0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan48 halaman

Stress dan Leukorrhea pada Siswa SMK

Proposal skripsi ini membahas hubungan antara tingkat stres dengan kejadian leukorrhea pada siswi SMK Negeri 2 Mantangai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tingkat stres berhubungan dengan kejadian leukorrhea dan manfaatnya untuk mengetahui faktor risiko terjadinya leukorrhea.

Diunggah oleh

auu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan48 halaman

Stress dan Leukorrhea pada Siswa SMK

Proposal skripsi ini membahas hubungan antara tingkat stres dengan kejadian leukorrhea pada siswi SMK Negeri 2 Mantangai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tingkat stres berhubungan dengan kejadian leukorrhea dan manfaatnya untuk mengetahui faktor risiko terjadinya leukorrhea.

Diunggah oleh

auu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRESS DENGAN KEJADIAN

LEUKORRHEA PADA SISWA PUTRI SMK NEGERI 2 MANTANGAI


KECAMATAN MANTANGAI KABUPATEN KAPUAS
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

PROPOSAL SKRIPSI

Untuk memenuhi persyaratan


memperoleh gelar kesarjanaan Kedokteran

Oleh:

Marturia Drifany
NPM: 18700004

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
2021
HALAMAN PERSETUJUAN

PROPOSAL SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRESS DENGAN KEJADIAN


LEUKORRHEA PADA SISWA PUTRI SMK NEGERI 2 MANTANGAI
KECAMATAN MANTANGAI KABUPATEN KAPUAS
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna


memperoleh gelar sarjana kedokteran

Oleh:
Marturia Drifany
NPM: 18700004

Menyetujui untuk diuji

pada tanggal : 1 Mei 2021

Pembimbing, Penguji

dr. Akhmad Sudibya, M. Kes dr. Akmarawita Kadir, [Link], AIFO


NIK. 95256-ET NIK. 02373-ET

i
HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRESS DENGAN KEJADIAN


LEUKORRHEA PADA SISWA PUTRI SMK NEGERI 2 MANTANGAI
KECAMATAN MANTANGAI KABUPATEN KAPUAS
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna


memperoleh gelar sarjana kedokteran

Oleh:
Marturia Drifany
NPM: 18700004

Menyetujui untuk diuji

pada tanggal : 1 Mei 2021

Pembimbing, Penguji

dr. Akhmad Sudibya, M. Kes dr. Akmarawita Kadir, [Link], AIFO


NIK. 95256-ET NIK. 02373-ET

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis persembahkan ke hadirat Tuhan yang Mahaesa,

karena oleh berkat dan rahmatnya yang sungguh besar penulis dapat

menyelesaikan penyusunan laporan proposal penelitian dengan judul “Hubungan

antara Tingkat Stress dengan Kejadian Leukorrhea pada Siswa SMK Negeri 2

Mantangai Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan

Tengah”.

Penyusunan laporan proposal penelitian ini adalah untuk memenuhi salah satu

persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran di Fakultas Kedokteran

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Penyusunan proposal ini dapat

diselesaikan dengan baik berkat dukungan dari banyak pihak. Untuk itu, pada

kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Yth. Prof. Dr. Suhartati, dr., MS. selaku Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang telah memberikan kesempatan

kepada penulis untuk menyelenggarakan penelitian ini.

2. Yth. dr. Akhmad Sudibya, [Link]. selaku dosen pembimbing dari penulis

yang sudah memberikan bimbingan, saran dan motivasi yang luar biasa;

3. Yth. dr. Akhmarawita Kadir, [Link],AIFO selaku penguji Proposal

Skripsi;

4. Yth. Segenap Tim Pelaksana Tugas Akhir dan sekretariat Tugas Akhir

Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang telah

memberi fasilitas dalam proses pembuatan Proposal Skripsi ini;

iii
5. Ytc. orang tua penulis yang selalu memberi doa dan dukungan sehingga

penulis dapat menyelesaikan Proposal Skripsi ini;

6. Semua pihak yang tidak mungkin dapat penulis sebutkan satu persatu yang

telah memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan Proposal

Skripsi ini.

Penulis menyadari proposal skripsi ini tidak luput dari berbagai

kekurangan. Penulis mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan dan

perbaikannya sehingga laporan proposal skripsi ini dapat memberikan manfaat

bagi bidang pendidikan dan penerapan dilapangan serta dapat dikembangkan lagi

lebih lanjut.

Palangkaraya, 30 April 2021

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Halaman

Judul................................................................................................................ i
Halaman Persetujuan ....................................................................................... ii
Halaman Pengesahan........................................................................................ iii
Kata Pengantar.................................................................................................. iv
Daftar Isi........................................................................................................... v
Daftar Tabel ..................................................................................................... vii
Daftar Gambar ................................................................................................. viii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang......................................................................... 1

B. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian.......................... 4

C. Tujuan Penelitian...................................................................... 4

D. Manfaat Hasil Penelitian.......................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Stress............................................................................................... 7

1. Definisi Stress.................................................................... 7

2. Gejala Stress....................................................................... 8

3. Aspek-aspek Stress............................................................ 8

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stress.......................... 9

v
B. Leukorrhea.................................................................................... 10

1. Definisi Leukorrhea............................................................ 10

2. Penyebab Leukorrhea......................................................... 11

3. Jenis-jenis Leukorrhea........................................................ 12

C. Hormon........................................................................................... 15

D. Lingkungan..................................................................................... 18

E. Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian Leukorrhea................ 19

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep ..................................................................... 20

B. Penjelasan Kerangka Konsep................................................... 21

C. Hipotesis Penelitian.................................................................. 21

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian................................................................ 22

B. Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................... 22

C. Populasi dan Sampel/Subyek Penelitian.................................... 22

1. Populasi................................................................................. 22

2. Sampel.................................................................................. 23

D. Variabel Penelitian.................................................................... 24

E. Definisi Operasional.................................................................. 24

F. Prosedur Penelitian.................................................................... 26

G. Analisa Data.............................................................................. 33

vi
Daftar Pustataka

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel IV.1 Definisi Operasional ...................................................................... 18

Tabel IV.2 Kuesioner Stres .............................................................................. 25

Tabel IV.3 Kuesioner Keputihan ..................................................................... 26

vii
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar III.1 Kerangka Konsep........................................................................ 5

viii
ix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keputihan merupakan cairan yang diproduksi oleh alat reproduksi

wanita secara berkala. Cairan ini berfungsi untuk membersihkan dan

melembabkan vagina secara alami. Sebanyak 75% wanita di Indonesia

pernah mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya dan 45%

diantaranya mengalami keputihan dua kali atau lebih (Karyati, 2014). Hal

ini dikarenakan Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga

membuat keadaan tubuh menjadi lembab dan mudah berkeringat yang

dapat menyebabkan bakteri mudah berkembang dan menimbulkan

gangguan pada bagian lipatan tubuh terutama lipatan organ genitalia.

Selain itu masih banyak orang yang menganggap bahwa keputihan adalah

hal yang wajar atau normal. Namun pendapat ini tidak selalu benar, karena

keputihan dapat disebabkan oleh berbagai hal. Kurangnya pengetahuan

mengenai keputihan merupakan suatu masalah besar, karena keputihan

dapat menjadi tanda dari suatu penyakit (Febryary et al., 2016 dalam

Andriani, Maidaliza and Alvaensi, 2020). Keputihan merupakan masalah

yang harus segera ditangani, hal ini disebabkan apabila keputihan yang

dialami pada masa remaja selama 3 bulan berturut-turut dan tidak diobati

dengan tepat maka dapat menyebabkan penyakit infeksi kandungan

(Kursani, et all., 2015 dalam Pitriani, 2020). Keputihan dibagi menjadi 2

jenis yaitu keputihan normal dan keputihan abnormal (patologis).

1
2

Keputihan normal merupakan keputihan yang terjadi sejalan dengan

kejadian menstruasi. Sedangkan keputihan abnormal merupakan keputihan

yang disebabkan karna faktor patologis. Faktor patologis yang sering

mengakibatkan keputihan adalah infeksi bakteri, parasit, jamur dan virus

(Gusti Ayu Marhaeni, 2016). Selain itu keputihan juga dapat disebabkan

oleh karena gangguan hormon, stress, kelelahan kronis, peradangan pada

alat kelamin, benda asing dalam vagina, serta adanya penyakit dalam

organ reproduksi seperti kanker serviks (Fadilla dkk, 2012 dalam Abrori

Abrori, Andri Dwi Hernawan dan Ermulyadi Ermulyadi, 2017)).

Stress merupakan kondisi fisik ketika seseorang yang sedang men-

galami tekanan akibat perubahan lingkungan. Dalam buku Health

Psychol-ogy Biopsychosocial Interactions, stress didefinisikan sebagai

kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan,

men-imbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari

situasi yang bersumber pada sistem biologis, sistem psikologis dan sistem

sosial dari seseorang (Sarafino 2012). Stress dibagi menjadi 3 tingkatan,,

yaitu stress ringan, sedang dan berat. Stress ringan merupakan stress yang

tidak mempengaruhi aspek fisiologis dari seseorang. Stres ringan yaitu

bentuk stress yang dialami oleh setiap orang misalnya lupa, dikritik,

ketiduran dan mengalami macet dijalan. Stress ringan tidak berlangsung

lama hanya terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam. Stress

sedang merupakan stress yang dialami selama beberapa jam sampai

beberapa hari. Sedangkan stress berat merupakan bentuk stress kronis

yang terjadi dalam beberapa minggu hingga bertahun-tahun (Rasmun,


3

2004 dalam Riza Mahmud and Zahrotul Uyun, 2013). Berdasarkan

penelitian menunjukan bahwa stress memberi konstribusi sebesar 50%

sampai 70% terhadap sebagian besar masalah kesehatan seperti penyakit

kardiovaskuler, kanker, tekanan darah tinggi, penyakit kulit, infeksi,

penyakit metabolik, hormon serta masalah kelainan lainnya (Musradinur,

2016).

Pada umumnya, stress dapat menggangu siklus hidup dari

seseorang. Siklus hidup yang terganggu dapat menyebabkan gangguan

kesehatan. Hal ini dapat memicu terjadinya gangguan menstruasi dan

keputihan. Menurut Hurlock (2013) dibandingkan dengan kelompok anak-

anak dan orangtua, masa remaja merupakan masa yang paling berat.

Karena pada masa remaja merupakan masa transisi dimana terjadi

perubahan secara anatomis, fisiologis, fungsi emosional dan imtelektual

serta hubungan di lingkungan sosial (Rahmawati, Rohaedi and Sumartini,

2019). Salah satu kelompok yang rentan mengalami stres adalah seseorang

yang sedang menjalani pendidikan. Stress yang biasanya dialami

disebabkan karena banyaknya tuntutan dan tanggung jawab akademik

yang harus dihadapi. Kondisi tubuh pada saat stress akan mengalami

perubahan, termasuk perubahan pada hormon-hormon reproduksi. Hal ini

dapat memicu terjadinya gangguan menstruasi dan keputihan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Agustiyani (2011) di

SMA Taman Madya JetisYogyakarta pada remaja putri kelas X dan kelas

XI dengan responden berjumlah 32 orang, menyatakan bahwa tingkat

stress pada remaja putri kelas X dan XI yang mengalami stress ringan
4

sebanyak 20 orang (62,5%) dan yang mengalami stress sedang sebanyak

12 orang (37,5). Kejadian keputihan pada remaja putri sebanyak 17 orang

(53,1%) sedangkan remaja putri yang tidak mengalami keputihan

sebanyak 15 orang (46,9%). Ada hubungan yang bermakna antara tingkat

stress dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMA Taman Madya

Jetis Yogyakarta (Agustiyani, 2011).

Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul skripsi “Hubungan

Antara Tingkat Stress dengan Kejadian Leukorrhea pada Siswa Putri SMK

Negeri 2 Mantangai Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Provinsi

Kalimantan Tengah”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk diketahuinya

hub-ungan tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada remaja/siswi

yang sedang menjalani pendidikan.

B. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

1. Rumusan masalah

Berdarakan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah

penelitian yaitu “Apakah ada hubungan antara tingkat stress dengan

kejadian leukorrhea pada siswa putri SMK Negeri 2 Mantangai,

Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah?”

2. Pertanyaan penelitian

a. Apakah tingkat stress berpengaruh terhadap kejadian leukorrhea?

b. Bagaimana tingkat stress dapat mempengaruhi kejadian

leukorrhea?
5

C. Tujuan

1. Tujuan umum

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan

antara tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada siswa putri yang

ada di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai Kabupaten

Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.

2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi tingkat stress remaja putri pada siswa putri yang

ada di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai,

Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.

b. Mengidentifikasi keluhan leukorrhea (keputihan) pada siswa putri

yang ada di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai,

Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.

c. Membuktikan hubungan antara tingkat stress dengan kejadian

leukorrhea pada siswa putri yang ada di SMK Negeri 2 Mantangai,

Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

D. Manfaat Hasil Penelitian

1. Manfaat bagi masyarakat

Menambah informasi bagi masyarakat tentang adanya

hubungan antara tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada siswa


6

putri yang ada di SMK 2 Negeri Mantangai, Kecamatan Mantangai,

Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.

2. Manfaat bagi peneliti

Menambah referensi khususnya mengenai adanya hubungan

antara tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada siswi yang

bersekolah di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai,

Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.

3. Manfaat bagi institusi terkait

Menambah referensi khususnya mengenai adanya hubungan antara

tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada siswi yang ada di SMK

Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas,

Kalimantan Tengah.

4. Manfaat bagi ilmu pengetahuan

a. Menambah pengetahuan tentang adanya hubungan antara tingkat

stress dengan kejadian leukorrhea pada remaja/siswi.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan peneliti

selanjutnya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Stress

1. Definisi Stress

Stress adalah kondisi yang disebabkan oleh suatu kondisi transaksi

antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan tuntuntutan-

tuntuntan yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial

dari seseorang. Stress merupakan bagian dari kehidupan manusia,

mun-culnya stress ini disebabkan oleh faktor dari dalam maupun dari

luar diri seseorang. Dalam buku Pedoman Strategi dan Langkah Aksi

Pengelolaan Stres, secara spesifik stress dapat diartikan sebagai respon

fisik secara otomatis terhadap tantangan atau situasi yang mengharus-

kan seseorang untuk beradaptasi (Argadikoesoema, 2019). Stress

dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu distress dan eustress. Distress yaitu

stress yang dapat memberikan dampak negatif sehingga dapat

menggangu, merusak, dan merugikan seseorang. Keadaan ini akan

muncul apabila seseorang tidak mampu mengendalikan emosinya. Ada

beberapa tanda dari seseorang yang mengalami distress seperti cepat

tersinggung, mudah marah, tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, sulit

dalam mengambil keputusan, mudah lupa, selalu murung, tidak

bersemangat dan sering kebingungan. Sedangkan eustress merupakan

kebalikan dari distress, dimana eustress adalah bentuk stress yang

positif. Apabila seseorang dapat mengelola stress dengan baik maka

akan memberikan manfaat dan menambah semangat dalam

7
8

menghadapi suatu keadaan dan mencapai sesuatu (Rossadea Atziza,

2015).

2. Gejala Stress

Menurut David (2013) gejala stress dapat muncul berbeda-beda

pada setiap orang, hal ini disebabkan setiap orang memiliki respon

berbeda-beda terhadap stress yang sedang dihadapi. Namun terdapat

gejala umum dari stress, yaitu gemetar yang tidak terkendali, bernapas

cepat, dan muncul rasa mual. Stress juga dapat memicu meningkatkan

resiko serangan asma. Selain itu stress juga dapat berdampak langsung

pada seseorang yang sedang mengalami stress, sedangkan gejala stress

lainnya dapat berdampak pada hubungan seseorang dengan orang lain.

bahkan sebagian orang mengalami keduanya saat mengalami stress

yang lebih berat.

3. Aspek-aspek Stress

Menurut Sarafino dan Smith (2012) terdapat 2 aspek penting dari

stress, yaitu:

1). Aspek Biologis

Aspek biologis dari stress yaitu berupa gejala fisik. Gejala fisik

yang dimaksud dapat berupa sakit kepala, sulit tidur, perncernaan

terganggu, nafsu makan terganggu, dan produksi keringat yang

berlebihan. Selain itu dapat muncul juga gejala seperti otot terasa

tegang, pernapasan tidak teratur, gugup, cemas, gelisah, maag dan lain

sebagainya.
9

2). Aspek Psikologis

Aspek psikologis dari stress dapat menimbulkan gejala psikis.

Gejala psikis yang ditimbulkan sebagai berikut:

a) Gejala kognisi (pikiran) yaitu kondisi yang dapat menyebabkan

terganggunya proses berpikir seseorang. Seseorang yang sedang

stress dapat menyebabkan seseorang tersebut mengalami gangguan

konsentrasi, daya ingat dan perhatian. Selain itu gejala kognisi ini

dapat menyebabkan rasa ketakutan yang berlebihan pada

kegagalan, cemas akan masa depan, emosi yang tidak stabil dan

tidak dapat mengendalikan tindakan sendiri.

b) Gejala emosi, seseorang yang sedang mengalami stress cenderung

memiliki emosi yang tidak stabil. Emosi yang tidak stabil ini akan

menyebabkan seseorang mudah marah, kecemasan yang

berlebihan, merasa sedih dan depresi.

Gejala tingkah laku, stress dapat memberikan pengaruh buruk

pada tingkah laku seseorang sehingga menimbulkan masalah

dalam kehidupan interpersonal. Gejala yang timbul dapat berupa

kesulitan bekerja sama, minat menurun terhadap hal tertentu, tidak

dapat merasakan rileks, mudah merasa kaget, konsumsi rokok,

alkohol, dan obat-obatan menjadi meningkat.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stress

Berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan dapat menjadi

pemicu atau faktor seseorang mengalami stress. Permasalahan yang


10

dialami oleh seseorang dapat dipengaruhi keadaan sekitar yang

membuat seseorang menjadi tidak nyaman dalam menjalani kehidupan

sehari-hari. Faktor yang dapat menyebabkan stress disebut stressor.

Terdapat dua stressor yang dapat menyebabkan stress yaitu stressor

internal dan stressor eksternal. Stressor internal merupakan penyebab

stress yang berasal dari dalam diri dan penyebab stress yang paling

umum, salah satunya adalah kondisi fisik atau emosi dalam diri

seseorang. Stressor internal juga disebabkan karena rasa khawatir yang

berlebihan terhadap hal-hal yang tidak dapat dikendalikan dan

cenderung menempatkan diri sendiri dalam situasi yang dapat

menyebabkan stress. Sedangkan stressor eksternal merupakan

penyebab stress yang berasal dari luar diri seseorang, seperti

lingkungan sosial atau lingkungan keluarga serta kesibukan sehari-

hari. Misalnya bekerja terlalu keras dan tidak mengatur waktu dengan

baik.

B. Leukorrhea

1. Definisi Leukorrhea

Leukorrhea atau keputihan merupakan cairan yang keluar dari

organ genitalia wanita, cairan ini berwarna putih, kekuningan ataupun

kehijauan. Selain itu leukorrhea juga disebut sebagai cairan yang

keluar dari vagina namun bukan darah. Cairan yang keluar dapat

berasal dari vagina, serviks, tuba uterin, atau ovarium. Cairan tersebut

menjadi tanda adanya pengelupasan epitel dinding dari vagina yang


11

disebabkan oleh hormon estrogen yang ada pada mukosa vagina

(Inaam, 2015 dalam Raden Rara Pandhan Budi Larasati 2019).

Leukorrhea bukan merupakan penyakit namun manisfestasi gejala

penyakit organ genitalia.

2. Penyebab Leukorrhea

Leukorrha atau keputihan dapat disebabkan oleh kondisi

nonpatologis dan patologis. Kondisi nonpatologis yang dapat

menyebabkan leukorrhea adalah masa ketika menjelang mestruasi atau

setelah menstruasi, saat sedang hamil, mendapat rangsangan seksual,

dan saat mengalami stress fisik atau stress psikolgis. Sedangkan

kondisi patologis yang dapat menyebabkan leukorrha adalah infeksi

jamur, infeksi bakteri , infeksi parasit jenis protozoa dan infeksi

gonorhoe (Manuaba, 2010 dalam Supriyantiningsih, 2015).

Virus, bakteri, kuman, hormon, vulva hygiene dan aktivitas

yang membuat tubuh lelah, merupakan faktor penyebab yang memicu

mun-culnya keputihan (Bahari 2012 dalam Rika Puji Rahayu, Fitriani

Nur Damayanti dkk, 2015). Keputihan yang disebabkan oleh kondisi

tubuh hanya muncul ketika tubuh dalam keaadaan lelah dan kembali

seperti biasa saat tubuh kembali normal. Keputihan juga dapat

disebabkan oleh adanya peningkatan hormon progesteron yang

merubah flora dan pH vagina, hal ini menyebabkan jamur tumbuh di

vagina dan menyebabkan keputihan. Selain itu faktor yang dapat

menyebabkan keputihan adalah kurangnya menjaga kebersihan seperti


12

air yang digunakan untuk mem-basuh vagina tidak bersih, celana yang

terlalu ketat, dan cara penggunaan pembalut yang tidak baik.

3. Jenis-jenis Leukorrhea

Menurut Gusti Ayu Marhaeni (2016) keputihan dibedakan menjadi

2 jenis, yaitu: kepuithan normal (fisiologis) dan keputihan abnormal

(patologis).

a. Keputihan normal

Keputihan normal adalah keputihan yang muncul saat

menjelang menstruasi, pada hari ke 10-16 menstruasi saat fase

sekresi. Keputihan normal dipengaruhi oleh hormone estrogen dan

progesteron yang dihasikan saat proses ovulasi. Setelah proses

ovulasi, vaskularisasi dari endometrium akan meningkat yang

menyebabkan endometrium menjadi sembab. Kelenjar

endometrium akan berkelok-kelok oleh karena hormon estrogen

dan progesteron dari korpus luteum yang mneyebabkan keluarnya

cairan jernih yang disebut dengan keputihan. Hormon estrogen dan

progesteron juga dapat membuat lendir yang terdapat di serviks

menjadi lebih encer sehingga timbul keputihan pada proses

ovulasi. Estrogen menyebab mukus pada servik menipis dan

pHnya menjadi basa yang menyebabkan hidup dan gerak sperma

menjadi meningkat, sedangkan progesteron menyebabkan

penebalan pada mucus, menjadi kental, dan elastis saat ovulasi.


13

Keputihan fisiologis berupa cairan yang mengandung

banyak epitel dan mengandung sedikit leukosit. Keputihan normal

memiliki ciri-ciri sebagai berikut: cairan bening, kadang-kadang

putih kental , tidak berbau, dan tidak disertai keluhan gatal, paas,

nyeri ataupun rasa terbakar dan jumlah cairan yang keluar sedikit.

b. Keputihan abnormal

Infeksi alat kelamin (infeksi bibir kemaluan, liang

senggama, mulut rahim dan penyakit yang disebabkan oleh

penyakit menular seksual) merupakan penyebab utama dari

keputihan abnormal. Ciri-ciri dari keputihan abnormal adalah

ditemukan jumlah leukosit yang meningkat, timbul terus-menerus,

warna cairan berubah menjadi kekuningan, kehijauan, keabuan,

dan menyerupai susu), serta muncul keluhan seperti gatal, panas

dan nyeri serta mengeluarkan bau yang tidak sedap (amis, busuk

serta apek). Berikut faktor yang dapat memicu munculnya

keputihan abnormal adalah:

1). Kelelahan fisik

Kelehana fisik yang membutuhkan banyak energy

dapat menekan sekresi hormon estrogen. Menurunnya sekresi

hormon estrogen menyebabkan penurun kadar glikogen.

Glikogen bahan yang digunakan oleh Lactobacillus doderlein

untuk metabolisme. Sisa dari hasil metabolisme ini

digunakan untuk menjaga pH keasaman pada vagina. Apabila


14

asam laktat menjadi sedikit maka bakteri, jamur, dan parasite

akan mudah berkembang.

2). Ketegangan Psikis

Ketegangan psikis adalah kondisi seseorang yang

disebabkan karena meningkatnya beban pikiran oleh karena

kondisi yang tidak nyaman atau tidak menyenangkan atau

sulit diatas. Meningkatnya beban pikiran dapat menyebakan

sekresi hormon adrenalin menjadi meningkat.

Meningkatnya hormon ini menyebabkan penyempitan pada

pembuluh darah dan elastisitas pembuluh darah menjadi

berkurang. Hal ini menyebakan aliran hormon estrogen

menuju organ-organ tertentu salah satunya vagina menjadi

terhalang sehingga asam laktat yang dihasilakan pun

berkurang. Apabila asam laktat yang dihasilkan hanya

sedikit maka akan menyebabkan bakteri, jamur dan parasite

penyebab keputihan meningkat.

3). Kebersihan diri

Kebersihan diri merupakan tindakan yang dilakukan

seseorang agar tetap bersih dan sehat yang bertujuan

untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Keputihan abnormal

dapat dipicu karena kurangnya dalam hal menjaga

kebersihan diri, terutama alat kelamin. Kebiasaan yang


15

dapat memicu kepuithan adalah menggunakan pakaian

dalam yang terlalu ketat dan terbuat dari bahan nilon, cara

membersihkan alat kelamin (cebok) yang salah,

menggunakan sabun atau pewangi vagina yang tidak

sesuai, menggunakan pembalut kecil secara terus menerus

saat sedang tidak menstruasi.

C. Hormon

Hipothalamus merupakan bagian dari otak yang mengatur fungsi

reproduksi manusia. Fungsi hipothalamus salah satunya sebagai pusat

pengaturan homeostasis. Selain itu hipothalamus juga mengatur

pengeluaran hormon yang bekerja pada gonad. GnRH atau Gonadotropin

releasing hormone yang disekresikan oleh hipothalamus berikatan dengan

reseptor gonadotropine hormone (LH dan FSH) akan masuk ke dalam

aliran darah menuju gonad. Kemudian LH dan FSH akan menstimulasi

sekresi hormon steroid reproduksi (testosteron, estrogen dan

progesterone). Hormon reproduksi akan menghambat sekresi GnRH dan

gonadotropin hormone melalui umpan balik negatif.

Hormon steroid merupakan hasil sintesis dari kolesterol yang

berasal dari sintesis asetat, dari kolesterol ester pada jaringan steroidgenik,

dan berasal juga dari sumber makanan. Sintesis hormon steroid disintesis

menggunakan sekitar 80% kolesterol. Ovum yang matang pada wanita

akan mensintesis dan mensekresi hormon steroid aktif. Pembentukan

hormon steroid bersumber dari ovarium yang normal. Pada wanita

menopause dan wanita yang mengalami kelainan pada ovariumnya akan


16

menghasilkan estrogen dari prekusor androgen pada jaringan lain. Selain

itu ovarium juga menghasilkan progesteron selama fase luteal pada siklus

menstruasi, testosterone dan androgen dalam jumlah yang sedikit.

Hormon testosteron dan androgen juga diproduksi oleh korteks adrenal

dalam jumlah yang sedikit, hormon ini bukan hanya digunakan sebagai

prekursor estrogen namun juga langsung dikeluarkan ke jaringan perifer.

a) Estrogen

Estrogen memiliki 3 jenis hormon yang berbeda yaitu

estron, estradiol dan setriol. Pada wanita normal, estrogen

diproduksi oleh folikel selama proses ovulasi dan korpus luteum

selama kehamilan dalam jumlah yang banyak. Kadar estrogen akan

mengalami peningkatan pada keadaan ovulasi, pubertas prekoks,

kehamilan, ginekomastia, atropi testis, tumor ovarium dan tumor

adrenal. Sedangkan kadar estrogen akan menurun pada keadaan

menopause, disfungsi ovarium, infertilitas, amenorea karena

hipopituitari, anoreksia nervosa, sindroma turner, dan keadaan

stress. Faktor interfensir yang juga dapat menyebabkan

meningkatnya kadar estrogen adalah preparat estrogen, kontrasepsi

oral dan kehamilan. Serta dapat menurun kadarnya karena obat

clomiphene.

b) Progesteron

Progesteron juga memegang peranan penting di dalam

regulasi seks hormon wanita sama seperti estrogen. Progesteron

merupakan pregnenolon yang telah berubah. Perubahan ini


17

tergantung pada fase ovulasi dimana progesteron disekresi oleh

korpus luteum dalam jumlah yang besar. Progesteron berperan

sebagai prekursor untuk estrogen dan testoteron. Selain itu

progesteron juga berperan di dalam organ reproduksi termasuk

kelenjar mamae dan endometrium serta dalam peningkatan suhu

tubuh manusia. Progesteron memiliki organ target yaitu uterus,

dimana progesteron berperan untuk membantu implantasi ovum.

Kadar progesteron akan meningkat pada kehamilan, ovulasi, tumor

dan kista ovarium, tumor adrenal dan mola hidatinosa. Dan akan

mengalami penurunan pada keadaan amnorea, aborsi dan kematian

janin.

c) Testoteron (Androgen)

Testoteron adalah hormon seks steroid yang dominan pada

pria. Proses sintesis testoteron berlangsung di sel Leydig

interstitial. Pada pria dihidrotestoteron sebagian dibentuk di dalam

jaringan perifer. Testoteron diubah menjadi dihidrotestoteron di

dalam target jaringan testoteron yang spesifik. Metabolisme

testoteron terjadi di dalam hepar. Konsentrasi testoteron akan

mengalami peningkatan selama pubertas dan mencapai puncaknya

pada usia dewasa. Pada wanita normal, testoteron akan diproduksi

oleh ovarium dalam jumlah yang sedikit yaitu kruang dari 300 g

selama 24 jam. Testosteron berperan dalam proses pertumbuhan

rambut selama masa pubertas. Kadar testoteron yang berlebih

dapat menyebabkan amenorea, pertumbuhan rambut dan kelenjar


18

sebasea yang berlebih. Kadar androgen akan meningkat pada

hirsustisme, amenorea hipotalamus, dan tumor sel sertoll. Dan

akan mengalami penurunan pada adropause, sindrom klinefelter,

aplasia sel leydig, dan cryptorchidism.

D. Lingkungan

Lingkungan hidup dapat didefinisikan sebagai kesatuan ruang yang

berhubungan dengan benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk

manusia dan perilakunya, yang dimana secara langsung mempengaruhi

keberlangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia dan makhluk

hidup lainnya (Karden Eddy Sontang Manik, 2009 dalam Sarkawi, 2017).

Lingkungan hidup terbagi menjadi beberapa jenis yaitu lingkungan hidup

alami. lingkungan hidup binaan/buatan, lingkungan hidup sosial.

Lingkungan hidup alami merupaka lingkungan hidup yang terdiri atas

berbagai sumber alam beserta komponen-komponennya, baik fisik

maupun biologis. Lingkungan hidup alami memiliki sifat dinamis

dikarenakan memiliki sifat heterogenitas organisme yang sangat tinggi.

Lingkungan hidup buatan/binaan merupakan hasil dari buatan manusia

yang dibangun dengan bantuan teknologi (sederhana dan modern).

Sedangkan lingkungan hdup sosial merupakan lingkungan yang terbentuk

karena adanya interaksi sosial dalam masyarakat. Lingkungan hidup sosial

dapat membentuk lingkungan binaan yang dapat mencirikan perilaku

manusia sebagai makhluk sosial. Hubungan antara individu dan


19

masyarakat sangat erat sehingga dapat saling mempengaruhi serta saling

bergantung (Effendi, Salsabila and Malik, 2018). Lingkungan sosial terdiri

dari lignkungan keluarga, lingkungan pertemanan, dan lingkungan

sekolah. Lingkungan sosial menjadi salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi perilaku seseorang atau kelompok untuk dapat melakukan

suatu tindakan serta perubahan perilaku setiap individu (Sapara,

Lumintang and Paat, 2020).

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

stress. Lingkungan memiliki nilai positif dan negative terhadap perilaku

masing-masing individu sesuai pemahaman kelompok dalam masyarakat.

E. Hubungan antara Tingkat Stress dengan Kejadian Leukorrhea

Menurut Penelitian Agustiyani (2011), terdapat hubungan yang

bermakna antara stress dengan kejadian leukorrhea (keputihan) pada

remaja yang disebabkan karena adanya perubahan hormon-hormon

reproduksi saat mengalami stress.


20
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

STRESS

hormon lingkungan

LEUKORRHEA

Keterangan:

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

Gambar III.1: Gambar III.1: Kerangka konsep antara tingkat stres dengan kejadian

leukorrhea pada siswi yang ada di SMK Negeri 2 Mantangai.

21
22

B. Penjelasan Kerangka Konsep

Leukorrhea memiliki beberapa faktor penyebab diantaranya adalah

hormon dan lingkungan. Lingkungan merupakan faktor dari stress yang

dapat menyebabkan leukorrhea. Pada penelitian ini yang diteliti adalah

hubungan stres dan leukorrhea.

C. Hipotesis Penelitian

Ada hubungan antara tingkat stres dengan kejadian leukorrhea

pada siswi di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai,

Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. .


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah jenis penelitian yang menggunakan cross

sectional study yaitu penelitian yang menekankan waktu pengukuran atau

observasi dari data variable independent dan dependent hanya satu kali

pada satu waktu.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian : Penelitian dilakukan di Desa Manusup, Kecamatan

Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan

Tengah, Indonesia.

Waktu Penelitian : Penelitian dan pengumpulan data dilakukan pada

tahun 2021.

C. Populasi dan Sampel/Subyek Penelitian

1. Populasi

Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah siswi di SMK Negeri 2

Mantangai, Kecamatan Mantangai, Kabuapten Kapuas, Provinsi

Kaliamntan Tengah.

Kriteria inklusi :

a. Siswi aktif kelas X dan XI.

b. Bersedia menjadi responden penelitian dengan menyetujui

informed consent.

23
24

Kriteria ekslusi :

Siswi aktif semester X dan XI namun tidak bersedia mengisi

kuesioner.

2. Sampel

a. Besar Sampel

Besar sampel pada penelitian dihitung menggunakan rumus

besar sampel berdasarkan masalah penelitian secara statistik yaitu

analitik komparatif kategorial tidak berpasangan (Dahlan,

Sopiyudin M, 2014).

Keterangan :

n = besar sampel

Za = Standar deviasi pada kesalahan tipe I (1,96)

Zß = STandar deviasi pada kesalah tipe II (0,84)

P1 = Proporsi pada kelompok yang nilainya diambil dari pustaka

(0,92)

P1 – P2 = Perbedaan klinis yang diinginkan (0,2)

Sehingga besar sampel (n) diperoleh sesuai dengan hasil

perhitungan berikut:

1,96 √ 2.0,82.0,18+ 0,84 √ 0,92.0.08+ 0,72.0,28


[ 0,2 ]
n=51,84(dibulatkan menjadi 52 sampel )
25

Jadi, besar sampel pada penelitian ini adalam 52 sampel.

b. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode

probability sampling, yaitu simple random sampling.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah stress.

2. Variabel terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah leukorrhea.

E. Definisi Operasional

Tabel IV.1 : Definisi Operasional

No. Varia Definisi Alat Ukur Kategori Skala

bel Operasional Kriteria


1. Stress Stress Kuesioner Normal : 0-14 Ordinal

didefinisikan Ringan : 15-18

sebagai Sedang : 19-25

kondisi yang Berat : 26-33

disebabkan Sangat berat : >34

oleh interaksi

antara individu

dengan

lingkungan,

menimbulkan
26

persepsi jarak

antara

tuntutan-

tuntutan yang

berasal dari

situasi yang

bersumber

pada sistem

biologis,

sistem

psikologis dan

sistem sosial

dari seseorang
2. Leuko Leukorrhea Kuesioner Keputihan-tidak Nomina
keputihan
rrhea atau keputihan l

adalah Tidak mengalami


keputihan : 0-2
keluarnya
Mengalami
cairan selain keputihan : 3- 10

darah dari

liang vagina di

luar kebiasaan,

baik berbau

ataupun tidak,

serta disertai

rasa gatal
27

setempat

F. Prosedur Pengumpulan & Pengolahan Data

1. Alur Penelitian

Menyelesaikan Proposal
Penelitian

Menentukan Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah
siswi di SMK Negeri 2 Mantangai

Pengambilan data dengan


kuesioner
Analisa data
28

Penyajian data dan hasil

Kesimpulan

2. Kualifikasi dan Jumlah Tenaga

Petugas dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas

Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya sejumlah 1 orang

peneliti.

3. Alat/Bahan/Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan kuesioner, yaitu kuesioner tingkat

stress dengan Depression Anxiety Scale (DASS 42) dan kuesioner

yang berisi pertanyaan seputar keluhan keputihan.

a. Kuesioner tingkat stress


29

Tingkat stress merupakan hasil penilaian dari berat ringannya

stress yang dialami oleh seseorang. Tingkat stress dapat diukur

dengan menggunakan kuesioner Depression Anxiety Scale (DASS

42). Depression Anxiety Scale (DASS 42) merupakan kuesioner

yang berisi 42 pertanyaan yang dipergunakan untuk mengukur

general psychological distress yang terdiri dari tiga pegukuran

skala yaitu stress, depresi dan kecemasan. Skor minimal dari

kuesioner ini adalah 0 dan skor maksimal adalah 42. Kuesioner

tingkat stress terdiri dari 14 butir pertanyaan menggunakan skala

0, yang artinya tidak sesuai dengan pribadi saya atau tidak pernah

sama sekali. Skala 1, yaitu sesuai dengan pribadi saya sampai

batas yang dapat dipertimbangkan atau lumayan sering dan skala 3

yaitu berarti sangat sesuai dengan pribadi saya atau sering kali.

Kategori skor dalam kuesioner yaitu normal adalah 0-14, kategori

ringan 15-18, kategori sedang (19-25) , kategori berat 26-33, dan

kategori sangat berat >34 (Mubarak, 2015).

Tabel IV.2 : Kuesioner Stress

No. Pernyataan 0 1 2 3
1. Saya merasa bahwa diri saya menjadi

marah karena hal kecil/sepele.


2. Saya cenderung bereaksi berlebihan

terhadap suatu situasi.


3. Saya merasa sulit untuk bersantai
4. Saya menemukan diri saya mudah

merasa kesal.
5. Saya merasa lelah menghabiskan

banyak energy untuk merasa cemas.


30

6. Saya menemukan diri saya menjadi

tidak sabar ketika mengalami

penundaan (misalnya: kemacetan lalu

lintas, menunggu sesuatu).


7. Saya merasa bahwa saya mudah

tersinggung.
8. Saya merasa bahwa saya sulit untuk

beristirahat.
9. Saya merasa bahwa saya mudah marah.
10. Saya merasa sulit untuk tenang setelah

sesuatu membuat saya kesal.


11. Saya sulit untuk sabar dalam

menghadapi gangguan terhadap hal

yang sedang saya lakukan.


12. Saya sedang merasa gelisah
13. Saya tidak dapat memaklumi hal

apapun yang menghalangi saya untuk

menyelesaikan hal yang sedang saya

lakukan.
14. Saya menemukan diri saya mudah putus

asa.

b. Kuesioner kejadian leukorrhea (keputihan)

Kuesioner keputihan yaitu kuesione yang berisikan pertanyaan

yangd igunakan untuk mengidentifikasi keluhan keputihan pada

remaja putri. Kuesioner keluhan keputihan terdiri dari 10

pertanyaan untuk mengukur keluhan keputihan yang dialami

remaja putri, dimana responden akan memilih jawaban antara ya


31

dan tidak dalam pertanyaan yang diajukan oleh kuesioner

berdasarkan keadaan yang dialami.

Tabel IV.3 : Kuesioner Keputihan

No Pernyataan Ya Tidak

.
1. Saya mengeluarkan cairan tidak berwarna

atau berwarna putih dari vagina


2. Saya mengeluarkan cairan keputihan

yang tidak mengeluarkan bau menyengat

dan tidak menimbulkan rasa gatal


3. Saya mengeluarkan cairan berwarna

keruh dan kental dari vagina


4. Saya mengeluarkan cairan keputihan

yang bertekstur dari vagina dan

menimbulkan rasa gatal yang tidak biasa


5. Saya mengeluarkan cairan keputihan

yang erbau menyengat dari vagina


6. Saya mengeluarkan cairan keputihan

yang sangat banyak dari vagina


7. Saya mengeluarkan cairan dari vagina

yang berbau menyengat dan menimbulka

rasa gatal
8. Saya mengeluarkan cairan dari vagian

yang berbau menyengat tetapi tidak

disertai rasa gatal


9. Keputihan yang saya rasakan sudah sejak

lama
10. Keputihan yang saya alami menyebabkan

rasa terbakar di sekitar vagina


32

c. Uji Validitas

Kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat stress

menggunakan kuesioner yang sudah baku yaitu dengan

menggunakan kuesioner Depression Anxiety Scale (DASS 42),

sehingga tidak diperlukan uji validitas lagi. Kuesioner kejadian

keputihan telah dilakukan uji validitas pada 35 remaja putri di

Sanggar Nyai Balau Tewah pada tanggal 5 Juni 2021 dengan

menggunakan kuesioner online (google form). Hasil dari uji

validitas kuesioner dinyataka 10 item pernyataan yang diajukan

sudah valid.

d. Uji Reabilitas

Kuesioner tingkat stress dengan menggunakan kuesioner

Depression Anxiety Scale (DASS 42) tidak dilakukan uji reabilitas

karena sudah baku. Kuesioner keluhan keputihan telah dilakukan

uji reliabelitas pada pada 35 remaja putri di Sanggar Nyai Balau

Tewah pada tanggal 5 Juni 2021 dengan menggunakan kuesioner

online (google form). Hasil dari uji validitas kuesioner dinyatakan

10 item pernyataan yang diajukan sudah reliabel, dengan

didapatkan bahwa nilai cronbach alpha yaitu 0,782

4. Cara Pengambilan Data


33

Cara pengambilan data pada sampel penelitian ini adalah dengan

menyebarkan kuesioner menggunakan angket yang berisi pertanyaan

mengenai stress dan leukorrhea (keputihan).

5. Teknik Pengolahan Data

Data penelitian yang telah terkumpul, kemudian akan dilanjutkan

dengan pengolahan data dengan program SPSS. Hasil pengolahan data

akan ditampilkan dan disajikan dalam bentuk tabel.

G. Analisis Data

1. Analisis Univariat

Data penelitian analisis univariat yang akan dilakukan untuk

melihat hubungan tingkat stress dengan kejadian leukorrhea.

2. Analisis Bivariat

Hasil data yang teklah dikumpulkan dan diolah oleh peneliti,

kemudian akan dianalisis secara univariat dan bivariat dengan

menggunakan uji Chi-Square Test pada program SPSS. Uji Chi

Square yang akan digunakan pada penelitian ini adalah uji hipotesis

komparatif kategorik tidak berpasangan 2x2. Jika uji Chi-Square Test

tidak ter-penuhi maka akan menggunakan uji Mann-Whitney (Dahlan,

Sopiyudin M, 2014).

Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini disusun dalam bentuk

hipotesis statistik, yaitu :

H0: Tidak ada hubungan antara tingkat stress dengan kejadian

leukorrhea pada siswi di SMK Negeri 2 Mantangai.


34

H1: Ada hubungan tingkat stres dengan kejadian leukorrhea pada

siswi di SMK Negeri 2 Mantangai.


DAFTAR PUSTAKA

Abrori Abrori, Andri Dwi Hernawan and Ermulyadi Ermulyadi. 2017.


Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Keputihan Patologis
Siswi SMANSimpang Hilir Kabupaten Kayong Utara.
[online][Link]:[Link]
ublication/320103072_FAKTOR_YANG_BERHUBUNGAN_D
ENGAN_KEJADIAN_KEPUTIHAN_PATOLOGIS_SISWI_SM
AN_1_SIMPANG_HILIR_KABUPATEN_KAYONG_UTARA
[Accessed 5 May 2021], hal.25

Agustiyani. 2011. Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Keputihan


pada Remaja Putri Kelas X dan XI di SMA Taman Jetis
Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan ‘Aisyiyah Yogyakarta, hal. 8

Andriani, Y., Maidaliza, M. and Alvaensi, R.I. 2020. Pemberian


Pendidikan Kesehatan Melalui Telenursing terhadap
Peningkatan Pengetahuan dan Pencegahan Keputihan Patologis
pada Remaja. Jurnal Kesmas Asclepius, [online]2(2),pp.81–
[Link]:
[Link]
[Accessed 5 May 2021], hal. 82

Argadikoesoema, S. 2019.  Pedoman Strategi dan Langkah Aksi


Pengelolaan Stres. Komite Penanggulangan Kanker Nasional
(KPKN) Periode 2014 – 2019, hal. 1

Dahlan, Sopiyudin M. 2018. Langkah-Langkah membuat Proposal


Penelitian Bidang Kedokteran Dan Kesehatan Edisi 2. Jakarta:
Sagung Seto, hal 80

Dahlan, Sopiyudin M. 2014. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan:


Deskriptif, Bivariat dan Multivariat Edisi 6. Jakarta: Sagung Seto,
hal. 165-178

David Sam Jayakumar and A. Sulthan. (2013. Stres Symptoms : Structural


EquationModelling.
[online][Link]:[Link]
ublication/265421912_Stres_Symptoms_Structural_Equation_Mo
delling [Accessed 28 Mar. 2021], hal. 97

35
36

Effendi, R., Salsabila, H. and Malik, A. 2018. Pemahaman Tentang


Lingkungan Berkelanjutan. MODUL, [online] 18(2), p.75
[Link]:[Link]
iew/20792 [Accessed 10 May 2021], hal. 77

Gusti Ayu Marhaeni. 2016. Keputihan pada wanita. Jurnal Skala Husada :


The Journal of Health, [online] 13(1). Available at:
[Link]
w/67/33 [Accessed 7 Apr. 2021], hal. 33-35

I Wayan Sudarya, Dr.I Wayan Bagia, [Link] and I Wayan Suwendra, S.E.,
[Link]. 2014. Analisis Faktor-faktor yang MempengaruhiI Stress
Pada Mahasiswa dalam Penyusunan Skripsi Jurusan Manajemen
Undiksha angkatan 2009. JurnalManajemenIndonesia,
[online]2(1).[Link]:[Link]
p/JMI/article/view/4309 [Accessed 26 Mar. 2021], hal. 4 

Karyati, A. 2014. Korelasi Antara Perilaku Vulva Higiene Dengan


Kejadian Keputihan Pada Mahasiswi Program Studi
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjung Pura.
Skripsi. Pontianak: Universitas Tanjungpura

Musradinur. 2016. Stres dan Cara Mengatasinya Dalam Perspektif


Psikologi. JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling,
[online]
2(2),[Link]:[Link]
aBK/article/view/815 [Accessed 6 May 2021], hal. 185

Pitriani, R. 2020. Asuhan Kebidanan pada Remaja Putri dengan


Keputihan. Jurnal Komunikasi Kesehatan (Edisi 20), [online]
11(01), pp.48–[Link]:[Link]
[Link]/ index.
php/jkk20/article/view/151 [Accessed 6 May 2021], hal. 49

Praveena Devi, M Anisha Reddy, Onaiza Zahan and Jvc Sharma.


2019. The Effect of Stress on Human Life. [online] ResearchGate.
Available
at:[Link]
FECT_OF_STRES_ON_HUMAN_LIFE [Accessed 28 Mar.
2021]
37

Raden Rara Pandhan Budi Larasat. 2019. Cara Pencegahan dan


Penatalaksanaan Leukorea pada Anak-Anak. [online]
[Link]:[Link]
on/334007790_Cara_Pencegahan_dan_Penatalaksanaan_Leukore
a_pada_Anak-Anak [Accessed 1 Apr. 2021], hal. 1

Rahmanisa, S. 2014. Steroid Sex Hormone And It’s Implementation to


Reproductive Function. JUKE Unila, [online] 4(07). Available at:
[Link]
[Accessed 19 May 2021], hal. 99-102

Rahmawati, M.N., Rohaedi, S. and Sumartini, S. 2019. Tingkat Stres Dan


Indikator Stres Pada Remaja Yang Melakukan Pernikahan Dini.
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA, [online]
5(1).[Link]://[Link]/[Link]/JPKI/article/vie
w/11180 [Accessed 8 May 2021], hal.26

Rika Puji Rahayu, Fitriani Nur Damayanti and Indri Astuti Purwanti.
2015. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Keputihan Pada
Wanita Usia Subur (WUS) di RT 04 RW 03 Kelurahan Rowosari
SEMARANG. Jurnal Kebidanan, [online] 4(1), pp.11–16.
[Link]:[Link]
view/1384 [Accessed 3 Apr. 2021], hal. 12

Riza Mahmud and Zahrotul Uyun. 2013. Studi Deskriptif Mengenai Pola
Stress pada Mahasiswa Praktikum. Indigenous: Jurnal Ilmiah
Psikologi,
[online]1(2).[Link]:[Link]
enous/article/view/4970 [Accessed 7 May 2021], hal.54

Rossadea Atziza. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian


Stres dalam Pendidikan Kedokteran. Jurnal Agromedicine,
[online] 2(3), pp.317–320.
[Link]:[Link]
icle/view/1367 [Accessed 24 Mar. 2021], hal. 318

Sapara, M.M., Lumintang, J. and Paat, C.J. 2020. Dampak Lingkungan


Sosial Terhadap Perubahan Perilaku Remaja Perempuan di
Desa Ammat Kecamatan Tampan’amma Kabupaten Kepulauan
Talausd. Holistik, Journal Of Social and Culture,
[online]0(0).Availableat:[Link]
listik/article/view/29607 [Accessed 10 May 2021], hal. 3
38

Sarafino, E.P. 2012. Health Psychology: Biopsychosocial Interactions.


International Student Version. Singapore: John Wiley & Sons,
Inc, hal. 60-63

Sarkawi, D. 2017. Pengaruh Jenis Kelamin Dan Pengetahuan Lingkungan


Terhadap Penilaian Budaya Lingkungan. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan, [online] 16(02),
pp.101–[Link]:
[Link]
[Accessed 10 May 2021], hal. 104

SUPRIYATININGSIH, S. 2015. Monograf Penggunaan Vaginal


Douching Terhadap Kejadian Candidiasis Pada Kasus
Leukorrhea. [Link].
[online]Availableat:[Link]
/778 [Accessed 3 Apr. 2021], hal. 3

The Stres Factor Your guide to stres. (n.d.). [online] . Available at:
[Link]

Anda mungkin juga menyukai