0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan9 halaman

Panduan Keluarga Berencana dan Kontrasepsi

Teks tersebut membahas tentang keluarga berencana dan kontrasepsi. Keluarga berencana adalah upaya pencegahan kematian dan kesakitan ibu melalui pengaturan kelahiran dan pembinaan keluarga kecil bahagia. Kontrasepsi adalah cara untuk mencegah kehamilan dengan menghambat ovulasi, melumpuhkan sperma, atau mencegah pertemuan sel telur dan sperma. Ada berbagai jenis kontrasepsi sederhana tanpa alat, seperti

Diunggah oleh

Tramed 4
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan9 halaman

Panduan Keluarga Berencana dan Kontrasepsi

Teks tersebut membahas tentang keluarga berencana dan kontrasepsi. Keluarga berencana adalah upaya pencegahan kematian dan kesakitan ibu melalui pengaturan kelahiran dan pembinaan keluarga kecil bahagia. Kontrasepsi adalah cara untuk mencegah kehamilan dengan menghambat ovulasi, melumpuhkan sperma, atau mencegah pertemuan sel telur dan sperma. Ada berbagai jenis kontrasepsi sederhana tanpa alat, seperti

Diunggah oleh

Tramed 4
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.

7 Keluarga Berencana
2.7.1 Definisi
Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu upaya pelayanan kesehatan preventif yang
paling dasar dan utama. Pencegahan kematian dan kesakitan ibu merupakan alasan utama
diperlukannya pelayanan keluarga berencana. Menurut World Health Organisation Keluarga
Berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk
mendapatkan objektif-objektif tertentu (1) untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
(2) mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, (3) mengatur interval diantara kehamilan,
(4) mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri, (5) menentukan
jumlah anak dalam keluarga.
Saifuddin A B. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Edisi kedua. Jakarta;
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2012.

Keluarga berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui
pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga,
peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagian dan sejahtera
Sasaran utama dari pelayanan KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS). Pelayanan KB
diberikan di berbagai unit pelayanan baik oleh pemerintah maupun swasta dari tingkat desa
hingga tingkat kota dengan kompetensi yang sangat bervariasi. Pemberi layanan KB antara lain
adalah Rumah Sakit, Puskesmas, dokter praktek swasta, bidan praktek swasta dan bidan desa.
Sasaran Program KB terbagi atas:
a. Sasaran Langsung Pasangan usia subur (PUS) yaitu pasangan suami isteri yang isterinya
berusia antara 15–49 tahun. Sebab, kelompok ini merupakan pasangan yang aktif melakukan
hubungan seksual dan setiap kegiatan seksual dapat mengakibatkan kehamilan.
b. Sasaran Tidak Langsung
• Kelompok remaja usia 15–19 tahun, remaja ini memang bukan merupakan target untuk
menggunakan alat kontrasepsi secara langsung tetapi merupakan kelompok yang berisiko untuk
melakukan hubungan seksual akibat telah berfungsinya alat-alat reproduksinya, sehingga
program KB di sini lebih berupaya promotif dan preventif untuk mencegah terjadinya kehamilan
yang tidak diinginkan serta kejadian aborsi.
• Organisasi-organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakatan, instansiinstansi pemerintah maupun
swasta, tokoh-tokoh masyarakat (alim ulama, wanita, dan pemuda), yang diharapkan dapat
memberikan dukungannya dalam pelembagaan NKKBS.
2.7.2 Tujuan Keluarga Berencana
Kebijakan KB bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui usaha
penurunan tingkat kelahiran. Kebijakan KB ini bersama-sama dengan usaha-usaha pembangunan
yang lain selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Upaya menurunkan tingkat
kelahiran dilakukan dengan mengajak pasangan usia subur (PUS) untuk berkeluarga berencana.
Sementara itu penduduk yang belum memasuki usia subur (Pra-PUS) diberikan pemahaman dan
pengertian mengenai keluarga berencana.
Tujuan program KB lainnya yaitu untuk menurunkan angka kelahiran yang bermakna, untuk
mencapai tujuan tersebut maka diadakan kebijakan yang dikategorikan dalam tiga fase
(menjarangkan, menunda, dan menghentikan) maksud dari kebijakan tersebut yaitu untuk
menyelamatkan ibu dan anak akibat melahirkan pada usia muda, jarak kelahiran yang terlalu
dekat dan melahirkan pada usia tua.

2.7.3 Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi
adalah pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan terjadinya
kehamilan. Kontrasepsi adalah suatu alat, obat atau cara yang digunakan untuk mencegah
terjadinya konsepsi atau pertemuan antara sel telur dan sperma di dalam kandungan/rahim.
Dalam menggunakan kontrasepsi, keluarga pada umumnya mempunyai perencanaan atau tujuan
yang ingin dicapai. Tujuan tersebut diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu
menunda/mencegah kehamilan, menjarangkan kehamilan, serta menghentikan/mengakhiri
kehamilan atau kesuburan. Cara kerja kontrasepsi bermacam macam tetapi pada umumnya yaitu:
a. Mengusahakan agar agar tidak terjadi ovulasi.
b. Melumpuhkan sperma
c. Menghalangi pertemuan sel telur dengan sperma.
Selain itu, metode kontrasepsi harus memenuhi syarat berikut ini. 1) Aman pemakaiannya dan
dapat dipercaya. 2) Tidak ada efek samping yang merugikan. 3) Lama kerjanya dapat diatur
menurut keinginan. 4) Tidak mengganggu hubungan seksual. 5) Tidak memerlukan bantuan
medis atau kontrol yang ketat selama pemakaiannya. 6) Cara penggunaannya sederhana. 7)
Dapat dijangkau oleh pengguna. 8) Dapat diterima oleh pasangan.

2.7.4 Jenis Kontrasepsi


A. Metode Kontrasepsi Sederhana
Metode kontrasepsi sederhana terdiri dari 2 yaitu metode kontrasepsi sederhana tanpa alat
dan metode kontrasepsi dengan alat. Metode kontrasepsi tanpa alat adalah metode
kontrasepsi berdasarkan pada kesadaran untuk memulai atau mengakhiri masa kesuburan
dari siklus menstruasi perempuan, antara lain:
● Metode Amenore Laktasi (MAL)
MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif, artinya
hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apapun lainnya. MAL
menggunakan praktik menyusui untuk menghambat ovulasi sehingga berfungsi sebagai
kontrasepsi. Apabila seorang wanita memiliki seorang bayi berusia kurang dari 6 bulan
dan amenore serta menyusui penuh, kemungkinan kehamilan terjadi hanya sekitar 2%.
Namun, jika tidak menyusui penuh atau tidak amenore, risiko kehamilan akan lebih
besar. Efek kontrasepsi pada ibu menyusui terjadi karena adanya rangsangan saraf dari
puting susu diteruskan ke hipotalamus, mempunyai efek merangsang pelepasan beta-
endorfin yang akan menekan sekresi hormon gonadotropin oleh hipotalamus. Akibatnya
adalah penurunan sekresi LH yang menghambat ovulasi.
● Coitus Interruptus,
Coitus interruptus , juga dikenal sebagai metode penarikan atau penarikan , adalah
metode pengendalian di mana seorang pria, selama hubungan seksual , menarik penisnya
dari vagina wanita sebelum orgasme (dan ejakulasi) dan kemudian mengarahkan
ejakulasi (air mani) jauh dari vagina dalam upaya untuk menghindari inseminasi. Metode
kontrasepsi ini masih digunakan sampai sekarang. Metode ini digunakan oleh sekitar 38
juta pasangan di seluruh dunia pada tahun 1991.
● Metode Kalender,
Pada metoda ritmik, pasangan suami istri tidak melakukan hubungan seksual selama
masa subur wanita. Ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) terjadi 14 hari sebelum
menstruasi. Sel telur yang telah dilepaskan hanya bertahan hidup selama 24 jam, tetapi
sperma bisa bertahan selama 3- 4 hari setelah melakukan hubungan seksual. Karena itu
pembuahan bisa terjadi akibat hubungan seksual yang dilakukan 4 hari sebelum ovulasi.
● Metode Lendir Serviks,
Metode lendir serviks atau metode ovulasi billings (MOB) adalah kontrasepsi
berdasarkan pada saat perempuan mengamati lendir serviks dan perubahan rasa pada
vulva menjelang hari-hari ovulasi. Lendir/mukosa serviks ini tidak hanya dihasilkan oleh
sel leher rahim tetapi juga oleh sel-sel vagina. Pada saat menjelang ovulasi, lendir serviks
akan mengalir dari vagina. Ovulasi hanya terjadi pada satu hari di setiap siklus dan sel
telur akan hidup 12-24 jam, kecuali dibuahi sel sperma. Oleh karena itu, lendir pada masa
subur berperan menjaga kelangsungan hidup sperma selama 3-5 hari.
Pemeriksaan lendir:
○ Lendir jernih, licin, mulus menunjukkan masa subur
○ Lendir kental, keruh, kekuningan dan lengket atau kering menunjukkan
masa tidak subur sehingga aman untuk berhubungan.

● Metode Suhu Basal Badan


Suhu tubuh basal adalah suhu terendah yang dicapai oleh tubuh selama istirahat atau
dalam keadaan istirahat (tidur). Pengukuran suhu basal dilakukan pada pagi hari segera
setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas lainnya. Tujuan pencatatan suhu
basal untuk mengetahui kapan terjadinya masa subur/ ovulasi. Suhu basal tubuh diukur
dengan alat yang berupa termometer basal. Termometer basal ini dapat digunakan secara
oral, per vagina, atau melalui dubur dan ditempatkan pada lokasi serta waktu yang sama.
Suhu normal tubuh sekitar 35,5-36o C. Pada waktu ovulasi, suhu akan turun terlebih
dahulu (hormon turun mendadak) dan naik menjadi 37-38oC kemudian tidak akan
kembali pada suhu. Pada saat itulah terjadi masa subur/ovulasi. (progesterone tinggi
membuat suhu tubuh lebih tinggi). Kondisi kenaikan suhu tubuh ini akan terjadi sekitar 3-
4 hari, kemudian akan turun kembali sekitar 2oC dan akhirnya kembali pada suhu tubuh
normal sebelum menstruasi. Hal ini terjadi karena produksi progesteron menurun.
Apabila grafik (hasil catatan suhu tubuh) tidak terjadi kenaikan suhu tubuh, kemungkinan
tidak terjadi masa subur/ovulasi sehingga tidak terjadi kenaikan suhu tubuh. Hal ini
terjadi dikarenakan tidak adanya korpus luteum yang memproduksi progesteron. Begitu
sebaliknya, jika terjadi kenaikan suhu tubuh dan terus berlangsung setelah masa
subur/ovulasi kemungkinan terjadi kehamilan. Karena, bila sel telur/ovum berhasil
dibuahi, maka korpus luteum akan terus memproduksi hormon progesteron, akibatnya
suhu tubuh tetap tinggi. Faktor yang mempengaruhi metode suhu basal tubuh antara lain:
○ Penyakit.
○ Gangguan tidur.
○ Merokok dan atau minum alkohol.
○ Penggunaan obat-obatan ataupun narkoba.
○ Stres.
● Simptotermal yaitu metode kontrasepsi yang dilakukan dengan mengamati
perubahan lendir dan perubahan suhu basal tubuh
Sedangkan metode kontrasepsi sederhana dengan alat yaitu kondom, diafragma, cup
serviks dan spermisida (Handayani, 2010).
B. Metode Kontrasepsi Hormonal
Metode kontrasepsi hormonal pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu kombinasi
(mengandung hormon progesteron dan estrogen sintetik) dan yang hanya berisi
progesteron saja. Kontrasepsi hormonal kombinasi terdapat pada pil dan suntikan/injeksi.
Sedangkan kontrasepsi hormon yang berisi progesteron terdapat pada pil, suntik dan
implant (Handayani, 2010).
C. Metode Kontrasepsi dengan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Metode kontrasepsi ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu AKDR yang
mengandung hormon sintetik (sintetik progesteron) dan yang tidak mengandung hormon
(Handayani, 2010). AKDR yang mengandung hormon Progesterone atau Levonorgestrel
yaitu Progestasert (Alza-T dengan daya kerja 1 tahun, LNG-20 mengandung
Levonorgestrel) (Hartanto, 2002).
D. Metode Kontrasepsi Mantap
Metode kontrasepsi mantap terdiri dari 2 macam yaitu Metode Operatif Wanita (MOW)
dan Metode Operatif Pria (MOP). MOW sering dikenal dengan tubektomi karena prinsip
metode ini adalah memotong atau mengikat saluran tuba/tuba falopii sehingga mencegah
pertemuan antara ovum dan sperma. Sedangkan MOP sering dikenal dengan nama
vasektomi, vasektomi yaitu memotong atau mengikat saluran vas deferens sehingga
cairan sperma tidak dapat keluar atau ejakulasi (Handayani, 2010).

2.7.5 Konseling Penggunaan KB


Metode atau cara yang digunakan dalam kegiatan konseling KB yaitu dengan metode
G-A-T-H-E-R.
1. Menjalin hubungan dan menilai kebutuhan klien akan KB (Greet and Ask). Menyapa
pasien, pastikan kenyamanan dan kerahasiaannya. Menanyakan alasan pasien datang.
2. Memberikan Informasi tentang kebutuhan klien akan KB (Tell). Saat menjelaskan
tentang metode KB, pastikan efektivitas, keuntungan, dan kerugian serta efek samping.
3. Membantu Klien membuat informed choice untuk metode KB yang diinginkan (Help).
Mengecek apakah metode KB pilihan klien sesuai dengan kriteria kelayakan medis.
4. Membantu melaksanakan keputusan klien (Explain and Return). Setelah mengecek
bahwa metode KB yang dipilih tidak ada kontraindikasi, jelaskan tentang cara
penggunaan, efektivitas, efek samping, dan alasan harus kembali. Jadwalkan kunjungan
berikutnya. Jelaskan kondisi yang mengharuskan klien kontrol kembali.

Istilah-istilah dalam Pelayanan Keluarga Berencana


1) Akseptor KB adalah peserta KB pasangan usia subur (PUS) yang menggunakan
kontrasepsi. 2) Akseptor KB baru adalah PUS yang pertama kali menggunakan
kontrasepsi atau PUS yang kembali menggunakan kontrasepsi setelah mengalami
kehamilan yang berakhir dengan keguguran atau persalinan. 3) Akseptor KB lama adalah
peserta KB yang masih menggunakan kontrasepsi tanpa diselingi kehamilan ataupun
ganti cara. 4) Akseptor KB ganti cara adalah peserta KB yang berganti pemakaian dari
satu metode kontrasepsi ke metode kontrasepsi lainnya. 5) Akseptor KB aktif adalah
peserta KB yang masih menggunakan kontrasepsi 6) Pelayanan fasilitas pelayanan KB
adalah semua kegiatan pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB baik berupa
pemberian atau pemasangan kontrasepsi maupun tindakan lain seperti pemberian
konseling. Pelayanan KB juga dapat dilakukan di dalam (Klinik, Puskemas, RS) maupun
di luar fasilitas pelayanan (Safari KB, Posyandu). 7) Cakupan keluarga berencana •
Cakupan peserta KB aktif (contraceptive prevalence rate) Adalah cakupan dari peserta
KB yang baru dan lama yang masih aktif menggunakan alat dan obat terus menerus
hingga saat ini untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan. Jumlah
peserta KB aktif × 100% Jumlah PUS • Cakupan peserta KB baru Adalah PUS yang baru
pertama kali menggunakan kontrasepsi termasuk mereka yang paska keguguran, sesudah
melahirkan atau paska istirahat minimal 3 bulan. (Jumlah peserta KB baru/ Jumlah PUS)
× 100%
Pelayanan KB Berkualitas
Pelayanan KB berkualitas adalah pelayanan KB sesuai standar dengan menghormati hak
individu dalam merencanakan kehamilan sehingga diharapkan dapat berkontribusi dalam
menurunkan angka kematian Ibu dan menurunkan tingkat fertilitas (kesuburan) bagi pasangan
yang telah cukup memiliki anak (2 anak lebih baik) serta meningkatkan fertilitas bagi pasangan
yang ingin mempunyai anak. Pelayanan KB bertujuan untuk menunda (merencanakan)
kehamilan. Bagi Pasangan Usia Subur yang ingin menjarangkan dan/atau menghentikan
kehamilan, dapat menggunakan metode kontrasepsi yang meliputi :
1. KB alamiah (sistem kalender, metode amenore laktasi, coitus interuptus).
2. Metode KB hormonal (pil, suntik, susuk).
3. Metode KB non-hormonal (kondom, AKDR/IUD, vasektomi dan tubektomi).
Sampai saat ini di Indonesia cakupan peserta KB aktif (Contraceptive Prevalence Rate/CPR)
mencapai 61,4% (SDKI 2007) dan angka ini merupakan pencapaian yang cukup tinggi diantara
negara-negara ASEAN. Namun demikian metode yang dipakai lebih banyak menggunakan
metode jangka pendek seperti pil dan suntik. Menurut data SDKI 2007 akseptor KB yang
menggunakan suntik sebesar 31,6%, pil 13,2 %, AKDR 4,8%, susuk 2,8%, tubektomi 3,1%,
vasektomi 0,2% dan kondom 1,3%. Hal ini terkait dengan tingginya angka putus pemakaian
(DO) pada metode jangka pendek sehingga perlu pemantauan yang terus menerus. Disamping itu
pengelola program KB perlu memfokuskan sasaran pada kategori PUS dengan “4 terlalu”
(terlalu muda, tua, sering dan banyak).
Untuk mempertahankan dan meningkatkan cakupan peserta KB perlu diupayakan pengelolaan
program yang berhubungan dengan peningkatan aspek kualitas, teknis dan aspek manajerial
pelayanan KB. Dari aspek kualitas perlu diterapkan pelayanan yang sesuai standard dan variasi
pilihan metode KB, sedangkan dari segi teknis perlu dilakukan pelatihan klinis dan non-klinis
secara berkesinambungan. Selanjutnya aspek manajerial, pengelola program KB perlu
melakukan revitalisasi dalam segi analisis situasi program KB dan sistem pencatatan dan
pelaporan pelayanan KB. Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan KB kepada
masyarakat adalah : dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat.3
1. Albar E,. Kontrasepsi, Dalam Ilmu Kandungan. Jakarta : PT Bima Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2008.
2. Saifuddin A B. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Edisi kedua. Jakarta;
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2012.
3. Handayani Sri. Buku Ajar Keluarga Berencana. Yogyakarta: Pustaka Rihama: 2010

4. Prinsip Pengelolaan program KIA. Disitasi dari: [Link]


suti/files/2010/03/[Link] . diakses
pada 26 April 2021
5. Buku Ajar KIA. . Disitasi dari: [Link]
content/uploads/2017/10/[Link]. diakses pada 26 April
2021
6.

Anda mungkin juga menyukai