See
discussions, stats, and author profiles for this publication at: [Link]
ANALISIS DAN SIMULASI PERANCANGAN
JARINGAN FIBER TO THE HOME (FTTH) PADA
PERUMAHAN BUAH BATU SQUARE BANDUNG
MENGGUNAKAN OPTISYSTEM
Article in Journal of Optical Communications · December 2014
READS
41
1 author:
Ignatius Yoslan Kurniawan
Telkom University
1 PUBLICATION 0 CITATIONS
SEE PROFILE
Available from: Ignatius Yoslan Kurniawan
Retrieved on: 22 April 2016
ANALISIS DAN SIMULASI PERANCANGAN JARINGAN FIBER TO THE HOME
(FTTH) PADA PERUMAHAN BUAH BATU SQUARE BANDUNG MENGGUNAKAN
OPTISYSTEM
ANALYSIS AND SIMULATION FIBER TO THE HOME (FTTH) NETWORK DESIGN
ON BUAH BATU SQUARE RESIDENCE USING OPTISYSTEM
Ignatius Yoslan Kurniawan
Prodi S1 Teknik Telekomunikasi, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom
ignatiusyosh@[Link]
Abstrak
Pada masa sekarang ini kebutuhan akses layanan semakin meningkat. Masyarakat juga membutuhkan
akses layanan yang cepat. Sehingga kita membutuhkan media akses yang dapat menangani hal tersebut.
Fiber optik merupakan salah satu media transmisi yang dapat menangani hal tersebut. Pada kesempatan
kali ini penulis akan dilakukan perancangan jaringan FTTH pada Perumahan Buah Batu Square. Pada
Jaringan FTTH ini terdapat 357 rumah sehingga diperlukan 357 ONT, 54 ODP, 1 ODC, dan 1 GPON OLT.
Dari hasil perancangan dan simulasi pada OptiSystem BER untuk downlink sebesar 3.42663 x 10-15 dan
untuk uplink sebesar 0. Kedua nilai tersebut masih memenuhi nilai minimum BER yang ditentukan untuk
optik yaitu 10-9. Nilai Q-Factor untuk downlink sebesar 7.18226 dan untuk uplink sebesar 114.825. Kedua
nilai tersebut masih memenuhi nilai Q-Factor minimum yaitu 6. Daya terima pada konfigurasi downlink
sebesar -19.773 dBm dan untuk uplink sebesar -5.711 dBm. Kedua nilai tersebut dapat memenuhi nilai
minimum daya terima yang telah ditetapkan oleh [Link] yaitu -23 dBm.
Kata Kunci : FTTH, BER, Q-Factor, OptiSystem
Abstract
At this present time the needs of services access has been increase. Society also need faster services access.
So we need access medium that can handle that problem. At this time, writer will make FTTH Network
design on Buah Batu Square Residence. In this FTTH Network there will be 357 home so we need 357 ONT,
54 ODP, 1 ODC, and 1 GPON OLT. From the result of design and simulation on OptiSystem BER for
downlink is 3.42663 x 10-15 and for uplink is 0. Both of that values still meet the minimum value of BER that
has been determined for optick is 10-9. Q-Factor Value for downlink is 7.18226 and for uplink is 114.825.
Both of that values still meet the minimum value of Q-Factor is 6. Receive Power on downlink configuration
is -19.773 dBm and for uplink is -5.711 dBm. Both of that values still meet the minimum value of Receive
Power that has been determined by [Link] is -23 dBm.
Keywords : FTTH, BER, Q-Factor, OptiSystem
1. Pendahuluan
Pada masa sekarang ini kebutuhan akses layanan sangat dibutuhkan oleh banyak orang dan masih banyak
orang yang mengeluh akan kecepatan dan kestabilan akses layanan tersebut. Fiber Optik bisa dikatakan adalah
salah satu solusinya dikarenakan fiber optik merupakan saluran transmisi yang dapat mentransmisikan informasi
dengan kecepatan yang sangat cepat. Dalam kesempatan kali ini penulis akan merancang dan mensimulasikan
jaringan FTTH pada Perumahan Buah Batu Square.
Tujuan dilakukannya perancangan ini adalah untuk mendapatkan suatu rancangan jaringan akses layanan
yang memiliki tingkat performansi dan tingkat kelayakan yang baik. Selain itu perancangan ini dilakukan untuk
mengetahui bagaimana penggunaan simulator OptiSystem dalam merancang jaringan FTTH.
Dalam perancangan ini akan dibahas perancangan jaringan FTTH pada perumahan Buah Batu Square
menggunakan teknologi GPON, penerapan teknologi GPON, penentuan dan penempatan perangkat, penentuan
parameter kelayakan seperti BER,Q-Factor dan Daya Terima. Perancangan akan dilakukan dari STO terdekat
dengan perumahan Buah Batu Square yaitu STO Cijawura hingga ke pelanggan yang ada di perumahan tersebut.
2. Dasar Teori
2.1 Fiber Optik
Fiber Optik adalah saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus
dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat
ke tempat lain. Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah dari sinar laser atau LED.
Kabel ini berdiameter lebih kurang 120 mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat optik tidak keluar karena
indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser mempunyai spektrum yang sangat
sempit. Kecepatan transmisi fiber optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran
komunikasi.
Struktur kabel fiber optik terdiri coating, cladding, dan core. Struktur tersebut mamiliki pengertian sebagai
berikut:
Core
Bagian yang paling utama dinamakan bagian inti (core), dimana gelombang cahaya yang dikirimkan akan
merambat dan mempunyai indeks bias lebih besar dari lapis kedua. Inti (core) terbuat dari bahan kaca
(glass) yang berdiameter 2 μm – 50 μm, dalam hal ini tergantung dari jenis serat optiknya. Ukuran core
juga dapat mempengaruhi karakteristik serat optik tersebut.
Cladding
Cladding berfungsi sebagai cermin yaitu memantulkan cahaya agar dapat merambat ke ujung lainnya.
Dengan adanya cladding ini cahaya dapat merambat dalam core serat optik. Cladding terbuat dari bahan
gelas dengan indeks bias yang lebih kecil dari core. Cladding merupakan sekubung dari core. Diameter
cladding berkisar antara 5 μm – 250 μm. Hubungan indeks bias antara core dan cladding akan
mempengaruhi perambatan cahaya pada core (mempengaruhi besarnya sudut kritis).
Coating
Coating merupakan bagian terluar dari suatu serat optik yang terbuat dari bahan plastik yang berfungsi
untuk melindungi serat optik dari kerusakan, pada coating juga terdapat warna yang membedakan urutan
core.
Gambar 2.1 Struktur Fiber Optik
2.2 FTTx
Teknologi FTTx ialah suatu format penghantaran isyarat optik dari pusat penyedia (provider) ke kawasan
pengguna dengan menggunakan serat optik sebagai medium penghantar. Kemunculan teknologi ini sebagai
akibat dari dorongan keinginan masyarakat (pelanggan) untuk mendapatkan layanan yang dikenal dengan istilah
Triple Play Service, yaitu layanan akan akses internet yang cepat, suara (jaringan telepon, PSTN) dan video (TV
Kabel) dalam suatu infrastruktur pada unit pelanggan. Beberapa istilah lain dari teknologi FTTx yang sering
diimplementasikan di antaranya:
Fiber To The Building (FTTB)
Istilah FTTB dipakai bila perangkat opto elektronik di sisi pelanggan berada di dalam suatu gedung
(umumnya di basement atau ruangan perangkat telekomunikasi). Jadi fiber optik digelar mulai dari sentral
dan berakhir di suatu gedung (umumnya berupa gedung-gedung bertingkat/perkantoran). Terminal
pelanggan yang ada di dalam gedung tersebut akan dihubungkan ke perangkat RT atau ONU dengan
menggunakan kabel tembaga sesuai dengan jenis layanannya.
Fiber To The Zone (FTTZ)
Istilah FTTZ digunakan bila perangkat opto elektronik di sisi pelanggan diletakkan di suatu tempat
(umumnya di dalam kabinet) di luar gedung/bangunan. Jadi fiber optik digelar mulai dari sentral dan
berakhir di kabinet RT atau ONU yang memiliki daerah cakupan layanan tertentu. Terminal pelanggan
dihubungkan ke perangkat RT atau ONU dengan menggunakan kabel tembaga hingga jarak beberapa
kilometer. Bila dianalogikan dengan jaringan kabel tembaga, maka letak kabinet pada modus aplikasi FTTZ
adalah kira-kira sama dengan lokasi rumah kabel (RK).
Fiber To The Curb (FTTC)
Istilah FTTC digunakan bila perangkat opto elektronik di sisi pelanggan diletakkan di suatu tempat di luar
gedung/bangunan (umumnya di dalam kabinet di atas tanah maupun di tiang). Jadi fiber optik digelar mulai
dari sentral dan berakhir di kabinet RT atau ONU yang memiliki daerah cakupan layanan tertentu yang
lebih kecil dari FTTZ. Terminal pelanggan dihubungkan ke perangkat RT atau ONU dengan menggunakan
kabel tembaga hingga jarak beberapa ratus meter. Bila dianalogikan dengan jaringan kabel tembaga, maka
letak kabinet pada modus aplikasi FTTC adalah kira-kira sama dengan lokasi distribution point (DP).
Fiber To The Home (FTTH)
Istilah FTTH dipakai bila perangkat opto elektronik (umumnya berupa ONU) diletakkan di dalam rumah
pelanggan. Terminal pelanggan dihubungkan ke ONU dengan menggunakan kabel tembaga indoor atau
IKR dengan jarak yang cukup pendek. Letak perangkat ONU pada FTTH dapat dianalogikan dengan
terminal batas atau bahkan roset pada jaringan kabel tembaga.[5]
2.3 GPON (Gigabit Passive Optical Network)
GPON adalah suatu teknologi akses yang dikategorikan sebagai Broadband Access berbasis kabel serat
optik evolusi dari BPON. GPON merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan oleh ITU-T via G.984 dan
hingga kini bersaing dengan GEPON (Gigabit Ethernet PON), yaitu PON versi IEEE yang berbasiskan teknologi
ethernet. GPON mempunyai dominasi market yang lebih tinggi dan roll out lebih cepat dibanding penetrasi
GEPON. Standar G.984 mendukung bit rate yang lebih tinggi, perbaikan keamanan, dan pilihan protokol layer
2 (ATM, GEM, atau Ethernet).
Gambar 2.2 Arsitektur GPON
Prinsip kerja dari GPON itu sendiri ketika data atau sinyal dikirimkan dari OLT, maka ada bagian yang
bernama splitter yang berfungsi untuk memungkinkan fiber optik tunggal dapat mengirim ke berbagai ONU,
untuk ONU sendiri akan memberikan data-data dan sinyal yang diinginkan user. Pada prinsinya, PON adalah
sistem point to multipoint, dari fiber ke arsitektur premise network dimana unpowered optical splitter (splitter
fiber) fiber optik tunggal.
2.4 Parameter Kelayakan Hasil Penelitian
2.4.1 Bit Error Rate (BER)
Bit error rate merupakan laju kesalahan bit yang terjadi dalam mentransmisikan sinyal digital.
Sensitivitas merupakan daya optik minimum dari sinyal yang datang pada bit error rate yang dibutuhkan.
Kebutuhan akan BER berbeda-beda pada setiap aplikasi, sebagai contoh pada aplikasi komunikasi
membutuhkan BER bernilai 10-10 atau lebih baik, pada beberapa komunikasi data membutuhkan BER bernilai
sama atau lebih baik dari 10-12. BER untuk system komunikasi optik sebesar 10-9. Faktor-faktor yang
mempengaruhi BER antara lain noise, interferensi, distorsi, sinkronisasi bit, redaman, multipath fading, dll.[4]
2.4.2 Q-Factor
Q-Factor adalah faktor kualitas yang akan menentukan bagus atau tidaknya kualitas suatu link atau
jaringan DWDM. Dalam sistem komunikasi serat optik khususnya GPON, minimal ukuran Q-Factor yang
bagus adalah 6, atau 10-9 dalam Bit Error Rate (BER).[2]
3. Perancangan dan Simulasi
3.1 Diagram Alir Perancangan
Diagram alir merupakan tahap yang paling penting dalam proses perancangan. Diagram alir bertujuan agar
dalam pembuatan suatu perancangan dapat berjalan secara sistematis dan terstruktur sehingga hasilnya dapat
berjalan sesuai yang kita harapkan. Secara umum tahapan perancangan yang akan dilaksanakan dapat dilihat
melalui diagram alir berikut:
Gambar 3.1 Diagram Alir Perancangan
Pada diagram alir tersebut dapat dilihat bahwa tahap awal yang dilakukan adalah menentukan lokasi
perancangan. Lokasi yang dipilih adalah daerah Perumahan Buah Batu Square. Lalu dilakukan pengumpulan
data mengenai lokasi perancangan seperti jarak antara lokasi perancangan dengan STO terdekat, kondisi lokasi,
dan lain-lain. Setelah itu dilakukan perancangan dan simulasi menggunakan OptiSystem. Lalu akan didapat hasil
perancangan dan simulasi yang telah dilakukan berupa parameter kelayakan seperti BER dan Q-Factor. Jika
hasil yang didapat tidak memenuhi standar kelayakan maka akan dilakukan konfigurasi ulang. Jika hasil yang
didapat sudah sesuai dengan standar kelayakan maka perancangan yang dilakukan akan dianggap selesai.
3.2 Perancangan Jaringan FTTH Perumahan Buah Batu Square
Perumahan Buah Batu Square memiliki total homepassed sebanyak 357 unit rumah. Dalam perancangan
ini akan dirancang suatu jaringan FTTH melalui STO terdekat yaitu STO Cijawura hingga menuju rumah-rumah
pelanggan didaerah Perumahan Buah Batu Square. Jarak antara STO Cijawura – Perumahan Buah Batu Square
adalah 4.1 Km dengan menggunakan google maps.
Gambar 3.2 Jarak STO Cijawura – Perumahan Buah Batu Square
Jumlah ONT yang akan dirancang adalah sesuai dengan jumlah unit rumah yaitu 357 ONT. Jumlah Passive
Splitter 1:8 ODP adalah 54 splitter dan jumlah Passive Splitter 1:4 ODC adalah 14 splitter. Kemudian jumlah
core optik ODC-ODP sebanyak 54 core dan jumlah core optik OLT-ODC sebanyak 14 core. Adapun
Konfigurasi Jaringan yang akan dirancang dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3.3 Konfigurasi Jaringan FTTH Perumahan Buah Batu Square
3.3 Simulasi Perancangan pada OptiSystem
3.3.1 Konfigurasi Downlink
Pada tahap ini akan dilakukan konfigurasi downlink dengan mengatur parameter layout dengan bitrate
2,488 Gbps dan sensifitas -28 dBm. Adapun konfigurasi downlink yang akan dilakukan pada OptiSystem
dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3.4 Konfigurasi Downlink
Gambar 3.5 Hasil BER Analyzer pada Konfigurasi Downlink
Gambar 3.6 Daya Terima pada Konfigurasi Downlink
Berdasarkan hasil simulasi perancangan diatas didapatkan nilai BER sebesar 3.42663 x 10-15. Nilai Q-
Factor sebesar 7.18226. Daya terima yang terukur pada Optical Power Meter adalah -19.773 dBm.
3.3.2 Konfigurasi Uplink
Pada tahap ini akan dilakukan konfigurasi uplink dengan mengatur parameter layout dengan bitrate
1,244 Gbps dan sensifitas -29 dBm. Adapun konfigurasi uplink yang akan dilakukan pada OptiSystem dapat
dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3.7 Konfigurasi Uplink
Gambar 3.8 Hasil BER Analyzer pada Konfigurasi Uplink
Gambar 3.9 Daya Terima pada Konfigurasi Uplink
Berdasarkan hasil simulasi perancangan diatas didapatkan nilai BER sebesar 0. Nilai Q-Factor sebesar
114.825. Daya terima yang terukur pada Optical Power Meter adalah -5.711 dBm.
3.4 Analisis Hasil Simulasi Perancangan
Berdasarkan hasil simulasi perancangan pada OptiSystem didapatkan parameter performansi BER downlink
sebesar 3.42663 x 10-15 dan untuk uplink sebesar [Link] nilai minimum BER pada optik yaitu 10-9, kedua
nilai tersebut dapat dikatakan baik dikarena sudah memenuhi nilai minimum BER. Kemudian untuk parameter
performansi Q-Factor didapatkan nilai Q-Factor untuk downlink sebesar 7.18226 dan untuk uplink sebesar
114.825. Berdasarkan nilai minum Q-Factor yaitu 6, kedua nilai tersebut dapat dikatakan baik karena sudah
berada diatas 6. Lalu nilai daya terima untuk pelanggan terjauh sebesar -19.773 dBm dapat dikatakan layak
dikarenakan sensitifitas perangkat ONT sebesar -28 dBm.
4. Kesimpulan dan Saran
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan perancangan jaringan FTTH pada Perumahan Buah Batu Square yang telah
dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Berdasarkan simulasi pada OptiSystem didapatkan nilai BER pada konfigurasi downlink sebesar 3.42663 x
10-15 dan untuk uplink sebesar [Link] dapat disimpulkan kedua nilai tersebut dapat memenuhi nilai
minimum BER yaitu 10-9.
Berdasarkan simulasi pada OptiSystem didapatkan nilai Q-Factor pada konfigurasi downlink sebesar
7.18226 dan untuk uplink sebesar 114.825. Sehingga dapat disimpulkan kedua nilai tersebut dapat
memenuhi nilai minimum Q-Factor yaitu 6.
Berdasarkan simulasi pada OptiSystem didapatkan daya terima pada konfigurasi downlink sebesar -19.773
dBm dan untuk uplink sebesar -5.711 dBm. Sehingga dapat disimpulkan kedua nilai tersebut dapat
memenuhi nilai minimum daya terima yang telah ditetapkan oleh [Link] yaitu -23 dBm.
4.2 Saran
Dalam perancangan ini tentu masih ada kekurangan atau ketidaksempurnaan yang dapat diperbaiki
kedepannya, adapun beberapa saran yang dapat dilakukan untuk kedepannya adalah sebagai berikut:
Pengumpulan data mengenai jarak di lokasi yang dilakukan pada perancangan ini masih menggunakan
google maps, diharapkan kedepannya dapat mengukur langsung ke lokasi agar mendapatkan hasil yang
lebih akurat.
Pada penelitian selanjutnya diharapkan adanya pembahasan mengenai rumus-rumus yang dapat digunakan
untuk menghitung performansi.
Daftar Pustaka:
[1] Azwar, Popy., Putra, Emansa Hari., dan Susanti, Rika. 2010. Analisis Simulasi Rancangan Jaringan Fiber
Optik Untuk Internet Kampus Politeknik Caltex Riau Menggunakan OptiSystem. [Jurnal] Politeknik Caltex
Riau, Riau.
[2] Fairdaus, Ramla., 2015. Dasar-Dasar Parameter Elektris Radio Access Network (Ran) Dalam Dunia
Telekomunikasi. [Online] Available at: [Link] [Accessed 27 November 2015].
[3] Hayes, Jim. 2006. Fiber Optics Technician. Delmar.
[4] Legawa, Tri. 2010. Penerapan Teknologi DLC (Digital Loop Carrier) pada Jaringan Lokal Akses Fiber.
[Jurnal] Universitas Diponegoro, Semarang.
[5] Nur, Abdul Rasyid. 2009. Pengantar Analisis Teknologi Access Fiber Optic untuk media Telekomunikasi.
[Online] Available at: [Link]
fiber-optic-untuk-media-telekomunikasi/ [Accessed 10 December 2015].
[6] Optiwave. 2015. FTTH (Fiber To The Home). [Online] Available at: [Link]
[Accesed 10 December 2015].