0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan16 halaman

Pemanfaatan OCW oleh Mahasiswa UPJ

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas penggunaan Open Course Ware (OCW) pada mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ). 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemakaian OCW dan manfaat yang dirasakan mahasiswa UPJ. 3. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan kuesioner untuk 39 mahasiswa UPJ.

Diunggah oleh

Media Spektra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan16 halaman

Pemanfaatan OCW oleh Mahasiswa UPJ

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas penggunaan Open Course Ware (OCW) pada mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ). 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemakaian OCW dan manfaat yang dirasakan mahasiswa UPJ. 3. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan kuesioner untuk 39 mahasiswa UPJ.

Diunggah oleh

Media Spektra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Gambaran Penggunaan OCW pada Mahasiswa UPJ

Laporan Penelitian ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Knowledge Management

Disusun Oleh:
Olivia Ariantje Josephine – 2015031014
Risna Handayani
Orissa Raihandiva - 2016041059
Ralitza Lyvia Meirianda - 2016081016

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA


2018

1
Abstrak

Secara konseptual, Knowledge Management merupakan kegiatan organisasi dalam


mengelola pengetahuan sebagai aset, diperlukan upaya penyaluran pengetahuan yang tepat.
Penelitian ini melakukan pengujian pada gambaran penggunaan Open Course Ware (OCW)
pada mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ). Jenis knowledge management yang
digunakan adalah knowledge management sharing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pemakaian OCW pada mahasiswa UPJ dan seberapa besar dampak serta
manfaat yang dirasakan. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuantitatif dengan menggunakan kuesioner. Sample penelitian adalah 39 orang Mahasiswa
UPJ. Data dari hasil kuesioner ini diolah menggunakan modus sehingga hasil penelitian
menunjukkan bahwa Knowledge Management memiliki pengaruh signifikan pada Mahasiswa
UPJ. Pemanfaatan teknologi memiliki pengaruh positif dan signifikan pada Mahasiswa UPJ.

Kata Kunci: Teknologi informasi, perkuliahan, Universitas Pembangunan Jaya.

I. Pendahuluan
Knowledge management (KM) adalah rangkaian kegiatan yang digunakan oleh
organisasi atau perusahaan untuk mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan
mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali, diketahui, dan dipelajari di dalam
organisasi. KM juga dapat didefinisikan sebagai setiap proses atau praktik-praktik tentang
menciptakan, memperoleh, menangkap, membagi, dan menggunakan pengetahuan guna
meningkatkan pembelajaran dan performa dalam suatu organisasi (Swan, Scarborough, &
Preston dalam Saragih, Darmanto, Reza, & Setiyadi, 2012). Hadagali, Krishnamurthy, Pattar,
& Kumbar (dalam Pasaribu, 2016) menjelaskan bahwa KM membuat suatu organisasi
menjadi lebih produktif, efektif, dan sukses.
Penerapan knowledge management dibagi menjadi dua, yaitu tacit knowledge dan
explicit knowledge. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang bersifat personal
dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan
(Carrillo, Robinson, Al-Ghassani, & Anumba, 2004). Secara umum tacit knowledge
merupakan pemahaman alam bawah sadar dan berkembang berdasarkan kejadian langsung
serta pengalaman hidup. Sedangkan, explicit knowledge adalah pengetahuan yang bersifat
formal dan sistematis yang mudah untuk di komunikasikan dan di bagi (Carrillo, Robinson,

1
Al-Ghassani, & Anumba, 2004). Explicit knowledge bergantung pada pemahaman dan
aplikasi secara tacit.
Knowledge Sharing adalah suatu proses dimana individu secara mutual saling
bertukar pikiran mengenai pengetahuan yang dimiliki (tacit and explicit) dan secara bersama
menciptakan pengetahuan baru (Hoof & Ridde, 2004). Fokus utama dari knowledge sharing
dari masing-masing individu yaitu mampu menjelaskan, mengkodekan dan
mengkomunikasikan pengetahuan kepada orang lain, kelompok, dan khususnya kepada
organisasi. Knowledge sharing dapat terjadi diantara individu, dalam dan antar tim, antar unit
organisasi, dan antar organisasi (Glassop, 2002).
Penerapan knowledge management pada perguruan tinggi memiliki banyak tujuan
yaitu, meningkatkan aset pengetahuan sehingga membantu para mahasiswa untuk
mendapatkan informasi pengetahuan yang bermanfaat sehingga menimbulkan kreativitas dan
inovasi yang lebih luas dan menjadikan mahasiswa yang berkompeten. Selain itu, penerapa
KM di perguruan tinggi juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan menghemat
waktu dan biaya. Melihat hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
peran knowledge management sebagai indikasi gambaran penggunaan Open Course Ware
(OCW) pada mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ). OCW merupakan
pembelajaran berbasis web yang bersifat terbuka sehingga mudah diakses dimanapun dan
kapanpun oleh semua pihak, baik mahasiswa dalam univerisitas maupun orang lain. Metode
kuantiatif dengan melakukan penyebaran kuisioner yang dibuat oleh para penulis merupakan
salah satu cara untuk mendapatkan data yang valid sehingga dapat dengan mudah mencapai
tujuan tersebut.

II. Pertanyaan Penelitian


Pertanyaan pada penelitian ini adalah bagaimana gambaran penggunaan OCW pada
mahasiswa UPJ?

III. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemakaian OCW pada mahasiswa
UPJ dan seberapa besar dampak serta manfaat yang dirasakan. Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan informasi kepada pihak universitas terkait hal-hal yang perlu diperbaiki
dalam sistem OCW.

2
IV. Tinjauan Pustaka
A. Knowledge
Pengetahuan merupakan salah satu aset yang tidak berwujud. Menurut Nassery
(dalam Ikrahmawati, 2016), pengetahuan yang digunakan dalam organisasi merupakan
interaksi antara dua komponen yaitu human capital dan informasi. Human capital adalah
pemikiran dan karakter yang terdiri dari kompetensi manusia. Kompetensi ini ditentukan oleh
pengetahuan, imajinasi, intuisi, pendidikan, skill dan pengalaman yang dipengaruhi oleh
emosi dan atribut lain. Sedangkan, informasi meliputi dokumentasi pengalaman dan prestasi
intelektual manusia.
Van Der Spek & Spijkervet (dalam Ikrahmawati, 2016) menyatakan bahwa
pengetahuan merupakan sebagian besar ide, pengalaman, dan prosedur yang dianggap benar
dan dapat mengarahkan pikiran, perilaku, dan komunikasi dengan orang lain. Turban (dalam
Ikrahmawati, 2016) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan informasi yang telah
diorganisir dan dianalisa sehingga dapat dipahami dan diaplikasikan untuk pemecahan
masalah atau pengambilan keputusan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan jika pengetahuan
setidaknya memiliki tiga hal penting, yaitu:
1. Knowledge merupakan kumpulan informasi mengenai intuisi, pengalaman (experience)
dan urutan kegiatan (procedure).
2. Knowledge diorganisir dan dianalisis hingga dapat dimengerti dan diaplikasikan.
3. Knowledge digunakan sebagai pedoman untuk berpikir, bertingkah laku, berkomunikasi,
memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

B. Knowledge Management
Knowledge Management (KM) merupakan setiap proses atau praktik-praktik tentang
menciptakan, memperoleh, menangkap, membagi, dan menggunakan pengetahuan guna
meningkatkan pembelajaran dan performa dalam suatu organisasi (Swan, Scarborough, &
Preston dalam Saragih, Darmanto, Reza, & Setiyadi, 2012). Para ahli juga memberikan
pendapat mengenai pengertian dari KMSecara rinci, pendapat para ahli mengenai definisi
manajemen pengetahuan. Groff & Jones (dalam Ikrahmawati, 2016) menyatakan bahwa KM
merupakan alat, teknik, dan strategi untuk mempertahankan, menganalisa, meningkatkan, dan
membagikan pengalaman bisnis. Menurut Wigg (dalam Ikrahmawati, 2016), KM merupakan
pembangunan pengetahuan yang sistematis, terbuka, dan berkelanjutan untuk
memaksimalkan efektivitas pengetahuan.

3
Penerapan knowledge management dibagi menjadi dua, yaitu tacit knowledge dan
explicit knowledge. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang bersifat personal
dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan
(Carrillo, Robinson, Al-Ghassani, & Anumba, 2004). Tacit knowledge juga dapat
didefinisikan sebagai pengetahuan yang diam dalam benak manusia yang umumnya
berbentuk intuisi, penilaian, keterampilan, nilai-nilai, dan keyakinan yang sulit
diformalisasikan dan dibagi dengan orang lain (Budiastuti, 2012). Sedangkan, explicit
knowledge adalah pengetahuan yang bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk di
komunikasikan dan di bagi (Carrillo, Robinson, Al-Ghassani, & Anumba, 2004). Explicit
knowledge juga merupakan pengetahuan yang dapat atau sudah terkodifikasi dalam bentuk
dokumen atau bentuk berwujud lainnya sehingga dapat dengan mudah ditransfer dan
didistribusikan dengan menggunakan berbagai media (Budiastuti, 2012). Berdasarkan
pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa explicit knowledge adalah pengetahuan
yang bersumber dari pengetahuan tacit (tacit knowledge) yang diartikulasikan,
didokumentasikan, dikodifikasi, diorganisir, dalam sebuah media tertentu, sehingga dapat
mudah diakses dan sebarkan ke pihak lain yang memerlukan.

C. Fungsi Knowledge Management


Frappaolo & Toms (dalam Ikrahmawati, 2016) menyatakan bahwa terdapat lima
fungsi aplikasi knowledge management dalam suatu organisasi, yaitu:
1) Intermediation yaitu peran perantara transfer pengetahuan antara penyedia dan pencari
pengetahuan. Peran tersebut untuk mencocokkan (to match) kebutuhan pencari
pengetahuan dengan sumber pengetahuan secara optimal. Dengan demikain,
intermediation menjamin transfer pengetahuan berjalan lebih efisien.
2) Externalization yaitu transfer pengetahuan dari pikiran pemiliknya ke tempat
penyimpanan (repository) eksternal, dengan cara se-efisien mungkin. Externalization
dengan demikian adalah menyediakan sharing pengetahuan.
3) Internalization adalah “pengambilan” (extraction) pengetahuan dari tempat penyimpanan
eksternal, dan menyaring pengetahuan tersebut untuk disediakan bagi pencari yang
relevan. Pengetahuan harus disajikan bagi pengguna dalam bentuk yang lebih cocok
dengan pemahamannya. Maka, fungsi ini mencakup interpretasi dan format ulang
penyajian pengetahuan.

4
4) Cognition adalah fungsi suatu sistem untuk membuat keputusan yang didasarkan atas
ketersediaan pengetahuan. Cognition merupakan penerapan pengetahuan yang telah
berubah melalui tiga fungsi terdahulu.
5) Measurement yaitu kegiatan knowledge management untuk mengukur, memetakan dan
mengkuantifikasi pengetahuan korporat dan kinerja dari solusi knowledge management.

D. Proses Knowledge Management


Pelaksanaan penerapan KM terjadi menurut suatu fase tertentu, yaitu melalui proses
perolehan pengetahuan hingga penerapan pengetahuan dalam organisasi untuk mencapai
tujuan organisasi. Beckham (dalam Ikrahmawati, 2016) berpendapat bahwa terdapat delapan
tahapan dalam proses KM, yaitu identifikasi pengetahuan dasar perusahaan, formalisasi
pengetahuan, menyeleksi pengetahuan yang relevan, menyimpan pengetahuan, menyebarkan
pengetahuan, menerapkan pengetahuan, menciptakan pengetahuan, dan menyebarluaskan
pengetahuan. Liebowitz (dalam Ikrahmawati, 2016) menyatakan bahwa terdapat tiga proses
dasar dalam penerapan KM, yaitu penciptaan pengetahuan (knowledge creation), berbagi
pengetahuan (knowledge sharing), dan penerapan pengetahuan (knowledge implementing).

E. Elemen Knowledge Management


Bhatt (dalam Ikrahmawati, 2016) berpendapat bahwa KM memiliki elemen yang
saling berkaitan, yaitu people, process, dan technology. People merupakan aspek utama yang
berkontribusi terhadap KM. Peran people pada KM adalah penghasil dan penyebar
pengetahuan itu sendiri. Jika aspek ini tidak diperhatikan dengan baik, maka penerapan KM
akan mengalami kegagalan. Process merupakan hal yang berhubungan dengan proses
pengambilan nilai-nilai pengetahuan ke dalam suatu media yang kemudian disebarkan ke
setiap individu lain agar dapat digunakan kembali. Technology merupakan sebuah alat yang
mendukung aspek people dan process agar dapat berjalan dengan benar. Aspek technology
merupakan sebuah enabler terjadi suatu pengelolaan pengetahuan, seperti sebagai alat untuk
mengatur pengetahuan yang masuk, menyimpan pengetahuan yang dimasukkan kedalam
suatu system knowledge management. Jika aspek ini hanya berdiri sendiri, maka keberhasilan
dari suatu knowledge management tidak akan tercapai. Hal tersebut diasebabkan oleh karena
unsur technology hanya berperan sebagai alat pendukung terjadi proses transmisi
pengetahuan dan pendukung penyebarluasan dan pengetahuan dari unsur people, artinya
unsur technology tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya kedua unsur lainnya. Ketiga elemen

5
ini merupakan elemen penting yang dapat menentukan keberhasilan implementasi sistem
KM. Bahkan dikatakan bahwa KM itu sendiri tak lain adalah integrasi dari people dan
process, yang kemudian dimungkinkan dengan technology, untuk memfasilitasi pertukaran
informasi, pengetahuan, dan keahlian sehingga meningkatkan performansi organisasi.

F. Knowledge Sharing
Raskov (dalam Islamy, 2013) berpendapat bahwa knowledge sharing terjadi
antar individu dalam suatu komunitas, di mana individu
berinteraksi dan bebagi pengetahuan
dengan individu lainnya melalui ruang maya atau tatap muka.
Menurut Alawi (dalam Islamy, 2013) knowledge sharing
mengharuskan individu atau kelompok untuk saling bekerjasama
dengan lainnya untuk menyebarkan pengetahuan dan mendapat
keuntungan. Hoof & Ridde (2004) menyatakan bahwa knowledge sharing terdiri dari dua
proses, yaitu knowledge donationg dan knowledge collecting. Knowledge donating
merupakan proses dimana pengetahuan yang dimiliki oleh individu dikomunikasikan kepada
orang lain. Sedangkan, knowledge collecting merupakan proses konsultasi dengan rekan kerja
untuk mendapatkan pengetahuan dari mereka. Tobing (dalam Islamy, 2013) menyatakan
bahwa melalui knowledge sharing akan terjadi eksploitasi maksimal dari suatu pengetahuan.
Selain mengeksploitasi pengetahuan secara maksimal, knowledge sharing juga dapat
membukakan kesempatan untuk mengeksplorasi pengetahuan untuk mendapatkan atau
menciptakan knowledge baru. Knowledge sharing memiliki beberapa fungsi, yaitu:
1. Menciptakan kesempatan yang sama bagi anggota organisasi untuk mengakses
pengetahuan dan mempelajarinya.
2. Meningkatkan kesempatan belajar atau mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk
memperoleh dan mempelajari pengetahuan baru.
3. Mempercepat penyelesaian tugas atau masalah, karena penyelesaian tidak lagi dimulai
dari titik nol.
4. Menyelesaikan suatu masalah dengan memanfaatkan metode yang sudah terbukti efektif
di unit atau di tempat lain.
5. Menyediakan bahan dasar bagi inovasi berupa pengetahuan yang bervariasi dan
multiperspektif.

6
G. Penerapan Knowledge Management di Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan
formal setelah jenjang pendidikan menengah umum dengan bentuk perguruan tinggi berupa
akademi, politeknik, sekolah tinggi, institute, dan universitas (Prabowo, 2010). Perguruan
tinggi juga merupakan suatu organisasi dimana banyak pengetahuan atau knowledge
diciptakan dan digunakan secara berkesinambungan (Retnoningsih & Utami, 2013). Oleh
karena itu, mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan kepada mahasiswa merupakan
tugas utama yang harus dijalankan oleh perguruan tinggi. Secara umum perguruan tinggi
mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan fungsi layanan Tri Dharma Perguruan Tinggi
yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pelayanan kepada masyarakat (Budiastuti,
2012). Pada kajian pendidikan tinggi, pengetahuan merupakan unsur pembentuk keunggulan
bersaing yang berkesinambungan dan juga merupakan value bagi perguruan tinggi tersebut.
Oleh karena itu, perspektif pengetahuan pada perguruan tinggi mengandung pengertian
penggalian pengetahuan secara internal dan eksternal baik sebagai sumberdaya maupun
output dari proses pengembangan KM yang dijalankan oleh perguruan tinggi itu sendiri.
Devenport (dalam Budiastuti, 2012) membagi pelaksanaan knowledge management dalam 4
proses utama yaitu menyediakan tempat penyimpanan pengetahuan, memperbaiki akses pada
pengetahuan, memajukan lingkungan pengetahuan, dan mengelola pengetahuan sebagai aset.
Pada proses menciptakan tempat penyimpanan knowledge, perguruan tinggi perlu
menyediakan tempat dokumen tercetak atau elektronik, seperti skripsi, tesis, disertasi, hasil
penelitian dan publikasi, serta hasil kegiatan operasional layanan akademik lainnya untuk
memudahkan penyimpanan dan pengambilan kembali dokumen-dokumen tersebut. Perlu
perbaikan akses dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu
perguruan tinggi juga perlu mengelola organisasi yang mendorong terbentuknya budaya
knowledge creation, knowledge sharing, dan knowledge utilization dengan berbagai cara.
Mengelola knowledge sebagai aset, artinya knowledge dianggap sebagai resource yang
bernilai yang dapat dijadikan kompetensi inti perguruan tinggi tersebut.

V. Hasil dan Pembahasan


Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner sendiri
merupakan cara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi, tes dan skala, serta
kuesioner dalam survei biasanya digunakan untuk topik penelitian tertentu dan cenderung
untuk mendapatkan pendapat seseorang (Coolican, 2013). Kuesioner diberikan kepada

7
mahasiswa/i Universitas Pembangunan Jaya yang merupakan responden dalam penelitian ini.
Setelah data telah terkumpul, peneliti kemudian mengolahnya dengan menggunakan modus.
Gambaran umum responden didasarkan pada program studi yang ada di UPJ, yaitu
Akuntansi, Psikologi, Sistem Informasi, Manajemen, Teknologi Informasi, Teknik Sipil,
Arsitektur, Desain Produk, Desain Komunikasi Visual, dan Ilmu Komunikasi. Jumlah
responden yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 39 responden. Gambaran umum
responden dalam penelitian ini tergambar melalui chart di bawah ini.

Figure 1. Gambaran Umum Responden

Program Studi
14 12
12 10
10
8 7
6 5
4 2
2 1 1 1
0 0
0
si gi as
i
en as
i
ip
il
tu
r k
ua
l si
n ta o lo m m m S e k o du i s ika
ik r e r ik un
Ak
u
Ps fo aj fo rs
it Pr iV
In an In e kn A in kas om
M i T s a i K
em og De un u
st ol m
Si k n
K om I l
Te n
sai
De

Responden yang berasal dari Sistem Informasi merupakan responden terbanyak dalam
penelitian ini, yaitu 12 responden. Sedangkan, tidak ada responden yang berasal dari
Arsitektur dan Desain Produk.

8
Figure 2. Pertanyaan 1

Saya merasa terbantu dengan adanya OCW


4
10%

15 Tidak Membantu
38% Kurang Membantu
Membantu
Sangat Membantu

20
51%

Chart tersebut menjelaskan apakah mahasiswa merasa terbantu dengan adanya OCW.
Hasil menunjukkan bahwa 51% mahasiswa merasa terbantu dengan adanya OCW.
Sedangkan, tidak ada mahasiswa yang merasa OCW tidak membantu proses pembelajaran.

Figure 3. Pertanyaan 2

Saya mendapat referensi untuk keperluan


mata kuliah dari OCW
6
15% Tidak Setuju
Kurang Setuju
16 Setuju
41% Sangat Setuju

17
44%

Chart tersebut menjelaskan apakah mahasiswa mendapat referensi mata kuliah dari
OCW. Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa 44% responden setuju bahwa mereka
mendapat referensi dari OCW. Sedangkan, tidak ada responden yang tidak setuju bahwa
OCW membantu dalam mendapatkan referensi untuk keperluan mata kuliah.

9
Figure 4. Pertanyaan 3

Saya mencari tahu informasi KOTA


melalui OCW
1
3% 5
13% Tidak Setuju
Kurang Setuju
15
38% Setuju
Sangat Setuju

18
46%

Chart tersebut menjelaskan apakah mahasiswa mencari informasi KOTA melalui


OCW. Hasil menunjukkan bahwa 46% mahasiswa UPJ setuju bahwa mereka mencari
informasi mengenai KOTA melalui OCW. Sementara itu, 3% mahasiswa tidak mencari
informasi KOTA melalui OCW.

Figure 5. Pertanyaan 4

Saya merasa tampilan yang ada di OCW


menarik
5 4
13% 10% Tidak Setuju
Kurang Setuju
Setuju
Sangat Setuju

14
16 36%
41%

Chart tersebut menjelaskan apakah tampilan yang ada di OCW menarik. Berdasarkan
data di atas, 41% mahasiswa UPJ setuju jika tampilan di OCW menarik bari diri mereka.
Sedangkan, 10% mahasiswa UPJ tidak setuju jika tampilan OCW menarik.

10
Figure 6. Pertanyaan 5

OCW kurang membantu saya dalam


mencari informasi mata kuliah
5
13% Tidak Setuju
10
26% Kurang Setuju
Setuju
8 Sangat Setuju
21%

16
41%

Chart tersebut menjelaskan apakah OCW membantu mahasiswa dalam mencari


informasi terkait dengan mata kuliah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa 41% mahasiswa
merasa OCW kurang membantu mereka dalam mencari informasi mata kuliah. Sedangkan,
13% mahasiswa merasa sangat terbantu dengan adanya OCW untuk mencari informasi mata
kuliah.

Figure 7. Pertanyaan 6

Saya merasa OCW membuat akses belajar


menjadi lebih fleksibel
1
3% 5
13% Tidak Setuju
Kurang Setuju
16 Setuju
41% Sangat Setuju

17
44%

Chart tersebut menjelaskan mengenai manfaat OCW dalam membuat akses belajar
menjadi fleksibel. Berdasarkan data di atas, 44% mahasiswa UPJ merasa setuju jika akses
belajar menjadi lebih fleksibel. Sementara itu, 2% mahasiswa UPJ merasa bahwa OCW tidak
membuat akses belajar menjadi fleksibel.

11
Figure 8. Pertanyaan 7

Saya mencari tahu informasi mata kuliah


wajib melalui OCW
2
5% 3
8% Tidak Setuju
Kurang Setuju
16 Setuju
41% Sangat Setuju

18
46%

Chart tersebut menjelaskan mengenai penggunaan OCW dalam mencari informasi


mata kuliah wajib. Hasil menunjukkan jika 46% mahasiswa UPJ menggunakan OCW untuk
mencari informasi terkait mata kuliah wajib. Tetapi, 5% mahasiswa tidak menggunakan
OCW untuk mencari informasi mata kuliah wajib.

Figure 9. Pertanyaan 8

Materi pembelajaran di OCW lengkap


untuk satu semester

Tidak Setuju
10 Kurang Setuju
26% 13 Setuju
33% Sangat Setuju

16
41%

Chart tersebut menjelaskan mengenai kelengkapan materi dalam OCW. Berdasarkan


data di atas, 41% mahasiswa UPJ merasa bahwa materi yang ada di OCW sudah lengkap.
Sedangkan, 26% mahasiswa UPJ merasa jika materi yang ada di OCW kurang lengkap.

12
Figure 10. Pertanyaan 9

Materi yang ada di OCW mudah dipahami


2
5%
9
23% 8 Tidak Setuju
21% Kurang Setuju
Setuju
Sangat Setuju

20
51%

Chart tersebut menjelaskan apakah materi yang ada di OCW mudah dipahami.
Berdasarkan data di atas, 51% mahasiswa UPJ setuju jika materi yang ada di OCW mudah
dipahami. Sementara itu, hanya 5% mahasiswa UPJ yang merasa jika materi yang ada di
OCW sulit untuk dipahami.

Figure 11. Pertanyaan 10

Tampilan di OCW memudahkan saya


untuk mencari informasi mata kuliah

Tidak Setuju
3
8% Kurang Setuju
12 8 Setuju
31% 21% Sangat Setuju

16
41%

Chart tersebut menjelaskan mengenai tampilan OCW dalam memudahkan mahasiswa


mencari informasi. Berdasarkan data di atas, 41% mahasiswa setuju jika tampilan OCW
memudahkan dalam mencari informasi. Sementara itu, 8% mahasiswa merasa bahwa
tampilan OCW menyulitkan dalam mencari informasi.

13
VI. Kesimpulan dan Saran

Daftar Referensi

Budastuti, D. (2012). Model knowledge management di perguruan tinggi. BINUS Business


Review, 3(1), 52-60. Diakses dari
[Link]

Carrillo, P. M., Robinson, H. S., Anumba, C. J., & Al-Ghassani, A.M. (2004). Knowledge
Management in UK constructions: Strategies, Resources, and Barriers. Project
Management Journal, 35(1), 46.

Glassop, L. I. (2002). The organizational benefits of teams. Human Relations, 55(2), 225-
249. Diakses dari
[Link]
%20av%20team%20for%[Link].

Hooff, B. V. D., & Ridde, J. A. D. (2004). Knowledge sharing in context: The influence of
organizational commitment, communication climate, and CMC use on knowledge
sharing. Journal of Knowledge Management, 8(6), 117-130. DOI:
10.1108/13673270410567675.

Ikrahmawati. (2016). Pengaruh knowledge management terhadap kinerja karyawan


(Skripsi). Diakses pada tanggal 19 Mei 2018 dari [Link].

14
Islamy, F. J. (2013). Pengaruh budaya organisasi terhadap implementasi knowledge sharing
dosen tetap Universitas Pendidikan Indonesia Bandung tahun 2013. Jurnal Indonesia
Membangun, 14(2). Diakses dari
[Link]

Pasaribu, I. M. (2016). Implementasi knowledge management dan analisis SWOT di


perpustakaan perguruan tinggi. Jurnal Ilmu Perpustakaan & Informasi, 1(2), 156-170.
Diakses dari [Link]
[Link].

Prabowo, H. (2010). Knowledge management di perguruan tinggi. Binus Business Review,


1(2), 407-415. Diakses dari [Link]
[Link].

Retnoningsih, E., & Utami, D. P. (2013). Penerapan knowledge management pada perguruan
tinggi (Studi kasus AMIK BSI Purwokerto). Prosiding SNST, 4, 152-158. ISBN: 978-
602-99334-2-0.

Saragih, H., Darmanto, T., Reza, B., & Setiyadi, D. (2012). Sistem informasi knowledge
management pada Perguruan Tinggi STMIK Widya Dharma Pontianak. Jurnal
Teknik dan Ilmu Komputer, 1(3), 423-437. Diakses dari
[Link]
article=199685&val=6577&title=SISTEM%20INFORMASI%20KNOWLEDGE
%20MANAGEMENT%20%20PADA%20PERGURUAN%20TINGGI%20STMIK
%20WIDYA%20DHARMA%20PONTIANAK.

15

Anda mungkin juga menyukai