MAKALAH JOB MARKET
(NASIONAL DAN INTERNASIONAL)
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Trend Issue Keperawatan
Dosen Pengampu:
Eva Puspita Istiyana, [Link] Kep
KELOMPOK 5 :
Astuti 201813061
Dina Fauziah 201813067
Ilmi Musyarofah 201813075
Indah Gita Chayatun Nufus 201813076
Ismi Nurapni 201813078
Muhammad Syah Faril Gifari 201813086
Nur Andini 201813088
Ratih Purwatih 201813093
Siti Aisyah 201813099
Usu Mutoharoh 201813104
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN Tk. III (B)
Jl. Ibrahim Adjie No.180, Sindangbarang, Bogor Barat 16117
Phone: 025.8327396 / 02518327399
Mobile: 0852-1670-1658 / 0812-19581
Email: wijayahusada@[Link]
Website: [Link]
2
KATA PENGANTAR
Marilah kita ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt. Karena berkat
rahmat, karunia, taufik dan hidayah-Nya kamidapat menyusun makalah ini dengan
baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Sholawat serta salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah
menunjukan kepada kita jalan yang lurus berupa agama Islam yang telah menjadi
anugerah serta rahmat bagi seluruh semesta alam.
Kami berharap makalah ini dapat berguna juga bermanfaat untuk
menambah wawasan pembaca mengenai Trend Issue Keperawatan tentang Job
Market (Nasional dan Internasional). Selain itu, penulis juga mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kami,
khususnya kepada selaku dosen dalam mata kuliah Trend Issue Keperawatan yang
telah memberikan tugas ini.
Demikian yang dapat kami susun, semoga makalah ini dapat dengan
mudah dipahami serta dapat menambah wawasan bagi pembacanya. Penyusun
juga memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan dari makalah ini,
tidak lupa penyusun meminta kritik dan saran untuk makalah ini agar kedepannya
dapat lebih baik lagi.
Bogor, 5 November 2020
(Kelompok 5)
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................
i
DAFTAR ISI.............................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................
A. Latar Belakang.............................................................................................
1
B. Rumusan Masalah........................................................................................
1
C. Tujuan...........................................................................................................
1
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................
A. ........................................................................................................................
B. ........................................................................................................................
C. ........................................................................................................................
BAB III PENUTUP..................................................................................................
A. Kesimpulan...................................................................................................
B. Saran..............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan era globalisasi, profesi perawat telah mengalami
perkembangan pesat. Perawat masa kini sangat jauh berbeda dengan perawat masa
lalu, dimana kini eksistensi mereka lebih diakui di dunia serta dianggap menjadi
tenaga professional. Perawat tidak lagi dipandang sebelah mata, anggapan
pembantu dokter pun sudah tidak berlaku lagi karena kini perawat merupakan
mitra kerja, ia memiliki kedudukan yang sejajar dengan tenaga kesehatan lainnya.
Hal tersebut telah berkembang di dunia, terlebih di Negara-negara maju
seperti di Amerika dan Eropa. Dimana perawat sudah diakui sepenuhnya memiliki
keahlian yang tidak dimiliki tenaga kesehatan lainnya. Selain itu kebanyakan dari
mereka pun hidup sejahtera, mendapat kesempatan yang lebih untuk
mengembangkan diri. Terbukti dengan dijadikannya perawat sebagai direktur
rumah sakit dan menduduki jabatan lainnya, karena mereka sudah beranggapan
bahwa perawat mampu untuk bersikap kritis dan juga lebih banyak interaksi
dengan pasien. Hal ini pun tampak jelas dengan gaji perawat di luar negeri yang
tidak main-main yaitu Menurut The Bureau of Labor Statistic, perawat RN
dibayar rata-rata $52,330 tahun 2004. Sekitar 50 % mereka dibayar antara
$43,370 dan $ 63,360 dan yang paling rendah yakni sekitar 10 % dibayar kurang
dari $37,200 dan yang tertinggi sekitar 10 % dibayar lebih dari $74,760.
Peningkatan gaji perawat bertambah sesuai bertambahnya pengalaman. apabila
perawat bekerja shift dengan lembur maka gajinya bertambah di luar gaji dasar.
Sedangkan perawat klinik spesialist sekitar $41,226, perawat administrator
$45,071, perawat anestesi $113,000 dan perawat praktisioner $71,000.
Selain itu perawat merupakan profesi terbanyak di seluruh dunia, yaitu 2,6
juta RN dan semakin meningkat kebutuhannya di masa mendatang dan juga
populasi terbanyak di Rumah sakit dan home care.
Pertumbuhan populasi yang terus menerus, membuat perawat tidak pernah
kekurangan pekerjaan. Namun ironisnya di Indonesia banyak lulusan perawat
yang menganggur atau bahkan jasa mereka tidak dihargai. Semua itu muncul
karena pemerintah belum mampu menggaji perawat sesuai kebutuhan, sehingga
jumlah perawat di rumah sakit pun tidak sebanding dengan banyaknya pasien.
Atau bahkan karena standar perawat yang masih belum standar internasional
sehingga sulit untuk bersaing di dunia luar. Hal inilah yang seharusnya disadari
perawat di Indonesia mengingat di negara kita memiliki jumlah perawat yang
sangat tinggi. Hendaknya perawat kita mengembangkan kemampuannya agar
mampu menjadi seperti mereka yang ada di luar sana, lebih-lebih di era pasar
global kita dituntut untuk memiliki standar internasional untuk mampu bersaing
dengan perawat di seluruh dunia.
Mengingat betapa pentingnya masa depan profesi keperawatan perlu adanya
pengetahuan lebih mengenai hal-hal yang terjadi dalam profesi keperawatan
secara luas yaitu baik trend maupun issue yang sedang berkembang sebagai awal
untuk mencapai keberhasilan dengan peningkatan mutu [Link] karena
itu penting bagi penulis untuk membahas tema ini dalam makalah kami.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Job Market?
2. Bagaimana Kondisi Sistem Pendidikan Keperawatan di Indonesia?
3. Bagaimana Perkembangan Profesi Keperawatan di Indonesia?
4. Bagaimana Kondisi profesi perawat di dunia?
5. Bagaimana Masa Depan Perawat di Luar Negeri?
6.
C. Tujuan
1. Agar dapat mengetahui apa itu Job Market
2. Agar mengetahui bagaimana kondisi system pendidikan keperawatan di
Indonesia
3. Agar dapat mengetahui bagaimana perkembangan profesi keperawatan di
Indonesia
4. Agar mengetahui kondisi profesi perawat di dunia
5. Agar dapat mengetahui masa depan perawat diluar negeri
6.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Job Market
Job market atau pasar lowongan kerja adalah pasar dimana
pengusaha mencari karyawan dan karyawan mencari pekerjaan. Job
market bukanlah tempat fisik seperti sebuah konsep yang menggambarkan
dan mempengaruhi persaingan antar tenaga kerja. Pasar ini juga dikenal
sebagai pasar tenaga kerja.
Job market dapat muncul atau menghilang tergantung pada
permintaan tenaga kerja dan ketersediaan pasokan pekerja dalam ekonomi
secara keseluruhan. Faktor-faktor lain yang mempengaruhij Job market
adalah kebutuhan industri tertentu, kebutuhan pada tingkat pendidikan
atau keterampilan tertentu, dan kebutuhan pada fungsi pekerjaan tertentu.
Job market adalah komponen penting dalam setiap ekonomi yang memilki
kaitan secara langsung dengan permintaan barang dan jasa.
B. Bagaimana Kondisi Sistem Pendidikan Keperawatan di Indonesia
Pengakuan body of knowledge keperawatan di Indonesia dimulai
sejak tahun 1985, yakni ketika program studi ilmu keperawatan untuk
pertama kali dibuka di Fakultas Kedokteran UI.
Dengan telah diakuinya body of knowledge tersebut maka pada
saat ini pekerjaan profesi keperawatan tidak lagi dianggap sebagai suatu
okupasi, melainkan suatu profesi yang kedudukannya sejajar dengan
profesi lain di Indonesia. Tahun 1984 dikembangkan kurikulum untuk
mempersiapkan perawat menjadi pekerja profesional, pengajar, manajer,
dan peneliti. Kurikulum ini diimplementasikan tahun 1985 sebagai
Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Tahun 1995 program studi itu mandiri sebagai Fakultas Ilmu
Keperawatan, lulusannya disebut ners atau perawat profesional. Program
Pascasarjana Keperawatan dimulai tahun 1999. Kini sudah ada Program
Magister Keperawatan dan Program Spesialis Keperawatan Medikal
Bedah, Komunitas, Maternitas, Anak Dan Jiwa.
Sejak tahun 2000 terjadi euphoria Pendirian Institusi Keperawatan
baik itu tingkat Diploma III (akademi keperawatan) maupun Strata I.
Pertumbuhan institusi keperawatan di Indonesia menjadi tidak terkendali.
Seperti jamur di musim kemarau. Artinya di masa sulitnya lapangan kerja,
proses produksi tenaga perawat justru meningkat pesat. Parahnya lagi,
fakta dilapangan menunjukkan penyelenggara pendidikan tinggi
keperawatan berasal dari pelaku bisnis murni dan dari profesi non
keperawatan, sehingga pemahaman tentang hakikat profesi keperawatan
dan arah pengembangan perguruan tinggi keperawatan kurang dipahami.
Belum lagi sarana prasarana cenderung untuk dipaksakan, kalaupun ada
sangat terbatas (Yusuf, 2006). Saat ini di Indonesia berdiri 32 buah
Politeknik kesehatan dan 598 Akademi Perawat yang berstatus milik
daerah,ABRI dan swasta (DAS) yang telah menghasilkan lulusan sekitar
20.000 – 23.000 lulusan tenaga keperawatan setiap tahunnya. Apabila
dibandingkan dengan jumlah kebutuhan untuk menunjang Indonesia sehat
2010 sebanyak 6.130 orang setiap tahun, maka akan terjadi surplus tenaga
perawat sekitar 16.670 setiap tahunnya. (Sugiharto, 2005).
Salah satu tantangan terberat adalah peningkatan kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM) tenaga keperawatan yang walaupun secara kuantitas
merupakan jumlah tenaga kesehatan terbanyak dan terlama kontak dengan
pasien, namun secara kualitas masih jauh dari harapan masyarakat.
Indikator makronya adalah rata-rata tingkat pendidikan formal perawat
yang bekerja di unit pelayanan kesehatan (rumah sakit/puskesmas)
hanyalah tamatan SPK (sederajat SMA/SMU). Berangkat dari kondisi
tersebut, maka dalam kurun waktu 1990-2000 dengan bantuan dana dari
World Bank, melalui program “health project” (HP V) dibukalah kelas
khusus D III keperawatan hampir di setiap kabupaten. Selain itu bank
dunia juga memberikan bantuan untu peningkatan kualitas guru dan dosen
melalui program “GUDOSEN”. Program tersebut merupakan suatu
percepatan untuk meng-upgrade tingkat pendidikan perawat dari rata-rata
hanya berlatar belakang pendidikan SPK menjadi Diploma III (Institusi
keperawatan). Tujuan lain dari program ini diharapkan agar perawat tidak
lagi menjadi perpanjangan tangan dokter (Prolonged physicians arms) tapi
sudah bisa menjadi mitra kerja dalam pemberian pelayanan
kesehatan(Yusuf, 2006).
Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sisitem pendidikan
keperawatan di Indonesia adalah UU no. 2 tahun 1989 tentang pendidikan
nasional, Peraturan pemerintah no. 60 tahun 1999 tentang pendidikan
tinggi dan keputusan Mendiknas no. 0686 tahun 1991 tentang Pedoman
Pendirian Pendidikan Tinggi (Munadi, 2006). Pengembangan sistem
pendidikan tinggi keperawatan yang bemutu merupakan cara untuk
menghasilkan tenaga keperawatan yang profesional dan memenuhi standar
global. Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu
lulusan pendidikan keperawatan menurut Yusuf (2006) dan Muhammad
(2005) adalah :
1. Standarisasi jenjang, kualitas/mutu, kurikulum dari institusi pada
pendidikan.
2. Merubah bahasa pengantar dalam pendidikan keperawatan dengan
menggunakan bahasa inggris. Semua Dosen dan staf pengajar di
institusi pendidikan keperawatan harus mampu berbahasa inggris
secara aktif
3. Menutup institusi keperawatan yang tidak berkualitas
4. institusi harus dipimpin oleh seorang dengan latar belakang
pendidikan keperawatan
5. Pengelola insttusi hendaknya memberikan warna tersendiri dalam
institusi dalam bentuk muatan lokal,misalnya emergency Nursing,
pediatric nursing, coronary nursing.
6. Standarisasi kurikulum dan evaluasi bertahan terhadap staf
pengajar di insitusi pendidikan keperawatan
7. Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, dan Organisasi
profesi serta sector lain yang terlibat mulai dari proses perizinan
juga memiliki tanggung jawab moril untuk melakukan pembinaan.
C. Perkembagan Profesi Keperawatan di Indonesia
Gambaran Keperawatan di Indonesia
Kondisi keperawatan di Indonesia memang cukup tertinggal dibandingkan
negara-negara ASEAN seperti Piliphina, Thailand, dan Malaysia, apalagi
bila ingin disandingkan dengan Amerika dan Eropa. Pendidikan rendah,
gaji rendah, pekerjaan selangit inilah paradoks yang ada. Rendahnya gaji
menyebabkan tidak sedikit perawat yang bekerja di dua tempat, pagi
hingga siang di rumah sakit negeri, siang hingga malam di rumah sakit
swasta. Dalam kondisi yang demikian maka sulit untuk mengharapkan
kinerja yang maksimal. Apalagi bila dilihat dari rasio perawat dan pasien,
dalam satu shift hanya ada 2-3 perawat yang jaga sedangkan pasien ada
20-25 per bangsal jelas tidak proporsional(Yusuf,2006).
Jumlah perawat yang menganggur di Indonesia ternyata cukup
mencengangkan. Hingga tahun 2005 mencapai 100 ribu orang. Hal ini
disebabkan kebijakan zero growth pegawai pemerintah, ketidakmampuan
rumah sakit swasta mempekerjakan perawat dalam jumlah memadai,
rendahnya pertumbuhan rumah sakit dan lemahnya kemampuan
berbahasa asing. Ironisnya, data WHO 2005 menunjukkan bahwa dunia
justru kekurangan 2 juta perawat, baik di AS, Eropa, Australia dan Timur
Tengah. Fakta lain di lapangan, saat ini banyak tenaga perawat yang
bekerja di rumah sakit dan puskesmas dengan status magang (tidak
menerima honor seperserpun) bahkan ada rumah sakit yang meminta
bayaran kepada perawat bila ingin magang. Alasan klasik dari pihak
rumah sakit “mereka sendiri yang datang minta magang”. Dilematis
memang, tinggal di rumah menganggur , magang di rumah
sakit/puskesmas tidak dapat apa-apa . Padahal kalau kita menyadari
sebenarnya banyak sekali kesempatan dan tawaran kerja di luar negeri
seperti : USA,. Canada, United Kingdom (Inggris), Kuwait, Saudi Arabia,
Australia, New Zaeland, Malaysia, Qatar, Oman, UEA, Jepang, German,
Belanda, Swiss (Yusuf, 2006).
Kemampuan bersaing perawat Indonesia bila di bandingkan
dengan negara-negara lain seperti Philipines dan India masih kalah .
Pemicu yang paling nyata adalah karena dalam system pendidikan
keperawatan kita masih menggunakan “Bahasa Indonesia”sebagai
pengantar dalam proses pendidikan. Hal tersebut yang membuat Perawat
kita kalah bersaing di tingkat global. Salah satu tolak ukur kualitas dari
Perawat di percaturan internasional adalah kemampuan untuk bias lulus
dalam Uji Kompetensi keperawatan seperti ujian NCLEX-RN dan EILTS
sebagai syarat mutlak bagi seorang perawat untuk dapat bekerja di USA.
Dalam hal ini kualitas dan kemampuan perawat Indonesia masih sangat
memprihatinkan (Muhammad, 2005)
Sejak disepakatinya keperawatan sebagai suatu profesi pada
Lokakarya Nasional Keperawatan tahun 1983, terjadilah pergeseran
paradigma keperawatan dari pelayanan yang sifatnya vokasional menjadi
pelayanan yang bersifat professional. Keperawatan kini dipandang sebagai
suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio,psiko,sosio dan spiritual
yang komperehensif, dan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok,
atau masyarakat yang baik yang sehat maupun yang sakit dan mencakup
seluruh siklus hidup manusia . Sebagai profesi yang masih dalam proses
menuju “perwujudan diri”, profesi keperawatan dihadapkan pada berbagai
tantangan. Pembenahan internal yang meliputi empat dimensi domain
yaitu; Keperawatan, pelayanan keperawatan, asuhan keperawatan, dan
praktik keperawatan. Belum lagi tantangan eksternal berupa tuntutan akan
adanya registrasi, lisensi, sertifikasi, kompetensi dan perubahan pola
penyakit, peningkatan kesadaran masyarakat akan hak dan kewajiban,
perubahan sistem pendidikan nasional, serta perubahan-perubahan pada
suprasystem dan pranata lain yang terkait (Yusuf, 2006).
Keluarnya Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan, UU No 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Surat
Keputusan Menteri Kesehatan No 1239/Menkes/SK/2001 tentang
registrasi dan praktik keperawatan lebih mengukuhkan keperawatan
sebagai suatu profesi di Indonesia. Adanya Undang-undang No. 8 tahun
1999 tetang Perlindungan Konsumen semakin menuntut perawat untuk
melaksanakan praktik keperawatan secara profesional menjadi suatu
keharusan dan kewajiban yang sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Penguasaan Ilmu dan keterampilan, pemahaman tetang standar praktik,
standar asuhan dan pemahaman hak-hak pasien menjadi suatu hal yang
penting bagi setiap insan pelaku praktik keperawatan di Indonesia (Yanto,
2001)
Konsekuensi dari perkembangan itu harus ada jenjang karier dan
pengembangan staf yang tertata baik, imbalan jasa, insentif serta sistem
penghargaan yang sesuai dan memadai. Rendahnya imbalan jasa bagi
perawat selama ini mempengaruhi kinerja perawat. Banyak perawat
bergaji di bawah upah minimum regional (UMR). Sebagai gambaran, gaji
perawat pemerintah di Indonesia antara Rp 300.000-Rp 1 juta per bulan
tergantung golongan. Sementara perawat di Filipina tak kurang dari Rp 3,5
juta (Kompas, 2001)
Selain memiliki kemampuan intelektual, interpersonal dan teknikal,
perawat di Indonesia juga harus mempunyai otonomi yang berarti mandiri
dan bersedia menanggung resiko, bertanggung jawab dan bertanggung
gugat terhadap tindakan yang dilakukannya, termasuk dalam melakukan
dan mengatur dirinya sendiri. Tetapi yang terjadi di lapangan sangat
memilukan, banyak sekali rekan-rekan Perawat yang melakukan “Praktek
Pelayanan Kedokteran dan Pengobatan” yang sangat tidak relevan dengan
ilmu keperawatan itu sendiri. Hal tersebut telah membuat profesi Perawat
di pandang rendah oleh profesi lain.
Banyak hal yang menyebabkan hal ini berlangsung berlarut-larut antara
lain:
a. Kurangnya kesadaran diri dan pengetahuan dari individu perawat itu
sendiri.
b. Tidak jelasnya aturan yang ada serta tidak tegasnya komitmen
penegakan hukum di Negara Republik Indonesia.
c. Minimnya pendapatan secara finansial dari rekan-rekan perawat
secara umum
d. Kurang peranya organisasi profesi dalam membantu pemecahan
permasalah tersebut.
e. Rendahnya pengetahuan masyarakat, terutama di daerah yang masih
menganggap bahwa Perawat juga tidak berbeda dengan
“DOKTER”atau petugas kesehatan yang lain (Muhammad, 2005)
D. Kondisi Profesi Perawat di dunia
Pada masa ini Negara di dunia mengalami krisis tenaga kerja
kesehatan, hal ini terjadi karena meluasnya kekurangan dari tenaga kerja
kesehatan, hampir seluruhnya yang tercatat adalah perawat. Pada tahun
2006 WHO memperkirakan pengurangan global dari 4,3 juta tenaga
kesehatan, 2,4 juta adalah perawat, bidan, dan ahli jiwa. Jika kita artikan
maka itu artinya lebih dari milyaran orang tidak mempunya akses
kesehatan.
Banyak Negara yang mendapat dampak dari kekurangan tenaga
kesehatan terutama di Afrika mengalami krisis. Kekurangan tenaga
kesehatan termasuk perawat, menjadi salah satu penghalang terbesar
dalam visi Negara-negara masa kini. Kekurangan ini seakan menjadi
tantangan bagi seluruh bangsa. Meningkatnya kekurangan ini telah
menimbulkan pertanyaan penting tentang keselamatan kerja dan tanggung
jawab. Jelas, keduanya menjadi sulit ketika terdapat kekurangan
persediaan perawat untuk msyarakat dan Negara
Hari ini semua masyarakat banyak menolak untuk bekerja menjadi
perawat. Inilah yang terjadi sebenarnya dalam Negara maju dan
berkembang. Hampir setiap perawat negeri menyediakan beban pelayanan
kesehatan yang besar sekitar 80%. Di belahan dunia seperti Afrika yang
terkenal dengan HIV/AIDS, penyebaran pekerjaan perawat mengalami
kelemahan total.
Dengan penuaan populasi global, seringkali pemenuhan perawatan
tambahan dan untuk penyakit kronik, kita bertameng dengan tanaga
perawat yang juga semakin tua. Di Canada 50% perawat dipekerjakan hari
ini akan pensiun 10 tahun ke depan. Di tahun 2016 diprediksikan Kanada
akan mengalami penurunan drastic perawat yaitu sejumlah 113.000. Dan
situasi ini semakin serius di AS dimana diprediksikan akan terjadi
penurunan drastic perawat sejumlah 800.000 dari satu juta perawat.
Hari ini kekurangan dan sementara ribuan perawat di beberapa
negara tidak bekerja, entah keduanya nyata atau palsu. Dahulu
kekurangan, peningkatan permintaan atau penurunan ketersediaan adalah
factor kontribusi yang utama. Tapi hari ini kita lihat kedua factor yang
terjadi, penurunan jumlah perawat dan peningkatan jumlah permintaan
pelayanan.
Faktor apa saja yang meningkatkan permintaan, antara lain;
1. penuaaan populasi
2. Peningkatan pertumbuhan rata-rata populasi
3. Mulai tumbuhnya beban kronik penyakit yang tidak diketahui
4. Perawatan di rumah sakit yang singkat, mengakibatkan
peningkatan perawatan akut
5. Terjadinya globalisasi dan berkembangnya sector swasta atau
privatisasi, keduanya memperluas pasar buruh
6. Kepercayaan tinggi masyarakat kepada perawat, yang
mengakibatkan penngkatan permintaan perawat sebagai poin
primer dalam pelayanan kesehatan.
7. Mengubah dokter muda ke dalam kondisi kerja.
8. Meningkatkan mobilisasi
Liberalisasi perdagangan jasa pelayanan kesehatan
Adanya liberalisasi yang dianut sebagian besar Negara di dunia
mengakibatkan jasa-jasa pelayanan kesehatan asing dengan mudah
masuk ke negeri manapun, bukan hanya tenaga kerja namun bisa beralih
ke rumah sakit dan yang lainnya. Tentu adanya hal ini membuat perawat
di negeri manapun harus mampu bersaing baik dari segi bahasa maupun
secara aspek legalnya yaitu UU di setiap Negara harus kuat sehingga
dapat melindung mereka dan tidak tergusur di Negara sendiri, lebih-lebih
bagi Negara berkembang. Hal ini semakin meyakinkan lagi mengingat
terdapatnya perjanjian di kalangan Negara-negara berkembang dan
Negara maju yaitu perjanjian GATS poin 4, dimana jasa pelayanan
kesehatan juga merupakan hal yang diperdagangkan. Dan salah satu
Negara yang ikut serta adalah Indonesia. Adapun tujuan liberralisasi
kesehatan antara lain;
Menghapuskan atau mengurangi hambatan-hambatan
perdagangan (trade barriers) di bidang jasa
Mengembangkan aturan-aturan perdagangan jasa termasuk
aturan-aturan domestik (domestic regulations) yang tidak
menghambat perdagangan bidang jasa
Hambatan perdagangan menyangkut akses pasar (market
access) dan perlakuan nasional (national treatment)
Lingkup perdagangan dan liberalisasi jasa menurut GATS
E. Masa Depan Perawat di Luar Negeri
Kebutuhan Perawat Profesional (Registered Nurse) di Dunia 2020
Kebutuhan tenaga Perawat di negara maju seperti: Amerika, Canada,
Eropa, Australia, Jepang dan Timur Tengah melonjak dengan drastis sejak
tahun 1980. Diperkirakan bahwa kebutuhan tenaga di Amerika ditahun
1980 sekitar 200,000 perawat, dan kebutuhan ini akan melonjak menjadi
500,000 Perawat ditahun 2020 untuk mendukung kebutuhan pelayanan
kesehatan di Amerika. Untuk seluruh negara maju diatas kebutuhan
Perawat diperkirakan mencapai 1 juta Perawat Pada tahun 2020 (Atienza,
2004).
Dua penyebab utama meningkatnya kebutuhan tenaga Perawat
adalah penuaan penduduk dinegara maju, pertama karena meningkatnya
usia maka kebutuhan pelayanan kesehatan juga akan meningkat, yang
artinya meningkatnya kebutuhan Perawat. Kedua, menurunnya supply
tenaga perawat dinegara maju tersebut karena generasi muda dinegara
maju tersebut lebih suka menggeluti dunia bisnis, IT atau komunikasi dan
tidak berminat untuk menjadi Perawat lagi. Penyebab lain meningkatnya
kebutuhan tenaga keperawatan ialah bencana alam/ kerusuhan yang terjadi
di beberapa tempat di dunia, seperti peledakan bom di World Trade
Center, peledakan bom di Saudi Arabia, bencana alam Tsunami, Katrina,
dan semua kerusuhan/ bencana ini akan meningkatkan kebutuhan tenaga
keperawatan.
Kebutuhan perawat ini dipenuhi oleh Perawat dari negara
berkembang yang mempunyai tenaga keperawatan yang sesuai dengan
standar dunia. Tiga sumber utama tenaqga keperawatan dunia ialah dari
Phillippine, India dan China. Indonesia sebagai negara dengan jumlah
penduduk terbesar keempat di dunia, seharusnya mampu mengekspor
tenaga keperawatan sesuai dengan kebutuhan dunia diatas. Mengapa kita
tidak bisa mengirimkan tenaga keperawatan dengan standar dunia diatas?
Perawat Indonesia hingga saat ini belum bisa bersaing dengan perawat
Philippine dan India, karena faktor Bahasa Inggris sebagai media
komunikasi di negara tujuan. Bahasa Inggris ini diukur dengan Nilai Test
IELTS (International English Language Testing System) dengan Nilai
Overall adalah 6,5. Test IELTS terdiri dari 4 komponen: a. Mendengar (30
menit), b) Membaca (60 menit), c) Menulis (60 menit), dan d) Bicara (15
menit).
Faktor kedua, ialah Sertifikasi Keperawatan Internasional. Standar
Perawat dalam dunia ialah lulusan Universitas yang bergelar Bachelor of
Science in Nursing (BSN), dan mempunyai Sertifikasi RN (Registered
Nurse). Perawat RN dari India, Malaysia akan diakui sertifikasinya oleh
negara2 Commonwealth karena standar pendidikan keperawatannya sudah
dibuat sama dengan standar Internasional. Demikian juga Perawat
Phillippine, begitu mereka lulus BSN mereka mengambil Sertifikasi RN di
Philippine yang diakui oleh dunia Internasional. Bahasa Inggris tidak
menjadi masalah bagi mereka, karena mereka sehari-hari menggunakan
Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua mereka.
Indonesia baru mengembangkan program Sarjana Keperawatan sejak
5 tahun yang lalu, dan dalam program pendidikannya memisahkan
Program Pendidikan Sarjana Keperawatan (4 tahun) dimana lulusannya
bergelar SKp (Sarjana Keperawatan). Setelah lulus para SKp mengambil
Program Pendidikan Profesi Keperawatan (1,5 tahun) yang lulusannya
bergelar Ners. Masalahnya, Gelar SKp dan Ners ini hanya berlaku di
Indonesia, dan tidak diakui dunia Internasional.
Untuk mengukur kompetensi para perawat lulusan berbagai negara ini,
maka Negara Amerika membuat Standar Kompetensi Keperawatan dengan
melakukan Ujian NCLEX-RN (National Council License Examination -
Registered Nurse). Ujian ini untuk Asia masih dilakukan di Hongkong.
Tes ini untuk mengukur kompetensi perawat apakah mereka mempunyai
pengetahuan dan skills untuk bekerja di Rumah Sakit di Negara Maju.
Agar para Perawat kita mampu untuk lulus IELTS dengan nilai 6,5
dan lulus ujian NCLEX-RN, kita harus melakukan beberapa hal:
a) Upgrade pendidikan Perawat profesional agar sesuai dgn standar
Perawat Internasional,
b) Upgrade training clinical skills Perawat agar mampu bekerja di RS
Internasional, dan
c) Mengirimkan perawat ke Negara Maju yang membutuhkan.