Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumber Daya Manusia
MANAJEMEN SUMBER
DAYA MANUSIA
Penulis :
Zulkifli Rusby
Bismillahhirrahmanirrahim
Kehadiran buku ini dapat menjadi referensi baik dikalangan Perguruan Tinggi
maupun Praktisi mudah-mudahan dapat menambah khazanah kepustakaan khususnya
dikalangan perguruan tinggi pada mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.
Berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak serta Ridho Allah akhirnya
penyusunan buku ini dapat diselesaikan. Pada Kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih dan penghargaan kepada Rektor Universitas Islam Riau , Bapak [Link].H. Detri
Karya,SE ,MA, Direktur Pusat Kajian Pendidikan Islam Fakultas Agama Islam Universitas
Islam Riau; Bapak Syahraini Tambak, MA, yang banyak memberikan motivasi kepada
penulis dalam menyelesaikan buku ini. Kepada segenap Pimpinan Fakultas Agama Islam
Universitas Islam Riau serta rekan-rekan Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam
Riau. Semoga Allah SWT memberkahi usaha kita bersama. Amin ya rabbal `alamin
ZULKIFLI RUSBY
v
DAFTAR ISI
ORIENTASI SDM.............................................................................. 22
A. Pengertian Penarikan................................................................................ 22
B. Pengertian Seleksi .................................................................................... 23
C. Pengertian Penempatan SDM ................................................................... 24
D. Pengertian Oriantasi ................................................................................. 24
E. Tujuan Orientasi....................................................................................... 25
F. Sumber dan Evaluasi Penarikan SDM ...................................................... 34
G. Evaluasi Penarikan ................................................................................... 37
H. Kriteria dan Kualifikasi Dasar Seleksi SDM............................................. 37
I. Proses dan Kendala Seleksi ...................................................................... 40
J. Faktor Yang Mempengaruhi Penempatan SDM........................................ 49
K. Prinsip-prinsip Penempatan Kerja ............................................................ 53
L. Ayat-ayat Al-Quran Tentang Penempatan SDM ....................................... 54
vi
I. Seniority Sistem ....................................................................................... 66
vii
BAB IX AUDIT SDM ....................................................................................... 137
viii
BAB I
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
1
pekerjaan, evaluasi pekerjaan, pengadaan, pengembangan, kompensasi, promosi
dan pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan definisi di atas yang dikemukakan oleh para ahli tersebut
menunjukan demikian pentingnya manajemen sumber daya manusia di dalam
mencapai tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Unsur manajemen (Tool
of management), biasa dikenal Market/ marketing, pasar.
Pentingnya MSDM dapat dinilai dan dilihat dari beberapa pendekatan :
1. Pendekatan politik
Menggunakan pendekatan politik dalam memahami gejala semakin
besarnya perhatian pada menajemen sumber daya manusia antara lain berarti
mengkaitkannya dengan raison d’etre suatu Negara bangsa. Berarti mendekatan
politik melihat manajemen sember daya manusia secara makro yang dapat
dipastikan mempunyai dampak terhadap manajemen SDM secara makro.
2. Pendekatan Ekonomi
Mungkin dapat dikatakan bahwa pendekatan ekonomi merupakan
pendekatan yang paling erat hubungannya dengan pemahaman meningkatnya
perhatian semakin banyak orang manajemen SDM. Dikatakan demikian karena
SDM sering dipandang sebagai salah satu factor produksi dalam usaha
menghasilkan barang atau jasa oleh satuan-satuan ekonomi. Alasan lain ialah
bahwa salah satu kriteria utama yang digunakan mengukur tingkat kesejahteraan
ialah takaran ekonomi. Oleh karena itu dinyatakan secara kategorikal bahwa
melihat manusia hanya sebagai salah satu alat produksi merupakan persepsi yang
tidak tepat untuk mengatakan salah sama sekali.
3. Pendekatan Hukum
Para warga masyarakat akan pentingnya keseimbangan antara hak dan
kewajiban masing-masing. Semakin meningkatnya kesadaran demikian biasanya
dipandang sebagai salah satu akibat positif dari tingkat pendidikan para warga
masyarakat. Dalam kehidupan organisasional, keseimbangan antara hak dan
kewajiban pun harus diusahakan agar terus-menerus terpelihara dengan baik sebab
apabila keseimbangan tersebut terganggu, dua belah pihak, yaitu organisasi dan
2
para anggotanya lah yang dirugikan. Disini lah terlihat peranan yang amat penting
yang dimainkan oleh manajemen SDM.
3
Untuk keperluan tersebut perusahaan dalam menghadapi perubahan
lingkungan / iklim bisnis yang cepat, perlu menetapkan kebijaksanaan SDM
sebagai berikut:
1. Menghindari pengaruh negatif berupa perasaan tidak puas pada kondisi
yang telah dicapai perusahaan.
2. Dalam menghadapi perubahan yang mengharuskan penambahan
pembiayaan (cost), perusahaan harus berusaha mengatasinya, agar
dapat mempertahankan pasar / keuntungan yang sudah diraih.
3. Memberikan imbalan yang cukup tinggi pada pekerja yang mampu
melakukan improvisasi yang kreatif.
b. Globalisasi
Dari sudut MSDM berarti mengharuskan dilakukannya usaha
mengantisipasi sebagai berikut :
1. Perusahaan harus berusaha memiliki SDM yang mampu mengatasi
pengaruh perkembangan bisnis/ekonomi internasional seperti resesi,
penurunan / kenaikan nilai uang.
2. Perusahaan harus berusaha memiliki SDM dengan kemampuan ikut
serta dalam bisnis global/internasional dan perdagangan bebas.
c. Peraturan Pemerintah
Setiap perusahaan harus memiliki SDM yang mampu membuat keputusan
dan kebijaksanaan dan bahkan melakukan operasional bisnis, sesuai dengan
peraturan perundang-undangan dari pemerintah. Untuk itu diperlukan SDM yang
memiliki kemampuan mengarahkan agar perusahaan terhindar dari situasi konflik,
keresahan/kegelisahan, komplen, dan lain-lain khususnya dari para pekerja
dengan atau tanpa keikutsertaan serikat pekerja.
4
waktunya digunakan untuk melaksanakan tanggung jawabnya di lingkungan
keluarga masing-masing.
2. Tantangan Internal
a. Posisi Organisasi dalam Bisnis yang Kompetitif
Untuk mewujudkan organisasi / perusahaan yang kompetitif , diperlukan
berbagai kegiatan MSDM yang dapat meningkatkan kemampuan SDM. Usaha itu
dapat dilakukan dengan mendesain sistem pemberian ganjaran yang mampu
memotivasi berlangsungnya kompetisi prestasi antar para pekerja.
b. Fleksibelitas
Organisasi / perusahaan memerlukan pengembangan sistem desentralisasi
yang mengutamakan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab secara
berjenjang. Fleksibilitas juga menyangkut penggunaan tenaga kerja, dengan
mengurangi kecenderungan mengangkat pekerja reguler (pekerja tetap).
Pengangkatan sebaiknya lebih difokuskan pada penggunaan tenaga kerja temporer
(tidak tetap).
c. Pengurangan Tenaga Kerja
Manajemen SDM suatu perusahaan sering dihadapkan dengan keharusan
mengurangi secara besar-besaran tenaga kerja, karena berbagai sebab, seperti
resessi, berkurangnya aktivitas bisnis, dan lain-lain, ini harus diatasi dengan cara
memperbaiki struktur pekerja itu dari tingkat bawah, dengan mendesain kembali
proses produksi.
5
d. Tantangan Restrukturisasi
Tantangan restrukturisasi adalah usaha menyesuaikan struktur
organisasi/perusahaan karena dilakukan perluasan atau penambahan dan
sebaliknya juga pengurangan kegiatan bisnisnya.
e. Bisnis Kecil
Bisnis kecil seperti dikemukakan diatas yang terdiri dari banyak anak
perusahaan, yang saling memiliki ketergantungan dalam produk berupa barang
atau jasa yang dihasilkan sebagai perwujudan net work (jaringan kerja) dalam
berbisnis, sebagai perusahaan besar / raksasa yang tersebar di banyak lokasi.
f. Budaya Organisasi
Budaya perusahaan akan mewarnai dan menghasilkan perilaku atau
kegiatan berbisnis secara operasional, yang tanpa disadari akan menjadi kekuatan
yang mampu atau tidak menjamin kelangsung eksistensi organisasi / perusahaan.
g. Teknologi
Tantangan teknologi tidak sekedar menyangkut pembiayaan (cost), karena
bagi Manajemen SDM hubungannya terkait pada keharusan menyediakan tenaga
kerja yang terampil mempergunakannya, baik dari luar maupun melalui
pengembangan tenaga kerja di dalam organisasi / perusahaan. Pada giliran
berikutnya tantangan teknologi berhubungan juga dengan pengembangan sikap
dalam menerima perubahan cara bekerja.
h. Serikat Pekerja
Dengan kerjasama, perusahaan/organisasi setidak-tidaknya harus berusaha
agar serikat pekerja tidak menjadi penghambat proses produksi, dengan tidak
menempatkanya sebagai lawan.
6
dan dapat dilipatgandakan, kemudian dapat dikembangkan. SDM juga dapat
digunakan sebagai investasi atau aset dalam suatu organisasi.
Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia, pengembangan dan
pengelolaan karir pada karyawan dapat dilatih melalui pelatihan yang diadakan
dalam suatu organisasi. Selain itu dengan diadakannya evaluasi dalam pekerjaan
juga dapat membantu karyawan untuk dapat lebih meningkatkan kinerja nya
dalam mengelola Sumber Daya Manusia (SDM). Kita harus ingat pada Konsep
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) bahwa manusia itu bukan lah mesin
atau alat. Sehingga dalam Manajemen Sumber Daya Manusia ini kita tahu
bagaimana cara mengatur hubungan dan peranan sumber daya yang dimiliki
manusia, sehingga bisa mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu perusahaan
dimana ia bekerja.
Semoga untuk kedepannya tidak ada lagi fenomena yang dapat
menghambat tujuan suatu perusahaan yang dikarenakan karena manjemen
sumber daya manusia nya yang tidak dikelola dengan baik.
7
terhadap pencapaian tujuan dari organisasi, dan juga pendapatan pekerja itu
sendiri. Selain pemborosan, juga faktor-faktor yang berkaitan dengan kelalaian
pekerja, misalnya terjadi kecelakaan serta biaya pengembangan kemampuan atau
kompensasi SDM. Semuanya merupakan biaya yang harus diperhitungkan dalam
menghitung biaya produksi. Biaya tersebut sering disebut sebagai biaya sosial
yang harus ditanggung bersama-sama oleh pihak-pihak yang bersangkutan, seperti
masyarakat, pemilik usaha dan pekerja sendiri. Biaya sosial ini kadang-kadang
dapat melebihi biaya produksi.
Paradigma Sumber Daya Manusia kemudian berangsur berubah dengan
munculnya manajemen ilmiah (scientific management) pada akhir abad 19 dan
permulaan abad ke-20, yang didominasi oleh pemikiran Frederick W. Taylor,
dimana proses manajemen lebih mengutamakan pencapaian produktivitas pekerja.
Manajemen mengutamakan pada pengukuran kerja dan kualitas kerja, spesialisasi
dalam tenaga kerja(Specialization of Labor), analisa pekerjaan sampai kepada hal-
hal yang sangat detail dalam pekerjaan.
Pada situasi ini, pimpinan menempatkan pekerja tak ubahnya sebagai
mesin, karena pekerjaan yang bersifat rutin terus menerus, dan pekerjaan rutin
pada prinsipnya dapat dikerjakan oleh mesin. Paradigma SDM yang demikian
tidak ubahnya menganggap bahwa pekerja itu sama dengan barang dagangan
dengan eksploitasi berlebihan. Karena SDM dianggap seperti mesin (Man as
Machines), maka penggunaan pekerja tersebut diusahakan sama seperti mesin
dengan mengutamakan produktivitasnya tanpa memandang segi-segi kemanusiaan
seperti pikiran, perasaan, motivasi, tata nilai manusia dan lainnya.
Sebagai reaksi terhadap pandangan yang menganggap dan memperlakukan
manusia kerja sebagai mesin dan barang dagangan atau alat yang tidak
manusiawi, maka muncul pandangan yang memiliki kecenderungan lebih
manusiawi (Gerakan Human Relations). Antara lain Teori Y dari McGregor
mempunyai relevansi tinggi dengan pandangan yang berwatak manusiawi. Dalam
hal tertentu pandangan ini memang dapat berhasil yaitu bila kualifikasi pekerjanya
sudah cukup tinggi, namun akan gagal bila manusianya dipandang dan
diperlakukan secara manusiawi itu tanpa kendali sama sekali. Selanjutnya muncul
8
gerakan hubungan manusia (human relations movement) yang dipelopori oleh
Elton Mayo, Dickton dan sebagainya. Kelompok ini memandang bahwa dalam
manajemen tidak semata-mata berdasar atas rasa kemanusiaan saja, tetapi secara
ilmiah dapat dilakukan observasi terhadap pekerja. Selain itu pekerja mempunyai
sistem saraf dan alat perasa lainnya sebagaimana manusia lainnya, dan juga ingin
menempati kedudukan sosial yang layak dalam masyarakat. Pada tahapan ini,
pandangan terhadap pekerja pada dasarnya ingin memanusiakan manusia pekerja,
dan disarankan suapaya pekerja diperlakukan yang wajar dan manusiawi, dengan
lebih memperhatikan perasaan-perasaan manusianya.
Sebagai kelanjutan paradigma tentang pekerja yang harus dimanusiakan,
kemudian berkembang paradigma partnership. Konsepsi ini pada prinsipnya ingin
menjembatani perbedaan atau pertentangan antara pemilik usaha dengan
pekerjanya. Disini ditekankan bahwa pemilik usaha tidak mungkin menjalankan
sendiri usahanya tanpa bantuan orang lain atau pekerja, demikian pula sebaliknya
pekerja tidak bisa melakukan kegiatan atau pekerjaan bilamana tidak ada pemilik
usaha. Untuk itu perlu adanya kerjasama yang merupakan suatu sistem yang
bermanfaat untuk terjadinya partnership. Konsep partnership ini dikembangkan
oleh Ouchi dengan Teori Z yang saat ini banyak diterapkan pada manajemen
Jepang. Secara mendasar konsep ini ingin menerapkan, bahwa pekerja supaya
tidak tunduk sepenuhnya kepada kekuasaan manajemen yang absolut, akan tetapi
memandang pekerja sebagai bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari
manajemen itu sendiri dan menekankan pada peran dan posisi pegawai atau
karyawan dalam perusahaan yang dapat membuat para pekerja menjadi nyaman,
betah, senang dan merasa menjadi bagian penting dalam perusahaan. Dengan
demikian maka karyawan akan bekerja dengan lebih efektif dan efisien dalam
melakukan pekerjaannya. Pekerja mempunyai hak yang sama untuk berperan aktif
dalam mencapai tujuan organisasi, seperti halnya kelompok ahli dan kelompok
manajemen lain terlibat dalam pengambilan keputusan dan menentukan
kebijaksanaan penting organisasi. Karena itu konsep partnership ini sering juga
dinamakan ko-determinasi (co-determinas). Maka itulah paradigma sdm dari abad
9
19 hingga sekarang yang selalu berubah mengikuti perubahan lingkungan bisnis
global agar dapat terus mempertahankan eksistensi organisasi.
Paradigma lama sumber daya manusia menempatkan karyawan sebagai
aset bagi perusahaan, tetapi dewasa ini telah berkembang adanya paradigma baru
bahwa karyawan merupakan partner bagi perusahaan. Manajemen Sumber Daya
Manusia memiliki posisi yang sangat strategis atas keberlangsungan perusahaan.
Hal ini disebabkan materi dasar seperti kinerja, motivasi, kepuasan kerja, dan
produktivitas apabila tidak terpenuhi akan menyebabkan keberlangsungan
kehidupan perusahaan menjadi terganggu. Begitu juga sebaliknya, apabila materi
dasar tersebut terpenuhi maka perusahaan akan semakin maju.
10
Kemudian Fungsi-fungsi lain Operasional Manajemen Sumber Daya Manusia
a. Pengadaan (Procurement)
b. Pengembangan (Development)
c. Pemeliharaan (Maintenance)
a. Pengadaan SDM, dilakukan dengan tujuan untuk menentukan dan memenuhi
kebutuhan akan sumber daya manusia, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Di dalamnya meliputi :
1. Perencanaan Sumber Daya Manusia yaitu penentuan kebutuhan tenaga
kerja baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
2. Penarikan/perekrutan calon tenaga kerja (recruitment) yaitu menarik
sebanyak mungkin calon-calon tenaga kerja yang memenuhi persyaratan
yang dibutuhkan dari sumber-sumber tenaga kerja yang tersedia.
3. Seleksi (selection) yaitu merupakan proses pemilihan tenaga kerja dari
sejumlah calon tenaga kerja yang dikumpulkan melalui proses
recruitment.
4. Penempatan (placement) yaitu penempatan tenaga kerja yang terpilih pada
jabatan yang ditentukan.
5. Pembekalan (orientation) yaitu dilakukan untuk memberikan pemahaman
kepada tenaga kerja terpilih tentang deskripsi jabatan, kondisi kerja, dan
peraturan organisasi.
b. Pengembangan (Development), bertujuan untuk meningkatkan dan
mengembangkan kemampuan SDM yang telah dimiliki, sehingga tidak akan
tertinggal oleh perkembangan organisasi serta ilmu pengetahuan dan
teknologi. Di dalamnya meliputi :
1. Pelatihan dan Pengembangan (Training and Development).
2. Pengembangan Karir (Career Development).
c. Pemeliharaan (maintenance), bertujuan untuk memelihara keutuhan sumber
daya manusia yang dimiliki. Wujudnya berupa rasa betah dan mempunyai
kemauan untuk bekerja dengan sebaik-baiknya pada organisasi. Di dalamnya
meliputi :
11
1. Kompensasi Jabatan (job compensation) yaitu usaha pemberian balas jasa
atas prestasi yang telah diberikan oleh tenaga kerja.
2. Integrasi (integration) yaitu menciptakan kondisi integrsi atau persamaan
kepentingan antar tenaga kerja dengan organisasi yang menyangkut
masalah motivasi, kepemimpinan, komunikasi, konflik dan konselling.
3. Hubungan Perburuhan (Labour Relation) yaitu pembahasan masalah
perjanjian kerja perjanjian perburuhan,kesempatan kerja bersama, sampai
penyelasaian perselisihan perburuhan.
4. Pemisahan/Pemutusan Hubungan kerja (Separation) yaitu menyangkut
masalah pemutusan hubungan kerja.
12
BAB II
A. Analisis Jabatan
13
untuk memperbaiki efektivitas dan efisiensi staffing, penilaian, imbalan dan
sebagainya.
Analisis jabatan merupakan informasi tertulis mengenai pekerjaan-pekerjaan
apa yang harus dikerjakan oleh pegawai dalam suatu perusahaan agar tujuan
tercapai. Dari analisis jabatan dapat dibuat rancangan pekerjaan dan ditetapkan
uraian pekerjaan. Dengan demikian analisis jabatan dapat memberikan informasi
tentang aktivitas pekerjaan, standar pekerjaan, konteks pekerjaan, persyaratan
personalia, perilaku manusia dan alat-alat yang digunakan.
Schuler (1992) berpendapat bahwa analisis jabatan adalah suatu proses
penguraian dan pencatatan pekerjaan-pekerjaan. Sedangkan khusus uraian dan
catatan tersebut adalah sasaran pekerjaan-pekerjaan yaitu tugas-tugas atau
aktivitas dan kondisi yang meliputinya. Dasar dari analisis jabatan adalah
spesifikasi pekerjaan yang tertulis secara mendetail tentang ketrampilan,
pengetahuan dan kemampuan individu yang dibutuhkan oleh kinerja pekerjaan
tersebut. Namun demikian, tidak semuanya berjalan baik. Uraian kerja yang
termasuk didalamnya menginformasikan tentang standar kinerja, karakteristik
tugas yang dirancang, dan karakteristik individu pekerja. Selain itu spesifikasi
pekerjaan meliputi karaktersitik individu,interest dan preferensi yang kompatibel
dengan pekerjaan atau memuaskan kinerja pekerjaan. Modifikasi antara uraian
pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan adalah untuk menjaga agar sasaran
manajemen SDM seperti peningkatan produkstivitas dan kualitas hidup pekerja
senantiasa terjaga.
14
jenis data yang akan dikumpulkan dan teknik pengumpulan datanya.
Informasi dari hasil analisa jabatan itu dipergunakan untuk menetapkan
job description, job specification, & job evaluation dalam pengadaan
tenaga-kerja.
2. Mengumpulkan informasi tentang latar belakang : Artinya penganalisis
harus mengumpulkan dan mengkualifikasikan data, meninjau informasi
latar belakang seperti bagan organisasi, bagan proses dan uraian pekerjaan.
Pengumpulan data ini dilakukan dengan metode penelitian deskriptif
analisis, survey, sensus dan sample. Sedangkan teknik pengumpulan data
dapat dilakukan melalui wawancara, observasi, kuesioner, dan juga
angket. Data yang terkumpul itu dikualifikasikan, dianalisis dan
diaplikasikan di masa yang akan datang.
3. Menyeleksi muwakil (representative) jabatan yang akan dianalisis :
Artinya penganalisis harus memilih beberapa muwakil jabatan untuk
dianalisis. Hal ini perlu dilakukan untuk menghemat biaya dan waktu
apabila pekerjaan yang akan dianalisis tersebut amat banyak.
4. Mengumpulkan informasi analisa jabatan : Artinya penganalisis kemudian
mengadakan analisa jabatan secara aktual dengan menghimpun data
tentang aktivitas pekerjaan, perilaku karyawan yang diperlukan, kondisi
kerja dan syarat-syarat personil yang akan melaksanakan pekerjaan itu.
5. Meninjau informasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan : Artinya
analisa jabatan menyediakan informasi tentang hakikat dan fungsi
pekerjaan. Informasi ini hendaknya diverifikasi dengan pekerja yang akan
melaksanakan pekerjaan itu serta atasan langsung dari karyawan yang
bersangkutan. Dengan memverifikasi informasi, maka akan dapat
membantu untuk menentukan kebenarannya dan melengkapinya secara
faktual serta dapat dipahami dengan mudah oleh semua pihak yang
berkepentingan.
15
6. Menyusun uraian pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan : Artinya
penganalisis jabatan/pekerjaan harus menyusun uraian pekerjaan, uraian
jabatan, dan evaluasi pekerjaan.
7. Meramalkan/memperhitungkan perkembangan perusahaan : Artinya
penganalisis harus juga memperhitungkan/meramalkan perkembangan
uraian pekerjaan, spesifikasi pekerjaan, apakah di kemudian hari
diperlukan pemerkayaan pekerjaan, perluasan pekerjaan dan
penyederhanaan pekerjaan dalam perusahaan tersebut. Hal ini diperlukan
guna memperhitungkan kemampuan tenaga kerja untuk masa kini dan
masa depan agar mereka dapat tetap melaksanakan pekerjaan walaupun
ada pemakaian teknokrat canggih dan reorganisasi perusahaan.
16
D. Deskripsi dan Spesifikasi Jabatan
a. Deskripsi Jabatan
Deskripsi/Uraian jabatan adalah suatu catatan yang sistematis tentang tugas
dan tanggung jawab suatu jabatan tertentu, yang ditulis berdasarkan fakta-fakta
yang ada. Penyusunan uraian jabatan ini adalah sangat penting, terutama untuk
menghindarkan terjadinya perbedaan pengertian, untuk menghindari terjadinya
pekerjaan rangkap, serta untuk mengetahui batas-batas tanggung jawab dan
wewenang masing-masing jabatan.
Hal-hal yang perlu dicantumkan dalam Uraian Jabatan pada umumnya
meliputi :
17
7. Kondisi kerja, yang menjelaskan tentang kondisi fisik lingkungan kerja
dari suatu jabatan. Misalnya panas, dingin, berdebu, ketal, bising dan lain-
lain terutama kondisi kerja yang berbahaya
8. Komentar tambahan untuk melengkapi penjelasan di atas.
b. Spesifikasi Jabatan
Spesifikasi jabatan adalah persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh
orang yang menduduki suatu jabatan, agar ia dapat melaksanakan tugas-tugas
yang dibebankan kepadanya dengan baik. Spesifikasi jabatan ini dapat disusun
secara bersama-sama dengan Uraian Jabatan, tetapi dapat juga di susun secara
terpisah.
Beberapa hal yang pada umumnya dimasukkan dalam Spesifikasi Jabatan
adalah:
1. Persyaratan pendidikan, latihan dan pengalaman kerja
2. Persyaratan pengetahuan dan keterampilan
3. Persyaratan fisik dan mental
4. Persyaratan umur dan jenis kelamin
18
2) lnventarisasi jabatan yang ada di setiap unit kerja yang ada dan di
susun berdasarkan hierarki dan di beri kode identifikasi
3) Menetapkan metode pengumpulan data yang akan digunakan dan
menyiapkan alat dan sama yang diperlukan ( formulir dll. )
4) Membentuk team pelaksana analisis dan menjelaskan tentang
metode yang akan digunakan.
5) Komunikasi/penjelasan oleh pimpinan perusahaan kepada semua
pimpinan unit kerja dan semua karyawan tentang maksud dan
tujuan analisis jabatan yang akan dilaksanakan.
Hal ini dilaksanakan untuk mencegah terjadinya salah pengertian dan
timbulnya persepsi dan harapan yang keliru.
b. Tahap Pengumpulan Data Pengumpulan data jabatan dapat dilakukan
dengan melalui beberapa cara:
1. Metode Observasi dan Wawancara
Metode observasi berarti pelaksana analisis jabatan mengamati secara
langsung di tempat bagaimana tugas pekerjaan dilaksanakan dan mencatatnya
untuk di olahnya menjadi informasi. Sedangkan dalam metode wawancara
petugas analisis mewawancarai langsung pemegang jabatan dengan mengajukan
pertanyaan yang di siapkan lebih dulu dan mencatat jawabannya untuk diolah
menjadi informasi yang di perlukan
2. Metode Kuesioner ( Daftar Pertanyaan )
Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran daftar pertanyaan kepada
semua karyawan untuk di isi. Daftar pertanyaan itu bisa bersifat "terbuka" (Open
ended) artinya, penjawab harus memberikan jawaban menurut kehendaknya
sendiri dengan caranya sendiri, tidak dibatasi. Bila daftar pertanyaan itu bersifat
"tertutup" (Closed), maka pertanyaan sudah dibuat sedemikian rupa sehingga
penjawab tinggal menjawab ya/tidak, atau benar/salah.
3. Metode Studi Referensi
Metode ini mengandalkan pada pengetahuan dan "ahli", rujukan yang ada
dan perbandingan dengan organisasi lain. Metode ini jarang digunakan.
19
4. Metode Kombinasi
Metode ini berarti menggunakan beberapa metode di atas sekaligus.
Metode observasi di tempat dapat diadakan untuk jabatan atau posisi yang
khusus. Observasi dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diuraikan
secara tertulis seperti kondisi kerja, arus kerja, proses, keterampilan yang
dibutuhkan dan perajatan yang digunakan.
Metode wawancara dilakukan mengingat tidak semua jabatan dapat
dianalisis secara tertulis. Jabatan seperti: jabatan teknis, profesional,
kepengawasan dan eksekutif sebaik-nya dikaji melalui wawancara atas pemegang
jabatan yang bersangkutan.
Metode daftar pertanyaan pada umumnya kurang berhasil, karena tidak
semua karyawan telah mengisi formulir atau dapat membaca dan menulis dengan
baik. Setiap kategori karyawan harus diberi kuisioner tersendiri dengan gaya
bahasa khusus guna mencegah kesalahpahaman dalam penafsiran.
Metode studi referensi misalnya dapat dilakukan dengan menganalisis
buku catatan harian untuk mendapatkan informasi tentang suatu jabatan atau
posist. Tetapi metode ini agak sulit dilakukan karena tidak semua catatan harian
berguna, karena si penulis tidak merumuskan kegiatan yang sebenarnya. Juga
masih banyak pekerjaan yang tidak membiasakan diri membuat catatan harian
seperti pesuruh atau mekanik.
c. Tahap Pengolahan Data Setelah proses pengumpulan data selesai,
dilakukan pengolahan data yaitu:
1. Menentukan faktor-faktor dari penilaian jabatan
2. Menentukan bobot nilai dari setiap faktor
3. Analisa hasil interview dan kuisioner yang telah di isi
4. Analisa persyaratan jabatan
5. Menyusun uraian jabatan
6. Melakukan pola penilaian jabatan sebagai dasar dari penentuan
sistem personalia lainnya
7. Mempersiapkan rekomendasi bagi perencanaan tenaga kerja, pola
pengadaan, seleksi dan penempatan pegawai; penilaian karya
20
pegawai, sistem pemberian balas jasa, pelatihan dan
pengembangan pegawai, sistem dan prosedur administrasi
kepegawaian.
21
BAB III
PENGERTIAN PENARIKAN, SELEKSI, PENEMPATAN,
DAN ORIENTASI SDM
A. Pengertian Penarikan
22
merupakan langkah pertama dalam rangka menerima seseorang dalam suatu
lembaga atau organisasi.
B. Pengertian Seleksi
Seleksi merupakan suatu proses dimana suatu organisasi memilih orang atau
orang-orang yang terbaik dari suatu daftar pelamar yang memenuhi kriteria
seleksi untuk posisi-posisi yang tersedia untuk diisi (Ivancevich, 1992 dan Byars
& Rue, 1997). Hal ini mengandung arti bahwa, semua program seleksi pada
dasarnya berusaha mengidentifikasi pelamar yang memiliki peluang tertinggi
untuk memenuhi atau (bahkan) melampaui standar kinerja organisasi. Kinerja
dalam pengertian ini tidak sesederhana mengacu pada keluaran kuantitatif, tetapi
dapat mencakup sasaran keluaran kualitatif seperti, tingkat absensi, kepuasan
karyawan dan pengembangan karir. Oleh karena itu, tugas awal yang tercakup
dalam pengembangan dan implementasi suatu proses seleksi efektif adalah
mengidentifikasi sasaran keluaran mana yang paling penting sesuai dengan
kondisi [Link] adalah suatu rekomendasi atau suatu keputusan
untuk menerima atau menolak seseorang calon untuk pekerjaan tertentu
berdasarkan suatu dugaan tentang kemungkinan-kemungkinan dari calon untuk
menjadi tenaga kerja yang berhasil pada pekerjaannya.
Menurut Sedarmayanti seleksi adalah kegiatan menentukan dan memilih
tenaga kerja yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Seleksi bertujuan
memutuskan masalah apakah seorang pelamar diterima bekerja atau tidak. Tugas
seleksi ialah menilai sebanyak mungkin calon untuk memilih seseorang atau
sejumlah orang (sesuai dengan jumlah yang diperlukan) yang paling memenuhi
persyaratan pekerjaan yang ditetapkan [Link] seleksi sejumlah calon dinilai
sejauh mana kesesuaian mereka (sejauh mana mereka memenuhi persyaratan
pekerjaan yang telah ditetapkan semula) dengan suatu pekerjaan. Pada
penempatan setiap calon dinilai derajat kesesuaiannya untuk sejumlah pekerjaan
yang berbeda-beda. Dari jumlah calon dipilih sejumlah orang yang dinilai secara
keseluruhan paling sesuai untuk pekerjaan yang berbeda-beda yang tersedia.
23
C. Pengertian Penempatan SDM
D. Pengertian Orientasi
Pengertian Orientasi menurut para ahli :
a. Menurut Cascio dalam Sedarmayanti (2010:114), orientasi adalah
pengakraban dan penyesuaian dengan situasi atau lingkungan.
b. Menurut Decenzo & Robbins dalam Sedarmayanti (2010:114), orientasi
adalah aktivitas yang melibatkan pengenalan karyawan baru kepada
organisasi dan unit kerja mereka.
c. Menurut Wether & Davis dalam Sedarmayanti (2010:114), orientasi adalah
mengakrabkan karyawan dengan peran, organisasi, kebijakan organisasi,
dan karyawan lain.
d. Orientasi adalah aktivitas sumber saya manusia yang memperkenalkan
karyawan baru kepada organisasi dan kepada tugas-tugas yang harus
dikerjakan, atasan, dan kelompok kerja (Ivancevich dalam Marwansyah,
2010:141).
e. Orientasi adalah prosedur pemberian informasi pokok tentang perusahaan
kepada karyawan baru (Dessler dalam Marwansyah, 2010:141).
f. Menurut H. Hadari Nawawi dalam bukunya Manajemen Sumber Daya
Manusia untuk bisnis yang kompetitif (2008:208), Orientasi adalah usaha
membantu para pekerja agar mengenali secara baik dan mampu beradaptasi
dengan suatu situasi atau suatu lingkungan/iklim bisnis suatu
organisasi/perusahaan.
24
Orientasi berarti penyediaan informasi dasar berkenaan dengan perusahaan
bagi pegawai baru, yaitu informasi yang mereka perlukan untuk melaksanakan
pekerjaan secara memuaskan. Informasi dasar ini mencakup fakta-fakta seperti
jam kerja, cara memperoleh kartu pengenal, cara pembayaran gaji dan orang-
orang yang akan bekerja sama dengannya. Orientasi pada dasarnya merupakan
salah satu komponen proses sosialisasi pegawai baru, yaitu suatu proses
penanaman sikap, standar, nilai, dan pola perilaku yang berlaku dalam perusahaan
kepada pegawai baru.
E. Tujuan Orientasi
25
d. Memberi kesempatan karyawan baru menanyakan hal berhubungan
dengan pekerjaannya.
26
1. Informasi yang berhubungan dengan pekerjaan seperti company standards,
management expectations of employees and policies, and procedure
2. Informasi mengenai budaya perusahaan seperti acceptable norms of
conduct, definitions of deviate or acceptable behavior, management
philosophies, traditions, and strategic belief.
3. Informasi mengenai tanggung jawab pekerjaan dan aspek tekhnik dari
pekerjaan tersebut, seperti apa yang termasuk dalam job description, jenis
peralatan yang dipergunakan unutk melakukan pekerjaan tersebut, dan
bagaimana hasil pekerjaan dievaluasi.
27
2. Menyampaikan informasi mengenai organisasi dan pekerjaan.
3. Meningkatkan penerimaan antarpribadi oleh rekan-rekan kerja.
4. Mempercepat sosialisasi dan integrasi karyawan baru ke dalam organisasi.
5. Memastikan bahwa kinerja dan produktivitas karyawan dimulai lebih
cepat.
6. Usaha-usaha orientasi mengenai organisasi dan pekerjaan.
7. Meningkatkan penerimaan antarpribadi oleh rekan-rekan kerja.
8. Mempercepat sosialisasi dan integrasi karyawan baru ke dalam organisasi.
9. Memastikan bahwa kinerja dan produktivitas karyawan dimulai lebih
cepat.
a. Manfaat Orientasi
1. Mengurangi perasaan diasingkan, kecemasan, dan kebimbangan pegawai.
2. Dalam waktu yang singkat dapat merasa menjadi bagian dari organisasi.
3. Hasil lain untuk pegawai yang baru diorientasikan adalah:
a. Cukup baik
b. Tingkat ketergantungannya kecil
c. Kecenderungan untuk keluar juga kecil
d. Selanjutnya, program orientasi juga akan mempercepat proses
sosialisasi
b. Dampak Orientasi
(Dikutip dari Academic of Management Journal : George F. Dreker, 1971),
yaitu :
a. turnover (keluar masuknya pegawai)
b. productivity
Hasil yang dicapai dengan program orientasi pertama ini adalah :
1. Tingkat kecemasan pegawai baru meningkat
2. Kemampuan untuk mempelajari hal-hal yang baru menjadi sangat renda
3. Bahkan banyak yang tidak kembali lagi setelah makan siang
4. Ada juga yang tidak mengambil upahnya hari itu
28
Kejadian kedua, bagian personalia mulai melakukan reaksi terhadap apa
yang terjadi, seperti berikut:
a. Mulai merekrut pegawai lain dan juga melakukan penelitian tentang sebab
terjadinya hal-hal seperti pada program orientasi pertama tadi
b. Diadakan perpanjangan waktu
c. Pada pagi hari diberi informasi tentang banyak hal, misalnya struktur,
tujuan jangka panjang perusahaan, dan hal-hal lain yang sifatnya umum.
d. Penjelasan dilakukan dan waktunya sekitar dua jam.
e. Kemudia mereka diberi formulir (kalau bekerja disini apa yang mereka
harapkan)
f. Sasarannya menciptakan sikap positif dari para pegawai baru tersebut
terhadap “Texas Instruments”
g. Sebelum makan siang mereka diperkenalkan pada supervisor dan bersama
dengan pegawai baru tersebut mereka makan bersama
h. Setelah itu supervisor baru memperkenalkan kepada pegawai lama dari
masing-masing unit kerja, juga kepada pegawai di Assembly Lines
29
2. Telaah yang kurang lengkap mengenai dasar-dasar pekerjaan. Suatu
orientasi yang cepat dan dangkal, dan para karyawan baru
langsungditempatkan di pekerjaan tenggelam ataupun mengap-mengap.
3. Tugas-tugas pertama karyawan baru tidak signifikan, dimaksudkan
untukmengajarkan pekerjaan “mulai dari dasar sekali”.
4. Memberikan terlampau banyak informasi secara cepat merupakan
suatukeinginan yang baik, namun menjadi pendekatan yang
mencelakakan,menyebabkan para karyawan baru merasa kewalahan dan
“mati lemas”.
30
informasi tersebut disampaikan secara pribadi atau dengan video. Kemudian,
pertanyaan dan soal yang lebih spesifik dapat ditangani oleh staf SDM dan
lainnya setelah para karyawan meninjau informasi-informasi berbasis Web
tersebut. Sayangnya banyak sesi orientasi karyawan baru dirasakan sebagai hal
yang membosankan, tidak relevan, dan pemborosan waktu oleh karyawan,
supervisor, dan manajer departemen mereka.
2. Kelemahan Orientasi
Kelemahan umum dari program orientasi adalah pada level supervisor.
Walaupun bagian kepegawaian telah merancang program orientasi secara efeketif
dan juga melatih para supervisor tentang cara bagaimana melakukan orientasi
pada bidangnya, namun seringkali mengalami kegagalan.
Untuk dapat menghindarkan kesalahan umum yang dilakukan oleh para
supervisor, sebaiknya bagian kepegawaian menyediakan satu pedoman yang
berisikan tentang apa-apa yang seharusnya dilakukan oleh supervisor dalam
program orientasi tersebut. Cara lain yang dapat dilakukan adalah buddy system.
Yaitu dengan menetapkan satu orang pekerja yang telah berpengalaman dan
meminta kepadanya mengajak pegawai baru tersebut.
Hal-hal yang diperhatikan dan hal-hal yang dihindari dalam orientasi adalah :
a. Orientasi haruslah bermula dengan jenis informasi yang relevan dan
segera untuk dilanjutkan dengan kebijakan-kebijakan yang lebih umum
tentang organisasi. Orientasi haruslah berlangsung dalam kecepatan yang
membuat karyawan baru tetap merasa nyaman.
b. Bagian paling signifikan adalah sisi manusianya, memberikan
pengetahuan kepada karyawan baru tentang seperti apa para penyelia dan
rekan kerjanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
standar kerja yang efektif, dan mendorong mereka mencari bantuan dan
saran ketika dibutuhkan
c. Karyawan-karyawan baru sepatutnya didorong dan diarahkan dalam
lingkungannya oleh karyawan atau penyelia yang berpengalaman sehingga
31
dapat menjawab semua pertanyaan dan dapat segera dihubungi selama
periode induksi.
d. Karyawan baru hendaknya secara perlahan diperkenalkan dengan rekan
kerja mereka. Karyawan baru hendaknya diberikan waktu yang cukup
untuk mandiri sebelum tuntutan pekerjaan mereka meningkat
d. Tahap orientasi
1. Perkenalan
Memperkenalkan pegawai baru, mulai dari unit kerjanya sendiri sampai
unit kerja besarnya dan sampai unit-unit kerja terkait lainnya, akan memberikan
ketenangan dan kenyamanan si pegawai, karena dia merasa diterima di
lingkungannya dan hal tersebut akan mempermudah dia untuk bertanya jika ada
hal-hal yang kurang jelas, bahkan dapat membina kerja sama dengan yang lain
dalam rangka menjalankan tugasnya.
32
2. Penjelasan Tujuan Perusahaan
Dengan menjelaskan profil perusahaan secara lengkap seperti visi, misi,
nilai-nilai, budaya perusahaan dan struktur organisasi, akan membuat pegawai
baru lebih mengenal perusahaan tersebut, sehingga akan membangkitkan motivasi
dan kemampuan dia untuk mendukung tujuan perusahaan.
3. Sosialisasi Kebijakan
Perlu adanya sosialisasi tentang kebijakan perusahaan yang berlaku, mulai
dari kebijakan baik yang terkait dengan Sumber Daya Manusia seperti Reward,
Career, Training, Hubungan Kepegawaian, Penilaian Pegawai, sampai
Termination, juga yang terkait dengan unit kerja tempat dia bekerja, demikian
juga tentang kode etik dan peraturan perusahaan. Dengan demikian akan
memperjelas hal-hal yang perlu ditaati dan dijalankan dalam memperlancar tugas
kerjanya.
4. Jalur Komunikasi
Membuka jalur komunikasi akan mempermudah pegawai baru
menyampaikan aspirasinya maupun pertanyaan-pertanyaannya. Untuk itu perlu
dibukanya ruang komunikasi bagi pegawai baru, baik melalui komunikasi rutin
melalui tatap muka seperti meeting rutin, friday session dll, juga dibukanya jalur
media komunikasi seperti email maupun telephone.
5. Proses Monitoring
Tentunya pada awal bekerja, si pegawai baru sudah disosialisasikan target
kerja yang harus dicapai. Perlu adanya monitor rutin akan hasil kerjanya, sehingga
akan membantu pegawai tersebut lebih lagi meningkatkan kinerjanya. Jika ada
kekurangan, maka dapat disampaikan hal-hal yang perlu dia lakukan untuk
mengatasi kekurangan tersebut. Demikian juga jika ternyata pegawai tersebut
berhasil mencapai target yang lebih, maka dapat ditingkatkan lagi target kerjanya.
Dengan adanya orientasi pegawai baru tersebut diharapkan dapat
membantu pegawai dapat bekerja dengan baik, yang dapat meningkatkan
produktivitas kerjanya, yang pada akhirnya akan mendukung pencapaian tujuan
perusahaan.
33
F. Sumber dan Evaluasi Penarikan SDM
1. Sumber Penarikan SDM
Sumber-sumber penarikan terdiri dari :
1. Job posting,
2. Persediaan keahlian,
3. Rekomendasi dari karyawan,
4. Walks-in,
5. Writes-in,
6. Perguruan tinggi,
7. Institusi pendidikan,
8. Iklan,
9. Agen penempatan kerja, dan
10. Konsultan manajemen dan executive search firms.
34
1. Promosi jabatan, yaitu pemindahan pegawai dari satu jabatan ke tingkat
jabatan yang lebih tinggi daripada jabatan sebelumnya.
2. Transfer atau rotasi pekerjaan adalah pemindahan bidang pekerjaan
pegawai kepada bidang pekerjaan lainnya tanpa mengubah tingkat
jabatannya.
3. Demosi jabatan adalah penurunan jabatan pegawai dari satu jabatan ke
tingkat jabatan yang lebih rendah atas dasar kondite dan prestasi kerjanya
atau akibat terjadinya penyederhanaan struktur organisasi.
2. Lembaga Pendidikan
35
3. Depnaker
1. Kriteria evaluasi.
2. Tes pendahuluan.
3. Para karyawan dilatih atau dikembangkan.
4. Tes purna (post-test).
5. Transfer atau promosi.
6. Tindak lanjut.
36
4. Untuk mengevaluasi program pelatihan dan keefektifitasan jadwal kerja,
metode kerja, struktur organisasi, kondisi kerja, gaya pengawasan dan
peralatan kerja.
5. Sebagai indikator untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi
karyawan.
6. Untuk meningkatkan motivasi kerja dan alat pengembangan kecakapan
karyawan.
7. Sebagai alat untuk mengobservasi perilaku bawahan.
8. Untuk menilai kelemahan atau kekurangan dari karyawan dan organisasi
dimasa lampau.
9. Sebagai kriteria menentukan seleksi dan penempatan karyawan.
G. Evaluasi Penarikan
1. Jumlah pelamar
2. Jumlah usul pelamar yang diajukan untuk diterima
3. Jumlah penerimaan atau pelamar yang diterima
4. Jumlah penempatan karyawan yang berhasil.
37
1. Keahlian
Merupakan salah satu kualifikasi utama yang menjadi dasar dalam proses
seleksi, kecuali bagi jabatan yang tidak memerlukan keahlian. Penggolongan
keahlian dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Technical skill,
Yaitu keahlian teknik yang harus dimiliki para pegawai pelaksana.
b. Human skill,
Yaitu keahlian yang harus dimiliki oleh mereka yang akan memimpin
beberapa orang bawahan.
c. Conceptual skill,
Yaitu keahlian yang harus dimiliki oleh mereka yang akan memangku
jabatan puncak pimpinan sebagai figure yang mampu mengkoordinasi
berbagai aktivitas untuk mencapai tujuan organisasi.
2. Pengalaman
3. Usia
Perhatian dalam proses seleksi juga ditunjukan pada masalah usia para
pelamar. Usia muda dan usia lanjut tidak menjamin diterima tidaknya seseorang
pelamar. Mereka memiliki usia lanjut tenaga fiisknya relatif terbatas meskipun
38
banyak pengalaman. Mereka yang berusia muda mungkin saja memiliki vitalitas
yang cukup baik. Tetapi rasa tanggung jawabnya relatif kurang dibandingkan
dengan usia dewasa. Oleh karena itu, yang terbaik pelamar yang berusia sedang
atau sekira usia 30 tahun.
4. Jenis kelamin
5. Pendidikan
6. Kondisi fisik
7. Tampang
39
8. Bakat
Bakat atau aptitube seseorang calon pelamar tenaga kerja turut juga
pemegang kunci sukses dalam proses seleksi. Bakat ini dapat tampak pada tes-tes,
baik fisik maupun psikolog. Dari tes-tes tersebut dapat diketahui bakat yang
tersembunyi, yang suatu saat dapat dikembangkan.
9. Temperamen
10. Karakter
40
Proses seleksi adalah pusat manajemen personalia. Analisa jabatan,
perencanaan sumber daya manusia, dan penarikan dilakukan terutama untuk
membantu seleksi personalia.
b. Langkah-Langkah Dalam Proses Seleksi
Departemen personalia dapat menggunakan berbagai prosedur seleksi untuk
membandingkan pelamar dengan spesifikasi jabatan. Langkah-langkah dalam
prosedur seleksi yang biasa digunakan paling tidak terdiri dari tujuah langkah.
Bagi pelamar yang berasal dari suplai internal, kadang-kadang tidak perlu melalui
beberapa langkah, seperti penerimaan pendahuluan, pemeriksaan referensi atau
evaluasi medis (kesehatan).
41
Berbagai Peralatan Tes Ada bermacam-macam jenis tes penerimaan. Setiap
tipe tes mempunyai kegunaan yang terbatas, dan mempunyai tujuan yang berbeda.
Secara ringkas, berbagai tipe tes dapat diuraikan sebagai berikut:
Selain harus feasible penggunaan tes juga harus fleksibel. Hasil tes tidak
selalu merupakan langkah pertama atau terakhir dalam proses seleksi. Akhirnya,
tes penerimaan hanya merupakan suatu teknis di antara berbagai teknik yang
digunakan dalam proses seleksi, karena tes hanya dapat dilakukan terhadap faktor-
faktor yang bisa diuji secara mudah. Hal-hal yang tidak dapat diukur melalui
pengujian mungkin sama pentingnya.
42
LANGKAH 3 : WAWANCARA SELEKSI
Wawancara seleksi adalah percakapan formal dan mendalam yang
dilakukan untuk mengevaluasi hal dapat diterimanya atau tidak (acceptability)
seorang pelamar. Pewawancara (interviewer) mencari jawab dua pertanyaan
umum. Dapatkah pelamar melaksanakan pekerjaan? Bagaimana kemampuan
pelamar dibandingkan dengan pelamar lain?. Wawancara mempunyai tingkah
fleksibilitas tinggi, karena dapat diterapkan baik terhadap para calon karyawan
manajerial atau operasional, berketerampilan tinggi atau rendah, maupun staf.
Teknik ini juga memungkinkan pertukaran informasi dua arah : pewawancara
mempelajari pelamar, dan sebaliknya pelamar mempelajari perusahaan.
Wawancara seleksi mempunyai dua kelemahan utama : reliabilitas dan
validitas. Bagaimanapun juga teknik wawancara penting dilakukan dalam proses
seleksi karena efektivitasnya dapat dipercaya dan mempunyai fleksibilitas.
Tahap-tahap proses wawancara meliputi persiapan pewawancara,
pengarahan atau penciptaan hubungan, pertukaran informasi, terminasi dan
evaluasi. Setiap tahap harus dijalani agar wawancara berhasil.
43
diajukan. Ini menimbulkan komunikasi dua arah dan memungkinkan
pewawancara mulai untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada
pelamar.
4) Terminasi. Bila waktu wawancara yang tersedia habis, pewawancara perlu
memberi isyarat bahwa wawancara akan segera diakhiri, dalam hal ini sekali
lagi komunikasi non verbal sangat berguna.
5) Evaluasi. Segera setelah wawacara berakhir, pewawancara harus mencatat
jawaban-jawaban tertentu dan kesan-kesan umum mengenai pelamar.
Penilaian ini dapat menggunakan catatan yang telah disiapkan secara
standar. Penggunaan catatan atau daftar standar akan meningkatkan
reliabilitas wawancara sebagai teknik seleksi.
1. Halo Effect
2. Leading Questions
44
3. Personal Biases
4. Dominasi Pewawancara
45
LANGKAH 5 : EVALUASI MEDIS
Proses seleksi ini mencakup pemeriksaan kesehatan pelamar sebelum
keputusan penerimaan karyawan dibuat. Pada umumnya, evaluasi ini
mengharuskan pelamar untuk menunjukkan informasi kesehatannya. Pemeriksaan
dapat dilakukan oleh dokter diluar perusahaan maupun oleh tenaga medis
perusahaan sendiri. Evaluasi medis memungkinkan perusahaan untuk menekan
biaya perawatan kesehatan karyawan dan asuransi jiwa, mendapatkan karyawan
yang memenuhi persayaratan kesehatan fisik untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu,
atau memperoleh karyawan yang dapat mengatasi stress fisik dan mental suatu
pekerjaan.
46
LANGKAH 7 : KEPUTUSAN PENERIMAAN
Apakah diputuskan oleh atasan langsung atau departement personalia,
keputusan penerimaan menandai berakhirnya proses seleksi. Dari sudut
pandangan hubungan masyarakat (public relations), para pelamar lain yang tidak
terpilih harus diberitahu. Departemen personalia dapat mempertimbangkan lagi
para pelamar yang ditolak untuk lowongan-lowongan pekerjaan lainnya karena
mereka telah melewati berbagai macam tahap proses seleksi.
Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin banyak jumlah pelamar untuk
diseleksi, semakin baik bagi organisasi karena semangkin besar jaminan bahwa
pelamar yang terseleksi dan diterima menjadi karyawan benar-benar tenaga kerja
47
yang paling memenuhi syarat. Akan tetapi bukan mustahil jumlah pelamar kurang
dari yang diharapkan.
2. Tantangan Etis
Masih saja ada terjadi praktek pemanfaatan sumber daya manusia yang
sifatnya disikriminatif yang didasarkan atas daerah asal, atau latar belakang sosial.
Sekelompok warga masyarakat yang diidentifikasikan sebagai minoritas
diberlakukan pembatasan-pembatasan tertentu. Sehingga mereka tidak
memperoleh kesempatan yang sama dengan warga masyarakat lainnya.
4. Pelamar
48
yang baik-baik saja tentang dirinya. Hal ini terjadi karena pelamar adalah manusia
yang mempunyai pikiran, kepintaran, dan ketelitian untuk mengelabui penyeleksi.
5. Tolak ukur
Tolok ukur adalah kesulitan untuk menentukan standar tolak ukur yang akan
dipergunakan mengukur kualifikasi seleksi secara objektif. Misalnya, mengukur
kejujuran atau kesetiaan. Bobot nilai yang diberikan sering didasarkan pada
pertimbangan subjektif saja.
49
8. Penempatan SDM adalah proses pemberian tugas dan pekerjaan kepada
karyawan yang lulus seleksi untuk dilaksanakan sesuai ruang lingkup
yang telah ditetapkan, serta mampu mempertanggungjawabkan segala
resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi atas tugas dan
pekerjaan, wewenang serta tanggung jawab.
1. Pertumbuhan Perusahaan
50
wewenang dan tanggung jawab yang relatif rendah. Latar belakang pendidikan
pun harus menjadi pertimbangan dalam menempatkan karyawan. Misalnya,
sarjana ekonomi harus ditempatkan pada pekerjaan yang berhubungan dalam
bidang ekonomi. Latar belakang akademis ini dimaksudkan untuk menempatkan
karyawan yang tepat pada posisi yang tepat pula (The Right Man on The Right
Place).
4. Pengalaman Kerja
51
Karyawan yang berpengalaman dapat langsung menyelesaikan tugas dan
pekerjaanya. Karyawan hanya memerlukan pelatihan dan petunjuk yang relatif
singkat. Sebaliknya karyawan yang hanya mengandalkan latar belakang
pendidikan dan gelar yang disandangnya, belum tentu mampu mengerjakan tugas
dan pekerjaan yang diberikan kepadanya dengan cepat.
6. Sikap
7. Usia
Faktor usia tenaga kerja yang lulus seleksi perlu dipertimbangkan dalam
penempatan tenaga kerja. Penempatan tenaga kerja berdasarkan usia perlu
dilakukan untuk menghindari rendahnya produktivitas yang dihasilkan oleh
karyawan yang bersangkutan.
52
K. Prinsip-Prinsip Penempatan Kerja
1. Prinsip kemanusiaan
2. Prinsip Demokrasi
Prinsip ini penting di laksanakan dalam arti bahwa penempatan setiap orang
dalam setiap organisasi yang berarti bahwa penempatan setiap orang dalam
organisasi perlu didasarkan pada kemampuan, keahlian, pengalaman, serta
pendidikan yang di miliki oleh orang yang bersangkutan.
Pemberian balas jasa terhadap karyawan baru didasarkan atas hasil prestasi kerja
yang di dapat oleh pegawai yang bersangkutan.
Prinsip ini di terapkan dalam perusahaan terhadap setiap karyawan yang bekerja
agar dapat melaksanakan tugas-tugas, di butuhkan kesatuan arah, kesatuan
pelaksanaan tugas sejalan dengan program dan rencana yang di gariskan.
53
6. Prinsip Kesatuan Tujuan
Prinsip ini erat hubungannya dengan kesatuan arah artinya arah yang dilaksanakan
karyawan harus di fokuskan pada tujuan yang di capai.
Prinsip ini merupakan kunci ke arah tujuan perusahaan karena efisiensi dan
produktifitas kerja harus dicapai dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Penjelasan :
Dari ayat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa dalam hal penempatan
pegawai, bahwa seseorang tidak boleh berkhianat dalam menunaikan amanahnya
padahal mereka adalah orang yang mengetahui. Jadi dalam proses pengerjaan
tugasnya seorang pegawai harus menyelesaikannya dengan baik dan benar karena
tugas ataupun tanggung jawab yang telah diberikan kepadanya itu merupakan
suatu amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik- baiknya.
54
2. QS. An Nissa’ Ayat : 58
Artinya :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
mendengar lagi Maha melihat.”
Penjelasan :
Ayat diatas menjelaskan tentang sebuah amanat yang wajib disampaikan
kepada yang berhak menerimanya bermaksud memberikan amanat kepada
ahlinya, yaitu orang yang benar-benar mempunyai keahlian dibidang tersebut.
Jadi dalam penempatan seorang pegawai juga harus dilihat dari kemampuan dan
keahlian seorang pegawai tersebut, sehingga apabila seorang pegawai ditempatkan
sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimilikinya maka ia akan lebih
mudah dan cepat dalam menjalankan dan menyelesaikan segala tugas dan
tanggung jawab yang telah dibebankan kepadanya, sehingga tujuan dari
perusahaan tempat ia bekerja akan lebih mudah tercapai.
Artinya :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.”
55
Penjelasan :
Manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk mengabdi kepadanya,
sebagaimana tercantum dalam Al Quran Surat Adz Dzariyaat ayat 56. Mengabdi
artinya menghambakan diri kepada Allah. Penghambaan itu dilakukan dengan
ibadah. Ibadah seperti kita ketahui ada ibadah mahdhah yang berkaitan dengan
ibadah kepada Allah dan ibadah ‘ammah atau muamalah yang berkaitan dengan
hubungan manusia dengan lingkungannya. Jadi apabila seorang pegawai dalam
menjalankan tugasnya dengan baik dan benar hal itu merupakan suatu ibadah
dimata Allah SWT.
56
BAB IV
PENTINGNYA MSDM
A. Pengertian Manajemen
57
MSDM adalah suatu bidang manajemen yang khusus mempelajari
hubungan dan peranan manusia dalam organisasi perusahaan. Dengan demikian,
fokus yang dipelajari MSDM ini hanyalah masalah yang berhubungan dengan
tenaga kerja manusia saja.
Manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap organisasi karena
manusia menjadi perencana, pelaku, dan penentu terwujudnya tujuan organisasi.
Tujuan tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif karyawan meskipun alat-alat
yang dimiliki perusahaan begitu canggihnya. Alat-alat canggih yang dimiliki
perusahaan tidak ada manfaatnya bagi perusahaan. Jika peran aktif karyawan tidak
diikutsertakan. Mengatur karyawan adalah sulit dan kompleks, karena mereka
mempunyai pikiran, perasaan, status, keinginan, dan latar belakang yang
heterogen yang dibawa kedalam organisasi.
Karyawan tidak dapat diatur dan dikuasai sepenuhnya seperti mengatur
mesin, modal, gudang, rumah dll. MSDM adalah bagian dari manajemen. Oleh
karena itu, teori-teori manajemenumum menjadi dasar pembahasannya.
MSDM lebih memfokuskan pembahasannya mengenai pengaturan
peranan manusia dalam mewujudkan tujuan yang optimal. Pengaturan itu meliputi
masalah perencanaan ( human resources planning ). Pengorganisasian,
pengarahan, pengendalian, pemeliharaan, kedisiplinan, dan pemberhentian tenaga
kerja untuk membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan
masyarakat. Jelasnya MSDM mengatur tenaga kerja manusia sedemikian rupa
sehingga terwujud tujuan perusahaan, kepuasan karyawan, dan masyarakat.
58
e. Pemerintah dengan undang-undang dan keppresnya.
f. Biaya hidup/cost of living.
g. Posisi jabatan karyawan.
h. Pendidikan dan pengalaman karyawan.
i. Kondisi perekonomian nasional.
j. Jenis dan sifat pekerjaan.
k. Penawaran dan permintaan tenaga kerja
59
Pemerintah dengan undang-undang dan keppres menetapkan besarnya
batas upah/balas jasa minimum. Peraturan pemerintah ini sanagat penting supaya
pengusaha tidak sewenang-wenang menetapkan besarnya balas jasa bagi
karyawan. Pemerintah berkewajiban melindungi masyarakat dari tindakan
sewenang-wenang.
60
Sebaliknya, jika kondisi perekonomian kurang maju ( depresi ) maka
tingkat upah rendah, karena terdapat banyak pengangguran ( desquished
unemployement ).
61
1. Metode latihan atau training.
2. Metode pendidikan atau education.
a. On the job
Para peserta latihan langsung bekerja ditempat untuk belajar dan meniru
suatu pekerjaan dibawah bimbingan seorang pengawas. Metode latihan dibedakan
dalam 2 cara.
62
tidak teratur ( tidak sistematis ) dan kurang efektif jika pengawas kurang
pengalaman.
b. Vestibule
Vestibule adalah metode latihan yang dilakukan dalam kelas atau bengkel
yang biasanya diselenggarakan didalam suatu perusahaan industri untuk
memperkenalkan pekerjaan kepada karyawan baru dan melatih mereka
mengerjakan pekerjaan tersebut.
d. Simulation
Simulation merupakan situasi atau kejadian yang ditampilkan semirip
mungkin dengan situasi yang sebenarnya tapi hanya merupakan tiruan saja.
Simulasi merupakan suatu teknik untuk mencontoh semirip mungkin terhadap
konsep sebenarnya dari pekerjaan yang akan dijumpainya.
e. Apprentichesip
Metode ini adalah suatu cara untuk mengembangkan keahlian pertukangan
sehingga para karyawan yang bersangkutan dapat mempelajari segala aspek dari
pekerjaannya.
f. Classroom method
Metode pertemuan dalam kelas meliputi lecture ( pengjaran ), conference
( rapat ), programmed instruction, metode studi kasus, role playing, metode
diskusi. Dan metode seminar,
63
F. Promosi Karyawan
64
g. Kepemimpinan
h. Komunikatif
i. Pendidikan
5. Tujuan-tujuan promosi
1. Untuk memberikan pengakuan, jabatan, dan imbalan jasa yang semakin
besar kepada karyawan yang berprestasi kerja tinggi
2. Dapat menimbulkan kepuasan dan kebanggan pribadi, status social yang
semakin tinggi, dan penghasilan yang semakin besar.
3. Jenis-jenis promosi
a. Promosi sementara
b. Promosi Tetap
c. Promosi kecil
d. Promosi kering
G. Mutasi Karyawan
a. Pengertian Mutasi
Salah satu tindak lanjut yang dilakukan dari hasil penilaian prestasi
karyawan adalah mutasi karyawan.
Mutasi adalah suatu perubahan posisi/jabatan/tempat/pekerjaan yang
dilakukan baik secara horizontal maupun vertical (promosi/demosi) didalam suatu
organisasi.
a. Tujuan Mutasi
1. Untuk meningkatkan produktivitas karyawan
2. Untuk menciptakan keseimbangan antara tenaga kerja dengan
komposisi pekerjaan atau jabatan.
3. Untuk memperluas atau menambah pengetahuan karyawan.
b. Prinsip Mutasi
65
Prinsip mutasi adalah memutasikan karyawan kepada posisi yang tepat dan
pekerjaan yang sesuai, agar semangat dan produktifitas kerjanya meningkat.
c. Dasar Mutasi
Ada 3 landasan/dasar pelaksanaan mutasi karyawan yang kita kenal merit
system, seniority system dan spoiled system.
H. Merid Sistem
Merid system adalah mutasi yang didasarkan atas landasan yang bersifat
ilmiah, objektif, dan hasil prestasi kerjanya. Merid system atau carreer system ini
merupakan dasar mutasi yang baik karena:
a. Output dan produktivas meningkat;
b. Semangat kerja meningkat;
c. Jumlah kesalahan menurun;
d. Absensi dan disiplin karyawan semakin baik;
e. Jumlah kecelakaan akan menurun.
I. Seniority Sistem
Seniority system adalah mutasi yang didasarkan atas landasan masa kerja,
usia, dan pengalaman kerja, dan pengalaman kerja dari karyawan bersangkutan.
Sitem mutasi seperti ini tidak objektif karena kecakapan orang yang dimutasikan
berdasarkan senioritas belm tentu mampu memangku jabatan baru.
1. Spoil system
Spoil system adalah mutasi yang didasarkan atas landasan kekeluargaan.
System mutasi seperti ini kurang baik karena didasarkan atas pertimbangan suka
atau tidak suka ( like or dislike )
2. Cara-cara mutasi
Ada 2 cara mutasi yang dilakukan dalam suatu organisasi :
1. Cara tidak ilmiah
2. Cara ilmiah
66
a. Mutasi dengan cara tidak ilmiah
1) Tidak didasarkan kepada norma/standar kriteria tertentu.
2) Berorientasi semata-mata kepada masa kerja dan ijazah, bukan atas
prestasi atau faktor-faktor riil.
3) Berorientasi kepada banyaknya anggaran yang tersedia, bukan atas
kebutuhan riil karyawan.
b. Mutasi dengan cara ilmiah dilakukan:
1) Berdasarkan norma atau standar kriteria tertentu, seperti analisis
pekerjaan.
2) Berorientasi pada kebutuhan yang rill/nyata.
3) Berorientasi kepada tujuan yang beraneka ragam.
3. Ruang Lingkup Mutasi
1. Mutasi horizontal artinya perubahan tempat atau jabatan karyawan
tetapi masih pada ranking yang sama didalam organisasi itu.
2. Mutasi vertical adalah perubahan posisi/jabatan/pekerjaan, promosi
atau demosi, sehingga kewajiban dan kekuasaannya juga berubah.
4. Sebab dan alasan Mutasi
1. Permintaan sendiri, adalah mutasi yang dilakukan atas keinginan
sendiri dari karyawan yang bersangkutan dan dengan mendapat
persetujuan pimpinan organisasi.
2. Alih tugas produktif, adalah mutasi karena kehendak pimpinan
perusahaan untuk meningkatkan produksi dengan menempatkan
karyawan bersangkutan kejabatan atau pekerjaan yang sesuai dengan
kecakapannya.
67
BAB V
KONSEP KARIR
1. Karir
2. Jalur karir
3. Tujuan / sasaran karir
4. Perencanaan karir
5. Pengembangan karir
6. Manajemen karir
7. Konseling karir
1. Karir
Para pakar lebih sering mendefinisikan karir sebagai proses suatu konsep
yang tidak statis dan final. Mereka cenderung mendefinisikan karir sebagai
“perjalanan pekerjaan seorang pegawai di dalam organisasi”. Perjalanan ini
dimulai sejak ia diterima sebagai pegawai baru, dan berakhir pada saat ia tidak
bekerja lagi dalam organisasi tersebut.
68
Konsep karir adalah konsep yang netral (tidak berkonotasi positif atau
negatif). Karena itu karir ada yang baik, ada pula karir yang buruk. Ada
perjalanan karir yang lambat, ada pula yang cepat. Tetapi, tentu saja semua orang
mendambakan memiliki karir yang baik dan bila mungkin bergulir dengan cepat.
Karir dapat diletakkan dalam konteks organisasi secara formal, tetapi karir dapat
pula diletakkan dalam konteks yang lebih longgar dan tidak formal. Dalam kaitan
arti yang terakhir ini, kita biasa mengatakan, misalnya, “karir si A sebagai pelukis
cukup baik” dan si B mengakhiri karirnya di bidang politik secara baik”, dan
sebagainya.
69
pegawai mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai tujuan karir tertentu.
Meskipun demikian, kenyataan sehari-hari tidak selalu ideal seperti ini. Ada
pegawai yang bagus karirnya, ada pula pegawai yang mempunyai karir buruk
meskipun prestasi kerja yang ditunjukkannya bagus.
Dalam organisasi yang baik dan mapan, jalur karir pegawai selalu jelas
dan eksplisit, baik titik-titik karir yang dilalui maupun persyaratan yang harus
dipenuhi untuk mencapai tujuan karir tertentu. Di lingkungan pegawai negeri,
misalnya, dikenal jalur karir sruktural dan fungsional. Seorang dosen di perguruan
tinggi, sebagai ilustrasi, boleh meniti karir di bidang struktural, boleh juga di
bidang fungsional. Secara struktural, ia boleh menjadikan ketua jurusan, ketua
program, pembantu dekan, dekan, pembantu rektor, dan bahkan rektor.
Namun, kalaupun ia tidak menuduki jabatan struktural tertentu, dosen
tersebut masih mempunyai kesempatan untuk meniti karir di jalur fungsional, dari
Asisten Ahli sampai ke tingkat tertinggi yaitu Guru Besar. Dalam hal ini,
persyaratan untuk naik ke jabatan struktural tertentu atau ke jenjang fungsional
tertentu telah ditentukan dengan jelas dan bahkan dilengkapi dengan ukuran-
ukuran kuantitatif (cumulativ credit point, CCP).
3. Tujuan Karir
Pengembangan karir sebagai kegiatan Manajemen SDM pada dasarnya
bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas pelaksanaan pekerjaan
oleh para pekerja, agar semakin mampu memberikan kontribusi terbaik dalam
mewujudkan tujuan bisnis organisasi atau perusahaan. Pelaksanaan pekerjaan
yang semakin meningkat dan baik itu berpengaruh langsunng pada peluang bagi
seorang pekerja untiuk memperoleh suatu jabatan yang diharapkan.
Tujuan atau sasaran karir adalah posisi atau jabatan tertentu yang dapat
dicapai oleh seorang pegawai bila yang bersangkutan memenuhi semua syarat dan
kualifikasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan jabatan tersebut.
Yang penting dicatat, tujuan atau sasaran karir tidak otomatis tercapai bila
seorang pegawai memenuhi semua syarat yang harus dipenuhi. Misalnya seorang
70
kepala subagian tidak otomatis menjadi kepala bagian meskipun ia telah
memenuhi syarat untuk menjadi kepala bagian. Untuk menjadi kepala bagian, ia
harus memenuhi syarat-syarat yang seringkali di luar kekuasaannya, misalnya ada
tidaknya lowongan jabatan kepala bagian, keputusan dan preferensi pimpinan,
adanya kandidat lain yang sama kualitasnya, dan sebagainya.
4. Perencanaan Karir
Perencanaan karir adalah salah satu fungsi manajemen karir. Perencanaan
karir adalah perencanaan yang dilakukan baik oleh individu pegawai maupun oleh
organisasi berkenaan dengan karir pegawai, terutama mengenai persiapan yang
harus dipenuhi seorang pegawai untuk mencapai tujuan karir tertentu.
Yang perlu digarisbawahi, perencanaan karir pegawai harus dilakukan
oleh kedua belah pihak yaitu pegawai yang bersangkutan dan organisasi. Jika
tidak, maka perencanaan karir pegawai tidak akan menghasilkan rencana yang
baik dan realistis.
5. Pengembangan Karir
Pengembangan karir adalah salah satu fungsi manajemen karir.
Pengembangan karir adalah proses mengidentifikasi potensi karir pegawai, dan
materi serta menerapkan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan potensi
tersebut.
Secara umum, proses pengembangan karir dimulai dengan mengevaluasi
kinerja pegawai. Proses ini lazim disebut sebagai penilaian kinerja (performance
appraisal). Dari hasil penelitian kinerja ini kita mendapatkan masukan yang
menggambarkan profil kemampuan pegawai (baik potensinya maupun kinerja
aktualnya). Dari masukan inilah kita mengidentifikasi berbagai metode untuk
mengembangkan potensi yang bersangkutan.
6. Manajemen Karir
Manajemen karir adalah proses pengelolaan karir pegawai yang meliputi
tahapan kegiatan perencanaan karir, pengembangan dan konseling karir, serta
pengambilan keputusan karir. Manajemen karir melibatkan semua pihak termasuk
pegawai yang bersangkutan dengan unit tempat si pegawai bekerja, dan organisasi
71
secara keseluruhan. Oleh karena itu manajemen karir mencakup area kegiatan
yang sangat luas.
7. Konseling Karir
Konseling karir adalah proses mengidentifikasi masalah-masalah yang
berhubungan dengan karir seorang pegawai serta mencari alternatif jalan keluar
dari berbagai masalah tersebut. Dalam organisasi, terdapat berbagai masalah yang
berhubungan dengan karir pegawai. Ada yang tidak terlampau serius sehingga
dapat dipecahkan dalam tempo relatif cepat. Ada pula yang sangat serius sehingga
mengganggu pekerjaan si pegawai sendiri maupun pekerjaan rekan sekerja
lainnya. Dalam keadaan seperti ini, konseling karir sangat diperlukan, baik oleh
pegawai maupun oleh organisasi. Bahkan organisasi yang cukup besar seringkali
merasa perlu mempekerjakan seorang pakar (konselor) yang khusus menangani
masalah-masalah karir ini.
Para ahli SDM melihat perencanaan karir sebagai sebuah cara untuk
memenuhi kebutuhan staf internal. Meskipun bantuan perencanaan karir
umumnya terjadi untuk posisi-posisi manajer, profesional, dan karyawan teknisi,
karena keterbatasan anggaran, idealnya seluruh karyawan hendaknya memiliki
akses untuk itu. Ketika pengusaha mendorong perencanaan karir, para karyawan
akan lebih mungkin untuk menyusun tujuan karir dan bekerja dengan giat untuk
mencapai hal itu. Pada gilirannya, tujuan-tujuan itu dapat memotivasi karyawan
untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan lanjutan dan bentuk kegiatan
pengembangan lainnya. Hal itu mungkin terjadi karena karyawan terdorong oleh
motif bahwa pekerjaan merupakan bagian dari hidup dan kehidupan melalui
investasi SDM yang tidak terputus.
72
B. Perencanaan Karir
Perencanaan karir merupakan kegiatan atau usaha untuk mengatakan
perjalanan kerier pegawai serta mengidentifikasi hal-hal yang dapat dilakukan
untuk mencapai tujuan karir tertentu. Perencanaan karir dilakukan baik oleh
pegawai maupun oleh organisasi. Karena itu, kita mengenal dua macam
perencanaan karir, yaitu :
1. Perencanaan karir (di tingkat) organisasi (Organization career panning).
2. Perencanaan karir individual pegawai (Individual career palnning).
73
Untuk mengetahui profil kebutuhan inilah maka dinamika perubahan
profil pegawai harus dipetakan. Salah satu caranya adalah dengan membuat
Matriks Transisi yang contohnya seperti berikut :
M S K Exit
Manajer (M) .80 .00 .00 .20
74
Profil Rotasi Pegawai di PT XYZ
B 15 75 10
C 05 15 60 20
Pekerjaan D 30 50 20
E 15
85
F 05 15
10 70
G 15
05 05 15 60
H 15
05 25 55
75
Pada contoh matriks di atas, misalnya, kita mengetahui bahwa terdapat
kekuarangan pegawai sebesar 40% untuk pekerjaan A, dan kekurangan 25%
untuk pekerjaan B.
Dalam perusahaan yang memiliki Turn Over (perpindahan pegawai) cukp
tinggi, matriks diatas amat sangat berguna untuk melacak perpindahan tersebut.
pada kasus-kasus tertentu, pemetaan itu tidak hanya harus direvisi setahun sekali,
namun bahkan beberapa bulan sekali.
Pemetaan kebutuhan pegawai adalah satu hal, sedangkan cara-cara
memenuhi kebutuhan tersebut adalah hal lain lagi. Dalam hal ini kebutuhan
pegawai; antara lain adalah melalui penarikan (rekrutmen) pegawai baru, relokasi
pegawai dari unit ke unit lain, menyesuaikan beban kerja dengan pegawai yang
ada, memsubkontrakkan pekerjaan ke lembaga lain, menambah beban kerja
sampai ambang batas tertentu, dan sebagainya.
b. Deskripsi Jabatan
Selain membuat profil kebutuhan pegawai, organisasi juga harus membuat
deskripsi jabatan/pekerjaan. Pembuatan deskripsi jabatan ini cukup rumit (sedikit
banyak sudah dibahas di bab dua). Namun pada prinsipnya, sebuah organisasi
seharusnya mempunyai daftar untuk semua jenis pekerjaan/jabatan tersebut,
lengkap dengan persyaratan untuk mengerjakannya (job requirement).
76
d. Mekanisme Penilaian Kinerja Pegawai
Karir pegawai berkaitan erat dengan kinerja pegawai. Karena itu, kinerja
pegawai harus dinilai secara akurat. Untuk itu diperlukan suatu mekanisme
penilaian yang jelas. Hal ini akan dibahas lebih rinci di bab enam.
Bagi pegawai, perencanaan karir ditingkat organisasi tidak akan dianggap
penting bila tidak ada sangkut pautnya dengan karir sipegawai tersebut. Karena
itu, perencenaan karir ditingkat organisasi harus bisa “diterjemahkan” menjadi
perencanaan karir ditingkat individu pegawai.
Telah dijelaskan bahwa perjalanan karir seorang pegawai dimulai sejak dia
masuk kesebuah organisasi, dan berakhir ketika ia berhenti bekerja diorganisasi
itu. Dan hal ini berlaku bagi siapapun yang bekerja diorganisasi tersebut, dari
pegawai ditingkat yang paling rendah sampai ke tingkat pimpinan yang paling
tinggi.
Pada dasarnya tujuan perencanaan karir untuk seorang pegawai adalah
mengetahui sedini mungkin prospek karir pegawai tersebut dimasa depan, serta
menetukan langkah-langkah yang perlu diambil agar tujuan karir tersebut dapat
dicapai secara efektif-efisien.
77
1. Dialog
Urusan karir adalah urusan pegawai. Karena itu perencanaan karir harus
melibatkan pegawai. Pegawai harus diajak berbicara, berdialog, bertanya jawab
mengenai prospek mereka sendiri.
Ini kelihatannya mudah. Tetapi di negara timur seperti Indonesia, karir
jarang didialogkan denga pegawai. Pegawai sering kali merasa malu dan risih jika
diajak bicara tentang karir mereka sendiri. Mereka takut dianggap terlalu
memikirkan karir dan ambisius. Karena itu, karir sering kali tabu dibicarakan.
Meskipun demikian dialog tentang karir ini harus diusahakan terjadi antara
organisasi (misalnya diwakili seorang pimpinan) dengan pegawai.
Melalui dialog inilah diharapkan timbul saling pengertian antara pegawai
dan organisasi tentang prospek masa depan si pegawai.
2. Bimbingan
Tidak semua pegawai memahami jalur karir dan prospek karirnya sendiri.
Karena itu, organisasi harus membuka kesempatan untuk melakukan bimbingan
karir terhadap pegawai. Melalui bimbingan inilah pegawai dituntun untuk
memahami berbagai informasi tentang karir mereka baik itu mengetahui tujuan
karir yang dapat mereka raih (jangka pendek atau jangka panjang), persyaratan
untuk mencapai tujuan karir tersebut, serta usaha-usaha apa yang harus dilakukan
agar tujuan tersebut dapat dicapai secara efisien.
3. Keterlibatan Individual
Dalam rangka hubungan kerja yang manusiawi (humanistic) pegawai tidak
boleh dianggap sebagai sekrup dari sebuah mesin bisnis yang besar, yang boleh
diperlakukan semena- mena termasuk dalam penentuan nasib karir mereka.
Setiap individu pegawai seharusnya dilibatkan dalam proses perencanaan
karir. Mereka harus diberi kesempatan berbicara dan memberikan masukan dalam
proses tersebut. Jika tidak maka perencanaan karir akan berjalan timpang karena
hanya dilihat dari sisi kepentingan organisasi belaka.
4. Umpan Balik
Sebenarnya, proses pemberian umpan balik selalu terjadi jika ada dialog.
Tetapi dalam hal ini ingin ditegaskan bahwa setiap pegawai mempunyai hak
78
untuk mrngetahui setiap keputusan yang berkenaan dengan karir mereka. Jika
dipromosikan, mereka berhak tahu mengapa mereka dipromosikan. Bila tidak
terjadi perubahan karir dalam waktu yang cukup lama, mereka juga berhak tahu
mengapa hal ini terjadi. Pegawai berhak bertanya. Organisasi berkewajiban
menjawab pertanyaan tersebut.
5. Mekanisme Perencanaan Karir
Yang maksud di sini adalah tata cara atau prosedur yang ditetapkan agar
proses perencanaan karir dapat dilaksanakan sebaik- baiknya. Dalam mekanisme
perencanaan karir ini harus diusahakan agar empat hal di atas (dialog, bimbingan,
keterlibatan individual, dan umpan balik) dapat terwadahi. Di samping itu,
mekanisme seyogyanya dilengkapi dengan aturan atau prosedur yang lebih rinci,
formal, dan tertulis.
Yang penting untuk dicatat adalah bahwa kelima syarat di atas harus
terpenuhi secara integral. Jika satu syarat saja tidak terpenuhi, maka pembinaan
karir pegawai pasti akan mengalami hambatan.
79
Tabel 9.3. Tahapan Karir, Kebutuhan Tugas, dan
Kebutuhan Emosional Pegawai.
Tahap Kebutuhan Tugas Kebutuhan Emosional
Coba-coba § Beraneka ragam tugas dan § Berusaha menentukan pilihan
aktifitas pekerjaan yang sesuai
80
§ Rencana untuk pensiun § Mendukung dan mambantu
orang lain agar bekerja lebih
§ Pergeseran dari peran baik
kekuasaan ke perasn yang lebih
bersifat pembimbing § Mengembangkan identitas diri di
berbagai kegiatan di laur
§ Pencarian kader pengganti organisasi
Lanjut
81
1. Analisis Kebutuhan Karir Individu
Analisis kebutuhan karir individu, dalam hubungannya dengan karir
pegawai, adalah proses mengidentifikasi potensi (kekuatan) dan kelemahan yang
dimiliki oleh seorang pegawai, agar dengan demikian karir pegawai yang
bersangkutan dapat direncanakan dan dikembangkan sebaik- baiknya.
Pada dasarnya, analisis kebutuhan karir individu ini dilakukan oleh dua
pihak, yaitu atasan langsung dan pegawai itu sendiri. Kedua belah pihak ini harus
bekerja sama sebaik-baiknya sehingga kebutuhan karir pegawai dapat di
identifikasi sebaik- baiknya.
Sedikitnya ada dua cara untuk mengidentifikasi kebutuhan karir pegawai
yaitu career by objective (CBO) dan analisis peran kompotensi.
a) Career By Objective
Melalui cara pertama (CBO), pegawai dibimbing untuk menjawab
beberapa pertanyaan tentang dirinya sendiri, yaitu :
1. Dimana saya saat ini ? Pertanyaan ini dimaksudkan untuk membantu
pegawai mengingat kembali apa saja yang pernah dicapainya di masa
lalu, dan kegagalan apa saja yang pernah dialaminya. Dengan kata
lain, pertanyaan ini menggiring si pegawai untuk mengkaji kembali
perjalanan hidup yang pernah ia lalui, serta memberi tanda pada bagian
– bagian terpenting dalam perjalanan hidup itu, di mana ia sukses, di
mana pula ia gagal.
2. Siapa saya ? Pertanyaan ini dimaksudkan untuk membantu pegawai
menemukan jati dirinya. Pegawai dibimbing untuk menjenguk isi
jiwanya sendiri dan menjawab:
3. Apa kelebihan dan kekurangan saya ? Apa bakat saya ? Apakah saya
punya bakat menjadi pemimpin ? Apakah saya pemberani ? Penakut
? Jujur ? dan seterusnya.
4. Apa yang sebenarnya ingin saya capai ? Pertanyaan ini dimaksud
untuk membantu pegawai memformulasikan cita-citanya sendiri secara
realistis. Ia dibantu untuk menjawab: Apakah dengan kemampuan
yang saya miliki ini, saya tanpa sadar mendambakan sesuatu yang
82
terlalu muluk ? Apakah justru cita- cita saya terlalu rendah ? Pesimis ?
Kurang ambisius ?
5. Pekerjaan apakah yang paling cocok bagi saya? Pertanyaan ini
mendorong pegawai untuk berpikir lebih realistis dan praktis. Ia
dituntut untuk memilih. Ia dituntut untuk menentukan nasibnya sendiri.
Apakah saya cocok bekerja dilapangan yang membutuhkan
keterampila keterampilan teknis? Apakah saya cukup punya bakat dan
kemauan untuk bekerja “ dibelakang meja”, untuk memikirkan hal- hal
yang teoritis dan konseptual ?
6. Jabatan apa yang paling cocok untuk saya ? Pertanyaan ini sudah
menjurus ke jabatan-jabatan yang ada didalam organisasi tempat si
pegawai bekerja. Cocokkah saya staf marketing ? Atau saya justru
lebih cocok bekerja sebagai staf keuangan dan sebagainya.
83
13. Penganalis tugas
14. Peneliti
15. Pengembang kurikulum
Contoh kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai oleh orang-orang
yang mempunyai peran di atas, misalnya :
1. Pengetahuan tentang pendidikan orang dewasa
2. Keterampilam kompueter
3. Pengetahuan dalam pengembangan kurikulum
4. Keterampilan komunikasi
5. Kemampuan meneliti
6. Kemampuan menulis bahan ajar
84
Dalam hal ini, nomor urut di atas (1, 2, 3) sengaja disusun demikian untuk
menunjukkan tingkat kemungkinan si pegawai memegang jabatan tersebut. dalam
contoh diatas, nomor 1 (menjadi Kepala Divisi Pemasaran) paling mungkin, dan
nomor 3 kemungkinannya paling rendah.
Dalam peta karir tersebut, dijelaskan mengapa pegawai bersangkutan
diangap lebih berkemungkinan menjadi kepala divisi pemasaran dari pada kepala
divisi keuangan atau kepala divisi produksi.
85
mandeg. Umum diketahui, tersendatnya karir pegawai cepat atau lambat akan
menimbulkan masalah bagi semua pihak.
Dari contoh di atas, baik organisasi maupun pegawai harus berusaha agar
prospek karir menjadi “kepala divisi permasaran” dapat direalisasikan secepat
mungkin. Untuk itu perlu dipertanyakan: usaha-usaha apa yang perlu dilakukan
agar pegawai ini dapat dan mampu menjadi Kepala Divisi Pemasaran ?
Jawaban untuk pertanyaan ini mungkin akan berupa sederetan kegiatan yang
harus dilakukan oleh si pegawai, misalnya :
1. Kursus bahasa Inggris
2. Magang di divisi pemasaran
3. Berpartisipasi dalam prospek riset pemasaran
4. Menghadiri seminar dan lokakarya tentang pemasaran
5. Merancang strategi pemasaran
Kesimpulannya, si pegawai harus dibantu sedemikian rupa agar dari hari
ke hari ia semakin dekat dengan tujuan karir yang telah dipetakan (“diramalkan”)
sebelumnya. Hanya dengan demikian proses perencanaan karir benar-benar
mempunyai makna, baik bagi organisasi, maupun bagi si pegawai sendiri.
F. Pengembangan Karir
Pengembangan karir adalah proses pelaksanaan (implementasi)
perencanaan karir. Pengembangan karir pegawai dapat dilakukan melalui dua cara
diklat dan cara nondiklat. Pengembangan karir melalui dua jalur ini sedikit-
banyak telah di bahas di bab Pelatihan dan Pengembangan. Pada bagian ini,
cukuplah kita sebutkan beberapa contoh bentuk pengembangan karir melalui dua
cara ini.
a. Contoh-contoh pengembangan karir melalui cara diklat adalah :
a. Menyekolahkan pegawai (di dalam atau di luar negeri),
b. Memberi pelatihan (di dalam atau di luar organisasi),
c. Memberi pelatihan sambil bekerja (on-the-job training).
b. Contoh-contoh pengembangan karir melalui cara nondiklat adalah :
86
a. Memberi penghargaan kepada pegawai
b. Menghukum pegawai
c. Mempromosikan pegawai ke jabatan yang lebih tinggi
d. Merotasi pegawai ke jabatan lain yang setara dengan jabatan
semula.
Kesuksesan proses pengembangan karir tidak hanya penting bagi
organisasi secara keseluruhan. Dalam hal ini, beberapa hal atau faktor yang sering
kali amat berpengaruhterhadap manajemen karir adalah :
a. Hubungan pegawai dan organisasi
b. Personalitas pegawai
c. Faktor-faktor eksternal
d. Politicking dalam organisasi
e. System penghargaan
f. Jumlah pegawai
g. Ukuran organisasi
h. Kultur organisasi
i. Tipe manajemen
87
b. Personalia Pegawai
Kadangkala, menajemen karir pegawai terganggu karena adanya pegawai
yang mempunyai personalitas yang menyimpang (terlalu emosional, apatis, terlalu
ambisius, curang, terlalu bebal, dan lain-lain). Pegawai yang apatis, misalnya,
akan sulit dibina karirnya sebab dirinya sendiri ternyata tidak perduli dengan
karirnya sendiri. Begitu pula dengan pegawai yang cenderung terlalu ambisius
dan curang. Pegawai ini mungkin akan memaksakan kehendaknya untuk
mencapai tujuan karir yang terdapat dalam manajemen karir. Keadaan ini menjadi
lebih runyam dan tidak dapat dikontrol bila pegawai bersangkutan merasa kuat
karena alasan tertentu (punya koneksi dengan bos, mempunyai backing dari
orang-orang tertentu, dan sebagainya).
c. Faktor Eksternal
Acapkali terjadi, semua aturan dalam manajemen karir di suatu organisasi
menjadi kacau lantaran ada intervensi dari pihak luar. Seorang pegawai yang
mempromosikan ke jabatan lebih tinggi, misalnya, mungkin akan terpaksa
dibatalkan karena ada orang lain yang didrop dari luar organisasi. Terlepas dari
masalah apakah kejadian demikian ini boleh atau tidak, etis atau tidak etis,
kejadian semacam ini jelas mengacaukan menajemen karir yang telah dirancang
oleh organisasi.
d. Politicking Dalam Organisasi
Manajemen karir pegawai akan tersendat dan bahkan mati bila faktor lain
seperti intrik-intrik, kasak-kasak, hubungan antar teman, nepotisme, feodalisme,
dan sebagainya, lebih dominan mempengaruhi karir seseorang dari pada prestasi
kerjanya. Dengan kata lain, bila kadar “politicking” dalam organisasi sudah
demikian parah, maka manajemen karir hampir dipastikan akan mati dengan
sendirinya. Perencanaan karir akan menjadi sekedar basa-basi. Dan organisasi
akan dipimpin oleh orang-orang yang pintar dalam politicking tetapi rendah mutu
profesionalitasnya.
e. Sistem Penghargaan
Sistem manajemen (reward system) sangat mempengaruhi banyak hal,
termasuk manajemen karir pegawai. Organisasi yang tidak mempunyai sistem
88
penghargaan yang jelas (selain gaji dan insentif) akan cenderung memperlakukan
pegawainya secara subyektif. Pegawai yang berprestasi baik dianggap sama
dengan pegawai malas. Saat ini, mulai banyak organisasi yang membuat sistem
penghargaan yang baik (misalnya dengan menggunakan sistem “kredit poin”)
dengan harapan setiap prestasi yang ditunjukkan pegawai dapat diberi “kredit
poin” dalam jumlah tertentu.
f. Jumlah Pegawai
Menurut pengalaman dan logika akal sehat, semakin banyak pegawai
maka semakin ketat persaingan untuk menduduki suatu jabatan, dan semakin kecil
kesempatan (kemungkinan) bagi seorang pegawai untuk meraih tujuan karir
tertentu. Jumlah pegawai yang dimiliki sebuah organisasi sangat mempengaruhi
manajemen karir yang ada. Jika jumlah pegawai sedikit, maka manajemen karir
akan sederhana dan mudah dikelola. Jika jumlah pegawai banyak, maka
manajemen karir menjadi rumit dan tidak mudah dikelola.
g. Ukuran Organisasi
Ukuran organisasi dalam konteks ini berhubungan dengan jumlah jabatan
yang ada dalam organisasi tersebut, termasuk jumlah jenis pekerjaan, dan jumlah
personel pegawai yang diperlukan untuk mengisi berbagai jabatan dan pekerjaan
tersebut. biasanya, semakin besar organisasi, semakin kompleks urusan
manajemen karir pegawai. Namun, kesempatan untuk promosi dan rotasi pegawai
juga lebih banyak.
h. Kultur Organisasi
Seperti sebuah sistem masyarakat, organisasi pun mempunyai kultur dan
kebiasaan-kebiasaan. Ada organisasi yang cenderung berkultur professional,
obyektif, raasional, dan demokratis. Ada juga organisasi yang cenderung
feodalistik, rasional, dan demokratis. Ada juga organisasi yang cenderung
menghargai prestasi kerja (sistem merit). Ada pula organisasi yang lebih
menghargai senioritas dari pada hal-hal lain.
Karena itu, meskipun organisasi sudah memiliki sistem manajemen karir
yang baik dan mapan secara tertulis, tetapi pelaksanaannya masih sangat
tergantung pada kultur organisasi yang ada.
89
i. Tipe Manajemen
Secara teoritis-normatif, semua manajemen sama saja di dunia ini. Tetapi
dalam impelemntasinya, manajemen di suatu organisasi mungkin amat berlainan
dari manajemen di organisasi lain. Ada manajemen yang cemderung kaku,
otoriter, tersentralisir, tertutup, tidak demokratis. Ada juga manajemen yang
cenderung fleksibel, partisipatif, terbuka, dan demokratis.
Jika manajemen cenderung kaku dan tertutup, maka keterlibatan pegawai
dalam hal pembinaan karirnya sendiri juga cenderung minimal. Sebaliknya, jika
manajemen cenderung terbuka, partisipatif, dan demokratis, maka keterlibatan
pegawai dalam pembinaan karir mereka juga cenderung besar.
Dengan kata lain, karir seorang pegawai tidak hanya tergantung pada
faktor-faktor internal di dalam dirinya (seperti motivasi untuk bekerja keras dan
kemauan untuk ingin maju), tetapi juga sangat tergantung pada faktor-faktor
eksternal seperti manajemen. Banyak pegawai yang sebenarnya pekerja keras,
cerdas, jujur, terpaksa tidak berhasil meniti karir dengan baik, hanya karena
pegawai ini “terjebak” dalam sistem manajemen yang buruk.
j. Peran dan Fungsi Departemen Sumber Daya Manusia
Tidak dapat dipungkiri, persaingan antara satu perusahaan dengan
perusahaan lain saat ini semakin ketat. Sehingga mau tidak mau atau suka tidak
suka, setiap perusahaan harus melakukan pembenahan secara internal untuk dapat
bersaing dalam persaingan yang terjadi. Agar hal tersebut dapat terlaksana,
diperlukan sumber daya manusia yang andal. Sumber daya manusia yang andal
hanya dapat diperoleh dengan perencanaan sumber daya manusia yang baik dan
akurat. Artinya, sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan
dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.
Perencanaan SDM diperlukan untuk mendapatkan tenaga kerja yang andal
dan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dalam menyikapi persaingan yang
terjadi. Misalnya dengan menambah beberapa atau satu departemen. Penambahan
itu bertujuan agar perusahaan siap dalam menghadapi persaingan. Contohnya
posisi legal officer. Posisi ini dibentuk agar perusahaan dapat melindungi
kepentingan perusahaan. Kepentingan perusahaan senantiasa harus dilindungi
90
mengingat ketatnya persaingan yang terjadi dapat berupa persaingan yang tidak
sehat. Sehingga, dengan adanya posisi legal officer, perusahaan dapat terlindungi
secara hukum. Karena pada umumnya legal officer memahami dokumen-
dokumen yang harus disediakan dan langkah-langkah hukum yang harus
ditempuh jika perusahaan menghadapi masalah hukum.
Perencanaan SDM dalam suatu perusahaan merupakan peran yang harus
dijalankan sehingga sebagai bagian dari suatu perusahaan, departemen SDM
memiliki fungsi “sebagai pemain kunci dalam menolong perusahaan-perusahaan
mencapai tujuan-tujuan strategis.”
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan strategis suatu
perusahaan hanya akan dapat tercapai jika perusahaan tersebut didukung oleh
SDM yang andal dan menguasai bidangnya masing-masing. Penguasaan bidang
pekerjaan merupakan hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap personal yang
bekerja disuatu perusahaan. Tentunya akan menimbulkan permasalahan jika
seorang karyawan yang tidak memiliki keahlian di bidang teknik. Tetapi diberi
jabatan struktural di departemen atau bagian teknik. Kondisi ini, dapat
menimbulkan keadaan yang akan mengacaukan suasana kerja. Dengan
ketidaktahuan mengenai pekerjaan di bidang teknik, tetapi menempati jabatan
structural pasti memiliki otoritas untuk membuat keputusan, tentunya keputusan
yang dihasilkan bisa salah dan menimbulkan kerugian secara financial bagi
perusahaan.
Misalnya, manajer pada bagian produksi yang menjalankan kebijakan
untuk membeli bahan baku untuk memproduksi barang dengan kualitas rendah.
Kebijakan ini bertujuan untuk menekan biaya produksi. Kebijakan ini tentunya
merupakan kebijakan yang baik karena dapat menekan biaya pengeluaran bagi
perusahaan. Tetapi dapat menimbulkan kerugian karena bahan baku dengan
kualitas rendah umumnya tidak memiliki kualitas yang baik. Jika barang yang
disediakan tersebut cepat rusak, sudah merupakan kewajiban perusahaan untuk
menggantinya. Penggantian terhadap barang yang rusak tentu menimbulkan biaya
tambahan. Dengan demikian, tindakan ini bukan merupakan tindakan yang tepat
91
karena dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan, baik dari segi financial
maupun dari segi nama baik perusahaan.
Setiap departemen tentu mempunyai tugas yang harus dilaksanakan
sebagaimana yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Tugas ini dimaksudkan agar
tujuan yang hendak dicapai oleh perusahaan terpenuhi. Misalnya departemen
pemasaran mempunyai tugas utama menjual produk yang dihasilkanoleh
perusahaan kepada konsumen atau pembeli sebanyak-banyaknya sehingga
perusahaan memperoleh keuntungan dari penjualan tersebut.
Seperti telah dipaparkan, setiap departemen memiliki tugas dan wewenang
yang berbeda antara satu dan lainnya. Tugas dan wewenang departemen
penjualan, departemen SDM dan departemen lain tentu berbeda. Tugas utama dari
departemen SDM “berkisar pada upaya mengelola unsure manusia dengan segala
potensi yang dimilikinya seefektif mungkin sehingga dapat diperoleh SDM yang
puas (satisfied) dan memuaskan (satisfactory).
Dengan demikian, tugas utama Departemen SDM adalah menyediakan
tenaga kerja yang dapat memberikan rasa puas bagi perusahaan dan memberikan
rasa puas pekerja terhadap perusahaan. Rasa puas pekerja terhadap perusahaan
berupa hal-hal yang telah diberikan perusahaan kepada pekerja. Misalnya asuransi
kesehatan, persentase bonus, kenaikan gaji secara berkala, premi hadir, atau
beasiswa bagi keluarga karyawan.
Setiap Departemen dalam suatu perusahaan memiliki fungsi masing-
masing. Fungsi ini diperlukan agar perusahaan dapat berjalan kearah yang sesuai
dengan yang direncanakan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Fungsi-
fungsi yang dimiliki oleh Departemen SDM adalah sebagai berikut :
a. Fungsi Lini. Dalam menjalankan fungsi ini, Departemen SDM
mengarahkan aktivitas perusahaan dalam departemennya sendiri dan area
pelayanan yang terkait.
b. Fungsi Koordinatif. Fungsi ini dilakukan oleh Departemen SDM dengan
mengordinasikan aktivitas personalia, kewajiban yang sering dianggap
sebagai control fungsional. Disini manajer dan Departemen SDM
bertindak sebagai “tangan kanan dari eksekutif puncak” untuk memastikan
92
bahwa para manajer lini sasaran, kebijakan dan prosedur SDM dalam
suatu perusahaan.
c. Fungsi Staf. Fungsi ini dijalankan oleh Departemen SDM dengan
membantu dalam mempekerjakan, melatih, mengevaluasi,memberikan
penghargaan, konseling, mempromosikan dan memberhentikan karyawan.
Selain itu, juga memberikan beragam program keuntungan bagi karyawan,
seperti asuransi kacelakaan , asuransi kesehatan, pensiun, liburan dan
sebagainya.
Jika ketiga fungsi ini dapat dijalankan dengan baik, akan terjalin hubungan
kerja sama yang serasi yang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Fungsi lain dari Departemen SDM adalah :
1. Fungsi Perumus Strategi, tujuan kebijakan dan prosedur,
2. Fungsi pemberi saran,
3. Fungsi pemberi jasa atau layanan, dan
4. Fungsi pelaksana pengendalian.
93
BAB VI
PENGERTIAN DAN FUNGSI OPERASIONAL DALAM MSDM
• Fungsi Pengadaan
• Fungsi Pengembangan
• Fungsi Kompensasi
adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak lansung berbentuk uang atau
barang kepada karyawan sebagai imbal jasa (output) yang diberikannya kepada
perusahaan. Prinsip kompensasi adalah adil dan layak sesuai prestasi dan
tanggung jawab karyawan tersebut.
94
• Fungsi Pengintegrasian
• Fungsi Pemeliharaan
adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan
loyalitas karyawan agar tercipta hubungan jangka panjang. Pemeliharaan yang
baik dilakukan dengan program K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
Saat ini manajeman SDM berubah dan fungsi spesialisasi yang berdiri
sendiri menjadi fungsi yang terintegrasi dengan seluruh fungsi lainnya di dalam
organisasi, untuk bersama-sama mencapai sasaran yang sudah ditetapkan serta
memiliki fungsi perencanaan yang sangat strategik dalam organisasi, dengan kata
lain fungsi SDM lama menjadi lebih bersifat strategik.
95
cepat. Perubahan paradigma dari manajemen SDM tersebut telah memberikan
fokus yang berbeda dalam melaksanakan fungsinya di dalam organisasi.
1. Hubungan Administrasi
96
4. Hubungan Integratif
97
Salah satu upaya yang dapat ditempuh organisasi untuk menciptakan
kondisi tersebut adalah dengan memberikan kompensasi yang memuaskan.
Dengan memberikan kompensasi, organisasi dapat meningkatkan prestasi
kerja, motivasi dan kepuasan kerja karyawan.
3. Pentingnya kompensasi sebagai salah satu indikator kepuasan dalam
bekerja sulit ditaksir, karena pandangan-pandangan karyawan mengenai
uang atau imbalan langsung nampaknya sangat subyektif dan barangkali
merupakan sesuatu yang sangat khas dalam industri. Tetapi pada dasarnya
adanya dugaan adanya ketidakadilan dalam memberikan upah maupun gaji
merupakan sumber ketidakpuasan karyawan terhadap kompensasi yang
pada akhirnya bisa menimbulkan perselisihan dan semangat rendah dari
karyawan itusendiri.
4. Kompensasi penting bagi karyawan sebagai individu karena besarnya
kompensasi mencerminkan ukuran nilai karya mereka di antara karyawan
itu sendiri, keluarga dan masyarakat. Kemudian program kompensasi juga
penting bagi organisasi, karena hal itu mencerminkan upaya organisasi
untuk mempertahankan sumber daya manusia yang dimilikinya atau
dengan kata lain, agar karyawan mempunyai loyalitas dan komitmen yang
tinggi pada organisasi.
98
perusahaan A ke perusahaan B merupakan indikasi lebih baiknya sistem
kompensasi yang ada pada perusahaan B daripada perusahaan A.
99
6. Disiplin
Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan
semakin baik. Mereka akan menyadari serta mentaati peraturan-peraturan yag
berlaku.
7. Pengaruh serikat buruh
Dengan program kompensasi yang baik, pengaruh serikat buruh dapat
dihindarkan dan karyawan akan berkonsentrasi pada pekerjaannya.
8. Pengaruh pemerintah
Jika program kompensasi sesuai dengan undang-undang perburuhan yang
berlaku (seperti batas upah minimum) maka internvensi pemerintah dapat
dihindarkan.
100
b. Serikat pekerja
Para pekerja yang tergabung dalam seikat pekerja juga dapat
mempengaruhi pelaksanaan atau penetapan kompensasi dalam suatu
[Link] pekerja dapat menjadi simbol kekuatan pekerja di dalam
menuntut perbaikan [Link] serikat pekerja perlu mendapatkan
perhatian atau perlu diperhitungkan oleh pihak manajemen.
Faktor Pribadi Karyawan :
a. Produktifitas kerja
b. Posisi dan Jabatan
c. Pendidikan dan Pengalaman
d. Jenis dan Sifat Pekerjaan
E. Faktor Ekstern
a. Penawaran dan Permintaan kerja
Mengacu pada hukum ekonomi pasar bebas, kondisi dimana penawaran
(supply) tenaga kerja lebih dari permintaan (demand) akan menyebabkan
rendahnya kompensasi yang diberikan. Sebaiknya bila kondisi pasar kerja
menunjukkan besarnya jumlah permintaan tenaga kerja sementara penawaran
hanya sedikit, maka kompensasi yang diberikan akan besar. Besarnya nilai
101
kompensasi yang ditawarkan suatu organisasi merupakan daya tarik calon
pegawai untuk memasuki organisasi [Link] dalam keadaan dimana
jumlah tenaga kerja lebih besar dari lapangan kerja yang tersedia, besarnya
kompensasi sedikit banyak menjadi terabaikan.
b. Biaya Hidup
Besarnya kompensasi terutama upah/gaji harus disesuaikan dengan
besarnya biaya hidup (cost of living). Yang dimaksud biaya hidup disini adalah
biaya hidup minimal. Paling tidak kompensasi yang diberikan harus sama dengan
atau di atas biaya hidup minimal. Jika kompensasi yang diberikan lebih rendah
dari biaya hidup minimal, maka yang terjadi adalah proses pemiskinan bangsa.
c. Kondisi Perekonomian Nasional
Kompensasi yang diterim oleh pegawai di negara-negara maju jauh lebih
besar dari yang diterima negara-negara berkembang dan atau negara
[Link] rata-rata kompensasi yang diberikan oleh organsasi-organisasi
dalam suatu negara mencerminkan kondisi perekonomian negara tersebut dan
penghargaan negara terhadap sumber daya manusianya.
1. Sistem Waktu
102
[Link] sistem hasil (Output), besarnya kompensasi yang dibayar
selalu didasarkan atas banyaknya hasil yang dikerjakan bukan kepada lama
waktu yang dikerjakannya.
3. Sistem Borongan
G. Prinsip Kompensasi
103
1. Kesuksesan bergantung pada kemauan pimpinan atau manager secara
individual untuk membuat penilaian yang objektif pada karyawannya.
2. Manager harus mau membedakan dengan jelas kinerja yang diharapkan
organisasi dengan kinerja yang sebaliknya.
3. Sistem berbasis kompetensi harus dipakai untuk mengukur kinerja
individu bukan berdasarkan perilaku-perilaku tertentu yang ditetapkan
oleh organisasi
4. Sistem harus selalu dievaluasi dan ditindaklanjuti.
5. Rencana penerapan suatu system harus dikomunikasikan dengan jelas,
terus-menerus, dan dengan sederhana (mudah dipahami)
6. Kesuksesan penerapan sitem tersebut sangat bergantung pada pelatihan,
peneguhan kembali, dan komitmen organisasi secara keseluruhan
H. Jenis kompensasi
2. Imbalan Intrinsik
Imbalan dalam bentuk intrinsik yang tidak berbentuk fisik dan hanya dapat
dirasakan berupa kelangsungan pekerjaan, jenjang karir yang jelas, kondisi
lingkungan kerja, pekerjaan yang menarik, dan lain-lain.
104
BAB VII
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah bidang yang terkait dengan
kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah
institusi maupun lokasi proyek. Tujuan K3 adalah untuk memelihara kesehatan
dan keselamatan lingkungan kerja.[1] K3 juga melindungi rekan kerja, keluarga
pekerja, konsumen, dan orang lain yang juga mungkin terpengaruh kondisi
lingkungan kerja.
Kesehatan dan keselamatan kerja cukup penting bagi moral, legalitas, dan
finansial. Semua organisasi memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pekerja
dan orang lain yang terlibat tetap berada dalam kondisi aman sepanjang waktu.[2]
Praktek K3 (keselamatan kesehatan kerja) meliputi pencegahan, pemberian
sanksi, dan kompensasi, juga penyembuhan luka dan perawatan untuk pekerja dan
menyediakan perawatan kesehatan dan cuti sakit. K3 terkait dengan ilmu
kesehatan kerja, teknik keselamatan, teknik industri, kimia, fisika kesehatan,
psikologi organisasi dan industri, ergonomika, dan psikologi kesehatan kerja.
105
maupun dalam bentuk non materi, yang diberikan oleh perusahaan kepada
karyawan untuk selama masa pengabdiannya ataupun setelah berhenti
karena pensiun, lanjut usia dalam usaha memenuhi kebutuhan materi
maupun non materi kepada karyawan dengan tujuan untuk memberikan
semangat atau dorongan kerja kepada karyawan.
c. Martoyo (2000:138), adalah: “Kesejahteraan pegawai merupakan salah
satu bentuk pemberian kompensasi berupa penyediaan paket “benefits”
dan program-program pelayanan pegawai dengan maksud pokok untuk
mempertahankan keberadaan pegawai sebagai anggota organisasi dalam
jangka panjang”.
d. Mutiara Pangabean (2004:96) adalah: “Kesejahteraan pegawai dikenal
sebagai benefit mencakup semua jenis penghargaan berupa uang yang
tidak dibayarkan secara langsung kepada pegawai”.
e. Malayu S.P. Hasibuan kesejahteraan adalah balas jasa lengkap (materi
dan non materi yang diberikan oleh pihak perusahaan berdasarkan
kebijaksanaan. Tujuannya untuk mempertahankan dan memperbaiki
kondisi fisik dan mental karyawan agar produktifitasnya meningkat.
106
Menurut Moekijat (2000:174-175), tujuan pemberian program
kesejahteraan pada perusahaan yang mengadakan program kesejahteraan terdiri
dari dua yaitu bagi perusahaan dan pegawai diantaranya yaitu :
a. Bagi Perusahaan
b. Bagi Pegawai
1. memberikan kenikmatan dan fasilitas yang dengan cara lain tidak tersedia
atau yang tersedia dalam bentuk yang kurang memadai.
2. Memberikan bantuan dalam memecahkan suatu masalah-masalah
perseorangan.
3. Menambah kepuasan kerja.
4. Membantu kepada kemajuan perseorangan.
5. Memberikan alat-alat untuk dapat menjadi lebih mengenal pegawai-
pegawai lain.
6. Mengurangi perasaan tidak aman.
107
7. Memberikan kesempatan tambahan untuk memperoleh status.
108
No Ekonomis Fasilitas Pelayanan
109
E. Kepuasan Kerja Dan Displin Karyawan
Seperti yang kita ketahui menjadi perhatian utama dalam organisasi adalah
bagaimana menciptakan keharmonisan dan keserasian dalam setiap pelaksanaan
kegiatan atau aktivitas kerja tersebut. Keharmonisan dan keserasian tersebut dapat
tercipta jika sistem kerja dibuat rukun dan kompak sehingga tercipta iklim yang
kondusif. Hal ini akan membuat para karyawan termotivasi untuk bekerja dengan
optimal yang pada akhirnya tujuan organisasi dapat terwujud dengan tingkat
efisien dan efektivitas yang tinggi.
Seseorang cenderung bekerja dengan penuh semangat apabila kepuasan
dapat diperolehnya dari pekerjaannya dan kepuasan kerja karyawan merupakan
kunci pendorong moral, kedisiplinan, dan prestasi kerja karyawan dalam
mendukung terwujudnya tujuan perusahaan, Hasibuan dalam (Jurnal Edi
Prasetyo). Kepuasan kerja yang tinggi atau baik, akan membuat karyawan
semakin loyal kepada perusahaan atau organisasi. Semakin termotivasi dalam
bekerja, bekerja dengan rasa tenang, dan yang lebih penting lagi kepuasan kerja
yang tinggi akan memperbesar kemungkinan tercapainya produktivitas dan
motivasi yang tinggi pula. Tentu saja karyawan yang tidak merasa puas terhadap
pekerjaannya, cenderung akan melakukan penarikan atau penghindaran diri dari
situasisituasi pekerjaan baik yang bersifat fisik maupun psikologis. Bila seseorang
termotivasi, tentu ia akan berusaha berbuat sekuat tenaga untuk mewujudkan apa
yang diinginkannya. Namun belum tentu upaya yang keras itu akan menghasilkan
produktivitas yang diharapkan, apabila tidak disalurkan dalam arah yang
dikehendaki organisasi. Oleh karena itu, segala jenis upaya yang dijalankan harus
diarahkan secara konsisten dan terencana untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan perusahaan.
1. Faktor intrinsik, merupakan faktor yang dalam diri karyawan itu sendiri
(berhubungan dengan kejiwaan karyawan) yang meliputi: minat, sikap
terhadap kerja, bakat, dan keterampilan;
110
2. Faktor ektrinsik, merupakan faktor yang berasal dari luar psikologis
karyawan yang meliputi: lingkungan keja, gaji/upah yang memadai,
fasilitas yang diberikan, diberikannya jaminan kesehatan dan jaminan
yang lainnya, dan lain-lain;
111
antar pihak didunia industri, hubungan yang terjadi antar pekerja dan pengusaha,
melahirkan hubungan industrial.
a. Serikat Pekerja
b. Organisasi Pengusaha
c. LKS Bipartit
d. LKS Tripartit
e. Peraturan Perusahaan
f. Perjanjian Kerja Bersama
g. Peraturan Perundang-undangan Ketenagakerjaan
h. Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
1. Menciptakan kemitraan
2. Mengembangkan usaha
3. Memperluas lapangan kerja
112
4. Memberikan kesejahteraan pekerja secara terbuka, demokratis dan
berkeadilan
113
d. Sumber Daya Manusia yang baik akan mampu berinteraksi dengan pihak
manajemen secara rasional dan obyektif
Faktor diluar itu pada dasarnya hanya merupakan pedoman dan faktor
pendukung dan pembantu.
114
d. Meningkatkan produksi dan produktivitas kerja.
e. Meningkatkan kesejahteraan pekerja serta derajadnya sesuai
dengan martabatnya manusia.
c. Landasan
a. Pokok-pokok Pikiran
1. Keseluruhan sila-sila dari pada pancasila secara utuh dan bulat yang tidak
dapat dipisahkan satu sama lain.
2. Pengusaha dan pekerja tidak dibedakan karena golongan, kenyakinan,
politik, paham, aliran, agama, suku maupun jenis kelamin.
3. Menghilangkan perbedaan dan mengembangkan persamaan serta
perselisihan yang timbul harus diselesaikan melalui musyawarah untuk
mufakat.
115
c. Sikap Mental Dan Sikap Sosial
116
b. Kelembagaan penyelesaian perselisihan baik pegawai perantara,
arbitrase P4D/P4P yang berfungsi dengan baik akan dapat
menyelesaikan perselisihan dengan cepat, adil, terarah dan murah.
1. Masalah Pengupahan
117
2. Pemogokan
118
BAB VIII
PRODUKTIVITAS KERJA
119
dijadikan objek kajian pada penelitian ini antara lain adalah tingkat kesejahteraan
karyawan, penghargaan, lingkungan kerja, masa kerja serta pendidikan dan latihan
kerja.
C. Pengertian PHK
120
Apa yang dimaksud dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)?
Jadi, pihak yang mengakhiri perjanjian kerja sebelum jangka waktu yang
ditentukan, wajib membayar ganti rugi kepada pihak lainnya sebesar upah
pekerja/buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.
121
Semua hal ini diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahan masing-masing.
Karena setiap perusahaan mempunyai peraturan yang berbeda-beda.
Bagi pekerja yang diPHK, alasan PHK berperan besar dalam menentukan
apakah pekerja tersebut berhak atau tidak berhak atas uang pesangon, uang
penghargaan dan uang penggantian hak. Peraturan mengenai uang pesangon,
uang penghargaan dan uang penggantian hak diatur dalam pasal 156, pasal 160
sampai pasal 169 UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
D. Alasan PHK
122
berdasarkan kesepakatan antara pengusaha dan pekerja yang tertuang
dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau peraturan perusahaan.
123
d. Pekerja melakukan kesalahan berat
124
e. Pekerja ditahan pihak yang berwajib.
Untuk Pemutusan Hubungan Kerja ini tanpa harus ada penetapan dari
lembaga Penyelesaian Hubungan Industrial tetapi apabila Pengadilan
memutuskan perkara pidana sebelum 6 (enam) bulan dan pekerja
dinyatakan tidak bersalah, perusahaan wajib mempekerjakan kembali.
125
paling lambat pada hari pertama pekerja masuk kerja dan untuk
panggilan patut diartikan bahwa panggilan dengan tenggang waktu
paling lama 3 hari kerja dengan di alamatkan pada alamat pekerja
yang bersangkutan atau alamat yang dicatatkan pada perusahaan.
126
surat peringatan. Sedang untuk surat peringatan tertulis dapat dibuat
surat peringatan ke I, ke II, sampai ke III. masing-masing berlakunya
surat peringatan selam 6 bulan sehingga apabila pekerja sudah diberi
peringatan sampai 3 kali berturut-turut dalam 6 bulan terhadap
pelanggaran yang sama maka berdasarkan peraturan yang ada kecuali
ditentukan lain yang ditetapkan lain dalam perjanjian kerja, peraturan
perusahaan ,Perjanjian kerja Bersama, maka perusahaan dapat
melakukan pemutusan hubungan kerja. Perusahaan Berkewajiban
memberikan uang pesangon 1 dari ketentuan, uang penghargaan masa
kerja 1 kali ketentuan dan uang pengganti hak yang besarnya
ditentukan dalam peraturan yang ada.
127
pasal 156 ayat 3 dan uang penggantian hak sesuai ketentuan pasal 156
ayat 3 dan uang penghargaan masa kerja 1 kali ketentuan pasal 156
ayat 4 tetapi tidak berhak mendapatkan uang pisah.
128
10. Pekerja dalam keadaan cacat tetap, sakit akibat kecelakaan kerja, atau sakit
karena hubungan kerja yang menurut surat keterangan dokter yang jangka
waktu penyembuhannya belum dapat dipastikan.
129
pelaksanaan PKWT ini, maka PHK yang terjadi termasuk kategori putus demi
hukum. PHK semacam ini tidak mewajibkan perusahaan untuk memberikan uang
pesangon, uang penghargaan maupun uang penggantian hak.
a. Masa kerja 3 tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 tahun = 2 bulan upah
b. Masa kerja 6 tahun atau lebih tetapi kurang dari 9 tahun = 3 bulan upah
c. Masa kerja 9 tahun atau lebih tetapi kurang dari 12 tahun = 4 bulan upah
d. Masa kerja 12 tahun atau lebih tetapi kurang dari 15 tahun = 5 bulan upah
e. Masa kerja 15 tahun atau lebih tetapi kurang dari 18 tahun = 6 bulan upah
f. Masa kerja 18 tahun atau lebih tetapi kurang dari 21 tahun = 7 bulan upah
g. Masa kerja 21 tahun atau lebih tetapi kurang dari 24 tahun = 8 bulan upah
h. Masa kerja 24 tahun atau lebih = 10 bulan upah.
130
Apa saja uang penggantian hak yang seharusnya diterima oleh pekerja apabila
terjadi PHK?
Apa saja komponen yang digunakan dalam perhitungan uang pesangon dan uang
penghargaan?
a. Upah pokok
b. Segala macam bentuk tunjangan yang bersifat tetap yang diberikan kepada
pekerja dan keluarganya, termasuk harga pembelian dari catu yang
diberikan kepada pekerja/buruh secara cuma-cuma, yang apabila catu
harus dibayar pekerja dengan subsidi, maka sebagai upah dianggap selisih
antara harga pembelian dengan harga yang harus dibayar oleh pekerja.
Berapa banyak uang pesangon, uang penghargaan, uang penggantian hak dan
uang pisah yang diterima untuk berbagai jenis alasan PHK?
131
Untuk memudahkan, berikut adalah tabel banyaknya uang pesangon, uang
penghargaan, uang penggantian hak dan uang pisah yang diterima untuk berbagai
jenis alasan PHK :
Pengunduran diri
mengikuti prosedur 30
1X 1X
hari sebelum tanggal
pengunduran diri
Berakhirnya kontrak
kerja waktu tertentu 1X
untuk pertama kali
Pekerja Mencapai
2X 1X 1X
Usia Pensiun Normal
Pekerja Meninggal
2X 1X 1X
Dunia
Pekerja Melakukan
1X 1X
Kesalahan Berat
Pekerja Melakukan
1X 1X 1X
Pelanggaran Ringan
Perubahan Status,
Penggabungan,
1X 1X 1X
Peleburan & Pekerja
Tidak Bersedia
Perubahan Status, 2X 1X 1X
132
Penggabungan,
Peleburan &
Pengusaha Tidak
Bersedia
Perusahaan Tutup
1X 1X 1X
Karena Merugi
Perusahaan melakukan
2X 1X 1X
efisiensi
Perusahaan Pailit 1X 1X 1X
Pekerja Mangkir
1X 1X
Terus-Menerus
Pekerja Sakit
Berkepanjangan dan
2X 2X 1X
cacat akibat
kecelakaan kerja
Dalam Pasal 162 ayat (3) Undang – Undang No. 13 tahun 2003 mengenai
Ketenagakerjaan diatur mengenai syarat bagi pekerja/buruh yang mengundurkan
diri adalah:
133
Perubahan Kepmenaker No. 150/2000 tentang PHK, Pesangon, dan
lainnya yang berbunyi:
e. pekerja/buruh mengajukan permohonan pengunduran diri secara tertulis
dengan disertai alasannya selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari
sebelum tanggal mulai pengunduran diri;
f. pekerja/buruh tetap melaksanakan kewajibannya sampai tanggal mulai
pengunduran diri;
g. pekerja/buruh tidak terikat dalam Ikatan dinas.
134
dan/atau melakukan transfer of knowledge bagi karyawan baru
(pengganti);
2. Tidak ada sangkutan “ikatan dinas”;
3. Harus tetap bekerja sampai hari yang ditentukan (maksimal 30 hari).
Berdasarkan ketentuan Pasal 156 ayat (4) UU No.13/2003, Uang Penggantian Hak
meliputi:
1. Hak cuti tahunan yang belum diambil (belum gugur) saat timbulnya di
masa tahun berjalan, perhitungannya: 1/25 x (upah pokok + tunjangan
tetap) x sisa masa cuti yang belum diambil.
2. Biaya ongkos pulang ke tempat (kota) di mana diterima pada awal kerja
(beserta keluarga).
3. Uang penggantian perumahan/pengobatan 15%* dari UP dan UPMK
(berdasarkan Surat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi kepada para
Kepala Dinas yang bertanggung jawab di bidang Ketenagakerjaan No.
600/MEN/SJ-HK/VIII/2005 tanggal 31 Agustus 2005).
*Catatan: Uang ini tidak didapatkan bagi yang resign (mengundurkan diri secara
sukarela), karena faktor perkaliannya (yakni Uang pesangon dan Uang
Penghargaan Masa Kerja) nihil. Sehingga: 15% x nihil = nol.
135
Hal-hal lain yang timbul dari perjanjian (baik dalam perjanjian kerja,
dan/atau peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama), seperti bonus,
insentif dan lain-lain yang memenuhi syarat.
Hak Penggantian Hak di atas hanya dapat diperoleh jika syarat dan
ketentuan mengenai pengunduran diri (resign) dipatuhi dan/atau dipenuhi.
Maksudnya hak atas Uang Penggantian Hak hanya dapat diberikan jika syarat dan
ketentuan mengenai pengunduran diri sudah dijalankan sesuai ketentuan.
Walaupun pengusaha dapat melepaskan haknya jika pekerja menyimpang dari
ketentuan dimaksud, khususnya mengenai jangka waktu 30 hari sebelum benar-
benar off (tidak lagi aktif bekerja) atau melepaskan haknya atas ikatan dinas.
136
BAB IX
AUDIT SDM
137
1. Menilai efektivitas dari fungsi SDM
2. Menilai apakah program/aktivitas SDM telah berjalan secara ekonomis,
efektif dan efisisen.
3. Memastikan ketaatan berbagai program/aktivitas SDM terhadap ketentuan
hokum, peraturan dan kebijakan yang berlaku di perusahaan.
4. Mengidentifikasi berbagai hal yang masih dapat ditingkatkan terhadap
aktivitas SDM dalam menunjang kontribusinya terhadap perusahaan.
5. Merumuskan beberapa langkah perbaikan yang tepat untuk meningkatkan
ekonomisasi, efisiensi, dan efektivitas berbagai program/aktivitas SDM
138
a. Budaya Organisasi
b. Audit Competency Staff SDM
c. Audit kepuasan terhadap fungsi SDM
139
Demikian juga, sumbang saran manajer dapat mengungkapkan cara-cara
untuk memberikan mereka servis yang lebih baik.
2. Kuesioner, karena wawancara itu menyita waktu dan mahal serta kerap
hanya terbatas pada sedikit orang, banyak departemen sumber daya
manusia yang menggunakan kuesioner-kuesioner untuk memperluas
lingkup riset mereka. Selain itu, kuisioner juga dapat memberikan
jawaban-jawaban yang lebih terbuka dibandingkan wawancara tatap muka.
3. Informasi Eksternal, informasi adalah alat sentral dari tim audit.
Perbandingan-perbandingan luar memberikan kepada tim audit suatu
perspektif terhadapnya aktivitas-aktivitas perusahaan dapat dinilai.
4. Analisis Catatan
5. Eksperimen-Eksperimen Riset
6. Audit-Audit Internasional
G. Kegiatan-Kegiatan Auditor
Tiga bidang utama yang difokuskan pada Audit Sumber Daya Manusia
terdiri atas policy/management audit, performance/operasional audit, dan
financial audit.
1. Policy/Management Audit
Penilaian yang dilaksanakan secara sistematis dan independent, berorientasi ke
masa depan terhadap: keputusan dan kebijakan yang dilakukan oleh manajemen
yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM melalui perbaikan pelaksanaan
fungsi manjemen, pencapaian rencana yang sudah ditetapkan serta pencapaian
sosial objektif.
2. Performance/Operasional Audit
Merupakan suatu kegiatan penilaian yang sistematis yang dilaksanakan secara
objective dan independent berorientasi atas masa depan untuk semua kegiatan
yang ada dalam suatu perubahan yang utamanya dalam bidang SDM.
3. Financial Audit
Mempunyai orientasi pengujian/penilaian secara independent dan objectif atas
tingkat kewajaran dan kecermatan serta data keuangan untuk memberikan
140
perlindungan keamanan asset perusahaan dengan melakukan evaluasi kelayakan
internal control yang di tetapkan. Audit ini sendiri dapat dilakukan dalam
beberapa situasi, diantaranya:
a. ketika dirasa diperlukan oleh manjemen puncak
b. ketika suatu kekuatan eksternal yang memaksa untuk dilakukan suatu
tinjauan
c. ketika suatu perusahaan yang signifikan dalam suatu dunia usaha yang
memaksa untuk melakukan konsiderasi ulang manajemen SDM
d. ketika seorang manajer baru yang merasa bertanggung jawab atas Dep.
SDM
e. ketika suatu keinginan spesialis SDM untuk meningkatkan praktek dan
sistem SDM perusahaan.
H. Proses Audit
Proses audit terdiri atas enam langkah:
1. Mengkomunikasikan gagasan dan makna audit SDM dan menekankan
berbagai manfat yang dapat diperoleh, serta mendapatkan dukungan
manajemen puncak.
2. Memilih personalia dengan berbagai ketrampilan dan menyusun tim audit,
serta memberikan pelatihan yang dibutuhkan.
3. Mengumpulkan data dari berbagai jenjang, fungsi dan unit yang berbeda
dalam organisasi.
4. Menyiapkan laporan audit bagi para manajer lini dan evaluasi departemen
SDM.
5. Membahas laporan dengan para manajer pengoperasian terkait yang
kemudian menindaklanjuti hasil evaluasi.
6. Memasukkan berbagai tindakan korektif ke dalam proses penetapan
sasaran operasi organisasi regular.
141
BAB X
Perdagangan bebas tidak hanya terbatas pada ASEAN, tetapi antar negara-
negara di dunia. Untuk mengantisipasi perdagangan bebas ditingkat dunia, para
pemimpin negara ASEAN pada tahun 1992 memutuskan didirikannya AFTA (
ASEAN FreeTrade Area ) yang bertujuan meningkatkan keunggulan bersaing
regional karena produksi diarahkan pada orientasi pasar dunia melalui eliminasi
tarif/bea maupun menghilangkan hambatan tarif. Tarif diperkirakan akan berkisar
sekitar 0-5 persen, berarti relatif sangat rendah. Pada tahun 2000, terdapat 53.294
produk dalam IL ( inclusion list ) yang merupakan kurang lebih 83 dari semua
produk ASEAN.
Globalisasi ekonomi dan sistem pasar bebas dunia menempatkan Indonesia
bagian dari sistem tersebut. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta
orang akan merupakan pangsa pasar yang potensial. Fakta menunjukkan bahwa
akhir-akhir ini Indonesia “kebanjiran” barang-barang luar negeri seperti Cina,
Taiwan , dan Korea yang relatif murah harganya. Dengan demikian, perusahaan-
perusahaan Indonesia tidak hanya bersaing dengan perusahaan di dalam negeri
namun mereka mau tidak mau harus bersaing dengan perusahaan Multinasional
dan perusahaan-perusahaan dari negara lain. Kottel ( 1992 ) mengingatkan bahwa
globalisasi pasar dan kompetisi menciptakan suatu perubahan yang sangat besar.
Strategi yang tepat harus diaplikasikan untuk meraih keberhasilan melalui
pemanfaatkan peluang-peluang yang ada pada lingkungan bisnis yang bergerak
cepat dan semakin kompetitif. Tanpa ada kesesuaian antara strategi perusahaan
dan strategi SDM, maka hampir pasti perusahaan tersebut akan menghadapi
kesulitan.
142
B. Globalisasi dan SDM
Globalisasi bisnis terus tumbuh karena adanya pengaruh-pengaruhnya
seperti perubahan populasi, ketergantungan ekonomi, perserikatan regional, dan
kompetensi komunikasi global. SDM adalah rancangan sistem-sistem formal
dalam sebuah organisasi untuk memastikan penggunaan bakat manusia secara
efektif dan efisien guna mencapai tujuan-tujuan organisasional. (Buku Human
Resources Management,Robert L. Mathis- John H. Jackson, Chapter 1)
Istilah globalisasi sebenarnya sudah sering dipergunakan sejak beberapa
tahun lalu. Namun, implikasi globalisasi pada manajemen SDM tampaknya masih
kurang diperhatikan secara proposional karena tolok ukur keefektifannya kurang
memiliki keterkaitan langsung dengan strategis bisnis. Fakta menunjukkan bahwa
peranan manusia dalam menunjang pengimplementasian suatu strategi
perusahaan, SBU ( Strategic Business Unit ) maupun fungsional sangat penting
dan menetukan. Alat ukur keefektifan organisasi dan aktivitas sumber daya
manusia perlu dirancang secara profesional. Capital intellectual dan
pengukurannya akhir-akhir ini sering dipertimbangkan sebagai alternatif yang
menjanjikan kendati pengimplementasiaannya tidak semudah yang diperkirakan.
Capra ( 1997 ) mengemukakan bahwa pergeseran paradigma mekanistik ke
paradigma holistik akan terus berjalan dengan sendirinya. Optimilisasi
keuntungan bukan merupakan penekanan utama karena banyak faktor lain seperti
misalnya SDM dan ikut menentukan kelangsungan hidup perusahaan.
Globalisasi adalah suatu kenyataan dan akan mempunyai dampak langsung
maupun tidak langsung pada kebanyakan aspek bisnis di Indonesia. Untuk
memenangkan persaingan di pasar global, perusahaan harus berupaya antara lain
dalam layanan yang luar biasa pada pelanggan, pengembangkan kemampuan-
kemampuan baru, produk baru yang inovatif, komitmen karyawan/wati,
pengelolaan perubahan melalui kerja sama kelompok. Perusahaan dituntut
berpikir global ( think globally dan act locally ) serta mempunyai visi dan misi
yang jauh berwawasan ke depan.
Kenyataan menunjukkan bahwa lebih dari seratus ribu lowongan pekerjaan
di Indonesia tidak terisi. Hal tersebut disebabkan antara lain karena
143
ketidaksesuaian antara job requirements dengan kompetensi calon. Tenaga
profesional asing masih banyak dipekerjakan untuk menduduki posisi-posisi
tertentu terutama di perusahaan besar yang berorientasi Internasional. Bahkan
tidak tertutup kemungkinan bahwa akan lebih banyak lagi expatriate. Menurut
BPS (2000), pada tahun 1999 dari 1,2 juta pencari kerja yang memenuhi
persyaratan untuk 0,5 juta lowongan kerja hanya o,4 juta orang. Hal ini jelas
memberi indikasi terjadi suatu mismatch antara kompetensi calon karyawan
dengan kompetensi yang dibutuhkan.
Pada tahun 2000 terdapat sekitar 141,2 juta tenaga kerja yang sekitar 61,50
persen berada di pulau Jawa. Kendati, menurut BPS, tingkat partisipasi angkatan
kerja (TPAK) merupakan ukuran yang menggambarkan jumlah angkatan kerja
untuk setiap 100 tenaga kerja mengalami sedikit kenaikan dari 67,22 persen
(1999) menjadi 67,75 persen pada tahun 2000 yang mengidentifikasikan sedikit
kenaikan mutu SDM, kita masih harus berupaya keras meningkatkan mutu SDM
engan membandingkannya minimal dengan mutu tenaga kerja di Asia Tenggara
misalnya dengan Singapura dan Malaysia.
Taylor ( 1994 ) mengemukakan beberapa tindakan yang harus dilakukan
dalam melakukan transformasi organisasi agar berhasil dan siap mengahadapi
masalah-masalah di masa depan yaitu :
a. Strectch goals yang mensyaratkan bahwa sasaran harus spesifik dan dapat
diukur.
b. Visi masa depan.
c. Struktur yang ramping.
d. Budaya baru yang mengacu pada profesionalisme, keterbukaan dan
kerjasama kelompok.
e. Berorientasi pada mutu atau layanan berkelas dunia.
f. Manajemen prestasi; mensyaratkan setiap individu memberikan produk
berkualitas dan layanan yang memuaskan.
g. Inovasi menyeluruh.
h. Kemitraan dan jaringan kerja.
144
C. Strategi Sumber Daya Manusia
Randal Schuler (1994), mendifinisikan strategi sumber daya manusia
sebagai berikut :
........ getting the strategy of the bussiness implemented affectively ..... getting
everybody from the top of the human organization ti the bottom doing things that
make the bussiness successful.
Mengacu pada definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi SDM
berkaitan dengan misi, visi, strategi perusahaan, SBU ( Strategy Business Unit )
dan juga strategi fungsional. Ketidaksesuaian antara strategi SDM dan strategi
perusahaan akan mempengaruhi pancapaian sasaran perusahaan. Sebaliknya
kesesuaian antara strategi perusahaan dan strategi SDM perlu diupayakan
mendorong kreativitas dan inovasi karyawan dalam mencapai sasaran perusahaan.
Dalam menentukan strategi SDM, faktor-faktor eksternal perlu
dipertimbangkan mengacu pada future trends and needs, demand and supply,
peraturan pemerintah, kebutuhan manusia pada umumnya dan karyawan pada
khususnya, potensi penting, perubahan-perubahan sosial, degrafis, budaya
maupun nilai-nilai, teknologi. Kecendrungan perubahan lingkungan akan
mempengaruhi perubahan strategi perusahaan yang juga berarti bahwa strategi
SDM pun perlu dipertimbangkan ulang, dan kemungkinan besar perlu
disesuaikan.
Salah satu kunci yang sangat penting dalam meraih keuntungan kompetitif
adalah melalui pengelolaan sumber daya manusia secara efektif. Sebab itu
network structure dan budaya perusahaan yang mengacu pada inovasi, kreativitas
dan belajar berkesinambungan ( continuous learning ) akan merupakan pilihan
yang tepat bagi perusahaan-perusahaan yang ingin survive dan berkembang.
Desain SDM berkaitan dengan desain pekerjaan yang mengacu pada JCM
(Job Characteristic Model). Hackman and Oldham (1976) mengemukakan bahwa
JCM terdiri dari task identity, task significance, task variety, authority, dan
feedback yang berimplikasi pada struktur organisasi. Dalam mendesain pekerjaan
perlu juga dipertimbangkan kompetensi, motivasi dan nilai-nilai karyawan.
145
Pendidikan berperan besar dalam meningkatkan mutu SDM sebab itu mutu
pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan baik secara kuantitas maupun secara
kualitas. Kurikulum dan sistem belajar mengajar perlu ditinjau kembali dan
ditingkatkan. Pelatihan-pelatihan yang efektif perlu durancang untuk
meningktakan kualitas SDM.
Aset SDM yang perlu dievaluasi adalah bobot/kualitas dan potensi SDM
yang dimiliki saat ini, kebijakan-kebijakan SDM, sistem pengadaan, pemeliharaan
dan pelatihan pengembangan, nilai-nilai yang ada baik yang positif maupunyang
negatif serta kemampuan mengelola keragaman SDM. Berkaitan dengan aset
SDM suatu perusahaan, dalam menyusun strategi SDM perlu dievaluasi sejauh
mana elemen-elemen organisasi sudah sesuai strategi korporat, SBU, visi, misi,
sasaran perusahaan. Disamping perlu dirancang suatu alat ukur (human resource
measurement) untuk mengetahui mutu dan kuantitas SDM, potensi SDM serta
keterkaitan strategi SDM dengan performance perusahaan. IGM Mantera,
misalnya mengemukakan pengukuran keberhasilan karyawan berdasarkan jenis
ketrampilan yaitu :
1. Untuk ketrampilan profesional dipergunakan vitality index.
2. Untuk ketrampilan manajerial diukur dari kesiapan suksesi.
Untuk mengevaluasi SDM perlu dipertimbangkan 4 faktor sebagai berikut :
1. Tingkat strategis, antara lain misi, visi dan sasaran organisasi.
2. Faktor internal SDM, antara lain : aset SDM, kualifikasi SDM, aktivitas
SDM : pengadaan, pemeliharaan, pelatihan dan pengembangan, serta
kebijakan-kebijakan SDM.
3. Faktor-faktor ekternal, antara lain demografis, perubahan sosial, budaya,
teknologi, politik, peraturan pemerintah, pasar tenaga kerja dan isu
Internasional (misalnya : HAM dan ekologi).
4. Faktor organisasional, antara lain struktur, strategi perusahaan, budaya
perusahaan, dan strategi SDM.
146
D. Pertimbangan Konseptual dalam Memilih Strategi SDM
Organisasi yang belajar (learning organization) merupakan salah satu
pendekatan yang tepat dalam mengembangkan sumber daya manusia untuk
mengatisipasi masa depan. Komitmen dan lemauan belajar semua tingkat
karyawan/wati merupakan dasar organisasi unggul masa depan. Learning
organization membahas 5 komponen dasar sebagai berikut :
a. Personal matery membahas suatu penguasaan terpadu dan tuntas suatu
pengetahuan dan ketrampilan tertentu.
b. Mental models memberi dorongan yang kuat terhadap tindakan karyawan.
Tryst merupakan kunci sesorang dalam membangun organisasi
pembelajar. Komponen ini memberikan suatu arah cara bertindak.
c. Shared vision merupakan suatu kekuatan atau dorongan agar karyawan
secara bersama-sama komit dan mau belajar secara terus-menerus.
d. Team learning merupakan proses pengembangan individu melalui
kelompok kerja dengan cara diaolog dan diskusi.
e. Systems thingking merupakan salah satu komponen yang menyatukan dan
memadukan komponen-komponen lain membentuk suatu kesatuan yang
bermakna.
Akhir-akhir ini tindakan downsizing menjadi sangat populer dan bahkan
sering dilakukan tanpa pertimbangan yang matang sehingga berakibat fatal karena
banyak karyawan yang tetap di perusahaan menjadi kurang bermotivasi.
Sonnenfeld dan Peiperl ( 1991 ) mengembangkan suatu model tipologi perusahaan
dan implikasinya pada strategi SDM sebagai berikut :
a. Fortress. Perusahaan menekankan pada kelangsungan hidup. Keamanan
terhadap pekerjaan kurang bahkan tidak dijamin. Misalnya hotel, retailing.
Strategi SDM adalah retrenchment. Berada dalam lingkungan yang sangat
kompetitif sehingga implementasi strategi kurang sistematik dan konsiten.
b. Academy. Perusahaan menekankan pada spesialisasi jabatan. Pada
umumnya perusahaan ini cenderung merekrut fresh graduate kemudian
diarahkan dan dibina menjadi specialist pada pekerjaan tertentu. Kendati
147
perusahaan berorientasi pada pembinaan karyawan dari awal, perusahaan
kadang-kadang juga merekrut outsider untuk posisi tertentu.
c. Club. Perusahaan ini menekankan loyalitas, komitmen, senioritas dan
pengalaman. Pada club, para manajernya cenderung generalist, sebab itu
strategi SDM cenderung berorientasi pada retensi, pemeliharaan, dan
kontribusi kelompok. Perusahaan bertipologi ini berupaya meningkatkan
keefisienannya dalam mengendalikan biaya, memelihara mutu, dan
mengutamakan layanan pada pelanggan.
d. Baseball-Team. Perusahaan menekankan pada inovasi. Kreativitas
memegang peranan penting dalam perusahaan ini. Penilaian prestasi lebih
berorientasi pada hasil.
Mengacu pada setiap tipologi, perusahaan perlu mempersiapkan strategi
SDM yang efektif dengan mempertimbangkan antara lain penanaman budaya
perusahaan yang sesuai, mengimplementasi aktivitas SDM yaitu pengadaan,
pemeliharaan, pelatihan, dan pengembangan secara tepat. Strategi SDM masa
depan harus mendukung inovasi- continuous innovativeness dan long-term
employment oriented human resources strategy—untuk menjawab tuntutan
pelanggan antara lain menghendaki faktor-faktor mutu, fungsi, harga, layanan,
dan kecepatan layanan.
148
berubah cepat, potensi berkembang, serta berkemampuan dan kemauan
belajar terus-menerus.
3. Pemeliharaan perlu dilakukan dengan memperhatikan hak dankewajiban
karyawan secara saksama. Kompensasi yang mendasarkan pada suatu
pertimbangan yang efektif dan adil. Insentif atau tunjangan harus
dipertimbangkan dengan seksama dan berdasarkan prestasi.
4. Memperhatikan faktor-faktor eksternal – strategi perusahaan yang
berorientasi global, lingkungan bisnis dan lain-lain.
5. Kesimpulan
Dengan dimulainya perdagangan bebas yang antara lain : diawalinya
realisasi persetujuan AFTA, pemerintah dan pelaku bisnis harus siap
menghadapinya dengan mempersiapkan strategi bisnis dan khususnya SDM agar
mampu bersaing dalam skala dunia.
Ditingkat makro, dalam menghadapi tantangan globalisasi perusahaan atau
pelaku bisnis, pemerintah, dan akademisi perlu mengembangkan tenaga kerja
nasional melalui program-program terpadu dan nyata seperti miasalnya
pemyusunan kurikulum pendidikan yang mengacu pada dunia usaha, dan
pemberian pelatihan-pelatihan praktis. Kendati cukup berat, kita harus optimis
dan segera menentukan dan menjalankan strategi yang tepat dalam meningkatkan
mutu SDM/tenaga kerja ditingkat nasional kita agar kita tidak tertinggal jauh
dalam percaturan bisnis dunia.
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa SDM aparatur yang ada sangat jauh
dari apa yang diharapkan. Potret SDM aparatur saat ini yang menunjukkan
profesionalisme rendah, banyaknya praktek KKN yang melibatkan aparatur,
tingkat gaji yang tidak memadai, pelayanan kepada masyarakat yang berbelit-
belit, kurang kreatif dan inovatif, bekerja berdasarkan juklak dan juknis serta
mungkin masih banyak potret negatif lainnya yang intinya menunjukkan bahwa
aparatur di Indonesia masih lemah.
149
Gambaran tersebut memberikan dorongan bagi kita untuk melakukan
perubahan pada SDM aparatur Indonesia (kita sebut dengan istilah Reformasi
Birokrasi). Reformasi telah melahirkan berbagai perubahan dalam sistem
penyelenggaraan pemerintahan, salah satunya adalah perubahan sistem
pemerintahan daerah sejak diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 yang
kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah. Perubahan mendasar pada undang-undang ini terletak pada
paradigma yang digunakan, yaitu dengan memberikan kekuasaan otonomi melalui
kewenangan-kewenangan untuk menyelenggarakan urusan rumah tangga
daerahnya, khususnya kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, dengan
berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam kerangka
Negara Kesatuan RI.
150
wawasan global, dan mampu berperan sebagai unsur perekat Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Lahirnya Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 sebagai
penganti UU No. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian tersebut
membawa perubahan mendasar guna mewujudkan SDM aparatur yang
profesional yaitu dengan pembinaan karir Pegawai Negeri Sipil yang
dilaksanakan atas dasar perpaduan antara sistem prestasi kerja dan karir yang
dititikberatkan pada sistem prestasi kerja yang pada hakekatnya dalam rangka
peningkatan pelayanan publik.
151
begitu luas dan kompleks, karena tugas dan fungsi SDM aparatur yang begitu
penting dan strategis. Dewasa ini, fungsi SDM aparatur menjadi lebih kompleks
tidak sekedar fungsi pengaturan, pengelolaan, dan pengendalian saja, akan tetapi
lebih berorientasi pada fungsi pemberdayaan (empowering), kesempatan
(enabling), keterbukaan (democratic), dan kemitraan (partnership) dalam
pengambilan keputusan, pembuatan dan pelaksanaan kebijakan dalam upaya
pelayanan publik.
Tugas pokok dan fungsi dari SDM aparatur pada intinya adalah menjadi
pelayan masyarakat yaitu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat;
menjadi stabilisator yaitu sebagai penyangga persatuan dan kesatuan bangsa;
menjadi motivator yaitu memberdayakan masyarakat agar terlibat secara aktif
dalam pembangunan; menjadi innovator dan creator yaitu menghasilkan inovasi-
inovasi baru dalam pelayanan masyarakat agar menghasilkan pelayanan yang
baru, efektif dan efisien dan menjadi inisiator yaitu selalu bersemangat mengabdi
dengan berorientasi pada fungsi pelayanan, pengayoman, dan pemberdayaan
masyarakat yang dilandasi dengan keikhlasan dan ketulusan. Dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya tersebut, tentu saja perlu diperhatikan
hak dari aparatur itu sendiri, yaitu mendapatkan kehidupan yang sejahtera baik
dari aspek material maupun spiritual.
152
kita terpengaruh keluarga, pekerjaan, pendidikan, rekreasi, bahkan kehidupan
beragam.
Jadi orang yang matang atau memperhatikan mutu unjuk kerja yang tinggi
tidak hanya memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk mengerjakan tugas, tapi
juga memiliki rasa kepercayaan pada diri sendiri dan merasa baik dari apa yang
dilakukannya. Mampu mengadakan segala perubahan karena salah satu ciri
kehidupan adalah perubahan. Mereka yang tidak mengikuti perubahan zaman
akan tinggal menjadi manusia yang konservatif dan menghalangi kemajuan.
Personil yang memiliki mutu unjuk kerja tinggi akan lebih peka (sensitif) terhadap
nilai-nilai yang sifatnya rohani atau spiritual, pertumbuhan kepribadian tidak
menyimpang dengan norma.
153
terampilan dan tidak dapat diandalkan. Dalam kata – kata yang lebih positif,
manusia yang berkembang adalah sumber yang lebih berharga.
Salah satu kegiatan dalam pengkajian ini adalah mengkaji mutu unjuk
kerja personil. Agar perencanaan pendidikan dan pelatihan mencapai sasaran,
maka organisasi pemakai perlu mengkaji mutu unjuk kerja personil di
lingkungannya secara komprehensif. Daniel L. Stufflebeam dkk (1985:6-7)
154
mengemukakan beberapa definisi kebutuhan dalam mengkaji kebutuhan adalah
sebagai berikut:
155
seakan-akan tersembunyi di dalam setiap piranti, dan nyata hingga tidak perlu
penyampaian secara monolitik.
1. Penguasaan materi pelajaran yang terdiri dari bahan yang akan diajarkan,
dan konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkan itu:
2. Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan
dan keguruan;
3. Penguasaan proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa.
Kemampuan sosial menyangkut kemampuan menyesuaikan diri kepada
tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya
sebagai instruktur. Kemampuan personal (pribadi) mencakup:
a. Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya
sebagai seorang pelatih beserta unsur unsurnya
b. Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai yang seyogyanya
dianut oleh seorang instruktur:
c. Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya panutan dan teladan
bagi peserta latihan.
156
BAB XI
PENYUSUNAN PERSONALIA
157
f. penilaian pelaksaan kerja
g. pemberian balas jasa dan penghargaan
h. perencanaan dan pengembangan karir
a. Kepentingan Individu.
b. Kepentingan Organisasi.
158
c. Kepentingan Nasional.
1. Tujuan
2. Perencanaan Organisasi
159
Harus mempunyai pengalaman luas tentang job analysis, organisasi dan situasi
persediaan SDM.
Harus mampu membaca situasi SDM masa kini dan masa mendatang.
Mampu memperkirakan peningkatan SDM dan teknologi masa depan.
Mengetahui secara luas peraturan dan kebijaksanaan perburuhan pemerintah.
Metode PSDM ,dikenal atas metode nonilmiah dan metode ilmiah. Metode
nonilmiah diartikan bahwa perencanaan SDM hanya didasarkan atas pengalaman,
imajinasi, dan perkiraan-perkiraan dari perencanaanya saja. Rencana SDM
semacam ini risikonya cukup besar, misalnya kualitas dan kuantitas tenaga kerja
160
tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Akibatnya timbul mismanajemen dan
pemborosan yang merugikan perusahaan.
1. Kendala-kendala PSDM
161
b. Manusia (SDM) Mahluk Hidup
Manusia sebagai mahluk hidup tidak dapat dikuasai sepenuhnya seperti
mesin. Hal ini menjadi kendala PSDM, karena itu sulit memperhitungkan segala
sesuatunya dalam rencana. Misalnya, ia mampu tapi kurang mau melepaskan
kemampuannya.
c. Situasi SDM
Persediaan, mutu, dan penyebaran penduduk yang kurang mendukung
kebutuhan SDM perusahaan. Hal ini menjadi kendala proses PSDM yang baik dan
benar.
d. Kebijaksanaan Perburuhan Pemerintah
Kebijaksanaan perburuhan pemerintah, seperti kompensasi, jenis kelamin,
WNA, dan kendala lain dalam PSDM untuk membuat rencana yang baik dan tepat
162
c. Umur.
d. Jenis kelamin.
e. Keadaan fisik.
f. Perfonmance (penampilan)
g. Bakat.
h. Temperamen.
i. Karakter.
2. Untuk Eksternal
a. Penerimaan pendahuluan.
b. Test-test penerimaan.
c. Wawancara seleksi.
d. Pemeriksaan referensi.
e. Evaluasi medis (test kesehatan).
f. Wawancara kepada atasan langsung.
g. Keputusan.
Psikologi test di lakukan yaitu di lakukian berbagai peralatan test yang
mengatur menguji keberanian temperamen kecerdasan, ketrampilan dan prestasi.
Bentuk-bentuk Test Ini Mencakup
a. Intelegensi test.
b. Pesonality test.
c. Aptuted test (bakat).
d. Interes test.
e. Achiment test.
f. Knowledged test.
g. Fermonce test.
163
pegawai senior. Penanggung jawab program organisasi ini adalah bagian
kepegawaian dan atasan langsung. Program orientasi ini akan menurunkan
perasaan terasing/cemas dari pegawai baru dan mereka melaksanakan bahagian
organisasi perusahaan dan secara lebih cepat merasa lebih di perhatikan. Hal ini
penting karena dengan kecemasan yang rendah tugas dapat di kerjakan dengan
baik. Program orientasi merupakan proses yang berkelanjutan adaptasi dan
bersosialisasi. Tetapi program orientasi tidak menjamin setiap pegawai dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik. Untuk itu di latih dan di kembanmgkan
dalam bidang tugas-tugas tertentu.
2. Latihan Dan Pengembangan Mempunyai Manfaat :
Perode Jangka Panjang Membantu tanggung jawab yang lebih besar dalam
diri pegawai di masa yang akan datang.
3. Langkah-Langkah Pendahuluan Dalam Mempersiapkan Latihan Sebagai
Berikut:
a. Penilaian dan identifikasi kebutuhan
b. Sasaran latihan dan pengembangan
c. Isi program prinsip-prinsip belajar.
164
c. Punya landasan yang kuat.
2. Fungsi Kompensasi Adalah :
a. Penentuan kebutuhan ekonomi
b. Pengkaitan kompensasi dengan peningkatan kerja.
c. Pengkaitan kompensasi dengan sukses tidaknya perusahaan.
d. Keseimbangan keadilan.
3. Penilaian Pemberian Upah Berdasarkan :
a. Upah menurut prestasi kerja.
b. Upah menurut lamanya kerja.
c. Upah menurut kebutuhan kerja.
d. Upah berdasarkan prioritas.
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Kompensasi:
a. Penawaran permintaan tenaga kerja.
b. Organisasi buruh.
c. Kemampuan perusahaan untuk membayar.
d. Produktif karyawan.
e. Tinggi rendahnya biaya hidup setempat.
f. Peraturan pemerintah.
g. Konsisten eksternsl dan internal.
h. Kompensasi diluar gaji dan upah.
Yaitu : Pensiun, uang pesagon, asuransi,kesehatan.
5. Wujud Kompensasi Ada 3 Yaitu :
a. Uang /gaji dan upah.
b. Natural seperti, pembagian beras, pakaian, obat-obatan.
c. Kenikmatan seperti, rumah, fasilitas kenderaan, pemeriksaan kesehatan,
dan lain-lain.
6. Pemutusan Hubungan Kerja/Alasan PHK Karena :
a. Keinginan perusahaan, tidak cakap pada masa percobaan, di hukum sakit,
usia lanjut.
b. Keinginan karyawan .Tidak cocok dengan tugas, alasan-alasan mendesak
(gaji kurang, pekerjaan membanyak).
165
c. Sebab-sebab lain-lain .Seperti, Meninggal dunia.
7. Tiga Tantangan Proses Seleksi Pegawai :
a. Tantangan saple (masukan).
Semakin banyak pelamar memenuhi syarat semakin mudah unt5uk
seleksi.
b. Tantangan Etis.
Bisa didalam proses penerimaan pegawai di mana mereka menerima
surat-surat sakti.
c. Tantangan organisasi.
Anggaran organisasi keterbatasan kwalitas SDM. Tantangan berbeda
jenis kelamin tetentu.
8. Di Dalam Penyeleksian Pegawai Ada 2 Model, Dan Pilih Salah Satu Yang Di
Pakai :
[Link]
Test – Gagal - Test II – Gagal - Test IV – Gagal - Hasil
[Link]
Test I - Test II – Test III – Test IV – Hasil.
166
DAFTAR PUSTAKA
167
Brosur kadin jabar. 1988. Total Quality Control and Quality Control Circle.
Bandung.
Jusuf irianto, 2001. tema-tema pokok manajemen sumber daya manusia, surabaya:
insan cendekia.
Nawawi, H. Hadari. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Bisnis yang
Kompetitif. Yogyakarta: Gadja Mada Universitas Press.
Soetjipto, budi W dkk. 2002. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia.
Penerbit Amara Books
168
Prof. DR. notoatmojo, pengembangan sumberdaya manusia. PT. kineka cipta,
Jakarta 1997.
Prof. DR. Veithzal Rivai MBA. Manajemen sumber daya manusia PT.
Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2006.
Diringkas dari: Wiscombe, Janet. 2001. Can pay for performance really
work?.Workforce Management, 80, 8: 28 – 34
Dessler, G., Human Resource management. 8thEdition. New jersey: Prentice-
[Link], 2000
Siagian, Sondang P., Manajemen Sumber Daya Manusia Ed. 1, cet. 15. Jakarta:
PT. Bumi Aksara, 2008
169
Zulkifli Rusby, Lahir di Bagansiapiapi, pada 25 Juni 1970. Ia
adalah Alumni SMA Negeri 2 Bagan Siapiapi, Rokan Hilir. Saat
ini, ia tercatat sebagai Dosen Prodi Ekonomi Syariah pada
Fakultas Agama Islam Universitas Islam Riau (UIR). Selain aktif
sebagai Dosen juga aktif melakukan penelitian dan pengabdian
masyarakat pada Bidang Ilmu Ekonomi Syariah dan Manajemen,
dan sebagai instruktur pelatihan tentang kewirausahaan dan manajemen serta nara
sumber pada acara Seminar dan Workshop.
Karya-karyanya yang telah dipublikasikan antara lain : Analisis Sistem
Penilaian Prestasi Kerja Pada PT. Bank Negara Indonesia Syariah Cabang Pekanbaru,
Analisi pengaruh Likuiditas dan Solvabilitas terhadap Rentabilitas Koperasi Syariah
BMT Al-Amin Pekanbaru, Analysis Problem Of Baitul Maal Wat Tamwil (BMT)
Operation In Pekanbaru Indonesia Using Analytical Network Process
(ANP)Approach Jurnal HR Mars Nomor 8 Volume 3 ISSN 2222-6990, Analisis
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas Pelayanan Jasa Rahn Pada Pengadaian
Syariah Pekanbaru, Penerapan Pembiayaan Mudharabah pada Bank Muamalat
Indonesia Pekanbaru, Buku Ekonomi Syariah, Buku Lembaga Keuangan Syariah.
Pendidikan S1 diselesaikan pada Fakultas Agama Islam Universita Islam
Riau, S2 Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) di selesaikan pada
Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sedangkan S2 Ekonomi Syariah diselesaikan
pada Universitas Islam Negeri (UIN Pekanbaru). S3 diselesaikan pada University
Utara Malaysia (UUM).
Pusat Kajian Pendidikan Islam FAI UIR
Pekanbaru 2015