0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan11 halaman

Strategi Penanganan Penyalahgunaan NAPZA

Laporan ini membahas masalah penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika, psikotropika, dan zat adiktif lain) dengan menjelaskan pengertian, penyebab, rentang respon, proses terjadinya masalah, tanda dan gejala, serta akibat penyalahgunaan NAPZA. Faktor individual, lingkungan, dan sosial budaya berperan dalam memicu penyalahgunaan NAPZA yang dapat menimbulkan ketergantungan f

Diunggah oleh

Femy Lia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan11 halaman

Strategi Penanganan Penyalahgunaan NAPZA

Laporan ini membahas masalah penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika, psikotropika, dan zat adiktif lain) dengan menjelaskan pengertian, penyebab, rentang respon, proses terjadinya masalah, tanda dan gejala, serta akibat penyalahgunaan NAPZA. Faktor individual, lingkungan, dan sosial budaya berperan dalam memicu penyalahgunaan NAPZA yang dapat menimbulkan ketergantungan f

Diunggah oleh

Femy Lia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN

PASIEN DENGAN MASALAH PENYALAHGUNAAN NAPZA

Disusu Oleh:
FEMY LIA UTAMI
2014901058

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TANJUNG KARANG


PRODI NERS TANJUNG KARANG
TAHUN 2021
A. Kasus / masalah utama :
1) Pengertian
Narkotika, Psikotropika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Adiktif Lain (NAPZA)
(NAPZA) adalah bahan atau zat atau obat yang bila masuk ke dalam tubuh manusia
akan mempengaruhi tubuh terutama otak atau susunan saraf pusat, sehingga
menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi
kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependdensi) terhadap NAPZA
Penyalahgunaan zat adalah pengunaan zat secara terus-menerus bahkan
sampai setelah terjadi [Link] zat menunjukkan kandisi yang parah
dan sering diangap sebagal penyakit. Adiksi umumnya merujuk pada perilaku
psikosasial yang berhubungan dengan ketergantungan zat. Gejala putus zat terjadi
karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi adalah peningkatan jumlah zat
untuk. memperuleh efek yang diharapkan. Gejala putus zat dan toleransi merupakan
tanda ketergantungan fisik
Narkotika adalah suatu zat atau obat yg berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintetis maupun semisintetis yg dpt menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri,
dan dapat menimbulkan ketergantungan

2) Penyebab
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan penyalahgunaan NAPZA adalah:
a. Faktor Individual
Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai pada saat remaja, sebab masa
remaja merupakan masa transisi dimana seseorang mengalami perubahan biologi,
psikologi maupun sosial yang pesat.
b. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan, baik
sekitar rumah, sekolah, teman seba  baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya,
maupun ya, maupun lingkungan sosial atau lingkungan sosial atau masyarakat.
c. Lingkungan Keluarga
Terdiri dari berbagai kondisi seperti komunikasi antar anggota keluarga yang
kurang baik, hubungan antar anggota keluarga yang kurang harmonis, kurangnya
sosok di keluarga yang menjadi teladan dalam hidupnya, kurangnya kehidupan
beragama, kegiatan masing-masing anggota keluarga yang terlampau sibuk dan
kurangnya perhatian antar sesama anggota keluarga.
d. Lingkungan Sekitar
Faktor lingkungan sekitar yaitu keluarga / sekolah / tempat kerja yang kurang
disiplin, tempat tinggal / sekolah / tempat kerja yang terletak dekat dengan tempat
hiburan, keluarga / sekolah / tempat kerja yang kurang memberi kesempatan pada
masing-masing individu untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif,
dan adanya anggota keluarga / teman sekolah / teman sebaya / teman kerjanya
yang juga pengguna NAPZA.
e. Lingkungan Pergaulan
berteman dengan penyalahguna atau adan  berteman dengan penyalahguna atau
adanya tekanan a ya tekanan atauancaman dari tauancaman dari orang lain.
f. Lingkungan Masyarakat / Sosial :
lemahnya penegak hukum, situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang
mendukung.

3) Rentang respon

Respon adaptif - maladaptif dari rentang respon penggunaan zat kimiawi sebagai
kopingadalah sebagai berikut :
a. Beberapa NAPZA secara alamiah ada di dalam individu (endorphin), berguna
untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti melakukan aktivitas fisik, meditasi,
tetapi dalamkadar yang selalu ada pada keseimbangan Beberapa individu
mengkonsumsi NAPZA seperti: tembakau, kafein, alkohol, obat-obatresep,
dan terlarang dengan penggunaan jarang, sehingga terjadi
ketidakseimbanganakibat adanya peningkatan kadar zat di dalam tubuh
b. Penggunaan zat semakin sering dan ketagihan
c. Ketergantungan zat adiktif (dependence)
Ketergantungan zat adiktif (dependence) adalah kondisi penyalahgunaan
yang lebih berat, telah terjadiketergantungan fisik dan psikologis.
Ketergantungan fisik ditandaidengan kondisi toleransi dan sindroma putus
zat.
d. Penyalahgunaan zat adiktif (substance abuse)
Penyalahgunaan zat adiktif (substance abuse) adalah penggunaan zat yang
bersifat patologis, relative digunakan lebih sering dari biasanya, walupun
pengguna menderitacukup serius akibat penggunaan tersebut tetapi individu
tidak mampu untuk menghentikan, penggunaan telah berlangsung kurang
lebih 1 bulan, sehingga terjadi penyimpangan perilaku dan mengganggu
fungsi sosial, pekerjaan, dan pendidikan
e. Sindroma putus zat (withdrawal)
Pada pemakaian yang terus menerus akan tercapai tingkat dosis toleransi

yang cukuptinggi, jika pengguna menghentikan akan timbul gejala-gejala

tertentu sesuai jenis zatyang disalahgunakannya

4) Proses terjadinya masalah


a. Faktor predisposisi
1) Faktor biologis
 Kecenderungan keluarga, terutama orang tua yang menyalahgunakan kan
NAPZA
 Bahan metabolit alkohol yang mengakibatkan respon fisiologis yang tidak
nyaman
 penyakit kronis: asma bronkial, kanker, penyakit lain dengan masa sakit yang
menahun
2) Faktor psikologis
 Kepribadian yang tergantung
 harga diri yang rendah terutama untuk ketergantungan alkohol, sedatif-
hipnotik yang diikuti oleh rasa bersalah
 pembawa keluarga: kondisi keluarga yang tidak stabil, role model yang
negatif
 kurang dipercaya, dan orang tua yang ketergantungan zat adiktif
 individu dengan perasaan tidak aman
 individu dengan krisis identitas: kecenderungan homoseksual, krisis identitas
dengan menggunakan obat untuk menunjukkan kejantanan
 cara pemecahan masalah yang menyimpang
3) Faktor Sosiokultural
 Sikap masyarakat yang ambivalensi terhadap penggunaan nafza seperti
nikotin ganja, alkohol
 norma kebudayaan suku bangsa menggunakan alkohol untuk upacara adat
dan keagamaan
 lingkungan tempat yang rentang untuk transaksi napza seperti diskotik
tempat hiburan malam Mall lokasi pelacuran, lingkungan rumah yang
kumuh dan padat
b. Stressor presipitasi
Penggunaan zat atau penyalahgunaan zat seringkali merupakan suatu cara dari
seseorang untuk mengatasi stres yang ada dalam kehidupannya. Tanpa disadari
kondisi atau cara ini merupakan suatu lingkaran untuk mendapatkan stress
selanjutnya akibat dari penggunaan zat tersebut. Semakin banyak penggunaan zat
adiktif, semakin banyak pula stress yang ditimbulkan akibat tergantungnya fungsi
bio psiko sosial sebagai dampak penggunaan zat adiktif
5) Tanda dan gejala
a. Perubahan Fisik
Gejala fisik yang terjadi tergantung dari jenis zat yang digunakan, tapi secara
umum dapat digolongkan sebagai berikut :
1) Pada saat menggunakan NAPZA ; jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel),
apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif, curiga.
2) Bila kelebihan dosis (overdosis) : napas sesak, denyut jantung dan nadi
lambat, kulit teraba dingin, napas lambat atau berhenti, meninggal.
3) Bila sedang ketagihan (putus zat / sakau) : mata dan hidung berair,  berair,
menguap menguap terus menerus, menerus, diare, rasa sakit di seluruh
seluruh tubuh, takut air sehingga malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
4) Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak peduli terhadap
kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan keropos, terdapat bekas
suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada para pengguna jarum
suntik).
b. Perubahan Sikap Dan Perilaku
1) Prestasi sekolah ataupun kerja menurun, sering tidak mengerjakan tugas-
tugas yang diberikan, membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab.
2) Pola tidur berubah, begadang, sulit bangun di pagi hari, mengantuk di siang
hari.
3) Sering bepergian sampai larut malam, kadang tidak pulang tanpa memberi
tahu terlebih dahulu.
4) Sering mengurung diri, berlama-lama di kamar mandi, menghindar bertemu
dengan anggota keluarga lain di rumah.
5) Sering mendapat telepon dan didatangi oleh orang yang tidak dikenal oleh
keluarga, kemudian menghilang.
6) Sering berbohong dan meminta banyak uang dengan berbagai alasan yang
tidak jelas penggunaannya, mengambil dannmenjual barang berharga milik
sendiri atau milik keluarga, mencuri, terlibat tindak kekerasan atau
berurusan dengan polisi.
7) Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar, sikap
bermusuhan, tertutup dan penuh rahasia.
6) Akibat
Beberapa aspek yang timbul sebagai akibat langsung penyalahgunaan NAPZA
antara lain :
a. Secara Fisik
Penggunaan NAPZA akan mengubah metabolisme tubuh seseorang. Hal ini
terlihat dari peningkatan dosis yang semakin lama semakin besar dan gejala
putus obat. Keduanya menyebabkan seseorang untuk berusaha terus menerus
mengkonsumsi NAPZA.
b. Secara Psikis
Berkaitan dengan berubahnya beberapa fungsi mental, seperti rasa bersalah,
bersalah, malu danperasaan danperasaan nyaman yang timbul dari
mengkonsumsi mengkonsumsi NAPZA.  NAPZA. Cara yang kemudian
kemudian ditempuh ditempuh untuk beradaptasi beradaptasi dengan perubahan
mental itu adalah dengan mengkonsumsi NAPZA lagi.
c. Secara Sosial
Dampak sosial yang memperkuat pemakaian NAPZA. Proses ini biasanya
diawali dengan perpecahan di dalam kelompok sosial terdekat seperti keluarga,
sehingga muncul konflik dengan orangtua teman-teman, pihak sekolah atau
pekerjaan. Perasaan dikucilkan oleh pihak-pihak ini kemudian menyebabkan si
penyalahguna bergabung dengan kelompok orang-orang serupa, yaitu para
penyalahguna NAPZA juga.
7) Mekanisme koping
Penyalahgunaan zat adiktif adalah suatu representasi dari mekanisme pertahanan diri
yang tidak sukses dan tingkah laku adaptif yang tidak adekuat atau tidak
berkembang. Mekanisme yang biasa digunakan pada penyalahgunaan zat adiktif
adalah
a. Daniel dari masalah
b. Proyeksi merupakan tingkah laku untuk melepaskan diri dari tanggungjawab.
c. Rasionalisasi
8) Penatalaksanaan
a. Detoksifikasi tanpa substitusi klien ketergantungan putau atau heroin yang
berhenti menggunakan zat yang mengalami gejala putus zat tidak diberi obat
untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya dibiarkan saja
sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri detoksifikasi dengan substitusi,
putau atau heroin dapat di subtitusikan dengan memberikan jenis opiat misalnya
kodein, bufrenorfhine dan metode substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik dan
alkohol dapat dari jenis antiansietas, misalnya diazepam. pemberian substitusi
adalah dengan cara menurunkan dosis secara bertahap sampai berhenti sama
sekali selama pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang
menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat penghilang rasa nyeri rasa
mual dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang timbul akibat putus zat
tersebut.
b. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu
melalui pendekatan non medis, psikologis sosial dan religius agar pengguna
napsa yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan
fungsional seoptimal mungkin. Tujuannya pemulihan dan perkembangan pasien
baik fisik mental sosial dan spiritual. Sarana rehabilitasi yang disediakan harus
memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan.

9) Pohon masalah

Harga diri rendah

Menggunakan ekstasi, pulang larut


malam,pergaulan yang kurang baik.

Ketidakefektifan koping

10) Diagnosa Keperawatan


1) Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak mampu mengatasi
keinginan menggunakan zat adiktif.
2) Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.
3) Perubahan pemeliharaan kesehatan dan ADL berhubungan dengan efek
penggunaan zat adiktif.
4) Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan pola asuh yang salah.
5) Gangguan kesadaran somnolent berhubungan dengan intoksikasi obat sedative
hipnotik.

11) Rencana Keperawatan


Dx.1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak mampu mengatasi
keinginan menggunakan zat adiktif.
Tujuan : klien mampu untuk mengatasi keinginan menggunakan zat adiktif
Intervensi :
Individu :
- Identifikasi situasi yang menyebabkan timbulnya sugesti
- Identifikasi perilaku ketika sugesti datang
- Diskusikan cara mengalihkan pikiran dari sugesti yang lebih positif
- Bantu klien mengekspresikan perasaannya
Kelompok :
- Diskusikan pengalaman mengucapkan kata-kata yang mengandung semangat
menghindari zat adiktif
Keluarga :
- Motivasi keluarga untuk membantu klien mampu jujur bila sugestinya dating
- Diskusikan upaya keluarga membantu klien mengurangi sugesti
- Bantu suasana mendukung keakraban di rumah

Dx.2. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.


Tujuan : klien meningkatkan kegiatan spiritual
Intervensi :
Individu :
- Bantu mengidentifikasi kebutuhan spiritual
- Identifikasi arti keyakinan keagamaan
- Motivasi menjalankan keagamaan
Kelompok :
- Diskusikan nilai-nilai kebaikan
- Lakukan kegiatan ibadah bersama
Keluarga :
- Diskusikan pentingnya kegiatan keagamaan
- Bantu menyiapkan kegiatan keagamaan di rumah
- Motivasi orang tua sebagai contoh untuk kegiatan keagamaan

Dx.3. Perubahan pemeliharaan kesehatan dan ADL berhubungan dengan efek


penggunaan zat adiktif.
Tujuan : klien mampu mengambil keputusan merubah dan memperbaiki gaya
hidupnya
Intervensi :
Individu :
- Identifikasi gaya hidup selama menggunakan zat adiktif
- Diskusikan kerugian gaya hidup pengguna zat adiktif
- Bantu kebiasaan mengontrol penggunaan zat/merokok
- Bantu latihan gaya hidup sehat : makan, mandi dan tidur teratur
Kelompok :
- Diskusikan gaya hidup sehat dan manfaatnya
Keluarga :
- Identifikasi gaya hidup keluarga
- Diskusikan keluarga sebagai model dan tempat berlatih untuk hidup sehat

Dx.4. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan pola asuh yang salah.
Tujuan : keluarga mampu memberikan kenyamanan pada klien sehingga mampu
berhenti menggunakan zat adiktif
Intervensi :
Kelompok :
- Beri kesempatan untuk mengekspresikan perasaan
- Diskusikan cara menghadapi perilaku klien dan rencana sebelum pulang
- Bantu mencapai kesepakatan tndak lanjut perawatan rehabilitasi mental
Keluarga :
- Identifikasi penerimaan keluarga terhadap masalah
- Bantu menerima masalah
- Identifikasi harapan untuk sembuh total
- Bantu respon keluarga bila klien menggunakan zat adiktif
- Bantu keluarga latihan mengucapkan kata-kata yang menghargai dan mendukung
klien untuk berhenti

Dx.5. Gangguan kesadaran somnolent berhubungan dengan intoksikasi obat sedative


hipnotik.
Tujuan : klien mampu melakukan interaksi dan memberikan respon terhadap
stimulus secara optimal.
Intervensi :
Individu :
- Observasi tanda-tanda vital terutama kesadaran
- Bekerja sama dengan dokter dalam pemberian terapi medis
- Memberikan rasa nyaman dan aman dengan pengaturan posisi
- Menjaga keselamatan diri klien selama kesadaran terganggu
- Observasi keseimbangan cairan
Keluarga :
- Berikan penjelasan tentang pengaruh zat adiktif terhadap kondisi fisik, social dan
emosional klien

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.A.A. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi, Konsep, dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba.
Kusumawaati, Farida, 2010, Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Salemba Medika
Keliat, Budi ana, 2006, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi 2, EGC, Jakarta
Depkes. (2002). Keputusan Menteri kesehatan RI tentang pedoman penyelenggaraan sarana
pelayanan rehabilitasi penyalahgunaan dan ketergantungan narkotika, psikotropika dan
zat adiktif lainnya (NAPZA). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes. (2001). Buku pedoman tentang masalah medis yang dapat terjadi di tempat
rehabilitasi pada pasien ketergantungan NAPZA. Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa
Masyarakat

Anda mungkin juga menyukai