0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
292 tayangan26 halaman

Audit Substantif Utang Usaha dan Prosedur

Modul ini membahas pengujian substansi atas saldo utang, termasuk penentuan risiko deteksi, perancangan pengujian, dan prosedur awal, analitis, dan pengujian rincian saldo. Tujuannya adalah memberikan pemahaman mengenai audit siklus pengeluaran dan pengujian substantif transaksi.

Diunggah oleh

M Fharys Arfandhy F
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
292 tayangan26 halaman

Audit Substantif Utang Usaha dan Prosedur

Modul ini membahas pengujian substansi atas saldo utang, termasuk penentuan risiko deteksi, perancangan pengujian, dan prosedur awal, analitis, dan pengujian rincian saldo. Tujuannya adalah memberikan pemahaman mengenai audit siklus pengeluaran dan pengujian substantif transaksi.

Diunggah oleh

M Fharys Arfandhy F
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Moh Faris Arfandhy F

A31115520

BAB III
AUDIT SIKLUS PENGELUARAN SUBSTANTIF

A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini mahasiswa diharpakan mampu:
 Memahami pengujian substansi atas saldo utang
 Memahami penentuan risiko deteksi
 Memahami perancangan pengujian substansi
 Memahami prosedur awal
 Memahami prosedur analitis
 Memahami pengujian rincian saldo

B. RUANG LINGKUP BAHAN MODUL


Pokok bahasan modul ini terkait tentang pengujian pengujian dalam siklus
pembelian dan pembayaran, pengujian substantif transaksi. Secara lebih rinci,
modul ini akan membahas mengenai pengujian substansi atas saldo utang,
penentun risiko deteksi, pencangan pengujian substansi, prosedur awal, prosedur
analitis, pengujian rincian transaksi, pengujian rincian saldo.

C. MANFAAT MEMPELAJARI MODUL


 Dapat menjelaskan pengujian substansi atas saldo utang
 Dapat menjelaskan penentuan risiko deteksi
 Dapat menjelaskan perancangan pengujian substansi
 Dapat menjelaskan prosedur awal
 Dapat menjelaskan prosedur analitis
 Dapat menjelaskan pengujian rincian saldo

D. URUTAN PEMBAHASAN
Adapun pembahasan pada modul ini akan disusun berdasarkan urutan
berikut:
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

 Pengujian substansi atas saldo utang


 Penentuan risiko deteksi
 Perancangan pengujian substansi
 Prosedur awal
 Prosedur analitis
 Pengujian rincian saldo
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

MATERI PEMBELAJARAN

A. Pengujian Substansi atas saldo utang usaha


Utang usaha termasuk sebagai unsur utang lancer. Utang lancer meliputi
semua kewajiban yang akan dilunasi dalam periode jangka pendek (satu tahun
atau kurang dari tanggal neraca atau dalam siklus kegiatan normal perusahaan)
dengan cara mengurangi aktiva yang dikelompokkan dalam aktiva lancar atau
dengan cara menimbulkan utang lancar yang lain. Utang lancar digolongkan
menjadi lima kelompok, yaitu:

1. Utang usaha yanag timbul dari transaksi pembelian bahan baku dan overhead,
suku cadang, dan factory supplies. Utang usaha dapat digolongkan menjdai dua
golongan, yaitu:

 Utang yang tidak disertai dengan surat berharga sebagai bukti tertulis
dengan kesanggupan untuk membayar kewajiban (account payable).

 Utang yang disertai dengan surat berharga sebagai bukti tertulis tentang
kesanggupan untuk membayar kewajiban (utang wesel atau notes payable).

2. Utang jaminan masuk dari pelanggan.

3. Utang yang timbul dari berlalunya waktu(accrued payable).

4. Utang yang timbul kepada pihak ke tiga karena perusahaan yang ditunjuk
sebagai pemungut pajak atau iuran yang lain, seperti utang PPN, utang pajak
penghasilan karyawan (PPh Pasal 25), utang dana pension, utang asuransi
karyawan.

5. Accrual yang timbul dari kegiatan usaha perusahaan meskipun:

 Jumlah utang tersebut harus ditaksir seperti utang bonus


Moh Faris Arfandhy F
A31115520

 Krediturnya tidak diketahui seperti utang biaya separasi utuk produk


perusahaan yang dijual dengan garansi.

Utang usaha biasanya merupakan kewajiban lancar yang tersebar dalam


neraca dan merupakan factor yang signifikan dalam mengevaluasi solvensi jangka
pendek perusahaan. Seperti halnya dengan piutang usaha, utang usaha juga
biasanya dipengaruhi oleh volume transaksi yang tinggi dan karenanya sangat
rentan terhadap salah saji. Akan tetapi bila dibandingkan dengan audit saldo
aktiva, audit atas utang lebih ditekankan pada asersi kelengkapan daripada asersi
eksistensi ata kejadian. Alasannya adalah bahwa jika manajemen termotivasi
untuk memanipulasi utang, maka ia cenderung menetapkan utang tertalu rendah
agar dapat melaporkan posisi keuangan yang lebih menguntungkan.

Perhatian kita difokuskan pada utang usaha yang timbul dari transaksi
siklus pengeluaran. Utang lainnya, seperti upah dan pajak penggajian serta
berbagai kewajiabn tidak lancar.

Tujuan audit terhadap utang usaha adalah:

1. Memperoleh keyakinan terhadap tentang keandalan catatan akuntansi yang


bersangkutan dengan utang usaha.
2. Membuktikan keberadaan utang usaha dan keterjadian transaksi yang
berkaitan dengan utang usaha yang dicantumkan di neraca.
3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi
dan kelengkapan saldo utang usaha yang disajiakan di neraca.
4. Membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca.
5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengugkapan utang usaha di
neraca.

Kerangka tujuan pengujian substantive terhadap utang usaha dilukiskan


pada Gambar 16.1. dalam gambar tersebut terlihat bahwa tujuan utama pengujian
substantive terhadap tang usaha adalah membuktikn bahwa saldo akun Utang
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

Usaha yang dicantumkan dalam neraca mencerminkan saldo Akun Utang Usaha
yang sesungguhnya pada tanggal neraca tersebut.
Dalam pengujian substantif terhadap utang pada umunya, pengujian
ditujukan untuk menemukan kemungkinan adanya unrecorded liabilities. Untuk
membuktikan asersi aktiva dan keterjadian transaksi yang bersangkutan dengan
utang lancar, auditor melakukan berbagai pengujian substantive berikut ini:

1. Pengujian analitik
2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan utang
usaha
3. Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha
4. Konfirmasi piutang usaha
5. Rekonsiliasi utang yag tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang
diterima oleh klien dari krediturnya
6. Membuktikan asersi kelengkapan utang usaha yang dicantumkan di neraca

Seperti tersebut dalam prinsip akutansi berterima umum, utang saha harus
disajikan di neraca pada fakta pada tanggal neraca atau dengan kata lain sebesar
jumlah yng menjai kewajiban kien kepada kreditur pada tangal neraca. Tidak
seperti halnya dengan piutang usaha yang disajikan di neraca dalam jumlah bruto
dikurangi dengan taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang usaha, utang usaha
disajikan di neraca pada jumlah kewjiban klien pada tanggal neraca. Dengan
demikian tujuan pembuktian asersi penilaian tidak berlaku terhadap saldo utang
usaha pada tanggal neraca. Pembuktian asersi kelengkapan utang usaha lebih
ditujukan untuk mencari adanya unrecorder liabilities  pada tanggal tersebut.
Untuk membuktikan bahwa utag usaha yang dicantumkan di neraca mencakup
semua kewajiban klien kepada kreditur pada tanggal neraca dan mencakup semua
transaksi yang berkaitan dengan utangusaha dalam tahun yang diaudit, auditor
melakukan berbagai pengujian substantive berikut ini:

1. Pengujian analitik
2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yan berkaitan dengan utang usaha
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

3. Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan utang usaha


4. Konfirmasi utang usaha
5. Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang
diterima oleh klien dari krediturnya

Transaksi yang erkaitan dengan timbul dan berkurangnya utang usaha


mempunyai pengaruh yang langsung terhadap perhitungan saldo utang uasaha
pada tanggal neraca, sehingga ketidaktepatan dalam penepatan pisah batas
transaksi yang berangkutan dengan utang saha akan berdampak langsung terhadap
perhitungan akun Utang Usaha dan pembelian (purchases). Oleh kerena itu salah
satu pengujian substantive untuk membuktikan asersi kelengkapan utang usaha
adalah pemeriksaan terhadap ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan
dengan utang usaha.

Membuktikan asersi kewajiban klien atas utng usaha yang dicantumkan di neraca

Utang usaha yang ada pada tanggal neraca merupakan kewajiban klien
kepada reditur pada tanggal tersebut. Untuk membuktikan kewajiban klien yang
tercermin dalam utang usaha yang dicantumkan dineraca, auditor melakukan
pengujian substansif berikut ini:

1. Pemeriksaan bukti pendukung transaksiyang berkaitan dengan utang usaha


2. Konfirmai piutang usaha
3. Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke ernyataan piutang yang
diterima oleh klien dari krediturnya.
4. Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan utang usaha dineraca

Mengungkapkan unsur-unsur pelaporan keuangan harusdidasarkan pada


prinsip akuntansi berterima umum. Pengujian substantive trehadap utang uasaha
diarahkan untuk mencapai salah satu tujuan untuk membuktikan apakah unsur
utang usaha telah disajikan dan diungkapkan oleh klien di neraca adalah:

1. Konfirmasi utang usaha


Moh Faris Arfandhy F
A31115520

2. Rekonsiliasi utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang


ditrima oleh klien dari krediturnya
3. Perbandingan penyajian utang usaha di neraca dengan prinsip akuntansi
berterima umum yang diaudit dengan prinsip akuntansi berterima umum

B. Penentuan Risiko Deteksi


Utang usaha dipengaruhi baik oleh transaksi pembelian yang menambah
saldo maupun oleh transaksi pengeluaran kas yang menurunkan saldo tersebut.
Jadi, risiko pengujian rincian untuk asersi utang usaha dipengaruhi oleh risiko
inheren, risiko prosedur analitis dan faktor – faktor risiko pengendalian yang
berkaitan dengan kedua kelompok transaksi tersebut. Auditor menggunakan
metodologi untuk menggabungkan penilaian risiko pengendalian yang tepat atas
asersi kelompok transaksi guna mencapai penilaian risiko pengendalian untuk
asersi – asersi saldo akun utang usaha. Metodologi tersebut meliputi matriks risiko
audit, yang selanjutnya digunakan untuk menentukan tingkat risiko deteksi yang
dapat diterima pada tahap pengujian rincian. Penerapan proses ini untuk utang
usaha di ikhtisar pada gambar 4.1. tingkat risiko spesifik dalam matriks ini hanya
bersifat ilustratif dan akan, karenanya, bervariasi menurut situasi yag dihadapi
klien. Lebih lanjut, perhatikan bahwa tingkat risiko deteksi yang dapat diterima
yang ditampilkan pada gambar 4.1 menunjukkan perlu bukti yang lebih
meyakinkan untuk asersi kelengkapan dan penyajian serta pengungkapan daripada
untuk asersi – asersi lainnya.

C. Perancangan Pengujian Substansi


Ingat kembali bahwa tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk
setiap asersi laporan keuangan yang signifikan dicapai dengan mengumpulkan
bukti dari pangujian substantif yang dirancang secara tepat, termasuk prosedur
analitis dan pengujian rincian. Kerangka kerja umum untuk mengembangkan
program audit atas pengujian substantif, ketika membahas piutang usaha, juga
dapat dikenakan dalam merancang pengujian substantif untuk utang usaha. Daftar
pengujian substantive yang mungkin, yang dapat dimasukkan dalam program
audit yang dikembangkan atas dasar ini disajikan dalam gambar 4.2. perhatikan
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

bahwa setiap pengujian dalam gambar tersebut diarahkan pada satu atau lebih
tujuan audit atas saldo akun spesifik untuk utang usaha. Juga perhatikan juga
bahwa pengujian berganda diarahkan kesetiap tujuan audit atas saldo akun. Setiap
pengujian itu akan dijelaskan berikut ini, termasuk komentar tentang bagaimana
beberapa pengujian dapat disesuaikan berdasarkan tingkat risiko deteksi yang
berlaku yang dapat diterima dan dicapai.

D. Prosedur Audit Awal


Titik awal daris setiap pengujian audit adalah mendapatkan pemahaman
tentang bisnis dan industry klien. Pemahaman tentang signifikansi siklus
pembelian dalam perusahaan menyediakan konteks untuk pembelian risiko yang
penting. Pamahaman atas pemicu atau penggerak ekonomi perusahaan, termin
perdagangan standar, dan seberapa luas konsentrasi bisnis dengan pemasok
tertentu menyediakan konteks untuk mengevaluasi hasil prosedur analitis,
pengujian pengendalian, dan pengujian substantif.

Prosedur awal lainnya untuk pengujian substantive atas utang usaha adalah
menelusuri saldo awal kertas kerja tahun sebelumnya, dan menggunakan software
audit tergeneralisasi dalam memeriksa akun buku besar untuk melihat setiap ayat
jurnal yang tidak biasa, serta untuk mengembangkan daftar jumlah yang terutang
pada tanggal neraca. Biasanya klien mempunyai daftar file voucher yang belum
dibayar, buku pembantu utang usaha, atau file induk dalam bentu elektronik.
Auditor juga dapat menggunakan software audit tergeneralisasi untuk menentukan
ketepatan matimatis dari daftar tersebut dengan cara menjumlah ulang total dan
memverifikasi bahwa jumlahnya telah sesuai dengan saldo buku besar.

Sebelum membuktikan apakah saldo utang usaha yang dicantumkn oleh


kiln di dalam neracanya sesuai dengan utang usaha yang benar-benar ada pada
tanggal neraca, auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi utang usaha yag
dicantumkandi neraca dengan catatn antansi yang mendukungnya. Rekonsiliasi ini
perlu dilakukan agar auditor memperoleh keyakinan bahwa informasi utang usaha
yang dicantumkan di neraca didukung dengan catatn akuntansi yang dapat
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

dipercaya. Oleh karena itu, auditor melakukan enam prosedur audit berikut ini
dalam melakukan rekonsiliasi informasi utng usaha di neraca dengan catatn
akuntansi yang bersangkutan:

1. Usut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun Utang
Usaha yang bersangkutan di dalam buku besar
2. Hitung kembali saldo akun Utang Uasaha di buku besar
3. Usut saldo awal akun Utang Usaha ke kertas kerja tahun lalu
4. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber
posting dalam akun Aktiva tetap dan Akuntansi Depresiasiya
5. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun Utang Usaha ke jurnal
yang bersangkutan
6. Lakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan akun control
Utang Usaha di buku besar

Rerangka prosedur audit awal yang diterapkan dalam pengujian


substantive utang usaha adalah sama dengan yang dilikiskan dalam gambar
14.3 Prosedur Audit Awal dalam Pengujian Substantif dan Akun disajikandalam
Laporan Keungan. Berikut ini diuraikan lebih rinci prosedur audit awal dalam
pengujian substantive terhadap piutang usaha.

Usut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun Utang Usaha
yang bersangkutan di dalam buku besar

Untuk memperoleh keyakinan bahwa saldo utang usaha yang tercantum di


neraca didukung dengan catatn akuntansi yang dapat dipercaya kebenaran
mekanisme pencatatnya,maka saldo utang usaha yang di cantumkan di neraca
diusut ke akun buku besar berikut ini:

 Utang Usaha

Akun ini digunakan untuk menamung transaksi timbulnya utang dari


transaksi pembelian berbagai golongan sediaan dan pelunasannya. Jika
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

perusahaan menggunakan system bukti kas keluar (voucher system) dalam


pengendalian kasnya, akun Utang Usaha ini di sebut dengan akun Bukti Kas
Kelur yang Akan Dibayar (vocher payable).

 Utang Wesel

Utang wesel merupakan utang yang dibuktika dengan surat beharga


(berupa sertifikat wesel) yang dipegang oleh reditur sehinnga kreditur dapat
menjualnya kepada pihak lan. Utang ini timbul dari transaksi pembelian berbagai
golongan sediaan. Utang wesel dibagi menjadi dua golongan yaitu utang wesel
berbunga dan utang wesel tidak berbunga.

1. Hitung kembali saldo akun Utang Uasaha di buku besar

Untuk memperoleh keyakinan mengenai ketelitian perhitungan saldo akun


Utang Usaha, auditor menghitung kembali saldo akun Utang Usaha dan utang
Wesel dengan cara menambah saldo awal dengan jumlah pengkreditan dan
menguranginya dengan jumlah pendeebitan yiap-tiap akun tersebut.

2. Usut saldo awal akun Utang Usaha ke kertas kerja tahun lalu

Sebelum auditor melakukan pengujian terhadap transaksi rinci yang


menyangkut akun Utang Usaha , ia perlu memperoleh keyakinanatas kebenaran
saldo awal akun [Link] mecapai tujuan ini, auditor melakukan pengusutan
saldo awal akun Utang Usaha ke kertas kerja tahun lalu. Kertas kerja tahun lalu
dapat enyediakan informasi tentang berbagai koreksi yang diajukan oleh auditor
dalam audit tahun yang lalu sehingga audit dapat mengevaluasi tinak lanjut yang
telah ditempuh oeh kliendalam menanggapi koreksi yang diajukan oleh auditor.

3. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber
posting dalam akun Aktiva tetap dan Akuntansi Depresiasiya.
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

Ketidakberesan dalam transaksi pembelian, pelunasan utang usaha dapat


ditemukan melalui review atas mutasi luar biasa, baik dalam jurnal maupun dalam
posting dalam akun Utang Usaha

4. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun Utang Usaha ke jurnal


yang bersangkutan

Untuk memperoleh keyakinan bahwa mutasi penambahan dan


pengurangan utang usaha berasal dari jurnal-jurnal yang bersangkutan,
pengkreditan di alam akun Utang Usaha di usut ke jurnal pembelian dan register
bukti kas keluar dan pendebiata kea kun tersebut di usut ke jurnal pengeluaran kas
atau check register dan jurnal umum (untuk transaksi retun pembelian).

5. Lakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan akun control


Utang Usaha di buku besar

Saldo akun Kontrol Utang usaha di buku besar tersebut kemudian


dicocokkan dengan jumlah saldo akun pembantu utang usaha atau ke dalam arsip
buku kas keluar yang belum dibayar untuk memperoleh keyakinan bahwa catatn
akuntansi klien yang bersangkutan dengan utang usaha dapat dipercaya
ketelitiannya.

E. Prosedur Analititis

Pada tahap pengujian substantive trhadap utang usaha, pengujian analitik


dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam
menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif, untuk itu, auditor
melakukan perhitungan berbagai ratio beriut ini:

Ratio Formula

Tingkat perputaran utang usaha Pembelian + Rerata utang usaha


Moh Faris Arfandhy F
A31115520

Rasio utang usaha dengan utang


Saldo utang usaha+Utang lancar
lancar

Rasio yang telah dihitung tersebut kemudian dibandingkan dengan


harapan auditor, misalnya ratio tahun yang lalu, rerata ratio industry, atau ratio
yang dianggarkan. Perbandingan ini membantu auditor untuk mengungkapkan:
peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, perubahan akuntansi, perubahan usaha,
fluktuasi acak, atau salah saji.

Periksa Sampel Transaksi yang Tercatat dalam Akun Utang Usaha Ke Dokumen
yang Mendukung Timbulnya Transaksi Tersebut

Prosedur audit ini dimulai oleh auditor dari buku pembantu utang usaha.
Pengujian dilaksanakan dengan mengambil sampel berikut ini :

1. Sampel akun debitur yang akan diperiksa transaksi mutasinya.


2. Sampel transaksi yang dicatat dala akun kreditur pilihan.
3. Periksa Pengkreditan Akun Utang Usaha Ke Dokumen Pendukung : bukti
kas keluar (voucher), laporan penerimaan barang, dan surat order pembelian

Auditor mengambil sampel transaksi yang dicatat di sebelah kredit akun


kreditur yang terpilih dalam sampel, kemudian melakukan prosedur audit berikut
ini :

1. mengambil dari arsip klien bukti kas keluar beserta dokumen


pendukungnya : laporan penerimaan barang, faktur pembelian dari pemasok,
dan surat order pembelian.
2. memeriksa kelengkapan dokumen yang mendukung bukti kas keluar.
3. memeriksa kesesuaian data yang tercantum dalam bukti kaskeluar dan
dokumen pendukungnya.
4. memeriksa kebenaran data yang di posting ke dalam akun kreditur
berdasarkan bukti kas keluar.
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

5. memastikan bahwa semua bukti kas keluar dan memo debit yang disampel
telah dicatat di sebelah debit akun kreditur.
6. Lakukan Verifikasi Pisah Batas (Cutoff) Transaksi Pembelian dan Retur
Pembelian

Verifikasi pisah batas dimaksudkan untuk membuktikan apakah klien


menggunakan pisah batas yang konsisten dalam memperhitungkan transaksi
pembelian dan retur pembelian yang termasuk dalam tahun yang diaudit
dibanding dengan tahun sebelumnya. Jika klien tidak menggunakan tanggal pisah
batas yang konsisten, akibatnya adalah transaksi pembelian yang seharusnya
diakui sebagai unsure penentuan kos barang yang dijual (cost of goods sold) tahun
berikutnya, dicatat oleh klien sebagai unsure kos barang yang dijual tahun yang
diaudit. Di lain pihak, transaksi pembelian tahun yang diaudit dapat diakui oleh
klien sebagai unsure kos barang yang dijual tahun berikutnya. Dengan demikian
jika klien tidak konsisten dalam menggunakan tanggal pisah batas, perhitungan
rugi laba tahun yang diaudit akan terpengaruh langsung. Oleh karena itu, auditor
melakukan pemeriksaan terhadap transaksi pembelian dan retur pembelian, serta
transaksi pengeluaran kas untuk pembayaran utang usaha yang terjadi dalam
beberapa minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca, untuk menentukan
perlakuan yang tepat terhadap pengakuan kos barang yang dijual dan pencatatan
transaksi pengurangan utang usaha.

Periksa Dokumen yang mendukung timbulnya utang usaha dalam minggu


terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca

Untuk membuktikan bahwa klien menggunakan pisah batas yang


konsisten terhadap transaksi pembelian, auditor memeriksa bukti kas keluar san
dokumen pendukungnya yang dibuat dan dicatat oleh klien dalam periode
sebelum dan sesudah tanggal neraca. Dengan membandingkan tanggal bukti kas
keluar, faktur pembelian dari kreditur, tanggal laporan penerimaan barang, dan
syarat pembelian yang digunakan, auditor dapat membuktikan apakah transaksi
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

pembelian dan timbulnya utang yang terjadi dalam periode sebelum dan sesudah
tanggal neraca, telah dicatat dalam periode akuntansi yang seharusnya.

Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya utang usaha dalam minggu


terakhir tahun yang diaudit dan minggu prtama setelah tanggal neraca

Untuk membuktikan ketetapan pisah batas dalam transaksi berkurangnya


utang usaha karena pembayaran kas kepada kreditur, auitor memeriksa dokumen
bukti kas keluar dan kuitansi penerimaan kas dari kreditur yang dipakai sebagai
basis pencatatan ke di dalam kartu utang. Dari pemeriksaan ini, auditor dapat
membuktikan ketetapan pisah batas yang dipakai oleh klien dalam mencatat
pengurangan utang usaha dari pembayaran kas kepada kreditur.

Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi pengeluaran kas

Untuk membuktikan ketetapan pisah batas transaksi pengeluaran kas,


auditor melakukan observasi terhadap semua cek yang dibayarkan pada hari
terakhir tahun yang diaudit untuk membuktikan ketetapan pencatatan pengeluaran
kas dalam periode akuntansi yang seharusnya.

Periksa Adanya Utang Usaha yang tidak Dicatat

Sebagaimana telah diuraikan dalam karakteristik utang usaha, klien


memiliki kecenderungan untuk melakukan understatement utang usaha dengan
cara tidak mencatat kewajiban klien pada tanggal neraca. Oleh karena itu, focus
auditor dalam pengujian subtantif terhadap utang usaha adalah menemukan
adanya unrecorded transaction yang berkaitan dengan utang usaha.

Utang yang belum dicatat pada tanggal neraca dapat timbul sebagai akibat
dari berbagai keadaan berikut ini :

1. Adanya dokumen-dokumen (misalnya surat order pembelian, laporan


penerimaan barang, dan faktur pembelian dari pemasok) yang belum diproses
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

untuk pembayaran pada tanggal neraca, dan baru dibuatkan bukti kas keluar
setelah tanggal neraca.
2. Adanya barang-barang yang diterima sebelum tanggal neraca, namun
faktur dari pemasok baru dau diterima setelah tanggal neraca.
3. Klien menggunakan basis tunai (cash basis) dalam melaksanakan system
bukti khas keluarnya (voucher system)
4. adanya jasa yang telah dinikmati oleh kliensebelum tunggal neraca, namun
penjual jasa baru menagih harga jas tersebut setelah tanggal neraca
(misalnyabiaya iklan bulan Oktober sampai bulan Desember, baru ditagih oleh
perusahaan surat kabar bulan Januari tahun berikutnya).

Prodser audit ntuk menemukan adanya utang yang belum dicatat pada
tanggal neraca:

1. Periksa bukti bukti yang mendukung transkasi pengeluaran kas yang


dicatat setelah tangga neraca. Seperti telah dikemukakan di atas, pemeriksaan
dokumen yang mendukung pembayaran utang lancar setelah tanggal neraca
merupakan salah satu prosedur audit untuk membuktikan eksentensi utang
lancar pada tanggal neraca. Disamping itu, prisedur audit ini dapat pula
digunakan untuk menemukan adanya utang yang belum dicatat pada tanggal
neraca. jika perusahaan menggunakan ledgerless bookkeeping, periksa arsip
bukti kas keluaran yang telah dibayar ( paid voucher file) dan pilihlah bukti kas
keluar yang dibayar setelah tanggal neraca. periksa bukti pendukungnya
mengenai kemungkinan adanya uang yang belum dicatat pada tanggal neraca.
Sebagai contoh, dari pemeriksaan terhadap bukti kas keluar yang dibayar
setelah tanggal neraca dan laporan penerimaan barang yang melampiri bukti
kas keluar tersebut dapat diketahui bahwa barang telah diterima oleh klien
sebelum tanggal neraca, sehingga pembayaran tersebut merupakan pembayaran
utang yang ada pada tanggal neraca. karena bukti kas keluar tersebut baru
dibuat setelah tanggal neraca, maka utang tersebut seharusnya merupakan
kewajiban klien yang pada tanggal neraca belum dicatat.
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

2. periksa bukti kas keluar yang dibuat setelah tanggal neraca. Untuk
menemukan adanya utang yang belum dicatat pada tanggal neraca,auditor
dapat memeriksa bukti kas keluar yang dibuat setelah tanggal [Link]
memeriksa dokumen yang mendukung bukti kas keluar tersebut, auditor dapat
menemukan adanya unrecorded liabilitie.
3. periksa catatan sediaan barang konsinyasi masuk. Jika klien menjual
barang titipan milik perusahaan lain, pemeriksaan catatan sediaan barang
konsinyasi akan dapat menunjukkan berapa jumlah barang konsinyasi yang
telah dijual, namun oleh klien belum dikirimkan hasil penjualannya kepada
perusahaan yang menitipkan barang tersebut. Jumlah tersebut merupakan utang
klien kepada perusahaan penitip barang.
4. pelajari aturan perpajakan yang menyangkut bisnis klien. kemungkinan
klien mempunyai kewajiban pajak yang belum diakui di dalam catatan
akuntansinya pada tanggal neraca. Untuk menemukan hal itu, auditor harus
memahami peraturan perpajakan yang menimbulkan kewajiban pajak bagi
klien.
5. lakukan review terhadap anggaran modal (capital budget), perintah kerja
(work order), dan kontrak pembangunan untuk memperoleh bukti adanya utang
yang belum dicatat. Dengan me-review berbagai dokumen tersebut, auditor
akan dapat menemukan kewajiban sehubungan dengan pembelian aktiva tetap,
pemerintah kerja, dan kontrak pembangunan, yang telah menjadi kewajiban
kelien pada tanggal neraca, namun beum dicatat dan dijadikan oleh kelien.

F. Pengujian Terhadap Rincian Saldo

       Dua pengujian yang termasuk dalam kategori ini adalah:


1) Konfirmasi utang usaha
2) Rekonsiliasi utang yang belum dikonfirmasi dengan laporan bulanan yang
belum diterima oleh klien dan penjual atau pemasok.

Konfirmasi Utang Usaha


Moh Faris Arfandhy F
A31115520

Tidak seperti konfirmasi piutang usaha, tidak ada anggapan yang dibuat
mengenai konfirmasi utang usaha (confirmation of accounts payable). Prosedur
ini bersifat opsional karena:
1) Konfirmasi ini tidak dapat menjamin bahwa utang yang belum dicatat akan
dapat ditemukan,
2) Bukti eksternal berupa faktur dan laporan bulanan penjual harus tersedia untuk
mendukung saldonya.
Konfirmasi utang usaha direkomendasikan apabila risiko deteksi rendah,
terdapat kreditor individual dengan saldo yang relati besar, atau perusahaan
mengalami kesulitan dalam memnuhi kewajibannya. Seperti kasus dalam
konfirmasi piutang usaha, auditor harus mengendalikan pembuatan dan
pengiriman permintaan konfirmasi serta harus meneriman jawaban langsung dari
responden.
Apabila konfirmasi akan dilakukan, maka akun dengan saldo nol atau
kecil harus ada diantara pilihan untuk konfirmasi karena saldo itu mungkin
ditetapkan terlalu rendah daripada akun dengan saldo yang besar. Selain itu,
konfirmasi juga harus dikirmkan kepada pemasok utama yang:
1) Telah digunakan pada tahun sebelumnya, namun tidak dalam tahun berjalan,
dan
2) Tidak mengirimkan laporan bulanan
Pengujian ini dapat memberikan bukti untuk semua asersi utang usaha.
Akan tetapi, bukti yang tersedia untuk asersi kelengkapan besifat terbatas karena
adanya kemungkinan kegagalan dalam mengidentifikasi dan mengirim permintaan
konfirmasi kepada pemasok yang tidak mencatat kewajiban klien.

Merekonsiliasi Utang yang Belum Dikonfirmasi Dengan Laporan Pemasok


Dalam banyak kasusu, para pemasok biasanya mengirimkan laporan
bulanan yang bias dijumpai dlaam file klien. Dalam kasus ini, jumlah yang
terutang pada pemasok menurut daftar utang klien dapat direkonsiliasi dengan
laporan tersebut. Bukti yang diperoleh dari prosedur ini juga berlaku untuk asersi
yang sama seperti konfirmasi, tetapi kurang dapat diandalkan karena laporan
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

pemasok telah dikirimkan kepada klien, dan bukan langsung kepada auditor.
Selain itu, laporan ini mungkin tidak tersedia dari pemasok tertentu.

Tujuan pengujian saldo akun Utang Usaha rinci adalah memverifikasi :

1. Keberadaan atau keterjadian


2. Kelengkapan
3. Kewajiban
4. Penyajian dan pengungkapan

Keberadaan, kelengkapan, kewajiban, serta penyajian dan pengungkapan


utang usaha di neraca dibuktikan oleh auditor dengan mengirimkan surat
konfirmasi kepada debitur dan rekonsiliasi utang usaha yang tidak dikonfirmasi ke
pernyataan piutang bulanan yang diterima oleh klien dari kreditur.

1. Lakukan Konfirmasi Utang Usaha

Konfirmasi dalam pengujian subtantif terhadap utang usaha merupakan


prosedur yang tidak harus ditempuh (bukan merupakan mandatory procedure)
seperti halnya dengan konfirmasi piutang usaha. Ada tiga sebab mengapa
prosedur konfirmasi bukan merupakan mandatory procedure dalam pengujian
substantive terhadap utang usaha :

1. Tujuan utama pengujian substantive terhadap utang usaha adalah untuk


menemukan adanya unrecorded liabilities. Konfirmasi utang usaha didasarkan
pada utang usaha yang telah tercatat, sehingga konfirmasi tidak dapat
menentukan keberadaan utang usaha yang belum dicatat pada tanggal neraca.
2. Konfirmasi dilakukan untuk memperoleh bukti-bukti dari pihak luar,
seperti faktur dari pemasok dan pernyataan piutang dari kreditur.
3. Kebanyakan utang usaha yang tercatat pada tanggal neraca telah dibayar
oleh klien sebelum auditor menyelesaikan pekerjaan lapangan. Pembayaran ini
merupakan bukti adanya utang usaha pada tanggal neraca.
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

Prosedur konfirmasi utang usaha ditempuh oleh auditor jika dua kondisi
berikut ini terdapat di dalam perusahaan yang diaudit, yaitu : (1) pengendalian
terhadap utang usaha lemah, (2) dalam pengujian subtantif tidak dapat dijumpai
adanya pernyataan piutang dari kreditur.
Jika prosedur konfirmasi ini dilaksanakan oleh auditor, kreditur yang
dipilih untuk dikirimi surat konfirmasi adalah : (1) kreditur yang melakukan
penjualan yang besar kepada klien dalam tahun yang diaudit, (2) kreditur yang
memiliki akun berisi transaksi yang luar biasa sifatnya, (3) krediturnya
mempunyai hubungan istimewa dengan klien (misalnya hubungan antara induk
dengan anak perusahaan).

Periksa Dokumen yang Mendukung Transaksi Pembayaran Utang Usaha Setelah


Tanggal Neraca.

Pembayaran utang usaha yang dilakukan oleh klien dapat memberikan


petunjuk mengenai keberadaan kewajiban klien tersebut. Oleh karena itu, untuk
membuktikan keberadaan utang usaha pada tanggal neraca, auditor melakukan
pemeriksaan terhadap dokumen yang mendukung transaksi pembayaran utang
usaha yang terjadi setelah tanggal neraca, yang dicatat dalam regiscek. Dengan
pemeriksaan dokumen pendukung transaksi pembayaran utang usaha yang dicatat
dalam register cek tersebut, auditor dapat memperoleh keyakinan bahwa utang
usaha yang tercantum dineraca benar-benar ada dan adanya utang usaha yang
tidak dicatat pada tanggal neraca.

Lakukan Rekonsiliasi Utang Usaha yang Tidak Dikonfirmasi Ke Pernyataan


Piutang Bulanan yang Diterima oleh Klien dari Kreditur

Utang klien kepada debitur yang tidak dikonfirmasi dapat diverifikasi


keberadaanya melalui rekunsiliasi akun utang kepada kreditur dengan surat
pernyataan piutang (account receivable statement) yang diterima secara bulanan
dari kreditur. Dari rekonsiliasi ini, auditor dapat memperoleh keyakinan bahwa
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

utang usaha yang tercantum dineraca benar-benar ada dan adanya utang usaha
yang tidak dicatat pada tanggal neraca.

Verifikasi Penyajian dan Pengungkapan

Periksa Klasifikasi Utang Usaha di Neraca

Unsur utang lancar harus disajikan dineraca menurut urutan jatuh


temponya. Jika jumlahnya material, utang usaha harus disajikan dineraca menjadi
tiga golongan : (1) utang usaha kepada kreditur usaha, (2) utang usaha kepada
perusahaan afiliasi, dan (3) utang usaha kepada direksi, pemegang saham utama,
manager, dan perusahaan karyawan. Auditor harus memeriksa saldo debit atau
akun usaha dan jika perlu melakukan jurnal penggolingan kembali. Saldo debit
utang usaha juga dapat timbul karena adanya retur pembelian. Jika jumlahnya
material, saldo debit akun utang usaha ini harus dikelompokkan sebagai unsure
aktiva lancar, tidak boleh dikurangkan dari utang usaha. Oleh karena itu, auditor
berkewajiban menggolongkan kembali akun utang usaha yang bersaldo debit
besar ke dalam kelompok aktiva lancar. Utang usaha harus disajikan secara
terpisah dari utang nonusaha. Jika klien mempunyai komitmen yang akan
menimbulkan kewajiban dalam periode akuntansi berikutnya, ia harus
mengungkapkan mengenai hal ini dineraca. Utang jangka panjang yang segera
jatuh tempo harus digolongkan ke dalam kelompok utang lancar.

Periksa Pengungkapan yang Bersangkutan Dengan Utang Nonusaha

Jika utang jangka panjang yang segera jatuh tempo dilunasi dengan aktiva
tidak lancar (misalnya dari dana pelunasan utang jangka panjang/ sinking fund),
maka jumlah utang ini tetap disajikan dineraca dalam kelompok utang jangka
panjang, bukan utang lancar untuk menghindari pengaruh signifikan terhadap
perhitungan perubahan posisi keuangan (modal kerja).

Periksa Pengungkapan yang Bersangkutan Dengan Utang Usaha


Moh Faris Arfandhy F
A31115520

Utang usaha yang dijamin dengan aktiva harus diungkapkan secara


memadai di neraca atau dalam penjelasan laporan keuangan. Begitu pula aktiva
yang dijaminkan dalam utang usaha harus diungkapkan secara memadai. Utang
usaha harus selalu dinyatakan dalam jumlah bersih setelah dikurangi dengan trade
discounts. Potongan tunai dapat dikurangkan atau dapat pula tidak dikurangkan
dari utang usaha, tergantung atas prosedur pencatatan utang usaha yang digunakan
oleh klien.

Mintalah Informasi dari Klien Untuk Menemukan Komitmen yang Belum


Diungkapkan dan Utang Bersyarat dan Periksa Penjelasan yang Bersangkutan
dengan Utang Tersebut

Sebenarnya kewajiban perusahaan tidak hanya terdiri dari utang yang


nyata telah terjadi, tetapi juga meliputi kewajiban yang secara potensial akan
terjadi, yang berupa komitmen dan utang bersyarat. Pemakai laporan keuangan
berkepentingan untuk mengetahui informasi mengenai komitmen yang telah
dibuat oleh klien dan kewajiban bersyarat yang ada pada tanggal neraca, di
samping informasi mengenai utang yang bener-bener telah merupakan kewajiban
perusahaan pada tanggal tersebut. Oleh karena itu, dalam pengujian subtantif
terhadap utang usaha, auditor berkewajiban untuk menentukan ada atau tidaknya
komitmen yang tidak diungkapkan dan utang bersyarat pada tanggal neraca, dan
jika ada, apakah klien telah mengungkapkan secara memadai mengenai utang
tersebut.

Utang bersyarat (contigent liabilities) merupakan kewajiban potensial


yang mempunyai kemungkinan akan sungguh-sungguh menjadi utang atau akan
dapat diselesaikan tanpa pengeluaran uang di masa yang akan datang. Utang
bersyarat berbeda dengan utang yang belum dicatat pada tanggal neraca
(unrecorded liabilities). Unrecorded liabilities ini pada tanggal neraca sudah
benar-benar merupakan perusahaan, tetapi belum dicatat. Di lain pihak, pada
tanggal neraca utang bersyatar belum merupakan kewajiban. Apakah suatu utang
bersyarat akan menjadi utang atau tidak, sangat tergantung dari kejadian di masa
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

yang akan datang. Setelah tanggal neraca, utang bersyarat dapat benar-benar
menjadi utang, tetapi dapat juga tidak.
Contoh utang bersyarat adalah piutang wesel yangdidiskontokan ke bank.
Jika klien menjual wesel tagih ke bank beberapa hari menjelang tanggal neraca,
maka pada tanggal neraca klien mempunyai utang bersyarat. Jika pihak yang
mengeluarkan wesel gagal melunasi kewajibannya pada saat jatuh tempo wesel,
maka bank akan menagih nominal wesel tersebut kepada klien. Dengan demikian,
pada tanggal neraca klien mempunyai utang bersyarat, yaitu kewajiban yang
potensial akan menjadi utang, jika pihak yang mengeluarkan wesel tidak dapat
melunasi kewajiban pada saatnya. Contoh lain utang bersyarat adalah :
biaya/denda pengadilan, tambahan pengenaan pajak, klaim dari pembeli, biaya
reparasi produk yang dijual dengan garansi.
Utang bersyarat ini harus dicantumkan dineraca dengan salah satu dari tiga
cara berikut ini :

1. utang bersyarat dicantumkan didalam tanda kurung, dalam kelompok


kurang lancar. Jumlah utang bersyarat ini tidak ditambahkab kepada utang
lancar yang lain.
2. utang bersyarat dicantumkan di bawah judul “Utang Bersyarat” di neraca.
Jumlah utang bersyarat tidak diperhitungkan dalam menjumlah utang lancar.
3. jika memerlikan penjelasan yang panjang, utang bersyarat disajikan
dibagian penjelasan laporan keuangan (notes to financial statement).

LATIHAN

 Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengujian substansi atas saldo utang!
 Jelaskan apa yang dimaksud dengan penentuan risiko deteksi!
 Jelaskan apa yang dimaksud dengan perancangan pengujian substansi!
 Jelaskan apa yang dimaksud dengan prosedur awal!
 Jelaskan apa yang dimaksud dengan prosedur analitis!
 Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengujian rincian saldo!
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

RANGKUMAN
Prosedur analitis yang telah dibahas memberikan konteks untuk
mengevaluasi penialain tingkat risiko pengendalian yang direncanakan dan risiko
pengujian rincian. Auditor juga harus mempertimbnagkan peran prosedur
pengendalian yang terprogram dan teknik audit bantuan computer untuk
mendukung strategi auditnya. Akibat risiko kewajiban ditetapkan terlalu rendah,
auditor akan menekankan pada asersi kelengkapan ketika mengaudit utang usaha.
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

TES FORMATIF
1. Jelakan kelompok dari golongan utang lancar!

2. Bagaimana mencapai tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk


setiap asersi laporan keuangan yang signifikan ?
3. Apa tujuan auditor menerpakan prosedur analitis?
4. Sebutkan Pengujian yang termasuk dalam kategori pengujian rincia saldo !
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

UMPAN BALIK ATAU TINDAK LANJUT

Cocokkan jawaban tes formatif Anda dengan kunci jawaban tes formatif
yang ada di bagian akhir modul ini.

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF

Utang lancar digolongkan menjadi lima kelompok, yaitu:

1. Utang usaha yanag timbul dari transaksi pembelian bahan baku dan
overhead, suku cadang, dan factory supplies. Utang usaha dapat
digolongkan menjdai dua golongan, yaitu:

1) Utang yang tidak disertai dengan surat berharga sebagai bukti tertulis
dengan kesanggupan untuk membayar kewajiban (account payable).

2) Utang yang disertai dengan surat berharga sebagai bukti tertulis tentang
kesanggupan untuk membayar kewajiban (utang wesel atau notes
payable).

2. Utang jaminan masuk dari pelanggan.

3. Utang yang timbul dari berlalunya waktu (accrued payable).

4. Utang yang timbul kepada pihak ke tiga karena perusahaan yang ditunjuk
sebagai pemungut pajak atau iuran yang lain, seperti utang PPN, utang pajak
penghasilan karyawan (PPh Pasal 25), utang dana pension, utang asuransi
karyawan.

5. Accrual yang timbul dari kegiatan usaha perusahaan meskipun:

- Jumlah utang tersebut harus ditaksir seperti utang bonus

- Krediturnya tidak diketahui seperti utang biaya separasi utuk produk


perusahaan yang dijual dengan garansi.
Moh Faris Arfandhy F
A31115520

DAFTAR PUSTAKA

Jusup, Al - Haryono. 2011. Auditing Edisi 2, Yogyakarta : Penerbitan STIE


YKPN

Messier, William F. Stefen M. Glover. Douglas F. Prawitt. 2014. Jasa Audit dan
Assurance Pendekatan Sistematis Edisi 8 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat

Mulyadi. 2008. Auditing Buku 2 Edisi 6. Jakarta: Salemba Empat

William C. Boynton, Raymon N. Johnson, dan Walter G. Kell. 2003. Modern


Auditing (Eds. Ke – 7, jilid 2). Jakarta: Erlangga

Anda mungkin juga menyukai