HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRESS DENGAN KEJADIAN
LEUKORRHEA PADA SISWA PUTRI SMK NEGERI 2 MANTANGAI
KECAMATAN MANTANGAI KABUPATEN KAPUAS
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
PROPOSAL SKRIPSI
Untuk memenuhi persyaratan
memperoleh gelar kesarjanaan Kedokteran
Oleh:
Marturia Drifany
NPM: 18700004
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
2021
HALAMAN PERSETUJUAN
PROPOSAL SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRESS DENGAN KEJADIAN
LEUKORRHEA PADA SISWA PUTRI SMK NEGERI 2 MANTANGAI
KECAMATAN MANTANGAI KABUPATEN KAPUAS
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna
memperoleh gelar sarjana kedokteran
Oleh:
Marturia Drifany
NPM: 18700004
Menyetujui untuk diuji
pada tanggal : 1 Mei 2021
Pembimbing, Penguji
dr. Akhmad Sudibya, M. Kes dr. Akmarawita Kadir, [Link], AIFO
NIK. 95256-ET NIK. 02373-ET
i
HALAMAN PENGESAHAN
PROPOSAL SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRESS DENGAN KEJADIAN
LEUKORRHEA PADA SISWA PUTRI SMK NEGERI 2 MANTANGAI
KECAMATAN MANTANGAI KABUPATEN KAPUAS
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna
memperoleh gelar sarjana kedokteran
Oleh:
Marturia Drifany
NPM: 18700004
Menyetujui untuk diuji
pada tanggal : 1 Mei 2021
Pembimbing, Penguji
dr. Akhmad Sudibya, M. Kes dr. Akmarawita Kadir, [Link], AIFO
NIK. 95256-ET NIK. 02373-ET
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis persembahkan ke hadirat Tuhan yang Mahaesa,
karena oleh berkat dan rahmatnya yang sungguh besar penulis dapat
menyelesaikan penyusunan laporan proposal penelitian dengan judul “Hubungan
antara Tingkat Stress dengan Kejadian Leukorrhea pada Siswa SMK Negeri 2
Mantangai Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan
Tengah”.
Penyusunan laporan proposal penelitian ini adalah untuk memenuhi salah satu
persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran di Fakultas Kedokteran
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Penyusunan proposal ini dapat
diselesaikan dengan baik berkat dukungan dari banyak pihak. Untuk itu, pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Yth. Prof. Dr. Suhartati, dr., MS. selaku Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk menyelenggarakan penelitian ini.
2. Yth. dr. Akhmad Sudibya, [Link]. selaku dosen pembimbing dari penulis
yang sudah memberikan bimbingan, saran dan motivasi yang luar biasa;
3. Yth. dr. Akhmarawita Kadir, [Link],AIFO selaku penguji Proposal
Skripsi;
4. Yth. Segenap Tim Pelaksana Tugas Akhir dan sekretariat Tugas Akhir
Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang telah
memberi fasilitas dalam proses pembuatan Proposal Skripsi ini;
iii
5. Ytc. orang tua penulis yang selalu memberi doa dan dukungan sehingga
penulis dapat menyelesaikan Proposal Skripsi ini;
6. Semua pihak yang tidak mungkin dapat penulis sebutkan satu persatu yang
telah memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan Proposal
Skripsi ini.
Penulis menyadari proposal skripsi ini tidak luput dari berbagai
kekurangan. Penulis mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan dan
perbaikannya sehingga laporan proposal skripsi ini dapat memberikan manfaat
bagi bidang pendidikan dan penerapan dilapangan serta dapat dikembangkan lagi
lebih lanjut.
Palangkaraya, 30 April 2021
Penulis
iv
DAFTAR ISI
Halaman
Judul................................................................................................................ i
Halaman Persetujuan ....................................................................................... ii
Halaman Pengesahan........................................................................................ iii
Kata Pengantar.................................................................................................. iv
Daftar Isi........................................................................................................... v
Daftar Tabel ..................................................................................................... vii
Daftar Gambar ................................................................................................. viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian.......................... 4
C. Tujuan Penelitian...................................................................... 4
D. Manfaat Hasil Penelitian.......................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Stress............................................................................................... 7
1. Definisi Stress.................................................................... 7
2. Gejala Stress....................................................................... 8
3. Aspek-aspek Stress............................................................ 8
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stress.......................... 9
v
B. Leukorrhea.................................................................................... 10
1. Definisi Leukorrhea............................................................ 10
2. Penyebab Leukorrhea......................................................... 11
3. Jenis-jenis Leukorrhea........................................................ 12
C. Hormon........................................................................................... 15
D. Lingkungan..................................................................................... 18
E. Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian Leukorrhea................ 19
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
A. Kerangka Konsep ..................................................................... 20
B. Penjelasan Kerangka Konsep................................................... 21
C. Hipotesis Penelitian.................................................................. 21
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian................................................................ 22
B. Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................... 22
C. Populasi dan Sampel/Subyek Penelitian.................................... 22
1. Populasi................................................................................. 22
2. Sampel.................................................................................. 23
D. Variabel Penelitian.................................................................... 24
E. Definisi Operasional.................................................................. 24
F. Prosedur Penelitian.................................................................... 26
G. Analisa Data.............................................................................. 33
vi
Daftar Pustataka
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel IV.1 Definisi Operasional ...................................................................... 18
Tabel IV.2 Kuesioner Stres .............................................................................. 25
Tabel IV.3 Kuesioner Keputihan ..................................................................... 26
vii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar III.1 Kerangka Konsep........................................................................ 5
viii
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keputihan merupakan cairan yang diproduksi oleh alat reproduksi
wanita secara berkala. Cairan ini berfungsi untuk membersihkan dan
melembabkan vagina secara alami. Sebanyak 75% wanita di Indonesia
pernah mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya dan 45%
diantaranya mengalami keputihan dua kali atau lebih (Karyati, 2014). Hal
ini dikarenakan Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga
membuat keadaan tubuh menjadi lembab dan mudah berkeringat yang
dapat menyebabkan bakteri mudah berkembang dan menimbulkan
gangguan pada bagian lipatan tubuh terutama lipatan organ genitalia.
Selain itu masih banyak orang yang menganggap bahwa keputihan adalah
hal yang wajar atau normal. Namun pendapat ini tidak selalu benar, karena
keputihan dapat disebabkan oleh berbagai hal. Kurangnya pengetahuan
mengenai keputihan merupakan suatu masalah besar, karena keputihan
dapat menjadi tanda dari suatu penyakit (Febryary et al., 2016 dalam
Andriani, Maidaliza and Alvaensi, 2020). Keputihan merupakan masalah
yang harus segera ditangani, hal ini disebabkan apabila keputihan yang
dialami pada masa remaja selama 3 bulan berturut-turut dan tidak diobati
dengan tepat maka dapat menyebabkan penyakit infeksi kandungan
(Kursani, et all., 2015 dalam Pitriani, 2020). Keputihan dibagi menjadi 2
jenis yaitu keputihan normal dan keputihan abnormal (patologis).
1
2
Keputihan normal merupakan keputihan yang terjadi sejalan dengan
kejadian menstruasi. Sedangkan keputihan abnormal merupakan keputihan
yang disebabkan karna faktor patologis. Faktor patologis yang sering
mengakibatkan keputihan adalah infeksi bakteri, parasit, jamur dan virus
(Gusti Ayu Marhaeni, 2016). Selain itu keputihan juga dapat disebabkan
oleh karena gangguan hormon, stress, kelelahan kronis, peradangan pada
alat kelamin, benda asing dalam vagina, serta adanya penyakit dalam
organ reproduksi seperti kanker serviks (Fadilla dkk, 2012 dalam Abrori
Abrori, Andri Dwi Hernawan dan Ermulyadi Ermulyadi, 2017)).
Stress merupakan kondisi fisik ketika seseorang yang sedang men-
galami tekanan akibat perubahan lingkungan. Dalam buku Health
Psychol-ogy Biopsychosocial Interactions, stress didefinisikan sebagai
kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan,
men-imbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari
situasi yang bersumber pada sistem biologis, sistem psikologis dan sistem
sosial dari seseorang (Sarafino 2012). Stress dibagi menjadi 3 tingkatan,,
yaitu stress ringan, sedang dan berat. Stress ringan merupakan stress yang
tidak mempengaruhi aspek fisiologis dari seseorang. Stres ringan yaitu
bentuk stress yang dialami oleh setiap orang misalnya lupa, dikritik,
ketiduran dan mengalami macet dijalan. Stress ringan tidak berlangsung
lama hanya terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam. Stress
sedang merupakan stress yang dialami selama beberapa jam sampai
beberapa hari. Sedangkan stress berat merupakan bentuk stress kronis
yang terjadi dalam beberapa minggu hingga bertahun-tahun (Rasmun,
3
2004 dalam Riza Mahmud and Zahrotul Uyun, 2013). Berdasarkan
penelitian menunjukan bahwa stress memberi konstribusi sebesar 50%
sampai 70% terhadap sebagian besar masalah kesehatan seperti penyakit
kardiovaskuler, kanker, tekanan darah tinggi, penyakit kulit, infeksi,
penyakit metabolik, hormon serta masalah kelainan lainnya (Musradinur,
2016).
Pada umumnya, stress dapat menggangu siklus hidup dari
seseorang. Siklus hidup yang terganggu dapat menyebabkan gangguan
kesehatan. Hal ini dapat memicu terjadinya gangguan menstruasi dan
keputihan. Menurut Hurlock (2013) dibandingkan dengan kelompok anak-
anak dan orangtua, masa remaja merupakan masa yang paling berat.
Karena pada masa remaja merupakan masa transisi dimana terjadi
perubahan secara anatomis, fisiologis, fungsi emosional dan imtelektual
serta hubungan di lingkungan sosial (Rahmawati, Rohaedi and Sumartini,
2019). Salah satu kelompok yang rentan mengalami stres adalah seseorang
yang sedang menjalani pendidikan. Stress yang biasanya dialami
disebabkan karena banyaknya tuntutan dan tanggung jawab akademik
yang harus dihadapi. Kondisi tubuh pada saat stress akan mengalami
perubahan, termasuk perubahan pada hormon-hormon reproduksi. Hal ini
dapat memicu terjadinya gangguan menstruasi dan keputihan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Agustiyani (2011) di
SMA Taman Madya JetisYogyakarta pada remaja putri kelas X dan kelas
XI dengan responden berjumlah 32 orang, menyatakan bahwa tingkat
stress pada remaja putri kelas X dan XI yang mengalami stress ringan
4
sebanyak 20 orang (62,5%) dan yang mengalami stress sedang sebanyak
12 orang (37,5). Kejadian keputihan pada remaja putri sebanyak 17 orang
(53,1%) sedangkan remaja putri yang tidak mengalami keputihan
sebanyak 15 orang (46,9%). Ada hubungan yang bermakna antara tingkat
stress dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMA Taman Madya
Jetis Yogyakarta (Agustiyani, 2011).
Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul skripsi “Hubungan
Antara Tingkat Stress dengan Kejadian Leukorrhea pada Siswa Putri SMK
Negeri 2 Mantangai Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Provinsi
Kalimantan Tengah”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk diketahuinya
hub-ungan tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada remaja/siswi
yang sedang menjalani pendidikan.
B. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
1. Rumusan masalah
Berdarakan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah
penelitian yaitu “Apakah ada hubungan antara tingkat stress dengan
kejadian leukorrhea pada siswa putri SMK Negeri 2 Mantangai,
Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah?”
2. Pertanyaan penelitian
a. Apakah tingkat stress berpengaruh terhadap kejadian leukorrhea?
b. Bagaimana tingkat stress dapat mempengaruhi kejadian
leukorrhea?
5
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan
antara tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada siswa putri yang
ada di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai Kabupaten
Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi tingkat stress remaja putri pada siswa putri yang
ada di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai,
Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.
b. Mengidentifikasi keluhan leukorrhea (keputihan) pada siswa putri
yang ada di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai,
Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.
c. Membuktikan hubungan antara tingkat stress dengan kejadian
leukorrhea pada siswa putri yang ada di SMK Negeri 2 Mantangai,
Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
D. Manfaat Hasil Penelitian
1. Manfaat bagi masyarakat
Menambah informasi bagi masyarakat tentang adanya
hubungan antara tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada siswa
6
putri yang ada di SMK 2 Negeri Mantangai, Kecamatan Mantangai,
Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.
2. Manfaat bagi peneliti
Menambah referensi khususnya mengenai adanya hubungan
antara tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada siswi yang
bersekolah di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai,
Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.
3. Manfaat bagi institusi terkait
Menambah referensi khususnya mengenai adanya hubungan antara
tingkat stress dengan kejadian leukorrhea pada siswi yang ada di SMK
Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas,
Kalimantan Tengah.
4. Manfaat bagi ilmu pengetahuan
a. Menambah pengetahuan tentang adanya hubungan antara tingkat
stress dengan kejadian leukorrhea pada remaja/siswi.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan peneliti
selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Stress
1. Definisi Stress
Stress adalah kondisi yang disebabkan oleh suatu kondisi transaksi
antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan tuntuntutan-
tuntuntan yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial
dari seseorang. Stress merupakan bagian dari kehidupan manusia,
mun-culnya stress ini disebabkan oleh faktor dari dalam maupun dari
luar diri seseorang. Dalam buku Pedoman Strategi dan Langkah Aksi
Pengelolaan Stres, secara spesifik stress dapat diartikan sebagai respon
fisik secara otomatis terhadap tantangan atau situasi yang mengharus-
kan seseorang untuk beradaptasi (Argadikoesoema, 2019). Stress
dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu distress dan eustress. Distress yaitu
stress yang dapat memberikan dampak negatif sehingga dapat
menggangu, merusak, dan merugikan seseorang. Keadaan ini akan
muncul apabila seseorang tidak mampu mengendalikan emosinya. Ada
beberapa tanda dari seseorang yang mengalami distress seperti cepat
tersinggung, mudah marah, tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, sulit
dalam mengambil keputusan, mudah lupa, selalu murung, tidak
bersemangat dan sering kebingungan. Sedangkan eustress merupakan
kebalikan dari distress, dimana eustress adalah bentuk stress yang
positif. Apabila seseorang dapat mengelola stress dengan baik maka
akan memberikan manfaat dan menambah semangat dalam
7
8
menghadapi suatu keadaan dan mencapai sesuatu (Rossadea Atziza,
2015).
2. Gejala Stress
Menurut David (2013) gejala stress dapat muncul berbeda-beda
pada setiap orang, hal ini disebabkan setiap orang memiliki respon
berbeda-beda terhadap stress yang sedang dihadapi. Namun terdapat
gejala umum dari stress, yaitu gemetar yang tidak terkendali, bernapas
cepat, dan muncul rasa mual. Stress juga dapat memicu meningkatkan
resiko serangan asma. Selain itu stress juga dapat berdampak langsung
pada seseorang yang sedang mengalami stress, sedangkan gejala stress
lainnya dapat berdampak pada hubungan seseorang dengan orang lain.
bahkan sebagian orang mengalami keduanya saat mengalami stress
yang lebih berat.
3. Aspek-aspek Stress
Menurut Sarafino dan Smith (2012) terdapat 2 aspek penting dari
stress, yaitu:
1). Aspek Biologis
Aspek biologis dari stress yaitu berupa gejala fisik. Gejala fisik
yang dimaksud dapat berupa sakit kepala, sulit tidur, perncernaan
terganggu, nafsu makan terganggu, dan produksi keringat yang
berlebihan. Selain itu dapat muncul juga gejala seperti otot terasa
tegang, pernapasan tidak teratur, gugup, cemas, gelisah, maag dan lain
sebagainya.
9
2). Aspek Psikologis
Aspek psikologis dari stress dapat menimbulkan gejala psikis.
Gejala psikis yang ditimbulkan sebagai berikut:
a) Gejala kognisi (pikiran) yaitu kondisi yang dapat menyebabkan
terganggunya proses berpikir seseorang. Seseorang yang sedang
stress dapat menyebabkan seseorang tersebut mengalami gangguan
konsentrasi, daya ingat dan perhatian. Selain itu gejala kognisi ini
dapat menyebabkan rasa ketakutan yang berlebihan pada
kegagalan, cemas akan masa depan, emosi yang tidak stabil dan
tidak dapat mengendalikan tindakan sendiri.
b) Gejala emosi, seseorang yang sedang mengalami stress cenderung
memiliki emosi yang tidak stabil. Emosi yang tidak stabil ini akan
menyebabkan seseorang mudah marah, kecemasan yang
berlebihan, merasa sedih dan depresi.
Gejala tingkah laku, stress dapat memberikan pengaruh buruk
pada tingkah laku seseorang sehingga menimbulkan masalah
dalam kehidupan interpersonal. Gejala yang timbul dapat berupa
kesulitan bekerja sama, minat menurun terhadap hal tertentu, tidak
dapat merasakan rileks, mudah merasa kaget, konsumsi rokok,
alkohol, dan obat-obatan menjadi meningkat.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stress
Berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan dapat menjadi
pemicu atau faktor seseorang mengalami stress. Permasalahan yang
10
dialami oleh seseorang dapat dipengaruhi keadaan sekitar yang
membuat seseorang menjadi tidak nyaman dalam menjalani kehidupan
sehari-hari. Faktor yang dapat menyebabkan stress disebut stressor.
Terdapat dua stressor yang dapat menyebabkan stress yaitu stressor
internal dan stressor eksternal. Stressor internal merupakan penyebab
stress yang berasal dari dalam diri dan penyebab stress yang paling
umum, salah satunya adalah kondisi fisik atau emosi dalam diri
seseorang. Stressor internal juga disebabkan karena rasa khawatir yang
berlebihan terhadap hal-hal yang tidak dapat dikendalikan dan
cenderung menempatkan diri sendiri dalam situasi yang dapat
menyebabkan stress. Sedangkan stressor eksternal merupakan
penyebab stress yang berasal dari luar diri seseorang, seperti
lingkungan sosial atau lingkungan keluarga serta kesibukan sehari-
hari. Misalnya bekerja terlalu keras dan tidak mengatur waktu dengan
baik.
B. Leukorrhea
1. Definisi Leukorrhea
Leukorrhea atau keputihan merupakan cairan yang keluar dari
organ genitalia wanita, cairan ini berwarna putih, kekuningan ataupun
kehijauan. Selain itu leukorrhea juga disebut sebagai cairan yang
keluar dari vagina namun bukan darah. Cairan yang keluar dapat
berasal dari vagina, serviks, tuba uterin, atau ovarium. Cairan tersebut
menjadi tanda adanya pengelupasan epitel dinding dari vagina yang
11
disebabkan oleh hormon estrogen yang ada pada mukosa vagina
(Inaam, 2015 dalam Raden Rara Pandhan Budi Larasati 2019).
Leukorrhea bukan merupakan penyakit namun manisfestasi gejala
penyakit organ genitalia.
2. Penyebab Leukorrhea
Leukorrha atau keputihan dapat disebabkan oleh kondisi
nonpatologis dan patologis. Kondisi nonpatologis yang dapat
menyebabkan leukorrhea adalah masa ketika menjelang mestruasi atau
setelah menstruasi, saat sedang hamil, mendapat rangsangan seksual,
dan saat mengalami stress fisik atau stress psikolgis. Sedangkan
kondisi patologis yang dapat menyebabkan leukorrha adalah infeksi
jamur, infeksi bakteri , infeksi parasit jenis protozoa dan infeksi
gonorhoe (Manuaba, 2010 dalam Supriyantiningsih, 2015).
Virus, bakteri, kuman, hormon, vulva hygiene dan aktivitas
yang membuat tubuh lelah, merupakan faktor penyebab yang memicu
mun-culnya keputihan (Bahari 2012 dalam Rika Puji Rahayu, Fitriani
Nur Damayanti dkk, 2015). Keputihan yang disebabkan oleh kondisi
tubuh hanya muncul ketika tubuh dalam keaadaan lelah dan kembali
seperti biasa saat tubuh kembali normal. Keputihan juga dapat
disebabkan oleh adanya peningkatan hormon progesteron yang
merubah flora dan pH vagina, hal ini menyebabkan jamur tumbuh di
vagina dan menyebabkan keputihan. Selain itu faktor yang dapat
menyebabkan keputihan adalah kurangnya menjaga kebersihan seperti
12
air yang digunakan untuk mem-basuh vagina tidak bersih, celana yang
terlalu ketat, dan cara penggunaan pembalut yang tidak baik.
3. Jenis-jenis Leukorrhea
Menurut Gusti Ayu Marhaeni (2016) keputihan dibedakan menjadi
2 jenis, yaitu: kepuithan normal (fisiologis) dan keputihan abnormal
(patologis).
a. Keputihan normal
Keputihan normal adalah keputihan yang muncul saat
menjelang menstruasi, pada hari ke 10-16 menstruasi saat fase
sekresi. Keputihan normal dipengaruhi oleh hormone estrogen dan
progesteron yang dihasikan saat proses ovulasi. Setelah proses
ovulasi, vaskularisasi dari endometrium akan meningkat yang
menyebabkan endometrium menjadi sembab. Kelenjar
endometrium akan berkelok-kelok oleh karena hormon estrogen
dan progesteron dari korpus luteum yang mneyebabkan keluarnya
cairan jernih yang disebut dengan keputihan. Hormon estrogen dan
progesteron juga dapat membuat lendir yang terdapat di serviks
menjadi lebih encer sehingga timbul keputihan pada proses
ovulasi. Estrogen menyebab mukus pada servik menipis dan
pHnya menjadi basa yang menyebabkan hidup dan gerak sperma
menjadi meningkat, sedangkan progesteron menyebabkan
penebalan pada mucus, menjadi kental, dan elastis saat ovulasi.
13
Keputihan fisiologis berupa cairan yang mengandung
banyak epitel dan mengandung sedikit leukosit. Keputihan normal
memiliki ciri-ciri sebagai berikut: cairan bening, kadang-kadang
putih kental , tidak berbau, dan tidak disertai keluhan gatal, paas,
nyeri ataupun rasa terbakar dan jumlah cairan yang keluar sedikit.
b. Keputihan abnormal
Infeksi alat kelamin (infeksi bibir kemaluan, liang
senggama, mulut rahim dan penyakit yang disebabkan oleh
penyakit menular seksual) merupakan penyebab utama dari
keputihan abnormal. Ciri-ciri dari keputihan abnormal adalah
ditemukan jumlah leukosit yang meningkat, timbul terus-menerus,
warna cairan berubah menjadi kekuningan, kehijauan, keabuan,
dan menyerupai susu), serta muncul keluhan seperti gatal, panas
dan nyeri serta mengeluarkan bau yang tidak sedap (amis, busuk
serta apek). Berikut faktor yang dapat memicu munculnya
keputihan abnormal adalah:
1). Kelelahan fisik
Kelehana fisik yang membutuhkan banyak energy
dapat menekan sekresi hormon estrogen. Menurunnya sekresi
hormon estrogen menyebabkan penurun kadar glikogen.
Glikogen bahan yang digunakan oleh Lactobacillus doderlein
untuk metabolisme. Sisa dari hasil metabolisme ini
digunakan untuk menjaga pH keasaman pada vagina. Apabila
14
asam laktat menjadi sedikit maka bakteri, jamur, dan parasite
akan mudah berkembang.
2). Ketegangan Psikis
Ketegangan psikis adalah kondisi seseorang yang
disebabkan karena meningkatnya beban pikiran oleh karena
kondisi yang tidak nyaman atau tidak menyenangkan atau
sulit diatas. Meningkatnya beban pikiran dapat menyebakan
sekresi hormon adrenalin menjadi meningkat.
Meningkatnya hormon ini menyebabkan penyempitan pada
pembuluh darah dan elastisitas pembuluh darah menjadi
berkurang. Hal ini menyebakan aliran hormon estrogen
menuju organ-organ tertentu salah satunya vagina menjadi
terhalang sehingga asam laktat yang dihasilakan pun
berkurang. Apabila asam laktat yang dihasilkan hanya
sedikit maka akan menyebabkan bakteri, jamur dan parasite
penyebab keputihan meningkat.
3). Kebersihan diri
Kebersihan diri merupakan tindakan yang dilakukan
seseorang agar tetap bersih dan sehat yang bertujuan
untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Keputihan abnormal
dapat dipicu karena kurangnya dalam hal menjaga
kebersihan diri, terutama alat kelamin. Kebiasaan yang
15
dapat memicu kepuithan adalah menggunakan pakaian
dalam yang terlalu ketat dan terbuat dari bahan nilon, cara
membersihkan alat kelamin (cebok) yang salah,
menggunakan sabun atau pewangi vagina yang tidak
sesuai, menggunakan pembalut kecil secara terus menerus
saat sedang tidak menstruasi.
C. Hormon
Hipothalamus merupakan bagian dari otak yang mengatur fungsi
reproduksi manusia. Fungsi hipothalamus salah satunya sebagai pusat
pengaturan homeostasis. Selain itu hipothalamus juga mengatur
pengeluaran hormon yang bekerja pada gonad. GnRH atau Gonadotropin
releasing hormone yang disekresikan oleh hipothalamus berikatan dengan
reseptor gonadotropine hormone (LH dan FSH) akan masuk ke dalam
aliran darah menuju gonad. Kemudian LH dan FSH akan menstimulasi
sekresi hormon steroid reproduksi (testosteron, estrogen dan
progesterone). Hormon reproduksi akan menghambat sekresi GnRH dan
gonadotropin hormone melalui umpan balik negatif.
Hormon steroid merupakan hasil sintesis dari kolesterol yang
berasal dari sintesis asetat, dari kolesterol ester pada jaringan steroidgenik,
dan berasal juga dari sumber makanan. Sintesis hormon steroid disintesis
menggunakan sekitar 80% kolesterol. Ovum yang matang pada wanita
akan mensintesis dan mensekresi hormon steroid aktif. Pembentukan
hormon steroid bersumber dari ovarium yang normal. Pada wanita
menopause dan wanita yang mengalami kelainan pada ovariumnya akan
16
menghasilkan estrogen dari prekusor androgen pada jaringan lain. Selain
itu ovarium juga menghasilkan progesteron selama fase luteal pada siklus
menstruasi, testosterone dan androgen dalam jumlah yang sedikit.
Hormon testosteron dan androgen juga diproduksi oleh korteks adrenal
dalam jumlah yang sedikit, hormon ini bukan hanya digunakan sebagai
prekursor estrogen namun juga langsung dikeluarkan ke jaringan perifer.
a) Estrogen
Estrogen memiliki 3 jenis hormon yang berbeda yaitu
estron, estradiol dan setriol. Pada wanita normal, estrogen
diproduksi oleh folikel selama proses ovulasi dan korpus luteum
selama kehamilan dalam jumlah yang banyak. Kadar estrogen akan
mengalami peningkatan pada keadaan ovulasi, pubertas prekoks,
kehamilan, ginekomastia, atropi testis, tumor ovarium dan tumor
adrenal. Sedangkan kadar estrogen akan menurun pada keadaan
menopause, disfungsi ovarium, infertilitas, amenorea karena
hipopituitari, anoreksia nervosa, sindroma turner, dan keadaan
stress. Faktor interfensir yang juga dapat menyebabkan
meningkatnya kadar estrogen adalah preparat estrogen, kontrasepsi
oral dan kehamilan. Serta dapat menurun kadarnya karena obat
clomiphene.
b) Progesteron
Progesteron juga memegang peranan penting di dalam
regulasi seks hormon wanita sama seperti estrogen. Progesteron
merupakan pregnenolon yang telah berubah. Perubahan ini
17
tergantung pada fase ovulasi dimana progesteron disekresi oleh
korpus luteum dalam jumlah yang besar. Progesteron berperan
sebagai prekursor untuk estrogen dan testoteron. Selain itu
progesteron juga berperan di dalam organ reproduksi termasuk
kelenjar mamae dan endometrium serta dalam peningkatan suhu
tubuh manusia. Progesteron memiliki organ target yaitu uterus,
dimana progesteron berperan untuk membantu implantasi ovum.
Kadar progesteron akan meningkat pada kehamilan, ovulasi, tumor
dan kista ovarium, tumor adrenal dan mola hidatinosa. Dan akan
mengalami penurunan pada keadaan amnorea, aborsi dan kematian
janin.
c) Testoteron (Androgen)
Testoteron adalah hormon seks steroid yang dominan pada
pria. Proses sintesis testoteron berlangsung di sel Leydig
interstitial. Pada pria dihidrotestoteron sebagian dibentuk di dalam
jaringan perifer. Testoteron diubah menjadi dihidrotestoteron di
dalam target jaringan testoteron yang spesifik. Metabolisme
testoteron terjadi di dalam hepar. Konsentrasi testoteron akan
mengalami peningkatan selama pubertas dan mencapai puncaknya
pada usia dewasa. Pada wanita normal, testoteron akan diproduksi
oleh ovarium dalam jumlah yang sedikit yaitu kruang dari 300 g
selama 24 jam. Testosteron berperan dalam proses pertumbuhan
rambut selama masa pubertas. Kadar testoteron yang berlebih
dapat menyebabkan amenorea, pertumbuhan rambut dan kelenjar
18
sebasea yang berlebih. Kadar androgen akan meningkat pada
hirsustisme, amenorea hipotalamus, dan tumor sel sertoll. Dan
akan mengalami penurunan pada adropause, sindrom klinefelter,
aplasia sel leydig, dan cryptorchidism.
D. Lingkungan
Lingkungan hidup dapat didefinisikan sebagai kesatuan ruang yang
berhubungan dengan benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk
manusia dan perilakunya, yang dimana secara langsung mempengaruhi
keberlangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia dan makhluk
hidup lainnya (Karden Eddy Sontang Manik, 2009 dalam Sarkawi, 2017).
Lingkungan hidup terbagi menjadi beberapa jenis yaitu lingkungan hidup
alami. lingkungan hidup binaan/buatan, lingkungan hidup sosial.
Lingkungan hidup alami merupaka lingkungan hidup yang terdiri atas
berbagai sumber alam beserta komponen-komponennya, baik fisik
maupun biologis. Lingkungan hidup alami memiliki sifat dinamis
dikarenakan memiliki sifat heterogenitas organisme yang sangat tinggi.
Lingkungan hidup buatan/binaan merupakan hasil dari buatan manusia
yang dibangun dengan bantuan teknologi (sederhana dan modern).
Sedangkan lingkungan hdup sosial merupakan lingkungan yang terbentuk
karena adanya interaksi sosial dalam masyarakat. Lingkungan hidup sosial
dapat membentuk lingkungan binaan yang dapat mencirikan perilaku
manusia sebagai makhluk sosial. Hubungan antara individu dan
19
masyarakat sangat erat sehingga dapat saling mempengaruhi serta saling
bergantung (Effendi, Salsabila and Malik, 2018). Lingkungan sosial terdiri
dari lignkungan keluarga, lingkungan pertemanan, dan lingkungan
sekolah. Lingkungan sosial menjadi salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi perilaku seseorang atau kelompok untuk dapat melakukan
suatu tindakan serta perubahan perilaku setiap individu (Sapara,
Lumintang and Paat, 2020).
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
stress. Lingkungan memiliki nilai positif dan negative terhadap perilaku
masing-masing individu sesuai pemahaman kelompok dalam masyarakat.
E. Hubungan antara Tingkat Stress dengan Kejadian Leukorrhea
Menurut Penelitian Agustiyani (2011), terdapat hubungan yang
bermakna antara stress dengan kejadian leukorrhea (keputihan) pada
remaja yang disebabkan karena adanya perubahan hormon-hormon
reproduksi saat mengalami stress.
20
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
STRESS
hormon lingkungan
LEUKORRHEA
Keterangan:
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti
Gambar III.1: Gambar III.1: Kerangka konsep antara tingkat stres dengan kejadian
leukorrhea pada siswi yang ada di SMK Negeri 2 Mantangai.
21
22
B. Penjelasan Kerangka Konsep
Leukorrhea memiliki beberapa faktor penyebab diantaranya adalah
hormon dan lingkungan. Lingkungan merupakan faktor dari stress yang
dapat menyebabkan leukorrhea. Pada penelitian ini yang diteliti adalah
hubungan stres dan leukorrhea.
C. Hipotesis Penelitian
Ada hubungan antara tingkat stres dengan kejadian leukorrhea
pada siswi di SMK Negeri 2 Mantangai, Kecamatan Mantangai,
Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. .
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian yang menggunakan cross
sectional study yaitu penelitian yang menekankan waktu pengukuran atau
observasi dari data variable independent dan dependent hanya satu kali
pada satu waktu.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian : Penelitian dilakukan di Desa Manusup, Kecamatan
Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan
Tengah, Indonesia.
Waktu Penelitian : Penelitian dan pengumpulan data dilakukan pada
tahun 2021.
C. Populasi dan Sampel/Subyek Penelitian
1. Populasi
Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah siswi di SMK Negeri 2
Mantangai, Kecamatan Mantangai, Kabuapten Kapuas, Provinsi
Kaliamntan Tengah.
Kriteria inklusi :
a. Siswi aktif kelas X dan XI.
b. Bersedia menjadi responden penelitian dengan menyetujui
informed consent.
23
24
Kriteria ekslusi :
Siswi aktif semester X dan XI namun tidak bersedia mengisi
kuesioner.
2. Sampel
a. Besar Sampel
Besar sampel pada penelitian dihitung menggunakan rumus
besar sampel berdasarkan masalah penelitian secara statistik yaitu
analitik komparatif kategorial tidak berpasangan (Dahlan,
Sopiyudin M, 2014).
Keterangan :
n = besar sampel
Za = Standar deviasi pada kesalahan tipe I (1,96)
Zß = STandar deviasi pada kesalah tipe II (0,84)
P1 = Proporsi pada kelompok yang nilainya diambil dari pustaka
(0,92)
P1 – P2 = Perbedaan klinis yang diinginkan (0,2)
Sehingga besar sampel (n) diperoleh sesuai dengan hasil
perhitungan berikut:
1,96 √ 2.0,82.0,18+ 0,84 √ 0,92.0.08+ 0,72.0,28
[ 0,2 ]
n=51,84(dibulatkan menjadi 52 sampel )
25
Jadi, besar sampel pada penelitian ini adalam 52 sampel.
b. Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode
probability sampling, yaitu simple random sampling.
D. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah stress.
2. Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah leukorrhea.
E. Definisi Operasional
Tabel IV.1 : Definisi Operasional
No. Varia Definisi Alat Ukur Kategori Skala
bel Operasional Kriteria
1. Stress Stress Kuesioner Normal : 0-14 Ordinal
didefinisikan Ringan : 15-18
sebagai Sedang : 19-25
kondisi yang Berat : 26-33
disebabkan Sangat berat : >34
oleh interaksi
antara individu
dengan
lingkungan,
menimbulkan
26
persepsi jarak
antara
tuntutan-
tuntutan yang
berasal dari
situasi yang
bersumber
pada sistem
biologis,
sistem
psikologis dan
sistem sosial
dari seseorang
2. Leuko Leukorrhea Kuesioner Keputihan-tidak Nomina
keputihan
rrhea atau keputihan l
adalah Tidak mengalami
keputihan : 0-2
keluarnya
Mengalami
cairan selain keputihan : 3- 10
darah dari
liang vagina di
luar kebiasaan,
baik berbau
ataupun tidak,
serta disertai
rasa gatal
27
setempat
F. Prosedur Pengumpulan & Pengolahan Data
1. Alur Penelitian
Menyelesaikan Proposal
Penelitian
Menentukan Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah
siswi di SMK Negeri 2 Mantangai
Pengambilan data dengan
kuesioner
Analisa data
28
Penyajian data dan hasil
Kesimpulan
2. Kualifikasi dan Jumlah Tenaga
Petugas dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya sejumlah 1 orang
peneliti.
3. Alat/Bahan/Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan kuesioner, yaitu kuesioner tingkat
stress dengan Depression Anxiety Scale (DASS 42) dan kuesioner
yang berisi pertanyaan seputar keluhan keputihan.
a. Kuesioner tingkat stress
29
Tingkat stress merupakan hasil penilaian dari berat ringannya
stress yang dialami oleh seseorang. Tingkat stress dapat diukur
dengan menggunakan kuesioner Depression Anxiety Scale (DASS
42). Depression Anxiety Scale (DASS 42) merupakan kuesioner
yang berisi 42 pertanyaan yang dipergunakan untuk mengukur
general psychological distress yang terdiri dari tiga pegukuran
skala yaitu stress, depresi dan kecemasan. Skor minimal dari
kuesioner ini adalah 0 dan skor maksimal adalah 42. Kuesioner
tingkat stress terdiri dari 14 butir pertanyaan menggunakan skala
0, yang artinya tidak sesuai dengan pribadi saya atau tidak pernah
sama sekali. Skala 1, yaitu sesuai dengan pribadi saya sampai
batas yang dapat dipertimbangkan atau lumayan sering dan skala 3
yaitu berarti sangat sesuai dengan pribadi saya atau sering kali.
Kategori skor dalam kuesioner yaitu normal adalah 0-14, kategori
ringan 15-18, kategori sedang (19-25) , kategori berat 26-33, dan
kategori sangat berat >34 (Mubarak, 2015).
Tabel IV.2 : Kuesioner Stress
No. Pernyataan 0 1 2 3
1. Saya merasa bahwa diri saya menjadi
marah karena hal kecil/sepele.
2. Saya cenderung bereaksi berlebihan
terhadap suatu situasi.
3. Saya merasa sulit untuk bersantai
4. Saya menemukan diri saya mudah
merasa kesal.
5. Saya merasa lelah menghabiskan
banyak energy untuk merasa cemas.
30
6. Saya menemukan diri saya menjadi
tidak sabar ketika mengalami
penundaan (misalnya: kemacetan lalu
lintas, menunggu sesuatu).
7. Saya merasa bahwa saya mudah
tersinggung.
8. Saya merasa bahwa saya sulit untuk
beristirahat.
9. Saya merasa bahwa saya mudah marah.
10. Saya merasa sulit untuk tenang setelah
sesuatu membuat saya kesal.
11. Saya sulit untuk sabar dalam
menghadapi gangguan terhadap hal
yang sedang saya lakukan.
12. Saya sedang merasa gelisah
13. Saya tidak dapat memaklumi hal
apapun yang menghalangi saya untuk
menyelesaikan hal yang sedang saya
lakukan.
14. Saya menemukan diri saya mudah putus
asa.
b. Kuesioner kejadian leukorrhea (keputihan)
Kuesioner keputihan yaitu kuesione yang berisikan pertanyaan
yangd igunakan untuk mengidentifikasi keluhan keputihan pada
remaja putri. Kuesioner keluhan keputihan terdiri dari 10
pertanyaan untuk mengukur keluhan keputihan yang dialami
remaja putri, dimana responden akan memilih jawaban antara ya
31
dan tidak dalam pertanyaan yang diajukan oleh kuesioner
berdasarkan keadaan yang dialami.
Tabel IV.3 : Kuesioner Keputihan
No Pernyataan Ya Tidak
.
1. Saya mengeluarkan cairan tidak berwarna
atau berwarna putih dari vagina
2. Saya mengeluarkan cairan keputihan
yang tidak mengeluarkan bau menyengat
dan tidak menimbulkan rasa gatal
3. Saya mengeluarkan cairan berwarna
keruh dan kental dari vagina
4. Saya mengeluarkan cairan keputihan
yang bertekstur dari vagina dan
menimbulkan rasa gatal yang tidak biasa
5. Saya mengeluarkan cairan keputihan
yang erbau menyengat dari vagina
6. Saya mengeluarkan cairan keputihan
yang sangat banyak dari vagina
7. Saya mengeluarkan cairan dari vagina
yang berbau menyengat dan menimbulka
rasa gatal
8. Saya mengeluarkan cairan dari vagian
yang berbau menyengat tetapi tidak
disertai rasa gatal
9. Keputihan yang saya rasakan sudah sejak
lama
10. Keputihan yang saya alami menyebabkan
rasa terbakar di sekitar vagina
32
c. Uji Validitas
Kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat stress
menggunakan kuesioner yang sudah baku yaitu dengan
menggunakan kuesioner Depression Anxiety Scale (DASS 42),
sehingga tidak diperlukan uji validitas lagi. Kuesioner kejadian
keputihan telah dilakukan uji validitas pada 35 remaja putri di
Sanggar Nyai Balau Tewah pada tanggal 5 Juni 2021 dengan
menggunakan kuesioner online (google form). Hasil dari uji
validitas kuesioner dinyataka 10 item pernyataan yang diajukan
sudah valid.
d. Uji Reabilitas
Kuesioner tingkat stress dengan menggunakan kuesioner
Depression Anxiety Scale (DASS 42) tidak dilakukan uji reabilitas
karena sudah baku. Kuesioner keluhan keputihan telah dilakukan
uji reliabelitas pada pada 35 remaja putri di Sanggar Nyai Balau
Tewah pada tanggal 5 Juni 2021 dengan menggunakan kuesioner
online (google form). Hasil dari uji validitas kuesioner dinyatakan
10 item pernyataan yang diajukan sudah reliabel, dengan
didapatkan bahwa nilai cronbach alpha yaitu 0,782
4. Cara Pengambilan Data
33
Cara pengambilan data pada sampel penelitian ini adalah dengan
menyebarkan kuesioner menggunakan angket yang berisi pertanyaan
mengenai stress dan leukorrhea (keputihan).
5. Teknik Pengolahan Data
Data penelitian yang telah terkumpul, kemudian akan dilanjutkan
dengan pengolahan data dengan program SPSS. Hasil pengolahan data
akan ditampilkan dan disajikan dalam bentuk tabel.
G. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Data penelitian analisis univariat yang akan dilakukan untuk
melihat hubungan tingkat stress dengan kejadian leukorrhea.
2. Analisis Bivariat
Hasil data yang teklah dikumpulkan dan diolah oleh peneliti,
kemudian akan dianalisis secara univariat dan bivariat dengan
menggunakan uji Chi-Square Test pada program SPSS. Uji Chi
Square yang akan digunakan pada penelitian ini adalah uji hipotesis
komparatif kategorik tidak berpasangan 2x2. Jika uji Chi-Square Test
tidak ter-penuhi maka akan menggunakan uji Mann-Whitney (Dahlan,
Sopiyudin M, 2014).
Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini disusun dalam bentuk
hipotesis statistik, yaitu :
H0: Tidak ada hubungan antara tingkat stress dengan kejadian
leukorrhea pada siswi di SMK Negeri 2 Mantangai.
34
H1: Ada hubungan tingkat stres dengan kejadian leukorrhea pada
siswi di SMK Negeri 2 Mantangai.
DAFTAR PUSTAKA
Abrori Abrori, Andri Dwi Hernawan and Ermulyadi Ermulyadi. 2017.
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Keputihan Patologis
Siswi SMANSimpang Hilir Kabupaten Kayong Utara.
[online][Link]:[Link]
ublication/320103072_FAKTOR_YANG_BERHUBUNGAN_D
ENGAN_KEJADIAN_KEPUTIHAN_PATOLOGIS_SISWI_SM
AN_1_SIMPANG_HILIR_KABUPATEN_KAYONG_UTARA
[Accessed 5 May 2021], hal.25
Agustiyani. 2011. Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Keputihan
pada Remaja Putri Kelas X dan XI di SMA Taman Jetis
Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan ‘Aisyiyah Yogyakarta, hal. 8
Andriani, Y., Maidaliza, M. and Alvaensi, R.I. 2020. Pemberian
Pendidikan Kesehatan Melalui Telenursing terhadap
Peningkatan Pengetahuan dan Pencegahan Keputihan Patologis
pada Remaja. Jurnal Kesmas Asclepius, [online]2(2),pp.81–
[Link]:
[Link]
[Accessed 5 May 2021], hal. 82
Argadikoesoema, S. 2019. Pedoman Strategi dan Langkah Aksi
Pengelolaan Stres. Komite Penanggulangan Kanker Nasional
(KPKN) Periode 2014 – 2019, hal. 1
Dahlan, Sopiyudin M. 2018. Langkah-Langkah membuat Proposal
Penelitian Bidang Kedokteran Dan Kesehatan Edisi 2. Jakarta:
Sagung Seto, hal 80
Dahlan, Sopiyudin M. 2014. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan:
Deskriptif, Bivariat dan Multivariat Edisi 6. Jakarta: Sagung Seto,
hal. 165-178
David Sam Jayakumar and A. Sulthan. (2013. Stres Symptoms : Structural
EquationModelling.
[online][Link]:[Link]
ublication/265421912_Stres_Symptoms_Structural_Equation_Mo
delling [Accessed 28 Mar. 2021], hal. 97
35
36
Effendi, R., Salsabila, H. and Malik, A. 2018. Pemahaman Tentang
Lingkungan Berkelanjutan. MODUL, [online] 18(2), p.75
[Link]:[Link]
iew/20792 [Accessed 10 May 2021], hal. 77
Gusti Ayu Marhaeni. 2016. Keputihan pada wanita. Jurnal Skala Husada :
The Journal of Health, [online] 13(1). Available at:
[Link]
w/67/33 [Accessed 7 Apr. 2021], hal. 33-35
I Wayan Sudarya, Dr.I Wayan Bagia, [Link] and I Wayan Suwendra, S.E.,
[Link]. 2014. Analisis Faktor-faktor yang MempengaruhiI Stress
Pada Mahasiswa dalam Penyusunan Skripsi Jurusan Manajemen
Undiksha angkatan 2009. JurnalManajemenIndonesia,
[online]2(1).[Link]:[Link]
p/JMI/article/view/4309 [Accessed 26 Mar. 2021], hal. 4
Karyati, A. 2014. Korelasi Antara Perilaku Vulva Higiene Dengan
Kejadian Keputihan Pada Mahasiswi Program Studi
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjung Pura.
Skripsi. Pontianak: Universitas Tanjungpura
Musradinur. 2016. Stres dan Cara Mengatasinya Dalam Perspektif
Psikologi. JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling,
[online]
2(2),[Link]:[Link]
aBK/article/view/815 [Accessed 6 May 2021], hal. 185
Pitriani, R. 2020. Asuhan Kebidanan pada Remaja Putri dengan
Keputihan. Jurnal Komunikasi Kesehatan (Edisi 20), [online]
11(01), pp.48–[Link]:[Link]
[Link]/ index.
php/jkk20/article/view/151 [Accessed 6 May 2021], hal. 49
Praveena Devi, M Anisha Reddy, Onaiza Zahan and Jvc Sharma.
2019. The Effect of Stress on Human Life. [online] ResearchGate.
Available
at:[Link]
FECT_OF_STRES_ON_HUMAN_LIFE [Accessed 28 Mar.
2021]
37
Raden Rara Pandhan Budi Larasat. 2019. Cara Pencegahan dan
Penatalaksanaan Leukorea pada Anak-Anak. [online]
[Link]:[Link]
on/334007790_Cara_Pencegahan_dan_Penatalaksanaan_Leukore
a_pada_Anak-Anak [Accessed 1 Apr. 2021], hal. 1
Rahmanisa, S. 2014. Steroid Sex Hormone And It’s Implementation to
Reproductive Function. JUKE Unila, [online] 4(07). Available at:
[Link]
[Accessed 19 May 2021], hal. 99-102
Rahmawati, M.N., Rohaedi, S. and Sumartini, S. 2019. Tingkat Stres Dan
Indikator Stres Pada Remaja Yang Melakukan Pernikahan Dini.
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA, [online]
5(1).[Link]://[Link]/[Link]/JPKI/article/vie
w/11180 [Accessed 8 May 2021], hal.26
Rika Puji Rahayu, Fitriani Nur Damayanti and Indri Astuti Purwanti.
2015. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Keputihan Pada
Wanita Usia Subur (WUS) di RT 04 RW 03 Kelurahan Rowosari
SEMARANG. Jurnal Kebidanan, [online] 4(1), pp.11–16.
[Link]:[Link]
view/1384 [Accessed 3 Apr. 2021], hal. 12
Riza Mahmud and Zahrotul Uyun. 2013. Studi Deskriptif Mengenai Pola
Stress pada Mahasiswa Praktikum. Indigenous: Jurnal Ilmiah
Psikologi,
[online]1(2).[Link]:[Link]
enous/article/view/4970 [Accessed 7 May 2021], hal.54
Rossadea Atziza. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian
Stres dalam Pendidikan Kedokteran. Jurnal Agromedicine,
[online] 2(3), pp.317–320.
[Link]:[Link]
icle/view/1367 [Accessed 24 Mar. 2021], hal. 318
Sapara, M.M., Lumintang, J. and Paat, C.J. 2020. Dampak Lingkungan
Sosial Terhadap Perubahan Perilaku Remaja Perempuan di
Desa Ammat Kecamatan Tampan’amma Kabupaten Kepulauan
Talausd. Holistik, Journal Of Social and Culture,
[online]0(0).Availableat:[Link]
listik/article/view/29607 [Accessed 10 May 2021], hal. 3
38
Sarafino, E.P. 2012. Health Psychology: Biopsychosocial Interactions.
International Student Version. Singapore: John Wiley & Sons,
Inc, hal. 60-63
Sarkawi, D. 2017. Pengaruh Jenis Kelamin Dan Pengetahuan Lingkungan
Terhadap Penilaian Budaya Lingkungan. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan, [online] 16(02),
pp.101–[Link]:
[Link]
[Accessed 10 May 2021], hal. 104
SUPRIYATININGSIH, S. 2015. Monograf Penggunaan Vaginal
Douching Terhadap Kejadian Candidiasis Pada Kasus
Leukorrhea. [Link].
[online]Availableat:[Link]
/778 [Accessed 3 Apr. 2021], hal. 3
The Stres Factor Your guide to stres. (n.d.). [online] . Available at:
[Link]