1
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Kinerja
Teori kinerja diperkenalkan oleh Wirawan tahun (2009) yaitu keluaran yang
dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi
dalam waktu tertentu. Kinerja pegawai merupakan hasil sinergi dari sejumlah faktor
yaitu faktor internal pegawai meliputi disiplin kerja, motivasi kerja, pengetahuan dan
keterampilan. Sedangkan lingkungan internal organisasi meliputi kepemimpinan,
strategi organisasi, visi dan misi, struktur organisasi, Pendidikan dan pelatihan serta
kebijakan organisasi.
Teori kinerja yang diperkenalkan oleh Wirawan tahun (2009) digunakan sebagai
teori dasar dalam penelitian ini karena model teori tersebut sudah mencakup
keseluruhan variabel baik variabel devenden maupun independent dalam penelitian ini.
Variabel-variabel tersebut diantaranya, kinerja pegawai (Y), kepemimpinan (X1),
kompetensi (X2), disiplin kerja (X3).
2.1.1. Pengertian Kinerja
Untuk dapat memahami kinerja maka perlu mengetahui pengertian dari kinerja
tersebut. Wibowo (2014: 3) menyatakan bahwa “kinerja adalah implementasi dari
rencana yang telah disusun tersebut. Implementasi kinerja dilakukan oleh sumber daya
manusia yang memiliki kemampuan, kompetensi, motivasi, dan kepentingan.
Bagaimana organsisasi menghargai dan memperlakukan sumber daya manusianya akan
mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam menjalankan kinerja”.
2
Sedangkan menurut Sinambela, dkk (2011: 136) menyatakan bahwa “kinerja
pegawai didefinisikan sebagai kemampuan pegawai dalam melakukan sesuatu keahlian
tertentu. Kinerja pegawai sangatlah perlu sebab dengan kinerja ini akan diketahui
seberapa jauh kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas yang dibebankan
kepadanya. Untuk itu diperlukan penentuan kriteria yang jelas dan terukur serta
ditetapkan secara bersama-sama yang dijadikan sebagai acuan”.
Selain pengertian kinerja di atas, Wirawan (2012: 5) menyatakan bahwa “kinerja
adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu
pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu”.
Kemudian Mangkunegara (2009: 97) menyatakan bahwa “kinerja adalah hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.
Pendapat lain Riva’i dan Basri dalam Sinambela (2012: 6) menyatakan bahwa
“kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang atau keseluruhan selama
periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan seperti standar hasil kerja, target atau kriteria yang ditentukan terlebih
dahulu dan telah disepakati bersama.
Definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai adalah hasil
kerja yang dapat dicapai baik perseorangan maupun kelompok dalam suatu organisasi
sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing dalam rangka mencapai tujuan
organisasi yang bersangkutan.
3
2.1.2 Penilaian Kinerja
Untuk dapat memahami penilaian kinerja maka perlu mengetahui pengertian
dari penilaian kinerja tersebut. Bacal dalam Wibowo (2014: 187) menginterpretasikan
bahwa “penilaian kerja atau performance appraisal adalah proses dengan mana kinerja
individual diukur dan dievaluasi. Penilaian kinerja menjawab pertanyaan, seberapa baik
pekerja berkinerja selama periode tertentu”.
Pendapat lain Williams dalam Wibowo (2014: 188) menyatakan
bahwa”penilaian kinerja adalah sebuah kartu laporan yang diberikan oleh atasan kepada
bawahan serta keputusan tentang kecukupan atau kekurangan professional yang
menunjukkan apa kekurangan bawahan”.
Sedangkan menurut Armstrong dalam Wibowo (2014: 188) menyatakan bahwa
“penilaian kinerja adalah secara regular mencatat pengukuran kinerja pekerja dan untuk
melihat secara menyeluruh kandungan pekerjaan, beban volume serta melihat Kembali
apa yang dicapai selama periode laporan dan menyepakati sasaran selanjutnya”.
Berdasarkan definsi diatas dapat disimpulkan bahwa performance appraisal atau
penilaian kinerja lebih diarahkan pada penilaian individual pekerja. Dengan demikian
disimpulkan pula bahwa penilaian kinerja adalah suatu proses penilaian tentang
seberapa baik pekerja telah melaksanakan tugasnya selama periode waktu tertentu.
2.1.3. Faktor-faktor Penilaian Kinerja
Kinerja Pegawai dapat terlaksana melalui factor-faktor penilaian kinerja.
Menurut Moeheriono (2014: 139-140) factor penilaian secara individu ada lima yaitu
(1) hasil kerja; (2) perilaku: (3) atribut dan kompetensi; (4) komparatif.
4
Hasil kerja yaitu keberhasilan karyawan dalam pelaksanaan kerja biasanya
terukur seberapa besar yang telah dihasilkan. Kedua, perilaku yaitu aspek tindak tanduk
karyawan dalam melaksanakan pekerjaan, kesopanan, dan perilakunya baik terhadap
sesama karyawan. Ketiga atribut dan kompetensi yaitu kemahiran dan penguasaan
karyawan sesuai tuntutan jabatan, pengetahuan, keterampilan dan keahliannya. Keempet
komparatif yaitu membandingkan hasil kinerja karyawan dengan karyawan lainnya
yang selevel dengan yang bersangkutan.
Selain factor-faktor penilaian kinerja di atas, Allen dalam Wibowo (2014: 193)
menginterprestasikan tiga manfaat penilaian kinerja, meliputi : (1) penilaian kinerja
yang dilakukan dengan berhati-hati dapat membantu memperbaiki kinerja pekerja
sepanjang tahun; (2) proses penilaian yang efektif merupakan bagian dari manajemen
sumber daya manusia yang dapat membantu organisasi berhasil; (3) komponen kunci
dari strategi kompetitif.
Penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya manfaat penilaian
kinerja pegawai sangat perlu dilakukan, karena dapat dijadikan sebagai evaluasi
terhadap setiap pegawai. Serta pimpinan dapat mengetahui apa kekurangan dan
kelebihan dari kinerja bawahannya. Maka pimpinan dapat mengetahui Tindakan apa
yang harus diambil untuk mengatasi kekurangan serta mempertahankan kelebihan
tersebut. Sehingga akan berdampak pada pengambilan keputusan yang strategis
mengenai hasil evaluasi kinerja serta komunikasi yang telah dilakukan oleh atasan dan
bawahan sehingga dari tujuan organisasi di dalam instansi akan cepat tercapai.
2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Kinerja pegawai dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mangkunegara (2008: 67)
membedakan kinerja pegawai sebagai faktor pendukung yang penting, diantaranya: (1)
5
Faktor Kemampuan yaitu secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdi dari
kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge dan skill). Artinya
pegawai yang memiliki IQ di atas rata-rata IQ (110-120) dengan Pendidikan yang
memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjan sehari-hari, maka
ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu pegawai perlu
ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya; (2) Faktor Motivasi yaitu
terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja.
Motivasi merpukan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk
mencapai tujuan organisasi.
2.1.5. Indikator Kinerja Pegawai
Indikator kinerja dipergunakan sebagai alat ukur yang dipergunakan untuk
mengukur suatu hasil kinerja pegawai atau tolak ukur dalam menilai kinerja. Pada
dasarnya kinerja pegawai yaitu gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan
suatu program kegiatan dalam mewujudkan tujuan dalam organisasi. Indikator kinerja
sangat diperlukan oleh instansi ataupun lembaga-lembaga, sehingga dapat mengetahui
berhasil atau tidaknya suatu organisasi. Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat
diambil indikator kinerja pegawai menurut Wirawan (2009: 54-55) yaitu:
1) Hasil kerja keluaran kerja dalam bentuk barang dan jasa yang dapat dihitung dan
diukur kuantitas dan kualitasnya.
2) Perilaku kerja diperlukan karena merupakan persyaratan dalam melaksanakan
pekerjaan dengan berperilaku kerja tertentu, pegawai dapat melaksanakan
pekerjaanya dengan baik dan menghasilkan kinerja yang diharapkan oleh
organisasi.
6
3) Sifat pribadi yang ada hubungannya dengan pekerjaan, sifat pribadi karyawan
yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaannya, sebagai manusia pegawai
mempunyai banyak sifat pribadi yang dibawa sejak lahir dan diperoleh ketika
dewasa dari pengalaman kerjanya.
2.2 Pengertian Kepemimpinan
Untuk dapat memahami kepemimpinan maka perlu mengetahui pengertian
kepemimpinan tersebut. Sutrisno (2011: 213) menyatakan bahwa”Kepemimpinan
adalah suatu proses kegiatan seseorang untuk menggerkakan orang lain dengan
memimpin, membimbing, memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu agar
dicapai hasil yang diharapkan”. Selain itu menurut Siagin dalam Sutrisno (2011: 214)
menyatakan bahwa “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi pihak lain,
melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk
menggerkakkan orang-orang agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati
bersedia mengikuti kehendak pimpinan itu”.
Definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah
kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok. Menmiki kemampuan
atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya serta untuk
mencapai tujuan organisasi atau kelompook.
2.2.1 Fungsi Kepemimpinan
Fungsi kepemimpinan menurut Terry dalam Sutrisno (2011: 219) fungsi
pemimpin dalam organisasi dapat dikelompokkan menjadi empat diantaranya yaitu: (1)
perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) penggerakan; (4) pengendalian.
7
Fungsi pemimpin dalam organsisasi kerap kali memiliki spesifikasi berbeda
dengan bidang kerja atau organisasi lain. Macam organisasi, situasi dalam organisasi
dan jumlah anggtoa kelompok. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu
mengelola atau mengatur organisasi secara efektif dan mampu melaksanakan
kepemimpinan secara efektif pula. Untuk itu pemimpin harus betul-betul dapat
menjalankan fungsinya sebagai seorang pemimpin.
Selain fungsi kepemempinan diatas Handoko (1986: 299) membedakan agar
kelompok berjalan efektif, seseorang harus melaksanakan dua fungsi utama yaitu: 1)
fungsi-fungsi yang berhubungan dengan tugas (task related) atau pemecahan masalah,
2) fungsi-fungsi pemeliharan kelompok (group maintenance) atau sosial. Fungsi yang
menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi dan pendapat. Fungsi kedua
mencakup segala sesuatu yang dapat membantuk kelompok berjalan lebih lancer,
persetujuan dengan kelompok yang lain, penengahan perbedaan pendapat dan
sebagaianya.
Definsi diatas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan dalam suatu
organisasi memiliki peranan yang sangat penting, tidak hanya secara internal bagi
organisasi yang bersangkutan akan tetapi juga dalam menghadapai berbagai pihak diluar
organisasi yang kesemuanya dimaksudkan untuk meingkatkan kemampuan organisasi
untuk mencapai tujuan.
2.2.2 Tipe-tipe Kepemimpinan
Tipe-tipe kepemimpinan menurut Siagin (2010: 31-38) terdiri dari lima tipe
kepemimpinan yaitu: (1) Tipe yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois,
egoisnya yang sangat besar akan mendorongnya memutarbalikkan kenyataan yang
sebenarnya sehingga sehingga sesuai dengan apa yang secara subjektif
8
diinprestasikannya sebagai kenyataan; (2) Tipe Paternalistik adalah tipe pemimpinan
yang banyak terdapat di lingkungan masyarakat yang masih bersifat tradisional,
umumnya di masyarakat yang agraris; (3) Tipe yang Kharismatik adalah seseorang yang
dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat
menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu dikagumi. Penampilan fisik
ternyata bukan ukuran yang berlaku umum karena ada pemimpin dipandang sebagai
pemimpin yang kharismatik yang kalua hanya dilihat dari penampilan fisiknya saja
sebenarnya tidak atau kurang mempunyai daya Tarik; (4) Tipe yang Laissez Faire
adalah seorang pemimpin yang laissez faire melihat perannya sebagai “polisi lalu linta”.
Dengan anggapan bahwa para anggota organisasi sudah mengetahui dan cukup dewasa
untuk taat kepada peraturan permainan yang berlaku, seorang pemimpin yang laissez
faire cenderung memilih peranan yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan
menurut temponya sendiri tanpa banyak yang mencampuri bagaimana organisasi harus
dijalankan dan digerakkan; (5) Tipe yang Demokratik adalah baik dikalangan ilmuwan
maupun di kalangan praktisi terdapat kesepakatan bahwa tipe pemimpin yang paling
ideal dan paling didambakan adalah pemimpin yang demokratik. Seorang pemimpin
yang demokratik dihormati dan disegani dan bukan ditakuti karena perilakunya dalam
kehidupan organisasional perilakunya mendorong para bawahannya menumbuhkan dan
mengembangkan daya inovasi dan kreativitasnya.
2.2.3 Indikator Kepemimpinan
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat di ambil indikator kepemimpinan
menurut Edwin Ghiselli dalam Handoko (1997: 297) yaitu (1) kemampuan; (2)
kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan; (3) kecerdasan; (4) ketegasan (decisiveness);
(5) kepercayaan diri; (6) inisiatif
9
1) Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability)
atau pelaksanaan fungsi-fungsi dasar manajemen terutama pengarahan dan
pengawasan pekerjaan orang lain.
2) Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup pencarian tanggub
jawab dan keinginan sukses.
3) Kecerdasan yaitu mencakup kebijakan, pemikiran kreatif dan daya pikir.
4) Ketegasan (decisvennes) atau kemampuan untuk membuat keputusan-
keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat.
5) Kepercayaan diri atau pandangan terhadap dirinya sebagai kemampuan
untuk menghadapi masalah.
6) Inisiatif atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung mengembangkan
serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cara baru atau inovasi.
2.3 Pengertian Kompetensi
Menurut Sudarmanto (2009: 47) mendefinisikan kompetensi sebagai
pengetahuan keahlian, kemampuan, atau karakteristik pribadi individu yang
mempengaruhi secara langsung kinerja pekerjaan. Kompetensi menggambarkan dasar
pengetahuan dan standar kinerja yang dipersaratkan agar berhasil menyelesaikan suatu
pekerjaan atau memegang suatu jabatan.
Menurut Badan Kepegawaian Negara (2003) kompetensi sebagai kemampuan
dan karakteristik yang dimiliki seseorang PNS yang berupa pengetahuan, keterampilan
dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga PNS
tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara professional, efektif, efisien.
Secara terminology kompetensi merupakan atribut untuk melekatkan sumber
daya manusia yang berkualitas atau unggul. Atribut mengacu pada karakteristik tertentu
10
untuk dapat melaksanakan pekerjaan secara efektif. Oleh karena atribut terdiri atas
persyaratan pengetahuan, keterampilan dan keahlian atau karakteristik tertentu. Ada
yang menginteprestasikan kompetensi sepadan dengan kemampuan dan kecakapan.
Adalagi yang menginteprestasikan sepadan dengan keterampilan, pengetahuan dan
berpendidikan tinggi.
2.3.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompetensi
Menurut Zwell (2000: 56-57) dalam Wibowo (2014: 283-284) kompetensi
seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1) Keyakinan dan nilai-nilai, perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh
keyakinnya terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Bila orang percaya akan
kemampuannya dalam melakukan sesuatu, maka hal tersebut akan bisa
dikerjakan dengan lebih mudah.
2) Karakteristik Kepribadian, kepribadian bukanlah sesuatu yang tidak dapat
dirubah, kepribadian seseorang akan mempengaruhi cara-cara orang tersebut
dalam menyelesaiakan permasalahan dalam kehidupan ini, dan hal ini akan
membuat orang tersebut lebih kompeten. Seseorang akan berespons serta
beradaptasi dengan lingkungan dan kekuatan sekitarnya, yang akan menambah
kompetensi seseorang.
3) Motivasi, adalah dorongan yang membuat seseorang mampu untuk melakukan
sesuatu. Daya dorong yang lebih bersifat psikologis membuat bertambahnya
kekuatan fisik, sehingga akan mempermudah aktivitas kerja, yang menambah
tingkat kompetensi seseorang. Dorongan atau motivasi yang diberikan atasan
kepada bawahan juga berpengaruh baik terhadap kinerja staf.
11
4) Isu emosional, kondisi emosional seseorang akan berpengaruh dalam setiap
penampilannya, termasuk dalam penampilan kerjanya. Rasa percaya diri
membuat orang akan dapat melakukan suatu pekerjaan dengan lebih baik, begitu
juga sebaliknya, gangguan emosional seperti rasa takut dan malu juga bisa
menurunkan performance/penampilan kerja seseorang, sehinggga
kompetensinya akan menurun.
5) Kemampuan intelektual, kompetensi dipengaruhi oleh pemikiran intelektuak,
kognitif, analitis dan kemampuan konseptual. Tingkat intelektual dipengaruhi
oleh pengalam, proses pembelajaran yang sudah tentu pula kemampuan
intelektual seseoarng akan meningkatkan kompetensinya.
6) Budaya organisasi, berpengaruh pada kompetensi seseorang dalam berbagai
kegiatan, karena budaya organsisasi mempengaruhi kinerja, hubungan antar
pegawai, motivasi kerja dan kesemuanya itu akan berpengaruh pada kompetensi
orang tersebut.
2.3.2 Indikator Kompetensi
Dalam penelitian ini, variabel kompetensi yang akan digunakan untuk mengukur
kompetensi dari Romber (2007) yaitu pengalaman kerja, latar belakang Pendidikan,
pengetahuan, keterampilan.
1) Pengalaman kerja suatu dasar/acuan seorang karyawan dapat menempatkan diri
secara tepat kondisi, berani mengambil resiko, mampu menghadapi tantangan
dengan penuh tanggub jawab serta mampu berkomunikasi dengan baik terhadap
berbagai pihak untuk tetap menjaga produktivitas, kinerja dan menghasilkan
individu yang kompeten dalam bidangnya (Sutrisno, 2009: 158).
12
2) Pendidikan adalah suatu kegiatan untuk meningkatkan penguasaan teori dan
keterampilan memutuskan terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut
kegiatan guna mencapai tujuan. Upaya ini dilakukan untuk memperbaiki
kontribusi produktif para karyawan dan mengembangkan sumber daya manusia
menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat perubahan lingkungan
(Sutrisno, 2009: 62).
3) Pengetahuan (knowledge) adalah pengetahuan atau informasi seseorang dalam
bidang spesifik tertentu (Sudarmanto, 2009: 53).
4) Keterampilan (skills) adalah kemampuan melaksanakan tugas fisik tertentu atau
tugas gagasan mental tertentu (Sudarmanto, 2009: 53).
2.4 Pengertian Disiplin Kerja
Disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum bawahan karena
melanggar peraturan atau prosedur (Simamora, 1997). Disiplin kerja adalah suatu alat
yang digunakan para pimpinan untuk berkomunikasi dengan pegawai agar mereka
bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan
kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-
norma sosial yang berlaku (Rivai, 2004).
Lebih lanjut Hasibuan (2004) berpendapat bahwa kedisiplinan adalah kesadaran
dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma yang
berlaku.
2.4.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disiplin Kerja
Menurut Singodimedjo (dalam Sutrisno,2014) ada beberapa faktor yang
mempengaruhi disiplin kerja pegawai yaitu:
13
1) Besar kecilnya pemberian kompensasi, dapat memengaruhi tegaknya disiplin.
Para pegawai akan mematuhi segala peraturan yang berlaku, bila ia merasa
mendapat jaminan balas jasa yang setimpal dengan jerih payahnya yang telah
dikontribusikannya bagi perusahaan.
2) Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam instansi, keteladanan pimpinan
sangat penting sekali, karena dalam lingkungan perusahaan, semua pegawai
akan selalu memperhatikan bagaimana pimpinan dapat menegakkan disiplin
dirinya dan bagaimana ia dapat mengendalikan dirinya sendiri upacan,
perbuatan, dan sikap yang dapat merugikan aturan disiplin yang sudah
ditetapkan.
3) Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan, pembinaan disiplin
tidak akan dapat terlaksana dalam perusahaan, bila tidak ada aturan tertulis yang
pasti untuk dappat dijadikan pegangan bersama.
4) Keberanian pimpinan dalam mengambil Tindakan, bila ada seseorang pegawai
yang melanggar disiplin, maka perlu ada keberanian pimpinan untuk mengambil
tindakan yang sesuai dengan pelanggaran yang dibuatnya.
5) Ada tidaknya pengawasan pimpinan dalam mengambil Tindakan, dalam setiap
kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan perlu ada pengawasan, yang akan
mengarahkan para karyawan agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan tepat
dan sesuai dengan yang telah ditetapkan.
6) Ada tidaknya perhatian kepada pegawai, pegawai adalah manusia yang
mempunyai perbedaan karakter antara yang satu dengan yang lainnya.
2.4.2 Indikator Disiplin Kerja
Rivai (2005) menjelaskan bahwa disiplin kerja memiliki beberapa indikator,
adalah sebagai berikut:
14
1) Kehadiran, menjadi indikator yang mendasar untuk mengukur kedisiplinan
pegawai, biasanya pegawai yang memiliki disiplin kerja rendah terbiasa untuk
datang terlambat dalam bekerja.
2) Ketaatan pada peraturan kerja, pegawai yang taat pada peraturan kerja selalu
mengikuti pedoman kerja dan tidak akan melalaikan prosedur kerja yang
ditetapkan oleh organisasi.
3) Ketaatan pada standar kerja, hal ini dapat dilihat melalui besarnya tanggub
jawab pegawai terhadap tugas yang diamanahkan kepadanya.
4) Tingkat kewaspadaan tinggi, Pegawai Dinas diharuskan memiliki kewaspadaan
tinggi untuk selalu berhati-hati, penuh perhitungan dan ketelitian dalm bekerja,
serta selalu menggunakan sesuatu secara efektif dan efisien demi
keberlangsungan pekerjaannya dengan baik.
5) Bekerja etis, beberapa pegawai mungkin melakukan Tindakan yang tidak sopan
kepada rekan kerja atau terlibat dalam Tindakan yang tidak pantas. Hal ini
merupakan salah satu bentuk tindakan indisipliner, sehingga bekerja etis sebagai
salah satu wujud dari disiplin kerja pegawai.
2.5 Penelitian Terdahulu yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Patria Agusta Permadi (2019) dari Fakultas
Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta tentang Pengaruh Disiplin Kerja dan
Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai pada Dinas Pendidikan, Pemuda
dan Olahraga Kota Pekalongan diketahui bahwa variabel disiplin kerja dan
lingkungan kerja secara bersama-sama (simultan) memberikan pengaruh
terhadap kinerja pegawai di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota
Pekalongan.
15
2. Penelitian yang dilakukan oleh Tian A’izah (2017) dari Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Semarang tentang Pengaruh Disiplin Kerja, Kompetensi
Pegawai dan Kepemimpinan terhadap Kinerja Pegawai di Bappeda Jepara,
diketahui bahwa variabel Disiplin Kerja, Kompetensi Pegawai dan
Kepemimpinan berpengaruh terhadap Kinerja Pegawai di Bapedda Jepara.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Fenny Dwi Oktavia (2014) dari Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Bengkulu tentang Pengaruh Kepemimpinan dan
Disiplin Kerja terhadap Kinerja Pegawai pada Dinas Pendidikan Kota Bengkulu,
diketahui bahwa variabel Kepemimpinan dan Disiplin Kerja berpengaruh
terhadap Kinerja Pegawai pada Dinas Pendidikan Kota Bengkulu.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Nur Ikhsan (2019) dari Fakultas
Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta tentang Pengaruh Kompetensi dan
Disiplin Kerja terhadap Kinerja Pegawai pada Seksi Perlindungan,
Pengembangan dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, diketahui
bahwa variabel Kompetensi dan Disiplin Kerja berpengaruh terhadap Kinerja
Pegawai pada Seksi Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Balai
Pelestarian Cagar Budaya DIY.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Rahma Fitha (2017) dari Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tentang Pengaruh
Kepemimpinan dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Karyawan [Link] Tours &
Travel Kantor Pusat Menara 165 TB. Simatupang, diketahui bahwa variabel
Kepemimpinan dan Disiplin Kerja berpengaruh terhadap Kinerja Karwayan
[Link] Tours & Travol Kantor Pusat Menara 165 TB. Simatupang.
2.6 Kerangka Berpikir
16
Kerangka berfikir adalah model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang
penting (Sekaran dalam Sugiyono, 2013: 91). Kerangka berfikir menjadi alur fikir yang
digunakan dalam penelitian ini, menjelaskan permasalahan tentang Kinerja Pegawai.
Kepemimpinan, Kompetensi dan Disiplin Kerja dijelaskan Kembali dalam kerangka
berfikir ini.
Kinerja merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
program atau kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi
organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis suatu organisasi. Kinerja
dapat diketahui dan diukur jika individu atau sekelompok pegawai telah mempunyai
kriteria atau standar keberhasilan tolak ukur yang ditetapkan organisasi/instansi. Oleh
karena itu, jika tanpa tujuan dan target yang ditetapkan dalam pengukuran, maka kinerja
pada seseorang atau kinerja organisasi tidak mungkin dapat diketahui vila tidak ada
tolak ukur keberhasilannya.
Kepemimpinan memegan peranan yang penting karena pemimpin itulah yang
akan menggerakkan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan dan sekaligus
merupakan tugas yang tidak mudah. Tidak mudah, karena harus memahami setiap
perilaku bawahan yang berbeda-beda. Bawahan dipengaruhi sedemikian rupa sehingga
bisa memberikan pengabdian dan partisipasinya kepada organisasi secara efektif dan
efisien.
Kompetensi sangat berguna untuk membantu organisasi menciptan budaya
kinerja tinggi. Kompetensi sangat diperlukan dalam setiap proses sumber daya manusia,
manajemen kinerja, perencanaan dan sebagainya. Semakin banyak kompetensi
17
dipertimbangkan dalam proses sumber daya manusia, akan semakin meningkatkan
budaya organisasi.
Disiplin kerja sangat penting untuk pertumbuhan organisasi dan digunakan
terutama untuk memotivasi pegawai agar dapat mendisiplinkan diri dalam
melaksanakan pekerjaan, baik secara perorangan maupun kelompok. Di samping itu,
disiplin bermanfaat mendidik pegawai untuk mematuhi dan menyenangi peraturan,
prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang
[Link] uraian di atas, kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat
digambarkan sebagai berikut:
Kepemimpinan (X1)
1. Kemampuan
2. Kebutuhan Akan
Prestasi dalam
pekerjaan
3. Kecerdasan
4. Ketegasan
5. Kepercayaan
Edwin Ghiselli dan
Handoko (1997: 297)
Kinerja Pegawai (Y)
Kompetensi (X2) 1. Hasil Kerja
2. Perilaku Kerja
1. Pengalam Kerja 3. Sifat Pribadi
2. Pendidikan yang ada
3. Pengetahuan hubungannya
4. Keterampilan dengan
Romber (2007) pekerjaan
Wirawan (2009: 54-55)
Disiplin Kerja (X3)
1. Kehadiran
2. Ketaatan Pada
Peraturan Kerja
3. Ketaatan Pada
Standar Kerja
4. Tingkat
Kewaspaan
Tinggi
5. Bekerja Etis
Rivai (2005)
18
Keterangan:
: Simultan
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
19
2.7 Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan sementara atas suatu hubungan sebab-akibat dari
variabel yang perlu dibuktikan kebenarannya (Hamid, 2012: 16). Sesuai dengan
variabel-variabel yang akan diteliti maka hipotesis yang akan diajukan dalam penelitian
ini adalah:
H1: Kepemimpinan, kompetensi dan disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja
pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Singkil.
H2: Kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten
Aceh Singkil.
H3: Kompetensi berpengaruh terhadap kinerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten
Aceh Singkil
H4: Disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten
Aceh Singkil.
20