0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan24 halaman

Kebutuhan Aktivitas dan Latihan Keperawatan

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan keperawatan dasar profesi mengenai pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan. Terdapat penjelasan mengenai latar belakang, tujuan umum dan khusus, tinjauan teori yang mencakup definisi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi gangguan aktivitas dan latihan.

Diunggah oleh

Muhammad Ruadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan24 halaman

Kebutuhan Aktivitas dan Latihan Keperawatan

Dokumen tersebut membahas tentang laporan pendahuluan keperawatan dasar profesi mengenai pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan. Terdapat penjelasan mengenai latar belakang, tujuan umum dan khusus, tinjauan teori yang mencakup definisi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi gangguan aktivitas dan latihan.

Diunggah oleh

Muhammad Ruadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN DASAR PROFESI


PEMENUHAN KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN

Di Susun Oleh :
ERNY NURY NAINGGOLAN
NIM P2002159

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN & SAINS WIYATA HUSADA
SAMARINDA
2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia dapat bergerak dengan cara berpindah tempat sesuai dengan keinginannya. Gerak
bebas tersebut terjadi sebagai hasil kerjasama antara dua sistem organ yaitu rangka dan otot.
Rangka tersususn atas tulang-tulang yang dapat bergerak karena adanya pergerakan otot. Oleh
karena itu, rangka tidak mempunyai kemampuan untuk menggerakkan dirinya dan disebut
alat gerak pasif. Otot mempunyai kemampuan untuk berkontraksi atau memendek dan
berelaksasi atau mundur. Jika otot memendek akan dihasilkan tenaga dan terjadilah gerakan
organ-organ yang dilekati ataupun organ sekitarnya ke arah tertentu. Bila otot mengendur
maka organ-organ akan bergerak ke arah yang berlawanan. Berdasarkan ini maka otot disebut
alat gerak aktif.
Postur tubuh merupakan susunan geometris dari bagian-bagian tubuh satu dengan bagian
tubuh lainnya yang terdiri dari persendian, tendon, ligamen dan otot. Apabila keempat bagian
tubuh itu digunakan dengan benar dan terjadi keseimbangan maka dapat menjadikan fungsi
tubuh maksimal seperti dalam posisi berdiri, duduk, berjalan dan berbaring yang benar.
Gangguan mobilitas fisik merupakan keterbatasan dalam melakukan gerakan fisik dari satu
atau lebih ekstremitas secara mandiri. Gangguan mobilitas fisik dapat terjadi pada beberapa
jenis pasien, misal pasien stroke, fraktur maupun lansia. Mobilitas merupakan kebutuhan
dasar manusia yang diperlukan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang berupa
pergerakan sendi, sikap, gaya berjalan, latihan maupun kemampuan aktivitas lainnya (De
Laune dan Ladner, 2011).

B. Tujuan Umum
Diketahuinya tingkat kebutuhan aktivitas dan latihan individu secara komprehensif.

C. Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
aktivitas dan latihan.
2. Merumuskan diagnosis keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
aktivitas dan latihan.
3. Membuat dan menyusun rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan.
4. Melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
aktivitas dan latihan.
5. Melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
aktivitas dan latihan.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Gangguan Kebutuhan Dasar Aktivitas dan Latihan


Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak dimana manusia membutuhkannya
untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu tanda kesehatan adalah adanya
kemampuan seseorang melakukan aktivitas seperti berdiri, berjalan dan bekerja. Kemampuan
aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persarafan dan muskuloskeletal.
Latihan adalah aktivitas fisik untuk membuat kondisi tubuh meningkatkan kesehatan dan
mempertahankan kesehatan jasmani. Toleransi aktivitas adalah jenis dan jumlah latihan atau
kerja yang dapat dilakukan seseorang (Hidayat, 2012).
Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh baik satu
ataupun lebih pada ekstremitas secara mandiri dan terarah, seperti kelemahan otot dan
kerusakan fungsi ekstremitas yang disebabkan oleh suatu penyakit dan faktor yang
berhubungan dengan hambatan mobilitas fisik yaitu gangguan neuromuskuler (Hermand,
2018). Jika pada pasien stroke mengalami gangguan pada kekuatan ototnya melemah maka
akan berdampak pada saat melakukan aktivitas sehari-hari. Pada saat otot mengalami
gangguan kelemahan atau kekuatan otot maka perlu dilakukan tindakan mobilisasi kepada
pasien stroke seperti melakukan terapi ROM (Range of motion) (Ariani, 2012).

B. Klasifikasi
Menurut Mubarak (2015) secara umum ada beberapa macam keadaan imobilitas antara
lain:
1. Imobilitas fisik : kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan fisik yang disebabkan
oleh faktor lingkungan maupun kondisi orang tersebut.
2. Imobilitas intelektual : kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya pada kasus kerusakan otak.
3. Imobilitas emosional : kondisi ini bisa terjadi akibat proses pembedahan atau kehilangan
seseorang yang dicintai.
4. Imobilitas sosial : kondisi ini bisa menyebabkan perubahan interaksi sosial yang sering
terjadi akibat penyakit.
Rentang gerak dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
1. Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot
dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat
mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.
2. Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan
otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya.
3. Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang
diperlukan.

Kategori tingkat kemampuan aktivitas adalah sebagai berikut :


Tingkat Aktivitas Kategori
Tingkat 0 Mampu merawat diri sendiri secara penuh
Tingkat 1 Memerlukan penggunaan alat
Tingkat 2 Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain
Tingkat 3 Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain dan peralatan
Tingkat 4 Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi
dalam perawatan

Untuk mengetahui seberapa derajat kekuatan otot dapat digunakan dengan skala sebagai
berikut :
Skal Kekuatan Otot Keterangan
a
0 0 Paralisis sempurna
1 10 Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat dipalpasi atau dilihat
2 25 Gerakan otor penuh melawan gravitasi dengan topangan
3 50 Gerakan yang normal melawan gravitasi
4 75 Gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan melawan
tahanan minimal
5 100 Kekuatan otot normal, gerakan penuh yang normal melawan
gravitasi dan melawan tahanan penuh

C. Etiologi
Menurut Hidayat (2012), penyebab gangguan aktivitas adalah sebagai berikut :
1. Kelainan postur
2. Gangguan perkembangan otot
3. Kerusakan sistem saraf pusat
4. Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal dan neuromuskular
5. Kekakuan atau kelemahan otot

D. Patofisiologi
Neuromuskular berupa sistem otot, skeletal, sendi, ligamen, tendon, kartilago, dan saraf
sangat mempengaruhi mobilisasi. Gerakan tulang diatur otot skeletal karena adanya
kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagi sistem pengungkit. Tipe
kontraksi otot ada dua, yaitu isotonik dan isometrik. Peningkatan tekanan otot menyebabkan
otot memendek pada kontraksi isotonik. Selanjutnya, pada kontraksi isometrik menyebabkan
peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak terjadi pemendekan atau gerakan aktif
dari otot, misalnya menganjurkan pasien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter
merupakan gerakan kombinasi antara kontraksi isotonik dan kontraksi isometrik. Perawat
harus memperhatikan adanya peningkatan energi, seperti peningkatan kecepatan pernapasan,
fluktuasi irama jantung, dan tekanan darah yang dikarenakan pada latihan isometrik
pemakaian energi meningkat. Hal ini menjadi kontraindikasi pada pasien yang memiliki
penyakit seperti infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik. Kepribadian dan suasana
hati seseorang digambarkan melalui postur dan gerakan otot yang tergantung pada ukuran
skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan kelompok otot
tergantung tonus otot dan aktivitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang
melawan gravitasi. Tonus otot sendiri merupakan suatu keadaan tegangan otot yang
seimbang. Kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot dapat mempertahankan
ketegangan. Immobilisasi menyebabkan aktivitas dan tonus otot menjadi berkurang. Rangka
pendukung tubuh yang terdiri dari empat tipe tulang, seperti panjang, pendek, pipih, dan
irreguler disebut skeletal. Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital,
membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah merah
(Potter dan Perry, 2012).
Pengaruh imobilisasi yang cukup lama akan terjadi respon fisiologis pada sistem otot
rangka. Respon fisiologis tersebut berupa gangguan mobilisasi permanen yang menjadikan
keterbatasan mobilisasi. Keterbatasan mobilisasi akan mempengaruhi daya tahan otot sebagai
akibat dari penurunan masa otot, atrofi dan stabilitas. Pengaruh otot akibat pemecahan protein
akan mengalami kehilangan masa tubuh yang terbentuk oleh sebagian otot. Oleh karena itu,
penurunan masa otot tidak mampu mempertahankan aktivitas tanpa peningkatan kelelahan.
Selain itu, juga terjadi gangguan pada metabolisme kalsium dan mobilisasi sendi. Jika kondisi
otot tidak dipergunakan atau karena pembebanan yang kurang, maka akan terjadi atrofi otot.
Otot yang tidak mendapatkan pembebanan akan meningkatkan produksi Cu, Zn. Superoksida
Dismutase yang menyebabkan kerusakan, ditambah lagi dengan menurunya catalase,
glutathioneperoksidase, dan mungkin Mn, superoksida dismutase, yaitu sistem yang akan
memetabolisme kelebihan ROS. ROS menyebabkan peningkatan kerusakan protein,
menurunnya ekspresi myosin, dan peningkatan espresi komponen jalur ubiquitine proteolitik
proteosome. Jika otot tidak digunakan selama beberapa hari atau minggu, maka kecepatan
penghancuran protein kontraktil otot (aktin dan myosin) lebih tinggi dibandingkan
pembentukkannya, sehingga terjadi penurunan protein kontraktil otot dan terjadi atrofi otot.
Terjadinya atrofi otot dikarenakan serabut-serabut otot tidak berkontraksi dalam waktu yang
cukup lama sehingga perlahan akan mengecil dimana terjadi perubahan antara serabut otot
dan jaringan fibrosa. Tahapan terjadinya atrofi otot dimulai dengan berkurangnya tonus otot.
Hal ini myostatin menyebabkan atrofi otot melalui penghambatan pada proses translasi
protein sehingga menurunkan kecepatan sintesis protein. NF-κB menginduksi atrofi dengan
aktivasi transkripsi dan ubiquinasi protein. Jika otot tidak digunakan menyebabkan
peningkatan aktivitas transkripsi dari NF-κB. Reactive Oxygen Species (ROS) pada otot yang
mengalami atrofi. Atrofi pada otot ditandai dengan berkurangnya protein pada sel otot,
diameter serabut, produksi kekuatan, dan ketahanan terhadap kelelahan. Jika suplai saraf pada
otot tidak ada, sinyal untuk kontraksi menghilang selama 2 bulan atau lebih, akan terjadi
perubahan degeneratif pada otot yang disebut dengan atrofi degeneratif. Pada akhir tahap
atrofi degeneratif terjadi penghancuran serabut otot dan digantikan oleh jaringan fibrosa dan
lemak. Bagian serabut otot yang tersisa adalah membran sel dan nukleus tanpa disertai dengan
protein kontraktil. Kemampuan untuk meregenerasi myofibril akan menurun. Jaringan fibrosa
yang terjadi akibat atrofi degeneratif juga memiliki kecenderungan untuk memendek yang
disebut dengan kontraktur (Kandarian (dalam Rohman, 2019)).

E. Manifestasi klinis
Adapun tanda dan gejala pada gangguan mobilitas fisik menurut Tim Pokja SDKI DPP
PPNI (2017) yaitu :
1. Tanda dan gejala mayor
Tanda dan gejala mayor subjektif dari gangguan mobilitas fisik, yaitu mengeluh sulit
menggerakkan ekstremitas. Kemudian, untuk tanda dan gejala mayor objektifnya, yaitu
kekuatan otot menurun, dan rentang gerak menurun.
2. Tanda dan gejala minor
Tanda dan gejala minor subjektif dari gangguan mobilitas fisik, yaitu nyeri saat bergerak,
enggan melakukan pergerakan, dan merasa cemas saat bergerak. Kemudian, untuk tanda
dan gejala minor objektifnya, yaitu sendi kaku, gerakan tidak terkoordinasi, gerakan
terbatas, dan fisik lemah.
NANDA-I (2018) berpendapat bahwa tanda dan gejala dari gangguan mobilitas fisik,
antara lain gangguan sikap berjalan, penurunan keterampilan motorik halus, penurunan
keterampilan motorik kasar, penurunan rentang gerak, waktu reaksi memanjang, kesulitan
membolak-balik posisi, ketidaknyamanan, melakukan aktivitas lain sebagai pengganti
pergerakan, dispnea setelah beraktivitas, tremor akibat bergerak, instabilitas postur, gerakan
lambat, gerakan spastik, serta gerakan tidak terkoordinasi.

F. WOC (what of caution)


Penurunan massa otot

Penurunan kekuatan otot

Program pembatasan gerak

Gangguan kognitif

Gangguan mobilitas fisik

G. Pemeriksaan Penunjang
1. CT scan kepala
Pemeriksaan ini untuk mengetahui area infark, edema, hematoma, struktur, dan
sistem ventrikel otak (Anania, Pamela [Link], 2011).
2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Pemeriksaan ini untuk menunjukkan daerah mana yang mengalami infark,
hemoragik, dan malformasi arteriovena (Anania, Pamela C [Link], 2011).
3. Pemeriksaan laboratorium
Pasien stroke yang melakukan pemeriksaan laboratorium yang akan diperiksa,
meliputi kadar glukosa darah, elektrolit, analisa gas darah, hematologi lengkap, kadar
ureum, kreatinin, enzim jantung, prothrombin time (PT) dan activated partial
thromboplastin time (aPTT) (Rahajuningsih, 2009).

H. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Fokus Pengkajian
Pengkajian muskuloskeletal dapat bersifat umum atau sudah terfokus untuk masalah
yang lebih spesifik. Pengkajian dapat meliputi evaluasi status fungsional klien,
kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dan kemampuan memenuhi kebutuhan diri
secara mandiri. Pengkajian ini mengevaluasi kegiatan olahraga klien dan aktivitas rekreasi
klien yang dapat mempromosikan kesehatan muskuloskeletal klien (Black & Hawks,
2014).
Menurut Mutaqqin A. (2012) pengumpulan data meliputi :
a. Informasi biografi
Usia di atas 50 tahun memiliki risiko stroke berlipat ganda pada setiap pertambahan
usia, kemudian tempat tinggal yang dimana masyarakat yang tinggal di perkotaan
memiliki angka kejadian tertinggi, serta tingkat pendidikan yang rendah, yaitu tidak
sekolah atau hanya tamat sekolah dasar memiliki risiko yang demikian pula
(Riskesdas, 2018). Jenis kelamin laki-laki memiliki resiko lebih tinggi terkena stroke
dibandingkan perempuan terkait kebiasaan merokok, risiko terhadap hipertensi,
hiperurisemia, dan hipertrigliserida lebih tinggi pada laki-laki (Wardhana, 2011).
b. Keluhan utama
Pasien mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas, nyeri saat bergerak, enggan
melakukan pergerakan, serta merasa cemas saat bergerak (Tim Pokja SDKI DPP
PPNI, 2017).
c. Riwayat kesehatan sekarang
Obesitas, hipertensi, hiperlipidemia, kebiasaan merokok, penyalahgunaan alkohol dan
obat, serta pola hidup tidak sehat (AHA, 2015). Diabetes mellitus, apnea tidur, fibrilasi
atrium, dislipidemia dengan penyakit jantung koroner (PJK) (Price S. A & Wilson L.
M. A, 2012).
d. Riwayat kesehatan dahulu
Seseorang yang pernah mengalami serangan stroke yang dikenal dengan Transient
Ischemic Attack (TIA) juga berisiko tinggi mengalami stroke (AHA, 2015). Gangguan
jantung, penyakit ginjal, serta penyakit vaskuler periver perlu dikaji juga karena
termasuk faktor yang menyebabkan stroke (Pudiastuti, 2011).
e. Riwayat kesehatan keluarga
Faktor genetik seseorang berpengaruh karena individu yang memiliki riwayat keluarga
dengan stroke akan memiliki risiko tinggi mengalami stroke (AHA, 2015).
f. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik menurut Harsono (2011) sebaiknya dilakukan secara persistem dan
dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien.
1) Pengkajian tingkat kesadaran.
Keasadaran compos mentis dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 15-14,
kesadaran apatis dengan nilai GCS 13-12, kesadaran delirium dengan nilai GCS
11-10, kesadaran somnolen dengan nilai GCS 9-7, kesadaran sopor dengan nilai
GCS 6-5, kesadaran semi koma atau koma ringan dengan nilai GCS 4, dan yang
terakhir kesadaran koma dengan nilai GCS 3.
2) Pengkajian fungsi serebral.
Pada pengkajian hemiparase, pasien dengan stroke hemifer kanan akan didapatkan
hemiparese pada sebelah kiri tubuh sedangkan pada pasien dengan stroke hemifer
kiri akan mengalami hemiparese kanan.
3) Pengkajian saraf kranial.
Pada pengkajian saraf kranial nervus olfaktori (nervus I) akan didapatkan
gangguan hubungan visual-spasial pada pasien dengan hemiplegia kiri.
Kemudian, pada nervus asesoris (nervus XI) tidak didapatkan atrofi otot
sternokleidomartoideus dan trapezius.
4) Pengkajian sistem motorik.
Pada pengkajian inspeksi umum akan didapatkan hemiplegia yang dikarenakan
lesi pada sisi otak yang berlawanan. Tanda yang lain adalah hemiparesis.
Kemudian, fasikulasi akan didapatkan pada otot-otot ekstremitas, tonus otot
mengalami peningkatan. Kekuatan otot sendiri pada penilaian menggunakan
tingkat kekuatan otot pada sisi sakit akan didapatkan tingkat nol. Koordinasi dan
keseimbangan mengalami gangguan akibat hemiparese dan hemiplegia. Penilaian
rentang gerak sendi tertentu dilakukan setelah pemeriksaan di atas. Perawat harus
menyadari sendi yang meradang atau arthritis mungkin nyeri. Gerakkan sendi
dengan perlahan-lahan. Pada kondisi normal sendi harus bebas dari kekakuan,
ketidakstabilan, pembengkakan, atau inflamasi.
5) Pengkajian reflek.
Menurut Wilkinson, Nancy, Ehern (2011), pemeriksaan reflek terdiri atas dua,
yaitu pemeriksaan refleks profunda dimana pengetukan pada tendon, ligamentum
atau periusteum derajat reflek didapatkan respon normal. Kemudian, pemeriksaan
reflek 37 patologis pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan
menghilang.
6) Pengkajian sistem sensorik.
Pasien dapat mengalami hemihipestasi, yaitu ketidakmampuan untuk
menginterpretasikan sensasi. Kehilangan sensori karena stroke dapat berupa
kerusakan sentuhan ringan atau berat berupa kehilangan propriosepsi serta
kesulitan dalam menginterprestasikan stimuli visual, taktil, dan auditorius
(Wilkinson, Nancy, Ehern, 2011).
7) Ketergantungan aktivitas
Pengkajian activity of dailiy living (ADL) penting untuk mengetahui tingkat
ketergantungan, yaitu seberapa bantuan itu diperlukan dalam aktivitas sehari-hari.
8) Risiko jatuh
Pasien dengan gangguan neurologi seperti pingsan dan penurunan kesadaran dapat
menyebabkan pasien mendadak jatuh sehingga pasien perlu dibutuhkan
pengawasan dan observasi khusus secara terus-menerus. Golongan umur
responden lebih dari 55 tahun didapatkan hasil insiden jatuh yang tinggi (Person,
K.B. & Amdrew, F.C. 2011). Pengkajian pasien dengan risiko jatuh dapat
dilakukan dengan multifactorial assessment dalam jangka waktu pasien dirawat.
2. Diagnosa keperawatan
1) Gangguan mobilitas fisik
2) Risiko perfusi serebral tidak efektif
3) Risiko jatuh
BAB III
ANALISA KETERAMPILAN

Nama : Erny Nury Nainggolan


Ruang : Enggang lantai 1
Kelompok :I
No ITEM REVIEW
A. IDENTITAS PASIEN
1 Initial pasien Ny. N
2 Usia 62 tahun
3 Diagnosa Medis SNH
4 Pemenuhan kebutuhan Aktivitas dan Latihan
5 Diagnosa Keperawatan Gangguan mobilitas fisik
6 Tindakan yang ROM Pasif
dilakukan
7 Tanggal tindakan 6 Januari 2021
8 Waktu 11.00 WITA

B. STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
1 Pengertian Tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakkan persendian
secara normal dan lengkap, meliputi kegiatan sendi secara rutin
dan efektif
2 Tujuan tindakan 1. Untuk memelihara fungsi dan mencegah kemunduran
2. Untuk memelihara dan meningkatkan pergerakan sendi
3. Untuk merangsang sirkulasi darah
4. Untuk mencegah kelainan bentuk (deformitas)
5. Untuk memelihara dan meningkatkan kekuatan otot.
3 Prinsip tindakan Bersih karena bukan tindakan invasif
4 Indikasi 1. Stroke atau penurunan tingkat kesadaran
2. Kelemahan otot
3. Fase rehabilitas fisik
4. Klien dengan tirah baring lama
5 Kontra indikasi 1. Tidak boleh diberikan apabila gerakan dapat
mengganggu proses penyembuhan cedera
2. Tidak boleh dilakukan bila respon pasien atau
kondisinya membahayakan (life threatening)
3. Tidak boleh pada klien dengan fase imobilisasi karena
kasus penyakit (jantung)
4. Tidak boleh pada kasus kelainan sendi atau tulang
5. Tidak boleh pada klien dengan gangguan pembuluh
darah seperti thrombus/emboli.
6 Alat 1. Goniometer
2. Handscoen
3. Masker
4. Minyak penghangat (bila perlu)
7 Pra Interakasi 1. Mengkaji program terapi yang telah diberikan
2. Melihat intervensi keperawatan

8 Interaksi 1. Memberikan salam dan mengkaji kondisi pasien


2. Memperkenalkan diri
3. Menanyakan nama pasien dan mengidentifikasi identitas
dengan mencocokkan nama pasien dengan gelang
identitas.
4. Memberikan penjelasan kepada pasien tentang tujuan
dan tindakan yang akan dilakukan
5. Meminta persetujuan kepada pasien tentang tindakan
yang akan dilakukan
6. Membuat kontrak waktu
7. Menutup sampiran
8. Mencuci tangan sebelum melakukan tindakan
9. Memasang handscoen dan masker medis
9 Kerja 1. Perawat berada di sisi kanan pasien
2. Tinggikan tempat tidur sampai ketinggian kerja yang
nyaman
3. Mencuci tangan sebelum kontak dengan pasien
4. Memberitahukan pasien bahwa tindakan akan segera
dimulai
5. Posisikan pasien senyaman mungkin
KEPALA
- Fleksi dan ekstensi (ROM Pasif)
1. Perawat berdiri di sisi kanan kepala pasien
2. Satu tangan menahan kepala, satu tangan lain
menahan dagu pasien
3. Gerakan kepala menekuk ke depan dan ke
belakang
4. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
- Lateral Fleksi (ROM Pasif)
1. Gerakan dimulai dengan satu tangan diletakkan
di atas kepala, satu tangan lain di dagu pasien
2. Arahkan leher pasien ke kanan dan ke kiri secara
bergantian
3. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
- Hiperekstensi leher (ROM aktif)
1. Anjurkan pasien untuk menekuk kepala ke
belakang sejauh mungkin
2. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
- Rotasi Leher (ROM aktif)
1. Anjurkan pasien untuk memutar kepala sejauh
mungkin ke arah setiap bahu
2. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien) secara bergantian putar ke
arah kiri dan ke arah kanan
BAHU
- Fleksi dan Ekstensi (ROM Pasif)
1. Tempatkan tangan kiri perawat di bahu pasien
kemudian tangan kanan perawat di pergelangan
tangan kanan pasien
2. Angkat tangan ke atas dari sisi tubuh
3. Gerakkan tangan perlahan-lahan, lemah lembut ke
arah kepala sejauh mungkin
4. Letakkan tangan di bawah kepala dan tahan untuk
mencegah dorongan fleksi, tekuk tangan dan siku
5. Angkat kembali lengan ke atas kembali ke posisi
semula
6. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
- Abduksi dan aduksi (ROM Pasif)
1. Tempatkan tangan kiri perawat di atas siku pasien,
tangan kanan memegang tangan pasien
2. Pertahankan posisi tersebut, kemudian gerakkan
lengan sejauh mungkin dari tubuh dalam keadaan
lurus
3. Kembalikan ke posisi semula
4. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
- Hiperekstensi (ROM Pasif)
1. Miringkan pasien membelakangi perawat
2. Tangan kiri perawat memegang lengan kanan pasien
dan tangan kanan perawat memegang pergelangan
pasien kemudian gerakkan lengan sejauh mungkin
dari tubuh dalam keadaan lurus.
3. Kembalikan ke posisi semula
4. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
- Rotasi eksternal dan Internal (ROM pasif)
1. Masih dengan posisi membelakangi perawat dan
posisi tangan perawat masih sama
2. Putar lengan ke arah luar dan dalam secara
bergantian
3. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
4. Kembalikan pasien ke posisi semula/ baring.
- Sirkumduksi bahu (ROM aktif)
1. Anjurkan pasien untuk memutar lengan /
menggerakkan lengan dengan gerakan penuh
Siku
- Fleksi dan ekstensi (ROM pasif)
1. Tekuk siku pasien sehingga lengan bawah bergerak
ke depan, sendi bahu dan tangan sejajar bahu
2. Luruskan kembali siku dengan menurunkan lengan
3. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
Pergelangan Tangan (lengan bawah)
- Supinasi dan Pronasi(ROM pasif)
1. Tempatkan tangan kiri perawat pada pergelangan
lengan bawah pasien kemudian tangan kanan
perawat memegang tangan kanan pasien
2. Lakukan gerakan dengan memutar lengan bawah
dan tangan sehingga telapak tangan menghadap ke
atas
3. Lakukan gerakan memutar lengan bawah dan tangan
sehingga telapak tangan menghadap ke bawah
4. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
Pergelangan tangan
- Fleksi dan ekstensi (ROM pasif)
1. Perawat memegang telapak tangan pasien, kemudian
lakukan dengan menggerakan telapak tangan ke sisi
bagian dalam lengan bawah
2. Kemudian gerakkan jari-jari tangan dan lengan
bawah berada dalam arah yang sama
- Adduksi (ROM pasif)
1. Lakukan dengan menekuk pergelangan tangan
miring ke ibu jari
- Abduksi (ROM pasif)
1. Lakukan dengan menekuk pergelangan tangan
miring ke arah lima jari
Jari tangan
- Fleksi dan ekstensi
1. Anjurkan pasien untuk membuat genggaman
2. Kemudian meluruskan kembali jari-jari tangan
- Abduksi dan Aduksi (ROM pasif)
1. Masukkan jari-jari tangan perawat berada diantara
jari-jari tangan pasien
2. Kemudian rapatkan kembali jari tangan pasien
3. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
- Oposisi (ROM pasif)
1. Sentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada
tangan yang sama
- Sirkumduksi (ROM pasif)
1. Tangan kiri perawat memegang pergelangan tangan
pasien dengan jempol tangan kanan pasien
menghadap ke atas kemudian lakukan dengan
memutar jempol tangan secara bergantian ke arah
dalam dan ke arah luar
Panggul
- Fleksi dan ekstensi (ROM pasif)
1. Pasien dalam posisi terlentang (usahakan memakai
celana panjang (untuk privasi pasien).
2. Perawat masih berada di sisi kanan pasien
3. Tangan kiri perawat memegang area panggul dekat
lipatan paha sedangkan tangan kanan memegang
pergelangan kaki kanan
4. Angkat kaki lurus ke atas sejauh mungkin sesuai
kemampuan pasien, kemudian luruskan kaki
kembali ke posisi semula
- Abduksi dan Aduksi (ROM pasif)
1. Masih dengan posisi perawat yang sama seperti di
atas
2. Lakukan dengan menggerakkan tungkai ke samping
menjauhi tubuh
3. Kemudian menggerakkan kembali tungkai ke posisi
medial dan melebihi jika mungkin
4. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
- Sirkumduksi (ROM pasif)
1. Tangan kiri perawat berada di paha luar pasien dan
tangan kiri berada di pergelangan kaki
2. Angkat kaki ke atas
3. Lakukan dengan menggerakkan tungkai memutar ke
arah dalam dan bergantian ke arah luar
4. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
5. Posisikan kembali kaki seperti semula
- Rotasi eksternal dan Rotasi Internal (ROM pasif)
1. Tangan perawat masih seperti di atas
2. Goyangkan atau arahkan kaki dan tungkai menjauhi
tungkai lain
3. Kemudian arahkan kembali atau goyangkan kaki
dan tungkai ke arah tungkai lain
4. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
- Hiperekstensi (ROM pasif)
1. Miringkan pasien membelakangi perawat
2. Tangan kiri perawat memegang pinggul dekat
lipatan paha dan tangan kanan memegang
pergelangan kaki
3. Menggerakkan atau menarik tungkai ke belakang
tubuh pasien sejauh mungkin
4. Arahkan kembali kaki ke posisi semula
5. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan pasien)
6. Posisikan pasien terlentang kembali
Lutut
- Fleksi dan ekstensi (ROM pasif)
1. Tekuk lutut sampai ke bagian dalam tubuh sesuai
kemampuan pasien
2. Kembalikan ke posisi kaki lurus kembali

Pergelangan Kaki
- Plantar fleksi (Dorso fleksi ROM pasif)
1. kemudian angkat sedikit kaki dan gerakkan / tekan
ke arah bawah jari-jari kaki kemudian kembali ke
posisi semula dan lanjutkan dengan menggerakkan
jari -jari kaki ke arah tubuh pasien atau kebalikan
dari gerakan sebelumnya
2. Ulangi gerakan dengan hitungan 2 kali 8 (sesuai
kemampuan)

Jari kaki
- Fleksi dan ekstensi (ROM pasif)
1. Posisikan pasien terlentang dengan jari menghadap
ke atas
2. Tangan kiri perawat memegang pergelangan kaki
pasien dan tangan kanan memegang jari kaki yang
menghadap ke atas
3. Rapatkan / luruskan jari kaki arahkan / tekuk ke
depan kemudian kencangkan kembali ke arah
tubuh pasien
- Abduksi (ROM pasif)
1. Regangkan jari-jari kaki dengan bantuan jari tangan
perawat berada di sela-sela jari kaki pasien ke
bawah
- Adduksi (ROM pasif)
1. Merapatkan kembali jari-jari secara bersama-sama
- Inversi (ROM Aktif)
1. Pasien dalam keadaan posisi berdiri atau duduk
2. Lakukan dengan gerakan memutar telapak kaki ke
samping dalam (medial)
- Eversi (ROM Aktif)
1. Lakukan dengan gerakan memutar telapak kaki ke
samping luar (lateral)
10 Terminasi 1. Beritahukan pasien tindakan telah selesai dilakukan
dan rapikan alat dan rapikan kembali pasien.
2. Cuci tangan setelah kontak dengan pasien
3. Tanyakan kembali perasaan pasien setelah dilakukan
tindakan
4. Memberikan reward kepada pasien karena telah
bekerja sama dalam tindakan yang diberikan
5. Kontrak waktu kembali untuk latihan ROM
selanjutnya
6. Evaluasi tindakan bila ada rasa nyeri dan lemas
setelah tindakan ROM untuk segera lapor pada
perawat
7. Berpamitan dengan klien
8. Mencuci tangan setelah kontak dengan lingkungan
pasien
11 Referensi 1. Dougherty L, Bravery K, Gabriel J, Kayley J, Malster
M, Scales K et al. (2010). Standards for infusion
therapy (third edition). Royal College of Nursing
2. Hawks, B. &. (2014). Keperawatan Medikal Bedah.
Edisi 8 Buku 2. Singapura: Elsevier.
3. Mubarak, W. I., Indrawati, L., & Susanto, J. (2015).
Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar Buku 2. Jakarta:
Salemba Medika
4. Perry, P. &. (2010). Fundamental of nursing;concept,
process ang practice edisi 7, Buku 2. Canada: Mosby.
C. ANALISA ROM (Range of motion)
KETERAMPILAN
1 Bahaya yang mungkin - Dislokasi
terjadi dan cara - Cara pencegahan : selalu mengobservasi respon pasien
pencegahan selama dalam proses tindakan ROM
2 Identifikasi tindakan - Selalu melakukan observasi setelah tindakan ROM
keperawatan lainnya - Lakukan tindakan ROM dengan hati-hati dan sesuai
untuk mengatasi dengan toleransi pasien
masalah tersebut
3 Identifikasi masalah - Risiko terjadi cedera
keperawatan lain yang Karena tindakan ROM ini dilakukan dengan
mungkin muncul menggerakkan otot dan sendi sehingga harus dilakukan
dengan benar dan hati-hati
4 Evaluasi diri Pada pelaksanaan tindakan ROM tidak sesuai dengan SPO
karena tidak tersedianya alat goniometer yang digunakan untuk
mengukur seberapa luas gerak sendi pasien.
5 Rencana tindak lanjut - Melibatkan keluarga untuk terlibat langsung dalam
proses rehabilitasi pasien sesuai dengan toleransi fisik
pasien.
- Melibatkan keluarga untuk memfasilitasi lingkungan
klien aman dan nyaman (meletakkan barang-barang
pada jangkauan pasien)
6 Referensi Mubarak, W. I., Indrawati, L., & Susanto, J. (2015). Buku Ajar
Ilmu Keperawatan Dasar Buku 2. Jakarta: Salemba Medika
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami gangguan
mobilitas fisik dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang mencakup
pengkajian sampai evaluasi, penulis menarik kesimpulan :
1. Diagnosa keperawatan utama yang dapat ditegakkan yaitu : gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.
2. Intervensi keperawatan berfokus pada dukungan ambulasi dan teknik latihan penguatan
sendi.
3. Implementasi keperawatan yang dilakukan penulis adalah sesuai dengan intervensi
yang sudah direncanakan berdasarkan teori, tetapi tidak semua dapat dilaksanakan.
4. Evaluasi keperawatan ditemukan rentang gerak meningkat dan kelemahan fisik
menurun.

B. Saran
1. Bagi Rumah Sakit
Pemberian tindakan ROM sangat efektif bagi pasien yang mengalami gangguan
mobilitas fisik maka disarankan agar pemberian tindakan ROM dapat menjadi salah
satu intervensi mandiri keperawatan yang dapat dilakukan perawat untuk mencegah
gangguan mobilitas fisik dan menjadi salah satu SOP dalam perawatan pasien dengan
gangguan pemenuhan aktivitas dan latihan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil pengumpulan data ini diharapkan dapat menjadi referensi dan menambah
wawasan dan pengetahuan peserta didik yang lebih luas tentang pemberian tindakan
ROM pada pasien dengan gangguan mobilitas fisik.
3. Bagi Penulis
Pemberian tindakan ROM yang efektif dapat menjadi salah satu intervensi mandiri
keperawatan yang dapat dilakukan penulis untuk memenuhi kebutuhan aktivitas dan
latihan pasien.
4. Bagi Pasien
Dari hasil pengumpulan data ini diharapkan dapat menjadi suatu tindakan mandiri yang
dapat digunakan untuk mencegah ambulasi dan rentang gerak menurun akibat proses
penyakit.
Daftar Pustaka

Dougherty L, Bravery K, Gabriel J, Kayley J, Malster M, Scales K et al. (2010). Standards


for infusion therapy (third edition). Royal College of Nursing.
Hawks, B. &. (2014). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 Buku 2. Singapura : Elsevier.
Hidayat, A. Aziz Alimul. (2012). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Salemba Medika.
Mubarak, W. I., Indrawati, L., & Susanto, J. (2015). Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar
Buku 2. Jakarta : Salemba Medika.
Perry, P. &. (2010). Fundamental of nursing;concept, process ang practice edisi 7, Buku 2.
Canada : Mosby.

Anda mungkin juga menyukai