Yona Utama Putera rachmat
0119124011- Reguler B2-C
Soal Pajak Penghasilan Orang Pribadi
1. Sebutkan Perbedaan Subjek Pajak Dalam Negeri dan Subjek Pajak Luar Negeri!
Jawaban :
A. Subjek pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia. Sedangkan subjek pajak luar negeri dikenai pajak hanya atas
penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia.
B. Subjek pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif umum.
Sedangkan subjek pajak luar negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak
sepadan alias tarif tunggal terhadap semua objek pajak berapa pun nilainya.
C. Subjek pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT ) Pajak
Penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak.
Sedangkan subjek pajak luar negeri tidak menyampaikan SPT Pajak Penghasilan karena kewajiban
pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.
2. Mr. Joni mulai bekerja di Indonesia mulai bekerja di Indonesia bulan Desember 2019 tapi berniat
untuk menetap di Indonesia, maka apakah subjek pajak Mr. Joni untuk tahun pajak 2019? Jelaskan
beserta alasannya.
Jawaban : Subjek pajak dalam negeri bisa berupa orang perorangan, badan dan warisan yang belum
dibagi. Jika orang perorangan lahir di Indonesia atau telah tinggal selama lebih dari 183 hari dalam
jangka waktu 12 bulan, atau berniat untuk tinggal lama di Indonesia, dia dapat disebut sebagai
subjek pajak pribadi dalam negeri.
3. Jelaskan bagaimana pempajakan atas usaha kecil dengan omset kurang dari Rp [Link] per
tahun. Jelaskan keuntungan dan kerugian kebijakan pepajakan ini dilihat dari sudut pandang fiskus
dan wajib pajak?
Jawaban : Dengan Begitu keuntungan dan kerugian kebijakan pepajakan ini dilihat dari sudut
pandang fiskus : Keuntungan: UMKM dapat membayar pajak dengan mudah dan sederhana. Karena
PPh Final, maka perhitungan pajak buat UMKM offline maupun online tinggal menjumlahkan
peredaran bruto dalam sebulan, kemudian dikalikan tarif. Selain itu Bisa mengurangi beban pajak
para pelaku UMKM. Dengan tarif murah 0,5% (sebelumnya 1%), sisa omzet bersih setelah dipotong
pajak bisa dipakai pengusaha untuk mengembangkan usahanya.
Untuk Kerugian : Wajib Pajak bisa menggunakan PP46/2013 ketika peredaran bruto di tahun
sebelumnya <4.8 M. yang menjadi patokan adalah peredaran bruto di tahun sebelumnya, sehingga
ketika di tahun tersebut sebenarnya omzet/peredaran bruto sudah melebihi 4.8 M, WP tetap bisa
menggunakan PP46/2013. Ada kemungkinan pendapatan pemerintah menjadi lebih kecil ketika
menggunakan PP46/2013.
Yona Utama Putera rachmat
0119124011- Reguler B2-C
Berdasarkan Pertimbangan
keuntungan dan kerugian kebijakan pepajakan ini dilihat dari sudut pandang wajib pajak :
Keuntungan: kemudahan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan, tidak perlu menghitung perincian
pendapatan dan biaya.
Kerugian: Bagi pengusaha lain, menjadi tidak adil dengan Wajib Pajak lain yang membayar dengan PPh
biasa. Namun manfaat yang diterima sama dengan Wajib Pajak yang menggunakan PP 46/2013. Bagi
pengusaha yang menggunakan PP46/2013 tidak bisa memperhitungkan beban usaha / tidak bisa
mengakui rugi.
4. Sebutkan Objek Pajak PPH Final menurut UU PPh pasal 4 ayat (2) UU No. 36 tahun 2008 !
Jawaban :
a) penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau
imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang ini;
b) hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;
c) laba usaha;
d) keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
e) keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sebagai
pengganti saham atau penyertaan modal;
keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota yang
diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;
keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, pengambilalihan
usaha, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apa pun;
keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan, kecuali yang
diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan
keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang
menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan; dan
f) keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan, tanda
turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan pertambangan;
g) penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran
tambahan pengembalian pajak;
h) bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;
i) dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi
kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;
j) royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
k) sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
l) penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
m) keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah;
Yona Utama Putera rachmat
0119124011- Reguler B2-C
n) keuntungan selisih kurs mata uang asing;
o) selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
p) premi asuransi;
q) iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak
yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
r) tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak;
s) penghasilan dari usaha berbasis syariah;
t) imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai
ketentuan umum dan tata cara perpajakan; dan
u) surplus Bank Indonesia.
5. Pekerjaan yang dilakukan oleh Orang Pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk
memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja disebut ?
Jawaban : Lebih lanjut berdasarkan Pasal 3 PER-16/2016, tenaga ahli yang melakukan pekerjaan
bebas terdiri atas pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris.
Contoh lain dari pekerjaan bebas diantaranya olahragawan, pengarang, peneliti, penerjemah,
penyanyi, pelawak, bintang film, model, pelukis, sutradara dan penceramah.
Soal Pajak Penghasilan Badan
1. Sebutkan Subjek dan Objek Pajak PPh Badan !
Jawaban : Pajak Penghasilan dikenakan terhadap Subyek Pajak atas Penghasilan yang diterima
atau diperolehnya dalam tahun pajak. Dalam pembahasan segmen Badan Usaha ini, yang menjadi
subjek pajak adalah badan dan bentuk usaha tetap. Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak
yang perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan subjek pajak badan. Subjek pajak dibedakan
menjadi subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri.
2. Sebutkan jenis penghasilan yang menjadi objek pajak dan bersifat tidak final !
Jawaban :
Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh.
Hadiah dari pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan.
Laba usaha.
Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta.
Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak.
Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.
Dividen.
Royalti atau imbalan atas penggunaan hak.
Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang
ditetapkan Peraturan Pemerintah.
Keuntungan selisih kurs mata uang asing.
Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
Yona Utama Putera rachmat
0119124011- Reguler B2-C
Premi asuransi.
Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib
Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.
Penghasilan dari usaha berbasis syariah.
Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai
ketentuan umum dan tata cara perpajakan.
Surplus Bank Indonesia.
3. Jelaskan perbedaan antara koreksi fiskal positif dan negatif !
Jawaban : Pada umumnya, terdapat dua jenis koreksi fiskal, yaitu koreksi positif dan koreksi
negatif. Koreksi positif ialah, perbaikan yang dilakukan pada catatan penghasilan dan biaya yang
berefek pada kenaikan jumlah biaya wajib pajak.
Sedangkan koreksi fiskal negatif adalah perbaikan yang dilakukan justru hasilnya mengurangi
jumlah biaya pajak. Sehingga beban pajak menjadi lebih ringan.
4. Sebutkan serta jelaskan biaya-biaya yang termasuk dari koreksi fiskal positif !
Jawaban :
Pajak Penghasilan.
Premi asuransi jiwa, kesehatan, kecelakaan, dwiguna, dan asuransi beasiswa, yang
dibayar oleh WP OP. Kecuali dibayar pemberi kerja dan premi dihitung sebagai
penghasilan bagi WP yang bersangkutan.
Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun, Pembagian laba ini seperti
dividen, Dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan
pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi.
Imbalan untuk pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan hiburan.
Ini kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta imbalan
dalam bentuk natura dan hiburan di daerah tertentu, yang berkaitan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang diatur berdasarkan PMK.
Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham,
sekutu, atau anggota.
Harta yang di hibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan (sesuai Pasal 4 ayat (3)
huruf a dan huruf b). Kecuali sumbangan seperti yang diatur dalam pasal 6 ayat (1) huruf
i sampai dengan huruf m, Termasuk pula zakat yang diterima oleh badan amil zakat yang
disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang
dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.
Dasar aturannya adalah Peraturan Pemerintah (PP).
Biaya yang ditangguhkan pengakuannya.
Simpanan yang jumlahnya melebihi jumlah berdasarkan metode penghitungan yang
sudah ditetapkan dalam pasal 10 UU No. 36 Tahun 2008 tentang PPh.
Gaji yang disetorkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham.
Yona Utama Putera rachmat
0119124011- Reguler B2-C
Penyusutan yang jumlahnya melebihi jumlah berdasarkan metode penghitungan yang
sudah ditetapkan dalam pasal 10 UU PPh No. 36 Tahun 2008.
5. Jelaskan mengenai Deductible Expense dan Non-deductible expense, serta sebutkan biaya-biaya yang
termasuk dari Deductible Expense dan Non-deductible expense
Jawaban : DEDUCTIBLE Expense adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan yang dapat dikurangkan atas penghasilan kena pajak atau penghasilan bruto. Biaya ini pula
yang dikurangkan wajib pajak untuk mengetahui besaran penghasilan neto sebagai dasar perhitungan
pajak penghasilan (PPh).
Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara lain:
biaya pembelian bahan;
biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus,
gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;
bunga, sewa, dan royalti;
biaya perjalanan;
biaya pengolahan limbah;
premi asuransi;
biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
(PMK) No.02/PMK.03/2010
biaya administrasi; dan
pajak kecuali PPh.
Biaya penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas
pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih
dari 1 satu tahun.
Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan
atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
Kerugian selisih kurs mata uang asing.
Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia.
Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan.