0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan8 halaman

Teknik Sampling: Probability vs Non-Probability

Teknik pengambilan sampel probabilitas meliputi simple random sampling, stratified random sampling, systematic random sampling, dan cluster random sampling. Simple random sampling memilih sampel secara acak tanpa memperhatikan strata. Stratified random sampling memecah populasi ke dalam strata sebelum memilih sampel secara acak. Systematic random sampling mirip simple random sampling tetapi memilih sampel dengan interval tetap. Cluster random sampling memilih kelompok/klaster terlebih dahulu sebelum memilih sampel dari klaster.

Diunggah oleh

Asmaul Husna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan8 halaman

Teknik Sampling: Probability vs Non-Probability

Teknik pengambilan sampel probabilitas meliputi simple random sampling, stratified random sampling, systematic random sampling, dan cluster random sampling. Simple random sampling memilih sampel secara acak tanpa memperhatikan strata. Stratified random sampling memecah populasi ke dalam strata sebelum memilih sampel secara acak. Systematic random sampling mirip simple random sampling tetapi memilih sampel dengan interval tetap. Cluster random sampling memilih kelompok/klaster terlebih dahulu sebelum memilih sampel dari klaster.

Diunggah oleh

Asmaul Husna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

1 Probability Sampling
1.1.1 Simple Random Sampling
Simple Random Sampling adalah teknik pengambilan sampel secara acak dari anggota
populasi untuk dijadikan sampel penelitian tanpa memperhatikan strata. Teknik ini dapat
digunakan apabila populasi dianggap homogen. Homogen dalam arti bahwa anggota populasi
memiliki karakteristik yang sama.
Misalnya:
a. Siswa kelas XI SMA
b. Guru di suatu sekolah yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama dan
sebagainya.
Ada dua cara dalam teknik ini yaitu dengan cara undian dan menggunakan tabel
bilangan random.
1. Cara undian
Misalnya kita hendak memilih 4 orang dosen untuk diberikan beasiswa melanjutkan
studi S3 dari 10 orang dosen, maka kita menuliskan setiap nama dari dosen-dosen itu
di secarik kertas dan menggulungnya. Selanjutnya gulungan tersebut dimasukkan ke
dalam kotak yang telah diberi lubang. Kotak tersebut diacak lalu dikeluarkan empat
gulungan. Setiap nama yang tercantum dalam gulungan tersebut yang akan
menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S3
2. Cara Tabel Bilangan Random
Misalnya dilakukan penelitian terhadap guru di salah satu sma. Jumlah keseluruhan
guru sebanyak 500 orang. Sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi.
Apabila teknik yang digunakan dalam penentuan sampel adalah secara acak dengan
menggunakan tabel bilangan maka langkah-langkahnya adalah jumlah sampel 10%
dari populasi: 10%x500= 50.
Populasi didaftar dengan memberikan kode dari 000-499. Dengan menggunakan tabel
acak yang berisi angka-angka, peneliti menentukan random start, yaitu angka terpilih
pertama dan menggerakkan data ke arah bawah sesuai dengan angka random start. Misalnya
angka random sebagai berikut.
13962 70992 65172 28053 02190 83634 66012 70305 66761 88344
43905 46941 72300 11641 43548 30455 07686 31840 03261 89139
00504 48658 38051 59408 16508 82979 92002 63603 41078 86236
61274 57238 47267 47267 29066 02140 60867 39847 50968 96719
43753 21159 16239 16239 62509 61207 86816 29902 23395 72640
Apabila kita menentukan random startnya adalah 00504, maka kita menggerakkan dari
angka tersebut ke bawah karena jumlah populasi adalah 500 maka angka yang lebih kecil dari
500 merupakan unit sampling yang terpilih.
Jadi dari contoh tabel diatas yang terpilih sebagai unit sampel adalah yang diberikan
garis bawah. Lakukan langkah tersebut hingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 50 orang
guru.
Teknik simple random sampling dapat digambarkan sebagai berikut:

AAAAA

AAAAA AAA

AAAAA AAA

AAAAA AAA

AAAAA

Gambar 1.1 Teknik Simple Random Sampling

1.1.2 Stratified Random Sampling


Sratified random sampling adalah teknik pengembilan sampel secara random dengan
terlebih dahulu memisahkan elemen-elemen populasi dalam kelompok-kelompok yang tidak
overlopping yang disebut strata.
Dalam teknik ini, anggota populasi dipilah-pilah menjadi subsubpopulasi secara
homogen dari sifat yang heterogen.
ABCBACABCABC

BCACBABCABCA

CABACBCABCAB

AAA BBB CCC

AAA BBB CCC

AAA BBB CCC

AAA BBB CCC

AAA BBB CCC

AAA BBB CCC

AAAAAA

BBBBBB

CCCCCC

Gambar 1.2 Teknik Stratified Random Sampling

Langkah-langkah dalam menentukan sampel yang diinginkan dengan teknik ini sebagai
berikut:
1. Mengidentifikasi jumlah keseluruhan anggota populasi
2. Menentukan jumlah sampel yang diinginkan
3. Memisahkan populasi sesuai dengan karakteristik ke dalam subsubpopulasi (strata)
4. Memilih sampel secara acak dari subsubpopulasi.
Misalnya penelitian dilakukan terhadap dosen perguruan tinggi swasta di Jakarta
dengan jumlah populasi sebanyak 1200 orang, sampel yang diinginkan adalah 10% dari
jumlah populasi. Dalam populasi terdiri dari tingkat pendidikan yang berbeda, yaitu: dosen
yang berpendidikan S2 sebanyak 400 orang dan dosen berpendidikan s3 sebanyak 400 orang.
Dari 400 anggota subpopulasi (strata) tersebut dipilih secara random dari masing-masing
strata sebanyak 400 orang. jadi apabila dari masing-masing strata sampel dijumlahkan makan
kita akan mendapatkan jumlah sampel keseluruhan sebanyak 120 orang.

1.1.3 Systematic Random Sampling


Teknik ini pada dasarnya hampir sama dengan simple random sampling. Dalam teknik ini
setiap anggota diberikan nomor urut. Anggota sampel dipilih secara acak dengan
menggunakan prinsip proporsional. Proporsional ditentukan berdasarkan perhitungan
perbandingan jumlah populasi dengan jumlah sampel yang diinginkan.
Langkah-langkah dalam penentuan sampel dengan teknik ini sebagai berikut:
1. Identifikasi keseluruhan anggota populasi
2. Daftar dan berikan nomor urut setiap anggota populasi
3. Tentukan besarnya jumlah sampel yang diinginkan
4. Tentukan proporsioanl sistematis dengan menghitung perbandingan jumlah populasi
dengan jumlah sampel yang diinginkan
5. Mengacak anggota populasi
6. Tentukan nomor urut pertama secara random yang akan dijadikan sebagai nomor
awalan pada urutan populasi untuk dimulainya pemilihan sampel.
7. Dari nomor awal yang telah ditentukan tersebut, setiap k (proporsional sistematika)
langkah terpilih sebagai sampel
8. Ulangi terus menerus hingga akhirnya dapat dipilih semua anggota sampel yang
diinginkan
Contoh:
Dalam suatu penelitian terdapat jumlah populasi sebanyak 300 orang. dari 300 orang tersebut
dikehendaki 100 orang yang akan dijadikan sampel penelitian, maka langkah-langkah dalam
memilih sampel hingga tercapai jumlah sampel sesuai dengan yang diinginkan sebagai
berikut:
1. Populasi teridentifikasi sejumlah 300 orang
2. Sampel yang diinginkan sebanyak 100 orang
3. Mendaftar semua anggota populasi dan memberikan nomor urut misalnya Budi diberi
nomor 1, Iwan nomor 2, Anita nomor 3 dan seterusnya berdasarkan abjad
4. Menentukan proporsional sistematikanya yaitu = 300/100= 3
5. Menentukan nomor awal secara random. Misalnya nomor 100
6. Dari nomor awal tersebut setiap 3 langkah terpilih sampel. Misalnya 10,13,16,19 dan
seterusnya hingga didaptkan jumlah sampel yag diinginkan

1.1.4 Cluster Random Sampling


Teknik klaster digunakan apabila obyek yang diteliti sangat luas, dalam teknik ini,
pemilihan sampel tidak didasarkan pada individual tetapi didasarkan pada kelompok daerah
atau kelompok subyek yang alamiah berkumpul bersama.
Klaster atau kelompok tersebut dapat berupa wilayah, lembaga, organisasi atau satuan-satuan
lainnya. Adaapun langkah-langkah dalam teknik ini adalah sebagai berikut.
1. Identifikasi jumlah keseluruhan populasi yang hendak digunakan dalam penelitian
2. Menentuan besarnya sampel yang diinginkan
3. Menentukan dasar logika dalam menentukan klaster
4. Perkiraan jumlah rata-rata subyek yang ada pada setiap klaster
5. Daftarkan semua subyek dalam setiap klaster dengan membagi antara jumlah sampel
dengan jumlah klaster yang ada
6. Pilih jumlah sampel yang diinginkan untuk setiap klaster secara random. Teknik ini
dapat digambarkan sebagai berikut:

Tahap I Tahap II
Diambil secara random Diambil secara random

AA AB AC AD
AB AE
AE AF AG AH
AG AJ
AI AJ AK AL
AM AP
AM AN AO AP

Gambar 1.3 Teknik Cluster sampling


Contoh:
Misalnya seorang peneliti melakukan penelitian pada siswa kelas X SMA Negeri di Kota A
yang jumlah keseluruhan anggota populasi sebanyak 8000 orang yang tersebar di 10
kecamatan. Di kota A terdapat 25 SMA Negeri. Jumlah sampel yang diinginkan adalah
teknik sebanyak 4% dari jumlah populasi yaitu sebanyak 240 guru. Apabila teknik yang
digunakan adalah klaster dengan sekolah sebagai dasar penetuan logis klaster yang ada, maka
langkah dalam menentukan besarnya sampel yang diinginkan yaitu sebagai berikut:
1. Jumlah keseluruhan populasi adalah 8000
2. Jumlah sampel yang diinginkan sebanyak 5% dari populasi, yaitu 400 guru
3. Klaster dalam hal ini adalah sekolah banyak 25 yang tersebar di 10 kecamatan
4. Mengidentifikai setiap klaster untuk mengetahui apakah setiap kecamatan terdapat
2-3 SMA Negeri
5. Setiap kecamatan dipilih secara acak satu sekolah, maka diperoleh 10 SMA Negeri
di Kota A yang memiliki setiap kecamatan
6. Dari setiap sekolah yang terpilih diidentifikasi jumlah keseluruhan siswa kelas X
berdasarkan kelas. Dari setiap sekolah terdiri dari 6-10 kelas, maka diambil secara
acak satu kelas untuk setiap sekolah sehingga diperoleh sebanyak 10 kelas dengan
jumlah siswa sebanyak 40 per kelas (10x40=400 siswa)
7. Semua siswa yang ada di 10 kelas tersebut sama dengan jumlah sampel yang
diinginkan.

1.2 Non Probability Sampling


1.2.1 Accidental Sampling
Accidental sampling merupakan teknik pengambilan sampel secara kebetulan.
Dikatakan secara kebetulan karena siapa saja yang ditemuinya pada tempat, waktu dan cara
yang ditentukan dapat dipilih sebagai sampel.
Misalnya seorang mahasiswa hendak melakukan penelitian di salah satu SMA. Pada
hari senin jam istirahat pertama pada pukul 09.00 sampai dengan 09.15 ia berdiri di dekat
kantin sekolah dan menanyai setiap siswa yang kebetulan ke kantin tersebut.
Pekerjaan ini dilakukan secara berulang-ulang pada waktu dan tempat yang sama
hingga akhirnya informasi yang dicari dirasakan telah didapatkan untuk menjawab
permasalahan.

1.2.2 Purposive Sampling


Purposive sampling merupakan teknik penetuan sampel yang didasarkan pada tujuan
tertentu. Misalnya akan dilakukan penelitian tentang efektivitas diklat penyusunan silabus
dan SAP bagi dosen di Perguruan Tinggi ABC. Maka peneliti memilih peserta diklat yaitu
para dosen dalam mencari informasi sebagai data untuk menjawab permasalahan penelitian.
Para dosen tersebut dipilih karena didasarkan pada pertimbangan profesional bahwa mereka
adalah orang-orang yang terlibat secara langsung dalam interes penelitian.

1.2.3 Quota Sampling


Quota sampling merupakan teknik penentuan sampel berdasarkan masing-masing
karakteristik populasi sampai pada jumlah yang telah ditentukan. Pengambilan sampel
dilakukan secara proporsional untuk masing-masing karakteristik populasi.
Apabila sampel penelitian belum mencapai kuota yang telah ditetapkan maka penelitian
belum dianggap selesai. Ackoff dalam Prijana & Semendison (2005:79) memberikan tiga
langkah mendesain sampling kuota, yaitu sebagai berikut:
1. Mengklasifikasikan populasi berdasarkan karakteristiknya
2. Menentukan proporsi (%) untuk masing-masing kelas atau mengestimasi komposisi
populasi
3. Menentukan kuota untuk masing-masing observed.

Misalnya akan dilakukan penelitian tentang kekerasan dalam berpacaran pada remaja akhir .
jumlah sampel telah ditentukan sebanyak 200 orang dari 500 jumlah populasi yang terdiri
dari remaja laki-laki dan perempuan. Maka langkah-langkah penentuan sampel adalah
mengklasifikasi jumlah populasi untuk masing-masing jenis kelamin.
Misalnya jumah remaja akhir laki-laki sebanyak 200 orang dan perempuan 300 orang.
selanjutnya menentukan proporsi dari masing-masing jenis kelamin:

Laki-laki

Perempuan

Selanjutnya kita menentukan jumlah anggota untuk mencari data-data dari 200 orang anggota
sampel. Apabila ada 4 orang anggota observed, maka setiap anggota kita menentukan
masing-masing kuota, yaitu 50 orang anggota sampel.
Penelitian ini berhenti apabila data yang telah terkumpul sudah mencapai 200 orang anggota
sampel yang telah ditentukan.
1.2.4Snowball Sampling
Disebut sebagai teknik snowball sampling karena ibarat sekepal tangan bola salju yang
apabila digelindingkan dari atas bukit ke bawah maka semakin lama bola menggelinding
akan semakin besar. Dalam teknik ini, mula-mula sampel yang dipilih jumlahnya kecil
kemudian menjadi banyak. Misalnya mula-mula kita hanya memilih satu orang sebagai
sampel.
Dari satu orang kita memperoleh keterangan bahwa ada dua orang temannya yang
dapat digali informasinya. Kemudian dari dua orang tersebut kita mendapatkan rekomendasi
atau orang yang ditunjuk untuk kita dapatkan informasi mengenai permasalahan penelitian.
Teknik ini digambarkan sebagai berikut

Sumber:
Widyanto, M Agus. 2002. Statistika Terapan. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Anda mungkin juga menyukai