Pemberian Air Irigasi untuk Pertanian
Pemberian Air Irigasi untuk Pertanian
UNIVERSITAS RIAU
Kampus Bina Widya Km. 12,5 Simpang Baru Pekanbaru 28293
Telp. (0761) 63266 Fax. (0761) 63279
MAKALAH
PEMBERIAN AIR IRIGASI
OLEH KELOMPOK I :
Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala. Salawat dan salam
kita kirimkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Sallallahu-alaihiwasallam, karena
atas hidayah-Nyalah Makalah Pemberian Air Irigasi ini dapat diselesaikan. Makalah ini
penulis sampaikan kepada pembina mata kuliah Irigasi Pertanian sebagai salah
sala h satu syarat
kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa Penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu
yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis mengajar Irigasi Pertanian.
Penulis memohon kepada Bapak/Ibu dosen khususnya, umumnya para pembaca
apabila menemukan kesalahan atau kekurangan dalam karya tulis ini, baik dari segi
bahasanya maupun
maupun isinya, penulis mengharapkan
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
kepada semua pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang.
i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
DAFTAR PUSTAKA
ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.6 Sistem Kalenan Pemakaian Pipa – Pipa Atau Hevel .......................................7
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui sumber air irigasi yang akan digunakan
2. Mengetahui cara pemberian air irigasi
3. Mengetahui sistem irigasi yang digunakan
Manfaat penulisan makalah ini adalah :
Hasil dari penulisan makalah ini diharpakan dapat memberikan manfaat kepada
semua pihak untuk manambah wawasan dan pengetahuan dalam mata kuliah irigasi
pertanian kususnya tentang pemberian air irigasi.
2
BAB II
ISI
3
Waduk Jatiluhur terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta (±9 km dari
pusat Kota Purwakarta). Bendungan itu dinamakan oleh pemerintah Waduk Ir. H.
Juanda, dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha. Bendungan ini mulai dibangun
sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal Perancis, dengan potensi air yang tersedia sebesar
12,9 miliar m3/tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia.
4
dari satu. Misalnya air waduk selain untuk pertanian juga untuk perikanan, penanggulangan
banjir, pembangkit listrik dan pariwisata. Tetapi ada juga waduk yang hanya digunakan
untuk pertanian saja.
4. Air Danau
Merupakan genangan air yang sangat luas di daratan. Danau dapat dipandang sebagai
tempat penampungan (reservoir) air tawar di darat pada ketinggian tertentu di atas
permukaan laut yang bersumber dari mata air, air hujan, sungai, dan gletser.
5. Air Tanah
adalah dimana daerah penampungan (reservoir, reservation) air tanah terdapat di
lapisan bawah tanah tepatnya di dalam lapisan padat atau batuan yang biasanya terbentuk
dari bahan-bahan pasir atau kerikil, tufa vulkanis, batu gamping, dan beberapa bahan
lainnya. Lapisan penampungan air tanah ini lebih dikenal sebagai lapisan pengandung air
atau akuifer.
5
1. Pemberian Air Melalui Permukaan
a. Peluapan penggenangan bebas, jika debit air besar sehingga tinggi muka air
melampaui tanah di kiri kanannya (air akan bebas meluap ke kiri dan ke kanan).
Pada system irigasi kuno. Misalnya seperti yang dilaksanakan di Mesir, air
diberikan pada aeal irigasi dengan jalan peluapan penggenangan meliputi daerah
luas, dan pada daerah kiri kanan sungai yang relatif mempunyai permukaan datar.
b. Peluapan penggenangan terkendali, cara pemberian air dengan cara ini yaitu air
dialirkan dari parit pada satu sisi suatu petak sawah, air dialirkan ke petak sawah
yang telah ditentukan letaknya maupun ukurannya.
c. Sistem kalenan, cara pemberian air dengan cara ini yaitu penggenangan diberikan
pada kalenan-kalenan yang dibuat sejajar lajur-lajur tanaman, air diberikan pada
parit pemberi dengan menggunakan pipa atau hevel.
6
Gambar 2.5 Penggalian Parit pada Sistem Kalenan
d. Dengan petak penggenangan atau check sungai, yaitu sistem pemberian air yang
umumnya dipakai untuk tanaman buah-buahan dengan membuat cekungan di
bawah tanaman yang akan di airi. Proses pemberian air ke cekungan tersebut
dengan sistem pengairan terbuka.
7
2. Pemberian Air Melalui Bawah Permukaan atau Resapan
a. Peresapan dengan sistem terbuka. Pada sistem ini, air dialirkan pada saluran-
saluran yang telah mengelilingi suatu petak sawah, sehingga air dapat meresap ke
kiri dan ke kanan. Umumnya diberikan di bawah zone perakaran dan di atas muka
air tanah. Dengan adanya daya kapiler, maka air dapat naik ke atas sehingga air
dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tanaman.
b. Peresapan dengan saluran tertutup. Pada sistem ini, air dialirkan pada pipa porous
yang dimasukkan ke dalam tanah sehingga air dapat diserap dan dapat meresap ke
tanah disekitarnya. Cara ini jarang digunakan karena pipa porous yang digunakan
harus di tahan terhadap air (tidak cepat lapuk) dan juga pemasangannya mahal.
8
3. Pemberian Air dengan Penyiraman
a. Pemberian air dengan cara pancaran. Cara ini dipancarkan ke udara dengan
menggunakan pipa berporasi atau alat pancar yang bisa berputar untuk memperoleh
pemerataan, sehingga air jatuh di atas tanaman yang menyerupai hujan. Cara ini
sering disebut sprinkler irrigation.
b. Pemberian air dengan cara tetesan. Pemberian air dengan cara ini yaitu air dialirkan
dengan menggunakan pipa-pipa yang pada tempat tertentu diberi perlengkapan
jalur keluarnya air (lubang-lubang). Lubang tersebut diletakkan sedikit di atas tanah
tetapi tidak terlalu tinggi, sehingga air dapat menetes terus-menerus, cara ini biasa
disebut trickle irrigation.
9
2.5 Metode Drainase
Tujuan metode drainase adalah untuk membuang air berlebihan keluar dari areal
irigasi supaya air tidak merendam tanaman dan naik sampai zona perakaran.
Metode drainase terdiri dari:
1. Drainasi bawah permukaan
2. Drainasi permukaan
Penentuan kapasitas drainase terdiri dari :
1. Kapasitas ditentukan hanya untuk melindungi tanaman sampai batas tertentu
2. Jangan sampai over flow, pertanian bias gagal
3. Didasarkan pada kondisi hidrologi, kebutuhan tanaman dan analisa ekonomi
Masalah drainase didaerah pantai atau daerah rendah adalah :
1. Kemiringan muka tanah relatif landai, demikian juga sungai
2. Pengaruh pasang surut terasa, kadang-kadang dominan_penyebab kesulitan
3. Adanya Intrusi air asin
4. Sungai bermeander, kadang bercabang
5. Bentuk sungai tidak stabil, cepat berubah-ubah
6. Elevasi muka tanah rendah, hampir rata dengan muka air sungai/laut rata2
Masalah drainase dipantai untuk pertanian adalah :
1. Terhambatnya aliran dari sungai ke laut, adanya luapan di petak sawah
2. Mengalirnya air kelebihan dari petak sawah yang satu ke sawah yang lain
3. Hujan
4. Kenaikan muka air tanah
5. Rembesan air laut (intrusi)
Dasar penentuan kapasitas drainase adalah :
1. Analisa data hidrologi, pilih curah hujan yang ditentukan (misal : c.h selama t jam
dinyatakan dlm mm)
2. Tanpa free board
Q = debit aliran (m3/det)
f = koefisien pengaliran
Rt = curah hujan selama t jam (mm)
T = waktu pembuangan (jam)
A = luas daerah tampungan/tadah (ha)
Kecepatan di saluran (V) direncanakan, pilih bentuk tampang, makin ke hilir makin besar
ukurannya
10
2.6 Kualitas Air irigasi Pertanian
2.6.1 Faktor faktor yang mempengaruhi kualitas air
Ditinjau lebih jauh, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas air. Faktor-
faktor tersebut dibagi menurut 3 persyaratan yaitu fisika, kimia, dan mikrobiologis.
1. Dari segi fisika
a. Kekeruhan; tingkat kekeruhan harus rendah.
b. Warna; warnanya mendekati bening.
c. Rasa tawar; air yang baik tidak berasa (tawar).
d. Bau; air yang berkualitas tidak berbau.
e. Temperatur normal; jika normal, fitoplankton dapat hidup.
f. Tidak mengandung zat padatan, misalnya sampah plastik.
2. Dari segi kimia
a. Derajat keasaman harus 6-9 (menurut PP No. 82 tahun 2001)
b. Kesadahan (kandungan/ tingkat pengapuran).
c. Kandungan besi (Fe) dengan batas maksimal 1,0 mg/liter.
d. Alumunium (Al) menurut Menkes No. 82 tahun 2001 yaitu 0,2 mg/liter (maksimal).
Al menyebabkan air semakin berasa.
e. Zat organik, mempengaruhi flora dan fauna mikro dalam air.
f. Sulfat, mempengaruhi korositas pada besi.
g. Nitrat dan nitrit, mempengaruhi toksisitas darah manusia.
h. Klorida, juga mempengaruhi korositas.
i. Zink, batas maksimal 15 mg/liter. Lebih dari itu, air akan berasa pahit.
3. Dari segi mikrobologi
a. Tidak mengandung patogen seperti pada golongan coli, Salmonella tyhi, Vibrio
cholera, dll.
b. Tidak mengandung bakteri non patogen seperti Actinomycetes, Cledocera,
Phytoplankton coli, dll.
Manfaat mengetahui kualitas air bagi bidang pertanian adalah sebagai patokan atau
informasi primer dalam menentukan berbagai hal yang berkaitan dengan tingkat produksi
pertanian seperti menentukan tanaman yang cocok baik spesies maupun kultivar/
varietasnya. Contohnya, pH yang ditolerir oleh cabe tidaklah sama den gan padi dan bahkan
dalam 1 spesies (cabe keriting dan rawit) pun akan berbeda. Selain itu, kualitas air juga
menentukan tahan atau tidaknya tanaman untuk bertahan dalam cekaman toksin (racun)
11
pada air. Lalu, air yang berkualitas bagi bidang pertanian juga diharapkan merupakan air
yang “subur” yakni air yang mengandung zat organik dan anorganik atau mikroorganisme
baik (positif) sehingga secara tidak langsung dapat menentukan banyaknya biaya untuk
membeli pupuk tambahan.
12
( groundwater ) melalui pemetaan karakteristik air bawah tanah. Cara ini dapat
memberikan informasi mengenai sebaran, volume dan kedalaman sumber air untuk
mengembangkan irigasi suplemen.
Deteksi air bawah permukaan dapat dilakukan dengan menggunakan Terameter.
c. Pengalaman Sistem Irigasi Pertanian di Niigata J epang
Sistem irigasi pertanian milik Mr. Nobutoshi Ikezu di Niigata Prefecture. Di s ini
terlihat adanya manajemen persediaan air yang cukup pada pengelolaan pertaniannya.
Sekitar 3 km dari tempat tersebut tedapat sungai besar yang debit airnya cukup dan tidak
berlebih. Air sungai dinaikan ke tempat penampungan air menggunakan pompa
berkekuatan besar. Air dari tempat penampungan dialirkan menggunakan pipa-pipa air
bawah tanah berdiameter 30 cm ke pertanian di sekitarnya. Pada setiap pemilik sawah
terdapat tempat pembukaan air irigasi tersebut. Pembagian air ini bergilir berselang
sehari, yang berarti sehari keluar, sehari tutup. Penggunaannya sesuai dengan kebutuhan
sawah setempat yang dapat diatur menggunakan tuas yang dapat dibuka tutup secara
manual. Dari pintu pengeluaran air tersebut dialirkan ke sawahnya melalui pipa yang
berada di bawah permukaan sawahnya. Kalau di tanah air kita pada umumnya air
dialirkan melalui permukaan sawah. Sedangkan untuk mengatur ketinggian air
dilakukan dengan cara menaikan dan menurunkan penutup pintu pembuangan air secar a
manual. Pembuangan air dari sawah masuk saluran irigasi yang terbuat dari beton
sehingga air dengan mudah kembali ke sungai kecil, tanpa merembes te rbuang ke bawah
tanah. Pencegahan perembesan air dilakukan dengan sangat efisien.
d. Pengalaman Irigasi Perkebunan Kelapa Sawit
Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi
kelapa sawit. Kekeringan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan distribusi
asimilat terganggu, berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif
maupun fase generatif. Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit
ditandai oleh kondisi daun tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan
pelepah. Pada keadaan yang lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan
jaringan tanaman yang dicerminkan oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah.
Pada fase generatif kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan produksi tanaman
akibat terhambatnya pembentukan bunga, meningkatnya jumlah bunga jantan,
pembuahan terganggu, gugur buah muda, bentuk buah kecil dan rendemen minyak buah
rendah.
13
Manajemen irigasi perkebunan kelapa sawit, yaitu: membuat bak pembagi, pembangunan
alat pengukur debit manual di jalur sungai, membuat jaringan irigasi di lapang untuk
meningkatkan daerah layanan irigasi suplementer bagi tanaman kelapa sawit seluas
kurang lebih 1 ha, percobaan lapang untuk mengkaji pengaruh irigasi suplementer
(volume dan waktu pemberian) terhadap pertumbuhan vegetatif kelapa sawit dan dampak
peningkatan aliran dasar (base flow) terhadap performa kelapa sawit pada musim
kemarau, identifikasi lokasi pengembangan dan membuat untuk 4 buah Dam Parit
dan upscalling pengembangan dam parit di daerah aliran sungai.
14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan penulisan makalah pemberian air irigasi adalah sebagai berikut :
1. Sumber air irigasi yang digunakan adalah mata air, air sungai, air waduk, air danau, air
tanah
2. Cara pembagian air irigasi ada tiga cara, yaitu :
a. Pemberian air melalui permukaan
b. Pemberian air melalui bawah permukaan atau resapan
c. Pemberian air dengan penyiraman.
3. Sistem irigasi yang digunakan diantaranya :
a. Irigasi Pasang-Surut di Sumatera, Kalimantan, dan Papua
b. Irigasi Tanah Kering atau Irigasi Tetes
c. Pengalaman Sistem Irigasi Pertanian di Niigata Jepang
d. Pengalaman Irigasi Perkebunan Kelapa Sawit
3.2 Saran
Sistim irigasi di Indonesia saat ini memang sudah mulai diusahakan, namun masih
sangat minim aplikasinya. Padahal Indonesia adalah Negara agraris dengan makanan
pokok adalah beras. Situasi inilah yang seharusnya menyadarkan kita tentang sistem
irigasi pertanian.
15
DAFTAR PUSTAKA