam penyusunan laporan laba
rugi sebuah perusahaan. Dalam menjalankan kegiatan operasinya, sebuah perusahaan
manajemen akan berupaya memperoleh dan mengalokasikan sumber dengan cara yang
paling murah dari segi biaya dan paling banyak memberikan manfaat dalam mencapai
tujuan perusahaan.
Pemahaman mengenai aplikasi konsep biaya, volume, dan laba dapat digunkan oleh
manajemen sebagai dasar untuk merencanakan komposisi tingkat volume, biaya, dan laba
yang menguntungkan. Sebagai komponen yang saling berhubungan komposisinya harus
berada pada titik yang optimal. Studi mengenai hubungan antara pendapatan, biaya,
volume, dan laba dikenal sebagai analisis hubungan biaya-volume-laba.
Hal yang menjadi elemen utama dalam analisis mencakup :
1. Harga jual produk
2. Volume penjualan atau tingkat aktivitas
3. Biaya variabel per unit
4. Total biaya tetap
5. Komposisi dari kombinasi produk terjual
Dasar Analisis Biaya Volume dan Laba
Pengetahuan dasar yang sangat menentukan dalam analisis biaya, volume, dan laba
adalah pemahaman tentang penyusunan laporan laba rugi dengan menggunkan
pendekatan variable costing. Pendekatan ini menghasilkan suatu model laporan laba rugi
dimana biaya diklasifikasikan menurut perilakunya. Agar lebih informatif, maka sebaiknya
laporan laba rugi diuraikan dalam bentuk laporan pejualan secara total dan penjualan per unit.
Selain itu juga diperlukan juga hasil analisis vertikal yang menunjukan presentase biaya
variabel dan resiko margin kontribusi dari nilai penjualan.
D. EFEK BIAYA TETAP
Biaya tetap bersama dengan biaya variabel membentuk total biaya dalam
menjalankan bisnis. Tidak seperti biaya tetap, biaya variabel berfluktuasi seiring dengan
kenaikan atau penurunan produksi atau penjualan. Memahami biaya tetap bisnis penting
untuk memaksimalkan keuntungan. Perusahaan biasanya menggunakannya untuk
menghitung titik impas, yakni titik di mana pendapatan sama dengan biaya.
Hasil analisis titik impas penting untuk menentukan volume produksi minimum dan
untuk menetapkan harga jual. Tingginya biaya tetap meningkatkan titik impas. Itu
berarti perusahaan harus menjual lebih banyak volume untuk menutup biaya tetap atau
menetapkan harga yang lebih tinggi. Karena sifatnya yang tidak berubah, maka
perusahaan harus tetap membayarnya meski produksi naik atau turun.
1. Efek Biaya Tetap Terhadap Skala Ekonomis
Perusahaan harus membayar biaya variabel dan tetap untuk berproduksi.
Total biaya variabel akan berubah secara proporsional seiring dengan kenaikan atau
penurunan output. Begitu juga, biaya variabel per unit juga akan berfluktuasi
mengikuti perubahan output. Sebaliknya, meski total biaya tetap akan sama, tapi,
biaya tetap per unit (total biaya tetap dibagi total output) akan turun ketika output
meningkat. Dan, ketika output turun, itu naik.
Perusahaan dapat meraih skala ekonomi dan menurunkan biaya tetap per
unit output dengan meningkatkan produksi. Dengan begitu, mereka dapat
menyebarkan total biaya tetap ke sejumlah besar output. Misalnya, jika produsen
pensil memproduksi sebanyak 100.000 unit, biaya iklan per unit output adalah
sebesar Rp50. Total biaya iklan adalah sebesar Rp5.000.000 (100.000 x Rp50).
Jika perusahaan meningkatkan produksi menjadi 200.000 unit, maka biaya
iklan per unit pensil turun setengahnya menjadi Rp25. Ketika memiliki biaya tetap
yang tinggi, kita sebut perusahaan memiliki tingkat leverage operasi yang tinggi.
Agar beroperasi secara menguntungkan, perusahaan harus menjual volume yang
signifikan untuk mencapai titik impas.
2. Efek Biaya Tetap terhadap Persaingan
Di industri dengan biaya tetap yang tinggi, persaingan antar perusahaan
cenderung intensif. Masing-masing pemain harus mencapai penjualan yang besar
untuk mencapai titik impas dan menghasilkan laba. Mereka akan saling berebut kue
pasar dan berusaha untuk mencuri pangsa pasar pesaing. Tekanan persaingan
semakin kuat ketika permintaan di industri melambat, misalnya karena resesi.
Mereka akan cenderung memotong harga di bawah biaya rata-rata, bahkan
mendekati biaya marjinal, untuk mencuri pelanggan dari pesaing sambil menutup
biaya tetap.
Permintaan yang lemah adalah alasan kenapa pasca booming komoditas di
tahun 2012-an, harga logam terus merosot. Banyak perusahaan komoditas
menderita kerugian. Mereka menghadapi penumpukan tinggi barang di gudang.
Mereka kemudian berusaha meningkatkan penjualan dengan menurunkan harga
jual.
Selanjutnya, tingginya biaya tetap juga membenarkan monopoli di beberapa
industri, seperti listrik. Di industri semacam itu, memiliki lebih banyak pemain
tidak menguntungkan bagi konsumen. Harga jual akan cenderung lebih tinggi
karena mereka tidak mampu menurunkan biaya rata-rata dan meraih skala ekonomi.
Sebaliknya, jika hanya ada satu perusahaan, pemonopoli dapat menurunkan biaya
dan menjual dengan harga lebih rendah. Biasanya, itu di bawah pengawasan
pemerintah untuk memastikan bahwa harga jual adalah wajar.
KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Analisis Biaya Volume Laba (Cost
Volume Profit Analysis) adalah analisis pola-pola prilaku biaya yang mendsari
hubunganhubungan antara biaya, volume, dan laba. Analisis biaya volume laba kerap pula
disebut analisis impas (break-even analysis) karena signifikansisme mengacu pada sebuah
pemicu biaya aktivitas, seperti unit penjualan, yang diasumsikan berkorelasi dengan
perubahan-perubahan pendapatan, biaya, dan laba. Analisis biaya volume laba merupakan
persoalan yang kompleks karena hubungan-hubungan tersebut kerap dipengaruhi oleh faktor-
faktor yang seluruhnya atau sebagian diluar kendali manajemen.
Titik impas juga dapat didefinisikan sebagai titik dimana total pendapatan sama
dengan total biaya atau sebagai titik dimana total marjin kontribusi sama dengan total biaya
tetap. Titik impas ini selanjutnya dapat dihitung dengan menggunakan metode persamaan,
metode marjin kontribusi, dan metode grafik, baik dalam hitungan unit penjualan maupun
penjualan dalam satuan mata uang tertentu yang digunakan dalam transaksi bisnis. Dalam
perencanaan analisis biaya volume laba dapat dimanfaatkan dengan menggunakan 2 cara
yaitu, analisis target laba dan analisis sensitivitas. Dengan mengetahui titik marjin keamanan
tersebut maka manajemen dapat merumuskan berbagai strategi, taktik, dan langkah-langkah
operasional untuk bertahan agar penjualan tidak mengalami abrasi sampai melebihi angka
marjin keamanan.
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
pada-perusahaan
[Link]
variabel/
[Link]
Mowen, Hansen. 2009. Akuntansi Manajerial. Buku 2 Edisi 8. Jakarta : Salemba Empat