Pemanfaatan OCW oleh Mahasiswa UPJ
Pemanfaatan OCW oleh Mahasiswa UPJ
Disusun Oleh:
Olivia Ariantje Josephine – 2015031014
Risna Handayani
Orissa Raihandiva - 2016041059
Ralitza Lyvia Meirianda - 2016081016
1
Abstrak
I. Pendahuluan
Knowledge management (KM) adalah rangkaian kegiatan yang digunakan oleh
organisasi atau perusahaan untuk mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan
mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali, diketahui, dan dipelajari di dalam
organisasi. KM juga dapat didefinisikan sebagai setiap proses atau praktik-praktik tentang
menciptakan, memperoleh, menangkap, membagi, dan menggunakan pengetahuan guna
meningkatkan pembelajaran dan performa dalam suatu organisasi (Swan, Scarborough, &
Preston dalam Saragih, Darmanto, Reza, & Setiyadi, 2012). Hadagali, Krishnamurthy, Pattar,
& Kumbar (dalam Pasaribu, 2016) menjelaskan bahwa KM membuat suatu organisasi
menjadi lebih produktif, efektif, dan sukses.
Penerapan knowledge management dibagi menjadi dua, yaitu tacit knowledge dan
explicit knowledge. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang bersifat personal
dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan
(Carrillo, Robinson, Al-Ghassani, & Anumba, 2004). Secara umum tacit knowledge
merupakan pemahaman alam bawah sadar dan berkembang berdasarkan kejadian langsung
serta pengalaman hidup. Sedangkan, explicit knowledge adalah pengetahuan yang bersifat
formal dan sistematis yang mudah untuk di komunikasikan dan di bagi (Carrillo, Robinson,
1
Al-Ghassani, & Anumba, 2004). Explicit knowledge bergantung pada pemahaman dan
aplikasi secara tacit.
Knowledge Sharing adalah suatu proses dimana individu secara mutual saling
bertukar pikiran mengenai pengetahuan yang dimiliki (tacit and explicit) dan secara bersama
menciptakan pengetahuan baru (Hoof & Ridde, 2004). Fokus utama dari knowledge sharing
dari masing-masing individu yaitu mampu menjelaskan, mengkodekan dan
mengkomunikasikan pengetahuan kepada orang lain, kelompok, dan khususnya kepada
organisasi. Knowledge sharing dapat terjadi diantara individu, dalam dan antar tim, antar unit
organisasi, dan antar organisasi (Glassop, 2002).
Penerapan knowledge management pada perguruan tinggi memiliki banyak tujuan
yaitu, meningkatkan aset pengetahuan sehingga membantu para mahasiswa untuk
mendapatkan informasi pengetahuan yang bermanfaat sehingga menimbulkan kreativitas dan
inovasi yang lebih luas dan menjadikan mahasiswa yang berkompeten. Selain itu, penerapa
KM di perguruan tinggi juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan menghemat
waktu dan biaya. Melihat hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
peran knowledge management sebagai indikasi gambaran penggunaan Open Course Ware
(OCW) pada mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ). OCW merupakan
pembelajaran berbasis web yang bersifat terbuka sehingga mudah diakses dimanapun dan
kapanpun oleh semua pihak, baik mahasiswa dalam univerisitas maupun orang lain. Metode
kuantiatif dengan melakukan penyebaran kuisioner yang dibuat oleh para penulis merupakan
salah satu cara untuk mendapatkan data yang valid sehingga dapat dengan mudah mencapai
tujuan tersebut.
2
IV. Tinjauan Pustaka
A. Knowledge
Pengetahuan merupakan salah satu aset yang tidak berwujud. Menurut Nassery
(dalam Ikrahmawati, 2016), pengetahuan yang digunakan dalam organisasi merupakan
interaksi antara dua komponen yaitu human capital dan informasi. Human capital adalah
pemikiran dan karakter yang terdiri dari kompetensi manusia. Kompetensi ini ditentukan oleh
pengetahuan, imajinasi, intuisi, pendidikan, skill dan pengalaman yang dipengaruhi oleh
emosi dan atribut lain. Sedangkan, informasi meliputi dokumentasi pengalaman dan prestasi
intelektual manusia.
Van Der Spek & Spijkervet (dalam Ikrahmawati, 2016) menyatakan bahwa
pengetahuan merupakan sebagian besar ide, pengalaman, dan prosedur yang dianggap benar
dan dapat mengarahkan pikiran, perilaku, dan komunikasi dengan orang lain. Turban (dalam
Ikrahmawati, 2016) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan informasi yang telah
diorganisir dan dianalisa sehingga dapat dipahami dan diaplikasikan untuk pemecahan
masalah atau pengambilan keputusan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan jika pengetahuan
setidaknya memiliki tiga hal penting, yaitu:
1. Knowledge merupakan kumpulan informasi mengenai intuisi, pengalaman (experience)
dan urutan kegiatan (procedure).
2. Knowledge diorganisir dan dianalisis hingga dapat dimengerti dan diaplikasikan.
3. Knowledge digunakan sebagai pedoman untuk berpikir, bertingkah laku, berkomunikasi,
memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
B. Knowledge Management
Knowledge Management (KM) merupakan setiap proses atau praktik-praktik tentang
menciptakan, memperoleh, menangkap, membagi, dan menggunakan pengetahuan guna
meningkatkan pembelajaran dan performa dalam suatu organisasi (Swan, Scarborough, &
Preston dalam Saragih, Darmanto, Reza, & Setiyadi, 2012). Para ahli juga memberikan
pendapat mengenai pengertian dari KMSecara rinci, pendapat para ahli mengenai definisi
manajemen pengetahuan. Groff & Jones (dalam Ikrahmawati, 2016) menyatakan bahwa KM
merupakan alat, teknik, dan strategi untuk mempertahankan, menganalisa, meningkatkan, dan
membagikan pengalaman bisnis. Menurut Wigg (dalam Ikrahmawati, 2016), KM merupakan
pembangunan pengetahuan yang sistematis, terbuka, dan berkelanjutan untuk
memaksimalkan efektivitas pengetahuan.
3
Penerapan knowledge management dibagi menjadi dua, yaitu tacit knowledge dan
explicit knowledge. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang bersifat personal
dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan
(Carrillo, Robinson, Al-Ghassani, & Anumba, 2004). Tacit knowledge juga dapat
didefinisikan sebagai pengetahuan yang diam dalam benak manusia yang umumnya
berbentuk intuisi, penilaian, keterampilan, nilai-nilai, dan keyakinan yang sulit
diformalisasikan dan dibagi dengan orang lain (Budiastuti, 2012). Sedangkan, explicit
knowledge adalah pengetahuan yang bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk di
komunikasikan dan di bagi (Carrillo, Robinson, Al-Ghassani, & Anumba, 2004). Explicit
knowledge juga merupakan pengetahuan yang dapat atau sudah terkodifikasi dalam bentuk
dokumen atau bentuk berwujud lainnya sehingga dapat dengan mudah ditransfer dan
didistribusikan dengan menggunakan berbagai media (Budiastuti, 2012). Berdasarkan
pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa explicit knowledge adalah pengetahuan
yang bersumber dari pengetahuan tacit (tacit knowledge) yang diartikulasikan,
didokumentasikan, dikodifikasi, diorganisir, dalam sebuah media tertentu, sehingga dapat
mudah diakses dan sebarkan ke pihak lain yang memerlukan.
4
4) Cognition adalah fungsi suatu sistem untuk membuat keputusan yang didasarkan atas
ketersediaan pengetahuan. Cognition merupakan penerapan pengetahuan yang telah
berubah melalui tiga fungsi terdahulu.
5) Measurement yaitu kegiatan knowledge management untuk mengukur, memetakan dan
mengkuantifikasi pengetahuan korporat dan kinerja dari solusi knowledge management.
5
ini merupakan elemen penting yang dapat menentukan keberhasilan implementasi sistem
KM. Bahkan dikatakan bahwa KM itu sendiri tak lain adalah integrasi dari people dan
process, yang kemudian dimungkinkan dengan technology, untuk memfasilitasi pertukaran
informasi, pengetahuan, dan keahlian sehingga meningkatkan performansi organisasi.
F. Knowledge Sharing
Raskov (dalam Islamy, 2013) berpendapat bahwa knowledge sharing terjadi
antar individu dalam suatu komunitas, di mana individu
berinteraksi dan bebagi pengetahuan
dengan individu lainnya melalui ruang maya atau tatap muka.
Menurut Alawi (dalam Islamy, 2013) knowledge sharing
mengharuskan individu atau kelompok untuk saling bekerjasama
dengan lainnya untuk menyebarkan pengetahuan dan mendapat
keuntungan. Hoof & Ridde (2004) menyatakan bahwa knowledge sharing terdiri dari dua
proses, yaitu knowledge donationg dan knowledge collecting. Knowledge donating
merupakan proses dimana pengetahuan yang dimiliki oleh individu dikomunikasikan kepada
orang lain. Sedangkan, knowledge collecting merupakan proses konsultasi dengan rekan kerja
untuk mendapatkan pengetahuan dari mereka. Tobing (dalam Islamy, 2013) menyatakan
bahwa melalui knowledge sharing akan terjadi eksploitasi maksimal dari suatu pengetahuan.
Selain mengeksploitasi pengetahuan secara maksimal, knowledge sharing juga dapat
membukakan kesempatan untuk mengeksplorasi pengetahuan untuk mendapatkan atau
menciptakan knowledge baru. Knowledge sharing memiliki beberapa fungsi, yaitu:
1. Menciptakan kesempatan yang sama bagi anggota organisasi untuk mengakses
pengetahuan dan mempelajarinya.
2. Meningkatkan kesempatan belajar atau mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk
memperoleh dan mempelajari pengetahuan baru.
3. Mempercepat penyelesaian tugas atau masalah, karena penyelesaian tidak lagi dimulai
dari titik nol.
4. Menyelesaikan suatu masalah dengan memanfaatkan metode yang sudah terbukti efektif
di unit atau di tempat lain.
5. Menyediakan bahan dasar bagi inovasi berupa pengetahuan yang bervariasi dan
multiperspektif.
6
G. Penerapan Knowledge Management di Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan
formal setelah jenjang pendidikan menengah umum dengan bentuk perguruan tinggi berupa
akademi, politeknik, sekolah tinggi, institute, dan universitas (Prabowo, 2010). Perguruan
tinggi juga merupakan suatu organisasi dimana banyak pengetahuan atau knowledge
diciptakan dan digunakan secara berkesinambungan (Retnoningsih & Utami, 2013). Oleh
karena itu, mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan kepada mahasiswa merupakan
tugas utama yang harus dijalankan oleh perguruan tinggi. Secara umum perguruan tinggi
mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan fungsi layanan Tri Dharma Perguruan Tinggi
yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pelayanan kepada masyarakat (Budiastuti,
2012). Pada kajian pendidikan tinggi, pengetahuan merupakan unsur pembentuk keunggulan
bersaing yang berkesinambungan dan juga merupakan value bagi perguruan tinggi tersebut.
Oleh karena itu, perspektif pengetahuan pada perguruan tinggi mengandung pengertian
penggalian pengetahuan secara internal dan eksternal baik sebagai sumberdaya maupun
output dari proses pengembangan KM yang dijalankan oleh perguruan tinggi itu sendiri.
Devenport (dalam Budiastuti, 2012) membagi pelaksanaan knowledge management dalam 4
proses utama yaitu menyediakan tempat penyimpanan pengetahuan, memperbaiki akses pada
pengetahuan, memajukan lingkungan pengetahuan, dan mengelola pengetahuan sebagai aset.
Pada proses menciptakan tempat penyimpanan knowledge, perguruan tinggi perlu
menyediakan tempat dokumen tercetak atau elektronik, seperti skripsi, tesis, disertasi, hasil
penelitian dan publikasi, serta hasil kegiatan operasional layanan akademik lainnya untuk
memudahkan penyimpanan dan pengambilan kembali dokumen-dokumen tersebut. Perlu
perbaikan akses dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu
perguruan tinggi juga perlu mengelola organisasi yang mendorong terbentuknya budaya
knowledge creation, knowledge sharing, dan knowledge utilization dengan berbagai cara.
Mengelola knowledge sebagai aset, artinya knowledge dianggap sebagai resource yang
bernilai yang dapat dijadikan kompetensi inti perguruan tinggi tersebut.
7
mahasiswa/i Universitas Pembangunan Jaya yang merupakan responden dalam penelitian ini.
Setelah data telah terkumpul, peneliti kemudian mengolahnya dengan menggunakan modus.
Gambaran umum responden didasarkan pada program studi yang ada di UPJ, yaitu
Akuntansi, Psikologi, Sistem Informasi, Manajemen, Teknologi Informasi, Teknik Sipil,
Arsitektur, Desain Produk, Desain Komunikasi Visual, dan Ilmu Komunikasi. Jumlah
responden yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 39 responden. Gambaran umum
responden dalam penelitian ini tergambar melalui chart di bawah ini.
Program Studi
14 12
12 10
10
8 7
6 5
4 2
2 1 1 1
0 0
0
si gi as
i
en as
i
ip
il
tu
r k
ua
l si
n ta o lo m m m S e k o du i s ika
ik r e r ik un
Ak
u
Ps fo aj fo rs
it Pr iV
In an In e kn A in kas om
M i T s a i K
em og De un u
st ol m
Si k n
K om I l
Te n
sai
De
Responden yang berasal dari Sistem Informasi merupakan responden terbanyak dalam
penelitian ini, yaitu 12 responden. Sedangkan, tidak ada responden yang berasal dari
Arsitektur dan Desain Produk.
8
Figure 2. Pertanyaan 1
15 Tidak Membantu
38% Kurang Membantu
Membantu
Sangat Membantu
20
51%
Chart tersebut menjelaskan apakah mahasiswa merasa terbantu dengan adanya OCW.
Hasil menunjukkan bahwa 51% mahasiswa merasa terbantu dengan adanya OCW.
Sedangkan, tidak ada mahasiswa yang merasa OCW tidak membantu proses pembelajaran.
Figure 3. Pertanyaan 2
17
44%
Chart tersebut menjelaskan apakah mahasiswa mendapat referensi mata kuliah dari
OCW. Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa 44% responden setuju bahwa mereka
mendapat referensi dari OCW. Sedangkan, tidak ada responden yang tidak setuju bahwa
OCW membantu dalam mendapatkan referensi untuk keperluan mata kuliah.
9
Figure 4. Pertanyaan 3
18
46%
Figure 5. Pertanyaan 4
14
16 36%
41%
Chart tersebut menjelaskan apakah tampilan yang ada di OCW menarik. Berdasarkan
data di atas, 41% mahasiswa UPJ setuju jika tampilan di OCW menarik bari diri mereka.
Sedangkan, 10% mahasiswa UPJ tidak setuju jika tampilan OCW menarik.
10
Figure 6. Pertanyaan 5
16
41%
Figure 7. Pertanyaan 6
17
44%
Chart tersebut menjelaskan mengenai manfaat OCW dalam membuat akses belajar
menjadi fleksibel. Berdasarkan data di atas, 44% mahasiswa UPJ merasa setuju jika akses
belajar menjadi lebih fleksibel. Sementara itu, 2% mahasiswa UPJ merasa bahwa OCW tidak
membuat akses belajar menjadi fleksibel.
11
Figure 8. Pertanyaan 7
18
46%
Figure 9. Pertanyaan 8
Tidak Setuju
10 Kurang Setuju
26% 13 Setuju
33% Sangat Setuju
16
41%
12
Figure 10. Pertanyaan 9
20
51%
Chart tersebut menjelaskan apakah materi yang ada di OCW mudah dipahami.
Berdasarkan data di atas, 51% mahasiswa UPJ setuju jika materi yang ada di OCW mudah
dipahami. Sementara itu, hanya 5% mahasiswa UPJ yang merasa jika materi yang ada di
OCW sulit untuk dipahami.
Tidak Setuju
3
8% Kurang Setuju
12 8 Setuju
31% 21% Sangat Setuju
16
41%
13
VI. Kesimpulan dan Saran
Daftar Referensi
Carrillo, P. M., Robinson, H. S., Anumba, C. J., & Al-Ghassani, A.M. (2004). Knowledge
Management in UK constructions: Strategies, Resources, and Barriers. Project
Management Journal, 35(1), 46.
Glassop, L. I. (2002). The organizational benefits of teams. Human Relations, 55(2), 225-
249. Diakses dari
[Link]
%20av%20team%20for%[Link].
Hooff, B. V. D., & Ridde, J. A. D. (2004). Knowledge sharing in context: The influence of
organizational commitment, communication climate, and CMC use on knowledge
sharing. Journal of Knowledge Management, 8(6), 117-130. DOI:
10.1108/13673270410567675.
14
Islamy, F. J. (2013). Pengaruh budaya organisasi terhadap implementasi knowledge sharing
dosen tetap Universitas Pendidikan Indonesia Bandung tahun 2013. Jurnal Indonesia
Membangun, 14(2). Diakses dari
[Link]
Retnoningsih, E., & Utami, D. P. (2013). Penerapan knowledge management pada perguruan
tinggi (Studi kasus AMIK BSI Purwokerto). Prosiding SNST, 4, 152-158. ISBN: 978-
602-99334-2-0.
Saragih, H., Darmanto, T., Reza, B., & Setiyadi, D. (2012). Sistem informasi knowledge
management pada Perguruan Tinggi STMIK Widya Dharma Pontianak. Jurnal
Teknik dan Ilmu Komputer, 1(3), 423-437. Diakses dari
[Link]
article=199685&val=6577&title=SISTEM%20INFORMASI%20KNOWLEDGE
%20MANAGEMENT%20%20PADA%20PERGURUAN%20TINGGI%20STMIK
%20WIDYA%20DHARMA%20PONTIANAK.
15