GAYA BAHASA SLOGAN IKLAN ROKOK DI TELEVISI
Mahamad Riski Adam
riskiadam484@[Link]
Jenny H. Pakasi
peningp@[Link]
Leika M V. Kalangi
leikamvk@[Link]
ABSTRACT
This research aims to have a descriptive of the types of cigarette’s slogans
by using qualitative descriptive method. The data collected in this study were
taken from the slogans which could be found in television. Furthermore the data
were analyzed by using language style theory and semantic to reveal the types of
language style and the meaning behind the slogans. After being analyzed, the data
then classified based on the types of language style and meaning found in the
slogans. The study showed that, in total there were 11 slogans that were analyzed,
which consisted of three metaphors, two hyperboles, two ellipses, two repetitions,
one alliteration and one litotes. The semantic meaning to analyzed this language
style is conceptual meaning.
Keywords : language style, slogan, cigarette’s advertisement
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan alat komunikasi yang terpenting untuk menyampaikan
pesan atau maksud antara seseorang kepada orang lain. Bahasa merupakan
kebutuhan vital manusia dalam berkomunikasi dengan manusia atau sekelompok
1
manusia lainnya. Sifat dasar manusia yang selalu saling membutuhkan satu
dengan lainnya menjadikan bahasa menjadi kebutuhan mutlak dalam berinteraksi.
Menurut Institut Praktisi Periklanan Inggris (Jefkins 1996 : 5), periklanan
merupakan pesan-pesan penjualan yang paling persuasif yang diarahkan kepada
calon pembeli yang paling potensial atas produk barang atau jasa tertentu dengan
biaya yang semurah-murahnya. Dilihat dari segi positifnya, periklanan merupakan
cara menjual melalui penyebaran informasi. Tentu saja tidak sembarang informasi
yang perlu dikemukakan, dan tidak semua informasi merupakan iklan.
Bahasa yang digunakan dalam iklan diharapkan dapat dimengerti oleh
konsumen dan dapat menarik perhatian mereka terhadap produk tersebut. Iklan
sengaja dibuat dengan berbagai gaya dan menarik tanpa mengurangi keakuratan
dan keunggulan dari produk tersebut. Inti dari bahasa iklan adalah unsur persuasif,
yaitu bertujuan untuk mempengaruhi orang lain untuk menggunakan produk atau
jasa yang ditawarkan. Oleh karena itu, iklan menggunakan gaya bahasa sebagai
salah satu cara untuk menarik konsumen.
Terkait dengan gaya bahasa Gorys Keraf (2014:113) mengatakan,
semakin baik gaya bahasanya; semakin baik pula penilaian orang terhadapnya;
semakin buruk gaya bahasa seseorang; semakin buruk pula penilaian diberikan
kepadanya. Dari segi bahasa maupun dari segi bentuknya, iklan dapat mengubah
citraan atau pandangan masyarakat terhadap suatu produk. Pada awalnya produk
tersebut tidak menarik bagi seseorang, tetapi setelah melihat iklan tersebut dapat
mengubah pandangan terhadap produk yang diiklankan.
Pada penelitian kali ini difokuskan perhatian pada slogan iklan rokok di
media elektronik. Alasan pemilihan produk rokok ini, dikarenakan gaya bahasa
2
yang ada pada produk ini menarik untuk diteliti. Sebelum mengambil fokus
penelitin ini telah disurvei oleh penulis sebelum melakukan penelitian lebih lanjut.
Dari hasil survei yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan
penelitian, terdapat variasi gaya bahasa dalam slogan iklan rokok. Sebagai contoh
pada slogan rokok U Mild yakni “Lebih Brasa Brasa Lebih”. Slogan iklan tersebut
terdapat contoh gaya bahasa hiperbola yang mengandung suatu pernyataan yang
berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal.
Penelitian ini tidak difokuskan pada iklan secara keseluruhan, melainkan
pada slogan untuk membatasi peneliti dalam permasalahan yang terdapat pada
penelitian. Pemilihan slogan dimaksud untuk mengetahui gaya bahasa yang
digunakan dalam iklan rokok di Indonesia beserta makna yang terkandung di
dalam. Iklan rokok dipilih penulis disebabkan oleh ketertarikan penulis terhadap
iklan serta terdapat gaya bahasa.
Ketertarikan peneliti terhadap slogan yakni slogan selalu ada ditiap iklan,
sehingga hal tersebut menjadi hal yang unik serta menarik perhatian peneliti.
Daya tarik penggunaan gaya bahasa pada setiap iklan menjadi hal yang unik di
tiap-tiap iklan, sehingga mendorong peneliti mengkaji hal tersebut lebih lanjut.
Penelitian ini nantinya akan sampai pada pemaknaan, tapi disini penulis hanya
membatasi pada makna kontekstual dari slogan tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa
masalah yaitu: (1) Apa saja gaya bahasa yang terdapat pada slogan iklan rokok
pada media elektronik? (2) Bagaimana makna yang terkandung dalam gaya
bahasa slogan iklan rokok pada media elektronik?
3
Tujuan dalam sebuah penelitian merupakan pedoman yang digunakan
untuk memecahkan masalah dan menjadi fokus kerja sehingga penelitian ini dapat
terarah dengan baik. Berdasarkan masalah penelitian tersebut, tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) mendeskripsikan gaya
bahasa yang digunakan dalam slogan iklan rokok pada media elektronik. (2)
mendeskripsikan makna yang terkandung dalam gaya bahasa iklan rokok pada
media elektronik.
Beberapa penelitian terkait yang pernah dilakukan oleh (1) Marwati
(2014:14) yang melakukan penelitian berjudul “Analisis Aspek Makna Tujuan
pada Slogan Lalu-Lintas di Kota Surakarta: Tinjauan Semantik”. Dari hasil
penelitian ini ditemukan bahwa realisasi perwujudan aspek makna tujuan pada
slogan lalulintas di Kota Surakarta adalah imperatif, deklaratif, pedagogis,
persuasif, dan naratif; (2) Fajriani (2016:24-25) melakukan penelitian dengan
judul “Analisis Makna Slogan Iklan Rokok di Kota Mataram”. Dari hasil
penelitian tersebut ditemukan bahwa slogan iklan di Kota Mataram ditemukan
seluruh slogan memiliki makna leksikal, makna gramatikal, dan makna
kontekstual. Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian tersebut dengan
objek yang berbeda dan dari media yang berbeda.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
kualitatif. Penelitian kualitatif adalah kegiatan yang berlangsung secara simultan
dengan kegiatan analisis data (Mahsun, 2005 : 257). Artinya, data-data yang telah
4
ditemukan berupa slogan pada teks-teks iklan rokok di media elektronik.
Kemudian diidentifikasi dan klarifikasi terhadap makna semantik slogan produk
makanan ringan tersebut. Setelah itu, menyimpulkan hasil pembahasan analisis
dengan tujuan untuk mengetahui makna slogan iklan rokok di media elektronik.
Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik deskriptif kualitatif.
Menurut Bagdan dan Taylor (lewat Moleong, 2002 : 31) penelitian kualitatif
adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yaitu dari yang berupa kata-
kata tertulis / lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap slogan slogan iklan
rokok di media elektronik, ditemukan sebanyak 11 data slogan yang mengandung
gaya bahasa. Hasil analisis tersebut terdiri dari 3 gaya bahasa metafora, 2 gaya
bahasa hiperbola, 2 gaya bahasa ellipsis, 2 gaya bahasa repetisi, 1 gaya bahasa
aliterasi, 1 gaya bahasa litotes. Jenis gaya bahasa yang terdapat dalam slogan iklan
rokok bermacam-macam sesuai dengan teori yang telah dikemukaan oleh Keraf.
Tabel Gya Bahasa Slogan Iklan Rokok
Gaya Bahasa Produk Slogan Makna Kontekstual
Metafora U Mild Ini baru cowo Slogan tersebut memiliki makna
U’Mild gramatikal “apabila sudah menghisap
U’Mild akan dianggap sebagai seorang
laki-laki dewasa”
5
Djarum Super My Life My Slogan tersebut memiliki makna
Adventure “menghisap Djarum Super merupakan
suatu kebutuhan hidup”
Gudang Garam Buktikan Merahmu “kata merah pada slogan memiliki
Merah makna sebuah api rokok, maka makna
keselurhan jika kau perokok gudang
garam merah maka nyalakan rokok mu”
Hiperbola Clas Mild Talk Less Do More Pada slogan ini memiliki makna
“penghisap rokok Clas Mild merupakan
seseorang yang sedikit bicara tapi
banyak berbuat”
U Mild Lebih Brasa Brasa Pada Slogan ini memiliki makna
Lebih “penghisap rokok U’Mild akan
merasakan kenikamatan yang lebih dari
setiap hisapan rokok tersebut”
Elipsis Gudang Garam Pria Punya Selera Pada slogan ini memiliki makna
International “Seorang pria dewasa pasti memiliki
selera untuk menghisap rokok Gudang
Garam International”
A Mild Go Ahead Pada slogan ini memiliki makna “Rokok
A Mild mengarahkan kita untuk selalu
melangah kedepan”
Repetisi Sampoerna Hijau Gak Ada Loe Gak Pada slogan ini memiliki makna “ketika
Rame kita kumpu-kumpul atau nongkrong
6
dengan teman-teman jika tidak ada
Sampoerna Hijau maka tidak akan
ramai”
Apache Hidup Gue Cara Pada slogan ini memiliki makna
Gue “perokok apache memiliki cara dan gaya
hidup sendiri tanpa ada aturan dari orang
lain”
Aliterasi Surya Pro Mild Main Bareng Bukan Pada slogan ini memiliki makna
Jaim Bareng “merokoklah bareng Surya Pro Mild
bukan dengan rokok yang lain”
Litotes Djarum 76 Yang Penting Hepii Pada slogan ini memiliki makna
“perokok Djarum 76 tidak
mementingkan hal lain saat menghisap
rokok, tapi yang dipentingkan sebuah
kesenangan karena sudah menghisap
rokok Djarum 76”
Pembahasan
Pada penelitian ini telah mengunakan teori dari Gorys Keraf untuk
menganilis gaya bahasa dari hasil data yang di temukan dan makna kontekstual
menggunakan beberapa teori yang sudah ada.
7
Gaya Bahasa
1. Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal
secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Seperti: bunga bangsa,
buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya.
Metafora sebagai pembanding langsung tidak mempergunakan kata
seperti: seperti, bak, bagai, bagaikan, dan sebagainya, sehingga pokok
pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua.
2. Hiperbola
Hiperbola merupakan gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang
berlebihan dengan membesar-besarkan suatu hal. Contoh :
Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hamper-hampir meledak aku. Jika
kau terlambat sedikit saja, pasti kau tidak akan diterima lagi. Prajurit itu
masih berjuang dan sama sekali tidak tahu bahwa ia sudah mati.
3. Elipsis
Elipsis adalah susatu gaya bahasa yang berwujud menghilangkan
suatu unsure kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri
oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatya
memenuhi pola yang berlaku.
4. Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat
yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang
sesuai. Dalam bagian ini, hanya akan dibicarakan yang berbentuk kata atau
8
frasa atau klausa. Karena nilainya dianggap tinggi maka dalam oratori
timbullah bermacam-macam repetisi.
5. Asonansi
Asonansi adalam semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan
konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang
dalam prosa, untuk perhiasan atau penekanan.
6. Litotes
Litotes merupakan gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan
sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal yang dinyatakan kurang
dari keadaan sebenarnya. Atau suatu pikiran dinyatakan dengan menyakngkal
lawan katanya.
Makna Kontekstual
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kontekstual mengacu
pada konteks, yaitu (1) bagian suatu uraian atau kalimat yang mendukung atau
menambah kejelasan makna, (2) situasi yang ada hubungannya dengan suatu
kejadian. Sebuah wacana akan sulit dipahami maknanya, jika kita sendiri tidak
memahami konteks keberlangsungan ujaran-ujaran. Untuk memahami sebuah
ujaran, harus diperhatikan konteks situasi. Berdasarkan analisis konteks situasi itu,
kita dapat memecahkan aspek-aspek non linguistik dapat dikorelasikan.
Konteks menurut Leech (1983:13) adalah latar belakang pemahaman yang
dimiliki oleh penutur maupun lawan tutur sehingga lawan tutur dapat membuat
interpretasi mengenai apa yang dimaksud oleh penutur pada waktu membuat
tuturan [Link] dengan pernyataan tersebut, istilah konteks menurut Mey
(1993: 38) adalah situasi lingkungan dalam arti luas yang memungkinkan peserta
9
pertuturan untuk dapat berinteraksi dan yang membuat ujaran mereka dapat
dipahami (Nadar, 2009:4).Arti atau makna dari sebuah kalimat dapat ditentukan
setelah memahami [Link] konteks berubah, maka makna ujaran juga dapat
berubah.
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada pembahasan
sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan, pada iklan slogan rokok yang ditemukan di
media TV memiliki 7 (tujuh) gaya bahasa yaitu metafora, hiperbola, elipsis,
repetisi, aliterasi, litotes. Setelah diklasifikasikan setiap aya bahasa dari slogan
tersebut maka terdapat makna kontekstual dari setia slogan dari iklan rokok
tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka perlu dikemukakan beberapa saran
yaitu sebagai berikut:
- Penulis menyarankan kepada pembaca agar mengetahui tentang
perkembangan ilmu bahasa, khususnya pada gaya bahasa dan makna
semantik agar dapat bermanfaat dalam pengajaran bahasa dan sastra
Indonesia ke depannya.
- Penulis menyarankan kepada pembaca untuk lebih memahami bahwa
bahasa pada slogan selalu memiliki gambaran tentang makna kontekstual
dalam iklan rokok di Televisi.
10
DAFTAR PUSTAKA
Fajriani. 2016. Analisis Makna Slogan Iklan Rokok di Kota Mataram. Skripsi
Jefkins, Frank. 1996. Periklanan, Edisi 3. Jakarta: Erlangga
Keraf, Gorys. 1980. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Leech, Geofrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia
Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Marwati. 2014. Analisis Aspek Makna Tujuan pada Slogan Lalu-Lintas di Kota
Surakarta: Tinjauan [Link]
Moleong, Lexy. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. remaja
Rosdakarya.
Nadar, F.X. [Link] dan Penelitian [Link]: Graha Ilmu
11