Laporan Asuhan Keperawatan CVA
Laporan Asuhan Keperawatan CVA
Disusun Oleh :
(202003082)
2021
LEMBAR PERSETUJUAN
Mojokerto, 2021
Mahasiswa,
Mengetahui,
(__________________________) (_________________________)
Kepala Ruangan
(__________________________)
BAB 1
LAPORAN PENDAHULUAN
1.1 Definisi
Cerebro vascular accident (CVA) atau biasa dikenal sebagai stroke, suatu penyakit
neurologis yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak secara mendadak yang
mengakibatkan kelumpuhan anggota gera, gangguan bicara, proses berpikir, dan bentuk
kecacatan yang lain akibat gangguan fungsi otak (Okdiyantino, Sri S, & Setyaningsih, 2019).
CVA atau Cerebro Vaskuler Accident biasa dikenal oleh masyarakat dengan istilah stroke.
Istilah ini lebih popular dari pada CVA. Kelainan ini terjadi pada organ otak. Lebih tepatnya
adalah gangguan pembuluh darah otak. Berupa penurunan kualitas pembuluh darah otak. Stroke
merupakan salah satu gangguan pada jaringan otak akibat kelainan kardiovaskular. Kelainan ini
dapat disebabkan kondisi iskemik ataupun perdarahan. Penurunan kemampuan ini biasanya
disebabkan stroke arteri serebral anterior atau media sehingga mengakibatkan infark pada bagian
otak yang mengontrol (saraf motorik) dari bagian depan (Black & Hwaks, 2014).
2.1 Etiologi
stroke biasanya diakibatkan dari salah satu empat kejadian yaitu sebagai berikut. (Ariani &
April, 2012).
1. Trombosis serebral.
Arteriosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi serebral adalah penyebab utama
trombosis serebral yang merupakan penyebab umum dari stroke. Tanda-tanda trombosis
serebral berfariasi. Sakit kepala adalah onset yang tidak umum. Beberapa pasien dapat
mengalami pusing, perubahan kognitif, atau kejang, dan beberapa mengalami onset yang
tidak dapat dibedakan dari hemoragik intraserebral atau embolisme serebral. Secara umum,
trombosis serebral tidak terjadi dengan tiba-tiba, dan kehilangan bicara, hemiplegia, atau
parestesia pada setengah tubuh dapat mendahuli onset paralisis berat pada beberapa jam atau
hari.
2. Embolisme serebral.
Embolus biasanya menyumbat arteri serebral tengah atau cabang-cabang nya sehingga
merusak sirkulasi serebral. Onset hemiparisi atau hemipalgia tiba-tiba dengan afasia, tanpa
afasia, atau kehilangan kesadaran pada pasien dengan penyakit jantung atau pulmonal adalah
karakteristik dari emobolisme serebral
3. Iskemia serebral Iskemia serebral (insufisiensi suplai darah ke otak) terutama karena
konstriksi ateroma pada arteri yang menyuplai darah ke otak.
4. Hemoragi serebral.
1) Hemoragi ekstra dural (hemoragi epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang
memerlukan perawatan segera. Keadaan ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan
robekan arteri tengah dan arteri meninges lain, dan pasien harus diatasi dalam beberapa
jam cedera untuk mempertahankan hidup.
2) Hemoragi subdural pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural, kecuali bahwa
hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. Oleh karena itu, periode pembentukan
hematoma lebih lama dan menyebabkan tekanan pada otak. Beberapa pasien mungkin
mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukan tanda atau gejala.
3) Hemoragi subaraknoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi, tetapi
penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisme pada area sirkulus Willisi dan
malformasi arterikongenital pada otak.
4) Hemoragi intra serebral adalah perdarahan substansi dalam otak, paling umum terjadi
pada pasien dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral di sebabkan oleh perubahan
degeneratif karena penyakit ini biasa menyebabkan ruptur pembuluh darah. Biasanya
onset tiba-tiba dengan sakit kepala berat. Bila hemoragi membesar makin jelas defisit
neurologi yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda
vital.
3.1 Klasifikasi
Dikenal bermacam-macam klasifikasi stroke berdasarkan atas patologi anatomi (lesi),
stadium dan lokasi (sistem pembuluh darah) (Misbach, 1999).
Stroke emboli terjadi karena adanya gumpalan dari jantung atau lapisan lemak
yang [Link], terjadi penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan darah
tidak bisa mengaliri oksigen dan nutrisi ke otak. Emboli ekstrakranial dapat disebabkan
juga oleh :
a. Embolus yang dilepaskan oleh arteria karotis atau vertebralis, dapat berasal dari
“plaque athersclerotique” yang berulserasi atau dari trombus yang melekat pada
intima arteri akibat trauma tumpul pada daerah leher.
b. Embolisasi kardiogenik dapat terjadi pada:
a) Penyakit jantung dengan “shunt” yang menghubungkan bagian kanan dan bagian
kiri atrium atau ventrikel.
b) Penyakit jantung rheumatoid akut atau menahun yang meninggalkan gangguan
pada katup mitralis.
c) Fibrilasi atrium
d) Infarksio kordis akut
e) Embolus yang berasal dari vena pulmonalis
f) Kadang-kadang pada kardiomiopati, fibrosis endrokardial, jantung
miksomatosus sistemik
c. Embolisasi akibat gangguan sistemik dapat terjadi sebagai
a) Embolia septik, misalnya dari abses paru atau bronkiektasis
b) Metastasis neoplasma yang sudah tiba di paru
c) Embolisasi lemak dan udara atau gas N (seperti penyakit “caisson”). Emboli
dapat berasal dari jantung, arteri ekstrakranial, ataupun dari right-sided
circulation (emboli paradoksikal).
Penyebab terjadinya emboli kardiogenik adalah trombi valvular seperti pada mitral
stenosis, endokarditis, katup buatan), trombi mural (seperti infark miokard, atrial fibrilasi,
kardiomiopati, gagal jantung kongestif) dan atrial miksoma. Sebanyak 2-3 persen stroke
emboli diakibatkan oleh infark miokard dan 85 persen di antaranya terjadi pada bulan
pertama setelah terjadinya infark miokard
2) Stroke hemoragik Stroke hemoragi adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya
pembuluh darah otak. Hampir 70 persen kasus stroke hemoragi terjadi pada penderita
hipertensi.
Stroke hemoragi disebabkan oleh perdarahan ke dalam jaringan otak atau ke dalam
ruang subaraknoid, yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang
menutupi otak. Ini adalah jenis stroke yang paling mematikan. Stroke hemoragik dibagi
menjadi :
a. Perdarahan intraserebral
b. Perdarahan subarakhnoid
2) Berdasarkan stadium:
a) Transient Ischemic Attack (TIA) yaitu serangan stroke sementara yang berlangsung
kurang dari 24 jam.
b) Reversible Ischemic Neurologic Defisit (RNID) yaitu gejala neurologis akan menghilang
antara >24 jam sampai dengan 21 hari. 3
c) Stroke in evolution yaitu kelainan atau defisit neurologik berlangsung secara bertahap
dari yang ringan sampai menjadi berat.
d) Completed stroke yaitu kelainan neurologis sudah menetap dan tidak berkembang lagi
(Ngoerah, 1991).
3) Berdasarkan lokasi (sistem pembuluh darah):
a. Tipe karotis
b. Tipe vertebrobasiler
1. Aktifitas
Tanda: Gangguan tonus otot, paralitik (hemiplagia) terjadi kelemahan umum, gangguan
pengelihatan gangguan tingkat kesadaran.
Gejala: Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan, kehilanga
sensasi atau paralis, merasa mudah lelah, susah untuk istirahat.
2. Sirkulasi
Tanda: Frekuensi nadi dapat berfariasi (karena ketidak stabilan fungsi jantung),
disritmia, perubahan EKG, desiran pada karotis.
Gejala: Adanya penyakit jantung, polisitemia.
3. Integritas ego
Tanda: Emosi yang labil dan ketidak siapan untuk marah, sedih, dan gembira, kesulitan
mengekspresikan diri.
Gejala: Perasaan tidak berdaya atau tidak puas.
4. Eliminasi
Gejala: Perubahan pola berkemih.
5. Makanan
Gejala: Napsu makan hilang, mual muntah selama fase aku (peningkatan TIK),
kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah pipi dan tengkorak, adanya riwayat
diabetes, peningkatan lemak darah.
Tanda: Kesulitan menelan (gangguan pada reflek palatum dan faringeal), obesitas.
6. Neurosensori
Tanda: Status mental dan tingkat kesadaran biasanya terjadi koma pada tahap awal,
pada wajah terjadi paralis, kehilangan kemampuan untuk mengenali,
kehilangan kemampuan untuk menggunakan motorik saat pasien ingin
bergerak.
Gejala: Pusing (sebelum seangan / selama TIA), sakit kepala, kesemutan, kebas,
pengelihatan menurun, hilangnya rangsangan sensorik, gangguan rasa
pengecapan dan penciuman.
5.1 Patofisiologi
Otak kita sangat sensitif terhadap kondisi penurunan atau hilangnya suplai darah.
Hipoksia dapat menyebabkan iskemik serebral karena tidak seperti jaringan pada bagian
tubuh lain, misalnya otot, otak tidak bisa menggunakan metabolisme anaerobik jika terjadi
kekurangan oksigen atau glukosa. Otak diperfusi dengan jumlah yang cukup banyak
dibanding dengan organ lain yang kurang vital untuk mempertahankan metabolisme serebral.
Iskemik jangka pendek dapat mengarah kepada penurunan sistem neurologis sementara atau
TIA.
Jika aliran darah tidak diperbaiki, tejadi kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, terjadi
kerusakan yang tidak dapt diperbaiki pada jaringan otak atau infark bergantung pada lokasi
dan ukuran arteri yang tersumbat dan kekuatan sirkulasi kolateral ke arah yang disuplai.
Iskemik dengan cepat bisa mengganggu metabolisme. Kematian sel dan perubahan yang
permanen dapat terjadi dalam waktu 3-10 menit. Tingkat oksigen dasar klien dan kemampuan
mengkompensasi menentukan seberapa cepat perubahan-perubahan yang tidak bisa diperbaiki
akan terjadi. Aliran darah dapat terganggu oleh masalah perfusi lokal, seperti pada stroke atau
gagguan stroke secara umum, misalnya pada hipotensi atau henti jantung.
Tekanan perfusi serebral harus turun dua pertiga bawah nilai normal (nilai tengah
tekanan arterial sebanyak 50 mmHg atau dibawahnya dianggap nilai normal) sebelum otak
tidak menerima aliran darah yang adekuat. Dalam waktu yang singkat, klien yang sudah
kehilangan kompensasi autoregulasi akan mengalami manifestasi dari gangguan neurologis.
Penurunan perfusi serebral biasanya disebabkan oleh sumbatan di arteri serebral atau
perdarahan intraserebral.
Sumbatan yang terjadi mengakibatkan iskemik pada jaringan otak yang mendapatkan
suplai dari darah arteri yang terganggu dan karena adanya pembengkakan di jaringan
sekelilingnya. Sel-sel dibagian tengah atau utama pada lokasi stroke akan mati dengan
segerasetelah kejadian stroke terjadi. Hal ini dikenal dengan istilah cedera sel-sel saraf primer
(primary neuronal injury). Daerah yang mengalami hipoperfusi juga terjadi disekitar bagian
utama yang mati. Bagian ini disebut penumbra ukuran dari bagian ini tergantung pada
sirkulasi kolateral yang [Link] kolateral merupakan gambaran pembuluh darah yang
memperbesar sirkulasi pembuluh darah utama dari Perbedaan ukuran dan jumlah pembuluh
darah kolateral dapat menjelaskan tingkat keparahan manifestasi stroke yang dialami klien
(Joyce and Jane, 2014).
1. Hipertensi merupakan faktor resiko stroke yang potensial. Hipertensi adalah Tekanan
darah diatas normal dimana tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg. Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun penyempitan
pembuluh darah otak
2. Diabetes melitus merupaka faktor resiko terjadi stroke yaitu dengan peningkatan
aterogenesis.
3. Penyakit jantung / kardiovaskuler berpotensi untuk menimbulkan stroke. Faktor resiko ini
akan menimbulkan embolisme serebral yang berasal dari jantung.
4. Kadar hematokrit normal tinggi yang berhubungan dengan infark serebral.
5. Kontrtasepsi oral, peningkatan oleh hipertensi yang menyertai, usia diatas 35 tahun,
perokok dan kadar estrogen tinggi.
6. Penurunan tekanan darah yang berlebihan atau dalam jangka panjang dapat menyebabkan
iskemik serebral umum.
7. Penyalahgunaan obat, terutama pada remaja dan dewasa muda.
8. Konsumsi alcohol.
9. Kolestrol Tinggi
10. Usia
11. Genetik
12. Jenis kelamin
13. Obesitas.
7.1
8.1 Komplikasi
Komplikasi stroke menurut (Ariani & April, 2012) adalah sebagai berikut.
1. CT scan bagian kepala. Pada stroke non-hemoragik terlihat adanya infark, sedangkan pada
stroke hemoragik terlihat perdarahan.
2. Pemeriksaan lumbal pungsi. Pada pemeriksaan lumbal pungsi untuk pemeriksaan diagnostik
diperiksa kima citologi, mikrobiologi, dan virologi. Disamping itu, dilihat pula tetesan
cairan serebrosipinal saat keluar baik kecepatannya, kejernihannya, warna, dan tekanan yang
menggambarkan proses terjadi di intraspinal. Pada stroke non-hemoragik akan ditemukan
tekanan normal dari cairan serebrospinal jernih. Pemeriksaan fungsi sisternal dilakukan bila
tidak mungkin dilakukan pungsi lumbal. Prosedur ini dilakukan dengan superfisi neurolog
yang telah berpengalaman.
3. Elektro kardiografi (EKG). Untuk mengetahui keadaan jangtung dimana jantung berperan
dalam suplai darah ke otak.
4. Elektro Enchephalografi. Elektro enchephalografi mengidentifikasi masalah berdasarkan
gelombang otak, menunjukan area lokasi secara spesifik
5. Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui keadaan darah, kekentalan
darah, jumlah sel darah, penggumpalan trombosit yang abnormal, dan mekanisme
pembekuan darah.
6. Angiografi serebral. Pada serebral angiografi membantu secara spesifik penyebab stroke
seperti perdarahan atau obstruksi arteri, memperlihatkan secara tepat letak oklusi atau
ruptur.
7. Magnetik resonansi imagine (MRI). Menunjukan darah yang mengalami infark, hemoragi,
malformasi arteroir vena (MAV). Pemeriksaan ini lebih canggih dari CT scan.
8. Ultrasensonografi dopler Ultrasensonografi dopler dapat digunakan untuk mengidentifikasi
penyakit MAV.
BAB 2
1.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk mengenal
masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan. Tahap pengkajian terdiri
dari tiga kegiatan yaitu pengumpulan data, pengelompokan data dan merumuskan tindakan
keperawatan (Tarwoto, 2013)
sebagai berikut.
Mandiri keseluruhan 0
Memerlukan alat bantu 1
Memerlukkan bantuan minimal 2
Memerlukan bantuan dan/atau beberapa 3
pengawasan
Memerlukan pengaasan keseluruhan 4
Memerlukkan bantuan total 5
1. Gerakan penduler tungkai. Pasien tetap duduk di tepi tempat tidur dengan tungkai
tergantung, kemudian kaki diangkat ke depan dan dilepas. Pada waktu dilepas akan ada
gerakan penduler yang makin lama makin kecil dan biasanya berhenti 6 atau 7 gerakan.
Beda pada rigiditas ekstra piramidal aka nada pengurangan waktu, tetapi tidak teratur
atau tersendat-sendat.
2. Menjatuhkan tangan. Tangan pasien diangkat kemudian dijatuhkan. Pada kenaikan
tonnus (hipertoni) terdapat penundaan jatuhnya lengan ke bawah. Sementara pada
hipotomisitas jatuhnya cepat.
3. Tes menjatuhkan kepala. Pasien berbaring tanpa bantal, pasien dalam keadaan relaksasi,
mata terpejam. Tangan pemeriksa yang satu diletakkan di bawah kepala pasien, tangan
yang lain mengangkat kepala dan menjatuhkan kepala lambat. Pada kaku kuduk (nuchal
rigidity) karena iritasi meningeal terdapat hambatan dan nyeri pada fleksi leher.
d) B4 (Bladder) Setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinesia urin sementara karena
konfusi, ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk
mengendalikan kandung kemih karena kerusakan control motoric dan postural. Kadang
control sfingter urin eksternal hilang atau berkurang. Selama periode ini, dilakukan
kateterisasi intermitan dengan teknik steril. Inkontinensia urin yang belanjut menunjukkan
kerusakan neurologis luas.
e) B5 (Bowel) Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual
muntah pada fase akut. Mual sampai munta disebabkan karena peningkatakn produksi asam
lambung sehingga menimbulkan masalah pemenuhan nutrisi. Pola defekasi biasanya terjadi
konstipasi akibat penurunan peristaltic usus. Adanya inkontinensia alvi yang berlanjut
menunjukan kerusakan neurologis luas.
f) B6 (Bone) Stoke adalah penyakit UMN dan mengakibatkan kehilangan control volunter
terhadap gerakan motoric. Oleh karena neuron motor atas menyilang, gangguan control
motor volunter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukkan kerusakan pada neuron motor
atas sisi yang berlawanan dari otak. Disfusi motoric paling umum adalah hemiplegia
(paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis atau
kelemahan sisi tubuh, adalah tanda yang lain. Pada kulit, jika klien kekurangan O2 kulit
akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan makan tugor kulit akan buruk. Selain itu,
perlu juka dikaji tanda-tanda decubitus terutama pada daerah yang menonjol karena kline
stoke mengalami masalah mobilitas fisik. Adanya kesulitan untuk beraktifitas kerana
kelemahan, kehilangan sensoria tau patalise atau hemiplegi, serta mudah lelah menyebabkan
masalah pada pola aktifitas dan istirahat.
1) Pemeriksaan Diagnostik Menurut (Ariani & April, 2012) pemeriksaan penunjanag yang
dapat dilakukan pada penderita stroke adalah sebagai berikut :
a) CT scan bagian kepala Pada stroke non hemoragi terlihat adanya infark, sedangkan pada
stroke hemoragi terlihat perdarahan.
b) Pemeriksaan Lumbal Pungsi Pada pemeriksaan lumbal pungsi untuk pemeriksaan
diagnostik, diperiksa kimia sitologi, mikrobiologi, dan virologi. Disamping itu, dilihat
pula tetesan cairan serebrospinal saat keluar baik kecepatannya, kejernihannya, warna dan
tekanan yang menggambarkan proses terjadi di intaspinal. Pada stroke nonhemoragi akan
ditemukan ditekanan normal dari cairan cerebrospinal jernih. Pemeriksaan pungsi
sisternal dilakukan bila tidak mungkin dilakukan pemeriksaan lumbal.
c) EKG Untuk menegtahui keadaan jantung dimana jantung berperan dalam suplai darah ke
otak.
d) Elektro Enchepalo Grafi Mengidentifikasi masalah berdasarkan gelombang
otak,menunujukan area lokasi secara spesifik.
e) Pemeriksaan Darah Untuk mengetahui keadaan darah, kekentalan darah, jumlah sel
darah, penggumpalan trombosit yang abnormal, dan mekanisme pembekuan darah.
f) Angiografi Serebral Pada serebral angiografi membantu secara spesifik penyebab stroke
seperti perdarahan atau obstruksi arteri, memperlihatkan secara tepat letak ruptur atau
oklusi.
g) Magnetik Resonansi Imagine (MRI) Menunjukkan darah yang mengalami infark,
hemoragi, Malformasi Arterior Vena (MAV).pemeriksaan ini lebih canggih dibanding
CT-SCAN.
h) Ultrasonografi Dopler Ultrasonnografi dopler dapat digunakan untuk mengidentifikasi
penyakit MAV menurut (Ariani, 2012), pemeriksaan sinar X kepala dapat menunjukkan
perubahan pada galdula pineal pada sisi yang berlawanan dari massa yang meluas,
klasifikasi karotis internal yang dapat dilihat pada trombosis serebral, klasifikasi parsial
pada dinding aneurisme pada perdarahan subaraknoid.
Penyebab
3. Edema serebral (mis. akibat cedera kepala [hematoma epidural, hematoma subdural,
hematoma subarachnoid, hematoma intraserebral], stroke hemoragik, hipoksia,
ensefalopati iskemik, pascaoperasi)
4. Peningkatan tekanan vena (mis. akibat trombosis sinus vena serebral, gagal jantung,
trombosis/obstruksi vena jugularis atau vena kava superior)
7.
GEJALA DATA MINOR
1. (tidak tersedia) 1. Gelisah
2. Agitasi
3. Muntah (tanpa disertai mual)
4. Tampak lesu/lemah
5. Fungsi kognitif terganggu
6. Tekanan intrakranial (TIK)
>20mmHg
7. Papiledema
8. Postur desebrasi (ektensi)
Definisi : Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara
mandiri
Penyebab :
3. Ketidakbugaran fisik
7. Keterlambatan perkembangan
8. Kekakuan sendi
9. Kontraktur
10. Malnutrisi
18. Kecemasan
Penyebab
1. Penurunan sirkulasi sereberal
2. Gangguan neuromuskuler
3. Gangguan pendengaran
4. Gangguan muskuloskeletal
5. Kelaian pelatum
6. Hambatan fisik (mis. terpasang trkheostomi, intubasi, krikotirodektomi
7. Hambatan individu (mis. ketakutan, kecemasan, merasa malu, emosional, kurang
privasi)
8. Hambatan pskiologis (mis. gangguan psikotik,gangguan konsep diri,harga diri
rendah, gangguan emosi)
9. hambatan lingkunagan ([Link] informasi,ketiadaan orang terdekat,
ketidaksesuaian budaya, bahasa asing)
GEJALA DATA MAYOR
Subjektif Obyektif
(tidak tersedia) 1. Tidak mampu berbicara atau
mendengar
2. Menunjukan respon tidak sesuai
Merupakan mata rantai antara penetapan kebutuhan klien dan pelaksanaan keperawatan. Dengan demikian perencanaan
asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggabarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan
terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnose keperawatan.
Rencana asuhan keperawatan disusun dengan melibatkan klien secara optimal agar dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
terjalin suatu kerja sama yang saling membantu dalam proses tujuan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. Rencana
keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah: (PPNI, 2018)
4.1 Evaluasi
Evaluasi Merupakan Langkah Akhir Dalam Proses Keperawatan. Evaluasi Adalah
Kegiatan Yang Disengaja Dan Terus-Menerus Dengan Melibatkan Klien, Perawat, Dan Anggota
Tim Lainnya. Dalam Hal Ini Diperlukan Pengetahuan Tentang Kesehatan, Patofisiologi, Dan
Strategi Evaluasi. Tujuan Evaluasi Adalah Untuk Menilai Apakah Tujuan Dalam Rencana
Keperawatan Tercapai Atau Tidak Dan Untuk Melakukukan. (Muttaqin, 2008)
DAFTAR PUSTAKA