NPHR Unit #2 PLTU Rembang Saat Overhaul
NPHR Unit #2 PLTU Rembang Saat Overhaul
Abstrak
Ketersedian energi listrik di sistem Jawa–Bali di dukung oleh beberapa pusat pembangkit listrik melalui jalur
tansmisi voltase tinggi 150 kV dan voltase ektra tinggi 500 kV untuk berlangsungnya ketersediaan energi listrik secara
andal dan terus–menerus. PLTU Rembang memiliki 2 unit yaitu unit #1 (#20) dan unit #2 (#10) yang memasok sistem
transmisi 150 kV. Performa unit sangat menentukan dalam pemenuhan tersebut. Pusat Pengatur Beban (P2B) akan
memilih pembebanan PLTU berdasarkan merit order. Merit order adalah tingkat prioritas suatu pembangkit termal
untuk di dispatch dalam suatu sistem. Hal ini disebabkan oleh net plant heat rate (NPHR) dan harga bahan bakar. Akibat
yang terjadi pada pembangkit dengan peringkat merit order rendah akan diprioritaskan turun beban terlebih dahulu
atau naik beban paling akhir. NPHR merupakan salah satu indeks kinerja pembangkit termal. Semakin rendah NPHR
maka semakin tinggi efisiensi pembangkit tersebut. Permasalahan yang terjadi dalam penentuan NPHR PLTU Rembang
saat 2 unit beroperasi adalah kurang akurat karena beban listrik pemakaian sendiri masing-masing unit tidak berasal
seluruhnya dari gross output generatornya, melainkan juga dibebankan oleh unit yang satunya. Terutama untuk
pemakaian unit common seperti water treatment plant (WTP), desalination plant serta coal & ash handling plant karena
di suplai oleh salah satu unit. Solusinya dengan mencari nilai NPHR ketika salah satu unit shutdown, agar dapat
diketahui nilai NPHR yang lebih akurat.
Penelitian ini membahas tentang penggunaan metode direct untuk mencari NPHR pada unit #2 PLTU Rembang
ketika unit #1 sedang overhaul. Metode direct adalah metode input-output yang hanya memerlukan bahan bakar sebagai
input dan daya listrik sebagai output. Batubara yang digunakan adalah jenis low rank coal (LRC) senilai 4200–4500
kcal dan medium rank coal (MRC) senilai 4500–4800 kcal. Gross output generator memiliki rated power 300 MW sedang
daya untuk pemakaian sendiri memiliki rated power 50 MVA. Nilai NPHR ditentukan dengan menghitung perkalian
konsumsi dan nilai kalori batubara dibagi terhadap nett output generator. Nett ouput generator ditentukan dengan
mengurangi gross output generator terhadap daya pemakain sendiri Trafo Universal Auxiliary Transformer.
Hasil menunjukan bahwa NPHR memiliki nilai paling rendah jika unit berbeban maksimum 300 MW gross. Dari
hasil perhitungan didapati bahwa pada beban rata-rata 299,5 MW hingga 302,4 MW gross, NPHR rata-rata pada
unit #2 ketika overhaul lebih rendah dibanding dengan data PLN Pu slitbang Januari 2017 yaitu masing–masing
2.544,34 kcal/kWh dan 2.788 kcal/kWh. Demikian pula NPHR unit #2 sebelum dan sesudah overhaul unit #1
masing–masing 2.497 kcal/kWh dan 2.688 kcal/kWh . Sedang faktor-faktor yang menentukan nilai NPHR antara lain
pembebanan listrik, nilai kalor bahan bakar serta pemakaian listrik untuk keperluan sendiri.
1|Page
(NPHR) dan harga bahan bakar. Ketika NPHR kecil maka 2. Mencari net plant heat rate (NPHR) terendah guna
biaya pembangkitan listrik juga akan lebih rendah [2]. mengetahui efisiensi uit optimal.
Akibat dari permasalahan tersebut maka diperlukan 3. Mengamati faktor–faktor yang memengaruhi nilai
perhitungan dan analisis NPHR ketika salah satu unit shut net plant heat rate (NPHR)
down. Maka dilakukan analisa NPHR unit 2 (#10) pada
PLTU Rembang ketika unit 1 (#20) sedang simple II. LANDASAN TEORI
inspection (overhaul) pada bulan Juli 2019. Nilai NPHR 2.1. Pusat Listrik Tenaga Uap
ditentukan dengan menghitung nilai kalori batubara dibagi Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah salah satu
terhadap nett output generator menggunakan direct jenis unit pembangkit listrik termal dengan fluida kerja uap
methode. Metode direct digunakan pada penelitian ini dalam proses produksi listriknya.
karena hanya memerlukan data pemakaian batubara, nilai
kalor bahan bakar serta produksi energi listrik. Net ouput
generator ditentukan dengan mengurangi gross output
generator terhadap daya pemakain sendiri.
Solusi dari permasalahan tersebut adalah dilakukan
perhitungan net plant heat rate (NPHR) unit #2 PLTU
Rembang yang berdasarkan pengujian oleh PT PLN
(Persero) Puslitbang pada Januari 2017 untuk NPHR unit
#2 pada beban gross 300 MW, 255 MW, 225 MW dan 150
MW adalah masing–masing 2788 kcal/kWh, 2811
kcal/kWh, 2845 kcal/kWh, 2788 kcal/kWh [3].
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini membahas Gambar 2.1. Siklus PLT U batubara
tentang metode direct untuk mengetahui net plant heat rate Proses ini melalui beberapa tahap menggunakan
unit #2 PLTU Rembang ketika simple inspection peralatan penunjang seperti air baku untuk diproses
(overhaul) unit #1. menjadi uap yang kebutuhannya cukup banyak, oleh
karena itu pada umumnya PLTU dibangun di dekat laut. Di
1.2. Perumusah Masalah samping memudahkan mendapatkan air baku untuk diolah
Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan menjadi air tawar, air laut juga digunakan sebagai media
inti masalah yang diselesaikan pada penelitian ini: pendingin peralatan utama dan bantu serta memudahkan
1. Bagaimana perbandingan net plant heat rate (NPHR) sarana transportasi bahan bakar. Peralatan utama pada
unit #2 dibanding dengan hasil perhitungan PLN sebuah unit PLTU antara lain: Boiler, Turbin Uap,
Pusllitbang saat unit #1 dan #2 beroperasi? Generator dan Kondenser.
2. Pada kondisi bagaiman net plant heat rate (NPHR) PLTU sebagai pembangkit termal sesuai Gambar 2.1
unit #2 memiliki nilai terendah? dengan media kerja uap memerlukan bahan bakar (energi
3. Faktor apa saja yang memengaruhi net plant heat rate kimia) untuk menghasilkan energi panas melalui proses
(NPHR)? pembakaran di boiler.
Energi panas merubah fase air menjadi uap, uap
1.3. Batasan Masalah panas ini selanjutnya diubah menjadi energi mekanik oleh
Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah turbin dan lebih lanjut energi mekanik diubah menjadi
sebagi berikut: energi listrik oleh generator yang seporos dengan turbin.
1. Pembangkit yang ditinjau adalah PLTU Rembang Uap hasil kerja mekanis kemudian diembunkan kembali
unit #2 kapasitas mapu 300 MW gross. oleh kondenser menjadi air pengisi pada siklus tertutup
2. Pembebanan disesuaikan dengan permintaan [4].
Pelaksana Pengatur Beban (P2B).
3. Perhitungan NPHR menggunakan metode direct 2.2. Pengenalan Energi
yaitu bahan bakar sebagai energi input dan daya Energi didefinisikan sebagai kapasitas sistem tubuh
listrik sebagai energi ouput. untuk melakukan pekerjaan mekanis. Pemanfaatan dan
4. Penelitian ini tidak membahas secara detail mengeni kontrol energi pada dasarnya menentukan produktivitas
harga batubara dan penjualan energi listrik. dan kemajuan gaya hidup masyarakat. Energi disimpan di
5. Standar pembanding yang digunakan dalam alam dalam beberapa bentuk seperti bahan bakar fosil (batu
penelitian ini adalah hasil perhitungan PLN bara, minyak bumi, dan gas alam), radiasi sinar matahari
Puslitbang pada saat unit #1 dan #2 beroperasi. dan dalam bentuk pasang surut air laut, hidro, angin, panas
bumi dan nuklir.
1.4. Tujuan Energi di alam tidak disimpan dalam bentuk listrik.
Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah: Namun, energi listrik mudah ditransmisikan dalam jarak
1. Mengetahui net plant heat rate (NPHR) PLTU yang sangat jauh dan memenuhi kebutuhan pelanggan
Rembang unit #2 dibandingkan data PLN Puslitbang melalui kontrol yang memadai. Lebih dari 40% energi
2|Page
diubah menjadi energi listrik sebelum digunakan, sebagian akan dipilih untuk dianalisis adalah unit #2 pada PT PJB
besar melalui generator listrik yang mengubah energi UBJOM Rembang. Dengan pentingnya mengetahui net
mekanik menjadi energi listrik. Kerja dan energi memiliki plant heat rate (NPHR) ketika unit #1 shutdown maka akan
unit yang identik [5]. dilakukan analisis NPHR pada unit #2 PLTU Rembang.
Unit dasar energi adalah 1 Joule, yang Gambar 3.1 menunjukkan daerah perhitungan NPHR.
merepresentasikan kerja gaya 1 Newton dalam
menggerakkan benda melalui jarak 1 meter sepanjang arah
gaya, sesuia persamaan (1).
1 Joule = 1 Newton × 1 meter (1)
Tenaga listrik adalah laju energi listrik, dan unit dasarnya
adalah 1 Watt = 1 Joule/detik. Energi listrik lebih umum
diukur dalam kilowatt-jam (kWh), sesuai persamaan (2).
1 kW = 3,6 × 106 Joule (2) Gambar 3.1. Model Penelitian
Energi termal biasanya diukur dalam kalori (cal).
Menurut definisi, 1 cal adalah jumlah panas yang Ruang lingkup penelitian dalam penentuan nett plant
diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gram air dari 15º heat rate (NPHR) unit #2 meliputi boiler, turbin-generator
Celcius menjadi 16º Celcius. Kilokalori (kcal) bahkan dan trafo UAT. Sebelum ditransfer menuju boiler, batubara
lebih umum (1 kcal = 103 cal). akan digerus di dalam pulverizermil menjadi serbuk halus
Karena energi adalah konsep terpadu, seperti yang berukuran 200 mesh (74 microns) kemudian dengan
diharapkan, joule dan kalori berbanding lurus seperti bantuan Primary Air Fan ditransport menuju ruang bakar
persamaan (3) hingga (5): untuk menghasilkan uap peggerak utama turbin-generator.
1 kcal = 4,186 Joule (3) Pembebanan unit #2 sesuai permintaan PLN Pusat
Unit yang lebih besar untuk energi termal adalah British Pengatur Beban (P2B), kWh meter gross menunjukan nilai
thermal unit (BTU): luaran generator sebelum trafo UAT. Counter kWh dan
1 BTU = 1055 J = 252 cal (4) kVAr gross berada pada ruang Central Control Room
Unit yang masih lebih besar adalah quad (quadrillion (CCR) sedang counter kWh dan kVAr UAT untuk
BTU): pemakaian sendiri berada di panel MV Room lokal turbin.
1 quad 1015 BTU = 1,55 ×1018 Joule (5) KWh meter UAT mencatat beban untuk pemakain sendiri
seperti compessor, pompa, fan dan peralatan unit common
2.3. Metode Langsung Sebagai Perhitungan Heat plant. Sedang kWh netto merupakan selisih antara kWh
Rate meter goss terhadap kWh meter UAT. Diagram satu garis
Heat rate mengukur seberapa efisien pembangkit counter kWh meter pada unit #2 dipelihatkan Gambar 3.2.
termal mengubah energi panas menjadi energi listrik.
Energi panas diukur dalam kcal. Heat rate mengukur
jumlah energi panas (kcal) yang dibutuhkan untuk
menghasilkan 1 kWh listrik. Di dunia yang sempurna,
pembangkit ynag membakar 0,86 kcal batubara akan
menghasilkan 1 kWh listrik, akan tetapi kenbanyakan Gambar 3.2. Single Line Diagram Pencatatan kWh meter
energi panas hilang pada proses dan tidak semua diubah ke
listirk [6]. Luaran generator memiliki voltase sebesar 20 kV,
Net Plant Heat Rate dapat dihitung dengan kemudian oleh main trafo dinaikkan menjadi 150 kV untuk
persamaan (6): ditransmisikan ke gardu induk (GI). Sedangkan trafo UAT
merupakan jenis step down transformer yang mengubah nilai
NPHR = (B × HHV) ÷ Net GGO (6)
voltase dari 20 kV menjadi 6,3 kV untuk pemakaian sendiri.
dengan:
B = jumlah pemakaian batubara (kg)
3.2. Metode Direct
HHV = nilai kalori batubara per kg (kcal/kg)
Net GGO = selisih gross generator output dengan Penelitian dalam mengetahui nlai net plant heat rate
UAT (kWh) (NPHR) pada unit #2 PLTU Rembang dipilih metode
UAT = pemakaian listrik keperluan langsung (direct metode). Pengambilan data produksi
sendiri (kWh) [7]. energi listrik menggunakan energi meter (kWh meter) yang
terpasang di unit, meliputi produksi energi gross dan produ
ksi energi netto. Pemakaian energi gross dicatat pada
III. Metode Penelitian komputer DCS Central Control Room (CCR) sedang
3.1. Model Penelitian konsumsi energi untuk pemakaian sendiri dicatat dari kWh
Penelitian ini mengambil lokasi di PLTU Rembang meter trafo UAT (unit auxiliary transformer) sedangkan
yang berlokasi pada Jl. Raya Semarang–Surabaya Km. 130 pemakaian energi untuk pemakaian peralatan common
Kec. Sluke, Kab. Rembang, Jawa Tengah. Unit PLTU yang (seperti Coal & Ash Handling System dan Water
3|Page
Treatment Plant dicatat dari kWh meter trafo SST (Station tersebut secara umum mencakup boiler, turbin-generator
Service Transformer). serta main & auxiliary trafo.
Peralatan common bekerja untuk 2 unit pembangkit, Tahap II
sehingga pemakaian common masing-masing unit adalah Meliputi pengumpulan data penelitian melalui
pemakaian SST dibagi dengan kedua unit yang beroperasi. laporan operasi harian produksi PLTU Rembang unit #2
Dalam penelitian ini, dikarenakan unit #20 shutdown maka untuk mengetahui totalizer batubara, nilai kalor batubara
pemakaian SST berasal dari unit #10. Pengukuran serta totalizer net kWh generator.
pemakaian bahan bakar diperoleh dari pencatatan totalizer Tahap III
counter pada semua coal feeder yang beroperasi. Meliputi pengolahan data dan analisis perhitungan
Pengambilan data di peroleh dari pencatan operator di lokal net plant heat rate (NPHR) unit #2.
maupun di CCR (Central Control Room). Tahap IV
Setelah mendata masing–masing bahan bakar dan Meliputi evaluasi dan analisa dari hasil pengujian net
daya listrik, dilakukan analisis NPHR menggunakan plant heat rate (NPHR). Kemudian membandingkan nilai
metode direct untuk mengetahui unjuk kerja unit #2. hasil perhitungan dengan PLN Puslitbang.
Kemudian dilakukan perbandingan dengan nilai NPHR Tahap V
yang dilakukan oleh PT PLN Puslitbang. Dari hasil Meliputi penyusunan kesimpulan dari hasil analisa
perhitungan oleh PT PLN Puslitbang diperoleh hasil yang telah dilakukan.
NPHR yang yang akan dijabarkan pada Tabel 3.1.
IV. HASIL DAN ANALISIS
Tabel 3.1. Hasil Perhitungan PLN Puslitbang Unit #2 4.1. Penentuan Data
Hasil
Pembebanan Hasil Pengukuran Analisa
Hasil
Perhitungan
Dengan merujuk model penelitian Gambar 3.1 dan
(Load
Setting
Lab data hasil perhitungan NPHR oleh PLN Puslitbang Unit #2
Konsumsi
Gross ) Bahan
Energi Energi Nilai Kalor
Gross Netto HHV-Ar
NPHR pada Tabel 3.1 maka penelitian pada Bab IV ini akan
Bakar dilakukan analisis perhitungan net plant heat rate (NPHR)
% MW kg MWh MWh kcal/kg kcal/kWh
50 150 109.510 153 137 4.042 3.229 dengan metode direct pada unit #2 PLTU Rembang.
75 225 146.291 225 211 4.047 2.811 Analisis yang dibahas pada bab IV ini meliputi input data
85 255 163.920 255 239 4.149 2.845 pada operasi PLTU Rembang menggunakan laporan
100 300 191.980 300 282 4.098 2.788
operasi harian (LOH) pembangkit yang disusun oleh
operator produksi.
3.3. Tahapan Penelitian Laporan harian operasi pada Tabel 4.1 hingga Tabel
Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan. 4.3 tersusun data yang diperoleh pada shift pagi di awali
Gambar 3.3 menunjukkan alur penelitian yang ditempuh pukul 6:00 hingga 14:00 yang meliputi konsumsi batubara
untuk mengetahui net plant heat rate (NPHR) unit #2 (kg), nilai kalor bahan bakar batubara (kcal/kg), produksi
PLTU Rembang.. energi listrik neto (kWh) serta beban gross generator
(kWh). Pemilihan tanggal tersebut dimaksudkan untuk
memastikan bahwa semua konsumsi daya peralatan
common plant berasal dari unit #2.
Pengambilan data produksi energi meter (kWh meter)
yang terpasang di unit, meliputi produksi energi gross,
produksi energi netto. Konsumsi energi untuk pemakaian
sendiri dicatat dari kWh meter trafo UAT (unit auxiliary
transformer). Pengukuran pemakaian bahan bakar
diperoleh dari pencatatan totalizer counter pada semua coal
feeder yang beroperasi saat pengujian. Pencatatan
pemakaian listrik untuk keperluan sendiri berada di main
voltage (MV) room turbin pada busbar A dan B.
Sedangkan pencatatan nilai daya gross generator berada
pada central control room (CCR). Untuk penentuan nilai
kalor batubara pada penelitian ini menggunakan HHV
(higher heating value) yang diperoleh dari hasil uji
Gambar 4. Diagram alur penelitian laboratorium.
Berdasarkan data tersebut maka dilakukan perhitungan
Gambar 3.3 merupakan langkah penelitian yang net plant heat rate (NPHR) pada PLTU Rembang unit #2
ditempuh. Berikut adalah penjabaran tahapan yang dilalui: pada saat, sebelum dan setelah unit #1 shutdown. Setelah
Tahap I diperoleh hasil maka akan dilakukan analisis serta
Dilakukan penentuan model penelitian dari PLTU membandingkan hasil tersebut dengan PLN Puslitbang
Rembang untuk memetakan objek permasalahan. Model ketika kedua unit beroperasi.
4|Page
Tabel 4.1. Data Produksi Unit #2 saat Unit #1 saat Overhaul Tabel 4.3. Data Produksi Unit #2 setelah Overhaul Unit #1
Totalizer Kalor Produksi Totalizer Kalor Produksi
Coal Batubara Energi Net
Beban Beban
No Tanggal Gross Coal Batubara Energi Net
Feeder (kg) (kcal/kg) (kWh) No Tanggal Gross
(MW) Feeder (kg) (kcal/kg) (kWh)
(B) (HHV) (Net GGO) (MW)
(B) (HHV) (Net GGO)
1 07-Jul-19 1.481.430 4.380,61 2.264.387,56 301,3
1 20-Agu-19 1.381.890 4.221,77 2.248.387 299,9
2 08-Jul-19 1.474.230 4347,64 2.271.966,45 301,4
3 09-Jul-19 1.276.970 4.218,71 2.272.009,77 301,8 2 21-Agu-19 1.388.150 4339,99 2.265.722 301,6
4 10-Jul-19 1.316.000 4.220,30 2.256.622,08 300,1 3 22-Agu-19 1.385.900 4.328,40 2.253.814 300,8
5 11-Jul-19 1.329.570 4.290,60 2.265.935,09 301,4 4 23-Agu-19 1.299.182 4.264,66 2.198.731 293,9
6 12-Jul-19 1.324.890 4.358,44 2.274.798,63 301,4
5 24-Agu-19 1.279.072 4.304,95 2.243.531 299,8
7 13-Jul-19 1.270.300 4.258,13 2.264.836,22 301,1
8 14-Jul-19 782.940 4.362,44 1.155.978,05 160,1 6 25-Agu-19 1.365.950 4.325,50 2.197.995 295,4
9 15-Jul-19 1.357.900 4.260,92 2.258.198,05 300,3 7 26-Agu-19 1.479.720 4.479,87 2.228.706 298
10 16-Jul-19 1.348.800 4.219,47 2.254.057,17 300,3
8 27-Agu-19 1.474.290 4.216,92 2.216.653 296,2
11 17-Jul-19 1.250.980 4.218,06 2.209.697,31 293,6
12 18-Jul-19 1.314.149 4.326,41 2.267.744,38 301,3 9 28-Agu-19 1.467.600 4.328,74 2.237.061 299,1
13 19-Jul-19 1.288.730 4.323,65 2.262.967,63 299,6 10 29-Agu-19 1.431.110 4.191,36 2.244.514 300,4
14 20-Jul-19 1.407.750 4.351,16 2.265.953,36 300,3 11 30-Agu-19 1.385.800 4.266,75 2.232.028 297,9
15 21-Jul-19 1.382.700 4.327,00 2.257.281,41 299,9
12 31-Agu-19 1.374.420 4.239,08 2.251.755 300,5
16 22-Jul-19 1.370.150 4.207,98 2.258.515,47 299,9
17 23-Jul-19 1.298.560 4.477,12 2.262.990,17 299,3 13 01-Sep-19 1.068.920 4.236,55 1.625.169 220,2
18 24-Jul-19 1.291.880 4.213,98 2.266.645,91 301,5 14 02-Sep-19 1.475.660 4.355,12 2.235.241 299,5
19 25-Jul-19 1.340.220 4.281,25 2.265.644,06 300,8
15 03-Sep-19 1.367.170 4.237,59 2.244.914 300,5
20 26-Jul-19 1.210.880 4.217,26 2.255.998,48 301,5
21 27-Jul-19 1.317.490 4.594,00 2.263.789,67 301,9
16 04-Sep-19 1.417.350 4.238,65 2.244.328 299,9
22 28-Jul-19 1.349.610 4.356,57 2.154.037,57 289,4 17 05-Sep-19 1.547.680 4.388,73 2.243.938 298,9
18 06-Sep-19 1.409.260 4.249,00 2.233.311 299,1
Tabel 4.2. Data Produksi Unit #2 sebelum Overhaul Unit #1 19 07-Sep-19 1.459.480 4.358,48 2.247.022 300,2
Totalizer Kalor Produks i
Beban
Coal Batubara Energi Net 20 08-Sep-19 1.466.840 4.354,24 2.247.239 300,3
No Tanggal Gros s
Feeder (kcal/kg) (kWh)
(MW) 21 09-Sep-19 1.490.660 4.302,00 2.245.955 284,2
(kg) (B) (HHV) (Net GGO)
1 01-Jun-19 1.207.850 4.060,96 1.902.158 252,8 22 10-Sep-19 1.403.630 4.358,28 2.245.012 300,5
2 02-Jun-19 1.151.430 4269,4 1.804.096 241,8 23 11-Sep-19 765.600 4.594,00 1.083.116 150,6
3 03-Jun-19 1.303.749 4.061,61 2.055.370 273,9
4 04-Jun-19 1.279.239 4.061,44 2.047.786 275,4
24 12-Sep-19 1.381.100 4.394,83 2.246.305 300,1
5 05-Jun-19 1.028.240 4.223,99 1.768.773 235,6 25 13-Sep-19 1.410.220 4.284,91 2.247.916 301
6 06-Jun-19 1.229.380 4.216,96 2.277.253 300,1 26 14-Sep-19 1.407.290 4.285,25 2.250.356 299,5
7 07-Jun-19 1.139.590 4.224,14 2.017.621 265,9
27 15-Sep-19 1.287.780 4.363,34 2.016.374 270,8
8 08-Jun-19 1.187.280 4.297,86 2.052.595 269,6
9 09-Jun-19 1.184.580 4.257,03 1.933.652 256,1 28 16-Sep-19 1.616.880 3.924,48 2.220.504 295,9
10 10-Jun-19 1.309.340 4.258,77 2.221.660 292,7 29 17-Sep-19 1.477.540 4.358,11 2.389.650 300,3
11 11-Jun-19 1.063.590 4.093,27 1.846.630 245,5
30 18-Sep-19 1.485.690 4.354,51 2.241.840 300,1
12 12-Jun-19 1.430.211 4.274,18 2.308.056 302,4
13 13-Jun-19 1.415.770 4.228,96 2.277.423 300,3 31 19-Sep-19 1.447.680 4.387,64 2.232.109 298,9
14 14-Jun-19 1.397.500 4.364,73 2.279.923 300,1 32 20-Sep-19 1.395.910 4.432,86 2.243.556 299,9
15 15-Jun-19 1.219.719 4.108,22 2.287.680 281,7
16 16-Jun-19 1.330.410 4.390,74 2.276.950 299,6
17 17-Jun-19 1.328.440 4.130,60 2.261.069 298,1 4.2. Hasil NPHR
18 18-Jun-19 1.335.790 4.147,40 2.277.304 300,7 Metode direct digunakan untuk mencari nilai net plant
19 19-Jun-19 1.179.860 4.343,24 2.273.727 299,9 heat rate (NPHR) pada Tabel 2 hinggga Tabel 4.1
20 20-Jun-19 1.344.350 4.053,41 2.275.611 300,1 menggunakan persamaan (6) berikut:
21 21-Jun-19 1.446.290 4.358,76 2.248.328 298,5
NPHR = B × HHV / Net GGO
22 22-Jun-19 1.502.260 4.339,56 2.276.816 300,1
23 23-Jun-19 1.281.930 4.481,31 1.981.912 282,9
24 24-Jun-19 1.417.440 4.479,80 2.260.743 297,7
Untuk NPHR pada 7 Juli 2019 sebagai berikut:
25 25-Jun-19 1.407.720 4.480,54 2.402.361 298
= (1.481.430kg×4.380,61kcal/kg)/2.264.387,56 kWh
26 26-Jun-19 1.329.620 4.453,38 2.271.490 299,7 = 2.865,93 kcal /kWh
27 27-Jun-19 1.329.180 4.334,69 2.285.462 301,2
28 28-Jun-19 1.280.770 4.135,38 2.288.830 300,7 Sedang perhitungan NPHR Unit #2 saat unit #1
29 29-Jun-19 1.308.500 4.056,72 2.290.499 301,8 overhaul (OH), sebelum dan setelahnya disajikan pada
30 30-Jun-19 1.259.010 4.360,12 2.291.456 301,9 Tabel 4.4 hingga Tabel 4.6.
5|Page
Tabel 4.4. Hasil NPHR unit #2 saat Unit #1 Overhaul Tabel 4.6. Hasil NPHR Unit #2 setelah Overhaul Unit #1
Totalizer Kalor Produksi Totalizer Kalor Produksi
Beban Beban
Coal Batubara Energi Net NPHR Coal Batubara Energi Net NPHR
No Tanggal Gross No Tanggal Gross
Feeder (kg) (kcal/kg) (kWh) (kcal/kWh) Feeder (kcal/kg) (kWh) (kcal/kWh)
(MW) (MW)
(B) (HHV) (Net GGO) (kg) (HHV) (Net GGO)
1 07-Jul-19 1.481.430 4.380,61 2.264.388 2865,93 301,3 1 20-Agu-19 1.381.890 4.221,77 2.248.387 2594,76 299,9
2 08-Jul-19 1.474.230 4347,64 2.271.966 2821,09 301,4 2 21-Agu-19 1.388.150 4339,99 2.265.722 2659 301,6
3 09-Jul-19 1.276.970 4.218,71 2.272.010 2371,1 301,8 3 22-Agu-19 1.385.900 4.328,40 2.253.814 2661,59 300,8
4 10-Jul-19 1.316.000 4.220,30 2.256.622 2461,16 300,1 4 23-Agu-19 1.299.182 4.264,66 2.198.731 2519,89 293,9
5 11-Jul-19 1.329.570 4.290,60 2.265.935 2517,57 301,4 5 24-Agu-19 1.279.072 4.304,95 2.243.531 2454,32 299,8
6 12-Jul-19 1.324.890 4.358,44 2.274.799 2538,45 301,4 6 25-Agu-19 1.365.950 4.325,50 2.197.995 2688,09 295,4
7 13-Jul-19 1.270.300 4.258,13 2.264.836 2388,3 301,1 7 26-Agu-19 1.479.720 4.479,87 2.228.706 2974,35 298
8 14-Jul-19 782.940 4.362,44 1.155.978 2954,67 160,1 8 27-Agu-19 1.474.290 4.216,92 2.216.653 2804,66 296,2
9 15-Jul-19 1.357.900 4.260,92 2.258.198 2562,18 300,3 9 28-Agu-19 1.467.600 4.328,74 2.237.061 2839,83 299,1
10 16-Jul-19 1.348.800 4.219,47 2.254.057 2524,88 300,3 10 29-Agu-19 1.431.110 4.191,36 2.244.514 2672,42 300,4
11 17-Jul-19 1.250.980 4.218,06 2.209.697 2387,98 293,6 11 30-Agu-19 1.385.800 4.266,75 2.232.028 2649,1 297,9
12 18-Jul-19 1.314.149 4.326,41 2.267.744 2507,14 301,3 12 31-Agu-19 1.374.420 4.239,08 2.251.755 2587,44 300,5
13 19-Jul-19 1.288.730 4.323,65 2.262.968 2462,26 299,6 13 01-Sep-19 1.068.920 4.236,55 1.625.169 2786,5 220,2
14 20-Jul-19 1.407.750 4.351,16 2.265.953 2703,21 300,3 14 02-Sep-19 1.475.660 4.355,12 2.235.241 2875,16 299,5
15 21-Jul-19 1.382.700 4.327,00 2.257.281 2650,51 299,9 15 03-Sep-19 1.367.170 4.237,59 2.244.914 2580,72 300,5
16 22-Jul-19 1.370.150 4.207,98 2.258.515 2552,81 299,9 16 04-Sep-19 1.417.350 4.238,65 2.244.328 2676,81 299,9
17 23-Jul-19 1.298.560 4.477,12 2.262.990 2569,08 299,3 17 05-Sep-19 1.547.680 4.388,73 2.243.938 3026,98 298,9
18 24-Jul-19 1.291.880 4.213,98 2.266.646 2401,77 301,5 18 06-Sep-19 1.409.260 4.249,00 2.233.311 2681,2 299,1
19 25-Jul-19 1.340.220 4.281,25 2.265.644 2532,54 300,8 19 07-Sep-19 1.459.480 4.358,48 2.247.022 2830,91 300,2
20 26-Jul-19 1.210.880 4.217,26 2.255.998 2263,56 301,5 20 08-Sep-19 1.466.840 4.354,24 2.247.239 2842,14 300,3
21 27-Jul-19 1.317.490 4.594,00 2.263.790 2673,64 301,9 21 09-Sep-19 1.490.660 4.302,00 2.245.955 2855,27 284,2
22 28-Jul-19 1.349.610 4.356,57 2.154.038 2729,61 289,4 22 10-Sep-19 1.403.630 4.358,28 2.245.012 2724,89 300,5
23 11-Sep-19 765.600 4.594,00 1.083.116 3247,27 150,6
Tabel 4.5. Hasil NPHR Unit #2 sebelum Overhaul Unit #1 24 12-Sep-19 1.381.100 4.394,83 2.246.305 2702,08 300,1
Totalizer Kalor Produksi 25 13-Sep-19 1.410.220 4.284,91 2.247.916 2688,12 301
Beban
Coal Batubara Energi Net NPHR 26 14-Sep-19 1.407.290 4.285,25 2.250.356 2679,84 299,5
No Tanggal Gross
Feeder (kcal/kg) (kWh) (kcal/kWh)
(MW) 27 15-Sep-19 1.287.780 4.363,34 2.016.374 2786,7 270,8
(kg) (HHV) (Net GGO)
1 01-Jun-19 1.207.850 4.060,96 1.902.158 2578,67 252,8
28 16-Sep-19 1.616.880 3.924,48 2.220.504 2857,65 295,9
2 02-Jun-19 1.151.430 4269,4 1.804.096 2724,87 241,8 29 17-Sep-19 1.477.540 4.358,11 2.389.650 2694,66 300,3
3 03-Jun-19 1.303.749 4.061,61 2.055.370 2576,33 273,9 30 18-Sep-19 1.485.690 4.354,51 2.241.840 2885,78 300,1
4 04-Jun-19 1.279.239 4.061,44 2.047.786 2537,16 275,4 31 19-Sep-19 1.447.680 4.387,64 2.232.109 2845,7 298,9
5 05-Jun-19 1.028.240 4.223,99 1.768.773 2455,53 235,6 32 20-Sep-19 1.395.910 4.432,86 2.243.556 2758,07 299,9
6 06-Jun-19 1.229.380 4.216,96 2.277.253 2276,53 300,1
7 07-Jun-19 1.139.590 4.224,14 2.017.621 2385,87 265,9 4.3. Hubungan antara Pembebanan dengan Heat Rate
8 08-Jun-19 1.187.280 4.297,86 2.052.595 2486,01 269,6
Pembebanan pembangkit sangat memengaruhi hasil
9 09-Jun-19 1.184.580 4.257,03 1.933.652 2607,91 256,1
10 10-Jun-19 1.309.340 4.258,77 2.221.660 2509,92 292,7
NPHR unit #2, semakin tinggi pembebanan atau unit
11 11-Jun-19 1.063.590 4.093,27 1.846.630 2357,57 245,5 melayani daya mampu maksimum maka nilai NPHR
12 12-Jun-19 1.430.211 4.274,18 2.308.056 2648,54 302,4 cenderung rendah demikian juga sebaliknya. Hal ini dapat
13 13-Jun-19 1.415.770 4.228,96 2.277.423 2628,95 300,3 dilihat pada Grafik 4.1 saat unit #1 overhaul. Fenomena ini
14 14-Jun-19 1.397.500 4.364,73 2.279.923 2675,4 300,1 terdapat pula pada Grafik 4.2 sebelum unit #1 overhaul dan
15 15-Jun-19 1.219.719 4.108,22 2.287.680 2190,38 281,7 Grafik 4.3 setelah unit #1 overhaul.
16 16-Jun-19 1.330.410 4.390,74 2.276.950 2565,49 299,6
17 17-Jun-19 1.328.440 4.130,60 2.261.069 2426,84 298,1
18 18-Jun-19 1.335.790 4.147,40 2.277.304 2432,73 300,7
19 19-Jun-19 1.179.860 4.343,24 2.273.727 2253,75 299,9
20 20-Jun-19 1.344.350 4.053,41 2.275.611 2394,61 300,1
21 21-Jun-19 1.446.290 4.358,76 2.248.328 2803,88 298,5
22 22-Jun-19 1.502.260 4.339,56 2.276.816 2863,27 300,1
23 23-Jun-19 1.281.930 4.481,31 1.981.912 2898,58 282,9
24 24-Jun-19 1.417.440 4.479,80 2.260.743 2808,74 297,7
25 25-Jun-19 1.407.720 4.480,54 2.402.361 2625,48 298
26 26-Jun-19 1.329.620 4.453,38 2.271.490 2606,79 299,7
27 27-Jun-19 1.329.180 4.334,69 2.285.462 2520,97 301,2
28 28-Jun-19 1.280.770 4.135,38 2.288.830 2314,05 300,7
29 29-Jun-19 1.308.500 4.056,72 2.290.499 2317,49 301,8 Grafik 4.1. Pengaruh Beban terhadap NPHR Unit #2 Saat
30 30-Jun-19 1.259.010 4.360,12 2.291.456 2395,61 301,9 OH Unit #1
6|Page
Grafik 4.2. Pengaruh Beban terhadap NPHR Unit #2 sebelum
OH Unit #1 Grafik 4.4. Pengaruh Batubara terhadap Beban Unit #2 Saat OH
Unit #1
Grafik 4.3. Pengaruh Beban terhadap NPHR Unit #2 Grafik 4.5. Pengaruh Batubara terhadap Beban Unit #2 sebelum
setelah OH Unit #1 OH Unit #1
5.2. Saran
Berdasarkan pengalaman dilapangan, kesulitan yang
dihadapi antara lain:
1. Ketepatan input data dari lokal tidak salalu on time
bila terdapat gangguan. Operator lapangan akan
menetralisir gangguan terlebih dahulu. Sehingga hal
8|Page