A.
RUANG LINGKUP PENELITIAN PERILAKU KESEHATAN
Telah diuraikan dalam bab sebelumnya bahwa perilaku kesehatan
dikelompokkan menjadi dua, yakni perilaku kelompok atau segmen orang yang
sehat dan kelompok orang yang sakit. Perilaku segmen orang sehat adalah
bagaimana mereka kelompok orang sehat ini berperilaku untuk
mempertahankan supaya tetap sehat (perilaku pencegahan dari penyakit dan
meningkatkan kesehatannya). Sedangkan perilaku segmen masyarakat yang
sakit adalah, bagaimana mereka supaya sembuh dari sakit dan menjadi pulih
kesehatannya. Perilaku segmen masyarakat yang sakit ini disebut perilaku
pencarian pelayanan kesehatan (health seeking behavior). Dua segmen
masyarakat (sehat dan sakit) tersebut dalam mempertahankan dan
meningkatkan kesehatannya memerlukan peran pihak lain dalam bentuk
perorangan, atau bentuk institusi, organisasi, lembaga, dan sebagainya. Pihak
lain ini lebih dikenal dengan pelayanan kesehatan atau penyedia pelayanan
kesehatan (provider) sebagai institusi, atau petugas kesehatan sebagai
personelnya. Sedangkan pihak yang memerlukan pelayanan, baik segmen
masyarakat yang sehat maupun yang sakit ini disebut “client”, “consumer”,
termasuk pasien. Namun pada kenyataannya di masyarakat, pihak penyedia
pelayanan kesehatan, tidak secara otomatis menjalankan tuga pelayanannya,
baik preventif-promotif, maupun kuratif rehabilitative. Tetapi harus melalui
proses pendidikan yang cukup lama sehingga mereka berperilaku atau
berkompeten dalam pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu penelitian perilaku
kesehatan, dalam menyediakan data atau informasi yang bermanfaat bagi upaya
pelayanan kesehatan, maka hendaknya mencakup 3 kelompok, yakni:
1. Perilaku petugas kesehatan, sebagai pemberi pelayanan atau “provider”:
Dalam penelitian perilaku penyedia pelayanan kesehatan ini, mencakup dua
hal penting yang menyangkut kemampuan atau perilaku mereka, yakni:
a. Manajerial:
Institusi pelayanan kesehatan sekecil apa pun memerlukan organisasi dan
tata laksana yang baik, sehingga menjadikan pelayanan kesehatan
tersebut efektif dan efisien. Di samping itu, pelayanan kesehatan yang
diberikan harus memberikan kepuasan kepada pelanggan, klien, atau
pasien. Kemampuan manajerial yang perlu penelitian, yang hasilnya
dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja manajemen antara lain:
Kepemimpinan
Kemampuan merencanakan.
Kemampuan pelaksanaan kegiatan atau program antara lain
kemampuan:
komunikasi, koordinasi, supervisi, dan sebagainya.
Kemampuan monitoring dan evaluasi program-program kesehatan.
b. Pelaksana teknis dan fungsional:
Di samping kemampuan manajerial, pelaksanaan pelayanan kesehatan di
tataran lapangan, sebagai ujung tombak pelayanan juga harus mampu
menghadirkan pelayanan yang memuaskan bagi para pelanggan atau
pasien. Untuk mengukur kemampuan teknis fungsional diperlukan alat
ukur, yang seharusnya masingmasing pelaksana tugas fungsional
memilikinya, yakni: uraian tugas (job description) atau sering disebut
“SOP” (standard operating procedure).
2. Perilaku calon pemberi pelayanan kesehatan (siswa atau mahasiswa dalam
pendidikan tenaga kesehatan):
Perilaku tenaga kesehatan dalam pelayanan kesehatan tidak serta merta
terbentuk pada saat mereka diangkat atau diputuskan menjadi petugas
kesehatan di suatu institusi pelayanan kesehatan, misalnya di rumah sakit,
puskesmas atau diklinik bersalin, dan sebagainya. Perilaku “melayani”
masyarakat atau “client” ini harus dibentuk atau dikondisikan sejak petugas
kesehatan tersebut didalam proses pendidikan. Bahkan sebelum masuk ke
dalam proses pendidikan tenaga kesehatan pun, perilaku mereka sudah dapat
dideteksi. Oleh sebab itu, penelitian terhadap calon tenaga kesehatan, yang
masih dalam proses pendidikan ini dapat mencakup dua hal,yakni:
a. Motivasi
Telah diuraikan dalam bab sebelumnya, bahwa motivasi adalah dorongan
atau alasan untuk bertindak atau berperilaku. Motivasi colon tenaga
kesehatan di suatu institusi pendidikan adalah alasan mengapa mereka
memilih atau masuk pendidikan tenaga kesehatan tersebut. Apakah benar
semua siswa atau mahasiswa memilih ke institusi pendidikan tersebut
memang karena “motif” pelayanan bagi orang yang menderita atau
sedang sakit. Dari penelitian-penelitian yang ada, hanya sedikit (kurang
dari 50%) para calon tenaga kesehatan di lembaga-lembaga pendidikan
tenaga kesehatan itu mempunyai motif pelayanan. Sebagian besar dari
mereka motif memilih pendidikan calon tenaga kesehatan itu antara lain,
karena: supaya cepat memperoleh pekerjaan, mudah mencari pekerjaan
kalau sudah lulus, probabilitas untuk diterima besar, atau karena tidak
diterima dipilihan utamanya. Akibatnya dari motivasi para calon atau
peserta pendidikan institusi pendidikan tenaga kesehatan yang rendah ini,
maka kinerja para tenaga kesehatan sebagai pemberi pelayanan kesehatan
tidak maksimum (pada umumnya kinerjanya rendah, dan kurang
memuaskan pelanggan atau pasien).
b. Proses pembelajaran:
Akibat motivasi yang rendah dalam memasuki institusi pendidikan calon
tenaga kesehatan, maka kinerja (performance) dalam proses belajarnya
juga rendah. Akibatnya prestasi mereka pada umumnya pas-pasan saja.
Belajar sebenarnya merupakan proses untuk mematangkan diri sehingga
mampu melaksanakan tugas (pelayanan) sesuai dengan standar yang
ditentukan. Tetapi karena motivasinya rendah, maka belajar hanya
dikonotasikan untuk sekedar lulus. Secara kumulatif para calon tenaga
kesehatan yang belajar diinstitusi pendidikan ini, tujuan utamanya adalah
hanya untuk mencapai IP (indeks prestasi) minimal sesuai standar yang
ditetapkan saja, bukan untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya.
3. Perilaku masyarakat
Dalam uraian sebelumnya telah disinggung bahwa masyarakat sebagai
“client” atau pengguna serana pelayanan kesehatan, dikelompokan menjadi
dua, yakni: kelompok masyarakat yang sehat, dan kelompok masyarakat
yang sakit. Namun demikian, dua kelompok masyarakat sehat dan sakit ini
dilapangan tidak dapat dibedakan seperti warna “hitam” dan “putih”. Sebab
di antara kedua kelompok ini selalu ada daerah abuabu (grey area). Misalnya
pada kelompok masyarakat sehat, secara nyata sebenarnya juga terdiri 2
kelompok, yakni: kelompok yang benar-benar sehat, tetapi juga ada
kelompok yang sudah beresiko, misalnya: ibu hamil, ibu menyussui, bayi
dan balita, kelompok usia lanjut (lansia), dan sebagainya. Demikian juga diri
kelompok masyarakat yang sakit ini, ada kelompok yang sudah memang
benar-benar sakit, tetapi ada kelompok yang belum sakit tetapi sudah
berpotensi sakit yang lebih berat, misalnya: penderita hipertensi, diabetes
mellitus, berkolesterol tinggi, dan sebagainya. Terkait dengan dua kelompok
masyarakat tersebut, maka perilaku kesehatan atau perilaku sehat juga
dikelompokan menjadi dua, yakni:
a. Perilaku sehat (healthy life style):
Adalah perilaku orang yang sehat untuk memeihara dan meningkatkan
kesehatan mereka. Oleh sebab itu perilaku ini secara rinci mencakup
tindakan atau perilaku:
Mencegah dari sakit, kecelakaan dan masalah kesehatan yang lain
(preventif).
Meningkatkan derajat kesehatannya (promotif), yakni perilaku-
perilaku yang terkait dengan peningkatan kesehatan. Perilaku orang
sehat supaya tetap sehat (terhindar dari penyakit) dan bahkan lebih
meningkat kesehatannya ini, sekurang-kurangnya mencakup dibawah
ini:
a. Makan dengan menu seimbang, dengan komposisi makanan sehari-
hari terdiri dari makanan-makanan yang mengandung: karbohidrat,
protein, lemak, mineral, dan vitamin-vitamin. Gizi seimbang ini
dapat diwujudkan dalam bentuk antara lain: nasi, mie atau roti,
lauk pauk (tahu, tempe, ikan, ayam, dan sebagainya), sayur
(berbagai daun), buah-buahan, dan susu.
b. Aktivitas fisik secara teratur (tidak harus dalam bentuk olahraga),
sekurangkurangnya 30 menit sehari, dan sekurang-kurangnya 3
kali dalam satu minggu.
c. Tidak mengonsumsi makana atau minuman yang dapat
menimbulkan adeksi atau kecanduan, termasuk tidak merokok.
d. Mengelola stress (bukan menghindari stres). Stres adalah bagian
dari hidup manusia sehari-hari, dan sulit untuk dihindari. Oleh
sebab itu, yang penting bagaimana kita dapat mengelola atau
mengatasi stress kita, termasuk bagaimana kita bias
mengidentifikasi sumber stress (stressor).
e. Menyediakan waktu untuk rekreasi. Rekreasi adalah ibarat
membuka jendela pada waktu dalam saat “sumpeg”. Maka
sewaktu-waktu berekreasi dengan keluarga adalah penting.
f. Menjaga kebersihan diri (personal hygiene), lingkungan, dan
makanan/minuman sehari-hari. Perilaku pencarian penyembuhan
(Health seeking behavior):
Adalah perilaku kelompok orang yang sakit ini berupaya untuk
mencari penyembuhan atau pengobatan guna membebaskan diri
dari penyakit tersebut, serta memperoleh pemulihan kesehatannya.
Oleh sebab itu perilaku penyembuhan ini mencakup:
1. Mengenali gejala penyakit dengan menggunakan caranya
sendiri, misalnya pengalaman orang lain, atau pengetahuan
yang dimiliki.
2. Melakukan penyembuhan atau pengobatan sendiri (self
treatment atau self medication), sesuai dengan pengetahuan,
keyakinan atau kepercayaannya. Perilaku pengobatan sendiri
ini terdiri dari berbagai bentuk, baik secara tradisional dan
modern. Bentuk perilaku penyembuhan sendiri secara
tradisional ini misalnya: kerokan, pijat, atau membuat ramuan
atau minum jamu baik yang dibuat sendiri atau beli di warung.
Sedangkan pengobatan sendiri dengan cara modern juga
dilakukan dengan berbagai cara misalnya; minum obat yang
dijual bebas di warung, toko obat atau apotek. Kadang-kadang
juga minum obat paten yang dibeli toko obat atau apotek.
Sebab banyak juga obat-obat paten yang dijual bebas (tanpa
resep).
3. Melakukan upaya memperoleh kesembuhan dan pemulihan dari
luar, sesuai dengan pemahaman dan persepsi terhadap
penyakitnya [Link]-pilihan jenis pelayanan kesehatan
tersebut berbeda-beda urutannya. Pilihan pertama pelayanan
kesehatan bagi masyarakat pada umumnya (terutama di
pedesaan) adalah pelayanan kesehatan tradisional, yakni dukun
atau paranormal kesehatan. Pelayanan kesehatan tradisional
sebagai pilihan pertama, sebenarnya kurang tepat. Sebab pada
umumnya pengobatan atau penyembuhan yang digunakan oleh
para pengobatan tradisional ini tidak didasarkan pada hasil
diagnosis penyakit. Penyembuhan dan pengobatan biasanya
didasarkan pada diagnosis kebatinan atau para normal, yang
sering kurang masuk akal.
Akibat dari proses penyembuhan atau pengobatan semacam ini
kadang-kadang berakibat yang lebih buruk atau lebih parah bagi
pasien. Setelah gagal ditangani oleh pengobatan tradisional, maka
biasanya pasien dibawa ke pelayanan kesehatan modern (rumah
sakit, puskesmas, atau dokter). Namun demikian karena sudah
terlambat, maka pelayanan kesehatan modern pun tidak mampu
menanganinya, alias “angkat tangan”. Oleh sebab itu, seyogyanya
pelayanan kesehatan sebagai tempat pencarian penyembuhan atau
pengobatan (health seeking behavior) ini sesuai dengan urutan di
bawah ini:
1. Pelayanan kesehatan primer, bentunya: puskesmas, dokter
praktek, bidan atau mantra praktek. Apabila pelayanan
kesehatan primer ini tidak berhasil menanganinya, maka baru
mencari pelayanan kesehatan rujukan.
2. Pelayanan kesehatan rurjukan tingkat pertama (rumah sakit tipe
D/C). tetapi bagi masyarakat pedesaan, di mana bidan praktek
atau mantri praktek sebagai tempat pelayanan kesehatan
primer, maka dokter praktek atau puskesmas mungkin sebagai
pelayanan kesehatan rujukan tingkat pertama ini. Apabila
pelayanan kesehatan rujukan pertama ini tidak berhasil
menanganinya, maka batu mencari pertolongan pelayanan
kesehatan rujukan tingkat dua.
3. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat dua (rumah sakit tipe B
atau A) adalah pelayanan kesehatan rujukan yang mempunyai
sarana dan prasarana yang lebih lengkap, serta mempunyai
tenaga medis maupun para medis yang lebih ahli. Bagi
masyarakat yang tinggal di pedesaan, dimana pelayanan
kesehatan primer yang digunakan adalah bidan atau mantri
praktek, maka Rumah sakit Kabupaten (tipe C) pun sudah
merupakan pelayanan kesehatan rujukan yang paling tinggi.
Sebaliknya bagi golongan orang yang mampu utamanya dari
kota besar, maka pelayanan rujukan yang digunakan adalah
Rumah Sakit Internasional, baik yang ada di Jakarta, maupun
di luar negeri (Singapura, Malaysia, Tiongkok, dan
sebagainya).
B. PENGUKURAN PERILAKU KESEHATAN
Seperti telah diuraikan pada bagian lain buku ini, bahwa domain atau ranah
utamaperilaku manusia adalah: kognitif, afektif (emosi) dan konasi, yang
dalam bentuk operasionalnya adalah ranah: pengetahuan (knowledge), sikap
(attitude), dan tindakan atau praktek (practice).
1. Pengetahuan:
Adalah hal apa yang diketahui oleh orang atau responden terkait dengan
sehat dan sakit atau kesehatan, missal: tentang penyakit (penyebab, cara
penularan, cara pencegahan), gizi, sanitasi, pelayanan kesehatan,
kesehatan lingkungan, keluarga berencana, dan sebagainya.
2. Sikap:
Adalah bagaimana pendapat atau penilaian orang atau respnden terhadap
hal yang terkait dengan kesehatan, sehat-sakit dan faktor yang terkait
dengan faktor resiko kesehatan. Misalnya: bagaimana pendapat atau
penilaian responden terhadap penyakit demam berdarah, anak dengan gizi
buruk, tentang lingkungan, tentang gizi makanan, dan seterusnya.
3. Praktek (tindakan):
Adalah hal apa yang dilakukan oleh responden terhadap terkait dengan
kesehatan (pencegahan penyakit), cara peningkatan kesehatan, cara
memperoleh pengobatan yang tepat, dan sebagainya.
A. Metoda pengukuran
Penelitian di bidang apapun, termasuk penelitian perilaku, metoda atau
cara pengukuran sangat berperan dalam menentukan hasil penelitian
tersebut. Karena hasil penelitian termasuk menganalisis hasil tersebut
diperoleh dari pengukuran. Mengumpulkan data penelitian pada
hakikatnya adalah mengukur dari variable subjek penelitian. Misalnya
apabila kita akan menliti pengetahuan ibu-ibu tentang imunisasi dasar bagi
anak balita, maka sudah barang tentu kita akan mengukur sejauh mana
atau setinggi mana pengetahuan ibu tersebut tentang imunisasi dasar,
dengan cara menanyakan secara langsung (wawancara) atau menanyakan
secara tertulis (angket). Cara yang digunakan untuk mengumpulkan data
atau mengukur variable ini disebut metode pengukuran. Metode-metode
yang sering digunakan untuk mengukur perilaku kesehatan, biasanya
tergantung dari beberapa hal antara lain: domain atau ranah perilaku yang
diukur (pengetahuan, sikap atau tindakan/praktek) dan juga tergantung
pada jenis dan metode penelitian yang digunakan.
1. Pengukuran pengetahuan:
Pengetahuan tentang kesehatan dapat diukur berdasarkan jenis
penelitiannya, kuantatif atau kualitatif:
a. Penelitian Kuantitatif :
Penelitian kuantitatif pada umum akan mencari jawab atas
fenomena, yang menyangkut berapa banyak, berapa sering, berapa
lama, dan sebagainya, maka biasanya menggunakan metode
wawancara dan angket (self administered):
Wawancara tertutup atau wawancara terbuka, dengan
menggunakan Instrumen (alat pengukur/pengumpul data)
kuisioner. Wawancara tertutup adalah suatu wawancara
dimana jawaban responden atas pertanyaan yang di ajukan
telah tersedia dalam opsi jawaban, responden tinggal memilih
jawaban mana yang mereka anggap paling bener atau paling
tepat. Sedangkan wawancara terbuka, dimana pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka, sedangkan
responden boleh menjawab apa saja sesuai dengan pendapat
atau pengetahuan responden sendiri.
Angket tertutup atau terbuka. Seperti halnya wawancara,
angket juga dalam bentuk tertutup dan terbuka. Instrumen atau
alat ukurnya adalah seperti wawancara, hanya jawabannya
responden disampaikan lewat tulisan. Metoda pengukuran
melalui angket ini sering disebut “self administered” atau
metode mengisi sendiri.
b. Penelitian Kuantitatif
Pada umumnya penelitian kualittif bertujuan untuk menjawab
bagaimana suatu fenomena itu terjadi, atau mengapa terjadi.
Misalnya penelitian kesehatan tentang demam berdarah di suatu
komunitas tertentu. Penelitian kuantitatif mencari jawab seberapa
besar kasus demam berdarah tersebut, dan berapa sering demam
berdarah ini menyerang penduduk di komunitas ini. Sedangkan
penelitian kualitatif akan mencari jawab mengapa dikomunitas ini
sering terjadi kasus demam berdarah, dan mengapa masyarakat
tidak mau melakukan 3M, dan seterusnya. Metode-metode
pengukuran pengetahuan dalam metode penelitian kualitatif ini
antara lain:
Wawancara mendalam:
Mengkur variable pengetahuan dengan menggunakan metode
wawancara mendalam, yang akhirnya memancing jawaban yang
sebanyak-banyaknya dari responden. Jawaban responden akan
diikuti pertanyaan yang lain, terus menerus, sehingga diperoleh
informasi atau jawaban responden sebanyak banyaknya dan
sejelas-jelasnya.
Diskusi Kelompok Terfokus (DKT):
Diskusi kelompok terfokus atau “Focus group discussion” dalam
menggali informasi dari beberapa orang responden sekaligus
dalam kelompok. Penelitian mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
yang akan memperoleh jawaban yang berbeda-beda dari semua
responden dalam kelompok tersebut. Jumlah kelompok dalam
diskusi kelompok terfokus seyogyanya tidak terlalu banyak,
tetapi juga tidak terlalu sedikit, antara 6-10 orang.
2. Pengukuran sikap
Pengukuran sikap juga dapat dilakukan berdasarkan jenis atau metode
penelitian yang digunakan.
a. Kuantitatif:
Pengukuran sikap dalam penelitian kuantitatif, juga dapat
menggunakan dua cara seperti pengukuran, yakni:
Wawancara:
Metode wawancara untuk pengukuran sikap sama dengan
wawancara untuk mengukur pengetahuan. Bedanya hanya pada
substansi pertanyaannya saja. Apabila pada pengukuran
pengetahuan pertanyaan-pertanyaannya menggali jawaban apa
yang diketahui oleh responden. Tetapi pada pengukuran sikap
pertanyaan-pertanyaannya menggali pendapat atau penilaian
responden terhadap objek
Angket
Demikian juga pengukuran sikap menggunakan metode angket,
juga menggali pendapat atau penilaian responden teradap objek
kesehatan, melalui pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban
tertulis.
b. Kualitatif
Pengukuran sikap daam metode penelitian kualitatif, substansi
pertanyaannya juga sama dengan pertanyaan-pertanyaan pada
penelitian sikap pada penelitian kuantitatif seperti tersebut di atas.
Wawancara mendalam:
Seperti pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian kuantitatif untuk
sikap, tetapi pertnyaan bersifat menggali pendapat atau penilaian
responden terhadap objek.
Diskusi kelompok terfokus (DKT):
Seperti pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian kuantitatif untuk
sikap, tetapi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menggali
pendapat atau penilaian responden terhadap objek.
Metode observasi untuk mengukur sikap
Disampig metode-metode pengukuran sikap seperti setelah diuraikan diatas
(wawancara atau angket), pengukuran sikap juga dapat dilakukan melalui metode
pengamatan atau observasi. Metode observasi untuk mengukur sikap ini dapat
dilakukan melalui dua cara, yakni:
1. Verbal
Misalnya untuk mengetahui sikap orang terhadap penyakit kusta. Kepada orang
tersebut dipertontonkan video atau gambar penderita kusta, kemudian orang
tersebut diminta memberikan tanggapan terhadap gambar atau tayangan video
tersebut.
2. Nonverbal
Seperti pada contoh diatas, di mana kepada seseorang ditayangkan gambar atau
sebuah kasus penderita kusta. Kemudian diamati bagaimana gerakan atau
“mimic” orang tersebut adalah mencerminkan sikapnya terhadap kusta.
Kriteria pengukuran sikap:
Mengukur sikap agak berbeda dengan mengukur pengetahuan. Sebab mengukur
sikap berarti menggali pendapat atau penilaian orang terhadap objek yang berupa
fenomena, gejala, kejadian dan sebagainya yang kadang-kadang bersifat abstrak.
Di bidang kesehatan misalnya menanyakan sikap terhadap penyakit HIV/AIDS
yang kasusnya belum pernah ia lihat. Sebelum menguraikan pengukuran sikap,
terlebih dahulu kita lihatkan beberapa konsep tentang sikap yang dapat dijadikan
acuan untuk pengukuran sikap, antara lain sebagai berikut:
1. Sikap merupakan tingkatan afeksi yang positif atau negative yang
dihubungkan dengan objek (Thurstone).
2. Sikap dilihat dari individu yang menghubngkan efek yang positif dengan
objek (individu menyenang objek atau negative atau tidak menyenangi
objek) (Edward)
3. Sikap merupakan penilaian dan atau pendapat terhadap individu objek
(Licker). Oleh sebab itu, mengukur sikap biasanya dilakukan dengan hanya
minta pendapat atau penilaian terhadap fenomena, yang diwakili dengan
“pernyataan” (bukan pertanyaan).
Beberapa hal atau kriteria untuk mengukur sikap, maka perlu diperhatikan hal-
hal antara lain sebagai berikut:
1. Dirumuskan dalam bentuk pernyataan.
2. Pernyataan haruslah sependek mungkin kurang lebih dua puluh kata.
3. Bahasanya sederhana dan jelas
4. Tiap satu pernyataan hanya memiliki satu pemikiran saja.
5. Tidak menggunakan kalimat bentuk negative rangkap.
Cara mengukur sikap dapat dilakukan melalui wawan cara dan atau observasi,
dengan mengajukan pernyataan-pernyataan yang telah disusun berdasrkan
kriteria-kriteria di atas. Kemudian pernyataan-pernyataan tersebut dirumuskan
dalam bentuk “Instrumen”. Dengan Instrumen tersebut pendapat atau penilaian
responden terhadap objek dapat diperoleh melalui wawancara atau angket.
Biasanya responden dimintakan pendapatnya terhadap pernyataan-pernyataan
dengan mengatakan atau memilih:
1. Setuju, tidak setuju,
2. Baik, tidak baik,
3. Menerima, tidak menerima, atau
4. Senang, tidak senang
Dua pilihan tersebut memang kurang tajam, oleh sebab itu untuk lebih
mempertanyakan sikap responden, Likert membuat skala, yang selanjutnya
disebut skala Likert, misalnya:
Sangat setuju---x---x---x---x ---sangat tidak setuju
Baik sekali---x---x---x---x--- sangat tidak baik
Sangat menerima---x---x---x---sangat menolak
Atau lebih konkrit dan kuantitatif, misalnya:
54321
Sangat senang x---x---x---x---x---sangat tidak senang
Contoh lain:
Pilihlah jawaban anda:
4, bila sangat setuju
3, bila setuju
2, bila tidak setuju
1, bila sangat tidak setuju
Pertanyaan Pendapat/penilaian
1. HIV/AIDS adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya
2. Penderita HIV/AIDS tidak perlu dikucilkan:
3. Petugas kesehatan dikamar bedah adalah berisiko tertular HIV/AIDS
4. Penggunaan kondom adalah salah satu cara untuk menghindari
HIV/AIDS.
3. Pengukuran praktik/tindakan (perilaku terbuka):
Mengukur perilaku terbuka, praktek atau tindakan, relatif lebih mudah
bila dibandingkan dengan mengukur perilaku tertutup (pengetahuan dan sikap).
Sebab praktek atau tindakan mudah diamati secara konkret dan langsung
maupun melalui pihak ketiga. Secara garis besar mengukur perilaku terbuka
atau praktek dapat dilakukan melalui dua metoda, yakni:
a. Langsung:
Mengukur perilaku terbuka secara langsung, berarti peneliti
langsung mengamati atau mengobservasi perilaku subjek yang diteliti.
Misalnya: mengukur perilaku ibu dalam memberikan makan kepada anak
balitanya, maka peneliti dapat mengamati langsung terhadap ibu-ibu balita
dalam memberikan makanan kepada anak balitanya. Untuk memudahkan
pengamatan, maka hal-hal yang akan diamati tersebut dituangkan atau
dibuat lembar titik atau (check list), misalnya: jenis makanan yang
diberikan, jumlah atau porsi, waktu pemberian makanan, komposisi
makanan, dan seterusnya.
b. Tidak langsung:
Pengukuran perilaku secara tidak langsung ini, berarti penelitian
tidak secara langsung mengamati perilaku orang yang diteliti (responden).
Oleh sebab itu metoda pengukuran secara tidak langsung ini dapat
dilakukan dengan berbagai cara, yakni:
1) Metode mengingat kembali atau “recall”:
Metode “recall” ini dilakukan dengan cara responden atau subjek
penelitian diminta untuk mengingat kembali (recall) terhadap perilaku
atau tindakan beberapa waktu yang lalu. Lamanya waktu yang diminta
untuk diiingat responden, berbeda-beda. Untuk perilaku makan atau
asupan makanan, oleh para ahli gizi telah ditetapkan 24 jam, maka
disebut “24 hours recall”. Penetapan 24 jam untuk metode pengukuran
perilaku makanan atau pemberian makanan ini didasarkan penelitian para
ahli gizi. Bahwa kecermatan mengingat jumah dan jenis makanan yang
dimakan atau diberikan kepada anak balita atau yang dimakan
(dikonsumsi) sendiri oleh responden itu adalah “24 jam”. Sedangkan
untuk perilaku-perilaku yang lain sangat relatif, oleh sebab itu batas
waktu mengingat diserahkan kepada penelitian yang bersangkutan.
2) Melalui orang ketiga atau orang lain yang “dekat” dengan subjek atau
responden:
Pengukuran perilaku terhadap seseorang atau responden dilakukan oleh
orang yang terdekat dengan responden yang diteliti. Misalnya untuk
mengamati perilaku keteraturan minum obat seorang penderita penyakit
tertentu dapat melalui anggota pasien yang paling dekat, misalnya
melalui istri atau suami. Untuk mengamati partisipasi seseorang dalam
masyarakat, dapat dilakukan melalui tokoh masyarakat setempat.
3) Melalui “indikator” (hasil perilaku) responden:
Pengukuran perilaku ini dilakukan melalui indikator hasil perilaku orang
yang diamati. Misalnya peneliti akan mengamati atau mengukur perilaku
kebersihan diri atau “personel hygiene” seorang murid sekolah. Maka
yang diamati adalah hasil dari perilaku kebersihan diri tersebut, antara
lain: kebersihan kuku, telinga, kulit, gigi, dan seterusnya.
Penelitian perilaku yang lain:
Pada umumnya penelitian-penelitian perilaku kesehatan selama ini mencakup 3
domain tersebut (pengetahuan, sikap dan praktek/tindakan) terhadap objek
kesehatan. Namun demikian masih banyak penelitian-penelitian perilaku
kesehatan diluar 3 domain tersebut, misalnya:
a. Motivasi
b. Kinerja (kemampuan pelaksanaan tugas pelayanankesehatan)
c. Kepatuhan dalam menjalankan proses pengobatan atau penyembuhan,
d. Kinerja atau perilaku kerja berbagai petugas kesehatan
e. Partisipasi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan, dan seterusnya.