Pengaruh Sarana dan Prasarana Terhadap Kinerja Guru
Pengaruh Sarana dan Prasarana Terhadap Kinerja Guru
TESIS
Oleh:
Dyah Fauziana
NIM: 212214037
Fauziana, Dyah 2017. Pengaruh Sarana dan Prasarana Sekolah dan Lingkungan Kerja
terhadap Kinerja Guru di Pondok Pesantren Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo .
Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Program Pascasarjana,
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo, Pembimbing: Dr. Muhammad
Ali, [Link].
Kata kunci: Sarana dan Prasarana Sekolah, Lingkungan Kerja, Kinerja Guru
Ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerja guru antara lain adalah sarana dan
prasarana dan iklim kerja guru. Kinerja guru di Pondok pesantren Al-Islam kurang
begitu baik yang mana seharusnya guru harus mempunyai jam mengajar yang efektif
dan efisien sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar tetapi hal
tersebut tidak terjadi dikarenakan fasilitas menempatan ruang kelas yang jauh dari satu
kelas ke kelas yang lain. Begitu juga dengan Lingkungan Kerja yang mana guru
kurang memotivasi siswa untuk belajar mandiri dan menggali pengetahuan dari
berbagai sumber. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian guna
untuk mengetahui: (1) Pengaruh Sarana dan Prasarana Sekolah terhadap Kinerja Guru,
(2) Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Guru, dan (3) Pengaruh Sarana dan
Prasarana Sekolah dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Guru.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan metode penelitian Expost-
Facto. Lokasi penelitian ini adalah Pondok Pesantren Al-Islam. Dengan teknik
pengambilan sampel Simple Random Sampling dengan jumlah sampel penelitian
sebanyak 93 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan angket. Uji keabsahan
data menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji prasyarat analisis menggunakan
uji normalitas, uji linieritas, uji multikolinieritas dan uji heterokedastisitas. Uji
hipotesis menggunakan uji regresi sederhana yaitu uji t dan uji regresi linier berganda
menggunakan uji F.
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) terdapat pengaruh positif dan signifikan sarana
prasarana terhadap kinerja guru di Pondok pesantren Al-Islam dibuktikan dengan t hitung
> ttabel (5,564 > 1,990) dengan koefisien determinasi 0,254. (2) terdapat pengaruh
positif dan signifikan lingkungan kerja terhadap kinerja guru di Pondok pesantren al-
Islam dibuktikan dengan thitung > ttabel (2,096 > 1,990) dengan koefisien determinasi
0,064. (3) ) terdapat pengaruh positif dan signifikan secar bersama-sama sarana
prasarana dan lingkungan kerja terhadap kinerja guru di Pondok pesantren Al-Islam
dibuktikan dengan Fhitung >Fttabel (15,699 > 4,880) dengan koefisien determinasi 0,259
yang berarti mempunyai pengaruh sebesar 25,9%. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah sarana dan prasarana dan Lingkungan Kerja mempunyai pengaruh yang positif
dan signifikan terhadap kinerja guru di Pondok pesantren Al-Islam baik secara parsial
maupun simultan. Dengan adanya peneltian ini diharapkan semua warga pondok untuk
selalu bekerja sama dalam mengelola dan melakukan perawatan terhadap sarana dan
prasarana agar kinerja guru akan selalu meningkat dari waktu ke waktu.
BAB I
PENDAHULUA
N
A. Latar Belakang
Dalam sebuah lembaga pendidikan tidak terlepas dari adanya guru dan
siswa serta faktor lain yang ikut mendukung kegiatan belajar mengajar. Baik itu
utama yaitu peserta didik dan guru. Mereka melakukan interaksi yang disebut
menyajikan pembelajaran.
diperlihatkan oleh seorang pegawai untuk memperoleh hasil kerja yang optimal.
Adapun teori yang menjadi landasan untuk menilai kualitas kerja guru menurut
prestasi kerja guru/kinerja guru berupa mutu proses pembelajaran yang sangat
1
Barnawi dan Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2012), 26.
2
Tosuerdi, Pengaruh Pembentukan Iklim Madrasah dan Kinerja Guru terhadap Hasil Belajar
Siswa di Madrasah Aliyah Islamiyah Mundu Pesisir Kabupaten Cirebon (Tesis) (Cirebon:
IAIN Syekh Nurjati Cirebon), 54.
1
belajar murid, melakukan interaksi dengan murid yang menimbulkan motivasi
belajar, menilai proses dan hasil belajar, memberikan umpan balik kepada murid
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kinerja guru antara lain: (1)
gaji, (2) sarana dan prasarana, (3) kondisi lingkungan kerja fisik, dan (4)
kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh tiap individu guru;
2) Faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas manajer dan term leader dalam
Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan
dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan, dan
keeratan anggota tim; 4) Faktor sistem, meliputi sistem kerja, fasilitas kerja yang
diberikan oleh pimpinan sekolah, proses organisasi (sekolah) dan kultur kerja
3
Husain Usman, Manajemen (Teori Praktik dan Riset Pendidikan) (Jakarta: Bumi
Aksara, 2008), 464.
tekanan dan perubahan lingkungan eksternal individu dan kelompok terhadap
maksimal ada faktor yang mempengaruhinya salah satunya sarana dan prasarana
sekolah. Sarana dan prasarana sekolah sangat menunjang pekerjaan guru. Guru
yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai akan
menunjukkan kinerja yang baik daripada guru yang tidak dilengkapai sarana dan
prasarana yang memadai.5 Hal tersebut menunjukkan bahwa kinerja yang baik
dari guru sangat dipengaruhi oleh sarana dan prasarana yang memadai yang
Sarana dan prasarana yang mendukung, akan dapat membantu guru dalam
Klasifikasi dari sarana meliputi barang habis atau tidaknya pakai, bergerak
dibedakan menjadi dua yaitu yang digunakan langsung dan tidak digunakan dalam
kelengkapan sumber belajar yang ada di sekolah. Kegiatan belajar mengajar perlu
ditunjang oleh adanya buku-buku yang diperlukan dan sarana belajar lainnya.
optimal.
mereka. lingkungan kerja yang baik akan menfasilitasi mereka untuk kerja lebih
baik pula. Mereka lebih menyukai kondisi fisik yang tidak berbahaya atau
nyaman. Disamping itu, sebagian besar menyukai tempat kerja yang relatif dekat.7
memiliki tanggung jawab melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik dan
senang hati.8
Stress adalah suatu kondisi dinamis saat seorang individu dihadapkan pada hal-hal
7
Husain Usman, Manajemen (Teori Praktik dan Riset Pendidikan), 467.
8
Supardi, Kinerja Guru (Jakarta: Rajawali Press, 2013), 38.
9
Ibid, 38.
yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya
dipadang tidak pasti dan penting. Ada tiga faktor yang menjadi sumber stres yaitu
kinerja guru dimana lingkungan yang kurang sesuai dapat menjadikan mereka
Al-Islam Joresan Mlarak. Kinerja guru bisa dikatakan kurang begitu baik
dikarenakan pengaruh guru merasa waktu kegiatan belajar mengajar akan tersita
yang mana alokasi waktu belajar mengajar tidak sesuai dengan perencanaan pada
tentang Guru dan Dosen menjelaskan bahwa guru dalam melaksanakan tugas
dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari program pengajaran yang dimiliki alokasi
waktu belajar mengajar yang digunakan saat kegiatan belajar mengajar tidak
sesuai dengan program yang telah dibuat, evaluasi hasil pembelajaran tidak
dilaksanakan sebagaimana mestinya hal ini berkaitan dengan faktor dari sistem
10
Barnawi dan Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional, 151.
11
Wawancara dengan bapak Asyhuri, [Link].I (guru bahasa Arab) Pondok Pesantren Al-
Islam Joresan tanggal 17 Januari 2016 pukul 09.30
Permasalahan yang lain yaitu guru kurang memotivasi peserta didik untuk
menggali informasi yang lebih tentang suatu pelajaran agar peserta didik kreatif
didik agar mampu lebih kreatif dalam mengembangkan cara belajar mereka.
dan prasarana dan lingkungan kerja terhadap kinerja guru di lingkungan Pondok
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Hipotesis Penelitian
1. Terdapat pengaruh antara sarana dan prasarana sekolah terhadap kinerja guru
E. Kegunaan Penelitian
bermanfaat bagi orang lain atau suatu lembaga pendidikan, antara lain:
1. Manfaat Teoretis
2. Manfaat Praktis
a. Lembaga pendidikan
mampu memanajemen sarana dan prasarana dan lingkungan kerja dengan baik
agar mampu menjadikan masyarakat sekolah khususnya tenaga pendidik dan
b. Kepala Sekolah
sekolah agar guru dapat bekerja secara maksimal dengan kondisi yang dapat
menunjang kinerjanya.
c. Guru
Penelitian ini akan mengungkapkan aspek apa saja yang harus ada dalam
prasarana sekolah serta lingkungan kerjanya. Guru diharapkan lebih peka terhadap
situasi dan kondisi sekolah yaitu dari segi sarana dan prasarana sekolah serta
ini sebagai acuan atau tambahan bahan untuk penelitian mereka di masa yang
akan datang serta sebagai bahan untuk dikritisi agar peneliti dapat mengetahui hal-
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Terdahulu
hasil Freg > Ftab = 13,727 > 2,760. Oleh karena itu dapat disimpulkan tingkat
pendidikan, sarana prasarana dan lingkungan kerja terhadap kinerja guru diterima dan
teruji kebenarannya.
Surabaya.13 Dari hasil uji regresi berganda (multiple regression) Dari hasil uji
1 yang diajukan adalah diterima. Hal ini karena variabel lingkungan kerja (X1)
12
Bekti Handayani, Pengaruh Tingkat Pendidikan, Sarana Prasarana dan Lingkungan Kerja
terhadap Kinerja Guru di Sma Negeri I Karangdowo (Tesis) (Surakarta: UMS, 2005), v
13
Farid Firmansyah, Pengaruh Lingkungan Kerja, Kompensasi, dan Kepemimpinan terhadap
Kepuasan Kerja Guru dan Karyawan di SMA Wachid Hasyim Surabaya
,Tadris. Volume 3. Nomor 1. (Surabaya:UNESA, 2008), 56.
9
103
Penggunaan atau pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah yang dilakukan oleh
Guru cukup berpengaruh terhadap Kinerja Guru yang ada pada setiap tingkat
pendidikan yaitu SD, SMP, SMA dan SMK, namun ternyata tedapat sebagian
Guru pada setiap tingkat pendidikan di Kabupaten Alor NTT, sudah terlaksana
dengan baik, hal dapat tersebut dapat dilihat dari aspek Kemampuan Kerja,
Ketepatan Kerja, Kualitas Kerja dan Komunikasi. Pada hasil penelitian ini secara
Sarana dan Prasarana Sekolah terhadap Kinerja Guru di Kabupaten Alor, NTT
yang artinya semakin baik Sarana dan Prasarana Sekolah maka semakin tinggi
Kinerja Guru.
ini mengandung banyak persamaan, yaitu adanya sarana prasarana yang kurang
penelitian ini kurang meskipun mempunyai pengaruh yang positif tetapi kurang
mendominasi.
14
Yuri Gagarin, et all, Pengaruh Sarana dan Prasarana sekolah terhadap Kinerja Guru
di kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur
B. Kajian Teori
1. Kinerja guru
Kata kinerja merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu dari kata
performance yang berarti the act of performing yang secara bahasa berarti
dari berbagai tokoh salah satunya Bernadin dan Russel,16 sebagaimana berikut:
Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa kinerja adalah suatu hasil
dari sebuah pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan pada periode waktu tertentu.
atau prestasi kerja yang diperlihatkan oleh seorang pegawai untuk memperoleh
hasil kerja yang optimal.17 Kinerja seseorang akan tampak pada situasi dan kondisi
untuk bekerja dengan semaksimal mungkin agar tercapai tujuan yang telah
dengan tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar kinerja yang telah
ditetapkan.18
15
Supardi, Kinerja Guru (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2015), 53.
16
Uhar Saputra, Administrasi Pendidikan (Bandung: Refika Aditama, 2013), 167.
17
Ibid., 155
18
Barnawi dan Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional, 13.
b. Indikator Kinerja Guru
Kinerja guru merupakan kulminasi dari tiga elemen yang paling berkaitan
Kinerja dapat dilihat dari beberapa kriteria. Menurut Castetter, ada empat
kriteria kinerja, yaitu karakteristik individu, proses, hasil, dan kombinasi antara
karakter individu, proses, dan hasil. Kinerja seseorang dapat ditingkatkan apabila
ada kesesuaian antara pekerjaan dengan keahliannya begitu pula halnya dengan
keahliannya secara mutlak harus dilakukan. Bila guru diberikan tugas yang tidak
sesuai dengan keahliannya akan berakibat menurunnya cara kerja dan hasil
pekerjaan mereka, juga akan menimbulkan rasa tidak puas pada diri mereka.20
Tenaga Kependidikan patokan tersebut meliputi (1) hasil, mengacu pada ukuran
output utama organisasi; (2) efisiensi, mengacu pada penggunaan sumber daya
19
Ondi Saondi dan Aris Suherman, Etika Profesi Keguruan, 21.
20
Ibid., 21-22.
Djaman Satari dalam Ida Bagus Alit Ana mengemukakan indikator
prestasi kerja guru/kinerja guru berupa mutu proses pembelajaran yang sangat
menyenangkan
bimbingan belajar
6) Menilai proses dan hasil belajar, memberikan umpan balik kepada murid dan
21
Tosuerdi, Pengaruh Pembentukan Iklim Madrasah dan Kinerja Guru terhadap Hasil Belajar
Siswa di Madrasah Aliyah Islamiyah Mundu Pesisir Kabupaten Cirebon (Tesis) (Cirebon:
IAIN Syekh Nurjati Cirebon), 54.
5) Pemahaman Metode Penelitian
indikator yang meliputi motivasi dan kemampuan (ability).23 Kinerja guru sangat
tentang guru dan dosen, kompetensi guru terdiri dari: a) kompetensi pedagogic; b)
adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa,
menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi professional
22
Tosuerdi, Pengaruh Pembentukan Iklim Madrasah dan Kinerja Guru terhadap Hasil Belajar
Siswa di Madrasah Aliyah Islamiyah Mundu Pesisir Kabupaten Cirebon , 54.
23
Barnawi dan Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional, 26.
24
UU Permendiknas nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, pasal 10 ayat 1.
berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik,
dasarnya, kinerja guru dapat terlihat jelas dalam pembelajaran yang diperlihatkan
dari prestasi belajar peserta didik. Kinerja guru yang baik akan menghasilkan
sekolah. Hal ini dapat diukur keberhasilannya dengan kemampuan guru dalam
oleh dua faktor yaitu faktor motivasi dan faktor kemampuan (ability). Sementara
kesesuaian preferensi (Preferences fit = Pf), imbalan (reward = Rw), dan umpan
25
Eko P. Widoyoko, Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2013), 202.
26
Supardi, Kinerja Guru, 55.
27
Uhar Suharsaputra, Administrasi Pendidikan (Bandung: Refika Aditama, 2013), 172.
balik (feedback = F). Kinerja merupakan suatu kemampuan kerja atau prestasi
kerja yang diperlihatkan oleh seorang pegawai untuk memperoleh hasil kerja yang
optimal. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kinerja guru antara lain:
(1) gaji, (2) sarana dan prasarana, (3) kondisi iklim kerja fisik, dan (4)
2) Faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas manajer dan term leader dalam
3) Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh
rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan,
4) Faktor sistem, meliputi sistem kerja, fasilitas kerja yang diberikan oleh
organisasi (sekolah).
28
Husain Usman, Manajemen (Teori Praktik dan Riset Pendidikan) (Jakarta: Bumi
Aksara, 2008), 464.
5) Faktor kontekstual (situasional), meliputi tekanan dan perubahan lingkungan
sebagai orang yang berperanan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan yang
tugas dan kewajibannya tidak lepas dari pengaruh faktor internal maupun faktor
eksternal yang membawa dampak pada perubahan kinerja guru. Beberapa faktor
yang mempengaruhi kinerja guru yang dapat diungkapkan tersebut, antara lain 1)
dan 8) Iklim kerja30. Ada beberapa faktor lain menurut Barnawi yang dapat
meningkatkan kinerja guru antara lain: (1) gaji, (2) sarana dan prasarana, (3)
Kinerja guru yang ditunjukkan dapat diamati dari kemampuan guru dalam
arah yang lebih baik. Langkah strategis dalam upaya meningkatkan kinerja guru
29
Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru (Jakarta: GP. Press, 2010), 129-
130.
30
Ondi Saondi dan Aris Suherman, Etika Profesi Keguruan, 24.
31
Husain Usman, Manajemen (Teori Praktik dan Riset Pendidikan) (Jakarta: Bumi
Aksara, 2008), 464.
32
Ondi Saondi dan Aris Suherman, Etika Profesi Keguruan,60-62.
1) Kepala sekolah harus memahami dan meningkatkan fungsi sebagai penunjang
dicapai.
layak.
sekolah.
lingkungan sekolah.
k) Memberikan peluang kepada guru untuk tumbuh dalam meningkatkan
yang baru.
m)Mewujudkan dan menjaga keamanan kerja guru tetap stabil dan posisi kerjanya
pengetahuan yang dimiliki dan hanya bidang studi tertentu yang dikuasai tetapi
seyogyanya guru harus mampu menguasai lebih dari bidang studi yang
ditekuninya sehingga bukan tidak mungkin suatu saat guru tersebut akan
mendalami hal lain yang masih memiliki hubungan erat dengan bidang tugasnya
2) Dinas Pendidikan setempat selaku pihak yang ikut andil dalam mengeluarkan
sebagai berikut:
peningkatan mutu pendidikan kualitas kinerja guru perlu dapat perhatian utama
pemenuhan sarana dan prasarana tepat guna dan berdaya guna (efektif dan
pemenuhannya.34
33
Jamil Suprihatiningrum, Guru Profesional: Pendoman Kinerja, Kualifikasi, dan
Kompetensi Guru (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 29.
34
Amirin Tatang M, Pengertian Sarana dan Prasarana Pendidikan, (Jakarta : PT.
Grafindo Persada, 2011), 50.
Dalam pengertian sarana dan prasarana sekolah Depdiknas telah
peralatan, bahan, dan perabot secara langsung digunakan dalam proses pendidikan
sekolah.35 Jadi bisa disimpulkan dari kedua pengertian tadi bahwa sarana
langsung.
Pengelolaan Sekolah” tahun 2008 telah dijelaskan perbedaan sarana dan prasarana
diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu (1) habis tidaknya dipakai, (2)
digunakan dalam untuk proses pembelajaran; (2) prasarana yang tidak digunakan
35
Barnawi dan M. Arifin, Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan (Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media, 2012), 47.
untuk proses pembelajaran, tetapi secara langsung sangat menunjang proses
pembelajaran.36
1) Sarana
a) Perabot
(1)Perabot pendidikan adalah semua jenis mebel yang di gunakan untuk proses
kegiatan kantor.
36
Barnawi dan Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional, 49.
37
Lautloly Iginatius Korebima, Manajemen Sarana Prasarana dalam Sistem
Persekolahan,([Link]
[Link]) diakses tanggal 28 Januari 2016 10:55
dengan demikian proses pembelajaran tersebut akan berjalan dengan optimal.
kegiatan proses belajar mengajar di antaranya buku teks pelajaran, buku panduan
d) Perlengkapan penunjang
tidak langsung, misalnya kotak P3K, jam dinding, tempat cuci tangan, simbol
2) Prasarana
a) Lahan
tanda bukti kepemilikan yang sah dan lengkap (sertifikat), adapun jenis lahan
(1) Lahan terbuka adalah lahan yang belum ada bangunan diatasnya.
kegiatan praktek.
38
Barnawi dan Mohammad Arifin, Branded School, Membangun Sekolah Unggul
berbasis Peningkatan Mutu, (Yogyakarta Ar-Ruzz Media, 2013), 54.
(3)Lahan pengembangan adalah lahan yang di butuhkan untuk pengembangan
cakupan wilayah sehingga mudah di jangkau dan aman dari gangguan bencana
b) Ruang
dalam:
(1)Ruang pendidikan
mengajar teori dan praktek antara lain : ruang perpustakaaan, ruang laboratorium,
(2)Ruang administrasi
kantor. Ruang administrasi terdiri dari : ruang kepala sekolah, ruang tata usaha,
(3)Ruang penunjang
proses kegiatan belajar mengajar antara lain : ruang ibadah, ruang serbaguna,
ruang koperasi sekolah, ruang UKS, ruang OSIS, ruang WC / kamar mandi, dan
ruang BP.
d. Standardisasi Sarana dan Prasarana Sekolah
tempat berkreasi dan berrekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk
ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata
unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga,
berkelanjutan.
39
Barnawi dan Mohammad Arifin, Branded School, Membangun Sekolah Unggul
berbasis Peningkatan Mutu, 48.
Adapun standardisasi mempunyai arti penyesuaian bentuk ukuran dan
kualitas dengan pedoman atau standar yang telah ditetapkan.40 Dalam penjelasan
Secara rinci standar sarana dan prasarana sekolah dasar, menengah dan kejuruan
2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/ Madrasah
menjadi tiga pokok bahasan, yaitu lahan, bangunan, dan kelengkapan sarana dan
di sekolah meliputi
1) Standar lahan
40
Barnawi dan M. Arifin, Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan , 86.
41
Barnawi dan M. Arifin, Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan , 87.
Lahan yang digunakan untuk kepentingan sekolah harus mendukung
kelancaran proses pendidikan itu sendiri. Lahan harus terhindar dari berbagai
keselamatan jiwa warga sekolah. Selain itu, lokasi lahan hendaknya memiliki
akses yang memadai untuk penyelamatan dalam keadaan darurat jika sewaktu-
waktu terjadi ancaman bahaya. Lahan harus terhindar dari pencemaran air dan
udara serta kebisingan. Lahan tidak bertentangan dengan nsegala bentuk peraturan
yang berlaku dibuktikan dengan izin pemanfaatan dari pihak yang berwenang.
garis sempadan dan jalur kereta api. Sedangkan rasio minimum luas lahan
terhadap peserta didik sesuai dengan Permendiknas No. 40 Tahun 2008 pada
jenjang SMK/MAK seratus per tiga puluh dikalikan luas lantai dasar bangunan
2) Standar bangunan
meliputi (1) koefisien dasar bangunan maksimum 30 %, (2) koefisien lantai dan
bebas bangunan yang meliputi garis sempadan bangunan denagn as jalan, tepiu
sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau jaringan teganagan tinggi, jarak
antara bangunan dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar
prasarana setidaknya memiliki 14 jenis prasarana sekolah yang meliputi (1) ruang
kelas (2) ruang perpustakaan (3) ruang laboratorium (4) ruang pimpinan (5) ruang
guru (6) ruang tata usaha (7) tempat ibadah (8) ruang konseling (9) ruang UKS
(10) ruang organisasi kesiswaan (11) jamban (12) gudang (13) ruang sirkulasi (14)
tempat olahraga.
memiliki 18 jenis prasarana sekolah yang meliputi (1) ruang kelas (2) ruang
perpustakaan (3) ruang laboratorium biologi (4) ruang laboratorium fisika (5)
laboratorium bahasa (8) ruang pimpinan (9) ruang guru (10) ruang tata usaha (11)
tempat ibadah (12) ruang konseling (13) ruang UKS (14) ruang organisasi
kesiswaan (15) jamban (16) gudang (17) ruang sirkulasi (18) tempat olahraga.43
42
Barnawi dan Mohammad Arifin, Branded School, Membangun Sekolah Unggul
berbasis Peningkatan Mutu, 50.
43
Barnawi dan Mohammad Arifin, Branded School, Membangun Sekolah Unggul
berbasis Peningkatan Mutu,54
e. Prinsip-prinsip Penggunaan Sarana dan Prasarana
prasarana pendidikan untuk mendukung proses pendidikan. Ada dua prinsip yang
yang ada tidak mudah habis, rusak, atau hilang. 44 Kepala sekolah harus dapat
menjamin sarana dan prasarana telah digunakan secara optimal oleh warga
prasarana sekolah.
barang yang sesuai dengan kebutuhan secara efektif dan efisien. Dalam hal
44
Barnawi dan Muhammad Arifin, Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah, 77. 45
[Link] manajemen-sarana-dan [Link]
diakses tanggal 26 Pebruri 2017
1) Tujuan yang akan dicapai.
2) Kesesuaian antar media yang akan digunakan dengan materi yang akan
dibahas.
4) Karakteristik siswa.
Prinsip pencapaian tujuan yaitu bahwa sarana dan prasarana pendidikan di sekolah
harus selalu dalam kondisi siap pakai bilamana akan di dayagunakan oleh
2) Prinsip Efisiensi
3) Prinsip Administratif
undang, peraturan, instruksi, dan pedoman yang telah berlaku. Sebagai upaya
46
Rosivia, Peningkatan Pengelolaan Sarana Prasarana Pendidikan di SMP Negeri 10 Padang ,
Jurnal Administrasi Pendidikan, Volume 2 Nomor 1, Juni 2014 (Pandang: UNP, 2014),
661-831.
hendaknya memahami semua peraturan perundang-undangan tersebut dan
melibatkan banyak personel sekolah maka perlu adanya deskripsi tugas dan
tanggung jawab yang jelas untuk setiap personel [Link] tugas dan
tanggung jawab semua orang yang terlibat itu perlu dideskripsikan dengan jelas.
5) Prinsip Kekohesifan
sangat kompak. Oleh kerena itu, walaupun semua orang yang terlibat dalam
masingmasing, namun antara satu dengan yang lainnya harus selalu bekerja sama
dengan baik.
guru. Bisa dibandingkan antara guru yang dilengkapi sarana dan prasarana yang
memadai dengan guru yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai. Guru
yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai akan menunjukkan kinerja
yang lebih baik daripada guru yang tidak dilengkapi sarana dan prasarana yang
memadai.47
teknologi yang lebih mutakhir. Kualitas yang mengacu pada Standar sarana dan
fasilitas yang mutlak harus dipenuhi, yang tentunya kesemuanya itu harus sesuai
3. Lingkungan Kerja
47
Barnawi dan Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional, 53.
48
Mohammad Yuri Gagarin, et all , Pengaruh Sarana dan Prasarana Sekolah terhadap
Kinerja Guru di Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur (Makassar: Universitas
Hasanuddin, 2008), pdf (online) diakses 09 Oktober 2015 16.08
Lingkungan kerja adalah suasana dimana karyawan melakukan aktivitas setiap
lingkungan kerja dimana dia bekerja, maka karyawan tersebut akan betah
secara efektif. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak memadai akan dapat
yang membedakan antara individu satu dengan yang lainnya yang dapat
melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik dan senang hati.50 Iklim kerja
tanggung jawab, insentif yang adil.51 Iklim kerja merupakan faktor yang cukup
sekitar sekolah/madrasah dan suasana yang sunyi dan nyaman yang sesuai dan
kerja di sekolah menggambarkan keadaan warga sekolah baik dari segi hubungan
49
Ondi Saondi, Etika Keprofesian Guru, 45.
50
Supardi, Kinerja Guru (Jakarta: Rajawali Press, 2013), 38.
51
Ibid., 38.
52
Ibid.,121.
kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, dan guru dengan peserta didik.
Iklim kerja menjadi aspek penting dalam mendukung keberhasilan kerja seorang
guru. Iklim kerja yang kondusif adalah iklim yang benar-benar sesuai dan
guru.
ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain lingkungan fisik, lingkungan
sosial, dan lingkungan budaya. Lingkungan fisik mampu member peluang gerak
dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran, meliputi sarana
secara umum. Lingkungan sosial yang baik memungkinkan bagi para warga
sekolah berinteraksi secara baik, peserta didik dengan peserta didik, guru dengan
peserta didik, guru dengan guru, guru dengan tenaga kependidikan. Kondisi
pembelajaran yang kondusif hanya dapat dicapai jika interaksi sosial berlangsung
53
Supardi, Kinerja Guru, 122.
b. Jenis-Jenis Lingkungan Kerja
berikut:54
ada beberapa kondisi fisik dari tempat kerja yang baik yaitu
b) Ruang kerja yang longgar dalam arti penempatan orang dalam suatu ruangan
e) Tersedianya tempat istirahat untuk melepas lelah, seperti kafetaria baik dalam
54
Trias Fenanti, “Hubungan Lingkungan Kerja Non Fisik dan Motivasi Kerja terhadap
Kepuasan Kerja Guru SMA Negeri di Kabupaten Sleman Yogyakarta” (Skripsi,
Universitas Negeri Yogyakarta, 2015), 29.
2) Lingkungan kerja non fisik
dalam arti terciptanya hubungan kerja yang harmonis antara karyawan dan atasan
karena, pada hakekatnya manusia dalam bekerja tidak mencari uang saja, akan
di luar pekerjaan ditentukan oleh sikap yang ramah, saling menghargai serta
kerja terbagi menjadi dua yaitu lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non
fisik.
yang baik dan harmonis antara kepala sekolah dan guru, guru dengan guru, guru
denagn tenaga kependidikan, serta peserta didik. Hal tersebut sesuai dengan
1) Ekologi/lingkungan fisik
Ini merujuk pada aspek fisik dan material sebagai faktor sekolah misalnya
ukuran sekolah, umur, reka bentuk, kemudahan, kodisi bangunan, teknologi yang
55
Supardi, Kinerja Guru, 130.
keselamatan, penggunaan sumber daya secara hemat dan efisien, kenyamanan
serta keindahan.
yang ada di sekolah, kantin, WC, teras maupun halaman sekolah. Unsur
ruang perawatan, dan keamanan jalan di sekitar sekolah. Unsur sumber daya yang
ada di sekolah harus digunakan secara hemat dan efisien oleh semua warga
2) Miliu/aspek sosial
Merujuk pada dimensi sosial dalam organisasi (proses). Contoh apa dan
siapa mereka dalam organisasi sekolah yaitu segi bangsa, etnis, gaji guru, sosio
ekonom peserta didik, tingkat pendidikan guru, moral dan motivasi orang tua,
keluarga, tahap kepuasan kerja, dan peserta didik di sekolah tersebut. Dalam
aspek sosial perlu dibudayakan saling menghormati, rasa tanggung jawab, kerja
keadilan.
3) Sistem sosial
4) Budaya sekolah
dan cara berpikir anggota dalam organisasi, serta budaya ilmu. Nilai yang
dikembangkan moral dan semangat untuk belajar dan terus belajar di kalangan
peserta didik. Di kalangan kepala sekolah dan guru tertanam nilai moral dan
adalah suatu budaya yang meletakkan nilai tertinggi dan asas kepada pengetahuan
Iklim kerja merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja
Guru. Ditegaskan bahwa jika merasakan suasana kerja yang kondusif di sekolahnya,
Kekondusifan iklim kerja suatu sekolah mempengaruhi sikap dan tindakan seluruh
komunitas tersebut, khususnya pada pencapaian prestasi akademik siswa. Selain itu
prestasi akademik siswa dipengaruhi sangat kuat oleh suasana kejiwaan atau iklim
lingkungan kerja ditengarai sebagai salah satu faktor penentu keefektifan suatu
peningkatan mutu lingkungan kerja dapat menjadikan sekolah lebih efektif dalam
56
Agus Sunarno, Pengaruh Motivasi Kerja, Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Iklim
kerja Terhadap Kinerja Guru (Tesis, Universitas Mohammadiyah Surakarta, 2005), 5.
57
Fajar Maya Sari, Pengaruh Kompetensi Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kepuasan
Kerja Dan Kinerja Guru di SD Negeri Kecamatan Gondang Mojokerto, Jurnal Ilmu
Ekonomi & Manajemen, Vol. 9 No.2. (Surabaya: Untag Surabaya, 2013),137 - 153
Hasil-hasil penelitian selaras dengan dan mendukung terhadap penegasan
kemampuan belajar siswa, memfasilitasi siswa untuk bertingkah laku yang sopan,
serta berpotensi untuk membantu siswa dalam menghadapi masalah yang dibawa
dari rumah.
134
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian yang digunakan adalah
pengaruh yaitu untuk mengetahui pengaruh antara ketiga variabel, yaitu variabel
independen atau bebas yaitu Sarana dan Prasarana Sekolah (X1), lingkungan kerja
(X2), dan variabel dependen atau terikat yaitu Kinerja guru (Y). Adapun skema
R Y
X2 r2
40
135
1. Variabel Penelitian
2. Definisi Operasional
` Kinerja guru merupakan suatu kemampuan kerja atau prestasi kerja yang
memperoleh hasil kerja yang optimal yang ditandai dan diukur dengan indikator
interaksi dengan murid yang menimbulkan motivasi yang tinggi sehingga murid-
Menilai proses dan hasil belajar, memberikan umpan balik kepada murid dan
dan perabot baik digunakan secara langsung maupun tidak langsung dalam proses
indikator adanya perabot, alat dan media pendidikan, buku atau bahan ajar, dan
perlengkapan penunjang. prasarana sekolah meliputi indikator rombongan belajar,
melaksanakan pekerjaannya.
1. Lokasi
pusat kota Ponorogo. Tempat yang cenderung masih kawasan pedesaan tetapi dari
segi SDM dan tingkat pendidikan penduduk desa ini sudah tergolong cukup
berpotensi. Al-Islam berdiri pada tahun 1966 yang didirikan oleh para Ulama NU
karena peneliti adalah lulusan dari MA tersebut dan juga atas dasar sebuah
program Madrasah Aliyah Kejuruan, IPA, dan IPS, dan Sekolah Menengah
telah mencapai kurang lebih 2500 siswa dari berbagai kalangan dan daerah, baik
dari dalam kabupaten Ponorogo maupun luar kabupaten Ponorogo. Tenaga
a. Populasi
Populasi adalah semua aspek yang akan diteliti yang biasa disebut subjek
populasi yang mewakili populasi. Kelompok kecil secara nyata kita teliti dan tarik
adalah jumlah seluruh guru yang ada di MA Al-Islam Joresan, adapun jumlah
guru di MA Al-Islam adalah berjumlah 138 guru terdiri dari laki-laki dan
perempuan, lajut usia dan muda, yang berstatus sertifikasi dan belum sertifikasi.59
b. Sampel
penentuan jenis sampel yang akan menjadi subjek atau objek penelitian. Terdapat
banyak teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel salah satunya adalah
58
Nana Syaodih S. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakrya, 2013),
250.
59
Dokumentasi dari bagian Tata Usaha Pondok Pesantren Al-Islam tanggal 17 Januari
2016
60
Ibid., 253.
Cara menentukan sampel dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada
teori yang dikembangkan dari Isaac dan Michael, untuk taraf kesalahan 1%, 5%,
10%. Dengan jumlah populasi sebanyak 138, dalam tabel telah diketahui untuk
jumlah sampelnya adalah 100, dan untuk taraf kesalahan 10% jumlah sampelnya
nomor responden mulai dari nomor satu sampai nomor lima sampai seterusnya
D. Instrumen Penelitian
ada juga yang dibuat peneliti sendiri. Karena instrumen penelitian akan digunakan
61
62
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta,
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta,
2013), 92.
63
Ibid., 92.
pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok tentang fenomena sosial.
Penelitian ini menggunakan skala Likert dengan skala deskriptif model lima
(Sangat setuju (SS)=5, Setuju (S)=4, Netral (N)=3, Tidak setuju (TS)=2, Sangat
tidak setuju (STS)=1) karena peneliti akan mengambil respon seseorang terhadap
kerja 60 butir soal dan variabel Y kinerja guru 36 butir soal adalah sebagai
berikut.
Sub
No Indikator Nomor Butir
Variabel
1 Sarana 1.1. Perabot 1, 2, 3, 4, 5, 6,
7, 8, 9
1.2. Alat dan Media Pendidikan 10, 11, 12, 14,
15, 16, 17
1.3. Buku dan bahan ajar 18, 19, 20, 21,
22, 23, 24, 25
64
Nana Syaodih S. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakrya, 2013),
238.
1.4. Kenyamanan 10,11, 12
1.5. Keindahan 13, 14, 15
instrument penelitian adalah Uji Validitas dan Reliabilitas dan Uji Asumsi meliputi Uji
Instrumen dikatakan valid jika alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data
itu valid.66 Tujuan dari uji validitas ini adalah untuk mengukur apakah pertanyaan
dalam angket tersebut benar-benar dapat mengukur apa yang hendak kita ukur.
diteliti secara tepat. Dalam penelitian ini uji validitas dilakukan dengan dua jenis
(jugdment expert). Dalam hal ini, setelah instrumen di konstruksi tentang aspek-
aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya
dikonsultasikan dengan para ahli. Jumlah tenaga ahli yang digunakan minimal tiga
orang yang telah bergelar doktor.67 Para ahli diminta pendapatnya tentang
instrumen yang telah disusun itu. Mungkin para ahli akan memberi keputusan
instrumen dapat digunakan, ada perbaikan, dan mungkin dirombak total. Dalam
65
Nana Syaodih S. Metode Penelitian Pendidikan, 228.
66
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 121.
67
Ibid., 125.
kepada tiga ahli yang telah bergelar doktor, yaitu Dr. H. AB. Musyafa’ Fathoni,
Para ahli tersebut diminta untuk mengoreksi setiap butir instrumen yang
akan dijadikan sebagai instrumen. Dari hasil amatan mereka, peneliti harus
memperbaiki sebagian dari instrumen yang selanjutnya akan diujikan melalui uji
ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan. 68 Bila
tinggi. Uji validitas ini dapat dilakukan dengan melakukan uji coba atau uji beda
dengan menghitung korelasi antara skor butir instrumen dengan skor tabel yang
Dalam penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan tiga variabel yang
terdiri dari dua variabel bebas (X) dan satu variabel terikat (Y), yaitu Sarana dan
Prasarana (X1), lingkungan kerja (X2), dan Kinerja Guru (Y) dengan dibantu
dengan aplikasi SPSS versi 16.0 for windows. Cara mengetahui valid tidaknya
Product Poment Pearson pada taraf kesalahan signifikansi 5% yaitu sebesar 0,361
(df= 30-2 = 28). Apabila rhitung > rtabel dengan taraf signifikansi 5% maka butir soal
68
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 129.
dinyatakan valid dan apabila rhitung < rtabel dengan taraf signifikansi 5% maka butir
butir pertanyaan yang dianggap gugur/tidak valid yaitu butir pertanyaan 1, 7, 11,
12, 18, 20, 21, 23, 24, 26, 27, 44, 47 dan 48. Adapun ringkasan hasil uji validitas
instrumen sarana dan prasarana sekolah terdapat pada pada tabel 3.4 berikut:
uji validitas diperoleh 48 butir pertanyaan yang [Link] 12 butir pertanyaan yang
dianggap gugur/tidak valid yaitu butir pertanyaan 2, 3, 5, 6, 20,21, 22, 23, 24, 31, 36, 38,
dan 43. Adapun ringkasan hasil uji validitas instrumen lingkungan kerja terdapat pada
validitas diperoleh 32 butir pertanyaan yang valid dan 4 butir pertanyaan yang dianggap
gugur/tidak valid yaitu butir pertanyaan 16, 17, 18 dan 20. Adapun ringkasan hasil uji
validitas instrumen kinerja guru terdapat pada pada tabel 3.6 berikut:
Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja Guru
bila instrument tersebut digunakan mengukur aspek yang diukur beberapa kali
hasilnya sama atau relatif sama. Jika nilai alpha > 0,3 maka butir pertanyaan
berikut
16.0 for windows. Instrument akan dikatakan reliable jika r hitung lebih besar dari
r tabel. Setelah dilakukan uji validitas, butir-butir soal yang valid akan diuji
28 maka diperoleh r tabel 0,361. Adapun rinciannya pada tabel 3.6 sebagai berikut
Tabel 3.8 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian
69
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 184.
1) Instrumen Kinerja Guru memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,738 > 0,300
2) Instrumen sarana dan prasarana memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,738 >
1. Tahap-tahap Penelitian
Kuesioner
Data
Analisis Regresi Linier
Uji t dan uji F Analisis data
Hasil Analisis
F. Analisis Data
1. Analisis Deskriptif
menganalisis data. Cara untuk menggambarkan fata adalah dengan melalui teknik
statistik seperti membuat tabel, distribusi frekuensi, dan diagram atau grafik.
Penelitian ini nmenggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 16.0 for windows, yang
Penempatan jumlah kelas interval, rentang data dan panjang kelas menurut
dalam histogram dibuat untuk menyajikan data hasil penelitian. Histogram yang
dibuat berdasarkan data frekuensi yang telah ditampilkan dalam tabel distribusi
frekuensi.
2. Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Smirnov.70 Dalam penelitian ini menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 16.0
for windows. Adapun secara manual menggunakan rumus dibawah ini dengan
langkah-langkahnya adalah:
70
Retno Widyaningrum, Statistika (Yogyakarta: Pustaka Felicha, 2011), 210.
1) Menghitung nilai fkb
3) Menghitung nilai Z dengan rumu dengan X adalah data nilai asli dan µ adalah
standar deviasi dari sampel. Nilai Z akan dihitung setiap nilai setelah
−
Z=
4) Menghitung P≤Z
Probabilitas di bawah nilai Z dapat dicari pada tabel Z yaitu untuk nilai
negatif lihat kolom lua di luar Z, untuk nilai positif lihat kolom lua di luar Z +
0,5
6) Menentukan hipotesis
dengan alpha 0,05. Jika probabilitas hasil hitung lebih dari 0,05 maka frekuensi
data berdistribusi normal, sebaliknya Jika probabilitas hasil hitung kurang dari
b. Uji Linieritas
(Y) dan variabel bebas (X) mempunyai hubugang linier. Uji ini digunakan sebagai
prasyarat dalam penerapan metode regresi linier. Adapun uji linieritas dalam
penelitian ini menggunakan bantuan Aplikasi SPSS Versi 16.0 for windows.
Dalam uji linieritas Fhitung dikonsultasikan denga Ftabel pada taraf signifikansi 5%.
Apabila Fhitung lebih kecil dari Ftabel maka kedua variabel mempunyai hubungan
yang linier. Sebaliknya jika Fhitung lebih besar dari Ftabel maka hubungan antara dua
c. Uji Multikolinieritas
antar variabel independen dalam model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi
oleh analisis regresi berganda menjadi sangat lemah atau tidak dapat memberikan
hasil analisis yang mempunyai pengaruh dari variabel bebas yang bersangkutan.
71
Sugiyono, Stastistika untuk Penelitian (Bandung: Alfabeta, 2010), 159
72
Sutrisno Hadi, Analisis Regresi (Yogyakarta Andi Offset, 2004), 14
Adapun perhitungannya dengan menggunakan bantuan Aplikasi SPSS
Versi 16.0 for windows. Apabila harga interkorelasi antar variabel bebas < 0,800
variabel bebas ≥ 0,800 maka terjadi multikolinieritas dan analisis data tidak dapat
dilanjutkan.73
d. Uji Heterokedasitas
Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka
menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada
sumbu Y. Hal ini disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model
regresi. Cara perhitungannya menggunakan bantuan Aplikasi SPSS Versi 16.0 for
windows.
Uji Hasil penelitian untuk menjawab rumusan masalah nomor satu dan
nomor dua yaitu pengaruh variabel sarana dan prasarana (X1) terhadap variabel
73
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, 170
74
Eko Djatmiko, Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Sarana Prasarana
terhadap Kinerja Guru SMP Negeri Kota Semarang , Journal Fokus Ekonomi Vol. 1 No.
2 Desember 2006: 19 30.
Kinerja guru (Y) dan pengaruh variabel Lingkungan Kerja guru (X2) terhadap
nomor tiga dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Linier Berganda. 75
berdistribusi normal
sama pula
dan rasio)
75
Andhita Dhessy Wulansari, Penelitian Pendidikan: Suatu Pendekatan Praktik Dengan
Menggunakan SPSS (Ponorogo: STAIN Po PRESS, 2012), 95-130
156
BAB IV
HASIL PENELITIAN
pusat kota Ponorogo. Tempat yang cenderung masih kawasan pedesaan tetapi dari
segi SDM dan tingkat pendidikan penduduk desa ini sudah tergolong cukup
berpotensi. Al-Islam berdiri pada tahun 1966 yang didirikan oleh para Ulama NU
karena peneliti adalah lulusan dari MA tersebut dan juga atas dasar sebuah
program Madrasah Aliyah Kejuruan, IPA, dan IPS, dan Sekolah Menengah
telah mencapai kurang lebih 2500 siswa dari berbagai kalangan dan daerah, baik
[Link].I. membawahi sebanyak 142 guru, 15 orang karyawan. Adapun sarana dan
62
157
3480 m2, Madrasah Aliyah 4369 m2, SMK 2220 m2, dan untuk pengembangan
1000 m2. 10 lokal untuk asrama santri Putri (belum mencukupi), 2 lokal untuk
asrama santri putra (Belum mencukupi), 1 Lokal dapur, 1 Lokal Ruang Pengasuh,
lingkungan kerja guru (X2), dan variabel kinerja guru (Y). Data yang diperoleh
berdasarkan data di lapangan yaitu dengan pengambilan nilai angket. Nilai atau
skor pada masing-masing variabel akan diproses hingga memperoleh data yang
diinginkan. Dalam bagian ini data yang diperoleh adalah nilai rata-rata (mean),
nilai tengah (median), modus (mode), dan standar deviasi (SD) kemudian
Data kinerja guru diperoleh dari teknik pengambilan data melalu angket.
Angket tersebut terdiri dari 32 pertanyaan. Skor yang diberikan pada masing-
masing pertanyaan tertinggi 5 dan terendah 1 dengan nilain ideal tertinggi adalah
Adapun hasil dari data yang diperoleh bahwa jumlah nilai tertinggi kinerja guru
adalah 160 dan nilai terendah adalah 32. Data penelitian diolah menggunakan
bantuan aplikasi SPSS versi 16.0 for window, hasil analisis deskriptif Kinerja guru
memiliki skor tertinggi 160, skor terendah 125, mean sebesar 146,94, median
sebesar 149.00, modus sebesar 152 dan standar deviasi sebesar 6,934 (data
selengkapnya dapat dilihat di lampiran 8). Adapun hasil data tabel distribusi
Dari abel 4.1 dapat digambarkan dalam bentuk diagram batang sebagai
berikut
Gambar 4.1 Diagram Batang Frekuensi Kinerja Guru
Dari gambar 4.1 diatas, dapat diketahui banyaknya guru yang memiliki
skor tertentu dengan melihat rentang skor, masing-masing nilai belum dapat
dilakukan dengan cara membagi nilai rendah, sedang dan nilai tinggi dengan
kategori rendah, sedang, dan tinggi. Adapun tabel pengkategorian adalah sebagai
berikut
Data sarana dan prasarana diperoleh dari teknik pengambilan data melalui
angket. Angket tersebut terdiri dari 36 pertanyaan. Skor yang diberikan pada
adalah Adapun hasil dari data yang diperoleh bahwa jumlah nilai tertinggi sarana
dan prasarana adalah 180 dan nilai terendah adalah 36. Data penelitian diolah
menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 16.0 for window, hasil analisis
deskriptif Sarana dan prasarana memiliki skor tertinggi 178, skor terendah 118,
mean sebesar 164,06, median sebesar 166.00, modus sebesar 167 dan standar
deviasi sebesar 7,412 (data selengkapnya dapat dilihat di lampiran 8). Adapun
hasil data tabel distribusi frekuensi sarana dan prasarana adalah sebagai berikut
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Variabel Sarana dan Prasarana
Dari tabel 4.3 dapat digambarkan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut
Gambar 4.2 Diagram Batang Frekuensi Sarana dan Prasarana
Dari gambar 4.2 diatas, dapat diketahui banyaknya guru yang memiliki
skor tertentu dengan melihat rentang skor, masing-masing nilai belum dapat
dilakukan dengan cara membagi nilai rendah, sedang dan nilai tinggi dengan
kategori rendah ,sedang, dan tinggi. Adapun tabel pengkategorian adalah sebagai
berikut
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa guru yang mempunyai pendapat
tentang sarana dan prasarana rendah sebanyak 5,4 %, pendapat sedang sebanyak
39,8 %, dan pendapat tinggi sebanyak 54,8 %. .jadi dapat disimpulkan bahwa
Data lingkungan kerja guru diperoleh dari teknik pengambilan data melalu
angket. Angket tersebut terdiri dari 48 pertanyaan. Skor yang diberikan pada
adalah 240 dan nilai ideal terendah 48. Adapun hasil dari data yang diperoleh
bahwa jumlah nilai tertinggi lingkungan kerja guru adalah 232 dan nilai terendah
adalah 196. Data penelitian diolah menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 16.0
for window, hasil analisis deskriptif lingkungan kerja guru memiliki skor tertinggi
232, skor terendah 196, mean sebesar 214,65, median sebesar 217.00, modus
sebesar 217 dan standar deviasi sebesar 8, 235 (data selengkapnya dapat dilihat di
lampiran 8). Adapun hasil data tabel distribusi frekuensi lingkungan kerja adalah
sebagai berikut
Dari tabel 4.5 dapat digambarkan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut
Lingkungan kerja
Lingkungan kerja
Dari gambar 4.3 diatas, dapat diketahui banyaknya guru yang memiliki
skor tertentu dengan melihat rentang skor, masing-masing nilai belum dapat
dilakukan dengan cara membagi nilai rendah, sedang dan nilai tinggi dengan
sebagai berikut
kerja sedang sebanyak 62,3 %, dan lingkungan kerja tinggi sebanyak 6,5 %. Jadi
dapat disimpulkan bahwa nilai lingkungan kerja tinggi mendominasi pada variabel
1. Uji Normalitas
yang dihitung dengan program SPSS versi 16.0 for window pada taraf signifikan
sebesar 5%. Pengambilan keputusan berdasarkan nilai probabilitas yaitu jika D hitung
< Dtabel berarti Ho diterima maka data normal dan jika Dhitung > Dtabel berarti Ho
ditolak maka tidak normal.76 Berdasarkan harga koefisien probabilitas (sig) untuk
sarana dan prasarana sebesar 0,001, lingkungan kerja guru sebesar 0,092 dan
kinerja guru sebesar 0,02 . Dengan demikian data berdistribusi normal karena nilai
Dhitung < Dtabel dengan nilai Dtabel(0,05:93) yaitu 1,141 . Hasil uji normalitas dapat
2. Uji Linieritas
Uji linieritas dilakukan untuk menguji apakah ada hubungan secara linier
antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y). Data diolah dengan
menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 16.0 for window dengan cara
76
Retno Widyaningrum, Stastistika (Yogyakarta:Pustaka Felicha, 2011), 210
membandingkan nilai Fhitung dan Ftabel. Jika pada taraf signifikansi 5% Fhitung < dari
jika Fhitung > dari Ftabel maka Variabel X tidak mempunyai hubungan yang linier
dengan variabel Y. dengan adanya hubungan antara variabel bebas dan variabel
3. Uji Multikolinieritas
apakah model regersi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (X). Model
toleran semua variabel bebas lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari 10.
Dalam penelitian ini keeratan hubungan antar variabel bebas sebesar 0,294 atau
tidak melebihi 0,800. Dengan demikian tidak terjadi multikolinieritas yang berarti
tidak ada hubungan sempurna antar variabel bebas sehingga regresi dapat
77
Toni Wijaya, Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS (Yogyakarta Universitas
Atma Jaya, 2009), 119
4. Uji Heterokedatisitas
Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka
plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID)
jika titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah
angka 0 pada sumbu Y. Hal ini disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas
78
Ibid, 124
Gambar 4. 4 Scatterplot dalam Uji Heterokedastisitas
Dari gambar 4.4 dapat dilihat bahwa sebaran titik-titik yang acak baik di
atas maupun di bawah angka 0 dari sumbu Y maka dapat disimpulkan tidak terjadi
heterokedastisitas.
D. Uji Hipotesis
karena itu, hipotesis harus diuji kebenaran empiriknya. Pengujian hipotesis 1 dan
dengan uji F. Adapun hasil dari pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Pengujian Hipotesis 1
antara variabel sarana dan prasarana terhadap kinerja guru di Pondok Pesantren
Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo. Dalam menguji hipotesis ini menggunakan
analisis regresi linier sederhana karena untuk mencari pengaruh antara variabel
bebas dengan variabel terikat. Selain itu ada hubungan linier antara variabel bebas
window. Berikut tabel ringkasan hasil analisis regresi linier sederhana antara
variabel X1 terhadap Y.
didapatkan besarnya konstanta (K) = 69,674 dan nilai koefisien regresi (a) = 0,469
, sehingga Persamaan regresi linier sederhana pada pengujian hipotesis ini adalah
sebagai berikut
Y = aX + K
= 0,469X1 + 69,674
sebesar 0,469 yang berarti jika nilai sarana dan prasarana (X1) meningkat satu
point maka nilai kinerja guru (Y) akan meningkat sebesar 0,469
b. Koefisien Korelasi (r) dan Koefisien Determinan (r2)
menunjukkan bahwa koefisien regresi sebesar 0,469. Harga koefisien korelasi (r)
sebesar 0,504 dan koefisien determinan (r2) sebesar 0, 254. Hal ini menunjukkan
bahwa kinerja guru di Pondok Pesantren Al-Islam 25,4 % ditentukan oleh variabel
sarana dan prasarana dengan subvariabel sarana meliputi perabot, alat dan media
tingkat keberartian variabel sarana dan prasarana terhadap kinerja guru. Uji
signifikansi menggunakan uji t. Hasil uji t diperoleh dari thitung sebesar 5,564
sedangkan nilai ttabel sebesar 1,990 pada taraf signifikansi 5% maka 5,564 > 1,990
(thitung > ttabel , sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima, berarti
sarana dan prasarana mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
guru.
2. Pengujian Hipotesis 2
antara variabel lingkungan kerja guru terhadap kinerja guru di Pondok Pesantren
analisis regresi linier sederhana karena untuk mencari pengaruh antara variabel
bebas dengan variabel terikat. Selain itu ada hubungan linier antara variabel bebas
window. Berikut tabel ringkasan hasil analisis regresi linier sederhana antara
variabel X2 terhadap Y.
didapatkan besarnya konstanta (K) = 106,114 dan nilai koefisien regresi (a) =
0,187, sehingga Persamaan regresi linier sederhana pada pengujian hipotesis ini
Y = aX + K
= 0,187 + 106,114
sebesar 0,187 yang berarti jika nilai lingkungan kerja guru (X2) meningkat satu
poin maka nilai kinerja guru (Y) akan meningkat sebesar 0,187 poin.
menunjukkan bahwa koefisien regresi sebesar 0,187. Harga koefisien korelasi (r)
sebesar 0,215 dan koefisien determinan (r2) sebesar 0, 046. Hal ini menunjukkan
sistem sosial dan budaya. Sedangkan 99,6 % variabel lingkungan kerja guru
tingkat keberartian variabel lingkungan kerja guru terhadap kinerja guru. Uji
signifikansi menggunakan uji t. Hasil uji t diperoleh dari t hitung sebesar 2,096
sedangkan nilai ttabel sebesar 1,990 pada taraf signifikansi 5% maka 2,096 > 1,990
(thitung > ttabel ), sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima, berarti
kinerja guru.
3. Pengujian Hipotesis 3
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah ada pengaruh antara sarana
dan prasarana dan lingkungan kerja guru secara bersama-sama terhadap kinerja
regresi berganda. Hal ini karena regresi ganda digunakan untuk meramalkan
bagaimana dua atau lebuh variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat.
Untuk menguji hipotesis ini menggunakan program SPSS versi 16.0. Adapun hasil
dari perhitungannya dapat dilihat pada tabel ringkasan hasil regresi ganda antara
Koefisi F0,05
Sumber r r 2 F p Keterangan
en (2:90)
Konstanta 59,306
Sarana dan 0,449
prasarana 0,509 0,259 15,699 4,880 0,000 Ho ditolak
Lingkungan 0,063
kerja guru
0,449 dan (a2) = 0,063, sehingga Persamaann regresi linier ganda pada pengujian
Y = a1X1 + a2X2 + K
yang berarti apabila nilai sarana dan prasarana (X1) meningkat 1 point maka nilai
kinerja guru (Y) akan meningkat sebesar 0,449 dengan asumsi X 2 tetap. Nilai
koefisien X2 sebesar 0,063 yang berarti apabila nilai lingkungan kerja guru (X 2)
meningkat 1 point maka nilai kinerja guru (Y) akan meningkat sebesar 0,063
menunjukkan bahwa koefisien korelasi (r) sebesar 0,509 dan koefisien determinan
(r2) sebesar 0,259 . hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru di Pondok Pesantren
Al-Islam 25,9 % ditentukan oleh variabel sarana dan prasarana dan lingkungan
kerja guru sedangkan 74,1 % dipengaruhi variabel lain seperti gaji, kepemimpinan
dimiliki oleh tiap individu guru. Faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas
manajer dan term leader dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan
dukungan kerja pada guru dan aktor tim, meliputi kualitas dukungan dan
semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama
tingkat keberartian variabel sarana dan prasarana terhadap kinerja guru. Uji
signifikansi menggunakan uji F. Hasil uji t diperoleh dari Fhitung sebesar 15,699
sedangkan nilai Ftabel sebesar 4,880 pada taraf signifikansi 5% maka 15,699 >
pengaruh positif secara bersama-sama antara sarana dan prasarana dan lingkungan
BAB V
PEMBAHASA
N
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru yang ditunjukkan dengan
hasil uji t diperoleh harga thitung sebesar 5,564 lebih besar dari ttabel sebesar 1,990
disimpulkan bahwa kinerja guru dipengaruhi oleh sarana dan prasarana sebesar
25, 4 %.
lengkap akan mendorong dan memotivasi guru dalam melakukan kegiatan belajar
mengolah kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik dan maksimal serta
sarana dan prasarana yang memadai akan menunjukkan kinerja yang lebih baik
daripada guru yang tidak dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai.
sebesar 25, 4% dari 100% faktor yang meengaruhi kinerja guru. Ada banyak
faktor yang mempengaruhi kinerja guru antara lain kepemimpinan kepala sekolah,
(skill), kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh
tiap individu guru, faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas manajer dan
80
175
term leader dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan kerja
pada guru, Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan
oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim,
sarana dan prasarana terhadap kinerja guru di SMP Negeri Kota Semarang. Besar
pengaruh sarana prasarana terhadap kinerja guru dapat dilihat pada Model
Summary Square adalah sebesar 0,396 atau 36, 9%. Sedangkan sisanya (100%
36,9%= 63,1%) dipengaruhi oleh faktor lain.80 Di sisi lain pada penelitian ini
tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bekti Handayani tentang
kinerja guru di SMA Negeri I Karangdowo hasil yang dieroleh adalah untuk
variabel sarana prasarana diperoleh hasil Fhitung< Ftab =1,878 < 2,002, oleh
karena itu dapat disimpulkan bahwa sarana prasarana tidak diterima dan tidak
teruji kebenarnya.81 pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada
79
Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru (Jakarta: GP. Press, 2010),
129-130.
80
Eko Djatmiko, Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Sarana Prasarana
terhadap Kinerja Guru SMP Negeri kota Semarang , Vol.1 No.2 19-30 ( Semarang:Fokus
Ekonomi 2006), 27
81
Bekti Handayani, Pengaruh Tingkat Pendidikan, Sarana Prasarana dan Lingkungan Kerja
terhadap Kinerja Guru di SMA Negeri I Karangdowo (Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta, 2005 ), 51
pengaruh yang signifikan antara variabel sarana dan prasaran terhadap kinerja
guru.
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru yang ditunjukkan dengan
hasil uji t diperoleh harga thitung sebesar 2, 096 lebih besar dari ttabel sebesar 1,990
disimpulkan bahwa kinerja guru dipengaruhi oleh lingkungan kerja sebesar 0,46
%.
kondusif adalah iklim yang benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta
baik akan membuat guru merasa aman, nyaman dalam melakukan kegiatan belajar
mengolah kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik dan maksimal serta
sekolah menggambarkan keadaan warga sekolah baik dari segi hubungan kepala
sekolah dengan guru, guru dengan guru, dan guru dengan peserta didik.
kinerja guru sebanyak 0,64 % dari 100% faktor yang mempengaruhi kinerja guru.
kinerja guru. Hal tersebut disebabkan guru kurang memahami tentang adanya
pembentukan lingkungan kerja yang baik dan kondusif yang mana sangat
dimiliki oleh tiap individu guru, faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas
manajer dan term leader dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan
dukungan kerja pada guru, Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat
yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota
Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,516, nilai tersebut dapat ditafsirkan bahwa
yang signifikan dengan variabel kinerja guru MIN Kota Bandar Lampung.
Dengan kata lain kontribusi efektif atau dapat dijelaskan oleh variabel
lingkungan kerja terhadap variabel kinerja Guru MIN Bandar Lampung adalah
82
Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru (Jakarta: GP. Press, 2010),
129-130.
83
Abdul Hamid, Pengaruh lingkungan kerjaterhadap Kinerja Guru Madrasah Ibtidaiyah
Negeri Kota Bandar Lampung (Bandar Lampung: IAIN Raden Intan Lampung, 2007), 16
(pdf), online diakses tanggal 15 Januari 2017 12:55
51,6 % sedang selebihnya 48,4 % dijelaskan oleh variabel yang lain, tidak
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru MIN Bandar Lampung.
Kinerja Guru
dan lingkungan kerja guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
guru yang ditunjukkan dengan hasil uji F diperoleh harga F hitung sebesar 15,599
lebih besar dari Ftabel sebesar 4,880 pada taraf signifikansi 5% dengan koefisien
oleh sarana dan prasarana dan lingkungan kerja guru sebesar 25, 9 %.
dan lingkungan kerja guru mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja guru.
Sarana prasarana yang lengkap akan mendorong dan memotivasi guru dalam
Begitu juga dengan terciptanya lingkungan kerja positif di sekolah dapat terjadi
bila terjalin hubungan yang baik dan harmonis antara kepala sekolah dan guru,
guru dengan guru, guru denagn tenaga kependidikan, serta peserta didik.
Data dilihat hasil penelitian ini, sarana dan prasarana sekolah dan
lingkungan kerja guru hanya menyumbang sebesar 25,9 % dari 100% faktor yang
kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh tiap individu guru,
faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas manajer dan term leader dalam
memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan kerja pada guru, Faktor
tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam
satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan, dan keeratan
(sekolah).84
Karangdowo.85 Berdasarkan analisis regresi linier berganda diperoleh hasil Freg >
Ftab = 13,727 > 2,760. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pengaruh tingkat
pendidikan, sarana prasarana dan lingkungan kerja terhadap kinerja guru diterima
84
Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru (Jakarta: GP. Press, 2010),
129-130.
85
Bekti Handayani, Pengaruh Tingkat Pendidikan, Sarana Prasarana dan Lingkungan Kerja
terhadap Kinerja Guru di Sma Negeri I Karangdowo (Tesis) (Surakarta: UMS, 2005), v
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara sarana dan prasarana
SPSS versi 16.0 menunjukkan bahwa Hasil uji t diperoleh dari thitung sebesar
5,564 sedangkan nilai ttabel sebesar 1,990 pada taraf signifikansi 5% maka 5,564
> 1,990 (thitung > ttabel), sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima,
terhadap kinerja guru dengan koefisien regresi sebesar 0,469. Harga koefisien
korelasi (r) sebesar 0,504 dan koefisien determinan (r2) sebesar 0, 254. Hal ini
lainnya.
2. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara lingkungan kerja guru
SPSS versi 16.0 menunjukkan bahwa hasil uji t diperoleh dari thitung sebesar
2,096 sedangkan nilai ttabel sebesar 1,990 pada taraf signifikansi 5% maka 2,096
86
78
> 1,990 (thitung > ttabel ), sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima,
terhadap kinerja guru dengan koefisien regresi sebesar 0,187. Harga koefisien
korelasi (r) sebesar 0,215 dan koefisien determinan (r2) sebesar 0,046. Hal ini
sarana dan prasarana dan lingkungan kerja guru terhadap kinerja guru.
menunjukkan bahwa Hasil uji F diperoleh dari F hitung sebesar 15,699 sedangkan
nilai Ftabel sebesar 4,880 pada taraf signifikansi 5% maka 15,699 > 4,880,
lingkungan kerja guru terhadap kinerja guru dengan koefisien korelasi (r)
sebesar 0,509 dan koefisien determinan (r2) sebesar 0,259 . hal ini
ditentukan oleh variabel sarana dan prasarana dan lingkungan kerja guru
yang dimiliki oleh tiap individu guru. Faktor kepemimpinan, meliputi aspek
kualitas manajer dan term leader dalam memberikan dorongan, semangat,
arahan, dan dukungan kerja pada guru dan aktor tim, meliputi kualitas
dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim,
tim.
B. Saran
harus bisa saling bekerja sama untuk memelihara dan mengelola sarana dan
Permasalahan sarana dan prasarana sangat penting untuk ditangani lebih serius,
mutlak harus dipenuhi, yang tentunya kesemuanya itu harus sesuai dengan
0,64 %. artinya hanya sedikit dari indikator lingkungan kerja yang mampu
pimpinan atau atasan saja namun semua warga sekolah harus mampu
antara pimpinan dengan guru, guru dengan guru, dan guru dengan siswa. Hal
dengan baik. Untuk dapat menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, perlu
dipahami ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain lingkungan
dengan cara melakukan komunikasi antara pimpinan dengan guru, guru dengan
penciptaan kondisi lingkungan kerja yang baik harus ditingkatkan karena hal
tersebut sangat mempengaruhi kinerja guru dalam proses pembelajaran. Hal ini
pondok yang melibatkan semua warga sekolah hal tersebut secara tidak
standar lingkungan kerja yang baik komunikasi antar warga pondok akan
terasa ringan jika dilakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas sehingga akan
tercipta kinerja guru yang maksimal dan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan
pendidikan.
4. Dalam penelitian ini hanya mebahas tentang dua faktor saja yang mana ada
banyak faktor yang mempengaruhi kinerja guru. Untuk itu diharapkan agar ada
lain yang mempengaruhi kinerja guru. Hal ini dilakukan agar dapat membantu
kearah yang lebih baik dan senantiasa memberi manfaat kepada mereka untuk
masa depannya.
185
DAFTAR PUSTAKA
Gagarin, Mohammad Yuri Saleh Pallu, dan Baharuddin, Pengaruh Sarana dan
Prasarana Sekolah terhadap Kinerja Guru di Kabupaten Alor Nusa Tenggara
Timur (Makassar: Universitas Hasanuddin, 2008), pdf (online) diakses 09
Oktober 2015 16.08.
91
1
Sunarno, Agus, Pengaruh Motivasi Kerja, Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Iklim
kerja Terhadap Kinerja Guru (Tesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta,
2005).
Toni, Dokumentasi dari bagian Tata Usaha (Pondok Pesantren Al-Islam tanggal
17 Januari 2016)
Usman, Husain, Manajemen (Teori Praktik dan Riset Pendidikan) (Jakarta: Bumi
Aksara, 2008).
UU Permendiknas nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 10 ayat
1
Widyaningrum, Retno, Statistika (Yogyakarta: Pustaka Felicha, 2011)
2
Yamin, Martinis dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru (Jakarta: GP. Press,
2010)