Kebutuhan Aktivitas dan Latihan Keperawatan
Kebutuhan Aktivitas dan Latihan Keperawatan
Di Susun Oleh :
ERNY NURY NAINGGOLAN
NIM P2002159
A. Latar Belakang
Manusia dapat bergerak dengan cara berpindah tempat sesuai dengan keinginannya. Gerak
bebas tersebut terjadi sebagai hasil kerjasama antara dua sistem organ yaitu rangka dan otot.
Rangka tersususn atas tulang-tulang yang dapat bergerak karena adanya pergerakan otot. Oleh
karena itu, rangka tidak mempunyai kemampuan untuk menggerakkan dirinya dan disebut
alat gerak pasif. Otot mempunyai kemampuan untuk berkontraksi atau memendek dan
berelaksasi atau mundur. Jika otot memendek akan dihasilkan tenaga dan terjadilah gerakan
organ-organ yang dilekati ataupun organ sekitarnya ke arah tertentu. Bila otot mengendur
maka organ-organ akan bergerak ke arah yang berlawanan. Berdasarkan ini maka otot disebut
alat gerak aktif.
Postur tubuh merupakan susunan geometris dari bagian-bagian tubuh satu dengan bagian
tubuh lainnya yang terdiri dari persendian, tendon, ligamen dan otot. Apabila keempat bagian
tubuh itu digunakan dengan benar dan terjadi keseimbangan maka dapat menjadikan fungsi
tubuh maksimal seperti dalam posisi berdiri, duduk, berjalan dan berbaring yang benar.
Gangguan mobilitas fisik merupakan keterbatasan dalam melakukan gerakan fisik dari satu
atau lebih ekstremitas secara mandiri. Gangguan mobilitas fisik dapat terjadi pada beberapa
jenis pasien, misal pasien stroke, fraktur maupun lansia. Mobilitas merupakan kebutuhan
dasar manusia yang diperlukan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang berupa
pergerakan sendi, sikap, gaya berjalan, latihan maupun kemampuan aktivitas lainnya (De
Laune dan Ladner, 2011).
B. Tujuan Umum
Diketahuinya tingkat kebutuhan aktivitas dan latihan individu secara komprehensif.
C. Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
aktivitas dan latihan.
2. Merumuskan diagnosis keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
aktivitas dan latihan.
3. Membuat dan menyusun rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan.
4. Melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
aktivitas dan latihan.
5. Melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
aktivitas dan latihan.
BAB II
TINJAUAN TEORI
B. Klasifikasi
Menurut Mubarak (2015) secara umum ada beberapa macam keadaan imobilitas antara
lain:
1. Imobilitas fisik : kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan fisik yang disebabkan
oleh faktor lingkungan maupun kondisi orang tersebut.
2. Imobilitas intelektual : kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya pada kasus kerusakan otak.
3. Imobilitas emosional : kondisi ini bisa terjadi akibat proses pembedahan atau kehilangan
seseorang yang dicintai.
4. Imobilitas sosial : kondisi ini bisa menyebabkan perubahan interaksi sosial yang sering
terjadi akibat penyakit.
Rentang gerak dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
1. Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot
dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat
mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.
2. Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan
otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya.
3. Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang
diperlukan.
Untuk mengetahui seberapa derajat kekuatan otot dapat digunakan dengan skala sebagai
berikut :
Skal Kekuatan Otot Keterangan
a
0 0 Paralisis sempurna
1 10 Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat dipalpasi atau dilihat
2 25 Gerakan otor penuh melawan gravitasi dengan topangan
3 50 Gerakan yang normal melawan gravitasi
4 75 Gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan melawan
tahanan minimal
5 100 Kekuatan otot normal, gerakan penuh yang normal melawan
gravitasi dan melawan tahanan penuh
C. Etiologi
Menurut Hidayat (2012), penyebab gangguan aktivitas adalah sebagai berikut :
1. Kelainan postur
2. Gangguan perkembangan otot
3. Kerusakan sistem saraf pusat
4. Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal dan neuromuskular
5. Kekakuan atau kelemahan otot
D. Patofisiologi
Neuromuskular berupa sistem otot, skeletal, sendi, ligamen, tendon, kartilago, dan saraf
sangat mempengaruhi mobilisasi. Gerakan tulang diatur otot skeletal karena adanya
kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagi sistem pengungkit. Tipe
kontraksi otot ada dua, yaitu isotonik dan isometrik. Peningkatan tekanan otot menyebabkan
otot memendek pada kontraksi isotonik. Selanjutnya, pada kontraksi isometrik menyebabkan
peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak terjadi pemendekan atau gerakan aktif
dari otot, misalnya menganjurkan pasien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter
merupakan gerakan kombinasi antara kontraksi isotonik dan kontraksi isometrik. Perawat
harus memperhatikan adanya peningkatan energi, seperti peningkatan kecepatan pernapasan,
fluktuasi irama jantung, dan tekanan darah yang dikarenakan pada latihan isometrik
pemakaian energi meningkat. Hal ini menjadi kontraindikasi pada pasien yang memiliki
penyakit seperti infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik. Kepribadian dan suasana
hati seseorang digambarkan melalui postur dan gerakan otot yang tergantung pada ukuran
skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan kelompok otot
tergantung tonus otot dan aktivitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang
melawan gravitasi. Tonus otot sendiri merupakan suatu keadaan tegangan otot yang
seimbang. Kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot dapat mempertahankan
ketegangan. Immobilisasi menyebabkan aktivitas dan tonus otot menjadi berkurang. Rangka
pendukung tubuh yang terdiri dari empat tipe tulang, seperti panjang, pendek, pipih, dan
irreguler disebut skeletal. Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital,
membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah merah
(Potter dan Perry, 2012).
Pengaruh imobilisasi yang cukup lama akan terjadi respon fisiologis pada sistem otot
rangka. Respon fisiologis tersebut berupa gangguan mobilisasi permanen yang menjadikan
keterbatasan mobilisasi. Keterbatasan mobilisasi akan mempengaruhi daya tahan otot sebagai
akibat dari penurunan masa otot, atrofi dan stabilitas. Pengaruh otot akibat pemecahan protein
akan mengalami kehilangan masa tubuh yang terbentuk oleh sebagian otot. Oleh karena itu,
penurunan masa otot tidak mampu mempertahankan aktivitas tanpa peningkatan kelelahan.
Selain itu, juga terjadi gangguan pada metabolisme kalsium dan mobilisasi sendi. Jika kondisi
otot tidak dipergunakan atau karena pembebanan yang kurang, maka akan terjadi atrofi otot.
Otot yang tidak mendapatkan pembebanan akan meningkatkan produksi Cu, Zn. Superoksida
Dismutase yang menyebabkan kerusakan, ditambah lagi dengan menurunya catalase,
glutathioneperoksidase, dan mungkin Mn, superoksida dismutase, yaitu sistem yang akan
memetabolisme kelebihan ROS. ROS menyebabkan peningkatan kerusakan protein,
menurunnya ekspresi myosin, dan peningkatan espresi komponen jalur ubiquitine proteolitik
proteosome. Jika otot tidak digunakan selama beberapa hari atau minggu, maka kecepatan
penghancuran protein kontraktil otot (aktin dan myosin) lebih tinggi dibandingkan
pembentukkannya, sehingga terjadi penurunan protein kontraktil otot dan terjadi atrofi otot.
Terjadinya atrofi otot dikarenakan serabut-serabut otot tidak berkontraksi dalam waktu yang
cukup lama sehingga perlahan akan mengecil dimana terjadi perubahan antara serabut otot
dan jaringan fibrosa. Tahapan terjadinya atrofi otot dimulai dengan berkurangnya tonus otot.
Hal ini myostatin menyebabkan atrofi otot melalui penghambatan pada proses translasi
protein sehingga menurunkan kecepatan sintesis protein. NF-κB menginduksi atrofi dengan
aktivasi transkripsi dan ubiquinasi protein. Jika otot tidak digunakan menyebabkan
peningkatan aktivitas transkripsi dari NF-κB. Reactive Oxygen Species (ROS) pada otot yang
mengalami atrofi. Atrofi pada otot ditandai dengan berkurangnya protein pada sel otot,
diameter serabut, produksi kekuatan, dan ketahanan terhadap kelelahan. Jika suplai saraf pada
otot tidak ada, sinyal untuk kontraksi menghilang selama 2 bulan atau lebih, akan terjadi
perubahan degeneratif pada otot yang disebut dengan atrofi degeneratif. Pada akhir tahap
atrofi degeneratif terjadi penghancuran serabut otot dan digantikan oleh jaringan fibrosa dan
lemak. Bagian serabut otot yang tersisa adalah membran sel dan nukleus tanpa disertai dengan
protein kontraktil. Kemampuan untuk meregenerasi myofibril akan menurun. Jaringan fibrosa
yang terjadi akibat atrofi degeneratif juga memiliki kecenderungan untuk memendek yang
disebut dengan kontraktur (Kandarian (dalam Rohman, 2019)).
E. Manifestasi klinis
Adapun tanda dan gejala pada gangguan mobilitas fisik menurut Tim Pokja SDKI DPP
PPNI (2017) yaitu :
1. Tanda dan gejala mayor
Tanda dan gejala mayor subjektif dari gangguan mobilitas fisik, yaitu mengeluh sulit
menggerakkan ekstremitas. Kemudian, untuk tanda dan gejala mayor objektifnya, yaitu
kekuatan otot menurun, dan rentang gerak menurun.
2. Tanda dan gejala minor
Tanda dan gejala minor subjektif dari gangguan mobilitas fisik, yaitu nyeri saat bergerak,
enggan melakukan pergerakan, dan merasa cemas saat bergerak. Kemudian, untuk tanda
dan gejala minor objektifnya, yaitu sendi kaku, gerakan tidak terkoordinasi, gerakan
terbatas, dan fisik lemah.
NANDA-I (2018) berpendapat bahwa tanda dan gejala dari gangguan mobilitas fisik,
antara lain gangguan sikap berjalan, penurunan keterampilan motorik halus, penurunan
keterampilan motorik kasar, penurunan rentang gerak, waktu reaksi memanjang, kesulitan
membolak-balik posisi, ketidaknyamanan, melakukan aktivitas lain sebagai pengganti
pergerakan, dispnea setelah beraktivitas, tremor akibat bergerak, instabilitas postur, gerakan
lambat, gerakan spastik, serta gerakan tidak terkoordinasi.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. CT scan kepala
Pemeriksaan ini untuk mengetahui area infark, edema, hematoma, struktur, dan
sistem ventrikel otak (Anania, Pamela [Link], 2011).
2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Pemeriksaan ini untuk menunjukkan daerah mana yang mengalami infark,
hemoragik, dan malformasi arteriovena (Anania, Pamela C [Link], 2011).
3. Pemeriksaan laboratorium
Pasien stroke yang melakukan pemeriksaan laboratorium yang akan diperiksa,
meliputi kadar glukosa darah, elektrolit, analisa gas darah, hematologi lengkap, kadar
ureum, kreatinin, enzim jantung, prothrombin time (PT) dan activated partial
thromboplastin time (aPTT) (Rahajuningsih, 2009).
B. STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
1 Pengertian Tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakkan persendian
secara normal dan lengkap, meliputi kegiatan sendi secara rutin
dan efektif
2 Tujuan tindakan 1. Untuk memelihara fungsi dan mencegah kemunduran
2. Untuk memelihara dan meningkatkan pergerakan sendi
3. Untuk merangsang sirkulasi darah
4. Untuk mencegah kelainan bentuk (deformitas)
5. Untuk memelihara dan meningkatkan kekuatan otot.
3 Prinsip tindakan Bersih karena bukan tindakan invasif
4 Indikasi 1. Stroke atau penurunan tingkat kesadaran
2. Kelemahan otot
3. Fase rehabilitas fisik
4. Klien dengan tirah baring lama
5 Kontra indikasi 1. Tidak boleh diberikan apabila gerakan dapat
mengganggu proses penyembuhan cedera
2. Tidak boleh dilakukan bila respon pasien atau
kondisinya membahayakan (life threatening)
3. Tidak boleh pada klien dengan fase imobilisasi karena
kasus penyakit (jantung)
4. Tidak boleh pada kasus kelainan sendi atau tulang
5. Tidak boleh pada klien dengan gangguan pembuluh
darah seperti thrombus/emboli.
6 Alat 1. Goniometer
2. Handscoen
3. Masker
4. Minyak penghangat (bila perlu)
7 Pra Interakasi 1. Mengkaji program terapi yang telah diberikan
2. Melihat intervensi keperawatan
Pergelangan Kaki
- Plantar fleksi (Dorso fleksi ROM pasif)
1. kemudian angkat sedikit kaki dan gerakkan / tekan
ke arah bawah jari-jari kaki kemudian kembali ke
posisi semula dan lanjutkan dengan menggerakkan
jari -jari kaki ke arah tubuh pasien atau kebalikan
dari gerakan sebelumnya
2. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan)
Jari kaki
- Fleksi dan ekstensi (ROM pasif)
1. Posisikan pasien terlentang dengan jari menghadap
ke atas
2. Tangan kiri perawat memegang pergelangan kaki
pasien dan tangan kanan memegang jari kaki yang
menghadap ke atas
3. Rapatkan / luruskan jari kaki arahkan / tekuk ke
depan kemudian kencangkan kembali ke arah
tubuh pasien
- Abduksi (ROM pasif)
1. Regangkan jari-jari kaki dengan bantuan jari tangan
perawat berada di sela-sela jari kaki pasien ke
bawah
- Adduksi (ROM pasif)
1. Merapatkan kembali jari-jari secara bersama-sama
- Inversi (ROM Aktif)
1. Pasien dalam keadaan posisi berdiri atau duduk
2. Lakukan dengan gerakan memutar telapak kaki ke
samping dalam (medial)
- Eversi (ROM Aktif)
1. Lakukan dengan gerakan memutar telapak kaki ke
samping luar (lateral)
10 Terminasi 1. Beritahukan pasien tindakan telah selesai dilakukan
dan rapikan alat dan rapikan kembali pasien.
2. Cuci tangan setelah kontak dengan pasien
3. Tanyakan kembali perasaan pasien setelah dilakukan
tindakan
4. Memberikan reward kepada pasien karena telah
bekerja sama dalam tindakan yang diberikan
5. Kontrak waktu kembali untuk latihan ROM
selanjutnya
6. Evaluasi tindakan bila ada rasa nyeri dan lemas
setelah tindakan ROM untuk segera lapor pada
perawat
7. Berpamitan dengan klien
8. Mencuci tangan setelah kontak dengan lingkungan
pasien
11 Referensi 1. Dougherty L, Bravery K, Gabriel J, Kayley J, Malster
M, Scales K et al. (2010). Standards for infusion
therapy (third edition). Royal College of Nursing
2. Hawks, B. &. (2014). Keperawatan Medikal Bedah.
Edisi 8 Buku 2. Singapura: Elsevier.
3. Mubarak, W. I., Indrawati, L., & Susanto, J. (2015).
Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar Buku 2. Jakarta:
Salemba Medika
4. Perry, P. &. (2010). Fundamental of nursing;concept,
process ang practice edisi 7, Buku 2. Canada: Mosby.
C. ANALISA ROM (Range of motion)
KETERAMPILAN
1 Bahaya yang mungkin - Dislokasi
terjadi dan cara - Cara pencegahan : selalu mengobservasi respon pasien
pencegahan selama dalam proses tindakan ROM
2 Identifikasi tindakan - Selalu melakukan observasi setelah tindakan ROM
keperawatan lainnya - Lakukan tindakan ROM dengan hati-hati dan sesuai
untuk mengatasi dengan toleransi pasien
masalah tersebut
3 Identifikasi masalah - Risiko terjadi cedera
keperawatan lain yang Karena tindakan ROM ini dilakukan dengan
mungkin muncul menggerakkan otot dan sendi sehingga harus dilakukan
dengan benar dan hati-hati
4 Evaluasi diri Pada pelaksanaan tindakan ROM tidak sesuai dengan SPO
karena tidak tersedianya alat goniometer yang digunakan untuk
mengukur seberapa luas gerak sendi pasien.
5 Rencana tindak lanjut - Melibatkan keluarga untuk terlibat langsung dalam
proses rehabilitasi pasien sesuai dengan toleransi fisik
pasien.
- Melibatkan keluarga untuk memfasilitasi lingkungan
klien aman dan nyaman (meletakkan barang-barang
pada jangkauan pasien)
6 Referensi Mubarak, W. I., Indrawati, L., & Susanto, J. (2015). Buku Ajar
Ilmu Keperawatan Dasar Buku 2. Jakarta: Salemba Medika
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami gangguan
mobilitas fisik dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang mencakup
pengkajian sampai evaluasi, penulis menarik kesimpulan :
1. Diagnosa keperawatan utama yang dapat ditegakkan yaitu : gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.
2. Intervensi keperawatan berfokus pada dukungan ambulasi dan teknik latihan penguatan
sendi.
3. Implementasi keperawatan yang dilakukan penulis adalah sesuai dengan intervensi
yang sudah direncanakan berdasarkan teori, tetapi tidak semua dapat dilaksanakan.
4. Evaluasi keperawatan ditemukan rentang gerak meningkat dan kelemahan fisik
menurun.
B. Saran
1. Bagi Rumah Sakit
Pemberian tindakan ROM sangat efektif bagi pasien yang mengalami gangguan
mobilitas fisik maka disarankan agar pemberian tindakan ROM dapat menjadi salah
satu intervensi mandiri keperawatan yang dapat dilakukan perawat untuk mencegah
gangguan mobilitas fisik dan menjadi salah satu SOP dalam perawatan pasien dengan
gangguan pemenuhan aktivitas dan latihan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil pengumpulan data ini diharapkan dapat menjadi referensi dan menambah
wawasan dan pengetahuan peserta didik yang lebih luas tentang pemberian tindakan
ROM pada pasien dengan gangguan mobilitas fisik.
3. Bagi Penulis
Pemberian tindakan ROM yang efektif dapat menjadi salah satu intervensi mandiri
keperawatan yang dapat dilakukan penulis untuk memenuhi kebutuhan aktivitas dan
latihan pasien.
4. Bagi Pasien
Dari hasil pengumpulan data ini diharapkan dapat menjadi suatu tindakan mandiri yang
dapat digunakan untuk mencegah ambulasi dan rentang gerak menurun akibat proses
penyakit.
Daftar Pustaka